P. 1
Visi Perekonomian Indonesia 2030_Lukkim_FE UNS

Visi Perekonomian Indonesia 2030_Lukkim_FE UNS

|Views: 1,128|Likes:
Dipublikasikan oleh Lukman Hakim Hassan

More info:

Published by: Lukman Hakim Hassan on Jun 23, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2012

pdf

text

original

1

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

2

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Visi Perekonomian Indonesia 2030 Cetakan Pertama, Mei 2009 Badan Penerbit Ekonomi Pembangunan (BPEP) UNS Jl. Ir. Sutami 36 A, Kentingan, Solo, 57136. Telp/Fax +62271-668607, 668609 Editor: Lukman Hakim, Dwi Prasetyani, Hery Sulistyo JNS Desain Sampul: Lestude Penata Letak: elha Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit

Perpusatakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Visi Perekonomian Indonesia 2030 /Lukman Hakim, Dwi Prasetyani, Hery Sulistyo JNS, Cetakan 1, Solo: BPEP, 2009. vii + 200 hlm: 14 cm x 21 cm ISBN 978-979-17320-0-0

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

3

Buku ini didedikasikan kepada Guru dan Kolega Kami Yang Telah Purna Tugas Prof. Dr. Suharno TS, SU Drs. Darustam, BSc Drs. Suhardi Dra. Kustini Dra. GAA. Susilowati, SU Drs. Sri Mulyono, MSi Semoga semangat perjuangannya dalam pendidikan dan pengembangan ilmu ekonomi dapat menginspirasi kami untuk terus melanjutkannya

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

4

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Daftar Isi
Daftar Isi Tentang Penulis Sumber Tulisan Pengantar Editor Kata Pengantar 1. Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030 Lukman Hakim Hery Sulistyo JNS 2. Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter Lukman Hakim Siti Aisyah Hery Sulistyo JNS 3. Reformulasi DAU Mendorong Pembangunan Daerah Mulyanto Lukman Hakim 4. Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Akhmad Daerobi Hery Sulisyo JNS Tetuko Rawidyo Putro v vi viii ix x 1

31

49

67

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

5

5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan Bhimo Rizky Samudro 6. PerencanaanTenaga Kerja Daerah Sutomo Yunastiti Purwaningsih Yuliana Kartikasari 7. Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah Sumardi Dwi Prasetyani Index

105 121

149

183

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

6

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tentang Penulis
AKHMAD DAEROBI adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Salatiga dan menyelesaikan S-1 di Jurusan Ekonomi Pembangunan Fak. Ekonomi UNS. Gelar S-2 diperoleh dari Program Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran (Unpad). Saat ini tengah mengambil S-3 di Universitas Diponegoro. BHIMO RIZKY SAMUDRO adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Yogyakarta dan mendapatkan gelar S-1 dan S-2 dari Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi UGM. Ketika buku ini ditulis tengah melakukan persiapan studi lanjut di Curtin University of Technology, Australia. DWI PRASETYANI adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Boyolali dan memperoleh gelar S-1 dari Jurusan Ekonomi Pembangunan Fak. Ekonomi UNS. Menyelesaikan S-2 pada Program Magister Ekonomika Pembangunan UGM. Saat ini, menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Program Studi Ekonomi Pembangunan Non Reguler UNS. HERY SULSITYO JNS adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Palu dan menyelesaikan S-1 dari Jurusan Ilmu Ekonomi (IE) Fak. Ekonomi UGM. Saat ini tengah menempuh S-2 di Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). LUKMAN HAKIM adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Ambarawa dan mendapatkan gelar S-1 dan S-2 dari Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi UGM. Ketika buku ini diterbitkan tengah menyelesaikan S-3 di Universiti Utara Malaysia, Malaysia. MULYANTO adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Klaten dan menyelesaikan S-1 pada Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi UNS. Gelar S-2 diperoleh dari Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Saat ini tengah mengambil S-3 di Universitas Diponegoro.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

7

SITI AISYAH TRI RAHAYU adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Cilacap dan mendapatkan gelar S-1 dan S-2 dari Jurusan Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi UGM. Saat ini tengah menyelesaikanS-3 di Universitas Gadjah Mada. SUMARDI adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Klaten dan menyelesaikan S-1 dari Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi UNS. Saat ini menempuh S-2 di Program Pascasarjana UNS. SUTOMO adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Boyolali dan mendapatkan gelar S-1 pada Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi UNS. Gelar S-2 diperoleh dari Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI). Saat ini tengah menjabat sebagai Pembantu Dekan I Fak. Ekonomi UNS. TETUKO RAWIDYO PUTRO adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Yogyakarta dan menyelesaikan S-1 di Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fak. Ekonomi Universitas Airlangga (Unair). Gelar S-2 diperoleh dari Program Pascasarjana UGM. Saat ini tengah mengambil S-3 di Universitas Gadjah Mada. YUNASTITI PURWANINGSIH adalah dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan UNS. Lahir di Surakarta dan mendapatkan gelar S1 dan S-2 dari UGM. Saat ini tengah menyelesaikan S-3 di Universitas Gadjah Mada. YULIANA KARTIKASARI adalah lulusan Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UNS.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

8

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Sumber Tulisan
1. Bangsa Maritim Sejahtera dan Merata: Visi Indonesia 2030, merupakan makalah yang tulis dalam rangka Lomba Skenario Perencanaan Pembangunan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, 2006. 2. Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter merupakan makalah dalam rangka Lomba Simulasi Inflasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia, 2006, mendapatkan penghargaan peringkat ke-empat. 3. Reformulasi DAU Mendorong Pembangunan Daerah merupakan makalah dalam rangka Lomba Reformulasi DAU yang diselenggarakan oleh LPEM UI dan Depdagri, 2005, yang mendapatkan perhargaan sebagai pemenang pertama. 4. Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan merupakan makalah yang dipresentasikan dalam Konferensi Internasional IRSA 2006, di Malang 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan kemiskinan, makalah ini pernah dipresentasikan pada Konferensi Internasional IRSA 2006, di Malang. 6. Perencanaan Tenaga Daerah merupakan kertas kerja yang disampaikan pada forum diskusi Dewan Pengupahan Kota Surakarta pada tahun 2007. 7. Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah, merupakan kertas kerja yang telah disampaikan di beberapa Kab/Kota antara lain di Kota Dumai, Kota Surakarta, Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Klaten, Kabupaten Jepara, Kabupaten Mamuju Utara dan Kabupaten Mamasa.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

9

Pengantar Editor
Menumbuhkan tradisi intelektual pada sebuah perguruan tinggi bukan perkara mudah.Tradisi intelektual biasanya diwujudkan dalam tradisi riset yang dipublikasikan dalam bentuk jurnal atau buku. Sudah banyak jurnal yang dimiliki perguruan tinggi baik yang telah maupun belum terakreditasi. Namun yang masih relatif terabaikan adalah buku tematik yang menyoal masalah tertentu. Penerbitan buku ini dalam rangka mengisi kekosongan itu. Sejak tahun 2005, banyak dosen di lingkungan Jurusan Ekonomi Pembangunan menulis paper dalam rangka lomba ataupun konferensi nasional maupun internasional. Beberapa dari paper itu mendapatkan penghargaan. Namun sebagian besar kalangan civitas akademika di lingkungan internal maupun eksternal tidak pernah mengetahuinya. Agar makalah-makalah tersebut dapat juga disimak oleh civitas akademika, maka kami menerbitkannya dalam bentuk buku ini. Buku ini berisi 7 (tujuh) artikel terpilih yang mencakup topik perencanan, moneter, fiskal daerah, pertanian, kemiskinan, lingkungan, dan ketenagakerjaan. Tulisan-tulisan ini diharapkan dapat memberikan visi bagi pembangunan Indonesia, sesuai dengan judul buku ini “Visi Perekonomian Indonesia 2030”. Terakhir buku ini didedikasikan kepada guru dan sekaligus kolega , pada Jurusan Ekonomi Pembangunan yang telah memasuki masa purna tugas yakni Prof. Dr. Suharno TS, SU, Drs. Darustam, BSc, Drs. Suhardi, Dra. Kustini, Dra, GAA Susilowati, SU, Drs. Sri Mulyono, MSi. Semoga semangat perjuangannya dalam bidang ekonomi dapat menginspirasi kami untuk terus melanjutkannya. Solo, Mei 2009 LH, DP, HS

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

10

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Kata Pengantar Kajur
Prakarsa untuk menerbitkan beberapa karya ilmiah rekan-rekan dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan (JEP) FE UNS patut didukung sepenuhnya. Banyak karya-karya dosen baik dalam rangka riset maupun presentasi illmiah pada skala lokal, regional, maupun internasional hanya tersimpan di dalam arsip. Dan tidakada upaya untuk mempublikasikannya. Hal ini patut disayangkan, karena seharusnya karya-karya ilmiah itu dapat diseminasikan kepada publik sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial dan upaya menjawab masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Oleh sebab itu, penerbitan kumpulan artikel ini merupakan salah satu cara mensosialisasikan ide dan wacana kepada masyarakat luas. Selain itu, penerbitan buku ini juga dapat menjadi barometer tradisi intelektual di kalangan para dosen. Ini sekaligus akan memacu penumbuhkembangan tradisi riset dan menulis pada civitas akademika yang merupakan bagian tak terpisahkan sebagai insan akademis. Kami bertekad setiap tahun Jurusan Ekonomi Pembangunan dapat memfasilitasi penerbitan karya-karya ilmiah dosen dalam bentuk buku seperti ini. Akhirnya pada kesempatan ini, kami selaku pimpinan Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UNS mengucapkan selamat atas penerbitan buku ini dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu kelancarannya. Solo, Mei 2009 Ketua Jurusan Drs. Kresno Sarosa Pribadi, MSi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

11

Kata Pengantar Dekan
Selaku pimpinan Fakultas Ekonomi UNS, kami menyambut baik penerbitan buku “Visi Perekonomian Indonesia 2030” . Ini merupakan langkah tepat untuk memulai menerbitkan karya-karya ilmiah civitas akademika dalam bentuk buku. Dengan ini semoga buah pemikiran dari kalangan kampus dapat tersosialisasi pada seluruh pihak pemangku kepentingan (stakeholders). Demikian halnya, dengan judul buku “Visi Perekonomian Indonesia 2030” juga mempunyai makna yang dalam. Mengingat sejak lahirnya Undang-undang No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) pemerintah pada tingkat nasional maupun daerah harus mempunyai Rencana Pembangunan Jangka Panjang (PRJP) 20 tahunan. Belum banyak akademisi maupun pakar yang membahas topik visi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang secara komprehensif. Oleh sebab itu, buku ini diharapkan dapat mengisi kekosongan itu. Dalam buku ini visi perekonomian masa depan ditinjau dari berbagai aspek diantaranya adalah scenario planning, moneter, pembangunan daerah, lingkungan dan ketenagakerjaan. Terakhir selaku pimipinan Fakultas Ekonomi UNS, kami berharap , buku ini dapat menginspirasi kolega-kolega yang lain agar selalu menerbitkan hasil-hasil riset mereka, sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat luas. Solo, Mei 2009 Dekan Prof. Dr. Bambang Sutopo, M.Com

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

12

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

1

13

BANGSA MARITIM SEJAHTERA & MERATA: VISI INDONESIA 2030
LUKMAN HAKIM HERY SULISTYO JNS

PENDAHULUAN Perubahan orientasi pembangunan dari paradigma daratan menjadi lautan, mutlak dilakukan pada Pembangunan Jangka Panjang (PJP) 20 tahun yang akan datang. Indonesia adalah bangsa yang mempunyai luas wilayah 2/3 persen atau 3.302.498 juta km2 adalah lautan, sisanya 1/3 persen atau 1.890.754 km2 adalah daratan. Dominasi lautan itu menyebabkan Indonesia menjadi negara kepulauan dengan jumlah pulau sebanyak 18.110 buah. Namun selama ini, orientasi pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah adalah membangun daratan dan melupakan lautan. Peristiwa dua tahun terakhir ini khususnya gempa di berbagai daerah dan sebagian terjadi Tsunami mengingatkan kita bahwa kita hidup di daerah kepulauan yang rentan terhadap bencanabencana itu. Selama pelaksanaan Pembangunan Jangka Panjang (PJP) tahap pertama yang dijalankan sejak tahun 1969 sampai dengan 1994 dan diteruskan hingga saat ini lebih memfokuskan kepada paradigma daratan dari pada lautan. Paradigma pembangunan yang dominan selama itu adalah memfokuskan tranformasi struktural dari sektor pertanian ke industri dan jasa. Cetak biru tranformasi struktural ini berasal dari pemikiran Barat yang telah diterapkan diberbagai negara negara yang dominasi wilayahnya adalah daratan seperti Eropa dan Amerika Serikat. Tentu saja hal ini menyebabkan cetak biru pembangunan “ daratan” itu tidak sesuai dengan keadaan Indonesia yang didominasi oleh kelauatan. Maka pemahaman di mana kita berdiri dan hidup menjadi sangat penting dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2030.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

14

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Pada masa akhir kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 2004 terlahir salah satu undang-undang yang sangat penting dalam bidang perencanaan pembangunan yakni Undang-undang Nomor 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Undang-undang SPPN ini merupakan tonggak bersejarah bagi perencanaan pembangunan di Indonesia. Jika pada sistem perencanaan sebelumnya hanya berdasarkan atas Keputusan Presiden atau Keputusan Menteri, maka dengan UU SPPN ini, sistem perencanaan pembangunan dipayungi oleh undangundang. Ini menyebabkan posisi perencanaan pembangunan serta lembaga pelaksanan menjadi semakin kuat. Apabila pada masa reformasi yang lalu, posisi lembaga perencanaan pembangunan Bappenas dan Bappeda sempat terabaikan, dengan UU SPPN menjadi semakin kokoh seperti halnya pada masa Orde Baru. UU SPPN ini mengatur perencanaan pembangunan berjangka yakni jangka pendek (satu tahun) yang disebut dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP), jangka menengah (lima tahun) atau Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan jangka panjang (20 tahun) yang dinamakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) baik untuk tingkat nasional maupun daerah. Dalam sejarah pembangunan Indonesia, perencanan pembangunan berjangka sudah kerap dilakukan baik pada masa Demokrasi Parlementer, Demokrasi Terpimpin sampai dengan Orde Baru. Pembangunan berjangka menengah atau lima tahunan yang telah diterapkan pada masa sebelum Orde Baru adalah Rencana Juanda 1956 s/d 1960; Pembangunan Nasional Semesta Berencana 1961 s/d 1969. Namun karena ketiadaan dukungan dana pembiayaan yang memadai dan juga adanya ketidakstabilan politik, maka kedua perencanaan itu tidak berjalan secara optimal (Kunarjo 1992: 10). Perencanaan pembangunan yang berjalan secara optimal adalah pada masa Orde Baru, yakni 1969 s/d 1973 (Repelita I); 1973/74 s/d 1978/79 (Repelita II); 1979/1980 s/d 1982/1983 (Repelita III); 1983/1984 s/d 1988/1989 (Repelita IV); 1989/1990 s/d 1993/ 1994. Rangkaian Repelita dari tahun 1969 sampai 1994 itu disebut Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) I di mana dasar

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

15

normatifnya terdapat di GBHN yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tiap 5 tahun sekali. Tidak dapat dipungkiri bahwa kesinambungan Pembangunan Jangka Panjang I ini karena faktor stabilitas politik Pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto yang dalam kurun waktu itu berkuasa. Hipotesis adanya ketidakstabilan politik akan menghancurkan sistem perencanaan terbukti dengan RPJP ke-2 yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah Orde Baru mulai tahun 1994/1995 sampai 2014/ 2015, namun seiring dengan jatuhnya regim Orde Baru pada tahun 1998 menyusul adanya krisis ekonomi 1997 menyebabkan RPJP ke-2 “Orde Baru” itu terhenti. Berdasarkan pengalaman seperti itu, jelas bahwa RPJP akan dapat diterapkan jika prasyarat stabilitas politik terpenuhi. Dengan kata lain selama kurun waktu itu penguasa tidak pernah ganti, seperti halnya Pemerintah Orde Baru. Situasi ini tidak memungkinkan pada masa sistem presidensial yang dibatasi hanya dua periode. Dengan sistem presidensial murni yang berlaku dewasa ini, menurut Silalahi (2005) Presiden terpilih tidak perlu menyusun RPJP melainkan , cukup Rencana Pembangunan Lima Tahun saja. Dalam sistem presidensial ini, UUD sudah dapat dianggap sebagai RPJP, karena dari pembukaan sampai pasal-pasalnya merupakan arah dan pedoman pembangunan nasional. Penyusunan RPJP dapat diinterpretasikan sebagai pemaksaan terhadap presiden terpilih untuk menuruti policy presiden sebelumnya (pembuat RPJP). Sementera itu, menanggapi pandangan ini, Rachbini (2005) – Ketua Pansus RPJP DPR RI – lebih mengedepankan azas manfaat. Menurutnya RPJP merupakan penjabaran visioner yang akan membantu menjabarkan secara lebih komprehensif dan lebih sistematis UUD 1945. Pada prinsipnya UUD 1945 tidak melarang upaya menjelaskan konsep masa depan yang disusun dalam bentuk Undang-undang. Bahkan dengan ini justru baik pemerintah maupun DPR dapat bersama-sama merancang sebuah masa depan secara lebih holistik. Rancangan masa depan yang menjangkau 20 tahun dalam bentuk visi dan misi sangat diperlukan oleh Indonesia seperti dilakukan oleh negara lain antar lain Malaysia, Korea dan China.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

16

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Permasalahannya dalam draft RPJP kedua yang disampaikan oleh Pemerintah kepada DPR tetap mengedepankan pada paradigma daratan. Ini menandakan bahwa diantara kita belum sepenuhnya melihat arti pentingya lautan bagi bangsa ini. Demikian juga pendekatan yang dipakai oleh Sastrosoenarto (2006) yang menyusun buku cukup komprehensif tentang visi Indonesia 2030, namun tetap mendasarkan pada pendekatan daratan. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah pemikiran alternatif yang justru melihat masalah laut sebagai faktor paling penting dalam mengembangkan Indonesia di masa yang akan datang. Termasuk dalam penyusunan skenario dan visi Indonesia tahun 2030 ini diupayakan untuk mengacu paradigma kemaritiman. METODOLOGI Referensi utama dalam penyusunan skenario dan visi Indonesia 2030 adalah beberapa literatur pokok dalam manajemen strategis yang biasanya mengambil kasus pada tingkat korporat (Miller 1998). , Beberapa korporat yang merupakan pioner dalam penyusunan visi, misi dan skenario dalam jangka panjang antara lain adalah General Electric perusahaan yang bergerak dalam bidang perkakas elektronik dari Amerika Serikat dan dan perusahaan minyak Belanda Royal Dutch/Shell. Shell misalnya, sejak tahun dekade tahun 1960-an hingga tahun 2000-an ini konsisten membuat skenario 25 tahunan (Ringland, 1998). Dalam “Shell Global Scenarios to 2030”, Shell mempersiapkan diri menghadapi era penggunaan Hydrogen sebagai bahan bakar utama pada masa depan. Shell mempunyai tiga skenario global untuk tahun 2030 (Bentham, 2006) yaitu: 1. Rendahnya kepercayaan terhadap globalisasi (low trust globalization) yakni suasana di mana sebagian masyarakat mulai meragukan perdagangan bebas pada era yang bersifat legalistik (legalistic world); 2. Membuka pintu (open doors) yakni meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap investor pada era yang pragmatik (pragmatic world);

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

17

3. Bendera (flags) yakni menguatnya negara bangsa yang bersifat dogmatik (dogmatic world). Dalam perkembangannya, penyusunan skenario tidak hanya diterapkan pada perusahaan MNC, melainkan juga diimplementasikan di suatu negara. Sebagai contoh Klinec (2004) menyusun empat skenario untuk Slovakia yang terdiri atas: 1. “Industrial Periphery”, di mana terdapat pengembangan industri dan pasar dalam sistem politik yang partisan dan maraknya korupsi. 2. “Information Express”, di mana terdapat pengembagan teknologi informasi dan pasar dalam sistem demokrasi parlementer dan menguatnya masyarakat madani. 3. “Problematic Child”, di mana terdapat pengembangan industri dan momentum ekonomi dalam sistem politik yang partisan dan maraknya korupsi. 4. “Grey Mouse”, di mana terdapat pengembangan industri generasi ketiga dan pasar dalam sistem demokrasi parlementer dan menguatnya masyarakat madani. Penyusunan skenario untuk suatu negara yang lebih komprehensif dilakukan oleh City of London (2006) untuk India dan China tahun 2015. Studi ini dilakukan untuk mengukur dampak perekonomian kedua negara tersebut terhadap perkembangan Kota London: Tiga skenario India 2015 adalah 1. “The Elephant Breaks Its Chains”, di mana terdapat akselerasi liberalisasi ekonomi dan semakin kuatnya penerapan system pemerintahan terpusat. Ini merupakan skenario revolusioner. 2. “The Elephant Lumbers Along”, di mana meneruskan liberalisasi ekonomi dan sistem pemerintahan mengarah lebih federatif . Ini merupakan scenario evolusioner 3. “The Elephant Retreats to the Woods”, dimana mengurangi liberalisasi ekonomi tetapi menggabungkan pemerintahan yang

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

18

Visi Perekonomian Indonesia 2030 lebih federal dan sistem subsidi. Ini akan berdampak terhadap menurunnya pertumbuhan ekonomi. Berikut ini adalah tiga skenario untuk China:

1. “The Crane Flies Against the Wind”, dimana institusi negara dan bisnis semakin adaptif dan efektif, tetapi China dipandang sebagai ancaman ekonomi dan sumber ketidakstabilan oleh dunia luar. Ini merupakan skenario revolusioner. 2. “The Lion Leads the Dance”, dimana institusi negara dan bisnis semakin adaptif dan efektif dan China dipandang sebagai sumber peluang dan kekayaan. Ini merupakan skenario evolusioner. 3. “The Dragon Breathes Fire”, dimana kegagalan tata kelola bertemu dengan kompleksitas tantangan pertumbuhan dan China dipandang sebagai ancaman ekonomi dan sumber ketidakstabilan. Skenario ini menggambarkan bahwa dalam jangka panjang akan perekonomian China akan tereduksi. Berdasarkan referensi di atas, maka dalam menyusun skenario dan visi Indonesia 2030 adalah pertama, menguraikan modal dasar pembangunan yang merupakan beberapa capaian yang merupakan produk kebijakan pada masa sebelumnya yang merupakan prasyarat kesinambungan pembangunan ke depan. Kedua, menjelaskan tentang potret pembangunan yang berisi cerita sukses maupun ketidakberhasilan. Ketiga, adalah menjelaskan tentang tantangan utama yang akan dihadapi Indonesia 2030 baik secara eksternal maupun internal. Keempat, menjelaskan tentang faktor utama penggerak perubahan yang merupakan respons terhadap adanya tantangan eksternal dan internal. Kelima, adalah menjabarkan Skenario Indonesia 2030. Keenam, adalah penjabaran Visi Indonesia 2030. Ketujuh, menguraikan peran pemerintah dan Bank Indonesia dalam mewujudkan Visi Indonesia 2030. MODAL DASAR PEMBANGUNAN Modal dasar pembangunan ini dimaksudkan bahwa selama ini sudah banyak program pemerintah sudah cukup berhasil dan akan menjadi modal dasar bagi pembangunan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030 Demografis

19

Salah satu keberhasilan dari pembangunan era sebelumnya, yang paling mononjol adalah pengendalian jumlah penduduk. Diberbagai negara sedang berkembang, kelebihan jumlah penduduk masih menjadi persoalan besar, namun di Indonesika sudah tidak menjadi masalah. Berbagai program sejak era Orde Baru seperti Keluarga Berencana, Puskesmas, Posyandu telah diterapkan secara konsisten dalam menekan peningkatan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan data Sensus tahun 1980, 1990, dan 2000 jumlah penduduk Indonesia memang mengalami peningkatan. Pada tahun 1980 jumlah penduduk Indonesia adalah 146 juta, pada tahun 1990 dan 2000 masing-masing mengalami peningkatan menjadi 178 juta 203 juta orang. Namun jika dilihat dari sudut pertumbuhan penduduk antara tahun 1980-1990 dan 1990-2000 mengalami penurunan yang cukup drastis. Yakni pada tahun 1980-1990 pertumbuhan penduduk adalah sebesar 1,95%, sementara pada tahun 1990-2000 mengalami penurunan menjadi 1,35% (Hull, 2001:104). Pertumbuhan penduduk yang rendah ini merupakan prasyarat bagi pembangunan 25 tahun yang akan datang. Stabilitas Harga Capaian yang cukup monumental sejak Orde Baru adalah dalam kebijakan stabilitas harga, terutama beras. Karena sejak awal Orde Baru telah disadari bahwa harga beras merupakan determinan utama bagi kenaikan inflasi (Nasution, 1983:8). Pendirian Badan Urusan Logistik (Bulog) merupakan sebuah tindakan yang tepat untuk mengendalikan pasok beras dan komoditi pangan yang lain. Lembaga ini telah berhasil memelihara ketersediaan komoditi pangan yang menjadi prasyarat mutlak bagi kesinambungan pembangunan. Dengan didukung oleh perpaduan kebijakan fiscal dan moneter yang tepat, ketersediaan pangan mendorong stabilitas harga yang bertahan cukup lama, bahkan pada era sebelum krisis, inflasi dapat ditekan di bawah dua dijid selama hampir 20 tahun (Hill, 1996:32) Demokrasi Demokrasi yang seutuhnya baru diterapkan sejak lengsernya Presiden Soeharto dan menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

20

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Presiden BJ Habibie. Pada masa transisi Presiden BJ Habibie dapat menerapkan suasana demokratis salah satunya adalah adanya kebebasan pers. Kebijakan ini diteruskan oleh Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yang merupakan Presiden pertama Indonesia yang terpilih melalui proses pemilihan langsung. Jika pada era Orde Baru pengendalian pemerintah menggunakan pendekatan top down dan otoritarian, maka pada era Reformasi ini lebih mengedepan pendekatan bottom up dan menggunakan cara partisipatif. Jika pada Orde Baru lebih kental dengan cara penyelesaikan kekuatan militer maka pada era reformas lebih menerapkan cara-cara dialogis , dalam menyelesaikan masalah. Salah satu keberhasilan yang monumental pada era ini adalah penyelesaian masalah Aceh, dengan pendekatan dialogis persoalan ketidakpuasan daerah dapat diselesaikan dengan baik. Dengan demokrasi akan menjamin adanya transparansi dan akuntabilitas dalam penerapan tata kelola yang baik (good governance) secara berkesinambungan. POTRET PEMBANGUNAN Potret pembangunan akan menguraikan perkembangan pembangunan bangsa yang sudah berjalan hingga dewasa ini. Tentu saja karena sebuah potret tentu saja ada merupakan cerita sukses maupun ketidakberhasilan. Transformasi Ekonomi Tranformasi struktural adalah pergeseran struktur ekonomi dari waktu ke waktu. Diukur dari besarnya share sektor ekonomi terhadap pembentukan PDB. Pada tahun 1968 sumbangan sektor pertanian terhadap PDB mencapai 51%, sedangkan sumbangan sektor industri hanya sekitar 8,5%, sektor pertambangan dan penggalin hanya menyumbang sekitar 4,2%, dan sektor jasa sudah mencapai 36,3%. Pada tahun 1978 sumbangan sektor pertanian sudah mulai menurun hingga 30,5%, sedangkan sektor industri meningkat 9,6% dan sektor jasa menjadi 38%. Sementara itu,

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

21

yang mengalami peningkatan pesat adalah sektor pertambangan mencapai 12,3%. Pada era ini sektor pertambangan terutama minyak bumi menjadi penggerak ekonomi, kendati pun pada tahuntahun berikutnya mengalami kecenderungan menurun. Pada tahun 1988, sumbangan sektor pertanian menurun hingga 24,1%, demikian halnya sektor pertambangan juga menurun menjadi 12,1%. Sebaliknya, sektor industri dan jasa mengalami peningkatan yang cukup signifikan yakni masing-masing menjadi 18,5% dan 45,3%. Situasi ini seperti ini tampaknya terus berlanjut ketika krisis ekonomi melanda pada tahun 1997/1998. Pada tahun 1998 dan 2004 sumbangan sektor pertanian terhadap PDB semakin merosot masing-masing adalah 17,4% dan 15,4%. Sumbangan sektor pertambangan juga merosot pada kedua tahun itu yakni 8,2% dan 8,6%. Sementara itu, sektor industri justru mengalami peningkatan pesat setelah krisis dari 23,9% (1998) menjadi 28,3% (2004), sebaliknya terdapat penurunan sektor jasa dari 50,3% (1998) menjadi 47,7% (2004). Berdasarkan jabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa peranan sektor pertanian dan pertambangan semakin menurun, sebaliknya peranan sektor industri dan jasa semakin menguat. Ini menandakan bahwa proses tranformasi sudah berjalan dari sektor primer ke sekunder dan tersier, masalahnya apakah pergeseran itu karena sektor primer sudah kuat atau karena dipaksa oleh keadaan. Karena sejaktinya sektor pertanian masih tetap lemah hingga dewasa ini, terutama pada tanaman pangan. Seperti ditunjukkan dengan masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan ini. Dominasi Konsumsi Masyarakat. Apabila dilihat dari sudut pengeluaran, maka sumbangan konsumsi rumah tangga terhadap pembentukan PDB adalah paling besar sejak tahun 1968 hingga 2004. Pada tahun 1968, konsumsi mencapai 88,4%, kemudian mengalami penurunan menjadi 65,59% (1978); 57% (1988); 58,5% (1993). Pada mulai krisis ekonomi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

22

Visi Perekonomian Indonesia 2030

peranan konsumsi meningkat lagi menjadi 67,8% (1998) dan 66,5% (2004). Ini menunjukkan bahwa potret ekonomi Indonesia adalah sesungguhnya pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi masyarakat atau growth driven by consumption. Sementara itu, peranan investasi dan ekspor cukup tinggi sebelum krisis yakni pada tahun 1993 masing-masing mencapai 29,5% dan 26,8%. Setelah krisis investasi sempat merosot menjadi 16,4% (1998), kemudian mengalami peningkatan menjadi 21,3% (2004). Sebaliknya, pada masa krisis ekspor mengalami peningkatan yang tajam menjadi 53% (1998), kemudian mulai menurun menjadi 30,9% (2004). Kemiskinan dan Kesenjangan Ekonomi Kemiskinan tetap menjadi masalah utama bangsa ini, kendati pun jumlah orang miskin memang semakin menurun. Pada tahun 1970 jumlah penduduk miskin sebanyak 70 juta jiwa atau sekitar 60% dari seluruh penduduk menurun menjadi hanya sekitar 36,1 juta jiwa atau sekitar 16,6 pada tahun 2004. Menurut laporan terbaru, pada tahun 2005/2006 kemiskinan mengalami peningkatan lagi, sebagai dampak kenaikan kenaikan BBM yang sangat tinggi pada bulan Oktober 2005, diperkirakan menjadi di atas 20%. Sementara jika dilihat dari sudut kesenjangan ekonomi masih relatif tinggi, karena sejak tahun 1976 hingga tahun 2004 nilai indeks gini hanya bergerak antara 0,32-0,34. Sumber Daya Alam Pada hakekatnya sumber daya alam (SDA) adalah komoditi yang tidak dapat terbaharui. Jika tidak ditemukan sumber-sumber yang baru, maka kandungan SDM akan semakin habis. Dari data yang tersedia terlihat bahwa untuk SDA minyak bumi semakin berkurang jika pada tahun 1998 cadangan minyak bumi adalah 9.825 juta barel, pada tahun 2002 diperkirakan menjadi 9.726,5 juta barel. Sementara itu, komoditi lain sebagai gas alam, batu

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

23

bara, bauksit, timah, emas, perak dan nikel cadangan yang tersedia juga cenderung menurun. Kegagalan Alih Teknologi Dengan memimjam analisis Yoshihara Kunio (1986) bahwa yang terjadi di Indonesia dan Negara Asia Tenggara yang lain adalah Kapitalisme Semu (Erzats Capitalism) itu menunjukkan kebenarannya. Kapitalisme semu merujuk bahwa bangsa ini tidak dapat membuat produk komositi berdasarkan nilai tambah industri, melainkan hanya perdagangan saja. Misalnya dalam industri otomotif, tidak ada pernah ada usaha membuat nilai tambah industri yang ada hanyalah Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) yang mengimpor barang, asembling dan menjualnya di sini. Kendati pun perkembangan baru menunjukkan, bahwa sebagian prinsipal sudah mulai merelokasi perusahaannya ke Indonesia, namun tetap tidak terjadi alih teknologi kepada bangsa ini. Di sini termasuk kegagalan dalam industri peswat terbang untuk menjual produknya. Dalam mengembangan industri petrokimia yang terintegrasi juga mengalami kegagalam seperti yang dialami proyek Golden Key dan Chandra Asri. Lemahnya Kewirausahaan Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagian besar pengusaha baik yang termasuk pribumi maupun non pribumi di Indonesia adalah besar karena fasilitas. Pada tahun 1969, melalui program Kredit Investasi pemerintah menumbuhkan pengusaha konglomerat non pribumi, kemudian melalui program Tim Kepres 10/1980 pemerintah mengembangkan pengusaha besar pribumi. Pada mulanya sebagian besar mereka bergerak sebagai kontraktor proyek-proyek pemerintah. Kemudian setelah Pakto 1988, mereka masuk dalam bisnis perbankan dan keuangan yang membuka akses untuk mendapatkan pinjaman dari luar negeri. Namun karena sebagian usaha mereka dalam kondisi tidak sehat dan rentan terhadap goncangan eksternal, maka ketika terjadi krisis kawasan, imperium

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

24

Visi Perekonomian Indonesia 2030

konglomerat itu menjadi hancur Lagi-lagi pemerintah mengeluarkan . dana yang besar untuk merekapitalisasi dengan berbagai cara untuk menyehatkan usaha para konglomerat itu. Sementara krisis juga semakin memaksa sebagian masyarakat dalam rangka mempertahankan hidupnya berjubel di sektor perdagangan informal dalam wujud pedagang kali lima (PKL). Dengan kata lain dapat dikatakan sangat besar biaya yang dikeluarkan oleh bangsa ini untuk menolong eksistensi para pengusaha-pengusaha besar itu, namun masyarak kecil belum mendapatkan perhatian yang memadai. Perusahaan Negara Perusahaan negara memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Hingga saat ini terdapat sekitar 150 perusahaan negara. Peran dan posisi perusahaan negara sangat strategis karena menjadi sumber pendapatan negara dan agen pembangunan. Persoalan yang dihadapi adalah sebagian besar perusahaan negara dalam kondisi tidak efisien, kendatipun mereka memegang hak monopoli alamiah. Ketidakefisiennya itu lebih banyak bersumber pada masalah manajerial dan besarnya moral hazard dalam mengelola BUMN. Dorongan untuk melakukan privatisasi menjadi salah satu pilihan, karena akan memaksa BUMN dikelola secara lebih profesional, tranparan dan akuntabel. Hingga saat ini baru sekitar sepuluh BUMN yang sudah melakukan privatisasi.Namun privatisasi juga menimbulkan masalah tersendiri, karena memindahkan hal monopoli BUMN kepada pihak asing seperti yang terjadi dalam kasus Indosat dan Telkom. Kondisi Infrastruktur Perkembangan infrastruktur di Indonesia relatif stagnan. Hanya infratruktur jalan dan telekomunikasi yang menunjukkan tren positif. Sementara perkembangan infrastruktur lisrik dan air bersih mengalami stagnasi. Minimnya dana yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur mengakibatkan perkembangan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

25

infrastruktur relatif stagnan. Penelitian Bappenas (2003) tentang pembiayaan infrastruktur berhasil menjelaskan peranan investasi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pengeluaran investasi infrastrutur sebesar 102,2 triliun akan menyebabakan kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen. Secara umum perkembangan infrastruktur jalan setelah krisis masih menunjukkan tren positif meskipun sedikit lambat. Pertambahan panjang jalan selama periode 1968-1993 rata-rata sebesar 5,9 persen per tahun. Pada periode 1993-1998 pertambahan panjang jalan rata-rata menurun menjadi 0,6 persen per tahun. Sementara pada periode 1998-2003 rata-rata pertambahan panjang jalan meningkat menjadi 0,8 persen per tahun atau mencapai 370.576 km . Berbeda dengan perkembangan infrastruktur jalan, infrastruktur telekomunikasi dalam periode 1993-2003 mengalami peningkatan yang pesat dibandingkan periode 1968-1993. Pada akhir tahun 1993 terdapat sekitar 1.848.678 SST (Satuan Sambungan Telepon). Jumlah tersebut meningkat pesat, sampai dengan akhir tahun 1998 jumlah pemakai telepon mejadi 5.022.925 SST dan pada akhir tahun 2003 pemakai sambungan telepon di Indonesia telah mencapai 8.271.531 SST. Sementara itu, tren positif yang melambat juga diikuti oleh perkembangan infrastruktur energi dan air bersih. Setelah krisis ekonomi 1997 pertumbuhan daya listrik terpasang rata-rata meningkat 1 persen per tahun. Sementara kubik air bersih tersalur relatif stagnan. Secara umum, pembangunan infrastruktur memiliki dua manfaat terhadap pembangunan ekonomi yaitu: manfaat terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Manfaat terhadap pertumbuhan ekonomi dibedakan dalam bentuk manfaat jangka pendek dan jagka panjang. Manfaat jangka pendek pembangunan infrastruktur adalah adanya peningkatan pendapatan masyarakat dana penyerapan tenaga kerja secara massal (Howe

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

26

Visi Perekonomian Indonesia 2030

dan Richards, 1984). Sementara manfaat jangka panjang pembangunan infrstruktur adalah dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Kualitas infrastruktur yang memadai menjadi faktor penarik investasi yang selanjutnya menjadi motor dalam peningkatan produktivitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang mantap selanjutnya menjadi prasyarat utama dalam pembangunan ekonomi (Musika dan Baden, 1997). Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan berpotensi berdampak negatif terhadap perkembangan ekonomi Indonesia. TANTANGAN UTAMA Setiap negara pasti mempunyai tantangan utama baik yang bersifat eksternal maupun internal. Untuk Indonesia tantangan eksternal yang utama adalah globalisasi ekonomi. Ini merupakan salah satu konsekuensi telah terintegrasinya sistem ekonomi Indonesia dengan sistem kapitalisme dunia. Sementara tantangan internalnya adalah proses desentralisasi yang tengah berlangsung dimana secara faktual masih terjadi tarik menarik antara kelompok “pro sentralisasi dan “pro desentralisasi”. Kedua tantangan utama ini yang nanti akan menjadi persoalan pokok yang mengendalai pilihan skenario Indonesia 2030. Globalisasi Ekonomi Tantangan eksternal terbesar yang dihadapi oleh Indonesia adalah era perdagangan bebas. Beberapa skema globalisasi perdagangan sudah diratifikasi oleh pemerintah misalnya seperti Asean Free Trade Area (AFTA), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), dan World Trade Organization (WTO). Sesuai dengan kesepakatan yang sudah disepakati oleh para pimpinan negara sejak dekade 1990-an, lembaga kerjasama perdagangan multilateral itu sudah ditentukan penanggalan pelaksanaannya. Untuk AFTA disepakati tahun 2003 yang lalu sudah harus diterapkan oleh anggotannya. Sementara itu penanggalan APEC dibedakan untuk

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

27

negara industri dan negara sedang berkembang. Untuk negara industri seperti Jepang, Australia dan Amerika Serikat, perdagangan bebas sudah harus dilakukan pada tahun 2010, sementara untuk negara sedang berkembangan baru tahun 2020. Desentralisasi Desentralisasi daerah merupakan tantangan internal terbesar yang dihadapi oleh Bangsa ini. Sejak keluarnya Undang-undang No 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan No 25/1999 tentang Perimbangan Keungan Pusat dan Daerah dimulailah era desentralisasi yang lebih dikenal dengan otonomi daerah. Paket undang-undang otonomi daerah itu memberikan kewenangan yang luas kepada DPRD dan Pemerintah Kabupaten/Kota, sebaliknya justru memberikan kewenangan yang sempit kepada DPRD dan Pemerintah Propinsi. Di sini dapat dinyatakan bahwa kedua undangundang itu benar-benar “pro desentralisasi”. Namun rupa-rupanya implementasi kedua undang-undang itu tidak berlangsung lama, karena banyak pihak yang tidak puas dan mendorong amandemen terhadap paket undang-undang otonomi daerah. Pada akhir Pemerintahan Presiden Megawati disahkan Undang-undang No 32/ 2004 yang menggantikan Undang-undang No 22/1999, dan Undang-undang 33/2004 yang menggantikan Undang-undang No 25/1999. Dengan kedua undang-undang itu kewenangan yang luas Pemerintahan Kab/Kota mulai dikurangi, peranan Pemerintah Pusat dan Propinsi kembali diperkuat. Tidak hanya itu, ternyata bersamaan dengan kedua undang-undang itu juga dikeluarkan Undang-undang No 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang memperkuat kembali eksistensi lembaga perencanaan Bappenas dan Bappeda, yang sebelumnya sempat terabaikan. Dengan menguatnya peranan lembaga perencana ini, akan mereduksi perencanaan partisipatif, sebaliknya justru akan memperkuat kembalai perencanaan teknokratik. Di sini dapat dinyatakan bahwa ketiga paket undang-undang otonomi daerah yang baru ini lebih bersifat “pro sentralisasi”. Atau dengan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

