Anda di halaman 1dari 23

MENGENAL DAN MENGAPLIKASIKAN

PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK


Oleh: Achmad Zainal Arifin, MA*

Applying sociological perspectives into an academic research is not as


easy as we might think. Some researches, especially in religious field, that
were claimed using sociological perspective, in fact, did not have any
sense of sociological analysis at all, or at least, they usually limited their
sociological analysis only on the function of religion in society by
utilizing the perspective of functionalism. This article tries to intoduce an
alternative perspective within sociology, namely symbolic interactionism
and the way how this perspective can be applied broadly to explore
religious phenomena. By utilizing this perspective, many religious
phenomena, especially their symbolic aspects and the picture of everyday
life situation would be better explained because the basic premises of this
perspective in viewing the nature of society are more humane and
dynamic. Besides, this perspective offers an interesting methodology to
understand religious phenomena through the adoption and diffusion of
fields methods, ethnography and qualitative sociology.

Key words: symbol, meaning, interaction, and society

Salah satu kesulitan yang seringkali dirasakan mahasiswa dalam menyelesaikan


tugas akhir (skripsi) adalah minimnya kemampuan untuk mengaplikasikan teori-teori
sosiologi yang akan digunakan sebagai pisau analisis dalam mendeskripsikan ataupun
mengeksplorasi tema-tema penelitian yang telah dipilih. Kondisi ini tentu saja tidak
muncul dengan sendirinya, melainkan terjadi akibat adanya kesalahan yang cukup
mendasar pada proses pentransferan ilmu pengetahuan yang cenderung text-book dan
kurang inovatif dalam pengambilan contoh-contoh kasus dalam menjelaskan kerangka
teori sosial yang ada. Salah satu diantara sekian banyak teori-teori sosial yang kurang
digarap secara maksimal dalam memahami fenomena keagamaan adalah pendekatan
interaksionisme simbolik.
Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua asumsi dasar yang kurang tepat di
kalangan akademisi berkenaan dengan keengganan menggunakan perspektif ini dalam
mengkaji fenomena-fenomena keagamaan yang ada. Pertama, anggapan bahwa
perspektif interaksionisme simbolik cenderung bersifat positivistik. Anggapan seperti ini
muncul bisa jadi disebabkan oleh keengganan kita untuk mengkaji lebih dalam perspektif

1
ini dan juga faktor kelahiran perspektif ini sendiri yang dibidani oleh ilmuwan-ilmuwan
sosial Amerika. Sebagaimana yang lazim dipahami, perkembangan ilmu-ilmu sosial di
Amerika memang memunculkan kecenderungan yang bersifat positivistik dan pragmatis.1
Hal ini sangatlah berbeda bila kemudian kita kontraskan dengan perkembangan teori-
teori sosiologi yang ada di daratan Eropa. Kedua, hasil yang bisa dicapai dari penggunaan
perspektif interaksionisme simbolik tidaklah bersifat seradikal dan serevolusioner bila
dibandingkan dengan penggunaan perspektif konflik,2 misalnya, dalam memahami
fenomena keagamaan yang ada, sehingga ada kesan “nilai jual” dari pendekatan
interaksionisme simbolik pun dipandang kurang “marketable” dan akhirnya cenderung
untuk ditinggalkan. Hal ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari perseteruan klasik
dalam kancah sosiologi berkenaan dengan dikotomi sosiologi “makro-mikro” dan juga
permasalahan mengenai “agensi-struktur” yang masih mendapat tempat yang cukup kuat
dikalangan sosiolog sendiri. 3
Terlepas dari dua asumsi diatas, sebenarnya perspektif interaksionisme simbolik
memiliki beberapa keunggulan, dengan mendasarkan pada karakteristik-karakteristik
utamanya, apabila kita gunakan sebagai pisau analisis untuk mengungkap berbagai

1
Kecenderungan untuk mengembangkan sosiologi yang bersifat praktis atau applied sociology
memang terlihat dengan jelas dalam perkembangan ilmu sosiologi di Amerika. Ketidakpuasan kebanyakan
sosiolog Amerika terhadap semboyan “ilmu untuk ilmu” yang dianut kuat oleh kalangan sosiolog Eropa,
terlebih pasca Perang Dunia II yang banyak meruntuhkan sendi-sendi kehidupan sosial, menyebabkan
kebutuhan untuk menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik menjadi suatu keniscayaan. Disinilah
kemudian para sosiolog Amerika bersikap lebih terbuka untuk mengaplikasikan ilmu sosiologi untuk
menciptakan perubahan sosial di masyarakat, melalui pemanfaatan ilmu untuk memecahkan problem
sosial, lihat: Paul Lazarsfeld dan Jeffrey Reitz, “History of Applied Sociology.” Sociological Practice, 7,
1989: 43-52.
2
Contoh nyata begitu radikal dan revolusionernya hasil dari penggunaan perspektif konflik,
khususnya pendekatan Marxisme dalam memahami fenomena sosial dan agama bisa dilihat dari
kemunculan tokoh-tokoh perjuangan di Amerika Latin yang mampu memobilisasi massa dan menentang
kesewenangan rezim militer di sana melalui konsep teologi pembebasan (liberal theology). Lihat:
Gutierrez, Teologi Pembebasan (Yogyakarta: Jendela, 2001); Francis Wahono Nitiprawiro, Teologi
Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya (Yogyakarta : LKiS, 2000).
3
Masalah hubungan makro-mikro, terutama berkenaan dengan level analisis sosiolgi, yang dituntut
untuk bisa berhadapan dengan sistem sosial maupun kehidupan individual sehari-hari, menjadi problem
yang cukup pelik dikalangan sosiolog Amerika sejak era 80-an dan berlanjut hingga dekade 90-an.
Berbagai upaya untuk menggabungkan kedua model teoretisi ini sudah mulai banyak dilakukan,
sebagaimana yang ditunjukkan oleh George Ritzer, Robert Ellias, maupun Rendall Collins. Sementara itu,
persoalan agensi-struktur muncul dikalangan sosiolog Eropa yang berkenaan dengan aktor utama dalam
analisis sosiologis yang harus menjadi pusat perhatian, apakah agen (individu atau sekumpulan individu)
ataukah struktur (sistem sosial) yang lebih menentukan dalam kehidupan sosial. Upaya untuk
mengintegrasikan masalah ini juga sudah cukup banyak dilakukan, diantaranya oleh Giddens melalui Teori
Stukturasinya dan Bourdieu melalui konsepnya tentang habitus and field, lihat: George Ritzer, Sociological
Theory (New York: McGraw-Hill Companies, 2000), hlm.219-20.

2
fenomena keagamaan terutama yang bersifat mikro, yang kurang bisa diungkapkan
dengan menggunakan perspektif-perspektif sosiologis lain yang cenderung bergerak pada
dataran makro, sebagaimana perspektif fungsionalisme maupun konflik. Terlebih lagi,
perkembangan perspektif interaksionisme simbolik, yang telah cukup lama mengalami
kemunduran, mulai memunculkan beberapa upaya penggabungan antara persoalan makro
dan mikro, telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada perspektif ini untuk
memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan teori-teori sosiologi secara
umum serta memberikan jawaban yang lebih komprehensif terhadap permasalahan-
permasalahan yang ada di masyarakat.. Makalah ini akan mencoba untuk
mengungkapkan bagaimana sebenarnya perspektif interaksionisme simbolik bisa
diaplikasikan untuk mengungkapkan lebih jauh fenomena-fenomena keagamaan yang ada
di masyarakat dengan mengkaji kembali sejarah perkembangan, ide-ide dasar, serta
merekonstruksi bagaimana perspektif ini bisa diaplikasikan dalam memahami fenomena
keagamaan yang ada.
A. Selintas Perspektif-perspektif dalam Sosiologi
Sebelum membahas perspektif interaksionisme simbolik secara lebih mendetail,
perlu kiranya sedikit menyegarkan ingatan kita akan berbagai perspektif yang ada
dalam disiplin ilmu sosiologi, paling tidak perspektif-perspektif yang paling sering
digunakan para sosiolog dalam melihat dan mendefinisikan realitas sosial yang ada.
Agar lebih jernih dalam memahami karakteristik dari berbagai perspektif yang ada
dalam disiplin sosiologi, setidaknya kita perlu untuk mendefinisikan kembali
pertanyaan mendasar tentang apa yang seharusnya dilakukan seorang sosiolog dalam
membaca fenomena sosial yang membedakannya dari disiplin lain dalam ilmu-ilmu
sosial. Sebuah ilustrasi klasik tentang kisah orang buta menggambarkan gajah yang
telah diubah dibawah ini mungkin bisa sedikit membantu:
“Tersebutlah sebuah kisah tentang lima orang bijak yang
kesemuanya buta sedang dibimbing kearah seekor gajah. Mereka
diminta untuk menjelaskan apa yang mereka “lihat.” Pertama, seorang
psikolog, meraba bagian atas kepala gajah dan mengatakan, “Hanya
inilah bagian yang perlu diperhatikan. Segala bentuk perasaan dan
pemikiran ada didalamnya. Untuk bisa memahami gajah dengan baik,
hanya bagian inilah yang harus dipelajari.”

