Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Teriring doa dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga dengan segenap tenaga dan kemampuan akhirnya tugas
makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Tugas makalah ini merupakan tugas
kelompok yang diberikan oleh dosen pembimbing Sejarah Lokal kepada kami tentang
PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 1888. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa
mengucapkan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing karena telah
mempercayakan suatu tugas dan tanggung jawab bagi kami untuk di emban dengan sebaik-
baiknya.
Akhirnya dengan ucapan Alhamdulillah Robbil Alamin karena telah menyelesaikan tugas
makalah ini. Dan tentunya kami menyadari akan kelemahan atau kekurangan yang terdapat pada
pembahasan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya untuk perbaikan atau
penyempurnaan makalah ini sangat kami harapkan.

Yogyakarta, 07 April 2010

Penulis

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.
KATA PENGANTAR...... 1
DAFTAR ISI..... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 3
B. Rumusan Masalah..3
C. Tujuan Penulisan3
BAB II FAKTOR-FATOR PENDORONG TERJADINYA PERISTIWA PETANI BANTEN
1888... 4
A. Faktor Geografis
B. Faktor Sosiologis

C. Faktor Ekonomi.
D. Faktor Politik.
E. Faktor Psikis dan Religi.
BAB III PERISTIWA PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 1888. 5
A. Para Pemimpin pemberontakan.
B. Pematangan Gerakan Pemberontakan.......................................................................
C. Tahap Persiapan Pemberontakan...............................................................................
D. Menjelang Pemberontakan.

E. Meletusnya Pemberontakan...
F. Penumpasan Pemberontakan dan Kelanjutanya
G. Tanda Tanda Pemberontakan Baru
H. Catatan Tentang Gerakan Gerakan Militer Di Jawa Tengah Dan Jawa Timur.
BAB IV DAMPAK DARI PERISTIWA PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN
1888....... 6
BAB V KESIMPULAN....................................................................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 23

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banten merupakan daerah yang berada di ujung barat pulau Jawa dengan bentang
alam berupa perbukitan di sebelah selatan sampai ke sebelah utara. Untuk itu, Banten dibagi
menjadi dua yaitu Banten Utara dan Banten Selatan. Bagian Selatan merupakan daerah
perbukitan yang jarang terjadi peristiwa penting tatkala Banten berupa kesultanan sampai
penjajahan Belanda. Di daerah ini yang tinggal yaitu masyarakat Badui yang tinggal di hutan
dengan cara yang masih sederhana dan tidak mau ikut campur dalam urusan dunia luar.
Sedangkan di daerah Utara sering terjadi peristiwa penting yang mengubah perpolitikan di
Banten. Terutama setelah bangsa barat masuk ke Banten. Ada upaya dari Kesultanan Banten
untuk mengusir Belanda dari tanah Banten sampai hancurnya kraton kesultanan.
Kesultanan Banten dihapuskan oleh Williems Daendels (Gubernur Jenderal Hindia
Belanda) karena perlawanan rakyat Banten terhadap pendudukannya. Tercatat Kraton
Kesultanan Banten hancur sebanyak dua kali yaitu pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, akibat
ulah anak kandungnya (Sultan Haji) yang bekerja sama dengan Belanda. Kemudian pada
masa Sultan Aliuddin II (1803-1808) yang melawan kekuasaan Belanda atas Banten dibawah
pimpinan Herman Williems Daendels.
Perjuangan rakyat Banten yang terjadi pada tahun 1888 melawan penjajah Belanda
seluruhnya dapat dikatakan dipimpin oleh para ulama dengan menggelorakan semangat fi
sabilillah. Tercatat ada empat kali pemberontakan atau perlawanan rakyat Banten terhadap
kolonialisme Belanda. Pertama, pada tahun 1850 dipimpin oleh H. Wakhia; Kedua, pada
tahun 1888 yang dilakukan oleh mayoritas para petani dibawah pimpinan H. Wasid dan Jaro
Kajuruan (unsur jawara); Ketiga, pada tanggal 13 November 1926 di Menes, Kabupaten
Pandeglang. Perlawanan ini terjadi pada pukul satu dini hari, sekitar empat ratus orang
dengan mengenakan pakaian serba putih dan membawa senjata bedil dan kelewang
menyerbu kediaman Wedana Raden Partadiningrat. Dan yang Keempat, terjadi pada tahun
1945 yang merupakan pertanda kebebasan dari cengkraman kolonialisme. Namun demikian
kita kali ini hanya akan membahas tentang pemberontakan petani Banten tahun 1888 atau

3
dapat dikatakan sebagai Perlawanan Rakyat Banten Terhadap Kolonialisme Belanda.
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Pemberontakan Petani Banten 1888?
2. Bagaimana jalannya Peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888?
3. Apa Dampak dari Peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui Faktor-Faktor Pendorong Terjadinnya Pemberontakan Petani Banten
1888.
2. Untuk mengetahui jalannya Peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888.
3. Untuk mengetahui Dampak dari Peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888.

4
BAB II
FAKTOR-FATOR PENDORONG TERJADINYA
PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN

1. FAKTOR GEOGRAFIS
Dampak Meletus Gunung Krakatau
Selama dasawarsa sebelum terjadi pemberontakan, Banten ditimpa bencana-bencana
alam yang membuat rakyat Banten frustasi yang berkepanjangan. Kejadian yang
sebelumnya tidak diduga dengan kekuatan yang dahsyat telah menghancurkan segala
fasilitas yang telah ada. Bencana alam yang terjadi berupa letusan Gunung Krakatau yang
tidak diduga kedahsyatannya. Kebanyakan diantara masyarakat Banten hanya dapat
merenungi nasib mereka akan kejadian tersebut.
Gunung Krakatau meletus pada bulan Agustus 1883 yang menyebabkan penderitaan
yang bertambah ketika sebelumnya daerah Banten mengalami wabah penyakit ternak
tahun 1879 yang menyebabkan jumlah ternak menurun. Kemudian wabah demam yang
menyebabkan lebih dari sepuluh persen penduduk meninggal dunia. Dan meletusnya
Gunung Krakatau yang merupakan letusan yang paling hebat yang pernah tercatat dalam
sejarah vulkanologi di Indonesia. Lebih dari 20.000 orang tewas, serta banyak desa yang
makmur dan sawah-sawah yang subur berubah menjadi gersang. Dengan kejadian
tersebut, maka kesengsaraan melanda sebagian besar wilayah Banten.1

Kondisi Geografis Banten Utara dan Selatan


Banten yang terletak dibagian paling barat Pulau Jawa, luasnya sekitar 114 mil
persegi. Pada tahun 1892, penduduk Banten berjumlah 568.935 jiwa, dan daerah yang
paling padat penduduknya adalah distrik Cilegon. Banten dapat dibagi menjadi dua yaitu
Banten Utara dan Banten Selatan, Banten Utara merupakan daerah yang padat
penduduknya dan tanah yang subur sudah digarap oleh penduduknya. Di Banten Utara
juga penduduknya tidak hanya etnik Sunda tetapi ada yang dari Lampung, Jawa, Bugis,
1 Sartono Kartodirdjo. Pemberontakan Petani Banten 1888. Yogyakarta: UGM Press,
1984, hlm. 93
5
dan Melayu.2
Sedangkan Banten Selatan merupakan daerah pegunungan yang terdiri dari hutan
belantara dan sangat jarang penduduknya. Serta sangat jarang menjadi ajang peristiwa-
peristiwa penting dalam sejarah Banten. Di selatan hanya dihuni oleh masyarakat Badui
yang dalam hidupnya masih sangat sederhana. Peralatan hidup mereka masih diproduksi
sendiri dan mereka selalu melestarikan alam.

