Anda di halaman 1dari 78

1. SISTEM BILANGAN

Teknik Digital Dasar

1

Semua sistem bilangan dibatasi oleh apa yang dinamakan Radik atau Basis, yaitu notasi yang menunjukkan banyaknya angka atau digit suatu bilangan tersebut. Misalnya sistem bilangan desimal adalah bilangan yang mempunyai radik = 10.

1.1 Bilangan Desimal Ada beberapa sistem bilangan yang kita kenal, antara lain yang sudah kita kenal dan digunakan setiap hari adalah sistem bilangan desimal. Urutan penulisan sistem bilangan ini adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Sehingga bilangan desimal disebut dengan bilangan yang mempunyai bobot radik 10. Nilai suatu sistem bilangan desimal memiliki karakteristik dimana besarnya nilai bilangan tersebut ditentukan oleh posisi atau tempat bilangan tersebut berada. Sebagai contoh bilangan desimal 369, bilangan ini memiliki bobot nilai yang berbeda. Bilangan 9 menunjukkan satuan (10 0 ), angka 6 memiliki bobot nilai (10 1 ) dan angka 3 menunjukkan bobot nilai ratusan (10 2 ). Cara penulisan bilangan desimal yang memiliki radik atau basis 10 dapat dinyatakan seperti berikut:

(369)10

(369)10

300basis 10 dapat dinyatakan seperti berikut: (369) 10 (369) 10 60 9 3 x 10 2

60 9
60
9

3 x 10dinyatakan seperti berikut: (369) 10 (369) 10 300 60 9 2 6 x 10 1 9

2

seperti berikut: (369) 10 (369) 10 300 60 9 3 x 10 2 6 x 10

6 x 10

1

9 x 10 0
9 x 10
0

sehingga untuk mengetahui nilai bilangan desimal (bobot bilangan) dari suatu bilangan desimal dengan radik yang lainnya secara umum dapat dinyatakan seperti persamaan (3.1) berikut:

(N)B

(N)B

dinyatakan seperti persamaan (3.1) berikut: (N) B (N) B X 3 B 3 X 3 B

X3 B

3

seperti persamaan (3.1) berikut: (N) B (N) B X 3 B 3 X 3 B X
seperti persamaan (3.1) berikut: (N) B (N) B X 3 B 3 X 3 B X

X3 B

X
X

2

B

2

B(3.1) berikut: (N) B (N) B X 3 B 3 X 3 B X 2 B

1

X
X

0

B

0

X2 .B X1 .B
X2
.B
X1 .B

X0

(3.1)

(3.2)

Contoh:

Penulisan dengan menggunakan persamaan (3.1)

(N)B

Contoh: Penulisan dengan menggunakan persamaan (3.1) (N) B X 3 B 3 X 2 B 2

X3 B

3

X
X

2 B

2

X B 1 X 1 0
X
B
1
X
1
0

B

0

4567(10) = 4.10 3 + 5.10 2 + 6.10 1 + 7.10 0

First | Semester

X 3 B 3 X 2 B 2 X B 1 X 1 0 B 0

2

Teknik Digital Dasar

atau dapat dinyatakan juga dengan menggunakan persamaan (3.2)

(N)B (N)B

X2 5 X1 6 .B .10 X0 4 X3 .10 B .B .10 7
X2 5
X1 6 .B .10 X0
4 X3 .10 B
.B .10
7

1.2 Bilangan Biner Berbeda dengan bilangan desimal, bilangan biner hanya menggunakan dua simbol, yaitu 0 dan 1. Bilangan biner dinyatakan dalam radik 2 atau disebut juga dengan sistem bilangan basis 2, dimana setiap biner atau biner digit disebut bit.Tabel 3.1 kolom sebelah kanan memperlihatkan pencacahan bilangan biner dan kolom sebelah kiri memnunjukkan nilai sepadan bilangan desimal. Tabel 3.1. Pencacah Biner dan Desimal

Pencacah

 

Pencacah Biner

 

Desimal

2

3

2

2

2

1

2

0

8

4

2

1

0

     

0

1

     

1

2

   

1

0

3

   

1

1

4

 

1

0

0

5

 

1

0

1

6

 

1

1

0

7

 

1

1

1

8

1

0

0

0

9

1

0

0

1

10

1

0

1

0

11

1

0

1

1

12

1

1

0

0

13

1

1

0

1

14

1

1

1

0

15

1

1

1

1

12 1 1 0 0 13 1 1 0 1 14 1 1 1 0 15

First | Semester

Teknik Digital Dasar

3

Bilangan biner yang terletak pada kolom sebelah kanan yang dibatasi bilangan 2 0 biasa disebut bit yang kurang signifikan (LSB, Least Significant Bit), sedangkan kolom sebelah kiri dengan batas bilangan 2 4 dinamakan bit yang paling significant (MSB, Most Significant Bit).

1.2.1 Konversi Biner ke Desimal Konversi bilangan biner basis 2 ke bilangan d esimal basis 10 dapat dilakukan seperti pada tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Konversi Desimal ke Biner

Pangkat

2

4

2

3

2

2

2

1

2

0

Nilai

16

8

4

2

1

Biner

1

0

0

0

1

Desimal

16

 

+

1

Hasil

 

17

 

Oleh karena bilangan biner yang memiliki bobot hanya kolom paling kiri dan kolom paling kanan, sehingga hasil konversi ke desimal adalah sebesar 16 + 1 = 17.

Tabel 3.3 Konversi Biner ke desimal

Pangkat

2

3

2

2

2

1

2

0

1/2 1

1/2 2

1/2 3

Nilai

8

4

2 1

 

0,5

0,25

0,125

Biner

1

0

 

1 0

1

0

1

Desimal

8

+

2 +

 

0,5

+

0,125

Hasil

 

10,625

 

Tabel 3.3 memperlihatkan contoh konversi dari bilangan biner pecahan ke besaran desimal. Biner yang memiliki bobot adalah pada bilangan desimal 8 + 2 + 0,5 + 0,125 = 10,6125.

First | Semester

ke besaran desimal. Biner yang memiliki bobot adalah pada bilangan desimal 8 + 2 + 0,5

4

Teknik Digital Dasar

1.2.2 Konversi Desimal ke Biner Berikut cara penyelesaian bagaimana mengkonversi bilangan desimal basis 10 ke bilangan biner basis 2. Pertama (I) bilangan desimal 80 dibagi dengan basis 2 menghasilkan 40 sisa 1. Untuk bilangan biner sisa ini

menjadi bit yang kurang signifikan (LSB), sedangkan sisa pembagian pada langkah ketujuh (VII) menjadi bit yang paling signifikan (MSB). Urutan penulisan bilangan biner dimulai dari VII ke I.

Tabel 3.4 Konversi Desimal ke Biner

dimulai dari VII ke I. Tabel 3.4 Konversi Desimal ke Biner Sehingga didapatkan hasil konversi bilangan

Sehingga didapatkan hasil konversi bilangan desimal 83 ke bilangan biner

basis 2 adalah

Berikut adalah contoh konversi bilangan desimal pecahan ke bilangan

biner. Berbeda dengan penyelesaian bilangan desimal bukan pecahan (tanpa koma), Pertama (I) bilangan desimal 0,84375 dikalikan dengan basis 2 menghasilkan 1,6875. Langkah berikutnya bilangan pecahan dibelakang koma 0,6875 dikalikan bilangan basis 2 sampai akhirnya

didapatkan nilai bilangan genap 1,0. Semua bilangan yang terletak didepan koma mulai dari urutan (I) sampai (V) merepresentasikan bilangan biner pecahan.

(I) sampai (V) merepresentasikan bilangan biner pecahan. 83 ( 1 0 ) = 0 1 0

83 (10) = 0 1 0 1 0 0 1 1 (2) .

sampai (V) merepresentasikan bilangan biner pecahan. 83 ( 1 0 ) = 0 1 0 1

First | Semester

Teknik Digital Dasar

5

Tabel 3.5. Konversi Desimal ke Biner Pecahan

Digital Dasar 5 Tabel 3.5. Konversi Desimal ke Biner Pecahan Sehingga konversi bilangan desimal 0,87375 (

Sehingga konversi bilangan desimal 0,87375 (10) terhadap bilangan biner adalah = 0,1 1 0 1 1 (2) . Berikut adalah contoh konversi bilangan desimal pecahan 5,625 ke bilangan biner basis 2. Berbeda dengan penyelesaian bilangan desimal bukan pecahan (tanpa koma), Pertama (I) bilangan desimal 5 dibagi dengan basis 2 menghasilkan 2 sisa 1, berulang sampai dihasilkan hasil bagi 0. Langkah berikutnya adalah menyelesaikan bilangan desimal pecahan dibelakang koma 0,625 dikalikan dengan basis 2 menghasilkan 1,25, berulang sampai didapatkan nilai bilangan genap 1,0. Penulisan diawali dengan bilangan biner yang terletak didepan koma mulai dari urutan (III) berturut-turut sampai (I), sedangkan untuk bilangan biner pecahan dibelakang koma ditulis mulai dari (I) berturut-turut sampai ke (III).

Tabel 3.6. Konversi Desimal ke Biner Pecahan

ke (III). Tabel 3.6. Konversi Desimal ke Biner Pecahan Sehingga didapatkan hasil konversi bilangan 5,625 (

Sehingga didapatkan hasil konversi bilangan 5,625 (10) = 1 0 1 , 1 0 1 (2) .

