Anda di halaman 1dari 17

FUNGSI DAN PERANAN PERADILAN SEMU DAN

UPAYA ADMINISTRASI DALAM PENINGKATAN PERAN


PERADILAN ADMINISTRASI DI INDONESIA
BERDASARKAN SUDUT PANDANG NEGARA KESEJAHTERAAN

Dibuat untuk memenuhi nilai Ujian Akhir Semester (UAS) pada mata
kuliah Hukum Acara Pengadilan Tata Usaha Negara
pada Semester Genap Tahun Akademik 2009 – 2010

Disusun Oleh:
Dyah Ayu Paramita
1101 1006 0071

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2010
2

BAB I

PERADILAN ADMINISTRASI

Negara adalah organisasi masyarakat yang memiliki daerah atau


teritori tertentu, di mana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai
suatu kedaulatan.1 Negara dikenal sebagai suatu gejala sosial dan politik
yang berkesinambungan.2

Untuk memenuhi kriteria sebagai negara, Oppenheim Lauterpacht


menyatakan, bahwa suatu negara harus memenuhi 3 (tiga) unsur di
bawah ini:

a. rakyat;

b. wilayah; dan

c. pemerintahan yang berdaulat.3

Sementara istilah “Pemerintah” sendiri memiliki berbagai


pengertian, sebagaimana Utrecht mengatakan, yakni:

a. Pemerintah sebagai gabungan dari badan-badan kenegaraan


yang bertugas menyelenggarakan kesejahteraan umum, dan
meliputi eksekutif, legislatif, dan juga yudikatif;

1
Lubis, Solly, Ilmu Negara, Bandung: Alumni, 1975, hlm. 9

Mengutip Mr. Soenarko, Susunan Negara Kita I, hlm. 10

2
Lubis, Solly, loc. cit.

3
Lubis, Solly, op. cit., hlm. 10

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


3

b. Pemerintah sebagai suatu lembaga kekuasaan di dalam suatu


negara yang sifatnya absolut; atau

c. Pemerintah dalam arti Presiden dan pembantu-pembantunya


dalam menjalankan negara, dalam hal ini yakni hanya lembaga
eksekutif saja yang dinilai.4

Apapun pengertian pemerintah yang diinginkan oleh para pakar


hukum tersebut, di dalam makalah ini, pengertian pemerintah yang akan
kita gunakan di sini, adalah pengertian pemerintah yang ke-tiga, yakni
pemerintdah dalam arti Presiden dan pembantu-pembantunya dalam
menjalankan negara.

Pemerintah, dalam menjalankan negara, melakukan 3 (tiga) jenis


tindakan administratif, yakni:
a. mengeluarkan keputusan (beschikking);
b. mengeluarkan peraturan (regeling); dan
c. melakukan perbuatan materiil (materiele daad).5

Dengan kekuasaan yang dimilikinya, pemerintah dapat melakukan


ketiga tindakan tersebut di atas baik berdasarkan perintah peraturan
perundang-undangan maupun atas pertimbangan mandiri, atau yang kita
kenal sebagai freies ermessen.

Tindakan atas inisiatif mandiri pemerintah, dan tanpa adanya


peraturan perundang-undangan yang formal, adalah suatu bentuk fasilitas
yang dimiliki oleh aparatur pemerintah, agar dapat memenuhi tujuannya,
yakni kesejahteraan bersama.

4
Lubis, Solly, op. cit., hlm. 13

5
S.F. Marbun, Peradilan Tata Usaha Negara, Penerbit Liberty, Yogyakarta: 1988, hlm. 3.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


4

Namun, tidak dapat kita sangkal, bahwa kekuasaan yang besar


menuntut tanggung jawab yang besar pula, dan rentan untuk
disalahgunakan. Oleh sebab itu, perlu dibuat suatu institusi ataupun forum
yang dapat memfasilitasi keluhan masyarakat atas tindakan pemerintah
tersebut di atas, yang dianggap telah tidak sesuai dengan tujuan bersama,
ataupun merugikan masyarakat.

Oleh sebab itu, muncullah mekanisme Upaya Administrasi dan


Banding Administrasi, yang dapat dilakukan melalui beberapa tahapan,
seperti penyampaian keluhan ke pejabat atau badan tata usaha negara
yang bersangkutan, atau pengaduan ke atasan dari pejabat atau badan
tata usaha negara yang bersangkutan.