3
Kedua, seorang antropolog, dengan sabar membelai bagian belalai
dan gading gajah. Dia berujar, “Bagian ini sangatlah primitif, saya
merasa nyaman disini, konsentrasilah pada bagian ini.”
Ketiga, seorang ilmuan politik, ia merasakan telinga gajah yang
besar dan berkata, “Inilah pusat kekuasaan, apapun yang masuk disini
mengontrol seluruh bagian binatang ini. Pusatkan studi anda pada
bagian ini.”
Keempat, seorang ekonom, meraba bagian mulut gajah dan
berucap, “Inilah bagian terpenting, segala sesuatu yang masuk
kedalam bagian ini didistribusikan keseluruh tubuh. Jadi, pelajarilah
bagian ini.”
Terakhir, tentu saja seorang sosiolog, setelah meraba seluruh
bagian tubuh, mengatakan, “kalian tidak akan bisa memahami
binatang ini hanya dengan memperhatikan satu bagian saja. Itu
hanyalah sebagian dari keseluruhan tubuh gajah. Kepala, belalai dan
gading, telinga, dan mulut merupakan bagian yang penting, termasuk
juga bagian tubuh yang belum kalian sebutkan. Kita harus
menghilangkan kebutaan kita sehingga kita bisa melihat gambaran
yang lebih komprehensif. Kita harus melihat bagaimana semua bagian
bekerjasama membentuk sebuah binatang yang bernama gajah.”
Setelah berhenti sejenak, sang sosiolog melanjutkan, “Kita juga perlu
untuk memahami bagaimana gajah ini berinteraksi dengan sesamanya.
Bagaimana kehidupan mereka dalam kelompok mempengaruhi
perilaku mereka”?
Saya berharap bahwa saya dapat menyimpulkan kisah diatas
dengan menyatakan bahwa sang psikolog, antropolog, ilmuwan
politik, dan ekonom, setelah mendengarkan apa yang dikatakan sang
sosiolog, akan segera menyingkirkan kebutaan mereka dan
bekerjasama untuk mengamati gajah secara lebih komprehensif.
Namun karena sikap keras kepala, masing-masing tetap bersikeras
dengan bagian masing-masing. Bahkan sayup-sayup kita masih bisa
mendengar gumaman mereka, “Bagian kepala adalah milik saya,
menjauhlah darinya.” “Jangan sentuh gadingnya.” “Jauhkan tanganmu
dari telinganya.” “Menjauhlah dari mulutnya, karena itu adalah
wilayahku.”4

Secara sepintas, kisah diatas menunjukkan begitu luasnya obyek kajian yang
harus diamati oleh seorang sosiolog sehingga bisa dikatakan sosiologi memiliki
cakupan yang paling luas bila dibandingkan dengan cabang-cabang ilmu sosial
lainnya.5 Keluasan obyek kajian ini juga bisa kita lihat dalam berbagai literatur

4
James M. Henslin, Sociology: A Down to Earth Approach (Boston: Allyn and Bacon, 1995),
hlm.8.
5
Jeanne H. Ballantine dan Leonard Cargan, Sociological Footprints (Belmont: Wadsworth, 2002),
hlm.436

4
pengantar sosiologi, dimana sosiologi sendiri seringkali didefinisikan sebagai sebuah
studi ilmiah tentang struktur sosial, interaksi sosial, dan faktor-faktor yang
menyebabkan perubahan dalam struktur dan interaksi.6 Karenanya, seorang sosiolog
setidaknya harus memiliki perhatian yang kuat terhadap empat unsur yang
membentuk sebuah perspektif atau sudut pandang sosiologis. Unsur pertama dalam
pandangan sosiologis adalah ilmu. Karena sosiologi adalah sebuah ilmu, para
sosiolog mengikuti serangkaian ketentuan prosedur penelitian dalam menginvestigasi
fenomena sosial. Struktur sosial merupakan unsur kedua dari pandangan sosiologis.
Masyarakat adalah terstruktur, dan struktur sosial ini terdiri dari komponen-
komponen dari lingkungan sosial kita yang secara relatif bersifat permanen seperti
keluarga, agama, dan negara. Struktur merupakan tatanan dalam kehidupan sosial
yang kekal dan menentukan serta dapat diprediksi. Unsur yang ketiga adalah interaksi
sosial. Para individu secara umum memiliki keterlibatan dengan kebanyakan individu
lainnya yang dengannya mereka berinteraksi secara terus-menerus. Perubahan sosial
merupakan unsur terakhir dari pandangan sosiologis. Meskipun kehidupan sosial
terstruktur, ia senantiasa masih akan berubah-ubah dan para sosiolog mengakui
bahwa baik kontinuitas maupun perubahan merupakan ciri-ciri dari eksistensi sosial
manusia.
Perbedaan dalam memberikan perhatian terhadap eksistensi keempat unsur inilah
yang memunculkan berbagai corak perspektif dalam disiplin sosiologi. Perspektif
sosiologis yang lebih menekankan pada unsur struktur, misalnya, jelas akan memiliki
pandangan yang berbeda dengan perspektif yang mengedepankan unsur interaksi
sosial. Secara kasat mata mungkin kita bisa membayangkan bahwa perspektif yang
lebih mendasarkan asumsi atau premis dasarnya pada urgensi struktur akan memiliki
kecenderungan untuk berbicara pada level makro. Sebaliknya, ketika unsur interaksi
lebih mengemuka, maka perbincangan seputar masalah sosiologi mikro akan lebih
mendominasi. Sejalan dengan perbedaan level makro-mikro dalam perspektif
sosiologi, perdebatan masalah agensi-struktur juga memberikan warna tersendiri bagi
perkembangan perspektif-perspektif dalam sosiologi. Persoalan dominasi individu
ataukah sistem sosial yang paling berperan dalam melihat fenomena sosial ini, sedikit
6
James M. Henslin, op. cit., hlm.4-5; William Kornblum, Sociology: The Central Questions
(Orlando, Harcourt Brace, 1998), hlm.7.

