P. 1
Desentralisasi Kelembagaan Program Kb Di Ska

Desentralisasi Kelembagaan Program Kb Di Ska

|Views: 1,060|Likes:
Dipublikasikan oleh Prafitri Windyasari

More info:

Published by: Prafitri Windyasari on Jun 20, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2012

pdf

text

original

DESENTRALISASI KELEMBAGAAN PROGRAM KB ERA OTONOMI DAERAH DI KOTA SURAKARTA

TUGAS MATA KULIAH ISU-ISU OTONOMI DAERAH

Disusun Oleh : 1. 2. 3. Desita Dwi Natalia Irwanti Melati Prafitri Windyasari D 0107043 D 0107067 D 0107085

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET KOTA SURAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Indonesia dewasa ini masih menghadapi tiga persoalan pokok kependudukan, yakni jumlah penduduk besar dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Kualitas penduduknya masih rendah, dan persebarannya tidak merata. Pada saat ini, menurut data di BKKBN, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai sekitar 220 juta orang. Tingkat pertumbuhannya sekitar 1,48 persen per tahun dan tingkat kelahiran (TFR) sebesar 2,6. Berkat kerja keras jajaran BKKBN dan seluruh lapisan masyarakat, baik instansi pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM dan institusi kemasyarakatan lainnya, tingkat kelahiran tersebut telah berhasil ditekan dari sekitar 5,6 pada awal 1970-an. Sementara tingkat pertumbuhannya diturunkan dari sekitar 2,3 pada periode 1980-an. Para pakar dan pemerhati masalah kependudukan memperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan terus bertambah hingga mencapai jumlah sekitar 298 juta jiwa pada tahun 2050 sebelum akhirnya akan terjadi keseimbangan antara jumlah yang lahir dan jumlah yang meninggal, yang disebut penduduk tanpa pertumbuhan. Namun harus dicatat proyeksi tersebut mengikuti tren kondisi kependudukan pada tahun 1980-2000, yakni saat perhatian seluruh komponen masyarakat dan kebijakan pemerintah dari pusat hingga ke desa/kelurahan mendukung sepenuhnya program Keluarga Berencana (KB) nasional. Maklum, dengan adanya otonomi daerah, kebijakan dari pusat belum tentu sepenuhnya disambut sepenuh hati oleh pemerintah kabupaten maupun pemerintah kota. Jika ternyata kepedulian para pengambil kebijakan terhadap program KB melemah, bukan tidak mungkin jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan melebihi 298 juta jiwa. Desentralisasi Program KB berpengaruh terhadap komitmen kabupaten/kota yang umumnya sangat bervariasi dan kurang memberikan prioritas terhadap Program KB. Keragaman kelembagaan mempengaruhi pengelolaan program KB di tingkat kabupaten/kota. Perubahan kewenangan pengelolaan Program KB (yang ditandai dengan P3D) sehubungan dengan otonomi daerah. Perubahan tersebut berpengaruh terhadap bervariasinya nomenklatur SKPD Pengelola KB. Adanya kekuatiran terhambatnya Program KB sehingga dapat memicu ledakan jumlah penduduk. Menyikapi era otonomi daerah yang menempatkan program KB sebagai urusan wajib (sesuai PP Nomor 38 Tahun 2007 dan PP Nomor 41 Tahun 2007), BKKBN berupaya secara terus menerus menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dengan menggalang kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)

KB dan Pemberdayaan Perempuan yang merupakan unsure pemerintah daerah tingkat kabupaten/kota yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sesuatu hal yang tidak mudah, tapi jika melihat gejala pertumbuhan penduduk dan dampaknya harus tetap optimis. BKKBN juga berupaya mewujudkan program KB nasional yang responsif gender, yaitu yang sudah memperhatikan kepentingan laki-laki dan perempuan, dengan terlebih dahulu meresponsifkan petugas pengelola dan pelaksana program hingga ke tingkat lini lapangan. Untuk mewujudkan ini BKKBN membentuk Pusat Pelatihan Gender dan Peningkatan Kualitas Perempuan. Melalui institusi ini BKKBN berupaya menyosialisasikan (melalui pelatihan, sosialisasi, dll) informasi tentang gender, termasuk mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah program KB banyak menuai kendala. Baik dari segi kelembagaan maupun pelaksaan teknis program KB itu sendiri. Adanya desentralisasi pada otonomi daerah juga mempengaruhi pelaksaan program KB di daerah. Alasan Kami mengambil tema tersebut yaitu karena ingin mengetahui program KB dijalankan di Kota Surakarta dan ingin mengetahui peletakan kelembagaan program KB di Kota Surakarta. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana desentralisasi kewenangan program KBdi era otonomi daerah? 2. Bagaimana kelembagaan program KB di Kota Surakarta sebelum dan sesudah otonomi daerah ? 3. Bagaimana kondisi program KB sebelum dan sesudah otonomi daerah di Kota Surakarta? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui bagaimana desentralisasi kewenangan program KB di era otonomi daerah. 2. Untuk mengetahui bagaimana perbedaan bentuk kelembagaan program KB di Kota Surakarta sebelum dan sesudah otomi daerah. 3. Untuk mengetahui bagaimana kondisi program KB sebelum dan sesudah otonomi daerah di Kota Surakarta. BAB II PEMBAHASAN]

