Anda di halaman 1dari 5

almanhaj.or.id - Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil http://www.almanhaj.or.

id/content/2726/slash/0

Cari

HOME
ADAB DAN PERILAKU
AHKAM
AKHLAK
AKTUAL
AL-ILMU
AL-IRHAB = TERORISME Kategori Fokus Utama
AL-MANHAJ AS-SALAFY
AL-MASAA'IL Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
AL-QUR'AN
AL-QUR'AN : ILMU Selasa, 15 Juni 2010 15:56:47 WIB
AL-QUR'AN : TAFSIR
AL-WALA' DAN AL-BARA'
CARA TEPAT MEWUJUDKAN KEPIMPINAN YANG ADIL
AL-WASAILU AL-MUFIDAH
Oleh
AMALAN SUNNAH Said Yai Al-Kumriini
ANAK-ANAK MUSLIM
AQIDAH AHLUS SUNNAH
AQIDAH AL-WASITHIYAH Agama Islam adalah agama yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan.
AQIDAH EMPAT IMAM Tercermin dalam surat an-Nahl/16 ayat 89, Allah Ta'ala berfirman:
AR-RASAA-IL HUKUM
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitb (Al-Qur`n) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
AS-SAA'AH : AD-DAJJAL petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri"
AS-SAA'AH : AL-MAHDI [an-Nahl/16:89]
AS-SAA'AH : NABI ISA
AS-SUNNAH Bahkan, Islam telah mengatur dan menjelaskan tata cara buang air. Demikian pula, Islam telah
AS-SUNNAH DALAM ISLAM mengatur dan menjelaskan masalah perpolitikan. Islam memberikan konsep yang jelas untuk
mewujudkan kepemimpinan yang adil dan benar. Dan berikut, tulisan ini akan membahas
BAI'AT
secara ringkas, bagaimana mewujudkan kepemimpinan tersebut.
BID'AH DAN BAHAYANYA
BIRRUL WALIDAIN Sebagaimana fenomena yang nampak di masyarakat kita, terdapat dua kubu di tengah kaum
DAKWAH, TARBIYAH muslimin yang berjuang dan menghabiskan waktunya untuk mewujudkan kepemimpinan yang
DEMOKRASI DAN POLITIK adil. Kubu yang pertama, terdiri dari orang-orang yang menghalalkan politik non Islami, atau
DO'A, DZIKIR, TAUBAT paling tidak berkecimpung di dalamnya. Kubu yang kedua, terdiri dari orang-orang yang
FATAWA 'ARKANIL ISLAM
menghalalkan darah para penguasa (pemerintahan), atau paling tidak berusaha
menggulingkannya.
FIQIH IBADAH
FIRAQ Manakah di antara kedua kubu ini yang sesuai dengan syariat? Jika kedua kubu itu tidak
FOKUS UTAMA sesuai dengan syariat, lantas bagaimana sikap kita?
GAMBAR, LAGU, PERMAINAN
HADITS KILAS BALIK SEJARAH
HAJJI DAN UMRAH
Sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kita menengok ke masa lalu. Ketika
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai berdakwah hingga akhirnya tercipta sebuah
HARI RAYA = IED
daulah, yaitu Daulah Islamiyah, karena beliau adalah suri teladan kita.
HIZBIYYAH DAN HAROKAH
JENAZAH : KEMATIAN, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah kaum yang sangat buruk
MAYIT
JIHAD FII SABILILLAH agama, masyarakat dan perpolitikannya. Meski keberadaannya di tengah kaum yang
JUAL BELI sedemikian parah, ternyata, ketika berada di Makkah, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak
KELUARGA & MASALAHNYA pernah berusaha untuk melakukan pemberontakan, merebut kekuasaan, ataupun
menggunakan cara-cara licik untuk menggulingkan atau membunuh pemimpin-pemimpin
KESEMPURNAAN ISLAM
kaum musyrikin Makkah. Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menggunakan
KURBAN DAN AQIQAH cara tersebut? Jawabannya, karena cara tersebut bukan cara yang tepat.
MA'RUF NAHI MUNGKAR
MABHATS Bahkan, ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berdakwah secara terang-terangan
MAKANAN, SEMBELIHAN dan banyak manusia yang mulai masuk Islam, maka kaum Quraisy mengutus 'Utbah bin
MANHAJ Rabi'ah untuk membujuknya.
MEDIA DAN SARANA
'Utbah bin Rabi'ah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
MU'AMALAT DAN RIBA
MUJMAL AHLISSUNNAH

