Anda di halaman 1dari 24

GIZI DAN PRODUKTIFITAS KERJA

LATIFA SEPTI

2010

BAB I
1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tema sentral pembangunan nasional dalam GBHN adalah peningkatan kualitas sumber
daya manusia ke arah peningkatan kecerdasan dan produktivitas kerja. Salah satu upaya yang
mempunyai dampak cukup penting terhadap peningkatan kualitas sumberdaya manusia adalah
upaya peningkatan status gizi masyarakat. Status gizi masyarakat merupakan salah satu faktor
yang menentukan kualitas hidup dan produktivitas kerja.
Sejalan dengan itu perlu perhatian terhadap masalah-masalah yang berhubungan dengan
kesehatan kerja serta faktor-faktor yang erat hubungannya seperti keadaan gizi golongan pekerja
serta cara-cara untuk memperbaiki status golongan ini semakin penting untuk diteliti.
Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai dengan
standar kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi. Penduduk yang
miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup.
Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka
waktu yang cukup lama. Bila kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi
yang nyata, tetapi akan timbul konsekuensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang
tidak disadari kalau hal tersebut karena factor gizi.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya tubuh melakukan pemeliharaan dengan
mengganti jaringan yang sudah aus, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum usia dewasa.
Agar tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah gizi setiap hari, yang
didapat melalui makanan. Diperkirakan 50 macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari
makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Bila jumlah yang diperlukan tidak terpenuhi
maka kesehatan yang optimal tidak dapat dicapai.
Seperti diketahui bahwa prevalensi anemi gizi, kekurangan vitamin B1 dan dalam
keadaan gizi kurang masih tinggi di Indonesia. Di antara beberapa masalah gizi utama yang
terdapat di Indonesia, maka anemia gizi terutama kurang zat besi adalah yang paling umum
dijumpai.

Prevalensi anemia gizi pada pekerja di Indonesia terdapat sebanyak 40 % dan banyak
dijumpai pada pekerja berat. Prevalensi anemia gizi ini tertinggi di antara negara-negara
2
ASEAN. Prevalensi yang tinggi membawa akibat yang tidak baik terhadap individu maupun
masyarakat, karena menurunkan kualitas manusia dan sosial ekonomi, serta menghambat
pembangunan bangsa. Hal ini erat hubungannya dengan konsekuensi fungsional anemia gizi
tersebut, yaitu menurunkan produktifitas kerja.
Berbagai penelitian baik yang dilakukan di luar negeri maupun di Indonesia
menunjukkan bahwa keadaan gizi kurang dapat menghambat aktivitas kerja yang akan
menurunkan produktivitas kerja. Hal ini disebabkan karena kemampuan kerja seseorang sangat
dipengaruhi oleh jumlah energi yang tersedia, dimana energi tersebut diperoleh dari makanan
sehari-hari dan bilamana jumlah makanan sehari-hari tak memenuhi kebutuhan tubuh, maka
energi didapat dari cadangan tubuh.
Kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal menimbulkan rasa
lapar dalam jangka waktu tertentu berat badan menurun yang disertai dengan kemampuan
(produktivitas) kerja. Kekurangan yang berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang dan
gizi buruk. Bila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi akhirnya akan
mudah terserang infeksi (penyakit).
Telah banyak dilaporkan tentang defisiensi zat gizi besi dapat menimbulkan gangguan
pada fungsi ketahanan immunologis, menurunkan konsentrasi belajar, kapasitas kerja dll.
Beberapa akibat defisiensi zat gizi besi pada orang dewasa pria dan wanita :
(a) Penurunan kerja fisik dan daya pendapatan; dan
(b) Penurunan daya tahan terhadap keletihan.

Prevalensi anemia gizi di Indonesia sangat tinggi dan berdasarkan hasil-hasil penelitian
yang telah dilakukan secara terpisah, anemia di Indonesia terutama disebabkan oleh defisiensi
gizi besi. Pada usia dewasa, faktor gizi berperan untuk meningkatkan ketahanan fisik dan
produktivitas kerja. Dan selanjutnya disebutkan bahwa tanpa mengabaikan arti penting dari
faktor lain, gizi merupakan faktor kualitas SDM yang pokok, karena unsur gizi tidak hanya
sekedar mempengaruhi derajat kesehatan dan ketahanan fisik, tetapi juga menentukan kualitas
daya pikir atau kecerdasan intelektual yang sangat esensial bagi kehidupan manusia. Dengan
status gizi yang rendah akan sulit untuk hidup secara sehat, aktif, dan produktif yang secara
berkelanjutan, dan akan menjadi penyakit turunan.

3
Manusia untuk kehidupannya membutuhkan energi, hal ini demi berlangsungnya proses-
proses dalam tubuhnya, seperti berlangsungnya proses peredaran/sirkulasi darah, denyut jantung,
pernapasan, pencernaan, proses-proses fisiologis lainnya, selanjutnya untuk melakukan berbagai
kegiatan atau melakukan pekerjaan fisik. Energi dalam tubuh manusia dapat dihasilkan dari
pembakaran karbohidrat, protein dan lemak, dengan demikian agar manusia selalu tercukupi
energinya diperlukan pemasukan zat-zat makanan yang cukup pula ke dalam tubuhnya. Manusia
yang kurang makan akan lemah baik daya kegiatan, pekerjaan-pekerjaan fisik maupun daya
pemikirannya karena kurangnya zat-zat makanan yang diterima tubuhnya yang dapat
menghasilkan energi.
Dan orang tidak dapat bekerja dengan energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari
makanan kecuali jika meminjam atau menggunakan cadangan energi dalam tubuh, namun
kebiasaan meminjam ini akan dapat mengakibatkan keadaan yang gawat, yaitu kurang gizi
khususnya energi.
Dalam hasil penelitiannya didapatkan bahwa pekerja pabrik yang mendapat makanan
siang dari kantin pabrik terlihat status gizinya lebih baik dibanding dengan yang makan siangnya
diserahkan pada masing-masing pekerja. Apabila makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi
yang dibutuhkan, dan keadaan ini berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme
dalam otak, berakibat terjadi ketidakmampuan berfungsi normal. Pada keadaan yang lebih berat
dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan pertumbuhan badan terganggu, badan lebih kecil
diikuti dengan ukuran otak yang juga. Lebih jauh disebutkan bahwa keadaan kurang gizi
menghasilkan kenaikan emosional daripada terhadap fungsi kognitif.
Kekurangan dan kelebihan zat gizi yang diterima tubuh seseorang akan sama mempunyai
dampak yang negatif, perbaikan konsumsi pangan dan peningkatan status gizi sesuai atau
seimbang dengan yang diperlukan tubuh jelas merupakan unsur penting yang berdampak positif
bagi peningkatan kualitas hidup manusia, sehat, kreatif dan produktif.