Anyer sebagai Kota Pelabuhan


Bila kita mengingat Daendels pasti kita akan mengingat tanam paksa yang dilakukan
olehnya untuk membangun jalan Anyer-Panaroekan. Di pelabuhan Anyer pula ia
menginjakan kakinya di Jawa sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

2. FAKTOR SOSILOGIS
Keresahan sosial dalam gerakan-gerakan protes
Keresahan yang terjadi sebelum terjadi pemberontakan tersebut adalah berkaitan
dengan perampokan, penyamunan, pembegalan dan lain sebagainya yang diaggap
melanggar hukum. Dalam hal ini yang menjadi perampok, penyamun dan lain sebagainya
dilakukan oleh kaum pemilik tanah atu aristokrat3 yang kehilangan harta bendanya,
sehingga mereka menempuh jalan tersebut untuk mempertahankan hak-hak mereka.
Sering juga antara pemberontakan dan perampokan merupakan protes rakyat terhadap
penindasan pamongpraja yang bertindak sewenang-wenang.
Selain itu juga adanya situasi politik yang memburuk di Banten, sehingga sering
terjadi tindakan anarki, dan juga sistem administrasi yang kacau balau membuatnya
semakin terpuruk. 4

2 ibid., hlm. 53

3 ibid., hlm. 189

4 ibid., hlm. 164


6
Lapisan Peserta dan Pemimpin
Peserta adalah rakyat terutama petani. Pemimpin dalam pemberontakan petani di
Banten ini adalah kaum bangsawan dan kaum agama yang bertujuan sama yaitu
mendirikan kembali Kesultanan Banten dan mempertahankan sistem status tradisional.5
Tatapi dalam pemberontakan atau perlawanan masyarakat Banten lebih banyak dilakukan
oleh elit agama. Mereka mendirikan sebuah pesantren, dimana dalam pesantren tersebut
para kyai menyalurkan ilmunya berupa pemahaman Islam dan juga mendoktrinisasi akan
kebenaran Islam. Sehingga banyak masyarakat Banten yang menjalankan rukun Islam
kelima yaitu naik Haji ke Mekkah.
Dari banyaknya para Haji tersebut, rakyat Banten mulai mengikuti ajaran para Haji
yang hanya sebentar di kota Mekkah atau beberapa tahun tinggal di sana. Kebanyakan
para Haji yang beberapa tahun tinggal di Mekkah, mereka membawakan ajaran tarekat
dan pemahaman Pan-Islamisme. Pan-Islamisme ketika itu sedang berkembang di Dunia
Arab akan kesadaran nasionalisme masyarakat Muslim untuk melawan penjajahan
bangsa Barat. Oleh karena itu, banyak para Haji yang menjadi penggerak dalam
perlawanan melawan pemerintah kolonial.

Kedudukan Status Sosial


a. Keluarga Sultan
b. Raden: keturunan putri Sultan
c. Priyayi: terdiri dari kaum Elit Birokrasi dan Bangsawan
d. Kaum Abdi (Petani/ Tukang/ Buruh): mayoritas rakyat

3. FAKTOR EKONOMI
Konflik Tanah antara petani dan elit bangsawan
Konflik yang terjadi terkait dengan kepemilikan tanah atau sawah Negara, sedangkan
tanah atau sawah tersebut sudah dihapuskan bukan menjadi milik kerabat Sultan. Dengan
berbagai alasan yang dikemukakan oleh elit bangsawan untuk menuntut upeti bagi
mereka kepada rakyat sebagai penggarap sawah negara atau sawah pusaka.6 Selain itu
5 ibid., hlm.

6 ibid., hlm. 60
7
juga, adanya penyelewengan yang dilakukan oleh kaum elit yaitu penggadaian sawah
negara. Setelah Jayakusuma dipecat sebagai patih Lebak,7 ia menganjurkan kepada
rakyat di distrik Ciruas agar mereka menggadaikan sawah mereka kepadanya. Tercatat
tahun 1869, sekitar 40 sampai 50 bau tanah kesultanan digadaikan kepada Jayakusuma
untuk empat sampai lima ribu gulden.
Dalam hal ini dapat dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kaum petani dan elit
sudah terjadi konflik dan bentrokan-bentrokan kepentingan. Kemudian perpecahan sosial
diperparah dengan persoalan-persoalan lainnya yang berhubungan dengan kerja wajib.
Serta adanya perubahan pemindahan hak atas tanah dimana orang yang mempunyai uang
yang menguasai tanah dengan pemusatan pemilikan tanah oleh kaum elit.

Wajib Kerja Bakti


Wajib kerja bakti disini dapat dikatakan sebagai kerja paksa bagi rakyat jelata untuk
mengelola tanah-tanah kesultanan atau sawah-sawah negara. Hal ini digunakan sebagai
pembayaran pajak dengan menggarap tanah atau sawah tersebut. Kerja paksa ini
dilakukan oleh kaum abdi maupun kaum mardika. Pada masa Daendels menjadi Gubjen
Belanda, perbudakan di Banten tahun 1808 dihapuskan dan tanah-tanah kesultanan
dihapuskan kemudian dibagikan kepada kalangan rakyat. Walaupun kesultanan Banten
dihapuskan tahun 1810, tetapi praktek wajib kerja tersebut masih terus berlangsung.
Praktek-praktek ini sangat menyengsrakan rakyat jelata karena mereka diperas tenaganya
demi kebutuhan elit bangsawan kesultanan Banten.8
Tahun 1856 terjadi pembaharuan-pembaharuan oleh pemerintah dengan dampak
wajib kerja bakti berangsur-angsur dikurangi dan kemudian orang bisa bebas dari wajib
kerja wajib tertentu apabila mereka membayar sejumlah uang tertentu. Mengenai sistem
tanm paksa di Banten, efeknya tidak terlalu besar bagi rakyat Banten karena tanaman
yang diwajibkan tidak dapat tumbuh dengan subur dan pada pertengahan pelaksanaan
tersebut dihapuskan.

7 ibid., hlm. 65

8 ibid., hlm. 66 & 70


8
4. FAKTOR POLITIK
Posisi Elit Bangsawan
Kaum Bangsawan mengalami banyak perubahan terutama setelah Kesultanan Banten
runtuh, banyak diantara mereka yang melakukan jalan yang militan dan bersikap
pemberontak untuk mendirikan Kesultanan Banten kembali. Mereka yang pada masa
Kesultanan mendapatkan berbagai fasilitas oleh penguasa Banten bila mereka dekat
dengan penguasa, tetapi setelah dikuasai oleh Belanda mereka menjadi miskin karena
keborosan yang mereka lakukan. Namun banyak diantara mereka menjadi orang
kepercayaan pemerintah Belanda karena kelihayan mereka dalam bertindak. Dan mereka
diperhitungkan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.
Untuk menumbuhkan kembali kenangan kejayaan Kesultanan Banten dan mendirikan
kembali, kaum elit melakukan upaya pemersatuan rakyat seperti dalam Peristiwa Sabidin.
Sabidin merupakan orang yang dijadikan kambing hitam oleh Jayakusuma untuk
mempengaruhi rakyat Banten agar melawan Belanda dan mendirikan Kesultanan Banten.
Ia dijadikan kambing hitam sebut saja kaum elit demi kepentingan mereka sendiri agar
kedudukan mereka menjadi semakin kuat. Hal ini lebih didasarkan kepada garis
keturunan ayah membuat loyalitas kaum bangsawan sangat tinggi dan juga berusaha
membina hubungan yang kekal dengan anggota-anggota pamongpraja.9

Posisi Elit Agama atau Golongan Sosial Lain


Elit agama merupakan kaum yang selalu menentang kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah Belanda. Mereka selalu menempati kedudukan yang strategis mulai dari
tingkat lokal sampai pusat dan sangat dekat dengan penguasa Banten. Sehingga dalam
kancah politik, kaum agama sangat berperan besar dalam menentukan kebijakan menurut
Islam. Melalui ibadah Haji pula, para Haji yang menuntut ilmu membentuk kekuatan-
kekuatan militan untuk menentang pemerintah kolonial dan menjadi kebangkitan Islam.
Hal ini disebabkan karena peranan elit agama masa kolonial hanya digunakan dalam
ritual keagamaan saja dan tidak dapat dijadikan pendukung kedudukan penguasa.
Namun ketika dalam kebangkitan Islam, elit agama lebih dihormati daripada
pamongpraja. Perkembangan percaturan politik di Banten menjadi semakin menarik

