P. 1
Fuad AR - Skripsi (Pengaruh Frekuensi Perendaman Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii)

Fuad AR - Skripsi (Pengaruh Frekuensi Perendaman Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii)

|Views: 3,270|Likes:
KONSULTAN PERIKANAN BUDIDAYA, PENANGANAN PASCA PANEN & PENGOLAHAN

FUAD ANDHIKA RAHMAN, S.Pi, M.Sc

Riwayat Pendidikan 1. SDN 8 Mataram (1988 - 1994) 2. SMPN 1 Mataram (1994 – 1997) 3. SMAN 1 Mataram (1997 – 2000) 4. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (2000 – 2005) 5. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (2007 – 2009) Riwayat Magang dan Pelatihan 1. Magang Pembenihan Kerapu Tikus : Balai Budidaya Air Payau Situbondo (Agustus 2001) 2. Magang Pengalengan Ikan : PT Blambangan
KONSULTAN PERIKANAN BUDIDAYA, PENANGANAN PASCA PANEN & PENGOLAHAN

FUAD ANDHIKA RAHMAN, S.Pi, M.Sc

Riwayat Pendidikan 1. SDN 8 Mataram (1988 - 1994) 2. SMPN 1 Mataram (1994 – 1997) 3. SMAN 1 Mataram (1997 – 2000) 4. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (2000 – 2005) 5. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (2007 – 2009) Riwayat Magang dan Pelatihan 1. Magang Pembenihan Kerapu Tikus : Balai Budidaya Air Payau Situbondo (Agustus 2001) 2. Magang Pengalengan Ikan : PT Blambangan

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Fuad Andhika Rahman, S.Pi, M.Sc on Jun 29, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

KONSULTAN PERIKANAN BUDIDAYA, PENANGANAN PASCA PANEN & PENGOLAHAN

FUAD ANDHIKA RAHMAN, S.Pi, M.Sc

Riwayat Pendidikan 1. SDN 8 Mataram (1988 - 1994) 2. SMPN 1 Mataram (1994 – 1997) 3. SMAN 1 Mataram (1997 – 2000) 4. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya (2000 – 2005) 5. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (2007 – 2009) Riwayat Magang dan Pelatihan 1. Magang Pembenihan Kerapu Tikus : Balai Budidaya Air Payau Situbondo (Agustus 2001) 2. Magang Pengalengan Ikan : PT Blambangan Muncar Banyuwangi (Februari – Maret 2002) 3. Magang Pembenihan Udang Windu : Balai Budidaya Air Payau Jepara (Juli – Agustus 2002) 4. Magang Pembenihan Udang Galah : Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi (15 Juli – 04 Agustus 2003) 5. International Symposium On Ecology And Health Safety Aspects Of Genetically Modified Agricultural Products (Brawijaya University, Malang 20 May 2002) 6. Pelatihan Pengukuran Kualitas Air (Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya 11 – 12 Mei 2002) 7. Pelatihan Best Management Practices Budidaya Udang Vanamei (BBAP Situbondo, 4 – 9 Juni 2007) Riwayat Organisasi 1. Presiden Junior Achievement International (JAI) Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2003 – 2004 2. KaDiv Litbang Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2003 - 2004 3. Ketua Forum Pemberdayaan Mahasiswa dan Masyarakat Perikanan (FPMMP) Periode 2004 – 2005 4. Koordinator Asisten Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2004 - 2005 Riwayat Publikasi dan Karya Tulis 1. Gynogenesis, Menciptakan Koi Seperti Indukan (Tabloid IndoFish Edisi 15/Oktober 2004) 2. Mengantisipasi Saat Virus Mewabah (Tabloid IndoFish Edisi18/Januari 2005) 3. Skripsi : Pengaruh Umur Bibit dan Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb Yang Berbeda Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Dengan Menggunakan Metode Rakit Apung (2005) 4. Tesis : Perancangan Klaster Aquabisnis Rumput Laut Eucheuma cottonii di Kabupaten Lombok Timur (2009) Head Office : Perumahan Puncang Hijau Blok R-06 Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat NTB Telp. (0370) 634234 – HP. 08175774979 Email Instansi : zahraainoorrahman@yahoo.co.uk : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB – Jl. Udayana No. 3 Mataram