5
banyak juga bersumber dari perbedaan penekanan dalam melihat keempat unsur
sosiologi diatas. Persoalan agensi-struktur ini juga telah menempatkan perspektif-
perspektif dalam sosiologi dalam karakteristiknya masing-masing.
Secara historis, setidaknya ada tiga perspektif utama yang mendominasi
perkembangan perspektif sosiologi, yaitu: perspektif fungsionalisme, konflik, dan
interaksionisme simbolik.7 Sedangkan berbagai perspektif lain yang muncul
sesudahnya bisa dikatakan merupakan pengembangan, penggabungan, maupun
derivasi dari ketiga perspektif tersebut yang direpresentasikan oleh figur-figur klasik
sosiologi, seperti Durkheim, Marx dan Weber, serta Simmel.8 Penyempurnaan-
penyempurnaan yang dilakukan oleh para sosiolog terhadap ide-ide dasar keempat
figur diatas, entah itu beruwujud respon terhadap berbagai kritik yang muncul
maupun upaya-upaya mensintesiskan perspektif-perspektif yang ada dalam rangka
menjelasakan fenomena sosial yang lebih kompleks, dan bisa dikatakan juga tidak
lepas dari pergerakan wacana seputar masalah mikro-makro serta agensi-struktur
yang hingga saat ini masih bisa dikatakan masih belum menemukan titik akhirnya.
Perspektif fungsional atau yang dikenal juga dengan nama fungsionalisme
struktural serta analisis fungsional, misalnya, berawal dari ide-ide dasar Comte,
Spencer, maupun Durkheim, yang menganalogikan masyarakat sebagai organisme
sosial dengan menitikberatkan fokus analisisnya pada hubungan-hubungan antar
anggota atau bagian dari masyarakat, termasuk didalamnya menganalisis bagaimana
bagian-bagian tersebut memberikan kontribusi, baik positif (fungsional) maupun
negatif (disfungsional), bagi kelangsungan masyarakat,9 mendapatkan kritik yang luar
biasa terutama berkenaan dengan ketidakmampuan perspektif ini ketika harus
berhadapan dengan perubahan sosial sehingga cenderung diklaim sebagai perspektif
sosiologi yang pro-status quo. Para penganut perspektif ini pun kemudian melakukan
berbagai revisi yang cukup mendasar dalam meng-counter kritik-kritik yang ada.

7
James M. Henslin, op.cit., hlm.18-27; Jonathan H. Turner, Leonard Beeghley, dan Charles H.
Powers, The Emergence of Sociological Theory (Orlando: Wadsworth Publishing Company, 1995).
8
Keempat tokoh inilah yang seringkali dipandang sebagai tokoh sosiologi klasik yang paling
berpengaruh dalam khazanah perkembangan teori sosiologi, bahkan menurut Turner, sumbangsih keempat
tokoh ini bisa ditemui dalam berbagai teori yang termasuk dalam teori sosiologi modern, lihat: Jonathan H.
Turner, The Structure of Sociological Theory, 7th edition (Belmont: Wadsworth/Thompson Learning, 2003).
9
Ibid.,hlm.23-29.

6
Setidaknya kita bisa mencatat nama Talcott Parsons10 dan Robert K. Merton11 sebagai
tokoh utama sekaligus dewa penyelamat dari perspektif ini sehingga tetap eksis dan
bahkan mendominasi perkembangan teori-teori sosiologi, setidaknya hingga dekade
60-an. Satu nama lagi yang layak dikemukakan disini berkaitan dengan perspektif
fungsional yaitu Jeffrey Alexander yang pada dekade 80-an mendeklarasikan
neofungsionalisme.12 Sejalan dengan Jeffrey Alexander, eksponen fungsionalis yang
juga melakukan kritik mendasar tentang skema fungsional yang digagas oleh Parsons
adalah Niklas Luhmann, yang lebih dikenal dengan fungsionalisme sistem-nya.13
Begitu juga dalam perkembangan perspektif konflik. Permasalahan makro-mikro
dan agensi-struktur juga memberikan pengaruh yang cukup kuat bagi kemunculan
berbagai varian teori yang ada dalam perspektif konflik. Bisa dikatakan bahwa
konsep-konsep dasar dalam perspektif ini bersumber dari karya-karya Marx dan
Weber.14 Meskipun perspektif ini, sebagaimana juga perspektif fungsional,bergerak
dalam level makro sosiologi, namun kedua perspektif ini bisa dikatakan memiliki
premis-premis dasar yang bertolak belakang. Hal ini bisa kita lihat pada konsep
tentang masyarakat sebagaimana yang diungkapkan oleh Dahrendorf sebelum dia
mengutarakan konsepnya bahwa masyarakat memiliki dua wajah, yaitu konflik dan

10
Sumbangan Parsons, terutama melalui elaborasinya tentang teori tindakan dan sistem sosial yang
dipandanganya mampu “membumikan” perspektif fungsional yang sebelumnya dipandang ahistoris
sekaligus memberikan nuansa analisis dalam level mikro (individu), lihat: Ritzer, op.cit., 233-44; Irving M.
Zietlin, Memahami Kembali Sosiologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1995), hlm.22-33.
11
Robert K. Merton memberikan pengaruh yang cukup dominan dalam perspektif fungsional atau
fungsionalisme struktural melalui ide-idenya tentang middle-range theories serta konsep fungsi yang ia
bagi kedalam fungsi manifes dan laten. Hal ini cukup membantu perspektif fungsional dalam menjelaskan
perubahan sosial yang ada, lihat: Robert K. Merton, Social Theory and Social Structure (New York: Free
Press, 1968), hlm.73-138.
12
Secara garis besar, aliran neofungsionalisme mencoba untuk tampil sebagai kritik internal
terhadap perspektif fungsional yang dipandang terlalu kaku dan sempit karena cenderung mengabaikan
aspek kultural dalam analisis-analisinya, lihat: Jeffrey C. Alexander (Ed.), Neofunctionalism (California:
Sage Publications, 1985), hlm.14-15; Ritzer, op.cit., hlm.254.
13
Fungsionalisme system lebih menekankan perhatiannya pada tindakan manusia yang telah
terorganisir dan terstruktur dalam sistem. Eksistensi sistem sosial lebih dilihat sebagai hasil dari tindakan-
tindakan manusia yang berkaitan satu dengan lainnya, yang oleh Dahrendorf digolongkan kedalam tiga tipe
sosial sistem: sistem interaksi, sistem organisasi, dan sistem kemasyarakatan, lihat: Turner, op.cit., hlm.54-
57.
14
Secara umum, menurut Turner, Weber memiliki ide sejalan dengan Marx, hanya saja Weber tidak
sependapat dengan Marx berkenaan dengan visi revolusi yang menurut Marx merupakan suatu
keniscayaan, lihat: Turner, op.cit., hlm134. Disamping itu, ide Marx yang menempatkan ekonomi
(materialisme) sebagai faktor yang dominan juga mendapat tentangan dari Weber yang lebih berpijak pada
masalah makna dan nilai-nilai sosial yang tercermin dari metode verstehen yang dikembangkannya, lihat:
Ritzer, op.cit., hlm.111-13.

7
konsensus.15 Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa perbedaan
mendasar antara kedua perspektif ini diantaranya, pertama, kalangan fungsionalis
memandang masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat statis, atau setidaknya
pergerakan yang terjadi selalu menuju pada equilibrium atau menuju ke arah
harmonisasi, sementara perspektif konflik melihat bahwa setiap masyarakat selalu
berproses ke arah perubahan. Kedua, kalangan fungsionalis selalu menekankan pada
tatanan sosial, sementara penganut prespektif konflik justru melihat perselisihan dan
konflik sebagai hal terpenting dalam sistem sosial. Ketiga, kalangan fungsionalis
meyakini bahwa setiap elemen masyarakat memberikan kontribusinya pada stabilitas,
sementara para penganut perspektif konflik melihat bahwa kebanyakan elemen
masyarakat berperan aktif dalam disintegrasi dan perubahan. Keempat, fungsionalis
melihat masyarakat sebagai sesuatu yang secara informal dipersatukan oleh norma,
nilai, dan moral bersama, sementara kalangan perspektif konflik memandang bahwa
tatanan sosial merupakan buah dari paksaan yang dilakukan oleh para elit terhadap
anggota masyarakat lainnya. Terakhir, kalangan fungsionalis lebih menekankan pada
kohesi atau daya pemersatu yang diciptakan melalui nilai-nilai bersama, sementara
kalangan perspektif konflik lebih menekankan pada peran kekuasaan dalam menjaga
tatanan sosial.16
Dalam perkembangannya, perspektif konflik sendiri telah memunculkan berbagai
macam aliran yang ide-ide dasarnya bersumber dari kedua tokoh sentral perspektif
ini, yaitu Marx dan Weber, bahkan bisa jadi merupakan penggabungan dari ide-ide
keduanya. Bahkan bisa dikatakan, varian teori yang muncul dari perspektif ini jauh
lebih kompleks dibandingkan perspektif fungsional. Para pewaris ide-ide Karl Marx
yang terhimpun dalam neo-marxisme sendiri, menurut Ritzer, setidaknya telah
menghasilkan beberapa teori, seperti (1) Economic Determinism, yang memuncak
pada diri Karl Kautsky; (2) Hegelian Marxism, yang dipelopori dua tokoh utamanya
Lukacs dan Gramsci; (3) Critical Theory dari mazhab Frankfurt yang mencapai
kejayaannya di tangan Habermas; (4) Historical Marxism, yang tercermin dari karya
monumental Wallerstein tentang Sistem Dunia Modern; (5) Post-Marxis Theory, yang
15
Penjelasan lebih detail tentang konsep ini, lihat: Ralf Dahrendorf, Class and Class Conflict in
Industrial Society (Stanford, CA: Stanford University Press, 1959).
16
Ralf Dahrendorf, “Out of Utopia: Toward a Reorientation of Sociological Analysis,” American
Journal of Sociology 64 (1958), hlm.127-130.