A. PROGRAM KB UU Nomor 10 Tahun 1992 tentang UU perkembangan kependudukan dan perkembangan keluarga sejahtera. Dalam perkembangan keluarga sejahtera program keluarga berencana termasuk di dalamnya. Ada 4 pokok kegiatan penting dalam program KB yakni : 1. Pendewasaan usia perkawinan 2. Pengaturan kelahiran 3. Pembinaan ketahanan keluarga 4. Penigkatan kesejahteraan keluarga

B. DESENTRALISASI KEWENANGAN PROGRAM KB DI ERA OTONOMI DAERAH Desentralisasi berasal dari bahasa Latin, yaitu de yang berarti lepas dan centrum yang artinya pusat. Decentrum berarti melepas dari pusat. Dengan demikian maka desentralisasi yang berasal dari sentralisasi yang mendapat awal de berarti melepas atau menjauh dari pemusatan. Desentralisasi tidak putus sama sekali dengan pusat tapi hanya menjauh dari pusat. Desentralisasi adalah perpindahan kewenangan atau pembagian kekuasaan dalam perencanaan pemerintah serta manajemen dan pengambilan keputusan dari tingkat nasional ketingkat daerah (Rondinelli dalam Cheema dan Rondinelli , 1983). Di dalam desentralisasi politik, rakyat menggunakan dan memanfaatkan saluran-saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan, dengan batas wilayah daerah masing-masing. Desentralisasi ini dibedakan menjadi dua : a. Desentralisasi territorial (teritoriale decentralisatie) yaitu penyerahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri (autonomie), batas pengaturannya adalah daerah. Desentralisasi territorial mengakibatkan adanya otonomi pada daerah yang menerima penyerahan. b. Desentralisasi fungsional (functionale decentralisaatie) yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus fungsi tertentu. Batas pengaturan tersebut adalah jenis fungsi. Wewenang dalam kamus yang sama didefinisikan sebagai kekuasaan membuat keputusan, memerintah, dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain; fungsi yang boleh tidak dilaksanakan. Kewenangan atau wewenang dalam literatur berbahasa Inggris

disebut authority atau competence, sedang dalam bahasa Belanda disebut gezag atau bevoegdheid. Wewenang adalah kemampuan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik atau kemampuan bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan hubungan-hubungan hukum. Kewenangan adalah kekuasaan yang mendapatkan keabsahan atau legitimasi Kewenangan adalah hak moral untuk membuat dan melaksanakan keputusan politik Prinsip moral – menentukan siapa yang berhak memerintah - mengatur cara dan prosedur melaksanakan wewenang. Sebuah bangsa atau negara mempunyai tujuan. Kegiatan untuk mencapai tujuan disebut tugas Hak moral untuk melakukan kegiatan mencapai tujuan disebut kewenangan. Tugas dan kewenangan untuk mencapai tujuan masyarakat atau negara disebut fungsi. Kewenangan pemerintahan yang bersumber dari rakyat dilimpahkan kepada presiden, kemudian presiden sebagai penanggungjawab pemerintahan pusat melalui undang-undang menyerahkan dan/atau melimpahkan sebagian kewenangannya kepada daerah dengan cara desentralisasi. Dengan adanya kebijakan desentralisasi pemerintah daerah berhak menyelenggarakan rumah tangganya sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat berdasarkan undang-undang. Jadi, pemerintah daerah memiliki kewenangan mengatuyr dan mengurus segala hal yang berkaitan dengan urusan rumah tangganya sendiri berdasarkan undangundang. Dalam UU Nomor 5 Tahun 1974 kewenangan tersebut diperoleh daerah melalui penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada daerah dengan Peraturan Pemerintah. Penyerahan urusan pemerintahan tersebut bias ditambah secara bertahap sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerah yang bersangkutan. Dan penyerahan itu pun bias ditarik kembali jika daerah dinilai oleh pusat tak mampu melaksanakan urusan yang diserahkan tersebut (pasal 9).

PEMERINTAH PUSAT

WIL.ADM PEMDA PROVINSI

PEMPROV

PEMDA KAB/KOTA

PEMDA KAB/KOTA

PEMDA KAB/KOTA

Gambar 1.1 Hubungan Pemerintah provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota

Garis putus-putus antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota menunjukkan hubungan koordinasi sesama daerah otonom. Sedangkan garis lurus yang diperlihatkan antara wilayah administrasi provinsi dengan pemda kabupaten/kota menunjukkan hubungan hirarkis. Menurut UU No.22/1999 kewenangan yang dimiliki pemerintah kabupaten/kota adalah sisa kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Dengan demikian pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan yang sangat banyak dan besar. Oleh karena itu kewenangan terletak di pemerintah kabupaten/kota. Mengenai kewenangan yang menjadi kompetensi kabupaten/kota, baik undang-undang atau peraturan pemerintah tidak mengatur secara spesifik. Undang-undang hanya memberi rumusan umum yang pada dasarnya meletakkan semua kewenangan pemerintahan pada kabupaten/kota, kecuali yang ditentukan untuk pemerintah pusat dan provinsi. Dengan demikian kabupaten/kota dapat berinisiatif membuat kewenangan sendiri berdasarkan kebutuhan daerah. 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Politik Luar Negeri Pertahanan Keamanan Yustisi Moneter dan fiscal nasional Agama