B. TUJUAN PENULISAN

1. Mendapat gambaran tentang defisiensi gizi besi serta dampaknya terhadap produktivitas
kerja.

4
2. Mendapat gambaran tentang defisiensi energi serta dampaknya terhadap produktivitas
kerja.
3. Mendapat gambaran tentang defisiensi vitamin B1 serta dampaknya terhadap
produktivitas kerja.

C. MANFAAT PENULISAN

1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi gizi kerja


2. Mengetahui macam gangguan gizi kerja
3. Mendapatkan pengetahuan tentang hubungan gizi dengan produktivitas kerja
4. Dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat dar makalah ini pada kehidupan
sehari-hari

BAB II
PEMBAHASAN

5
A. DEFINISI
1. Zat Gizi
Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai
nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk
memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari bagi para pekerja. Termasuk
dalam memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yaitu penggantian sel-sel
yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan
tubuh). Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan
menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya
memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi.

2. Gizi Kerja
Gizi Kerja adalah gizi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk melakukan suatu
pekerjaan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerjanya atau ilmu gizi yang diterapkan
kepada masyarakat tenaga kerja dengan tujuan untuk meningkatkan taraf kesehatan tenaga kerja
sehingga tercapai tingkat produktivitas dan efisiensi kerja yang setinggi-tingginya.
Penyakit Gizi Kerja merupakan penyakit gizi sebagai akibat kerja ataupun ada hubungan
dengan kerja.Pengelolaan makan bagi tenaga kerja adalah suatu rangkaian kegiatan penyediaan
makan bagi tenaga kerja di perusahaan yang dimulai dari rencana perencanaan menu hingga
peyajiannya dengan memperhatikan kecukupan kalori dan zat gizi, pemilihan jenis dan bahan
makanan, santasi tempat pengolahan dan tempat penyajian, waktu dan teknis penyajian bagi
tenaga kerja.
Produktivitas merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu
kehidupan hari esok harus lebih baik dari hari ini atau perbandingan antara output (keluaran /
jumlah yang dihasilkan) dengan input (masukan / setiap sumber daya yang digunakan).

B. ARTI PENTING GIZI KERJA


Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya yang mempunyai
peranan sangat penting dan menentukan adalah kecukupan gizi. Faktor ini akan menentukan
prestasi kerja tenaga kerja karena adanya kecukupan dan penyebar kalori yang seimbang selama
6
bekerja. Seseorang yang berstatus gizi kurang tidak mungkin mampu bekerja dengan hasil yang
maksimal karena prestasi kerja dipengaruhi oleh derajat kesehatan seseorang. Tenaga kerja yang
sehat akan bekerja lebih giat, produktif, dan teliti sehingga dapat mencegah kecelakaan yang
mungkin terjadi dalam bekerja.
Status gizi mempunyai korelasi positif dengan kualitas fisik manusia. Makin baik status
gizi seseorang semakin baik kualitas fisiknya. Ketahanan dan kemampuan tubuh untuk
melakukan pekerjaan dengan produktifitas yang memadai akan lebih dipunyai oleh individu
dengan status gizi baik. Selain itu, peranan gizi dengan produktifitas juga ditunjukkan oleh
Darwin Karyadi (1984) dalam penelitiannya dimana dengan penambahan gizi terjadi kenaikan
produktifitas kerja. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa para penyadap getah yang tidak
menderita anemia memiliki produktifitas 20% lebih tinggi daripada yang menderita anemia.
Pemberian diet yang mengandung kalori sejumlah yang diperlukan oleh pekerja berat dapat
meningkatkan produktifitasnya. Pada dasarnya zat gizi yang dibutuhkan oleh seseorang sangat
ditentukan oleh aktifitas yang dilakukannya sehari-hari. Makin berat aktifitas yang dilakukan
maka kebutuhan zat gizi akan meningkat pula terutama energi. Sebagai contoh, seorang pria
dewasa dengan pekerjaan ringan membutuhkan energi sebesar 2.800 kilokalori. Sedangkan
pekerja dengan pekerjaan yang berat membutuhkan 3.800 kilokalori.
Manfaat yang diharapkan dari pemenuhan gizi kerja adalah untuk mempertahankan dan
meningkatkan ketahanan tubuh serta menyeimbangkan kebutuhan gizi dan kalori terhadap
tuntutan tugas pekerja. Gizi kerja erat bertalian dengan tingkat kesehatan tenaga kerja maupun
produktivitas tenaga kerja yang berarti akan meningkatkan produktivitas perusahaan serta
peningkatan produktivitas nasional.

C. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEADAAN GIZI TENAGA


KERJA
1. Jenis kegiatan (ringan, sedang, berat) yang merupakan suatu beban kerja.
2. Faktor tenaga kerja, yang meliputi ketidaktahuan, jenis kelamin, umur, hamil, menyusui,
kebiasaan makan yang kurang baik, tingkat kesehatan karena tingginya penyakit parasit
dan infeksi oleh bakteri pada alat pencernaan, kesejahteraan tinggi tanpa perhatian gizi,
mengakibatkan terjadinya salah gizi biasanya dalam bentuk over nutrisi, disiplin,
motivasi dan dedikasi.

7
3. Faktor lingkungan kerja sebagai beban tambahan, yang meliputi fisik, kimia, biologi,
fisiologi (ergonomi) dan psikologi. Beban kerja dan beban tambahan di tempat kerja yaitu
tekanan panas, bahan – bahan kimia, parasit dan mikroorganisme, faktor psikologis dan
kesejahteraan.