28

Visi Perekonomian Indonesia 2030

kata lain terbitnya paket undang-undang itu merupakan tanda kemenangan kepentingan pihak “pro sentralisasi” terhadap “pro desentralisasi”. FAKTOR UTAMA PENGGERAK PERUBAHAN Faktor utama penggerak perubahan merupakan faktor penting yang akan menentukan kodisi lingkungan pembangunan nasional Indonesia. Terkait dengan tantangan global di atas terdapat dua pertanyaan mendasar yang akan menentukan arah pembangunan nasional Indonesia. Dua pertanyaan mendasar tersebut adalah: 1. Seberapa aktif Indonesia berpartisipasi dalam globalisasi ekonomi ? Tren globalisasi dalam perekonomian kapitalis modern justru menimbulkan paradoks dalam kegiatan perekonomian. Melalui globalisasi aksesibilitas kegiatan ekonomi dunia tidak terbatas oleh sekat-sekat administratif antar negara. Akibatnya, globalisasi telah menimbulkan fenomena keterkaitan antara kegiatan perekonomian suatu negara dengan negara lainnya. Namun fenomena liberal tersebut menyababkan terjadinya suatu paradoks. Paradoks yang terjadi dalam perekonomian yang mengglobal saat ini yaitu kenyataan bahwa peran negara dalam perekonomian meningkat. Sejalan dengan itu, Devine (1995) menyebutkan bahwa peran negara telah meningkat selama abad keduapuluh, tidak terkecuali setelah ditemukannya liberalisme ekonomi sejak tahun 1980. Peran tersebut tidak terlepas dari upaya masing-masing negara untuk melindungi hak-hak ekonomi penduduk dari dampak globalisasi ekonomi. Perlindungan yang dilakukan terhadap aktivitas perekonomian di suatu negara bervariasi satu dengan yang lain. Terdapat suatu negara yang sangat protektif terhadap kepentingan ekonominya dengan melakukan restriksi di pasar keuangan serta pasar barang dan jasa. Namun terdapat juga negara yang paling moderat yaitu negara yang hanya menjaga kestabilan perekonomian negara dari

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

29

guncangan perekonomian global. Indonesia sebagai negara kecil dan terbuka melakukan upaya perlindungan terhadap aktivitas ekonomi penduduk dengan mempertahankan diri dari syok globalisasi melalui penguatan fundamental perekonomiannya. Untuk menjaga stabilitas perekonomian dalam menghadapi globalisasi, maka pengelolaan perekonomian (negara)Indonesia saat ini lebih diprioritaskan pada penguatan fundamen perekonomian dibandingkan dengan usaha pencapaian target jangka panjang seperti pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hal itu dipicu oleh penyebab utama krisis ekonomi Indonesia di akhir dasawarsa lalu yang diyakini disebabkan oleh rapuhnya fundamen perekonomian Indonesia. Fundamen ekonomi yang kuat diharapkan memberi jaminan terhadap segala syok akibat instabilitas perekonomian internal dan eksternal (globalisasi ekonomi). Kestabilan tersebut diharapkan mampu memberikan iklim yang kondusif bagi seluruh pelaku ekonomi dalam melakukan aktivitas kegiatan ekonomi. Pencapaian fundamen ekonomi yang kuat tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah sebagai stabilisator perekonomian. Peran pemerintah dilakukan oleh dua lembaga tinggi negara yaitu Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah Republik Indonesia yang secara teknis dilaksanakan oleh tim ekonomi yang dipimpin oleh Menko Perekonomian. BI secara umum bertugas sebagai stabilisator keseimbangan moneter dan pasar sektor keuangan di Indonesia khususnya perbankan. Sementara PRI bertugas meningkatkan dan mendorong aktivitas di sektor riil baik dari sisi permintaan dan penawaran. Aktivitas pengembangan sektor riil dilakukan melalui strategi pengembangan sektoral baik sektor primer, sekunder dan tersier serta melalui kebijakan perdagangan luar negeri yang bebas dan aktif. Pengembangan pembangunan sektoral di Indonesia dalam menghadapi globalisasi belum optimal. Pasang surut industri di Indonesia menunjukkan belum kuatnya fundamen pengembangan sektoral di Indonesia. Sementara itu, di sisi perdagangan luar negeri Indonesia merupakan salah satu negara yang aktif dalam

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

30

Visi Perekonomian Indonesia 2030

perdagangan internasional. Kondisi tersebut ditunjukkan melalui keaktifan Indonesia dalam melakukan ratifikasi terhadap beberapa aturan perdagangan bebas yang diprakarsai oleh WTO. Ratifikasi TRIPs (Trade Revealedl Intellectual Property Rights) merupakan komitmen Indonesia dalam berpartisipasi aktif di perdagangan bebas. Hal tersebut merupakan wujud nyata peran aktif Indonesia jika dibandingkan dengan Cina, India dan Korea Selatan yang tidak meratifikasi perjanjian tersebut. Meskipun demikian, komitmen perdagangan bebas di Indonesia belum berjalan optimal seiring dengan banyaknya hambatan tarif dan non tarif yang diberlakukan oleh Indonesia dalam melindungi beberapa sektor usaha. Dari sisi penawaran penciptaan iklim usaha yang menarik menjadi prioritas utama. Hasil survei “Cost Doing Business 2006” yang dilakukan oleh Bank Dunia menyebutkan bahwa pengusaha Indonesia memerlukan waktu sekitar 151 hari, melalui 12 prosedur serta biaya yang dikeluarkan mencapai 101,7 persen dari pendapatan per kapita. Dari aspek perburuhan Indonesia menempati pososi teratas pemberian uang pesangon, yang mencapai 145 kali gaji per minggu. Untuk mengatasi persoalan tersebut pemerintah mendorong pemberlakuan OSS (one stop services) di daerahdaerah. Sementara untuk menciptakan iklim usaha bagi sektor industri, pemerintah mulai melakukan revisi terhadap aturan perburuhan untuk menciptakan pasar tenaga kerja yang fleksibel. Saat ini peran stabilitas sektor moneter dan pasar keuangan yang dilakukan oleh BI bermuara pada tujuan tercapainya kestabilan harga melalui pengendalian inflasi. Sementara peran PRI bermuara pada peningkatan lingkungan investasi dan aktivitas sektor riil yang kondusif guna meningkatkan taraf hidup penduduk. Peran BI dan PRI saat ini merupakan implementasi teori ekonomi yang dikemukakan oleh ekonom-ekonom New-Keynesian. Peran negara yang cukup besar di banyak negara di dunia menyebabkan mazhab ekonomi ini merupakan mazhab ekonomi yang banyak digunakan di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

31

Hal khusus yang membedakan mazhab ini adalah di sisi permintaan agregat terutama unsur kebijakan moneter Sementara . di sisi penawaran tidak terlalu banyak berbeda dengan mazhabmazhab sebelumnya. Hal itu disebabkan prinsip dikotomi klasik yang masih dipegang dalam teori ini. Dalam praktiknya, perkembangan teori New-Keynesian yang memiliki outcome berupa kestabilan inflasi, sehingga teori New-Keynesian ini lebih banyak berhubungan dengan kebijakan moneter. Perkembangan teori ini juga diikuti perkembangan institusi pendukungnya terutama independensi bank sentral. Sementara itu, secara umum kebijakan ekonomi yang menggunakan mazhab ini dikenal dengan kebijakan penargetan inflasi. 2. Seberapa desentralistis praktik Otonomi Daerah di Indonesia? Demokratisasi yang semakin meningkat pasca jatuhnya rezim Suharto menjadi fenomena internal di Indonesia. Indikasi meningkatnya demokratisasi di Indonesia ditandai melalui beberapa praktik tata kelola pemerintahan. Beberapa praktik tersebut antara lain yaitu: pemilihan umum langsung (kepala negara/pemerintahan, gubernur, dan bupati/walikota), berkembangnya konsep desentralisasi serta peningkatan peran dan partisipasi masyarakat dalam perencanaan sampai dengan pengawasan terhadap kinerja aparatur pemerintah. Prinsip desentralisasi memegang peranan kunci untuk menjaga demokratisasi di Indonesia. Semangat sistem desentralisasi diaplikasikan melalui penyerahan wewenang kepada Pemerintah Daerah dengan tujuan mengembangkan daerahnya masing-masing seoptimal mungkin dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada di daerah. Sehingga, tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi di daerah lebih banyak ditentukan oleh kreativitas daerah yang bersangkutan. Kreativitas tersebut tidak terlepas dari peran masyarakat dalam perencanaan sampai dengan monitoring hasil-hasil pembangunan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi menggambarkan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

32

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Grafik 1. Skenario Perencanaan Indonesia 2030

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

33

tingginya aktivitas perekomian di daerah tersebut. Pengembangan ekonomi daerah berdasar prinsip desentralisasi diharapkan tidak melupakan kondisi riil Indonesia dalam menghadapi globalisasi ekonomi. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan demokratisasi yang hakiki dalam masyarakat. Demokratisasi yang hakiki mencakup kebebasan yang tidak mengganggu hak orang lain. SKENARIO INDONESIA 2030 Berdasar dua pertanyaan faktor utama penggerak perubahan, diperoleh beberapa kemungkinan skenario berikut ini (Grafik 1): 1. Garuda Tangguh Terbang ke Angkasa Filosofi skenario ini menggambarkan kebijakan pemerintah yang aktif berpartisipasi melalui kebijakan liberalisasi perekonomian melalui kebijakan penghapusan hambatan globalisasi ekonomi dengan tata kelola pemerintahan yang memberikan peran besar pada masyarakat melalui prinsip desentralisasi. Ini merupakan skenario revolusioner . 2. Garuda Bebas Melintas Samudera Filosofi skenario ini menggambarkan arah kebijakan pemerintah yang aktif berpartisipasi dalam kebijakan liberalisasi perekonomian yang ditandai dengan penghapusan hambatan globalisasi ekonomi dalam tata kelola pemerintahan yang sentralistis. Ini merupakan skenario evolusioner. 3. Garuda Bebas Menantang Angin Filosofi skenario ini menggambarkan pengelolaan pemerintahan yang mandiri dengan melakukan pembatasan terhadap globalisasi ekonomi melalui penerapan konsep dan prinsip desentralisasi. Dengan skenario ini pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih melambat. Implikasi skenario tersebut selama 20 tahun ke depan terhadap perekonomian dan politik di Indonesia berdasarkan rentang waktu 2005-2010, 2011-2020, 2021-2030 ditunjukkan oleh tabel 1 di

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

34

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 1. Indikator Penting dalam Skenario Indonesia 2030

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

35

bawah ini. Rentang waktu tersebut didasarkan pada kesepakatan pemimpin-pemimpin negara kerjasama Asia-Pasifik di Bogor tahun 1994. Rentang waktu pertama menunjukkan kondisi Indonesia pada masa transisi bidang ekonomi dan politik menuju pasar bebas perdagangan luar negeri dan investasi yang distimulasi oleh negara industri maju 2010 di Asia Pasifik serta diikuti oleh siklus kepemimpinan yang demokratis melalui pemilu 2009. Rentang waktu kedua menggambarkan kesiapan Indonesia sebagai salah satu negara sedang berkembang yang mengikuti liberalisasi perdagangan dan investasi diiikuti dua kali proses pemilihan umum (2014 dan 2019). Rentang waktu ketiga menggambarkan Indonesia pasca liberalisasi perdagangan dan investasi dan disertai oleh pemilihan umum tahun 2024. VISI INDONESIA 2030 Pilihan strategi evolusioner merupakan pilihan strategi yang dihadapi Indonesia dalam menjawab dua pertanyaan besar di atas. Arah pengembangan strategi tersebut adalah revitalisasi sektor maritim di Indonesia. Revitalisasi maritim merupakan jawaban terhadap dua fenomena yang dihadapi Indonesia yaitu desentralisasi dan globalisasi ekonomi. Melalui pengembangan sektor maritim, laut tidak lagi dianggap sebagai pemisah antara satu daerah dengan daerah yang lain. Ketika laut tidak dianggap sebagai pemisah kecendurangan sentralisasi kekuasaan dapat diminamilisir. Negara kepulauan terluas di dunia merupakan keunggulan absolut yang dimiliki Indonesia. Revitalisasi sektor maritim merupakan salah satu metode mengubah keunggulan absolut menjadi keunggulan kompetitif. Pembentukkan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang pantai timur Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan, pantai utara Jawa, pantai salatan Sulawesi dan Maluku merupakan bentuk revitalisasi sektor maritim di Indonesia. Untuk memeratakan pembangunan kualitas infrastruktur ditingkatkan melalui konsep transportasi intermoda. Melalui sistem ini daerah lain akan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

36

Visi Perekonomian Indonesia 2030

mendapatkan kesempatan yang merata dalam pengembangan ekonomi daerah. Namun, Infrastruktur kelautan Indonesia yang kurang memadai menyebabkan pengembangan ekonomi berbasiskan sektor maritim merupakan langkah evolusioner Diperlukan waktu relatif lama untuk . mengembangkan potensi maritim Indonesia secara optimal. Dalam hal ini laut digunakan sebagai sarana perekat keterkaitan pengembangan sektoral dan kewilayahan di Indonesia. Sarana dan prasarana perhubungan tidak hanya difokuskan pada sarana dan prsaran transportasi kelautan akan tetapi merupakan suatu jaringan transportasi antar moda yang menyatukan Indonesia baik darat (jalan dan rel), laut serta udara. Pengembangan sektor maritim diarahkan ke laut-laut di tengah kawasan Indonesia seperti selat malaka, laut jawa, selat makasar, laut banda, laut maluku sampai dengan laut arafura. Selain itu, fakta menunjukkan bahwa sebagian besar ibukota propinsi terletak di daerah yang menghadap ke laut-laut di tengah kawasan perairan Indonesia. Banda Aceh, Medan, Palembang, DKI Jakarta, Semarang, Pontianak, Banjarmasin, Makasar, Kendari sampai dengan Ambon dan Sorong merupakan ibukota propinsi yang menghadap ke lautan di kawasan tengah Indonesia. Berikut ini gambaran peta Indonesia guna memberikan gambaran detiil mengenai arah pengembangan Indonesia berdasarkan konsep negara Maritim. Berdasarkan kondisi eksisting di atas, skenario “Garuda Melintasi Samudera” merupakan skenario paling tepat untuk pengembangan Indonesia 2030. Berdasarkan skenario tersebut dibentuk visi Indonesia yaitu: “Bangsa Maritim yang Sejahtera dan Merata: Visi Indonesia 2030”. PERAN PEMERINTAH DAN BI Berdasarkan visi di atas terdapat beberapa peran yang dapat dijalankan oleh pemerintah untuk mencapai visi tersebut. Khususnya di bidang ekonomi terdapat dua pilar utama yang diharapkan dapat

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

37

menjaga dan memelihara harapan tercapainya visi tersebut. Dua pilar utama tersebut adalah Pemerintah Republik Indonesia dan Bank Indonesia (BI). Pemerintah berperananan untuk mendorong dan memberikan stimulan terhadap sektor riil yang difokuskan pada yang terdiri dari aspek investasi dan iklim usaha yang kondusif dan kebijakan perdagangan luar negeri. Sementara itu, BI melalui capaian tujuan yaitu menjaga stabilitas sistem keuangan, nilai tukar dan inflasi melalui kebijakan moneter dan pengaturan perbankan. Secara terperinci peran-peran tersebut dijelaskan pada bagian berikut. Visi Pemerintah Visi Pemerintah harus dapat mendorong terwujudnya pengembangan Indonesia berbasiskan sektor maritim dalam menghadapi globalisasi ekonomi. Di sini peran pemerintah sebagai penggerak pembangunan. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah bagaimana kiprah pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sebagai pelayan masyarakat yang baik pemerintah harus dapat menjamin terciptanya tata kelola yang baik (good governance) dan mendorong proses secara transparan dan akuntabel. Maka secara ringkas Visi Pemerintah adalah Mengelola Pemerintahan dan Melayani Masyarakat dalam Rangka Mewujudkan Indonesia 2030 Negara Maritim Yang Sejahtera dan Merata. Program pengembangan dalam rangka mendorong transformasi sektor primer sekunder dan tersier yang berwawasan maritim melalui , pembuatan rencana pengembangan pusat pertumbuhan baru yang difokuskan di daerah lautan di kawasan tengah Indonesia. Rencana pengembangan tersebut di tunjukkan melalui 2 pilar utama yaitu: 1. Investasi melalui penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif Menggunakan konsep pengukuran penciptaan iklim usaha yang dilakukan oleh Bank Dunia, menciptakan iklim usaha yang baik mencakup beberapa aspek yaitu:

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

38

Visi Perekonomian Indonesia 2030

a. Penyediaan infrastruktur yang memadai baik di sisi pantai yang menjadi pusat pertumbuhan maupun daerah padalaman melalui rancangan kebijakan infrastruktur yang komprehensif. Kebijakan tersebut antara lain yaitu penciptaan sistem transportasi berbasis intermoda, sistem distribusi dan pengelolaan infrastruktur energi yang efisien dan efektif, sistem jaringan telekomunikasi yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara merata dan penyediaan air bersih yang memadai. Hal-hal tersebut merupakan infrastruktur penting yang dibutuhkan oleh investor dalam berusaha. b. Penciptaan pasar tenaga kerja yang fleksibel melalui perubahan UU ketenagakerjaan. c. Pengembangan sektor primer, sekunder dan tersier yang berhubungan satu dengan yang lain melalui konsep interbussines relations and networking baik antara penyedia bahan mentah, baku maupun jadi. Selain itu, konsep ini dapat diaplikasikan antar daerah. d. Penciptaan regulasi yang kondusif bagi investor. Penciptaan konsep OSS (one stop services) menjadi salah satu solusi alternatif. e. Aspek kepastian hukum dan legalitas yang didukung oleh aparat hukum yang handal untuk mencegah terjadinya pungutan aparat kepada pengusaha maupun penyuapan pengusaha kepada aparat. 2. Kebijakan perdagangan luar negeri Konsep pengembangan perdagangan luar negeri diarahkan pada pengembangan produk non-migas yang memiliki keunggulan absolut dan komparatif. Selain itu, pengetahuan pengusaha lokal terhadap mekanisme ekspor-impor penting disosialisasikan untuk menghindari hambatan prosedur ekspor-impor yang dihadapi. Pemeliharaan kualitas barang merupakan pengetahuan yang selalu diberikan oleh pemerintah untuk menjaga kepercayaan pembeli luar negeri.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030 Peran Bank Indonesia

39

Dalam mendukung terwujudnya visi Indonesia tersebut, peranan Bank Indonesia sangatlah penting dan strategis. Peranan Bank Indonesia adalah mempertahankan stabilias tidak saja berfungsi menjaga stabilitas sistem keuangan dan perbankan, namun bank sentral juga berkewajiban mempertahankan kestabilan nilai tukar dan inflasi (Brealey, 2001; Warjiyo, 2004). Stabilitas sistem keuangan merupakan prasyarat bagi pembangunan berkelanjutan, tanpa itu akan terjadi krisis ekonomi berkepanjangan seperti yang kita alami beberapa waktu yang lalu. Menghadapi globalisasi ekonomi, stabilitas sistem keuangan menjadi penting bagi suatu negara. Mobilitas modal dan uang dari suatu negara ke negara lainnya berpotensi menjadi faktor penyebab instabilitas sistem keuangan khususnya dan sistem ekonomi pada umumnya. Di dalam suatu sistem ekonomi dimana suatu sistem keuangan merupakan bagian paling vital, peran Bank Sentral khususnya Bank Indonesia menjadi strategis. Berdasarkan hal itu maka Visi Bank Indonesia adalah Memelihara Stabilitas Sistem Keuangan dan Moneter dalam Rangka Mewujudkan Indonesia 2030 Negara Maritim Yang Sejahtera dan Merata. Konsentrasi utama kredit pada sektor maritim baik dalam sektor primer, sektor sekunder maupun sektor tersier yang terkait bidang perikanan dan kelautan belum optimal. Bank Indonesia telah kehilangan fungsinya sebagai Agent of Development sejak independensi Bank Indonesia diperkenalkan pada tahun 1999. Namun sebagai wujud tanggung jawab sosial Bank Indonesia memberikan informasi kepada perbankan dan lembaga keuangan mengenai prospek pengembangan ekonomi di bidang maritim (perikanan dan kelautan). Berbagai contoh informasi yang sifatnya umum yang disajikan dalam SIPUK juga bermanfaat bagi setiap pemerintah daerah untuk mengembangkan komoditas khususnya dan sektor ekonomi maritim pada umumnya. Sehingga peran Bank Indonesia selain sebagai menjaga stabilitas nasional dalam bentuk kestabilan harga juga berperan dalam mendorong optimalisasi pelaksanaan desentralisasi di Indonesia.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

40

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Pelaksanaan sistem desentralisasi yang optimal dengan menghilangkan paradigma bahwa prestasi daerah ditunjukkan oleh pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi merupakan salah satu faktor penting untuk mengurangi potensi inflasi regional yang berasal dari sisi penawaran. Melalui sistem informasi (SIPUK), pemerintah diajak berkreasi dengan membangun paradigma bahwa pengembangan potensi daerah tidak semata dilihat dari besarnya (PAD) namun lebih banyak dilihat dalam bentuk pengembangan potensi daerah itu. Melalui pendektan ini diharapkan Bank Indonesia dapat meminimalisasi potensi inflasi yang disebabkan biaya tinggi dari pungutan pemerintah daerah guna mencapai target-target PAD. Era ke depan perhatian yang lebih besar terhadap analisis peluang usaha di sektor perikanan dan kelautan (maritim) dapat menjadi wujud nyata lainnya peran BI untuk mewujudkan visi Indonesia 2030 yang berbasiskan sektor maritim. Melalui peranperan tersebut BI dapat mengurangi dampak negatif dari faktor utama penggerak perubahan yaitu globalisasi dan desentralisasi. Melalui tugas utamanya Bank Indonesia dapat menguatkan fundamen ekonomi Indonesia, sementara melalui tanggung jawab sosialnya Bank Indonesia dapat menginspirasi pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian daerah serta meredam potensi inflasi daerah akibat cara pandang yang belum tepat mengenai desentralisasi. DAFTAR PUSTAKA Bentham, Jeremy. (2006). Shell Global Scenario 2030. Royall Dutch Shell. 30 August. Brealey, R.A.et.al. (2001). Financial Stability and Central Banks: A Global Perspective. London: Routledge. City of London. (2006). Scenario Scenarios for India and China 2015: Implications for the City of London.”City of London, Oktober . Devine, P. (1995). Demokrasi dan Perencanaan Ekonomi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Bangsa Maritim Sejahtera & Merata: Visi Indonesia 2030

41

Dikun, S. (ed). (2003). Infrastruktur di Indonesia. Jakarta: Bappenas Hil, Hal. (2000). Indonesian Economy. Cambridge: Cambridge University Press. Hitt, M.A, Ireland, R.D, Hoskisson, R.E. (2001). Strategic Management: Competitiveness and Globalization. Cincinnati: South-Western College Publishing. Howe, J. and Richards, P. 1984). Rural Roads and Poverty Alleviation. London: Intermediate Technology Publications Hull, T H. (2001). First Results From the 2000 Population Census. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 37(1) 103-112. Klinec, I. (2004). Strategic Thinking in the Information Age and the Art of Scenario Designing. Makalah dipresentasikan dalam The First Prague Workshop On Futures Studies Methodology CESES, Charles University, Prague September 16-18. Kunarjo, (1992). Perencanaan dan Pembiayaan Pembangunan. Jakarta: UI Press. Masika, R dan Baden, S. (1997). Infrastructure and Poverty: A Gender Analysis.Report Paper for Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA). Miller, A. (1998). Strategic Management. Boston: McGraw-Hill. Nasution, A.(1983). Financial Institutions and Policies in Indonesia. Singapore: ISEAS. Pearce, H. J. A dan Robinson JR, R.B. (2000). Strategic Management: Formulation, Implementation, and Control. Boston: McGraw-Hill. Rachbini, D. J. (2005). RUU Rencanan Pembangunan 2005-2030. Kompas, 23 Agustus. Ringland, G. (1998). Linking Scenario to Corporate Planning. Mimeo. SAMI Consulting, London. Sastrosoenarto, H. (2006). Industrialisasi Sektor Pembangunan Sektor Pertanian dan Jasa Menuju Visi 2030. Jakarta: Gramedia.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

42

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Silalahi, H. T. (2005). Rencana Pembangunan 2005-2030. Kompas, 3 Agustus. Warjiyo, P (ed). (2004). Bank Indonesia: Bank Sentral Republik Indonesia Sebuah Pengantar. Jakarta: PPSK BI.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

2

43

PENTARGETAN INFLASI: PARADIGMA BARU KEBIJAKAN MONETER
LUKMAN HAKIM SITI AISYAH TR HERY SULISTYO JNS

LATAR BELAKANG Pentargetan inflasi (inflation targeting) merupakan paradigma baru mekanisme transmisi kebijakan moneter yang mendapatkan perhatian serius dewasa ini. Negara yang pertama kali menerapkan IT adalah New Zealand (1990), kemudian diikuti oleh beberapa negara maju yang lain antara lain Canada (1991), Israel (1991), Inggris (1992), Australia (1993), Finlandia (1993), Swedia (1993), dan, Spanyol (1995). Beberapa ahli mendukung konsep ini, karena dibandingkan pentargetan GDP pentargeran inflasi jauh lebih mudah , diterapkan oleh otorias moneter dan gampang dipahami oleh publik. Namun dari sudut efektifitas, peranan pentargetan inflasi dalam mendorong perkembangan perekonomian masih dipersoalkan (Bernanke dan Miskhin, 1997: 113). Bahkan menurut studi mutakhir dari Ball dan Niamh (2003), pengaruh IT terhadap pertumbuhan ekonomi bagi negara yang menerapkannya nyaris tidak ada. Studi itu lebih jauh menyimpulkan bahwa penerapan IT di berbagai negara lebih bermuatan politis dari pada ekonomis. Kendati pun demikian, hal itu tidak mengurangi daya tarik bank sentral di negaranegara lain untuk mencoba menerapkan IT, termasuk Bank Indonesia. IT merupakan mekanisme transmisi kebijakan moneter (MTM) yang mempunyai karakteristik sebagai berikut: (1) pengumuman target inflasi jangka menengah kepada publik; (2) ada lembaga yang komit menjaga stabiltias harga; (3) penerapan strategi iklusif dengan mengurangi peranan sasaran antara seperti pertumbuhan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

44

Visi Perekonomian Indonesia 2030

uang; (4) meningkatkan transparansi kebijakan moneter melalui komunikasi kepada publik dan masyarakat tentang rencana dan tujuan kebijakan moneter; (5) meningkatkan akuntabilitas bank sentral dalam menetapkan inflasi; (6) berkurangnya dominasi kebijakan fiskal (Debelle, 1997; Masson, et al, 1998; Mishkin, 1999; Carare, et al, 2002). Berdasarkan karakteristik itu, dapat dinyatakan bahwa IT merupakan sebuah alternatif baru dari mekanisme transmisi kebijakan moneter yang menggabungkan masalah moneter, informasi dan kelambagaan. Namun secara teknikal, IT dapat digolongkan dalam kelompok pendekatan harga (price setting), karena menggunakan suku bunga jangka pendek sebagai sasaran operasionalnya. Di sinilah perbedaannya dengan pendekatan kuantitas (quantity setting), di mana menggunakan jumlah uang beredar sebagai sasaran operasionalnya. Atau dengan kata lain, IT merupakan rival dari pendekatan kuantitas dalam MTM yang sebelum dekade 1990-an mendominasi pengelolaan sektor moneter di seluruh dunia. Pendekatan kuantitas diasosiasikan merupakan representasi dari paham moneteris, sementara pendekatan harga merupakan turunan dari paham New-Keynesian. Berarti pilihan terhadap penerapan IT merupakan pergerseran paradigma (shift of paradigm) dari moneterisme ke New-Keynesian (Junggun, 1999). Tiap-tiap negara yang menerapkan IT mempunyai argumentasi sendiri-sendiri. Demikian halnya alasan BI menerapkan IT, setidaknya ada dua argumen. Pertama, memang diperlukan paradigma baru mekanisme transmisi kebijakan moneter (MTM), menyusul kesulitan Bank Indonesia mengendalikan besaran moneter pada dekade 1990-an. Berkaitan dengan argumen itu, Boediono (1998) menjelaskan bahwa dengan MTM lama itu tidak sesuai dengan kenyataan. Karena sekitar 70% dari M0 adalah uang kartal yang sangat diperlukan oleh masyarakat, sementara 30% sisanya tidak mudah dipengaruhi oleh BI. Maka tidak jarang jika target pertumbuhan jumlah uang beredar sering tidak tercapai. Ini mendorong agar ditemukan cara lain dalam mengendalikan besaran

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

45

ekonomi, salah satu alternatifnya adalah menggunakan IT Kedua, . karena telah terpunuhinya prasyarat untuk menerapkan IT yaitu adanya independensi bank sentral yang tercantum dalam Undangundang No 23/1999. Dalam undang-undang itu juga ditegaskan bahwa tugas utama BI adalah mengendalikan nilai tukar rupiah, tujuan ini kemungkinan akan mudah dicapai jika BI menerapkan IT (Alamsyah,et.al, 2000:223). Persoalannya adalah apakah BI akan menerapkan IT secara ketat, dengan mengabaikan sama sekali peranan jumlah uang beredar? Beberapa studi inflasi mutakhir telah banyak manjawab persoalan ini salah satunya adalah Ramakrishnan dan Vamvakidis (2002). Studi itu menunjukkan bahwa nilai tukar, inflasi luar negeri, dan pertumbuhan uang beredar berpengaruh terhadap inflasi dibandingkan dengan output gap dan suku bunga PUAB. Di sini justru terlihat bahwa variabel-variabel IT yang bersifat Keynesian tidak berpengaruh terhadap inflasi, sementara variabel-variabel non IT yang moneteris justru berpengaruh lebih kuat. Berdasarkan hal itu dalam melakukan peramalan inflasi diperlukan model yang merupakan sinergi terhadap pandangan monetaris dan New-Keynesian. Sikap ini diambil karena bagi negara sedang berkembang di mana masih terjadinya ketidaksempurnaan pasar, memaksa bersifat ekletik atau mengambil hal-hal yang baik dan cocok dari sebuah paradigma. Berkaitan dengan itu, dalam studi peramalan ini akan memadukan pendekatan moneteris dan New Keynesian seperti pernah dilakukan oleh Odusola dan Akinlo (2001); dan Steven Morling (2002) dengan menggunakan metode Structural Vector Autoregressions (SVAR). Tujuan dari studi ini adalah melakukan proyeksi inflasi 2005 dengan menggunakan pendekatan sinergis antara paham monetarisme dan Keynesian. TINJAUAN TEORITIS Berdasakan tujuan di atas, studi ini akan memadukan pendekatan New-Keynesian dan Moneterisme. Pada dasarnya IT berkembang

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

46

Visi Perekonomian Indonesia 2030

pada tradisi New-Keynesian. Permodelan IT setidaknya harus mengandung dua komponen. Pertama, ekspektasi pengembangan kurva Phillips (augmented Phillips Curve). Ini merupakan standar model makroekonomi yang mengasumsikan ketegaran harga (sticky price). Kedua, model permintaan agregat yang menunjukkan pengaruh kebijakan moneter terhadap makro. ekonomi (Walsh, 2002:334). Sementara itu, pandangan moneteris seperti diwakili oleh Model St. Louis menganggap bahwa penawaran uang berpengaruh terhadap pengeluaran masyarakat (total spending). Perubahan pengeluaran masuarakat itu akan berpengaruh terhadap output, inflasi dan penganggungan (Andersen dan Carlson, 1970; King dan Wolman, 1996; Bank of Korea, 1998). Berdasarkan hal itu, kami mengajukan model yang mensinergikan paham NewKeynsian dan monetaris yang sesuai dengan struktur sistem finansial negara sedang berkembang seperti Indonesia, diformulasikan sebagai berikut:

mt=β1εms
yt= α1m + α2yt-1

(1)
(2)

it=γ1m1+ γ2y1 + γ3i1 et=δ1m + δ1y+ δ1i pt=ν1m+ ν1y+ ν1i+ ν1e

(3) (4) (5)

Di mana mt adalah log dari penawaran uang (monetary base); yt adalah log dari output gap; it adalah suku bunga pasar uang antar bank (PUAB); et adalah log dari nilai tukar nominal; dan p adalah inflasi. Persamaan ke-1 menunjukkan bahwa varibel panawaran uang (M0) adalah sesuatu yang otonomus. Artinya keberadaan variabel ini tidak dipengaruhi oleh varibel lain, melainkan oleh kebijakan bank sentral (Morling, 2002:50). Sementara itu, untuk persamaan ke-2, outputgap dipengaruhi oleh penawaran uang. Untuk persamaan ke-3, suku bunga dipengaruhi oleh

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

47

penawaran uang dan output gap. Persamaan ke-4, nilai tukar dipengaruhi oleh penawaran uang, output gap dan suku bunga. Sementara itu, persamaan ke-5, merupakan inti dari studi ini, inflasi dipengaruhi oleh penawaran uang, output gap, suku bunga, dan nilai tukar. METODE PENELITIAN Structural Vector Autoregression (SVAR) merupakan penyempurnaan dari metode Vector Autoregressions (VAR). VAR pertama kali diperkenalkan oleh Christopher Sims pada tahun 1980. VAR merupakan metode yang dimaksudkan sebagai kritik atas model makroekonomi yang mapan pada waktu itu misalnya model FRB-MIT terdiri atas 200 lebih persamaan struktural dan 90 variebel eksogen. Menurut Sim (1980a, 1980b) sesungguhnya untuk memahami perekonomian cukup diperlukan beberapa variabel utama saja, yang semuanya merupakan variabel endogen, maka di dalam VAR jumlah variabel yang dipergunakan sangatlah minimal yakni tidak lebih dari 6 variabel. Selain itu, salah satu kritik yang radikal adalah menekankan bahwa VAR merupakan “pendekatan tanpa teori” (atheoritical approach). VAR dapat saja dipakai oleh sebuah estimasi yang belum atau bahkan tidak ada teorinya. Sepertinya dalam melihat hubungan antara turis dan teroris di Italia yang dilakukan oleh Enders (1995). Persoalannya adalah kekuatan ilmu ekonomi terhadap hasil estimasi ekonometri terletak pada sejauhmana hasil itu membuktikan kebenaran teori, maka menjadi aneh kalau sebuah metode ekonometri justru meninggalkan teori ekonomi atau bersifat ateoritik. Kritik ini mendorong Sims (1986) untuk melengkapi analisis VAR-nya dengan menggunakan persaamaan struktural, yang kemudian dikenal sebagai Structural VAR (SVAR). Pada mulanya VAR dan SVAR hanyalah dianggap sebagai alat untuk meramal (forcasting). Namun dalam perkembangannya VAR dan SVAR menjadi alat yang paling banyak dipakai untuk menganalisi

(1)
(2)

(3) (4) (5)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

48

Visi Perekonomian Indonesia 2030

pengaruh kebijakan moneter diantaranya adalah Bernanke dan Blinder (1992); Gordon dan Leeper (1994; 1233-1245); Leeper (1997); Cushman dan Zha (1997); Ramaswamy dan Slok (1998: 379); Widyasanti (2004). Bukan hanya itu sebagian besar, analisis moneter di berbagai negara dewasa ini menggunakan metode VAR seperti dalam Kemin (1998), Mahadewa dan Sterne (2000) maupun dalam Warjiyo dan Agung (2002). Begitu luasnya penerapan metode VAR sebagai alat estimasi dan peramalan ekonomi, Epstein (1987) menengarai bahwa VAR merupakan generasi terakhir dari permodelan ekonometri time series. Sementara itu, McCallum (2005) menganggap bahwa VAR dan SVAR merupakan temuan penting dekade 1980-an dalam bidang ekonometri dan khususnya studi ekonomi moneter sejajar dengan tema-tema besar ekonomi antara seperti indepensi bank sentral, pentargetan inflasi, dan NewKeynesian model. Model Model SVAR yang dipergunakan dalam studi ini adalah sebagi berikut:
X
t

=

n

Di mana X merupakan (n x 1) vektor observasi pada waktu t dari variable-variabel ekonomi yang diestimasi yakni m=penawaran uang, gap=output gap, i=suku bunga PUAB, e=nilai tukar dan p= , inflasi. Sementara itu, A adalah koefisien matrik dari variable yang diestimasi secara berurutan, sementara ut adalah vector penganggu dan B adalah koefisien matriks (n x n) yang berhubungan pengganggu terhadap vector X. Bentuk ringkas (reduce form) dari sistem di atas dapat ditulis menjadi :

i=0

A i X t + Bµ t

(6)

X ε
t

t

=

∑ C X
t =1 i

n

t−1

+

ε

t

= G

µ

(7)

t

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

49

Di mana C=(1-A0)-1Ai dan G=(1-A0)-1B. Formula ini merupakan bentuk estimasi dari VAR. Dari sini dapat diturunkan impulse respons, variance decomposition dan structural VAR. Tetapi untuk keperluan analisis kebijakan, restriksi di matrik A dan B harus dilakukan. Agar dapat mentranformasi faktor gangguan persamaan struktural (µ) menjadi faktor gangguan di persamaan ringkas (e ), maka diasumsikan bahwa B adalah matriks diagonal dari matrik A yang berbentuk triangular. Hubungan antara ganggungan persamaan struktural dan persamaan ringkas dapat ditulis sebagai berikut:

µ

t

=

B (1 − A )ε
−1 0

t

(8)

Jika B adalah matriks identitas, maka untuk menghitung gangguan persamaan struktural harus memiliki cukup informasi elemen A yang bukan nol dan pengetahuan n varian dari vector µ. Informasi akan diperoleh jika terdiri atas n(n+1)/2 jarak antara kovarian sample dari kovarian matriks persamaan ringkas. Karena matriks A adalah triangular dan B adalah matriks identitas maka dapat diinterpretasikan bahwa jumlah elemen bukan nol tidak boleh melebihi dari n(n-1)/2 dari degree of freedom sebagai syarat perhitungan. Konklusi dari masalah di atas dapat dikemukan dalam formula : Di mana Z^= µµ’ dan M= (See’)/T yang merupakan estimasi dan residual dari matriks kovarian sebagai akibat adanya shock
µ  m  µ gap   µi   µe   µp 

Z = (1 − A t )M (1 − A t )!

(9)

  m0     gap   =  i0    e0     p0   

  1   0  a 21 +    a 31   a 41     a 51 

0 1

0 0 1

0 0 0 1

a a a

32 42 52

a a

43 53

a

54

0 εm  0   ε gap  0 εi  0 εe 1  ε  0

   (10)     

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

50

Visi Perekonomian Indonesia 2030

pada tahap pertama. Sementara A adalah matrik kovarian dan Z adalah diagonalnya. Sebelum mengestimasi persamaan (8) di atas, terlebih dahulu kita harus memasukkan persamaan struktural yang dimaksud dalam studi ini, baik ada atau tidak restriksi. Dalam studi ini tidak ada restriksi seperti terlihat dalam matriks (10) di bawah ini: Uji standar yang disyaratkan sebelum estimasi VAR dilakukan adalah penetapan tingkat kelambanan yang optimal. Beberapa penelitian mutakhir tentang VAR untuk menetapkan tingkat kelambanan yang optimal menggunakan Akaike Information Criteria (AIC) dan Schwarz Criteria (SC) Untuk menetapkan tingkat kelambanan yang paling optimal, model VAR harus diestimasi dengan berbeda-beda tingkat kelambanannya, kemudian dibandingkan nilai AIC dan SC-nya, nilai yang paling rendah yang dipakai sebagai patokan pada tingkat kelambanan paling optimal (Greene, 2000; 717). Penelitian ini nantinya akan menguji tingkat kelambanan yang paling optimal dari tingkat kelambanan 2, 3, dan 4. Untuk kepentingan simulasi tidak dapat disajikan dalam bentuk skenario. Karena di dalam metode VAR tidak terdapat variabel eksogen, melainkan semua variabel endogen. Maka perbandingan hasil peramalan hanya membandingkan hasil pendekatan deterministik dan stochastik. Pendekatan deterministik adalah semua persamaan dalam model semua variabel adalah hasil (point estimates) yang tetap dan semua variabel eksogen dianggap konstan selama periode penelitian. Sementara itu, pendekatan stochastik adalah memperhitungkan masalah residual dan variabel eksogen secara acak dianggap berubah (Eviews, 2000). Sudah menjadi kesepakaan, karena data makro ekonomi yang digunakan dalam analisis time series biasanya tidak stasioner maka , perlu dilakukan uji akar-akar unit. Namun menurut Sims (1980a) dalam mengoperasikan metode VAR tidak dianjurkan menggunakan bentuk turunan pertama. Karena tujuan dari analisis VAR adalah untuk melihat hubungan antar variabel dan bukan mencari parameter estimasti. Alasannya adalah jika data turunan pertama

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter Tabel 1. Deskripsi Variabel
Variabel p m i e y Deskripsi Inflasi akumulatif tiga bulan Base money (M0) Suku bunga pasar uang antar bank over night (PUAB) Nilai tukar rupiah terhadap dollar nominal Output gap diturunkan dari GDP tahun dasar 2002 dengan metode Hodrick-Prescott filter.

