Anda di halaman 1dari 5

BAB III

GAMETOGENESIS

A. Asal dan Migrasi Bakal Sel Kelamin ke Gonad


Sel kelamin berasal dari bakal sel kelamin atau pri-
mordial germ cells (PGCs). PGC pada berbagai jenis hewan di-
jumpai pada daerah-daerah tertentu dari embrio. PGC dapat di-
bedakan dari jenis sel embrio lainnya berdasarkan pengamatan
bentuk morfologinya atau dengan melakukan pewarnaan secara
histokimia. PGC umumnya memiliki ukuran yang lebih besar di-
bandingkan dengan sel-sel yang ada disekitarnya, sitoplasmanya
jernih, perbandingan nukleositoplasmanya rendah, membran inti
jelas, dan pada mamalia mengandung glikogen dengan kadar yang
cukup tinggi. PGC kemudian bermigrasi menuju pematang genital
atau bakal gonad. Di dalam bakal gonad, PGC akan merangsang
dan mengarahkan differensiasi gonad sesuai dengan tipe kromo-
som yang dikandungnya, yaitu XX atau XY. Adanya kromosom Y
maka bakal gonad akan berkembang menjadi testis. Tidak adanya
kromosom Y maka bakal gonad akan berkembang menjadi ovarium
(Johnson dan Everiit, 1989). Hal ini berlaku bagi hewan
dimana jantannya adalah heterogametik (mamalia, kebanyakan
katak, beberapa jenis ikan dan insekta diptera) (Turner dan
Bagnara, 1988). Bebera jenis hewan memiliki betina dengan
sifat heterogametik misalnya pada aves, reptilia, salamander,
beberapa jenis ikan dan insekta. Genotipe ZZ adalah jantan
dan ZW adalah betina.
Dahulu ada pendapat bahwa PGC berasal dari epitel peri-
tonium yang meliputi gonad. Mula-mula pematang genital berisi
dua macam sel yaitu sel-sel yang besar dan sel-sel yang kecil.
Pada saat pematang genital membentuk pita-pita seks, maka sel
yang besar berdifferensiasi dan kemudian berdegenerasi. Se-
mentara itu sel-sel yang kecil berproliferasi dan berdifferen-
siasi dan diantaranya membentuk sel kelamin. Anggapan terse-
but keliru. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui percobaan
pada Xenophus. Bila pada Xenopus stadium neurula PGC nya di-
buang, maka ia menjadi steril. Akan tetapi bila dilakukan
transplantasi PGC ke dalamnya, maka ia kembali fertil dan
menghasilkan telur (Suhana dan Rafiah, 1982).

1. Katak
Pada katak, PGC pertama terlihat sebagai granula-granula
di dekat kutub vegetatif telur yang telah dibuahi. PGC
terlihat bergerak secara lateral dari endoderem saluran
pencernaan ke mesenterium dorsal yang menghubungkan saluran
pencernaan ke daerah dimana organ-organ mesoderem dibentuk.
Melalui mesenterium dorsal, PGC akhirnya mencapai gonad yang
sedang berekmbang (Gilbert, 1985).

2. Urodela
Pada urodela PGC ditemukan pada daerah mesoderem yang
berinvolusi melalui bibir ventrolateral blastoporus (Sutasurya
dan Niewkoop, 1974 dalam Gilbert, 1985). Selanjutnya terben-
tuk melalui pengaruh induksi sel-sel endoderem ventral (Suta-
surya dan Niewkoop, 1974 dalam Gilbert, 1985; Sutasurya dan
Niewkoop, 1974 dalam Carlson, 1988). Sutasurya, 1975 dalam
Suhana dan Rafiah, 1982) telah membuktikan secara meyakinkan
bahwa PGC pada beberapa jenis urodela dapat dibentuk dari ek-
toderem setelah diinduksi oleh endoderem. dalam percobaannya
dengan menggunakan teknik penandaan dengan timidin H dan
dibuat preparat radiootografi, apabila ektoderem blastula yang
telah ditandai dengan isotop dikombinasikan dengan endoderem
yang tidak ditandai ,maka tebentuk jaringan mesoderem dan
PGC yang mengandung radioaktif. Sebaliknya apabila
rekombinasi terdiri atas endoderem yang ditandai dengan
timidin H dan ektoderem yang tidak ditandai, maka terbentuk
PGC yang tidak mengandung radioaktif. dengan demikian dapat
dibuktikan bahwa bakal sel kelamin pada urodela, secara in
vitro dapat terbentuk dari sel-sel ektoderem yang diinduksi
oleh endoderem.