Dapat pula dibentuk suatu Badan Arbitrase Ad Hoc yang bertugas


menyelesaikan permasalahan semacam ini, antara masyarakat dan
pemerintah.

Berbagai bentuk upaya ini, kita sebut dengan Peradilan Semu


Administrasi. Mengapa Peradilan Semu Administrasi? Karena apa yang
dilakukan adalah suatu bentuk pencarian keadilan di ranah tata usaha
negara (administrasi), baik secara terlembaga maupun individual, dan
bentuknya berada di luar sistem Yudikatif yang ada sebagai badan
peradilan yang resmi.

Sedangkan peradilan sejenis, yang juga adalah suatu lembaga


pencarian keadilan di ranah tata usaha negara (administrasi) yang
terlembaga dan berada di dalam sistem Yudikatif, kita kenal sebagai
Pengadilan Tata Usaha Negara.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


5

BAB II

PERADILAN MURNI ADMINISTRASI DENGAN NAMA

PERADILAN TATA USAHA NEGARA

Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) merupakan sebuah


lembaga Yudikatif di Indonesia yang berlandaskan atas Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 jo. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo.
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tata Usaha
Negara.

Sebagai sebuah lembaga peradilan, Pengadilan Tata Usaha


Negara tidak lepas dari kontroversi dan juga perdebatan, baik yang keluar
dari pemikiran akademisi, masyarakat, maupun pemerintah itu sendiri. Hal
ini disebabkan oleh adanya suatu kesenjangan yang cukup signifikan atas
fungsi dan konsep awal sebuah Peradilan Administrasi dengan
pelaksanaan dan landasan hukum yang diberikan kepada Pengadilan
Tata Usaha Negara di dalam kenyataannya.

Pengadilan Tata Usaha Negara sendiri memiliki sejarah panjang


dalam pembentukannya, yakni dimulai dengan Arrest Hooge Raad 1919
yang dikeluarkan pada tanggal 31 Desember 1919, di mana peristilahan
onrecht (melawan hukum) adalah dibedakan artinya dengan onwet
(melawan hukum tertulis atau perundang-undangan), hal ini menimbulkan
ketidaksesuaian dengan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata di mana tindakan yang onrecht (melawan hukum) tersebut adalah
sama dengan onwet (melawan hukum tertulis atau perundang-undangan).
Melalui Arrest Hooge Raad 1919 ini, maka perbuatan melawan hukum
diperluas menjadi, selain melawan peraturan perundang-undangan
tertulis, juga melawan kesusilaan, keseksamaan, kewajiban hukum, dan
norma-norma hukum umum yang berlaku di dalam masyarakat.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


6

Beberapa tahun berselang, terdapat sebuah kejadian lagi yang


cukup memiliki peran penting dalam terbentuknya Pengadilan
Administrasi, yakni Arrest Hooge Raad 1924, atau yang dikenal dengan
nama Ostermaan Arrest, yang dikeluarkan pada tanggal 20 November
1924 dan disebut sebagai “Revolusi November”6. Inti dari Ostermaan
Arrest ini adalah prinsip ganti rugi administratif, yakni upaya hukum
terhadap kebijakan pemerintah yang menimbulkan kerugian terhadap
masyarakat (baik secara individual maupun sebagai sebuah badan), yakni
dengan cara mengeluarkan kebijakan baru yang sedapat mungkin
menghilangkan kerugian yang telah diderita oleh masyarakat. Kisah di
balik Ostermaan Arrest ini adalah tindakan pejabat yang mengeluarkan
kebijakan untuk menahan shipping dari pihak Ostermaan, di mana isi dari
shipping tersebut adalah bahan pokok pada akhirnya membusuk karena
penahanan shipping tersebut; maka Hooge Raad pun menyatakan bahwa
tindakan yang dilakukan oleh pejabat tersebut memang benar
berdasarkan Undang-Undang, namun menimbulkan kerugian pada orang
lain (dalam hal ini Ostermaan), dan oleh sebab itu maka diberikan putusan
di mana pejabat yang bersangkutan diminta untuk membuat kebijakan
baru untuk menghapuskan kerugian dari Ostermaan tersebut. Di dalam
kedua Landmark Case ini, Arrest HR 1919 maupun Arrest HR 1924,
keduanya dilakukan melalui Pengadilan Umum Perdata.