Manusia memerlukan zat gizi yang bersumber dari makanan. Bahan makanan yang
diperlukan tubuh mengandung unsur-unsur utama seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin
dan mineral. Fungsi dari zat-zat gizi tersebut adalah sebagai sumber tenaga atau kalori
(karbohidrat, lemak dan protein), membangun dan memelihara jaringan tubuh (protein, air dan
mineral) dan mengatur proses tubuh (vitamin dan mineral). Secara khusus, gizi adalah zat
makanan yang bersumber dari bahan makanan yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan lingkungan kerjanya (Tjipta, 1990).
Selanjutnya hal-hal yang perlu diketahui dalam penyusunan menu bagi tenaga kerja adalah
1. Pola makan : kebiasaan makanan pokok
2. Kepercayaan atau agama : pantang makanan tertentu
3. Keuangan : ekonomis tetapi tetap bergizi
4. Daya Cerna : makanan yang biasa dimakan masyarakat sekitar
5. Praktis : mudah diselenggarakan
6. Volume : cukup mengenyangkan
7. Variatif : jenis menu bervariasi

Untuk mempertahankan hidup dan dapat melakukan pekerjaan setiap orang


membutuhkan tenaga. Tenaga tersebut diperoleh dari pembakaran zat-zat makanan yang
dikomsumsi dengan oksigen. Bila banyaknya makanan yang dikonsumsi setiap hari tidak
seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan maka tubuh akan mengalami gangguan kesehatan.
Masalah yang timbul akibat ketidakseimbangan antara makanan yang dikonsumsi dengan tenaga
yang dikeluarkan sangat beragam. Jika makanan yang dimakan berlebih dibanding tenaga yang
dikeluarkan maka tubuh akan menjadi gemuk, sebaliknya jika makanan yang dimakan kurang
maka tubuh akan menjadi kurus. Kedua masalah ini akan mempengaruhi derajad kesehatan
seseorang dan akhirnya akan berpengaruh pada efisiensi dan produktivitas kerja. Oleh karena itu

8
sedapat mungkin diusahakan agar jumlah makanan yang dikonsumsi baik dalam kualitas maupun
kuantitas sesuai dengan kebutuhan khususnya terhadap tenaga yang dikeluarkan.
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan masih terdapat beberapa pengusaha
beranggapan bahwa pemberian makan atau makanan tambahan berupa snack da istirahat pendek
akan meningkatkan pengeluaran biaya dan merugikan perusahaan. Namun jika dikaji lebih jauh,
sebenarnya banyak keuntungan yang diperoleh dengan pemberian makanan diperusahaan. Untuk
itu, diberikan beberapa saran kepada perusahaan untuk :
1. Menyediakan kantin perusahaan dengan tujuan meningkatkan dan memperbaiki gizi
tenaga kerja dan tanpa disadari memberiakn pengetahuan tentang gizi terhadap pekerja.
2. Pemberian makanan/snack secara Cuma-Cuma pada jam-jam tertentu dimana hal ini akan
memperlambat munculnya kelelehan, meningkatkan kecepatan dan ketelitian kerja dan
menghindari waktu istirahat curian.
3. Pemberian makanan tambahan dan adanya kantin di perusahaan dapat mencegah
terjadinya penyakit sehingga kehilangan waktu kerja karena absensi sakit dapat ditekan.
4. Mengadakan penyuluhan tentang kesehatan dan gizi secara teratur sehingga kesehatan
tenga kerja yang setinggi-tingginya dapat dicapai dan dipertahankan.
5. Menerapakan hasil penelitian tentang gizi kerja yang telah dilaukukan untuk
meningkatkan status gizi tenaga kerja dalam upaya peningkatan efisiensi dan
produktivitas kerja yang setinggi-tingginya.

Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya


pengetahuan dan penerapan gizi seimbang bagi tenaga kerja merupakan aspek yang mutlak harus
dilakukan. Dengan gizi seimbang maka kesehatan tenaga kerja dapat dipertahankan dan tenaga
kerja akan dapat bekerja dengan baik, tidak mudah lelah/capek dan mengurangi terjadinya
tingkat kesalahan. Hal ini berarti dapat mengurangi pemborosan terhadap bahan dari perusahaan
dan akhirnya akan dapat menambah keuntungan yang tinggi bagi perusahaan.
Rendahnya konsumsi pangan atau tidak seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi
mengakibatkan terganggunya pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan
tubuh terhadap serangan penyakit, serta menurunnya aktivitas dan produktivitas kerja.
Pada bayi dan anak balita, kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya
pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Bahkan pada bayi, gangguan

9
tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi
dan balita, dengan demikian, akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia.

D. MENU SEHAT DAN SEIMBANG GIZI KERJA


Syarat menu yang sehat dan seimbang antara lain:
1. Kualitas baik
Menu mengandung semua zat gizi (nutrient) sesuai dengan pedoman 4sehat 3sempurna
(makanan pokok, lauk pauk, hewani-nabti, sayur mayor, buah-buahan dan susu).
2. Kualitas cukup
Jumlah masing-masing zat gizi harus sesuai dengan kebutuhan vitamin dan mineral akan
cukup.
Catatan:
Kalsium :(mineral) fungsi sebagai produksi syaraf dan otot. Sumber: daging dan susu,
sayuran hijau, roti, ikan kecil yang dimakan beserta tulangnya.
Besi :(mineral) fungsi pembentukan hemoglobin. Sumber kacang, biji-bijian,
organ, daging merah, telur, sayuran hijau.
Karoten :(Vitamin A) fungsi proses penglihatan jaringan ikat, kulit. Sumber: hati,
telur, wortel, sayuran hijau, susu, keju.
Tiamin :(Vitamin B) fungsi metabolism karbohidrat, fungsi susunan syaraf pusat.
Sumber: daging, padi-padian, kacang-kacangan.
Riboflavin :(vitamin B12) fungsi metabolism karbohidrat,penglihatan, kulit. Sumber:
hati, susu, daging,dan sereal.
Niasin :(vitamin) metabolism karbohidrat dan lemak. Sumber: hati, daging, kacang
tanah, produk sereal.
3. Proporsi zat gizi yang mengandung energy harus seimbang, agar zat-zat gizi tersebut
dapatdigunakan di dalam tubuh dengan sempurna yaitu:
Protein : 12% - 15% untuk orang dewasa proporsi protein hewani dan nabati sama
banyakny. Sedangkan untuk anak-anak sebaiknya protein hewani 2 kali lebih
banyak dibanding protein nabati.
Lemak : 20% - 25%
Hidrat Arang : 60% - 70%

