P. 1
Resume BioEtanol Sorgum Terpadu

Resume BioEtanol Sorgum Terpadu

|Views: 3,334|Likes:
Dipublikasikan oleh Supriyanto
Pengembangan Agrobisnis Terpadu Berbasis Bahan Baku Sorgum (Kebun Sorgum - Pabrik Bioetanol - Pakan Ternak - Penggemukan Sapi - Pupuk Organik + Biogas)
Pengembangan Agrobisnis Terpadu Berbasis Bahan Baku Sorgum (Kebun Sorgum - Pabrik Bioetanol - Pakan Ternak - Penggemukan Sapi - Pupuk Organik + Biogas)

More info:

Published by: Supriyanto on Jun 21, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

text

original

P RO P OSAL

CLUSTER AGROIINDUSTRII TERPADU CLUSTER AGRO NDUSTR TERPADU ((BIIOETANOL – KEBUN SORGUM – PETERNAKAN SAPII)) B OETANOL – KEBUN SORGUM – PETERNAKAN SAP YANG BERKELANJUTAN YANG BERKELANJUTAN
PENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DAN ENERGI

Dibuat Oleh: Ir. Supriyanto 081317811798
Pemanfaatan Bioteknologi untuk Kesejahteraan Masyarakat

RINGKASAN

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 1 of 23

Sejalan dengan mulai dikembangkan Bahan Bakar Nabati yang memanfaatkan beberapa komoditi tanaman pangan seperti tebu, singkong, kedelai, jagung, dan lain-lain, dikuatirkan menyebabkan kenaikkan harga komoditi tersebut secara global. Sebenarnya bagi Indonesia sebagai Negara Agraris merupakan suatu peluang untuk mengembangkan komoditikomoditi tersebut di seluruh wilayah Indonesia yang masih luas. Apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber energi alternatif sebagai pengganti BBM dan Instruksi Presiden No 1 Tahun 2006 tanggal 25 Januari 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Salah satu sumber bahan bakar nabati yang sangat potensial untuk menggantikan BBM adalah bioetanol (etil alkohol) yang dibuat dari biomassa (tanaman) melalui proses biology (enzimatik dan fermentasi). Ada berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku bioetanol, salah satu diantaranya yang paling potensial dikembangkan di Indonesia adalah tanaman sorgum manis (Sorgum bicolor L. Moench). Pati yang terdapat pada biji sorgum dan nira dalam batang sorgum dapat dijadikan sebagai bahan baku bioetanol yang biayanya lebih murah. Selain itu daunnya dan sisa batang yang diambil niranya (bagasse) juga bisa dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Tanaman sorgum termasuk tanaman pangan (biji-bijian), tetapi lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak (livestock fodder). Tanaman sorgum memiliki keunggulan tahan terhadap kekeringan dibanding jenis tanaman serealia lainnya. Tanaman ini mampu beradaptasi o o pada daerah yang luas mulai 45 LU sampai dengan 40 LS, mulai dari daerah dengan iklim tropis-kering (semi arid) sampai daerah beriklim basah. Tanaman sorgum masih dapat menghasilkan pada lahan marginal. Budidayanya mudah dengan biaya yang relatif murah, dapat ditanam monokultur maupun tumpangsari, produktifitas sangat tinggi dan dapat diratun (dapat dipanen lebih dari 1x dalam sekali tanam dengan hasil yang tidak jauh berbeda, tergantung pemeliharaan tanamannya). Selain itu tanaman sorgum lebih resisten terhadap serangan hama dan penyakit sehingga resiko gagal relatif kecil. Tanaman sorgum berfungsi sebagai bahan baku industri yang ragam kegunaannya besar dan merupakan komoditas ekspor dunia (Sumarno dan S. Karsono, 1995). Dengan demikian pengembangan tanaman sorgum selain untuk menyediakan bahan baku bioetanol juga dapat berfungsi sebagai alternatif penyediaan kebutuhan pangan melalui diversifikasi dan subtitusi bahan