9 ibid., hlm. 114


9
karena antara elit bangsawan dan elit agama mengadakan ikatan persekutuan. Mereka
mengdakan ini karena mereka ingin mempertahankan sistem status tradisional yang telah
ada di Banten. Selama abad XIX, kedua ikatan tersebut mengalami keeratan yang sangat
baik, sebagai contoh adalah kerja sama yang dilakukan oleh Haji Wakhia dengan
Tubagus Jayakarta, dan kerja sama lainnya antara elit agama dengan bangsawan.10

5. FAKTOR PSIKIS DAN RELIGI


Adanya kebagkitan agama di Indonesia pada umumnya, Banten pada khususnya
merupakan gerakan religio-politik.11 Gerakan ini dikarenakan elit agama sudah tidak
mempunyai hak untuk berpolitik dan akan dominasi Belanda yang menyebabkan
ketidakpuasan dan frustasi dari kalangan petani itu sendiri. Kebangkitan kembali ini
sesungguhnya hanya untuk mengembalikan kehidupan agama Islam, tetapi hal ini menjadi
suatu alat untuk mengerahkan orang-orang untuk tujuan pemberontakan.
Kebangkitan kembali kehidupan beragama menyebabkan adanya peningkatan yang
luar biasa dalam kegiatan keagamaan, seperti naik Haji, shalat, pemberian pendidikan kepada
anak-anak muda. Meningkatnya masyarakat Banten yang naik Haji dan menetap di Mekkah
dalam beberapa tahun lamanya untuk menuntut ilmu, merupakan awal dari gejolak yang
terjadi di Banten. Mereka yang menganggap dirinya sudah cukup dalam ilmu agama kembali
ke tanah air terutama Banten. Di Banten mereka mengajarkan agamanya kepada kalangan
rakyat jelata terutama anak muda.
Sehingga pada perkembangannya mereka mendirikan pesantren sebagai tempat
pembelajaran agama untuk anak muda. Tahun 1860-an jumlah pesantren di seluruh pulau
Jawa diperkirakan sekitar 300 buah dan hanya beberapa saja yang mempunyai seratus
santri.12 Diantara pesantren-pesantren yang terkenal adalah Pesantren Lengkong dan Panjul di
Cirebon, Daya Luhur di Tegal, Brangkal di Bagelan, Tegalsari dan Banjarsari di Madiun, dan
Sida Cerma di Surabaya. Santri dari beberapa pesantren tersebut tidak hanya dari masyarakat

10 ibid., hlm. 134

11 Sartono Kartodirdjo. Pemberontakan Petani Banten 1888. Yogyakarta: UGM Press,


1984, hlm. 208

12 ibid., hlm. 222


10
sekitar pesantren, tetapi juga dari daerah lain. Jadi pesantren sudah menghilangkan
keregionalann, tetapi telah bersekala nasional. Sehingga mempercepat proses merakyatnya
aliran-aliran di bidang agama.
Kembali ke para Haji diatas selama mereka yang menetap sementara di Mekkah
untuk menuntut ilmu, mereka juga terdoktrin cita-cita keagamaan dan politik menurut Pan-
Islamisme. Para Haji cenderung menempuh jalan yang militan dan tegas-tegas bermusuhan
dengan pemerintah kolonial. Dari pendidikan di Pesantren, para Haji menerangkan akan cita-
cita keagamaan dan politik menurut Pan-Islamisme. Dan pesantren merupakan jalan yang
paling tepat untuk menanamkan fanatisme terhadap pemerintah kolonial.13 Melalui pesantren
dijadikan pengendalian ideologis yang digunakan oleh elit agama sebagai senjata untuk
melawan pemerintah Belanda.
Gerakan Tarekat
Tarekat digunakan untuk mengorganisasikan gerakan keagamaan dan
menyelenggarakan indoktrinasi tentang cita-cita kebengkitan kembali agama Islam.14
Tujuan dari berdirinya banyak tarekat juga bukan memberikan pelajaran, tetapi untuk
memperbesar pengaruhnya dengan jalan memperbanyak pengikut dan menyalurkan
semua otoritas ke tangan guru-tarekat. Perkembangan ini dapat dikatakan sebagai
kebangkitan agama Islam abad ke-19. Kebangkitan ini merupakan pembentukan
solidaritas kelompok melalui revitalisasi ritual-ritual dan upacara-upacara religio-mistik.
Ikatan antara guru-murid dalam tarekat sangat kokoh dan dikokohkan dengan bengat
(janji).
Sudah disebutkan diatas bahwa pemuka agama yang tergabung dalam berbagai
macam tarekat menjalankan aktivitasnya untuk melawan pemerintah kolonial. Macam-
macam tarekat yang berkembang di Banten pada khususnya dan Nusantara pada
umumnya adalah Tarekat Kadiriah, Naksabandiah, Satariah, dan Rahmaniah atau
Rifaiah, serta masih banyak lagi tarekat-tarekat lainnya. Dari bermacam-macam tarekat
tersebut, mereka tidak bersama-sama dalam melawan kolonial, tetapi jalan sendiri-
sendiri. Bahkan salah satu dari tarekat tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar di
bidang politik saat itu.

13 ibid., hlm. 224

14 ibid., hlm. 225


11
Namun diantara kalangan tarekat sendiri juga terdapat persaingan yang sangat
menyolok. Persaingan ini tidak disebabkan oleh faktor-faktor keagamaan atau sosial,
melainkan mereka saling bersaing dalam menyebarkan ajarannya atau mencari pengikut-
pengikut baru. Para pemimpin tarekat sangat dihormati oleh masyarakat Banten karena
tingginya ilmu dan karismanya. Mereka sangat dicintai dan dihormati oleh rakyat yang
menganggap mereka sebagai lambang kejujuran dan keluhuran budi. Selain itu juga
mereka menerima sumbangan-sumbangan dan dengan mudah dapat mengerahkan
penduduk desa.

Sikap Eskatologis dan Ide Mileniaris


Salah satu ciri khas dari kebangkitan agama di Banten pada khususnya yaitu
munculnya ide-ide milenari yang mencangkup harapan akan kedatangan Imam Mahdi.15
Tatapi ide-ide ini hanya sebatas lingkup dan efeknya. Masyarakat muslim Banten sudah
lama menantikan kedatangannya. Ide mileniaris lainnya yaitu doktrinisasi tentang perang
sabil yang dilakukan oleh para guru tarekat. Semua ini sesungguhnya hanya mempunyai
satu tujuan yaitu pemulihan kembali kesultanan Banten.
Dampak dari ajaran perang sabil yang dibawakan oleh para guru tarekat yaitu adanya
kewajiaban yan harus dipenuhi seorang muslim dalam mempertahankan agamanya dari
para kafirun dalam hal ini adalah Belanda dan mengorbankan diri dijalan Allah yang
biasa kita sebut jihad fi-sabilillah. Tujuan utama perang sabil adalah untuk mendirikan
sebuah negara Islam yang merdeka dan masyarakat muslim dengan bebas
mempraktekkan agama Islam yang sejati. Ini berarti jihad dijadikan sebagai jalan puncak
dalam segala pengabdian, doa-doa, puasa, dan perjalanan Haji bagi umat Islam.
Dalam perkembangannya para kyai terekat menanamkan kecurigaan yang begitu
terdalam terhadap pemerintah kolonial dalam hati santri-santrinya. Secara berangsur-
angsur menimbulkan semangat dikalangan pengikut-pengikutnya untuk melancarkan
perang sabil terhadap penguasa-penguasa kafir. Ini merupakan gerakan kebangkitan

15 Imam Mahdi merupakan seorang pemimpin agama Islam yang akan datang ketika dunia
sedang dalam keadaan kacau balau (merupakan kepercayaan masyarakat Muslim di dunia setelah
Nabi Muhammad SAW wafat). Ia akan muncul menjelang hari kiamat dan menghancurkan nabi
palsu pada akhir zaman yaitu Dajal. Mahdi muncul untuk memulihkan tradisi dan agama Islam
yang sejati.
12
kembali agama Islam dengan dijiwai oleh fanatisme yang menggelora dan menjelma
menjadi satu gerakan jihad. 16

Kepercayaan meletus Krakatau


Meletusnya gunung Krakatau adalah azab Tuhan karena masyarakat membiarkan
pemerintahan kafir yang dzalim, yaitu Belanda, bercokol di negeri mereka. Dengan
adanya kepercayaan tersebut banyak diantara pemuka agama mulai mengadakan
perlawanan terhadap Belanda. Di Banten sebagian besar penduduknya menganut agama
Islam, sehingga mereka menerapkan kehidupan secara Islami.