10
4. Syarat-syarat lain sesuai dengan pola makanan sehari-hari, tidak bertentangan dengan
kepercayaan,memenuhi selera makan dan lain-lain

TABEL 1. JUMLAH ZAT YANG SESUAI DENGAN KEBUTUHAN

Jenis Usia BB Kalor Puti Kalsi Bes Karot Tia Ribofla Nias Vit.
Kelamin (Th) (K i h u i en min vin in C
g) (Kcal) Telu (g) (g) (mg) (mg) (mg) (mg) (mg)
r
(g)
PRIA 20-39 55 2600 65 0,5 10 4000 1,0 1,4 17 60
40-59 55 2400 65 0,5 10 4000 1,0 1,3 16 60

>60 55 2400 65 0,5 10 4000 0,8 1,1 13 60

WANIT 20-39 47 200 55 0,5 12 4000 0,8 1,1 13 60


A
40-59 47 1900 55 0,5 12 4000 0,8 1,0 13 60

>60 47 1600 55 0,5 12 4000 0,8 0,9 9 60

HAMIL +100 +10 +0,5 +5 +0,2 +0,2 +2 +30


MENYU +600 +25 +0,5 +5 +0,4 +0,4 +5 +30
SUI

E. PERHITUNGAN KECUKUPAN ENERGI TENAGA KERJA


Ada 2 cara menghitung kecukupan gizi energi tenaga kerja, yaitu:
1. Dengan cara perhitungan sendiri
2. Dengan cara melihat hasil perhitungan dalam table

1. Dengan cara perhitungan sendiri


Kebutuhan energi seseorang ditentukan oleh : umur, jenis kelamin, berat badan(BB),
tinggi badan (TB) dan aktivitas jasmani /pekerjaan.

Kerja Ringan
11
Laki-laki : kerja kantor, dokter, guru, juru rawat, ahli hokum, kerja di took,
pengangguran
Wanita : kerja kantor, pekerjaan rumah tangga (dengan menggunakan mesin), juru
rawat,dokter.
Kerja Sedang
Laki-laki : industry ringan, mahasiswa, buruh bangunan, petani, nelayan (dengan
menggunakan mesin)
Wanita : industry ringan, mahasiswa, pekerjaan rumah tangga (dengan menggunakan
mesin)
Kerja Berat
Laki-laki : buruh bangunan, petani, nelayan (tanpa menggunakan mesin)
Wanita : petani tanpa mesin, atlit, penari
Kerja Berat Sekali
Laki-laki : tukang kayu,tukang besi (tanpa mesin)
Wanita : buruh bangunan
 Banyak Energi dari makanan untuk mencukupi kebutuhan tubuh, secara praktis dapat
ditentukan sebagai berikut:
 Kecukupan Energi (KE) = BB ideal x ∑kalor sesuai pekerjaan (tabel 2)
TABEL 2. KEBUTUHAN ENERGI PEKERJA SESUAI AKTIVITAS
AKTIVITAS KEBUTUHAN ENERGI (Kkal/BB/hari)
Santai 30
Kerja ringan 35
Kerja sedang 40
Kerja berat 50

 BB Normal = BB ideal – 10% (untuk usia <25 tahun)


 BB Normal = BB ideal + 10% (untuk usia >25 tahun)
Dikatakan kelebihan berat badan apabila BB=10% > BB normal
Dikatakan obesitas untuk wanita apabila BB=30% > BB normal
Dikatakan obesitas untuk pria apabila BB=25% > BB normal

2. Dengan cara melihat hasil perhitungan dalam table

12
Untuk mengetahui jumlah kalori pekerja dapat pula dilihat pada table 3 dibawah ini:

TABEL 3. KEBUTUHAN ENERGI PEKERJA


JENIS KERJA LAKI-LAKI WANITA
KEBUTUHAN KEBUTUHAN
ENERGI/HARI ENERGI/HARI
(Kkal/hari) (Kkal/hari)
Ringan 2400 2000
Sedang 2600 2400
Berat 3000 2600

F. DEFISIENSI GIZI BESI DAN PRODUKTIVITAS KERJA


Zat besi pertama kali diketahui sebagai salah satu konstituen jaringan tubuh pada tahun
1713, dan terdistribusi dalam tubuh, seperti pada haemoglobin, mioglobin,cadangan besi (hati,
limpa, sumsum tulang), besi transport (transperrin), cadangan besi (enzim), ferritin serum. Zat
besi dalam tubuh terutama terdapat dalam haemoglobin, hanya sebagian kecil terdapat dalam
enzim-enzim jaringan yaitu dalam setiap sel hidup dan penting untuk pernafasan sel. Jumlah zat
besi di dalam badan manusia yang mempunyai berat badan 70 kg adalah 3,5 g, 70% di antaranya
dalam bentuk haemoglobin. Senyawa zat besi lainnya dalam persentase yang sangat kecil
umumnya berada di dalam jaringan badan. Senyawa-senyawa tersebut antara lain myoglobin
jumlahnya kurang lebih 4 %, dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatif seperti
cytochromes, dan flavoprotein. Walaupun jumlahnya sangat kecil tetapi mempunyai peranan
sangat penting. Myoglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membrane masuk
ke dalam sel-sel otot. Cytochrome, flavoprotein, dan senyawa – senyawa mitochondria yang
mengandung zat besi lainnya, memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan
ATP. Oleh karena zat besi besar peranannya dalam kegiatan oksidasi menghasilkan energi dan
transportasi oksigen, maka tidak diragukan lagi apabila kekurangan zat besi akan terjadi
perubahan tingkah laku dan penurunan kemampuan bekerja.
Defisiensi besi biasanya terjadi dalam beberapa tingkat sebelum menjadi anemia.
Pertama adalah keadaan cadangan zat besi dalam hati menurun, tetapi belum sampai
penyediaan zat besi untuk pembentukan sel-sel darah merah terganggu. Tahap kedua
adalah terjadi defisiensi penyediaan zat besi untuk eritropoiesis, yaitu suatu keadaan di