51

digunakan dapat menghilangkan informasi penting tentang hubungan variabel-variabel dalam sebuah sistem. Oleh karena itu, dalam studi ini tidak akan digunakan turunan pertama dalam mengoperasikan metode VAR. Selain itu, bentuk yang data yang dianjurkan adalah dalam bentuk persentase, maka beberapa variabel seperti output gap, nilai tukar, jumlah uang beredar diubah dalam bentuk logaritma. Periode penelitian diambil pada masa krisis yakni 1998-2004. Argumentasinya adalah karena periode itu merupakan efektif dari pelaksanaan sistem nilai tukar mengambang (flexible exchange rate) yang di mulai pada Agustus 1997. Sementara itu, data yang dipergunakan merupakan terbitan BPS dan BI dengan diskripsi variabel sebagai berikut HASIL DAN ANALISIS Uji Prasyarat Seperti telah disinggung di muka, untuk menetapkan tingkat kelambanan yang optimal dilakukan uji Akaike Criteria dan Schwarz Criteria dengan memasukkan lag 2, 3 dan 4. Dari ketiga lag itu ternyata yang paling rendah adalah lag 4, maka dalam analisis SVAR ini menggunakan lag 4. Ini dapat diartikan sebuah kebijakan (shock) akan berdampak kepada masyarakat luas setelah 4 kuartal atau satu tahun. Berdasarkan hasil analisis dengan lag-4 itu, berikut

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

52 Tabel 2. Penetapan Lag Optimal
Lag Akaike Information Criteria -3.524556 -8.974185 -10.42344

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Schwarz Criteria -0.907726 -5.167886 -5.427670

Log Likelihood (d.f. adjusted) 104.3438 205.6386 250.9281

2 3 4

ini berturut-turut akan dibahas impulse respons dan hasil estimasi SVAR. Impulse Response Impulse response diartikan sebagai respons dari sebuah variabel jika mendapatkan shock dari variabel-variabel lain. Poros horisontal menunjukkan waktu dan poros vertikal merupakan tingkat respons dalam persen. Karena menggunakan tingkat kelambanan 4, berarti respons terjadi setelah 4 kuartal. Tujuan dari studi ini adalah melihat respons inflasi terhadap shock variabel-variabel lain, maka grafik yang ditampilkan hanyalah untuk kepentingan itu. Dari grafik 1 di atas terlihat bahwa respons inflasi dari yang paling kuat sampai yang paling rendah secara berturut-turut ditunjukkan oleh nilai tukar (log e); penawaran uang (log m); suku bunga (R), inflasi (p) dan output gap (log gap). Bahkan di sini respons inflasi terhadap output gap di bawah base-line atau justru negatif. Maka ini membenarkan studi Ramkrishnan dan Vamvakidis (2002) yang menyimpulkan bahwa nilai tukar dan penawaran uang mempunyai pengaruh positif terhadap inflasi, sedangkan output gap memiliki dampak negatif terhadap inflasi. Structural VAR Hasil estimasi SVAR menunjukkan sesuatu yang penting sesuai dengan tujuan studi ini. Kendatipun dari sudut statistik tidak terlalu

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

53

kelihood djusted)

3438 86 9281

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Grafik1. Impulse Response

54

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 3. Hasil Estimasi SVAR

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

55

menggembirakan, seperti ditunjukkan hanya sedikit hubungan antar variabel yang signifikan. Hubungan variabel yang mewakili model monetaris St.Louis seperti terlihat pada persamaan (2) hubungan variabelnya tidak sesuai teori dan tidak signifikan. Secara teoris semestinya hubungan antara penawaran uang (logm) dengan output gap (loggap) adalah positif, namun dari hasil estimasi negatif. Pada persamaan (3), secara statistik hubungan antar varibel tidak ada yang signifikan. Secara teoritis hubungan antara penawaran uang (logm) terhadap suku bunga sesuai dengan teori yaitu negatif atau jika jumlah uang beredar meningkat maka suku bunga akan menurun. Sementara itu, pada persamaan (4) yang menarik adalah hubungan antara suku bunga (R) terhadap nilai tukar yang siginifan dan sesuai dengan teori. Yakni jika suku bunga naik, maka nilai tukar akan mengalami apresiasi (Mishkin, 1995:5). Persamaan (5) yang merupakan inti dari pembahasan studi ini menunjukkan kesesuaian dengan tujuan dari studi ini. Pengaruh penawaran uang dan nilai tukar terhadap inflasi signifikan dan sesuai dengan teori, semengara pengaruh output gap (loggap) dan suku bunga (R) terhadap inflasi tidak signifikan. Temuan ini sama dengan temuan Ramakrishnan dan Vamvakidis (2002) yakni pengaruh penawaran uang dan nilai tukar terhadap inflasi sangatlah kuat. Sementara justru variabel New-Keynesian yakni output gap dan suku bunga tidak mempunyai kuat pengaruhnya terhadap inflasi. SIMULASI PROYEKSI INFLASI Seperti telah disebutkan di muka, Metode VAR mengasumsikan seluruh variabelnya endogen, sehingga tidak ada eksogenitas di dalamnya yang dapat dianggap sebagai variabel kebijakan. Maka, dengan metode ini tidak ada skenario kenaikan variabel eksogen, sebaliknya yang ada adalah proyeksi biasa dengan asumsi semua variabel tetap. Ada dua pendekatan proyeksi inflasi yakni determinstik dan stochastik. Pendekatan deterministik dapat

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

56
Tabel 4. Simulasi Model

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Kuartal 2005:1 2005:2 2005:3 2005:4 Total

Simulasi Pesimis 6.551073 2.676809 -0.633184 -0.298725 8.295973

Simulasi Optimis 6.231073 5.131608 -8.685654 1.159842 3.836869

dianggap sebagai pendekatan pesimis, sedangkan stochastik merupakan optimis. Hasil simulasi pesimis adalah tahun 2005, tingkat inflasi pada kuartal pertama mencapai 6,55%. Pada kuartal ke-2 diperkirakan mencapai 2,67%, sementara diperkirakan pada kuartal ke-3 dan 4 justru mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,6 dan -0,29. Berdasarkan perkiraan inflasi kuartalan itu dapat diproyeksikan inflasi pada tahun 2005 menurut simulasi pesimis adalah sebesar 8,29%. Sementara itu, simulasi optimis tingkat inflasi pada tahun 2005 lebih rendah dari pada simulasi pesimis. Tingkat inflasi pada kuartal pertama mencapai 6,23%, kemudian pada kuartal ke-2 diperkirakan 5.13%. Pada kuartal ke-3 diperkirakan akan terjadi deflasi sebesar –8,68%, dan pada kuartal ke-4 kembali inflasi mencapai 1,15%. Maka jika inflasi kuartalan itu dijumlah, inflasi total pada tahun 2005 diperkirakan hanya mencapai 3,83%. KESIMPULAN Dari hasil studi ini “Proyeksi Inflasi 2005: Sinergi antara Pendekatan New-Keynesian dan Monetaris” menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil impulse response dan SVAR di atas dapat dinyatakan bahwa variabel-variabel moneteris relatif lebih kuat

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

57

Optimis

mempengaruhi inflasi dari pada variabel New-Keynesian. Ini berarti dalam menerapkan IT tetap harus diperhatikan variabel, variabel kuantitatif seperti jumlah uang beredar. 2. Hasil simulasi proyeksi inflasi terdapat dua angka perhitungan yakni perhitungan pesimis dan optimis. Menurut pendekatan pesimis inflasi pada tahun 2005 diperkirakan sebesar 8,29% dan perhitungan optimis mencapai 3,83%. DAFTAR PUSTAKA Alamsyah, H. Joseph, C. Agung J. dan Zulverdy D. (2000). Fremework for Implementing Inflation Targeting in Indonesia. Dalam C. Joseph dan A.H.Gunawan. Monetary Policy and Inflation Targeting in Emerging Economies. Jakarta: BI-IMF. Andersen, L.C. dan Carlson, K. M. (1970). A Moneterist Model for Economic Stabilization. Review, Federal Reserve Bank of St. Louis, April. Ball, La. dan Niamh Sheridan. (2003). Does Inflation Targeting Matter? IMF Working Paper, No. WP/03/129. Bank of Korea. (1998). Korea’s Experience of the monetary transmission mechanism. Dalam S. Kemin (ed). Transmission Mechanism of Monetary Policy. BIS Policy Paper 3, 140-154. Bernanke, B.S. dan Blinder A.S. (1992). The Federal Fund Rate and the Channels of Monetary Transmission. American Economic Review, 82 (September), 901-21. Bernanke, B.S dan Miskhin, F.S. (1997). Inflation Targeting: A New Framework for Monetary Policy ? Journal of Economic Perspectives, 11 (2) 97-148. Boediono. (1998). Merenungkan Kembali Mekanisme Transmisi Moneter di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 1 (1),1-4. Carare, A, Schaechter, A. Stone, M. dan Zelmer M. (2002). Establishing Initial Conditions in Support of Inflation Targeting. IMF Working Paper. No WP/02/102.

5654

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

58

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Cushman, D.O. dan Zha, T. (1997). Identifying Monetary Policy in a Small Open Economy under Flexible Exchage Rates. Journal of Monetary Economics, 39, 433-448. Debelle, G. (1997). Inflation Targeting in Practice. IMF Working Paper. No. WP/97/35. Enders, W. (1995). Applied Econometric Time Series. New York: John Wiley. Epstein, R.J. (1987). A History of Econometrics. New York: Elsevier Science Publishers BV. Eviews. (2000). Eviews 4: User’s Guide. Irvine: Quantitative Micro Software. Gordon, D. B dan Leeper, E. M. (1994). The Dynamic Impacts of Monetary Policy: An Exercises in Tentative Identification. Journal of Political Economy, 102 (6) 1228-1247. Greene, W. H. (2000). Econometric Analysis. New Jersey : Prentice Hall. Oh, J. (1999). Inflation Targeting, Monetary Transmission Mechanism and Policy Rules in Korea. Economic Papers The Bank of Korea. 2 (1), 102-148. Kemin, S. (ed). (1998). Transmission Mechanism of Monetary Policy. BIS Policy Paper No.3. Basle: BIS. King, R.G dan Wolman, A.L . (1996). nflation Targeting in a St. Louis Model for the 21st Century. Review, Federal Reserve Bank of St. Louis, May/June. Leeper, E. M. (1997). Narrative and VAR Approaches to Monetary Policy: Common Indentification Problems. Journal of Monetary Economics, 40 641-657. Mahadewa, L dan Sterne, G (ed). (2000). Monetary Policy Framework in a Global Context. London: Rautledge. Masson, P. Savastano, M.A. and Sharma S. (1998). Can Inflation Targeting Be A Framework for Monetary Policy in Developing Countries. Finance and Development, March.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Pentargetan Inflasi: Paradigma Baru Kebijakan Moneter

59

McCallum, B.T. (2005). What Have We Learned Since October 1979. Review, Federal Reserve Bank of St. Louis, March/April. Mishkin, F.S. (1999). International Experiences with Different Monetary Policy Regimes. NBER Working Paper Series No.7044. March. Mishkin, F.S, (1995). Symposium on the Monetary Transmission Mechanism. Journal of Economic Perspectives, 9 (4) 3-10. Morling, S. (2002). Output Adjustment in Developing Countries: A Struktural VAR Approach. The Developing Economies, XL-1, March. Odusola, A.F. dan Akinlo, A.E. (2001). Output, Inflation, and Exchange Rate in Developing Countries: An Application To Nigeria. The Developing Economies, XXXIX (2). Pindyck, RS dan Daniel L. Rubinfeld. (1998). Econometric Model & Economic Forecast. NewYork: Mc Graw-Hill. Ramakrishnan, U dan Vamvakidis, A. (2002). Forcasting Inflation in Indonesia. IMF Working Paper, No. WP/02/111, June. Ramaswamy, R. dan Slok T. (1998). The Real Effect of Monetary Policy in the European Union: What Are The Differences ? IMF Staff Papers, 45 (2) 374-396. Sims,C.A. (1980a). Macroeconomic and Realty. Econometrica. 48(1) 1- 48. Sims,C.A.(1980b).Comparison of Interwar and Postwar Business Cycles: Monetarism Reconsidered. American Economic Review, 70 (May) 250-257. Sims, C.A. (1986). Are Forcesting Models Usable for Policy Analysis. Quartely Review, Federal Reserve Bank of Minneapolis, 10(1). Walsh, C.E. (2002). Teaching Inflation Targeting: An Analysis for Intermediate Macro. Journal of Economic Education, Fall. Warjiyo, P dan Agung, J.(ed). (2002). Transmission Mechanisms of Monetary Policy in Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

60

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Widyasanti, A. A. (2004). A Calibrated Model of Inflation Targeting for an Emerging Economy: The Case of Indonesia. Paper in Department of Economics, University of Melbourne, Australia.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

3

61

REFORMULASI DAU MENDORONG PEMBANGUNAN DAERAH
MULYANTO LUKMAN HAKIM

PENDAHULUAN Dengan ditetapkannya UU No.25/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; ada nuansa baru di dalam pengelolaan Keuangan Daerah yang disesuiakan dengan potensi, kondisi dan kebutuhan Daerah. Dengan paradigma baru tersebut, struktur APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) mengalami perubahan dengan masuknya pos Dana Perimbangan yang terdiri atas: (i) Pos Bagi Hasil Daerah; (ii) Pos DAU (Dana Alokasi Umum); dan (iii) Pos DAK (Dana Alokasi Khusus). Dengan paradigma tersebut, salah satu konsekuensi logis dari pemberlakuan UU No.25/1999 adalah dihapuskannya konsep/pos SDO (Subsidi Daerah Otonom) atau DRD (Dana Rutin Daerah) dan DI (Dana Inpres) atau DPD (Dana Pembangunan Daerah) yang dilaksanakan dengan mekanisme Inpres (Instruksi Presiden); digantikan dengan ‘satu’ paket transfer yang dikenal dengan istilah DAU (Dana Alokasi Umum), yang penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing Daerah. Dari penjelasan di atas, DAU (Dana Alokasi Umum) secara umum dapat dikatakan sebagai block grant transfer dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah (Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota) yang nilainya ditentukan oleh besarnya bobot daerah yang dihasilkan dari serangkaian perhitungan atas dasar sejumlah variabel atau data dasar yang bersifat nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No.25/1999. Tujuan penetapan DAU adalah untuk mengurangi ketimpangan horizontal dan juga untuk menyediakan penyeimbang fiskal (equalizing factor)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

62

Visi Perekonomian Indonesia 2030

antar daerah; dengan memperhatikan potensi daerah, luas wilayah, keadaan geografi, jumlah penduduk, dan tingkat pendapatan masyarakat; sehingga perbedaan antar Daerah yang maju dengan Daerah yang belum belum berkembang dapat diperkecil atau diminimalisir . Besarnya DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari PDN (Penerimaan Dalam Negeri) yang ditetapkan dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), setelah dikurangi dengan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada Daerah. Besarnya DAU untuk Propinsi sebesar 10% (sepuluh persen), sedang untuk Kabupaten dan Kota sebesar 90% (sembilan puluh persen). Selama era otonomi, tepatnya sejak 1 Januari 20001; sudah 4 (empat) kali ditepkan Keppres (Keputusan Presiden), yang terkait dengan masalah DAU, yaitu: (i) Keppres Nomor 181 Tahun 2000 tentang DAU Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/ Kota Tahun Anggaran 2001; (ii) Keppres Nomor 131 Tahun 2001 tentang DAU Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2002; (iii) Keppres Nomor 1 Tahun 2003 tentang DAU Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2003; serta (iv) Keppres Nomor 109 Tahun 2003 tentang DAU Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun Anggaran 2004. Selama 4 (empat) tahun pelaksanaan DAU, sudah terjadi perubahan PP (Peraturan Pemerintah) yang menjadi dasar bagi penyusunan rumusan/formula DAU, yaitu dari: PP Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan, dan kemudian diubah menjadi PP Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan. Dua PP (Peraturan Pemerintah) inilah yang menjadi dasar bagi penyusunan dan perbaikan rumusan/formulasi DAU sekarang ini dan mungkin di tahun-tahun mendatang; selama belum terjadi amandemen terhadap UU Nomor 25 Tahun 1999. Berdasar pada Keppres di atas, jumlah DAU secara keseluruhan yang dialokasikan ke daerah selama tahun 2001-2004 masingmasing adalah: (i) sebesar Rp 60.516,70 miliar untuk tahun 2001, dengan rincian ke Provinsi sebesar Rp 6.051,67 miliar dan ke

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah

63

Kabupaten/Kota sebesar Rp 54.465,00 miliar; (ii) sebesar Rp 66.364,10 miliar untuk tahun 2002, dengan rincian ke Provinsi sebesar Rp 6.634,4 miliar dan ke Kabupaten/Kota sebesar Rp 59.727,70 miliar; (iii) sebesar Rp 76.978,00 miliar untuk tahun 2003 atau meningkat sebesar 11,4% dibanding DAU tahun 2002, dengan rincian ke Provinsi sebesar Rp 7.697,80 miliar dan ke Kabupaten/Kota sebesar Rp 69.280,20 miliar; serta (iv) sebesar Rp 82.130,94 miliar untuk tahun 2004, dengan rincian ke Provinsi sebesar Rp 8.213,1 miliar dan ke Kabupaten/Kota sebesar Rp 73.917,85 miliar. Besarnnya DAU tersebut, tidak sepenuhnya didasarkan pada suatu faktor formula/rumusan yang ditetapkan tetapi masih ada faktor lain berupa faktor penyeimbang dan faktor lumpsum. Hal inilah yang menjadi pemikiran ke depan bahwa hasil perhitungan DAU sebaiknya yang benar-benar dihasilkan dari suatu faktor formula tertentu yang disepakati oleh banyak pihak. T ermasuk kemungkinan tidak adanya DAU bagi suatu Provinsi atau Kabupaten/Kota jika ternyata ditemukan bahwa kebutuhan fiskal (fiscal need) memang nyata-nyata lebih kecil dibanding dengan kapasitas fiskal (fiscal capacity). Tulisan ini akan mengkaji perjalanan perumusan DAU selama ini, yang kemudian dilanjutkan dengan usulan perubahan terhadap rumusan, serta diakhiri dengan penutup. TINJAUAN PERKEMBANGAN RUMUSAN DAU Sebagaimana yang banyak disebutkan bahwa tujuan pengalokasikan DAU, selain dalam kerangka otonomi pemerintahan di tingkat Daerah, juga untuk pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan publik di antara pemerintahan Daerah di Indonesia. Di samping itu, juga bertujuan untuk mengurangi kesenjangan antar Daerah sebagai akibat dari pembagian Dana Bagi Hasil Daerah, khusunya dari SDA (Sumber Daya Alam) yang hanya menguntungkan pada Daerah-Daerah tertentu. Oleh karena itu, formula/rumusan DAU disusun dengan lebih mempertimbangkan pada sisi kemampuan keuangan (fiscal capacity) dan kebutuhan Daerah (fiscal need). Dengan kata lain, bahwa kebutuhan DAU

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

64

Visi Perekonomian Indonesia 2030

suatu Daerah ditentukan atas besar kecilnya kesenjangan fiskal (fiscal gap) suatu Daerah; yang merupakan selisih antara kebutuhan Daerah (fiscal need) dengan potensi Daerah (fiscal capacity). Pada bagian berikut akan dipaparkan sekilas perkembangan rumusan DAU dari tahun 2001-2003. Tidak dibahasnya rumusan DAU tahun 2004, semata-mata dikarenakan belum didapatkannya informasi mengenai rumusan DAU untuk tahun tersebut secara lengkap dan akurat. DAU Tahun 2001 DAU tahun 2001, didasarkan pada beberapa prinsip, yaitu: (i) dipenuhinya norma hukum dalam UU No.25/1999; (ii) adanya kejelasan hubungan antar kebutuhan Daerah dan potensi Daerah; (iii) besarnya DAU paling tidak sama dengan besarnya SDO/DRD (Dana Rutin Daerah) dan DI/DPD (Dana Pembangunan Daerah); (iv) adanya unsur kemudahan di dalam memahami rumus penentu besaran DAU; serta (v) rumus didasarkan atas variabel-variabel datanya tersedia dan akurat. Secara umum besaran DAU pada tahun 2001, didapatkan dari penjumlahan atas 3 (tiga) faktor, yaitu: a. FP (Faktor Penyeimbang), yaitu suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas pemerintah Daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban yang tidak diduga sebelumnya, termasuk untuk mengantisipasi permasalahan pendanaan yang muncul akibat terjadinya transfer pegawai dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Tranfer pegawai tersebut dilakukan, mengingat terjadinya likuidasi dari beberapa fungsi dekonsentrasi Pemerintah Pusat (kanwil, kandep): seperti: departemen transmigrasi, pariwisata dan budaya, koperasi, sosial, penerangan, dan pekerjaan umum. b. FF (Faktor Formula), yaitu faktor rumusan DAU yang berisi variabel-variabel yang sesuai dengan amanat UU No.25/1999, yang kemudian secara lebih jelas dituangkan dalam PP No.104/

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah

65

2000 tentang Dana Perimbangan. Variabel-variabel ini, secara umum meliputi: - Potensi Penerimaan, yang terdiri dari: PDRB Primer (PDRB sektor SDA: Sumber Daya Alam); PDRB Non-Primer (PDRB sektor industri dan jasa lainnya); dan Angkatan Kerja (Penduduk Usia Produktif). - Kebutuhan Daerah, yang terdiri dari: Jumlah Penduduk, Luas Wilayah, Indeks Harga Bangunan, Jumlah Penduduk Miskin. c. FL (Faktor Lumpsum), yaitu suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN ke DaerahDaerah. Di samping alokasi DAU yang sudah didistribusikan kepada Daerah-Daerah dengan skema pencairan 1/12 untuk setiap bulannya, juga terdapat dana tambahan yang diberikan kepada beberapa Pemerintah Daerah untuk mengantisipasi tingginya biaya transfer pegawai dari Pusat ke Daerah, lambatnya peralihan kewenangan dari Provinsi ke Kabupaten/Kota, serta terjadinya kenaikan gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil). Dana tambahan tersebut diberikan dalam bentuk Dana Kontijensi Tahap I, Dana Kontijensi Tahap II, dan Dana Talangan. DAU Tahun 2002 Dengan ditemukannya beberapa kelemahan yang terdapat dalam formulasi DAU tahun 2001, Pemerintah telah meninjau kembali formulasi DAU; termasuk mereformulasikan kembali untuk perhitungan DAU tahun 2002. Reformulasi DAU tahun 2002, didasarkan atas beberapa hal, yaitu: (i) Dalam Keppres Nomor 181 Tahun 2000 secara eksplisit menyatakan bahwa penetapan DAU tahun 2001 hanya berlaku untuk satu tahun yang bersangkutan dan tidak terkait dengan penghitungan DAU tahun 2002 dan tahuntahun selanjutnya; (ii) Rapat DPOD tanggal 18 Desember 2000, yang menyatakan bahwa formulasi DAU tahun 2001 masih banyak ditemukan kelemahannya, sehinga perlu dilakukan perbaikan-

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

66

Visi Perekonomian Indonesia 2030

perbaikan guna menyempurnakan formulasi DAU tahun 2002 dan tahun-tahun berikutnya; (iii) Kesepakatan dalam Tim Kecil Dana Perimbangan Panitia Anggaran DPR RI tanggal 28 Maret 2001 yang menyatakan bahwa perlu dilakukan penyempurnaan formula dan distribusi DAU tahun 2002 dengan tujuan untuk mengurangi celah fiskal (fiscal gap) antar Daerah serta dapat lebih mencerminkan asa keadilan dan pemerataan. Berdasar pada permasalahan di atas, beberapa ketentuan yang menjadi dasar bagi penyusunan formulasi DAU tahun 2002, yaitu: (i) Tetap mengacu pada kaidah-kaidah dasar dalam UU No.25/ 1999, dimana DAU akan dialokasikan dengan menggunakan bobot Daerah yang dihitung dengan formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi Daerah yang diwujudkan atas beberapa indikator/variabel yang dipergunakan dalam memperkirakan besarnya kebutuhan dan potensi penerimaan Daerah; (ii) Formula DAU tetap menggunakan celah fiskal (fiscal gap), yaitu kebutuhan pembiayaan (fiscal need) dibandingkan dengan potensi penerimaan (fiscal capacity); (iii) Pendekatan Fiscal Gap memungkinkan adanya Daerah yang relatif sudah dianggap mampu dari segi kapasitas keuangan, dan seharusnya tidak lagi memerlukan alokasi DAU; (iv) Mengacu pada variabel-variabel yang dipertimbangkan dalam UU No.25/1999, tetapi sekaligus membuka kemungkinan penambahan beberapa variabel baru yang merupakan penyempurnaan dari variabel formula DAU dalam PP Nomor 104 Tahun 2000, tanpa menyimpang dari UU itu sendiri; (v) Formula DAU harus sederhana dalam artian dapat dijelaskan dan mudah dipahami serta dimengerti oleh semua pihak yang berkepentingan; (vi) Akurasi data baik untuk variabel fiscal need maupun fiscal capacity yang akan digunakan untuk penghitungan DAU harus menjadi perhatian utama; (vii) Salah satu misi atau tujuan keberadaan DAU adalah sebagai transfer yang menyeimbangkan kemampuan keuangan antar Daerah (equalization grant), yang secara teknis akan menghasilkan suatu indeks koefisien variasi penerimaan per kapita yang sekecil mungkin.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah DAU Tahun 2003

67

Dalam perhitungan DAU tahun 2003 menitik beratkan pada hasil rapat Panitia Anggaran DPR RI dengan Pemerintah tanggal 10 Juli 2002, yang telah menetapkan bahwa salah satu kebijakan dalam formulasi dan perhitungan DAU 2003 berupa penyempurnaan formula dan perhitungan DAU yang dilakukan dengan: (i) meningkatkan akurasi data; (ii) secara berangsur-angsur mengurangi peran AM (Alokasi Minimum) untuk memperbesar dana yang dialokasikan untuk mengoreksi kesenjangan antar Daerah; (iii) diupayakan untuk tetap menjaga agar tidak ada Daerah yang akan menerima DAU tahun 2003 lebih kecil atau minimal sama dengan DAU tahun 2002 ditambah Dana Penyeimbang. Secara ringkas, persamaan dan perbedaan antara formulasi besaran DAU tahun 2001, 2002, dan 2003; selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1. USULAN PERUBAHAN RUMUSAN DAU Usulan terhadap rumusan DAU yang akan dibahas di sini hanya dikaitkan dengan faktor formula DAU (baca KF: Kesenjangan Fiskal), yang ke depan sebaiknya menjadi dasar bagi penentuan dan perhitungan besaran DAU, dengan seminimal mungkin memasukkan faktor-faktor lain selain faktor formula, seperti faktor penyeimbang dan faktor lump sum. Usulan perubahan rumusan DAU dalam tulisan ini, didasarkan pada penjabaran lebih lanjut atas atas formulasi DAU tahun 2003 yang dipandang sudah lebih baik dibanding dengan model-model formula DAU untuk tahun-tahun sebelumnya. Di samping itu, juga tetap mempertimbangkan PP Nomor 84 Tahun 2001 yang merupakan perubahan atas PP Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan, yang merinci Kebutuhan Wilayah Otonomi Daerah dan Potensi Ekonomi Daerah untuk menghasilkan besaran DAU, dimana Kebutuhan DAU suatu Daerah yang sering diistilahkan dengan KF (Kesenjangan Fiskal) adalah Kebutuhan Wilayah Otonomi Daerah (fiscal need) dikurangi dengan Potensi Ekonomi Daerah (fiscal capacity). Selanjutnya untuk menghitung

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

68

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 1.Perbandingan Perhitungan Besaran DAU, Tahun 2001 - 2003

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah

69

Bobot DAU Daerah, dapat dihasilkan dengan membandingkan Kebutuhan DAU suatu Daerah (KF: Kesenjangan Fiskal) dengan Total Kebutuhan DAU, baik untuk Provinsi maupun Kabupaten/ Kota. Akhirnya besarnya DAU Provinsi maupun Kabupaten/Kota dapat dihasilkan dengan mengalikan Bobot DAU dengan besarnya nilai DAU yang akan dialokasikan ke Provinsi dan Kabupaten/Kota yang bersumber dari PDN (Penerimaan Dalam Negeri) netto dalam APBN. Kebutuhan Wilayah Otonomi Daerah yang sering diistilahkan dengan Kebutuhan Fiskal (fiscal need) atau disingkat dengan KbF; dalam Formulasi DAU tahun 2003 dirumuskan sebagai berikut: KbF = PDR x ( 0,4.IJP + 0,1.ILW + 0,0.IKP + 0,1.IKR + 0,4.IKK ) .........................................................(1) Kebutuhan Fiskal Pengeluaran Daerah Rata-Rata Indeks Jumlah Penduduk Indeks Luas Wilayah Indeks Kepadatan Penduduk Indeks Kemiskinan Relatif Indeks Kemahalan Konstruksi

Dimana KbF : PDR : IJP : ILW : IKP : IKR : IKK :

Sementara itu, Potensi Ekonomi Daerah yang sering diistilahkan dengan Kapasitas Fiskal (fiscal capacity) atau disingkat dengan KpF; dalam Formulasi DAU tahun 2003 dirumuskan sebagai berikut: KpF = PADÙ + ( PBB + BPHTB + PPh + 0,75.SDA ).......... (2) Kapasitas Fiskal Pendapatan Asli Daerah (diestimasi dari PDRB sektor jasa) Bagi Hasil dari Pajak Bumi dan Bangunan Bagi Hasil dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan : Bagi Hasil dari Pajak Penghasilan Orang Pribadi : Bagi Hasil dari Sumber Daya Alam Dimana KpF : PADÙ : PBB : BPHTB : PPh SDA

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

70

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Terakhir, Kesenjangan Fiskal (KF) adalah selisih dari Kebutuhan Wilayah Otonomi Daerah (KbF: Kebutuhan Fiskal) dengan Potensi Ekonomi Daerah (KpF: Kapasitas Fiskal), atau secara matematis dirumuskan: KF = Dimana KF : KbF : KpF : KbF - KpF ......................................................(3)

Kesenjangan Fiskal Kebutuhan Fiskal Kapasitas Fiskal

Usulan Perubahan Formula Usulan perubahan rumusan DAU dalam tulisan ini, hanya dititikberatkan pada upaya untuk memodifikasi bagian Kebutuhan Fiskal (KbF); khususnya pada variabel IJP (Indeks Jumlah Penduduk) dan IKR (Indeks Kemiskinan Relatif). IJP dan IKR akan dimodifikasi dengan memasukkan variabel pembentuk IPM (Indeks Pembangunan Manusia) atau HDI (Human Development Index), dimana data untuk tahun 1999 telah tersedia, baik di tingkat Provinsi maupun di tingkat Kabupaten/Kota dalam publikasi yang diterbitkan atas kerjasama antara BPS, BAPPENAS, dan UNDP pada tahun 2001 dengan judul: “Indonesia Human Development Report : Towards a New Consensus, Democracy and Human Development in Indonesia”. Publikasi ini juga sudah diperbaharui melalui publikasi yang berjudul: “Human Development Report 2004: The Economics of Democracy, Financing Human Development in Indonesia”. Artinya, jika data ini kelak bisa dimasukkan ke dalam rumusan DAU di masa-masa mendatang, maka kebutuhan DAU juga sangat terkait dengan upaya peningkatan IPM (Indeks Pengembangan Manusia) yang di dalamnya menyangkut aspek kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Data tahun 1999 yang berupa Lamanya Tahun Sekolah (ILS: Indeks Lama Sekolah), Angka Harapan Hidup (IHH: Indeks Harapan Hidup), dan Angka Melek Huruf (IMH: Indeks Melek Huruf); akan dimasukkan dalam rumusan pada bagian Kebutuhan Wilayah Otonomi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah

71

(KbF: Kebutuhan Fiskal), yang secara lengkap dirumuskan sebagai berikut: KbF = PDR x ( [ 0,4. ( 0,6.IJP + 0,4.ILS ) ] + [ 0,1. ( 0,3.IKR + 0,4.IMH + 0,3.IHH ) ] + 0,1.ILW + 0,4.IHB ) (4)

Dimana KbF : Kebutuhan Fiskal PDR : Pengeluaran Daerah Rata-Rata - Besaran ini sesuai dengan data mentah sebesar Rp 425,71 miliar . IJP : Indeks Jumlah Penduduk - Merupakan rasio antara Penduduk suatu Daerah dengan Rata-rata Penduduk secara Nasional (sama dengan konsep sebelumnya). - Bobot 0,6 dihasilkan dari pertimbangan koefisien variasi. ILS : Indeks Lama Sekolah - Merupakan rasio antara Rata-rata Tahun Lama Sekolah secara Nasional dengan Lama Tahun Sekolah di suatu Daerah - Bobot 0,4 dihasilkan dari pertimbangan koefisien variasi. IKR : Indeks Kemiskian Relatif - Konsep sama dengan model-model sebelumnya, yaitu dicari secara bertahap dari perhitungan HCI (Head Count Index), IG (Income Gap), dan terakhir baru menghitung IKR. - Bobot 0,3 dihasilkan dari pertimbangan koefisien variasi. IMH : Indeks Melek Huruf - Merupakan rasio antara Rata-rata Persentase Melek Huruf secara Nasional dengan Persentase Melek Huruf di suatu Daerah. - Bobot 0,4 dihasilkan dari pertimbangan koefisien variasi.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

72 IHH

Visi Perekonomian Indonesia 2030 : Indeks Harapan Hidup - Merupakan rasio antara Rata-rata Tahun Haraapan Hidup secara Nasional dengan Tahun Harapan Hidup di suatu Daerah. - Bobot 0,3 dihasilkan dari pertimbangan koefisien variasi. : Indeks Luas Wilayah - Merupakan rasio antara Luas Wilayah dengan Ratarata Luas Wilayah secara Nasional (sama dengan konsep sebelumnya). : Indeks Harga Bangunan - Merupakan rasio antara Indeks Harga Bangunan dengan Rata-rata Indeks Harga Bangunan secara Nasional (sama dengan konsep sebelumnya).