8
mengerucut pada ide tentang Marxisme analitik dan teori posmo-marxisme.17
Sementara itu, dari ide-ide Max Weber, juga melahirkan beberapa teori lain yang
cukup berpengaruh pada perkembangan perspektif konflik secara umum. Teoretisi
Neo-Weberian yang cukup berpengaruh disini adalah Rendall Collins, yang mencoba
untuk memberikan keleluasaan ide-ide Weber untuk bergelut pada level mikro dengan
menambahkan sentuhan ide Durkheim tentang ritual, dramaturgi-nya Goffman, serta
pendekatan ethnometodology.18 Disamping itu, terdapat juga nama Ralf Dahrendorf
yang telah kita singgung sebelumnya, serta Lewis Coser, yang mencoba
“mendamaikan” perspektif konflik dari Weber dengan perspektif fungsional.19
Disamping perspektif fungsional dan konflik diatas, ada beberapa perspektif lain
yang agaknya perlu untuk kita ketahui sebelum kita lebih detail berbicara tentang
perspektif interaksionisme simbolik, yaitu teori pertukaran sosial, fenomenologi
sosial, dan strukturalisme. Teori pertukaran sosial, dalam konteks perkembangan teori
sosiologi, seringkali dinisbahkan pada dua tokoh utamanya, yaitu George C. Homans
dan Peter M. Blau. Secara mendasar teori pertukaran sosial ini berangkat dari premis
bahwa setiap tindakan manusia didasarkan pada ganjaran yang akan didapatkannya.
Premis ini dijadikan dasar untuk melihat tindakan sosial yang ada di masyarakat.
Setidaknya, yang membedakan antara teori Homans dan Blau adalah masalah makro-
mikro. Homans lebih bergerak pada level mikro (individual), sementara Blau
memperluas gagasannya untuk memahami struktur tindakan sosial yang lebih bersifat
makro.20 Sementara itu, perspektif fenomenologi sosial dalam teori-teori sosiologi
modern mulai mendapat tempat melalui konsep “dunia intersubyektif” yang digagas

17
Ritzer, op.cit.,hlm.xi. Sebenarnya, perbedaan mendasar dari beberapa aliran atau teori disini,
sebagaimana diungkapkan sebelumnya, disamping masih berada di seputar permasalahan makro-mikro dan
agensi-struktur, juga bisa dilihat dari seberapa besar disiplin ilmu lain, seperti filsafat, sejarah, dan ekonomi
yang sangat kental dalam pemikiran Marx dipandang lebih penting oleh masing-masing penganut teori
tersebut. Selain itu, terdapat berbagai pendapat lain dalam mengkategorisasikan aliran atau teori-teori yang
tergabung dalam neo-marxisme, Turner, mislanya, lebih menempatkan critical theory sebagai teori karena
lebih merupakan penggabungan ide Marx dan Weber, lihat: Turner, op.cit. hlm.197.,
18
Ibid., hlm.151.
19
Lihat: Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, Contemporary Sociological Theory (New Jersey:
Prentice Hall, 1991). Hlm.149-58.
20
Zietlin, op.cit., hlm.119-20.

9
oleh Alfred Schutz,21 yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Garfinkel melalui
studi etnometodologinya.22
Sementara itu, perspektif strukturalisme, mula-mula diperkenalkan oleh seorang
ahli linguistik berkebangsaan Swiss, Ferdinand de Saussure, yang ide-idenya
kemudian diperluas oleh seorang antropolog Claude Levi-Strauss. Ide dasar yang
diusung oleh Strauss adalah penganalogian sistem sosial dengan sistem bahasa,
dimana istilah-istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sistem sosial maupun
bahasa diyakini tidak memiliki makna kecuali ketika istilah-istilah tersebut dipakai
secara integral untuk melihat sistem secara keseluruhan.23 Ide-ide kalangan
strukturalis ini kemudian memperoleh kritik yang tajam dari kalangan post-
strukturalis yang dipelopori oleh Jacques Derrida, melalui teori dekonstruksinya,
yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Michel Foucault, yang tercermin dari
dua konsep utamanya tentang “archeology of knowledge” dan “genealogy of power”
dalam melihat realitas sosial.24 Selain itu, dalam khazanah teori-teori sosiologi
modern, satu lagi tokoh yang layak dikemukakan berkenaan dengan perspektif
strukturalis ini, Pierre Bourdieu, yang menggagas strukturalisme kultural, melalui ide
dasarnya tentang tipe-tipe modal (capital) yang menempatkan modal kultural sebagai
sesuatu yang paling dominan.25
Ketiga perspektif alternatif beserta berbagai variannya setidaknya telah
memberikan warna lain dari perspektif-perspektif yang ditawarkan sosiologi, bahkan
beberapa diantaranya, seperti ide-ide teori pertukaran sosial, post-strukturalis maupun
strukturalisme kultural sempat mendapat tempat yang cukup luas dikalangan sosiolog,
khususnya dalam merespon perubahan sosial yang begitu cepat dimasyarakat. Tentu
saja, sebagaimana yang telah diindikasikan sebelumnya, pemanfaatan perspektif-
21
Konsep dunia intersubyektif merupakan penggabungan ide-ide fenomenologi transendental dari
Husserl dan metode verstehen-nya Weber. Lebih jauh tentang konsep ini silahkan lihat: Alfred Schutz, The
Phenomenology of Social World (Evanston, IL: Northwestern University Press, 1967).
22
Garfinkle merupakan pendiri dari perspektif ethnometodologi. Perspektif ini oleh banyak
kalangan disebut sebagai pendekatan fenomenologi yang utama dalam kajian sosiologis, lihat: Ruth A.
Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.293. Menurut Garfinkle sendiri, ethnometodologi memfokuskan
perhatiannya pada upaya bagaimana manusia memaknai kehidupan sehari-harinya yang biasanya justru
dilaksanakan begitu saja (taken for granted). Ia mengembangkan premis-premis ethnometodologi dari ide-
ide empat orang tokoh, yaitu: Talcott Parsons, Alfred Schutz, Aron Gurwitsch, dan Edmund Husserl, lihat:
Harold Garfinkel, Studies in Ethnomethodology (New Jersey: Prentice Hill, 1967), hlm.31-37.
23
Lihat: Ritzer, op.cit., hlm.590.
24
Ibid., hlm.593.
25
Turner, op.cit., hlm.492-495.