16 ibid., hlm. 235


13
BAB III
PERISTIWA PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 1888

A. Para Pemimpin pemberontakan


a. Haji Abdul Karim
Sebagai Ulama besar dan orang suci di mata rakyat. Sejak muda ia telah
mendalami ajaran-ajaran khatib Sambas sebagai pemimpin Tarekat (Thariqah) Qadiriyah.
Berkat kedudukannya yang luar biasa, khotbah-khotbah yang disampaikan oleh Haji
Abdul Karim mempunyai pengaruh yang besar terhadap penduduk sehingga ia sangat
dihormati dan dianggap seorang waliyullah yang dianugerahi segudang berkah (barokah).
Di kemudian hari ia dikenal sebagai Kyai Agung. Diantara murid-muridnya yang
terkemuka antara lain Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Asnawi dari Bendung
lempuyang, Haji Abubakar dari Pontang, Haji Tubagus Ismail dari Gulacir, dan Haji
Marjuki dari Tanara. Haji abdul Karim atau Kyai Agung mempunyai tujuan untuk
mendirikan sebuah Negara Islam.
Kepopuleran Haji Abdul Karim memanifestasikan dirinya dapat ditunjukkan
dengan jelas oleh rakyat ketika dilangsungkan pesta pernikahan anak perempuannya.
Kyai-Kyai terkemuka berdatangan, tidak hanya dari Banten tetapi juga ada dari Batavia
dan Priangan. Pesta pernikahan tersebut dirayakan dengan megah sekali. Haji Abdul
Karim sendiri tidak perlu mengeluarkan biaya karena pengikut-pengikutnya merasa
mendapat penghormatan yang besar apabila mereka diperkenankan menyediakan segala
kebutuhan.
Pada permulaan tahun 1876 Haji Abdul Karim telah diangkat untuk menggantikan
Khatib Samabas sebagai pemimpin Tarekat (Thariqah) Qadiriyah oleh karena itu ia
terpaksa meningglakan Banten. Sebelum berangkat ia berkunjung ke daerah Banten dan
berseru kepada rakyat agar memegang teguh ketentuan-ketentuan Agama dan
menjauhkan diri dari sikap teledor. Dikemudian pada hari keberangkatanny, senin 13
februari 1876, Haji Abdul Karim meninggalkan Tanara dengan sepuluh orang anggota
keluarganya, enam orang yang bertindak sebagai pengawal selama perjalanan dan tiga
puluh orang yang akan menyertai Kyai sampai Batavia.

14
b. Kyai Haji Tubagus Ismail
Beberapa tahun berlalu sebelum tampil sebagai seorang pemimpin yang baru,
pada tahun 1883 kaum pemberontakan giat kembali dengan kedatangan Kyai Haji
Tubagus Ismail, seorang anggota Tarekat Qadiriyah dan murid dari Haji Abdul Karim.
Dilihat dari namanya ia termasuk kaum bangsawan Banten yang telah kehilangan semua
pengaruh politiknya namun masih mempunyai prestise sosial di kalangan penduduk. Ia
telah beberapa kali naik Haji dan perjalanannya ke Mekah itu telah menambah rasa
permusuhannya terhadap penguasa-penguasa kafir, sedang gagasan untuk menghasut
rakyat agar memberontak melawan mereka semakin matang.
Kyai Haji Tubagus Ismail sendiri dianggap sebagai waliyullah. Pertanda ia akan
menjadi orang suci sudah terlihat dengan ia tidak mencukur rambutnya seperti lazimnya
orang Haji, dalam jamuan-jamuan hamper ia tidak makan apa yang dihidangkan.
Denganc ara itu ia dapat menarik perhatian umum. Setelah itu, ia mulai
mempropagandakan untuk gerakan pemberontakkan. Banyak Kyai terkenal yang
mendukung gagasan dan tugas sucinya, antara lain ada Haji Wasid dari Beji, Haji
Baubakar dari Pontang, Haji Sangadeli dari Kaloran, Haji Iskak dari Saneja, Haji Usman
dari Tunggak, Haji Asnawi dari Bendung Lempuyang, dan Haji Muhammad Asik dari
Bendung.

c. Haji Marjuki
Dengan kedatangan Haji Marjuki dalam bulan februari tahun 1887, gerakan itu
mencapai tahap baru khususnya yang berkaitan dengan kegiatan komplotan
pemberontakkan di Banten. Suatu ketika di bulan februari 1887 Haji Marjuki tiba di
Batavia. Karena tidak memiliki paspor ia di denda dua puluh gulden. Ia juga menjual
Tasbih, Al Quran, jimat dan benda-benda miliknya yang ia bawa dari Mekah. Kemudian
ia mulai mengadakan kunjungan-kunjungan ke daerah Banten, Tangerang, Batavia dan
Bogor. Disana ia mulai mempropagandakan gagasan tentang jihad. Ia mengunjungi Haji
Kasiman dari Tegalkunir dan Haji Camang dari Pakojan dan keduanya menaruh simpatik
dan menjajikan dukungan yang kuat, mereka siap mengirmkan murid-murid mereka
sebagai sukarelawan ke Banten.
Haji Marjuki kembali ke Mekah bulan Agustus 1888 dan segera melanjutkan

15
pekerjaan lamanya sebagai guru Nahwu (tata bahasa Arab), Sharaf (sorof) atau sintaksis
bahasa Arab dan ilmu Fiqih. Ia mengecam keras pemberontakan yang dipimpin oleh Haji
Wasid sebagian terlalu awal dan menimbulkan korban jiwa yang sia-sia. Menurut
pendapatnya setiap pemberontakkan untuk dapat berhasil harus diorganisir sedemikian
rupa sehingga pecah secara serentak. Selain itu kaum pemberontak harus mempunyai
uang dan senjata yang cukup. Atas penjelasan ini, terbukti bahwa telah timbul
perselisihan dua orang pemimpin, Haji Marjuki dengan Haji Wasid ketika diputuskan
untuk pemberontakan pada bulan Juli 1888. Ia memberikan alasan keberangkatannya
kepada sahabt-sahabatnya, ia menjelaskan bahwa tangan kanannya tidak
memungkinkannya untuk ikut secara aktif dalam perjuangan. Andai kata ia tetap di
Banten ia pasti akan menghadapi dilema, dibunuh oleh serdadu-serdadu Belanda atau
tidak berbuat apa-apa dan menghadapi resiko tindakan pembalasan dari Haji Wasid.
Hanya satu alternatif lagi, kembali ke Mekah. Kenyataan bahwa istri dan anak-anaknya
ada disana merupakan satu alasan kuat lainnya untuk mninggalkan Banten.