PEM. PUSAT

PEM. PROVISI

Sisa kewenangan pusat yg berskala provinsi dan bersifat lintas kabupaten/kota Sisa kewenangan pusat dan pemerintah provinsi yang berskala kabupaten/kota

PEM. KABUPATEN/KOTA

Gambar 1.2 Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah

Pemerintah provinsi di satu sisi merupakan daerah otonom dan di sisi lain merupakan wilayah administrasi. Sebagai wilayah administrasi, provinsi dikepalai oleh kepala wilayah administrasi sebagai wakil pemerintah pusat. Oleh karena itu, ia bertanggungjawab kepada pemerintah pusat. Sedangkan sebagai daerah otonom, provinsi dikepalai oleh kepala daerah otonom. Oleh karena itu, ia bertanggungjawab pada DPRD. Kedudukan pemerintah provinsi dapat dilihat dari gambar di bawah ini :

PEMERINTAHAN PUSAT

WIL.ADM PEMDA PROVINSI

PEMPROV

Wilayah administrasi

Daerah otonom

Gambar 1.3 Kedudukan Pemerintah Provinsi

Undang-Undang No.32/2004 merupakan revisi atas UU No.22/1999 dalam hal penyerahan kewenangan. Di dalamnya menetapkan urusan pemerintah kabupaten/kota yang bersifat wajib dan pilihan. Urusan pemerintahan yang bersifat wajib mencakup urusan-urusan di bawah yang berskala kabupaten/kota : 1. Perencanaan dan pengendalian pembangunan, 2. Perencanaan, pengawasan dan pemanfaatan tata ruang, 3. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat, 4. Penyediaan sarana dan prasarana umum, 5. Penanganan bidang kesehatan, 6. Penyelenggaraan bidang pendidikan dan lokasi sumber daya manusia potensial, 7. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota,

8. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota, 9. Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah, 10. Pengendalian lingkungan hidup, 11. Pelayanan pertanahan, 12. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil, 13. Pelayanan administrasi umum pemerintahan, 14. Pelayanan administrasi penanaman modal, 15. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya, 16. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Dalam program KB setelah otonomi daerah saat ini institusi yang mengelola program KB telah mengalami desentralisasi, di mana penanganan masalah keluarga berencana di daerah sebagian menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Merekalah yang menentukan ada tidaknya institusi daerah yang secara spesifik menyelenggarakan program keluarga berencana. Pemkab atau pemkot mempunyai wewenang penuh untuk menentukan program-program yang menjadi prioritas di daerahnya masing-masing. Selain itu, tiap daerah mempunyai pemahaman sendiri-sendiri tentang pentingnya KB bagi pembangunan secara keseluruhan. Akibatnya, masih ada daerah yang belum mengedepankan program KB. Kelangsungan program KB di daerah tergantung dari keberhasilan daerah memajukan kualitas sumber daya manusianya. Karena kemajuan suatu negara bukan tergantung dari sumber daya alamnya, melainkan kualitas sumber daya manusianya Tahun 2004 merupakan tahun pertama pelaksanaan program keluarga berencana nasional di era desentralisasi. Pada pasca pelimpahan kewenangan ini isu utama yang paling urgen saat ini adalah bagaimana melanjutkan keberhasilan keluarga berencana nasional sehingga visi misi yang telah ditetapkan dapat terwujud, sehingga upaya untuk meyakinkan pemerintah daerah yang sampai saat ini belum memahami arti pentingnya KB bagi pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan berkelanjutan di daerah mutlak harus dilakukan. Peran dari pemerintah pusat dalam era ini adalah lebih memfokuskan pada pemberian arah kebijakan serta acuan yang lebih mengarah pada penetapan standar pelayanan minimal. Dengan acuan ini, pemerintah daerah menyesuaikan langkah dan program yang dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.

Dalam konteks ini perlu menekankan kesinambungan pelaksanaan program KB di daerah-daerah. Karena jika pelaksanaan program KB dihentikan, maka secara tidak langsung program pembangunan di setiap daerah tidak akan berjalan. Kendati tidak memiliki kontribusi langsung terhadap penerimaan daerah, tanpa adanya program KB untuk mengatur pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk, dapat dipastikan bahwa pembangunan di bidang lainnya akan menjadi kurang bermakna dalam meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat. Selain itu, adanya komitmen bersama para eksekutif dan legislatif tentang bentuk kelembagaan yang harus ada di daerah kabupaten/kota, kedudukan , tugas dan fungsi, kewenangan, struktur organisasi sampai pada P3D di seluruh kabupaten/kota.

C. KELEMBAGAAN PROGRAM KB DI KOTA SURAKARTA SEBELUM DAN SESUDAH OTONOMI DAERAH Menurut Horton (1984:211) di dalam bukunya Hanif Nurcholis (2005:117) menjelaskan bahwa lembaga adalah suatu sistem norma yang dipakai untuk mencapai tujuan atau aktivitas yang dirasa penting atau kumpulan kebiasaan dan tata kelakuan yang terorganisir yang terpusat dalam kegiatan utama manusia. Jadi, lembaga adalah proses yang terstruktur yang dipakai orang untuk menyelenggarakan kegiatannya. Lembaga pemerintah daearah adalah sistem aturan atau proses yang terstruktur yang digunakan untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah. Sistem aturan ini lalu dikonkritkan menjadi organisasi. Kelembagaan KB menurut UU No.5 tahun 1974 Menurut Undang-Undang Nomer 5 tahun 1974 struktur kelembagaan pemerintah daerah bersifat hierakhis. Contohnya adalah pemerintah pusat membawahi Dati I (provinsi), Dati I membawahi Dati II (kabupaten/kotamadya), Dati II membawahi desa. Seluruh dinas yang berada di bawah pemerintah pusat harus mematuhi pemerintah pusat. Sehingga bawahan takut terhadap pemerintahan pusat. Perkembangan KB di Indonesia 1. Periode Perintisan dan Peloporan a. Sebelum 1957 – Pembatasan kelahiran secara tradisional (penggunaan ramuan, pijet, absistensi/ wisuh/ bilas liang senggama setelah coitus).