PENGARUH UMUR BIBIT DAN FREKUENSI PERENDAMAN ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) AGROGIBB YANG BERBEDA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN MENGGUNAKAN METODE RAKIT

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN BUDIDAYA PERAIRAN

OLEH :

FUAD ANDHIKA RAHMAN 0001080237 – 085

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERIKANAN MALANG 2004

PENGARUH UMUR BIBIT DAN FREKUENSI PERENDAMAN AGROGIBB YANG BERBEDA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DENGAN MENGGUNAKAN METODE RAKIT
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana di Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang

OLEH :

FUAD ANDHIKA RAHMAN 0001080237 – 085

MENGETAHUI, KETUA JURUSAN MSP

MENYETUJUI, DOSEN PEMBIMBING I

Ir. ABDUL QOID, MS Tanggal :

Ir. MAHENO SRI WIDODO, MS Tanggal : DOSEN PEMBIMBING II

Ir. M. RASYID FADHOLI, MS Tanggal :

1 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengembangan perikanan di Indonesia pada masa mendatang lebih difokuskan pada bidang budidaya dimana tujuan utamanya adalah peningkatan produksi guna pemenuhan kebutuhan protein masyarakat serta peningkatan devisa negara. Titik berat budidaya perikanan terletak pada pemanfaatan perairan laut secara maksimal melalui intensifikasi dan ekstensifikasi lahan budidaya serta diversifikasi komoditas yang dihasilkan, terutama komoditas berorientasi ekspor seperti rumput laut (Sediadi et.al., 2000). Lahirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah telah memberi peluang kepada Pemerintah Tingkat Propinsi untuk lebih mengoptimalkan potensi sumberdaya wilayah pesisir dan wilayah laut sepanjang 12 mil yang diukur dari garis pantai (Trisakti et.al., 2003). Salah satu usaha untuk memanfaatkan lahan perairan adalah dengan melakukan pembudidayaan rumput laut, yang merupakan komoditi perairan non ikan yang terbukti mampu memberikan kesejahteraan terhadap petani dan nelayan. Rumput laut dinilai ekonomis karena bahan yang terkandung didalamnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan industri seperti kosmetik, makanan, minuman, cat, tekstil dan lainlain. Selain itu rumput laut juga merupakan komoditi yang teknologi produksinya relatif murah dan sederhana, memiliki daya serap pasar yang tinggi serta mudah dalam pelaksanaan pasca panen (Meiyana et.al., 2001). Sampai saat ini rumput laut yang bisa tumbuh di perairan Indonesia tercatat kurang lebih 555 jenis. Dari seluruh jenis hasil ekspedisi tersebut hanya 55 jenis yang

2 telah digunakan secara tradisional sebagai pangan, obat dan keperluan lain. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa diantara 55 jenis tersebut hanya beberapa jenis tertentu yang sampai sekarang mempunyai nilai ekonomis penting, yakni jenis-jenis yang termasuk ke dalam kelas Rhodophyceae atau alga merah. Tiga marga penting dari alga tersebut yaitu Eucheuma, Gracillaria dan Gelidium, sejak lama menjadi komoditi ekspor Indonesia (Mubarak, 1990). Permintaan luar negeri terhadap rumput laut Indonesia pada tahun 1990 tercatat sebesar 10.779 ton dengan nilai (FOB) US $ 7,16 juta dan terus meningkat hingga mencapai 28.104 ton pada tahun 1995 dengan nilai (FOB) US $ 21,30 juta. Jumlah ekspor ini turun pada periode tahun 1996-1998 dengan laju penurunan mencapai 50% (Anonymous, 2004). Volume ekspor rumput laut kering Indonesia sendiri pada akhir tahun 2000 hanya mencapai 2.648,71 ton/tahun (Djazuli 2002). Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan volume ekspor tersebut adalah produksi rumput laut yang sering mengalami kegagalan terutama yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman mengenai aspek-aspek teknis seperti pemilihan lokasi, metode budidaya, manajemen produksi, pemilihan dan pengadaan bibit, musim serta tata letak (Sunaryat et.al., 2001). Atas dasar permasalahan tersebut maka perlu dilakukan adanya perbaikan berkaitan dengan metode budidaya rumput laut. Salah satunya adalah dengan memaksimalkan laju pertumbuhan rumput laut sehingga nantinya diharapkan dapat mempercepat saat panen. Adapun salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan laju pertumbuhan rumput laut Euheuma cottonii yaitu melalui penggunaan umur bibit yang sesuai serta pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dengan frekuensi yang tepat.