First | Semester

Pecahan Sehingga didapatkan hasil konversi bilangan 5,625 ( 1 0 ) = 1 0 1 ,

6

Teknik Digital Dasar

1.3 Bilangan Heksadesimal Sistem bilangan heksadesimal memiliki radik 16 dan disebut juga dengan sistem bilangan basis 16. Penulisan simbol bilangan heksadesimal bertu- rut-turut adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E dan F. Notasi huruf A menyatakan nilai bilangan 10, B untuk nilai bilangan 11, C menyatakan nilai bilangan 12, D menunjukkan nilai bilangan 13, E untuk nilai bilangan 14, dan F adalah nilai bilangan 15. Manfaat dari bilangan heksadesimal adalah kegunaannya dalam pengubahan secara langsung dari bi langan biner 4-bit.

Tabel 3.7. Pencacah Sistem Bilangan Desimal, Biner, Heksadesimal

3.7. Pencacah Sistem Bilangan Desimal, Biner, Heksadesimal Hitungan heksadesimal pada nilai yang lebih tinggi adalah

Hitungan heksadesimal pada nilai yang lebih tinggi adalah ……38,39. 3A, 3B, 3C, 3D, 3E, 3F, 40,41………………………………………………

6F8,6F9,6FA,

6FB,6FC,6FD,6FE,6FF, 700……….

Tabel 3.7 memperlihatkan pencacahan sistem bilangan desimal, biner dan

heksadesimal. Terlihat jelas bahwa ekivalen-ekivalen heksadesimal

sistem bilangan desimal, biner dan heksadesimal. Terlihat jelas bahwa ekivalen-ekivalen heksadesimal First | Semester

First | Semester

Teknik Digital Dasar

7

memperlihatkan tempat menentukan nilai. Misal 1 dalam 10 16 mempunyai makna/bobot nilai 16 satuan, sedangkan angka 0 mempunyai rnilai nol.

1.3.1 Konversi Heksadesimal ke Desimal Bila kita hendak mengkonversi bilangan heksadesimal ke bilangan desimal, hal penting yang perlu diperhatikan adalah banyaknya bilangan berpangkat menunjukkan banyaknya digit bilangan heksadesimal tersebut. Misal 3 digit bilangan heksadesimal mempunyai 3 buah bilangan berpangkat yaitu 16 2 , 16 1 , 16 0 . Kita ambil contoh nilai heksadesimal 2B6 ke bilangan desimal. Tabel 3.8 memperlihatkan proses perhitungan yang telah pelajari sebelumnya. Bilangan 2 terletak pada posisi kolom 256-an sehingga nilai desimalnya adalah 2 x 256 = 512 (lihat tabel 3.8 baris desimal). Bilangan heksadesimal B yang terletak pada kolom 16-an sehingga nilai desimalnya adalah 16 x 11 = 176. Selanjutnya kolom terakhir paling kanan yang mempunyai bobot 1-an menghasilkan nilai desimal sebesar 1 x 6 = 6. Nilai akhir pencacahan dari heksadesimal 2B6 ke desimal adalah 256 + 176 + 6 = 694 (10) .

Tabel 3.8 Konversi bilangan heksadesimal ke desimal

No

Pangkat

16

2

16

1

16

0

I

Nilai-Tempat

256-an

16-an

1-an

II

Heksadesimal

2

B

6

III

 

256 x 2 =

16 x 11 =

1 x 6 = 6

Desimal

512

176

IV

 

512 + 176 + 6 = 694 (10)

 

Tabel 3.9 berikut memperlihatkan contoh konversi bilangan pecahan heksadesimal ke desimal. Metode penyelesaiannya ad alah sama seperti metode yang digunakan tabel 3.8.

First | Semester

heksadesimal ke desimal. Metode penyelesaiannya ad alah sama seperti metode yang digunakan tabel 3.8. First |

8

Teknik Digital Dasar

Tabel 3.9 Konversi bilangan pecahan heksadesimal ke desimal

No

Pangkat

16

2

16

1

16

0

 

.

1/16 1

I

Nilai-Tempat

256-an

16-an

1-an

 

0,625

II

Heksadesimal

A

3

F

.

C

III

 

256 x

16 x 3 = 48

1 x 15 = 15

 

0,625 x

Desimal

10 =

12 =

2560

   

0,75

IV

2560 + 48 + 15 + 0,75 = 2623,75 (10)

Langkah pertama adalah bilangan heksadesimal A pada kolom 256-an dikalikan dengan 10 sehinggga didapatkan nilai desimal sebesar 2560. Bilangan heksadesimal 3 pada kolom 16-an menghasilkan nilai desimal sebesar 3 x 16 = 48. Selanjutnya bilangan F menyatakan nilai desimal 1 x 15 = 15. Terakhir bilangan pecahan heksadesimal adalah 0,625 x 12 = 0,75. sehingga hasil akhir bilangan desimal adalah 2560 + 48 + 15 + 0,75 = 2623,75 (10) .

1.3.2 Konversi Desimal ke Heksadesimal Konversi desimal ke heksadesimal bisa dilakukan dengan dua tahapan. Yang pertama adalah melakukan konversi bilangan desimal ke bilangan biner, kemudian dari bilengan biner ke bilangan heksadesimal. Contoh :

Konversi bilangan desimal 250 ke bilangan heksadesimal.

Tabel 3.10 Konversi Desimal ke Heksadesimal.

: Konversi bilangan desimal 250 ke bilangan heksadesimal. Tabel 3.10 Konversi Desimal ke Heksadesimal. First |
: Konversi bilangan desimal 250 ke bilangan heksadesimal. Tabel 3.10 Konversi Desimal ke Heksadesimal. First |

First | Semester

Teknik Digital Dasar

9

Maka langkah pertama adalah merubah bilangan deimal 250 ke dalam bilangan biner: 250 (10) = 1111.1010 (2) . Untuk memudahkan konversi bilangan biner ke heksadesimal maka deretan bilangan biner dikelompokkan dalam masing-masing 4 bit bilangan biner yang disebut dengan 1 byte. Artinya 1 byte = 4 bit. Byte pertama adalah 1111(2) = F(16) Byte ke dua adalah 1010(1) = A(16) Maka bilangan heksadesimal, 1111.1010 (2) = FA (16) Sehingga 250 (10) = FA (16)

1.3.3 Konversi Bilangan Heksa Desimal ke Bilangan Biner

Konversi bilangan heks a desimal bisa dilakukan dengan metode shorthand. Metode ini sangat mudah dengan cara masing-masing bit dari bilangan heksa desimal dikonversikan langsung ke dalam bilangan biner 4 bit. Contoh : Bilangan Heksa desimal 9F2 16 dikonversikan ke bilangan biner:

Heksa desimal 9F2 1 6 dikonversikan ke bilangan biner: Maka 9F2 1 6 = 100111110010 2

Maka 9F2 16 = 100111110010 2

1.3.4 Konversi Bilangan Biner ke Bilangan Heksadesimal

Konversi bilangan biner ke bilangan heksa desimal adalah dengan mengelompokkan bilangan biner masing-masing kelompok terdiri dari empat bit bilangan biner. Bila jumlah bilangan biner belum merupakan kelipatan empat, maka ditambahkan bilangan biner ”0” sehingga lengkap

jumlahnya.

Kemudian

masing-masing

kelompok

bilangan

biner

dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal dimulai dari MSB. Maka gabungan bilangan heksadesimal tersebut ekivalen dengan bilangan yang

dimaksud.

First | Semester

dimulai dari MSB. Maka gabungan bilangan heksadesimal tersebut ekivalen dengan bilangan yang dimaksud. First | Semester

10

Teknik Digital Dasar

Contoh:

Bilangan biner 1110100110 2 dikonversikan ke dalam bilangan heksa desimal, maka harus ditambahkan bilangan bilangan biner 0 di depan (MSB) sehingga menjadi 0011 1010 0110

biner 0 di depan (MSB) sehingga menjadi 0011 1010 0110 Maka 1110100110 2 = 3A6 1

Maka 1110100110 2 = 3A6 16

1.3.5 Kegunaan Heksadesimal dan Oktal Heksadesimal dan oktal sering dipergunakan dalam sistem digital, karena sistem ini lebih memudahkan dalam sistem konversi dalam biner. Sistem yang dipakai pada komputer adalah pengolahan data 16 bit, 32 bit atau 64 bit. Deretan bit yang panjang akan menyulitkan dalam sistem konversi. Maka sistem bilangan heksadesimal dan oktal memudahkan pekerjaan konversi tersebut, karena setiap 4 bit (1 byte) biner diwakili oleh 1 bilangan heksa desimal atau oktal. Misalkan bilangan biner 01101110011001112adalah bisa diwakili dengan 6E6716. Contoh : Konversikan bilangan desimal 378 ke dalam biner 16 bit. Jawab :

378

16

23

16

1

16

23 sisa10biner 16 bit. Jawab : 378 16 23 16 1 16 10 sisa 7 10 0

10

sisaJawab : 378 16 23 16 1 16 23 sisa10 10 7 10 0 sisa 1

7

10

0
0

sisa

1

10

A
A

16

7
7

16

1
1

16

Maka 378 10 = 17A 16 atau ditulis 017A 16 Sehingga bisa dengan cepat kita uraikan ke dalam biner menjadi :

378 10 = 0000 0001 0111 1010 2

bisa dengan cepat kita uraikan ke dalam biner menjadi : 378 1 0 = 0000 0001

First | Semester

Teknik Digital Dasar

11

1.4 Bilangan Oktal Sistem bilangan oktal sering dipergunakan dalam prinsip kerja digital computer. Bilangan oktal memilikibasis delapan, maksudnya memiliki kemungkinan bilangan 1,2,3,4,5,6 dan 7. Posisi digit pada bilangan oktal adalah :

Tabel 3.11

8

4

8

3

8

2

8

1

8

0

8

-1

8

-3

8

-3

8

-4

8

-5

Penghitungan dalam bilangan oktal adalah:

0,1,2,3,4,5,6,7,10,11,12,13,14,15,16,17,20……………65,66,67,70,71……

…….275,276,277,300…….dst.