10
perspektif yang ada dalam sosiologi harus disesuaikan dengan topik atau
permasalahan yang sedang kita hadapi, karena bisa dikatakan tidak ada perspektif
atau sudut pandang yang mampu untuk memotret realitas sosial secara menyeluruh.
Oleh karena itu, tugas utama seorang sosiolog bukanlah menentukan mana perspektif
yang “benar” atau “salah”, akan tetapi lebih kepada persoalan manakah perspektif
yang paling bermanfaat untuk menjelaskan permasalahan yang ada.
B. Perspektif Interaksionisme Simbolik
Setelah kita secara selintas memahami berbagai perspektif-perspektif yang ada dalam
sosiologi, paling tidak kita sudah bisa melihat bagaimana posisi dari masing-masing
perspektif. Perspektif interaksionisme simbolik, yang akan kita bicarakan secara lebih
detail disini, setidaknya juga kita yakini memiliki karakteristik tersendiri dalam
melihat fenomena sosial yang ada. Beberapa pemikir utama yang seringkali
diasosiasikan dengan perspektif ini, yaitu: George Herbert Mead, Charles Horton
Cooley, William Isaac Thomas, Robert Park, Herbert Blumer, dan Erving Goffman.
Untuk memahami karakteristik tersebut, bahasan tentang perspektif ini setidaknya
akan mengupas tentang akar sejarah dan ide-ide dasar dari perspektif interaksionisme
simbolik.
1. Akar Sejarah Perspektif Interaksionisme Simbolik
Meskipun istilah “interaksionisme simbolik” dicetuskan oleh Herbert Blumer
pada tahun 1937, namun ide-ide dasar perspektif ini nampaknya mengerucut pada
ide-ide Herbert Mead, yang tidak lain adalah guru dari Herbert Blumer ketika ia
belajar di University of Chicago. Karenanya, tidaklah mengherankan apabila
sebagian kalangan sosiolog kemudian mencoba untuk melacak akar dari
perspektif ini melalui pemikiran-pemikiran yang telah mempengaruhi karya-karya
Mead. Menurut Joel M. Charon, setidaknya ada tiga model pemikiran yang sangat
mempengaruhi Mead, yaitu: filsafat pragmatisme, darwinisme, dan
behaviorisme.26 Dari filsafat pragmatisme, setidaknya ada empat ide dasar yang
nantinya juga menjadi pondasi dasar perspektif interaksionisme simbolik, yaitu:
(1) segala sesuatu yang bersifat riil bagi kita selalu tergantung pada intervensi
aktif kita sendiri, maksudnya, manusialah yang menginterpretasikan segala

26
Joel M. Charon, Symbolic Interactionism (New Jersey: Prentice Hall, 1995), hlm.23-24.

11
sesuatu; (2) pengetahuan bagi manusia selalu dikaitkan dengan situasi dan dinilai
berdasarkan kegunaannya; (3) obyek yang kita alami dalam situasi tertentu selalu
didefinisikan menurut kegunaannya bagi kita; dan (4) memahami manusia harus
disimpulkan dari apa yang ia lakukan.27 Dari keempat ide tersebut setidaknya kita
bisa menilai seberapa penting filsafat pragmatisme bagi perspektif
interaksionisme simbolik yang memang menempatkan interpretasi sebagai poin
penting dalam memahami perilaku manusia.
Sementara itu, dari seorang Charles Darwin yang merupakan penganut
naturalisme, Mead mewarisi keyakinan bahwa manusia harus dipahami dari sisi
naturalistiknya, bukan dari sisi supernatural.28 Selain itu, teori evolusi Darwin
juga berpengaruh terhadap pandangan Mead tentang manusia. Manusia, dalam
pandangan Mead, merupakan makhluk yang memiliki keunikan yang didasarkan
pada kemampuannya berpikir dan berkomunikasi secara simbolik dengan diri
sendiri maupun orang lain.29 Oleh karena itu, segala sesuatu berkenaan dengan
manusia diyakini sebagai suatu proses, bukan merupakan sesuatu yang stabil dan
tetap. Pengaruh Darwinisme terhadap pola pemikiran Mead memang terasa
kental, bahkan bisa dikatakan konsep-konsep dasar dari Mead, yang nantinya juga
berperan sentral dalam pengembnagan perspektif interaksionisme simbolik,
seperti konsep tentang kebenaran, diri, maupun simbol, tidak bisa lepas dari
pengaruh Darwinisme yang cenderung naturalis dan evolusioner.
Behaviorisme sendiri, terutama ide-ide dari John B. Watson,30 memiliki
pengaruh yang cukup kuat dalam pemikiran Mead, terutama ide dasar dari
kalangan behavioris yang menyatakan bahwa cara yang paling sah secara ilmiah
untuk memahami semua binatang, termasuk manusia, adalah melalui tingkah laku
mereka. Namun dalam menginterpretasikan ide dasar ini Mead tidak serta merta
menerimanya, sebagaimana kalangan behaviorisme psikologis, akan tetapi ia
menambahkan kondisi-kondisi sosial yang harus diperhatikan ketika mengamati
27
Ide-ide dasar tersebut dapat kita temui dari karya-karya para filosof pragmatisme, terutama
dalam diri John Dewey, William James, dan Charles Peirce, lihat: Ibid., hlm.27-28; lihat juga: Jonathan H.
Turner, Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, op.cit., hlm.414 dan 422.
28
Joel M. Charon, op.cit., hlm.26-27.
29
Jonathan H. Turner, Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, op.cit., hlm.406.
30
David L. Westby, The Growth of Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991),
hlm.451.

12
suatu perilaku manusia. Mead, sebagaimana dikutip Charon, bepandangan bahwa
ketika kita mengamati suatu tindakan yang nyata, kita harus selalu
memperhatikan apa yang sedang terjadi terkait masalah definisi, interpretasi, dan
makna.31
Sebenarnya, disamping pengaruh dari ketiga model pemikiran yang terwujud
dalam ide-ide Mead diatas, akar sejarah dari perspektif interaksionisme simbolik
ini tidak bisa kita lepaskan dari dua figur utama teori sosiologi klasik, yaitu Max
Weber, dan Georg Simmel.32 Max Weber bisa dikatakan memiliki pengaruh yang
cukup kuat terhadap perspektif ini melalui metode verstehen-nya yang merupakan
awal terbentuknya sosiologi interpretif.33 Selain itu, teori Weber tentang tindakan,
yang menekankan interpretasi individu tentang situasi dan pentingnya makna
subyektif, sangat berpengaruh terhadap awal mula perkembangan perspektif
interaksionisme simbolik. Sementara itu, kontribusi Georg Simmel bagi perspektif
ini nampak dari ide dasarnya tentang masyarakat yang ia pandang sebagai suatu
sistem interaksi, yang menempatkan individu sebagai bagian terpenting dari
sistem sosial, dimana pada level individu inilah proses interaksi terjadi dan
kemudian menggema hingga membentuk masyarakat. Istilah yang digunakan
Simmel untuk melukiskan proses ini adalah “geometry of social space.”34 Setelah
kita memahami akar sejarah perspektif interaksionisme simbolik, tentu saja kita
sudah bisa sedikit meraba karakteristik dari perspektif ini dibandingkan dengan
perspektif-perspektif lain dalam sosiologi. Dalam pembahasan selanjutnya, kita
akan lebih fokus lagi dalam melihat ide-ide dasar yang dikembangkan oleh
perspektif ini untuk melihat realitas sosial yang ada di masyarakat.
2. Ide-Ide Dasar Perspektif Interaksionisme Simbolik
Kalau kita coba untuk merunut ide-ide awal dari para tokoh utama perspektif
ini, seperti Mead, Cooley, Thomas, dan Park, yang kemudian disintesiskan oleh
Blumer sebagai pencetus istilah interaksionisme simbolik hingga munculnya

31
Joel M. Charon, op.cit., hlm.28.
32
Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.237.
33
Ibid., hlm.238; Charless A. Pressler dan Fabio B. Dasilva, Sociology and Interpretation: from
Weber to Habermas (New York: State University of New York Press, 1996), hlm.x.
34
Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.239.

