Anda di halaman 1dari 59

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Eteris oil atau yang biasa kita sebut sebagai Eteris
merupakan suatu produk agroindustri yang memiliki nilai tambah
yang sangat besar. Dalam industri bisnis berbasis pertanian,
eteris berperan sangat penting dalam melengkapi suatu ’flavour’
atau ’rasa’ dalam menciptakan produk agroindustri lainnya
seperti dalam hal menciptakan parfum dan eterislah yang
menjadi suatu bahan bakunya. Oleh karena itu, kita sebagai
kader himalogin yang tangguh sekaligus sebagai generasi
penerus perjuangan bangsa wajib mengetahui dan mengenal
secara mendalam tentang agro industri.

b. Tujuan
Untuk mengembangkan dan memperdalam pengetahuan
dalam bidang agroindustri pada umumnya dan eteris oil pada
khususnya.

BAB II
ETERIS
1. Definisi Eteris
Eteris yang dikenal dengan nama minyak terbang (volatile
oil) atau Eteris adalah minyak yang dihasilkan dari tanaman dan
mempunyai sifat mudah menguap pada suhu kamar tanpa
mengalami dekomposisi. Eteris merupakan salah satu hasil
proses metabolisme dalam tanaman, yang terbentuk karena
reaksi berbagai senyawa kimia dan air. Sifat dari Eteris yang lain
adalah mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi
sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam
pelarut organik seperti alkohol, eter, petroleum, benzene, dan
tidak larut dalam air (Ketaren, 1983).

1
Kebanyakan Eteris terbentuk bebas atau sebagai glukosa,
karena adanya air dan enzim-enzim sehingga mengalami
penguraian menjadi eteris (Sandler, 1952).

2. Komponen dan Susunan Kimiawi Eteris


Eteris umumnya terdiri dari campuran berbagai
persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur-unsur kimia
seperti karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), dan beberapa
persenyawaan kimia yang mengandung unsur nitrogen (N), serta
belerang (S). Guenther (1987) mengatakan bahwa Eteris
terutama terdiri dari persenyawaan kimia mudah menguap,
termasuk golongan hidrokarbon asiklik dan hidrokarbon isosiklik
serta turunan hidrokarbon yang telah mengikat oksigen.
Menurut Ketaren (1985) umumnya komponen kimia eteris
dibagi menjadi 2 golongan yaitu hidrokarbon dan hidrokarbon
beroksigen (oxygented hidrocarbon). Jenis hidrokarbon yang
terdapat dalam eteris sebagian besar terdiri dari monoterpen (2
unit isopren), sesquiterpen (3 unit isoterpen), diterpen (4 unit
isoterpen), dan politerpen, serta parafin, olefin dan hidrokarbon
aromatik. Di samping itu eteris mengandung resin dan lilin dalam
jumlah kecil. Resin dan lilin merupakan komponen yang tidak
mudah menguap.

3. Sumber Eteris
Tanaman penghasil eteris di Indonesia kurang lebih
sebanyak 160-200 jenis, dan termasuk dalam famili Pinaceae,
Labiatae, Compositae, dan sebagainya. Bagian jaringan tanaman
penghasil eteris adalah akar, batang, daun, bunga, buah, kulit,
dan biji. Eteris yang berasal dari daun antara lain minyak sereh,
nilam, dan kayu putih, cengkeh sedangkan yang berasal dari
bunga tanaman yaitu kenanga, melati, mawar, ylang-ylang,

2
cempaka, dan cengkeh. Lain halnya dengan panili, lada, dan
ketumbar, minyaknya dapat diperoleh dari kulit buah atau
buahnya. Kayu manis, cendana, cabe dan sebagainya berasal
dari kulit batang atau batangnya dan eteris yang berasal dari
akar seperti jahe, akar wangi, sarsapella, dan lain-lain.
Eteris Indonesia yang dikenal dalam dunia perdagangan
dunia antara lain nilam, cengkeh, lada, pala, akar wangi, sereh
wangi, kayu putih, cendana, gaharu, kayu manis, jahe, mesoyi,
kemukus, kenanga, bunga-bunga dan lainnya.

4. Aplikasi Eteris
Eteris merupakan komoditas ekspor non migas yang
dibutuhkan oleh berbagai negara. Aplikasinya banyak digunakan
pada berbagai industri seperti :
• Industri makanan : bahan penyedap dan penambah cita
rasa
• Industri farmasi : obat anti nyeri, anti infeksi dan anti
bakteri
• Industri bahan pengawet (sebagai insektisida)
• Industri kosmetik dan personal care products :
sabun, pasta gigi, lotion, skincare, produk-produk
kecantikan, dan sebagainya
• Industri parfum
Penggunaan eteris dapat melalui konsumsi langsung
melalui mulut atau dengan pemakaian luar. Eteris yang
dikonsumsi secara langsung dapat berupa makanan atau
minuman seperti jamu yang mengandung Eteris,
penyedap/fragrant makanan, flavour ice cream, permen, dan
pasta gigi. Adapun yang lebih banyak digunakan adalah untuk
pemakaian luar seperti pemijatan, lulur, obat luka/memar,
pewangi (parfum), lotion dan lain sebagainya. Juga dapat

3
dilakukan melalui pernapasan/inhalasi dengan wangi-wangian
ruangan, aroma untuk aromaterapi, rasa sejuk/”cool”.

Tabel 3. Potensi keanekaragaman tanaman aromatik (penghasil


Eteris) yang sudah berkembang
Nama Nama Nama
No Kegunaan
Minyak Dagang Tanaman
1. Nilam Patchouli oil Pogestemon Parfum, sabun
2. Serai wangi Citronella oil cablin Parfum, sabun
3. Akar wangi Vetiver oil Andropogon Parfum, sabun
4. Kenanga Cananga oil nardus Parfum, sabun
5. Cendana Sandalwood Vetiveria Parfum, sabun
6. Kayu putih oil zizanoides Farmasi
Cajeput oil Canangium
7. Daun odoratum Parfum,
cengkeh Clove leaf oil Santalum album farmasi,
8. Melaleuca makanan,
9. Gagang Clove stem leucadendron rokok
10. cengkeh oil Syzygium Idem
11. Bunga Clove bud aromaticum Idem
12. cengkeh oil Makanan,
Pala Nutmeg oil Syzygium rokok
Lada Black aromaticum Makanan,
Jahe pepper oil Syzygium minuman
Ginger oil aromaticum Makanan,
Myristica minuman
fragrans
Piper nigrum
Zingiber
officinale

Tabel 4. Potensi keanekaragaman tanaman aromatik (penghasil


Eteris) yang sedang berkembang
No Nama Nama Nama
Kegunaan
. Minyak Dagang Tanaman

4
1. Masoi Massoi oil Criptocaria Makanan
2. Kulit manis Cinnamon massoia Makanan,
3. Daun kayu Bark Cinnamomum farmasi
4. manis Cinnamon burmanii Makanan,
5. Ylang-ylang leaf oil Cinnamomum farmasi
Serai dapur Ylang-ylang casea Parfum,
6. oil Canangium sabun
Serai dapur Lemon Grass odoratum Makanan,
7. oil Cymbopogon farmasi
8. Gaharu (East India) flexyosus
Klausena Lemon Grass Cymbopogon Makanan,
9. oil citratus farmasi
Permen (West Indian) Aquilaria sp
10 Agarwood oil Clausena Parfum
. Kemukus Clausena/Anis anisata Farmasi,
oil rokok,
Mentha minuman,
Cormint oil arvensis parfum,
Farmasi,
Cubeb oil Piper cubeba rokok,
makanan
Makanan,
farmasi

6. Proses Produksi Eteris


Untuk menghasilkan Eteris
dapat dilakukan dengan 3 (tiga)
cara, yaitu :
• Penyulingan
• Ekstraksi dengan pelarut
• Pengempaan

Eteris terdapat pada kantung-kantung minyak dalam


jaringan tumbuhan sehingga diperlukan suatu usaha untuk
mengeluarkannya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan
penyulingan.
Sistem Penyulingan

5
Penyulingan adalah suatu proses pemisahan secara fisik
suatu campuran dua atau lebih produk yang mempunyai titik
didih yang berbeda, dengan cara mendidihkan terlebih dahulu
komponen yang mempunyai titik didih rendah terpisah dari
campuran atau dapat pula didefinisikan sebagai pemisahan
komponen-komponen suatu campuran dari dua jenis cairan atau
lebih berdasarkan perbedaaan tekanan uap dari masing-masing
zat tersebut. Adapun tujuan dari proses penyulingan adalah
memperoleh Eteris dari tanaman aromatik yang mempunyai
kandungan Eteris yang sulit untuk diekstrak pada kondisi
lingkungan normal.

6
Tabel 5. Tanaman atsiri yang berpotensi untuk dikembangkan

Sumber : Balitro; Kemala (1990); Hobir (2002)

7
Gambar 1. Contoh mesin penyulingan Eteris skala
industri

Gambar 2. Diagram alir proses penyulingan


Eteris

Metode penyulingan Eteris :


1. Penyulingan dengan air (water distillation)
2. Penyulingan dengan uap dan air (steam and water distillation)
3. Penyulingan dengan uap langsung (steam distillation)

8
Istilah di atas mula-mula diperkenalkan oleh Von
Rechenberg dan terus berkembang menjadi teknik industri Eteris
sampai sekarang.
a. Penyulingan dengan air
Pada metoda penyulingan dengan air, bahan yang akan
disuling kontak langsung dengan air mendidih. Air dipanaskan
dengan metode pemanasan yang biasa dilakukan, yaitu
dengan panas langsung, mantel uap, pipa uap melingkar
tertutup dan pipa uap melingkar terbuka.

