Anda di halaman 1dari 8

almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.

id/content/2311/slash/0

Cari

HOME
A DAB DAN PERILAKU
A HKAM
A KHLAK
A KTUAL
A L-ILMU
A L-IRHA B = TERORISME Kategori Al-Ilmu
A L-MANHAJ A S-SALAFY
A L-MASA A'IL Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya
A L-QUR'A N
A L-QUR'A N : ILMU Senin, 31 Desember 2007 00:51:37 WIB
A L-QUR'A N : TA FSIR
A L-WALA' DAN AL-BARA '
KEUTAMAAN ILMU SYARI DAN MEMPELAJARINYA
A L-WASAILU AL-MUFIDAH
Oleh
A MALAN SUNNAH Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
A NAK-A NAK MUSLIM
A QIDA H AHLUS SUNNAH
A QIDA H AL-WASITHIYAH Allah Taala telah memuji ilmu dan pemiliknya serta mendorong hamba-hamba-Nya untuk
A QIDA H EMPA T IMAM berilmu dan membekali diri dengannya. Demikian pula Sunnah Nabi shallallaahu alaihi wa
sallam yang suci.
A R-RASA A-IL HUKUM
A S-SAA'AH : AD-DAJJA L Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) rahimahullaah menyebutkan lebih dari
A S-SAA'AH : AL-MAHDI seratus keutamaan ilmu syari. Di buku ini penulis hanya sebutkan sebagian kecil darinya. Di
A S-SAA'AH : NA BI ISA antaranya:
A S-SUNNAH
A S-SUNNAH DALAM ISLAM [1]. Kesaksian Allah Taala Kepada Orang-Orang Yang Berilmu
Allah Taala berfirman,
BAI'AT
BID'AH DAN BAHAYA NYA
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar)
BIRRUL WA LIDA IN melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
DAKWAH, TARBIYAH menyatakan yang demikian itu). Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar)
DEMOKRASI DA N POLITIK melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. [Ali Imran: 18]
DO'A, DZIKIR, TA UBAT
FA TAWA 'A RKANIL ISLAM
Pada ayat di atas Allah Taala meminta orang yang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang
sangat agung untuk diberikan kesaksian, yaitu keesaan Allah Taala... Ini menunjukkan
FIQIH IBADA H
keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu. [1]
FIRA Q
FOKUS UTAMA Selain itu, ayat di atas juga memuat rekomendasi Allah tentang kesucian dan keadilan
GAMBAR, LAGU, PERMAINAN orang-orang yang berilmu.
HADITS
HAJJI DAN UMRA H
Sesungguhnya Allah hanya akan meminta orang-orang yang adil saja untuk memberikan
kesaksian. Di antara dalil yang juga menunjukkan hal ini adalah hadits yang masyhur,
HARI RA YA = IED
bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda.
HIZBIYYA H DAN HAROKA H
JENAZAH : KEMATIA N, Ilmu ini akan dibawa oleh para ulama yang adil dari tiap-tiap generasi. Mereka akan
MA YIT
JIHA D FII SA BILILLAH memberantas penyimpangan/perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ghuluw (yang
JUAL BELI melampaui batas), menolak kebohongan pelaku kebathilan (para pendusta), dan takwil
KELUARGA & MA SALAHNYA orang-orang bodoh. [2]
KESEMPURNA AN ISLA M
[2]. Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya
KURBAN DA N AQIQAH
Allah Subhanahu wa Taala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang
MA 'RUF NAHI MUNGKA R yang berilmu dan beriman. Allah Taala berfirman.
MA BHATS
MA KA NAN, SEMBELIHAN Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: Berilah kelapangan dalam
MA NHAJ majelis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
MEDIA DA N SA RA NA
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
MU'AMA LAT DA N RIBA
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Mujaadilah : 11] [3]
MUJMAL AHLISSUNNAH
NASEHAT Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:
NIKAH

