Anda di halaman 1dari 15

HALAMAN JUDUL

Proposal Penelitian:
Perancangan Capability
Maturity Model untuk
Sustainable Manufacturing

S2 Teknik Industri ITS


Mata Kuliah Metodologi Penelitian
Pengajar: Maria Anityasari, Ph.D

Disusun oleh:
Akhmad Guntar | 2509.205.002
Mei 2010
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................................iii
DAFTAR TABEL.....................................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang..............................................................................................................1
1.2 Maksud dan Signifikansi Riset.....................................................................................2
1.3 Pertanyaan Riset...........................................................................................................2
1.4 Lingkup dan Batasan....................................................................................................2
1.5 Kontribusi Potensial......................................................................................................2
1.6 Sistematika Penulisan...................................................................................................2
BAB II METODOLOGI PENELITIAN....................................................................................3
2.1 Pengungkapan Gap, Kebutuhan dan Peluang...............................................................3
2.2 Perancangan Model Melalui Kajian Literatur dan Model............................................3
2.2.1 Alternatif Perancangan CMM................................................................................3
2.2.2 Perancangan SMCMM...........................................................................................4
2.2.3 Pengkajian Maturity Model for Green Industry.....................................................4
2.2.4 Pengadopsian Konsep SD ke dalam Area Proses..................................................4
2.2.5 Uji Kongruensi dan Koherensi Model...................................................................4
2.3 Studi Kasus...................................................................................................................5
2.4 Analisa, Kesimpulan dan Rekomendasi.......................................................................5
BAB III TINJAUAN CMM UNTUK SUSTAINABILITY MANUFACTURING.....................6
3.1 Motif dan Prinsip Dasar Pengembangan Model...........................................................6
3.2 Konstruksi Model SMCMM: Pilihan Representasi......................................................7
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................11
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Konstruksi SMCMM berdasarkan PM3 (Saco, 2008)..........................................................................9


DAFTAR TABEL

Tabel 1. Representasi kapabilitas SMCMM............................................................................................................8


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan kualitas hidup manusia merupakan salah satu motif utama dalam revolusi industri; ini
dilakukan salah satunya dengan meningkatkan kapabilitas manufaktur. Bahwa produksi massal membawa
konsekuensi pada penggunaan energi dan sumberdaya alam secara besar-besaran, pun juga termasuk buangan
yang dihasilkannya, ini lantas menjadi perihal yang patut jadi perhatian penting.
Paradigma manufaktur akhirnya pun bukan lagi sekedar mengarah pada bagaimana cara menghasilkan
produk seefisien mungkin; melainkan juga pada bagaimana cara memberi fungsi yang diminta konsumen sambil
meminimalkan konsumsi energi dan material [ CITATION STa04 \l 1057 ]. Sehingga demi mencapai maksud
tersebut, manajemen daur hidup produk dan inisiatif terkait sustainable development (SD) menjadi ulasan yang
amat krusial. Terbukti, saat ini sustainable development bukan lagi istilah yang sekedar merupakan konsumsi
pembicaraan profesor di perguruan tinggi dan juga para pemangku kebijakan. Hal ini seiring meningkatnya
kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan melalui kiprah industri [ CITATION Bra09 \l
1057 ]. Namun terlepas dari ketertarikan industri pada ulasan SD melalui semisal saja inisiatif Corporate Social
Responsibility (CSR), kesenjangan yang terjadi,baik dalam hal kesadaran maupun kesungguhan industri dalam
implementasi inisiatif SD, masih saja menjadi masalah yang cukup serius [ CITATION Org09 \l 1057 ].
Kabar baiknya, bahasan pelestarian lingkungan ini kemudian terbukti memiliki imbas baik pada tingkat
kepuasan pelanggan dan keuntungan perusahaan. Riset menunjukkan bahwa hasil penjualan produk ramah-
lingkungan meningkat sebesar $150 juta terhitung sejak 2000 hingga 2004; dan investasi di ranah tanggung
jawab sosial menjadi sektor layanan finansial yang paling cepat berkembang [ CITATION Mic07 \l 1057 ].
Dalam hal ini lah ISO 14000 dan LCA menunjukkan peran pentingnya. ISO 14000 merupakan standar
bagi organisasi untuk mendesain dan mengimplementasi sistem manajemen lingkungan. Motif utamanya adalah
untuk mempromosikan manajemen lingkungan yang lebih efektif dan efisien serta menyediakan perangkat yang
fleksibel dan berbasis sistem [ CITATION ISO10 \l 1057 ]. Namun ISO 14000 memiliki kelemahan yang cukup
serius: indikatornya yang kompleks susah untuk diukur, dengan tingginya biaya untuk indikator tertentu, serta
secara umum masih menyulitkan perusahaan dalam menerapkannya (Neto, 2006). Life Cycle Assessment (LCA)
merupakan cara investigasi dan evaluasi yang muncul sebagai jawaban atas kebutuhan akan pendekatan sistemik
untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan dampak di sepanjang rantai proses dan daur hidup produk
maupun jasa [ CITATION Ral09 \l 1057 ]. LCA telah mampu berikan sumbangsih yang luar biasa dalam
fungsinya untuk melihat dampak sosial maupun lingkungan. Namun LCA masih memiliki kekurangan, yakni
sifat kekurang komprehensivannya: berdasarkan model yang disampaikan oleh Westcamper (2000), tampak
bahwa LCA hanya berada di tahapan awal dari proses (yakni concept & design) dalam struktur LCM, dan masih
luput menyentuh tahap manufacturing & assembly. Selain itu, secara umum bisa dikatakan bahwa LCA
memiliki kompleksitas yang tinggi, mahal dalam biaya implementasi, serta sedemikian memakan waktu (Maria,
2009).
Artinya, terlepas dari telah besarnya sumbangsih ISO 14000 dan LCA, keduanya masih memiliki
kelemahan yang membuatnya tak mudah untuk diadopsi oleh kebanyakan perusahaan. Hal semacam demikian
terjadi karena bagi perusahaan kedua framework tersebut: (1) kurang mendorong terjadinya/tercapainya tindak-
pola terbaik mengingat besarnya biaya dan tingginya kompleksitas pengimplementasian model bersangkutan,
(2) kurang mampu memberi gambaran tentang area perbaikan praktis semenjak dini. Sementara itu, bagi
karyawan, kedua framework tersebut kurang bisa memotivasi personil dan karyawan untuk mencapai performa
SD yang lebih tinggi serta menginspirasi mereka untuk melakukan langkah-langkah kecil terkait inisiatif SD.
Keseluruhan kelemahan tersebut akan bisa teratasi manakala inisiatif SD dan secara khusus Sustainable
Manufacturing (SM) dirancang berdasarkan framework Capability dan Maturity, sebagaimana yang akan
ditunjukkan dalam studi ini.
Studi ini akan menyikapi permasalahan di atas dengan membuat sebuah Sustainable Manufacturing
Capabilily and Maturity Model (SMCMM). Capability and Maturity Model (CMM) adalah suatu model untuk
pengembangan proses di organisasi. Bagi dunia industri, bisa dikata CMM merupakan daya ungkit evolusioner
untuk memfasilitasi capaian proses yang matang [ CITATION Ada06 \l 1057 ]. Apa yang ada di dalamnya
adalah elemen esensial dari proses efektif dengan mendeskripsikan jalur pengembangan evolusioner mulai dari
kondisi ad hoc atau proses tak matang menuju proses yang berdisiplin dan matang dengan efektivitas dan
kualitas yang lebih baik [ CITATION Mar03 \l 1057 ]. Telah banyak organisasi menggunakan CMM ini untuk
menaksir proses pengembangan dan pemeliharaan, mengimplementasikan pengembangan, dan juga untuk
mengukur perkembangan proses. Sejak 1991, CMM telah dikembangkan untuk beragam ranah dan disiplin
ilmu. Beberapa yang paling menonjol semisal adalah model untuk rekayasa sistem, pengembangan perangkat