ILW

IHB

Angka Cetak Tebal, bobot secara makro yang besarnya masingmasing 0,4; 0,1; 0,1; dan 0,4 sama dengan model-model yang sebelumnya diterapkan, khususnya untuk rumusan DAU tahun 2003. Sementara itu, Potensi Ekonomi Daerah yang sering diistilahkan dengan Kapasitas Fiskal (fiscal capacity) atau disingkat dengan KpF; dalam usulan formulasi DAU saat ini, tidak mengalami perubahan secara berarti; atau selengkapnya dirumuskan sebagai berikut: KpF KpF = PADÙ + ( PBB + BPHTB + PPh + 0,75.SDA ).........(5) : Kapasitas Fiskal Dimana PADÙ : Pendapatan Asli Daerah (diestimasi dari PDRB sektor jasa) Hasil regresi didapatkan PADÙ = -34,31360 + 0,013290 PDRB Jasa Karena konstantanya negatif dan dianggap tidak signifikan (hasil t-statistic sebesar –1,57 (probabilitas sebesar 12,75%); maka untuk estimasi hanya digunakan besarnya koefisien regresinya saja, yaitu sebesar 0,013290.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah

73

PBB : Bagi Hasil dari Pajak Bumi dan Bangunan BPHTB : Bagi Hasil dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan PPh : Bagi Hasil dari Pajak Penghasilan Orang Pribadi SDA : Bagi Hasil dari Sumber Daya Alam Proses selanjunya sama, yaitu menetukan besarnya Kesenjangan Fiskal (KF), yang merupakan selisih dari Kebutuhan Wilayah Otonomi Daerah (KbF: Kebutuhan Fiskal) dengan Potensi Ekonomi Daerah (KpF: Kapasitas Fiskal), atau secara matematis dirumuskan: KF = KbF - KpF ....................................................(6)

HASIL SIMULASI Setelah dilakukan serangkaian simulasi, yang dalam tulisan ini baru diujicobakan pada tingkat propinsi, dihasilkan perbandingan perolehan DAU selama tahun 2001-2003, seperti terlihap pada tabel 2.Dari tabel 2 dapat dilihat adanya 5 (lima) provinsi yang tidak mendapatkan alokasi dana dari DAU, yang dikarenakan kebutuhan fiskal daerahnya (fiscal need) lebih rendah disbanding dengan kapsitas fiskalnya (fiscal capacity), sehingga menghasilkan kesenjangan fikcal (fiscal gap) yang negatip. Kelima daerah/provinsi tersebut adalah: (1) Provinsi Riau; (2) Provinsi DKI Jakarta; (3) Provinsi Jawa Barat; (4) Provinsi Jawa Timur; serta (5) Provinsi Kalimantan Timur . Di samping itu, dapat juga kita lihat bahwa besaran DAU untuk tahun 2003 hampir mendekati dengan besarnya alokasi anggaran DAU menurut Keppres, dengan koefisien variasi yang hampir sama yaitu 0,52 (hasil Keppres) dibanding dengan 0,62 (hasil simulasi). Perbedaan menyolok justru terletak pada daerah-daerah atau propinsi yang HDI/IPM-nya juga mengalami perbedaan secara meyakinkan bila dilihat dari besaran variabel-variabel pembentuk HDI/IPM, khususnya variable: Rata-rata Lama Sekolah (ILS: Indeks Lama Sekolah); Angka Harapan Hidup (IHH: Indeks Harapan Hidup), dan Angka Melek Huruf (IMH: Indeks Melek Huruf). Sementara

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

74

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 2. Hasil Perbandingan Besaran DAU antara Keppres dan Simulasi, Tahun 2001-2003
No. (1) 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. Provinsi (2) DI Aceh Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jabar Jateng DI Yogya Jatim Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Bali NTB NTT Maluku Irja / Papua Maluku Utara Banten Bangka Belitung Gorontalo Sum Minimum Maximum Sumber : DAU Tahun 2001 Keppres Simulasi (3) 165.80 264.42 140.73 251.94 109.29 153.17 82.74 180.30 587.17 521.23 647.21 110.36 449.57 194.38 153.31 122.52 257.11 75.58 126.45 232.73 101.38 91.17 122.61 150.93 101.29 101.29 74.11 142.15 65.64 45.35 5,821.93 45.35 647.21 (4) 74.36 139.99 156.73 246.25 134.04 237.14 195.59 139.09 183.00 301.34 287.83 196.62 246.49 277.30 255.71 273.21 162.38 277.09 324.14 274.39 523.54 262.25 134.96 269.18 249.31 5,821.93 194.06 0.00 523.54 0.62 DAU Tahun 2002 Keppres Simulasi (5) 150.56 260.61 193.52 110.71 181.92 211.53 162.56 211.11 535.70 393.88 560.63 214.48 453.21 228.28 204.84 161.80 96.96 233.47 190.52 257.41 179.37 168.17 193.80 244.03 191.71 345.53 144.28 155.59 146.22 (6) 88.27 166.18 186.07 292.33 159.13 281.52 232.19 165.12 217.25 357.73 341.69 233.41 292.62 329.19 303.57 324.33 192.77 328.94 384.79 325.74 621.52 311.33 160.21 319.56 DAU Tahun 2003 Keppres Simulasi (7) 76.12 301.75 227.63 74.21 209.25 231.93 208.84 252.78 734.89 429.57 509.87 201.96 414.32 272.91 253.60 201.09 76.41 206.65 240.70 299.05 226.43 184.87 223.95 283.04 248.37 395.16 200.96 171.86 162.49 (8) 98.32 185.09 207.23 325.59 177.23 313.55 258.61 183.90 241.97 398.43 380.57 259.97 325.91 366.64 338.11 361.24 214.70 366.37 428.57 362.80 692.23 346.75 178.44 355.91

129.04 295.96 6,911.44 6,911.42 230.38 96.96 560.63 0.50 230.38 0.00 621.52 0.62

177.13 329.64 7,697.79 7,697.77 256.59 74.21 734.89 0.52 256.59 0.00 692.23 0.62

Average / Mean 194.06

Coef. of Variation 0.80

Keppres tentang DAU tahun 2001-2003; dan Hasil Simulasi Model DAU.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah Tabel 3. Hasil Perbandingan 5 (lima) Provinsi Penerima DAU Terbesar dan Terkecil
No. (1) 01. 02. 03. 04. 05. Menurut Keppres Tahun 2001 Tahun 2002 Tahun 2003 (2) (3) (4) Kategori 5 (lima) Povinsi Peroleh DAU Terbesar Jawa Tengah Jawa Tengah DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta Jawa Tengah Jawa Barat Jawa Timur Jawa Timur Jawa Barat Jawa Barat Jawa Timur Hasil Simulasi (5) Irja/Papua Nusa Teng. Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Sulawesi Tengah Sumatera Utara Jawa Tengah Banten Sumatera Selatan DI Aceh 0.9087

75

Sumatera Irja/Papua Irja/Papua Utara Kategori 5 (lima) Povinsi Peroleh DAU Terkecil 26. Bengkulu Bangka Banten Belitung 27. Sulawesi Maluku Utara Bangka Utara Belitung 28. Maluku Utara Gorontalo Kalimantan Timur 29. Bangka Riau DI Aceh Belitung 30. Gorontalo Kalimantan Riau Timur Indeks Williamson Sumber: Diolah dari tabel 2

itu, bila dilihat dari 5 (lima) besar Provinsi yang menduduki perolehan DAU tertinggi dan terendah dengan membandingkan antar hasil Keppres DAU dan hasil simulai dapat dipaparkan seperti tabel 3 . Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa jika indikator HDI/IPM menjadi masukan bagi perumusan model DAU, Provinsi-Provinsi Irian Jaya (Papua); Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar); Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng); serta Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng); merupakan 5 (lima) besar provinsi yang akan mendapatkan alokasi anggaran dari pos DAU yang cukup besar.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

76

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Studi ini juga menghasilkan besaran DAU per penduduk hasil simulasi; yang dari tahun 2001-2003 berturut-turut sebesar Rp 93.764,11 pada tahun 2001; menjadi Rp 111.311,03 pada tahun 2002; dan menjadi Rp 123.975,46 pada tahun 2003. Koefisien variasi untuk simulasi ini adalah sebesar 1,05. SIMPULAN Apa-apa yang telah dipaparkan di muka, merupakan bagian kecil dari usaha untuk memberikan masukan terhadap berbagai upaya di dalam menghasilkan rumusan/formulasi DAU di tahuntahun mendatang yang dapat disepakai oleh banyak pihak; dengan semaksimal mungkin mempertimbangkan berbagai variabel riil di lapangan yang sering menjadi masukan dari para aparatur birokrasi di Pemerintahan Daerah. Upaya untuk memodifikasi model DAU dengan memasukkan unsur pembentuk HDI (Human Developmen Index), yang dalam model ini menggunakan Indeks Lama Sekolah (ILS), Indeks Harapan Hidup (IHH), dan Indeks Melek Huruf (IMH), menghasilkan beberapa kesimpulan yang menarik; dimana untuk daerah atau provinsi yang selama ini tertinggal dalam bidang ini (baca: pendidikan, kesehatan dan ekonomi); akan mempunyai harapan mendapatkan alokasi anggaran secara meyakinkan atau cukup besar. Provinsi-provinsi ini meliputi: Provinsi Irian Jaya (Papua); Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar); Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng); serta Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng); dan sebagaianya. Sebagai catatan akhir, dengan digunakannya konsep Kesenjangan Fiskal (fiscal gap); dalam model DAU ini terdapat 5 (lima) provinsi yang tidak mendapatkan bagian anggaran dari pos DAU, yaitu: (1) Provinsi Riau; (2) Provinsi DKI Jakarta; (3) Provinsi Jawa Barat; (4) Provinsi Jawa Timur; serta (5) Provinsi Kalimantan Timur. Hal ini sebenarnya merupakan konsekuensi logis dimana konsep DAU adalah untuk pemerataan pendapatan, khusunya bagi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Reformulasi DAUMendorong Pembangunan Daerah

77

daerah-daerah yang mempunyai kebutuhan fiskal besar, namun tidak mempunyai kemampuan pembiayaan secara memadahi. DAFTAR PUSTAKA BPS-Statistics Indonesia, Bappenas dan UNDP. (2001). Indonesia Human Development Report : Towards a New Consensus, Democracy and Human Development in Indonesia. Jakarta: BPS-Bappenas-UNDP . Ditjen PKPD Depkeu RI. (2004). Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Jakarta: Penerbit Ditjen PKPD. ___________________________. Tinjauan Pelaksanaan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah, 2001-2003. Jakarta: Penerbit Ditjen PKPD. Kadjatmiko. (2003). Kebijakan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Makalah disampaikan dalam kegiatan One Day Seminar dan Workshop Otonomi Daerah yang diselenggarkan atas kerjasama antara LAPI ITB di Hotel Indonesia Jakarta, 10-11 Desember . PP (Peraturan Pemerintah) RI Nomor 104 Tahun 2000 tanggal 10 Nopember 2000 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara RI Tahun 2000 Nomor 201, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4021). PP (Peraturan Pemerintah) RI Nomor 84 Tahun 2001 tanggal 31 Desember 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4165). Saragih, J P. (2003). Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah Dalam Otonomi. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. Sidik, M.dkk (Ed). (2002). Dana Alokasi Umum : Konsep, Hambatan, dan Prospek di Era Otonomi Daerah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

78

Visi Perekonomian Indonesia 2030

UU (Undang-Undang) RI Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Darah (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3848). Yani, A. (2002). Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia. Seri Keuangan Publik. Jakarta: Penerbit Rajawali Pers.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

4

79

SEKTOR PERTANIAN DAN PENGENTASAN KEMISKINAN
AKHMAD DAEROBI HERY SULISTYO JNS TETUKO RAWIDYO PUTRO

Pendahuluan Kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan di antara penduduk merupakan masalah klasik yang dihadapi oleh hampir semua negara sedang berkembang. Seringkali, negara-negara ini dihadapkan pada dilemma klasik, orientasi pembangunan mau dibawa kemana, apakah pertumbuhan ekonomi ataukah pemerataan pembangunan dan pengentasan kemiskinan warganya. Namun kenyataannya, terlepas dari orientasinya, kemiskinan dan ketimpangan pendapatan masih mewarnainya. Jazairy, dkk. (1992:7) mencatat, pada tahun 1988, negara sedang berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tinggi; 20 persen penduduk termiskin mendapatkan proporsi pendapatan nasional antara 2 – 8,8 persen dan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan berkisar antara 14 – 65 %. Sementara pada tahun yang sama, di negara sedang berkembang yang pertumbuhan ekonominya rendah; 20 % penduduk termiskin mendapatkan proporsi pendapatan nasional antara 3,4 – 7,0 % , dan penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan berkisar antara 26 – 97 %. Di Indonesia, sebagaimana di negara sedang berkembang lainnya, fenomena kemiskinan dan ketimpangan pendapatan, bukan sesuatu yang asing, baik di perkotaan maupun pedesaan. Dari beberapa kajian ekonomi, pedesaan merupakan daerah yang mengalami dampak terparah. Sehingga, fokus pembahasan kemiskinan umumnya langsung menunjuk ke pedesaan. Sementara, sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian di bidang pertanian. Sejak tahun 1970 sampai dengan tahun 2004 jumlah

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

80

Visi Perekonomian Indonesia 2030

penduduk miskin di desa lebih besar dibandingkan jumlah penduduk miskin di perkotaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pusat-pusat kemiskinan sebagian besar berada di daerah perdesaan. Alfian dkk. (1980:5) menjelaskan adanya kondisi realistis tentang kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Yang termasuk golongan ini adalah petani yang tidak memiliki tanah sendiri, petani pemilik tanah sempit yang tidak dapat mencukupi kebutuhan makan sendiri dan keluarganya, kaum buruh yang tidak terpelajar dan tidak terlatih, dan pengusaha tanpa modal. Selama periode 1963-2003 luas lahan yang dikuasai rumah tangga pertanian berfluktuasi. Sejak tahun 1963-1983 lahan pertanian yang dikuasai rumah tangga pertanian meningkat dari 12.884 ha menjadi 18.350 ha pada tahun 1983. Namun pada tahun 1993 luas lahan yang dikuasai petani menurun menjadi 17.665 dan meningkat drastis dan mencapai pada tingkat tertinggi pada tahun 2003 yang mencapai 19.674 ha. Bagi petani di pedesaan, yang bertumpu pada kegiatan agraris, sumberdaya tanah merupakan sumber pendapatan utama. Hal ini karena besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor produksi lainnya (Mubyarto, 1994). Namun dalam kenyataannya, struktur pengusaan tanah menunjukkan ketimpangan. Hal tersebut ditunjukkan oleh penurunan rata-rata luas lahan yang dikuasai oleh petani. Jika pada tahun 1963 ratarata penguasaan lahan mencapai 1,1 ha pada tahun 2003 ratarata penguasaan lahan menurun menjadi 0,8 ha. Bahkan di pulau jawa rata-rata penguasaan lahan oleh petani sampai dengan tahun 2003 hanya mencapai 0,4 ha, lihat tabel 1. Menurut Gunawan Wiradi dalam Peter Hagul (1992) terdapat hubungan antara pengusaan tanah, sumber pendapatan, dan distribusi pendapatan. Menurutnya, golongan petani pengguna tanah luas, mampu menginvestasikan surplusnya pada usahausaha padat modal, yang memberikan pendapatan relatif besar,

Tahu

1963

1973

1983

1993

2003 Sumbe

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Tabel 1. Rata-rata Penguasaaan Lahan Rumah Tangga Pertanian 1963-2003 (dalam persen)
Tahun 1963 1973 1983 1993 Jawa 0.70 0.60 0.50 0.50 Luar Jawa 1.90 1.50 1.50 1.20 Indonesia 1.10 1.00 0.90 0.80

81

2003 0.40 1.30 0.80 Sumber: Statistik 60 tahun Indonesia Merdeka

seperti alat pengolah hasil pertanian dan berdagang untuk menghidupi keluarga. Sementara itu, petani yang menguasai tanah sempit, dan tunakisma mendapatkan tambahan penghasilan di luar usaha tani yang padat karya dan memberikan pendapatan relatif rendah, seperti kerajinan tangan, bakul es, warung kecil, dan sebagainya. Semuanya ini mengimplikasikan, bahwa petani luaslah yang lebih mempunyai jangkauan terhadap sumber besar non pertanian, yang pada gilirannya melahirkan proses akumulasi modal dan investasi, baik di sektor pertanian maupun non pertanian. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh permasalahan penduduk. Permaslahan penduduk yang dimaksud adalah pertambahan penduduk yang semakin besar. Akhirnya, lahan persawahan semakin sempit, khususnya sawah pertanian padi sawah. Sehingga masyarakat desa beralih ke sektor ekonomi lain di luar pertanian, antara lain industri, rumah tangga, jasa, dan perdagangan. Namun, karena peluang bekerja dan bersuaha di sektor non pertanian sangat terbatas, maka tingkat pendapatan tetap rendah, sehingga terjadi gerak penduduk atau migrasi ke luar desa. Migrasi pada umumnya bergerak menuju wilayah perkotaan, karena wilayah ini dipandang memiliki peluang ekonomi relatif tinggi. Akibatnya, dampak adanya urabisasi, menyebabkan tumbuhnya kota semu (quasi cities), yang ditandai oleh kepadatan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

82

Visi Perekonomian Indonesia 2030

penduduk tinggi, kekurangan infrastruktur dualisme system social , ekonomi, meluasnya pemukiman tanah, dan sebagainya. Implikasi akibatnya, kota tidak bisa merespons surplus tenaga kerja yang berasal dari pedesaan, dan pada gilirannya terjadi arus balik dari kota ke desa. Sektor kehidupan di desa terpaksa harus merespons arus balik, sehingga pedesaan mendapatkan tekanan lebih berat lagi. Faktor lain yang ikut memperparah kondisi di pedesaan adalah, adanya konversi dari pertanian wsawah teknis ke pengguna lahan non pertanian, di antaranya digunakan untuk perumahan, industri, dan sarana–prasarana. Sebagai gambaran. Selama tahun 19831993, lahan sawah beririgasi di Pulau Jawa turun dari 1.824.000 Ha menjadi 1.577.000. atau mengalami penurunan sebanyak 247.000 Ha (BPS, 1995). Hal ini mengimplikasikan semakin sempitnya lahan subusr persawahan di pedesaan . Di tengah kondisi pedesaan yang suram, pemerintah berupaya meningkatkan produktivitas lahan melalui teknologi pertanian yang semakin intensif. Ini berarti penggunaan bibit unggul, pupuk kimia, dan pestisda semakin ditingkatkan. Serupa dengan kondisi nasional, Propinsi Jawa Tengah sebagai salah satu propinsi penting di Indonesia mengalami permasalahan yang serupa. Jumlah Penduduk miskin di Jawa Tengah meningkat dengan pesat sejak krisis ekonomi tahun 1998. Sebagian besar penduduk miskin di Propinsi Jawa Tengah terletak di daerah perdesaan. Sehingga jika pengurangan penduduk miskin menjadi salah satu sasaran pembangunan ekonomi, maka sudah selayaknya pengembangan sektor pertanian menjadi target utama program pembangunan di Propinsi Jawa Tengah. Di sisi lain keterbatasan lahan menyebabkan beberapa tahun belakangan ini luas lahan pertanian terus menurun. Pengalihan fungsi lahan dari fungsi pertanian ke fungsi bangunan menjadi penyebab utama berkurangnya lahan pertanian bagi masyarakat desa. Keterbatasan tersebut mendorong Pemerintah Provinsi yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten harus mendorong proses intensifikasi pertanian selain untuk menjaga ketersediaan pangan juga menjadi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

83

sumber pendapatan masyarakat desa di Jawa Tengah yang sebagian besar masih berada di bawah garis kemiskinan. Pertanian dalam Perspektif Ekonomi Secara konseptual dalam perspektif ekonomi, peran sektor pertanian dapat dilihat dalam dua perspektif analisis yang tidak dapat terpisahkan yaitu perspektif mikroekonomi dan makroekonomi. Secara khusus, dalam perspektif mikroekonomi analisis sektor pertanian dipisahkan dalam analisis sisi permintaan dan penawaran. Sementara itu, dalam perspektif makroekonomi peran sektor pertanian dianalisis dalam perpektif umum yaitu peran sektor pertanian dalam mendukung kinerja makroekonomi. Peran sektor pertanian dalam perspektif makroekonomi dibedakan menjadi dua aspek penting. Aspek pertama adalah peran sektor pertanian dalam mendukung kinerja makroekonomi serta peran sektor pertanian dalam mengentaskan kemiskinan. Peran sektor pertanian dalam mendukung kinerja makroekonomi didekati melalui tiga indikator penting dalam makroekonomi yaitu pwertumbuhan ekonomi, inflasi dan pengangguran. Tiga indikator tersebut merupakan ukuran kinerja suatu perekonomian (Mankiw, 2003 dan Froyen, 2002). Indikator pertumbuhan ekonomi merupakan indikator kinerja pembangunan ekonomi dalam suatu perekonomian tertentu. Meskipun demikian, definisi pembangunan telah berkembang luas. Dalam perspektif modern pembangunan tidak sebatas pertumbuhan ekonomi namun mencakup aspek yang lebih luas. Pembangunan ekonomi diukur oleh indikator yang dikembangkan oleh United Nations Development Program (UNDP) yang terangkum dalam Indeks pembangunan manusia yang meliputi aspek pendapatan (PDB dan PDB perkapita), aspek angka harapan hidup dan lama menempuh pendidikan dasar. Perspektif mikroekonomi dan makroekonomi bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertanian sebagai salah satu sektor penyusun struktur ekonomi juga berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peran tersebut berupa ketersediaan jumlah produksi pertanian yang memadai bagi konsumen, serta peningkatan pendapatan bagi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

84

Visi Perekonomian Indonesia 2030

produsen. Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor pertanian, penyerapan tenaga kerja sektor pertanian serta kestabilan harga-harga umum yang disumbangkan oleh sektor pertanian menjadi indikator ekonomi peran sektor pertanian. Keterkaitan antara konsep-konsep ekonomi dengan konsep-konsep pertanian melahirkan suatu sub kajian bidang ilmu baru yang selanjutnya disebut dengan ekonomi pertanian. Kemiskinan Secara konseptual dalam ilmu ekonomi terdapat berbagai pendekatan dalam mendefinisikan kemiskinan. Dalam pendekatan ekonomi normatif Ellis dalam Effendi (1993) membedakan konsep kemiskinan dalam beberapa dimensi antara lain adalah: 1. Kemiskinan Ekonomi. Secara ekonomi kemiskinan dapat diartikan suatu keadaan kekurangan sumber daya yang digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang-orang. Kemiskinan dapat diukur secara langsung dengan menetapkan persediaan sumber daya yang tersedia pada kelompok itu dan membandingkannya dengan ukuran-ukuran baku. Sumber daya yang dimaksud dalam pengertian ini menakup konsep ekonomi yang luas tidak hanya merupakan pengertian finansial, tetapi perlu mempertimbangkan semua jenis kekayaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 2. Kemiskinan Politik. Kemiskinan politik menekankan pada derajad akses terhadap kekuasaan (power). Kekuasaan yang dimaksud mencakup tatanan sistem sosial politik yang dapat menentukan alokasi sumber daya untuk kepentingan sekelompok orang atau tatanan sistem sosial yang menentukan alokasi sumber daya. Cara mendapatkan akses tersebut dapat melalui sistem politik formal, kontak-kontak informal dengan struktur kekuasaan yang mempunyai pengaruh pada kekuasaan ekonomi. 3. Kemiskinan Sosial. Kemiskinan sosial diartikan sebagai kemiskinan karena kekurangan jaringan sosial dan struktrur yang mendukung untuk mendapatkan kesempatan agar produktifitas seseorang meningkat. Dikatakan bahwa kemiskinan sosisal adalah

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

85

kemiskinan yang disebabkan adanya faktor-faktor penghambat sehingga mencegah dan menghalangi seseorang untuk memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Konsep kemiskinan yang menyangkut berbagai dimensi tersebut menyebabkan sulit untuk membangun pengertian yang benar-benar tepat mengenai konsep kemiskinan. Pengertian kemiskinan dapat bermacammacam tergantung dari sudut pandang mana konsep kemiskinan tersebut didekati. Sementara itu, berbeda dengan Ellis yang melihat kemiskinan dalam beberapa dimensi, Rudolf S. Sinaga dan Benyamin dalam Cahyono (1993) memberikan pengertian kemisikinan melalui pembedaan kemiskinan menjadi dua jenis yaitu: kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alamiah didefinisikan sebagai kemiskinan yang disebabkan oleh sumber daya yang terbatas atau karena tingkat perkembangan teknologi yang rendah. Dengan kata lain ketidakmampuan seseorang atau komunitas dalam memenuhi kebutuhan dan mengejar ketertinggalan teknologi menjadi penyebabnya. Sementara itu kemiskinan buatan didefinisikan sebagai kemiskinan yang disebabkan oleh kelembagaan yang ada dalam masyarakat membuat masyarakat sendiri tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas-fasilitas secara merata. Dalam beberapa definisi lainnya, kemiskinan buatan juga disebut lebih populer dengan sebutan kemiskinan struktural. Menurut Selo Sumardjan dalam Arsyad (1997) kemiskinan struktural sebagai kemiskinan yang diderita oleh masyarakat karena struktur sosialnya, sehingga tidak dapat menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Sehingga kemiskinan yang dimaksud bukanlah kemiskinan yang dialami seorang individu karena malas atau sakit keras. Berdasarkan definisi Selo Sumardjan kemiskinan tersebut digolongkan sebagai kemiskinan individual. Lebih lanjut Arsyad (1997) menyebutkan bahwa kemiskinan struktural tersebut dapat disebabkan karena keadaan pemilikan sumber yang tidak merata, kemampuan masyarakat yang tidak seimbang, dan ketidakseimbangan kesempatan dalam berusaha dan memperoleh

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

86

Visi Perekonomian Indonesia 2030

pendapatan akan menyebabkan keikutsertaan yang tidak seimbang dalam pembangunan. Beberapa ahli lainnya mendefinisikan kemiskinan dalam terminologi yang berbeda-beda. Menurut Sajogyo dalam Prayitno (1998) kemiskinan didefinisikan sebagai suatu tingkatan kehidupan yang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimal yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan hidup sehat berdasar atas kebutuhan beras dan kebutuhan gizi. Sementara itu, menurut Emil Salim dalam Cahyono (1993) kemiskinan merupakan keadaan penduduk yang meliputi hal-hal yang tidak memiliki mutu tenaga kerja tinggi, jumlah modal yang memadai, luas tanah dan sumber alam yang cukup, keaslian dan ketrampilan yang tinggi, konsisi fisik dan rohaniah yang baik, dan rangkuman hidup yang memungkinkan perubahan dan kemajuan. Sementara itu, Menurut Soemitro dalam Prayitno (1998) kemiskinan ditandai dengan tingkat hidup rendah dan tertekan. Ini merupakan akibat dari serangkaian keganjilan dan kepincangan yang terdapat pada pertimbangan keadaan dasar dan kerangka susunan masyarakat itu sendiri dan menyangkut beberapa masalah, yaitu: 1. Keadaan faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat sebagai sumber produksi yang menyangkut sumber daya alam, modal, dan ketrampilan. Secara umum dapat dikatakan, negara-negara berkembang termasuk Indonesia kekurangan modal dan ketrampilan. 2. Kepincangan sebagai sektor ekonomi, modal, dan penggunaan teknologi. Di masa lampau dilakukan paling intensif justru di sektor-sektor yang terbatas yaitu sektor perkebunan dan pertambangan. Dalam beberapa literatur lain, beberapa ahli menjelaskan beberapa penyebab kemiskinan. Menurut Kartasasmita (1999) kemiskinan disebabkan oleh sekurang-kurangnya empat penyebab, yaitu:

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

87

1. Rendahnya taraf pendidikan. Taraf pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri terbatas dan menyebabkan sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki. 2. Rendahnya derajat kesehatan. Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir, dan prakarsa. 3. Terbatasnya lapangan kerja. Keadaan kemiskinan karena kondisi pendidikan diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan lingkaran kemiskinan tersebut. 4. Kondisi keterisolasian. Banyak penduduk miskin, secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan, dan gerak kemajuan yang dinikmati masyarakat lainnya. Ada banyak penyebab kemiskinan dan tak ada satu jawaban yang mampu menjelaskan semuanya sekaligus. Ini ditunjukkan oleh adanya berbagai pendapat mengenai penyebab kemiskinan sesuai dengan keadaan waktu dan tempat tertentu yang mencoba mencari penyebab kemiskinan. Tetapi dapat disimpulkan bahwa penyebab kemiskinan antara lain: 1. Kegagalan kepemilikan, terutama tanah dan modal. 2. Terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar, sarana dan prasarana. 3. Kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor. 4. Adanya perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat dan sistem yang kurang mendukung. 5. Adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern). 6. Rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat. 7. Budaya hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelola sumber daya alam dan lingkungannya.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

88

Visi Perekonomian Indonesia 2030

8. Tidak adanya tata pemerintahan yang bersih dan baik (good governance). 9. Pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan Kenyataan kasat mata yang juga didukung oleh suara mereka yang miskin (voice of the poor), menunjukkan bahwa kemiskinan disebabkan : 1. Keterbatasan pendapatan, modal dan sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar termasuk : a. Modal sumber daya manusia, misalnya pendidikan formal, keterampilan dan kesehatan yang memadai. b. Modal produksi, misalnya lahan dan akses terhadap kredit. c. Modal sosial, misalnya jaringan sosial dan akses terhadap kebijakan dan keputusan politik. d. Sarana fisik, misalnya akses terhadap prasarana dasar seperti jalan, air bersih, listrik. e. Termasuk hidup di daerah terpencil. 2. Kerentanan dan ketidakmampuan menghadapi goncangangoncangan karena : a. Krisis ekonomi b. Kegagalan panen karena hama, banjir atau kekeringan. c. Kehilangan pekerjaan (PHK) d. Konflik sosial dan politik. e. Korban kekerasan sosial dan rumah tangga. f. Bencana alam. g. Musibah (jatuh sakit, kebakaran, kecurian atau ternak terserang wabah penyakit). 3. Tidak adanya suara yang mewakili dan terpuruk dalam ketidakberdayaan di dalam institusi negara dan masyarakat karena : a. Tidak adanya kepastian hukum b. Tidak adanya perlindungan dari kejahatan c. Kesewenang-wenangan aparat d. Ancaman dan intimidasi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

89

e. Kebijakan publik yang tidak peka dan tidak mendukung upaya penanggulangan kemiskinan f. Rendahnya posisi tawar masyarakat miskin Selain penyebab kemiskinan di atas, terdapat beberapa pola kemiskinan. Menurut Sumodiningrat (1999) terdapat beberapa pola kemiskinan antara lain yaitu: 1. Presistent Poverty, yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun-temurun. Daerah yang mengalami kemiskinan ini pada umumnya merupakan daerah kritis sumber daya alam atau terisolasi. 2. Cyclical Poverty, yaitu pola kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. 3. Seasonal Poverty, yaitu kemiskinan musiman seperti yang sering dijumpai pada kasus-kasus nelayan dan petani tanaman pangan. 4. Accidental Poverty, yaitu kemiskinan karena terjadi bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. Sementara dalam konsepsi ekonomi positif sebagaian besar ekonom mendefinisikan kemiskinan sebagai kepemilikan penduduk akan konsumsi (atau aksesibilitas terhadap sumberdaya dan pendapatan) di bawah ukuran kemiskinan tertentu (Behrman, 2002). Berikut ini akan dijelaskan beberapa konsep tentang ukuran kemiskinan. Ukuran Kemiskinan Kemiskinan mempunyai pengertian yang luas dan tidak mudah untuk mengukurnya. Secara umum ada dua macam ukuran kemiskinan yang biasa digunakan yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif (Arsyad, 1997): Kemiskinan Absolut Pada dasarnya konsep kemiskinan dikaitkan dengan tingkat pendapatan dan kebutuhan. Perkiraan kebutuhan dibatasi pada kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

90

Visi Perekonomian Indonesia 2030

memungkinkan seseorang untuk hidup secara layak. Bila pendapatan tidak mencapai kebutuhan minimum, maka orang tersebut dapat dikatakan miskin. Dengan kata lain, kemiskinan dapat diukur dengan membandingkan tingkat pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tingkat pendapatan minimum merupakan pembatas antara keadaan miskin dan tidak miskin atau sering disebut sebagai garis batas kemiskinan. Kemiskinan absolut dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makan, pakaian, dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup (Todaro, 1987). Masalah utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan tingkat komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan , iklim dan berbagai faktor ekonomi lain. Konsep kemiskinan yang didasarkan atas perkiraan kebutuhan dasar minimum merupakan konsep yang mudah dipahami tetapi garis kemiskinan obyektif sulit dilaksanakan karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Garis kemiskinan berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya sehingga tidak ada garis kemiskinan yang berlaku pasti dan umum. Kemiskinan Relatif Seseorang yang sudah mempunyai tingkat pendapatan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum tidak selalu berarti miskin. Hal ini terjadi karena kemiskinan lebih banyak ditentukan oleh keadaan sekitarnya, walaupun pendapatannya sudah mencapai tingkat kebutuhan dasar minimum tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat sekitarnya, maka orang tersebut masih berada dalam keadaan miskin. Berdasarkan konsep kemiskinan relatif ini, garis kemiskinan akan mengalami perubaahan bila tingkat hidup masyarakat berubah. Dengan menggunakan ukuran pendapatan, keadaan ini dikenal sebagai ketimpangan distribusi pendapatan. Semakin besar ketimpangan antara golongan atas dan golongan bawah, maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dikategorikan miskin. Konsep

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

91

kemiskinan ini relatif bersifat dimamis, sehingga kemiskinan akan selalu ada. Ukuran pendapatan juga bisa dihitung melalui pendekatan pendapatan. Pendekatan pendapatan untuk mengukur kemiskinan ini mengasumsikan bahwa seseorang dan rumah tangga dikatakan miskin jika pendapatan atau konsumsi minimumnya berada di bawah garis kemiskinan. Ukuran-ukuran kemiskinan ini dihitung melalui (Coudouel, et.al, 2001): a. Head Count Index Head Count Index ini menghitung presentase orang yang ada di bawah garis kemiskinan dalam kelompok masyarakat tertentu. b. Sen Poverty Index Sen Poverty Index memasukkan dua faktor yaitu koefisien Gini dan rasio H. Koefisien Gini mengukur ketimpangan antara orang miskin. Apabila salah satu faktor-faktor tersebut naik, tingkat kemiskinan bertambah besar diukur dengan S. c. Poverty Gap Index Poverty Gap Index mengukur besarnya distribusi pendapatan orang miskin terhadap garis kemiskinan. Pembilang pada pendekatan ini menunjukkan jurang kemiskinan (poverty gap), yaitu penjumlahan (sebanyak individu) dari kekurangan pendapatan orang miskin dari garis kemiskinan. Sedangkan penyebut adalah jumlah individu di dalam perekonomian (n) dikalikan dengan nilai garis kemiskinan. Dengan ukuran ini, tingkat keparahan kemiskinan mulai terakomodasi. Ukuran kemiskinan akan turun lebih cepat bila orang-orang yang dientaskan adalah rumah tangga yang paling miskin, dibandingkan bila pengentasan kemiskinan terjadi pada rumah tangga miskin yang paling tidak miskin. d. Foster-Greer-Torbecke Index Seperti Indeks-indeks di atas, indeks FGT ini sensitif trhadap distribusi jika á>1. Bagian (Z-Yi/Z) adalah perbedaan antara

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

92

Visi Perekonomian Indonesia 2030 garis kemiskinan (Z) dan tingkat pendapatan dari kelompok ke-i keluarga miskin (Yi) dalam bentuk suatu presentase dari garis kemiskinan.

Indikator Kesejahteraan Indikator kesejahteraan berkait erat dengan kemiskinan karena seseorang digolongkan miskin atau tidak jika seberapa jauh indikator-indikator kesejahteraan tersebut telah dipenuhi. Indikator kesejahteraan dapat dilihat melalui dimensi moneter yaitu pendapatan dan pengeluaran. Di samping itu melelui dimensi moneter , kesejahteraan dapat dilihat melalui dimensi non moneter misalnya kesehatan, pendidikan dan partisipasi sosial. Dimensi Moneter Ketika mengukur kemiskinan melalui dimensi moneter pendekatan , yang bisa dilakukan melalui pendapatan dan konsumsi sebagai indikator kesejahteraan. Di antara pendekatan pendapatan dan konsumi, konsumsi adalah indikator yang lebih baik jika dibandingkan dengan pendapatan (Coudouel, et.al, 2001) dengan beberapa alasan sebagai berikut : a. Konsumsi adalah indikator yang lebih baik jika dibanding dengan pendapatan. Konsusmsi saat ini lebih erat hubungannya dengan kesejahteraan seseorang, yaitu berhubungan dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan minimumnya. b. Konsumsi adalah ukuran yang lebih baik dari pendapatan sebagai indikator karena pendapatan lebih sering berfluktuasi untuk beberapa mata pencaharian tertentu. c. Konsumsi lebih mencerminkan kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan minimumnya. Pengeluaran untuk konsumsi tidak hanya mencerminkan barang dan jasa yang dapat diperoleh dengan pendapatannya, tetapi juga keampuannya untuk memperoleh kredit dan menabung pada saat pendapatannya rendah di bawah rata-rata.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

93

Garis kemiskinan dapat diperoleh dengan menganalisa pendapatan atau besarnya belanja yang dikeluarkan. Sebagian besar analisa garis kemiskinan adalah dengan menganalisa besarnya belanja. Di banyak kasus ini memang lebih mudah, dan juga mempunyai keuntungan konseptual. Anand dan Harris (1994) berbicara tentang pilihan mengenai indikator kesejahteraan sosial dengan menggunakan data dari Sri Lanka. Hipotesa dan temuan mereka adalah pendapatan itu sangat rancu, sebab pendapatan berbeda dengan “pendapatan yang sesungguhnya, sementara total belanja rumah tangga sangat sedikit faktor yang membuatnya rancu, sehingga lebih disukai. Dalam perluasan pendekatan ini, banyak usaha yang dapat dilakukan guna menduga nilai garis kemiskinan dan untuk itu haruslah menguasai konsep-konsepnya serta pada kenyataannya pasti banyak kendala yang dijumpai. Untuk mendapatkan nilai garis kemiskinan yang akurat haruslah memasukkan faktor-faktor yang mempengaruhi, semakin banyak, akan semakin bagus. Pandanganpandangan tentang garis kemiskinan terutama mempunyai dua manfaat pokok, yaitu pertama, untuk pengukuran kemiskinan secara global (mendunia) dan untuk memonitor perubahannya setiap saat. Kedua, guna merancang aksi yang spesifik guna mengeliminir kemiskinan. Garis kemiskinan biasanya digunakan untuk memonitor kemajuan program pengentasan kemiskinan diseluruh dunia dengan ukuran dollar/hari, ini diperkenalkan oleh World Development Report 1991. Ini didasarkan pada garis kemiskinan aktual yang dipergunakan oleh beberapa negara berpendapatan nasional rendah, pada tahun 1985 garis kemiskinan ditunjukkan dalam ppp dollar dan merujuk ke belanja rumah tangga per orang. Perluasan variabel kemiskinan adalah sebuah jawaban yang bagus, selanjutnya monitoring secara menyeluruh sangat diperhatikan, isu penting ini sudah semakin meluas dan mampu mengurangi perbedaan yang ada antar negara. Meskipun perluasan variabel dengan memasukkan faktor-faktor lain seperti luar negeri

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

94

Visi Perekonomian Indonesia 2030

sangat penting akan tetapi dalam pengukuran garis kemiskinan yang paling akurat adalah dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh di daerah setempat. Kesalahan pengukuran timbul dari perbedaan teknik survei, sampel data, waktu, dan sebagainya, ini membuat kita semakin sulit dalam menentukan apakah seseorang itu miskin atau tidak, ini sangat tergantung pada kemampuan kita dalam memonitor kemajuan program pengentasan kemiskinan, yang sudah mendunia ini Dimensi Non Moneter Meskipun kesejahteraan biasanya diukur melalui dimensi moneter , kesejahteraan juga diukur melalui dimensi non moneter. Hal ini terjadi karena kesejahteraan tidak hanya mencakup dimensi ekonomi saja tetapi juga dimensi non ekonomi yaitu sosial, budaya, dan politik, misalnya kesempatan dalam berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, hak suara, tingkat melek huruf, dan lain-lain. a. Indikator nutrisi dan kesehatan. Status kesehatan anggota rumah tangga dapat dijadikan indikator kesejahteraan. Selain kesehatan anggota rumah tangga, indikator kesehatan ini dapat diproduksi melalui pusat-pusat kesehatan, akses terhadap kesehatan, vaksinasi, dan lain-lain. Indikator kesehatan ini juga berkaitan dengan kebutuhan dasar yang telah dipenuhi oleh seseorang yang tidak hanya meliputi kebutuhan dasar lain yaitu kebutuhan terhadap rumah sehat, akses terhadap air bersih, dan lain-lain. b. Indikator pendidikan. Indikator pendidikan ini dapat diproksi melalaui tingkat melek huruf, lamanya pendidikan yang ditempuh, pendidikan terakhir anggota rumah tangga, dan lain-lain. Pendidikan ini berkaitan dengan human capital yang merupakan nilai tambah bagi orang tersebut untuk terlibat aktif dalam perekonomian. c. Indikator partisipasi sosial. Peran serta anggota keluarga dalam kegiatan kemasyarakatan merupakan cermin dari kesejahteraan rumah tangga dan merupakan aktualisasi dalam masyarakat.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Keterkaitan Ekonomi Pertanian dan Kemiskinan

95

Secara umum hasil produk pertanian merupakan irisan obyek penelitian antara ekonomi pertanian dan kemiskinan. Hasil produksi pertanian merupakan output yang dihasilkan oleh kegiatan produksi pertanian. Sementara itu, output hasil pertanian diserap oleh konsumen sebagai konsumsi sehari-hari. Penyerapan output hasil pertanian tersebut dinyatakan dalam bentuk permintaan produkproduk pertanian di pasar sektor pertanian. Dalam perspektif mikroekonomi struktur elastisitas permintaan dan struktur pembentuk permintaan produk hasil pertanian menjadi analisis pendukung dalam telaah konseptual penelitian ini. Dalam konstruksi konsep kemiskinan, dampak struktur alamiah permintaan dan penawaran pasar produk pertanian serta kebijakan-kebijakan yang terkait dengan produk pertanian akan berimbas kepada kesejahteraan petani. Salah satu ukuran kesejahteraan petani adalah ukuran tingkat kemiskinan petani. Salah satu pendekatan ukuran kemiskinan adalah jumlah penduduk miskin dalam suatu perekonomian. Ukuran kemiskinan ini sering disebut sebagai headcount poverty ratio (HCPR). Melalui pendekatan ini dapat diditeksi jumlah petani yang berada di atas atau di bawah garis kemiskinan. Indikator garis kemiskinan yang digunakan adalah ukuran garis kemiskinan yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pendekatan ini merupakan pendekatan universal sebagai indikator tingkat kemiskinan di suatu negara/daerah. Oleh karena itu, sebagai salah satu sektor penyusun strutkur perekonomian, sektor pertanian berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama dalam dalam pengentasan kemiskinan. METODOLOGI PENELITIAN Untuk mencapai tujuan penelitian yaitu melihat peran sektor pertanian terhadap dilakukan pendekatan analisis utama yaitu pendekatan mikroekonomi dan pendekatan makroekonomi. Pedekatan mikroekonomi menggunakan analisis permintaan dan penawaran hasil produk pertanian sebagai alat analisis inti. Dalam

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

96

Visi Perekonomian Indonesia 2030

analisis permintaan dan penawaran hasil produksi pertanian, teori yang digunakan adalah teori masalah pertanian (farm problem) dan teori masalah dunia. Kajian literatur dan metode kuantitatif dalam bentuk analisis statistik deskriptif dapat memberikan deskripsi riil kondisi permasalahan mikroekonomi pertanian. Analisis Pendekatan Mikroekonomi Pendekatan mikroekonomi dalam analisis ekonomi pertanian memisahkan analisis hasil produksi pertanian menjadi dua bagian utama yaitu: analisis masalah pertanian dan masalah dunia. Secara umum, Terdapat dua pemikiran mengenai gerakan harga produk pertanian, yang membawa konsekuensi pada kemiskinan di sektor pertanian. Pertama, harga produk pertanian turun atau farm problem. Kedua, harga produk pertanian naik atau world problem. Pemikiran pertama mendasarkan pada kenyataan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi pasca Perang Dunia II di Amerika Serikat dan Eropa Barat, sementara harga produk pertanian cenderung turun sehingga income di sektor tersebut turun. Penyebabnya adalah adanya perubahan pola permintaan dan kemajuan teknologi. Permintaan terhadap produk pertanian elastisitasnya terhadap income rendah. Karena itu, ketika income meningkat, peningkatannya lebih tinggi daripada permintaan pada produk pertanian. Hal ini berbeda dengan produk non pertanian, yang elastisitas permintaannya relatif tinggi. Sementara itu, dikembangkannya substitusi sintesis bagi produk pertanian, menyebabkan demand pada produk pertanian akan semakin turun. Sementara itu, perbaikan teknologi pertanian, disebabkan adanya pertumbuhan ekonomi, sehingga stock capital semakin meningkat, dan pengembangan inovasi baru termasuk di dalamnya inovasi di sektor pertanian. Teknologi pertanian yang semakin maju, yang intinya pada perbaikan efisiensi dan peningkatan produktivitas, menyebabkan supply pertanian semakin meningkat, paling tidak sama dengan produk non pertanian. Gerakan di sisi permintaan dan penawaran, dapat digambarkan pada grafik 1. Gambar di atas menunjukkan, harga produk di sektor pertanian cenderung turun, sementara harga produk di sektor non pertanian

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Grafik1. Gerakan Kurva Permintaan dan Penawaran di Sektor Pertanian dan Non Pertanian
P P

97

Q Pertanian Non Pertanian

Q

cenderung meningkat. Hal ini berarti real income di sektor pertanian akan semakin berkurang. Di sisi lain, pemikiran kedua menyatakan harga produk pertanian naik atau diistilahkan sebagai world problem. Pemikiran ini mendasarkan pada pemikiran Thomas R.Malthus, yaitu pertumbuhan penduduk mengalami deret ukur, sedangkan pertumbuhan produk makan mengalami deret hitung. Padahal di jaman Malthus, pertumbuhan jumlah penduduk hanya 0,5 % per tahun , sedangkan pada pasca PD II, pertumbuhan penduduk sebesar 2 % per tahun. Hal ini berarti setiap 37 tahun, jumlah penduduk dunia meningkat sebesar lebih dari 2 kali. Bagi kelompok Neo Malthusian, kenyataan ini akan menyebabkan harga produk pertanian, hususnya produk makanan, cenderung meningkat. Di sisi lain, teknologi di sektor pertanian sudah mengalami kejenuhan, sehingga supply sudah tidak dapat ditingkatkan lagi. Alasan lainnya, elastisitas income untuk produk makanan terutama di negara low income, cukup tinggi. Produk-produk seperti telur, daging, gula, dan buah-buahan, peningkatan permintaannya lebih tinggi daripada peningkatan income. Karena itu, kurva demand yang bergerak lebih cepat daripada kurva supply, akan mengimplikasikan harga produk pertanian relatif meningkat daripada