Gambar 3. Proses penyulingan dengan


air

b. Penyulingan dengan air dan uap


Air dapat dipanaskan dengan berbagai cara yaitu dengan
uap jenuh yang basah dan bertekanan rendah. Ciri khas dari
metode ini adalah (1) uap selalu dalam keadaan basah, jenuh
dan tidak panas; (2) bahan yang disuling hanya berhubungan
dengan uap dan tidak dengan air panas. Keuntungan metode ini
adalah uap berpenetrasi secara merata ke dalam bahan dan
suhu dapat dipertahankan sampai 100°C. Lama penyulingan
relatif singkat, rendemen minyak lebih besar dan mutunya lebih
baik jika dibandingkan dengan minyak hasil sistem penyulingan
dengan air, dan bahan yang disuling tidak menjadi gosong.

9
Gambar 4. Proses penyulingan dengan uap
dan air

c. Penyulingan dengan Uap Langsung


Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau uap kelewat
panas pada tekanan lebih dari satu atmosfer. Uap dialirkan
melalui pipa uap berlingkar yang berpori yang terletak di bawah
bahan, dan uap bergerak ke atas melalui bahan yang terletak di
atas saringan.

Gambar 5. Proses penyulingan dengan uap

Alat yang digunakan dalam penyulingan adalah :


1. Ketel Suling
Ketel suling digunakan sebagai tempat air atau uap untuk
mengadakan kontak langsung dengan bahan, serta untuk
menguapkan Eteris. Pada bentuk sederhana ketel suling
berbentuk silinder atau tangki, yang mempunyai diameter

10
sama atau lebih kecil dari tinggi tangki. Tangki tersebut
dilengkapi dengan tutup yang dapat dibuka dan diapitkan
pada bagian atas penampang ketel. Pada atau dekat
penampang atas tangki dipasang pipa berbentuk leher angsa
untuk mengalirkan uap ke kondensor (Guenther, 1947).

Ketel Suling, sebagai wadah


bahan kontak langsung dengan
air atau uap

2. Ketel Uap/Boiler
Ketel uap adalah pembangkit uap/dimana air dipanaskan di
bawah tekanan, dimana uap ini berfungsi sebagai zat
pemindah tenaga kaloris. Melalui api dan gas asap kalor
dipindahkan dari bahan bakar ke air dan uap melalui dinding
bidang pemanas, kemudian uap dapat disalurkan ke pemakai
sesuai dengan tujuan penggunaannya (Tambunan dan Karo-
karo dalam Sunarto, 1992).

Boiler, alat penghasil uap


panas

3. Kondensor (Pendingin)

11
Pendingin berfungsi untuk mengubah seluruh uap air dan
uap minyak menjadi fase cair. Jumlah panas yang dikeluarkan
pada peristiwa kondensasi sebanding dengan panas yang
diperlukan untuk penguapan uap minyak dan uap air serta
jumlah kecil panas tambahan dikeluarkan untuk
mendinginkan hasil kondensasi, yang berguna untuk menjaga
supaya suhunya di bawah titik didih (Guenther, 1947).
Kondensor yang paling umum digunakan adalah kondensor
berpilin (coil condenser) yang dimasukkan ke dalam tangki
berisi air dingin yang mengalir. Arah aliran air pendingin
berlawanan dengan arah uap air dan uap minyak.

Kondensor , pendingin
uap air dan minyak

4. Oil Separator
Alat ini digunakan untuk memisahkan minyak dari air
suling. Jumlah volume air suling selalu lebih besar dari jumlah
minyak, dalam hal ini diperlukan agar air suling tersebut
terpisah secara otomatis dari Eteris. Eteris dan air suling tidak
melarut; karena perbedaan bobot jenis maka larutan tersebut
akan terpisah dimana minyak tersebut berada di atas lapisan
air, hal ini yang merupakan prinsip kerja dasar dari alat ini
(Guenther, 1947).

12
Oil separator,
memisahkan minyak
dengan zat-zat pengotor

Ada beberapa faktor yang menentukan mutu hasil penyulingan,


seperti :
1. Jenis dan penanganan bahan baku yang akan disuling
2. Jenis, distribusi dan debit uap yang digunakan
3. Bahan penyusun ketel penyulingan
4. Dimensi alat penyuling
5. Metode penyulingan yang digunakan
Pada umumnya untuk mendapatkan rendemen yang tinggi
dan mutu Eteris yang baik diperlukan usaha-usaha seperti :
(1) suhu penyulingan dipertahankan serendah mungkin
dengan mengingat bahwa kecepatan serta besarnya
jumlah minyak ditentukan oleh suhu;
(2)pada penyulingan uap, jumlah air yang kontak langsung
dengan bahan yang disuling, diusahakan sesedikit mungkin
(3)perajangan bahan dimaksudkan agar pengisian bahan ke
dalam ketel suling sehomogen mungkin (Guenther, 1987).
7. Mutu Eteris
Beberapa faktor yang berperan dalam menentukan mutu
Eteris adalah jenis tanaman, umur panen, perlakuan bahan
sebelum penyulingan, jenis peralatan yang digunakan dan
kondisi prosesnya (seperti metode penyulingan, jumlah bahan,
dan lama penyulingan), perlakuan minyak setelah penyulingan,
kemasan, dan penyimpanan. Kondisi proses selain dapat
mempengaruhi mutu juga dapat mempengaruhi rendemen

13
minyak hasil penyulingan. Penanganan bahan yang kurang tepat
sebelum penyulingan, dapat mengakibatkan kehilangan Eteris
cukup besar dan juga dapat menurunkan mutunya.
Perlakuan pendahuluan terhadap bahan dapat
mempertinggi rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan.
Beberapa cara perlakuan pendahuluan yang dapat dilakukan
antara lain pengecilan ukuran bahan, pengeringan, pelayuan,
dan fermentasi oleh mikroorganisme. Pelayuan dan pengeringan
dimaksudkan untuk menguapkan sebagian air dalam bahan,
sehingga penyulingan lebih mudah dan lebih singkat, sedangkan
perajangan dapat menambah luas permukaan bahan sehingga
memungkinkan jumlah minyak yang diperoleh lebih besar
(Ketaren, 1985).
Kualitas atau mutu Eteris ditentukan oleh karakteristik
alamiah dari masing-masing minyak tersebut dan bahan-bahan
asing yang tercampur di dalamnya, adanya bahan-bahan asing
akan merusak mutu Eteris. Komponen standar mutu Eteris
ditentukan oleh kualitas dari minyak itu sendiri dan
kemurniannya. Kemurnian minyak dapat diketahui dengan
penetapan kelarutan uji lemak dan mineral. Selain itu, faktor
yang menentukan mutu adalah sifat-sifat fisika-kimia minyak,
seperti bilangan asam, bilangan ester, dan komponen utama
minyak, dan membandingkannya dengan standar mutu
perdagangan yang ada. Bila nilainya tidak memenuhi berarti
minyak telah terkontaminasi, atau adanya pemalsuan atau
minyak dikatakan bermutu rendah.

14
BAB II. ETERIS PROSPEKTIF DI INDONESIA
Beberapa jenis minyak yang prosfektif dikembangkan di
Indonesia antara lain sebagai berikut :
1. Minyak Nilam
2. Minyak Kayu Putih
3. Minyak Sereh Wangi
4. Minyak Ylang-ylang
5. Minyak Kayu Manis
6. Minyak Akar Wangi
7. Minyak Pala
8. Minyak Jahe
9. Panili

1. MINYAK NILAM
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan
salah satu tanaman penghasil Eteris yang penting, baik sebagai
penyumbang devisa maupun sebagai sumber pendapatan
petani. Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di
pasar dunia dengan kontribusi sebesar 64%. Ekspor minyak
nilam pada tahun 2004 sebesar 2.074 ton dengan nilai US $
27.136 juta (Ditjen Perkebunan, 2006). Dalam dunia
perdagangan internasional sering disebut patchouli oil. Adapun
Negara-negara tujuan ekspor minyak nilam antara lain Jepang,
Singapura, Amerika, dan Perancis.

Tabel 6. Ekspor minyak nilam Indonesia (BPS, 2005)


Volume Harga/kg
Tahun
(kg) (US$)
2001 1.189.000 17,30
2002 1.295.000 17,39
2003 1.127.000 17,00
2004 2.074.250 13,08

15
2005 (Jan-
1.102.982 7,16
Mei)

Luas areal pertanaman nilam tahun 2003 sekitar 16.354 ha yang


tersebar pada daerah-daerah sentra produksi nilam seperti :
- Nanggroe Aceh Darussalam (Tapaktuan, Sidikalang,
Lhokseumawe)
- Sumatera Barat (Pasaman)
- Sumatera Utara (Dairi)
- Bengkulu
- Lampung
- Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah lainnya
Produktivitas minyak nilam yang dihasilkan masih rendah
rata-rata 199,48 kg/ha/tahun (Ditjen Bina Produksi Perkebunan,
2006). Rendahnya produksi disebabkan oleh rendahnya mutu
genetik tanaman, teknologi budidaya, panen dan pasca panen
yang belum tepat dan berkembangnya berbagai penyakit (Yang
Nuryani, et al., 2006).
Jenis tanaman nilam yang umumnya dibudidayakan di Indonesia
yaitu :
1. Pogostemon cablin, Benth (syn P.patchouly Pell.) atau dikenal
sebagai nilam aceh dan banyak diusahakan di Aceh dan
Sumatera Utara.
2. Pogostemon heyneanus, Benth atau dikenal sebagai nilam
jawa atau nilam hutan.
3. Pogostemon hortensis, Benth atau dikenal juga sebagai nilam
jawa atau nilam sabun ini tidak berbunga, kandungan
minyaknya rendah, yaitu 0,5-1,5%.
Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan
(hidrodestilasi) daun dan tangkai tanaman nilam. Minyak nilam
merupakan salah satu Eteris yang mempunyai titik didih relatif
tinggi sehingga cukup baik dipergunakan sebagai bahan

16
pengikat pada pembuatan parfum. Bahan-bahan pewangi yang
dapat diikat oleh minyak nilam antara lain minyak mawar,
melati, jahe, cengkeh, dan sereh (Kristina, 1992).
Sup (1993) menambahkan bahwa minyak nilam
mempunyai keunggulan dibanding Eteris yang lain, yaitu daya
lekatnya cukup tinggi, tidak mudah menguap, tidak mudah
tercuci, dapat larut dalam alkohol, dan dapat dicampur dengan
minyak eteris lainnya. Kandungan senyawa minyak nilam, antara
lain benzaldehid (2,3%), kariofilen (17,29%), α -patchoulien
(28,28%), buenesen (11,76%) dan patchouli alkohol (40,04%).
Kandungan minyak nilam pada daun sebesar 5-6%, batang,
cabang dan ranting sebesar 0.4-0.5%.
Pengolahan nilam dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu
pengadaan bahan baku mencakup budidaya dan pemanenan,
penanganan pasca panen seperti pengecilan ukuran, pelayuan,
dan pengeringan, dan proses penyulingan hingga tahap
pengemasan.
Pemetikan sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari atau
menjelang malam hari, karena pada waktu tersebut kadar
patchoulinya meningkat. Cara memangkas dan meninggalkan
sisa tanaman nilam setinggi 40-50 cm. Daun nilam yang dipanen
dipetik sebelum daun berubah menjadi berwarna coklat (masih
berwarna hijau).