1 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

NIKAH : TALA K - RUJUK Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun
PAKAIAN DAN PERHIASAN merendahkan beberapa kaum dengannya. [4]
PENGOBA TAN PENYAKIT
Di zaman dahulu ada seseorang yang lehernya cacat, dan ia selalu menjadi bahan ejekan dan
PERPECA HAN UMAT !
tertawaan. Kemudian ibunya berkata kepadanya, Hendaklah engkau menuntut ilmu, niscaya
PRINSIP DASAR ISLAM Allah akan mengangkat derajatmu. Sejak itulah, orang itu belajar ilmu syari hingga ia menjadi
PROPA GANDA SESA T orang alim, sehingga ia diangkat menjadi Qadhi (Hakim) di Makkah selama 20 (dua puluh)
PUA SA tahun. Apabila ada orang yang berperkara duduk di hadapannya, maka gemetarlah tubuhnya
PUA SA : FIQIH PUASA hingga ia berdiri. [5]
PUA SA : I'TIKA AF
Orang yang berilmu dan mengamalkannya, maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di
QA DHA DAN QADAR
dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.
RIFQON AHLASSUNNAH
RIZQI, HARTA, NAFKAH Imam Sufyan bin Uyainah (wafat th. 198 H) rahimahullaah mengatakan, Orang yang paling
SHA LAT tinggi kedudukannya di sisi Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para Nabi dan ulama.
SIHIR, JIN, PERDUKUNAN [6]
SIKA P KEPADA KAFIR
SIYASI WAL FIKRI
Allah pun telah berfirman tentang Nabi Yusuf alaihis salaam:
SUMPAH DAN NA DZAR
...Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas setiap orang yang
SYARHU USHULIL IMA N berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui. [Yusuf: 76]
SYUBHAT DAN JAWA BA N
TAUHID Disebutkan bahwa tafsir ayat di atas adalah bahwasanya Kami (Allah) mengangkat derajat
TAUHID PRIORITAS UTA MA siapa saja yang Kami kehendaki dengan sebab ilmu. Sebagaimana Kami telah mengangkat
TAZKIYATUN NUFUS derajat Yusuf alaihis salaam di atas saudara-saudaranya dengan sebab ilmunya.
TOLERA NSI
Lihatlah apa yang diperoleh oleh Nabi Isa alaihis salaam berupa pengetahuan (ilmu) terhadap
USHUL AHLISSUNNA H Al-Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dengannyalah Allah Taala mengangkatnya kepada-Nya,
WANITA : DARAH WANITA mengutamakannya serta memuliakannya. Demikian juga apa yang diperoleh pemimpin anak
WANITA : FIQIH SHALA T Adam (yaitu Nabi Muhammad) shallallaahu alaihi wa sallam berupa ilmu yang Allah sebutkan
WANITA : KESEHA TAN sebagai suatu nikmat dan karunia.
WANITA : KONSULTASI
Allah Taala berfirman:
WANITA : MUSLIMAH
WANITA : THAHA RAH
... Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah)
WANITA : WA SIAT kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah
WARIS, HIBAH, HADIAH yang dilimpahkan kepadamu sangat besar. [An-Nisaa: 113] [7]
ZAKAT
[3]. Orang Yang Berilmu Adalah Orang-Orang Yang Takut Kepada Allah
Allah mengabarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah Taala, bahkan
Allah mengkhususkan mereka di antara manusia dengan rasa takut tersebut. Allah berfirman:

... Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. [Faathir: 28]

Ibnu Masud Radhiyallaahu anhu berkata, Cukuplah rasa takut kepada Allah itu disebut
sebagai ilmu. Dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut sebagai suatu
kebodohan. [8]

Imam Ahmad rahimahullaah berkata, Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah. [9] Apabila
seseorang bertambah ilmunya, maka akan bertambah rasa takut-nya kepada Allah.

