Anda di halaman 1dari 11

EMERGENCY LAMP ( LAMPU DARURAT )

LAPORAN PRAKTIKUM
SISTEM PENGATURAN

Noise

u
Variable Output
Input Isyarat
Terkendali
Acuan Penggerak CONTROLLER Termanipulasi PLANT
r e r b g1 m g2
c
Lintasan Maju

Isyarat Umpan
Balik Primer

FEED BACK
h

Lintasan Umpan Balik

PERCOBAAN : V

PUTU RUSDI ARIAWAN 0804405050

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS UDAYANA
2008
BAB I
Pendahuluan

1.1 Nama Alat Yang Dibuat


Emergency Lamp

1.2 Tujuan
Mengenal sistem pengaturan dengan komponen Relai
Mengamati atau mengetahui prinsip kerja dari sistem lampu darurat

1.3 Manfaat
Digunakan sebagai sumber energi cadangan ketika saat listrik padam,
dalam hal ini digunakan beban berupa lampu 6.2 volt, 0.5 ampere.
BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1 Relai

Gambar 2.1 Relai

Relai merupakan suatu modul output yang terdiri dari 8 relai. Relai sering
digunakan baik pada industri, otomotif, ataupun peralatan elektronika lainnya.
Relai berfungsi untuk menghubungkan atau memutus aliran arus listrik yang
dikontrol dengan memberikan tegangan dan arus tertentu pada koilnya. Pada relai
board ini digunakan relai DC dengan tegangan koil 12V DC,arus yang diperlukan
sekitar 20-30mA. Karena itu pada umumnya kita tidak bisa langsung
menghubungkan output suatu IC logic (TTL/CMOS ) atau komponen lain seperti
C 89C51, PPI 82C55 dengan relai karena arusnya tidak cukup besar. Karena itu
perlu digunakan driver untuk penguat arus yang biasanya berupa transistor, di sini
digunakan Darlington Array ULN 2803A yang merupakan sekumpulan
transistor dengan konfigurasi Darlington sehingga mempunyai (penguatan arus)
yang besar.
Relai merupakan rangkaian yang bersifat elektronis sederhana dan tersusun
oleh :
saklar
medan elektromagnet (kawat koil)
poros besi
Komponen sederhana ini dalam perkembangannya digunakan (atau pernah
digunakan) sebagai komponen dasar berbagai perangkat elektronika,lampu
kendaraan bermotor,jaringan elektronik, televisi, radio, bahkan pada tahun 1930an
pernah digunakan sebagai perangkat dasar komputer yang keberadaannya kini
digantikan oleh mikroprosesor seperti IntelCorp.dan AMD.