3 1.2 Perumusan Masalah Reproduksi secara stek (vegetatif) sering disebut pula reproduksi secara fragmentasi. Untuk jenis Eucheuma cottonii, pembiakan secara stek sebagai bibit lebih produktif untuk dilakukan (Aslan, 1998). Umur bibit sendiri merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi laju pertumbuhan rumput laut (Mubarak, 1990). Kriteria bibit rumput laut yang baik menurut Sunaryat (2001) antara lain : 1. Bercabang banyak dan rimbun 2. Tidak terdapat bercak merah dan tidak terkelupas 3. Warna cerah (spesifik) 4. Umur antara 25-35 hari Agrogibb pada dasarnya merupakan zat pengatur tumbuh yang mengandung hormon tumbuh berupa giberellin (GA3). Giberellin sudah lama dipergunakan untuk meningkatkan produksi tanaman budidaya, seperti pengendalian pembungaan serta penggalakan pertumbuhan dan produktivitas (Gardner, 1991). Giberellin juga diketahui mempengaruhi panjang batang sehingga mendorong pertumbuhan tanaman (Heddy, 1983). Penggunaan Agrogibb dengan dosis 0,0549 ml/l ternyata mampu memberikan laju pertumbuhan yang maksimal pada budidaya rumput laut Eucheuma cottonii (Saputra, 2004). Dilanjutkan oleh Iswahyudi (2004), dengan lama perendaman Agrogibb selama 2,5 jam juga memberikan laju pertumbuhan yang serupa. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan adanya penelitian tentang pengaruh penggunaan umur bibit dan frekuensi perendaman Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Agrogibb yang berbeda terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cotonii dengan menggunakan metode rakit.

4 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan umur bibit dan frekuensi perendaman Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Agrogibb yang berbeda terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii, serta mengetahui kombinasi keduanya yang memberikan laju pertumbuhan maksimal.

1.4 Kegunaan Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi pihak-pihak yang memerlukannya sebagai upaya untuk meningkatkan produksi rumput laut Eucheuma cottonii.

1.5 Hipotesis H0 : Diduga bahwa penggunaan umur bibit dan frekuensi pemberian ZPT Agrogibb yang berbeda tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii. H1 : Diduga bahwa penggunaan umur bibit dan frekuensi pemberian ZPT Agrogibb yang berbeda berpengaruh terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii.

1.6 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Pantai Serewe, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur NTB pada bulan Januari sampai Maret 2005.

5 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumput Laut (Eucheuma cottonii) 2.1.1 Taksonomi dan Morfologi Menurut Meiyana et.al. (2001), taksonomi dari Eucheuma cottonii dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Phylum Kelas Sub Kelas Ordo Family Genus Species : Rhodophyta : Rhodophyceae : Florideophycidae : Gigartinales : Soliericeae : Eucheuma : Eucheuma cottonii Lin

Rumput laut (seaweed) termasuk salah satu anggota alga yang merupakan tumbuhan berklorofil. Rumput laut terdiri dari satu atau banyak sel, berbentuk koloni, hidupnya bersifat bentik di daerah perairan yang dangkal, berpasir, berlumpur atau berpasir dan berlumpur, daerah pasang surut, jernih dan biasanya menempel pada karang mati, potongan kerang dan subtrat yang keras lainnya, baik terbentuk secara alamiah atau buatan (artificial). Alga mempunyai bentuk bermacam-macam seperti benang atau tumbuhan tinggi. Alga bersifat autotrof, yaitu dapat hidup sendiri tanpa tergantung makhluk lain. Proses pertumbuhan rumput laut sendiri sangat tergantung pada intensitas sinar matahari untuk melakukan proses respirasi maupun fotosintesis (Sediadi, 2000). Dari segi morfologinya, rumput laut tidak memperlihatkan adanya perbedaan antara akar, batang dan daun. Secara keseluruhan tanaman ini mempunyai morfologi