1 of 5 21/06/2010 5:31 AM
almanhaj.or.id - Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil http://www.almanhaj.or.id/content/2726/slash/0

NASEHAT
















NIKAH
NIKAH : TALAK - RUJUK "Jika engkau menginginkan kedudukan, maka kami akan menjadikanmu sebagai tuan kami,
sehingga kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpamu. Jika engkau menginginkan
PAKAIAN DAN PERHIASAN
kerajaan, maka kami akan menjadikanmu sebagai raja kami" [1].
PENGOBATAN PENYAKIT
PERPECAHAN UMAT ! Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menerima tawaran itu? Jawabannya, adalah
PRINSIP DASAR ISLAM tidak! Mengapa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menerimanya? Padahal dengan
PROPAGANDA SESAT demikian, sepertinya beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bisa berdakwah dengan menggunakan
PUASA kekuasaannya. Jawabannya, karena cara tersebut bukanlah cara yang tepat.
PUASA : FIQIH PUASA
Sebagai buktinya adalah Raja Najasyi rahimahullah yang telah masuk Islam; kendati sudah
PUASA : I'TIKAAF
berada di tampuk kepemimpinan, tetap saja kekuasaannya tidak bisa dipergunakan untuk
QADHA DAN QADAR merubah masyarakatnya.
RIFQON AHLASSUNNAH
RIZQI, HARTA, NAFKAH Beda halnya ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Madinah, pada saat itu,
SHALAT kaum muslimin cukup banyak dan memiliki kekuatan iman, sehingga dengan mudahnya,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatur mereka dan membentuk sebuah Daulah
SIHIR, JIN, PERDUKUNAN
Islamiyah, yaitu daulah yang sangat kita dambakan untuk sekarang ini.
SIKAP KEPADA KAFIR
SIYASI WAL FIKRI KESHLIHAN PEMERINTAH TERGANTUNG KEPADA KEADILAN DAN KESHLIHAN
SUMPAH DAN NADZAR MASYARAKATNYA
SYARHU USHULIL IMAN Ketahuilah, keadilan dan keshlihan pemerintah tergantung kepada keadilan dan keshlihan
SYUBHAT DAN JAWABAN masyarakatnya. Dalam hal ini berlaku hukum sebanding. Jika masyarakat tidak adil dan tidak
TAUHID
shlih, bagaimana mungkin mereka mengharapkan pemerintah yang adil dan shlih? Cobalah
kita renungi ayat-ayat berikut ini.
TAUHID PRIORITAS UTAMA
TAZKIYATUN NUFUS Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang
TOLERANSI yang zalim itu menguasai sebagian yang lain disebabkan apa-apa yang mereka usahakan".
USHUL AHLISSUNNAH [al-An'm/6:129].
WANITA : DARAH WANITA
WANITA : FIQIH SHALAT Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka
Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi
WANITA : KESEHATAN
mereka melakukan kefasikan dalam negeri itu, maka sepantasnya berlaku terhadap perkataan
WANITA : KONSULTASI (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya". [al-Isr`/17:16].
WANITA : MUSLIMAH
WANITA : THAHARAH Ayat ini sangat jelas menerangkan, kefasikan masyarakat suatu negeri bisa membinasakan
WANITA : WASIAT negeri tersebut.
WARIS, HIBAH, HADIAH
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Dan (penduduk) negeri itu telah kami binasakan ketika
ZAKAT
mereka berbuat kezhaliman". [al-Kahfi/18:59].

Begitu pula disebutkan dalam hadits:












.

.

"Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah pernah ditanya, 'Ya,
Rasulullah! Kapankah amar ma'ruf dan nahi mungkar akan kami tinggalkan?' Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda, 'Jika tampak di tengah-tengah kalian, apa-apa yang tampak di
tengah-tengah umat-umat sebelum kalian,' Kami pun bertanya: 'Ya Rasulullah! Apa yang
tampak di tengah-tengah umat sebelum kami?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
'(Ketika) kerajaan/kekuasaan berada di tangan anak-anak muda [2] di antara kalian,
perbuatan-perbuatan fhisy (dosa besar) dilakukan oleh orang-orang yang tua[3] di antara
kalian, dan ilmu disebarkan oleh orang yang hina[4] di antara kalian" [5]

Hadits ini menjelaskan keterkaitan antara perbuatan dosa dengan amar ma'ruf nahi mungkar.
Ketika amar ma'ruf nahi mungkar sudah ditinggalkan, maka ini menjadi tanda kebinasaan
suatu kaum.