Melalui Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 jo. Undang-Undang


No. 4 Tahun 2004 jo. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009, disebutkan
bahwa di dalam ranah yudikatif terdapat suatu pengadilan yakni
Pengadilan Tata Usaha Negara. Undang-Undang ini kemudian
ditindaklanjuti dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
yang merupakan Undang-Undang mengenai Pengadilan Tata Usaha

6
Prins, W.F., R. Kosim Adisapoetra, Pengantar Ilmu Hukum Administrasi Negara,
Pradnya Paramita, Jakarta: 1983, hlm. 131.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


7

Negara yang pertama di Indonesia, yang kemudian dilengkapi dengan


Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1991 tentang Ganti Rugi dan Tata
Cara Pelaksanaannya dalam Pengadilan Tata Usaha Negara. Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1986 itu pun telah mengalami 2 (dua) kali
perubahan, yakni melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009.

Pemerintah sebagai salah satu organisasi Negara yang diberi tugas


untuk menyelenggarakan kehidupan masyarakat diberi wewenang untuk
melakukan perbuatan Tata Usaha Negara, yang dapat dibedakan menjadi
3 (tiga) macam, yakni:

a. mengeluarkan keputusan (beschikking);

b. mengeluarkan peraturan (regeling); dan

c. melakukan perbuatan materiil (materiele daad).

dari ketiga macam perbuatan tersebut, yang menjadi kompetensi


Pengadilan Tata Usaha Negara menurut peraturan perundang-undangan
yang ada yakni hanya terbatas pada perbuatan pemerintah dalam
mengeluarkan keputusan. Sedangkan dalam mengeluarkan peraturan
merupakan bagian dari kompetensi Mahkamah Agung, melalui Judicial
Review. Dan dalam melakukan perbuatan materiil, hanya dapat dinilai
dengan melakukan Upaya Administrasi dan Banding Administrasi melalui
atasan (berdasarkan jenjang jabatan) dari Pejabat yang mengeluarkan
keputusan tersebut.7

Keputusan Tata Usaha Negara yang menjadi objek sengketa dalam


Peradilan Tata Usaha Negara merupakan keputusan dalam bentuk
tertulis, sesuai dengan Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986, yang bunyinya:

7
S.F. Marbun, loc. cit.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


8

“Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis


yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat
konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum
bagi seseorang atau badan hukum perdata;”

yang kemudian diperbaharui dengan Pasal 1 ayat (9) Undang-Undang


Nomor 51 Tahun 2009, dengan bunyi yang sama.

Selain itu juga, keputusan dalam bentuk tidak tertulis, sebagaimana


diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, yang
berbunyi:

(1) Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak


mengeluarkan keputusan, sedangkan hal itu menjadi
kewajibannya, maka hal tersebut disamakan dengan
Keputusan Tata Usaha Negara.
(2) Jika suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak
mengeluarkan keputusan yang dimohon, sedangkan jangka
waktu sebagaimana ditentukan data peraturan perundang-
undangan dimaksud telah lewat, maka Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah menolak
mengeluarkan keputusan yang dimaksud.
(3) Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan
tidak menentukan jangka waktu sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2), maka setelah lewat jangka waktu empat bulan
sejak diterimnya permohonan, Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara yang bersangkutan dianggap telah
mengeluarkan keputusan penolakan.

Kedua Pasal tersebut di atas merupakan pembatasan yang sangat


sempit bagi kompetensi dari Pengadilan Tata Usaha Negara yang dapat
menimbulkan berbagai permasalahan pada perkembangannya. Salah

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


9

satunya seperti yang dapat kita simak melalui dikeluarkannya Undang-


Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik,
Rancangan Undang-Undang tentang Pelayanan Publik, dan Rancangan
Undang-Undang tentang Administrasi Pemerintahan.

Di dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang


Keterbukaan Informasi Publik, Pasal 47 ayat (1), disebutkan mengenai
pengajuan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara apabila pelaku
pelanggaran dari peraturan yang diatur di dalam Undang-Undang tersebut
adalah Badan Publik Negara, dengan bunyi sebagai berikut:

“Pengajuan gugatan diajukan melalui Pengadilan Tata


Usaha Negara apabila yang digugat adalah Badan Publik
Negara.”