1.4.1 Konversi Oktal ke Desimal

Bilangan oktal bisa dikonversikan dengan mengalikan bilangan oktal

dengan angka delapan dipangkatkan dengan posisi pangkat. Contoh :

226 8

= 2 x 8 2 + 2 x 8 1 + 6 x 8 0

= 2x64 + 2 x 8 + 6x1

= 128 + 16 + 6

=150 10

1.4.2 Konversi Bilangan Desimal ke Bilangan Oktal

Bilangan desimal bisa dikonversikan ke dalam bilangan oktal dengan cara

yang sama dengan sistem pembagian yang dterapkan pada konversi desimal ke biner, tetapi dengan faktor pembagi 8. Contoh : Bilangan 266 10 dikonversikan ke bilangan oktal :

Tabel 3.12 Konversi Desimal ke Oktal

ke bilangan oktal : Tabel 3.12 Konversi Desimal ke Oktal Maka hasilnya  266 1 0

Maka hasilnya 266 10 = 412 8 Sisa pembagian yang pertama disebut dengan Least Significant Digit (LSD) dan sisa pembagian terakhhir disebut Most Significant Digit (MSD).

First | Semester

dengan Least Significant Digit (LSD) dan sisa pembagian terakhhir disebut Most Significant Digit (MSD). First |

12

Teknik Digital Dasar

1.4.3 Konversi Bilangan Oktal ke Biner

Konversi bilangan oktal ke bilangan biner adalah sangat mudah dengan mengkonversikan masing-masing bilangan oktal ke dalam 3 bit biner. Tabel 3.13 menjunjukkan konversi bilangan oktal ke dalam biner.

Tabel 3.13 Konversi bilangan oktal ke dalam biner.

Oktal

0

1

2

3

4

5

6

7

Ekivalen

000

001

010

011

100

101

110

111

Biner

Dengan demikiankita bisa mengkonversikan bilangan oktal ke biner adalah dengan mengkonversikan masing-masing bit bilangan oktal ke dalam masing-masing 3 bit biner. Contoh : bilangan oktal 472 8 dikonversikan kebilangan biner :

: bilangan oktal 472 8 dikonversikan kebilangan biner : Maka 472 8 = 100111010 2 1.4.4

Maka 472 8 = 100111010 2

1.4.4 Konversi Bilangan Biner ke Bilangan Oktal

Konversi bilangan biner ke bilangan oktal adalah dengan mengelompokkan bilangan biner ke dalam 3 bit masing-masing dimulai dari LSB. Kemudian masing-masing kelompok dikonversikan ke dalam bilangan oktal . Contoh : Bilangan biner 100111010 2 dikonversikan ke dalam bilangan oktal :

Kelompok 1 = 100 2 = 4 8 Kelompok 2 = 111 2 = 7 8 Kelompok 3 = 010 2 = 2 8 Maka 100111010 2 = 472 8

= 4 8 Kelompok 2 = 111 2 = 7 8 Kelompok 3 = 010 2

First | Semester

1.5 Konversi Pecahan

Teknik Digital Dasar

13

Sistem konversi pecahan bilangan biner, heksa desimal dan oktal me miliki cara yang berbeda dengan bilangan integer. Cara konversi bilangan tersebut dijelaskan pada uraian berikut.

1.5.1 Konversi Pecahan Desimal ke Biner Konversi pecahan bilangan desimal ke biner adalah dengan cara mengalikan bilangan pecahan desimal dengan bilangan 2. Hasilnya adalah angka pecahan yang lebih besar daripada1 atau lebih kecil daripada 1.Bila hasilnya peerkalian adalah >1, maka catat sisa = ”1”. Sebaliknya bila hasil perkalian < 1, maka catat sisa = ”0”. Kemudia kalikan angka di belakang koma dengan 2, dan lakukan hal serupa. Maka akan didapatkan sederetan angka pecahan seperti pada contoh di bawah. Contoh :

Konversikan bilangan pecahan desimal 0,293 10 ke dalam bilengan pecahan biner. Jawab:

0,293 1 0 ke dalam bilengan pecahan biner. Jawab: Maka hasilnya adalah 0,293 1 0 =

Maka hasilnya adalah 0,293 10 = 0,01001 2

1.5.2 Konversi Pecahan Desimal ke Bilangan Pecahan Oktal

Dengan cara yang sama namun factor pengalinyanadalah 8, maka kita dapat mengkonversikan bilangan pecahan desimal ke dalam bilangan pecahan oktal Contoh :

Konversikan bilangan pecahan desimal 0,293 ke dalam bilangan pecahan oktal.

First | Semester

pecahan oktal Contoh : Konversikan bilangan pecahan desimal 0,293 ke dalam bilangan pecahan oktal. First |

14

Teknik Digital Dasar

Jawab :

14 Teknik Digital Dasar Jawab : Maka hasilnya adalah 0,293 1 0 = 0,226 8 1.5.3

Maka hasilnya adalah 0,293 10 = 0,226 8

1.5.3 Konversi Bilangan Pecahan Oktal ke Pecahan Desimal

Konversi bilangan pecahan oktal ke bilangan pecahan desimal adalah dengan cara seperti contoh di bawah ini. Contoh : Konversikan bilangan pecahan oktak 0,347 8 ke dalam bilangan pecahan desimal. Jawab :

3 x 8

2

8 ke dalam bilangan pecahan desimal. Jawab : 3 x 8 2 4 x 8 1

4 x 8

1

ke dalam bilangan pecahan desimal. Jawab : 3 x 8 2 4 x 8 1 7

7 x 8

0

8

3

pecahan desimal. Jawab : 3 x 8 2 4 x 8 1 7 x 8 0

192

32 7
32
7

512

231

512

Jawab : 3 x 8 2 4 x 8 1 7 x 8 0 8 3

0,451

10

1.5.4 Konversi Bilangan Pecahan Biner ke Bilangan Pecahan Desimal

Konversi bilangan pecahan biner ke dalam bilangan pecahan desimal adalah sama dengan cara konversi bilangan pecahan oktal ke dalam bilangan pecahan desimal di atas. Contoh : Konversikan bilangan pecahan biner 0,1011 2 ke dalam bilangan pecahan desimal. Jawab :

1x 2

3

0 x 22 ke dalam bilangan pecahan desimal. Jawab : 1x 2 3 2 1x 2 1 1x

2

ke dalam bilangan pecahan desimal. Jawab : 1x 2 3 0 x 2 2 1x 2

1x 2

1

bilangan pecahan desimal. Jawab : 1x 2 3 0 x 2 2 1x 2 1 1x

1x 2

0

2

4

8 0 2 1 11
8
0
2
1
11

16

16

0,687

10

1.5.5 Konversi Bilangan Pecahan antar Base Radix 2,8,16

Ada cara yang cepat dan mudah konversi bilangan antar bse radix. Konversikan bentuk bilangan pecahan oktal ke dalam biner. Bila yang dikonversikan adalah sebuah blangan pecahan adalah bentuk oktal, maka

kelompokkan bilangan biner dalam masing-masing tiga bit. Bila akan dikonversikan ke dalam bilangan heksa desimal, maka kelompokkan ke dalam masing-masing 4 bit. Bila jumlah bit masing-masing ada yang

First | Semester ke dalam bilangan heksa desimal, maka kelompokkan ke dalam masing-masing 4 bit. Bila jumlah bit masing-masing

Teknik Digital Dasar

kurang, tambahkan angka

dalam bilangan heksa desimal.

”0” agar cukup. Kemudian konversikan ke

15

Contoh :

Konversikan bilangan oktal 654,37 8 ke dalam bilanga n heksdesimal.

Jawab :

654,37 8

= [

110 101 100 . 011 111 ] 2

654,37 8 = [ 0001 1010 1100 . 0111 1100 ] 2

A

= [

1

C

7

C

] 16

.

Bila bilangan heksadesimal dikonversikan ke dalam bilangan oktal, maka

pertama kali lakukan konversi bilangan heksa desimal tersebut ke dalam

bilangan biner. Kelompokkan deretan bilangan biner ke dalammasing-

masing kelompok 3 bit. Konversikan masing-masing kelompok ke dalam

bilangan oktal.

Contoh :

Konversikan bilangan heksadesimal AF3,79 16 ke dalam bilangan oktal.

Jawab:

AF3,79 16 = [1010 1111 0011 . 0111 1001

= [101 011 110 011 . 011 110

= [

5

5

6

3

.