1
lunak, akuisisi perangkat lunak, pengembangan dan manajemen tenaga kerja, serta pengembangan proses dan
produk terintegrasi.

1.2 Maksud dan Signifikansi Riset


Maksud dari penelitian ini adalah untuk membuat model generik capability dan maturity tingkat makro
dalam konteks inisiatif Sustainable Manufacturing (SM) dengan unit of analysis industri secara umum
sedemikian rupa agar model ini bisa diadopsi/diaplikasikan di beragam jenis industri.
Saat ini model Capability & Maturity Model (CMM) dalam ranah SM belum banyak dieksplorasi oleh
para peneliti. Riset ini akan mengkontribusikan desain CMM dalam ranah SM dengan mempertimbangkan cara
perancangan beberapa model CMM terkemuka. Ini artinya, beragam implikasi desain berdasarkan keunikan
ranah SM dalam bentuk prinsip dasar, asumsi, bentuk implementasi, dan cara penaksiran juga akan diungkap.
Kajian dari beragam model CMM terkemuka tersebut juga akan menghasilkan rekomendasi terkait bagaimana
model ini bisa dikembangkan hingga mencapai tingkat kematangan tertentu hingga membuat model ini siap
diadopsi. Ini semua akan memberikan pijakan dan framework dasar yang kuat untuk pengembangan lebih lanjut
dari model ini ke depan.

1.3 Pertanyaan Riset


Pertanyaan riset yang akan dieksplorasi dan dibahas di dalam penelitian ini adalah:
 Bagaimanakah manfaat model capability dan maturity dalam konteks SM?
 Filosofi, prinsip dan cara pandang apakah yang bisa diadopsi dari CMM orisinil dan beragam model
turunannya?
 Bagaimanakah model generik capability dan maturity untuk konteks SM?
 Bagaimanakah CMM dalam ranah SM bisa menjawab beragam kelemahan dari ISO 14000 dan LCA?

1.4 Lingkup dan Batasan


Riset ini memiliki lingkup dan batasan sebagai berikut:
1. Model ini diarahkan pada pengidentifikasian kesiapan, penaksiran akan kondisi, serta pembangunan
kesadaran akan inisiatif SD; namun tidak untuk menyelesaikan masalah ataupun menyediakan
kerangka pengambilan keputusan; meskipun model ini akan memberi gambaran terkait pemrioritasan
inisiatif.
2. Penelitian ini tidak membahas bagaimana implikasi model yang diajukan terhadap inisiatif CSR
perusahaan dan juga motif perusahaan untuk mempertahankan ataupun meningkatkan profit.

1.5 Kontribusi Potensial


Penelitian ini memiliki signifikansi yang besar bagi perusahaan dan juga pemerintah. Perusahaan akan
bisa menggunakan model ini untuk: (1) Menilai kesiapan diri dalam mengadopsi konsep/intervensi
sustainability tertentu, (2) Mendapatkan informasi terkait seberapa besar/banyak perubahan dan upaya yang
perlu dilakukan untuk pengadopsian tersebut, (3) Menjadikannya semacam daftar-periksa sehingga perusahaan
dapatkan gambaran terkait inisiatif SD manakah yang perlu terlebih dahulu diadopsi, baik berdasarkan prioritas
kepentingan dan juga ketersediaan sumberdaya, (4) Membantu temukan gambaran area-perbaikan-praktis
semenjak awal beserta prioritasnya masing-masing, (5) Membantu beralih dari pendekatan SD yang reaktif
menuju yang proaktif.
Sementara itu, pemerintah bisa menggunakan model ini untuk: (1) Menjadikannya sebagai standar atau
baseline performa untuk mengategorikan perusahaan berdasarkan performa maturity-nya, (2) Membantu dalam
pembuatan semacam panduan dan kurikulum terkait penerapan inisiatif sustainability, (3) Menggunakannya
sebagai dasar dalam menetapkan acuan terkait batas maturity minimum semacam apakah yang harus dipenuhi
oleh perusahaan, (4) Menggunakannya sebagai salah satu acuan untuk membuat mekanisme reward and
punishment kepada perusahaan terkait implementasi SD.

1.6 Sistematika Penulisan


Studi ini disusun ke dalam tujuh bab. Bab I mendeskripsikan permasalahan yang melatarbelakangi studi,
maksud dan signifikansi studi, serta pernyataan masalah berikut lingkup dan batasannya. Setelah itu dipaparkan
kontribusi potensial khususnya demi penelitian lanjutan dan ditutup dengan sistematika penulisan. Bab II
mengulas tentang metodologi penelitian. Bagian ini disampaikan di awal untuk memberi kerangka peninjauan
dari beragam varian model CMM. Bab ini akan dilanjutkan oleh Bab III yang mengkaji beberapa model CMM.
Bab IV akan mengulas secara mendalam tentang bagaimana model makro dari SMCMM. Bab V akan

2
memvalidasi model dalam bentuk studi kasus di dua kategori industri; besar dan kecil. Bab VI akan
mendiskusikan analisa model atas studi kasus, yang akan diakhiri dengan Bab VII dalam bentuk paparan
temuan, simpulan dan rekomendasi.