13
generasi penerus seperti Manford Kuhn melalui mazhab Iowa-nya35 serta Erving
Goffman lewat dramaturginya, setidaknya ada beberapa istilah kunci yang perlu
untuk kita pahami terlebih dahulu sebelum kita bisa menggambarkan lebih jauh
bagaimana perspektif ini bekerja. Beberapa istilah kunci tersebut berkenaan
dengan definisi tentang makna simbol, diri (self), interaksi sosial, dan masyarakat.
Dari nama perspektif ini saja kita bisa memahami sejauh mana urgensi simbol
mempengaruhi seluruh konsep dasar dan cara kerja perspektif ini. Oleh karena itu,
definisi tentang simbol perlu untuk kita kaji lebih jauh. Definisi tentang simbol
yang dianut oleh perspektif ini tercermin dari ide-ide Mead yang kemudian
dielaborasi lebih jauh oleh tokoh-tokoh sesudahnya, termasuk Blumer sendiri.
Simbol dalam perspektif ini didefinisikan sebagai objek sosial yang digunakan
untuk merepresentasikan apapun yang disepakati untuk direpresentasikan.36 Bisa
dikatakan, sebagian besar tindakan manusia merupakan simbol, karena ditujukan
untuk merepresentasikan sesuatu melebihi kesan pertama yang kita terima, seperti
orang akan tersenyum ketika menyukai lawan bicaranya, atau seseorang
menyalakan lampu sinyal mobil untuk menunjukkan bahwa ia akan berbelok.
Begitu juga dengan obyek lainnya. Bunga, misalnya, ia bisa menjadi simbol tetapi
bisa juga bukan merupakan simbol. Ketika bunga digunakan sebagai obat-obatan
atau untuk campuran makanan, maka ia bukanlah simbol. Tetepi apabila bunga
digunakan untuk menyatakan rasa cinta pada orang lain maka ia menjadi simbol.
Definisi tentang simbol seperti ini membawa kita pada tiga premis dasar dalam
perspektif interaksionisme simbolik,sebagaimana yang diungkapkan oleh Blumer,
yaitu: (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki
oleh sesuatu tersebut bagi mereka; (2) makna dari sesuatu tersebut muncul dari
interaksi sosial seseorang dengan yang lainnya; dan (3) makna tersebut
disempurnakan melalui sebuah proses interpretasi pada saat seseorang

35
Perspektif interaksionisme simbolik yang digagas oleh Manford Kuhn ini disebut mazhab Iowa
sesuai dengan tempat dimana Kuhn mengajar, Iowa State University, seringkali dibedakan dengan tokoh-
tokoh lainnya seperti Mead, Blumer, maupun Park yang lebih terkenal sebagai mazhab Chicago. Perbedaan
utama dari kedua mazhab ini lebih terletak pada metodologinya, dimana mazhab Iowa lebih bersifat
empirik dan ilmiah dengan penggunaan kuesioner, sementara mazhab Chicago lebih menekankan pada
metodologi kualitatif melalui observasi partisipatoris, wawancara mendalam, studi biografi, dan metode
kualitatif lainnya, lihat: Ritzer, op.cit., hlm.202-203 dan Turner, op.cit., hlm.352.
36
Joel. M. Charon, op.cit., hlm.40.

14
berhubungan dengan sesuatu tersebut.37 Dari ketiga premis yang dilontarkan oleh
Blumer ini, bisa kita simpulkan bahwa kedudukan makna simbol sangatlah urgen,
sebab ia menjadi dasar bagi manusia untuk melakukan suatu tindakan. Disamping
itu, hal ini juga mengindikasikan begitu pentingnya ketiga istilah kunci lainnya
dalam memahami perspektif interaksionisme simbolik.
Istilah kunci kedua yaitu definisi tentang diri (self). Dalam perspektif
interaksionisme simbolik, secara sederhana “self”didefinisikan sebagai suatu
objek sosial dimana aktor bertindak terhadapnya. Maksudnya, kadangkala aktor
atau individu bertindak terhadap lingkungan yang berada di luar dirinya, namun
terkadang ia juga melakukan tindakan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Dengan menjadikan “diri” sebagai obyek sosial, seseorang mulai melihat dirinya
sendiri sebagai obyek yang terpisah dari obyek sosial lain yang ada di
sekelilingnya karena dalam berinteraksi dengan yang lain, ia ditunjuk dan
didefinisikan secara berbeda oleh orang lain, semisal: “kamu adalah mahasiswa”,
atau “kamu adalah mahasiswa yang pintar.” Hal ini tentu saja mengindikasikan
bahwa “diri” akan selalu didefinisikan dan didefinisikan kembali dalam interaksi
sosial sesuai dengan situasi yang dihadapi.38 Dengan demikian, persoalan tentang
penilaian dan identitas diri juga sangat terkait dengan situasi bagaimana seseorang
harus mendefinisikan dan mengkategorikan dirinya. Salah satu contoh kongkret
perubahan yang radikal tentang bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri
terlihat jelas melalui studi Goffman tentang institusi penjara, tempat dimana para
tahanan “dipaksa” untuk memanipulasi dunia personalnya melalui serangkaian
isolasi, degredasi, maupun penghinaan diri sehingga ia harus mendefinisikan
kembali konsep tentang dirinya.39
Istilah ketiga yang perlu kita perhatikan disini adalah konsep tentang interaksi
sosial. Dalam perspektif interaksionisme simbolik, interaksi sosial didefinisikan
berkenaan dengan tiga hal: tindakan sosial bersama, bersifat simbolik, dan

37
Herbert Blumer, Symbolic Interactionism: Perspective and Method (New Jersey: Prentice Hall,
1969), hlm.80-91dan Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.254-258.
38
Lihat: Peter L. Berger, Invitation to Sociology (New York: Anchor Books, 1963), hlm.106.
39
Erving Goffman, Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and other Inmates
(New York: Anchor Books, 1961), hlm.14-60.

15
melibatkan pengambilan peran.40 Contoh yang sederhana untuk menggambarkan
interaksi sosial adalah permainan catur. Ketika seseorang menggerakkan sebuah
biji catur, seringkali ia sudah memiliki rencana untuk menggerakkan biji catur
berikutnya. Namun, ketika pihak lawan merespon dengan menggerakkan biji
tertentu, maka ia akan berupaya untuk menginterpretasikan langkah lawannya,
mencoba untuk memahami makna dan maksud dari langkah pihak lawan dan
kemudian berupaya untuk bisa menentukan langkah terbaik yang harus diambil,
meski langkah tersebut berbeda dengan rencana sebelumnya. Dari contoh
sederhana ini nampak jelas bahwa dalam interaksi sosial kita belajar tentang
orang lain dan berharap sesuatu dari orang tersebut melalui pengambilan peran
atau memahami situasi melalui perspektif orang lain untuk selanjutanya
memahami diri, apa yang kita lakukan, dan harapkan. Oleh karena itu, interpretasi
menjadi faktor dominan dalam menentukan tindakan manusia. Tidak seperti
kebanyakan teoritisi psikologis yang melihat tindakan manusia berdasarkan
pendekatan rangsangan dan respon, akan tetapi, setelah manusia menerima respon
maka ia akan melakukan proses interpretasi terlebih dahulu sebelum menentukan
tindakan apa yang harus diambil.41
Istilah keempat yang cukup mendasar dalam perspektif interaksionisme
simbolik adalah konsep tentang masyarakat. Sejalan dengan konsep-konsep dasar
sebelumnya, yang lebih menekankan pada pentingnya individu dan interaksi,
perspektif ini lebih melihat masyarakat sebagai sebuah proses, dimana individu-
individu saling berinteraksi secara terus-menerus. Blumer sendiri menegaskan
bahwa masyarakat terbentuk dari aktor-aktor sosial yang saling berinteraksi dan
dari tindakan mereka dalam hubungannya dengan yang lain.42 Jadi jelas, bahwa
masyarakat merupakan individu-individu yang saling berinteraksi, saling
menyesuaikan tindakan satu dengan lainnya selama berinteraksi, serta secara
simbolik saling mengkomunikasikan dan menginterpretasikan tindakan masing-
masing. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa masyarakat merupakan produk

40
Joel M. Charon, op.cit.,hlm.146-150.
41
Herbert Blumer, op.cit., hlm.8; Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit. hlm.252-254.
42
Herbert Blumer, op.cit., hlm.540.

