Anda di halaman 1dari 3

EXECUTIF SUMMARY

PENETAPAN KAWASAN
STRATEGIS
5.1. PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
Rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten perlu diprioritaskan karena mempunyai
pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten/kota terhadap ekonomi, sosial, budaya
dan/lingkungan hidup. Kawasan strategis merupakan kawasan yang di dalamnya berlangsung
kegiatan yang mempunyai pengaruh besar terhadap :
1. Tata ruang di wilayah sekitarnya;
2. Kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya; dan/atau
3. Peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Beberapa kawasan yang merupakan kawasan strategis di Kabupaten Teluk Bintuni terdiri dari
kawasan pertumbuhan ekonomi dan Kawasan strategis penyelamatan lingkungan hidup.

5.2. KAWASAN STRATEGIS PERTUMBUHAN


EKONOMI
Kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi merupakan kawasan yang
memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten yaitu
merupakan aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi yang memiliki :
a. potensi ekonomi cepat tumbuh,
b. sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi,
c. potensi ekspor,
d. dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi,
e. kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi,
f. fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan
pangan
g. fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka
mewujudkan ketahanan energi, atau
h. kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal didalam wilayah
kabupaten.
Kawasan Strategis ekonomi yang termasuk dalam kriteria diatas yang terdapat di Kabupaten
Teluk Bintuni terdiri dari kawasan strategis ekonomi propinsi dan kawasan strategis ekonomi
Kabupaten.
A. Kawasan Strategis Ekonomi Propinsi
Kawasan strategis ekonomi yang ditetapkan oleh propinsi Papua Barat yang berada di
Kabupaten Teluk Bintuni adalah sebagai beikut :
a. Kawasan strategis ekonomi kawasan Bintuni.
b. Kawasan pengembangan (KP) III provinsi Papua Barat yang meliupti Sorong Selatan
– Bintuni – Fakfak dengan komoditas unggulan sagu ikan dan udang Batubara dengan potensi
pasar Dometik – Eksport yang berada di jalur pantai utara.
c. Kawasan pengembangan (KP) V propinsi Papua Barat yang meliputi Kaimana –
Wondama – Bintuni – Manokwari dengan komoditas unggulan Ikan, Udang, Mutiara dan
Teripang, Wisata Bahari, Hasil Hutan Non Kayu dengan potensi pasar Domestik – eksport
dengan posisi kawasan yang berada di Jalur Utara Tengah.

RTRW TELUK BINTUNI V-1


EXECUTIF SUMMARY

d. Kawasan Andalan Teluk Bintuni dengan potensi sumberdaya alam dan


keanekaragaman hayati berupa hasil hutan, laut dan migas. Investasi terhadap sumberdaya
alam tersebut meliputi sektor perikanan laut (PT. Bintuni Minaraya) dan hasil hutan (PT. Bintuni
Utama Murni Wood Industries, KOPERMAS, PT. Henrison Iriana). Rencana pengelolaan
Kawasan Andalan Teluk Bintuni diarahakan pada :
• Pengembangan model pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan sesuai dengan
karakteristik kawasan Teluk Bintuni (misalnya teknik silvo fishery).
• Pengembangan prasarana dan sarana untuk kegiatan pertanian
• Peningkatan produksi pertanian dan perkebunan
• Pengembangan transportasi multimoda (darat dan laut) meningkatkan aksesibilitas
wilayah
• Pengelolaan lingkungan hidup (Rehabilitasi mangrove, dsb) untuk mencegah
menurunnya daya dukung lingkungan.
• Pengembangan kapasitas aparat dalam pengelolaan, monitoring dan evaluasi
B. Kawasan Strategis Ekonomi Kabupaten
Kawasan strategis ekonomi wilayah kabupaten adalah Kawasan LNG BP Tangguh di Distrik
Babo yang merupakan kawasan potensi tambang dan minyak bumi. Potensi terbesar di Kabupaten
Bintuni yaitu gas alam dengan cadangan 14,3 TCF. Selain itu juga terdapat potensi minyak bumi.
Potensi gas alam (LNG) saat ini telah dimulai tahapan penambahan luas pertambangan gas alam cair
oleh BP Tangguh yang akan beroperasi tahun 2008. Pengeboran ini mengambil kawasan di lepas
pantai (offshore) dan daratan (onshore) di sekitar kawasan Teluk Bintuni. Secara administratrif, lokasi
Proyek LNG Tangguh ini tercakup ke dalam tiga wilayah yaitu Kabupaten Teluk Bintuni, Fak-fak dan
Sorong Provinsi Irian Jaya Barat Seperti telah diuraikan sebelumnya, eksploitasi gas bumi oleh BP
Tangguh ini berpotensi menghasilkan polusi. Sebaliknya dapat pula menjadi pemicu perkembangan
wilayah disekitar pertambangan.