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

98

Visi Perekonomian Indonesia 2030

harga produk lainnya. Hal ini bisa dianggap sebagai justifikasi bahwa sektor pertanian dapat mengurangi kemiskinan. Analisis Pendekatan Makroekonomi Secara umum, pendekatan makroekonomi yang digunakan adalah pendekatan dampak ekonomi pengembangan sektor pertanian terhadap pendapatan (PDB/PDRB), penyerapan tenaga kerja dan pengaruh harga produk pertanian terhadap kestabilan inflasi. Analisis yang digunakan untuk dua indikator awal makroekonomi (pendapatan dan penyerapan tenaga kerja) adalah metode inputoutput. Sementara untuk pendekatan indikator ketiga menggunakan analisis kestabilan inflasi kelompok bahan makanan. Berbasis pendekatan mikroekonomi di atas, output pertanian yang didekati oleh indikator produktivitas pertanian selanjutnya dianalisis dalam perspektif analisis ekonomi yang lebih luas yaitu analisis makroekonomi. Analisis makroekonomi dititik beratkan pada perilaku perekonomian secara keseluruhan (Dornbusch, Fischer dan Startz, 1998). Baik buruknya perilaku makroekonomi atau pereknomian secara keseluruhan diukur melalui tiga indikator kinerja makroekonomi yang meliputi: pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan inflasi (Mankiew, 2003; Froyen, 2002). Dalam analisis pendekatan makroekonomi akan dianalisis dampak hasil produksi pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan inflasi. Produktivitas Pertanian, Pertumbuhan Ekonomi dan Pengentasan Kemiskinan Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam meningkatkan kinerja makroekonomi suatu negara/ daerah. Menurut Meier (1995), produktivitas pertanian setidaknya berkontribusi terhadap perekonomian secara keseluruhan melalui empat cara: 1) men-suply bahan mentah terhadap perkembangan sektor lainnya dalam perekonomian, 2) memberikan kelebihan tabungan yang dapat diinvestasikan (yang berasal dari tabungan dan pajak) kepada sektor lain dalam perekeonomian, 3) menjual kas yang berasal dari kelebihan pasar yang dapat meningkatkan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

99

permintaan produk dari penduduk kota, 4) menambahkan devisa negara ketika terjadi ekspor terhadap prduk-produk pertanian. Lebih lanjut Kuznets (1965) menerangkan bahwa kontribusi produktvitas pertanian terhadap perekonomian dibedakan menjadi “kontribusi pasar” dan “kontribusi faktor”. Kontribusi pasar produk hasil pertanian terhadap perekonomian dilakukan melalui dua cara: 1) pembelian hasil produksi pertanian dari sektor lainnya dalam perekonomian dan 2) penjualan hasil produksi yang dimanfaatkan untuk perkembangan sektor lainnya. Sementara itu, kontribusi faktor terjadi ketika terdapat transfer atau peminjaman alokasi sumberdaya antar sektor dalam perekonomian. Sementara itu menurut intepretasi tradisional yang dilakukan oleh kaum strukturalis peran sektor pertanian ditentukan oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap output nasional. Seiring dengan proses industrialisasi yang menyebabkan kontribusi sektor pertanian semakin rendah dibandingkan dengan kontribusi sektor industri. Akan tetapi peran sektor pertanian tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Ketersediaan hasil produksi pertanian yang memadai menyebabkan proses konsumsi yang diakukan oleh pekerja di sektor lainnya tidak terganggu. Sehingga surplus modal yang selanjutnya akan digunakan untuk akumulasi modal dapat terjaga. Meskipun terdapat beberapa pendekatan dalam menilai kontribusi produktivitas pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi, namun, peran sektor pertanian terutama hasil produksi pertanian dan produktivitas pertanian dalam ekonomi bermuara pada salah satu indikator utama yaitu pendapatan nasional atau produktivitas nasional. Korelasi yang kuat antara produktivitas pertanian, besaran output sektor pertanian dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB)/ Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) diperlukan untuk melihat hubungan pergerakan antara ketiga variabel di atas. Selanjutnya untuk melihat besaran dampak perubahan produktivitas hasil pertanian dan kontribusi sektor pertanian terhadap peningkatan PDRB digunakan analisis Input-output. Melalui analisis input-output dapat diperoleh pengeruh pertumbuhan hasil

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

100

Visi Perekonomian Indonesia 2030

produksi yang tercermin dari besaran kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB. Analisis ini juga bermanfaat dalam memperhatikan hubungan antar sektor pertanian dengan sektor lainnya dalam pertumbuhan ekonomi dan dampaknya terhadap peningkatan pendapatan pekerja di sektor tersebut. Untuk memperkuat analisis ini, digunakan tabel input-output 19x19 propinsi Jawa Tengah tahun 2000. Peningkatan pendapatan yang ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB/PDRB di suatu negara atau daerah merupakan salah satu langkah dalam pengentasan kemiskinan. Beberapa penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Ravalion (2000), Ravallion dan Chen (1997) menunjukkan bahwa elastisitas kemiskinan (HPR) terhadap pendapatan bernilai positif dan secara umum lebih dari 2. Dengan kata lain, kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen akan mendorong pengurangan jumlah orang miskin sebesar 2 persen. Produktivitas Pertanian, Penyerapan Tenaga Kerja dan Kemiskinan Penyerapan tenaga kerja dalam perekonomian merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur kinerja makroekonomi suatu negara/daerah. Penyerapan tenaga kerja dalam perekonomian bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai salah satu mesin pembangunan ekonomi, sektor pertanian juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan penyerapan tenaga kerja. Semakin banyak orang yang bekerja, semakin besar kesempatannya untuk memiliki pendapatan yang kemudian berdampak terhadap kemampuan daya beli masyarakat. Secara umum, penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi dipengaruhi oleh teori produksi klasik. Teori produksi klasik menekankan penyerapan tenaga kerja dalam suatu sektor produksi akan terus dilakukan sampai tambahan produktivitas (marginal productivity) adalah nol. Dengan kata lain, jika suatu sektor produksi

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

101

seperti sektor pertanian tambahan produktivitas hasil pertaniannya masih tumbuh, maka sektor tersebut berada berpotensi melakukan penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak. Diharapkan dengan penyerapan tenaga kerja permasalahan perekonomian dengan banyaknya pengangguran dapat teratasi. Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kenaikan daya beli yang diperoleh masyarakat yang bekerja di sektor pertanian melalui peningkatan pendapatan/ upah dari sektor pertanian. Untuk melihat peningkatan pendapatan pekerja di sektor pertanian analisis input-output dengan perhitungan multiplier pendapatan menjadi alat analisis pilihan utamanya. Produktivitas Pertanian,Inflasi dan Kemiskinan Dua aspek kinerja makroekonomi sektor pertanian di atas dititikberatkan pada persepektif produsen. Berikutnya akan dibahas peran sektor pertanian terhadap konsumen. Karakteristik hasil produksi pertanian adalah seluruh hasil produksi pertanian berperan penting bagi hidup dan kehidupana manusia. Sebagian hasil produksi dapat langsung dikonsumsi dan merupakan bahan pokok seharihari seperti: beras, jagung, ikan, daging dan lain-lain. Sementara sebagian lagi merupakan bahan baku yang akan digunakan lagi untuk proses produksi berikutnya. Besaran produktivitas pertanian berdampak terhadap tingkat harga yang harus dibayarkan konsumen terhadap barang hasil produksi pertanian. Dalam teori permintaan, besaran harga akan mempengaruhi banyaknya jumlah barang yang dibeli oleh konsumen. Banyak-sedikitnya barang yang dikonsumsi oleh konsumen merupakan gambaran tingkat kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, besaran harga barang hasil produksi pertanian dapat berimbas pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Kestabilan harga barang hasil produksi pertanian mejadi kata kunci yang mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Tingkat kestabilan harga diukur dengan indikator nasional yaitu inflasi. Inflasi merupakan perhitungan terhadap kecenderungan perubahan harga barang-barang dalam kurun waktu tertentu.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

102

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Sehingga, tingginya tingkat inflasi berdampak terhadap rendahnya daya beli masyarakat dan dapat menyebabkan penurunana tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu jenis pendekatan perhitungan inflasi adalah perhitungan dengan menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK). Penghitungan IHK saat ini dilakukan di 43 kota besar (saat ini 45 kota besar) di Indonesia yang mencakup 249-353 komoditas yang dihitung berdasarkan pola konsumsi hasil survei biaya hidup di 44 kota tahun 1996 (BPS, 2002). Salah satu kelompok jenis barang yang dihitung adalah kelompok bahan makanan yang mencakup hasil-hasil produksi pertanian. Oleh karena itu, tinggi rendahnya tingkat harga barang-barang hasil produksi pertanian berperan terhadap tinggi rendahnya tingkat inflasi di suatu daerah sebagai salah satu indikator penting kinerja makroekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Alur metodologi penelitian ini ditunjukkan oleh diagram alir di bawah ini. Lingkup dan Data Penelitian Metode penelitian ekonomi pertanian di atas diaplikasikan di Propinsi Jawa Tengah. Periode penelitian menggunakan periode sebelum dan sesudah krisis. Periode sebelum krisis dimaksudkan untuk melihat peran revolusi hijau dalam pengembangan sektor pertanian khususnya di Jawa Tengah. Selain itu, periode sebelum krisis merupakan periode dimana sektor pertanian merupakan salah satu sektor prioritas utama pemerintah dalam mengembangkan perekonomian. Sementara periode sesudah krisis bermanfaat untuk melihat bagaimana perkembangan sektor pertanian pada masa pertanian tidak lagi menjadi prioritas paling utama pemerintah. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Mikroekonomi Dengan memandang bahwa petani merupakan makhluk sosial yang berarti terdapat linkages perilaku petani dengan kehidupan sosial di pedesaan. Dalam konteks demikian, green revolution di Indonesia dapat dipandang sebagai upaya memperbaiki

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

103

kehidudupan sosial ekonomi masyarakat di pedesaan. Pada prinsipnya, green revolution ini mengandung tiga kegiatan pokok. Pertama, adanya kegiatan penyuluhan tentang teknologi modern dan mendorong agar petani mau dan mampu menerapkannya. Kedua, diadakannya penyaluran sarana produksi pertanian yang diperlukan untuk menerapkan teknologi modern. Ketiga, disediakannya kredit yang memungkinkan petani mampu membeli saprotan dan membayar kembali sesudah panen. Apabila dilihat dari produktivitas lahan pertanian, terutama lahan padi, menunjukkan peningkatan produktivitas lahan. Sebagai gambaran, sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4, di Jawa Tengah selama tahun 1986 sampai tahun 2004, terdapat peningkatan produktivitas dari 46,69 kw per Ha menjadi 52,04 kw per Ha. Di tingkat nasional, gambaran tersebut tidak jauh berbeda. Produktivitas lahan meningkat, berarti output petani padi meningkat. Peningkatan output ini semakin memperbesar tenaga kerja untuk panenan, kegiatan transportasi, pengolahan padi, perdagangan beras, dan sebagainya. Melalui efek multiplier, pada gilirannya akan meningkatkan kesempatan berusaha, pendapatan masyarakat, dan kesem[patan kerja bagi masyarakat pedesaan. Selanjutnya melalui peningkatan pendapatan petani, sebagai akibat peningkatan produktivitas lahan, maka sebagian pendapatan untuk kegiatan konsumsi, seperti untuk makanan, bahan bakar pakaian, , permuhan, transportasi, kesehatan, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan adanya efek multiplier pada desa dan daerah di sekitarnya. Berbagai akumulasi kegiatan ini menimbulkan serangkaian efek-efek multiplier dan tak berketusan, terhadap kesempatan kerja, kesempatan berusaha, dan pendapatan masyarakat di pedesaan. Terdapat beberapa penelitian yang mendukung. Penelitian yang dilakukan oleh Khan (1979), menunjukkan bahwa petani berlahan sempit di Pakistan dalam menggunakan input modern lebih efisien dibanding petani yang bekerja dengan lahan lebih luas. Penelitian yang dilakukan oleh Tricahyono (1983) di beberapa desa di

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

104

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Kabupaten-kabupaten di Jawa Tengah juga memperlihatkan hasil yang serupa bahwa produktivitas petani berlahan sempit, lebih tinggi dibandingkan dengan petani berlahan luas. Suharno (1991) dalam penelitiannya di perdesaan di Pulau Jawa-Bali membuktikan fenomena yang serupa. Ghose serta Sidhu dan Baanante (1981) menunjukkan hubungan yang berkebalikan antara luas penguasaan lahan terhadap produktivitas. Lebih lanjut, menurut Tricahyono (1983) mengaitkan konsep produktivitas lahan tersebut dengan temuan bahwa petani berlahan sempit memelihara sawah diantara saat tanam dan panen, sehingga hasilnya lebih baik. Demikian pula Sen (1975) yang menegaskan, bahwa justru dengan adanya tanah-tanah berukuran kecil, maka intensitas kerja jauh lebih meningkat dibandingkan dengan pertanian yang arealnya luas. Dalam hal ini, Sen menilai timbulnya kerja keras di kalangan petani kecil karena dirangsang oleh tuntutan untuk mencukupi tekana hidup keluarga. Pandangan Sen ini konsisten dengan perilaku petani di Indonesia, khususnya di Jawa. Sebagai gambaran, penelitian Hadi (dalam Kasryno ed. 1986) memperlihatkan, adanya kecenderungan petani lahan sempit lebih banyak bekerja pada non-usahatani; dan semakin smepit luas lahan semekin besar kecenderungannya bekerja rangkap di luar usaha tani. Schultz (1964, sebagaimana dikutip oleh Norton dan alwang, 1993), menyatakan bahwa kerja keras petani kecil tidak cukup mengentaskan mereka dari kemiskinan. Hal tersebut disebebakan oleh petani tradisionil yang dikonotasikan sebagai petani kecil, menggunakan input-input yang rendah, sehingga produktivitas hasil per hektar dan ukuran produktivitas lainnya cenderung rendah. Ini bukan berarti petani berperilaku tidak efisien. Dalam pandangan Schultz, petani tradisional cenderung poor but efficient. Oleh karena itu, jika teknologi digunakan oleh petani berlahan sempit, teknologi tersebut akan digunakan secara optimal. Berdasarkan kondisi tersebut diperlukan injeksi teknologi yang akan digunakan oleh petani untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Analisis Makroekonomi

105

Padi merupakan salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian di Propinsi Jawa Tengah. Secara umum produksi hasil pertanian khsususnya padi selama periode sebelum krisis tumbuh secara positif. Selama kurun waktu tersebut produksi pertanian rata-rata per tahun meningkat sebesar 1,63 persen. Sementara produktivitas pertanian rata-rata per tahun meningkat sebesar 1,02 persen. Namun, hal sebaliknya terjadi ketika Indonesia berada dalam krisis. Sejak tahun 1998-2001 pertumbuhan produksi padi berada dalam posisi 0,97 persen per tahun. Sementara produktivitas pertanian padi selama kurun waktu tersebut turun 0,09 persen per tahun. Profil hasil produksi pertanian di sektor ditunjukkan oleh tabel 2. Berdasarkan analisis korelasi antara kontribusi sektor pertanian dan produksi pertanian didapatkan hubungan korelasi yang positif. Korelasi positif antara produktivitas pertanian di Jawa Tengah dengan kontribusi sektor pertanian di Jawa Tengah menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas sektor pertanian di Jawa Tengah berkorelasi dengan peningkatan kontribusi sektor pertanian di Jawa Tengah. Korelasi beberapa variabel penting yang menghubungkan beberapa indikator sektor pertanian ditunjukkan oleh tabel 3. Berdasarkan konstruksi korelasi antara variabel produktivitas pertanian dengan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB, dilakukan analisis dampak pengembangan sektor pertanian terhadap PDRB dan pendapatan. Analisis input-output merupakan pendekatan analisis yang digunakan untuk melihat dampak sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan hasil analisis tabel input-output tahun 2000 didapatkan beberapa fakta yaitu secara umum peningkatan produktivitas sektor pertanian lebih dari 1. Hal tersebut berarti jika terdapat peningkatan produktivitas pertanian sebesar Rp1000,00 akan meningkatkan output lebih dari Rp1000,00. Namun, subsektor pertanian yang memiliki angka pengganda output terbesar adalah subsektor

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

106

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 2. Profil Produksi Pertanian (Padi) Sebelum dan Sesudah Krisis (1986-2004)

Produksi Pe

Produktivit Sektor Per Sumber: B

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Tabel 3. Korelasi beberapa Variabel Sektor Pertanian (1986-2001)
Produksi Pertanian Produksi Pertanian Produktivitas -0.375788

107

Sektor Pertanian -0.021718 0.156618

Produktivitas -0.375788 Sektor Pertanian -0.021718 0.156618 Sumber: BPS Jawa Tengah 2001 (diolah)

peternakan dan hasil-hasilnya yaitu 1,583 serta subsektor tanaman pertanian lainnya yaitu sebesar 1,515. Sementara itu, rata-rata angka pengganda pendapatan (upah) para pekerja yang bekerja di sektor pertanian sebesar 0,227. Sementara subsektor yang memiliki angka pengganda pendapatan (upah) tertinggi adalah subsektor tanaman pertanian lainnya sebesar 0,392. Dengan kata lain, peningkatan produktivitas pertanian yang diserap oleh permintaan sektor pertanian akan meningkatkan pendapatan pekerja di sektor tanaman pertanian lainnya. Sementara subsektor padi merupakan subsektor yang memiliki angka pengganda pendapatan paling rendah yaitu sebesar 0,194. Hasil analisis angka pengganda output dan petan ditunjukkan oleh tabel 4. Sementara itu, jika dilihat dari aspek keterkaitan ke belakang subsektor-subsektor pertanian, subsektor peternakan dan hasilhasilnya serta tanaman pertanian lainnya merupakan subsektor yang memiliki keterkaitan ke belakang terhadap subsektor lainnya dalam perekonomian. Keterkaitan kebelakang subsektor peternakan dan hasil-hasilnya serta tanaman pertanian lainnya berturut-turut sebesar (1,58 dan 1,51). Di sisi lain, subsektor-subsektor pertanian rata-rata memiliki keterkaitan ke depan yang tinggi yaitu sebesar 2,47. Subsektor yang memiliki keterkaitan ke depan yang tinggi adalah subsektor terdapat tanaman pertanian lainnya dan subsektor kehutanan. Rata-rata keterkaitan ke depan subsektor tanaman pertanian lainnya sebesar 2,47 bermakna jika Rp1000,00 output hasil produksi sektor pertanian akan digunakan sebagai

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

108

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 4. Hasil Analisis Multiplier Output dan Pendapatan (Tabel Input-Output Tahun 2000)

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

109

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 5. Hasil Analisis Keterkaitan (Tabel Input-Output Tahun 2000)

110

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Grafik 1a & 1b. Hubungan Pertumbuhan dan Peningkatan Perkapita terhada Kemiskinan Total
G_PRKPITA1 vs. MSKN_TOT1 60 50 10000 G _PR K P I T A 1 M S K N _T O T 1 40 30 20 10 0 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 MSKN_TOT1 -5000 0 10000000 20000000 30000000 40000000 PRKPITA 15000 MSKN_T O T1 vs. PRKPITA

5000

0

input oleh sektor lainnya untuk mengahsilkan output sebesar Rp2470,00. Tabel analisis keterkaitan ditunjukkan oleh tabel 5. Hasil analisis di atas menghasilkan diketahuinya jalur dampak produktivitas hasil pertanian terhadap peningkatan kontribusi pertanian serta terhadap total output (PDRB) Propinsi Jawa Tengah dan peningkatan pendapatan penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Selain itu dapat diketahui dampak keterkaitan sektor pertanian dalam mendorong pertumbuhan output/ekonomi secara total baik keterkaitan ke belakang maupun keterkaitan ke depannya. Selanjutnya dilakukan analisis hubungan antara pertumbuhan eknomi dan pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah. Model yang digunakan oleh Ravallion dan Chen (1997) yang menghubungkan antara peningkatan pendapatan dan penuruanan tingkat kemiskinan menjadi alternatif acuan dalam analisis ini. Grafik 1a dan 1b menunjukkan hubungan negatif pertumbuhan pendapatan perkapita dan peningkatan pendapatan perkapita terhadap kemiskinan total. Grafik 1a secara spesifik menunjukkan peran peningkatan pertumbuhan pendapatan yang disumbangkan oleh peningkatan produktivitas sektor pertanian di atas terhadap pengurangan jumlah masyarakat miskin baik di daerah perkotaan dan perdesaan.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Grafik 2a & 2b. Hubungan Peningkatan Pendapatan dan Pengurangan Penduduk Miskin
MSKN_DES1 vs. G_PRKPITA1 8000

111

MSKN_DES1 vs. PRKPIT A 8000

6000
6000 MSKN_DES1

MSKN_DES1

4000

4000

2000

2000

0

0 0 10 20 30 40 50 60

-2000 0 10000000 20000000 30000000 40000000 PRKPITA

G_PRKPITA1

Sementara Grafik 1b menunjukkan peran peningkatan pendapatan perkapita terhadap pengurangan jumlah masyarakat miskin perkotaan dan perdesaan. Keterkaitan ke depan dan kebelakang subsektor-subsektor pada sektor pertanian terhadap sektor-sektor lainnya (sektor industri, dan sektor jasa) dalam perekonomian menyebabkan peningkatan produktivitas pertanian berdampak positif (multiplier output dan pendapatan) kepada seluruh sektor ekonomi dalam perekonomian. Dua diagram scatter berikutnya menunjukkan peranan peningkatan pendapatan dan pertumbuhan pendapatan terhadap pengurangan kemiskinan di daerah perdesaan. Multiplier pendapatan yang diterima pekerja di sektor pertanian pada analisis inputoutput di atas berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat perdesaan. Peningkatan pendapatan masyarakat perdesaan tersebut selanjutnya berdampak pengurangan jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan. Gambaran pengurangan penduduk miskin sebagai dampak peningkatan pendapatan ditunjukkan oleh grafik2a dan 2b . Secara umum keempat grafik tersebut menunjukkan pengaruh peningkatan pendapatan terhadap pengurangan kemiskinan. Hal

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

112

Visi Perekonomian Indonesia 2030

tersebut menggambarkan bahwa sektor pertanian dalam konteks makroekonomi regional di Propinsi Jawa T engah memegang peranan penting dalam usaha peningkatan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan pendapatan dan pengurangan jumlah orang miskin. Analisis Dampak Sektor Pertanian terhadap Inflasi dan Kemiskinan di Propinsi Jawa Tengah Selain analisis sektor produksi, analisis sektor pertanian juga dilakukan terhadap sektor permintaan yang ditunjukkan oleh kemampuan daya serap produk pertanian di masyarakat. Daya serap sektor pertanian oleh masyarakat juga mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat di suatu daerah. Semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi hasil produksi pertanian berdampak rendahnya tingkat gizi yang diasup oleh masyarakat. Selain itu, tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian hasil produk pertanian akan meningkatkan batas garis kemiskinan yang berpotensi dapat menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk miskin. Oleh karena itu, diperlukan analisis lebih mendalam untuk melihat perkembangan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli produk hasil pertanian. Selain analisis terhadap garis kemiskinan, pendekatan analisis yang digunakan adalah perkembangan inflasi dengan pendekatan indeks harga konsumen (IHK) yang mencakup perkembangan indeks kelompok makanan di Jawa Tengah. Disebabkan oleh tidak seluruh daerah kabupaten/kota di Propinsi Jawa Tengah menhitung IHK, maka fokus analisis ini hanya dipusatkan pada kota-kota tertentu. Kota-kota di Propinsi Jawa Tengah yang memiliki perhitungan IHK antara lain yaitu: Kota Semarang, Kota Tegal, Kota Purwokerto dan Kota Surakarta. Analisis inflasi dengan garis kemiskinan ditunjukkan oleh tabel berikut ini: Secara umum kenaikan harga-harga kebutuhan bahan makanan di Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kenaikan garis kemskinan. Rata-rata inflasi di empat kota besar tersebut setelah krisis berada dalam level 21,11 persen untuk indeks umum

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan

113

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 6. Perkembangan IHK, Indeks Kelompok Bahan Makanan, Inflasi dan Kemiskinan di Jawa Tengah

114

Visi Perekonomian Indonesia 2030

dan 27, 82 persenuntuk kelompok bahan makanan. Sementara kenaikan garis kemiskinan mencapai lebih dari 120 persen. Jika dilihat rata-rata pertahun kenaikan inflasi pertahun di empat kota di Jawa Tengah tersebut mencapai 10 persen per tahun untuk indeks umum dan 6 persen per tahun untuk kelompok bahan makanan. Sementara rata-rata peningkatan garis kemiskinan per tahun mencapi 32 persen di kota dan 9,9 persen di desa. Kondisi tersebut memberi gambaran bahwa perubhan harga kelompok bahan makanan lebih stabil dibandingkan kenaikan bahan non makanan sebagai kebutuhan mendasar masyarakat yang digunakan untuk menghitung garis kemiskinan. Kebijakan stabilitas harga hasil produksi pertanian merupakan salah satu faktor yang menyebabkan relatif stabilnya kenaikan harga bahan makanan. KESIMPULAN Secara umum, peranan pengembangan sektor pertanian yang dimotori oleh revolusi hijau yang dilakukan melalui pengembangan teknologi pertanian bermanfaat dalam meningkatkan tingkat produktivitas pertanian di Indonesia dan Jawa Tengah pada khususnya. Peningkatan produktivitas hasil pertanian mendorong peningkatan pertumbuhan sektor pertanian dalam PDRB. Sampai dengan saat ini meskipun share terhadap output terus menurun, namun pertumbuhan ekonomi masih positif. Berdasarkan analisis ketrakaitan ekonomi di Jawa Tengah, sektor pertanian masih merupakan sektor yang penting. Hal tersebut ditunjukkan oleh angka pengganda output dan pendapatan yang tinggi. Melalui angka pengganda output yang tinggi (>1) berimplikasi peningkatan output sektor pertanian akan menyebabkan kenaikan PDRB dan selanjutnya akan menurunkan tingkat kemiskinan seperti yang ditunjukkan oleh gambar 1 dan 2. Selain itu, prduktivitas pertanian juga berdampak terhadap peningkatan pendapatan petani melalui angka pengganda pendapatan (upah). Melalui peningkatan pendapatan petani inilah kemiskinan petani dapat dientaskan. Selanjutnya, fakta lain

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Sektor Pertanian dan Pengentasan Kemiskinan Diagram 1. Dampak Pengembangan Sektor Pertanian terhadap Pengentasan Kemiskinan
Revolusi Hijau Produktivitas Pertanian berkorelasi +

115

Produk Sektor Pertanian dalam PDB

Kemiskinan
Kebijakan Pemerintah
(Gambar 1 & 2)

Angka Pengganda Output >1

Angka Pengganda Pendapatan Stabilitas Harga

Inflasi kelompk Bahan Makanan Rendah

Peningkatan Pendapatan Petani

Garis Kemiskinan

menunjukkan kebijakan stabilitas harga input pertanian yang dilakukan oleh pemerintah mampu menekan fluktuasi harga produk pertanian. Stabilnya harga hasil produksi pertanian tersebut berpengaruh mengurangi beban masyarakat dengan tidak semakin meningkatkan garis kemiskinan. Dalam kondisi ini, jumlah orang yang miskin dapat dikurangi. Arah jalur kontribusi sektor pertanian dalam pengentasan dan pengurangan kemiskinan ditunjukkan oleh diagram 1. DAFTAR PUSTAKA Alfian, Tan, M. G dan Soemardjan, S . (1980). Kemiskinan Struktural. Jakarta; Gramedia. Badan Pusat Statistik. (2005). Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: BPS.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

116

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Badan Pusat Statistik Jawa Tengah.(2003). Tabel Input-Output Jawa Tengah. Semarang: BPS. Dikun, S (ed). (2003). Infrastruktur di Indonesia. Jakarta: Bappenas Endah, S. (2004). Studi Keterkaitan Antar Sektor Menggunakan Model Tabel Input-Output: Suatu Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Agroindustri di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2002. Skripsi; Fakultas Ekonomi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta Mankiw, N.G. (2000). Macroeconomics. New York: Worth. Mubyarto. (1994). Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES. Meier, G. M. (1995). Leading Issues in Economic Development. 6th. Oxford University Press: Oxford Ravallion, M. dan Chen, S. (1997). “What Can New Survey Data Tell Us about Recent Changes in Distribution and Poverty?” World Bank Economic Review, 11 (2) 357-82. Schultz, T.W. (1964).Transforming Traditional Agriculture. New York: McGraw Hilll. Suharno. (1991). Pengaruh Perubahan Harga terhadap Penawaran Produk dan Permintaan Input pada Produksi Padi di Jawa dan Bali.Disertasi UGM, Yogyakarta. Tricahyono, B.(1983).Masalah Petani Gurem. Yogykarta: Liberty. Todaro, M. P. (2000). Economic Development. Eidenburgh: Addison-Wesley. World Bank. (1994). World Development Report 1994: Infrastructure for Development. New York: Oxford University Press. Wiradi, G. (1992). Ketenagakerjaan dalam Struktur Agraris di Pedesaan Jawa. Dalam Peter Hagul (ed). Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat . Yogyakarta: Yayasan Dian Desa.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

5

117

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM), AKSES SANITASI DAN KEMISKINAN
BHIMO RIZKY SAMUDRO

PENDAHULUAN Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indikator untuk menganalisis status komparatif pembangunan sosioekonomi di negara berkembang maupun negara maju secara sistematik dan komprehensif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berusaha menyusun peringkat semua negara pada skala nol (kinerja pembangunan manusia tertinggi) hingga satu (kinerja pembangunan manusia tertinggi) berdasarkan tiga kriteria atau hasil akhir pembangunan, yaitu : 1. Ketahanan hidup yang diukur berdasarkan harapan hidup saat kelahiran. 2. Pengetahuan yang dihitung berdasarkan tingkat rata-rata melek huruf di kalangan penduduk dewasa dan angka rata-rata masa sekolah. 3. Kualitas standar hidup yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita riil yang disesuaikan dengan paritas daya beli (PPP, Purchasing Power Parity). United Nation Development Program (UNDP) kemudian berhasil menggunakan konsep Indeks Pembangunan Manusia untuk memeringkatkan semua negara ke dalam kategori tiga kelompok besar. Kelompok pertama adalah negara-negara yang tingkat pembangunan manusianya rendah (0,0 – 0,5), menengah (0,510,79), dan tinggi (0,8 – 1). Dalam hal ini, Indeks Pembangunan Manusia hanya mengukur tingkat pembangunan manusia secara relatif (bukan absolut) dan memfokuskan pada hasil akhir

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

118

Visi Perekonomian Indonesia 2030

(ketahanan hidup dan pengetahuan) bukan pada sarana proses (GNP/kapita). Dimensi Manusia Dalam Pembangunan di Indonesia Tujuan pembangunan dalam rangka pertumbuhan sosioekonomi di dalam sebuah negara diharapkan berorientasi pada manusia dan hak-haknya. Dimensi “manusia” dalam pembangunan di Indonesia menjadi prioritas perhatian pada awal Repelita I melalui strategi pembangunan nasional “Pertumbuhan Ekonomi seiring dengan peningkatan sumber daya manusia”. Strategi pembangunan ini menekankan pada pembangunan manusia seutuhnya sebagai tujuan utama pembangunan nasional melalui peningkatan sumber daya manusia untuk berperan sebagai subyek dalam pembangunan. Dalam konteks pembangunan di Indonesia terjadi pergeseran paradigma, dari pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (basic needs development), dan akhirnya bergeser menuju pada manusia (human centered development). Konsep pembangunan manusia dalam pembangunan telah dirintis sejak paradigma “basic needs development” dengan digunakannya Indeks Mutu Hidup (Physical Quality Life Index). Indeks Mutu Hidup memiliki tiga parameter yaitu angka kematian , bayi, angka harapan hidup waktu lahir, dan tingkat melek huruf. Kemudian penggunaan indikator ini berkembang menjadi Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index), ketika paradigma pembangunan bergeser menjadi “human centered development”. Pengembangan penggunaan angka IPM di Indonesia dilakukan oleh Bappenas bekerjasama dengan UNDP. Pembangunan manusia diasumsikan sebagai proses pilihan dari masyarakat (public choice) dalam mencapai kebutuhan yang dianggap paling penting dan mendasar. Hal ini digunakan sebagai pola dasar pengukuran pembangunan manusia. Tiga pilihan kebutuhan yang dianggap penting, yaitu sehat dan berumur panjang, berpendidikan, dan akses terhadap sumber daya untuk hidup layak. Ketiga pilihan ini

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan

119

didukung oleh pilihan lain, yaitu kebebasan politik, hak asasi manusia, dan penghormatan hak pribadi (personal selfrespect). Untuk mengukur tiga pilihan tersebut digunakan tiga parameter, yaitu : 1. Derajat kesehatan dan panjangnya umur yang terbaca dari angka harapan hidup (life expectancy rate). 2. Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf dan ratarata lama bersekolah. 3. Pendapatan yang diukur dengan daya beli masyarakat (purchasing power parity). Tiga parameter ini kemudian disebut dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ketiganya merupakan pengembangan dari Human Development Index (HDI) yang berskala internasional. Pengembangan IPM di Indonesia dilakukan dari tingkat kabupaten/ kota. Denga pemanfaatan IPM, pembangunan nasional maupun daerah diharapkan lebih aspiratif dalam mengakomodasi dimensi manusia dengan baik dan terarah. IPM dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia Dalam proses pembangunan manusia, usaha peningkatan sumber daya manusia (SDM) harus dibangun sejak dini. Manusia sebagai sumber daya dan sekaligus modal dasar pembangunan harus dari keluarga baik yang dapat sebagai media anak untuk tumbuh sehat dan cerdas sehingga menghasilkan SDM berkualitas. Peningkatan SDM melalui intervensi dini terhadap anak disebut pembangunan SDM dini sedangkan intervensi terhadap usia produktif disebut peningkatan SDM produktif. Keberhasilan proses pembangunan manusia dalam pembangunan di Indonesia memmerlukan komitmen yang kuat pemeran pembangunan. Dalam hal ini diperlukan perencanaan program pembangunan daerah disamping political will pemerintah terhadap dimensi pembangunan manusia. Upaya pengembangan dan pemanfaatn IPM dalam proses perencanaan menjadi penting, karena

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

120

Visi Perekonomian Indonesia 2030

proses pembangunan manusia menuntut adanya indikator yang sensitif, data akurat, dan dana cukup. Di samping itu, proses ini memerlukan pemahaman yang sama dan komitmen antar pemerintah pusat dan daerah serta lintas sektoral. Pada era otonomi daerah dewasa ini, pemerintah daerah umumnya menempatkan prioritas pembangunan tidak pada pembangunan manusia, namun lebih meningkatkan pada keinginan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah pada umumnya kurang memahami arti penting pembangunan sumber daya manusia, yang sebenarnya juga merupakan aset yang dimiliki daerah. Kedudukan IPM dalam Pembangunan Bidang Sanitasi di Indonesia Salah satu indikator dari IPM adalah derajat kesehatan dan panjangnya umur yang terbaca dari dari angka harapan hidup (life expectancy rate). Derajat kesehatan yang tinggi harus didukung dengan fasilitas kesehatan dan sanitasi yang baik. Pembangunan bidang sanitasi dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bidang (Soeranto, 2004), yaitu pembangunan bidang pengelolaan persampahan, pengelolaan air limbah, dan saluran pembuangan (drainase). Pembangunan ketiga bidang sanitasi ini merupakan upaya untuk dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Keberhasilan dari hal tersebut dapat diukur dari salah satu indikator IPM, yaitu angka harapan hidup (life expectancy rate). Namun pembangunan bidang sanitasi di Indonesia selalu menghadapi kendala pada minimnya pendapatan masyarakat. Minimnya pendapatan masyarakat akan berdampak pada minimnya kesadaran masyarakat terhadap pembangunan bidang sanitasi. Minimnya pendapatan masyarakat akan lebih mendorong mereka untuk memberikan prioritas lebih pada kebutuhan dasar (basic needs), sedangkan kebutuhan akan pembangunan fasilitas bidang sanitasi dianggap belum terlalu penting.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan

121

Tabel 1. Tujuan 7 Millenium Development Goals (MDGs) – Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan
Tujuan 7 Target 9 Isi

Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program nasional dan mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang Target 10 Mengurangi separuh, pada tahun 2015, dari penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar Target 11 Mencapai perbaikan yang berarti terhadap kehidupan 100 juta penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020 Sumber: Lokakarya Millenium Development Goals, Jakarta, 2004

Secara teoritis, pembangunan bidang sanitasi terdapat dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang mencakup 8 tujuan dan 18 target. Berdasarkan Tujuan 7 dari Millenium Development Goals (MDGs), yaitu Pengelolaan Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan terdapat 3 (tiga) target yang berkaitan dengan hal tersebut. Pada target 10 dan 11 terdapat keterkaitan antara masalah akses air minum dan sanitasi dasar masyarakat terhadap tingkat kemiskinan. Millenium Development Goals (MDGs) mendeskripsikan bahwa terdapat interdependensi antara akses air minum dan sanitasi terhadap tingkat kemiskinan. Pembangunan dan perbaikan bidang sanitasi secara tidak langsung akan mengurangi kemiskinan. Sebaliknya dengan dapat mengurangi tingkat kemiskinan, berarti masyarakat memiliki alokasi pendapatan untuk membangun dan memperbaiki akses sanitasi dan air minum. Gambar 1. menjelaskan tentang pola pengaruh pembangunan akses sanitasi lingkungan terhadap aspek-aspek lain. Secara empris, menurut Soeranto (2004), pembangunan sanitasi dapat meningkatkan kesehatan masyarakat dan lingkungan, yang indikator keberhasilannya selalu diukur dari indeks Tingkat Harapan Hidup, Tingkat Kematian Bayi, dan Angka Penyakit yang disebabkan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

122

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Gambar 1. Pengaruh Pembangunan Akses Sanitasi Lingkungan terhadap Aspek Lainnya

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan

123

media air (Water-Borne Disease), seperti demam berdarah, tifus, dan diare. Namun sejak awal Water and Sanitation Decade tahun 1980, Indonesia selalu mengalami kendala pada minimnya pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk pembangunan sanitasi dasar. Sementara itu, menurut Mungkasa (2004), peningkatan kualitas dan ketersediaan air minum dan sanitasi dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk yang berarti mengurangi tingkat kemiskinan. METODE ANALISIS Untuk melakukan analisis tentang keterkaitan akses sanitasi dan tingkat kemiskinan di Indonesia, akan digunakan metode tipologi klasifikasi empat kuadran. Metode ini akan mendeskripsikan kondisi akses sanitasi dan tingkat kemiskinan pada 30 propinsi di Indonesia (model 1). Kemudian metode ini juga akan digunakan untuk

Tabel 2. Model Tipologi Klasifikasi Propinsi Keterkaitan Akses Sanitasi dan Tingkat Kemiskinan
Tingkat kemiskinan di bawah rata-rata Tingkat kemiskinan di atas rata-rata Propinsi Kelompok A Propinsi Kelompok B Akses sanitasi di bawah rata-rata Propinsi Kelompok C Propinsi Kelompok D Akses sanitasi di atas rata-rata

Tabel 3. Model Tipologi Klasifikasi Propinsi Keterkaitan Akses Sanitasi dan Produk Domestik Regional Bruto per Kapita (PDRB/kapita)
PDRB/kapita di atas rata-rata PDRB/kapita di bawah rata-rata Propinsi Kelompok 1 Kelompok Propinsi 2 Akses sanitasi di bawah rata-rata Kelompok Propinsi 3 Kelompok Propinsi 4 Akses sanitasi di atas rata-rata