[4]. Ilmu Adalah Nikmat Yang Paling Agung


Allah Subhanahu wa Taala menyebutkan beberapa nikmat dan karunia-Nya atas Rasul-Nya
(Nabi Muhammad) shallallaahu alaihi wa sallam, dan menjadikan nikmat yang paling agung
adalah diberikannya Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan Allah mengajarkan beliau apa yang belum
diketahuinya.
Allah berfirman:

... Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah)
kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah
yang dilimpahkan kepadamu sangat besar. [An-Nisaa: 113] [10]

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:


Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al-Kitab (Al-Qur-an) dan yang sepertinya
(As-Sunnah) bersamanya... [11]

[5]. Faham Dalam Masalah Agama Termasuk Tanda-Tanda Kebaikan


Dalam ash-Shahiihain dari hadits Muawiyah bin Abi Sufyan (wafat th. 78 H) radhiyallaahu
anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama
kepadanya. [12]

2 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak diberikan pemahaman dalam agamanya tidak
dikehendaki kebaikan oleh Allah, sebagaimana orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah,
maka Dia menjadikannya faham dalam masalah agama. Dan barangsiapa yang diberikan
pemahaman dalam agama, maka Allah telah menghendaki kebaikan untuknya. Dengan
demikian, yang dimaksud dengan pemahaman (fiqh) adalah ilmu yang mengharuskan adanya
amal. [13]

Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah mengatakan, Di dalam hadits ini terdapat
keutamaan ilmu, mendalami agama, dan dorongan kepadanya. Sebabnya adalah karena ilmu
akan menuntunnya kepada ketaqwaan kepada Allah Taala. [14]

[6]. Orang Yang Berilmu Dikecualikan Dari Laknat Allah


Imam at-Tirmidzi (wafat th. 249 H) rahimahullaah meriwayatkan dari Abu Hurairah (wafat th.
57 H) radhi-yallaahu anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wa
sallam bersabda,

Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali
dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari
ilmu. [15]

[7]. Menuntut Ilmu Dan Mengajarkannya Lebih Utama Daripada Ibadah Sunnah Dan Wajib
Kifayah
Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan agama kalian yang paling baik
adalah al-wara (ketakwaan). [16]

Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) Radhiyallaahu anhu berkata, Orang yang berilmu lebih
besar ganjaran pahalanya daripada orang yang puasa, shalat, dan berjihad di jalan Allah. [17]

Abu Hurairah Radhiyallaahu anhu berkata, Sungguh, aku mengetahui satu bab ilmu tentang
perintah dan larangan lebih aku sukai daripada tujuh puluh kali melakukan jihad di jalan Allah.
[18]

Aku (Ibnul Qayyim) katakan, Ini -jika shahih- maknanya adalah: lebih aku sukai daripada
jihad tanpa ilmu, karena amal tanpa ilmu kerusakannya lebih banyak daripada baiknya. [19]

Al-Hasan rahimahullaah berkata, Orang yang berilmu lebih baik daripada orang yang zuhud
terhadap dunia dan orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. [20]

Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, Aku tidak mengetahui satu
ibadah pun yang lebih baik daripada mengajarkan ilmu kepada manusia. [21]

Imam asy-Syafii (wafat th. 204 H) rahimahullaah mengatakan, Tidak ada sesuatu pun yang
lebih baik setelah berbagai kewajiban syariat daripada menuntut ilmu syari. [22]

[8]. Ilmu Adalah Kebaikan Di Dunia


Mengenai firman Allah Taala,

Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia

Al-Hasan (wafat th. 110 H) rahimahullaah berkata, Yang dimaksud kebaikan dunia adalah
ilmu dan ibadah. Dan firman Allah,

Dan kebaikan di akhirat. [Al-Baqarah: 201]

Al-Hasan rahimahullaah berkata, Maksudnya adalah Surga.

Sesungguhnya kebaikan dunia yang paling agung adalah ilmu yang bermanfaat dan amal yang
shalih, dan ini adalah sebaik-baik tafsir ayat di atas. [23]

Ibnu Wahb (wafat th. 197 H) rahimahullaah berkata, Aku mendengar Sufyan ats-Tsauri
rahimahullaah berkata, Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan
di akhirat adalah Surga. [24]

[9]. Ilmu Adalah Jalan Menuju Kebahagiaan


Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Shahabat Abu Kabasyah al-Anmari
(wafat th. 13 H) radhiyallaahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

...Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang: (1) seorang hamba yang Allah berikan