3

6

] 2

010

2

] 8

] 2

Sehingga AF3,79 16 = 5563.362 8

Contoh :

Konversikan bilangan desimal 1945 10

Jawab :

1945 :16 = 121 sisa 9

sisa 9

121 : 16

=

7

Maka 1945 10

= [

= [

7

9

9

0111 1001 1001

] 16

] 2

ke dalam bilangan biner,

First | Semester

sisa 9 121 : 16 = 7 Maka 1945 1 0 = [ = [ 7

16

Teknik Digital Dasar

1.6 Bilangan Komplemen Untuk menentukan bilangan komplemen dari suatu bilangan tertentu ada tiga cara yaitu :

Sign and Magnitude (SAM)komplemen dari suatu bilangan tertentu ada tiga cara yaitu : Diminished radix (DR) Radix ( R

Diminished radix (DR)tertentu ada tiga cara yaitu : Sign and Magnitude (SAM) Radix ( R ) 1.6.1 Sign

Radix ( R )cara yaitu : Sign and Magnitude (SAM) Diminished radix (DR) 1.6.1 Sign and Magnitude (SAM) Nilai

1.6.1 Sign and Magnitude (SAM)

Nilai negatip ditandai dengan angka pertama 0 atau (n radix -1) pada bilangan tersebut. Contoh untuk bilangan oktal (+) (N)=0 dan (-) (- N)=7

Contoh :

Positip N 0657,3 8 Negatip -N 7657,3 8

1.6.2 Diminished radix (DR)

Pada model diminished radix, bila jumlah angka pada di depan koma adalah m dan jumlah angka di belakang koma adalah k serta R adalah radix , maka bilangan komplemen bisa dicari dengan persamaan 3.3

seperti di bawah :

-N

(R)R R

m

XXXX , XXX

persamaan 3.3 seperti di bawah : -N (R) R m XXXX , XXX (N) R m

(N)

R

m

3.3 seperti di bawah : -N (R) R m XXXX , XXX (N) R m (0,1)

(0,1)

k

R

k

Contoh 1:

N=0187,587 10

N
N
, XXX (N) R m (0,1) k R k Contoh 1: N=0187,587 1 0 N (10)

(10)

4

10

(N) R m (0,1) k R k Contoh 1: N=0187,587 1 0 N (10) 4 10

(0817,587)

10

k R k Contoh 1: N=0187,587 1 0 N (10) 4 10 (0817,587) 10 (0,1) 3

(0,1)

3

10

1: N=0187,587 1 0 N (10) 4 10 (0817,587) 10 (0,1) 3 10 9812,416 10 (3.3)

9812,416

10

(3.3)

Contoh 2 :

N = 01101,01011 2 -N = 100000 - 01101,01011- 0,00001=10010,10100 Maka -N = 10010,10100 2

2 : N = 01101,01011 2 -N = 100000 - 01101,01011- 0,00001=10010,10100 Maka  -N =

First | Semester

1.6.3 Radix (2 nd complement)

Teknik Digital Dasar

17

Untuk menentukan bilangan komplemen dari suatu bilangan tertentu ada cara ke tiga adalah model radix (second complement) bila R = radix, jumlah bilangan di depan koma adalah m, maka bisa dituliskan dalam

persamaan 3.4 di bawah :

-N

m, maka bisa dituliskan dalam persamaan 3.4 di bawah : -N m (R) R (N) R

m

(R)R

bisa dituliskan dalam persamaan 3.4 di bawah : -N m (R) R (N) R Contoh: N

(N)

R

Contoh:

N = 7654,372 10

-N

4

= (10) 10 - (7654,372) 10

(3.4)

-N = 10000 - 7654,372 = 0123,406

Maka -N = 0123,406 10

1.7 Sistem Kode Pada umumnya manusia akan lebih mudah menggunakan bilangan desimal dalam sistem penghitungan langsung (tanpa alat pengkode). Berbeda dengan konsep peralatan elektronik seperti mesin hitung (kalkulator), komputer dan alat komunikasi handphone yang menggunakan bilangan logika biner 1 dan 0. Peralatan-peralatan tersebut termasuk kelompok perangkat digital yang hanya mengolah data berupa bilangan biner. Untuk menghubungkan perhitungan logika perangkat digital dan perhitungan langsung yang dimengerti manusia, diperlukan sistem pengkodean dari bilangan biner ke desimal. Sistem pengkodean dari bilangan logika biner menjadi bilangan desimal lebih dikenal dengan sebutan BCD (Binary Coded Desimal).

1.7.1 Kode BCD

Sifat dari logika biner adalah sukar untuk dipahami secara langsung. Suatu

kesulitan, berapakah nilai konversi jika kita hendak merubah bilangan biner 10010110 (2) menjadi bilangan desimal?.

First | Semester

nilai konversi jika kita hendak merubah bilangan biner 10010110 ( 2 ) menjadi bilangan desimal?. First

18

Teknik Digital Dasar

Tabel 3.14 Kode BCD 8421

18 Teknik Digital Dasar Tabel 3.14 Kode BCD 8421 Untuk menyelesaikan masalah tersebut, sudah barang tentu

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, sudah barang tentu diperlukan waktu dan energi yang tidak sedikit. Untuk mempermudah dalam meyelesaikan masalah tersebut, diperlukan sistem pengkode BCD atau dikenal juga dengan sebutan BCD 8421. Tabel 3.14 memperlihatkan kode

BCD 4bit untuk digit desimal 0 sampai 9. Maksud sistem desimal terkode biner atau kode BCD (Binary Coded Desimal) bertujuan untuk membantu agar supaya konversi biner ke desimal menjadi lebih mudah. Kode B CD ini setiap biner memiliki bobot nilai yang berbeda tergantung posisi bitnya. Untuk bit paling kiri disebut MSB-Most Significant Bit mempunyai nilai desimal 8 dan bit paling rendah berada pada posisi bit paling kiri dengan nilai desimal 1 disebut LSB-Least Significant Bit. Oleh karena itu sistem pengkode ini dinamakan juga dengan sebutan kode BCD 8421. Bilangan 8421 menunjukkan besarnya pembobotan dari masing-masing bilangan biner 4bit. Contoh 1 memperlihatkan pengubahan bilangan desimal 352 basis 10 ke bentuk kode BCD 8421. Desimal

3

5

2

BCD

0011

0101

0010

Contoh 2 menyatakan pengubahan BCD 0110 1001 ke bentuk bilangan

desimal basis 10.

5 2 BCD 0011 0101 0010 Contoh 2 menyatakan pengubahan BCD 0110 1001 ke bentuk bilangan

First | Semester

Teknik Digital Dasar

19

BCD

0110

1001

.

Desimal

6

9

.

Contoh 3 memperlihatkan pengubahan bilangan desimal pecahan 53.52 basis 10 ke bentuk BCD 8421.

Desimal

5

3

.

5

2

BCD

0101

0011

.

0101

0010

Contoh 4 menyatakan pengubahan pecahan BCD 8421 ke bentuk bilangan desimal basis 10.

BCD

0111

0001

.

0000

1000

Desimal

7

1

.

0

8

Contoh 5 menyatakan pengubahan pecahan BCD 8421 ke bentuk bilangan desimal basis 10 dan ke konversi biner basis 2.

BCD

0101

0101

.

0101

Desimal

5

4

.

5

Desimal ke biner

konversi biner basis 2. BCD 0101 0101 . 0101 Desimal 5 4 . 5 Desimal ke

First | Semester

konversi biner basis 2. BCD 0101 0101 . 0101 Desimal 5 4 . 5 Desimal ke

20

Teknik Digital Dasar

1.8 Pengertian Besaran Digital Besaran digital adalah besaran yang terdiri dari besaran level tegangan High dan Low, atau dinyatakan dengan logika “1” dan “0”. Level high adalah identik dengan tegangan “5 Volt” atau logika “1”, sedang level low identik dengan tegangan “0 Volt” atau logika “0”. Untuk sistem digital yang menggunakan C-MOS level yang digunakan adalah level tegangan “15 Volt” dan “0 Volt”

adalah level tegangan “15 Volt” dan “0 Volt” Gambar 3.1a. Besaran Digital TTL Gambar 3.1b. Besaran

Gambar 3.1a. Besaran Digital TTL

Volt” dan “0 Volt” Gambar 3.1a. Besaran Digital TTL Gambar 3.1b. Besaran Digital C-MOS Sebagai gambaran

Gambar 3.1b. Besaran Digital C-MOS

Sebagai gambaran perbedaan besaran digital dan analog adalah seperti penunjukan alat ukur. Alat ukur analog akan menunjukkan besaran analog, sedangkan alat ukur digital akan menunjukkan display angka yang disusun secara digital (7-segment).

display angka yang disusun secara digital (7- segment ). Gambar 3.1c Besaran Analog First | Semester

Gambar 3.1c Besaran Analog

angka yang disusun secara digital (7- segment ). Gambar 3.1c Besaran Analog First | Semester Gambar

First | Semester

angka yang disusun secara digital (7- segment ). Gambar 3.1c Besaran Analog First | Semester Gambar

Gambar 3.1d Besaran Digital

Gambar 3.1e Tegangan Analog Teknik Digital Dasar 21 Gambar 3.1f Tegangan digital First | Semester

Gambar 3.1e Tegangan Analog

Teknik Digital Dasar

21

Gambar 3.1e Tegangan Analog Teknik Digital Dasar 21 Gambar 3.1f Tegangan digital First | Semester

Gambar 3.1f Tegangan digital

First | Semester

Gambar 3.1e Tegangan Analog Teknik Digital Dasar 21 Gambar 3.1f Tegangan digital First | Semester

22

Teknik Digital Dasar

Lembar Evaluasi

1. Konversikan bilangan biner di bawah ini ke dalam bilangan okta !

a. 101011111001 2

b. 110010110111 2

2. Konversikan bilangan oktal di bawah ini ke dalam bilangan biner!

a. 2170

8

b. 3571

8

3. Konversikan bilangan biner di bawah ini ke dalam bilangan heksa !

a. 1101111100101110

2

b. 0110100110000010

2

c. 0011110001111101

2

4. Konversikan bilangan heksa di bawah ini ke dalam bilangan biner!

a. ABCD 16

b. 2170 16

c. B75F 16

5. Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan biner!

a. 1234

10

b. 5670

10

c. 2321

10

6. Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan oktal !

a. 2115

10

b. 4321

10

c. 7688

10

d. 3821

10

7. Konversikan bilangan desimal

heksa!

a. 1780

10

b. 3666

10

c. 5230

10

d. 6744

10

1 0 b. 3666 1 0 c. 5230 1 0 d. 6744 1 0 First |

First | Semester

di bawah ini ke dalam bilangan

Teknik Digital Dasar

23

8.

Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan biner!

a. 0.3125 10

 

b. 0.65625

10

c. 0.34375

10

d. 0.140625 10

 

9.

Konversikan bilangan desimal di bawah ini ke dalam bilangan oktal !

a. 0.49414

10

b. 0.40625

10

c. 0.451 10

d. 0.121 10

10.

Konversikan bilangan desimal

di bawah ini ke dalam bilangan

heksa!

a. 0.301 10

b. 0.8213 10

 

c. 0.022 10

11.

Konversikan bilangan di bawah ini ke dalam bilangan desimal !

a. 101.01

2

b. 723.14

8

c. A1.5E 16

12.

Penjumlahan bilangan biner

a. 01011011 2 + 01101011 2

b. 1011 2

+ 0011 2

c. 11111111 2 + 00000001 2

d. 11011100 2 + 10111001 2

13.

Pengurangan bilangan biner

a. 1011 2

- 0011 2

b. 11011011 2 - 01101011 2

c. 11000000 2 - 10110101 2

d. 11011100 2 - 10111001 2

14.

Perkalian bilangan biner

a. 1100100 2 x 101 2

b. 11001 2 x 10001 2

c. 10100 2 x 10100 2

First | Semester

Perkalian bilangan biner a. 1100100 2 x 101 2 b. 11001 2 x 10001 2 c.

24

Teknik Digital Dasar

15. Pembagian bilangan biner

a. 1110100 2 ÷ 100 2

b. 111110111 2 ÷ 101 2

c. 110101011 2 ÷ 1001 2

bilangan biner a. 1110100 2 ÷ 100 2 b. 111110111 2 ÷ 101 2 c. 110101011

First | Semester

2. GERBANG DASAR

Teknik Digital Dasar

25

2.1 Gerbang AND Gerbang dasar AND adalah ekivalen dengan dua buah saklar terbuka yang terpasang seri seperti terlihat pada gambar3.2 di bawah.

terpasang seri seperti terlihat pada gambar3.2 di bawah. Gambar 3.2 Rangkaian listrik ekivalen AND Rangkaian yang

Gambar 3.2 Rangkaian listrik ekivalen AND

Rangkaian yang terdiri dari dua buah saklar A dan B, sebuah relay dan sebuah lampu. Lampu hanya akan menyala bila saklar A dan B dihubungkan (on). Sebaliknya lampu akan mati bila salah sa tu saklar atau semua saklar diputus (off). Sehingga bisa dirumuskan hanya akan terjadi keluaran “1” bila A=”1” dan B=”1”.

Rangkaian listrik :

Simbol standar IEC

dan B=”1”. Rangkaian listrik : Simbol standar IEC standar USA Gambar 3.3 Simbol gerbang AND Fungsi

standar USA

Rangkaian listrik : Simbol standar IEC standar USA Gambar 3.3 Simbol gerbang AND Fungsi persamaan dari

Gambar 3.3 Simbol gerbang AND

Fungsi persamaan dari gerbang AND

f(A,B) = A

IEC standar USA Gambar 3.3 Simbol gerbang AND Fungsi persamaan dari gerbang AND f(A,B) = A

B

(3.5)

First | Semester

IEC standar USA Gambar 3.3 Simbol gerbang AND Fungsi persamaan dari gerbang AND f(A,B) = A

26

Teknik Digital Dasar

Tabel 3.15 Tabel kebenaran AND

B

A

Q=f(A,B)

0

0

0

0

1

0

1

0

0

1

1

1

Diagram masukan-keluaran dari gerbang AND erlihat bahwa pada keluaran akan memiliki logik high “1” bila semua masukan A dan B berlogik “1”

high “1” bila semua masukan A dan B berlogik “1” Gambar 3.4 Diagram masukan-keluaran gerbang AND

Gambar 3.4 Diagram masukan-keluaran gerbang AND

2.2 Gerbang OR Gerbang dasar OR adalah ekivalen dengan dua buah saklar terbuka yang terpasang parallel / jajar seperti terlihat pada gambar 3.5 di bawah. Rangkaian terdiri dari dua buah saklar yang terpasang secara parallel, sebuah relay dan lampu. Lampu akan menyala bila salah satu atau ke dua saklar A dan B dihubungkan (on). Sebaliknya lampu hanya akan padam bila semua saklar A dan B diputus (off). Maka bisa dirumuskan bahwa akan terjadi keluaran “1” bila salah satu saklar A=”1” atau B=”1”, dan akan terjadi keluaran “0” hanya bila saklar Rangkaian listrik : A=”1” dan B=”1”.

dan akan terjadi keluaran “0” hanya bila saklar Rangkaian listrik : A=”1” dan B=”1”. First |

First | Semester

Teknik Digital Dasar

27

Teknik Digital Dasar 27 Gambar 3.5 Rangkaian listrik ekivalen gerbang OR Gambar 3.6 simbol ge rbang

Gambar 3.5 Rangkaian listrik ekivalen gerbang OR

Dasar 27 Gambar 3.5 Rangkaian listrik ekivalen gerbang OR Gambar 3.6 simbol ge rbang OR Fungsi

Gambar 3.6 simbol ge rbang OR

Fungsi dari gerbang OR adalah :

f(A,B) = A + B

(3.6)

Tabel 3.16 Tabel kebenaran OR

B

A

Q=f(A,B)

0

0

0

0

1

1

1

0

1

1

1

1

0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 Gambar 3.7 Diagram masukan-keluaran

Gambar 3.7 Diagram masukan-keluaran gerbang OR

First | Semester

0 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 Gambar 3.7 Diagram masukan-keluaran gerbang

28

Teknik Digital Dasar

Diagram masukan-keluaran diperlihatkan seperti gambar di bawah. Pada keluaran A+B hanya akan memiliki logik low “0” bila semua masukan - masukannya A dan B memiliki logik “0”.

2.3 Gerbang NOT Gerbang dasar NOT adalah rangkaian pembalik / inverter. Rangkaian ekivalennya adalah sebuah rangkaian listrik seperti gambar 3.8 di bawah. Bila saklar A dihubungkan (on), maka lampu akan mati. Sebaliknya bila saklar A diputus (off), maka lampu akan menyala. Sehingga bisa disimpulkan bahwa akan terjadi keluaran Q=“1” hanya bila masukan A=”0”. Rangkaian listrik :

Q=“1” hanya bila masukan A=”0”. Rangkaian listrik : Gambar 3.8 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NOT Gambar

Gambar 3.8 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NOT

listrik : Gambar 3.8 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NOT Gambar 3.9 Gambar symbol gerbang NOT Fungsi

Gambar 3.9 Gambar symbol gerbang NOT

Fungsi persamaan dari gerbang NOT adalah:

f(A)= A

(3.7)

Tabel 3.17 Tabel kebenaran NOT

A

Q=A

0

1

1

0

dari gerbang NOT adalah: f(A)= A (3.7) Tabel 3.17 Tabel kebenaran NOT A Q=A 0 1

First | Semester

Teknik Digital Dasar

29

Teknik Digital Dasar 29 Gambar 3.10 Diagram masukan-keluaran gerbang NOT Diagram masukan-keluaran dari gerbang NOT seperti

Gambar 3.10 Diagram masukan-keluaran gerbang NOT

Diagram masukan-keluaran dari gerbang NOT seperti ditunjukkan pada gambar 3.10 di bawah. Keluaran akan selalu memiliki kondisi logik yang berlawanan terhadap masukannya.