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

124

Visi Perekonomian Indonesia 2030

mendeskripsikan kondisi akses sanitasi dan pendapatan domestik regional bruto (PDRB) pada 30 propinsi di Indonesia (model 2). Dari 2 model tersebut akan dapat digunakan sebagai dasar analisis dan penyusunan skala prioritas pembangunan akses sanitasi. Pembahasan: Keterkaitan Akses Sanitasi dan Tingkat Kemiskinan di Indonesia Dalam melakukan analisis dan pembahasan tentang keterkaitan akses sanitasi dan tingkat kemiskinan di Indonesia akan digunakan data persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi dan persentase penduduk miskin pada 30 propinsi di Indonesia. Tabel 4. menunjukkan hasil tipologi propinsi dengan menggunakan model 1. T abel 4. menunjukkan bahwa propinsi kelompok B (NAD, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua) adalah propinsi-propinsi dengan akses rumah tangga terhadap sanitasi masih dibawah rata-rata dan tingkat kemiskinan masih di Tabel 4. Hasil Tipologi Klasifikasi Propinsi Keterkaitan Akses Sanitasi dan Tingkat Kemiskinan
Tingkat kemiskinan di bawah rata-rata Propinsi Kelompok A Maluku Utara, Sumatera Barat, Kep.Bangka Belitung, Banten, Kalbar, Kalteng Propinsi Kelompok C Sumatera Utara, Riau, Jambi, DKI Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara Propinsi Kelompok D Sumatera Selatan, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur

Tingkat kemiskinan di atas ratarata

Propinsi Kelompok B NAD, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua Akses sanitasi di bawah rata-rata

Akses sanitasi di atas rata-rata

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan

125

atas rata-rata. Berdasarkan teori di atas, pembangunan dan perbaikan akses sanitasi secara tidak langsung akan dapat mengurangi kemiskinan. Di sisi lain, secara empiris menunjukkan bahwa kendala utama pembangunan dan perbaikan akses sanitasi rumah tangga adalah minimnya pendapatan. Oleh karena itu, model 2 akan digunakan untuk mendeskripsikan keterkaitan akses sanitasi rumah tangga dengan Produk Domestik Regional Bruto per kapita (PDRB/kapita). Model 2 dapat menjadi alat bantu untuk melihat besarnya modal rumah tangga yang dapat dialokasikan untuk perbaikan dan pembangunan akses sanitasi. Tabel 5. menunjukkan bahwa propinsi kelompok 2 (Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara) adalah propinsipropinsi dengan akses rumah tangga terhadap sanitasi masih dibawah rata-rata dan PDRB per kapita masih di bawah rata-rata. Fenomena ini akan memunculkan hipotesa, bahwa faktor yang menjadi penyebab rendahnya akses sanitasi rumah tangga di kelompok propinsi tersebut adalah faktor PDRB per kapita yang Tabel 5. Hasil Tipologi Klasifikasi Propinsi Keterkaitan Akses Sanitasi dan PDRB per kapita
PDRB/kapita di atas ratarata Propinsi Kelompok 1 NAD, Kep. Bangka Belitung, Banten, Kalimantan Tengah, Papua Propinsi Kelompok 3 Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur Propinsi Kelompok 4 Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur

PDRB/kapita Propinsi Kelompok 2 di bawah rata- Sumatera Barat, Bengkulu, rata Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Maluku Utara Akses sanitasi di bawah rata-rata

Akses sanitasi di atas rata-rata

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

126

Visi Perekonomian Indonesia 2030

rendah, faktor kemiskinan (distribusi pendapatan tidak merata) dan faktor budaya kesadaran terhadap kesehatan dan sanitasi. Faktor budaya ini muncul sebagai hipotesa, karena melihat fenomena pada propinsi kelompok 4. Fenomena propinsi kelompok 4 menunjukkan bahwa meskipun PDRB per kapita di bawah ratarata, namun masyarakat di propinsi kelompok 4 memiliki akses sanitasi rumah tangga di atas rata-rata. Hal ini menunjukkan budaya kesadaran sanitasi mereka cukup tinggi dengan efektifitas mereka mengalokasikan pendapatan untuk pembangunan sanitasi, walaupun pendapatan mereka di bawah rata-rata. Berdasarkan 2 model tipologi klasifikasi propinsi di atas, maka akan disusun skala prioritas penanganan pembangunan dan perbaikan akses sanitasi masyarakat tiap propinsi. Skala prioritas akan disusun dengan menganalisis kelompok propinsi yang diklasifikasi berdasarkan penggabungan dari 2 model di atas, misal: kelompok propinsi A1, artinya propinsi-propinsi tersebut pada model 1 berada pada kuadran kelompok A dan sekaligus pada model 2 berada pada kuadran kelompok 1. Urutan prioritas penanganan pembangunan dan perbaikan akses sanitasi rumah tangga di masing-masing propinsi dapat ditunjukkan pada tabel 6. Kelompok propinsi B2 (Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Maluku) menjadi kelompok propinsi yang mendapat prioritas 1 dalam penanganan akses sanitasi. Kondisi akses sanitasi di kelompok propinsi B2 masih di bawah rata-rata, sementara kondisi tingkat kemiskinan di atas rata-rata dan PDRB per kapita di bawah rata-rata. Khusus untuk propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) akan dimasukkan dalam prioritas 1, karena masalah bencana alam. Namun dalam kondisi normal propinsi NAD sebenarnya masuk pada prioritas 2. Kondisi NAD dan Papua (kelompok B1) sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang baik (PDRB per kapita di atas rata-rata), namun kesadaran akan kesehatan dan sanitasi masih sangat kurang, serta kurangnya pemerataan pendapatan mengakibatkan tingkat kemiskinan yang masih di atas rata-rata.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan Tabel 6. Klasifikasi dan Skala Prioritas Pembangunan Akses Sanitasi Propinsi di Indonesia
Grup A1 Propinsi Banten, Kep Bangka Belitung, Kalimantan Tengah Deskripsi Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di atas ratarata dan tingkat kemiskinan di bawah rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di bawah rata-rata Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di bawah rata-rata dan tingkat kemiskinan di bawah rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di bawah rata-rata Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di atas ratarata dan tingkat kemiskinan di atas rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di bawah rata-rata Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di bawah rata-rata dan tingkat kemiskinan di atas rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di bawah rata-rata

127

Skala Prioritas Pembangunan Sanitasi dan Solusi Skala prioritas 3. Solusi: perlu adanya kesadaran terhadap sanitasi dan kesehatan ; perlu alokasi PDRB per kapita untuk akses sanitasi rumah tangga Skala prioritas 4. Solusi: perlu adanya pemberdayaan potensi ekonomi daerah; perlu adanya kesadaran terhadap sanitasi dan kesehatan ; perlu alokasi PDRB per kapita untuk akses sanitasi rumah tangga Skala prioritas 2. Solusi: perlu adanya kesadaran terhadap sanitasi dan kesehatan; pemerataan distribusi pendapatan; perlu alokasi PDRB per kapita untuk akses sanitasi rumah tangga Skala prioritas 1. Solusi: perlu adanya kesadaran terhadap sanitasi dan kesehatan; perlu pemberdayaan potensi ekonomi; alokasi PDRB per kapita untuk akses sanitasi rumah tangga

A2

Sumatera Barat, Maluku Utara, Kalimantan Barat

B1

NAD*), Papua

B2

Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Maluku

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

128 LanjutanTabel 6
Grup Propinsi Deskripsi

Visi Perekonomian Indonesia 2030

C3

Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur Sulawesi Utara, Jawa Barat, Jambi

C4

D4

Sumatera Selatan, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur

Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di atas ratarata dan tingkat kemiskinan di bawah rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di atas ratarata Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di bawah rata-rata dan tingkat kemiskinan di bawah rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di atas ratarata Kelompok propinsi dengan PDRB per kapita di bawah rata-rata dan tingkat kemiskinan di atas rata-rata, serta memiliki akses sanitasi di atas ratarata

Skala Prioritas Pembangunan Sanitasi dan Solusi Skala prioritas 7. Kelompok propinsi C3 merupakan kelompok propinsi dengan klasifikasi mapan dalam pembangunan ekonomi dan akses sanitasi.

Skala prioritas 6. Solusi: perlu pemberdayaan potensi ekonomi

Skala prioritas 5. Solusi: perlu adanya pemberdayaan potensi ekonomi dan pemerataan distribusi pendapatan

Keterangan: Prioritas 1-7: urutan kelompok propinsi untuk prioritas pembangunan akses sanitasi (skala 1 adalah kelompok yang paling diprioritaskan). *) NAD berada pada kelompok B1 dengan prioritas 2, namun karena bencana alam akan dikelompokkan pada prioritas 1 Sumber: Data diolah

Sebaliknya kelompok propinsi C3 (Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur) menjadi kelompok propinsi yang memiliki akses sanitasi rumah tangga di atas rata-rata. Di samping itu, kelompok propinsi tersebut juga memiliki PDRB per kapita di atas rata-rata dan kondisi tingkat kemiskinan yang di bawah rata-rata. Hal ini menunjukkan kondisi sanitasi dan ekonomi di kelompok propinsi C3 telah baik dan mapan. Fenomena menarik justru terjadi pada kelompok propinsi C4 dan D4, walaupun kondisi PDRB per kapita yang di bawah rata-

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan

129

rata dan tingkat kemiskinan di atas rata-rata namun tidak menjadi alasan kelompok propinsi C4 dan D4 untuk tidak memperhatikan kesehatan dan akses sanitasi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa faktor budaya kesadaran terhadap kesehatan dan sanitasi pada kelompok propinsi C4 dan D4 cukup berperan besar terhadap kondisi akses sanitasi yang di atas rata-rata. Namun kondisi ini juga dapat mendeskripsikan bahwa daerah dengan akses sanitasi di atas rata-rata tidak menjamin akan segera dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan PDRB per kapita. Hal ini menunjukkan masih terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dan PDRB per kapita. KESIMPULAN Penggunaan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia diharapkan dapat menterjemahkan indikator makroekonomi seperti GNP ke dalam pembangunan manusia. Konsep pambangunan manusia juga merupakan konsep ekonomi, karena salah satu strategi dalam pembangunan ekonomi adalah peningkatan mutu modal manusia melalu pendidikan, kesehatan, dan rasa aman. Salah satu indikator dari IPM adalah derajat kesehatan dan panjangnya umur yang terbaca dari angka harapan hidup (life xxpectancy rate). Derajat kesehatan yang tinggi harus didukun dengan fasilitas kesehatan dan sanitasi yang baik. Pembangunan bidang sanitasi dapat dibagi menjadi menjadi 3 (tiga) bidang, yaitu pembangunan bidang pengelolaan persampahan, pengeloaan air limbah, dan saluran pambuangan (drainase). Millenium Development Goals (MDGs )mendeskripsikan bahwa terdapat interdependensi antara akses air minum dan sanitasi terhadap tingkat kemiskinan. Pembangunan dan perbaikan bidang sanitasi secara tidak langsung akan mengurangi kemiskinan. Sebaliknya dengan dapat menguangi tingkat kemiskinan, berarti masyarakat memiliki alokasi pendapatan untuk membangun dan memperbaiki akses sanitasidan air minum. Keterkaitan antara akses sanitasi rumah tangga an PDRB per kapita di indonesia dapat

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

130

Visi Perekonomian Indonesia 2030

dilihat dengan model tipologi klasifikasi empat kuadran dengan objek 30 propinsi di Indonesia. Hasil analisis meninjukkan bahwa: Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat akses sanitasi rumah tangga pada 30 propinsi di Indonesia adalah PDRB per kapita, distribusi pendapatan masyarakat, dan budaya kesadaran terhadap kesehatan/sanitasi. Tingkat akses sanitasi rumah tangga akan dapat mempengaruhi aspek sosial-ekonomi lain, yaitu tingkat kemiskinan dan PDRB per kapita. Meskipun hal ini tidak berlaku pada beberapa propinsi tertentu. Berdasarkan urutan skala prioritas pembangunan dan perbaikan kondisi akses sanitasi rumah tangga, terdapat 10 propinsi dengan skala prioritas 1 (paling prioritas), hal ini menunjukkan bahwa kondisi akses sanitasi kelompok propinsi ini harus segera dibenahi. 10 propinsi tersebut adalah NAD, Bengkulu, Jawa Tengah, Jawa Timur , Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku. Saran dan Rekomendasi Penyempurnaan dalam penyusunan dan penghitungan IPM diharapkan akan dapat mendeskripsikan tingkat pembangunan manusia dan ekonomi pada berbagai daerah di Indonesia dalam arti sebenarnya. Model tipologi klasifikasi propinsi berdasarkan keterkaitan akses sanitasi rumah tangga dengan indikator ekonomi (PDRB per kapita dan tingkat kemiskinan) merupakan salah satu langkah untuk mendeskripsikan keadaan keterkaitan tingkat pembangunan manusia dan ekonomi di suatu daerah. Untuk mengetahui hal ini dengan lebih rinci dan tepat masih terdapat berbagai cara dan metode lain. Pembahasan penentuan urutan prioritas pembangunan dan perbaikan akses sanitasi rumah tangga akan memberikan deskripsi tentang kondisi akses sanitasi rumah tangga pada berbagai propinsi di Indonesia. Oleh karena itu, pembahasan ini jangan diartikan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Akses Sanitasi dan Kemiskinan

131

dalam sebuah kerangka harfiah dalam arti bahwa pada saat suatu daerah tidak berada dalam kelompok prioritas 1, maka daerah itu diartikan tidak memerlukan pembangunan dan perbaikan akses sanitasi. Setiap daerah di Indonesia akan tetap memerlukan pembangunan di bidang sanitasi, hanya prioritasnya berbeda. Pembahasan ini adalah sebuah ilustrasi kondisi akses sanitasi rumah tangga yang terkait dengan pembangunan manusia secara holistik di Indonesia. Hal ini diharapkan menjadi masukan dalam usaha peningkatan pembangunan manusia sebagaimana diharapkan dalam tujuan dan target Millenium Development Goals. Daftar Pustaka BPS. (2002). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Jakarta 1990-1999. Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS). Chenery dan Srinivasan. (1989). Handbook of Development Economics, Vol 2, New York: Elsevier. Imawan, W. (2002).”Indikator Komposit Pembangunan Manusia: Indikator Sosial Untuk Monitoring dan Evaluasi Kinerja Pembangunan Sesuai Wilayah Pemerintahan”, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS), Meier, G. M & Stiglitz, J. (2001). Frontiers of Development Economics in the Future Perspective. New York: Oxford University Press. Muhammad, M. (2003). Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia. Koran Tempo. Mungkasa, O. (2004). Sekilas Kondisi Air Minum dan Sanitasi di Indonesia. Media Percik, Jakarta. Soeranto, D.A. (2004). Kualitas Manusia Indonesia dan Pembnagunan Prasarana Sanitasi. Media Percik, Jakarta, Sumahdumin dan Abdurahim, D. (2002). Pemanfaatan Indeks Pembangunan Manusia untuk Perencanaan Pembangunan Daerah.” Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS).

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

132

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Sumarsono, S dan Sahat, M. (2002).”Index Pembangunan Manusia dan Pemanfaatannya Dalam Pembangunan Daerah”, Direktorat Bina Kelembagaan Pembangunan Dirjen Bina Pembangunan Daerah Depdagri dan Otda, Jakarta, Toddaro, M. P dan Smith S. (2003). Economics Development 8th New York Eddison Wesley. World Bank. (2001). The Quality of Growth 2000. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. World Bank. (2002). Globalization Growth, And Poverty. New York: Oxford University Press, World Bank.(2003). World Development Repor, Sustainable Development in a Dynamic World: Transforming Institutions, Growth, and Quality of Life. New York: Oxford University Press.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

6

133

PERENCANAAN TENAGA KERJA DAERAH
SUTOMO YUNASTITI PURWANINGSIH YULIANA KARTIKASARI

LATAR BELAKANG Sosialisasi Perencanaan Tenaga Kerja dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (Depnakertrans RI) tahun 2004 dan tahun 2005 yang inti pokoknya adalah : menyesuaikan dengan ketentuan UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan khususnya pasal 7 ayat 3; berimplikasi pada Kabupaten/Kota berkewajiban untuk menyusun Perencanaan Tenaga Kerja (PTK). Berdasar pada sosialisasi tersebut serta mengacu pada Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2003-2008 Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta, dimana salah satu tujuan Renstra tersebut adalah tersedianya data ketenagakerjaan guna penyusunan Perencanaan Tenaga Kerja Daerah, maka kami Tim Peneliti dari Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret (FE UNS) Surakarta bekerjasama dengan Bappeda Surakarta melalui Kepala Disnaker Kota Surakarta (yang membidangi ketenagakerjaan) membuat PTK (Perencanaan Tenaga Kerja). Dalam hal ini, Tim Peneliti FE UNS Surakarta sebagai pelaksana analisis pembuatan PTKD lengkap, sesuai arahan dari Depnakertrans RI. Penyusunan PTKD ini dilakukan dengan mengembangkan model Elastisitas Kesempatan Kerja, dan model Simple-E (Econometric Simulation System Model), serta dilengkapi analisis deskripsi. Perlunya penyusunan PTKD dilatarbelakangi oleh beberapa hasil studi para pakar ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi berdampak positif dalam menciptakan kesempatan kerja (Suroto,1992; Simanjuntak, 1985; Suryadi, 1992; Swasono, 1987; McConnel, 1989; Wachtel, 1984; Psacharopoulus,

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

134

Visi Perekonomian Indonesia 2030

1985). Studi empiris diberbagai daerah menyebutkan hal yang sama, bahwa tingkat kegiatan ekonomi berhubungan dengan penciptaan lapangan kerja. Studi ini bertujuan menyusun PTKD Kota Surakarta. Dengan tersusunnya PTKD tersebut sekaligus dapat teridentifikasi masalah ekonomi ketenagakerjaan dan data sosial ekonomi ketenagakerjaan di Kota Surakarta. Manfaat studi ini adalah (1) proyeksi kesempatan kerja, dan apabila angka proyeksi tersebut dibandingkan dengan angkatan kerja kerja yang ada, maka dapat dihitung angka pengangguran, (2) seberapa besar pengaruh pertumbuhan ekonomi daerah terhadap penyerapan tenaga kerja. Berdasar hasil tersebut, Pemerintah Kota dapat menyusun kebijakan yang relevan dengan kondisi daerah yang ada. Secara umum hasil ini diharapkan dapat memberikan kontribusi tentang paradigma baru dalam bidang ekonomi perencanaan tenaga kerja khususnya perencanaan tenaga kerja daerah (PTKD). METODOLOGI Dalam menyusun PTKD ini, maka langkah metodologis yang dilakukan sebagai berikut. Pertama, pengumpulan data, yakni data yang dikumpulkan mengenai permasalahan sosial ekonomi ketenagakerjaan di Kota Surakarta, meliputi jumlah dan pertumbuhan kesempatan kerja, penawaran kerja, pengangguran terbuka, setengah pengangguran, tingkat partisipasi kerja, rasio ketergantungan penduduk, pendidikan tenaga kerja, jenis kelamin, lapangan pekerjaan, status pekerjaan, jenis pekerjaan, kelahiran, kematian, perpindahan penduduk. Kedua, adalah pengolahan data setelah data yang terkumpul diidentifikasi sesuai dengan tujuan penelitian. Ketiga adalah analisis data yang terdiri atas analisis deskripsi, elastisitas kesempatan kerja (employment elasticity), tipologi daerah dan perkiraan perencanaan tenaga kerja dengan model Simple-E (simple econometric simulation system). Terakhir adalah penyusunan PTKD berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan, secara ringkas proses penyusunan tertuang pada bagan 1.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah Bagan 1. Kerangka Penelitian
Proyeksi Pendud uk 2007-2010

135

Proporsi TK SKA &Nas Tahun 2005

Proporsi PDB & PD RB SKA Tahun 2005

Proyeksi TPAK 2007-2010

Tipologi Kota SKA

Pemodelan NTB

Pem odelan TK

Proyeksi Angkatan Kerja 2007-2010 Pasar TK Kota SKA

Proyeksi Keb TK SKA 20 07-2010

Perencanaan TK Kota Surakarta
Gambaran Ketenagakerjaan Kota Surakarta 2000-2006

Tingkat Pengangguran

Pelaksanaan Hubungan Industrial

Sistem Pengupahan

Tingkat Pend idikan TK

Penem patan & Pelatihan Kerja

Perlindungan & Pengawasan TK

TK Anak, Lansia & Produktif

TK Sektor Formal & Informal

TK Penyandang Cacat

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

136 HASIL

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Elastisitas Kesempatan Kerja Kota Surakarta Dalam menghitung elastisitas kesempatan kerja, maka langkahnya sebagai berikut:

• Menghitung laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (rPDB)
per sektor dan total sektor kegiatan ekonomi tahun 20012006.

• Menghitung laju pertumbuhan kesempatan kerja (rkk) per sektor
kegiatan ekonomi dan total sektor tahun 2001-2006.

• Menghitung koefisien elastisitas kesempatan kerja (Ekk) per
sektor kegiatan ekonomi dan total sektor selama tahun 20012006 dengan formula :

Ekk =

rkk rPDB

Hasil perhitungan dengan ketiga langkah tersebut diatas disajikan dalam tabel 1. Tabel 1. Elasisitas Kesempatan Kerja Menurut Lapangan Usaha Kota Surakarta
TK(%) Lapangan Usaha Elastisitas (%)

Pertanian -5,66 Pertambangan Industri 0,08 Listrik, Gas,dan Air 2,80 Bangunan 1,83 Perdagangan 1,05 Pengangkutan & Komunikasi 2,50 Keuangan, Persewaan & Jasa 8,78 Jasa-jasa -0,78 Total 0,32 Sumber: Data PDRB dan Kesempatan Kerja, diolah

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah Tipologi Kota Surakarta

137

Dalam menentukan tipologi Kota Surakarta, maka langkahnya sebagai berikut :

w Menghitung proporsi PDB/PDRB dan penyerapan tenaga kerja.
Proporsi PDB/PDRB dan penyerapan tenaga kerja yangh dihitung meliputi baik nasional maupun Kota Surakarta menurut sektor usaha besar, yaitu pertanian /agriculture (terdiri dari sektor pertanian saja), industri/manufacture (terdiri dari sektor pertambangan; industri pengolahan,; listrik, gas , dan air; dan bangunan), dan jasa/services (terdiri dari sektor perdagangan, hotel, restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; dan jasa-jasa lainnya).

w Menentukan titik koordinat di setiap tipologi.
Tahap ini dilakukan dengan menarik garis lurus antara proporsi PDB dan penyerapan tenaga kerja dari setiap sektor ekonomi besar nasional, dimana garis ini nantinya dipakai sebagai batas pengelompokkan dari kuadran I, II, III, dan IV. Titik koordinat setiap tipologi dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1.Tipologi Kabupaten/ Kota
TK(%) Kuadran II Kuadran I INDONESIA

as (%)

Kuadran III

Kuadran IV

olah

PDRB(%)

Sumber : PTKD (2005:3)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

138

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 2. Proporsi PDB/PDRB dan Penyerapan Tenaga Kerja Nasional dan Kota Surakarta Tahun 2000
Sektor Wilayah Surakarta Nasional Pertanian PDB/ TK PDRB 1,86 0,98 16,92 45,28 Industri PDB/ TK PDRB 41,49 29,79 47,25 17,43 Jasa PDB/ TK PDRB 56,65 69,21 35,83 37,29

Keterangan : TK = Penyerapan tenaga kerja Sumber : Hasil Perhitungan data PDB/PDRB dan penyerapan tenaga kerja Nasional dan Surakarta

Tabel 3. Proporsi PDB/PDRB dan Penyerapan Tenaga Kerja Nasional dan Kota Surakarta Tahun 2005
Pertanian PDB/ TK PDRB 0,06 1,19 13,39 44,04 Sektor Industri PDB/ TK PDRB 41,94 29,66 45,77 17,97 Jasa PDB/ TK PDRB 58,00 69,15 40,83 37,99

Wilayah Surakarta Nasional

Keterangan : TK = Penyerapan tenaga kerja Sumber : Hasil Perhitungan data PDB/PDRB dan penyerapan tenaga kerja Nasional dan Surakarta

• Kuadran I menunjukkan proporsi sumbangan PDRB dan
penyerapan tenaga daerah kerja lebih besar dari proporsi nasional.

• Kuadran II menunjukkan proporsi sumbangan PDRB lebih kecil
sementara penyerapan tenaga kerja daerah lebih besar dari proporsi nasional.

• Kuadran III menunjukkan proporsi sumbangan PDRB dan
penyerapan tenaga kerja daerah lebih kecil dari proporsi nasional.

• Kuadran IV menunjukkan proporsi sumbangan PDRB lebih
besar sementara penyerapan tenaga kerja daerah lebih kecil dari proporsi nasional.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah

139

• Menentukan Tipologi Daerah.
Membuat titik koordinat di setiap tipologi sesuai dengan proporsi PDRB dan penyerapan tenaga kerja pada masing-masing sektor ekonomi besar Sektor ekonomi yang berada di kuadran I nantinya . menjadi tipologi dari kabupaten/kota tersebut. Akan tetapi, apabila tidak ada satu pun sektor ekonomi yang berada di kuadran I maka kabupaten/kota tersebut bertipologi campuran. Hasil perhitungan dengan ketiga langkah tersebut diatas sebagai berikut :

w Proporsi PDB/PDRB dan Penyerapan Tenaga Kerja Kota
Surakarta. Data yang digunakan dalam menghitung proporsi PDB/PDRB dan penyerpan tenaga kerja Kota Surakarta adalah data hasil publikasi BPS dan Disnaker yang meliputi PDB, PDRB atas dasar harga berlaku, penyerapan tenaga kerja baik nasional maupun kota Surakarta berdasarkan sektor ekonomi. Tahun yang diambil adalah tahun 2000 dan tahun 2005. Hasil perhitungan terdapat dalam tabel 2 dan 3.

w Titik Koordinat Setiap Tipologi dan Tipologi Kota Surakarta.
Dari ketiga sektor ekonomi besar di atas yaitu pertanian, industri, dan jasa baik tahun 2000 maupun tahun 2005, sektor jasa yang berada di kuadran I maka dapat diambil kesimpulan bahwa tahun 2000 dan tahun 2005 Kota Surakarta bertipologi jasa. Hal ini berarti baik PDRB maupun penyerapan tenaga kerja Kota Surakarta lebih besar dari PDB maupun penyerapan tenaga kerja nasional (dapat dilihat pada gambar 2 untuk tahun 2000 dan gambar 3 untuk tahun 2005).

• Pada gambar 2 menunjukkan bahwa Kota Surakarta
merupakan daaerah dengan tipologi jasa berada, pada koordinat 56,65 (PDRBnya) dan 68,94 (penyerapan tenaga kerjanya) yang terdapat di kuadran I, berarti baik PDRB dan penyerapan tenaga kerja Kota Surakarta lebih besar dari PDB dan penyerapan tenaga kerja nasionalnya.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

140

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Gambar 2. Tipologi Jasa Kota Surakarta Tahun 2000

TK(%)
69,21 II I Kota Surakarta

NASIONAL
37,29 III IV

35,83

56,65

PDB/PDRB(%)

Gambar 3. Tipologi Jasa Kota Surakarta Tahun 2005

TK(%)
69,15 II I Kota Surakarta

NASIONAL 37,99 III IV

40,83

56

PDB/PDRB(%)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah

141

• Pada gambar 3 terlihat bahwa Kota Surakarta untuk tipologi
Jasa berada pada koordinat 58 (PDRB nya) dan 68,7 (penyerapan tenaga kerjanya) yang terdapat di kuadran I, berarti baik PDRB dan penyerapan tenaga kerja Kota Surakarta lebih besar dari PDB dan penyerapan tenaga kerja nasionalnya. Perkiraan Penawaran/Persediaan Tenaga Kerja Persediaan tenaga kerja untuk tahun 2007-2010 dilakukan dengan model ekstrapolasi, dengan rumus : P t = Po.(1+r) t
P = jumlah penduduk/angkatan kerja pada tahun t (suatu masa depan) = angka pertumbuhan per tahun, diasumsikan konstan = jarak waktu (tahun) dari tahun 0 ke tahun t

Surakarta

P o = jumlah penduduk/angkatan kerja tahun dasar R t

B/PDRB(%)

Perhitungan dengan rumus tersebut menggunakan asumsi bahwa pertumbuhan pada periode tersebut sama dengan pertumbuhan tahun 1997-2005, meliputi :

karta

• • • •

Pertumbuhan penduduk = 0,72 % per tahun Pertumbuhan Tenaga kerja (>10 tahun) = 0,89% per tahun Pertumbuhan Tenaga kerja muda (10-24 tahun) = -2,70 % Pertumbuhan Tenaga kerja dewasa (25-60 tahun) = 3,24 % per tahun tahun

• Pertumbuhan Tenaga kerja lanjut (60+ tahun) = 6,86 % per • Pertumbuhan Angkatan kerja = 1,88 % per tahun
Berdasar pada asumsi tersebut diatas, maka jumlah penduduk pada tahun 2007 diperkirakan berjumlah 516.614 jiwa dimana 441.894 orang atau 85,54% di antaranya adalah tenaga kerja (penduduk 10 tahun ke atas). Dari tenaga kerja sejumlah tersebut, jumlah tenaga kerja yang berumur 25-60 tahun (tenaga kerja

PDRB(%)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

142

Visi Perekonomian Indonesia 2030

dewasa) memiliki proporsi terbesar; yakni 52,08% dari jumlah penduduknya; kemudian diikuti oleh tenaga kerja berumur 10-24 tahun (tenaga kerja muda) dan tenaga kerja berumur 60+ tahun ke atas (tenaga kerja usia lanjut) masing-masing sebesar 25,37% dan 8,83%. Dari keseluruhan tenaga kerja sebanyak 41.894 orang, sebanyak 258.147 orang atau sekitar 58,42 % diproyeksikan memasuki pasar kerja. Pada akhir tahun proyeksi yaitu tahun 2010, jumlah penduduk Kota Surakarta ditaksir mencapai 527.923 jiwa, dimana 438.000 orang atau 82,97% diantaranya adalah tenaga kerja (penduduk usia 10 tahun ke atas). Jika dilihat dari komposisi tenaga kerjanya maka proporsi terbesar masih juga dipegang oleh kelompok tenaga kerja dewasa dengan proporsi sebesar 49,37% dan selanjutnya diikuti kelompok tenaga kerja muda sebesar 25,51%. Dan terakhir kelompok tenaga kerja usia lanjut dengan proporsi terkecil yaitu sebesar 8,09%. Sementara itu sebanyak 272.982 orang atau 62,32% dari jumlah tenaga kerja diperkirakan akan memasuki pasar kerja. Selama periode proyeksi yaitu tahun 2007-2010 , proporsi kelompok tenaga kerja dewasa dan tenaga kerja usia lanjut menunjukkan trend peningkatan, sedangkan proporsi kelompok tenaga kerja muda justru menunjukkan trend penurunan. Hasil proyeksi penduduk, tenaga kerja dan angkatan kerja dalam kurun waktu 2007-2010 disajikan pada tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Perkiraan Penduduk, Tenaga Kerja, dan Angkatan Kerja Kota SurakartaTahun 2007-2010
Penduduk Jumlah Penduduk Tng. Kerja (>10 th) Muda (10-24 th) Dwasa (25-60 th) Lanjut (60+ th) Angkatan Kerja Tahun 2008 512.898 445.823 127.520 277.767 48.767 263.000

2007 516.614 441.894 131.053 269.052 45.636 258.147

2009 524.126 449.786 124.082 286.765 52.114 267.944

2010 527.923 438.000 134.685 260.610 42.705 272.982

Sumber: Data Penduduk Publikasi BPS Surakarta (Susenas 1997-2005), diolah.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah

143

Perkiraan Permintaan/Kebutuhan Tenaga Kerja (Model 1) Dalam perhitungan perkiraan permintaan/kebutuhan tenaga kerja menggunakan asumsi sebagai berikut :

• PDRB Total (YT) diasumsikan dipengaruhi oleh PDB tahun
sebelumnya

• NTB IndustrI (YM) diasumsikan dipengaruhi oleh NTB Industri
4 tahun sebelumnya, NTB Jasa, PDRB TotaL, serta NTB Jasa 3 tahun sebelumnya

• NTB Jasa (YS) diasumsikan dipengaruhi oleh NTB Industri
tahun sebelumnya, PDRB Total, PDRB Total tahun sebelumnya

• Penyerapan tenaga kerja Pertanian (LA) diasumsikan
dipengaruhi oleh tenaga kerja Pertanian 3 tahun sebelumnya, NTB Pertanian dan dummy.2006

• Penyerapan tenaga kerja Industri (LM) diasumsikan
dipengaruhi oleh penyerapan tenaga kerja Industri 2 tahun sebelumnya, NTB Industri dan PDRB total

• Penyerapan tenaga kerja Jasa (LS) diasumsikan dipengaruhi
oleh penyerapan tenaga kerja Jasa 3 tahun sebelumnya, NTB Jasa tahun sebelumnya, PDRB Total 2 tahun sebelumnya dan NTB Jasa Perkiraan permintaan/kebutuhan tenaga kerja dilakukan dengan model Simple-E, melalui tiga tahap :

w Melakukan perkiraan total PDRB.
Perkiraan total PDRB dilakukan berdasar pada sejumlah asumsi parameter-parameter ekonomi makro yang utamanya berasal dari total PDB Indonesia, dengan menggunakan model ekonometrika : PDRB = f (PDBt-1) Atau dalam model dapat ditulis sebagai berikut: YT = α0 + β1 Ln (lag1.PDB)

w Melakukan perkiraan nilai tambah kelompok lapangan usaha
utama

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

144

Visi Perekonomian Indonesia 2030 Lapangan usaha utama yaitu sektor pertanian, industri, dan jasa. Perkiraan dilakukan untuk sektor industri dan jasa terlebih dahulu, selanjutnya sektor pertanian merupakan residual dari PDRB. Perkiraan menggunakan model ekonometrika dengan asumsi nilai tambah masing-masing sektor merupakan fungsi dari nilai tambah sebelumnya. NTB Lapangan Usaha Industri NTBm,t = f(NTB m,t-4, NTB s,t, PDRBt, NTB s,t-3) atau dalam model ditulis : YM = α0 + β1 Ln (Lag4.YM) + β2 YS + β3 YT + β4 Lag3.YS NTB Lapangan Usaha Jasa NTBs,t = f (NTBs,t-1, PDRBt, PDRBt-1) atau dalam model ditulis : YS = α0 + β1 Lag1.YS + β2 YT + β3 lag1.YT NTB Lapangan Usaha Pertanian (residual) NTBa,t = PDRB - NTBm,t – NTBs,t

w Meramalkan kebutuhan tenaga kerja
Kebutuhan tenaga kerja dihitung berdasar pada nilai tambah sektor yang bersangkutan sebagai hasil dari perhitungan tahap sebelumnya. Tenaga Kerja Lapangan Usaha Pertanian La,t =f (La,t-3 , NTBa,t, La,t-1, dum.2006) atau dalam model ditulis: LA = α0 + β1 Lag3.LA + β2 YA + β3 lag1.LA + β4 Dum.2006 Tenaga Kerja Lapangan Usaha Industri Lm,t = f (Lm,t-2, NTBm,t, PDRBt) atau dalam model ditulis: LM = α0 +β1 Lag2.LM +β2 YM+ β3YT Tenaga Kerja Lapangan Usaha Jasa Ls,t = f (Ls,t-3, NTBs,t-1, PDRBt-2, NTBs,t)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah atau dalam model ditulis: LS = α0 + β1 Lag3.LS + β2 Lag1.YS + β3 Lag2.YT + β4 YS Total Tenaga Kerja Lt = La,t + Lm,t + Ls,t

145

Ketiga tahap tersebut dalam prakteknya dapat dilakukan sekaligus secara bersamaan atau simultan. Hasil proses prakiraan selalu diperiksa kewajarannya dan proses itu berulang kali sampai diperoleh hasil yang sudah dianggap paling wajar dan model dianggap sudah paling fit. Hasil analisis dari ketiga tahap sebagai berikut : Perkiraan PDRB Kota Surakarta Hasil Pemodelan YT = - 389,58 + 0,0090316*LAG1.PDB (-,539) (5,12) LS: R.974; AR.959; DW2; F63.3; DF5(p5%R.76/F5.19/t2.57) Keterangan : angka dalam kurung adalah nilai t hitung Dari persamaan di atas terlihat bahwa nilai konstanta adalah 389,58 dan nilai koefisien tahun sebelumnya sebesar 0,0090316, sedangkan koefisien determinasinya (R Square) sebesar 0,974. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 97,4% variasi atau perubahan dalam PDRB Kota Surakarta tahun sekarang dapat dijelaskan oleh variasi atau perubahan PDB tahun sebelumnya, sementara 2,6% oleh variabel lain diluar model. Di samping itu, diperoleh nilai t hitung sebesar 5,12, yang jauh lebih besar dari nilai t tabel sebesar 2,57 (a/2; df 5), hal ini berarti variabel PDB tahun sebelumnya berpengaruh signifikan tehadap PDRB. Pada bagian lain hasil analisis menunjukkan nilai Durbin-Watson (DW) sebesar 2. Dengan jumlah regresor 3 dan jumlah sampel 13, diperoleh nilai dL sebesar 0,715 dan du sebesar 1,816. Dengan hasil tersebut bisa disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah autokorelasi pada model yang diuji (dU<d<4-dV). Sementara itu uji F test menunjukkan nilai 63,6, yang berarti bahwa model telah tepat karena nilai F hitung > F tabel sebesar 5,19.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

146 Hasil Perkiraan

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Dengan menggunakan model persamaan di atas maka PDRB Kota Surakarta pada tahun 2007-2010 diperkirakan mengalami kenaikan. PDRB Kota Surakarta pada tahun 2007 sebesar 4.239,619 milyar rupiah menjadi 5.204,653 milyar rupiah pada tahun 2010. Dimana pertumbuhannya pada tahun 2007 sebesar 4,2% dan 7,7%% pada tahun 2010. Perkiraan NTB Kelompok Lapangan Usaha Utama Hasil Pemodelan YM = - 1,7053 - 0,0041612*LAG4.YM - 1,0054*YS (-1,04) (-4,37) (-441) (-2,49) (596) + 1,0048*YT -0,0012262*LAG3.YS LS: R.915; AR.897; DW2.27; F48.7; DF9(p5%R.46/F3.86/t2.26) YS = 94,279 + 0,76183*LAG1.YS + 0,71271*YT (,618) 0,60925*LAG1.YT (-5,41) LS: R.945; AR.914; DW2.12; F30.1; DF7(p5%R.69/F3.97/t2.36) NTBa,t = PDRB - NTBm,t – NTBs,t Persamaan di atas menunjukkan bahwa model NTB industri tahun sekarang merupakan fungsi dari NTB sektor Industri empat tahun sebelumnya, NTB sektor jasa, PDRB Kota Surakarta tahun sekarang serta NTB sektor jasa tiga tahun sebelumnya. Dimana nilai koefisien determinasi (R Square) adalah sebesar 0,915, berarti 91,5% variasi atau perubahan dalam NTB sektor industri dapat dijelaskan oleh variasi atau perubahan NTB sektor Industri empat tahun sebelumnya, NTB sektor jasa, PDRB Kota Surakarta tahun sekarang serta NTB sektor jasa tiga tahun sebelumnya, sedangkan 8,5% oleh variabel lain. (4,64) (11)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah

147

Berdasarkan uji signifikasi dengan menggunakan t test, koefisien NTB sektor Industri empat tahun sebelumnya, NTB sektor jasa dan PDRB Kota Surakarta tahun sekarang memiliki pengaruh signifikan terhadap NTB sektor industri tahun sekarang. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t hitung sebesar -4,37 untuk NTB sektor Industri empat tahun sebelumnya, -441 untuk NTB sektor jasa dan 596 untuk PDRB Kota Surakarta tahun sekarang pada a/2 dan df9 yang lebih besar dari nilai t tabelnya sebesar 2,26. Sementara itu uji F test menunjukkan nilai 48,7, yang berarti bahwa model telah tepat karena F hitung > dari F table sebesar 3,86. Pada bagian lain, hasil analisis menunjukkan nilai Durbin Watson (DW) sebesar 2,27 dimana jumlah regresor 2 dan jumlah sampel 13, diperoleh nilai dL sebesar 0,0,86 dan du sebesar 1,562. Dengan hasil tersebut bisa disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah autokorelasi pada model yang diuji. Selanjutnya pada model NTB sektor jasa, terlihat nilai koefisien determinasi (R Square) adalah sebesar 0,945 hal ini berarti bahwa 94,5% perubahan dalam NTB jasa tahun ini dapat dijelaskan oleh NTB sektor jasa tahun sebelumnya, PDRB Kota Surakarta tahun sekarang, dan PDRB Kota Surakarta tahun sebelumnya. Sedangkan sisanya 5,5% oleh variabel lain. Dengan uji signifikasi t test sebesar 4,64 untuk NTB sektor jasa tahun sebelumnya, 11 untuk PDRB Kota Surakarta dan –5,41 untuk PDRB Kota Surakarta tahun sebelumnya. Berarti NTB sektor jasa tahun sebelumnya, PDRB Kota Surakarta dan PDRB Kota Surakarta tahun sebelumnya berpengaruh signifikan terhadap NTB jasa tahun sekarang. Dan uji F test menunjukkan nilai F hitung 30,1. Sehingga model eksis digunakan untuk menganalisis NTB jasa tahun sekarang karena lebih besar dari F tabelnya (3,97). Hasil analisis nilai Durbin-Watson (DW) adalah sebesar 2,12. Dengan regresor 4 dan jumlah sampel 13 maka nilai dL sebesar 0,574 dan du sebesar 2,094. Jadi tidak terjadi masalah autokorelasi pada model.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

148

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 5. Perkiraan PDRB dan NTB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kota Surakarta Tahun 2007-2010 Model 1 (Milyar Rupiah)
Tahun 2007 2008 2009 2010 Pertanian 3,216 3,170 2,975 2,630 Industri 1.804,768 1.929,608 2.074,745 2.243,944 Jasa 2.431,635 2.580,317 2.754,208 2.958,079 PDRB 4.239,619 4.513,095 4.831,928 5.204,653 Growth(%) 5,765 6,450 7,065 7,714 Sumber: Hasil Simulasi dari Program Simple E yang diolah. Sektor

Hasil Perkiraan Berdasarkan Simple-E Dengan menggunakan model persamaan di atas, NTB untuk Sektor pertanian mengalami penurunan yaitu sebesar 3,216 milyar rupiah pada tahun 2007 menjadi 2,630 milyar rupiah pada tahun 2010, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar -1,63%. Sedangkan sektor industri sebesar 1.804,768 milyar rupiah pada tahun 2007 naik menjadi 2.243,944 milyar rupiah pada tahun 2010 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 7,03%. Sementara itu untuk sektor jasa pada tahun 2007 sebesar 2.431,635 milyar rupiah naik menjadi 2.958,079 milyar rupiah pada tahun 2010 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 5,88%. Sedangkan jumlahnya PDRB secara keseluruhan juga naik yaitu dari 4.239,619 milyar rupiah pada tahun 2007 dengan pertumbuhan 4,2% menjadi 5.204,653 milyar rupiah pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 7,7% (tabel 5). Prakiraan Kebutuhan Tenaga Kerja Hasil Pemodelan LA = 15,948 + 0,81819*LAG3.LA - 86,368*YA (0,0149) (1,18) (2,7) (-1,02) + 0,35992*LAG1.LA-1212,2*DUM.2006 (-3,87) LS: R.873; AR.8; DW2.18; F12; DF7(p5%R.69/F3.97/t2.36)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah LM =

149

108719 - 0,32276*LAG2.LM - 58,748*YM +19,659*YT (3,99) (-1,02) (-3,53) (2,71)

LS: R.872; AR.769; DW2.35; F8.5; DF5(p5%R.8/F5.05/t2.57) LS = 78316 - 0,036973*LAG3.LS - 23,727*LAG1.YS (4,42) (7,7) LT=LA+LM+LS Hasil analisis memperlihatkan bahwa nilai nilai koefisien determinasi (R Square) adalah berturut-turut sebesar 0,873, 0,872 dan 0,906. Yang berarti bahwa variabel independen dari setiap model mampu menjelaskan masing-masing 87,3%, 87,2% dan 90,6% sedangkan sisanya oleh variabel lain. Berdasarkan uji signifikasi dengan menggunakan uji t test menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tiga tahun sebelumnya dan dummy 2006 berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun sekarang. Sedangkan NTB sektor industri tahun sekarang dan PDRB Kota Surakarta berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri tahun sekarang. NTB sektor jasa tahun sebelumnya, PDRB Kota Surakarta dua tahun sebelumnya dan NTB sektor jasa tahun sekarang berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor jasa tahun sekarang. Hal ini seperti ditunjukkan nilai t hitung yang lebih besar dari t tabel. Sementara dari uji F, dilihat dari nilai F hitung maka semua model penyerapan tenaga kerja eksis untuk menganalisis variabel dependent karena nilai F hitung > F tabel. Yaitu sebesar 12 untuk penyerapan tenaga kerja sektor pertanian 8,5 untuk penyerapan tenaga kerja sektor industri dan 12,1 untuk penyerapan tenaga kerja sektor jasa. Sementara itu dari nilai Durbin Watson (DW) untuk model penyerapan tenaga kerja pertanian, industri dan jasa berturut(-,411) (4,47) (-3,82) + 27,945*LAG2.YT + 21,543*YS LS: R.906; AR.831; DW3; F12.1; DF5(p5%R.8/F5.05/t2.57)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

150

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 6. Perkiraan Penyerapan Tenaga Kerja Kota Surakarta Tahun 2007-2010 (Model 1)
Sektor Tahun 2008 2009 2.893 2.234 65.621 61.404 183.792 188.431 252.305 252.069

Kete

2007 2010 Pertanian 2.317 2.488 Industri 63.265 58.031 Jasa 176.676 196.277 Penyerapan 242.258 256.796 Tenaga Kerja Growth (%) 3,577 4,147 3,247 2,875 Sumber: Hasil Simulasi dari Program Simple E, diolah.