2 BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
Popularitas CMM ditunjukkan dengan bukti bahwa saat ini jumlah maturity model telah berada dalam
kisaran 100 hingga 200 [ CITATION Rob08 \l 1057 ]. Dengan demikian, ada banyak maturity model yang bisa
dijadikan inspirasi dalam hal bagaimana model bersangkutan dibangun. Di satu sisi ini menjadi hal yang
terbilang baik, namun di sisi lain pengadopsian dari beragam model secara acak dan tak terarah hanya akan
menjadikan model turunan yang hendak dibangun menjadi lemah secara konstruksi. Oleh karenanya, peninjauan
literatur harus sejak awal didasarkan pada kerangka yang tajam dan kuat.
Studi ini dibangun melalui metodologi sebagai berikut:

2.1 Pengungkapan Gap, Kebutuhan dan Peluang


Apa yang menjadi dasar perancangan maturity model–aspek “the why”–untuk ranah SM menjadi ulasan
yang penting untuk dibahas di awal. Untuk ini, studi atas maturity model di ranah berbeda perlu dilakukan
dalam rangka mempelajari bagaimana justifikasi atas perancangan model tersebut dibuat.
Industrial Process Maturity Model [ CITATION Ada06 \l 1057 ] adalah maturity model di ranah
pengembangan proses industri manufaktur. Model ini didasarkan pada analisa tentang betapa beragam model
pengembangan proses yang telah ada saat ini masih belum mempertimbangkan konsep kematangan sebagai
basisnya. Framework pengembangan proses yang dianalisa antara lain: Total Quality Management (TQM),
Business Process Re-Engineering (BPR), Business Process Improvement (BPI), Six-Sigma, dan Benchmarking.
Namun Doss (et all, 2006) menghabiskan energi yang terlalu besar pada pengevaluasian kesemua framework
tersebut sehingga maturity model dalam studinya baru sampai pada tahap yang sangat makro dan belum siap
implementasi. Kontribusi terbesarnya masihlah sebatas pada model yang bersifat makro tersebut dan juga bukti
konfirmasi: bahwa maturity model dalam konteks pengembangan proses bisnis memang perlu dirumuskan.
Studi perancangan SMCMM ini mengevaluasi dua framework besar, yakni ISO 14000 dan LCA,
menunjukkan kelemahan mereka dan langsung melanjutkan pada perancangan maturity model. Artinya, kajian
sangat mendalam terkait lebih banyak lagi framework SD yang telah ada tidaklah dilakukan untuk memberikan
ruang bahasan lebih besar pada perancangan maturity model hingga tingkatan siap implementasi. Bahwa SD
membutuhkan sebuah model berbasis maturity, hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa ISO 14000 dan LCA
tidak dibangun atas dasar filosofi maturity maupun capability. Selain itu, telah adanya maturity model untuk
green industry juga menjadi justifikasi bahwa studi tentang pengembangan maturity model di ranah SD memang
diperlukan. Lebih jauh lagi, justifikasi ini juga diperkuat dengan temuan Sarshar et al. (1999) dalam
perancangan SPICE, maturity model untuk industri konstruksi; bahwa konsep CMM memiliki sifat generik yang
membuatnya amat feasible untuk diterapkan di ranah manapun.

2.2 Perancangan Model Melalui Kajian Literatur dan Model

2.2.1 Alternatif Perancangan CMM


Sebagai suatu model yang terbilang sukses, CMM telah banyak diadopsi oleh beragam ranah industri sebagai
framework yang bersifat evolutif untuk pengembangan proses dan juga sebagai perangkat penilaian bagi
kematangan perusahaan. Setidaknya terdapat tiga cara untuk merancang suatu maturity model:
 Dengan melakukan survei terhadap para pengguna potensial model nantinya
Hal ini dilakukan karena: pertama, untuk mengkonfirmasi apakah betul suatu maturity model bisa
diterapkan di ranah yang diharapkan, serta kedua, untuk mengetahui seberapa jauh CMM bisa dikontekskan di
ranah tersebut. Cara ini digunakan semisal oleh Doss (2006) dalam merancang Industrial Process Maturity
Model (IPMM) yang mana menggunakan survei terhadap perusahaan besar dari Forbes 500–yang telah
memiliki sistem dan proses yang terbilang mapan. Ini lantas membuat IPMM kurang sesuai untuk diaplikasikan
di industri kecil, dan ini telah diakui oleh sang peneliti.
Sementara itu, SMCMM adalah model yang dimaksudkan untuk bisa diaplikasikan di industri besar
maupun kecil. Oleh karenanya, survei terhadap perusahaan yang telah mapan bukanlah cara yang tepat. Namun
bahkan ketika SMCMM ini hanya dimaksudkan untuk perusahaan besar sekalipun, survei tetap bukan
merupakan cara yang tepat untuk dilakukan. Hal ini mengingat secara umum SD bukanlah ulasan yang sangat
menarik perhatian bagi kebanyakan organisasi, terlebih karena inisiatif SD dianggap sebagai bentuk investasi
yang kurang relevan bagi peningkatan profit organisasi. Bahkan semenjak awal, tingkat kesadaran dan

3
awareness terhadap ulasan ini masih cukup rendah, sehingga penggunaan survei untuk merumuskan konstruksi
dasar dari SMCMM tidak akan membawa hasil efektif.

 Dengan langsung mengadopsinya dari CMM, tanpa meninjau model turunannya


Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Sashar (1999) dalam merancang SPICE, maturity model
untuk industri konstruksi. SPICE juga menggunakan kuesioner sebagaimana IPMM, namun ini tidak
dimaksudkan untuk menjustifikasi tentang pentingnya pembuatan maturity model di industri konstruksi terlebih
untuk mengembangkan maturity model itu sendiri. SPICE menggunakan survei tak lain untuk membangun
awareness akan keberadaan model serta untuk meminta masukan terkait penyesuaian isi model terhadap
konteks industri konstruksi dari model dasar yang telah dirancang oleh tim perumus. Tim perumus ini
mengembangkan SPICE dari CMM orisinil dengan menyesuaikan terminologinya ke dalam konteks industri
konstruksi.
 Dengan melakukan kajian dari beberapa model CMM
Ini adalah cara yang digunakan dalam studi ini, yang akan mengkaji maturity model orisinil (CMM dan
CMMI) dan beragam model turunannya, baik yang telah diaplikasikan maupun yang baru sekedar dimodelkan.
Dalam cara ini, kongruensi model dan koherensi ide dari model amat penting untuk diperhatikan.

2.2.2 Perancangan SMCMM


Studi ini akan mengkaji beragam literatur penelitian dan juga model yang dipublikasikan tidak sebagai
karya penelitian –sedemikian rupa tidak tampak method pengembangannya. Awalnya, model orisinil (CMM dan
CMMI) yang berasal dari ranah perangkat lunak akan dikaji dalam hal motif penciptaan, filosofi dasar dan
secara umum konstelasi pemikiran yang melandasinya. Hal ini dilakukan untuk memahami landasan berpikir
dan arah pengembangan maturity model di ranah selain pengembangan perangkat lunak.
Setelah itu, beragam maturity model turunan akan ditinjau dalam aspek amatan berikut ini:
 Latar belakang dan motif perancangan. Hal ini akan berpengaruh pada premis, prinsip, dan asumsi dasar
yang melandasi perancangan suatu maturity model hingga bagaimana model tersebut diaplikasikan.
 Method pengembangan, yang secara langsung berpengaruh pada bagaimana maturity model dirancang.
 Konstruksi model, yang meliputi: (1) representasi atau cara pengadopsiannya, termasuk bagaimana model
levelisasinya, (2) sistem penilaian (scoring) setiap satuan area proses, yakni terkait bagaimana gradasi
nilainya serta dengan cara apa nilai tersebut didapatkan.
 Pengembangan model lebih lanjut; yakni bagaimana model tersebut dilempar ke komunitas sasaran serta
bagaimana model tersebut dimatangkan hingga berada dalam kondisi yang lebih siap pakai.

