Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA II

HIDROLISIS SUKROSA

Oleh:

Annisa Nurul Chaerani

411109059

ANALIS KESEHATAN D3

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

JENDERAL AHMAD YANI

CIMAHI

2010
A. Tujuan

Mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa

B. Prinsip

Sukrosa dihidrolisis oleh asam akan menjadi monosakarida (glukosa dan fruktosa)

C. Dasar Teori

Karbohidrat adalah polihidroksidehida dan keton polihidroksil atau

turunannya. Selain itu juga dsususun oleh dua sampai delapan monosakarida yang

dirujuk sebagai oligosakarida. Karbohidrat mempunyai rumus umum berupa

CnH2nOn atau mendekati Cn(H2O)n yaitu karbon yang mengalami hidratasi. Di

alam, karbohidrat merupakan hasil sintesa CO2 dan H2O dengan pertolongan sinar

matahari dan hijau daun (klorofil). Hasil fotosintesis ini kemudian mengalami

polimerisasi menjadi pati dan senyawa-senyawa bermolekul besar lain yang

menjadi cadangan makanan pada tanaman. Organisme yang dapat mensintesa

makanan pada tanaman.


Penggolongan Karbohidrat Secara alami, ada tiga bentuk karbohidrat yang

penting yaitu:

1. Monosakarida

Monosakarida adalah karbohidrat yang sederhana, dalam arti molekulnya

hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan

dengan cara hidrolisis dalam kondisi lunak menkjadi karbohidrat lain.

Monosakarida yang paling sederhana ialah gliseraldehida dan

dihidroksiaseton. Contoh monosakarida diantaranya adalah:

a. Glukosa

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena

mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kearah kanan. Di

alam glukosa terdapat pada buah-buahan dan madu lebah.

b. Fruktosa

Fruktosa adalah suatu ketohektosa yang mempunyai sifat memutar

cahaya terpolarisasi ke kiri dan karenanya disebut levulosa. Fruktisa

mempunyai rasa manis lebih dari glukosa, juga lebih manis dari pada

gula tebu atau sukrosa.

2. Oligosakarida

3. Polisakarida

Pada umumnya polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih

kompleks daripada mono dan oligosakarida, Molekul polisakarida terdiri

atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu

macam monosakarida saja disebut homopolisakarida, sedangkan yang

menagdung senyawa lain disebut heteropolisakarida.


Umumnya polisakarida berupa senyawa berwarna putih dan tidak

berbentuk kristal, tidak memiliki rasa manis dan tidak memiliki sifat

mereduksi. Berat molekut polisakarida bervariasi dari beberapa ribu

hingga lebih dari satu juta. Polisakarida yang dapat larut dalam air akan

membentuk larutan koloid. beberapa polisakarida yang penting

diantaranya adalah amilim, glikogen, dekstrin dan selulosa.

Sukrosa oleh HCl dalam keadaan panas akan terhirolisis, lalu

menghasilkan glukosan dan fruktosa. Hal ini menyebabkan uji Benedict dan uji

Seliwanoff yang sebelum hidrolisis memberikan hasil negatif menjadi positif. Uji

Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa

menghasilakn monosakarida.

+HCl
Sukrosa ----------- Glukosa + Fruktosa

Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai sifat dapat mereduksi

terutama dalam suasan basa. Sifat sebagai reduktor ini dapat digunakan untuk

keperluan identifikasi karbohidrat maupun analisis kuantitatif. Sifat mereduksi ini

disebabkan oleh adanya gugus aldehida atau keton bebas dalam molekul

karbohidrat. Sifat ini tampak pada reaksi reduksi ion-ion logam misalnya ion Cu2+

dan ion Ag+ yang terdapat pada pereaksi-pereaksi tertentu.


Beberapa contoh diberikan sebagai berikut:

1. Pereaksi Benedict

Pereaksi benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat,

natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu 2+ dari

kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O.

Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat peraksi benedict bersifat

basa lemah. Endapat yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah

bata. Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang

diperiksa. Pereaksi Benedict lebih banyak digunakan pada pemeriksaan

glukosa dalam urine daripada pereaksi Fehling karena beberapa alasan.

Apabila dalam urine terdapat asam urat atau kreatinin, kedua senyaea ini dapat

mereduksi pereaksi Fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict.

Di samping itu pereaksi Benedict lebih peka daripada pereaksi Fehling.

Penggunaan pereaksi Benedict juga lebih mudah karena hanya terdiri atas satu

macam larutan, sedangkan pereaksi Fehling terdiri atas dua macam larutan.