3 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia
menyambung sila-turahmi, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut
kedudukannya paling baik (di sisi Allah). (2) Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun
tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, Seandainya aku memiliki harta,
aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia dengan niatnya itu, maka
pahala keduanya sama. (3) Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan
ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya,
tidak menyambung silaturahmi dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya.
Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah). Dan (4) seorang hamba
yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, Seandainya aku memiliki harta, aku
pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia berniat seperti itu dan keduanya
sama dalam mendapatkan dosa. [25]

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam membagi penghuni dunia menjadi empat golongan.
Golongan yang terbaik di antara mereka adalah orang yang diberikan ilmu dan harta; ia
berbuat baik kepada manusia dan dirinya sendiri dengan ilmu dan hartanya. [26]

[10]. Menuntut Ilmu Akan Membawa Kepada Kebersihan Hati, Kemuliaannya, Kehidupannya,
Dan Cahayanya
Sesungguhnya hati manusia akan menjadi lebih bersih dan mulia dengan mendapatkan ilmu
syari dan itulah kesempurnaan diri dan kemuliaannya. Orang yang menuntut ilmu akan
bertambah rasa takut dan taqwanya kepada Allah. Hal ini berbeda dengan orang yang
disibukkan oleh harta dan dunia, padahal harta tidak membersihkan dirinya, tidak menambah
sifat kesempurnaan dirinya, yang ada hatinya akan menjadi tamak, rakus, dan kikir.

Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar segala ketaatan, sedangkan
mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai kesalahan yang menjerumuskan ke Neraka.

Setiap Muslim dan Muslimah harus mengetahui bahwa orang yang menuntut ilmu adalah
orang yang bahagia karena ia mendengarkan ayat-ayat Al-Qur-an, hadits-hadits Nabi
shallallaahu alaihi wa sallam, dan perkataan para Shahabat. Dengannya hati terasa nikmat dan
akan membawa kepada kebersihan hati dan kemuliaan.

[11]. Orang Yang Menuntut Ilmu Akan Didoakan Oleh Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa
Sallam
Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam mendoakan orang-orang yang mendengarkan sabda
beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau shallallaahu alaihi
wa sallam bersabda:

Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadits dari
kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang
membawa fiqih namun ia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih kepada
orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang dengannya hati seorang muslim akan
bersih (dari khianat, dengki dan keberkahan), yaitu melakukan sesuatu dengan ikhlas karena
Allah, menasihati ulil amri (penguasa), dan berpegang teguh pada jamaah kaum Muslimin,
karena doa mereka meliputi orang-orang yang berada di belakang mereka. Beliau bersabda,
Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan
kekuatannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan
hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan
dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut
apa yang telah ditetapkan baginya. [27]

Seandainya keutamaan ilmu hanyalah ini saja, tentu sudah cukuplah hal itu untuk
menunjukkan kemuliaannya. Sebab, Nabi shallallaahu alaihi wa sallam berdoa bagi orang
yang mendengar sabda beliau, lalu memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya.
Maka, inilah empat tingkatan ilmu:

Tingkatan pertama dan kedua, yaitu mendengar dan memahaminya. Apabila ia mendengarnya,
maka ia pun memahami dengan hatinya. Maksudnya, memikirkan-nya dan menetapkannya di
dalam hatinya sebagaimana ditempatkannya sesuatu di dalam wadah yang tidak mungkin bisa
keluar darinya. Demikian juga akalnya yang laksana tali kekang unta, sehingga ia tidak lari
kesana-kemari. Wadah dan akal itu tidak mempunyai fungsi lain selain untuk menyimpan
sesuatu.

Tingkatan ketiga, yaitu komitmen untuk menghafal ilmu agar ilmu tidak hilang.

Tingkatan keempat, yaitu menyampaikan ilmu dan menyebarkannya kepada ummat agar ilmu
membuahkan hasilnya, yaitu tersebar luas di tengah-tengah masyarakat.

