Anda di halaman 1dari 6

almanhaj.or.id - Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat http://www.almanhaj.or.

id/content/2722/slash/0

Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia -


Akhirat
Jumat, 11 Juni 2010 16:52:26 WIB

IMAN KEPADA TAKDIR MEMBAWA SUKSES DUNIAAKHIRAT

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin

Banyak orang salah memahami takdir. Walhasil muncul banyak kesesatan karenanya. Ada dua kubu ekstrim
yang saling berlawanan arah dan sama-sama sesat dalam hal ini. Satu kubu menolak takdir. Mereka adalah
Qadariyah dan Mutazilah serta pengikutnya. Sedangkan kubu lainnya menetapkan takdir secara salah.
Mereka adalah golongan Jabriyah dan pengikutnya. Hanya kelompok yang berada di tengah dua kubu itulah
kelompok yang benar. Kelompok ini adalah kelompok asli umat Islam yang memahami takdir serta
mengimaninya secara proporsional, sesuai dengan dalil al Qur`an dan Sunnah sebagaimana difahami oleh
Salafush Shalih.

Beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk, hukumnya wajib, karena ia merupakan salah satu di
antara rukun iman yang enam. Adalah sangat ironis jika seseorang mengaku beriman kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala, namun ia ragu bahkan ingkar terhadap takdir, meskipun tidak total. Seseorang yang tidak beriman
kepada takdir dan mengingkarinya, maka ia kafir.

Dalam hubungannya dengan kasus pengingkaran terhadap takdir ini, Yahya bin Yamar, seorang tabii,
menceritakan laporannya kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu tentang Mabad al Juhani, tokoh
Mutazilah pertama yang menyeret penduduk Basrah pada penolakan terhadap takdir. Maka Abdullah bin
Umar Radhiyallahu 'anhu mengatakan: Jika engkau berjumpa dengan orang-orang itu, katakan kepada
mereka bahwa aku berlepas diri dari golongan mereka dan merekapun terlepas dari golonganku. (Selanjutnya
Ibnu Umar berkata):


.

:
. x

Demi Allah Yang dengan namaNya Abdullah bin Umar bersumpah, kalaulah ada sesorang di antara mereka
memiliki emas sebesar gunung Uhud, kemudian ia infakkan, niscaya Allah tidak akan menerimanya sebelum ia
beriman kepada takdir. Selanjutnya beliau berdalil dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
panjang, di antaranya.

"Iman ialah bila kamu beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada para
rasulNya, kepada hari akhirat dan bila kamu beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk" [HR
Muslim secara ringkas] [1]

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aalu asy Syaikh, menerangkan : Dalam hadits di atas terdapat penjelasan,
bahwa iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman yang enam. Maka barangsiapa yang tidak
beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk, berarti ia telah meninggalkan dan mengingkari satu

3 of 8 21/06/2010 5:19 AM
almanhaj.or.id - Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat http://www.almanhaj.or.id/content/2722/slash/0

rukun agama. Kedudukan orang ini seperti yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya:

"Apakah kamu beriman kepada sebagian al Kitab dan kafir kepada sebagian yang lain?". [Al Baqarah : 85].[2]


: . :
:


: .






: .
: .
.
.

"Dari Ibnu ad Dailami (seorang tabii), ia berkata : Saya datang kepada Ubay bin Kaab, lalu saya berkata
kepada beliau : 'Dalam diriku terjadi penyakit ragu terhadap takdir. Ceritakanlah kepadaku sesuatu yang
dengannya Allah akan melenyapkan keraguan itu dari dalam hatiku'.
Ubay menjawab: Kalaulah Allah menyiksa seluruh penghuni langit dan penghuni bumiNya, maka Allah
menyiksa mereka bukan karena zhalim kepada mereka. Dan kalaulah Allah memberikan rahmat kepada
mereka semuanya, maka rahmat Allah jauh lebih baik dari semua amal mereka.
Andaikata engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan
menerima infakmu sebelum engkau beriman kepada takdir dan memahami bahwa apa yang menimpamu pasti
tidak akan meleset darimu, sedangkan apa yang meleset darimu pasti tidak akan menimpamu.
Bila engkau mati tidak berdasarkan iman kepada takdir ini, niscaya engkau masuk ke dalam neraka.