b. Perkembangan birth control di daerah – Berdiri klinik YKK (Yayasan Kesejahteraan Keluarga) di Yogyakarta. Di Semarang : berdiri klinik BKIA dan terbentuk PKBI tahun 1963. Jakarta : Prof. Sarwono P, memulai di poliklinik bagian kebidanan RSUP. Jawa dan luar pulau Jawa (Bali, Palembang, Medan). 2. Periode Persiapan dan Pelaksanaan Terbentuk LKBN (Lembaga Keluarga Berencanan Nasional) yang mempunyai tugas pokok mewujudkan kesejahteraan sosial, keluarga dan rakyat. Bermunculan proyek KB sehingga mulai diselenggarakan latihan untuk PLKB (Petugas Lapangan keluarga Berencana). Organisasi KB sebelum Otonomi Daerah 1. PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Terbentuk tanggal 23 Desember 1957, di jalan Sam Ratulangi No. 29 Jakarta. Atas prakarsa dari dr. Soeharto yang didukung oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo, dr. H.M. Judono, dr. Hanifa Wiknjosastro serta Dr. Hurustiati Subandrio. Pelayanan yang diberikan berupa nasehat perkawinan termasuk pemeriksaan kesehatan calon suami isteri, pemeriksaan dan pengobatan kemandulan dalam perkawinan dan pengaturan kehamilan. Visi PKBI : Mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui keluarga. Misi PKBI : Memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggungjawab dalam keluarga Indonesia melalui pengembangan program, pengembangan jaringan dan kemitraan dengan semua pihak pemberdayaan masyarakat di bidang kependudukan secara umum, dan secara khusus di bidang kesehatan reproduksi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. 2. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970 tentang pembentukan badan untuk mengelola program KB yang telah dicanangkan sebagai program nasional. Penanggung jawab umum penyelenggaraan program ada pada presiden dan dilakukan sehari-hari oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat yang dibantu Dewan Pembimbing Keluarga Berencana. Pada tahun 1970 pemerintah menganggap keluarga berencana perlu dilaksanakan sendiri oleh pemerintah sebagai bagian integral pembangunan nasional, maka lahirlah Keppres No 8 Tahun 1970 yang menetapkan bahwa BKKBN merupakan lembaga pemerintah dengan penangung jawab umum di tangan Presiden.

Pada pelita I ini prioritas utama program keluarga berencana di pusatkan pada enam provinsi terdapat penduduknya di Indonesia yaitu Jawa Bali. Perkembangan program yang amat pesat menyebabkan Keppres No. 8 tahun 1970 dalam waktu relative singkat dirasakan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan program. Maka terbitlah Keputusan presiden No.33 tahun 1972 yang mempertegas status BKKBN sebagai lembaga pemerintah Non Departemen yang berkedudukan langsung di bawah Presiden. Pelita ke II tahun 1974 – 1979 daerah pelaksanaan program diperluas ke seluruh Provinsi luar Jawa Bali yaitu D.I Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sumatera Selatan, sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Keberhasilan program menuntut adanya program-program integral yang dapat mendukung melestarikan program dalam masyarakat. Untuk menyempurnakan organisasi BKKBN sesuai dengan perkembangan program, maka pada tangal 6 Nopember 1978 terbitlah keputusan presiden No. 38 tahun 1978 di mana tugas pokok BKKBN selain program KB juga program kependudukan. Luas jangkauan program mencakup 11 provinsi di luar Jawa Bali yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Irian Jaya, Timor Timur, Rau, Jambi dan Bengkulu. Maka jangkuan program kependudukan dan keluarga berencana mencapai seluruh provinsi di Indonesia. Maka dari itu kesuksesan program KB di masa itu dilihat dari kelembagaannya adalah semua dinas-dinas gencar mensukseskan program KB, adanya perlibatan dari dinas-dinas lain yang terkait demi keberhasilan program KB jadi tidak hanya dinas kb saja, semua lembaga yang terkait. Pemerintah mengontrol langsung memperhatikan jalannya program tersebut atas perintah yang tegas dari pemerintah pusat. Bila hal itu tidak dilakukan maka akan mendapat sangsi dari pemerintah pusat. Di Kota Solo sendiri, sebelum otonomi daerah program kb di kelola oleh dinas yaitu Dinas Kesejahteraan Rakyat, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DKRPP & KB) dan diatur oleh Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2004 tentang Perubahan peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2001. Program KB merupakan program nasional sehingga daerah-daerah yang