2.4 Product of Sum (POS) Disain sebuah rangkaian digital yang disesuaikan dengan kebutuhan, perlu adanya analisis rangkaian terlebih dahul. Untuk menentukan persamaan dan skema rangkaian sebuah gerbang atau gabungan dari beberapa gerbang dasar dari sebuah tabel kebenaran bisa dilakukan dengan metoda Prosuct of Sume (POS). Persamaan ditulis bila keluaran persamaan adalah “1” berupa produk dari penjumlahan A,B. Contoh dari tabel kebenaran di bawah (Tabel 3.18), tentukan persamaan dan rangkaian ganbungan dari gerbang-gerbang dasar:

Tabel 3.18 Tabel kebenaram POS

A

B

F

0

0

1

0

1

0

1

0

0

1

1

1

Persamaan: f(A,B)

0 1 0 0 1 1 1 Persamaan: f ( A , B ) ( A

(A

0 1 0 0 1 1 1 Persamaan: f ( A , B ) ( A

B)(A

B)
B)

Rangkaian logik :

(3.8)

First | Semester

0 1 0 0 1 1 1 Persamaan: f ( A , B ) ( A

30

Teknik Digital Dasar

30 Teknik Digital Dasar Gambar 3.11 Rangkaian logik ( A B ) ( A B )

Gambar 3.11 Rangkaian logik (A B)(A B)

Gambar 3.11 Rangkaian logik ( A B ) ( A B ) 2.5 Sum of Product
Gambar 3.11 Rangkaian logik ( A B ) ( A B ) 2.5 Sum of Product

2.5 Sum of Product (SOP) Metode yang lain untuk menentukan persamaan dan skema rangkaian sebuah gerbang atau gabungan dari beberapa gerbang dasar dari sebuah tabel kebenaran adalah Sum of Product (SOP). Persamaan ditulis bila keluaran adalah “0” berupa penjumlahan dari produk A,B. Contoh dari tabel kebenaran di bawah, tentukan persamaan dan rangkaian gabungan dari gerbang-gerbang dasar , bila A dan B adalah masukan sedangan F adalah keluaran:

Tabel 3.19 Tabel kebenaran SOP

sedangan F adalah keluaran: Tabel 3.19 Tabel kebenaran SOP Persamaan : f(A,B) (AB) (AB) (3.9) Gambar

Persamaan :

f(A,B)

(AB)keluaran: Tabel 3.19 Tabel kebenaran SOP Persamaan : f(A,B) (AB) (3.9) Gambar 3.12. Rangkaian logic A

Tabel 3.19 Tabel kebenaran SOP Persamaan : f(A,B) (AB) (AB) (3.9) Gambar 3.12. Rangkaian logic A

(AB)

(3.9)

3.19 Tabel kebenaran SOP Persamaan : f(A,B) (AB) (AB) (3.9) Gambar 3.12. Rangkaian logic A B

Gambar 3.12. Rangkaian logic AB) (AB)

kebenaran SOP Persamaan : f(A,B) (AB) (AB) (3.9) Gambar 3.12. Rangkaian logic A B ) (

First | Semester Tabel 3.19 Tabel kebenaran SOP Persamaan : f(A,B) (AB) (AB) (3.9) Gambar 3.12. Rangkaian logic A

Lembar Evaluasi Vcc = 5 Vdc RL Q A B
Lembar Evaluasi
Vcc = 5 Vdc
RL
Q
A
B

Teknik Digital Dasar

31

A Q B
A
Q
B

B

A

Q

B

A

Q

0v

0V

 

Lepas

Lepas

 

0V

5V

 

Lepas

Tekan

 

5V

0V

 

Tekan

Lepas

 

5V

5V

 

Tekan

Tekan

 
A Q & B
A
Q
&
B

A

 
   

t   

B

   

t   

Q

 
  t

t 

 

B

A

Q

 

0

0

 

0

1

 

1

0

 

1

1

 

First | Semester

  B A Q   0 0   0 1   1 0   1 1

32

Teknik Digital Dasar A B RL
Teknik Digital Dasar
A
B
RL
Q A B Q
Q
A
B
Q
B Q A
B
Q
A

B

A

Q

0V

0V

 

0V

5V

 

5V

0V

 

5V

5V

 
 

B

 

A

 

Q

 

B

A

Q

 

Lepas

Lepas

 

Lepas

Lepas

 
 

Lepas

Tekan

 

Lepas

Tekan

 

Tekan

Lepas

 

Tekan

Lepas

 

Tekan

Tekan

 

Tekan

Tekan

 
 

A

 
   

t   

 

B

Q

Q t

tQ

 

Q

   

t   

 
 

B

A

Q

 

0

0

0

0

1

1

1

0

1

1

1

1

A ≥1 B
A
≥1
B
  B A Q   0 0 0 0 1 1 1 0 1 1 1

First | Semester

Vcc Q A
Vcc
Q
A
A Q
A
Q

Teknik Digital Dasar

33

A Q
A
Q

A

Q

A

Q

A

Q

0V

 

Lepas

 

Lepas

 

0V

 

Tekan

 

Tekan

 
Q 1
Q
1

A

A

Q

0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0
0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0

t0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t A Q 0 1

0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0

t0V   Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t A Q 0 1

A

Q

0

1

Simpulkan fungsi logika dari gerbang AND!Tekan   Tekan   Q 1 A A Q t t A Q 0 1 Simpulkan

Simpulkan fungsi logika dari gerbang OR!Q 1 A A Q t t A Q 0 1 Simpulkan fungsi logika dari gerbang

Simpulkan fungsi logika dai gerbang NOT!Q 1 A A Q t t A Q 0 1 Simpulkan fungsi logika dari gerbang

First | Semester

dari gerbang AND! Simpulkan fungsi logika dari gerbang OR! Simpulkan fungsi logika dai gerbang NOT! First

34

Teknik Digital Dasar

Dari gambar ra ngkaian dibawah ini :

A Q & B & & 1 ≥1 1 Isilah tabel kebenaran dibawah ini!
A
Q
&
B
&
&
1
≥1
1
Isilah tabel kebenaran dibawah ini!

B

A

Q

0

0

 

0

1

 

1

0

 

1

1

 
dibawah ini! B A Q 0 0   0 1   1 0   1 1

First | Semester

3. GERBANG KOMBINASIONAL

Teknik Digital Dasar

35

Gerbang kombinasional adalah gerbang yang dibentuk oleh lebih dari satu gerbang dasar.

3.1 Gerbang NAND Gerbang dasar NAND adalah ekivalen dengan dua buah saklar terbuka yang terpasang seri. Akan terjadi keluaran Q=“1 ” hanya bila A=”0” dan B=”0”. Gerbang NAND sama dengan gerbang AND dipasang seri dengan gerbang NOT. Rangkaian listrik :

AND dipasang seri dengan gerbang NOT. Rangkaian listrik : Gambar 3.13 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NAND

Gambar 3.13 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NAND

: Gambar 3.13 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NAND Gambar 3.14 Gambar symbol gerbang NAND Fungsi persamaan

Gambar 3.14 Gambar symbol gerbang NAND

Fungsi persamaan

f(A,B)= A B

Gambar symbol gerbang NAND Fungsi persamaan f(A,B)= A B gerbang NAND (3.10) Tabel 3.20 Tabel kebenaran

gerbang NAND

(3.10)

Tabel 3.20 Tabel kebenaran NAND

First | Semester

symbol gerbang NAND Fungsi persamaan f(A,B)= A B gerbang NAND (3.10) Tabel 3.20 Tabel kebenaran NAND

36

Teknik Digital Dasar

36 Teknik Digital Dasar Diagram masukan-keluaran dari gerbang NAND, keluaran memiliki logik “0” hanya bila ke

Diagram masukan-keluaran dari gerbang NAND, keluaran memiliki logik “0” hanya bila ke dua masukannya berlogik “1”

logik “0” hanya bila ke dua masukannya berlogik “1” Gambar 3.15 Diagram masukan-keluaran gerbang NAND 3.2

Gambar 3.15 Diagram masukan-keluaran gerbang NAND

3.2 Gerbang NOR Gerbang dasar NOR adalah ekivalen dengan dua buah saklar terbuka yang terpasang parallel / jajar.

dua buah saklar terbuka yang terpasang parallel / jajar. Gambar 3.16 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NOR

Gambar 3.16 Rangkaian listrik ekivalen gerbang NOR

Akan terjadi keluaran “1” bila semua saklar A=”0” atau

B=”0”. Gerbang

NOR sama dengan gerbang OR dipasang seri dengan gerbang NOT.

B=”0”. Gerbang NOR sama dengan gerbang OR dipasang seri dengan gerbang NOT. Gambar 3.17 Gerbang NOR

Gambar 3.17 Gerbang NOR

B=”0”. Gerbang NOR sama dengan gerbang OR dipasang seri dengan gerbang NOT. Gambar 3.17 Gerbang NOR

First | Semester

Fungsi persamaan gerbang NOR

f(A,B)= A B

Fungsi persamaan gerbang NOR f(A,B)= A B Teknik Digital Dasar (3.11) 37 Tabel 3.21 Tabel kebenaran

Teknik Digital Dasar

(3.11)

37

Tabel 3.21 Tabel kebenaran NOR

Digital Dasar (3.11) 37 Tabel 3.21 Tabel kebenaran NOR Diagram masukan keluaran seperti terlihat pada gambar

Diagram masukan keluaran seperti terlihat pada gambar di bawah. Keluaran hanya akan memiliki logik „1‟, bila semua masukannya berlogik

“0”

logik „1‟, bila semua masukannya berlogik “0” Gambar 3.18 Diagram masukan-keluaran gerbang NOR 3.3

Gambar 3.18 Diagram masukan-keluaran gerbang NOR

3.3 Exclusive OR (EX -OR)

Gerbang EX-OR sering ditulis dengan X-OR adalah gerbang yang paling sering dipergunakan dalam teknik komputer. Gerbang EX-OR hanya akan memiliki keluaran Q=”1” bila masukan-masukan A dan B memiliki kondisi berbeda. Pada gambar 3.19 yang merupakan gambar rangkaian listrik ekivalen EX-OR diperlihatkan bahwa bila saklar A dan B masing-masing diputus (off), maka lampu akan mati. Bila saklar A dan B masing-masing dihubungkan (on), maka lampu juga mati. Bila saklar A dihubungkan (on) sedangkan saklar B diputus (off), maka lampu akan menyala. Demikian pula sebaliknya bila saklar A diputus (off) dan saklar B dihubungkan (on)