13
mana penyediaan zat besi tidak cukup untuk pembentukan sel-sel darah merah, tetapi
kadar haemoglobin (Hb) belum lagi terpengaruh. Tahap ketiga adalah terjadi penurunan
kadar Hb, yang disebut anemia.
Hati merupakan cadangan besi terbesar pada manusia. Besi dilepaskan ke dalam plasma
oleh sel-sel (misalnya hepatosit atau makropag) dalam bentuk ferro, dan oleh enzim
ferroxidase/ceruloplasmin (yang mengandung Cu) dioksidasi menjadi bentuk ferri, yang
kemudian akan berikatan dengan transferrin. Dalam keadaan defisiensi Cu, seseorang dapat
menderita anemia walaupun cadangan besinya cukup. Setiap hari ada sejumlah besi yang hilang
melalui urine, tinja, keringat, dan deskuamasi sel kulit, rambut dan kuku yang bervariasi dari 0,2
mg – 0,5 mg/hr.
Berdasarkan perkiraan bahwa 10 % zat besi yang dalam makanan dapat diabsorpsi.
Natonal Research Council menganjurkan angka kecukupan gizi (AKG) zat besi sehari – hari
untuk remaja dan orang dewasa adalah 18 mg.
Kekurangan zat besi menyebabkan kadar haemoglobin di dalam darah lebih rendah dari
normalnya, keadaan ini disebut anemia, 99 % dari anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi.
Selain itu, hal itu akan menurunkan kekebalan tubuh sehingga sangat peka terhadap serangan
bibit penyakit.
Zat besi merupakan komponen haemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen di
darah ke sel-sel yang membutuhkannya untuk metabolisme glukosa, lemak, dan protein menjadi
energi (ATP). Besi juga merupakan bagian dari mioglobin yaitu molekul yang mirip
haemoglobin yang terdapat di sel-sel otot, yang juga berfungsi mengangkut oksigen. Mioglobin
yang berkaitan dengan oksigen inilah membuat daging menjadi merah. Di samping, sebagai
komponen haemoglobin dan mioglobin, besi juga merupakan komponen dari enzim oksidasi,
yaitu sitokrom oksidasi, xanthine oksidase, suksinat dehidrogenase, katalase, dan peroksidase.
1. Fungsi utama zat besi bagi tubuh
Adalah membawa (sebagai carrier), oksigen dan karbondioksida, serta untuk
pembentukan darah (haemoglobin). Fungsi lainnya antara
lain sebagai bagian dari enzim, untuk produksi antibodi, dan untuk penghilangan (detoksifikasi)
zat racun di dalam hati. Lebih jauh, disebutkan oleh Deddy Muchtadi (2001) sebagai berikut.
a. Pengangkutan (carrier) O2 dan CO2

14
Zat besi yang terdapat dalam haemoglobin (pigmen darah merah) dan mioglobin
(pigmen daging) berfungsi untuk mengankut O2 dan CO2, sehingga secara tidak
langsung zat besi sangat esensial untuk metabolisme energi.
b. Pembentukan Sel Darah Merah
Hemoglobin(Hb) merupakan komponen esensial sel-sel darah merah (eritrosit).
Eritrosit dibentuk dalam sumsum tulang. Bila jumlah sel darah merah berkurang,
hormone eritpoietin yang diproduksi oleh ginjal, akan menstimulir pembentukan sel
darah merah. Karena sel darah merah tidak mengandung inti sel (nucleus), maka sel
tersebut tidak dapat mensitesis enzim untuk kelangsungan hidupnya. Kehidupan sel
darah merah hanya sepanjang masih terdapatnya enzim yang masih berfungsi (untuk
membawa O2 dan CO2), dan biasanya hanya sekitar 4 bulan. Kecepatan penghancuran
sel darah merah akan meningkat bila tubuh kekurangan vitamin C, vitamin E atau
vitamin B12 (yang membantu pembentukan sel-sel darah merah). Karena kehidupan
eritrosit hanya berlangsung sekitar 120 hari, maka 1/120 sel eritrosit harus diganti
setiap hari, yang memerlukan sekitar 20 mg zat besi (Fe) per hari. Karena tidak
mungkin menyerap Fe dari makanan sebanyak itu per hari, maka konversi Fe dalam
tubuh sangat penting dilakukan.
c. Fungsi Lain
Sebagian kecil Fe terdapat dalam enzim jaringan. Bila terjadi defisiensi zat besi, enzim
ini berkurang jumlahnya sebelum Hb menurun. Zat besi diperlukan sebagai katalis
dalam konversi betakaroten menjadi vitamin A, dalam reaksi sintesis purin (sebagai
bagian integral asam nukleat dalam RNA atau DNA), dan dalam reaksi sintesis
kolagen. Selain itu, zat besi diperlukan dalam proses penghilangan (detoksifikasi) zat
racun dalam hati. Orang yang mengalami defisiensi zat besi lebih sulit memerangi
infeksi bakteri, karena produksi antibodi terhambat.

Sebelum kadar haemoglobin terganggu, defisiensi zat besi telah mengakibatkan berbagai
perubahan fungsi dan struktur dari sejumlah organ dan sistem. Hal ini disebabkan besi adalah
suatu komponen integral atau kofaktor essential dari berbagai enzim yang mempunyai peranan
penting dalam proses metabolik dan proliferasi sel seperti : akonitase, katalase,
monoaminoksidase, mieloperoksidase, ribonuk leotidil reduktase, tirosin hidrolase, triptofan