Al-Wald ath-Tharthsi rahimahullah berkata: "Sampai sekarang masih terdengar orang-orang


berkata, 'amalan-amalan kalian adalah pekerja-pekerja kalian', sebagaimana kalian sekarang
ini; maka seperti itulah kalian akan dipimpin. Di dalam Al-Qur`n terdapat ayat yang semakna
dengan ini (Qs al-An'm/6 ayat 129, seperti telah disebutkan di atas)'."

'Abdul-Mlik bin Marwn berkata,"Wahai, rakyatku! Bersikap adillah kepada kami! (Bagaimana
mungkin) kalian menginginkan dari diri-diri kami seperti yang dijalankan oleh Abu Bakar dan
'Umar, sedangkan kalian tidak mengerjakan seperti apa-apa yang mereka amalkan?!"[6]

2 of 5 21/06/2010 5:31 AM
almanhaj.or.id - Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil http://www.almanhaj.or.id/content/2726/slash/0

Setelah kita mengetahui, bahwa keshalihan dan keadilan pemerintah tergantung pada
keshalihan dan keadilan masyarakatnya, maka tidak ada jalan lain untuk mewujudkannya
kecuali dengan melakukan perubahan terhadap masyarakatnya.

BERITA DARI NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM TENTANG KEADAAN UMAT DI MASA
DATANG DAN CARA MENGATASINYA
Keadaan masyarakat seperti yang ada sekarang ini sudah dikabarkan oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, begitu pula cara penyelesaiannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

"Jika kalian berjual beli dengan cara 'nah [7] dan mengambil ekor-ekor unta serta kalian telah
ridho dengan pertanian[8] dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada
kalian kehinaan. Allah tidak akan menghilangkannya sampai kalian kembali kepada agama
kalian"[9].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Demi Allah! Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan dari diri kalian. Akan tetapi, aku takut
jika dunia dilapangkan kepada kalian, sebagaimana dilapangkan kepada umat-umat sebelum
kalian, sehingga kalian berlomba-lomba (untuk mendapatkannya) sebagaimana mereka dulu
berlomba-lomba, dan dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana menghancurkan
mereka". [10]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.















.

"Sebentar lagi umat-umat (agama lain) akan menyerbu kalian dari segala penjuru sebagaimana
orang-orang yang makan menyerbu piring makannya," kami pun bertanya, "Apakah pada saat
itu jumlah kami sedikit?" Beliau berkata, "Jumlah kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi,
kalian akan menjadi buih-buih seperti buih-buih air. Allah akan mencabut rasa takut atau
segan dari hati musuh-musuh kalian, serta menjadikan al-wahn di hati-hati kalian." Kami
bertanya, "Apakah al-wahn itu?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Cinta
kehidupan (dunia) dan takut kepada kematian" [11].

Hadits-hadits di atas menerangkan keadaan kaum muslimin, bahwasanya mereka akan terlena
dengan dunia, bodoh dan jauh dengan agama, hatinya tidak pernah terbetik untuk berjihad,
sehingga Allah akan menjadikan mereka hina dan binasa, dan menjadikan musuh-musuh tidak
takut dengan mereka. Benarlah yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Semua yang disebutkan itu telah benar-benar terjadi.[12]

Dalam hadits di atas, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa kaum
muslimin tidak akan kembali jaya kecuali jika mereka kembali kepada agamanya. Tidak lain,
yaitu dengan melakukan tashfiyah (pembersihan) dan tarbiyah (pendidikan/pengajaran).[13]

Syaikh 'Abdul-Mlik Ramdhni hafizhahullh menjelaskan, "Tashfiyah, yaitu membersihkan


Islam dari ajaran-ajaran lain yang masuk ke dalamnya. Dan tarbiyah, yaitu mendidik atau
mengajarkan Islam yang sebenarnya (asli) kepada manusia, yaitu men-tashfiyah tauhid dari
syirik, men-tashfiyah sunnah dari bidah, men-tashfiyah fikih dari pendapat-pendapat baru
yang lemah, men-tashfiyah akhlak dari perilaku umat-umat yang binasa dan hina, dan
men-tashfiyah hadiits-hadiits Nabi yang shahh dari yang dusta dan palsu".[14]