6 yang mirip walaupun sebenarnya disebabkan karena thallus yang mempunyai beragam bentuk, diantaranya bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong dan rambut dan sebagainya. Thallus ini ada yang tersusun uniselluler (satu sel) atau multiselluler (banyak sel), percabangan thallus ada yang dichotomus (bercabang dua terus menerus), pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama), pinnate (bercabang dua-dua pada sepanjang thallus utama secara berselang-seling), ferticillate (cabangnya berpusat melingkari sumbu utama) dan ada juga yang bentuknya sederhana dan tidak bercabang. Sifat substansi thallus juga beraneka ragam yaitu ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), koraks mengandung zat kapur (calcareous), lunak seperti tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongius) dan sebagainya (Aslan, 1998). Menurut Hidayat (2000) dalam Meiyana et.al. (2001), rumput laut jenis Eucheuma sp tergolong dalam kelas Rhodophyceae (alga merah). Ciri-ciri umum antara lain : terdapat tonjolan-tonjolan (nodule) dan duri (spines), thalus berbentuk silindris atau pipih, bercabang-cabang tidak teratur, berwarna hijau kemerahan bila hidup dan bila kering berwarna kuning kecoklatan. Menurut Sulistyo (1987), rumput laut terbagi atas empat kelas yaitu : 1. Chlorophyceae Umumnya berwarna hijau karena sel-selnya mengandung khlorofil a dan b serta sedikit karoten. Tumbuh di daerah pasang surut yang sering mengalami kekeringan, daerah dangkal dengan penetrasi cahaya matahari tinggi hingga ke dasar. 2. Phaeophyceae Tumbuhan berwarna kuning kecoklatan karena sel-selnya banyak mengandung klorofil a dan c. Tumbuh pada daerah pasang surut yang lebih dalam dari daerah tumbuh Chlorophyceae.

7 3. Rhodophyceae Berwarna merah, coklat, nila, hijau. Sel-selnya banyak mengandung fikoeritrin. 4. Cyanophyceae Umumnya berwarna ungu. Sel-selnya terdiri dari pigmen fikosianin. Mudah tumbuh pada daerah yang lembab. 2.1.2 Ekologi dan Daerah Penyebaran Umumnya rumput laut banyak dijumpai di daerah yang mempunyai perairan agak dangkal (ketinggian air pada surut terendah ± 60 cm). Kondisi dasar perairan yang sangat disukai rumput laut adalah berpasir, berlumpur atau campuran antara pasir dan lumpur. Banyak pula rumput laut yang dapat tumbuh dengan cara menempel pada batu karang yang telah mati, kerang maupun benda-benda yang mengandung kapur. Kondisi perairan yang cocok bagi pertumbuhan rumput laut adalah perairan yang jernih dengan ombak dan arus yang tidak terlalu besar (Afrianto dan Liviawaty, 1993). Rumput laut Eucheuma cottonii mempunyai habitat yang khas, yaitu daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap dan mempunyai variasi suhu harian yang kecil. Alga jenis ini tumbuh mengelompok dengan beberapa jenis rumput laut lainnya. Pengelompokan ini tampaknya sangat penting dan saling menguntungkan, diantaranya dalam hal penyebaran spora (Aslan, 1991). Rumput laut jenis Eucheuma cottonii Lin berasal dari perairan Sabah (Malaysia) dan Kepulauan Sulu (Filipina). Kemudian dikembangkan ke berbagai negara sebagai tanaman budidaya. Penyebarannya hampir merata di seluruh Indonesia khususnya di daerah Lampung, Maluku, dan Selat Alas Sumba (Meiyana, 2001). Untuk lebih jelasnya mengenai daerah-daerah penyebaran rumput laut kelas Rhodophyceae di Indonesia tertera pada tabel 1 berikut.