d. Haji Wasid
Haji Wasid merupakan orang yang sangat berpengaruh tidak hanya dalam
kedudukannya sebagai guru agama, tetapi juga karena kepribadiannya yang kuat. Selain
itu ia dikenal sebagai orang yang suka bertengkar dan gampang marah dengan
kecenderungan pada mistik. Ia merupakan keturunan keluarga pemberontak, ayahnya
Kyai Abas turut dalam pemberontakan Wakhia pada tahun 1850, bersama dengan lurah
Nasid dari Citangkil. Ia melarikan diri ke Medang Batu, dimana kedua orang tua itu
meminta bantuan Haji Wakhia sendiri. Ibu Haji Wasid sendiri adalah kemenakan ayah
lurah Nasid.
Pada bulan September 1887, Haji Wasid dipanggil oleh Wedana Kramat Watu
untuk diminta keterangannya mengapa ia tidak merawat kebun istrinya yang ketiga di
Bojonegoro. Haji Mohammad Anwar, sahabat karib dan orang kepercayaan Haji Wasid
diutus untuk duluan menghadap Wedana. Wedana berjanji tidak akan memanggil Haji
Wasid untuk diperiksa asal saja kebun yang dimaksud oleh Wedan itu dirawat dengan
baik. Haji Wasdi mematuhi persyaratan itu, akan tetapi ia tidak dapat melupakan atau
memaafkan apa yang telah diperbuat oleh Wedana itu terhadap dirinya.

16
Beberapa bulan setelah peristiwa itu timbul persoalan lain dimana Haji Wasid
divonis pengadilan negeri pada tanggal 16 November 1887. Orang yang bernama Abas
terbukti bersalah setelah menebang pohon yang diketahui milik orang lain. Ia dihukum 14
hari kerja paksa. Pada tanggal 18 Mei 1888 keputusan itu dibatalkan oleh pengadilan
tinggi karena tidak terbukti.

e. Agus Suradikara
Ia adalah orang tahanan yang dibebaskan oleh kaum pemberontak. Ia ditangkap
karena telah melakukan perkosaan dan korupsi. Setelah bebas ia ikut dalam perlawanan
terhadap pemerintah Banten.

B. Pematangan Gerakan Pemberontakan


Sudah sejak tahun 1884 gagasan mengenai pemberontakan sudah menjadi matang dan
pemimpin-pemimpinnya sudah tidak sabar lagi untuk mulai bertindak. Untuk melakukan
pertemuan-pertemuan para pemberontak, meeka menggunakan kesempatan dengan kedok
pesta, umpamanya pesta pernikahan atau pesta sunatan. Pertemuan kecil seperti majelis
dzikir juga sering diadakan untuk bertemu dalam membahas pemberontakan.

C. Tahap Persiapan Pemberontakan


a. Pertemuan pada tahun 1887
Dalam empat bulan terakhir tahun 1887 kegiatan anggota-anggota komplotan
sangat meningkat. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, perjalanan dan
mempropagandakan perjuangan mereka di satu pihak dan melatih murid-murid mereka
dalam cara-cara bertempur dilain pihak.
Pertemuan pada tanggal 2 sampai 5 September 1887 berlangsung pesta
pernikahan besar yang diselenggarakan oleh Haji Tubagus Umar, meryua
penghulu kepala di Serang, Haji Mohammad Arsad. Banyak Kyai-Kyai besar
yang datang, seperti dari Tangerang, Batavia, Bogor, dan Ponorogo. Kesempatan
ini digunakan oleh mereka untuk berdiskusi saling bertukar pikiran.
Pertemuan yang kedua pada 29 september 1887 dirumah Haji Wasid. Kali ini
yang pertama-tama dibicarakan adalah masalah mengumpulkan senjata. Para

17
pemimpin berpendapat bahwa sebaiknya mereka tidak berusaha mencari senjata
api dengan alasan : pertama, mayoritas penduduk belum bisa menggunakan
senjata apai. Kedua, mendatangkan senjata api dari luar sukar dilakukan tanpa
diketahui oleh pejabat-pejabat pemerintahan. Ketiga, mereka berpendapat bahwa
mereka dapat mengandalkan pada kelewang saja karena mereka yakin bahwa
kemenangan akhir dalam perang suci itu ada dipihak mereka.

b. Kegiatan-kegiatan selama 3 bulan terakhir tahun 1887 dan pertengahan 1888


Persiapan pemberontakan ditandai dengan faktor-faktor sebagai berikut:
Latihan pencak dipergiat lagi.
Pengumpulan dan pembuatan senjata.
Propaganda diluar Banten.

c. Enam bulan terakhir tahap persiapan


Sejak pertengahan februari 1888 para pemimpin pemberontakan telah bertemu
sekurang-kurangnya tiga kali sebulan. Pertemuan lain yang penting adalah :
Pertemuan pada tanggal 12 Ruwah atau 22 April 1888 yang diadakan oleh Haji
Wasid di Beji. Ketiga ratus tamu berkumpul di masjid dimana para Kyai dan
murid-murid bersumpah:
Pertama, bahwa mereka akan mengambil bagian dalam perang sabil.
Kedua, bahwa mereka yang melanggar janji akan dianggap sebagai kafir.
Ketiga bahwa mereka tidak akan membocorkan rencana mereka kepada pihak
luar.
Pertemuan pada ahir bulan April 1888, para Kyai berkumpul lagi di Kaloran
dimana diputuskan bahwa pemberontakan akan dimulai pada suatu hari dalam
bulan Sura ( September 1888 ). Juga diputuskan bahwa Haji wasid, Haji Iskak,
Haji Tubagus Ismail dan kyai-kyai lainya dari distrik Cilegon dan Kramat Watu
akan memimpin serangan terhadap Cilegon, Haji Muhammad Asik dan Kyai dari
Trumbu bersama-sama dengan Haji Mujahidin, Haji Abubakar dan kyai lainya
dari distrik Serang, Ciruas dan Ondar Andir akan menyerang sedangkan Haji
Saipudin dan Haji Kasiman akan menduduki Anyer.

18
Keputusan lain yang telah diambil adalah mengenai hal-hal sebagai berikut untuk
setiap empat puluh orang akan diangkat seorang pemimpin kelompok, pakaian-pakaian
dikumpulkan dan dipakai dalam pertempuran, setiap orang yang telah mengucapkan
sumpah akan menandatangani pengukuhanya secara tertulis.
Pertemuan pada tanggal 15 Juni 1888 atau hari kelima bulan syawal,
beberapa pemimpin terkemuka bertemu di rumah Haji Wasid di Bejidan
membicarakan soal tanggal dimulainya pemberontakan. Mereka sepakat
bahwa pemberontakan dimulai pada tanggal 12 Juli atau hari ketiga
bulan Zulkaedah.
Pada tanggal 12 bulan syawal atau 22 Juni 1888 berlangsung pertemuan
besar di Beji dan dihadiri sekitar oleh orang-orang paling dekat dan
kebanyakan dari mereka berasal dari Afdeling Anyer dan Afdeling
Serang. Tanggal itu dipilih karena merupakan hari lahir pendiri tarekat
Kadirah dan biasanya hari itu dirayakan dengan meriah oleh anggota
tarekat dengan arak-arakan khusu, takbiran dan zikir. Mereka
memutuskan tanggal 29 bulan Syawal atau 9 Juli 1888 untuk memulai
pemberontakan.