Barangsiapa melakukan keempat tingkatan di atas, maka ia masuk dalam doa Nabi
shallallaahu alaihi wa sallam yang mencakup keindahan fisik dan psikis. Sesungguhnya
kecerahan adalah hasil dari pengaruh iman, kebahagiaan batin, kegembiraan hati dan

4 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

kesenangannya, kemudian hal itu menampakkan kecerahan, kebahagiaan, dan berseri-serinya


wajah. Allah Taala berfirman:

Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh
kenikmatan. [Al-Muthaffifiin: 24]

Jadi, kecerahan dan berseri-serinya wajah seseorang yang mendengar Sunnah Rasulullah
shallallaahu alaihi wa sallam, lalu memahami, menghafal, dan menyampaikannya adalah hasil
dari kemanisan, kecerahan, dan kebahagiaan di dalam hati dan jiwanya. [28]

Nabi shallallaahu alaihi wa sallam mendoakan perawi hadits dengan kebaikan dan keelokan
wajah, baik di dunia maupun di akhirat. Dikatakan bahwa maknanya adalah Allah Taala
menyampaikannya pada kenikmatan Surga.

Perawi hadits yang didoakan oleh Nabi shallallaahu alaihi wa sallam dengan keelokan wajah
adalah perawi lafazh hadits, meskipun ia belum memahami semua makna hadits. Betapa
banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya. Meskipun
selamanya ia tidak memiliki pemahaman terhadap hadits. Banyak pembawa fiqih yang tidak
memiliki pemahaman (yang memadai).

Ini menunjukkan tentang disyariatkannya meriwayatkan hadits tanpa (harus) memahaminya


(terlebih dahulu). Bahkan hal ini menunjukkan disukainya hal tersebut. Juga menunjukkan
bahwa meriwayatkan hadits tanpa pengetahuannya terhadap pemahaman hadits tersebut
adalah perbuatan terpuji, tidak tercela. Dengan perbuatan itu, ia berhak mendapatkan doa
Nabi shallallaahu alaihi wa sallam. [29]

[12]. Menuntut Ilmu Adalah Jihad Di Jalan Allah Dan Orang Yang Menuntut Ilmu Laksana
Mujahid Di Jalan Allah Taala
Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan mempelajari
kebaikan atau mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah Taala. Dan
barangsiapa yang memasukinya dengan tujuan selain itu, maka ia laksana orang yang sedang
melihat sesuatu yang bukan miliknya. [30]

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah mengatakan, Jihad melawan hawa nafsu memiliki
empat tingkatan:

Pertama: berjihad untuk mempelajari petunjuk (ilmu yang bermanfaat) dan agama yang benar
(amal shalih). Seseorang tidak akan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan
akhirat kecuali dengannya.

Kedua: berjihad untuk mengamalkan ilmu setelah mengetahuinya.

Ketiga: berjihad untuk mendakwahkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang yang belum
mengetahuinya.

Keempat: berjihad untuk sabar dalam berdakwah kepada Allah Taala dan sabar terhadap
gangguan manusia. Dia menanggung kesulitan-kesulitan dakwah itu semata-mata karena
Allah.
Apabila keempat tingkatan ini telah terpenuhi pada dirinya, maka ia termasuk orang-orang
yang Rabbani. [31]

Abu Darda Radhiyallaahu anhu mengatakan, Barangsiapa berpendapat bahwa pergi mencari
ilmu tidak termasuk jihad, sungguh, ia kurang akalnya. [32]

Berjihad dengan hujjah (dalil) dan keterangan didahulukan atas jihad dengan pedang dan
tombak. Allah berfirman kepada Rasul-Nya shallallaahu alaihi wa sallam agar berjihad dengan
Al-Qur-an melawan orang-orang kafir.

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan
Al-Qur-an dengan jihad yang besar. [Al-Furqaan: 52]

Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam diperintahkan berjihad melawan orang-orang kafir dan
munafik dengan cara menyampaikan hujjah (dalil dan keterangan).
Imam Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata, Jihad dengan hujjah (dalil) dan keterangan
didahulukan atas jihad dengan pedang dan tombak. [33]

[13]. Pahala Ilmu Yang Diajarkan Akan Tetap Mengalir Meskipun Pemiliknya Telah Meninggal
Dunia
Disebutkan dalam Shahiih Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallaahu anhu, dari Nabi
shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

5 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal:
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya. [34]

Hadits ini adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu serta besarnya buah dari
ilmu. Sesungguhnya pahala ilmu tetap diterima oleh orang yang bersangkutan selama ilmunya
diamalkan orang lain. Seolah-olah ia tetap hidup dan amalnya tidak terputus. Ini disamping
kenangan dan sanjungan yang dialamatkan kepadanya. Tetap mengalirnya pahala untuk
dirinya pada saat pahala amal perbuatan telah terputus dari manusia adalah kehidupan kedua
baginya.