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 2 of 23

pangan pokok seperti beras dan terigu. Disamping itu juga mampu menyediakan pakan untuk mendukung pengembangan bidang peternakan untuk mengurangi ketergantungan import daging sapi dari luar negeri. Pada proposal ini kebun sorgum dikembangkan dalam konsep Cluster Agro Industri terpadu yang berkelanjutan dengan mengkombinasikan beberapa unit bisnis yang saling mendukung. Dalam hal ini Industri yang utama adalah Industri bioetanol yang akan dibangun dengan kapasitas 1,000 liter per hari. Bahan baku yang digunakan adalah batang dan biji sorgum. Luas kebun sorgum ditentukan berdasarkan produktifitas tanaman sorgum yaitu batang 30 – 50 ton/hektar dan biji 4 – 5 ton /hektar. Selain itu juga berdasarkan konversi batang sorgum (1 liter bioetanol membutuhkan 20 – 22 kg batang sorgum) dan konversi biji sorgum (1 liter bioetanol membutuhkan 3 kg biji sorgum). Selain itu juga mempertimbangkan lamanya musim hujan untuk menentukan waktu tanam yang tersedia. Musim hujan/waktu tanam diasumsikan tersedia selama 6 bulan (dapat disesuaikan dengan data curah hujan di daerah setempat). Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa lahan kebun sorgum yang dibutuhkan adalah seluas 132 hektar untuk mendukung produksi pabrik bioetanol dengan kapasitas 1,000 liter per hari secara berkelanjutan. Hampir sebagian besar wilayah Indonesia sesuai untuk pengembangan budidaya sorgum sehingga sangat memungkinkan dibentuknya Clustercluster Industri Bioetanol di daerah-daerah. Keberadaan Cluster-cluster Industri Bioetanol di daerah-daerah akan memberikan manfaat sebagai berikut :  Optimalisasi potensi lahan marginal dan lahan di daerah beriklim tropis yang kering dengan mengembangkan kebun sorgum sebagai alternatif sumber bahan pangan dan energi; Pembuatan bioetanol sebagai bahan bakar nabati dari batang sorgum sehingga masih tersedia biji sorgum yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan (mendukung Ketahan Pangan Nasional) dan juga sebagai bahan baku industri lainnya misalnya industri pakan ternak ; Menyerap tenaga kerja setempat dalam budidaya tanaman mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan dan panen; Meningkatkan pemasaran dan memberikan nilai tambah sorgum dan meningkatkan kesejahteraan bagi petani sorgum; Menggerakan perekonomian lainnya yang terkait seperti: perdagangan sarana produksi, transportasi, dll;

  

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 3 of 23

Menyediakan sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai bahan bakar alternatif khususnya untuk daerah - daerah yang sering mengalami kekurangan pasokan BBM. Bioetanol dapat dimanfaatkan untuk menggantikan bahan bakar bensin dan minyak tanah.

Cluster agroindustri terpadu (Bioetanol – Kkebun sorgum – Peternakan Sapi) yang berkelanjutan secara ringkas dapat dilihat pada gambar 1, sedangkan hasil perhitungan dan analisa ekonominya dirangkum dalam tabel 1. Secara garis besar profile unit-unit bisnis pendukung Cluster Agro Industri tersebut adalah sebagai berikut : A. Unit Bisnis Budidaya Sorgum Luas lahan yang dibutuhkan untuk unit bisnis ini seluas 132 hektar dengan kapasitas produksi sebagai berikut : 1. Produksi biji sorgum 1,188 ton per tahun terdiri dari: a. b. Penjualan biji sorgum sebagai bahan bioetanol sebanyak 355 ton Sisa biji untuk dibuat tepung sorgum dan pakan ternak 833 ton setelah diproses akan menjadi:   2. Tepung sorgum 416 ton Pakan ternak (menir/dedak) 416 ton

Produksi batang sorgum 6,600 ton per tahun terdiri dari: a. b. Penjualan batang sorgum sebagai bahan bioetanol sebanyak 4,524 ton Sisa batang sorgum sebagai hijauan pakan ternak 2,076 ton

Selain biji dan batang sorgum Unit Bisnis Budidaya Sorgum juga menghasilkan produk ikutan berupa daun sebagai hijauan pakan ternak sebanyak 2,970 ton Produk daun sorgum ini tidak dimasukkan sebagai komponen pendapatan tapi untuk mendukung unit bisnis peternakan atau untuk tujuan sosial kemasyarakatan. Berdasarkan hasil analisis ekonomi Unit Bisnis Sorgum ini sangat layak dijalankan, yaitu :    Internal Rate of Return (IRR) Pay Back Periode (PBP) Revenu/Cost (R/C Ratio) : : :

93%

2.02

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 4 of 23

B.

Unit Bisnis Produksi Bioetanol 99.5% Kapasitas produksi bioetanol 99.5% yang direncanakan adalah 1,000 liter per hari atau 324,000 liter per tahun. Bioetanol diproduksi dari bahan baku batang sorgum 69% (205,615 liter) dan biji sorgum 37% (118,385 liter). Dalam proses produksi dihasilkan produk ikutan berupa konsentrat 4,523,538 kg per tahun yang dapat dijual sebagai pakan ternak. Selain itu juga menghasilkan limbah padat sisa perasan batang sorgum (bagase) yang dapat digunakan sebagai sumber energi untuk boiler atau pakan ternak. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa Unit Bisnis Bioetanol ini layak untuk dijalankan, yaitu :    Internal Rate of Return (IRR) Pay Back Periode (PBP) Revenu/Cost (R/C Ratio) : 27% : 2.35 : 1.59

C.