8 Tabel 1. Daerah Penyebaran Rumput Laut Kelas Rhodophyceae di Indonesia (Sumber : Tim Penulis Penebar Swadaya, 2001). Jenis Acanthophora sp. Corallopsis minor Eucheuma cottonii Eucheuma edule Eucheuma muricatum Eucheuma spinosum Lokasi Kep. Kangean, Lombok, Sumatera Utara, Kep. Seribu, Dobo, Bawean. Bali Bali, Maluku, Sulawesi Tengah, Selat Alas, Sumba Kep. Seribu, Jawa Tengah, Bali, Madura, Sumatera Utara, Riau, Sulawesi, Maluku, Lombok, P. Komodo Seram, P. Komodo, Bali, Sulawesi, Kep. Seribu Sumatera Utara, Riau, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Kep. Seribu, Maluku, Jawa Tengah, Bali, NTT, NTB Kep. Seribu Lingga Jawa, Ambon, Riau, Sumatera Utara, Bali, NTB, NTT Sumatera Utara, Jawa Tengah Bangka, Maluku, NTB Pantai Selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Kep. Seribu, Kep. Tukang Besi, Bali, NTT Bangka Bangka Riau, Jawa Tengah, NTT, Maluku, Bali Kalimantan, Jawa, Bali, Maluku, NTT, NTB Lombok

Eucheuma striatum Gelidiopsis rigida Gelidium sp. Gracillaria coronopifolia Gracillaria lichenoides Gracillaria sp. Gracillaria taenoides Gymnogongrus javanicus Hypnea cerviorni Hypnea sp. Sarcodia montegneana

2.1.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Rumput Laut Menurut Anonymous dalam http://www.lablink.co.id (2004) dinyatakan bahwa pertumbuhan merupakan pertambahan ukuran sel atau organisme yang berlangsung secara kuantitatif atau terukur. Sementara perkembangan (diferensiasi) adalah proses menuju kedewasaan pada organisme, merupakan perubahan dari keadaan sejumlah sel membentuk organ-organ yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Terdapat dua macam pertumbuhan yaitu : 1. Pertumbuhan primer Merupakan hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung tumbuhan seperti akar dan batang. Daerah

9 pertumbuhan pada akar dan batang dibedakan menjadi 3 (tiga) yakni daerah pembelahan, daerah pemanjangan dan daerah diferensiasi. 2. Pertumbuhan sekunder Merupakan aktivitas sel-sel meristem sekunder yaitu kambium dan kambium gabus. Pertumbuhan ini dijumpai pada tumbuhan dikotil, gymnospermae dan menyebabkan membesarnya ukuran (diameter) tumbuhan. Pertumbuhan rumput laut terjadi karena rumput laut melakukan proses respirasi dan fotosintesis. Pertumbuhan rumput laut dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan antara lain jenis, bagian thallus dan umur, sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain keadaan lingkungan fisika dan kimia yang dapat berubah menurut ruang dan waktu, penanganan bibit, perawatan tanaman dan metode budidaya. Laju pertumbuhan yang dianggap menguntungkan adalah diatas 3% pertambahan berat per hari (Mubarak, 1990). 2.1.4 Reproduksi Rumput Laut Meiyana et.al., (2001) menjelaskan, reproduksi pada rumput laut dapat terjadi melalui dua cara yaitu : 1. Reproduksi Generatif Rumput laut dapat berkembangbiak secara generatif atau kawin. Pada peristiwa perbanyakan secara generatif rumput laut yang diploid (2n) menghasilkan spora yang haploid (n). Spora ini kemudian menjadi dua jenis rumput laut yaitu jantan dan betina yang masing-masing bersifat haploid (n) yang tidak mempunyai alat gerak. Selanjutnya rumput laut jantan akan menghasilkan sperma dan rumput laut betina akan menghasilkan sel telur. Apabila kondisi lingkungan memenuhi syarat akan