berada di bawah pemerintah pusat ikut ambil bagian untuk mensukseskan program KB. Kelembagaan KB Menurut UU NO.32 Tahun 2004 Sejak diberlakukannya otonomi daerah di Indonesia, maka sebagai konsekuensi logis sebagian kewenangan Pusat termasuk Program KB Nasional di Kabupaten/Kota pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu sejak awal tahun 2004, P3D (Personal, pembiayaan, perlengkapan dan dokumentasi) BKKBN Kab/Kota diserahkan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kab/Kota. Sejak saat itu BKKBN Kab/Kota dibubarkan, digantikan dengan lembaga lain yang mengelola program KB di Kab/Kota. BKKBN sebagai sebuah badan yang menangani KB di era otonomi daerah telah kehilangan kaki, fungsinya saat ini hanya pada tingkat pembuatan kebijakan. Komitmen pemerintah daerah tentang program KB sangat variatif dan pemerintah pusat tidak memiliki otoritas untuk mengatur pemerintah daerah agar meningkatkan komitmennya. Itulah sebabnya, maka strategi pengelolaan KB pada era otonomi ini bukan lagi berlandaskan pada hubungan hirarkhis seperti di dalam UU Nomer 5 Tahun 1974 tetapi lebih diarahkan pada pendekatan yang bersifat pembinaan dan koordinatif. Melihat kekurangan ini maka dibuatlah RUU (Rancangan Undang-Undang) Pembangunan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, yang telah disahkan menjadi undang-undang pada 29 September 2009. Dalam undang-undang ini dilakukan penguatan terhadap kelembagaan terhadap kelembagaan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Maka, mulai 29 September 2009, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berubah nama jadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dalam rangka mewujudkan penduduk yang seimbang dan berkualitas. Undang-undang ini merupakan revisi UU Nomor 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Berdasarkan UU ini, keberadaan BKKBN menjadi kuat karena BKKBN berkedudukan di bawah presiden dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Di tingkat daerah, lembaga kependudukan tersebut diberi nama Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Daerah (BKKBD) yang mempunyai hubungan fungsional dengan BKKBN. Berbagai ragam bentuk atau nomenklatur kelembagaan KB tumbuh bervariasi antar Kabupaten/ Kota di Indonesia. Ada yang berbentuk Dinas/Badan yang dimerger dengan instansi lain atau berbentuk Dinas/Badan/Kantor utuh KB dan KS, tergantung kesepakatan

dan komitmen Pemerintah Kab/Kota setempat. Di era peralihan Otonomi daerah itulah terjadi keadaan yang kurang menguntungkan bagi para SDM mantan petugas BKKBN Kab/Kota terutama para petugas lapangan KB (PLKB dan Penyuluh KB/PKB). Banyak PLKB/PKB berpindah ke instansi lain, baik karena promosi maupun alih tugas. Akibatnya jumlah PLKB/PKB jauh menurun dibanding sebelum OTDA diberlakukan. Data BKKBN menunjukkan, hingga saat ini tercatat 407 (82,38 %) kabupaten/kota telah membentuk dan mengesahkan lembaga pengelola KB dalam bantuk Perda. Saat ini terdapat 19 provinsi yang telah membentuk Organisasi Perangkat Daerah pengelola Program KB (OPD-KB). Organisasi ini merevitalisasi Program KB. Dari jumlah itu, terdapat sembilan provinsi yang seluruh OPD-KB kabupaten/kotanya sudah dikukuhkan dengan Perda sesuai PP 41/2007. Yaitu, Sumbar, Sumsel, bangka Belitung, Jateng, Kalteng, Kalsel, Bali, Sulut, Sulbar, dan DKI Jakarta. Ternyata, masih ada provinsi yang pencapaiannya di bawah 50 persen. Yakni Jabar, Maluku Utara, papua, dan Kepulauan Riau. (Lihat tabel) nantinya akan menjadi mitra BKKBN provinsi dalam

II DUKUNGAN INPUT PROGRAM
DATA KELEMBAGAAN SKPD-KB KABUPATEN/KOTA BERDASARKAN PP 41 TAHUN 2007 TAHUN 2008 (PERDA)
PERDA

NO.

PROVINSI

JUMLAH KAB/KOTA
UTUH 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

DINAS
MERGER 1 MERGER 2

BADAN JUMLAH 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 4 UTUH 0 4 0 0 0 6 0 0 0 0 0 1 0 3 0 0 2 0 1 1 3 3 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 26
MERGER 1 MERGER 2

KANTOR JUMLAH 14 14 15 6 7 15 2 8 9 24 7 33 2 32 9 12 5 13 7 9 17 20 9 14 4 11 7 1 4 2 2 5 6 345 UTUH 0 2 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 7
MERGER 1 MERGER 2

TOTAL JUMLAH 7 5 4 2 3 0 5 0 1 1 0 2 1 4 2 2 5 0 2 0 0 0 1 1 0 0 1 3 3 3 0 0 0 58 21 20 19 8 10 15 7 9 10 25 7 35 3 36 11 14 10 13 9 9 17 20 10 15 4 11 9 4 7 6 2 5 6 407

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33

NAD SUMUT SUMBAR RIAU JAMBI SUMSEL BABEL BENGKULU LAMPUNG JABAR BANTEN JATENG DIY JATIM KALBAR KALTENG KALTIM KALSEL BALI NTB NTT SULSEL SULTENG SULUT GORONTALO SULTRA MALUKU MALUT PAPUA IRJABAR KEPRI SULBAR DKI Jakarta TOTAL