Gambar 6. Tanaman nilam siap


panen

17
Gambar 7. Diagram
Pengeringan/pelayuan alir proses
dapat pengolahan
dilakukan
minyak nilam
dengan penjemuran tidak langsung di bawah
sinar matahari. Setelah penjemuran,
kemudian diangin-anginkan di tempat teduh
selama 3-4 hari. Kadar air daun dan tangkai
Daun Nilam
yang siap disuling adalah + 15 % Kering

18
Gambar 8. Ruang pengeringan daun nilam (kering angin)

PENYULINGAN
Penyulingan daun nilam mencakup :
 Perajangan bahan ( batang, ranting, rimpang, buah, biji )
 Penjemuran dengan sinar matahari/oven, kadar air ± 12%
 Penggilingan dengan hammermill
 Penyulingan dengan metode uap langsung (steam
distillation) akan memberikan hasil yang optimal.
 Penyulingan daun segar akan menghasilkan rendemen
minyak yang rendah.
 Pencampuran dengan ranting nilam.

Gambar 9. Bahan baku nilam untuk


penyulingan

19
Gambar 10. Skema proses penyulingan dengan
menggunakan uap langsung

Gambar 11. Unit penyulingan nilam


kapasitas 25 kg
20
Gambar 12. Unit penyulingan nilam kapasitas
500 kg

MUTU MINYAK NILAM


Faktor yang mempengaruhi :
1. Jenis tanaman dan umur panen
2. Perlakuan bahan olah sebelum ekstraksi
3. Sistem, jenis peralatan dan kondisi proses ekstraksi minyak
4. Perlakuan terhadap Eteris setelah ekstraksi
5. Pengemasan dan penyimpanan

Tabel 7. Syarat mutu rekomendasi


Persyaratan SNI 06-
Jenis Uji
2385-1998
Bau Segar, khas minyak nilam
Putaran Optik (-47°) – (-66°)
Patchouly Dicantumkan sesuai hasil

21
alkohol uji

Dalam perdagangan mutu minyak nilam yang baik adalah


ditandai dengan kadar patchouli alkohol sebagai komponen
utama tinggi.

Tabel 8. Parameter mutu minyak nilam berdasarkan Standar


Nasional Indonesia (SNI) 06-2385-1998
Karakteristik SNI 06-2385-1998
Kuning muda sampai
Warna
coklat tua
Bobot Jenis 20°C/20°C 0.943 – 0.983
Indeks Bias 1.504 – 1.514
Bilangan asam Maksimum 5.0
Bilangan ester Maksimum 10.0
Larutan jernih dalam
Kelarutan dalam
perbandingan volume 1
alkohol 90%
: 1 – 1 : 10
Minyak Kruing Tidak nyata
Minyak lemak Negatif (-)
Minyak pelican Negatif (-)

Minyak nilam dapat digunakan di berbagai industri, seperti :


• Industri makanan, untuk bahan penyedap dan penambah
cita rasa
• Industri bahan pengawet, sebagai insektisida.
• Industri kosmetik dan personal care products, dapat
digunakan dalam pembuatan sabun, pasta gigi, lotion,
skincare, produk-produk kecantikan, dan sebagainya.
• Industri parfum (aroma woodsy),
digunakan untuk mengharumkan kamar tidur
untuk memberi efek menenangkan.
• Industri farmasi :

22
> anti septik,anti jamur, anti jerawat,
> obat eksim, dan kulit pecah-pecah, serta ketombe,
> mengurangi peradangan, membantu mengurangi
kegelisahan dan depresi,
> membantu penderita insomnia (gangguan susah tidur) dan
meningkatkan gairah seksual,
> membuat tidur lebih nyenyak (anti-insomnia).
> penawar racun
minyak nilam murni (100%) yang diteteskan pada kapas dan
diusapkan pada bagian yang digigit ular cobra, dapat
menetralisir racun/bisa ular sebagai pertolongan pertama.
 Pewangi
Selain aromanya, minyak nilam juga berfungsi sebagai
fiksatif, yaitu pengikat wangi, untuk parfum, dan air
fresher.

Pemasaran Minyak Nilam

23
Gambar 13. Jalur distribusi dan pemasaran
minyak nilam

2. MINYAK KAYU PUTIH


Minyak kayu putih (eucalypt oil atau
kadang disebut oleum cajuputi, cajeput
essential oil atau cajuput or cajeput oil) sudah
menjadi kebutuhan yang penting dalam
banyak rumah tangga di Indonesia. Minyak ini
digunakan sejak jaman dulu sebagai antiseptik,
obat sakit perut, obat flu atau digunakan untuk
pijatan (urut) ringan dan sebagainya. Di bidang industri, minyak
kayu putih adalah salah satu bahan baku industri obat-obatan
maupun di industri kosmetik.
Minyak kayu putih tergolong sebagai Eteris yaitu minyak
yang mudah menguap, dan dihasilkan dari tanaman melalui
penyulingan daun. Tanaman penghasil minyak kayu putih yaitu
Melaleuca leucadendron dan Eucalyptus spp. Namun yang paling
populer di Indonesia umumnya minyak kayu putih yang berasal
dari Melaleuca leucadendron atau Melaleuca cajuputi. Melaleuca
ini dikenal dengan nama yang berbeda-beda di Indonesia dan di
mancanegara. Pohon ini juga mampu tumbuh di daerah dengan
curah hujan rendah maupun curah hujan tinggi. Namun pohon
yang menghasilkan rendemen minyak kayu putih yang tinggi
umumnya berasal dari daerah kering seperti Gunung Kidul
(Yogyakarta), Pulau Buru di Maluku, Pulau Timor, NTT, dan Rote
serta daerah kering lainnya di Maluku dan Papua.
Budidaya Kayu Putih di Indonesia berasal dari hutan alam
dan hutan buatan. Hutan alam kayu putih terdapat di daerah

24
Sumatera Selatan, Sulawesi tenggara, Maluku (P.Buru, P. Seram,
Nusa Laut, Ambon), Bali, NTT, dan rian Jaya. Sedangkan hutan
buatan dapat ditemukan di wilayah Jawa Timur (Ponorogo, Kediri,
Madiun), Jawa tengah (Gala, Gundih, Grobogan, Purwodadi), DIY
(Gunung Kidul, Bantul), dan Jawa Barat (Banten, Bogor,
Sukabumi, Indramayu, Majalengka).

Produksi Minyak Kayu Putih


Dahulu Indonesia telah mengekspor minyak kayu putih.
Minyak kayu putih dari Pulau Buru di Sulawesi termasuk mutu
terbaik. Namun kebutuhan domestik jauh lebih besar dari
produksinya, kira-kira sebesar 1.500 ton/tahun dengan produksi
< 500 ton/tahun sehingga pada saat ini kebutuhan minyak kayu
putih dalam negeri diimpor dari China dan Vietnam. Total nilai
impor minyak kayu putih dari luar negeri bisa mencapai enam
juta US Dollar (US$ 6 million) atau setara dengan hampir Rp.60
milyar setiap tahun.

Tabel 9. Data perdagangan domestik oleh Perhutani (1995-1999)


Area
Produksi Produk
Tahun Pohon KP
Daun (MT) MKP (kg)
(ha)
1995 16.093 29.651 233.412
1996 11.460 30.806 265.600
1997 10.461 33.262 293.885
1998 14.677 27.055 200.131
1999 17.505 42.560 312.700
Total 70.196 163.334 1.305.698
Rata-
14.039,02 32.668,8 261.139,6
rata
Sumber : Perum Perhutani (2000)

25
Tabel 10. Data perdagangan domestik oleh Perhutani (1995-
1999) lanjutan
Rendemen Volume Value
Tahun
(%) (kg) (Rp.1000)
1995 0.79 243.167 3.452.730
1996 0.86 265.583 4.497.725
1997 0.88 248.589 2.980.533
1998 0.74 204.430 4.446.037
1999 0.73 231.134 7.858.362
1.192.90
Total 4.0 23.353.387
3
Rata-
0.80 238.580,6 4.647.077,4
rata
Sumber : Perum Perhutani (2000)

Pengolahan Minyak Kayu Putih


Bahan baku dapat mempengaruhi mutu minyak yang
dihasilkan. Bahan baku yang bermutu tinggi dapat menghasilkan
minyak dengan mutu yang tinggi. Tanaman kayu putih tidak
memerlukan syarat tumbuh spesifik (5-450 dpl). Bagian daun
kayu putih merupakan bagian yang paling baik untuk
menghasilkan minyak. Pemanenan dilakukan setelah tanaman
berumur 5 tahun, dan setiap kali panen dapat dihasilkan 50-100
kg daun & ranting. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi
atau sore hari, karena pada waktu tersebut kandungan minyak
cukup tinggi.
Pada tahap pasca panen, dilakukan pengecilan ukuran,
pelayuan, dan pengeringan. Pengecilan ukuran dilakukan agar
kelenjar minyak pada tanaman dapat terbuka sebanyak mungkin