16
dari individu yang dipandang sebagai aktor yang bersifat aktif dan selalu
berproses.
Akhirnya, bisa disimpulkan disini bahwa interaksionisme simbolik sebagai
suatu perspektif melalui empat ide dasar. Pertama, sismbolik interaksionisme
lebih memfokuskan diri pada interaksi sosial, dimana aktivitas-aktivitas sosial
secara dinamik terjadi antar individu. Dengan memfokuskan diri pada interaksi
sebagai sebuah unit studi, perspektif ini telah menciptakan gambaran yang lebih
aktif tentang manusia dan menolak gambaran manusia yang pasif sebagai
organisme yang terdeterminasi.43 Kedua, tindakan manusia tidak hanya
disebabkan oleh interaksi sosial akan tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi yang
terjadi dalam diri individu. Ketiga, fokus dari perspektif ini adalah segala bentuk
tindakan yang dilakukan pada waktu sekarang, bukan pada masa yang telah
lampau. Keempat, manusia dipandang lebih sulit untuk diprediksi dan bersikap
lebih aktif, maksudnya, manusia cenderung untuk mengarahkan dirinya sendiri
sesuai dengan pilihan yang mereka buat.44
C. Aplikasi Perspektif Interaksionisme Simbolik: Upaya Memahami Fenomena
Keagamaan
Sebagaimana telah diindikasikan sebelumnya bahwa mengaplikasikan suatu
perspektif dalam sosiologi untuk menjelaskan fenomena keagamaan bukanlah sesuatu
yang mudah, mengingat setiap perspektif memiliki karakteristik masing-masing.
Tidak sedikit suatu penelitian yang diklaim bersifat sosiologis terjebak hanya
mengupas masalah peran dan fungsi sosial agama sehingga terkesan abstrak dan
dangkal. Padahal kalau kita mau lebih jauh melihat perspektif-perspektif yang ada
dalam sosiologi maka akan terpampang berbagai alternatif untuk mengupas suatu
fenomena keagamaan secara lebih mendalam.
Sebenarnya, hal pertama yang harus dilakukan ketika kita memutuskan untuk
menggunakan perspektif sosiologis dalam mengungkap fenomena keagamaan yang
ada adalah dengan mengkaji terlebih dahulu fenomena tersebut. Apakah fenomena itu

43
Hal ini mengisyaratkan bahwa perspektif interaksionisme simbolik menempatkan dirinya pada
posisi pendukung utama dominasi agensi dalam problem agensi-struktur yang telah dibahas sebelumnya.
Selain itu, penekanan unit analisis pada level interaksi individual mengindikasikan posisi perspektif ini
yang mengedepankan sisi sosiologi mikro.
44
Joel M. Charon, op.cit., hlm.23-24.

17
mencakup sistem keagamaan secara menyeluruh ataukah hanya mengupas salah satu
aspek dari sistem keagamaan saja, misalnya mengupas masalah ritualnya saja, atau
masalah penggunaan identitas keagamaan. Keluasan sekup permasalahan yang ingin
diungkap tentu saja akan berpengaruh terhadap pemilihan perspektif yang tepat.
Selain itu, untuk menghindari kesulitan dalam standar keluasan obyek yang masuk
dalam kategori makro atau mikro,45 kita dapat memanfaatkan istilah-istilah kunci
dalam masing-masing perspektif yang biasanya menunjukkan bidang kajian yang
dominan dari masing-masing perspektif. Perspektif konflik, misalnya, menekankan
pada konsep-konsep dasar tentang ketidakadilan, kekuasaan, konflik, kompetisi, dan
eksploitasi. Ketika kita ingin mengungkap masalah keterkaitan antara agama dengan
konsep-konsep tersebut, misalnya tentang gerakan keagamaan yang terjun langsung
ke dunia politik praktis, mungkin akan lebih menarik kita menggunakan perspektif
konflik ini sebagai pisau analisisnya. Karena tidak ada satu pun perspektif yang
mampu untuk mengungkap seluruh realitas sosial,46 maka ketepatan dalam memilih
perspektif tentu saja akan sangat berpengaruh pada hasil akhir dari suatu penelitian.
Terlebih lagi, hal ini juga terkait dengan metode penelitian yang akan digunakan
sebab biasanya masing-masing perspektif juga merekomendasikan metode penelitian
yang berbeda seperti yang disarankan oleh para pengusung dari masing-masing
perspektif.
Dalam bagian akhir dari tulisan ini, kita akan mencoba melihat bagaimana
perspektif interaksionisme simbolik bisa diaplikasikan dalam memahami fenomena
keagamaan. Untuk bisa mendapatkan hasil analisis yang maksimal, setidaknya
langkah awal yang perlu untuk dipahami terlebih dahulu adalah mencoba
menganalisis kira-kira fenomena keagamaan seperti apa yang pas untuk dibidik
melalui perspektif ini. Sebagaimana yang telah kita pahami bahwa perspektif
interaksionisme simbolik memberikan penekanan pada beberapa konsep, seperti:
simbol, makna, interaksi, dan definisi. Dengan kata lain, perspektif ini memfokuskan
perhatiannya pada peran makna dalam kehidupan manusia, terutama cara-cara mereka

45
Dikalangan sosiolog sendiri memang muncul perbedaan mengenai keluasan obyek kajian yang
bisa disebut makro atau mikro, disini Rendall Collins menawarkan alternatif dengan memperhatikan tiga
hal: waktu, ruang, dan jumlah sekaligus. Lihat: Stephen K. Sanderson, Sosiologi Makro (Jakarta: Rajawali
Press, 1995), hlm.22-25.
46
Joel M. Charon, op.cit., hlm.3.

18
dalam menggunakan simbol-simbol dalam berinteraksi dengan sesamanya. Oleh
karena itu, aspek simbol-simbol keagamaan, ritual, kepercayaan, pengalaman
keagamaan serta komunitas keagamaan merupakan unit-unit yang sesuai intuk
diungkapkan lebih jauh melalui perspektif interaksionisme simbolik.
Sebagai contoh, katakanlah kita ingin melakukan suatu penelitian tentang otoritas
kyai dalam kehidupan keseharian di pesantren. Dengan menggunakan perspektif
interaksionisme simbolik maka penggalian data yang akan dilakukan bisa merangkum
keempat aspek keagamaan sebagaimana telah disebutkan diatas atau bahkan cukup
salah satu aspek saja untuk merekonstruksi bagaimana sebenarnya otoritas tersebut
berjalan dan pengaruhnya bagi komunitas pesantren lainnya, khususnya mungkin
dikalangan santri sebagai salah satu komponen utama dalam sebuah pesantren
disamping kyai. Dari aspek simbol keagamaan saja, mungkin kita bisa menjabarkan
lebih jauh berbagai macam simbol yang sering dijadikan media untuk menunjukkan
otoritas kyai. Tentu saja, pengertian simbol dalam perspektif ini tidak terbatas pada
obyek benda saja, akan tetapi juga meliputi segala macam tindakan manusia.47
Dengan mengungkapkan berbagai simbol, misalnya dari obyek benda, sorban
mungkin bisa menjadi salah satu wujud simbol yang membedakan antara kyai dengan
santri. Selain berfungsi sebagai identitas, sorban mungkin juga bisa memiliki makna
yang lebih jauh, misalnya menunjukkan tingginya ilmu yang dimiliki oleh kyai atau
merupakan gambaran keshalehan sang pemakai atau bahkan menunjukkan sosok
yang perlu untuk dihormati dan disegani. Interpretasi-interpretasi terhadap simbol
semacam ini bisa jadi hanya akan muncul dikalangan santri saja, mungkin bagi
masyarakat umum, sorban akan memiliki makna yang berbeda.
Selain itu, kita juga perlu untuk mengungkapkan simbol-simbol yang berwujud
perilaku yang secara langsung bisa kita indikasikan sebagai salah satu komponen
yang bisa menggambarkan otoritas kyai, misalnya perilaku santri yang biasanya
berebut untuk berjabat tangan dan mencium tangan kyai. Perilaku ini bisa jadi
merupakan suatu bentuk penghormatan akan otoritas yang dimiliki oleh sang kyai.
Bahkan mungkin kita bisa menemukan bentuk tindakan lain yang menyimbolkan
begitu besarnya otoritas sang kyai dimata santrinya. Kebiasaan untuk berebut sisa
47
Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.249 dan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann,
The Social Construction of Reality (New York: Anchor Books, 1966), hlm.76.