First | Semester

lampu akan menyala. Demikian pula sebaliknya bila saklar A diputus (off) dan saklar B dihubungkan (on)

38

Teknik Digital Dasar

maka lampu akan menyala. Sehingga bisa disimpulkan bahwa lampu akan menyala hanya bila kondisi saklar A dan B berlawanan. Tand a dalam

pelunilsa EX-OR adalah dengan tanda

.
.
Tand a dalam pelunilsa EX-OR adalah dengan tanda . Gambar 3.19 Rangkaian listrik ekivalen gerbang EX-OR

Gambar 3.19 Rangkaian listrik ekivalen gerbang EX-OR

tanda . Gambar 3.19 Rangkaian listrik ekivalen gerbang EX-OR Gambar 3.20 Simbol gerbang EX-OR Fungsi persamaan

Gambar 3.20 Simbol gerbang EX-OR

Fungsi persamaan gerbang EX-OR

f(A, B)

Simbol gerbang EX-OR Fungsi persamaan gerbang EX-OR f(A, B) AB AB A B (3.12) Tabel 3.22

AB

gerbang EX-OR Fungsi persamaan gerbang EX-OR f(A, B) AB AB A B (3.12) Tabel 3.22 Tabel

AB

A B
A
B

(3.12)

Tabel 3.22 Tabel kebena ran EX-OR

f(A, B) AB AB A B (3.12) Tabel 3.22 Tabel kebena ran EX-OR Diagram masukan keluaran

Diagram masukan keluaran dari gerbang EX-OR seperti terlihat pada gambar di bawah.

Tabel kebena ran EX-OR Diagram masukan keluaran dari gerbang EX-OR seperti terlihat pada gambar di bawah.

First | Semester

Teknik Digital Dasar

39

Keluaran hanya akan memiliki logik “1” bila masukan-masukannya memiliki kondisi logik berlawanan.

bila masukan -masukannya memiliki kondisi logik berlawanan. Gambar 3.21 Diagram masukan-keluaran gerbang EX-OR 3.4

Gambar 3.21 Diagram masukan-keluaran gerbang EX-OR

3.4 Gerbang EX-NOR (Exlusive-NOR) Pada gambar 3.22 adalah rangkaian listrik ekivalen dengan gerbang EX- NOR. Bila saklar A dan B masing-masing dihubungkan (on) atau diputus (off) maka lampu akan menyala. Namun bila saklar A dan B dalam kondisi yang berlawanan, maka lampu akan mati.Sehingga bisa disimpulkan bahwa gerbang EX-NOR hanya akan memiliki keluaran Q=”1” bila masukan-masukan A dan B memiliki kondisi yang sama. Rangkaian listrik :

A dan B memiliki kondisi yang sama. Rangkaian listrik : Gambar 3.22 Rangkaian listrik ekivalen gerbang

Gambar 3.22 Rangkaian listrik ekivalen gerbang EX-NOR

First | Semester

B memiliki kondisi yang sama. Rangkaian listrik : Gambar 3.22 Rangkaian listrik ekivalen gerbang EX-NOR First

40

Teknik Digital Dasar

40 Teknik Digital Dasar Gambar 3.23 Simbol gerbang EX-NOR Fungsi persamaan gerbang EX-NOR f(A,B)= AB AB

Gambar 3.23 Simbol gerbang EX-NOR Fungsi persamaan gerbang EX-NOR

f(A,B)= AB

gerbang EX-NOR Fungsi persamaan gerbang EX-NOR f(A,B)= AB AB =A B (3.13) Tabel 3.23 Tabel kebenaran

AB =A

EX-NOR Fungsi persamaan gerbang EX-NOR f(A,B)= AB AB =A B (3.13) Tabel 3.23 Tabel kebenaran gerbang

B

(3.13)

Tabel 3.23 Tabel kebenaran gerbang EX=NOR

AB AB =A B (3.13) Tabel 3.23 Tabel kebenaran gerbang EX=NOR Diagram masukan keluaran dari gerbang

Diagram masukan keluaran dari gerbang EX-NOR seperti terlihat pada gambar di bawah. Keluaran hanya akan memiliki logik “1” bila masukan- masukannya memiliki kondisi logik sama, logik “0” maupun logik “1”.

kondisi logik sama, logik “0” maupun logik “1”. Gambar 3.24 Diagram masukan-keluaran gerbang EX-NOR First |

Gambar 3.24 Diagram masukan-keluaran gerbang EX-NOR

First | Semester memiliki kondisi logik sama, logik “0” maupun logik “1”. Gambar 3.24 Diagram masukan-keluaran gerbang EX-NOR

Lembar evaluasi

Teknik Digital Dasar

41

1. Gambarkan simbol dari Gerbang NAND 4 masukan, Persamaan Fungsi, Tabel Kebenaran, Rangkaian Persamaan dan Diagram Pulsa!

2. Gambarkan simbol dari Gerbang NOR 4 masukan, Persamaan Fungsi, Tabel Kebenaran, Rangkaian Persamaan dan Diagram Pulsa!

3. Dari persamaan rangkaian listrik AND, buatlah!

a. Simbol gerbang dasar

b. Fungsi logika

c. Tabel kebenaran

d. Diagram pulsa

4. Dari persamaan rangkaian listrik AND, buatlah!

a. Simbol gerbang dasar

b. Fungsi logika

c. Tabel kebenaran

d. Diagram pulsa

5. Dari persamaan rangkaian listrik EX OR, buatlah!

e. Simbol gerbang dasar

f. Fungsi logika

g. Tabel kebenaran

h. Diagram pulsa

First | Semester

EX – OR, buatlah! e. Simbol gerbang dasar f. Fungsi logika g. Tabel kebenaran h. Diagram

42

Teknik Digital Dasar

6. Pada persamaan rangkain listrik EX NOR, buatlah!

a. Simbol gerbang dasar

b. Fungsi logika

c. Tabel kebenaran

d. Diagram pulsa

EX – NOR, buatlah! a. Simbol gerbang dasar b. Fungsi logika c. Tabel kebenaran d. Diagram

First | Semester

4. ALJABAR BOOLE

Teknik Digital Dasar

Untuk

rangkaian yang benar, efektif, sederhana, hemat komponen serta ekivalen

gerbang dasar bila terjadi keterbatasan komponen yang tersedia. Untuk

matematis guna mencapai tujuan-

meyelesaikan

permasalahan

sebagai berikut :

beberapa persamaan

tujuan tersebut di

itu diperlukan penyelesaian secara

menyelesaikan disain rangkaian digital tentunya dibutuhkan

atas.

Aljabar

boole

adalah

cara

dengan

penyederhanaan

melalui

43

Postulate 2

x + 0 = x

(3.14)

5

x

.

1

=

x

(3,15)

Postulate

x + x‟ = 1

(3.16)

x . x‟ = 0

(3.17)

Theorems 1

x + x =

x

(3.18)

x

. x

= x

(3.19)

Theorems 2

x + 1 =

1

(3.20)

x

. 0 = 0

(3.21)

Theorems 3, involution

(x‟)‟ = x

x.y

x.y

(3.22)

Postulate 3 Commutative

x+y = y+x =

(3.23)

(3.24)

Theorems 4 Associative

x+(y+z)=(x+y)+z

(3.25)

 

x(yz) = (xy)z

(3.26)

Postulate 4 Distributive

(3.27)

 

x(y+z) = xy + xz x+yz = (x+y)(x+z)

(3.28)

Theorems 5 De Morgan

(x+y)‟ = x‟y‟

(3.29)

 

(x.y)‟

= x‟+y‟

(3.30)

Theorems 6 Absorption

x+xy = x

(3.31)

 

x

(x+y) = x

(3.32)

First | Semester

= x‟+y‟ (3.30) Theorems 6 Absorption x+xy = x (3.31)   x (x+y) = x (3.32)

44

Teknik Digital Dasar

4.1 Karnaugh Map Karnaugh map adalah metode untuk mendapatkan persamaan rangkaian digital dari tabel kebenarannya. Aplikasi dari Karnaugh map adalah dengan cara memasukkan data keluaran dari tabel kebenaran ke dalam tabel karnaugh map. Dengan menggunakan metode Sume of Product, maka keluaran yang berlogik “1” dan berdekatan atau berderet ditandai dengantanda hubung. Kemudian tuliskan persamaannya dengan metode SOP.