10 menghasilkan suatu perkawinan dengan terbentuknya zygot yang akan tumbuh menjadi tanaman rumput laut. 2. Reproduksi Vegetatif Proses perbanyakan secara vegetatif berlangsung tanpa melalui perkawinan, setiap bagian rumput laut yang dipotong akan tumbuh menjadi rumput laut muda yang mempunyai sifat seperti induknya, atau perkembangbiakannya bisa dilakukan dengan cara stek dari cabang-cabang rumput laut dengan syarat potongan rumput laut tersebut merupakan thallus muda, masih segar, berwarna cerah dan mempunyai percabangan yang banyak, tidak tercampur lumut atau kotoran, serta bebas atau terhindar dari penyakit. Reproduksi secara stek (vegetatif) sering disebut pula reproduksi fragmentasi. Untuk jenis Eucheuma cottonii, pembiakan secara stek sebagai bibit lebih produktif untuk dilakukan (Aslan, 1998). Bibit yang umum dipergunakan pada metode stek adalah yang masih muda (ujung tanaman) karena terdiri dari sel dan jaringan yang baik untuk pertumbuhan yang optimal (Tim Penulis PS, 2001). Dasar dari metode stek pada dasarnya identik dengan kultur jaringan pada tanaman. Sel tanaman mempunyai sifat totipotensi yaitu kemampuan sel untuk tumbuh dan berkembang membentuk tanaman lengkap dalam medium yang sesuai. Bagian tanaman yang diambil (inokulum) dapat diambil dari jaringan tanaman dewasa yang mengandung jaringan meristem (Kartha, 1975 dalam Nirmala, 2003). 2.1.5 Kandungan dan Manfaat Rumput laut mengandung agar-agar, karaginan dan alginat. Agar-agar adalah asam sulfanik yaitu ester dari galakto linier yang diperoleh dari ekstrak ganggang, sedangkan karagenan adalah senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa

11 dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1-4 glikosidik. Setiap unit galaktosa mengikat gugusan sulfat. Berdasarkan strukturnya karagenan dibagi menjadi tiga jenis yaitu Kappa, iota dan lamda karagenan. Kapa karagenan tersusun dari (1 - >3) D-galaktosa-4 sulfat dan (1 - >4) 3,6 anhydro-D-galaktosa. Iota karagenan mengandung 4-sulfat ester pada setiap residu D-galaktosa dan gugusan 2 sulfat ester pada setiap gugusan 3,6 anhydro-D-galaktosa. Sedangkan lamda karagenan memiliki sebuah residu disulphated (1-4) D-galaktosa (Akbar et.al., 2001). Rumput laut juga mengandung beberapa mineral seperti yang tertera dalam tabel 2 berikut. Tabel 2. Jenis dan Kandungan Mineral Pada Rumput Laut Jenis Mineral Klor Kalium Magnesium Belerang Silikon Fosfor Kalsium Besi Iodium Bron Natrium Kandungan Dalam % Berat Kering Ganggang Merah Ganggang Coklat 1,5 – 3,5 9,8 – 15,0 1,0 – 2,2 6,4 – 7,8 0,3 – 1,0 1,0 – 1,9 0,5 – 1,8 0,7 – 2,1 0,2 – 0,3 0,5 – 0,6 0,2 – 0,3 0,3 – 0,6 0,4 – 1,5 0,2 – 0,6 0,1 – 0,15 0,1 – 0,2 0,1 – 0,15 0,1 – 0,8 0,005 0,03 – 0,14 1,0 – 7,9 2,6 – 3,8

Suptijah (2002) menjelaskan lebih lanjut bahwa, pemberian nama karaginan didasarkan atas persentase kandungan ester sulfatnya. Pada jenis Kappa mengandung ester sulfat 25-30%, Iota 28-35% dan lambda 32 –39%. Karaginan juga mempunyai sifat larut dalam air panas (70oC), air dingin, susu dan larutan gula sehingga sering digunakan sebagai pengental/penstabil pada berbagai minuman atau makanan. Karaginan dapat membentuk gel dengan baik sehingga banyak digunakan sebagai penggel dan thichemen.