26
sehingga volume penyulingan lebih besar. Pelayuan &
Pengeringan bertujuan untuk mengeluarkan kadar uap air dalam
bahan selama 3-5 hari (tergantung cuaca).
Proses penyulingan atau hidrodestilasi dilakukan dengan
tujuan untuk memperoleh minyak dengan mutu baik.
Hidrodestilasi adalah difusi Eteris dan air panas melalui membran
bahan yang disuling. Kemasan yang dipakai untuk wadah yaitu
botol kaca, drum timah putih, drum lapis timah putih, atau
kemasan besi galvanis.
Proses penyimpanan dapat menyebabkan menurunkan
rendemen, menurunkan kualitas minyak, terjadi hidrolisis atau
resinifikasi tergantung kondisi penyimpanan.
Minyak kayu putih memiliki beberapa komponen, yang
dominan adalah sineol. Mutu minyak kayu putih ditentukan oleh
kadar sineol. Kadar sineol tinggi maka mutu minyak tinggi. Mutu
minyak kayu putih dipengaruhi oleh cara penyimpanan daun,
cara penyajian daun, cara pengisian daun ke ketel, kondisi
penyulingan, dan jenis atau varietas pohon.

Gambar 14. Proses pengolahan minyak kayu putih

27
Mutu minyak kayu putih dapat diklasifikasikan
menjadi 2 bagian berdasarkan persyaratan kadar sineolnya,
mutu utama dan mutu pertama. Standar minyak kayu putih yang
berlaku di Indonesia
adalah SNI 06-5009.11-2001.
Tabel 11. Standar mutu minyak kayu putih (SNI 01-5009.11-
2001)
Kualitas Kualitas
Variabel
Utama Pertama
Khas minyak Khas minyak
Bau
kayu putih kayu putih
Kadar Cineol ≥ 55% < 55%
Tidak Tidak
Minyak pelikan
diperkenankan diperkenankan
Tidak Tidak
Minyak lemak
diperkenankan diperkenankan
Kelarutan dalam
1:1-1:10 larut 1:1-1:10 larut
alkohol 80%
BJ pada 15oC 0,90 - 0,93 0,90 - 0,93
Indeks bias pada
1,46 – 1,47 1,46 – 1,47
20oC
Putaran optik
(-4)o – 0o (-4)o – 0o
27oC
Keterangan :
Minyak pelikan : golongan minyak bumi seperti minyak tanah
(kerosene) dan bensin yang biasa ditambahkan
sebagai bahan pencampur dalam minyak kayu putih.
Minyak lemak : minyak yang berasal dari hewan maupun
tumbuhan, seperti lemak sapi dan minyak kelapa,
yang mungkin ditambahkan sebagai bahan
pencampur dalam minyak kayu putih.
Cineol : senyawa kimia yang termasuk golongan ester sebagai
turunan terpen alkohol yang terdapat dalam Eteris,
seperti : minyak kayu putih, minyak eucalyptus, minyak
kilemo.

Aplikasi Minyak Kayu Putih


• Industri yang mengunakan minyak kayu
putih antara lain :

28
• Industri Jamu/farmasi : Obat luar (minyak kayu putih,
balsem) terapi uap, Obat dalam, dengan diminum.
• Industri kosmetik : Pasta gigi, sabun, parfum
• Industri makanan : Permen
• Aplikasi lain : Lilin aromaterapi, blended cream, in the bath

Obat Luar
Beredar di pasaran dengan berbagai merek produk dalam bentuk
cair dan balsem.

Minyak telon
Campuran minyak kayu putih, minyak adas dan minyak serai
Memberikan rasa hangat karena merangsang pembuluh darah
membesar sehingga aliran darah menjadi lebih cepat.
Efek yang terjadi adalah rasa hangat dan nyaman.

Balsem
Campuran menthol, minyak kayu putih, mint oil, vaselin dan lain
sebagainya.
Digunakan untuk gosok, kerik dan pijat.
Dapat menyembuhkan penyakit flu ataupun demam.

Terapi uap
Terapi sistem pernafasan, mengurangi infeksi dan rasa sakit.
Selain itu dapat menjernihkan pikiran.

Massage Oil
Mengurangi rasa sakit, encok, rheumatik, dan penyakit lainnya.

Sabun minyak kayu putih


Minyak kayu putih digunakan sebagai bahan tambahan pada
formula sabun mandi. Sabun tidak memerlukan pewangi
tambahan
Namun dapat memberi rasa segar.

Pasta gigi

29
Minyak kayu putih digunakan sebagai bahan tambahan pada
formula pasta gigi, yang berfungsi dapat menyehatkan gigi.

Lilin aromaterapi
- Untuk relaksasi
- Sebagai perlengkapan spa dan terapi-terapi
lainnya.

Permen kayu putih


Minyak kayu putih digunakan sebagai tambahan
pada formula permen (hard candy). Memberikan
efek melegakan tenggorokan. Dikenal dengan permen herbal
atau medicated sweets yang dikenal sebagai permen fungsional.
Penggunaan pada saat mandi
Dapat menurunkan demam dengan menggunakan pengaruh
cooling.
Blended cream
Campuran formula cream wajah. Dapat mencegah jerawat dan
penyakit kulit.
Pemasaran Minyak Kayu Putih

Gambar 15. Jalur distribusi dan pemasaran minyak kayu putih

3. MINYAK YLANG-YLANG

30
Ylang-ylang (Cananga odoratum forma
genuine) merupakan tanaman berbentuk
pohon yang menghasilkan Eteris. Tanaman ini
sekerabat dengan kenanga (Cananga
odoratum forma macrophylla), keduanya
termasuk famili Annonaceae.
Tanaman kenanga sudah lama dibudidayakan di Indonesia,
sedangkan tanaman ylang-ylang belum lama dikembangkan.
Aroma minyak ylang-ylang lebih lembut dan lebih wangi dari
minyak kenanga karena kandungan ester dan linalolnya yang
lebih tinggi (Guenther, 1952 dan Rusli et al., 1987). Bunga ylang-
ylang sudah sejak dulu digunakan sebagai pewangi maupun
sebagai hiasan (Oyen and Dung, 1999; Bown, 2001).

Gambar 16. Proses penyulingan minyak ylang-ylang


skala besar
Minyak Ylang-ylang diperoleh dari bunga ylang-ylang
dengan cara destilasi (peryulingan). Di pasar dunia, minyak
ylang-ylang diperdagangkan dalam 4 jenis mutu yaitu Ekstra, I,
II, dan III. Pembeda dari keempat jenis mutu tersebut adalah
interval waktu pengambilan minyak selama proses penyulingan
(Anon, 1970 dan Guenther, 1952).
Minyak yang diperoleh dari fraksi pertama disebut dengan
mutu Extra, biasanya sekitar 40% dari keseluruhan minyak yang
dihasilkan, dan mempunyai bau (odor) yang manis dan eksotik.
Komponen minyak Ylang-ylang dengan mutu Ekstra ini meliputi

31
benzaldehid, linalool, α-kariofilen, α-humulen, benzil format,
benzil asetat, benzil alkohol, safrol, dan iso-eugeno. Kandungan
dalam mutu I, II, III, IV adalah tanpa benzaldehid, α-humulen,
dan komponen lain dalam jumlah berbeda.
Untuk minyak ylang-ylang, sifat kimia yang sangat
mempengaruhi mutu dan selalu dipertimbangkan oleh para
konsumen adalah bilangan ester dan bilangan penyabunan yang
tinggi. Bunga yang masih hijau dan sudah kuning, dari segi
rendemen tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata, namun
dilihat dari bilangan ester dan bilangan penyabunan, bunga yang
kuning mempunyai nilai yang lebih tinggi sehingga mutunya pun
jauh lebih tinggi dibanding bunga yang masih hijau.
Mutu minyak Ylang-ylang dipengaruhi oleh Pra – Panen dan
Pasca – Panen, seperti tingkat ketuaan bunga, penanganan
bunga, cara penyulingan, pengemasan, dan penyimpanan.

Produksi Minyak Ylang-Ylang


Negara penghasil utama minyak ylang-ylang ini adalah
pulau Comoro & Kepulauan Reunion, sedangkan di Indonesia,
produksi minyak Ylang-ylang terbatas pada daerah tertentu
seperti Jawa barat, Malingping (502 Ha) dan Jawa Timur, Blitar.
Di Jawa Barat saja, dari satu hektar pohon dapat ditanam 200
pohon kenanga, dan dihasilkan 50kg bunga/phn/th. Dengan
produktivitas sebanyak 90% dan rendemen 1,5% maka dapat
diperoleh minyak sebanyak 6.777 kg/thn.

Pemasaran Minyak Ylang-Ylang


Kondisi pasar
Kebutuhan dunia 120-130 ton
b. Indonesia mengekspor minyak kananga (50 ton/tahun)
Nilai ekspor semakin menurun
c. Minyak Ylang-ylang mutu III

32
a. Dalam negeri : perkembangan industri kosmetik dan
aromaterapi
b. Ekspor
1. Ylang-ylang mutu III
2. Ylang-ylang mutu yang sesuai dengan pasar
Pasar utama minyak Ylang-ylang adalah UE, AS & Jepang (72 %
dari total kebutuhan dunia), dan Perancis pengguna minyak
ylang-ylang terbesar di dunia (>45%).