Unit Bisnis Penggemukan Sapi Kapasitas Ubit Bisnis Penggemukan Sapi ini ditentukan berdasarkan ketersediaan pakan yang dihasilkan oleh Unit Bisnis Budidaya Sorgum dan Unit Bisnis Produksi Bioetanol. Jenis dan jumlah pakan yang tersedia ternyata mampu untuk memelihara ternak sebanyak 388 ekor per 4 bulan atau 1,164 ekor per tahun. Unit Bisnis Budidaya Sorgum dan Unit Produksi Bioetanol mampu menghasilkan pakan ternak yang terdiri dari:     Batang sorgum Konsentrat sisa fermentasi bioetanol Menir/dedak sisa penepungan biji sorgum Daun sorgum : : : :
325 kg/hari
1,144 kg/hari 6,527 kg/hari 6,527 kg/hari

Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa Unit Bisnis Peternakan Sapi ini juga layak untuk dijalankan, yaitu :    Internal Rate of Return (IRR) Pay Back Periode (PBP) Revenu/Cost (R/C Ratio) : 30% : 2.43 : 1.10

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 5 of 23

Gambar 1. Skema Agro Industi yang dikelola secara terpadu dan berkelanjutan, berbasis tanaman sorgum sebagai bahan pangan dan bahan baku bioetanol sebagai energi alternatif yang sangat potensial Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s Page 6 of 23

Tabel 1.

Ringkasan Bisnis dan Analisa Ekonomi Agro Industri Terpadu Berbasis Sorgum
PRODUKSI BIOETANOL 99.5% 1000 LITER / HARI
PRODUK
1,188 ton/th 355 ton/th 416 ton/th 416 ton/th 6,600 ton/th 4,524 ton/th 2,076 ton/th 2,970 ton/th Rp Rp Rp Rp Rp 1,420,069,800 811,900,000 488,000,000 12,999,000 107,170,800 KEBUTUHAN MODAL INVESTASI MODAL KERJA PROVISI IDC Rp Rp Rp Rp Rp 2,707,330,000 2,200,000,000 193,000,000 23,930,000 290,400,000 KEBUTUHAN MODAL INVESTASI MODAL KERJA PROVISI IDC Rp Rp Rp Rp Rp 2,534,600,008 377,500,000 2,082,668,325 24,601,683 49,830,000 Konsentrat 118,385 kg/th Kotoran sapi 1,886 ton/th Bioetanol 324,000 ltr/th

BUDIDAYA SORGUM MANIS 132 HEKTAR
PRODUK
Biji Sorgum Bahan Baku Bioetanol Tepung Sorgum Pakan Ternak Batang Sorgum Bahan Baku Bioetanol Pakan Ternak Daun Sorgum KEBUTUHAN MODAL INVESTASI MODAL KERJA PROVISI IDC

PENGGEMUKAN SAPI 388 EKOR / 4 BULAN
PRODUK
Sapi 1,164 ekor/th

PROYEKSI LABA (RUGI)
TOTAL PENERIMAAN
Penjualan Biji Sorgum Penjualan Batang Sorgum