Angkatan Ke Growth(%) Penyerapan Growth(%) Penganggur Sumber: Ha

turut adalah 2,18, 2,35 dan 3. Dimana jumlah regresor untuk sektor pertanian, industri dan jasa adalah 4 dan jumlah sample 13 maka diketahui bahwa nilai dL sebesar 0,574 dan du sebesar 2,094. Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulakan bahwa tidak terjadi autokorelasi. Hasil Perkiraan Berdasarkan model di atas, pada periode 2007-2010 diketahui bahwa pada tahun 2007 penyerapan tenaga kerja sektor pertanian, industri dan jasa berturut-turut sebesar 2.317, 63.265 dan 176.676 orang, sedangkan pada akhir proyeksi (tahun 2010) penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dan jasa naik menjadi 2.488 dan 196.277 orang, sedangkan sektor industri mengalami penurunan menjadi 58.031 orang. Jika dilihat secara total maka penyerapan tenaga kerja Kota Surakarta pada tahun 2007-2010 diperkirakan mengalami kenaikan. Pada tahun 2007 sebanyak 242.258 orang menjadi 256.796 orang pada tahun 2010. Hal ini didorong juga oleh kenaikan jumlah penduduk di Kota Surakarta, walupun pertumbuhan jumlah penyerpan tenaga kerja tidak sebesar pertumbuhan jumlah penduduk (tabel 6). Perkiraan Angka Pengangguran (Model 1) Prakiraan angka pengangguran dihitung secara sederhana sebagai selisih antara proyeksi angkatan kerja (sisi persediaan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah Tabel 7. Perkiraan Angka Pengangguran Kota Surakarta Tahun 2007-2010 (Model 1)
2007 Angkatan Kerja 258.147 Growth(%) 1,88 Penyerapan Tenaga Kerja 242.258 Growth(%) 3,577 Pengangguran 15.889 Sumber: Hasil Perhitungan, diolah. Keterangan Tahun 2008 2009 263.000 267.944 1,88 1,88 252.305 252.069 4,147 3,247 10.694 15.875

151

2010 272.982 1,88 256.796 2,875 16.185

tenaga kerja) dan perkiraan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap oleh pertumbuhan ekonomi (sisi kebutuhan tenaga kerja) untuk tahun yang sama. Seperti terlihat pada tabel 7, jumlah angkatan kerja selama kurun waktu 2007-2010 selalu mengalami kenaikan dengan persentase 1,88% per tahunnya. Pada awal proyeksi yaitu tahun 2007 jumlah angkatan kerja sebanyak 258.147 orang dan meningkat menjadi 272.982 pada tahun 2010. Sementara itu jumlah penyerapan tenaga kerja diperkirakan juga mengalami kenaikan yaitu pada tahun 2007 sebanyak 242.258 orang menjadi 256.796 orang pada tahun 2010. Dengan demikian jumlah pengagguran pada awal proyeksi tahun 2007 diperkirakan sebanyak 15.889 orang dan naik menjadi 16.185 orang pada tahun 2010. Keterangan Model: YT = - 389,58 + 0,0090316*LAG1.PDB (-,539) (5,12)

LS: R.974; AR.959; DW2; F63.3; DF5(p5%R.76/F5.19/t2.57) Pada PDRB total (YT) hanya dipengaruhi oleh PDB tahun sebelumnya dengan R Square 97,4%. YM = - 1,7053 - 0,0041612*LAG4.YM -1,0054*YS (-1,04) (-4,37) (-441) +1,0048*YT - 0,0012262*LAG3.YS (596) (-2,49) LS: R.915; AR.897; DW2.27; F48.7; DF9(p5%R.46/F3.86/t2.26)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

152

Visi Perekonomian Indonesia 2030

NTB Industri (YM) diasumsikan dipengaruhi oleh NTB Industri 4 tahun sebelumnya, NTB Jasa, PDRB TotaL, serta NTB Jasa 3 tahun sebelumnya. Pada NTB IndustrI (YM) dari 4 variabel independen, semuanya signifikan, yaitu variabel NTB Industri 4 tahun sebelumnya, NTB Jasa, PDRB Total, serta NTB Jasa 3 tahun sebelumnya dengan R Square 91,5% YS = 94,279 + 0,76183*LAG1.YS + 0,71271*YT (,618) (4,64) (-5,41) LS: R.945; AR.914; DW2.12; F30.1; DF7(p5%R.69/F3.97/t2.36) NTB Jasa (YS) diasumsikan dipengaruhi oleh NTB Industri tahun sebelumnya, PDRB Total, PDRB Total tahun sebelumnya. Pada NTB Jasa (YS) dari 3 variabel independen, yang signifikan 3 variabel, yaitu NTB Industri tahun sebelumnya, PDRB Total, PDRB Total tahun sebelumnya, dengan R Square 94,5 % NTBa,t = PDRB - NTBm,t – NTBs,t LA = 15,948 + 0,81819*LAG3.LA - 86,368*YA (0,0149) (1,18) (2,7) (-1,02) (-3,87) + 0,35992*LAG1.LA- 1212,2*DUM.2006 LS: R.873; AR.8; DW2.18; F12; DF7(p5%R.69/F3.97/t2.36) Penyerapan tenaga kerja Pertanian (LA) diasumsikan dipengaruhi oleh tenaga kerja Pertanian 3 tahun sebelumnya, NTB pertanian dan dummy.2006. Penyerapan tenaga kerja Pertanian (LA) dari 4 variabel independent, yang signifikan 2 variabel, yaitu penyerapan tenaga kerja Pertanian 3 tahun sebelumnya dan dummy.2006 dengan R Square 87,3%. LM = 108719 - 0,32276*LAG2.LM - 58,748*YM +19,659*YT (3,99) (-1,02) (-3,53) (2,71) LS: R.872; AR.769; DW2.35; F8.5; DF5(p5%R.8/F5.05/t2.57) (11) - 0,60925*LAG1.YT

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah

153

Penyerapan tenaga kerja Industri (LM) diasumsikan dipengaruhi oleh penyerapan tenaga kerja Industri 2 tahun sebelumnya, NTB Industri dan PDRB total. Penyerapan tenaga kerja Industri (LM) dari 3 variabel independen, yang signifikan 2 variabel, yaitu NTB Industri dan PDRB total dengan R Square 87,2%. LS = 78316 - 0,036973*LAG3.LS - 23,727*LAG1.YS (4,42) (7,7) (-,411) (4,47) (-3,82) +27,945*LAG2.YT + 21,543*YS LS: R.906; AR.831; DW3; F12.1; DF5(p5%R.8/F5.05/t2.57) Penyerapan tenaga kerja Jasa (LS) diasumsikan dipengaruhi oleh penyerapan tenaga kerja jasa 3 tahun sebelumnya, NTB jasa tahun sebelumnya, PDRB total 2 tahun sebelumnya dan NTB Jasa. Penyerapan tenaga kerja Jasa (LS) dari 4 variabel independen, yang signifikan 3 variabel, yaitu NTB jasa tahun sebelumnya, PDRB total 2 tahun sebelumnya dan NTB Jasa dengan R Square 90,6%. LT=LA+LM+LS Perkiraan Permintaan/Kebutuhan Tenaga Kerja (Model 2) Analog dengan model 1, namun dengan asumsi yang berbeda sebagai berikut

• PDRB Total (YT) diasumsikan dipengaruhi oleh variabel PDB,
PDB tahun sebelumnya dan 4 tahun sebelumnya serta dummy.2001

• NTB Industri (YM) diasumsikan dipemgaruhi oleh variabel
NTB Industri 4 tahun sebelumnya, NTB Jasa sekarang dan 3 tahun sebelumnya serta PDRB Total

• NTB Jasa (YS) diasumsikan dipengaruhi oleh variabel NTB
Industri tahun sebelumnya, PDRB total, PDRB Total tahun sebelumnya

• Penyerapan tenaga kerja Pertanian (LA) diasumsikan
dipengaruhi oleh penyerapan tenaga kerja Pertanian tahun

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

154

Visi Perekonomian Indonesia 2030 sebelumnya dan 3 tahun sebelumnya, NTB Pertanian tahun sebelumnya, dan dummy.2002.2005

• Penyerapan tenaga kerja Industri (LM) diasumsikan
dipengaruhi oleh penyerapan tenaga kerja Industri tahun sebelumnya, NTB Industri dan dummy.1999.2006

• Penyerapan tenaga kerja Jasa (LS) diasumsikan dipengaruhi
oleh penyerapan tenaga kerja Jasa 2 tahun sebelumnya, NTB Jasa dan dummy.1999 Hasil Perkiraan Berdasarkan Simple-E Dengan menggunakan model persamaan di atas, NTB untuk Sektor pertanian mengalami penurunan yaitu sebesar 2,907 milyar rupiah pada tahun 2007 menjadi 2,458 milyar rupiah pada tahun 2010. Sedangkan sektor industri sebesar 1.768,326 milyar rupiah pada tahun 2007 naik menjadi 2.027,944 milyar rupiah pada tahun 2010. Sementara itu untuk sektor jasa pada tahun 2007 sebesar 2.472,970 milyar rupiah naik menjadi 3.031,110 milyar rupiah pada tahun 2010 dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 6,5%. Sedangkan jumlahnya PDRB secara keseluruhan juga naik yaitu dari 4.244,202 milyar rupiah pada tahun 2007 dengan pertumbuhan 4,3% menjadi 5.061,513 milyar rupiah pada tahun 2010 dengan pertumbuhan 5,5% (tabel 8). Tabel 8. Perkiraan PDRB dan NTB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kota Surakarta Tahun 2007-2010 Model 2 (Milyar Rupiah)
Tahun 2007 2008 2009 2010 Pertanian 2,907 2,832 2,613 2,458 Industri 1.768,326 1.848,466 1.941,449 2.027,944 Jasa 2.472,970 2.647,819 2.851,452 3.031,110 PDRB 4.244,202 4.499,117 4.795,514 5.061,513 Growth(%) 4,343 6,006 6,588 5,547 Sumber: Hasil Simulasi dari Program Simple E, diolah. Keterangan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah Prakiraan Kebutuhan Tenaga Kerja Hasil Pemodelan LA = 4239,4 - 1,1355*LAG3.LA - 59,351*LAG1.YA (4,49) (-3,66) (1,16) (-1,54) (4,89) + 0,29005*LAG1.LA + 908,26*DUM.2002.2005

155

LS:R.804; AR.674; DW2.86; F6.2; DF6(p5%R.75/F4.39/t2.45/ Rho.59) LM = 50885 + 0,4907*LAG1.LM - 10,529*YM (2,79) (2,53) (-3,28) LS: R.816; AR.755; DW2.91; F13.3; DF9(p5%R.55/F3.63/t2.26/ Rho.54) LS = 11105 + 0,65122*LAG2.LS + 22,717*YS (,357) + 21316*DUM.1999 (3,32) LS: R.813; AR.743; DW1.99; F11.6; DF8(p5%R.59/F3.84/t2.31) LT=LA+LM+LS Hasil analisis memperlihatkan bahwa nilai nilai koefisien determinasi (R Square) adalah berturut-turut sebesar 0,804, 0,816 dan 0,813 ; yang berarti bahwa variabel independen dari setiap model mampu menjelaskan masing-masing 80,4%, 81,6% dan 81,3% sedangkan sisanya oleh variabel lain. Berdasarkan uji signifikasi dengan menggunakan uji t test menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tiga tahun sebelumnya dan dummy 2002.2005 berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor pertanian tahun sekarang. Sedangkan (4,95) (2,77) (-2,16) - 9425*DUM.1999.2006

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

156

Visi Perekonomian Indonesia 2030

penyerapan tenaga kerja sektor industri tahun sebelumnya dan dummy 1999.2006 berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri tahun sekarang. NTB sektor jasa dua tahun sebelumnya, NTB sektor jasa tahun sekarang dan dummy.1999 berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja sektor jasa tahun sekarang. Hal ini seperti ditunjukkan nilai t hitung yang lebih besar dari t tabel. Sementara dari uji F, dilihat dari nilai F hitung maka semua model penyerapan tenaga kerja eksis untuk menganalisis variabel dependent karena nilai F hitung > F tabel (yaitu sebesar 6,2 untuk penyerapan tenaga kerja sektor pertanian 13,3 untuk penyerapan tenaga kerja sektor industri dan 11,6 untuk penyerapan tenaga kerja sektor jasa). Sementara itu dari nilai Durbuin Watson (DW) untuk model penyerapan tenaga kerja pertanian, industri dan jasa berturutturut adalah 2,86, 2,91 dan 1,99. Dimana jumlah regresor untuk sektor pertanian, adalah 4 sedangkan sektor industri dan jasa 3 dan jumlah sample 13. Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulakan bahwa tidak terjadi autokorelasi. Hasil Perkiraan Berdasarkan model di atas, pada periode tahun 2007-2010 diketahui bahwa pada tahun 2007 penyerapan tenaga kerja sektor pertanian, industri dan jasa berturut-turut sebesar 1.875, 60.334 dan 176.357 orang. Sedangkan pada akhir proyeksi yaitu tahun 2010 penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dan jasa naik menjadi 2.706 dan 200.571 orang, sedangkan sektor industri mengalami penurunan menjadi 59.167 orang. Jika dilihat secara total maka penyerapan tenaga kerja Kota Surakarta pada tahun 2007-2010 diperkirakan mengalami kenaikan. Pada tahun 2007 sebanyak 238.565 orang menjadi 262.444 orang pada tahun 2010. Hal ini didorong juga oleh kenaikan jumlah penduduk di Kota Surakarta, walupun pertumbuhan jumlah penyerpan tenaga kerja tidak sebesar pertumbuhan jumlah penduduk (tabel 9).

Keteran

Pertania Industri Jasa Penyerap TK Growth ( Sumber:

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah Tabel 9. Perkiraan Penyerapan Tenaga Kerja Kota Surakarta Tahun 2007-2010 (Model 2)
Keterangan Tahun 2008 2009 1.736 2.585 61.029 60.390 185.206 190.727 247.970 253.703

157

2010 Pertanian 2.706 Industri 59.167 Jasa 200.571 Penyerapan 262.444 TK Growth (%) 1,998 3,942 2,312 3,445 Sumber: Hasil Simulasi dari Program Simple E, diolah.

2007 1.875 60.334 176.357 238.565

Tabel 10. Perkiraan Angka Pengangguran Kota Surakarta Tahun 2007-2010 (Model 2)
Tahun 2007 2008 2009 Ang. Kerja 258.147 263.000 267.944 1,88 1,88 1,88 Growth(%) Penyerapan TK 238.565 247.970 253.703 Growth(%) 1,998 3,942 2,312 Pengangguran 19.581 15.030 14.241 Sumber: Hasil Perhitungan, diolah. Keterangan 2010 272.982 1,88 262.444 3,445 10.538

Perkiraan Angka Pengangguran (Model 2) Prakiraan angka pengangguran dihitung secara sederhana sebagai selisih antara proyeksi angkatan kerja (sisi persediaan tenaga kerja) dan perkiraan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap oleh pertumbuhan ekonomi (sisi kebutuhan tenaga kerja) untuk tahun yang sama. Seperti terlihat pada tabel 10, jumlah angkatan kerja selama kurun waktu 2007-2010 selalu mengalami kenaikan dengan persentase 1,88% per tahunnya. Pada awal proyeksi yaitu tahun 2007 jumlah angkatan kerja sebanyak 258.147 orang dan meningkat menjadi 272.982 pada tahun 2010. Sementara itu jumlah penyerapan tenaga kerja diperkirakan juga mengalami kenaikan yaitu pada tahun 2007 sebanyak 238.565 orang menjadi 262.444

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

158

Visi Perekonomian Indonesia 2030

orang pada tahun 2010. Dengan demikian jumlah pengagguran pada awal proyeksi tahun 2007 diperkirakan sebanyak 19.581 orang dan 10.538 orang pada tahun 2010. KESIMPULAN Simpulan Berdasarkan analisis diskripsi dengan menggunakan tipologi kota sesuai dengan modul perencanaan tenaga kerja (PTKN Depnakertrans RI 2005), serta model elastisitas dan Simple-E dapat disimpulkan bahwa Kota Surakarta termasuk tipologi jasa. Elastisitas kesempatan kerja sektor pertanian 0,56 %; sektor industri 0,20 %; sektor jasa 0,45 %, dan elastisitas total 0,32 %. Dari model Simple-E, sampai tahun 2010 masih terdapat pengangguran di kota Surakarta. Sektor industri dan jasa masih merupakan sektor potensial untuk menyerap tenaga kerja, guna mengurangi pengangguran. Saran Kebijakan

• Diperlukan kebijakan investasi dari Pemerintah Kota di sektor
jasa, meliputi Perdagangan, Pengangkutan & Komunikasi, Keuangan, Persewaan & Jasa .

• Sektor industri pengolahan, listrik gas dan air minum serta
bangunan potensinya terus menerus perlu pula ditingkatkan dalam rangka menyerap tenaga kerja, terutama industri kecil dan menengah yang ramah tenaga kerja.

• Diperlukan kebijakan pembinaan dan pelatihan ketenagakerjaan
baik formal, informal dan non formal kepada calon tenaga kerja serta mereka yang bekerja.

• Perluasan kebijakan kesempatan kerja sektor pariwisata. • Diperlukan kebijakan perluasan pengiriman tenaga kerja ke luar
negeri.

• Terciptanya peraturan tentang tanggunjawab sosial bagi
pengusaha terhadap lingkungan sekitar (Corporate Social Responsibility) guna mengurangi pengangguran.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Perencanaan Tenaga Kerja Daerah

159

• Terciptanya hubungan industrial yang kondusif dan
diberlakukannya undang-undang ketenagakerjaan secara komprehensif. DAFTAR PUSTAKA Ananta, A. (1990). Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Depnaker RI. (2004). “Bahan Sosialisasi Perencanaan Tenaga Kerja. Balitfo. Jakarta. Dinas Tenaga Kerja Kota Surakarta. Program dan Kegiatan Dinas Tenaga Kerja Tahun 2003-2008. Elfindri, N. B. (2004). Ekonomi Ketenagakerjaan. Andalas University Padang. McConnel, C.R.& Brue, S.L. (1989). Contemporary Labor Economics. Boston: McGraw-hill. McEachern, W A. (2000). Economics: A Contemporary Introduction. Washington: South-Western College Publishing, Thomson Learning. Psacharopoulus, G. & Wooddhall, M. (1985). Education For Development An Analysis of Invesment Choiches. Washington: Oxford University Press. Pemerintah Kota Surakarta Dinas Tenaga Kerja. (2006). Profil Ketenagakerjaan Tahun 2005. ——————. (2007). Prrofil Ketenagakerjaan Tahun 2006. Pemerintah Kota Surakarta. (2003). Rencana Strategis Kota Surakarta 2003-2008 Suroto. (1992). Strategi Pembangunan dan Perencanaan Kesempatan Kerja. UGM Press. Jogyakarta. Suryadi, A . (1992). Hubungan Antara Pendidikan Ekonomi Dan Pengangguran Tenaga Kerja Terdidik.LDFE UI dan ISEI. Jakarta.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

160

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Sutomo. (1997). Perencanaan Tenaga Kerja Propinsi Jawa Tengah 1998-2002. Bappeda Jawa Tengah-UNS. Semarang. ————. (1998). Perencanaan Tenaga Kerja Kabupaten Boyolali 1998-2002. Bappeda Boyolali – Pusat Studi Kependudukan UNS. Undang-Undang Nomor 13 Republik Indonesia Tahun 2003. Tentang Ketenagakerjaan. Depnaker RI Jakarta. Wachtel, M. H. (1984). Labor and the Economy. Boston: Dryden Press.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

7

161

MODEL KINERJA DAN POTENSI PAJAK DAERAH
SUMARDI DWI PRASETYANI

PENDAHULUAN Karakteristik suatu daerah biasanya mempengaruhi komposisi penerimaan Pendapatan Asli Daerah. Daerah yang lebih bersifat rural (pedesaan) biasanya struktur PAD-nya didominasi oleh komponen Retribusi Daerah, sebaliknya daerah yang lebih bersifat urban (perkotaan), komponen penerimaan dari pajak daerah lebih mendominasi. Kondisi daerah dengan produk-produk unggulan bidang pertanian dalam arti luas muncul jenis-jenis retribusi yang berkaitan dengan produk pertanian itu, misalnya retribusi hasil penjualan produk pertanian atau retribusi hasil penjualan produk perikanan. Demikian pula suatu daerah yang memiliki unggulan bidang peternakan misalnya penghasil daging atau susu, menjadi kuat dalam retribusi rumah potong hewan. Namun daerah yang memiliki unggulan bidang jasa, seperti daerah-daerah kota memiliki kekuatan penerimaan pajak hotel, pajak restoran, pajak reklame dan pajak hiburan. Maka penerimaan di komponen pajak daerah akan lebih menonjol. Sedangkan daerahdaerah yang sedang berkembang dari agraris ke jasa atau industri lebih mengandalkan pada penerimaan retribusi pasar, retribusi terminal, dan penerimaan dari bidang perparkiran (gabungan pajak parkir, retribusi parkir di tepi jalan umum, dan retribusi tempat khusus parkir). Untuk melihat lebih mendalam kinerja masing-masing jenis pajak daerah, maka perlu dilakukan analisis kinerja pajak daerah. Analisis kinerja Pajak Daerah itu meliputi: analisis pertumbuhan, analisis

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

162

Visi Perekonomian Indonesia 2030

kontribusi/ sumbangan, analisis rasio pengumpulan, analisis rasio cakupan, dan analisis status kinerja. Analisis-analisis ini merupakan standar baku analisis yang juga telah digunakan untuk menganalisis kinerja PAD, dan analisis kinerja komponen PAD. ANALISIS KINERJA PAJAK DAERAH Analisis kinerja Pajak Daerah ini antara lain dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

• Bagaimana perkembangan masing-masing jenis pajak daerah
dari tahun ke tahun, jenis-jenis pajak daerah apa saja yang mengalami peningkatan terus menerus dan jenis-jenis pajak daerah apa saja yang mengalami penurunan terus menerus, atau jenis-jenis pajak daerah apa saja yang perkembangannya bersifat fluktuatif ?

• Bagaimana perbandingan besar rata-rata perkembangan per
tahun masing-masing jenis pajak daerah pada periode tertentu, dan manakah jenis-jenis pajak daerah yang memiliki perkembangan relatif tinggi dan juga jenis-jenis pajak daerah mana yang pertumbuhannya relatif rendah ?

• Bagaimana perkembangan kontribusi masing-masing jenis pajak
daerah terhadap total Pajak Daerah dari tahun ke tahun, jenisjenis pajak daerah apa saja yang memiliki kontribusi cenderung meningkat dan jenis-jenis pajak daerah mana saja yang kontribusinya justru mengalami penurunan?

• Bagaimana perbandingan besar kontribusi atau sumbangan
masing-masing jenis pajak daerah pada pembentukan total Pajak Daerah, dan manakah jenis-jenis pajak daerah yang memiliki sumbangan relatif besar atau jenis-jenis pajak daerah mana yang sumbangannya relatif kecil?

• Seberapa besar tingkat pencapaian realisasi masing-masing
jenis pajak daerah berdasarkan target yang ditetapkan dari tahun ke tahun atau seberapa besar rasio pengumpulan (collection ratio) masing-masing jenis pajak daerah itu?

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

163

• Seberapa besar tingkat cakupan realisasi masing-masing jenis
pajak daerah berdasarkan potensi yang dimiliki masing-masing jenis pajak daerah itu atau berapa besar rasio cakupan (coverage ratio) masing-masing jenis pajak daerah?

• Bagaimana status kinerja masing-masing jenis pajak daerah itu
berdasarkan pertimbangan rasio pertumbuhan dan rasio proporsi, jenis-jenis pajak manakah yang memiliki status kinerja prima, berkembang, potensial dan terbelakang? Analisis Perkembangan Pajak Daerah Analisis perkembangan pajak daerah ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan masing-masing jenis pajak daerah dan mengetahui seberapa besar perkembangan masing-masing jenis pajak daerah itu serta membandingkan kinerja perkembangan antar masing-masing jenis pajak daerah. Perkembangan jenis-jenis pajak daerah itu menggunakan rumus pertumbuhan secara umum sebagai berikut:
G th Pajak Daerah X = row

(PajakDaerahXn −PajakDaerahXn−1) x 100 %
PajakDaerahXn−1
: perkembangan Pajak Daerah X tahun ke n. : nilai pajak daerah X pada tahun ke n. : nilai pajak daerah X pada tahun ke n-1

Dimana : Growth Pajak Daerah X Pajak DaerahXn Pajak DaerahXn-1

Formula di atas digunakan untuk menghitung perkembangan masing-masing jenis pajak daerah dari tahun ke tahun, sehingga dapat dibandingkan perkembangan masing-masing jenis pajak daerah, apakah suatu jenis pajak daerah itu mengalami perkembangan terus meningkat, atau terus menurun, ataupun fluktuatif. Disamping perkembangannya dari tahun ke tahun, analisis

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

164

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 1. Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2003 – 2006 (Ribuan Rupiah)
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen.Jalan Pajak P.B.G. Gol C Pajak Parkir Pajak Daerah Sumber Keterangan 2003 26,820 106,228 56,726 640,765 8,465,748 14,859 4,743 9,315,887 2004 29,650 186,677 47,617 754,563 2005 32,790 230,053 41,610 889,819 2006 32,270 246,870 42,975 1,035,985 12,169,551 10,218 18,086 13,555,956

10,240,387 10,703,397 12,550 13,200 8,100 14,951

11,284,646 11,920,720

: BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah : Analisis dimulai tahun 2003, karena pemisahan Pajak Hotel dan Pajak Restoran baru dilakukan oleh Kabupaten Y pada tahun 2003.

perkembangan itu juga dapat menampilkan besaran rata-rata perkembangan, sehingga dapat dibandingkan jenis-jenis pajak daerah mana yang memiliki pertumbuhan rata-rata relatif tinggi, dan jenis-jenis pajak daerah mana yang rata-rata pertumbuhannya relatif rendah. Selain itu dengan menganalisis kinerja dari tahun ke tahun maka akan dapat dijelaskan juga laju perkembangan masingmasing jenis pajak daerah, maksudnya apakah besar angka perkembangan dari tahun ke tahun cenderung meningkat, atau besar angka perkembangan dari tahun ke tahun cenderung menurun. Data-data hipotetis dalam tabel 1. berikut ini adalah perkembangan realisasi Pajak Daerah di Kabupaten Y selama Tahun 2003 – 2006 (ribuan rupiah). Ada tujuh jenis pajak daerah Kabupaten yang disebutkan dalam Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000, dan Kabupaten Y dapat mengelola ketujuh jenis pajak daerah itu. Jenis-jenis pajak daerah di Kabupaten Y memiliki kecenderungan meningkat selama kurun waktu 2003 – 2006. Pajak Restoran meningkat dari tahun ke

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

165

Tabel 2. Perkembangan Realisasi Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2004 – 2006 (Persen)
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen. Jalan Pajak P.B.G. Gol C Pajak Parkir Pajak Daerah Sumber Keterangan 2004 10.55 75.73 (16.06) 17.76 20.96 (15.54) 178.30 21.13 2005 10.59 23.24 (12.62) 17.93 4.52 (35.46) 13.27 5.64 2006 (1.59) 7.31 3.28 16.43 13.70 26.15 20.97 13.72 Rata-rata 6.52 35.43 (8.46) 17.37 13.06 (8.28) 70.85 13.50

: BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah : Angka dalam kurung menunjukkan angka negatif

tahun, dimana pada tahun 2003 besarnya mencapai Rp. 106.227.788,- meningkat dari tahun ke tahun sampai menjadi sebesar Rp. 246.870.032,-. Pajak reklame juga mengalami perkembangan terus menerus, demikian pula Pajak Penerangan Jalan, selama kurun waktu 2003 – 2006 dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pajak parkir yang merupakan pungutan relatif baru juga menunjukkan peningkatan yang menggembirakan dimana pada tahun 2003 baru dapat direalisir sebesar Rp. 4.743.000,- dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan dengan angka pencapaian sebesar Rp. 18.086.500,-. Beberapa jenis pajak daerah yang perkembangannya kurang menggembirakan adalah Pajak Hiburan dan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C. Pajak Hiburan mengalami kecenderungan turun terutama selama tahun 2003 – 2005, walaupun tahun 2006 sedikit meningkat lagi. Pola yang sama dialami oleh Pajak Pengambilan bahan galian golongan C, dimana selama 2003 – 2005 mengalami penurunan, dan meningkat pada tahun 2006.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

166

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Analisis perkembangan masing-masing jenis pajak daerah itu dapat dihitung dengan menggunakan formula pertumbuhan, sehingga berdasarkan tabel 1. itu setelah dilakukan perhitungan perkembangan hasilnya menjadi tabel 2. Tabel 2. di atas menjelaskan bahwa perkembangan pajak hotel meningkat selama tahun 2004 – 2005, dan menurun pada tahun 2006. Sebagaimana dijelaskan didepan bahwa pajak restoran terus meningkat dari tahun ke tahun, namun jika dilihat dari angka pertumbuhannya, dari tahun ke tahun angka pertumbuhan pajak restoran ini menurun, bahkan pada tahun 2006 peningkatannya tinggal sebesar 7,31 persen. Perkembangan pajak reklame relatif tetap dengan angka ratarata sebesar 17,37 persen per tahun. Sementara itu perkembangan pajak parkir meskipun terus menerus meningkat, tetapi angka peningkatan pajak parkir itu berfluktuasi. Demikian pula pajak penerangan jalan, memiliki angka peningkatan yang berfluktuasi. Dua jenis pajak daerah yang memiliki perkembangan rata-rata negatif yaitu Pajak Hiburan dengan pertumbuhan rata-rata – 8,46 persen per tahun dan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C dengan pertumbuhan rata-rata – 8,28 persen per tahun. Pertumbuhan rata-rata negatif itu dikarena kedua jenis pajak daerah itu terus menerus menurun pada tahun 2004 dan 2005. Dengan demikian pertanyaan pertama dalam analisis kinerja pajak daerah ini yang berbunyi: Bagaimana perkembangan masingmasing jenis pajak daerah dari tahun ke tahun, jenis-jenis pajak daerah apa saja yang mengalami peningkatan terus menerus dan jenis-jenis pajak daerah apa saja yang mengalami penurunan terus menerus, atau jenis-jenis pajak daerah apa saja yang perkembangannya bersifat fluktuatif ? dan pertanyaan kedua yang berbunyi: Bagaimana perbandingan besar rata-rata perkembangan per tahun masing-masing jenis pajak daerah pada periode tertentu, dan manakah jenis-jenis pajak daerah yang memiliki perkembangan relatif tinggi dan juga jenis-jenis pajak daerah mana yang

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

167

pertumbuhannya relatif rendah ? masing-masing dapat dijawab dengan penjelasan bahwa :

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki kecenderungan meningkat
terus dari tahun ke tahun selama kurun waktu tahun 2004 – 2006 adalah pajak restoran, pajak reklame, pajak penerangan jalan dan pajak parkir.

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki kecenderungan menurun
adalah pajak hiburan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C, dimana penurunan terjadi pada tahun 2004 dan 2005, sementara tahun 2006 sedikit meningkat.

• Jenis pajak hotel pada tahun 2004 dan 2005 mengalami
peningkatan, namun pada tahun 2006 pajak daerah ini mengalami penurunan.

• Perkembangan pajak restoran yang terus meningkat itu, tetapi
meningkat dengan angka peningkatan yang dari tahun ke tahun mengalami penurunan.

• Pajak penerangan jalan dan pajak parkir yang terus menerus
meningkat, memiliki angka pertumbuhan yang fluktuatif menurun tajam pada tahun 2005 dan sedikit meningkat lagi pada tahun 2006, sementara itu perkembangan pajak reklame terus meningkat dengan angka yang relatif tetap.

• Rata-rata perkembangan per tahun untuk pajak hotel, restoran,
reklame, penerangan jalan dan parkir positif, yang berarti setiap tahun ada kecenderungan meningkat,

• Rata-rata perkembangan per tahun untuk pajak hiburan dan
pajak pengambilan bahan galian golongan C negatif, yang berarti setiap tahun jenis pajak daerah ini ada kecenderungan menurun,

• Dari beberapa jenis pajak daerah yang rata-rata tumbuh positif,
pajak parkir memiliki pertumbuhan paling tinggi (diatas 50 persen), kemudian pajak restoran (diatas 30 persen), disusul pajak reklame dan pajak penerangan jalan (diatas 10 persen) dan terakhir pajak hotel (diatas 5 persen).

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

168 Analisis Kontribusi Pajak Daerah

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Analisis kontribusi pajak daerah ini dimaksudkan untuk mengetahui sumbangan atau kontribusi masing-masing jenis pajak daerah pada pembentukan total pajak daerah atau dengan kata lain analisis kontribusi ini untuk mengetahui bagaimana struktur pajak daerah di suatu daerah. Analisis kontribusi pajak daerah itu dapat dihitung dengan formula kontribusi secara umum sebagai berikut: Kontribusi Pajak DaerahX =

PajakDaera hX n x 100 % TotalPajak Daerah n

Dimana : Kontribusi Pajak DaerahX : kontribusi jenis pajak daerah X terhadap total pajak daerah pada tahun ke n. Pajak Daerah Xn : nilai jenis pajak daerah X pada tahun ke n. Total Pajak Daerahn : nilai Total Pajak Daerah tahun ke n. Dengan formula kontribusi di atas dapat dilakukan perhitungan sumbangan masing-masing jenis pajak daerah terhadap pembentukan total pajak daerah. Hasil perhitungan analisis kontribusi dapat digunakan untuk menjelaskan jenis pajak daerah mana yang memberikan sumbangan paling besar atau jenis pajak daerah yang sumbangannya paling kecil. Analisis kontribusi itu juga dapat menjelaskan kenapa tiba-tiba kontribusi suatu jenis pajak daerah meningkat dengan drastis pada suatu tahun tertentu atau sebaliknya tiba-tiba merosot pada suatu tahun tertentu.Berikut ini adalah contoh 2. Data yang digunakan pada contoh 2 ini adalah tabel 1 di depan. Hasil perhitungan contoh 2. dengan menggunakan rumus kontribusi itu menunjukkan bahwa masing-masing jenis pajak daerah menyumbang total pajak daerah seperti terlihat pada tabel 3.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

169

Tabel3. Kontribusi Jenis Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2003 – 2006 (Persen)
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen.Jalan Pajak P.B.G. Gol C Pajak Parkir Pajak Daerah 2003 0.29 1.14 0.61 6.88 90.87 0.16 0.05 100.00 2004 0.26 1.65 0.42 6.69 90.75 0.11 0.12 100.00 2005 0.28 1.93 0.35 7.46 89.79 0.07 0.13 100.00 2006 0.24 1.82 0.32 7.64 89.77 0.08 0.13 100.00

Sumber :

BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah.