Syaikh al-Albni rahimahullah berkata, "Wajib untuk diketahui, mengapa kaum muslimin pada
saat ini tidak berhukum dengan hukum Islam kecuali di beberapa daerah saja? Mengapa para
dai Islam tidak menerapkan Islam pada diri mereka sendiri sebelum menyuruh orang lain
untuk memperaktekkan Islam di negara-negara mereka? Jawabannya cuma satu, yaitu, karena
mereka tidak mengenal Islam kecuali secara global saja, atau mereka tidak men-tarbiyah diri
mereka dan orang lain berdasarkan Islam dalam kehidupan, akhlak, dan muamalah mereka."
[15]

KENYATAAN PAHIT
Nikmat menjadi thalibul-ilmi adalah nikmat yang sangat besar. Akan tetapi, sangat sedikit

3 of 5 21/06/2010 5:31 AM
almanhaj.or.id - Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil http://www.almanhaj.or.id/content/2726/slash/0

kaum muslimin yang mengetahuinya. Betapa banyak ayat, hadits dan atsar yang menunjukkan
hal itu, sebagaimana tertulis di dalam buku-buku agama. Akan tetapi, amat disayangkan,
orang-orang yang sudah diberi hidayah oleh Allah untuk menuntut ilmu yang hak, yang sudah
mempelajari akidah yang benar dan agama yang kuat, mereka banyak disibukkan dengan
perkara duniawi dan politik non Islami. Akibatnya, mereka yang tadinya berdakwah di masjid-
masjid dan rumah-rumah, sekarang justru meninggalkan masjid dan masyarakatnya. Yang
tadinya rajin belajar dan membaca buku di perpustakaan, sekarang justru meninggalkan buku
dan perpustakaannya. Yang tadinya memakai pakaian yang islami, sekarang justru memakai
pakaian Nashrani. Suatu kenyataan yang sangat pahit!

Tidak sedihkah mereka melihat keadaan umat ini? Politisi-politisi sangat gampang "dicetak",
teknisi-teknisi sangat mudah "ditelurkan", dokter-dokter sangat "ringan dimunculkan", tetapi
untuk mencetak para ustadz, para dai dan ulama tidaklah mudah. Kalau bukan mereka, para
penuntut ilmu agama, maka siapa lagi yang akan memperbaiki umat ini. Allah Ta'ala berfirman,
yang artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (Qs. ar-Ra'd/13:11).

Dengan demikian, dari uraian di atas, dapatlah ditarik kesimpulan, kedua kubu yang telah
disebutkan atas, tidaklah berada dalam kebenaran dan tidak sesuai dengan syariat. Dan tidak
ada cara yang tepat untuk mewujudkan kepemimpinan yang adil, kecuali dengan melakukan
tashfiyah dan melakukan tarbiyah kaum muslimin.

Syaikh 'Abdul-Mlik Ramadhni hafizhahullh berkata: "Permisalan dua kubu tersebut, seperti
dua orang petani yang mendatangi suatu lahan yang menghasilkan buah yang jelek. Yang
satunya menanam tanaman (di lahan itu), setiap kali tanaman itu berbuah matang, maka dia
potong tanaman itu. Yang satunya lagi menanam tanaman, memperbaiki akar-akarnya dan
selalu menyiraminya. Di antara mereka mana yang lebih bagus?"[16]

Jawabannya, tidak ada yang bagus. Orang yang kedua kendati menghasilkan buah, maka
buahnya bukanlah buah yang bagus, karena lahan yang dipakai tidaklah cocok untuk bercocok
tanam.

SEDIKIT NASIHAT
Oleh karena itu, sebagai pencari kebenaran hakiki, jangan sampai kita mendahulukan 'thifah
(perasaan) setiap menimbang sesuatu. Mengikuti 'thifah merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan banyak kaum muslimin mengikuti hawa nafsunya, sehingga pada akhirnya
tersesat dari jalan yang benar.

Syaikh al-'Utsaimin rahimahullh mengingatkan, "Jika kita ingin membangkitkan kaum


muslimin dari tidur dan kelalaiannya, maka kita harus berjalan sesuai dengan jalan-jalan yang
tepat dan dengan asas yang kuat. Karena, kita semua menginginkan agar hukum-hukum
(yang ada semua kembali) kepada Allah, dan kita menginginkan agar agama Allah tegak di
atas bumi ini. Ini adalah tujuan yang sangat besar. Akan tetapi, kalau hanya dengan 'thifah
(perasaan). maka hal itu tidak akan pernah terwujud. Kita harus mengikat 'thifah dengan
syariat dan akal kita." [17]