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam hanya mengkhususkan ketiga hal di atas yang
pahalanya tetap diterima oleh si mayit karena ia (si mayit) adalah penyebab keberadaan ketiga
hal tersebut. Karena ia menjadi sebab terbentuknya anak shalih, shadaqah jariyah, dan ilmu
yang bermanfaat, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya. Seorang hamba mendapatkan
pahala karena tindakannya langsung atau tindakan yang dilahirkan (tindakan tidak langsung)
darinya. Kedua prinsip ini disebutkan oleh Allah Taala dalam firman-Nya,

Yang demikian itu ialah karena mereka (para Mujahidin) tidak ditimpa kehausan, kepayahan
dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang
membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada
musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal shalih.
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
[At-Taubah: 120]

Kesemua hal di atas lahir dari tindakan mereka dan tidak ditakdirkan bagi mereka. Yang
ditakdirkan bagi mereka ialah sebab-sebabnya yang mereka lakukan secara langsung.
Maksudnya, bahwa haus, payah, lapar, dan membangkitkan amarah musuh bukanlah karena
(sengaja) mereka lakukan demikian, lalu ditulis jadi amal shalih. Akan tetapi, hal ini timbul dari
perbuatan mereka (yaitu jihad fi sabilillaah) karena itu ditulis bagi mereka sebagai amal shalih.
[35]

[14]. Dengan Menuntut Ilmu, Kita Akan Berfikir Yang Baik, Benar, Mendapatkan Pemahaman
Yang Benar, Dan Dapat Mentadabburi Ayat-Ayat Allah
Umar bin Abdul Aziz rahimahullaah mengatakan, Memikirkan nikmat-nikmat Allah termasuk
ibadah yang paling utama. [36]

Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati daripada membaca Al-Qur-an dengan
tadabbur dan tafakkur. Karena hal itu mengumpulkan semua kedudukan orang yang berjalan
kepada Allah, keadaan orang-orang yang mengamalkan ilmunya, dan kedudukan orang-orang
yang bijaksana. Hal inilah yang mewariskan rasa cinta, rindu, takut, harap, kembali kepada
Allah, tawakkal, ridha, penyerahan diri, syukur, sabar dan segala keadaan yang dengannya hati
menjadi hidup dan sempurna.

Seandainya manusia mengetahui apa yang terdapat dalam membaca Al-Qur-an dengan
tadabbur, maka ia akan lebih menyibukkan diri dengannya daripada selainnya. Apabila ia
melewati ayat yang dibutuhkannya untuk mengobati hatinya, maka ia akan mengulang-
ulangnya meskipun sampai seratus kali, walaupun ia menghabiskan satu malam. Membaca
Al-Qur-an dengan memikirkan dan memahaminya lebih baik daripada membacanya sampai
khatam tanpa mentadabburi dan memahaminya, lebih bermanfaat bagi hati dan lebih
membantu untuk memperoleh keimanan dan merasakan manisnya Al-Qur-an. Membaca
Al-Qur-an dengan memikirkannya adalah pokok kebaikan hati. [37]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullaah mengatakan, Al-Qur-an diturunkan untuk diamalkan, maka


jadikanlah membacanya sebagai salah satu pengamalannya. [38]

[15]. Ilmu Lebih Baik Daripada Harta


Keutamaan ilmu atas harta dapat diketahui dari beberapa segi:
Pertama: Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan
orang-orang kaya.

Kedua: Ilmu akan menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta menjaga hartanya.

Ketiga: Ilmu adalah penguasa atas harta, sedangkan harta tidak berkuasa atas ilmu.

Keempat: Harta akan habis dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu akan bertambah jika
diajarkan.

Kelima: Apabila meninggal dunia, pemilik harta akan berpisah dengan hartanya, sedangkan
ilmu akan masuk bersamanya ke dalam kubur.