Harga minyak ylang-ylang di dunia mencapai US$


110/kg, lebih besar tiga kali dari harga minyak
kenanga. Minyak Ylang-Ylang dihasilkan dari
penyulingan bunga. Mutu bunga cepat menurun,
sejalan dengan waktu (tranportasi &
penyimpanan). Oleh karena itu bunga segar hasil
panen harus segera disuling.
Perlu pengembangan Industri penyulingan di sentra-sentra
poduksi seperti Industri Besar (Perhutani/swasta), ataupun
Industri Menengah/Kecil (Kelompok tani/IKM).

Ylang-ylang & Aromaterapi


Istilah aromaterapi belum lama berkembang di Indonesia,
namun sebetulnya aromaterapi sudah sejak dahulu dilakukan
oleh nenek moyang kita. Aromaterapi berasal dari dua kata,
yaitu aroma dan terapi. Aroma berarti bau harum atau bau-
bauan dan terapi berarti pengobatan. Jadi aromaterapi adalah
salah satu cara pengobatan penyakit dengan menggunakan bau-
bauan yang umumnya berasal dari tumbuh-tumbuhan serta
berbau harum, gurih, dan enak yang disebut dengan Eteris.

33
Eteris mengandung bahan kimia asli berupa zat antiseptik
seperti fenol dan alkohol dan molekul-molekul lain yang
mempunyai khasiat menyembuhkan berbagai penyakit serta
menyebarkan bau harum. Di samping khasiat antioksidan,
molekul-molekul alam dapat meningkatkan kekebalan tubuh
secara alami (Primadiati dalam Anon, 2003). Penelitian ini
menunjukkan bahwa bahan pewangi dapat memberikan
perubahan pada aktifitas elektromagnetik dari otak, denyut
jantung, kualitas mental dan fisik, mood, tekanan darah, otot
yang tegang, dan temperatur kulit (Hongratanaworakit, 2004).
Minyak ylang-ylang dikenal sebagai antidepressi, dalam
pengobatan secara aromaterapi dapat membuat rileks badan,
menyeimbangkan perasaan dan meningkatkan spirit. Secara fisik
dipakai untuk menurunkan tekanan darah, melemaskan otot
tegang, dan mengurangi gejala PMS dan menopause.
Penelitian terhadap tikus, kelinci dan manusia, minyak
ylang-ylang dapat menghilangkan stress sebanyak 50 % dengan
menghirup minyak ylang-ylang yang akan berhubungan dengan
penurunan tekanan darah dan denyut jantung, serta
meningkatnya perhatian dan daya tanggap (alertness) orang
yang menghirupnya (Fruend, 1999 dalam Buckle, 2003;
http:www.Stevenfoster.com/).
Walaupun Eteris dapat digunakan sebagai bahan
pengobatan dalam aromaterapi, namun penggunaanya harus
diawasi karena pada dosis yang tinggi dapat menyebabkan
keracunan dan alergi.
Minyak ylang-ylang ini dapat juga digunakan sebagai
antibakteri, mengobati eksim, dan menghilangkan gatal karena
gigitan serangga. Untuk perawatan muka, minyak ylang-ylang
dapat menolong menyeimbangkan produksi lemak yang sangat
baik untuk kulit berminyak, sedangkan untuk rambut, dapat
menstimulasi pertumbuhan rambut dan baik ditambahkan pada

34
formulasi sampo dan pelembab. Dalam penggunaanya, minyak
ylang-ylang biasa dikombinasikan dengan minyak bergamot,
lavender, lemon, dan narcissus. Aplikasi minyak ylang-ylang ini
dapat dipergunakan pada industri kosmetik seperti untuk
pembuatan body wash, parfum, body cream, dan lain-lain seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 18 di bawah ini.

Bath Body cream


Body essence
Parfum
Wash Lilin Aromaterapi

Gambar 17. Contoh produk industri minyak


ylang-ylang

4. MINYAK SEREH WANGI


Sereh merupakan salah satu jenis rumput-
rumputan yang merupakan jenis tanaman
tahunan yang membentuk rumpun tebal dengan
tinggi sampai 2 meter. Nama ilmiahnya

35
Cymbopogon citratus. Tanaman ini hidup baik di daerah yang
udaranya panas maupun basah, sampai ketinggian 1000 m di
atas permukaan laut. Cara berkembangbiaknya dengan anak
atau akarnya yang bertunas. Supaya daunnya tumbuh subur dan
lebat, sebaiknya penanaman dilakukan dengan jarak sekitar 65
cm per baris.
Ada kemungkinan Malaysia dan Sri Langka merupakan
tempat asal jenis tanaman ini. Sekarang jenis ini telah tersebar di
daerah-daerah tropik lainnya dan ditanam untuk minyaknya,
terutama di negara-negara Guatemala, Brazil, Hindia Barat, Indo
Cina, Kongo, Republik Malagasy dan Tanzania. Dalam setahun 1
hektar tanah dapat menghasilkan rata-rata 30 ton daun sereh
yang dapat disuling untuk diambil minyak serehnya sebanyak
45-80 kg. Tanaman ini dapat dipanen setelah berumur 4-8 bulan.
Panen dapat dilakukan dengan cara memotong rumpun dekat
tanah, setiap 3-4 bulan sampai tanaman berumur 5 tahun. Hasil
daun basah kira-kira 10 - 15 ton/ha/tahun dengan kadar minyak
0,5% dan 1,2%.
Secara umum, sereh dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu sereh dapur (lemongrass) dan sereh wangi
(sitronella). Keduanya memiliki aroma yang
berbeda. Minyak sereh yang selama ini dikenal di
Indonesia merupakan minyak sereh wangi
(citronella oil) yang biasanya terdapat dalam komposisi minyak
tawon dan minyak gandapura.
Minyak sereh wangi telah dikembangkan di Indonesia dan
Eterisnya sudah diproduksi secara komersial dan termasuk
komoditas ekspor. Sedangkan minyak sereh dapur (lemongrass
oil) belum pernah diusahakan secara komersial. Dari segi
komposisi kimianya, keduanya memiliki komponen utama yang
berbeda. Sereh wangi kandungan utamanya adalah citronella,
sedangkan sereh dapur adalah sitral.

36
Negara produsen utama minyak sereh wangi ini yaitu
Indonesia, Cina, Madagaskar, Afrika selatan, dan Srilanka.
Indonesia adalah produsen minyak sereh wangi terbesar setelah
Cina. Hampir 75% diekspor dalam bentuk minyak kasar. Impor
turunan Eteris 2.1 kali nilai ekspor. Rata-rata ekspor Indonesia ke
Amerika Serikat Periode 2001-2005 sebanyak 79.480 kg/th
dengan nilai ekspor sebesar 389.400 US/tahun (Department of
Commerce, U.S. Census Bureau, Foreign Trade Statistics 2006,
HS No 3301295011). Rata-rata Impor Indonesia dari Amerika
Serikat Periode 2001-2005 dalam bentuk mixture odor sebesar
9.490.400 US/tahun (Department of Commerce, U.S. Census
Bureau, Foreign Trade Statistics 2006, HS No 3302100000).

Tabel 12. Harga minyak sereh wangi dan turunannya


Harga (Rp100
Nama Bahan
g)
Minyak Sereh Rakyat (Sitronelal
35.000/kg
32%)*)
Sitronelal (82%) 203.000
Sitronelol (95-100%) 288.000
Geraniol (98%) 310.000
Hidroksi citronelal (98-100%) 398.700
Menthol (99-100%) 1.020.000
Citral ( 99%) 399.700
Geranyl acetate (98-100%) 886.400
Citronelyl acetate (98-100 %) 335.100
α-ionon (90-100%) 825.700
ß-ionon (98-100 %) 783.900
Sumber : www. thegoodscentscompany.com, 11 September 2006
*) Harga di penyulingan Gunung halu – Jawa Barat, 2005

Minyak sereh wangi dihasilkan dengan cara menyuling daun


sereh wangi yang mengandung kurang dari 0.5-1.2% minyak.
Bahan yang terpenting dalam minyak sereh wangi adalah
persenyawaan aldehid dengan nama sitronellal dan
persenyawaan alkohol disebut geraniol. Kadar sitronellal dan
geraniol sangat menentukan mutu minyak sereh wangi. Jenis

37
tanaman sereh yang menghasilkan produksi dan mutu yang
terbaik adalah jenis “Mahapengiri” yang banyak ditanam di Pulau
Jawa. Jenis tanaman ini mengandung 80-97% total geraniol dan
30-45% sitronellal. Sedangkan jenis “Lenabau” dari Ceylon hanya
mengandung 55-65% total geraniol (Ketaren, 1985).
Sifat kimia minyak sereh wangi ditentukan oleh senyawa-
senyawa yang terdapat di dalamnya, terutama sitronellal,
geraniol, dan sitronellol. Ketiga senyawa ini mempunyai ikatan
rangkap. Mengingat adanya ikatan rangkap pada senyawa-
senyawa di dalam minyak sereh wangi, maka penyebab
kerusakan atau penurunan mutu minyak sereh wangi disebabkan
oleh adanya proses oksidasi dan polimerisasi (resinifikasi). Proses
oksidasi dapat menyebabkan perubahan bau dan warna serta
menurunkan jumlah geraniol, sitronellal, dan sitronellol. Proses
resinifikasi akan menyebabkan minyak sereh wangi kelihatan
keruh. Selain itu penurunan mutu minyak sereh wangi juga dapat
disebabkan karena reaksi hidolisis senyawa ester yang terdapat
di dalam minyak sereh wangi, seperti senyawa geranil asetat,
sitronellil asetat, dan linalil asetat. Hidrolisis senyawa ester akan
menimbulkan bau yang tidak enak karena terjadi pembentukan
asam-asam organik berantai karbon lebih pendek (Ketaren,
1985).
Minyak sereh wangi biasanya berwarna kuning muda
sampai kuning tua, bersifat mudah menguap. Pada suhu 15ºC
mempunyai bobot jenis 0,886-0,894; indeks bias pada suhu 20ºC
adalah 1,467-1,473. Dapat larut dalam 3 bagian volume alkohol
80% tetapi bila diencerkan kelarutannya berkurang dan larutan
menjadi keruh (Guenther, 1987).
Minyak sereh wangi bersifat menenangkan, menyegarkan
dan mempertajam pikiran, dapat digunakan sebagai penolak
serangga dan kucing, untuk perawatan kulit, dan sebagai obat
urut.