PROYEKSI LABA (RUGI)
TOTAL PENERIMAAN
Penjualan Bioetanol Konsentrat

PROYEKSI LABA (RUGI)
TOTAL PENERIMAAN
Penjualan Sapi Penjualan Kotoran Sapi

Rp 17,633,578,846
Rp 15,158,578,846 Rp 2,475,000,000

Rp 10,903,846,923
Rp Rp 9,720,000,000 1,183,846,923

Rp 34,358,719,200
Rp 33,057,600,000 Rp 1,301,119,200

TOTAL PENGELUARAN
Biaya Variabel Biaya Tetap Depresiasi dan Amortisasi

Rp 8,739,311,438
Rp Rp Rp 5,963,126,538 2,168,000,000 608,184,900

TOTAL PENGELUARAN
Biaya Variabel Biaya Tetap Depresiasi dan Amortisasi

Rp 6,857,206,223
Rp Rp Rp 5,040,841,223 724,200,000 1,092,165,000

TOTAL PENGELUARAN
Biaya Variabel Biaya Tetap Depresiasi dan Amortisasi

Rp 28,940,240,740
Rp 28,076,899,874 Rp Rp 826,125,000 37,215,866

LABA (RUGI) KOTOR
Pengembalian Kredit Laba (Rugi) Sebelum Pajak Pajak

Rp 8,894,267,408
Rp Rp Rp 1,207,379,587 7,686,887,820 2,690,410,737

LABA (RUGI) KOTOR
Pengembalian Kredit Laba (Rugi) Sebelum Pajak Pajak

Rp 4,046,640,700
Rp Rp Rp 2,222,678,169 1,823,962,531 638,386,886

LABA (RUGI) KOTOR
Pengembalian Kredit Laba (Rugi) Sebelum Pajak Pajak

Rp 5,418,478,460
Rp Rp Rp 2,285,065,787 3,133,412,673 278,744,436

LABA (RUGI) BERSIH

Rp 4,996,477,083

LABA (RUGI) BERSIH

Rp 1,185,575,645

LABA (RUGI) BERSIH

Rp 2,854,668,238

ANALISA EKONOMI
Harga Pokok Produksi
Biji Sorgum Batang Sorgum Tepung Sorgum Rp Rp Rp 785/kg 59/kg 1,785/kg

ANALISA EKONOMI
Harga Pokok Produksi
Bioetanol Konsentrat Rp Rp 4,233/ltr 915/kg

ANALISA EKONOMI
Harga Pokok Produksi
Sapi hidup Kotoran sapi Rp Rp 18,923/kg 0/kg

Harga Jual
Biji Sorgum Batang Sorgum Tepung Sorgum Revenu / Cost Ratio (R/C) Rp Rp Rp 915/kg 75/kg 5,000/kg 2.02

Harga Jual
Bioetanol Konsentrat Rp Rp 6,000/ltr 2,000/kg

Harga Jual
Sapi hidup Kotoran sapi Rp Rp 20,000/kg 150/kg

Revenu / Cost Ratio (R/C)

1.59

Revenu / Cost Ratio (R/C)

Internal Rate of Return (IRR) Pay Back Periode (PBP)

93% 1.00 Tahun

Internal Rate of Return (IRR) Pay Back Periode (PBP)

27% 2.35 Tahun

Internal Rate of Return (IRR) Pay Back Periode (PBP)

30% 2.43 Tahun

PENYERAPAN TENAGA KERJA
T. Kerja Langsung T. Kerja Tidak Langsung JUMLAH 8,316 hok/th 3,564 hok/th 11,880 hok/th

PENYERAPAN TENAGA KERJA
T. Kerja Langsung T. Kerja Tidak Langsung JUMLAH 3,888 hok/th 1,944 hok/th 5,832 hok/th

PENYERAPAN TENAGA KERJA
T. Kerja Langsung T. Kerja Tidak Langsung JUMLAH 14,040 hok/th 1,800 hok/th 15,840 hok/th

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 7 of 23

KARAKTERISTIK BIOLOGI SORGUM
Berdasarkan bentuk malai dan tipe spikelet, sorgum diklasifikasikan ke dalam 5 ras, yaitu: Bicolor, Guinea, Kafir, dan Durra. Ras Durra yang berbiji putih merupakan tipe paling banyak bidudidayakan sebagai sorgum biji (grain sorgum) dan digunakan sebagai sumber bahan pangan. Diantara ras Durra terdapat varietas yang memiliki batang dengan kadar gula tinggi disebut sebagai sorgum manis (sweet sorgum). Jenis ini dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sumber bahan baku pembuatan gula cair, jaggery (sejenis gula merah) dan Bioetanol (ICRISAT, 1990). Malai sorgum dapat dipanen rata-rata setelah tanaman berumur 90 – 120 hari. Batangnya kuat, keras, dan yang dibagi oleh ruas yang halus, tingginya 1 – 1.5 m bahkan lebih. Pada bagian tengah batang terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (sel-sel parenchym). Daun-daun sorgum lebarnya 50 - 100 mm dan panjangnya 0.5 - 0.8 meter. Batang dan daunnya dilapisi dengan lapisan lilin yang dapat menggulung bila terjadi kekeringan. Gambar 2. Morfologi Tanaman Sorgum Sorgum mempunyai sistem perakaran yang berkembang dengan baik, terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku pertama, akar-akar koronal (akar pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar yang tumbuh dipermukaan tanah). Panjang akarnya mencapai 10.8 meter yang mampu menyerap banyak dari air dan unsur hara. Tanaman sorgum membentuk perakaran primer 2 kali lipat dari jagung (Direktorat Budidaya serealia, 2006).