Keenam: Harta dapat diperoleh orang-orang mukmin maupun kafir, orang baik maupun orang

6 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

jahat. Sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya dapat diperoleh orang-orang yang beriman.

Ketujuh: Orang yang berilmu dibutuhkan oleh para raja dan selain mereka, sedangkan pemilik
harta hanya dibutuhkan oleh orang-orang miskin.

Kedelapan: Jiwa akan mulia dan bersih dengan mengumpulkan ilmu dan berusaha
memperolehnya -hal itu termasuk kesempurnaan dan kemuliaannya- sedangkan harta tidak
membersihkannya, tidak menyempurnakannya bahkan tidak menambah sifat kemuliaan.

Kesembilan: Harta itu mengajak jiwa kepada bertindak sewenang-wenang dan sombong,
sedangkan ilmu mengajaknya untuk rendah hati dan melaksanakan ibadah.

Kesepuluh: Ilmu membawa dan menarik jiwa kepada kebahagiaan yang Allah ciptakan
untuknya, sedangkan harta adalah penghalang antara jiwa dengan kebahagiaan tersebut.

Kesebelas: Kekayaan ilmu lebih mulia daripada kekayaan harta karena kekayaan harta berada
di luar hakikat manusia, seandainya harta itu musnah dalam satu malam saja, jadilah ia orang
yang miskin, sedangkan kekayaan ilmu tidak dikhawatirkan kefakirannya, bahkan ia akan terus
bertambah selamanya, pada hakikatnya ia adalah kekayaan yang paling tinggi.

Kedua belas: Mencintai ilmu dan mencarinya adalah pokok segala ketaatan, sedangkan cinta
dunia dan harta dan mencarinya adalah pokok segala kesalahan.

Ketiga belas: Nilai orang kaya ada pada hartanya dan nilai orang yang berilmu ada pada
ilmunya. Apabila hartanya lenyap, lenyaplah nilainya dan tidak tersisa tanpa nilai, sedangkan
orang yang berilmu nilai dirinya tetap langgeng, bahkan nilainya akan terus bertambah.

Keempat belas: Tidaklah satu orang melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala, melainkan
dengan ilmu, sedangkan sebagian besar manusia berbuat maksiat kepada Allah lantaran harta
mereka.

Kelima belas: Orang yang kaya harta selalu ditemani dengan ketakutan dan kesedihan, ia sedih
sebelum mendapatkannya dan merasa takut setelah memperoleh harta, setiap kali hartanya
bertambah banyak, bertambah kuat pula rasa takutnya. Sedangkan orang yang kaya ilmu
selalu ditemani rasa aman, kebahagiaan, dan kegembiraan.
Wallaahu alam. [39]

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga Panduan Menuntut Ilmu, Penulis Yazid
bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 Bogor 16001 Jawa Barat
Indonesia, Cetakan Pertama Rabiuts Tsani 1428H/April 2007M]
___________
Foote Notes
[1]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 21).
[2]. Hasan lighairihi: Diriwayatkan oleh al-Uqaily dalam adh-Dhuafaa-ul Kabir (I/26), Ibnu Abi
Hatim dalam al-Jarh wat Tadil (II/17) dan lainnya, dari Ibrahim bin Abdurrahman al-Adzry
secara mursal. Untuk lebih jelas tentang takhrij hadits ini dapat dilihat dalam Irsyaadul Fuhuul
fii Tashhiih Hadiitsil Udul (hal. 11-35) karya Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied al-Hilali.
[3]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 26).
[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 817).
[5]. Dinukil dari al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 220-221).
[6]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 223).
[7]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 238-239), dengan ringkas.
[8]. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabir (no. 8927) dan Ibnu Abdil Barr dalam
al-Jaami (II/812, no. 1514).
[9]. Fadhlu Ilmi Salaf alal Khalaf (hal. 52).
[10]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 30).
[11]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/131), Abu Dawud (no. 4604), Ibnu Hibban
(no. 12) dan lainnya, dari Miqdam bin Madi Kariba radhiyallaahu anhu.
[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/306, II/234, IV/92, 95, 96), al-Bukhari (no.
71, 3116, 7312), dan Muslim (no. 1037), dari Shahabat Muawiyah bin Abi Sufyan
radhiyallaahu anhuma.
[13]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 49).
[14]. Syarah Shahiih Muslim lil Imam an-Nawawi (VII/128).
[15]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan
Ibnu Abdil Barr (I/135, no. 135), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu anhu. Lihat
Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmidzi.
[16]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mujamul Ausath (no. 3972) dan
al-Bazzar dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallaahu anhu, dihasankan oleh Syaikh al-Albani
dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 68), lihat juga Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi
(I/106, no. 96).
[17]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 133).
[18]. Diriwayatkan oleh al-Khathib dalam al-Faqiih wal Mutafaqqih (I/102, no. 52).