2.2.3 Pengkajian Maturity Model for Green Industry


Saat ini setidaknya telah terdapat dua maturity model untuk SD yang keduanya terpublikasikan sebagai
draft, yakni Green Business Maturity Model yang dikembangkan oleh Green Computing Impact Organization
& Object Management Group (2009) dan Sustainable Manufacturing Maturity Model yang dikembangkan oleh
National Institute of Standards and Technology (2010). Studi ini akan mengkaji kedua model tersebut dalam hal
lingkup, cara pelevelan, dimensi, dan deliverable yang dihasilkan. Semua itu akan menjadi pertimbangan dalam
membuat rancangan SMCMM. Dalam bahasan ini juga akan disampaikan bagaimanakah posisi SMCMM
dibanding kedua maturity model tersebut.

2.2.4 Pengadopsian Konsep SD ke dalam Area Proses


Area proses adalah elemen penting dalam suatu maturity model untuk membuat model bersangkutan
bisa diaplikasikan secara praktis. Area proses dalam SMCMM akan diisi oleh daftar-periksa dan tindak pola
terbaik di ranah SD; beberapa bisa diadopsi secara langsung, beberapa lagi akan disesuaikan dalam hal
pengkategorisasian dan pembuatan ulang kalimat-kalimatnya.

2.2.5 Uji Kongruensi dan Koherensi Model


Sebagai model yang dibangun atas pengadopsian banyak konsep dan maturity model yang telah ada,
maka uji koherensi dan kongruensi dari model SMCMM ini harus dilakukan. Studi ini akan terlebih dahulu
melakukan uji kongruensi untuk kemudian dilanjutkan dengan uji koherensi. Apa yang dimaksud dengan
kongruensi dalam konteks studi ini adalah terkait seberapa jauh model yang dibangun menyerupai model CMM
orisinil dalam beragam aspeknya. Sehingga termasuk dalam hal ini adalah apakah elemen-elemen dasar yang
harusnya dimiliki oleh sebuah maturity model juga terdapat dalam SMCMM. Kemudian, apa yang dimaksud
dengan koherensi adalah adanya keterhubungan antar elemen konstruksi model yang bersifat terurut, logis dan
konsisten secara estetis. Hal ini penting untuk dilakukan karena setiap maturity model turunan dibangun atas
prinsip, asumsi, dan premis yang bisa jadi amat berbeda satu sama lain.

4
2.3 Studi Kasus
Studi kasus adalah sebuah studi yang memilih sebuah atau beberapa saja kasus dalam konteks kehidupan
nyatanya masing-masing, yang darinya bisa didapat skor untuk dianalisa secara kualitatif [ CITATION Jan07 \l
1057 ]. Apa yang dimaksud dengan "studi" di sini adalah proyek riset yang berorientasi pada teori maupun
praktek, dan "kasus" di sini berarti satuan obyek studi. Sementara itu "konteks kehidupan nyata" berarti obyek
satuan studi bersangkutan terjadi di kenyataan tanpa adanya manipulasi (sang peneliti). Dalam studi bisnis,
studi kasus telah lumrah digunakan untuk mendapatkan pencerahan dari suatu perkara, situasi manajemen, dan
juga teori baru. Studi kasus merupakan method yang bermanfaat untuk wilayah riset yang masih baru dan juga
untuk pengembangan teori [ CITATION Reb04 \l 1057 ]. Oleh karenanya, studi kasus ini merupakan cara yang
sesuai untuk digunakan dalam pengembangan CMM di ranah SD.
Bagaimana memilih kasus yang tepat adalah salah satu perihal terpenting dalam method studi kasus.
Kriteria pemilihan studi kasus sebagaimana yang disampaikan oleh Marschan-Piekkar et al. (2004): (1)
putuskan target populasi, (2) pastikan populasi tersebut bisa diakses oleh peneliti, (3) pastikan populasi yang
dipilih secara konsisten bersesuaian dengan kriteria permasalahan riset, kerangka teoritis dan variabel yang
digunakan, (4) pertimbangkan ketersediaan sumberdaya seperti uang dan waktu.
Dalam penelitian ini, studi kasus untuk SMCMM dilakukan terhadap dua kategori industri: besar dan
kecil. Mewakili industri besar adalah Pembangkit Jawa Bali Unit Pembangkit Brantas (UP Brantas) di
Karangkates yang mengoperasikan seluruh pembangkit listrik tenaga air di Jawa Timur. Perusahaan ini dipilih
karena kematangan proses bisnisnya dan juga karena telah menerapkan framework pengukuran performa
Balanced Scorecard dengan indikator performa terkait inisiatif SD di dalamnya. Selain itu, UP Brantas juga
memiliki nilai ramah lingkungan yang terformalkan dalam budaya perusahaan. Mewakili industri kecil adalah
usaha kerajinan batik “Kampung Batik Laweyan” di Solo. Industri ini dipilih karena telah menjalankan inisiatif
pelestarian lingkungan dalam bentuk semisal penggunaan bahan pewarna alam dedaunan dan juga pembuatan
instalasi pengolahan air limbah [ CITATION KBR \l 1057 ].
Selain memenuhi kriteria yang disampaikan Marschan-Piekkar et al. (2004), kedua perusahaan tersebut
dipilih karena telah memiliki awareness terkait SD dan telah melakukan rangkaian inisiatif SD dalam rentang
waktu lebih dari setahun. Di satu sisi, studi kasus akan melakukan pencocokan (matching) antara satuan area
proses SMCMM dengan apa yang sudah terdapat di perusahaan bersangkutan. Ini adalah sebagaimana layaknya
proses assessment yang dilakukan dalam pengadopsian CMM dan CMMI. Di sisi lain, SMCMM juga akan
menerima masukan satuan area proses dari perusahaan bersangkutan yang belum tercakup di dalam model, yang
mana cara ini tentu sangat berguna bagi pengembangan sebuah model baru. Oleh karenanya, dengan
pertimbangan tersebut, studi kasus dalam studi ini tidak dikenakan pada perusahaan yang masih belum aware
terkait SD dan juga belum melakukan inisiatif SD.