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 8 of 23

Gambar 3. Diagaram pemanfaatan biomassa sorgum manis (Schaffert, R. E. and L. M. Gourley, 1982)

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 9 of 23

Tabel 2.

ANALISA USAHA BUDIDAYA SORGUM
LUAS LAHAN POPULASI
NO
A BIAYA PRODUKSI 1 Sew a Lahan 2 Pengolahan Tanah dan Pupuk Dasar 2.1 Pengolahan Tanah (bajak-1, bajak-2, ridger) 2.2 Pemupukan Pupuk Organik 2.3 T.K. Pemupukan Dasar 3 Penanam an 3.1 Benih 3.2 T.K. Penanaman 4 Pem eliharaan 4.1 Pemupukan Pupuk Anorganik/Kimia Pupuk Organik Cair 4.2 Pengendalian Gulma Herbisida T. Kerja Penyemprotan 4.3 Koret dan Bumbun T. Kerja Koret dan Bumbun 5 Panen dan Transportasi 5.1 Panen 5.2 Transportasi 6 Pasca Panen 6.1 Perontokan Biji Sorgum 6.2 Penepungan Biji Sorgum B PENERIMAAN 1 Produksi biji sorgum 1.1 Penjualan biji sorgum sebagai bahan bioetanol 1.2 Sisa biji untuk dibuat tepund sorgum dan pakan ternak Tepung sorgum Pakan ternak (menir/dedak) 2 Produksi batang sorgum 2.1 Penjualan batang sorgum sebagai bahan bioetanol 2.2 Sisa batang sorgum sebagai hijauan pakan ternak LABA OPERASI (B-A)

Analisa Budidaya Sorgum Manis
1 HEKTAR 133,333 TANAMAN
URAIAN VOLUME HARGA SATUAN
Rp

BIAYA PERIODE-1
5,572,520

BIAYA PERIODE-2
Rp 3,462,520 Rp

BIAYA TOTAL
9,035,040

Rp 1 ha 1,000 kg 4 hok Rp Rp Rp 1,000,000/ha 600/kg 25,000/hok Rp Rp Rp Rp 5 kg 6 hok Rp Rp 21,000/kg 25,000/hok Rp Rp Rp 1 ha 1 ha 1 ha 1 ha 2 ltr 3 hok 1 ha 3 hok 1 ha 1 ha 0 rit 9,000 kg 2,691 kg 6,309 kg Rp Rp 125/kg 500/kg Rp Rp Rp Rp 500,000/ha 300,000/rit Rp 25,000/hok Rp Rp 40,000/ltr 25,000/hok Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

1,600,000 1,000,000 600,000 100,000 255,000 105,000 150,000 1,372,000 1,142,000 892,000 250,000 155,000 80,000 75,000 75,000 75,000 500,000 500,000 Rp Rp Rp Rp 75,000 75,000 500,000 500,000 Rp Rp Rp Rp Rp 1,217,000 1,142,000 892,000 250,000 -

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

9,035,040 1,000,000 600,000 100,000 255,000 105,000 150,000 2,589,000 2,284,000 1,784,000 500,000 155,000 80,000 75,000 150,000 150,000 1,000,000 1,000,000 3,491,040 336,320 3,154,720 26,717,544 22,967,544 2,461,862 20,505,682 15,773,601 4,732,080 3,750,000 2,570,192 1,179,808 17,682,503

168,160 1,577,360

Rp Rp

168,160 1,577,360

Rp Rp Rp

9 ton 3 ton 6 ton 3 ton 3 ton 50 ton 34 ton 16 ton Rp Rp 75/kg 75/kg Rp Rp 5,000/kg 1,500/kg Rp 915/kg

5 ton

4 ton

Rp Rp Rp Rp Rp

30 ton

20 ton

Rp Rp Rp Rp

C

Lim bah yang m asih potensial untuk dim anfaatkan tapi belum dihitung sebagai kom ponen produksi (tidak dijual) adalah:   Daun sorgum sebagai hijauan pakan ternak Sisa batang sorgum yang telah diambil niranya (bagase) untuk bahan bakar atau pakan ternak 2.96 2,970 ton 12 ton

Revenu/Cost Ratio Harga Pokok Produksi (HPP)    Harga Pokok Produksi Biji Sorgum Harga Pokok Produksi Batang Sorgum Harga Pokok Produksi Tepung Sorgum

70.0% Rp 30.0% Rp Rp

457/kg 32/kg 957/kg

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 10 of 23

Tabel 3.
NO

Rencana Produksi Budidaya Sorgum Manis
8
TAHAP BUDIDAYA
9-2008 10-2008 11-2008 12-2008 1-2009 2-2009 3-2009 4-2009 5-2009 6-2009 7-2009 8-2009 JUMLAH