23 33 19 11 11 15 7 10 14 26 8 35 5 38 14 14 14 13 9 10 21 24 11 15 6 12 11 9 29 10 7 5 6 495

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1

0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3

3 7 10 4 6 9 1 3 9 19 4 20 1 23 4 10 2 7 5 7 11 16 7 7 3 11 4 1 4 1 1 1 6 227

11 3 5 2 1 0 1 5 0 5 3 12 1 6 5 2 1 6 1 1 3 1 0 7 1 0 3 0 0 1 1 4 0 92

6 2 3 1 3 0 3 0 1 1 0 2 0 3 0 2 5 0 2 0 0 0 1 0 0 0 1 2 3 3 0 0 0 44

1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7

Data Kelembagaan OPD-KB kab/kota (berdasarkan PP41 th 2007) Tahun 2008 PERDA File: Data Kelembagaan SKPDKB Januari-09 (Exel) Untuk lebih menjamin keberlangsungan program KB, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pimpinan tertinggi di Pemerintahan mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota sampai pimpinan di lini lapangan. Dukungan politis juga diperlukan dari kalangan legislatif baik di pusat maupun daerah. Dukungan dari kedua lembaga itu sama pentingnya dengan dukungan dari LSM, swasta, tokoh masyarakat dan tokoh agama, karena berdasarkan pengalaman selama ini keberhasilan KB tidak hanya ditentukan oleh para pengambil kebijakan di kalangan eksekutif dan

legislatif, tapi juga ditentukan oleh dukungan moral dari berbagai lapisan masyarakat. Di Kota Surakarta sendiri pada masa otonomi daerah, BKKBN berada di provinsi maupun berada di tingkat kota. Di Kota Surakarta BKKBN dibentuk dalam badan yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan peremuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Bapermas, PP, PA & KB) berdasar pada Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta. Sehingga peran badan KB tersebut dirasa kurang maksimal dalam mensukseskan program KB. Satu badan membawahi banyak urusan. Selain itu bentuk badan tersebut lebih rendah dari pada dinas. Dalam menjalankan tugasnya badan harus memperoleh persetujuan dari dinas bila ingin membuat suatu program. Jika dinas tidak setuju maka badan tersebut akan berhenti di tengah jalan. Perhatian dari pemerintah terhadap kelembagaan KB di Kota Surakarta juga sangat berperan tergantung kebijakan daerah dan komitmen dari kepala daerah. Apakah komitmen pemeimpin daerah tersebut berpartisipan terhadap program KB atau tidak kalo pemimpinnya antusias dengan program tersebut maka kemungkinan program KB menjadi program unggulan yang harus dilaksanakannya. Dan untuk kelembagaan bisa ditempatkan di dinas. D. KONDISI PROGRAM KB SEBELUM DAN SESUDAH OTOMI DAERAH DI KOTA SURAKARTA Sebelum desentralisasi/otonomi daerah, pelaksanan program KB yang dikelola oleh BKKBN dapat dikatakan berhasil. Jumlah PLKB/PKB di seluruh Indonesia sebanyak 26.074. Setelah otonomi daerah jumlahnya turun menjadi 19.586 atau tinggal 75%. Namun dengan berbagai upaya jajaran pimpinan BKKBN dan dukungan komitmen yang tinggi dari berbagai pihak terutama Menpan dan Mendagri, kondisinya semakin membaik. Surat Edaran dari Mendagri dan Menpan kepada Gubernur, Bupati dan Walikota dan Ketua DPRD antara lain berisi permintaan agar Pemda/ Kab/Kota tetap mendayagunakan tenaga PLKB/PKB demi keberhasilan program KB di daerah. Dengan adanya Surat Edaran tersebut jumlah PLKB/PKB berangsur-angsur meningkat dan kini menjadi 21.889 atau 83%. Sebelum otonomi daerah ratio PLKB/KB dibandingkan dengan jumlah desa/kelurahan yang ada di Indonesia, seorang PLKB/PKB rata-rata membina 2 - 2,5 desa/kelurahan. Pada saat ini dengan berkurangnya jumlah PLKB/PKB bersamaan semakin bertambahnya jumlah desa/kelurahan karena adanya pemekaran daerah, seorang PLKB/PKB