2.1.1 Jenis-Jenis Relai


Kini dapat diporoleh di pasaran berbagai tipe relai; mereka ditandai dengan
berbagai cara pula. Relai dapat dogolongkan dalam dua golongan utama:
a. Relai Netral
Di mana transisi dari status ON ke status OFF, dan sebaliknya, tak
bergabung pada arah arus penggeraknya; dan relai berkutub: di mana transisi
bergantung pada arah arus yang mengalir.
b. Relai Elektromekanik
Terdiri atas sebuah armatur inti-besi yang ditarik oleh medan magnet yang
dijangkitkan oleh sebuah kumparan. Armatur membuka atau menutup kontak-
kontak relai. Arus tarik bergantung kepada banyaknya kontak; daya yang
diperlukan lazimnya berada di antara kira-kira 30 dan 600mW. Impedansi
kumparan ada di antara kira-kira 350 dan 2200 ohm. Waktu switch ON dan
OFF ada kira-kira, masing-masing, 10 mdet dan 3 mdet.
c. Relai Lidi
Terdiri atas dua lidi bermagnet yang berada di dalam sampul gelas yang
terisi gas pelindung. Relai diaktifkan oleh medan magnet yang dibangkitkan
kumparan yang terlilitkan melingkari sampul gelasnya. Relai lidi tersedia juga
dalam kemasan DIL. Pemakaian daya bergantung pada tipe yang digunakan dan
ada di sekitar antara 30 dan 150mW. Waktu switch ON dan OFF bervariasi antara
200 dan 800 det.
d. Relai zat padat
Terdiri atas sebuah LED dan detektor foto, yang lazimnya disusul dengan
triac. Waktu switchnya sangat cepat dan pemakaian daya adalah minimal.
2.1.2 Bahan-Bahan Kontak pada Relai:
a. Perak jangan dipakai untuk tegangan kurang dari 6 V, mengingat kesulitan
yang akan ditimbulkan oleh sulfur. Sering kali kontak-kontak diberi lapisan
tipis emas guna melindunginya selama tidak sedang dipoerasikan.
b. Perak-nikel memiliki sifat-sifat seperti perak, tetapi lebih mampu mengikuti
arus pen-switch-an yang lebih besar dan cocok untuk dipakai dalam rangkaian-
rangkaian penerangan.
c. Oksida perak-kadmium tidak mudah leleh, karena itu cocok untuk pen-
switch-an kelengkapan yang diberi daya dari jaringan listrik umum yang sisertai
puncak-puncak sudut tinggi. Kurang cocok untuk dipakai pada tegangan di
bawah 12 V dan dimana pembusuran perlu dihindari.
d. Tungsten sangat cocok untuk pen-switch-an daya-daya besar sebab sangat
keras, tahan terhadap lelehan dan busuran. Ia cenderung untuk beroksidasi dan
karenanya tidak akan dapat dipakai di setiap iklim dan pasti tidak dalam iklim
tropik. Sangat cocok untuk pen-switch-an besar-besar dimana pembusuran tidak
merupakan masalah. Tidak cocok untuk tegangan dibawah 24V dan dalam hal-
hal dimana pembusuran perlu dihindari.
e. Emas sangat cocok untuk tegangan dan arus sangat rendah, dan memiliki
resistansi kontak konstan. Ini membuatnya cocok untuk pen-switch-an kering,
yaitu dimana lebih diutamakan isyarat dari pada tegangan.
Yakinlah bahwa bahan yang mengandung silikon berjauhan dari kontak-
kontak, sebab pembusuran akan menybabkan terbentuknya lapisan isolasi. Secara
umum, kontak-kontak perak tidak akan memerlukan penindasan busur, asalkan
tegangan buka dan arus pen-swutch tidak melampaui kira-kira 35 VA pada beban
ohm.
2.1.3 Cara Kerja Relai
Cara kerja komponen ini dimulai pada saat mengalirnya arus listrik melalui
koil,lalu membuat medan magnet sekitarnya merubah posisi saklar sehingga
menghasilkan arus listrik yang lebih besar. Disinilah keutamaan komponen
sederhana ini yaitu dengan bentuknya yang minimal bisa menghasilkan arus yang
lebih besar.
2.1.4 Keuntungan Relai
Adapun keuntungan dari pemakaian relai pada beberapa aplikasi alat-alat
elektronis, yaitu :
Dapat mengontrol sendiri arus serta tegangan listrik yang diinginkan
Dapat memaksimalkan besarnya tegangan listrik hingga mencapai batas
maksimalnya
Dapat menggunakan baik saklar maupun koil lebih dari satu,
disesuaikan dengan kebutuhan
BAB III
Analisa dan Pembahasan

3.1 Uraian Tentang Alat yang Dibuat

Gambar 3.1 Rangkaian Emergency Lamp

Dalam kehidupan sehari hari listrik atau penerangan sangatlah penting


artinya, apalagi di malam hari. Adakalanya aliran lisrik PLN mati atau putus
secara tiba tiba baik siang maupun malam hari, sehingga kita bingung mencari
senter. Untuk mengatasi hal ini Anda dapat membuat Emergency Lamp atau
lampu darurat. Bila aliran listrik dari PLN putus maka secara otomatis lampu
darurat akan segera menyala.

Gambar 3.2 Emergency Lamp


Jadi berdasarkan uraian tersebut, Emergency Lamp ini termasuk Loop
terbuka karena tidak terdapat feed back. Dikarenakan menggunakan relai untuk
menghidupkan ataupun memadamkan lampu darurat.