12 Soegiarto (1987) menjelaskan bahwa enzim di dalam sistem pencernaan manusia secara umum kurang mampu untuk menguraikan karbohidrat yang ada. Sehingga manfaat rumput laut yang sebenarnya adalah bukan sebagai bahan makanan manusia, tetapi sebagai bahan tambahan industri makanan, obat-obatan dan kosmetik serta untuk tambahan pakan ternak. Dilanjutkan oleh Sunarmi (1989), agar dan karaginan serta algin banyak digunakan sebagai stabilisator dan pengental pada industri makanan, media kultur pada mikrobiologi, pengemulsi pada industri kosmetik, farmasi dan kedokteran serta bahan tambahan untuk industri kertas dan tekstil.

2.2 Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Menurut Heddy (1983), faktor pertumbuhan merupakan bahan-bahan yang dibutuhkan oleh sel tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup tetapi bahanbahan tersebut tidak diproduksi oleh sel itu sendiri, melainkan didatangkan dari luar sel. Ditinjau dari asalnya, faktor pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Pengatur tumbuh (growth regulator) yaitu senyawa-senyawa yang datang dari luar tumbuhan, biasanya berupa vitamin dan mineral 2. Hormon yaitu senyawa yang dihasilkan dalam tubuh tumbuhan, yang paling utama berupa grup senyawa auxin, giberellin dan kinin. Giberellin secara alamiah terdapat pada berbagai jaringan tumbuhan. Selain terlibat dalam pertumbuhan batang, giberellin juga merupakan perangsang utama pada pertumbuhan akar, tunas, kecambah dan bunga. Pemberian giberellin dalam dosis rendah diketahui juga mampu merangsang pertumbuhan tanaman kerdil, dalam arti menanggulangi sifat penurunan bawaan (Kimball, 1983).

13 Giberellin sebagai hormon tumbuhan pada tanaman sangat berpengaruh terhadap sifat genetic (genetic dwarfism), pembungaan, penyinaran, pathenocarpy, mobilisasi karbohidrat dan aspek fisiologi lainnya. Giberellin mempunyai peran dalam mendukung perpanjangan sel, pembentukan enzym protease sehingga membebaskan tryptophan sebagai bentuk awal auxin, menstimulasi sintesis ribonukleas, meningkatkan aktivitas kambium dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesis protein. Mekanisme lain menjelaskan bahwa giberellin mendukung terbentuknya enzym α-amylase sehingga meningkatkan kandungan gula melalui hidrolisa pati/amilum dan secara otomatis meningkatkan tekanan osmotik. Akibatnya, sel memiliki kecenderungan untuk berkembang. Selain itu, gula yang dihasilkan dapat ditranslokasikan ke tunas/embrio sebagai sumber energi pada tahap awal pertumbuhan (Anonymous dalam

http://www.google.com, 2004). Mekanisme giberellin dalam mendorong pertumbuhan disajikan pada gambar 1.

Gambar 1. Mekanisme Giberellin Dalam Mendorong Pertumbuhan Pada Embrio Biji (Sumber : http://www.google.com/Biology123/Chapter 35, 2004). Menurut Widyastuti dan Tjokrokusumo (2004), saat ini telah banyak ditemukan senyawa-senyawa sintetik yang mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Semua hormon tanaman sintetik atau senyawa sintetik yang mempunyai sifat fisiologis dan biokimia yang serupa dengan hormon tanaman disebut Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Hormon tanaman dan ZPT pada umumnya mendorong

14 terjadinya suatu pertumbuhan dan perkembangan. Perbedaan diantara senyawa hormon tanaman dan ZPT antara lain sebagai berikut : 1. Fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada umumnya ditranslokasikan ke bagian lain tanaman dimana senyawa tersebut menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis. 2. Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. 3. Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umum dan tidak ada selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan.