Ibnu ad Dailami selanjutnya berkata: Kemudian saya datang kepada Abdullah bin Masud, beliaupun berkata
seperti perkataan Ubay bin Kaab. Ibnu ad Dailami berkata lagi: Kemudian aku datang pula kepada Hudzaifah
bin al Yaman, beliaupun berkata seperti perkataan Ubay. Ibnu ad Dailami berkata lagi : Kemudian aku juga
datang kepada Zaid bin Tsabit, beliaupun membawakan hadits kepadaku dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam tentang hal yang senada dengan perkataan Ubay.[Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud].[3]

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aalu asy Syaikh, membawakan beberapa riwayat lain yang senada dengan
hadits di atas, di antaranya diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain. Dan pada akhirnya beliau t
menyimpulkan: Semua hadits ini dan hadits-hadits lain yang senada, mengandung ancaman keras bagi siapa
saja yang tidak beriman kepada takdir. Hadits-hadits tersebut juga merupakan hujjah pemukul bagi para
penolak takdir dari kelompok Mutazilah maupun kelompok lainnya. Sementara itu, di antara pemahaman
yang dianut Mutazilah, ialah menyatakan, bahwa pelaku kemaksiatan akan kekal di dalam neraka. Padahal,
keyakinan mereka tentang tidak ada takdir, merupakan salah satu dosa besar dan kemaksiatan yang paling
besar. Dengan demikian, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir tentang wajibnya mengimani takdir yang
meruntuhkan hujjah mereka, mereka sebenarnya telah menghukumi diri mereka sendiri untuk kekal di dalam
neraka jika tidak bertaubat. Ini adalah konsekuensi logis dari pemahaman salah mereka. Mereka ternyata
menentang dalil-dalil mutawatir dari al Qur`an dan Sunnah yang mewajibkan iman kepada takdir, dan
dalil-dalil mutawatir yang menolak kekalnya orang-orang bertauhid yang berbuat dosa besar di neraka. [4]








"

" :

" " :

"Ubadah bin Shamit berkata kepada anaknya: "Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan mendapatkan
rasa hakikat iman sebelum engkau memahami bahwa apa yang menimpamu pasti tidak akan meleset darimu,
dan apa yang meleset darimu pasti tidak akan menimpamu. Aku mendengar Rasulullah n bersabda :
Sesungguhnya, pertama-tama yang Allah ciptakan adalah pena (al Qalam). Lalu Allah berfirman
kepadanya,Tulislah!!. Pena menjawab,Ya Rabbi, apa yang harus aku tulis? Allah berfirman,Tulislah

4 of 8 21/06/2010 5:19 AM
almanhaj.or.id - Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat http://www.almanhaj.or.id/content/2722/slash/0

segenap ketetapan takdir bagi segala sesuatu hingga hari kiamat."


(Ubadah melanjutkan perkataannya:) Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang mati tidak atas dasar (beriman kepada takdir) ini, maka ia tdak
termasuk golonganku" [HR Abu Dawud].[5]

Namun mengimani dan menetapkan takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala juga harus secara benar, supaya tidak
terperangkap ke dalam pemahaman Jabriyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan: Iman kepada takdir meliputi dua peringkat iman.
Masing-masing peringkat meliputi dua bentuk keimanan.

Pertama : Beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh
segenap makhluk, dengan ilmuNya yang bersifat azali dan abadi.[6] Allah Maha mengetahui semua keadaan
para maklukNya, baik berkaitan dengan ketaatan, kemaksiatan-kemaksiatan, rizki-rizki maupun ajal-ajal
mereka. Kemudian Allah menuliskan segenap takdir makhluk ke dalam Lauh Mahfuzh".

Selanjutnya Syaikhul Islam rahimahullah membawakan dalil-dalilnya. Di antaranya hadits berikut:

"Sesungguhnya pertama-tama yang Allah ciptakan adalah pena (al Qalam). Lalu Allah berfirman kepadanya
Tulislah!! Pena menjawab,Ya Rabbi, apa yang harus aku tulis?. Allah berfirman,Tulislah segenap
ketetapan takdir bagi segala sesuatu hingga hari kiamat!". [HR Abu Dawud]. [7]

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di
bumi?; bahwasanya yang demikian itu tertulis dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang
demikian itu amat mudah bagi Allah". [Al Hajj : 70].