3.1.1 Komponen Penyusun


1. Trafo Step-down primer 110/220 sekunder 6 V
2. Switch 3 kaki
3. Switch 2 kaki
4. Fuse 500mA
5. Dioda IN4001
6. LED merah dan hijau
7. LED merah 220V
8. Kapasitor 1500 F
9. Relai 6 V
10. Lampu 6,2 volt, 0,2 A
11. Baterai 6 V
12. Tempat baterai
13. PCB
14. Kabel penghubung ke sumber listrik
15. Kabel konektor
16. Dudukan fuse

3.1.2 Biaya yang diperlukan


1. Trafo Step-down primer 110/220 sekunder 6 V Rp.12. 500,-
2. Switch 3 kaki Rp. 4.000,-
3. Switch 2 kaki Rp. 2.000,-
4. Fuse 500mA Rp. 1.000,-
5. Dioda IN4001 @Rp.500 x 5 Rp. 2.500,-
6. LED merah dan hijau @Rp.500 x 2 Rp. 1.000,-
7. LED merah 220V Rp. 5.000,-
8. Kapasitor 1500 F Rp. 1.500,-
9. Relai 6 V Rp. 2.000,-
10. Lampu 6,2 volt, 0,2 A Rp. 1.000,-
11. Baterai 1.5 V @Rp.2000 x 4 Rp. 8.000,-
12. Tempat baterai Rp. 1.000,-
13. PCB Rp. 3.000,-
14. Kabel penghubung ke sumber listrik Rp. 3.000,-
15. Kabel konektor Rp. 2.000,-
16. Dudukan fuse Rp. 500,- +
TOTAL Rp. 45.000,-

3.2 Cara kerja :


Apabila listrik mati, maka relai menjadi OFF. Relai yang digunakan
NONC (normaly open/close). Artinya pada output terdapat switch. Apabila ON,
switch akan menyambung dari titik A ke titik B. Dan sebaliknya pada saat OFF
switch akan menyambung dari titik A ke titik C. Sehingga pada saat listrik dari
PLN hidup maka arus menuju baterai dan lampu darurat terputus. Pada saat listrik
dari PLN mati maka relai OFF sehingga akan menyambung dari titik A ke titik C.
Maka baterai dengan lampu akan terhubung. Selain itu pada skunder trafo 0 Volt
dihubungkan ke baterai kutub negatif.
Sedangkan, pada skunder trafo 12 volt dipasangkan dioda yang dirangkai
seri dengan resistor 10 ohm sebagai pengisian baterai tersebut. Sedangkan R 10
ohm diparalel dengan LED warna hijau sebagai indikator pengisian. Besaran
resistor tersebut disesuaikan untuk pengisian agar output pengisian sedikit di atas
tegangan baterai. Dalam hal ini yang diubah adalah besaran resistor yang
digunakan. Pada sekunder trafo 6 volt, dipasang dioda bridge 4 buah, sebagai
perata dan pada output diberi kapasitor 1500 F dengan tegangan 10 volt, agar
tegangan 6 volt supplay ke relai agar menjadi DC yang sempurna. Input trafo 0-
220 volt diseri dengan fuse 1 ampere dan switch masukan 220 volt dari PLN.
BAB IV
Kesimpulan

Dari hasil percobaan ini dapat kami simpulkan bahwa :


1. Rangkaian Lampu Darurat ini memiliki peranan yang penting untuk
mengantisipasi ketika terjadi pemadaman listrik dari PLN. Jika dapat kita
terapkan pada instalasi listrik perumahan.
2. Pada rangkainan ini yang berperan penting adalah komponen Relai.
Dimana relai berfungsi untuk menghubungkan atau memutus aliran arus
listrik yang dikontrol dengan memberikan tegangan dan arus tertentu pada
koilnya.
3. Jadi berdasarkan uraian tersebut, Emergency Lamp ini termasuk Loop
terbuka karena tidak terdapat feed back. Dikarenakan menggunakan relai
untuk menghidupkan ataupun memadamkan lampu darurat.
Daftar Pustaka

Raharjo SN dan Slamet MJ. Data Praktis Elektronika : Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.

Rusmadi Dedy. 1999. Aneka Hoby Elektronika 2. Bandung: CV. Pionir Jaya.

_ _ _. 2008. Cara Kerja Relai Dan Keuntungannya.


Diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Relay . Tanggal 20 Maret 2008,
15:35.
_ _ _. 2008. Gambar Relai. Diakses dari www.wikipedia.org/wiki/relai-intro.jpg
Tanggal 20 Maret 2008, 15:21.
_ _ _. 2008. Pengertian Relai. Diakses dari www.InnovativeElectronics.com
Tanggal 20 Maret 2008, 15:17.