2.4 Analisa, Kesimpulan dan Rekomendasi


Selain hasil penaksiran, studi kasus yang dilakukan akan memberikan beragam umpan balik bermanfaat
terkait semisal tentang seberapa mudah model tersebut diaplikasikan untuk perusahaan sasaran, apakah terdapat
area proses yang belum terfasilitasi secara dominan sehingga mempengaruhi performa kematangan perusahaan
sasaran, ataupun umpan balik yang lain. Semua hasil penaksiran dan umpan balik akan dianalisa untuk
kemudian menghasilkan pembenahan langsung terhadap model, manakala memang diperlukan.
Penelitian ini akan diakhiri dengan kesimpulan dan ditutup dengan rekomendasi terkait bagaimana kerja
lanjutan atas studi ini, agar SMCMM bisa lebih berhasil memenuhi segala kontribusi potensial sebagaimana
yang dipaparkan di Bab 1. Peneliti juga akan memberikan rekomendasi terkait peluang kontribusi di luar
lingkup bahasan studi ini, semisal terkait bagaimana keluaran studi yang dimungkinkan dan saran dalam
mengembangkan aspek tindak pola yang bersifat umum dan spesifik dari SMCMM.

5
3 BAB III
TINJAUAN CMM UNTUK
SUSTAINABILITY MANUFACTURING
3.1 Motif dan Prinsip Dasar Pengembangan Model
Para peneliti telah menyadari bahwa penerapan framework maturity model di ranah selain perangkat
lunak membutuhkan beberapa penyesuaian. Pendekatan “one-size-fits-all” tidaklah berlaku mengingat setiap
kondisi yang menjadi konteks implementasi maturity model biasanya berbeda, demikian juga dengan dampak
yang dimungkinkan darinya[ CITATION Jam06 \l 1057 ]). Dalam maksud untuk merancang maturity model
untuk SM, hal ini menjadi amat penting untuk dipertimbangkan, karena motif dan prinsip dasar pengembangan
maturity model untuk SM berbeda dengan pengembangan maturity model pada umumnya.
Secara umum, pengadopsian CMM harus terlebih dahulu melalui penginterpretasian dan penyesuaian
berdasarkan keunikan kultur dan konteks organisasi [ CITATION Jud97 \l 1057 ]. Lebih jauh lagi, dalam
Capability Maturity Model Integration (CMMI), model pengembangan dari CMM, asumsi yang mendasari
adalah bahwa organisasi telah memiliki sendiri standar, proses dan prosedurnya masing-masing. Apa yang ada
di dalam CMMI dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh standar, proses dan prosedur yang telah ada, dan
bukannya untuk mendefinisikan yang baru [ CITATION Mar031 \l 1057 ]. CMMI dimaksudkan untuk
membantu organisasi meningkatkan kapabilitasnya agar mampu secara konsisten menghantarkan produk dan
jasa kepada pelanggan sebagaimana mereka menginginkannya, pada waktu yang mereka minta, dan harga yang
mereka perkenan untuk bayarkan (Entinex, 2009). Dalam konteks perancangan maturity model untuk SM, perlu
dicatat bahwa sejak awal motif dasarnya bukanlah berkisar di perihal penghantaran produk dan jasa; setidaknya
tidak sesederhana itu. Apa yang menjadi kepedulian di sini adalah bagaimana menghantarkan produk dan jasa
sedemikian rupa dalam cara-cara yang aman dan ramah lingkungan. Oleh karenanya, perlu dipahami juga
semenjak awal bahwa inisiatif SM tidak selalu berimbas positif pada peningkatan nilai sebuah produk/jasa.
Sementara itu, beragam maturity model dalam konteks sumber daya manusia [ CITATION Cur09 \l
1057 ], industri konstruksi [ CITATION Sar99 \l 1057 ], marketing [ CITATION Hut99 \l 1057 ], manajemen
proyek (Williams, 2000), dan optimasi proses bisnis (Susan & Matthew, 2008; Doss & Kamery, 2006);
semuanya didasarkan atas keyakinan yang sama: bahwa pengadopsian maturity model akan memberi imbalan
positif pada peningkatan profit organisasi, baik secara langsung ataupun tidak. Oleh karenanya, kesadaran untuk
mengimplementasikan best practice yang terkandung dalam maturity model telah terbentuk.
Dalam konteks maturity model untuk SM, kondisinya berbeda: inisiatif SM belum secara merata
dianggap sebagai suatu inisiatif yang menarik untuk diadopsi [ CITATION Org09 \l 1057 ] atau dengan kata
lain masih terdapat keengganan (atau ketidakpedulian) luar biasa bagi industri untuk mengimplementasikan
inisiatif SM. Bahwa inisiatif SM tidak lantas miliki imbas positif pada peningkatan profit organisasi, hal itu
memang menjadi salah satu penyebab. Namun kurang terinformasikannya pihak industri terkait inisiatif SM ini
juga perlu menjadi catatan tersendiri. Dalam maksud untuk membuat rancangan maturity model untuk SM,
perbedaan dalam hal motif dasr dan tingkat awareness ini kemudian menjadi faktor pertimbangan dalam
mengevaluasi beragam maturity model turunan. Implikasi langsung yang perlu dipertimbangkan adalah dalam
perihal fungsi CMM sebagai perangkat evaluasi.
CMM yang merupakan cikal bakal dari CMMI pada awalnya dimaksudkan sebagai perangkat evaluasi
obyektif atas kemampuan kontraktor pemerintah (departemen pertahanan) dalam menangani proyek perangkat
lunak berskala besar. Kondisi yang melatarbelakangi adalah proyek pengembangan perangkat lunak yang
menjadi kian kompleks, sementara begitu banyak proyek yang gagal karena belum berpengalamannya para
personil secara profesional. Latar belakang ini menunjukkan bahwa maturity pada level tertentu menjadi
prasyarat bagi perusahaan untuk terbilang layak untuk melakukan inisiatif bisnis tertentu.
Bamberger (1997), penggagas konsep CMM, menyatakan bahwa tidaklah kemudian perusahaan harus
berada di level tertentu terlebih dahulu untuk membuat pihak lain berkenan berbisnis dengannya. Namun pada
faktanya, kelahiran maturity model dipicu oleh adanya kebutuhan untuk menyaring perusahaan berdasarkan
tingkat kematangan prosesnya. Dengan kata lain, kondisi maturity sebuah perusahaan bisa dijadikan dasar untuk
menilai apakah perusahaan pantas untuk sekedar dipertimbangkan dan lebih jauh lagi lebih dipilih dari sekian
banyak yang lain.
Terry Hill (2000) menyatakan bahwa terdapat dua grup kriteria bagi perusahaan untuk bisa bersaing di
pasar yaitu order qualifiers dan order winners. Kedua kriteria ini berlaku untuk produk atau jasa keluaran,
namun bisa dikontekskan ke dalam proses penciptaan produk/jasa. Sehingga, order qualifiers bisa didefinisikan
sebagai karakteristik proses penghasil produk atau jasa yang dibutuhkan untuk membuat produk atau jasa