rata-rata membina 4 desa/kelurahan. Bahkan ada beberapa yang PLKB/PKB-nya membina lebih dari 10 desa/kelurahan atau bahkan ada di satu kecamatan hanya ada seorang petugas lapangan KB. Disamping itu akibat nomenklatur satuan kerja pengelola daerah program KB bermacam-macam. bahkan ada yang merger dengan 2 sampai 3 instansi, maka tugas PLKB/PKB bertambah berat. Mereka tidak hanya menggarap program KB, tetapi juga bertugas menangani program pembangunan yang lain sesuai dengan bentuk kelembagaan yang baru di wilayahnya. Idealnya, seorang PLKB/PKB membina 1-2 desa saja. sehingga cakupan sasaran akan bisa secara efektif dijangkau oleh PLKB. Pada era otonomi daerah ini, pelaksanaan program KB dikatakan gagal karena tingkat keberhasilan program KB kian tahun kian menurun. Kegagalan pelaksanaan program ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain karena kondisi kelembagaan KB di kabupaten dan kota yang tidak lagi utuh akan menjadi penghalang upaya program KB dalam menekan ledakan penduduk di negeri ini. Kondisi kelembagaan yang melemah ini disebabkan oleh adanya komitmen politis dan operasional dari berbagai pihak kini memudar, selain itu aktifitas penyuluh KB belum seluruhnya pulih akibat kelembagaan KB di kabupaten/kota telah mengalami perubahan yang signifikan. Bahkan KB bukan lagi topical issue yang seksi bagi media massa. Ketika program KB membutuhkan dukungan politis saat memasuki era otonomi daerah, dukungan dari para pengambil kebijakan di tingkat kabupaten kota menurun. Hal itu tercermin dari hanya 31 kabupaten/kota dari sekitar 440 kabupaten/kota yang membentuk Dinas BKKBN secara utuh. Selain itu terkait masih adanya beberapa pengambil kebijakan publik yang belum memahami pentingnya program KB, menurut Kepala BKKBN, itu bukan kesalahan mereka tapi kekurangmampuan meyakinkan mereka tentang pentingnya program KB dalam konteks pembangunan secara keseluruhan. Untuk itu, ia meminta kepada seluruh Kepala BKKBN di daerah untuk meningkatkan intensitas dan frekuensi kunjungan untuk melakukan advokasi kepada para pengambil kebijakan publik di kabupaten/kota masing-masing. Pada tingkat daerah pascadesentralisasi pemerintahan, struktur organisasi pelaksana program KB berubah total dan keberlanjutan pelaksanaan program KB menjadi sangat tergantung pada pemahaman dan komitmen kepala daerah serta DPRD-nya. Gaung KB tidak terdengar lagi. Di daerah, KB sangat tergantung pada bupati atau wali kotanya. Di daerah yang bupati/wali kotanya punya komitmen kuat, program KB tetap berjalan dengan baik, sedangkan yang tidak, sebaliknya. Tampaknya titik awal dari terpinggirkannya KB dimulai digulirkannya undang-undang tentang pemerintah daerah, di mana terjadi perubahan fundamental. Semangat sentralistik berubah menjadi desentralistik. Peran pemerintah

kabupaten/kota menjadi amat besar. Sebetulnya tujuan ini baik dan amat berasalan, sebab daerah lebih mengetahui karakteristik, prakarsa, potensi, dan kemampuan daerahnya dibanding pusat. Aspek inilah yang diharapkan akan melahirkan semangat untuk melayani masyarakat dengan lebih berkualitas. Tetapi dari tataran empirik yang dapat kita lihat dan rasakan, justru kualitas pelayanan publik belum ada tanda-tanda membaik. Di Kota Surakarta BKKBN dibentuk dalam badan yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Bapermas, PP, PA & KB). Badan tersebut bertugas newujudkan kesejahteraan masyarakat, kesetaraan gender, perlindungan anak dan keluarga kecil bahagia dimana program KB termasuk didalamnya. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan program KB di Kota Surakarta melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Bapermas, PP, PA & KB)salah satunya dengan memasukkan peran pria dalam ber-KB. Peran pria dalam ber-KB masih dikatakan rendah berdasar data dibawah ini:
No. 1 2 3 4 5 6 7 Alat Kontrasepsi 2005 2006 2007 2008 IUD 815 828 796 1.110 Pil 2.336 1.989 1.990 1.647 Kondom 300 424 290 468 MOP 3 2 6 8 Mow 180 248 312 389 Suntik 6.104 5.514 5.119 7.036 Implant 359 374 448 532 Peran Pria 3.00 % 4.54 % 3.30 % 3.90 % Sumber : Data Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak

dan Keluarga Berencana (Bapermas, PP, PA & KB) Kota Surakarta.

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Desentralisasi kewenangan program kb di era otonomi daerah yaitu penanganan masalah keluarga berencana di daerah sebagian tidaknya menjadi institusi kewenangan yang yang pemerintah ada spesifik kabupaten/kota. Merekalah daerah menentukan secara

menyelenggarakan program keluarga berencana. Pemkab atau pemkot mempunyai wewenang penuh untuk menentukan program-program yang menjadi prioritas di daerahnya masing-masing. Selain itu, tiap daerah mempunyai pemahaman sendiri-sendiri tentang pentingnya KB bagi pembangunan secara keseluruhan. 2. Kelembagaan program KB di Kota Surakarta sebelum dan sesudah otonomi daerah yaitu Sebelum otonomi daerah : Sebelum otonomi daerah program kb di oleh dinas yaitu Dinas Kesejahteraan Rakyat, kelola

Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DKRPP & KB) dan diatur oleh Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2004 tentang Perubahan peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2001. Struktur kelembagaan pemerintah daerah bersifat hierakhis sehingga adanya kontrol yang sangat tegas dari pemerintah pusat dalam menjalankan program kb. Sesudah otonomi daerah : di Kota Surakarta BKKBN dibentuk dalam badan yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan peremuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Bapermas, PP, PA & KB) berdasar pada Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta. Sehingga peran badan KB tersebut dirasa

kurang maksimal dalam mensukseskan program KB. Satu badan membawahi banyak urusan. Sedangkan struktur kelembagaannya dalam menjalankan program kb ini bersifat variatif dan kooordinatif. 3. Kondisi program KB sebelum adanya otonomi daerah dapat dikatakan berhasil dengan melihat angka laju pertumbuhan penduduk yang dapat ditekan, adanya partisipasi secara penuh dari masyrakat dan dinas yang terkait dalam mensukseskan program KB. Namun setelah otonomi derah, pelaksanaan program KB menurun. Adanya desentralisasi kewenangan membuat masing-masing daerah menentukan sendiri program-program yang akan dikembangkan. Program KB kurang dioptimalkan.Di Kota Surakarta sendiri masih diupayakan berbagai penyuluhan untuk meningkatkan program KB.
B. Saran