19
minuman kyai mungkin merupakan contoh yang bisa diungkapkan lebih jauh
maknanya.
Langkah selanjutnya, setelah kita mengungkapkan berbagai makna simbolik
tersebut kita bisa lebih jauh mengamati bagaimana interaksi sosial yang terjadi
diantara mereka. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya bahwa proses
pendefinisian dan pendefinisin kembali terhadap diri akan senantiasa terjadi selama
proses interaksi sosial berlangsung, maka perhatian terhadap jalannya interaksi sosial
diantara santri dan kyai menjadi kunci penting untuk merekonstruksi bagaimana
sebenarnya otoritas kyai berpengaruh terhadap perilaku santri. Ketika seorang santri,
misalnya, sudah mendefinisikan kyai sebagai sosok yang wajib dipatuhi dan disegani,
maka kita bisa melihat bahwa berbagai bentuk perilaku yang dianggap “aneh” akan
bisa dijelaskan lebih jauh. Dari sini, mungkin kita bisa lebih jauh mengungkapkan
premis dari perspektif ini bahwa masyarakat merupakan hasil dari individu yang
saling berinteraksi dengan menunjukkan kesamaan interpretasi makna diantara santri
terhadap simbol-simbol tertentu yang menyatukan mereka ke dalam sebuah
masyarakat moral, yaitu komunitas pesantren. Disini para santri memiliki rasa
keterikatan yang sama terhadap suatu simbol, yang mungkin juga diperkuat oleh
aspek keagamaan lain seperti kepercayaan dan ritual, dimana pada saat yang
bersamaan mereka juga memisahkan diri dengan masyarakat di luar pesantren yang
tidak memeliki kesamaan dan berbagi dalam dunia simbol tersebut. Konsep kesamaan
simbol yang kemudian secara otomatis menjadi identitas bersama secara tidak
langsung menunjukkan keunikan sistem interaksi yang mereka miliki melalui
berbagai macam aturan perilaku yang berbeda dengan masyarakat lainnya, khususnya
ketika mereka mendudukkan kyai sebagai satu-satunya figur yang patut untuk
dihormati dan dicontoh dalam segala aspek kehidupan.
Dengan memanfaatkan perspektif interaksionisme simbolik dalam memahami
fenomena otoritas kyai, gambaran yang muncul akan lebih berkenaan dengan
kehidupan sehari-hari di dunia pesantren melalui penafsiran berbagai macam simbol
dan model-model interaksi sosial yang muncul dalam komunitas tersebut. Mungkin
apabila kita menggunakan perspektif lain, misalnya perspektif konflik, maka fokus
otoritas akan lebih dikaitkan dengan masalah distribusi kekuasaan di pesantren,

20
termasuk didalamnya media-media yang digunakan untuk melegitimasi otoritas
tersebut. Terlebih lagi, perspektif ini juga menawarkan metodologi yang cukup
menarik untuk mengungkapkan kehidupan keagamaan sehari-hari, yaitu melalui
penggabungan metode etnografi dan sosiologi kualitatif.48 Hal ini tercermin dari
pendekatan induktif yang diterapkan oleh pencetus perspektif ini, Blumer, yang
berbeda dengan perspektif fungsionalism yang selalu berangkat dari serangkaian
hipotesis. Hal ini tentu saja akan memberikan keleluasaan kepada peneliti untuk
memunculkan fenomena keagamaan sehari-hari secara lebih natural. Terlebih lagi,
perangkat untuk pengumpulan data juga melalui prosedur yang fleksibel, yaitu
eksplorasi dan inspeksi. 49 Setelah itu, barulah analisis kualitatif digunakan untuk
menginterpretasikan data-data yang diperoleh di lapangan.
Akhirnya, mungkin kita perlu memperbanyak tulisan-tulisan tentang perspektif-
perspektif sosiologis yang bersifat aplikatif melalui berbagai macam contoh kasus
untuk lebih bisa memasyarakatkan perspektif-perspektif alternatif dalam sosiologi
sebab pemilihan perspektif hanyalah terkait dengan masalah seberapa jauh perspektif
tersebut bisa digunakan untuk menjawab permasalahan yang ingin diungkapkan
melalui sebuah penelitian. Selain itu, seorang sosiolog memang tidak memiliki
kewenangan untuk menilai kebenaran sebuah perspektif akan tetapi, sekali lagi,
wewenangnya hanyalah sebatas menentukan perspektif mana yang paling bermanfaat
untuk mengungkap fenomena sosial tertentu.

* Achmad Zainal Arifin, MA, alumni program master Sosiologi di University of Northern
Iowa (2006) melalui program beasiswa Fulbright dan alumni program master Ilmu
Perbandingan Agama CRCS-UGM (2003).

48
Ruth A. Wallace dan Alison Wolf, op.cit., hlm.263.
49
Metode eksplorasi memiliki dua tujuan penting, yaitu: menyediakan pengetahuan yang
komprehensif dengan lingkungan kehidupan sosial yang kurang familiar bagi peneliti dan untuk
mengembangkan, memfokuskan, serta mempertajam investigasi sehingga problem penelitian bisa
dipecahkan berdasarkan data-data murni dari lapangan. Sementara itu, metode inspeksi merupakan
kelanjutan dari eksplorasi, dimana hasil dari eksplorasi ditelaah lebih jauh. Dengan kata lain, metode
inspeksi merupakan peralihan dari proses deskriptif (explorasi) menuju proses analisis (inspeksi), lihat:
Herbert Blumer, op.cit., hlm.40-43.

21
Daftar Pustaka
Alexander, Jeffrey C. (Ed.), Neofunctionalism (California: Sage Publications, 1985).

Ballantine, Jeanne H. dan Leonard Cargan, Sociological Footprints (Belmont:


Wadsworth, 2002).

Berger, Peter L. dan Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (New York:
Anchor Books, 1966).

Berger, Peter L., Invitation to Sociology (New York: Anchor Books, 1963).

Blumer, Herbert, Symbolic Interactionism: Perspective and Method (New Jersey:


Prentice Hall, 1969).

Charon, Joel M., Symbolic Interactionism (New Jersey: Prentice Hall, 1995).

Coser, Lewis, The Functions of Social Conflict (Glencoe: The Free Press, 1956).

Creswell, John W., Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods
Approaches (California: Sage Publication, 2003).

Crow, Graham, Comaparative Sociology and Social Theory (New York: St. Martin’s
Press, 1997).

Dahrendorf, Ralf, “Out of Utopia: Toward a Reorientation of Sociological Analysis,”


American Journal of Sociology 64 (1958), hlm.127-130.

Dahrendorf, Ralf, Class and Class Conflict in Industrial Society (Stanford, CA: Stanford
University Press, 1959).

Gerth dan Mills, From Max Weber: Essays in Sociology (New York: Oxford University
Press, 1958).

Goffman, Erving, Asylums: Essays on the Social Situation of Mental Patients and other
Inmates (New York: Anchor Books, 1961).

Gutierrez, Gustavo, Teologi Pembebasan (Yogyakarta: Jendela, 2001).

Henslin, James M., Sociology: A Down to Earth Approach (Boston: Allyn and Bacon,
1995).

Kivisto, Peter, Key Ideas in Sociology (California: Pine Forge Press, 1998).

Kornblum, William, Sociology: The Central Questions (Orlando, Harcourt Brace, 1998).

22
Lazarsfeld, Paul dan Jeffrey Reitz, “History of Applied Sociology.” Sociological
Practice, 7, 1989: 43-52.

Merton, Robert K., Social Theory and Social Structure (New York: Free Press, 1968).

Neuman, Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches (Boston:


Allyn and Bacon, 2000).

Nitiprawiro, Francis Wahono, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya
(Yogyakarta : LKiS, 2000).

Pressler, Charless A. dan Fabio B. Dasilva, Sociology and Interpretation: from Weber to
Habermas (New York: State University of New York Press, 1996).

Ritzer, George, Sociological Theory (New York: McGraw-Hill Companies, 2000).

Sanderson, Stephen K., Sosiologi Makro (Jakarta: Rajawali Press, 1995).

Schutz, Alfred, The Phenomenology of Social World (Evanston, IL: Northwestern


University Press, 1967).

Turner, Jonathan H., Leonard Beeghley, dan Charles H. Powers, The Emergence of
Sociological Theory (Orlando: Wadsworth Publishing Company, 1995).

Turner, Jonathan H., The Structure of Sociological Theory, 7th edition (Belmont:
Wadsworth/Thompson Learning, 2003).

Wallace, Ruth A. dan Alison Wolf, Contemporary Sociological Theory (New Jersey:
Prentice Hall, 1991).

Westby, David L., The Growth of Sociological Theory (New Jersey: Prentice Hall, 1991).

Zietlin, Irving M., Memahami Kembali Sosiologi (Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 1995).

23