6
bersangkutan sekedar dilirik dan dipertimbangkan oleh konsumen. Sementara itu, order winners adalah
karakteristik proses yang bisa membuat produk atau jasa bersangkutan lebih dipilih daripada yang lain.
Sehingga minimal, perusahaan harus berhasil memenuhi order qualifiers untuk bisa sekedar bertahan di pasar.
Dalam konteks SM, kemampuan perusahaan untuk membuat suatu proses yang ramah lingkungan bisa dianggap
sebagai suatu order winners, terbukti bahwa konsumen–khususnya di negara maju—semakin miliki preferensi
kuat terhadap perusahaan yang memiliki produk dan proses yang ramah lingkungan [ CITATION Mic07 \l 1057
]. Hal semacam ini lah yang perlu disorot terang untuk dijadikan penarik perhatian dan memancing kemauan
perusahaan dalam menerapkan inisiatif SM.
Bamberger (1997) menyebutkan bahwa dua pertanyaan utama CMM adalah: (1) aspek enable:
bagaimana organisasi membuat tindak pola yang baik menjadi mungkin terjadi? (2) aspek evaluate: bagaimana
organisasi lakukan evaluasi terkait pola tindak yang baik tersebut? Maka inilah yang menjadi inti dari
kebanyakan fitur maturity model: adanya para enabler dan evaluator yang siap membantu untuk memastikan
bahwa apa-apa yang perlu dilakukan memang benar-benar dilakukan dan dilakukan dengan benar sejak awal
serta senantiasa dilakukan untuk seterusnya. Hal senada juga disampaikan oleh Kan (1995), dengan penekanan
bahwa CMM memiliki peran signifikan dalam mengarahkan SDM pada proses yang betul-betul penting. Maka
motif ini perlu diadopsi secara kuat dalam maturity model untuk SM; area proses, goal umum dan spesifik yang
terdapat dalam SMCMM harus miliki fungsi enable dan juga evaluate, serta membantu mengarahkan seluruh
personil perusahaan ke dalam proses yang betul-betul penting.
SMCMM didesain dengan premis bahwa tindak pola SM tidak akan berlangsung baik kecuali melalui
perubahan perilaku organisasi dalam maksud untuk mendukungnya. Dalam hal ini, SMCMM akan menyediakan
semacam roadmap untuk secara berkesinambungan mentransformasi organisasi dengan meningkatkan performa
tindak pola SM.
Pada umumnya, CMM dalam beragam konteksnya bisa dimanfaatkan sebagai framework yang terpisah
dari framework yang sudah ada atau berfungsi sebagai pelengkap (Doss et al, 2006). SMCMM, di sisi yang lain,
akan bisa berintegrasi dengan baik dengan framework semacam ISO dan Six Sigma.
Terhadap ISO 14000, SMCMM akan bersifat melengkapi. Dalam framework ISO, organisasi
dipersyaratkan untuk memiliki Standard Operating Procedure (SOP). Namun di sana tidak dipersyaratkan
bagaimanakah isi dari SOP-nya tersebut. Sementara itu, SMCMM akan mengatur SOP semacam apa yang harus
ada, yakni dalam bentuk required components dan expected components. Dalam ranah SM, rumusan semacam
ini menjadi amat penting justru untuk memberi gambaran bagi organisasi yang sama sekali belum pernah
menjalankan inisiatif SM. Sementara organisasi yang telah memiliki SOP bisa langsung menyesuaikan SOP
tersebut dengan kisi-kisi yang disediakan oleh SMCMM.
Terhadap Six Sigma, SMCMM memiliki sifat komplementer; dengan menawarkan pendekatan
kuantitatif untuk semisal mengukur tingkat cacat yang ada sehingga buangan bisa terkurangi. Lebih jauh lagi,
SMCMM akan memungkinkan adanya aktivitas pengujian yang bersifat rigorous sehingga bisa didapat data
metrik untuk digunakan sebagai input kuantitatif bagi Six Sigma.

3.2 Konstruksi Model SMCMM: Pilihan Representasi


CMM dan CMMI menyediakan dua cara yang berbeda untuk pengadopsian model, yakni yang
dinyatakan dalam bentuk representasi bertahap dan representasi berkelanjutan. Representasi bertahap
menawarkan cara yang sistematis dan terstruktur untuk pendekatan pengembangan proses secara bertahap dan
langkah per langkah. Pencapaian setiap tahap mengharuskan organisasi untuk terlebih dahulu mencapai
pengembangan yang mencukupi sebagai fondasi menuju tahap berikutnya [ CITATION Car10 \l 1057 ].
Sementara itu, representasi berkelanjutan menawarkan pendekatan pengembangan proses yang fleksibel. Suatu
organisasi bisa memilih untuk mengembangkan performa dari proses spesifik di mana masalah terdeteksi, atau
membidik beberapa area yang miliki keselarasan erat dengan tujuan bisnis, yang dalam SMCMM akan
diarahkan pada tujuan sustainability.
Representasi berkelanjutan akan sangat membantu organisasi yang telah memulai inisiatif sustainability
dan juga telah mengetahui betul wilayah proses manakah yang bermasalah untuk dibidik sebagai sasaran
pengoptimalan. Dengan demikian, representasi ini memberi keleluasaan bagi organisasi untuk mengembangkan
inisiatif sustainability di rangkaian proses yang berbeda dalam ritme yang juga berbeda. Artinya, organisasi bisa
memfokuskan alokasi sumberdayanya di satu atau beberapa saja proses sampai dia betul-betul menjadi optimal
tanpa harus mengimplementasi seluruh proses yang dipersyaratkan secara maturity. Dengan demikian,
organisasi bisa membidik terlebih dahulu proses yang memiliki nilai kembalian paling tinggi, atau yang paling
memungkinkan untuk dilakukan, atau yang paling memiliki risiko terkecil, sebelum beranjak ke proses yang
lain.
Konstruksi dari representasi berkelanjutan ini digambarkan pada Tabel 1. SMCMM memiliki deskripsi
levelisasi yang berbeda dari CMM dalam hal memulai levelnya dari kondisi awareness perusahaan atas inisiatif
SM, yang ini tidak terdapat dalam CMM. Sebagai model awal, SMCMM tidak mengadopsi level pengelolaan

7
secara kuantitatif sebagaimana yang terdapat di CMM, mengingat area proses yang diadopsi dari ranah SD akan
lebih banyak bersifat daftar periksa. Namun studi ini tetap mempertimbangkan level tersebut sebagai model
alternatif dengan implikasi naiknya jumlah level keseluruhan SMCMM dari yang awalnya lima menjadi enam.