1 Pengolahan Tanah dan Pupuk Dasar 2.1 Pengolahan Tanah (bajak-1, bajak-2, ridger) 2.2 Pemupukan Pupuk Organik 2 Penanaman 3 Pemeliharaan 3.1 Pupuk Anorganik/Kimia Pupuk dan Bumbun-1 Pupuk dan Bumbun-2 3.2 Pupuk Organik Cair Pemupukan-1 Pemupukan-2 3.3 Pengendalian gulma (PG) 3.4 Koret dan Pangkas 4 Panen dan Pasca Panen 4.1 Luas Panen Panen Induk (ha) Panen Ratun (ha) 4.2 Hasil Panen Batang sorgum (ton) Biji sorgum (ton) 4.3 Pasca Panen Batang sorgum untuk bioetanol (ton) Sisa batang sorgum untuk pakan (ton) Biji sorgum untuk bioetanol (ton) Penyosohan sisa biji sorgum (ton) Tepung sorgum Pakan ternak 5 Limbah padat proses bioetanol 5.1 Sisa perasan batang sorgum (ton) 5.2 Daun sorgum (ton) 144 297 192 396 240 792 192 792 240 990 182 693 154 396 154 396 1,498 4,752 74.8 58.0 29 29 74.8 58.0 29 29 93.5 72.5 37 37 74.8 58.0 29 29 411 84 18.7 58.0 29 29 548 112 58.0 29 29 685 470 72.5 37 37 548 552 58.0 29 29 685 690 72.5 37 37 521 414 3.7 58.0 29 29 440 14.8 58.0 29 29 440 33.5 72.5 37 37 4,280 2,320 389 754 380 380 495 74 660 99 1,155 198 1,100 198 1,375 248 935 173 440 99 440 99 6,600 1,188 17 17 22 22 44 28 17 44 22 22 55 28 28 39 17 22 22 22 22 22 264 132 132 17 17 28 11 28 28 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 28 28 22 22 11 22 6 132 132 132 132 22 28 22 17 22 22 22 22 17 28 22 22 132 132 11 11 22 22 22 28 28 28 22 22 22 22 22 22 22 22 22 6 6 17 132 132 132

x

diproses pada bulan yang sama tapi pada tahun selanjutnya

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 11 of 23

NO
1 Lahan (ha)

SARANA PENDUKUNG

9-2008
11 1 3

10-2008
22 1 3

11-2008
28 1 3

12-2008
22 1 3

1-2009
22 1 1 1 3

2-2009
22 1 1 1 3

3-2009
6 1 2 2 3

4-2009
2 2 3

5-2009
2 2 3

6-2009
2 2 3

7-2009
1 1 3

8-2009
1 1 3

JUMLAH
132 1 2 2 3

2 Traktor (unit/hr) 3 Truk (rit) 4 Perontok Biji Sorgum (unit) 5 Penepung Biji Sorgum (unit)

NO

TENAGA KERJA

9-2008
2 2

10-2008
4 6 8 3 3 24

11-2008
4 6 8 5 3 3 29

12-2008
4 6 14 6 3 3 36

1-2009
4 6 15 6 3 3 37

2-2009
4 6 15 6 3 3 37

3-2009
1 4 13 6 3 3 30

4-2009
8 5 13

5-2009
7 1 8

6-2009
-

7-2009
-

8-2009
-

JUMLAH
4 6 15 6 3 3 37

1 T. K. Pemupukan Dasar 2 T. K. Penanaman 3 T. K. Pupuk dan Bumbun 4 T. K. Pupuk Cair 5 T. K. Herbisida 7 T. K. Koret dan bumbun

NO
1 Pemupukan Dasar

LOGISTIK

9-2008

10-2008

11-2008

12-2008

1-2009

2-2009

3-2009

4-2009

5-2009

6-2009

7-2009

8-2009

JUMLAH

1.1 Pupuk Organik (ton) 2 Penanaman 2.1 Benih (kg) 3 Pemeliharaan 3.1 Pemupukan Kimia Urea (kg) SP-36 (kg) KCl (kg) 3.2 Pupuk Organik Cair (ltr) 3.3 Herbisida (ltr)