15
pirrolase dan xantin oksidase. Enzim-enzim ini berfungsi dalam sintesis DNA, transport elektron
pada mitokondria, metabolism katekolamin, kadar neurotransmitter dan fungsi-fungsi lain.
Defisiensi besi laten tanpa anemia, diduga telah dapat mengganggu metabolism sel dan
fungsi jaringan, karena dapat menurunkan ketersediaan berbagai enzim yang mengandung besi
dan enzim-enzim/protein yang lain yang memerlukan besi untuk aktivitasnya.
Defisiensi besi menyebabkan berbagai manifestasi klinik saluran cerna.. Studi histologi
memperlihatkan perubahan morfologi epithelial, termasuk metaplasma mukosa buccal dan
mucosa oesophagal. Epitel permukaan jaringan yang defisiensi besi akan berkurang aktivitas
sitokrom dan enzim-enzim lainnya. Biopsi jejunum pada keadaan defisiensi besi memperlihatkan
perubahan morfologi struktur filli dan enzim yang terkandung dari derajat ringan sampai berat.
Epitel sel saluran cerna sangat rentan terhadap defisiensi besi.Dengan menggunakan
teknik endoskopi dan biopsi, terlihat perubahan saluran cerna pada keadaan defisiensi besi
seperti gastritis karena atropi yang menimbulkan aklorhidria, dan reversible jika diberikan terapi
besi.
Pada keadaan defisiensi besi, terjadi penurunan konsentrasi sitokrom c pada mukosa usus
lebih awal daripada penurunan konsentrasi haemoglobin. Diduga akibat regenerasi sel lining
mukosa usus lebih cepat daripada regenerasi sel darah merah, sehingga menurunnya pasokan
besi mempengaruhi sel-sel tersebut secara cepat.
Sel-sel lining mukosa usus diganti tiap 3-4 hari pada manusia, jadi sangat rentan terhadap
keadaan defisiensi besi. Cepat regenerasi sel memberi keuntungan yaitu penyembuhan yang
cepat bila diberikan terapi besi. Pendarahan samar lebih sering terjadi pada subyek yang
mengalami defisiensi besi.
Fungsi dan struktur epitel mukosa usus, disembuhkan setelah diberi terapi besi. Penelitian
yang dilakukan oleh Naimann, pada anak-anak berusia di bawah 3 tahun yang menderita anemia
defisiensi besi, memperlihatkan terjadinya gastric aklorhidria, gangguan absorpsi xilosa, lemak,
glukosa dan vitamin A. Dengan pemberian terapi besi terjadi perbaikan. Juga dapat terjadi
gangguan absorpsi besi oleh usus pada keadaan defisiensi besi oleh usus pada keadaan defisiensi
besi. Pada umumnya fungsi fungsi sekresi dan absorpsi memerlukan energi, sehingga
kemungkinan keabnormalan fungsi usus dihubungkan dengan defisiensi proteinheme.

G. DEFISIENSI ENERGI DAN PRODUKTIVITAS KERJA

16
Energi dalam tubuh manusia dapat dihasilkan dari pembakaran karbohidrat, protein, dan
lemak, dengan demikian agar manusia selalu tercukupi energinya diperlukan pemasukan zat-zat
makanan yang cukup pula ke dalam tubuhnya. Manusia yang kurang makan akan lemah, baik
daya kegiatan, pekerjaan-pekerjaan fisik, maupun daya pemikirannya karena kurangnya zat-zat
makanan yang diterima tubuhnya yang dapat menghasilkan energi. Seseorang tidak dapat bekerja
dengan energi yang melebihi dari apa yang diperoleh dari makanan kecuali jika meminjam atau
menggunakan cadangan energi dalam tubuh, namun kebiasaan ini akan dapat mengakibatkan
keadaan yang gawat, yaitu kurang gizi khususnya energi.
Tanpa ada gizi, energi tidak bisa dihasilkan oleh tubuh, dikarenakan sel-sel kita tidak
memperoleh makanan. Dan tentu saja, seseorang akan loyo dan merasa malas bekerja. Sekalipun
seseorang memiliki kebiasaan malas, namun kurangnya gizi merupakan penyebab utama.
Masalahnya hanya terletak pada kekurangan gizi, khususnya energi. Bagi orang dewasa
yang bekerja dengan energi yang melebihi dari kewajaran (membanting tulang demi untuk
memperoleh pendapatan yang lebih) umumnya ia menggunakan cadangan energi dalam
tubuhnya, akibat penggunaan tersebut dan tidak adanya penggantian energy dan energi cadangan
sehubungan dengan kurangnya pemasukan zat makanan ke dalam tubuhnya, tentulah dari
pekerja/orang dewasa yang bersangkutan tidak dapat diharapkan adanya produktivitas kerja yang
dikehendaki. Pada masa sekarang para pengusaha telah memikirkan akan masalah yang dihadapi
oleh para karyawannya.
Oleh karena itu, bagi para karyawan yang bekerja melebihi ketentuan waktu kerja atau
menjalankan pekerjaan yang dianggap berat, selalu disediakan jaminan makan (biasanya berupa
makanan yang bergizi) dan makanan tambahan (extra voiding). Pembatasan waktu kerja,
pemberian jaminan makan setiap hari kerja, merupakan suatu kebijaksanaan pengusaha utnuk
mempertahankan produktivitas kerja yang dikehendaki perusahaan dari para karyawannya.
Makanan dalam pengertian sebagai sumber energi ternyata energi makanan dalam proses-
proses yang terjadi dalam tubuh hanya sebagian saja yang diubah menjadi tenaga, sedang lainnya
diubah menjadi panas. Tentang hal ini perhatikan saja pada tubuh kita, setelah kita melakukan
pekerjaan fisik yang cukup berat atau cukup lama akan terasa badan kita menjadi panas. Dalam
keadaan kita hanya sedikit melakukan kerja fisik, sebagian besar energi diubah menjadi panas
dan dalam kita tidak melakukan pekerjaan fisik, relatif seluruh energi diubah menjadi panas dan
selanjutnya panas akan ke luar dari tubuh.

17
Macam-macam makanan tidak sama banyak dalam menghasilkan energi, padahal
manusia harus mendapatkan sejumlah makanan tertentu setiap harinya yang menghasilkan
energi, terutama untuk mempertahankan proses kerja tubuhnya dan menjalankan kegiatan-
kegiatan fisik. Oleh karena itu, makanan kita atau manusia sendiri harus dapat mengetahui atau
menentukan banyaknya energinya minimal untuk keperluan menjalankan proses kerja tubuh
energi basal metabolisma) atau masih kurang mencukupi. Kalau masih kurang haruslah
diikhtiarkan agar dapat terpenuhi, sebab kalau tidak tentunya akan sangat buruk akibatnya
terhadap keadaan tubuh.
Lebih jauh disebutkan bahwa proses hidup utama atau yang pokok (yang memerlukan
energi minimal) secara garis besarnya akan meliputi kerja-kerja :
(a) untuk mempertahankan tonus otot;
(b) untuk menggerakkan sistem sirkulasi;
(c) untuk mengaktifkan sistem pernaasan; dan
(d) mengfungsikan kelenjar-kelenjar serta aktivitas selular.