Gugatan yang dimaksud di sini adalah sehubungan dengan


permohonan informasi publik, yang tidak disampaikan atau tidak
memuaskan bagi pemohon, yang adalah anggota masyarakat.

Sedangkan di dalam Rancangan Undang-Undang tentang


Pelayanan Publik dan Rancangan Undang-Undang tentang Administrasi
Pemerintahan, terdapat perluasan dari kompetensi Pengadilan Tata
Usaha Negara, untuk dapat menangani permasalahan dan sengketa
sehubungan dengan tindakan maupun keputusan administrasi negara
sebagaimana suatu Peradilan Administrasi yang ideal.

Namun permasalahan kemudian timbul dengan tidak


diperbaharuinya Undang-Undang tentang Pengadilan Tata Usaha Negara.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


10

BAB III

NEGARA KESEJAHTERAAN

Negara Kesejahteraan atau yang dikenal dengan istilah lainnya


Welvaarstaat atau Welfare State, adalah sebuah konsep bernegara yang
berkembang di dalam masyarakat yang telah well-civilized atau dapat kita
katakana, maju dalam hal peradaban.

Unsur-unsur yang mendukung majunya peradaban negara-negara


ini di antaranya adalah budaya baik secara materiil maupun formil,
wilayah, dan sumber daya yang dimilikinya. Budaya materiil yang
dimaksud di sini adalah budaya yang berada dalam nilai-nilai yang tumbuh
dan berkembang bersama dengan interaksi sosial di dalam masyarakat.
Sedangkan budaya formil yang dimaksud di sini adalah budaya yang
diejawantahkan ke dalam perilaku dan karya cipta dari anggota
masyarakat.

Manusia secara berangsur-angsur, mengenal nilai-nilai kemanusia-


an, hak azasi, dan kemudian mengejar suatu ide yang dikenal sebagai
kesejahteraan bersama.

Pada awalnya, konsep negara kesejahteraan adalah suatu bentuk


institusional dari perlindungan sosial. (The welfare states are simply
institutional forms of social protection).8

Konsep negara kesejahteraan ini mulai bermunculan dari reaksi


pemerintah terhadap kecenderungan “protektif” yang ada di dalam
masyarakat, yang tidak secara hukum positif maupun institutif „terjamin‟.
Oleh sebab itu, kecenderungan dari suatu negara kesejahteraan adalah
8
Spicker, Paul, The Welfare States: a General Theory, London: Sage Publication Ltd.,
2000, hlm. 144.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


11

adanya jaminan sosial dan ekonomis terhadap warga masyarakatnya.


Konsep negara kesejahteraan yang berkembang di negara berkembang
biasanya adalah bentuk proteksi sosial yang terbentuk dari tindakan sosial
atau missal atas kesadaran bersama dari anggota masyarakat.

The social protection exists without the State, and it turns out the
State accommodates the idea of social protection, through its policies and
bodies.9

Beberapa pakar kenegaraan membagi negara kesejahteraan


tersebut menjadi beberapa jenis, misalnya:

a. Gøsta Esping Andersen


Social-Democratic (contoh: Swedia)
Liberal-Residual (contoh: Amerika)
Corporatist (contoh: Jerman)
b. Leibfried
Scandinavian (contoh: Swedia, Norwegia, Finlandia)
Bismarckian (contoh: Jeman, Austria)
Anglo Saxon (contoh: Inggris, Amerika, Australia)
Latin Rim (contoh: Italia, Yunani, Spanyol)
c. Palme
Residual (contoh: Inggris, Perancis, Amerika)
Citizenship (contoh: Austria, Denmark)
Work Merit (contoh: Jerman)
Institutional (contoh: Swedia)

Terhadap pengkategorisasian ini, Swedia, sebagai suatu landmark


state dari munculnya konsep negara kesejahteraan, merupakan contoh
ideal dari pelaksanaan negara kesejahteraan di mana hak-hak azasi
manusia dinilai secara universal.
9
Ibid.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


12

Permasalahan yang timbul dari konsep negara kesejahteraan


adalah tingginya biaya yang diperlukan dalam menyelenggarakan
pemerintahan dan pelayanan publik.