Sekian. Mudah-mudahan bermanfaat. Tamma bi fadhlillaah wa taufqih.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183,
Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Dihasankan oleh Syaikh al-Albni. Lihat as-Srah an-Nabawiyah f Dhau`il-Mashdir
al-Ashliyah, hlm. 200 (??? Hlm. 178-179-Muslim).
[2]. Maksudnya, dipimpin oleh orang-orang yang tidak berpengalaman.
[3]. Maksudnya, kemaksiatan dilakukan oleh banyak orang sampai-sampai dilakukan pula oleh
orang-orang yang tua.
[4]. Maksudnya, ilmu disebarkan oleh orang-orang fasik yang hanya mengharapkan dunia.
[5]. HR Ibnu Mjah No. 4015. Al-Bshiri berkata, "Isnadnya shahh, rijalnya tsiqt." Lihat
perkataan al-Bshir dan penjelasan hadits ini di Hasyiah as-Sindi, Beirut, Drul-Ma'rifah, Jilid
IV, hlm. 366.
[6]. 'Sirj al-Mulk' hal. 100-101. Dinukil dari 'Fiqhussiysah asy-Syar'iah fi Dhau`il-Kitb
was-Sunnah wa Aqwl Salafil-Ummah, hlm. 171.
[7]. Jual beli yang mengandung riba di dalamnya. Hadits ini berlaku umum terhadap semua
penyimpangan dalam masalah syariat, seperti penyimpangan dalam akidah, ibadah, muamalah,
pernikahan, dll. Dan penyebutan 'inah di sini sebagai perwakilan saja atas penyimpangan-
penyimpangan tersebut.
[8]. Maksudnya, cinta dengan dunia dan melalaikan akhirat.
[9]. HR Abu Dwud, no. 3462, dan yang lainnya. Dan hadits ini dishahhkan oleh Syaikh

4 of 5 21/06/2010 5:31 AM
almanhaj.or.id - Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil http://www.almanhaj.or.id/content/2726/slash/0

al-Albni ddalam ash-Shahhah, no. 11.


[10]. HR al-Bukhri, no. 3157 dan Muslim no. 2971.
[11]. HR Ahmad di Musnad-nya, Jilid V, hlm. 278, dan yang lainnya. Dishahhkan oleh Syaikh
al-Albni dalam ash-Shahhah Jilid II hal 647-648
[12]. Lihat keterangan yang lebih jelas di Bad`iu al-Hikam bi Dzikri Faw`id Hadts Tad'i
al-Umam yang ditulis oleh Syaikh Salim al-Hilli.
[13]. Silahkan baca keterangan yang lebih jelas dalam kitab Ma'lim al-Manhaj as-Salafy
fit-Taghyr yang disusun oleh Syaikh al-Albni.
[14]. Dinukil dari kitab Sittu Durar min Ushli Ahlil-Atsar, hlm. 102.
[15]. Ma'lim al-Manhaj as-Salafy fit-Taghyr, hlm. 30.
[16]. Majalah al-Ishlh, edisi ke-5, tahun 1428 H, hlm. 43 dengan judul Limadza la Yalja'
Ahlus-Sunnah fi Ishlhihim ilal-hilli as-Siyasi wal-Hilli ad-Damawi.
[17]. Kitab beliau yang berjudul ash-Shahwah al-Islamiyah, hlm. 52.

ARSIP ARTIKEL TAUHID MUSLIMAH REDAKSI

Obat Penyakit Riya


Bahaya Riya
Kaidah Memahami Al-Kitab Dan As-Sunnah
Pemimpin Ideal
Sebelas Rambu Bagi Seorang Pemimpin
Cara Tepat Mewujudkan Kepemimpinan Yang Adil
Rahasia Dibalik Nama Allah, As-Salam
Riya Dan Bahayanya
Abu Manshur Al Maturidi Dan Aliran Maturidiyah
Iman Kepada Takdir Membawa Sukses Dunia - Akhirat
Jihad Melawan Setan
Keterasingan Sunnah Dan Ahlu Sunnah Di Tengah Maraknya Bid'ah Dan Ahli Bid'ah
Mengawasi Diri Sendiri
Penjabaran Makna Nama Allah Azza Wa Jalla Al-Karm
Berperang Melawan Was-Was Setan

copyleft almanhaj.or.id
seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan
sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan
Situs almanhaj.or.id tidak memiliki hubungan apapun dengan situs lainnya.

5 of 5 21/06/2010 5:31 AM