Tabel 1. Representasi kapabilitas SMCMM

Level CMM Deskripsi SMCMM Deskripsi


0 Incomplete Proses belum dilakukan atau Primeval Telah terbangun
hanya sebagian saja pengetahuan dan kesadaran
dilakukan; goal spesifik akan inisiatif SM
belum semua terpenuhi, dan
tidak ada goal generik
1 Performed Goal spesifik telah tercapai Incomplete Proses belum dilakukan
atau hanya sebagian saja
dilakukan; goal spesifik
belum semua terpenuhi, dan
tidak ada goal generik
2 Managed Proses Level 1 yang telah Performed Goal spesifik telah tercapai,
miliki infrastruktur dasar terlepas dari bagaimana
untuk mendukung proses cara implementasinya
tersebut
3 Defined Proses Level 2 yang Managed Proses Level 2 yang telah
disesuaikan dengan miliki infrastruktur dasar
keunikan internal proses untuk mendukung proses
organisasi tersebut
4 Quantitatively Proses Level 3 yang Defined Proses Level 3 yang
Managed dikendalikan dengan disesuaikan dengan
statistika dan teknik keunikan internal proses
kuantitatif lain organisasi
5 Optimizing Proses Level 4 yang terus Optimizing Proses Level 4 yang terus
dikembangkan dengan dikembangkan dengan
inovasi inovasi

Dalam representasi bertahap atau yang lebih dikenal sebagai maturity model, pengembangan proses
dilakukan secara berangkai berdasarkan tingkat kematangannya yang kemudian diwakilkan dalam bentuk
angka. Sebuah tingkat kematangan terdiri dari tindak pola generik dan spesifik untuk serangkaian area proses
tertentu yang berimbas baik pada performa organisasi secara keseluruhan, yang dalam hal ini tentu diarahkan
pada konteks SM. Terkait apakah seluruh level harus terpenuhi oleh organisasi, cara pandang Susan (2008)
dalam maturity model untuk pengembangan proses bisnis baik untuk diadopsi: bahwa level tertinggi dari
maturity tidaklah harus diraih oleh organisasi. Hal ini didasarkan pada pertimbangan kondisi unik dari
organisasi, yakni kecukupan sumberdaya di saat tertentu sedemikian rupa menghasilkan diminishing returns
ketika masuk ke level tertentu. Manakala SMCMM diadopsi oleh pemerintah untuk kemudian dikenakan pada
industri, cara pandang yang digagas oleh Susan (2008) ini baik sekali untuk diadopsi. Dengannya, perusahaan
bisa memilih untuk –setidaknya untuk sementara—bercukup diri dengan semisal level 3 dan tidak memenuhi
seluruh area proses yang terdapat di level di atasnya melainkan cukup beberapa yang feasible saja.
  Sebagaimana umumnya sebuah model capability and maturity, SMCMM memiliki lima level kematangan
atau tingkatan bersifat evolutif, yang menunjukkan perkembangan tindak pola organisasi dalam hal proses SM.
Di setiap tingkat kematangan, sistem tindak pola baru ditambahkan di atas pijakan tindak pola dari tingkatan
sebelumnya. Dari cara pandang SMCMM, kematangan organisasi dibentuk dari tindak pola SM yang secara
rutin dilakukan di proses internal, dan tingkatan sampai seberapa jauh tindak pola tersebut telah diintegrasikan
ke dalam proses formal untuk meningkatkan kapabilitas organisasi.
Untuk level kematangan, untuk level 1 hingga 4, SCMM memiliki definisi yang sama dengan CMM.
Perbedaannya, SCMM memulai pelevelan dari 0, yang mencirikan tidak adanya inisiatif SM yang
diimplementasi. CMM dibangun dengan premis mendasar bahwa organisasi yang paling kacau sekalipun pasti
memiliki proses yang bisa diukur tingkat kematangannya [ CITATION Sus08 \l 1057 ]. Namun tidak lantas
inisiatif SM menjadi bagian dari proses bisnis yang telah ada. Oleh karenanya, level SMCMM harus dimulai
bukan dari “bagaimana” suatu proses SM dilaksanakan, melainkan “apakah” proses tersebut sudah
dilaksanakan.
Khusus dalam representasi bertahap, salah satu ulasan pentingnya adalah dalam hal konsiderasi
pelevelannya. Secara umum, SMCMM memiliki ciri yang sama dengan CMM: semakin rendah level

8
kematangan mengindikasikan inisiatif SM yang kian reaktif; semakin tinggi levelnya mengindikasikan inisiatif
SM yang kian preventif dan terukur.

Pelevelan ini sendiri bisa didasarkan dari banyak aspek. Semisal saja, empat aspek yang terdapat pada
The Integrated Assessment Model [ CITATION Ani09 \l 1057 ] dapat digunakan sebagai basis untuk
pelevelan;
 Aspek ekonomis: semakin rendah, semakin rendah biaya investasi yang dibutuhkan.
 Aspek teknis: semakin rendah, secara tata cara, inisiatif SM semakin mudah untuk diimplementasikan.
 Aspek lingkungan: semakin rendah, dampak/kemanfaatan bagi lingkungan kian kurang krusial.
 Aspek sosial: semakin rendah, secara perseptif inisiatif SM semakin dianggap tidak krusial oleh
masyarakat.
Selain keempat aspek di atas, yang berikut ini juga dapat digunakan sebagai dasar pelevelan;
 Aspek Teknologi: semakin rendah, semakin sederhana (non-sophisticated) teknologi yang dibutuhkan.
 Aspek Infrastruktur: semakin rendah, semakin tidak dibutuhkan investasi dalam bentuk infrastruktur.
 Aspek Prosedur: terkait dg telah ada/tidaknya SOP terkait inisiatif SM. Semakin rendah, semakin tidak
terdapat SOP terdefinisi.
 Aspek Fasilitasi/Formalisasi: terkait telah ada/tidaknya badan internal yang menangani inisiatif SM.
Semakin rendah mengindikasikan tidak adanya dukungan dalam bentuk penginstitusian formal.
Secara umum, pelevelan dalam maturity model didasarkan pada aspek yang dapat digradienkan, dalam
tingkatan paling tidak signifikan hingga paling signifikan. Dalam setiap inisiatif yang diadopsi dari model SD
untuk representasi bertahap SMCMM, akan ada panduan untuk beranjak ke level berikutnya, sebagaimana
maturity model untuk manajemen perubahan [ CITATION Pro04 \l 1057 ].
Jikapun pelevelan tidak/belum bisa dilakukan, apa yang penting adalah adanya pengelompokan atas
dasar kesamaan atribut tertentu. Cara ini semisal saja digunakan oleh Susan (2008) dalam merancang maturity
model untuk pengembangan proses, di mana dia membuat istilah "discipline" untuk delapan aspek maturity
dalam modelnya. SMCMM pun bisa membuat discipline semacam ini dengan mengadopsi model yang telah ada
di ranah SD; semisal saja model Basis Requirement for a Sustainable Urban Environment (Smith 1998;
Williams, Burton & Jenks 2000). Karena SMCMM juga dimaksudkan untuk diaplikasikan dalam representasi
berkelanjutan, maka model yang tidak secara gamblang tersusun dalam bentuk pemeringkatan juga bisa
diadopsi. Dalam hal ini, semisal saja Design for Environmental Checklists (Graedel, 2002). Model-model
tersebut kemudian akan tampak di SMCMM dalam bentuk rangkaian area proses.
Komponen area proses dalam model CMM biasanya diawali dengan deskripsi pernyataan tujuan, catatan
pengantar, dan area proses terkait. Pernyataan tujuan menjabarkan tujuan dari area proses bersangkutan, dan
catatan pengantar menginformasikan konsep utama yang tercakup dalam area proses tersebut. Dalam SMCMM,
hal ini perlu dilengkapi dengan penjelasan terkait bagaimana area proses bersangkutan berkontribusi dalam
inisiatif SD. Hal ini bisa ditunjukkan dalam bentuk hasil konkrit yang dihasilkan di aspek hilir ataupun
bagaimana posisinya dalam semesta proses penciptaan nilai bagi pelestarian lingkungan. Dengan kata lain, apa
yang coba diupayakan adalah mengkomunikasikan signifikansi dari area proses bersangkutan untuk membangun
buy-in lebih besar dari seluruh personil di organisasi.