Tingginya biaya ini adalah atas dasar pemikiran harus terpenuhinya


kebutuhan-kebutuhan esensial dari anggota masyarakat, seperti
kesehatan dan pendidikan, dengan mudah dan, sedapat mungkin, cuma-
cuma. Hal ini akan membengkakkan anggaran negara, sebagaimana
dapat kita pelajari dari Selandia Baru, di mana anggaran negara untuk
kesejahteraan sosial adalah 35% dari total anggaran belanja negara, dan
itu belum termasuk pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis.

Biaya tinggi ini, kemudian dibebankan kepada pajak masyarakat


yang juga tinggi, sebagai contoh di Swedia dan Denmark, jumlah
pemasukan negara yang berasal dari pajak hampir mencapai 50% dari
pemasukan negara. Ketaatan masyarakat atas pembayaran pajak pun
terjamin, dengan adanya kepastian dan kualitas pelayanan publik yang
prima.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


13

BAB IV

PELAKSANAAN UPAYA ADMINISTRASI DAN PERADILAN SEMU


ADMINISTRASI DALAM SISTEM PERADILAN MURNI ADMINSTRASI
BERDASARKAN SUDUT PANDANG INDONESIA SEBAGAI
NEGARA KESEJAHTERAAN

Terdapat berbagai pendapat sehubungan dengan pelaksanaan


Upaya Administrasi, Banding Administrasi, dan bentuk-bentuk Peradilan
Semu Administrasi yang dapat dilakukan lainnya di dalam Pengadilan
Tata Usaha Negara. Bagi pihak yang mendukungnya, menganggap
bahwa ini merupakan hakikat dari Peradilan Administrasi yang memang
seharusnya demikian adanya. Sedangkan bagi pihak yang menentangnya,
menganggap pilihan forum, dan pilihan medium pencarian keadilan itu
haruslah ada, dalam menjamin keadilan itu sendiri.

Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 berbunyi:

“Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutus, dan


menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) jika seluruh upaya administratif yang
bersangkutan telah digunakan.”

Dan pasal ini tidak diubah baik melalui Undang-Undang Nomor 9


Tahun 2004 maupun melalui Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009.
Sehingga, peraturan ini masih berlaku, dan memberikan legitimasi atas
pelaksanaan Upaya Administrasi pada Pejabat atau Badan Tata Usaha
Negara yang bersangkutan, maupun Banding Administrasi pada atasan
dari Pejabat atau Badan Tata Usaha Negara yang bersangkutan
berdasarkan jenjang jabatannya.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


14

Indonesia, merupakan salah satu negara yang menganut konsep


negara kesejahteraan. Sebagai sebuah negara berkembang, pemenuhan
kebutuhan dan standar negara berkembang menjadi tantangan yang
sangat besar bagi negara seperti Indonesia, terutama yang berhubungan
dengan pembiayaan negara.

Negara kesejahteraan di negara-negara berkembang, diyakini


sebagai bentuk dari perkembangan demokrasi. Dengan asumsi, apabila
kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, yang kemudian melalui suatu
“kontrak sosial” menentukan siapa yang berhak menjadi pemerintah dari
rakyat itu sendiri. Maka apa yang diberikan pemerintah sebagai bentuk
loyalitasnya terhadap raykat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi,
adalah pelayanan yang prima.

Pelayanan yang prima di sini merupakan penilaian yang subjektif


dari sisi rakyat sebagai “konsumen” dari produk-produk pemerintah.
Penilaian subjektif itu akan menjadi cambuk tersendiri bagi pemerintah
untuk memberikan pelayanan terbaiknya bagi rakyat. Dan dengan
demikian, rakyat dapat mengajukan tuntutan haknya kepada pemerintah,
apabila pelayanan yang didapatkannya tidak sesuai dengan yang
seharusnya dapat diberikan oleh pemerintah.

Pelayanan ini dapat berupa tindakan yang langsung, kebijakan,


peraturan, maupun keputusan pemerintah yang berhubungan dengan
pelaksanaan pemerintahan dan juga yang berhubungan dengan anggota
masyarakat itu sendiri.