Keperluan terhadap energi minimal atau energi basal metabolisme akan terpengaruh pula
oleh kondisi emosi dan mental manusia. Pada waktu manusia berada dalam keadaan beremosi
akan berlangsung sekresi adrenalin sehingga terjadi pemacuan aktivitas jantung. Peningkatan
tekanan darah, dan lain-lain dan tentunya keadaan demikian membutuhkan lebih banyak energi.
Demikian pula keadaan mental pada suatu waktu, seperti perasaan takut, kaget, malu, marah,
gembira, dan lain-lain, keadaan mental demikian dapat menyebabkan tonus lebih tinggi dan
tentunya memerlukan energi lebih dari biasanya. Pengaruh keadaan mental terhadap energi basal
metabolisma biasanya dapat menaikkan energi tersebut sebesar 4 %.
Kurangnya dalam tubuh akan karbohidrat, protein dan zat lemak dapat menyebabkan
pembakaran ketiga unsur tersebut kurang menghasilkan energi, akibatnya tubuh menjadi lesu,
kurang bergairah untuk melakukan berbagai kegiatan dan kondisi tubuh yang demikian tentunya
akan banyak menimbulkan kerugian (peka akan macam – macam penyakit, kemalasan untuk
mencari nafkah, produktivitas kerja sangat lemah, dan lain-lain).
Lebih lanjut disebutkan bahwa berbagai jenis karbohidrat yang tersedia dalam berbagai
bahan makanan, agar dapat dimanfaatkan dalam penyediaan energi, pertama – tama harus diubah
menjadi bentuk glukosa, yang selanjutnya melalui sirkulasi darah akan diserap, kemudian

18
melalui proses metabolisma dioksidasi selengkapnya dan melalui Siklus Krebs barulah akan
merupakan sumber energi yang penting bagi pelaksanaan berbagai kegiatan tubuh. Otak sebagai
pusat kegiatan selamanya menggunakan glukosa sebagai sumber energinya.
Selengkapnya fungsi karbohidrat disebutkan sebagai berikut:
a. Menyediakan keperluan energi bagi tubuh ( yang merupakan fungsi utamanya).
b. Melaksanakan dan melangsungkan proses metabolisme lemak.
c. Melangsungkan aksi penghematan terhadap protein.
d. Menyiapkan cadangan energi siap pakai sewaktu-waktu diperlukan, dalam bentuk
glikogen.

Selain karbohidrat tubuh juga memerlukan protein dan lemak. Protein diperoleh dari
makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (protein nabati) dan makanan dari hewan (protein
hewani). Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh.
Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein/kg berat tubuhnya. Fungsi
protein bagi tubuh antara lain :
a. membangun sel-sel yang rusak.
b. membentuk zat-zat pengatur seperti enziim dan hormon.
c. membentuk zat inti energi (1 gram protein kira-kira menghasilkan 4,1 kalori)

Sedangkan Lemak berasal dari minyak goreng, daging, margarin, dan sebagainya. Fungsi pokok
lemak bagi tubuh ialah :
a. menghasilkan kalori terbesar dalam tubuuh manusia (1 gram lemak
menghasilkan
9,3 kalori).
b. sebagai pelarut vitamin A,D,E,K.
c. sebagai pelindung terhadap bagian-bagiaan tubuh tertentu dan pelindung
bagian tubuh pada temperatur rendah.
d. Penyimpan Energi
e. Transportasi metabolik sumber energi

H. DEFISIENSI VITAMIN B1 DAN PRODUKTIVITAS KERJA

19
Vitamin B1 (tiamin) pertama kali dikristalkan oleh Jansen dan Donath pada tahun 1926
dan pertamakali disintesis oleh Roger R. Williams dengan kawan-kawannya pada tahun 1936.
Lebih jauh, disebutkan bahwa vitamin ini mempunyai fungsi dan pengaruh sebagai koenzim
untuk beberapa reaksi inti sampai metabolism antara dalam semua sel. Berperan penting pada
reaksi pembentukan energi, reaksi dekarboksilasi, dan reaksi transketolase.
Vitamin B1 atau tiamin sangat diperlukan tubuh, tersedianya dalam tubuh karena diserap
usus dari makanan, selanjutnya diangkut bersama darah ke jaringan-jaringan tubuh. Tiamin
ditemukan sebagai cadangan dalam jumlah yang terbatas di dalam hati, buah pinggang, jantung,
otot dan otak, sebagai cadangan diperlukan untuk sekedar dapat memelihara fungsi alat-alat
tubuh tadi dalam waktu yang singkat. Sel-sel jaringan mewujudkan/menjadikan tersedianya zat
yang mengandung tiamin (koenzim), zat mana demikian membantu dalam pembakaran
karbohidrat dan diangkat di dalam darah oleh sel darah putih yang mempunyai inti dengan
thiamin yang bebas di dalam plasma. Koenzim tersebut berfungsi memungkinkan karboksilase
memisahkan karbonioksida dari asam piruvat, sedangkan sisanya selanjutnya dirombak menjadi
karbondioksida dan air. Jadi, dapat disebutkan fungsi tiamin yaitu :
(1) metabolisma karbohidrat;
(2) mempengaruhi keseimbangan air di dalam tubuh; dan
(3) mempengaruhi penyerapan zat lemak dalam usus.