D. Menjelang Pemberontakan
a. Pada tanggal 30 Juni, Haji Muhidin dari cipeucang berangkat ke Beji disertai oleh
Mohamad Sadik dan Haji Dullatip dari Daragen atas permintaan Haji Wasid. Keesokan
harinya, hari Minggu tanggal 1 Juli ia tiba di Beji untuk mengadakan pertemuan dengan
Haji Wasid dan pada kesempatan itu ia diangkat menjadi panglima perang. Dalam
perjalanan pulang ia mengunjungi Haji Mohamad di Baros lalu menuju ke Trumbu
dimana pada malam hari Senin tanggal 1 Juli ia mengadakan pembicaraan dengan kyai
yang lain seperti
- Kyai-kyai Trumbu bersama-sama dengan Haji
Mohamad Sidik dari Bendung dan Haji Nuhidin dari
Cipeucang akan menyerang Serang selain itu juga
- Haji Abdurakhman dari Kapuren (Ciruas) ditugaskan
untuk membunuh Wedana Ciruas, asisten residen

19
Kalodran dan penghulu sub distrik setelah selesai
dengan tugasnya di Serang.
b. Pada malam hari tanggal 5 Juli sekitar sepuluh orang yang berasal dari Arjawinangun
menemui Haji Tubagus Ismail membawa informasi bahwa pejabat-pejabat Eropa dan
pribumi ditunggu kedatanganya di Balegendung pada hari Sabtu tanggal 7 Juli. Orang-
orang dari Arjawinangun tadi mmeinta izin kepada Haji Tubagus Ismail untuk
membunuh pejabat-pejabat itu tapi ditolak.
c. Pada hari Sabtu 5 Juli kyai-kyai terkemuka diundang ke pesta yang diadakan oleh Haji
Akhya di Jombang Wetan. Kesempatan ini digunakan untuk mengadakan pembicaraan
terakhir.

E. Meletusnya Pemberontakan
a. Serangan pertama
Haji Tubagus Ismail memimpin pasukan ke desa Saneja pada malam hari Minggu
tanggal 8 Juli. Pasukanya terutama berasal dari Arjawinangun, Gulacir, desa kelahiran
Hjai Tubagus Ismail dan Cibeber dengan juga diperkuat bantuan dari Saneja dan desa
sekitarnya. Serangan pertama yakni di rumah Damas seorang juru tulis di kantor asisten
residen. Kaum pemberontak tiba di rumah Damas sekitar pukul 2 dini hari Senin tanggal
9 Juli.

b. Serangan Umum
Pemimpin utama adalah Haji Wasid. Pasukan yang pertama dipimpin oleh Lurah
Jasim, Jaro Kajuran. Pasukan kedua dipimpin oleh Haji Abdulgani dan Haji Usman.
Korban-korban yang berjatuhan dari pihak pemerintahan kolonial maupun pegawai
pribumi adalah:
Damas juru tulis di kantor pengadilan distrik, ia jatuh ke tangan Kyai
Haji Tubagus Ismail, Kamidin dll di rumah orang Cina Tan Keng Hok
dan dibunuh di tempat persembunyianya dengan beberapa tembakan
kemudian mayatnya diseret keluar dan kemudian ditemukan di pinggir
jalan menuju Bojonegoro.
Jaksa

20
Ajun Kolektor: di rumah ajun Kolektor para penyerang harus
berhadapan dengan keberanian anak laki-lakinya Kartadiningrat.
Elly dan Dora keduanya merupakan anak Gubbels sang asisten residen.
U. Bachen seorang kepala penjualan di gudang garam.
Ardiman dan Mian yang pertama telah menyertai istri Gubbels dan yang
kedua adalah opas wedana.
Istri Gubbels yang sebelumnya sempat berkelahi dengan Nyai Kamsidah
istri Haji Iskak.
Groundhout kepala pemboran. Ia jatuh di tangan Lurah kasar, Haji
Masna dari pecek, Satip dari Kubangkapuh, Haji Hamim dari Temuputih
dan Haji Kamad dari pecek.
Wedana yang bernama Raden Tjatradiningrat yang dibunuh oleh Misal
dan Kamidin.
Kepala penjara, pembunuhan terhadap wedana, jaksa, ajun kolektor dan
kepala penjara diduga karena menjadi korban balas dendam Agus
Suradikara. Wedana dan ajun kolektor sedang jaksa dan kepala dibunuh
karena menolak bersumpah setia kepada kaum pemberontak.
Jamil, opas yang mengawal asisten residen Gubbels yang dianggap
sebagai alat utama pemerintahan kolonial.

c. Pemberontakan di Kecamatan-kecamatan
Pemberontakan tidak hanya terjadi di Cilegon tetapi juga pecah di tempat lain
seperti di Bojonegoro Balegendung, Krapyak, Gogol dan Mancak.
Pemberontakan di KecamatanBojonegoro
Di Bojonegoro pemberontakan meletus minggu malam. Haji Wasid memerintahkan
sebagian dari pasukannya untuk pergi ke Bojonegoro dan mencari Asisten Wedana
Bojonegoro untuk dibunuh. Rumah Asisten Wedana Bojonegoro digeledah dan di ranjah,
arsip-arsip dibakar, akan tetapi Asisten Wedana tidak ditemukan karena dalam perjalanan
ke desa-desa di wilayah wewenangnya. Akan tetapi kaum pemberontak dapat
melampiaskan kemarahan dengan membunuh jurutulis Asisten Wedana, Asikin, yang
dimukan sedang tidur dirumah atasannya.
Pemberontakan di Balagendung
Tanggal 9 Juli 1888 dilakukan serangan kerumah Asisten Wedana. Rumahnya
dihancurkan, isinya diangkut dan arsip-arsip dibakar. Tapi Asisten Wedana sudah

21
melarikan diri ke Serang sebelum kaum pemberontak tiba. Seorang yang bernama
Arsudin dipaksa oleh kaum pemberontak untuk ikut dengan mereka mengejar kepala desa
Balagendung yang akan mereka bunuh.
Pemberontakan di Kecamatan Krapyak
Asisten Wedana Krapyak juga melarikan diri ke Serang sebelum para pemberontak tiba.
Rumah Asisten Weda Krapyak dihancurkan dan dokumen-dokumen resmi dibakar.
Pemberontakan di Kecamatan Grogol
Pada hari senin, rumah Asisten Wedana Grogol dihancurkan, dan arsip-arsipnya dibakar.
Ketika mendengar telah terjadi hura-hura di Cilegon, Asisten Wedana Grogol segera
berangkat ke CIlegon, akan tetapi ditengah perjalanan berhadapan dengan pasukan
pemberontak yang menyerangnya. Setelah Asisten Wedana dibunuh, mayatnya dilempar
ke sungai.
Pemberontakan di Kecamatan Mancak
Kaum pemberontak meranjah Rumah Asisten Wedana Mancak pada 10 Juli 1988. Kaum
pemberontak merampas arsip, tetapi Asisten Wedana Mancak telah pergi ke Anyer Kidul
untuk menyertai Residen Caringin.

F. Penumpasan Pemberontakan dan Kelanjutanya


a. Pertempuran di Toyomerto
Pejabat-pejabat Serang memutuskan untuk mengirim pasukan tentara dengan 28
senjata api untuk memulihkan ketertiban di Cilegon. Kesanalah bupati dan kontrolir
Serang bersama-sama dengan Letnan Van Der Star komandan pasukan yang memimpin
pasukan tentara itu. Beberapa kali iringan dokar tentara itu diganggu antara lain di dekat
pelabuhan dan di Toyomerto sang Bupati membujuk para pemberontak agar tidak
meneruskan rencana mereka akan tetapi sia-sia, kaum pemberontak menolak malah
menjawab dengan teriak-teriakan Sabil Alloh. Akhirnya terjadi pertempuran kaum
pemberontak dengan tentara.
Kaum pemberontak mengalami satu pukulan hebat ketika mereka menyadari
bahwa walaupun mereka yakin akan kekebalan mereka terhadap peluru musuh tak urung
bentrokan dengan tentara di Toyomerto berahir dengan tewasnya sejumlah kawan-kawan
seperjuangan mereka disamping banyak lainya yang terluka.

b. Operasi pertolongan
Sekitar pukul empat sore, patrol memasuki pusat kekacauan Cilegon. Tentara
berbaris menuju penjara membuat pertahanan dan menyiapkan persediaan bahan