12.0 -

24.0 112.0

30.0 140.0

24.0 112.0

24.0 112.0

24.0 112.0

6.0 84.0

-

-

-

-

-

144.0 672.0

660.0 -

1,652.0 1,320.0 660.0 33.0

2,065.0 1,650.0 825.0 40.0 55.0

3,713.0 1,320.0 1,155.0 44.0 44.0

4,400.0 1,320.0 1,320.0 44.0 44.0

4,400.0 1,320.0 1,320.0 44.0 44.0

4,676.0 330.0 1,320.0 55.0 44.0

2,752.0 660.0 34.0 -

2,752.0 660.0 6.0 -

-

-

-

26,410.0 7,920.0 7,920.0 267.0 264.0

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 12 of 23

Gambar 4. Pengolahan tanah dalam budidaya tanaman sorgum dapat dilakukan dengan cara tradisional maupun modern, bahkan tanaman sorgum masih cukup baik pertumbuhannya dengan pengolahan tanah minimal atau tanpa olah tanah. Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s Page 13 of 23

Gambar 5. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman sorgum. Inset : Tanaman sorgum dipanen (ratun/kepras).

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 14 of 23

SEKILAS TENTANG ETANOL (ALKOHOL)
Alkohol adalah senyawa hidrokarbon berupa gugus hydroxyl (-OH) dengan 2 atom karbon (C). Species alkohol yang banyak digunakan adalah CH3CH2OH yang disebut metil alkohol (metanol), C2CH5OH yang disebut etil alkohol (etanol), dan C3CH7OH yang disebut iso propil alkohol (IPA) atau propanol-2. Dalam dunia perdagangan yang disebut alkohol adalah etanol atau etil alkohol. Senyawa ini jernih berbentuk cairan yang tidak berwarna dengan ciri khas aroma enak, terlarut dalam air, mempunyai rasa agak manis, tetapi dalam konsentrasi yang tinggi terasa membakar dengan berat jenis 0,789 g/ml pada temperatur 20ºC dan akan mendidih pada temperature 78,5ºC. Berdasarkan proses produksinya, etanol dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu:  Etanol sintesis, yang sering disebut metanol atau metil alkohol atau alkohol kayu. Terbuat dari etilen, salah satu derivat minyak bumi atau batu bara. Bahan ini diperoleh dari proses sintesa kimia yang disebut hidrasi; Bioetanol, yang dibuat dari biomassa (tanaman) melalui proses biologi (enzimatik dan fermentasi).

Semakin meningkatnya harga minyak mentah dunia (pada saat ini mencapai US$ 128/barel), maka bioetanol semakin kompetitif dan menjadi bahan bakar alternatif masa depan. Bioetanol dapat dibuat dari berbagai bahan tumbuhan antara lain:    Bahan Berpati, berupa biji sorgum, jagung, cantel, sagu, ubi jalar, ubi kayu/gaplek , ganyong , garut, dan lain-lain; Bahan Bergula, berupa nira tebu, nira aren, nira siwalan, nira sorgum manis, nira nipah, tetes tebu (molasses), sari buah mete, dan lain-lain; Bahan Berselulosa (Lignoselulosa), berupa limbah logging, limbah pertanian seperti jerami padi, ampas tebu, tonggkol jagung (janggel), limbah tapioka (onggok), batang pisang , bagas dan lain-lain.

Pati yang terdapat pada biji sorgum dan nira dalam batang sorgum dapat dijadikan sebagai bahan baku bioetanol yang biayanya lebih murah. Selain itu daunnya dan sisa batang yang diambil niranya (bagasse) juga bisa dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Tanaman sorgum termasuk tanaman pangan (biji-bijian), tetapi lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak (livestock fodder).