38
Tabel 13. Standar mutu minyak sereh wangi Indonesia (Ketaren,
1985)
Karakteristik Syarat Mutu
1. Warna Kuning pucat
sampai kuning
kecoklat-coklatan
2. Bobot jenis
0,850-0,892
(25oC/25oC)
3. Indeks bias (n25) 1,454-1,473
4. Total geraniol, %
85
(b/b)min
5. Sitronellal, %
35
(b/b)min
6. Bau Segar, khas minyak
sereh wangi
7. Putaran optik (0o)-(-6o)
8. Titik nyala 76oC-84oC
9. Zat asing :
• Lemak
• Alkohol
Negatif
tambahan
Negatif
• Minyak Negatif
pelikan Negatif
• Minyak
terpentin

5. MINYAK AKAR WANGI

Minyak akar wangi merupakan komoditi ekspor Indonesia


yang cukup potensial. Daerah sentra produksi minyak akar wangi
ini terdapat di daerah Garut, Jawa Barat. Sampai saat ini sesuai
dengan data yang ada, pasar luar negeri yang menyerap produk
Minyak Akarwangi Garut adalah para pengusaha dari kawasan
Asia, Eropa dan Amerika khususnya negara-negara seperti
Singapura, India, Jepang, Hongkong, Inggris, Belanda, Jerman,

39
Italia, Swiss, dan Amerika Serikat. Peluang ekspor untuk
pemasaran minyak Akarwangi yang juga masih cukup terbuka
khususnya ekspor untuk kawasan Asia Selatan dan Asia Timur,
Eropa Timur dan Amerika Selatan.
Minyak akar wangi diperoleh dari penyulingan tanaman
akar wangi (Vetiveria zizanioides Staph). Akar wangi (Vetiveria
zizanoides), termasuk dalam famili Graminae, biasanya tumbuh
di daerah tropis seperti India, Tahiti, Haiti dan Indonesia
(khususnya Jawa) (Anon, 2006). Tanaman ini selain mengandung
Eteris, juga bisa dimanfaatkan untuk mencegah erosi, vegetasi
konservasi karena bentuk akarnya yang kuat (Emmyzar et al.,
2000).
Minyak akar wangi banyak digunakan dalam industri
parfum, bahan kosmetik, obat-obatan, antiseptik, afrodisiak,
sedativ, tonik dan bisa dimanfaatkan sebagai biopestisida (Anon,
2006; Kamal and Ashok, 2006; Emmyzar et al., 2000). Minyak
akar wangi juga memiliki bau yang keras (dosis tertentu). Sering
dilakukan pencampuran dengan minyak nilam dan minyak
mawar. Mampu membunuh larva nyamuk sehingga sering
digunakan sebagai obat nyamuk.
Komponen utama dari minyak akar wangi adalah senyawa
golongan seskuiterpen (3-4 %), seskuiterpenol (18-25 %) dan
seskuiterpenon seperti asam benzoat, vetiverol, vetiverol,
furfurol, α dan β vetivone, vetivene dan vetivenil vetivenat
(Anon, 2006; Kamal and Ashok, 2006; Emmyzar et al., 2000).

Tabel 14. Syarat mutu minyak akar wangi

40
No Karakteristik Syarat
Kecoklata-coklatan
1 Warna
sampai coklat kemerahan
2 Berat jenis pada 25oC 0.978-1.038
3 Bilangan ester 5-25
Bilangan ester setelah
4 100-150
asetilasi
Perbandingan volume 1:
Kelarutan dalam etanol
5 ½ opalesensi seterusnya
95%
opalesensi
6 Alkohol tambahan Negatif
7 Minyak lemak Negatif
8 Minyak pelikan Negatif

Gambar 18. Diagram alir proses pengolahan


minyak akar wangii

Khasiat Minyak akar wangi


• melemaskan dan menyegarkan pikiran dan tubuh
• membantu menurunkan tekanan darah
• meningkatkan sirkulasi darah
• menenangkan dan menstabilkan emosi
• membantu mengatasi stres dan mengembalikan
keadaan emosi.

41
Aplikasi minyak akar wangi :

Cream
Parfum
Bath Shampoo Sabun
Gambar 19. Contoh produk aplikasi minyak
akar wangi

6. KAYU MANIS
Minyak kayu manis dihasilkan dari tanaman kayu manis
yaitu kulit batang, kulit cabang, ranting, daun dan dahan. Kadar
Eteris pada kulit kayu dapat mencapai 4%. Kulit kayu manis
mengandung damar, pelekat, tanin (zat penyamak), gula,
kalsium, oksalat, insektisida, cinnzelanol, cumarin.
Khasiat dan Manfaat Kayu Manis :
• Banyak digunakan sebagai bumbu masak, pembalsaman
mumi, antiseptik (memiliki daya bunuh terhadap
mikroorganisme) dan jamu untuk penyakit disentri
• Minyak kayu manis sebagai penyembuh reumatik, pilek,
sakit usus, jantung, pinggang, darah tinggi
• Kayu manis untuk kesuburan wanita
• Memiliki efek mengeluarkan angin, membangkitkan selera,
menguatkan lambung
• Minyak kayu manis untuk pewangi dan peningkat cita rasa
pada pengolahan pangan
• Minyak kayu manis untuk industri kosmetik

Jenis – jenis kayu manis yang diperdagangkan (lokal maupun


ekspor) :
1. Cinnamomum burmanni

42
Cinnamomum burmanni merupakan tanaman asli
Indonesia. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan
cassiavera, kaneel cassia. Sentra budidaya tanaman ini
terdapat di daerah Sumatera Barat dan Utara, Jambi, Bengkulu,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku
Tanaman ini memiliki ukuran daun yang kecil dan kaku.
Pemanenan terhadap kulit batang dan ranting. Komponen
utama pada Eteris yaitu sinamat aldehida.
2. Cinnamomum zeylanicum
Tanaman kayu manis jenis ini berasal dari Srilanka (P.
Ceylon). Kualitasnya lebih baik dibanding C. Burmanni.
Memiliki kulit batang lebih tipis. Destilasi kulit menghasilkan
0.5-1% Eteris.
3. Cinnamomum cassia
Jenis kayu manis ini merupakan tanaman asli Birma. Dalam
dunia perdagangan dikenal dengan chinese kaneel. Warna
pucuknya bervariasi. Kandungan Eterisnya terdapat pada kulit
batang, kulit cabang, ranting, dan daun tanaman kayu manis.
Kadar Eteris pada masing-masing bagian tersebut adalah kulit
cabang (4.05%), kulit batang (3.78%), kulit ranting (3.95%),
daun (0.98%).
4. Cinnamomum cullilawan
Dikenal hanya di Ambon dan Maluku. Diperdagangan di
dalam negeri dalam jumlah yang sedikit.
Komposisi Eteris kayu manis sangat dipengaruhi oleh asal
daerah. Kandungan terbesar adalah sinamat aldehida (60-75%),
dengan komponen lainnya yaitu eugenol, aldehid lain, benzil-
benzoat, felandren
Mutu Minyak kayu manis ditentukan oleh kandungan eugenol
dan sinamat aldehida.

Tabel 15. Volume ekspor kayu manis Indonesia 2000-2006

43
Tahun Nilai (US$) Volume (kg)
2000 70.480 14.400
2001 113.133 1.347
2002 3.276 176
2003 2.396 151
2004 - -
2005 - -
Sumber : BPS (1994-1999)

Gambar 20. Proses pengolahan minyak


kayu putih

44
Gambar 21. Proses pengolahan oleoresin
kayu putih

7. MINYAK PALA

Pala [Myristica fragrans Houtt] merupakan


salah satu komoditi pertanian yang memiliki nilai
ekonomis tinggi, di samping berjenis-jenis komoditi
pertanian ekonomis lainnya. Sebagai tanaman
rempah-rempah, pala dapat menghasilkan minyak
etheris dan lemak khusus yang berasal dari biji dan
fuli. Biji pala menghasilkan 2 sampai 15% minyak etheris dan 30
- 40 % lemak, sedangkan fuli menghasilkan 7 - 18%, minyak
etheris dan 20 - 30 % lemak (fuli adalah arie yang berwarna
merah tua dan merupakan selaput jala yang membungkus biji).
Permintaan pasar dunia akan pala setiap tahun terus
meningkat, dan tidak kurang dari 60 % kebutuhan pala dunia
didatangkan dari Indonesia.
Pala di Indonesia dihasilkan dari perkebunan rakyat. Luas areal
pertanaman pala adalah sebesar 43.873 ha (tahun 2000). Pohon
pala dapat berbuah sepanjang tahun. Dalam setahun tanaman
pala dapat di petik dua kali, yang setiap daerah biasanya
waktunya tidak sama. Umumnya buah pala dipanen setelah
cukup tua, yang ditandai dengan merekahnya buah, umurnya +
6 bulan sejak berbunga.

45
Biji dan Fuli Pala kering
Digunakan untuk industri pengawetan ikan, pembuatan sosis,
makanan kaleng, adonan kue.

Biji
Pala Fulli Pala

Pemanenan dilakukan terhadap buah yang hampir tua. Ditandai


dengan biji keras, warna coklat tua, fuli merah muda.