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis
pada kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah
bagi Allah".[Al Hadid : 22]

Berikutnya Syaikhul Islam rahimahullah melanjutkan penjelasannya:

Kedua, beriman kepada adanya kehendak dan kekuasaan Allah yang pasti berlangsung dan meliputi
segalanya. Artinya, harus beriman bahwa apa saja yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa saja yang tidak
Allah kehendaki, pasti tidak terjadi. Juga beriman bahwa tidak ada suatu gerakan apapun di langit maupun di
bumi, begitu pula tidak akan terjadi sesuatupun yang diam, kecuali terjadi dengan kehendak Allah. Tidak ada
sesuatupun yang dapat terjadi di wilayah kekuasaanNya, bila Allah tidak menghendakinya. Allah juga Maha
berkuasa terhadap segala sesuatu, baik terhadap yang ada maupun terhadap yang tidak ada. Maka tidak ada
satu makhlukpun di bumi maupun di langit, kecuali Allah-lah yang menciptakannya. Tiada Pencipta selain
Allah dan tidak ada Rabb selain Dia.[8]

Dari penjelasan syaikhul Islam rahimahullah di atas, sesungguhnya bisa disimpulkan, bahwa dalam memahami
dan mengimani takdir, sebagaimana dikemukakan oleh para ulama Ahlu Sunnah wal Jamaah, harus meliputi

5 of 8 21/06/2010 5:19 AM
almanhaj.or.id - Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat http://www.almanhaj.or.id/content/2722/slash/0

keimanan terhadap empat perkara.

Perkara pertama dan kedua disimpulkan dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bagian pertama.
Sedangkan perkara ketiga dan keempat disimpulkan dari perkataan beliau bagian kedua. Empat perkara
tersebut sebagaimana penjelasan berikut.

Pertama : Beriman kepada ilmu Allah yang meliputi segala zaman dan tempat. Artinya, harus mengimani
bahwa Allah Maha mengetahui segala sesuatu, di mana dan kapanpun, baik yang ada maupun yang tidak ada.
Termasuk mengetahui amal-amal perbuaan makhluk, baik berupa ketaatan-ketaatan maupun kemaksiatan
kemaksiatan. Begitu juga tentang rizki, ajal maupun lain-lainnya.

Kedua : Pada saat yang sama harus beriman pula bahwa Allah menuliskan segala sesuatu yang telah
diketahuiNya di Lauh Mahfuzh sebagai ketetapan takdirNya. Ketetapan takdir ini terjadi limapuluh ribu tahun
sebelum Allah menciptakan langit-langit dan bumi.

"Dari Abdullah bin Amr bin al Ash, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah n bersabda : Allah telah
menuliskan ketetapan segenap takdir bagi segenap makhluk, sebelum Allah menciptakan langit-langit dan
bumi dengan jarak limapuluh ribu tahun. Beliau bersabda: Sedangkan arsyNya berada di atas air. [HR
Muslim].[9]

Ketiga : Beriman kepada kehendak (masyiah) Allah. Apa saja yang Allah kehendaki, pasti terjadi; dan apa
saja yang Allah tidak kehendaki, pasti tidak terjadi.

Keempat : Beriman bahwa Allah Maha mencipta. Artinya, apa saja yang Allah kehendaki adanya, baik benda
maupun gerakan benda, maka Allah pasti akan menciptakan dan mengadakannya.

Keempat perkara di atas harus diimani dan difahami sebagai satu kesatuan yang tidak dapat di pisah-pisahkan,
karena keempatnya tidak saling bertentangan satu sama lain.