Base camp LNG di Tanah Merah Pengeboran Gas Alam

5.3. KAWASAN STRATEGIS


PENYELAMATAN LINGKUNGAN HIDUP
Kawasan strategis nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup, antara lain merupakan:
1. tempat perlindungan keanekaragaman hayati;
2. kawasan lindung yang ditetapkan sbagi perlindungan ekosistem flora dan atau fauna
yang hampir punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan,
3. memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap tahun berpeluang
menimbulkan kerugian;
4. memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro;
5. menunutut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup;
6. kawasan rawan bencana alam;
7. kawasan yang sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai dampak
luas terhadap kelangsungan kehidupan.

RTRW TELUK BINTUNI V-2


EXECUTIF SUMMARY

Adapun kawasan strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup di kabupaten Teluk
Bintuni terdiri dari kawasan strategis daya dukung lingkungan hidup Nasional, Propinsi dan
Kabupaten.
A. Cagar Alam Teluk Bintuni
Kawasan cagar alam di Kabupaten Teluk Bintuni ditetapkan sebagai Cagar Alam Teluk Bintuni
dengan pengukuhan terakhir dengan SK Menhut No. 891/Kpts-II/1999 dengan luasan 124.850 Ha.
Kawasan cagar alam yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni terdapat dua kawasan cagar alam yaitu
kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang berada di sekitar Distrik Wamesa serta Kawasan Cagar
Alam Wagura Kote yang berada di sekitar Distrik Babo.
B. Kawasan Mangrove Kabupaten Teluk Bintuni
Kawasan strategis daya dukung lingkungan hidup propinsi yang terdapat di Kabupaten Teluk
Bintuni adalah Kawasan Mangrove Kabupaten Teluk Bintuni. Hutan Mangrove di Kawasan Teluk
Bintuni dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok yaitu: kelompok hutan mangrove Sungai
Bomberai, Sungai Otoweri, Sungaio Amutu Besar, Sungai Amutu kecil, Sungai Tagarata, Sungai
Wagura, Sungai Kasuri, Sungai Onar, Sungai Mumusi, Sungai Tantowari, Sungai Muturi, Sungai
Tembuni, Sungai Sebyar, Sungai Weriagar, dan Sungai Kamundan. Pada bagian luar vegetasi
mangrove yang berbatasan langsung dengan garis pantai/muara teluk, struktur jumlah pohonnya
lebih kecil dibandingkan dengan vegetasi mangrove yang tumbuh lebih ke belakang, terutama
disepanjang sungai-sungai besar bermuara di Kawasan Teluk Bintuni.
Vegetasi hutan mangrove di Teluk Bintuni secara umum dapat dibedakan menjadi 3 zona
berdasarkan jenis pohon pembentuk tajuk yang dominan, yaitu zona Avicenia-Sonneratia,
Rhizophora-Sonneratia, dan Rhizophora-Bruguiera. Zona Avicenia-Sonneratia dan Rhizophora-
Sonneratia adalah zona komunitas mangrove yang paling luar dan langsung berhadapan dengan
Teluk Bintuni. Jenis yang dijumpai pada daerah ini didominasi oleh jenis Avicenia alba, Avicenia
marina, dan Rhizophora mucronata dengan tinggi pohon rata-rata mencapai 10 meter. Substrat yang
ada di bawah tegakan pada zona ini adalah endapan lumpur yang masih lunak dan tanah lepas yang
terendam oleh pasang surut. Sedangkan substrat yag ada di bawah wilayah mangrove terutama pada
zona Avicenia-Sonneratia agak lebih padat.
Zona Rhizophora-Bruguiera merupakan wilayah hutan mangrove yang umumnya tumbuh lebih
ke darat, terutama di sepanjang pinggiran sungai-sungai besar dan kecil yang bermuara di Teluk
Bintuni. Secara umum, Rhizophora spp. dan Bruguiera spp. merupakan pohon-pohon pembentuk
tanjuk utama dalam zona ini. Jenis-jenis lain yang banyak dijumpai di zona ini adalah Rhizophora
mucronata, R. apiculata, Bruguiera gymnorhiza, Bruguiera parviflora, Xylocarpus spp., Ceriops tagal,
Avicenia officinalis. Pada zona ini juga dijumpai jenis tumbuhan bawah, yaitu Acanthus ebracteatus,
Acanthus ilicifolius, Aegiceras corniculatum dan Avicenia intermedia (api-api merah). Substrat yang
ada di bawah tegakan pada zona ini sudah lebih keras dan kompak (tidak lepas) yang di dominasi
oleh fraksi liat.
Pada daerah yang paling dekat dengan pasang-surut ditemukan jenis mangrove dengan kerapatan
cukup tinggi, yaitu genus Rhizophora, Sonneratia, dan Avicenia. Kehadiran jenis-jenis mangrove ini
semakin berkurang atau tidak hadir sama sekali pada daerah yang lebih ke arah daratan di sepanjang
sungai.

RTRW TELUK BINTUNI V-3