Melihat dari pelaksanan program KB di era otonomi daerah masih ditemukan banyak kekurangan. Berbagai upaya yang dapat dilakukan antara lain : 1. Melakukan tindakan preventif yaitu : a. Sistem kelembagaan : Menyusun model/standar organisasi SKPD Program KB diarahkan menjadi “bentuk badan”. Kebijakan program KB -> Perda/SK Bupati/Walikota. Standar Pelayanan Minimum (SPM) KB . Standar kualifikasi petugas penyuluh KB, standar jumlah/rasio tenaga penyuluh terhadap desa yang dibina, program pendidikan dan pelatihan, serta sistem insentif bagi tenaga penyuluh KB. Standar kontribusi daerah terhadap penyediaan anggaran ntuk alokon Peserta KB terutama bagi keluarga miskin. b. Reaktualisasi program KB Mengembangkan kegiatan program KB yang telah ada. Penelitian alat/obat, teknik dan metode kontrasepsi terbaru. Sistem reward bagi peserta KB dan penyuluh KB yang berprestasi. Menyempurnakan sistem pendataan dan pelaporan dari tingkat 2. Melakukan tindakan edukatif a. Masyarakat umum melalui iklan layanan masyarakat pada media massa/media elektronik, sinetron atau sandiwara radio dsb;

b. Siswa/mahasiswa penyuluhan oleh PLKB, kader KB, tokoh masyarakat atau tokoh agama c. Kelompok masyarakat tertentu leaflet ditempatkan di hotel-hotel, terminal, rumah sakit, apotik, stasiun dan atau pesawat terbang 3. Melakukan tindakan koordinasi yaitu koordinasi yang berada di Tingkat pusat dan provinsi
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. BKKBN. http://www.bkkbn.go.id/Webs/. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2009 pukul 18.50 WIB. _______. 2009. Logo baru, Semangat baru. http://74.125.153.132/search? q=cache:KBQMu7EHx9cJ:lip4.bkkbn.go.id/file.php/1/moddata/forum/9/17/B uletin-KB_edisi_March09.doc+BKKBN++TNI+KEMBALI+BERMITRA&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firef ox-a.Diakses pada tanggal 25 Oktober 2009 pukul 18.56 WIB. _______.2009. Perkembangan KB di Indonesia. http://www.lusa.web.id/perkembangan-kbdi-indonesia/. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2009 pukul 19.10 WIB. _______.2009. Sejarah Program KB dan Kependudukan di Indonesia. http://prov.bkkbn.go.id/jateng/program_detail.php?prgid=7. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2009 pukul 19.30 WIB. _______.2009. Rakornas KB tahun 2005. http://docs.google.com/gview? a=v&q=cache:9phheASGITIJ:www.gemari.or.id/artikel/file/kbprognas2005.p df+RAPAT+KERJA+PROGRAM+KB+NASIONAL+2005&hl=id&gl=id&s ig=AFQjCNHKBpKivn2XcEvGNF3nBlruChhg9A. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009 pukul 12.30 WIB. _______.2009. Mekanisme Operasional Program KB Era Desentralisasi.. http://docs.google.com/gview?a=v&q=cache:zsNIn3hnrMJ:www.bkkbn.go.id/Webs/DetailProgram.php%3FLinkID %3D465+MEKANISME+OPERASIONAL+PROGRAM+KB+ERA+DESE NTRALISASI+PUSAT+PENELITIAN&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGE ESidFMp9u14V-4v7jGRo9oeE2LYcgJwyb8J_URDCzzWqdOxpq0IzH8tpWBlkDmC5nNBoXiHw_ISr1nrLigUzcCv2cE0l0KRHXMOKTNMGaXVfa 4jiKFgzRSbMGMgFnxRBpXa7k3A&sig=AFQjCNEF9PyHUUz8y7hN2Ryj G38IFHEccw. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009 pukul 13.10 WIB. _______.2009. Program Keluarga Berencana Nasional Pasca Otonomi Daerah. http://docs.google.com/gview?a=v&q=cache:anOfoRM2XMJ:www.bkkbn.go.id/Webs/DetailProgram.php%3FLinkID %3D240+PROGRAM+KELUARGA+BERENCANA+NASIONAL+PASC A-

OTONOMI+DAERAH1&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESiHTicCim2 XedT5j_z6Lhzz8l4TD4USXgv0yatIdlFI8c91qxNT7Tdv5b_MGPnOJ1TkE8 DA2V9snWJy6NJmkwkqy8uQHAH-T9NDVddP7Be6H7oC2HDOSe_GKMMkea44dlFPU46&sig=AFQjCNFrdUIEdDwebHL2STI2M0_4ZQEGQ. Diakses pada tanggal 30 Oktober 2009 pukul 13.15 WIB.
Nurcholis, Hanif. 2005. Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->