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 15 of 23

Ethanol long-term storage

Processing Stalks

Temporary ethanol storage

Stalk Ready for Crushing

Distillation unit

Crushing Stalk

Fermentation section

Juice Extraction

Grain processing and feeding

Jaggery from Juice

Boiler and wet scrubber

Stillage

Pasteurizer

Juice Extraction Section

Gambar 6. Diagram Pembuatan Bioethanol dari Sorghum

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 16 of 23

Gambar 7. Pabrik Bioetanol Skala Kecil dengan Kapasitas 1000 liter/hari

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 17 of 23

PELUANG PASAR USAHA PENGGEMUKAN SAPI
Pengembangan peternakan rakyat prospeknya sangat baik sekali, karena kebutuhan daging sapi untuk Indonesia terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi baik. Menurut Ilham et al. (2001) permintaan daging sapi selama tahun 2000 sampai dengan 2010 diproyeksikan akan mengalami laju peningkatan sebesar 5% per tahun, yaitu dari sebesar 225.156 ton pada tahun 2000 meningkat menjadi 366.739 ton pada tahun 2010, sedangkan penawaran daging sapi domestik diperkirakan mengalami penurunan dengan laju sebesar -0,13% per tahun, yaitu dari sebesar 203.164 ton pada tahun 2000 menurun menjadi 200.576 ton pada tahun 2010. Kondisi tersebut apabila tidak diantisipasi dengan upaya terobosan dalam peningkatan produksi di dalam negeri akan menyebabkan Indonesia selalu bergantung pada pasokan impor dan menjadi target potensial pemasaran ternak sapi hidup dan produk-produk turunannya bagi negaranegara produsen utama. Volume impor daging sapi Indonesia selama periode 1990-1998 secara rata-rata mengalami tingkat pertumbuhan sebesar 38,55% per tahun (FAO dalam Ilham et al., 2001).

Gambar 8. Peluang pasar bisnis penggemukan sapi di Indonesia sangat besar, jangan sampai dimanfaatkan oleh negara lain dan kita hanya sebagai penonton. Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s Page 18 of 23

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi daging dalam usaha penggemukan sapi, yaitu:   Faktor Genetik : Kualitas genetik ternak yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi. Faktor Pakan : Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Pakan memegang peranan 60%—70% dalam meningkatkan produktivitas.

Gambar 9. Teknologi pengolahan dan pengawetan pakan ternak memegang peranan penting dalam pengembangan Industri peternakan di Indonesia.

Jenis Kelamin : Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar. Manajemen : Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat.

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 19 of 23

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, A.M. 1993. Strategi Operasional Pengembangan Agroindustri Sapi Potong. ProsidingAgroindustri Sapi Potong. CIDES, Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2001. Buku Statistik Peternakan 2001. Beti, Y. Aneka, A. Ispandi, Sudaryono. 1990. Sorgum. Balai Penelitian Tanaman Pangan, Malang. 25p. Direktorat Gizi, DEPKES RI. 1992. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Penerbit Bhratara, Jakarta. 57p. Direktorat Budidaya Serealia. 2006. Bahan Informasi Sorgum. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Jakarta. 26p. Hadi, P.U., N. Ilham, A. Thahar, B. Winarso, D. Vincent, and D. Quirke. 2002. Improving Indonesia’s Beef Industry. Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR) Monograph No. 35, vi + 128 p. Harold D. Hughes and Darre S. Matcalfe. 1972. Crop Production. McMillan Coy. House, L. R. 1985. A Guide to Sorghum Breeding. International Crops Research Institute for Semi-Arid Tropics. Andhra Pradesh, India. 238p. ICRISAT. 1990. Indrustrial Utilization of sorghum. Proceeding of Symposium on the Current Status and Potential of Industrial Uses of Sorghum. 59p. Ismail C. dan Anwar Ispandi. 1995. Perakitan Paket Teknologi Budidaya Sorgum pada Lahan Marginal di Jawa Timur. Edisi Khusus Balitkabi No. 4-1995, p. 138 – 145. Ilham, N., B. Wiryono, I.K. Kariyasa, M.N.A. Kirom, dan Sri Hastuti. 2001. Analisis Penawaran dan Permintaan Komoditas Peternakan Unggulan. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Kartasapoetra, A. G. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik. Bina Aksara, Jakarta. Mayrowani, H., Supriyati, B. Rahmanto, dan Erwidodo. 2003. Kajian Perdagangan Komoditas Pertanian Antar Wilayah Dalam Era Otonomi Daerah. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Rismunandar. 2003. Bandung. 62p. Sorghum Tanaman Serba Guna. Sinar baru Algensindo,

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 20 of 23

Suprapto dan R. Mudjisihono. 1987. Budidaya dan Pengolahan Sorgum. Penebar Swadaya, Jakarta. 89p. Swara Kita. 2008. Tanaman Sorgum Pengganti Premium Uji Coba Budidaya di Sulut, Memuaskan. Tanggal 02 April 2008. Trikoesoemaningtyas dan Suwarto. 2006. Potensi Pengembangan Sorgum di Lahan Marginal. Makalah dalam Fokus Grup Diskusi ”Prospek Sorgum untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi”. MENRISTEK – BATAN. Serpong, 5 September 2006. Yudiarto, M. A. 2005. Pemanfaatan Sorgum sebagai Bahan Baku Bioetanol. Makalah dalam Fokus Grup Diskusi ”Prospek Sorgum untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi”. MENRISTEK – BATAN. Serpong, 5 September 2006.

Cl ust er I ndust r i B ioet a nol Ber ba sis Sor g um M ani s

Page 21 of 23

solution of renewable energy for welfare and environment
Phone: +62 21 930 72197, 081317811798 biofuel.network@gmail.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->