Anda di halaman 1dari 8

Suku Minahasa adalah salah satu suku bangsa di Indonesia.

Mereka berasal dari Kabupaten Minahasa


Selatan, provinsi Sulawesi Utara. Suku Minahasa sebagian besar tersebar di seluruh provinsi Sulawesi
Utara.
Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku:
1. Babontehu
2. Bantik
3. Pasan Ratahan (Tounpakewa)
4. Ponosakan
5. Tonsea
6. Tontemboan
7. Toulour
8. Tonsawang
9. Tombulu
Di antara sembilan subsuku di atas, yang termasuk subsuku terbesar adalah: Tontemboan, Tonsea,
Tombulu dan Toulour.

Rumah Tradisional Minahasa

Waruga : Makam purba suku minahasa


Asal usul suku Minahasa
Asal Usul SUKU MINAHASA anak suku TONSEA

Menurut fakta- fakta penyelidikan kebudayaan dunia dan benda- benda purbakala yang terdapat di
Eropa, Afrika, Asia, Amerika, maka manusia diperkirakan mulai menyebar hingga ke pelosok
di muka bumi sejak 35 ribu tahun lalu.

Di tanah Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti:

Kaum Kuritis yang berambut keriting, Kaum Lawangirung (berhidung pesek)

Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku :Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Suku
Bantenan (Pasan,Ratahan),Tonsawang, Suku Bantik masuk tanah minahasa sekitar tahun 1590
.

Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang
berakar pada bangsa Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik
seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll.

Dalam bahasa, Bahasa Minahasa termasuk rumpun bahasa Filipina Tetua- tetua Minahasa menurunkan
sejarah kepada turunannya melalui cerita turun temurun (biasanya dilafalkan oleh Tonaas saat
kegiatan upacara membersihkan daerah dari hal- hal yang tidak baik bagi masyarakat setempat
saat memulai tahun yang baru dan dari hal kegiatan tersebut diketahui bahwa Opo Toar dan
Opo Lumimuut adalah nenek moyang masyarakat Minahasa, meskipun banyak versi tentang
riwayat kedua orang tersebut.

Keluarga Toar Lumimuut sampai ketanah Minahasa dan berdiam disekitar gunung Wulur Mahatus, dan
berpindah ke Watuniutakan (dekat Tompaso Baru sekarang dan dengan kehidupan pertanian
yang sarat dengan usaha bersama dengan saudara sekeluarga/ taranak tampak dari berbagai
versi tarian Maengket) Sampai pada suatu saat keluarga bertambah jumlahnya maka perlu
diatur mengenai interaksi sosial didalam komunitas tersebut, yang melalui kebiasaan peraturan
dalam keturunannya nantinya menjadi kebudayaan Minahasa.

Demikian juga dengan isme atau kepercayaan akan sesuatu yang lebih berkuasa atas manusia sudah
dijalankan diMinahasa sejak awal.

Tingkatan atau status sosial diatur sbb :

Golongan Makasiow (pengatur ibadah yang disebut Walian/ Tonaas) hingga saat ini istilah yang dipakai
adalah 2 X 9 ( 9 orang tonaas yang menempati posisi antara Sang penguasa dengan Surga dan
Bumi, Baik tidak Baik, dan semua hal tentang keseimbangan Golongan Makatelu pitu
(pengatur/ pemerintah dengan gelar Patu’an atau 3 X 7 Teterusan/ kepala desa dan pengawal
desa disebut Waranei ( 7 orang pengatur/ pemerintah)
Golongan Makasiow Telu 9 x 9
Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah, tempat tinggal mulai padat dan lahan terbatas,
maka keturunan Toarlumimuut berpencar tumani (membuka lahan baru)untuk kelangsungan
taranak mereka serta Golongan Pasiyowan Telu (rakyat)

Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkat seorang raja sebagai
kepala pemerintahan
Kepala pemerintah adalah kepala keluarga yang gelarnya adalah Paedon Tu’a atau Patu’an
yang sekarang kita kenal dengan sebutan Hukum Tua. Kata ini berasal dari Ukung Tua yang
berarti Orang tua yang melindungi. Ukung artinya kungkung = lindung = jaga. Tua : dewasa
dalam usia, berpikir, serta didalam mengambil Kehidupan demokrasi dan kerakyatan terjamin
Ukung Tua tidak boleh memerintah rakyat dengan sewenang-wenang karena rakyat itu adalah
anak-anak dan cucu-cucunya, keluarganya sendiri Sebelum membuka perkebunan, berunding
dahulu dan setelah itu dilakukan harus dengan mapalus Didalam bekerja terdapat pengatur
atau pengawas yang di Tonsea disebut Mopongkol atau Rumarantong, di Tolour disebut
Sumesuweng.