Buah Pala Siap


Panen

Penyulingan biji dan fuli pala menghasilkan Eteris dengan


komponen minyak yang sama. Pengempaan biji dan fuli pala
menghasilkan nutmeg concrete.
Biji pala mengandung minyak lemak (fixed oil) sebanyak 25
- 40%, buah pala yang hampir tua mengandung minyak 7-15%.
Minyak lemak ini dapat diperoleh dengan cara menggiling dan
memeras biji pala tersebut. Apabila minyak lemak tidak
dikeluarkan lebih dahulu, pada penyulingan akan ikut tersuling
dan akan sulit dipisahkan dari minyak palanya. Setelah biji pala
digiling kemudian dimasukkan bejana, dan dilakukan
penyulingan selama +10 - 30 jam. Setelah disaring, minyak
ditampung ke dalam botol penampung yang digunakan untuk

46
memisahkan air dari minyak, rendemen minyak yang diperoleh
berkisar antara 7-16 %. Minyak pala berupa cairan yang hampir
tidak berwarna/kuning muda, dengan bau khas pala, apabila
disimpan akan menyerap oksigen dan menjadi kental.
Minyak pala dihasilkan dari penyulingan biji dan fuli pala,
dapat digunakan sebagai bahan baku industri obat-obatan, pada
pembuatan sabun dan parfum. Komponen utamanya yaitu
myristicin dengan persentase sebesar 8.19%.

Gambar 22. Teknologi proses pengolahan


minyak
Minyak kayu
pala putih
merupakan cairan jernih (hampir tidak
berwarna – kuning muda), diperoleh dari proses penyulingan
serbuk biji dan fuli pala. Minyak pala ini mengandung unsur-
unsur psikotropik (berkhayal, halusinasi), memiliki daya bunuh
yang hebat terhadap larva serangga, dan dapat digunakan
sebagai penyegar pasta gigi, pencampur aroma tembakau.
Komponen yang terdapat dalam minyak pala ini diantaranya
adalah eugenol, iso-eugenol, terpineol, borneol, linalol, geraniol,
safrole, terpene, aldehide.
Minyak pala memiliki khasiat mengatasi masalah sirkulasi
darah, otot, persendian, asam urat (gout), sakit dan nyeri otot,
rematik, kembung, salah pencernaan, lemah pencernaan, mual,
dan membantu melawan infeksi bakteri. Minyak pala ini

47
dieksport ke Singapura, Perancis, Inggris, Nederland dan Amerika
Serikat.

Tabel 16. Mutu Minyak Pala (EOA)


No Karakteristik Syarat
Cairan bening atau kuning
1 Penampilan, warna
pucat
2 Bau Bau dan rasa khas pala
3 Berat jenis 25°C 0.880-0.930
4 Putaran optik 2°-30°
5 Indeks refraksi 25°C 1.4740-1.4880
Kelarutan dalam
6 Larut dalam 3 volume
alkohol 80%
Sumber : Lutony dan Rahmayati (2002)
Di pasaran dunia terdapat 2 (dua) mutu pala destilasi yaitu :
- Mutu I kode AZWI, yaitu buah pala tanpa batok yang
dikeringkan, umumnya berasal dari buah muda berumur 2 -
2,5 bulan.
- Mutu II kode ETEZ, yakni buah pala yang dikeringkan,
umumnya berasal dari buah muda berumur 2 - 5 bulan.

Tabel 17. Standar mutu pala destilasi


Mutu
Karakteristik
Mutu I Mutu II
Kadar air, %
14,0 14,0
(bobot/bobot) males
Kadar Eteris,
7,5 4
(bobot/bobot) min.%
Kadar minyak non
atsiri, (bobot/bobot) 10 12
males.%
Benda asing, %
0,5 0,5
(bobot/bobot) maks.
8. MINYAK JAHE
Jahe (Zingiber officinale Roxb )
merupakan tanaman terna berbatang
semu, tumbuh berumpun, tinggi 30 cm
– 1m, tegak, tidak bercabang, tersusun
atas lembaran pelepah daun, berbentuk

48
bulat, berwarna hijau pucat dengan warna pangkal batang
kemerahan.
Bagian tanaman yang digunakan untuk bahan industri
yaitu rimpangnya. Ada tiga jenis jahe yang dibudidayakan
antara lain :
1. Jahe putih besar (gajah)
Merupakan jahe yang paling disukai di pasaran
internasional. Bentuknya besar gemuk dan
rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang
berwarna kuning hingga putih.Digunakan oleh
industri makanan (permen, jahe instan, sirup)
2. Jahe putih kecil (emprit)/kuning
Merupakan jahe yang banyak dipakai sebagai bumbu masakan,
terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup
tajam. Ukuran rimpang sedang dengan warna kuning.
3. Jahe merah (sunti)
Jahe jenis ini memiliki kandungan minyak asiri tinggi dan rasa
paling pedas, sehingga cocok untuk bahan dasar farmasi
(pengobatan) dan jamu. Ukuran rimpangnya paling kecil
dengan warna merah.
Jahe mengandung sejumlah kecil minyak volatil dan fixed
oil yang mengandung zat resin yang pedas, 40—60% pati, 9%
protein, beberapa jenis mineral dan vitamin.
Menurut Rismunandar (1988) komposisi kimia jahe
menentukan tinggi rendahnya nilai aroma dan pedasnya jahe.
Beberapa faktor yang mempengaruhi komposisi jahe antara lain
adalah jenis tanaman, sifat tanah tempat penanaman, umur
panen, perlakuan pra dan pasca panen, cara pengolahan, dan
ekosistem tempat tanaman jahe.
Sifat khas jahe disebabkan oleh adanya Eteris dan
oleoresin. Aroma jahe disebabkan oleh gingerol dan shogaol

49
yang banyak terdapat pada oleoresin jahe (Guenther, 1948).
Kandungan Eteris pada jahe sebesar 1,7-3,8%.
Minyak jahe merupakan hasil penyulingan dan destilasi
rimpang jahe, memiliki bau harum, tapi rasa tidak pedas.
Komponen utama pada minyak jahe ini adalah seskuiterpen-
zingiberen, sedangkan kandungan lainnya cukup banyak, seperti
α dan β felandren, d-kamfen, asetil heptenon, n-desil aldehid, n-
nonil aldehid, borneol, sineol, linalol, sitral dan sesquiterpen
alcohol.
Berbagai teknik penyulingan untuk mendapatkan Eteris
pada tanaman jahe antara lain dengan :
1. Metode perebusan: Bahan direbus di dalam air
mendidih. Eteris akan menguap bersama uap air, kemudian
dilewatkan melalui kondensor untuk kondensasi. Alat yang
digunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus.
2. Metode pengukusan: Bahan dikukus di dalam ketel
yang konstruksinya hampir sama dengan dandang. Eteris
akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang
dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang
digunakan untuk metode ini disebut suling pengukus.
3. Metode uap langsung: Bahan dialiri dengan uap yang
berasal dari ketel pembangkit uap. Eteris akan menguap dan
terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor
untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini
disebut alat suling uap langsung.
Untuk skala kecil seperti yang dilakukan oleh kebanyakan
petani, metode pengukusan paling sering digunakan karena
mutu produk cukup baik, proses cukup efisien, dan harga alat
tidak terlalu mahal. Untuk skala besar, metode uap langsung
yang paling baik karena paling efisien dibanding cara lainnya.

50

Gambar 23.Teknologi proses pengolahan


minyak jahe
Tabel 18. Patokan mutu Ginger Oil (EOA)
No Karakteristik Syarat
Cairan kuning muda
1 Penampilan, warna
sampai kuning
2 Berat jenis 25 C
o
0.871-0.882
3 Putaran optik (-28o)-(-45o)
4 Indeks refraksi 20oC 1.4880-1.4940
Bilangan
5 Tidak lebih dari 20
penyabunan
Kelarutan dalam
6 Larut dengan kekeruhan
alkohol
Sumber : Lutony dan Rahmayati (2002)

Aplikasi Minyak Jahe


Minyak Jahe banyak memiliki khasiat, seperti mengurangi
gejala flu, pilek, batuk, masuk angin, pegal-pegal, sebagai
penyegar badan, serta berkhasiat sebagai obat kuat.
Industri pengguna minyak jahe :
• Industri minuman
• Industri penyedap
• Farmasi Massage oil
Ginger Minuman jahe
• Industri
oil wewangian
jahe

Permen 51
jahe
Gambar 24. Contoh produk aplikasi
minyak jahe
Aromaterapi
Ginger Body minyak
jahe
Smoothing

9. PANILI
Panili adalah salah satu komoditas
Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi
karena kandungan flavor panili (senyawa
aromatik aldehid) yang dihasilkannya. Nilai
ekonomi panili dapat dilihat dari nilai panili kering
di tingkat eksportir yang cukup tinggi yaitu US$
80/kg untuk mutu I, US$ 60-70/kg mutu II dan US$ 40-50/kg
untuk mutu III. Mutu ekspor panili Indonesia sebagian besar
berada pada tingkat standar mutu tiga karena kadar Vanillinny <
0,1%. Oleh karena itu, harga panili Indonesia di dunia masih
sangat rendah.
Indonesia merupakan salah satu dari empat negara
pengekspor panili terbesar di dunia. Produksi panili Indonesia
pada tahun 2002 mencapai 2.731 ton, sedangkan konsumsi
panili dunia mencapai sekitar 1600-1800 ton (US$ 80 juta) per
tahun. Negara pengkonsumsi panili terbesar adalah Amerika
yaitu lebih dari 50% total produksi panili, diikuti oleh Eropa,
Jepang dan Australia. Impor panili AS dari dunia tercatat senilai
US$ 289.41 juta (2003) dimana kebutuhan tersebut dipenuhi

52
Indonesia sebesar 21.62%. Selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 15.

Tabel 19. Volume dan Nilai Ekspor Panili Indonesia


Volume
Tahun Nilai Ekspor
Ekspor
US$
2000 496 ton
19.309.000
US$
2001 350 ton
8.503.000
US$
2002 360 ton
19.160.000