2. Pereaksi Barfoed

Pereaksi ini terdiri atas larutan kupriasetat dan asam asetat dalam air,

dan digunakan untuk membedakan antara monosakarida dengan disakarida.

Monosakarida dapat mereduksi lebih cepat daripada disakarida. Jadi Cu2O

terbentuk lebih cepat oleh monosakarida daripada oleh disakarida, dengan

anggapan bahwa konsentrasi mopnosakarida dan disakarida dalam larutan

tidak berbeda banyak. Tauber dan Kleiner membuat modifikasi atas pereaksi

ini, yaitu dengan jalan mengganti asam asetat dengan asam laktat dan ion Cu +

yang dihasilkan direaksikan dengan pereaksi warna fosfomolibdat hingga


menghasilkan warna biru adanya monosakarida. Disakarida dengan

konsentrasi rendah tidak memberikan hasil positif. Perbedaan antara pereaksi

Barfoed dengan pereaksi Fehling atau Benedict ialah bahwa pereaksi Barfoed

digunakan pada suasana asam.

Apabila karbohidrat mereduksi suatu ion logam, karbohidrat ini akan

teroksidasi menjadi gugus karboksilat dan terbentuklah asam monokarboksilat.

Sebagai contoh galaktosa akan teroksidasi menjadi asam galaktonat,

sedangkan glukosa akan menjadi asam glukonat.


D. Bahan dan Alat

1. Larutan sukrosa 1%

2. Larutan iodium

3. Pereaksi benedict

4. Pereaksi barfoed

5. Pereaksi seliwanoff

6. Larutan HCl pekat

7. Larutan NaOH

8. Kertas lakmus

9. Tabung reaksi

10. Pipet tetes

11. Gelas ukur


E. Prosedur

1. Dimasukkan 5 ml larutan sukrosa 1% ke dalam tabung reaksi.

2. Ditambahkan 5 tetes HCl pekat, kemudian panaskan selama 30 menit.

3. Didinginkan, setelah dingin netralkan dengan larutan NaOH dan ujilah

dengan kertas lakmus.

4. Ujilah dengan benedict, seliwanoff, barfoed dan iodium.

5. Amati perubahan warna yang terjadi.


F. Hasil Percobaan

Perlakuan Uji Hasil Uji

5 ml larutan Benedict Endapan merah bata (+)

sukrosa 1% + 5 Seliwanoff Orange (+)

tetes HCl pekat + Barfoed Endapan merah bata (+)

pemanasan Iodium Kuning iodium (-)

Gambar 1 Hasil uji lakmus sebelum penetralan dengan NaOH dan setelah penetralan

Gambar 2 Hasil reaksi hidrolisis sukrosa


pada uji benedict terbentuk endapan merah bata (+)
Gambar 3 Hasil reaksi hidrolisis sukrosa
pada uji seliwanoff larutan berwarna orange (+)

Gambar 4 Hasil reaksi hidrolisis sukrosa


pada uji barfoed terbentuk endapan merah bata (+)

Gambar 5 Hasil reaksi hidrolisis sukrosa


pada uji iodium larutan berwarna kuning iodium (-)
G. Pembahasan

Pada uji benedict (untuk menentukan gula pereduksi) pada larutan uji

terbentuk endapan merah bata, yang menunjukkan positif (+) mengandung gula

pereduksi. Pada uji seliwanoff (untuk menentukan ketosa) larutan uji berwarna

orange, yang menunjukkan positif (+) mengandung ketosa. Uji barfoed (untuk

menentukan disakarida dan monoskarida) pada larutan uji terbentuk endapan

merah bata. Dan pada uji iodium (untuk menentukan polisakarida) larutan uji

berwarna kuning, menunjukkan hasil negatif (-) karena sukrosa bukan merupakan

polisakarida.

H. Kesimpulan

Hasil uji hidrolisis sukrosa positif (+) adalah pada uji benedict, uji

seliwanoff dan uji barfoed, sedangakan hasil negatif (-) adalah pada uji iodium.

Cimahi, 15 Juni 2010

Praktikan
DAFTAR PUSTAKA

http://yukiicettea.blogspot.com/2009/10/biochemistry-laporan-biokimia.html

http://www.gudangmateri.com/2010/02/biokimia-karbohidrat.html

http://www.x3-prima.com/2009/08/laporan-biokimia.html

http://barbienetter.blogspot.com/2010/01/laporan-hidrolisis-sukrosa-dan-pati.html

http://sebuahtulisan.wordpress.com/2009/05/03/laporan-karbohidrat/

http://id.shvoong.com/tags/laporan-hidrolisis-sukrosa

http://arifqbio.multiply.com/journal/item/15/Seri_Pengantar_Biokimia