Pemahaman terhadap masalah takdir di atas, sebenarnya merupakan sebagian konsekuensi penting dalam
memahami dan mengimani rukun iman pertama secara benar, yaitu beriman kepada Allah yang meliputi iman
kepada Rububiyah, Asma wa Shifat dan UluhiyahNya. Jika benar keimanan seseorang kepada Rububiyah,
Asma wa Shifat, serta Uluhiyah Allah, benar dalam arti sebenar-benarnya sesuai dengan pemahaman Salafush
Shalih, niscaya akan benar pula keimanannya kepada takdir. Sebab iman kepada takdir terkait erat dengan
masalah Rububiyah, Asma wa Shifat dan Uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tentu beriman kepada takdir secara benar, tidak menghilangkan daya upaya seseorang untuk melakukan
tindakan tertentu agar sukses meraih sesuatu atau terhindar dari marabahaya. Justeru disinilah salah satu letak;
benar atau tidaknya seseorang memahami takdir. Sebab daya upaya ini adalah termasuk yang diperintahkan
dalam Islam dan wajib dilaksanakan.








( ..
)

Dari Ali Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau n pernah mengiringi jenazah
seseorang ke kuburan, lalu beliau n mengambil sebatang kayu sambil memukul-mukulkannya ke tanah.
Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada seorangpun di antara kalian kecuali telah
ditetapkan tempat duduknya; apakah di neraka atau di surga. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah,

6 of 8 21/06/2010 5:19 AM
almanhaj.or.id - Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat http://www.almanhaj.or.id/content/2722/slash/0

kalau begitu apakah kita tidak bergantung (pada nasib) saja? Beliau menjawab: (Tidak), berbuatlah, karena
masing-masing akan dimudahkan (menuju takdir yang ditetapkan untuknya), Lalu beliau Shallallahu 'alaihi
wa sallam membaca surah Al Lail ayat 5-10". [Hadits yang muttafaq alaih].[11]

Dalam hadits di atas, setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang sudah
ditetapkannya seseorang, apakah kelak menjadi penghuni sorga atau penghuni neraka, para sahabat lalu
menyatakan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : Wahai Rasulullah, bukankah kami lebih baik
menunggu takdir saja dan tidak usah berbuat apa-apa? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam langsung
menolak pernyataan mereka seraya menjelaskan: Tidak!! Tetapi kalian harus tetap berbuat, sebab masing-
masing akan dimudahkan menuju takdir yang ditetapkan baginya.

Dengan demikian beriman kepada takdir secara benar, sama sekali tidak menghambat upaya dan kreatifitas
seseorang. Bahkan semakin memperkuat kreatifitas yang benar dan terarah. Amat berbahaya orang yang
secara serampangan mengenyampingkan persoalan takdir, atau terlalu banyak gagasan mengenainya seperti
yang dilakukan oleh kaum Mutazilah dan pengikut-pengikutnya. Begitu juga, amat berbahaya mengimani
takdir menurut gaya Jabriyah. Sebab semua itu berarti melancarkan tuduhan yang sangat keji terhadap Allah
Subhanahu wa Ta'ala.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pemimpin umat, diikuti para sahabat serta dua generasi berikutnya
sebagai generasi terbaik umat Islam adalah suri tauladan dalam segala hal. Mereka telah tercatat dalam sejarah
emas, dengan tinta emas, sebagai generasi yang beriman kepada takdir secara benar dan sebagai generasi yang
gigih melakukan perjuangan untuk meraih mardhatillah, tidak ada yang duduk berpangku tangan. Adakah suri
tauladan yang lebih baik dari mereka?

Dengan beriman kepada takdir dan kepada rukun-rukun iman lain secara benar sesuai dengan pemahaman
para Salafush Shalih, maka Allah akan membukakan pintu-pintu pertolonganNya. Kebahagiaan dunia dan
akhirat akan dapat diraih, dan kemunduran peradaban akan dapat tersingkirkan. Bi-idznillah wa Taufiqih.