7 of 8 21/06/2010 5:08 AM
almanhaj.or.id - Keutamaan Ilmu Syar'i Dan Mempelajarinya http://www.almanhaj.or.id/content/2311/slash/0

[19]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 133).


[20]. Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi (I/120, no. 113).
[21]. Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi (I/211, no. 227).
[22]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 135).
[23]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 141) dan Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi
(I/229-230, no. 252 dan 253).
[24]. Jaami Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi (I/230, no. 254).
[25]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325),
Ibnu Majah (no. 4228), al-Baihaqi (IV/ 189), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIV/289),
dan ath-Thabrani dalam Mujamul Kabir (XXII/345-346, no. 868-870), dari Shahabat Abu
Kabsyah al-Anmari radhiyallaahu anhu. Lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi (II/270, no. 1894).
[26]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarfuhu (hal. 252-253).
[27]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/183), ad-Darimi
(I/75), Ibnu Hibban (no. 72, 73-Mawaarid), Ibnu Abdil Barr dalam Jaami Bayaanil Ilmi wa
Fadhlihi (I/175-176, no. 184), lafazh hadits ini milik Imam Ahmad, dari Abdurrahman bin
Aban bin Utsman radhiyallaahu anhum. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 404) dan
al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 70-74).
[28]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarfuhu (hal. 70-72).
[29]. Lihat Nashaa-ih Manhajiyyah li Thaalibis Sunnah an-Nabawiyyah (hal. 38-39).
[30]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 87-at-Taliiqaatul Hisaan), Ibnu Majah
(no. 227), Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Abi Syaibah (no. 33061), dan al-Hakim (I/91), dari
Abu Hurairah radhiyallaahu anhu.
[31]. Zaadul Maaad fii Hadyi Khairil Ibaad (III/10). Lihat Syarah Tsa-latsatil Ushuul (hal.
25-26), karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullaah.
[32]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 145).
[33]. Syarah Qashidah Nuuniyyah (I/12) oleh Syaikh Muhammad Khalil Hirras.
[34]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), al-Bukhari dalam Adabul Mufrad
(no. 38), Abu Dawud (no. 2880), an-Nasa-i (VI/251), at-Tirmidzi (no. 1376), Ahmad (II/372),
al-Baihaqi (VI/ 278), lafazh ini milik at-Tirmidzi. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 1580).
[35]. Lihat al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 242-243).
[36]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 254).
[37]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 262).
[38]. Al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 263).
[39]. Lihat kitab al-Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 160-163).

ARSIP ARTIKEL TAUHID MUSLIMAH REDAKSI

Bahaya Riya
Kaidah Memahami Al-Kitab Dan As-Sunnah
Pemimpin Ideal
Sebelas Rambu Bagi Seorang Pemimpin
Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
Rahasia Dibalik Nama Allah, As-Salam
Riya Dan Bahayanya
Abu Manshur Al Maturidi Dan Aliran Maturidiyah
Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat
Jihad Melawan Setan
Keterasingan Sunnah Dan Ahlu Sunnah Di Tengah Maraknya Bid'ah Dan Ahli Bid'ah
Mengawasi Diri Sendiri
Penjabaran Makna Nama Allah Azza Wa Jalla Al-Karm
Berperang Melawan Was-Was Setan
Adab Berhutang

copyleft almanhaj.or.id
seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan
sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.

8 of 8 21/06/2010 5:08 AM