Di Minahasa tidak dikenal sistim perbudakan, sebagaimana lasimnya di daerah lain pada saman itu,
seperti di kerajaan Bolaang,Sangir, Tobelo, Tidore dll. Hal ini membuat beberapa dari
golongan Walian Makaruwa Siyow (eksekutif ingin diperlakukan sebagai raja. seperti raja
Bolaang, raja Ternate, raja Sanger yang mereka dengar dan temui disaat barter bahan bahan
keperluan rumah tangga.

Setelah cara tersebut dicoba diterapkan dimasyarakat Minahasa oleh beberapa walian/hukum tua timbul
perlawanan yang memicu terjadinya pemberontakan serentak di seluruh Minahasa oleh
golongan rakyat /Pasiyowan Telu, Alasannya karena, bukanlah adat pemerintahan yang
diturunkan Opo Toar Lumimuut, dimana kekuasaan dijalankan dengan sewenang-wenang.

Akibat pemberontakkan itu, Tatanan kehidupan di Minahasa menjadi tidak menentu, peraturan tidak
diindahkan Adat istiadat rusak, Perebutan tanah pertanian antar keluarga Hal ini membuat
golongan makarua/makadua siow (tonaas) merasa perlu mengambil tindakan pencegahan
dengan mengupayakan musyawarah raya yang dimotori oleh Tonaas-tonaas senior dari
seluruh Minahasa di Watu Pinabetengan.

Luas Minahasa pada jaman ini adalah dari pantai likupang, Bitung sampai ke muara sungai Ranoyapo
ke gunung Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayah setelah sungai Ranoyapo
dan Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk wilayah kerajaan Bolaang
Mongondow, sampai kira-kira abad ke 14.

Dalam musyawarah yang dihadiri oleh seluruh keturunan Toar Lumimuut, memilihTonaas Kopero dari
Tompakewa sebagai ketua yang dibantu anggota Tonaas Muntuuntu dari Tombulu dan Tonaas
Mandey dari Tonsea.mereka bertugas untuk konsolidasi ketiga golongan Minahasa tsb.

Hasil-hasil musyawarah tsb, pada sebagian orang dikaitkan dengan nama tempat berlangsung
musyawarah yang dikenal saat sekarang dengan Watu Pinawetengan ( batu tempat dimana
mereka bersatu untuk kemudian membagi) bertujuan untuk mengembalikan adat yang
diwariskan Toar Lumimuut. 9 pokok hasil musyawarah yaitu:
Kepala pemerintahan dipilih dari yang tua, jujur, berani, wibawa, kuat dan berani maju dalam segala
hal, segala usaha harus dimusyawarahkan.

Dewan tua-tua (Patuosan) yang mengawasi jalannya pemerintahan oleh Hukum Tua, Mempertahankan
kebiasaan yang sudah baik. (Kenaramen memperketat wibawa orang tua kepada anak-anak
perempuan dan laki-laki sama kedudukannya, Pesan tua-tua jangan diremehkan.

Sejak saat itu pemerintahan di Minahasa dipegang oleh Rakyat (Pasiowan Telu) karena demokrasi
mulai diterapkan
Keputusan penting yang lain adalah membagai wilayah Minahasa menjadi 4 wilayah
Tontewoh, Tombulu, Tompakewa, Tolour.

Istilah Tontewoh diganti Tonsea pada tahun 1679 sedangkan istilah Tompakewa diganti Tontemboan
pada tahun 1875.

Setelah selesai musyawarah di Watu Pinabetengan, setiap anak suku Tanah Malesung/ Minahasa yaitu 4
anak suku yang merdeka dan dipimpin tonaas masing masing kembali dengan para
walak( pemerintahan otonom) kumpulan beberapa desa/ wanua. Suku Tonsea dipimpin Tonaas
Walalangi dan Tonaas Rogi berangkat menuju ke arah Timur Laut disebelah Timur Tenggari.

Suku Tombulu ke Utara dipimpin Tonaas Walian Mapumpun, Tonaas Belung dan Tonaas Kekeman ke
Majesu.
Suku Tolour berangkat ke Timur ke Atep dipimpin Tonaas Singal.

Suku Tontemboan berangkat ke Barat Laut menempati Kaiwasian sekitar Tombasian.

Anak suku Tonsea dari Niaranan, suku Tonsea pindah ke Kembuan. Di daerah tersebut banyak tumbuh
kayu sea yang digunakan sebagai obat. Itulah sebabnya mereka menyebut suku mereka Tou un
sea atau Tonsea. Keluarga dari Kembuan sebagai berikut:

Keluarga Tonaas Rurugala menempati daerah Walantakan

Keluarga Tonaas Wenas menempati daerah Sinalahan.