Sehubungan dengan hal yang dapat merugikan masyarakat luas,


anggota masyarakat dapat menjadukan citizen law suit ataupun class
action kepada pemerintah. Dan sehubungan dengan hal-hal yang lebih
sempit jangkauannya, anggota masyarakat dapat melakukan Upaya
Administrasi, Banding Administrasi, maupun Pengajuan Gugatan ke
Pengadilan Tata Usaha Negara.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


15

Keberadaan medium-medium Peradilan ini pun dilengkapi dengan


dapatnya ditempuh cara-cara Penyelesaian Sengketa Alternatif sebagai
pilihan non-litigasinya.

Kedudukan lembaga-lembaga ini adalah vital dan krusial bagi


perkembangan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat di dalam suatu
negara kesejahteraan seperti Indonesia. Sehingga rakyat dapat
menyampaikan ketidakpuasannya atas tindakan dan keputusan yang
dibuat oleh aparatur pemerintahan yang seharusnya menjadi pelayan
masyarakat.

Adapun mengenai peleburan dari berbagai metode dan lembaga ini


ke dalam Peradilan Tata Usaha Negara, menurut saya merupakan suatu
hal yang tidak perlu diatur ataupun dilakukan, karena dengan adanya
pilihan forum dan juga medium penyelesaian sengketa, maka publik
(dalam hal ini, rakyat), dapat menentukan sendiri apa yang lebih sesuai
dengan hati nurani dan nilai-nilai yang ingin diperjuangkannya.

Jaminan atas dapat terlaksananya bentuk-bentuk Upaya


Administrasi, Banding Administrasi, Penyelesaian Sengketa Alternatif,
Arbitrase Ad Hoc, maupun Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut
secara benar dan efektif, dan terbuka untuk publik, telah dapat
memberikan gambaran atas keseriusan pemerintah dalam
menyelenggarakan sebuah negara kesejahteraan.

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


16

DAFTAR PUSTAKA

LITERATUR
Prajudi Atmosudirdjo, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia,
Jakarta: 1981
Prins, W.F., R. Kosim Adisapoetra, Pengantar Ilmu Hukum Administrasi
Negara, Pradnya Paramita, Jakarta: 1983
S.F. Marbun, Peradilan Tata Usaha Negara, Penerbit Liberty, Yogyakarta:
1988
Soehardjo Ss., S.H., Hukum Administrasi Negara: Pokok-pokok
Pengertian serta Perkambangannya di Indonesia, Badan Penerbit
Universitas Diponegoro, Semarang: 1991
Spicker, Paul, The Welfare States: a General Theory, London: Sage
Publication Ltd., 2000

PERUNDANG-UNDANGAN
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1991 tentang Ganti Rugi dan Tata
Cara Pelakanaannya dalam Peradilan Tata Usaha Negara
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata
Usaha Negara
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara
Rancangan Undang-Undang tentang Pelayanan Publik
Rancangan Undang-Undang tentang Administrasi Pemerintahan

Dyah Ayu Paramita | 110110060071


17

ARTIKEL / JURNAL / DAN SEBAGAINYA


Bernardinus Steni, “Mengapa Kita Perlu Membentuk Lembaga Pengawas
dan Penyelesaian Sengketa Pelayanan Publik?”,
http://www.huma.or.id/document/I.03.%20Analisa%20Hukum/Berna
dinus%20Steny.%20Mengapa%20Kita%20Perlu%20Membentuk%
20Lembaga%20Pengawas%20%20dan%20Penyelesaian%20Seng
keta%20Pelayanan%20Publik.pdf, diakses pada 1 Juni 2010, pukul
18.00 WIB
Junaedi, S.H., M.Si., LL.M., “Upaya Administrasi”,
http://staff.ui.ac.id/internal/050403018/material/UPAYAADMINISTR
ATIFUA.ppt, diakses pada 1 Juni 2010, pukul 20.00 WIB
Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MAPPI) Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, “Alur Peradilan Tata Usaha Negara”,
http://www.pemantauperadilan.com/index.php?Itemid=9&id=8&opti
on=com_content&task=view, diakses pada 1 Juni 2010, pukul
14:28 WIB
Wikipedia, http://en.wikipedia.org/welfare_state, diakses pada 7 Juni 2010,
pukul 03.40 WIB

Dyah Ayu Paramita | 110110060071