22
makanan untuk beberapa hari dengan jalan mengambil kambing, ayam dan beras dari
kampong-kampung yang sudah ditinggalkan oleh penduduknya.
Tim pertolongan di bawah patih Raden Penna dan Van Rinsum yang berhasil
mengumpulkan sekitar tiga belas orang pada tanggal 10 Juli. Mereka
bersentajakan 3 senapan Beaumont, 2 senapan berburu, 2 senapan lanjutan dan
beberapa tombak.
Pada tanggal 10 Juli itu juga sepasukan tentara dari Batavia yang berkekuatan satu
batalion mendarat di pelabuhan karangantu
Dalam waktu yang bersamaan sebuah skadron kavaleri juga sudah dalam
perjalanan ke Serang.

c. Tindakan Ekspedisi Militer


Pasukan-pasukan militer mengadakan patroli untuk memamerkan kekuatan pada
umumnya juga untuk melakukan penangkapan serta mengambil tindakan terhadap kaum
pemberontak. Sasaran pertama operasi pasukan ekspedisi adalah desa-desa asal
pemimpin pemberontakan karena mereka telah kehilangan jejak-jejaknya dan informasi
yang mereka dapat dari penduduk seringkali sangat menyesatkan.
Mereka mengirim datasemen penghukum dengan perintah untuk menangkap
pelarian itu saat lewat tengah malam pasukan pertama di bawah pimpinan kapten De
Brauw bergerak ke utara melalui desa-desa: Kapendilan, Beberan, Tangkurak,
Kubanglaban, lor lalu membelok ketimur melalui Kajuruan dan Kabangwatu sampai di
Gunung santri, dimana mereka berhenti sampai fajar.
Pasukan kedua dibawah pinpinan Kapten Hojel, Raden Penna dan Van Rinsum,
Mereka tiba disebelah selatan desa Beji. Beji kemudian dikepung namun ekspedisi ini
gagalkarena mereka hanya mendapati rumah penduduk yang hampir kosong. Yang
tinggal hanya orang yang sudah tua dan sedang sakit. Sasaran berikutnya adalah desa
Ciora kulo, trate udi, barat daya cilegon .

d. Perjuangan Pemberontakan
setelah desa-desa asalnya dikepung, para pemberontak melarikan diri dan
menggunakan taktik kejar lari. Beberapa orang anak buah mereka mulai berjatuhan

23
sedang pimpinan mereka mulai tercerai berai dalam pelarian. Mereka berpindah dari satu
desa ke desa lain sembari mencari teman atau pengikutnya.
Pasukan pemberontak mengalami kesulitan yang besar ketika timbul perselisihan
diantara pemimpin-pemimpinya. Hal ini tampak dalam suatu rapat yang diadakan untuk
mengambil keputusan mengenai pengambil keputusan strategi baru. Beberapa masalah
utama yang harus dipecahkan adalah:
Soal memilih tempat baru untuk dijadikan pangkalan operasi. Ketika mereka tiba
di daerah Medang Batu mereka mendapat laporan bahwa penduduk setempat
sudah tidak setia lagi kepada citi-cita pemberontakan dan sudah enggan untuk
memberi dukungan.
Bentrokan di Toyomerto yang merupakan pukulan terbesar bagi kaum
pemberontakan telah membuat penduduk Medang Batu tidakj bernafsu lagi untuk
kembali mengangkat senjata.
Untuk selanjutnya para pemimpin yang berbeda pendapat tersebut berniat
mengadakan perlawanan dengan memisahkan diri dari barisan induknya, orang tersebut
antara lain:
Kyai Haji Madani dan Haji Jahli mengumumkan akan meninggalkan pasukan
tanpa memberikan alasan.
Agus Suradikari membuat rencana untuk mundur ke cikandi yang sejak dulu
dikenal sebagai tempat persembunyian yang disukai oleh kaum pemberontak.
Kyai Haji Tabagus Ismail yang mengusulkan agr mereka melancarkan
pertempuran yang menetukan dan gugur.
Haji Wasit membujuk rekan-rekanya agar mundur kedaerah belantara di Banten
selatan melalui rute sepenjang pantai barat.

e. Akhir Perlawanan Para Pemimpin Pemberontak


1. Perlawanan Haji Iskak
Haji Iskak menyamar sebagai seorang pribumi biasa dan menghampiri
serdadu yang sedang bertugas sebagai penjaga di gardu Benggala. Tiba-tiba Haji
Iskak yang menyamar itu menyerang penjaga dengan senjatanya dan bermaksud
membunuh penjaga. Namun Haji Iskak (penyerang) tewas seketika pada hari itu juga

24
pada tanggal 17 juli 1888 karena ditembak oleh komandan jaga.
Mayat Haji Iskak teridentifikasi karena memakai sorban di bawah ikat kepala
yang dipakai oleh orang-orang pribumi biasa, dan menggunakan selembar selendang
dibawah sarungnya, dan kantongnya terdapat sebuah tasbih.

2. Perlawanan Haji Madani dan Haji Jahli


Haji Madani dan Haji Jahli melarikan diri di Cipinang, dan bersembunyi di
masjid. Penghulu desa kemudian melaporkan Haji Madani dan Haji Jahli pada pihak
berwajib. Setelah ada laporan pada pihak berwajib, maka pihak berwajib segera
mengirimkan dua detasemen ke Cipinang, sebuah skadron kavaleri dan sepasukan
infanteri dengan Kontrolir Herkens dan Patih sebagai penunjuk jalan. Setelah pihak
berwajib mengepung masjid, Haji Madani dan Haji Jahli masih melakukan
perlawanan. Namun akhirnya dapat dilumpuhkan dan keduanya tewas seketika pada
hari itu juga pada tanggal 21 Juli 1888.

3. Perlawanan Agus Suradikaria


Agus Suradikaria berhasil ditemukan jejaknya di kabupaten Serang dengan
dua orang pengikutnya. Setelah menerima laporan, komandan militer segera
mengirimkan sebuah patrol yang terdiri dari empat orang Kusambisaha. Setelah
dikepung, Agus Suradikaria dan dua orang pengikutnya dapat dibinasakan. Kedua
pengikut Agus Suradikaria kemudian dapat dikenali sebagai Haji Nasiman dan
seorang agen polisi yang diperbantukan kepada jaksa di Cilegon.

4. Haji Kasiman
Haji Kasiman bersembunyi di dekat Cigading, di sebuah kebun tebu tidak jauh
dari pantai barat. Namun pada tanggal 27 Juli 1888, Haji Kasiman dan Haji Arbi
dikepung rapat. Namun Haji Kasiman dapat melarikan diri dari pengepungan itu,
Namun Haji Arbi tidak dapat melarikan diri.

Perlawanan yang diberikan oleh pemimpin-pemimpin pemberontak yang


memisahkan diri ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian pihak berwajib dari induk