Maraji` :
1. Al Quran al-Karim dan juga terjemahnya.
2. Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari. Tash-hih wa tahqiq Asy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz,
tarqim Muhammad Fuad Abdul Baqi- wa Isyraf ala Thabihi : Muhibbuddin al Khathib. Jamiatul Imam
Muhammad bin Suud al Islamiyah, Riyadh.
3. Shahih Muslim Syarh Nawawi, takhrij Khalil Mamun Syiha, Daar al Marifah, Cet. VII, Th. 1421H/2000
M, Beirut, Libanon.
4. Shahih Sunan Abi Dawud, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Maktabatul Maarif, Riyadh, Cet. II,
dari terbitan yang baru 1421 H/2000 M.
5. Shahih Sunan at Tirmidzi, Syaikh al Albani, Maktabatul Maarif, Riyadh, Cet. I, dari terbitan yang baru
1420 H/2000 M.
6. Fathul Majid Syarh Kitab at Tauhid, Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aalu asy Syaikh. Murajaah
Hawasyihi : Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Idaaratul Masajid wal Masyari al Khairiyah, Riyadh,
dari penerbit Maktabah Daar as Salam, Riyadh, Cet. I, 1413 H/1992 M.
7. Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, Maktabatul Maarif, Riyadh, Cet. VI,
1413 H/1993 M. Dan lain-lain.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun IX/1426H/2005M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah
Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]
________
Footnotes.
[1]. Lihat selengkapnya hadits riwayat Muslim dalam Syarah Nawawi I/101 dst. Kitab al Iman Bab I.
[2]. Lihat Fathul Majid Syarh Kitab at Tauhid, karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aalu asy Syaikh, Bab

7 of 8 21/06/2010 5:19 AM
almanhaj.or.id - Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat http://www.almanhaj.or.id/content/2722/slash/0

Ma Jaaa fi Munkiril Qadar, hlm. 428.


[3]. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud, karya Syaikh al Albani, III/147 no. 4699.
[4]. Lihat Fathul Majid Syarh Kitab at Tauhid, karya Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Aalu asy Syaikh, Bab
Ma Jaaa fi Munkiril Qadar, hlm. 429-430. Dinukil dengan bahasa bebas.
[5]. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud, karya Syaikh al Albani, III/148 no. 4700.
[6]. Azali, artinya selama-lamanya, tanpa didahului oleh sesuatupun. Sedangkan abadi, artinya selama-
lamanya tanpa diakhiri dengan sesuatupun.
[7]. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud, karya Syaikh al Albani, III/148 no. 4700.
[8]. Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, Maktabatul Maarif, Riyadh,
Cet. VI, Th. 1413 H/1993 M, hlm. 162-168.
[9]. Lihat Shahih Muslim Syarh Nawawi, Khalil Mamun Syiha (XVI/419), Kitab al Qadar, hadits no. 6690.
Juga Shahih Sunan Tirmidzi karya Syaikh al Albani (II/450) Kitab al Qadar, Bab 18 hadits no. 2156 tanpa
menyebutkan : .
10]]. Empat perkara dari kesimpulan di atas juga dinyatakan oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan dalam
Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Maktabatul Maarif, Riyadh, Cet. VI, Th. 1413 H/1993 M. Hal. 162-168.
[11]. Lihat Shahih al Bukhari-Fathul Bari (VIII/708), Kitab Tafsir al Quran, hadits no. 4946, juga (XI/491)
Kitab al Qadar, Bab 2, hadits no. 6596. Lihat pula Shahih Muslim Syarh Nawawi, Khalil Mamun Syiha
(XVI/412-413), Kitab al Qadar, hadits no. 6675 dll. Juga Shahih Sunan at Tirmidzi (II/441), Kitab al Qadar,
hadits no. 2136.

ARSIP ARTIKEL
TAUHID
MUSLIMAH
REDAKSI

Obat Penyakit Riya


Bahaya Riya
Kaidah Memahami Al-Kitab Dan As-Sunnah
Pemimpin Ideal
Sebelas Rambu Bagi Seorang Pemimpin
Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
Rahasia Dibalik Nama Allah, As-Salam
Riya Dan Bahayanya
Abu Manshur Al Maturidi Dan Aliran Maturidiyah
Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat
Jihad Melawan Setan
Keterasingan Sunnah Dan Ahlu Sunnah Di Tengah Maraknya Bid'ah Dan Ahli Bid'ah
Mengawasi Diri Sendiri
Penjabaran Makna Nama Allah Azza Wa Jalla Al-Karm
Berperang Melawan Was-Was Setan

copyleft almanhaj.or.id
seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan
tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.

8 of 8 21/06/2010 5:19 AM