Kontribusi terbesar jenis pajak daerah terhadap pembentukan total pajak daerah di Kabupaten Y selama tahun 2003 – 2006 ternyata ada pada pajak penerangan jalan, bahkan sumbangan jenis pajak penerangan jalan ini mencapai angka kurang lebih 90 persen. Sisanya kurang lebih tinggal 10 persen berasal dari 6 pajak daerah lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa kontribusi masing-masing jenis pajak daerah lainnya relatif kecil. Dominasi sumbangan pajak penerangan jalan ini selama kurun waktu 2003 – 2006 ada kecenderungan menurun. Hal ini juga dapat diartikan berarti sumbangan jenis pajak daerah yang lain dapat kebih meningkat. Dari jenis-jenis pajak daerah di luar pajak penerangan jalan, pajak reklame memiliki kontribusi paling tinggi (di atas 5 persen). Sedangkan kontribusi jenis pajak daerah lainnya, seperti pajak hotel, restoran, hiburan, pengambilan bahan galian golongan C dan parkir masing-masing memiliki sumbangan kurang dari 2 persen. Bahkan untuk pajak hotel, pajak hiburan, pajak pengambilan bahan galian golongan C dan pajak parkir memiliki kontribusi masing-masing kurang dari 1 persen. Atau hanya pajak restoran saja yang memiliki kontribusi dibawah 5 persen tetapi lebih dari 1 persen.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

170

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Perkembangan kontribusi jenis pajak daerah yang cenderung meningkat adalah pajak restoran dan pajak reklame serta pajak parkir Kontribusi pajak restoran meningkat dari tahun 2003 – 2005, . meskipun kemudian pada tahun 2006 sedikit mengalami penurunan. Perkembangan kontribusi pajak restoran menurun pada tahun 2004 dan dua tahun berikutnya 2005 dan 2006 kontribusi jenis pajak daerah ini mengalami peningkatan. Kontribusi pajak parkir meskipun kecil tetapi selama tahun 2003 – 2005 mengalami peningkatan dan kontribusinya tetap pada tahun 2006 (sama dengan tahun 2005). Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki perkembangan kontribusi cenderung menurun adalah pajak hiburan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C. Selama kurun waktu 2003 – 2006 kontribusi pajak hiburan pada total pajak daerah itu terus menerus menurun. Sedangkan kontribusi pengambilan bahan galian golongan C menurun dari tahun 2003 – 2005, namun pada tahun 2006 kontribusinya sedikit meningkat. Dengan hasil analisis kontribusi ini maka pertanyaan ketiga yang berbunyi: Bagaimana perkembangan kontribusi masing-masing jenis pajak daerah terhadap total Pajak Daerah dari tahun ke tahun, jenis-jenis pajak daerah apa saja yang memiliki kontribusi cenderung meningkat dan jenis-jenis pajak daerah mana saja yang kontribusinya justru mengalami penurunan? dan pertanyaan keempat yang berbunyi: Bagaimana perbandingan besar kontribusi atau sumbangan masing-masing jenis pajak daerah pada pembentukan total Pajak Daerah, dan manakah jenis-jenis pajak daerah yang memiliki sumbangan relatif besar atau jenis-jenis pajak daerah mana yang sumbangannya relatif kecil?, dapat dijawab dengan penjelasan sebagai berikut:

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki kontribusi cenderung
meningkat adalah pajak restoran, pajak reklame dan pajak parkir dengan perilaku berbeda satu dengan yang lain, dimana perkembangan kontribusi pajak restoran meningkat tahun 2003 – 2005 menurun tahun 2006, kontribusi pajak reklame menurun

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

171

Tabel 4. Target Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2003 – 2006 (Ribuan Rupiah)
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen.Jalan Pajak P.B.G. Gol C Pajak Parkir Pajak Daerah Sumber : 2003 20,500 102,000 44,000 575,000 7,900,880 12,000 4,000 8,658,380 2004 26,250 143,000 38,000 675,000 9,744,000 12,500 10,500 10,649,250 2005 30,450 196,500 38,000 853,110 10,260,000 8,000 13,000 11,399,060 2006 32,000 230,000 42,000 1,000,000 11,280,000 8,000 15,500 12,607,500

BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah.

tahun 2004 dan terus meningkat dua tahun berikutnya, sedang pajak parkir terus meningkat pada tahun 2003 – 2005 dan tetap bertahan pada tahun 2006.

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki kontribusi cenderung
menurun adalah pajak hiburan, pajak penerangan jalan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C. Perkembangan kontribusi pajak hiburan dan pajak penerangan jalan dari tahun ke tahun terus menerus menurun, sedangkan kontribusi pajak pengambilan bahan galian golongan C menurun sampai dengan tahun 2005 dan sedikit meningkat di tahun 2006,

• Dominasi pajak penerangan jalan pada pembentukan total pajak
daerah sangat mantap karena angka kontribusinya hampir tidak berubah dari angka 90 persen,

• Dari jenis-jenis pajak daerah di luar pajak penerangan jalan,
kontribusi terbesar dimiliki oleh pajak reklame dengan kontribusi diatas 5 persen, kemudian disusul pajak restoran dengan kontribusi diatas 1 persen.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

172

Visi Perekonomian Indonesia 2030

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki kontribusi pada
pembentukan total pajak daerah dibawah 1 persen adalah pajak hotel, pajak hiburan, pajak pengambilan bahan galian golongan C dan pajak parkir, bahkan kontribusi masing-masing jenis pajak itu kurang dari 0,5 persen. Analisis Rasio Pengumpulan Pajak Daerah Analisis rasio pengumpulan (collection ratio) pajak daerah dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pencapatan realisasi masing-masing jenis pajak daerah didasarkan pada target-target yang telah ditetapkan sebelumnya. Rasio pengumpulan ini juga menunjukkan efektivitas penarikan masing-masing jenis pajak daerah. Rasio pengumpulan ini dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:
CLRPajak DaerahX =

Re alisasi PajakDaera hX T arg et PajakDaera hX

x 100 %

Dimana : CLR Pajak DaerahX Realisasi Pajak DaerahX Target Pajak Daerah X

: rasio pengumpulan jenis-jenis pajak daerah, : nilai realisasi jenis pajak daerah X. : nilai target jenis pajak daerah X.

Rasio pengumpulan ini juga mengukur tingkat efektivitas pencapaian suatu jenis pajak daerah. Nilai batas (rule of thumbs) rasio pengumpulan ini adalah 100 persen, dimana kalau nilai CLR lebih besar dari 100 persen (CLR > 100 %) berarti tingkat pencapaian jenis pajak daerah itu efektif, dan sebaliknya jika nilai CLR kurang dari 100 persen, dapat diartikan bahwa tingkat pencapaian jenis pajak daerah itu masih kurang efektif. berikut ini akan diuraikan contoh 3. Data yang digunakan pada contoh 3 ini adalah tabel 1. Pada contoh ini ditambahkan dengan data target Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2003 – 2006 (Rupiah) dalam tabel 4 dalam contoh ini. Kemudian perhitungan rasio pengumpulan (collection ratio) dilakukan dengan membandingkan realisasi masing-

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

173

Tabel 5. Rasio Pengumpulan Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2003 – 2006 (Persen)
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen.Jalan Pajak P.B.G. Gol C Pajak Parkir Pajak Daerah 2003 2004 2005 2006

130.83 112.95 107.68 100.84 104.14 130.54 117.08 107.33 128.92 125.31 109.50 102.32 111.44 111.79 104.30 103.60 107.15 105.09 104.32 107.89 123.83 100.40 101.25 127.73 118.58 125.71 115.01 116.69 107.59 105.97 104.58 107.52

Sumber : BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah.

masing jenis pajak daerah pada tabel 1. dengan targetnya pada tabel 4. di atas. Data target masing-masing jenis pajak daerah disajikan pada tabel 4. Hasil perhitungan rasio pengumpulan (collection ratio) itu untuk masing-masing jenis pajak daerah dengan formula rasio pengumpulan (collection ratio) diatas dapat disajikan dalam tabel 5. Nampak dari hasil perhitungan diatas bahwa rasio pengumpulan semua jenis pajak daerah selama tahun 2003 – 2006 di Kabupaten Y berada diatas 100 persen, yang berarti semua target-target yang telah ditetapkan sebelumnya dapat direalisir dengan baik. Angka rasio pengumpulan jenis pajak daerah yang meningkat terus menerus selama kurun waktu 2003 – 2006 tidak ada. Pajak reklame dan pajak restoran masing-masing memiliki rasio pengumpulan meningkat pada tahun 2004, namun pada tahun 2005 dan 2006 rasio pengumpulan keduanya terus menurun. Pajak parkir pada tahun 2004 juga memiliki rasio pengumpulan meningkat, kemudian menurun pada tahun 2005, dan tahun 2006

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

174

Visi Perekonomian Indonesia 2030

meningkat lagi. Sedangkan pajak pengambilan bahan galian golongan C dan pajak penerangan jalan memiliki angka rasio pengumpulan meningkat pada tahun 2006, setelah menurun pada tahun 2004 dan 2005. Angka rasio pengumpulan pajak hotel dan pajak hiburan selama kurun waktu 2003 – 2006 terus menerus turun. Rasio pengumpulan pajak hotel tahun 2003 adalah sebesar 130,83 persen dan menurun dari tahun ke tahun sampai menjadi sebesar 100,84 persen pada tahun 2006. Pajak hiburang pada tahun 2003 memiliki angka rasio pengumpulan sebesar 128,92 persen dan terus menerus turun sampai menjadi sebesar 102,32 persen pada tahun 2006. Hasil perhitungan rasio pengumpulan itu kemudian dapat menjawab pertanyaan kelima yang berbunyi: Seberapa besar tingkat pencapaian realisasi masing-masing jenis pajak daerah berdasarkan target yang ditetapkan dari tahun ke tahun atau seberapa besar rasio pengumpulan (collection ratio) masing-masing jenis pajak daerah itu?. Jawaban atas pertanyaan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

CVR

• Semua jenis pajak daerah selama kurun waktu tahun 2003 –
2006 memiliki rasio pengumpulan diatas 100 persen, yang berarti semua target-target jenis-jenis pajak daerah selama kurun waktu itu sudah dapat dicapai dengan baik, dengan kata lain berarti pengelolaan pajak daerah itu sudah efektif.

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki angka rasio pengumpulan
terus menerus menurun selama kurun waktu tahun 2003 – 2006 adalah pajak hotel dan pajak hiburan.

• Jenis-jenis pajak daerah yang tahun 2004 memiliki rasio
pengumpulan meningkat tetapi kemudian cenderung menurun pada tahun-tahun berikutnya adalah pajak restoran, pajak reklame dan pajak parkir.

• Jenis-jenis pajak daerah yang meningkat angka rasio
pengumpulannya pada tahun 2006, namun menurun pada tahun-tahun sebelumnya adalah pajak penerangan jalan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

175

• Tidak ada satupun jenis pajak daerah yang memiliki angka rasio
pengumpulan yang terus menerus meningkat selama kurun waktu 2003 – 2006. Analisis Rasio Cakupan Pajak Daerah Analisis rasio cakupan (coverage ratio) pajak daerah ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat pencapatan realisasi masing-masing jenis pajak daerah didasarkan pada potensi yang dimiliki. Dengan demikian untuk menghitung rasio cakupan ini diperlukan data potensi masing-masing jenis pajak daerah. Jika tidak tersedia dapat potensi jenis-jenis pajak daerah, maka rasio cakupan ini belum dapat dihitung. Rasio cakupan (coverage ratio) ini dapat dihitung dengan formula:
CVRPajak DaerahX =

Re alisasi PajakDaera hX Potensi PajakDaera hX

x 100 %

: rasio cakupan jenis pajak daerah X, Realisasi Pajak Daerah X : nilai realisasi jenis pajak daerah X. Potensi Pajak Daerah X : nilai potensi jenis pajak daerah X. Karena belum dapat dicontohkan perhitungan rasio cakupan jenis-jenis pajak daerah, maka pertanyaan keenam yang berbunyi: Seberapa besar tingkat cakupan realisasi masing-masing jenis pajak daerah berdasarkan potensi yang dimiliki masing-masing jenis pajak daerah itu atau berapa besar rasio cakupan (coverage ratio) masing-masing jenis pajak daerah? belum dapat dijawab. Analisis Status Kinerja Pajak Daerah Analisis status kinerja pajak daerah ini dimaksudkan untuk mengetahui status kinerja masing-masing jenis pajak daerah didasarkan pada dua indikator yaitu rasio kontribusi dan rasio pertumbuhan. Rasio kontribusi merupakan perbandingan antara

Dimana : CVR Pajak Daerah X

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

176

Visi Perekonomian Indonesia 2030

nilai masing-masing jenis pajak daerah dengan rata-rata pajak daerah. Rata-rata pajak daerah merupakan total nilai realisasi pajak daerah dibagi jumlah pajaknya yaitu 7 (pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan bahan galian golongan C, dan pajak parkir). Sedangkan rasio pertumbuhan merupakan perbandingan antara pertumbuhan jenis-jenis pajak daerah dengan pertumbuhan total pajak daerah. Berdasarkan kedua indikator itu, maka status kinerja jenis-jenis pajak daerah dibedakan menjadi 4 kategori status, yaitu: (1) Prima, yang merupakan status kinerja ideal, dimana jenis pajak daerah memiliki rasio kontribusi lebih besar 1 dan memiliki rasio pertumbuhan juga lebih besar dari 1; (2) Berkembang, yang merupakan status kinerja cukup, dimana jenis pajak daerah memiliki rasio kontribusi kurang atau sama dengan 1 dan memiliki rasio pertumbuhan lebih dari 1; (3) Potensial, yang merupakan status kinerja cukup, dimana jenis pajak daerah memiliki rasio kontribusi lebih besar dari 1 dan memiliki rasio pertumbuhan kurang atau sama dengan 1; (4) Terbelakang, yang merupakan status kinerja paling buruk, dimana jenis pajak daerah memiliki rasio kontribusi kurang atau sama dengan 1 dan memiliki rasio pertumbuhan juga kurang atau sama dengan 1. Rasio kontribusi jenis-jenis pajak daerah dalam hal ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Rasio Kontribusi =

PajakDaerahX Rata − rataPajakDaerah
: nilai realisasi jenis pajak daerah X : rata-rata pajak daerah.

Dimana : Pajak Daerah X Rata-rata Pajak Daerah

Sementara itu, rasio pertumbuhan jenis-jenis pajak daerah dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Rasio Pertumbuhan =

∆ PajakDaera hX ∆ TotalPajak Daerah

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

177

Tabel 6. Rasio Kontribusi dalam rangka Penilaian Status Kinerja Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2004 – 2006

No 1 2 3 4 5 6 7

Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen. Jalan Pajak P. B. G. Gol C Pajak Parkir

2004 2005 2006 0.02 0.08 0.04 0.48 6.36 0.01 0.00 0.02 0.12 0.03 0.47 6.35 0.01 0.01 0.02 0.14 0.02 0.52 6.29 0.00 0.01

Rata-rata 0.02 0.11 0.03 0.49 6.33 0.01 0.01

Sumber : BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah

Dimana : ∆Pajak Daerah X ∆Total Pajak Daerah

: pertumbuhan jenis pajak daerah X, : pertumbuhan total Pajak Daerah.

Data hipotetis yang digunakan untuk analisis status kinerja ini adalah data tabel 1. yang berupa realisasi pajak daerah Kabupaten Y Tahun 2003 – 2006. Selain data dasar itu untuk analisis status kinerja ini juga menggunakan hasil analisis perkembangan yang telah dilakukan dan hasilnya ada pada tabel 2. Hasil perhitungan rasio kontribusi dalam rangka penilaian status kinerja jenis-jenis pajak daerah disajikan pada tabel 6. Nampak dalam hasil perhitungan rasio kontribusi pajak daerah diatas bahwa hanya pajak penerangan jalan yang memiliki peran penting dalam pembentukan pajak daerah. Nilai-nilai realisasi pajak penerangan jalan itu lebih besar dibandingkan dengan rata-rata pajak daerah. Sebaliknya untuk jenis-jenis pajak daerah lainnya, yaitu pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak pengambilan bahan galian golongan C, dan pajak parkir memiliki nilai rasio kontribusi kurang dari 1, yang berarti keenam jenis pajak

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

178

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Tabel 7. Rasio Pertumbuhan dalam rangka Penilaian Status Kinerja Pajak Daerah Kabupaten Y Thn 2004 – 2006
No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Pen. Jalan Pajak P. B. G. Gol C Pajak Parkir 2004 0.50 3.58 2005 1.88 4.12 2006 (0.12) 0.53 0.24 1.20 1.00 1.91 1.53 Rata-rata 0.48 2.62 (0.63) 1.29 0.97 (0.61) 5.25

(0.76) (2.24) 0.84 0.99 3.18 0.80

(0.74) (6.29) 8.44 2.35

Sumber : BPKD Kabupaten Y, Tahun 2003 - 2006, diolah

daerah ini memiliki nilai dibawah rata-rata pajak daerah. Dengan demikian berdasarkan rasio kontribusi ini, jenis pajak daerah yang memiliki sumbangan paling penting dibandingkan dengan jenisjenis pajak daerah lainnya. Hasil perhitungan rasio pertumbuhan pajak daerah dengan menggunakan formulasi rasio pertumbuhan dan dengan data-data hasil perhitungan analisis pertumbuhan yang sudah dilakukan sebelumnya, dapat disajikan dalam tabel 7. Pada tabel hasil perhitungan rasio pertumbuhan tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa ternyata pajak penerangan jalan memiliki rasio pertumbuhan kurang dari 1, kecuali tahun 2006 yang besarnya tepat sama dengan 1,00. Pajak restoran memiliki rasio pertumbuhan cenderung lebih dari 1, kecuali pada tahun 2006 yang rasio pertumbuhannya mencapai kurang dari 1. Pajak reklame juga memiliki rasio pertumbuhan lebih dari 1, kecuali tahun 2004 yang memiliki rasio pertumbuhan sebesar 0,84. Pajak parkir memiliki rasio pertumbuhan diatas 1 selama tahun 2004 – 2006, sehingga rata-rata rasio pertumbuhan pajak parkir sebesar 5,25.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

179

Rata-rata 0.48 2.62 (0.63) 1.29 0.97 (0.61) 5.25

Kemudian berdasarkan kedua rasio itu kemudian dinilai status kinerja masing-masing jenis pajak daerah sebagaimana disajikan pada tabel 8. Hasil penilaian status kinerja pajak penerangan jalan rata-rata merupakan jenis pajak daerah yang potensial. Demikian pula selama tahun 2004 – 2005 status kinerja pajak penerangan jalan adalah sebagai jenis pajak daerah yang potensial, sedangkan pada tahun 2006 status kinerja pajak daerah ini adalah prima. Pajak restoran, pajak reklame dan pajak parkir ketiganya memiliki status kinerja rata-rata sebagai jenis pajak daerah yang berkembang. Pajak restoran dan pajak reklame pernah menjadi pajak terbelakang masing-masing pada tahun 2006 dan 2004. Sedangkan pajak parkir selama kurun waktu 2004 – 2006 memiliki status kinerja sebagai jenis pajak daerah yang berkembang. Pajak hotel, pajak hiburan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C memiliki status kinerja rata-rata sebagai jenis pajak daerah yang terbelakang. Pajak hotel dan pajak pengambilan bahan galian golongan C selama tahun 2004 – 2006 pernah berstatus sebagai pajak daerah yang berkembang yaitu masing-masing pada tahun 2005 dan 2006. Sedangkan pajak hiburan selama kurun waktu 2004 – 2006 terus menerus memiliki status kinerja sebagai jenis pajak daerah yang terbelakang. Dengan demikian untuk menjawab pertanyaan ketujuh yang berbunyi: Bagaimana status kinerja masing-masing jenis pajak daerah itu berdasarkan pertimbangan rasio pertumbuhan dan rasio proporsi, jenis-jenis pajak manakah yang memiliki status kinerja prima, berkembang, potensial dan terbelakang?, dapat dijelaskan sebagai berikut:

• Status kinerja pajak penerangan jalan rata-rata merupakan
jenis pajak daerah yang potensial. Pada tahun 2004 – 2005 status kinerja pajak penerangan jalan ini adalah pajak potensial dan pada tahun 2006, status kinerja pajak ini merupakan jenis pajak daerah yang prima.

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki status kinerja rata-rata
sebagai jenis pajak daerah yang berkembang adalah pajak restoran, pajak reklame dan pajak parkir. Selama tahun 2004 –

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

180

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 8. Status Kinerja Jenis Pajak Daerah Kabupaten Y Tahun 2004 – 2006 dan Rata-rata

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

181

2006, pajak parkir selalu berstatus sebagai jenis pajak daerah yang berkembang, sedangkan pajak restoran pernah menjadi pajak terbelakang pada tahun 2006, pajak reklame pernah menjadi pajak terbelakang pada tahun 2004.

• Jenis-jenis pajak daerah yang memiliki status kinerja rata-rata
sebagai jenis pajak daerah yang terbelakang adalah pajak hotel, pajak hiburan dan pajak pengambilan bahan galian golongan C. Pajak hiburan selama tahun 2004 – 2006 selalu berstatus sebagai pajak terbelakang, sedangkan pajak hotel pernah menjadi pajak berkembang pada tahun 2005, sementara itu pajak pengambilan bahan galian golongan C pernah memiliki status kinerja berkembang pada tahun 2006. KERANGKA PEMIKIRAN KAJIAN POTENSI PAJAK DAERAH Ada penelitian potensi yang tidak menghasilkan nilai potensi. Ada penelitian potensi yang hanya menghasilkan kesimpulan kualitatif terhadap potensi, misalnya jenis pendapatan daerah ini masih potensial untuk dikembangkan, atau jenis pendapatan daerah ini memiliki potensi yang besar. Namun berapa potensi yang besar itu tidak disimpulkan dari hasil penelitian itu. Kajian atau studistudi potensi pendapatan seperti itulah yang harus dihindarkan. Mengapa? Karena problematika perencanaan pendapatan daerah selama ini terletak pada penentuan target pendapatan ke depan yang belum didasarkan pada nilai potensi. Mengapa?. Karena potensi jenis pendapatan yang ditargetkan itu belum diketahui atau belum dihitung secara obyektif dan komprehensif. Jadi starting point untuk penentuan target itu adalah data nilai potensi jenis pendapatan itu. Misalnya salah satu jenis pendapatan daerah itu diumpakan air. Kita memasang target untuk mendapatkan air sebanyak 1 gelas, maka jika terealisasikan sebanyak 2 gelas, maka hal itu sudah bagus karena rasio pengumpulan (collection ratio) yang didapat adalah 200 persen. Padahal potensi air di wilayah itu sangat banyak mungkin beribu-ribu gelas. Sehingga kalau target

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

182

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Skema1. Pengkajian Potensi Pajak Daerah
Potensi Pajak Daerah Realisasi Pajak Daerah Target Pajak Daerah

Kesenjangan Obyektif

Kesenjangan Perencanaan

Data Obyek Pajak Daerah

Analisis Potensi Pajak Daerah

Perda Pajak Daerah

Potensi Pajak Daerah

hanya ditentukan sebesar 1 gelas, ini kurang realistis, karena sangat jauh dibawah potensi yang ada. Sayangnya kedung / sumur air yang memuat potensi seluruh air di wilayah itu belum diketahui berapa gelas air yang sebenarnya dapat diwujudkan. Untuk itulah maka pengkajian potensi pajak daerah ini dapat disusun secara skematis sebagai berikut: Ada dua komponen yang memberikan batasan bahwa studi potensi ini riil harus mendapatkan “nilai potensi”, pertama, studi potensi ini didasarkan pada peraturan perundang-undangan tentang penarikan jenis-jenis pajak daerah dan/ atau retribusi daerah yang akan dikaji, sehingga potensi yang dimaksudkan adalah benarbenar potensi yang memiliki payung hukum atau ditunjuk oleh

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

183

perda yang berlaku, bukan potensi-potensi yang “potensial” diluar koridor peraturan perundangan yang berlaku. Kedua, studi potensi ini didasarkan pada data-data obyek pajak daerah dan retribusi daerah yang ada di lapangan dan obyek dimaksud sesuai dengan yang ditunjuk dalam perda. Karena kemungkinan terjadi obyek riil yang dikenakan pungutan pajak daerah atau retribusi daerah di lapangan itu cakupannya lebih kecil atau lebih terbatas dari yang seharusnya disebutkan dalam perda. Atau terjadi sebaliknya obyek riil yang dikenakan pungutan pajak daerah atau retribusi daerah itu lebih besar atau lebih luas cakupannya dari pada yang seharusnya dikenakan berdasarkan perda. Contoh pertama, penarikan retribusi pelayanan persampahan. Berdasarkan peraturan daerah yang ada di suatu daerah salah satu obyek retribusi pelayanan persampahan ini adalah rumah tangga seluruh kabupaten/ kota. Namun dalam implementasinya, penarikan retribusi pelayanan persampahan ini terbatas hanya rumah tangga – rumah tangga yang ada di kota (ibu kota kabupaten atau ibukota kecamatan tertentu, tidak semua ibu kota kecamatan). Alasan yang dikemukakan kenapa obyek retribusi yang dikenakan pungutan itu tidak semua, karena: (1) Sumber daya manusia pengelola retribusi pelayanan persampahan ini sangat terbatas sehingga tidak dapat menjangkau pelayanan yang lebih luas / banyak dari yang sudah ada sekarang, (2) Masyarakat di desa atau sebagian kota yang tidak dipungut tidak memerlukan pelayanan persampahan karena mereka mengelola sampah mereka dengan cara dan budaya mereka seperti membakar atau menanam sampah itu, sehingga tidak semua rumah tangga menjadi obyek retribusi pelayanan persampahan ini. Padahal di beberapa titik wilayah suatu daerah telah berkembang perumahan-perumahan yang sangat memerlukan pelayanan persampahan ini, atau beberapa daerah mulai berkembang sehingga kebutuhan pelayanan persampahan ini semakin luas nantinya. Dengan demikian contoh ini dapat disimpulkan bahwa obyek yang

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

184

Visi Perekonomian Indonesia 2030

ditangani senyatanya pada penarikan retribusi pelayanan persampahan ini lebih sempit / kecil dibandingkan dengan obyek yang seharusnya sesuai dengan perda. Contoh kedua, penarikan retribusi Rumah Potong Hewan (RPH). Berdasarkan perda yang berlaku obyek retribusi rumah potong hewan itu adalah semua hewan yang dipotong menggunakan fasilitas Rumah Potong Hewan milik Pemerintah Kabupaten/ Kota. Tetapi pada kenyataannya jumlah hewan yang disembelih di RPH itu hanya kurang lebih 50 persen dari semua jumlah hewan yang dipotong, dan sisanya ternyata dipotong di rumah “jagal/pengusaha pemotongan sapi” sendiri. Penarikan retribusi rumah potong hewan ini dilakukan pada semua baik hewan yang dipotong di RPH maupun dipotong di rumah “jagal/pengusaha pemotongan sapi”. Dengan demikian dalam contoh ini terjadi obyek pajak yang secara riil ditarik pungutan retribusi lebih luas dari yang seharusnya ditunjuk oleh perda. Dengan demikian harus ditegaskan sekali lagi bahwa studi atau pengkajian potensi pajak dan retribusi daerah itu harus didasarkan pada dua komponen pembatas, yaitu peraturan daerah tentang pajak dan retribusi daerah serta data obyek pajak dan retribusi daerah. Sehingga dalam studi potensi ini akan mendapatkan nilai estimasi potensi pajak daerah atau retribusi daerah yang diteliti. Contoh Analisis Potensi Pajak Daerah: Pajak Hotel Secara prinsip potensi pajak daerah merupakan perkalian dua unsur, yaitu obyek pajak dan tarif pajak. Tarif pajak berdasarkan peraturan daerah tentang pajak daerah itu. Sedangkan untuk obyek pajak, masing-masing jenis pajak daerah memiliki perilaku obyek pajak yang berbeda-beda. Pada kesempatan ini tidak akan dijelaskan analisis potensi untuk semua jenis pajak daerah, tetapi dicontohkan salah dua jenis pajak daerah dengan harapan dari proses dan hasil perhitungan ini akan didapat lesson learned untuk perhitungan potensi pajak-pajak daerah lainnya. Salah satu jenis pajak daerah yang menjadi contoh perhitungan estimasi potensi ini adalah Pajak Hotel.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah Analisis Potensi Pajak Hotel

185

Analisis potensi pajak hotel didasarkan pada perda tentang pajak hotel yang ada di suatu daerah dan data-data yang digali dari kondisi lapangan pajak hotel di daerah tersebut. Perhitungan Estimasi Potensi Pajak Hotel di Kabupaten Y. Data dan informasi yang dibutuhkan untuk analisis potensi pajak hotel itu adalah:

• Peraturan Daerah tentang Pajak Hotel di Kabupaten Y, yaitu
Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel.

• Landasan operasional penarikan pajak hotel yaitu Keputusan
Bupati Nomor 9 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel.

• Data jumlah hotel dan kamar hotel serta variabel-variabel hotel
lainnnya terlihat pada data 1, 2 dan 3. Dasar Hukum Pajak Hotel Penarikan Pajak Hotel di Kabupaten Y didasarkan pada Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel. Sedangkan landasan operasional penarikan pajak hotel tersebut dijabarkan dalam Keputusan Bupati Nomor 9 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pajak Hotel. Pengertian Pajak Hotel Pajak hotel adalah pungutan daerah atas pelayanan di hotel atau penginapan. Hotel atau penginapan diartikan sebagai bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap atau istirahat dalam jangka waktu tertentu dengan memperoleh pelayanan dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan yang menyatu yang dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran. Pengusaha Hotel atau penginapan merupakan perorangan atau badan yang menyelenggarakan usaha hotel atau penginapan untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya. Badan yang menyelenggarakan usaha hotel atau penginapan adalah suatu bentuk badan usaha

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

186

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Data 1. Jumlah Objek Pajak Hotel Kab. Y Tahun 2007 menurut Kecamatan
Jumlah Objek Pajak 1 Wr 0 2 Bl 0 3 Tw 0 4 Sk 3 5 Ngu 0 6 Bnd 0 7 Plk 0 8 Mjb 0 9 Grg 1 10 Bk 0 11 Gt 0 12 Kt 6 Jumlah 10 Sum ber : Lap. BPKD Kab. Y, 2007,diolah No Kecamatan

Data 2. Pengamatan Jumlah Hotel dan Rata-rata Kamar Kabupaten Y
No 1 2 3 4 5 Klasifikasi Bintang 2 Melati 3 Melati 2 Melati 1 Pondok Wisata Jumlah 1 2 1 2 2 8 Rata-rata Jum lah Kamar 30 90 20 48 38 226

Jum lah

Sumber : Data Primer, 2007, (diolah)

Data 3. Tingkat Hunian Kamar Hotel Waktu Ramai dan Sepi Hotel di Kabupaten Y
No Klasifikasi Tingkat Hunian Kamar (%) Ramai Sepi 100 61,7 100 70,6 30 10 9,58 10 16,25 20

1 2 3 4 5

Bintang 2 Melati 3 Melati 2 Melati 1 Pondok Wisata

Sumber : Data primer, 2007, (diolah)

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

187

yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer perseroan , lainnya, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya. Objek Pajak Hotel Objek pajak hotel adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di hotel atau penginapan. Secara rinci yang dimaksudkan pelayanan hotel atau penginapan itu meliputi:

• Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek, antara
lain hotel, motel, losmen, pesanggrahan (hostel), gubug/wisma pariwisata (cottage) dan rumah penginapan termasuk rumah indekos dengan jumlah kamar 10 (sepuluh) atau lebih;

• Pelayanan penunjang antara lain telepon, faximile, telex, foto
copy, pelayanan cuci, seterika, taksi dan pengangkutan lainnya, yang disediakan atau dikelola hotel atau penginapan;

• Fasilitas olah raga dan hiburan, antara lain pusat kebugaran
(fitness center), kolam renang, tenis, golf, karaoke, pub dan diskotik yang disediakan atau dikelola hotel atau penginapan;

• Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan
di hotel atau penginapan. Beberapa objek kegiatan pelayanan yang dikecualikan sebagai objek pajak hotel antara lain adalah :

• Penyewaan rumah atau kamar, apartemen dan fasilitas tempat
tinggal lainnya yang tidak menyatu dengan hotel atau penginapan;

• Pelayanan tinggal di asrama dan pondok pesantren; • Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan di hotel atau
penginapan yang dipergunakan oleh bukan tamu hotel atau penginapan dengan pembayaran;

• Pertokoan, perkantoran, perbankan. salon yang dipakai oleh
umum di hotel atau penginapan;

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

188

Visi Perekonomian Indonesia 2030

• Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh hotel
atau penginapan dan dapat dimanfaatkan oleh umum. Subjek Pajak Hotel Subjek pajak hotel ini adalah orang atau badan yang melakukan pembayaran atas pelayanan hotel atau penginapan. Wajib Pajak adalah pengusaha hotel atau penginapan. Tarif Pajak Hotel Dasar pengenaan pajak adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada hotel atau penginapan. Sedangkan tarif pajak hotel secara umum ditetapkan sebesar 10 persen (sepuluh persen), namun khusus untuk tarif pajak rumah indekos ditetapkan sebesar 5 persen (lima persen). Potensi Pajak Hotel Kondisi objek pajak pajak hotel di wilayah Kabupaten Y diperkirakan mencapai 10 obyek, yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Di wilayah Kecamatan Kt ada dua kelompok usaha hotel, yaitu kelompok hotel berbintang dan kelompok hotel melati. Jumlah hotel berbintang di Kt ada 1 (satu) buah hotel bintang 2. Sedangkan kelompok hotel melati terdiri dari: hotel melati 1, hotel melati 2 dan hotel melati 3. Selain kelompok hotel yang tersebut diatas masih ada kelompok lain yang termasuk dalam kelompok yang kena pajak yaitu pondok wisata. Jumlah semua objek pajak hotel di wilayah Kecamatan Kt adalah sebanyak 6 (enam) objek. Selain data 1 sampai dengan data 3 di atas, beberapa asumsi tambahan untuk perhitungan potensi pajak hotel ini: • Jumlah hari dalam 1 tahun : 360 hari. • Masa penggantian (turn over) : 1 x 1 hari • Timbangan untuk Rata-rata : Jumlah Kamar Hasil Estimasi potensi pajak hotel disajikan pada tabel 9 dan 10. Berdasarkan perhitungan , dapat diperoleh bahwa penerimaan omzet hotel pada waktu hari-hari ramai khususnya hari sabtu, minggu dan hari libur adalah sebesar Rp. 1.832.440.528,-. Kemudian , penerimaan omzet hotel pada hari-hasi sepi (di luar hari sabtu,

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

189

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 9. Hasil Perhitungan Estimasi Pajak Hotel Waktu Ramai

190

Visi Perekonomian Indonesia 2030

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Tabel 10. Hasil Perhitungan Estimasi Pajak Hotel Waktu Sepi

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

191

minggu, dan hari libur) adalah sebesar Rp.1.619.929.642,-. Sehingga estimasi penerimaan omzet hotel secara keseluruhan adalah: Omzet Hotel = Rp. 1.832.440.528,- + Rp.1.619.929.642,= Rp.3.452.370.170,Estimasi potensi pajak hotel dihitung berdasarkan rumus potensi, yaitu: Estimasi Potensi Pajak Hotel = Omzet Hotel x Tarif Pajak Hotel Estimasi Potensi Pajak Hotel = Rp.3.452.370.170,- x 10 perse Estimasi Potensi Pajak Hotel = Rp. 345.237.017,Coverage Ratio Pajak Hotel Selanjutnya, setelah diketahui estimasi potensi pajak hotel, dapat dihitung estimasi rasio cakupan (coverage ratio) penerimaan pajak hotel. Target penerimaan pajak hotel pada tahun 2007 (saat dihitung potensi) adalah sebesar Rp. 33.000.000,-. Sehingga jika realisasi pajak hotel tahun 2007 diasumsikan dapat tercapai 100 persen dari target yaitu sebesar Rp. 33.000.000,- maka tingkat efektivitas penerimaan pajak hotel yang diukur dengan rasio cakupan (coverage ratio) adalah sebesar:

CVR =

Re alisasiPajakHotel x100% PotensiPajakHotel Rp.33.000.000 x100% = 9.56% Rp.345.237.017

CVR =

Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan rasio cakupan (coverage ratio) penerimaan pajak hotel di Kabupaten Y sebesar 9,56 % atau sebesar 0,0956. Maka berdasarkan indeks coverage ratio tingkat pencapaian realisasi pajak hotel di Kabupaten Y ini masih tergolong tingkat pencapaian yang rendah.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

192 DAFTAR PUSTAKA

Visi Perekonomian Indonesia 2030

Brojonegoro, BPS (2006). Otonomi Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi: Hubungan antara Desentralisasi dengan Pertumbuhan Daerah. Jakarta. Deddy K.(2004). Peta Kemampyan Keuangan Provinsi Dalam Era Otonomi Daerah: Tinjauan atas Kinerja PAD, dan Upaya yang Dilakukan Daerah Direktorat Pengembangan Otonomi Daerah. Deddyk@bappenas.go.id Haryanto, J.T. (2004). Potret PAD dan Relevansinya terhadap Kemandirian Daerah. Hidayanto, D (2004). Sumber-sumber Penerimaan Daerah dan Kebijakan Pengawasan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal, Ditjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Depkeu, Jakarta. Kadjatmiko, (2004) .Mekanisme Penyaluran Dana Alokasi Khusus yang Transparan dan Efisien. Dalam Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal, Ditjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Depkeu, Jakarta. Nadeak, K. (2004). Otonomi Daerah dan Pertumbuhan Ekonomi. Sinar Harapan. Sunardiyanto, L. D. et. al. (2002). Analisis Realisasi dan Potensi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah serta Kapasitas Pinjaman Daerah: Studi Kasus di Kawasan Subosuka Wonosraten Provinsi Jawa Tengah. Laporan Penelitian Kerjasama Fakultas Ekonomi UNS Surakarta dengan University Research Corporation International University of Maryland at College Park. Sidik, M. ( 2002) Format Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah yang Mengacu pada Pencapaian Tujuan Nasional. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Public Sector Scorecard Jakarta. _____________ (2002). Optimalisasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Model Kinerja dan Potensi Pajak Daerah

193

Daerah. Makalah disampaikan pada Orasi Ilmiah dengan thema Strategi Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah melalui Penggalian Potensi Daerah dalam rangka Otonomi Daerah, STIA LAN, Bandung. ______________ (2004). Prinsip dan Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di Berbagai Negara. Dalam Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal, Ditjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Depkeu, Jakarta. Sumardi, et.a l. (2001). Pengkajian Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sragen Tahun 2001. Laporan Penelitian Kerjasama LP2M UNS Surakarta dengan Pemerintah Kabupaten Sragen. ____________ (2004). Pengkajian Pengembangan dan Perhitungan Potensi Pendapatan Daerah Kota Dumai. Laporan Penelitian Kerjasama dengan Dinas Pendapatan Daerah Kota Dumai. ____________(2006). Pengkajian Potensi Pajak Hotel di Kabupaten Boyolali Tahun 2006. Laporan Penelitian Kerjasama PPEP FE UNS Surakarta dengan Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Boyolali. ____________(2007). Penyusunan Evaluasi Peraturan Daerah tentang Pajak Hotel di Kabupaten Boyolali Tahun 2007. Laporan Penelitian Kerjasama PPEP FE UNS Surakarta dengan Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Boyolali. ____________(2008). Studi Pengelolaan Potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Sukoharjo Tahun 2008. Laporan Penelitian Kerjasama dengan Bappeda Kabupaten Sukoharjo. Tarigan, A. (2004). Urgensi Penguatan Keuangan Daerah: Suatu Tinjauan terhadap Regulasi Daerah dan Implikasinya dalam Penyediaan Pelayan Publik.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

194

Visi Perekonomian Indonesia 2030

INDEKS

A
a theoritical approach 35 Akaike information criteria 38-39 akses sanitasi 105, 110-117

G
Garuda 20, 21,

H
Human Development Index (HDI) 58, 64, 105

B
Bank Indonesia (BI) 24, 27 basic need approach 106

I
impulse response 36, 40-41 indeks Foster-Greer-Torbecke 79 head count 79 poverty gap 79 Sen poverty 79 Williamson 63 India scenario 5 inflasi 43-44 infrastruktur 12 Inflation Targeting (IT) 31-33 input output analysis 96-97

C
China scenario 5, 6

D
Dana Alokasi Khusus (DAK) 49 Dana Alokasi Umum (DAU) 49-51 demografis 7, 210, 215 demokrasi 8, 150, 153 desentralisasi 15, 20, 21

E
Econometric Simulation System Model 121 elastisitas 124

K
kapitalisme semu 11 kemiskinan 10 72-77 absolut 78 garis 81 relatif 79 kuadran 126-128

F
filosofi 21 fiscal capacity 51-58 gap 51-58 need 51-58

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Indeks

195

L
London 5 Life expectancy rate 108

M
maritim 1, 24 mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter 31-33 Monetaris 33 Millenium Development Goals (MDGs) 108110, 119

presistent 77 cyclical 77 seasonal 77 accidental 77 proyeksi 43-44 Purchasing Power Parity 105 Physical Quality Life Index 106

R
RPJP 1, 2 retribusi daerah 149

N
New-Keynesian 33-34

S
samudra 20, 21 Schwarz Criteria 38-39 sentralisasi 15, 20,21 Shell Global Scenario 4 simulasi optimis 44 pesimis 44 skenario 4, 5, 6, 20,21, 23, Slovakia scenario 5 stabilitas harga 7 sistem keuangan 26 St. Louis model 34, 42, SVAR 35-43

O
One Stop Service (OSS) 25 optimal lag 38-39 output gap 36-39

P
pajak daerah growth ratio 151-155 collection ratio 160-163 contribution ratio 156-160 coverage ratio 163 PDRB 133, perencanaan tenaga kerja 121 perusahaan negara 12 poverty

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

196

Visi Perekonomian Indonesia 2030

T
transformasi ekonomi 1 8 tipologi 125

UU Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah No. 25/1999 15, 49 No. 33/2004 15

U
UU SPPN 2, 15 UU Pemerintahan Daerah No. 22/1999 15, 49 No. 32/2004 15

V
Visi Indonesia 1,4 Vector Autoregressions (VAR) 35

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

197

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->