25
pasukan pemberontak dan dengan demikian memberikan kesempatan kepada Haji Wasid dan
anak buahnya untuk menerobos kepungan.
Pada tanggal 29 Juli 1888 pejabat-pejabat pemerintah dan militer mengadakan rapat
di Labuan. Rapat itu dihadiri oleh asisten residen Caringin, van der Meulen, Patih
Pandeglang, Raden Surawinangun, Kontrolin Caringin, Maas; Jaksa Caringin, Tubagus
Anglingkusuma; Kapten Veenhuyzen, Letnan Visser dan Sersan Wedel. Dalam rapat
diputuskan untuk mengirimkan sebuah pasukan ekspedisi dibawah pimpinan Kapten
Veenhuyzen Ke Citeureup untuk memotong jalan pemberontak.
Karena Kaum pemberontak sudah melarikan diri ke Ciseureuheun pada tanggal 29
Juli 1888. Lalu di Ciseureuheun terjadi pertempuran kecil. Kaum pemberontak dengan sekuat
tenaga berusaha menyerang. Kaum pemberontak bertekad untuk berjuang sampai akhir,
namun ketika pertempuran berakhir, gerombolan pemberontak sudah dimusnahkan.
Pada tanggal 30 juli pukul sepuluh pagi hari pasukan tentara membawa sebelas mayat
pemberontak yang tewas didaerah sumur, kesebelas mayat itu diidentifikasikan sebagai
pemberontak yang sedang dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah, termasuk Haji wasid, Kyai
Haji Tabagus Ismail, Haji Abdulgani dan Haji Usman, Selanjutnya diperkirakan bahwa enam
orang pemberontakan telah berhasil meloloskan diri antaralain Haji Jafar, Haji Arja, Ahji
Saban, Akhmad, Yahya, dan Saliman. Mereka dapat bergerak bebas untuk beberapa
waktunamun pada akhirnya dapat ditangkap juga. Pasukan pemerintah kolonial berhasil
merampas tiga senapan, 11 golok pedang 3 badi dan 1 kujang.
Dengan selesainya kampanye itu pemberontakan telah dapat ditumpas dalam waktu
kurang dari satu bulan. Akan tetapi meskipun induk pasukan pemberontak telah dihancurkan
sisa-sisa gerombolanya masih terus berkeliaran. Beberapa orang yang berhasil meloloskan
diri biasanya melarikan diri ke Mekkah karena disana pemerintah kolonial tidak memliki
kekuasaan untuk menangkap mereka. Selain itu banyak pula dari pemberontak yang ditawan.
Menurut laporan sebanyak 204 orang telah ditangkap, 94 orang kemudian dibebaskan, 89
orang dihukum kerja paksa selama antara 15 dan 20 tahun dan 11 orang dihukum mati.
Kelompok pertama yang dikirim ketiang gantungan pada tangga15 juni 1889 terdiri dari
Samidin, Taslin, Kamisin, Haji Mohammad akhya dan Haji Mahmud. Kelompok kedua
terdiri dari Dulmanan, akimin, Haji Hamim, Dengi oyang dan kasar digantung pada tanggal
12 jili 1889.

26
G. Tanda Tanda Pemberontakan Baru
Meskipun pihak berwajib dalam melancarkan operasi pembersihan dan pemusnahan
secara intensif dan ekstensif, Abnten utara tidak berhasil dibersihkan sepenuhnya dalam
pertengahan pertama tahun 1889. sepanjang bulan April dan Mei pemerintah terus menerus
mendengar desas desus yang menyatakan pemberontakan baru itu tidak pernah terjadi.

H. Catatan Tentang Gerakan Gerakan Militer Di Jawa Tengah Dan Jawa Timur
Dalam pertengahan kedua tahun 1888 sejumlah karisidenan di Jawa Tengahdan Jawa
Timur merupakan gelanggang pengejaran terhadap gerakan-gerakan milenari. Dalam
kawatnya tanggal 11 agustus 1888. Residen kediri melaporkan kepada Gubernur jendral
bahwa ia telah menangkap seorang bernama jasmani dan pengikutnya sebanyak 15 orang
karena memiliki senjata, jimat-jimat dan dokumen yang berbau pemberontakan. Menurut
catatan Jasmani adalah penduduk desa Sengkrong yang terletak di Afdeling Blitar (kediri).
Rupa-rupanya ia telah mengumumkan maksudnya untuk mendirikan kerajaan baru pada
akhir tahun wawu . Kemudian ia diproklamasikan sebagai sultan dan akan menggunkan
nama Sultan Herucokro atau Sultan Adil.
Sekitar dua bulan kemudian di Srikaton (Surakarta) segerombolan pemberontak yang
terdiri dari lima puluh orang guru dan santri dan beberapa wanita dan anak menduduki
pesanggrahan Srikaton yang terletak dilereng barat Gunung Lawu dekat pemakaman dinasti
Mangkunegoro, mereka mngenakan pakaian putuh yakni pakaian yang biasanya digunakan
oleh orang yang melakukan perang sabil dan dipimpin oleh Imam Rejo, seorang dari desa
Girilayu. Ia berniat membangun sebuah negara islam dan ia sendir akan diangkat menjadi
raja dengan memakai nama Jinal Ngabidin .Pada tanggal 12 oktober pasukan tentara yang
terdiri diri 30 orang kaveleri dan 10 orang dragoner dibawah pimpinan Residen Surakarta,
sekretarisnya pengeran prang wadono, komandan dragoner, bergerak ke arah Srikaton untuk
mengepung pesanggrahan tersebut pasukan pemberontak dapat dikalahkan sembilan orang
tewas termasuk Imam Rejo sendiri.

27
BAB IV
DAMPAK DARI PERISTIWA
PEMBERONTAKAN PETANI BANTEN 1888

Dampak Politik
a. Pemerintah menempatkan pasukan-pasukan kecil di tempat-tempat yang dianggap
sebagai pusat pemberontakan
b. Pemecatan terhadap pejabat-pejabat yang dianggap bersalah melakukan tindakan-
tindakan sewenag-wenang di bidang administratif
c. Pencabutan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan mengenai pemungutan berbagai
macam pajak dan adanya peraturan baru mengenai kerja wajib, sewa tanah, pajak,
perdagangan, dan pajak kepala
d. Pemerintah mengambil tindakan-timdakan jangka panjang untuk mencegah
pemberontakan
e. Menunjukan adanya pertumbuhan nasionalisme, meskipun kesadaran politik dari
pemimpinnya yaitu untuk mengembalikan tanah kepada rakyat atas dasar orang-orang
asing tidak mempunyai hak untuk memilikinya.17

Dampak Budaya
a. Sistem tradisional mulai luntur dengan adanya budaya barat
b. Sikap masyarakat Banten mulai kebarat-baratan

Dampak Ekonomi
a. Perekonomian sangat hancur setelah peristiwa pemberontakan tersebut,
b. Lahan pertanian sudah tidak subur lagi dan banyak penyelewengan yang dilakukan oleh
para elit bangsawan tentang lahan Negara (diperjualbelikan),

Dampak Sosial
17 Marwati Djoned Poesponegoro, dkk, Sejarah Indonesia IV, Jakarta:Balai Pustaka, hlm 303
28
a. Rakyat Banten menjadi semakin menderita karena adanya kerja paksa untuk
pembuatan jalan Anyer-Panarukan
b. Adanya kau elit baru yaitu pamongpraja
c. Adanya westernisasi

Dampak Religi
a. Membuat peraturan baru tentang ketentuan pembatasan jamaah Haji bagi
masyarakat Banten pada khususnya
b. Mendirikan sekolah-sekolah model barat sebagai upaya penekanan untuk
mengurangi perlawanan masyarakat Banten.

BAB V

29
KESIMPULAN

Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Pemberontakan Petani Banten 1888 berupa segi


geografis, sosiologis, ekonomi, politik, psikologis dan religi. Banten dihapuskan oleh
Williems Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda) karena perlawanan rakyat Banten
terhadap pendudukannya. Tercatat Kraton Kesultanan Banten hancur sebanyak dua kali yaitu
pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, akibat ulah anak kandungnya (Sultan Haji) yang bekerja
sama dengan Belanda. Kemudian pada masa Sultan Aliuddin II (1803-1808) yang melawan
kekuasaan Belanda atas Banten dibawah pimpinan Herman Williems Daendels. Pada tahun
1888 yang dilakukan oleh mayoritas para petani dibawah pimpinan H. Wasid dan Jaro
Kajuruan (unsur jawara) Dampak Peristiwa Pemberontakan Petani Banten 1888 berupa
dampak politik, budaya, ekonomi, sosial, dan religi.

DAFTAR PUSTAKA

30
Sartono Kartodirdjo. (1984). Pemberontakan Petani Banten 1888. Yogyakarta: UGM Press
Scott, James C. (1993). Perlawanan Kaum Tani, alih bahasa Budi Kusworo. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia
Nina H. Lubis. (2000). Banten Dalam Pergumulan Sejarah: Sultan, Ulama, Jawara. Jakarta:
LP3ES
Aris Heru Utomo, diakses dari situs http://umum.kompasiana.com dengan judul artikel Anyer,
Daendels dan Oddi Agam, pada tanggal 27 Maret 2010

31