Keluarga Tonaas Roringtudus menempati daerah Tiwoho.

Keluarga Tonaas Maramis menempati daerah Kinarepuan

Keluarga Tonaas Roringwailan menempati daerah Kuhun.

Keluarga Tonaas Sigarlaki dan Tonaas Maidangkai menempati daerah Maandon.

Keluarga Tonaas Runtukahu, menempati daerah Kumelembuai.


Keluarga Tonaas Kapongoan dan Tonaas Dotulung menempati daerah Kema.

Abad ke-15 Tonaas Dotulung, Tonaas Tidajoh, Tonaas Koagou menguasai daerah Dimembe. Salah satu
hal yang menonjol di Tonsea adalah tetap adanya satu walak/ anak suku Tonsea. Tonsea tetap
utuh satu dibawah Tonaas Dotulung yang kemudian namanya dirubah menjadi Dotulong.

BAB I
KEBUDAYAAN MINAHASA
A. IDENTIFIKASI

Minahasa adalah kawasan didalam propinsi di semenanjung Sulawesi Utara di Indonesia, sesuatu
daerah yang indah, terletak di bagian utara timur pulau Sulawesi, yang mencakup 27.515 km persegi,
terdiri dari empat daerah - Bolaang Mongondow, Gorontalo, Minahasa dan kepulauan Sangihe dan
Talaud.
Minahasa juga terkenal oleh sebab tanahnya yang subur yang menjadi rumah tinggal untuk berbagai
variasi tanaman dan binatang, didarat maupun dilaut. Tertutup dengan daunan hijau pepohonan kelapa
dan kebun-kebun cengkeh, tanah itu juga menyumbang variasi buah-buahan dan sayuran yang lengkap.
Fauna Sulawesi Utara mencakup antara lain binatang langkah seperti burung Maleo, Cuscus, Babirusa,
Anoa dan Tangkasii (Tarsius Spectrum).
Kebanyakan penduduk Minahasa adalah orang yang beragama Kristen, yang ramah dan salah satu
suku-bangsa yang paling dekat dengan negara barat. Hubungan pertama dengan orang Europa terjadi
saat pedagang Espanyol dan Portugal tiba disana. Saat orang Belanda tiba, agama Kristen tersebar
terseluruhnya. Tradisi lama jadi terpengaruh oleh keberadaan orang Belanda. Kata Minahasa berasal
dari confederasi masing-masing suku-bangsa dan patung- patung yang ada jadi bukti sistem suku-suku
lama.
Orang Minahasa adalah suatu suku bangsa yang mendiami suatu daerah
pada bagian timur laut
jazirah sulawesi utara. Luas daerah ini, termasuk kota Manado dan Bitung. Luas
daerah ini termasuk kota-kota Manado dan Bitung, kurang dari 6.000 km2.
Dalam ucapan umum orang Minahasa menyebut diri merekaorang
Manadoatau Touwenang (orang Wenang), orang Minahasa, atau pula
Kawanua. Tetangga-tetangganya di sebelah utara adalah orang Sangir
dan orangTa la ud, serta orang Bolaang Mongondow di sebelah selatan.
Penduduk Minahasa dapat dibagi ke dalam delapan kelompoksubetnik,
yaitu :

a. Tounséa
b. Toumbulu
c. Tountemboan
d. Toulour
e. Tounsawang
f. Pasan
g. Panosakan
h. Bantik

Setiap kelompok subetnik ini memiliki bahasa sendiri yang disebut


dengan nama subetnik itu sendiri.
Malayu Manado adalah bahasa umum yang dipergunakan dalam

komunikasi antara orang-orang dari sub-sub etnik Minahasa maupun antara mereka denga penduduk
dari suku-suku bangsa lainnya, baik dalam lingkungan pergaulan kota maupun dalam lingkungan
pergaulan desa. Bahkan lebih dari itu, terutama di kota-kota, secara umum terlihat orang-orang
menggunakan Malayu Manado sebagai bahasa ibu, menggantikan bahasa pribumi Minahasa atau
bahasa suku bangsa yang bersangkutan. Peranan Malayu Manado seperti di kota-kota ini sudah terlihat
pula secara jelas di desa-desa yang penduduknya merupakan campuran dari berbagai subetnik tersebut
di atas. Generasi terakhir dari orang MInahasa di kota-kota dan di desa-desa yang dimaksud tidak dapat
lagi menggunakan bahasa pribumi subetnik yang bersangkutan. Proses
indigenisasi Malayu Manado sedang berlangsung dengan pesat,
membentuk suatu cirri identitas etnik dan bagian dari sistem budaya
Minahasa