3. Reptil dan Burung


Pada reptil dan burung, PGC diturunkan dari bakal
sel-sel epiblas yang bermigrasi ke lapisan endoderem bagian
tepi dari blastoderem yang disebut zona germinal cressent.
Ini dapat dijumpai pada burung stadium head process. Pada
daerah tersebut PGC memperbanyak diri secara mitosis (Saunder,
1982). Pada reptil dan burung PGC bermigrasi menuju gonad
melalui pembuluh darah (Saunder, 1982; Gilbert, 1985), dimana
PGC memasuki pembuluh darah dengan cara diapedisis.
Pada embrio bebek, jumlah PGC pada stadium primitive
streak adalah 50 - 70 dan meningkat menjadi 80 pada stadium 6
somit dan selanjutnya meningkat menjadi 300 pada stadium 30
pasang somit (Saunder, 1982). Lintasan migrasi PGC pada ayam
ditunjukkan pada gambar
Belum diketahui apa yang menyebabkan bakal sel kelamin
bergerak menuju pematang genital. Suatu kemungkinan bahwa
gonad yang sedang berkembang menghasilkan suatu substansi yang
bisa menarik bakal sel kelamin secara kemotaksis serta
kemampuannya menghancurkan secara histolisis sel-sel serta
membran-membran yang menghalanginya.

4. Mamalia
Pada manusia dan mamalia lain bakal sel kelamin pertama
dijumpai pada lapisan endoderm pada daerah dasar allantois
pada mancit mereka memasuki dinding saluran pencernaan dan
bermigrasi melalui mesentarium dorsal menuju gonad pada
mulanya bakal sel kalamin yang dijumpai berkisar 100,akan
tetapi jumlah tersebut meningkat melalui pembelahan mitosis
hingga jumlahnya mencapai 5000 selama bermigrasi ke gonad
[saunder,1982 lintasan migrasi bakal sel kalamin ditunjukkan
pada gambar 6
Pada mancit pgc pertama dijumpai pada umur embrio7 5
hari, mereka terl;ihat yolk bakal sewl kelaminpada mamalia dan
amphibia mampu bergerak secara amuboid dan bermigras melalui
mesenterium dorsal ke gonad (Carlson, 1988). PGC kemudian
bergerak ke kaudal kantung yolk melalui usus belakang yang
baru dibentuk terus ke mesenterium dorsal dan pada akhirnya
menuju pematang genital. Umumnya PGC mencapai gonad yang
sedang berkembang pada hari 11 post fertilisasi.

B. Mitosis dan Miosis

1. Mitosis
2. Miosis
C. Gametogenesis
Gametogenesis berlangsung di dalam gonad yaitu testis
dan ovarium. Gametogenesis adalah proses pembentukan gamet,
yaitu sperma dan telur (Gilbert, 1985). Menurut Carlson
(1988), gametogenesis adalah suatu proses dimana bakal sel ke-
lamin diubah menjadi sel kelamin yang sangat terspesialisasi
sehingga memiliki kemampuan untuk berfusi pada saat fertilisa-
si, dan selanjutnya menghasilkan organisme baru. gametogene-
sis melibatkan sejumlah perubahan-perubahan, baik pada kromo-
som maupun pada sitoplasma. Sejumlah perubahan-perubahan ter-
sebut bertujuan (i) mengurangi jumlah kromosom menjadi sete-
ngah jumlah normal dalam sel somatik. Hal ini terlaksana me-
lalui pembelahan miosis. Hal ini dimaksudkan agar individu
baru yang dihasilkan tidak memiliki jumlah kromosom yang lipat
dua kali dari induknya, (ii) mengubah bentuk sel-sel kelamin
sebagai persiapan untuk pembuahan. Sel kelamin pria mula-mula
besar dan bulat, praktis kehilangan semua protoplasmanya dan
membentuk kepala, leher dan ekor. Sel benih wanita sebaliknya
berangsur-angsur menjadi lebih besar sebagai akibat terjadinya
pertambahan jumlah sitoplasma. Pada saat mencapai kematangan,
oosit mencapai ukuran kira-kira 120 um (Sadler, 1985).

1. Spermatogenesis
2. Oogenesis

PERALATAN UNTUK KULTUR EMBRIO HEWAN


Binocular dissecting microscope
Watchmakers forceps
Cataract knives
Microburner
Glass bridges
Glass Needles
A simple gas chamber for culturing embryos
Operating bench
micropipettes