4.1.1 Karnaugh map dua masukan satu keluaran Tabel sebuah rangkaian yang memiliki dua masukan A,B dan satu keluaran Q :

Tabel 3.24 Tabel kebenaran 2 masukan 1 keluaran

keluaran Q : Tabel 3.24 Tabel kebenaran 2 masukan 1 keluaran Contoh soal 1: Dengan menggunakan

Contoh soal 1:

Dengan menggunakan Karnaugh map, tentukan persamaan dari data keluaran yang ada pada tabel kebenaran berikut :

Tabel 3.25 Tabel kebenaran contoh 1

kebenaran berikut : Tabel 3.25 Tabel kebenaran contoh 1 Maka persamaan rangkaian tersebut adalah : Q

Maka persamaan rangkaian tersebut adalah : Q = A.B Contoh soal 2 :Dengan menggunakan Karnaugh map, tentukan persamaan dari data keluaran yang ada pada tabel kebenaran berikut :

menggunakan Karnaugh map, tentukan persamaan dari data keluaran yang ada pada tabel kebenaran berikut : First

First | Semester

Teknik Digital Dasar

45

Tabel 3.26 Tabel kebenaran contoh 2

Teknik Digital Dasar 45 Tabel 3.26 Tabel kebenaran contoh 2 Maka persamaan rangkaian tersebut adalah :
Teknik Digital Dasar 45 Tabel 3.26 Tabel kebenaran contoh 2 Maka persamaan rangkaian tersebut adalah :
Teknik Digital Dasar 45 Tabel 3.26 Tabel kebenaran contoh 2 Maka persamaan rangkaian tersebut adalah :
Teknik Digital Dasar 45 Tabel 3.26 Tabel kebenaran contoh 2 Maka persamaan rangkaian tersebut adalah :
Teknik Digital Dasar 45 Tabel 3.26 Tabel kebenaran contoh 2 Maka persamaan rangkaian tersebut adalah :

Maka persamaan rangkaian tersebut adalah : Q AB AB A B Bentuk-bentuk lain penyelesaian Karnaugh map adalah sebagai berikut:

Tabel 3.27 Tabel kebenaran contoh 3

adalah sebagai berikut: Tabel 3.27 Tabel kebenaran contoh 3 Persamaan Q = B Contoh lain :

Persamaan Q = B Contoh lain : bila diketahui data-data seperti pada tabel 3.28, tuliskan persamaan rangkaian tersebut.

Tabel 3.28 Tabel kebenaran contoh 4

3.28, tuliskan persamaan rangkaian tersebut. Tabel 3.28 Tabel kebenaran contoh 4 Persamaan adalah Q = A

Persamaan adalah Q = A

First | Semester

3.28, tuliskan persamaan rangkaian tersebut. Tabel 3.28 Tabel kebenaran contoh 4 Persamaan adalah Q = A

46

Teknik Digital Dasar

4.1.2 Karnaugh map tiga masukan satu keluaran Karnaugh map ada yang memiliki tiga buah masukan A,B,C dan sebuah keluaran Q seperti pada tabel 3.25. Tabel 3.29 Tabel Karnaugh Map 3 masukan 1 keluaran

3.25. Tabel 3.29 Tabel Karnaugh Map 3 masukan 1 keluaran Contoh 5: Dengan menggunakan Karnaugh map,

Contoh 5: Dengan menggunakan Karnaugh map, tentukan persamaan dari data keluaran yang ada pada tabel kebenaran berikut :

Tabel 3.30 Tabel kebenaran contoh 5

kebenaran berikut : Tabel 3.30 Tabel kebenaran contoh 5 Persamaan rangkaian adalah Q= A.C ABC Bentuk-bentuk

Persamaan rangkaian adalah Q= A.C ABC

Bentuk-bentuk karnaugh map yang lain untuk 3 masukan 1 keluaran:

5 Persamaan rangkaian adalah Q= A.C ABC Bentuk-bentuk karnaugh map yang lain untuk 3 masukan 1
5 Persamaan rangkaian adalah Q= A.C ABC Bentuk-bentuk karnaugh map yang lain untuk 3 masukan 1

First | Semester

Teknik Digital Dasar

47

Tabel 3.31 Tabel kebenaran contoh 5

Teknik Digital Dasar 47 Tabel 3.31 Tabel kebenaran contoh 5 Persamaan rangkaian adalah Q = A

Persamaan rangkaian adalah Q = A Contoh 6. Diketahui tabel kebenaran di bawah, cari persamaan rangkaian. Tabel 3.32 Tabel kebenaran contoh 6

persamaan rangkaian. Tabel 3.32 Tabel kebenaran contoh 6 Persamaan rangkaian adalah Q = B Contoh 7.

Persamaan rangkaian adalah Q = B Contoh 7. Diketahui tabel kebenaran di bawah, cari persamaan rangkaian.

First | Semester

Persamaan rangkaian adalah Q = B Contoh 7. Diketahui tabel kebenaran di bawah, cari persamaan rangkaian.

48

Teknik Digital Dasar

Tabel 3.33 Tabel kebenaran contoh 7

48 Teknik Digital Dasar Tabel 3.33 Tabel kebenaran contoh 7 Persamaan rangkaian adalah Q = B

Persamaan rangkaian adalah Q = B Contoh 8. Diketahui tabel kebenaran di bawah, cari persamaan rangkaian. Tabel 3.34 Tabel kebenaran contoh 8

bawah, cari persamaan rangkaian. Tabel 3.34 Tabel kebenaran contoh 8 Persamaan rangkaian adalah Q = B.C

Persamaan rangkaian adalah Q = B.C

bawah, cari persamaan rangkaian. Tabel 3.34 Tabel kebenaran contoh 8 Persamaan rangkaian adalah Q = B.C

First | Semester

Teknik Digital Dasar

49

4.1.3 Karnaugh Map Empat Masukan A,B,C,D dan Satu Keluaran Q

Tabel 3.35 Tabel kebenaran 4 masukan 1 keluaran

Keluaran Q Tabel 3.35 Tabel kebenaran 4 masukan 1 keluaran Karnaugh map yang memiliki empat buah

Karnaugh map yang memiliki empat buah masukan dan satu buah keluaran adalah seperti pada tabel 3.35 di atas. Karnaugh Map

adalah seperti pada tabel 3.35 di atas. Karnaugh Map Aplikasi dari model Karnaugh map 4 masukan

Aplikasi dari model Karnaugh map 4 masukan 1 keluaran adalah sebagai berikut :

Contoh 9. Diketahui tabel kebenaran di bawah, cari persamaan rangkaian.

First | Semester

keluaran adalah sebagai berikut : Contoh 9. Diketahui tabel kebenaran di bawah, cari persamaan rangkaian. First

50

Teknik Digital Dasar

Tabel 3.36 Tabel kebenaran 4 masukan 1 keluaran contoh 9

Tabel 3.36 Tabel kebenaran 4 masukan 1 keluaran contoh 9 Persamaan adalah : Q = B.D

Persamaan adalah

:

Q =

B.D

4 masukan 1 keluaran contoh 9 Persamaan adalah : Q = B.D BD 4.1.4 Karnaugh Map

BD

4.1.4 Karnaugh Map Lima Masukan A,B,C,D,E dan Satu Keluaran Q Karnaugh map yang memiliki lima buah masukan dan satu buah keluaran adalah seperti pada Tabel 3.37, table ini merupakan Tabel Kebenaran 5 masukan 1. Karnaugh map harus dipecah menjadi dua bagian, yaitu untuk kondisi masukan A=0 dan A=1. Sehingga Karnaugh map-nya sebagaai berikut:

Aplikasi dari model Karnaugh map 5 masukan 1 keluaran adalah sebagai berikut :

Contoh10.

Diketahui tabel kebenaran (Tabel 3.38), cari persamaan rangkaian.

adalah sebagai berikut : Contoh10. Diketahui tabel kebenaran (Tabel 3.38), cari persamaan rangkaian. First | Semester

First | Semester

Teknik Digital Dasar

51

Tabel 3.37 Tabel kebenaran 5 masukan 1

Teknik Digital Dasar 51 Tabel 3.37 Tabel kebenaran 5 masukan 1 First | Semester

First | Semester

Teknik Digital Dasar 51 Tabel 3.37 Tabel kebenaran 5 masukan 1 First | Semester

52

Teknik Digital Dasar

Tabel 3.38 Tabel kebenaran contoh 10

52 Teknik Digital Dasar Tabel 3.38 Tabel kebenaran contoh 10 Maka persamaan total First | Semester

Maka persamaan total

52 Teknik Digital Dasar Tabel 3.38 Tabel kebenaran contoh 10 Maka persamaan total First | Semester

First | Semester

= C.E

B E
B
E

Lembar evaluasi

Teknik Digital Dasar

53

1. Apakah yang dimaksud dengan diagram karnaugh ?

2. Berapakah jumlah kotak pada diagram karnaugh apabila dipetakan, jika jumlah kombinasi yang dibentuk oleh variabel masukan =

a. 3 variabel

c. 2 variabel

b. 4 variabel

d. 5 variabel

3. Diketahui : Suatu permasalahan yang dapat di tabel kebenaran sebagai berikut : Buatlah penyelesaian aljabar Boole dengan menggunakan diagram karnaugh.

a.

B

A

X

b.

C

B

A

X

c.

D

C

B

A

X

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

1

0

1

1

0

0

1

0

0

0

0

1

1

1

0

0

0

1

0

1

0

0

1

0

0

1

1

1

0

1

1

0

0

0

1

1

0

 

1

0

0

1

0

1

0

0

1

1

0

1

0

0

1

0

1

1

1

1

0

1

0

1

1

0

0

1

1

1

1

0

1

1

1

0

 

1

0

0

0

0

1

0

0

1

0

1

0

1

0

1

1

0

1

1

1

1

1

0

0

0

1

1

0

1

0

1

1

1

0

1

1

1

1

1

1

First | Semester

1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1

54

Teknik Digital Dasar

4. Dari tabel kebenaran dibawah ini

: Buatlah fungsi

logika (aljabar

boole) dengan menggunakan diagram karnaugh. serta rangkaian logikanya

gambarkan

a.

D

C

B

A

X

b.

D

C

B

A

Q

0

0

0

0

0

0