100%
Optimizing
(Level 5)
90%

Defined 80%
(Level 4)
70%
Managed
Skor Maturity

(Level 3) 60%

50%
Performed
(Level 2)
40%
Incomplete
30%
(Level 1)

20%
Primeval
(Level 0) 10%

Area Proses Proses 1 Proses 2 Proses 3 Proses 4 Proses 5 Proses 6 Proses 7 Proses 8 Proses 8 Proses 9 HASIL

Poin Maksimum 100 80 75 60 85 75 100 60 60 85 780

Klaster Klaster A Klaster B Klaster C Klaster D Hasil

9
Gambar 1. Konstruksi SMCMM didasarkan atas PM3 (Saco, 2008)

Terkait konstruksi utama dari representasi bertahap, SMCMM mengadopsi konstruksi PM3 [ CITATION
Rob08 \l 1057 ] sebagaimana ditunjukkan di Gambar 1. Dalam model ini, area performa inisiatif SM akan
dikaitkan pada serangkaian klaster yang di dalamnya terdapat area proses. Area proses adalah kumpulan tindak
pola di suatu area yang manakala secara kolektif diimplementasikan, akan memenuhi serangkaian target yang
penting untuk membuat perubahan signifikan di area bersangkutan. Sebagaimana PM3 [ CITATION Rob08 \l
1057 ], setiap area proses tersebut akan ditaksir skornya berdasarkan panduan scoring dari Baldrige. Di sini,
setiap fitur akan mendapatkan skor (0 hingga 100 persen) dan keseluruhan proses akan mendapatkan weighted
score sebagai nilai hasil.
Terkait elemen penaksiran atau dasar penentuan nilai, SMCMM akan mengadopsi cara yang digunakan
oleh Hutchinson (1999) dalam merancang SPICE: yakni dengan melalui pengisian kuesioner, wawancara
dengan para personil kunci, serta review terhadap dokumen. SMCMM tidak mengadopsi elemen penaksiran dari
PM3 karena cara yang digunakan model ini masih bersifat sedemikian subyektif, yakni sekedar melalui
wawancara terhadap personil kunci tanpa adanya indikator pengarah. SMCMM juga tidak menggunakan elemen
penaksiran dari CMM ataupun CMMI; karena meskipun pada dasarnya sama dengan SPICE, namun cara yang
digunakan kedua model tersebut masih terlalu kompleks untuk sebuah model yang masih baru dikembangkan.

10
DAFTAR PUSTAKA
Bamberger, J., 1997. Essence of the Capability Maturity Mode. Software Realitie, IEEE Computer Society,
p.112.
Carnegie Mellon, 2010. CMMI Overview. [Online] Available at: http://www.sei.cmu.edu/cmmi/index.cfm
[Accessed 4 April 2010].
Chrissis, M.B., Konrad, M. & Shrum, S., 2003. CMMI®: Guidelines for Process Integration and Product
Improvement. Boston: Addison Wesley.
Curtis, B., Hefley, W. & Miller, S., 2009. People Capability Maturity Model version 2.0. Software Engineering
Process Management.
Doss, D.A. & Kamery, R.H., 2006. Adapting The Capability Maturity Model [CMM] To Unrelated Industries
As A Process Maturity Framework. In Allied Academies International Conference. New Orleans, 2006.
Academy of Educational Leadership.
Dul, J. & Hak, T., 2007. Case Study Methodology in Business Research. Elsevier.
EOCD, 2009. Sustainable Manufacturing and Eco-innovation: Towards a Green Economy. Policy Brief. EOCD
Observer.
Fearn, B., 2009. Behind the green façade – UK development and sustainability. [Online] (1) Available at:
http://www.estatesreview.com/news/environment/sustainability/article498.html [Accessed 7 May 2010].
Harrington, H., 1991. Business process improvement: The breakthrough strategy for total quality, productivity,
and competitiveness. New York: McGraw-Hill Publishing.
Horne, R., Verghese, K. & Grant, T., 2009. Life Cycle Assessment: Principles, Practice and Prospects.
Collingwood: CSIRO Publishing.
Hutchinson, A. & Finnemore, M., 1999. Standardized process improvement for construction enterprises. Total
Quality Management, p.p.S576.
Ibbs, C.W. & Kwak, Y.H., 2000. Assessing project management maturity. Project Management Journal, p.32.
ISO, 2010. ISO 14000 essentials. [Online] Available at: http://www.iso.org/iso/iso_14000_essentials [Accessed
18 Mei 2010].
Kan, S., 1995. Metrics and models in software quality engineering. New York: Addision-Wesley.
KBR, 2009. Radio Nederland Wereldomroep. [Online] Available at: http://www.rnw.nl/bahasa-
indonesia/article/revolusi-industri-batik-solo [Accessed 22 Mei 2010].
Maria, A., 2009. An Integrated Assessment Model for Reuse Strategy: Technical, Social, Environmental and
Economic Aspects. Deutschland: VDM Verlag.
Marschan-Piekkar, R. & Welch, C., 2004. Handbook of qualitative research methods for international business.
Massachusetts: Edward Elgar Publishing.
Mary Beth, C., Mike, K. & Sandy, S., 2003. CMMI®: Guidelines for Process Integration and Product
Improvement. Boston: Addison Wesley.
Muthu, S., Whitman, L. & Cheraghi, S.H., 1999. Business Process Reengineering: A Consolidated
Methodology. In The 4th Annual International Conference onIndustrial Engineering Theory, Applications and
Practice. San Antonio, 1999.
Persse, J.R., 2006. Process Improvement Essentials. Sebastopol: O'Reilly.
Prosci, 2004. Prosci’s Change Management Maturity Model. Colorado: Prosci.
S.Takta, F.Kimura, Houten, F.J.A.M.V. & E.Westkamper, 2004. Maintenance: Changing Role in Life Cycle
Management. CIRP, 53(2).
Saco, R.M., 2008. Maturity Models. Industrial Management, p.11.
Sarshar, M., Finnemore, M., R.haigh & J.goulding, 1999. SPICE: Is a Capability Maturity Model Applicable In
The Construction Industry? Durability of Building Materials and Components, pp.2836-43.
Susan, L. & Matthew, H., 2008. Maturity Model Overview: Application Organizations. Gartner.
Wilson, M., 2007. Growth Trends in The Green Maintenance Movement. SCA Tissue.

11