Gambar 25. Peta pembagian wilayah


pengekspor panili di dunia,
Indonesia termasuk di dalamnya

Gambar 26. Segmentasi pasar


panili

Panili digunakan secara luas pada industri pangan terutama


sebagai flavor dan pada industri parfum. Flavor panili ada yang

53
alami dan ada yang sintetis. Flavor panili sintetis hanya
mengandung salah satu komponen flavor vanilla yaitu vanillin
atau etil vanillin (Boyce et.al, 2003), sehingga aroma yang
dihasilkan tidak sekaya aroma ekstrak panili alami. Dalam
ekstrak panili alami, terkandung 100-200 komponen flavor. Lebih
dari seratus senyawa volatil yang terdeteksi, termasuk karbonil
aromatik, alkohol aromatik, asam aromatik, ester aromatik,
phenol dan phenol ester, alkohol alifatik, karbonil, asam, ester,
dan laktone, di mana aldehid vanillin adalah yang paling
dominan (Pérez-Silva et al., 2005). Setiap jenis ekstrak panili
memiliki profil aroma yang berbeda-beda tergantung tempat
tumbuhnya dan spesiesnya. Beberapa jenis ekstrak panili
diantaranya Bourbon Vanilla, Mexican vanilla, Tahiti Vanilla,
Guadaloupe vanillon dan Indonesian vanilla.
Panili Indonesia (Vanilla planifolia) memiliki flavor yang
kurang manis dan creamy dibanding Bourbon. Selain itu juga
memiliki flavor kayu, asap, jerami. Meskipun pengolahan yang
lebih baik telah menghilangkan sebagian besar flavor asap, profil
panili Indonesia hanya memiliki satu dimensi dibanding Bourbon.
Kualitas panili Indonesia lebih rendah dibanding potensi
sebenarnya, hal ini disebabkan oleh pemanenan yang belum
matang dan proses curing yang kurang sempurna. Permasalahan
dengan panili Indonesia disebabkan karena panili yang masih
muda sudah dipanen, padahal flavornya belum berkembang
sepenuhnya. Selain itu panen dilakukan sekaligus dalam satu
kebun, sehingga tingkat kematangannya bervariasi. Proses
kuring yang dilakukan juga terkadang dengan pemanasan
berlebih sehingga menyebabkan karakter flavor menyimpang.
Hal inilah yang menyebabkan mutu panili Indonesia kurang baik.
Namun panili Indonesia juga masih memiliki keunggulan
diantaranya adalah lebih tahan panas, dan mudah dicampur
dengan flavor panili lain untuk mendapatkan karakteristik

54
tertentu. Panili yang dihasilkan sangat cocok sebagai bahan aditif
(flavour) pada cookies dan coklat.
Proses kuring dilakukan pada panili yang masih hijau dan
tidak berbau karena masih mengandung Phenolic glycosides,
vanillin, vanillic acid,
p-hydroxybenzaldehyde, p-hydroxybenzoic acid, vanillyl alcohol,
cetovanillon, dan p-hydroxybenzyl alcohol (Kanisawa, 1993).
Proses kuring dapat dilakukan dengan cara hidrolisis secara
enzimatis, kimia, ataupun mikrobiologis.
Secara garis besar, di dalam proses curing terdapat empat
tahapan utama yaitu pelayuan, pemeraman, pengeringan dan
penuaan.
1. Pelayuan
Berbagai metode pelayuan yang dikenal antara lain :

a. Metode Bourbon: Perendaman pada air panas

bersuhu 60-65oC, 1,5–3 menit.


b. Modifikasi Metode Bourbon yang digunakan di Madagaskar
dan Comoro: Perendaman dalam air panas bersuhu 80ºC
selama 30 menit.
c. Metode Meksiko: Pengeringan sinar matahari selama 5 jam

d. Metode Guadelupe: Penyayatan longitudinal dengan

peniti pada buah panili


e. Metode Mayaguez, Puerto Rico: Pembekuan selama 40
jam, diikuti dengan pencairan selama dua jam.
Tahap ini juga dapat dilakukan dengan gas etilen maupun
dengan pembekuan. Proses yang paling sering digunakan
adalah pencelupan dalam air panas dan pengeringan dengan
sinar matahari atau oven.
2. Pemeraman

55
Panili dibungkus dengan kain hitam dan dijemur pada
rak dari pukul 9 pagi sampai dengan 3 sore dan kemudian
disimpan di dalam kotak kayu mahagoni pada malam hari
(metode yang digunakan oleh Meksiko, Madagaskar, Comoro
dan Guadelupe). Perbedaan metode yang dilakukan pada
setiap daerah terletak pada lama pemeraman dan jenis kayu
yang digunakan. Tahap ini juga merupakan salah satu faktor
yang turut menentukan mutu panili yang dihasilkan selama
proses curing. Kadar air dihilangkan dengan cepat sampai
pada kadar dimana resiko kebusukan paling rendah tetapi
masih memungkinkan untuk berlangsungnya aktivitas enzim.
Bila kondisi tepat untuk berlangsungnya aktivitas enzim maka
dihasilkan panili kering (cured vanilla) bermutu tinggi, bila
tidak maka dihasilkan panili kering bermutu rendah. Secara
umum, pada tahap ini buah panili mengalami beberapa
perubahan warna, aroma dan flavor. Warna buah berubah
menjadi coklat karena oksidasi senyawa fenolik, gula dan
asam-asam organik dimetabolisme serta ester, eter dan resin
terbentuk. Kadar air buah panili setelah mengalami
pemeraman menurun sampai mencapai 60-70 %.
3. Pengeringan
Panili dikeringkan pada oven dengan suhu 45ºC sampai
mendapatkan tekstur yang fleksibel atau dikeringkan di
bawah sinar matahari (metode yang digunakan oleh
Mayaguez, Puerto Rico). Tujuan pengeringan adalah untuk
mengurangi tingkat kerusakan karena pembusukan oleh
mikroba dan untuk membuat kondisi yang memungkinkan
untuk berlangsungnya perubahan kimiawi. Turunnya kadar air
setelah pengeringan juga menurunkan aktivitas enzim yang
tidak dikehendaki. Setelah pengeringan diharapkan kadar air
buah tinggal 25-32 %.
4. Penuaan

56
Sebanyak 50-100 buah panili diikat dan dibungkus
kertas minyak, dimasukkan dalam peti dan ditutup rapat. Peti
disimpan dalam ruangan suhu 45oC selama 2-3 bulan. Selama
penuaan, terjadi reaksi-reaksi seperti esterifikasi, eterifikasi,
degradasi oksidatif, dan reaksi lain menghasilkan senyawa-
senyawa volatil beraroma yang secara keseluruhan
memperkuat mutu flavor panili yang dihasilkan.

Ekstraksi panili dapat dilakukan


Gambar dengan
27. Diagram alirbeberapa
proses cara maserasi,
kuring panili
yaitu :

• Microwave Assisted-Extraction
• Ultrasonic Assisted-Extraction
• Enzyme Assisted-Extraction

57
Gambar 28. Diagram alir potensi
pemanfaatan produk panili

Panili dapat diekstrak menjadi produk-produk potensial


yang dapat dikembangakan untuk meningkatkan nilai tambah
dari panili tersebut seperti panili bubuk, produk aromaterapi,
ekstrak panili pekat, dan pasta panili.

Aromaterapi dari oleoresin panili

Ekstrak Panili
Pekat

Panili Bubuk
Gambar 29. Beberapa produk panili yang
berpotensi

DAFTAR PUSTAKA

Anon. 2006. Vetiver essential information.


file://C:\DOCUME~1\Pasca\LOCALS~1\Temp\J7SHE9R8.htm. 5
hal.
Agusta, Andria. 2002. Aromaterapi Cara Sehat dengan
Wewangian Alami. Penebar Swadaya, Jakarta.

58
Boyce MC, Haddad PR, Sostaric T. 2003. Determination of flavour
components in natural vanilla extracts and synthetics
flavourings by mixed micellar electrokinetic
capillarychromatography. Analytica Chimica Acta 485
(2003):179-186.
Deptan Dirjen Bina Produksi Perkebunan. 2004. Statistik
Perkebunan Indonesia: Vanili 2001-2003. Jakarta: Dirjen
Bina Produksi Perkebunan.
Emmyzar; S. Roechan; A.M. Kurniawansyah dan Pulung. 2000.
Produktivitas dan kadar minyak tanaman akar wangi
(Vetiveria zizanioides Stapt) di tanah tercemar logam berat
cadmium. Jurnal ilmiah Pertanian Gakuryoku.VI (2) : 129-
179.
Fruend, D. 1999. Does Ylang-ylang Injalation Have A Hypotensive
Effect on Unmedicated Resting Blood Pressure in Individuals
with Borderline Hypertension? (Unpublished Disssertation),
Cited in Buckle J. Clinical Aromatheraphy 2nd.
Guenther, E. 1948. the Essential Oil. Volume I. D. Van Nostrands
Company Inc., New York.
Hongratanaworakit T., G. Bucbauer. 2004. Evaluation of The
Harmonizing Effect of Ylang-Ylang Oil in Human After
Inhalation. Planta Med.
Kamal, C and R. Ashok. 2006. Modified vetiver oil : economic
biopesticide.
http://www.ars.usda.gov/research/publications/publications.
htm?SE_Q NO_ 115=170715.
Ketaren, S. 1987. Eteris. Vol I. Terjemahan. UI Press, Jakarta.
Oyen LPA, NX Dung, (ed). 1999. Plant Resource of South-East
Asia. Vol 119. Bogor, Indonesia: PROSEA Foundation.
Perez–Silva et al. 2005. GC-MS and GC-olfactometry analysis of
aroma compounds in representative organic aroma extract
from cured vanilla (Vanilla planifolia G. Jackson) beans.
Food Chem.30(2006):30-30.
Rismunandar. 1988. Rempah-Rempah. CV. Sinar Baru, Bandung.

59