Dari fungsinya yang pertama dapatlah diperkirakan, bahwa makin banyak karbohidrat
yang dikonsumsi, kebutuhan akan tiamin tentunya akan banyak pula. Seseorang buruh kasar,
misalnya, akan mengkonsumsi karbohidrat yang lebih tinggi dibanding dengan karyawan staf
yang bekerja dengan menggunakan pikirannya. Para pakar, sebagai hasil penelitiannya telah
mengemukakan angka kebutuhan akan tiamine sekitar 0,23 mg – 0,65 mg per 1000 kalori setiap
harinya. Tiamin banyak terkandung dalam padi-padian (umumnya pada bagian lembaga dan
bagian luar endospermanya), kacang hijau, daging, gandum, susu, ragi, beras, telur, dan
sebagainya. Bila ada tiaminase atau antagonis tiamin, seperti dalam teh, kopi, padi dan bahan-
bahan makanan lain, dapat meningkatkan kebutuhan.
Vitamin B1 dikenal sebagai “Vitamin Semangat” , karena bila terjadi kekurangan akan
menimbulkan penurunan kegiatan syaraf. Penelitian pada manusia yang diberi makanan kurang
vitamin B1 menunjukkan dalam waktu singkat orang-orang tersebut tidak bersemangat, mudah

20
tersinggung, sulit konsentrasi. Dalam tiga hingga tujuh minggu timbul gejala kelelahan, nafsu
makan berkurang, penurunan berat badan, konstipasi, kejang otot dan berbagai rasa nyeri syaraf.
Keluhan ini dapat dihilangkan dan pulih setelah mengkonsumsi vitamin B1 secukupnya.
Kekurangan vitamin B1 dapat menimbulkan penyakit beri-beri, neuritis, dan gangguan
pada sistem transportasi cairan tubuh. Gejala defisiensi tiamin pada manusia adalah neuropati
periferi, paling jelas terlihat pada anggota badan yang paling aktif, kelemahan, urat daging
empuk dan atrofi, lelah dan perhatian menurun, jantung sering ikut dipengaruhi (pembesaran,
tachycardia dengan usaha fisik). Di masyarakat Barat, defisiensi terutama erat hubungannya
dengan alkoholisme, dengan physical effort.
Kelainan fungsi yang menjelma seperti yang kita dengar dengan slogan popular rakyat
yaitu “4L” (letih, lemah, lelah,lesu) yang pada hakikatnya kurangnya zat-zat gizi, yang sangat
berpengaruh terhadap produktivitas kerja dan perilaku pekerja. Lebih jauh disebutkan bahwa
yang sering dijumpai dari faktor kebiasaan adalah tidak makan pagi. Lain halnya di luar negeri
ada slogan “Better Breakfast=Better Nutrition” yang selalu dianjurkan pada pekerja dan
golongan umur sekolah untuk mencapai efisiensi dan prestasi kerja dan belajar.

I. GANGGUAN GIZI
1. Kebutuhan zat gizi
Kekurangan zat-zat gizi dalam makanan akan berdampak terjadinya gangguan kesehatan
dan penurunan produktivitas kerja, antara lain :
a. Kurang intake protein akan mempengaruhi kalori yang kurang dan berakibat
berkurangnya kapasitas kerja
b. Defisiensi zat besi menyebabkan banyaknya kasus anemia
c. Kekurangan vitamin A mungkin menyebabkan gangguan pada penglihatan yang
mempengaruhi adaptasi dari terang ke gelap dan berakibat menimbulkan kecelakaan
kerja
d. Kekurangan yodium mengganggu metabolisme, menurunkan kemampuan dan
kecepatan kerja

2. Kebutuhan kalori

21
Kebutuhan kalori tergantung dari aktivitas tubuh. Apabila kalori yang dibutuhkan untuk
melakukan pekerjaan dari bahan makanan yang masuk tidak mencukupi, maka kalori
akan dipenuhi dengan memecah sumber cadangan energi yang ada dalam tubuh sendiri.

3. Faktor lingkungan kerja


Beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan gizi pekerja antara
lain :
1. Tekanan panas
Pekerja yang bekerja di tempat dengan suhu yang tinggi, kebutuhan air dan garam
sebagai pengganti cairan yang hilang/ keringat perlu mendapat perhatian. Pada
lingkungan yang panas dengan jenis pekerjaan berat sekurang-kurangnya 2,8 lt air
minum, untuk kerja ringan 1,9 lt. Bagi pekerja di tempat dingin dibutuhkan
makanan dan minuman hangat.
2. Bahan kimia
Bahan kimia dapat menyebabkan keracunan kronis dengan akibat penurunan berat
badan. Beberapa zat kimia lain dapat mengganggu metabolisme tubuh,
mengganggu selera makan dan berpengaruh terhadap pencernaan.
Timah hitam dapat mempengaruhi pembentukan sel darah merah yang berakibat
pekerja menjadi pucat dan kurus. Keracunan Berillium selalu disertai penurunan
berat badan. Zat kimia yang bersifat asam akan merangsang lambung dan
merusak selaput lendir.
3. Faktor biologi
Pekerja yang bekerja di pertambangan, perkebunan, peternakan berisiko terinfeksi
cacing, bakteri pada saluran pencernaan dll.
4. Faktor psikologis
Stress kerja akibat ketidak serasian emosi, hubungan antar manusia dalam
pekerjaan, hambatan psikologis sangat berpengaruh pada penurunan berat badan,
intake makanan dan produktivitas kerja.
5. Gaya hidup dan kebiasaan

22
Terlalu banyak bekerja, aktivitas olahraga kurang sering kali tidak memperhatikan
gizi seimbang dan cenderung mengkonsumsi lemak tinggi, dapat menimbulkan
kegemukan, hiperkolesterol, hipertensi, penyakit jantung dll.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Gizi Kerja adalah gizi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk melakukan suatu
pekerjaan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerjanya
2. Faktor yang mempengaruhi Gizi Kerja
a. Jenis kegiatan beban kerja.
b. Faktor tenaga kerja
c. Faktor lingkungan kerja sebagai beban tambahan, yang meliputi
fisik, kimia, biologi, fisiologi (ergonomi) dan psikologi..
3. Gangguan Gizi Kerja di pengaruhi:
a. Kebutuhan zat gizi
b. Kebutuhan kalori
c. Faktor lingkungan kerja (Tekanan panas, Bahan kimia, Faktor
biologi, Faktor psikologis, Gaya hidup dan kebiasaan)
4. Macam Gangguan Gizi Kerja:
a. Defisiensi zat besi
b. Defisiensi energi
c. Defisiensi vitamin B1

23
B. SARAN
1. Dalam pemberian asupan Gizi para pekerja seharusnya diperjatikan jenis beban
kerja, tenaga, dan lingkungan kerjanya sehingga kecukupan gizi para pekerja
terpenuhi secara baik yang dapat meningkatkan produktivitas pekerja dalam
melaksanakan pekerjaannya

24