Gambar 2. Struktur Kimia Asam Giberellin

2.3 Sistem Transportasi Pada Tumbuhan 2.3.1 Dinding dan Membran Sel Sel tumbuhan dibatasi oleh dua lapis pembatas yang sangat berbeda komposisi dan strukturnya yaitu dinding sel dan membran sel. Dinding sel tersusun dari dua lapis senyawa selulosa dan diantara keduanya terdapat rongga yang dinamakan lamela tengah yang berisi zat-zat penguat seperti lignin, chitine, pektin dan suberine. Oleh karena itu, dinding sel dapat memberi kekakuan dan bentuk pada sel. Pada dinding sel juga terdapat celah yang disebut plasmodesmata yang berfungsi sebagai saluran sel dan dapat dilalui

15 oleh molekul dengan berat 1000 dalton seperti hormon. Membran sel tersusun dari senyawa lipoprotein yaitu gabungan dari senyawa lemak khususnya fosfolipid dan protein. Membran sel terdiri dari dua lapis fosfolipid. Lapis pertama dengan asam lemak (bagian ekor) mengarah kedalam dan bersifat hidrofobik (non polar) sedangkan lapis kedua dengan protein (bagian kepala) bersifat hidrofilik (polar) dan mengarah keluar. Oleh karena itu membran sel bersifat selektif permeabel yang berarti hanya dapat dilewati oleh molekul tertentu saja. Fungsi dari membran sel adalah mengatur transportasi zat yang masuk dan keluar dari sel (Anonymous dalam

hhtp://www.lablink.co.id, 2001).

Gambar 3. Struktur Penyusun Lipoprotein Pada Membran Sel 2.3.2 Transpor Pasif Proses transportasi pada membran sel tumbuhan baik pasif maupun aktif dipengaruhi oleh polaritas molekul yang akan diserap, perbedaan konsentrasi, suhu, fluiditas inti hidrofobik maupun aktivitas protein pengangkutnya. Air, gas maupun molekul hidrofobik (polar) seperti hormon dapat melewati membran secara transpor pasif. Ion dan molekul polar yang tidak bermuatan harus dibantu oleh protein pengangkut untuk dapat melalui membran sehingga prosesnya disebut difusi terbantu (Anonymous dalam http://www.omega.ilce.edu, 2001).

16 Pada dasarnya transpor pasif hampir sama dengan difusi biasa, yaitu berlangsung dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Perbedaan terletak pada adanya senyawa yang terdapat dalam membran yang berfungsi mengikat molekul kemudian diangkut ke pihak lain dan dilepaskan lagi dalam benuk senyawa semula. Senyawa yang mengangkut zat yang berdifusi dinamakan pengangkut, biasanya berupa protein yang bekerja secara spesifik dengan memiliki bagian khas untuk berikatan dengan zat yang diangkut (Poedjiadi, 1994). Lebih lanjut diterangkan oleh Poedjiadi (1994), terdapat beberapa karakteristik pada proses transpor pasif diantaranya : 1. Proses transport pasif memperlihatkan adanya kecepatan maksimum pada konsentrasi tertentu. Ini berarti bahwa pada konsentrasi yang lebih besar lagi, kecepatan awal difusi tidak bertambah besar. Sedangkan pada difusi biasa, kecepatan difusi awal bertambah besar apabila konsentrasi diperbesar. Pada konsentrasi yang sama, kecepatan awal transport pasif lebih besar daripada difusi biasa. Kecepatan difusi maksimum terdapat pada konsentrasi besar, karena pengangkut sudah jenuh sehingga tidak mungkin menampung atau mengikat senyawa lagi. 2. Proses difusi atau transpor pasif ini mempunyai kekhasan bagi zat yang berdifusi. Sebagai contoh : sel eritrosit beberapa vertebrata mempunyai sistem transpor melalui membran yang dapat mempermudah atau mempercepat masuknya D-glukosa atau monosakarida yang strukurnya mirip glukosa, tetapi tidak mempunyai aktivitas semacam itu terhadap D-fruktosa atau suatu disakarida laktosa. Kekhasan lain bersifat kekhasan ruang. Sebagai contoh : sistem transpor pada membran sel hewan lebih aktif terhadap L-asam amino

17 daripada isomer D-asam amino. Dengan adanya karakteristik ini, dikemukakan anggapan bahwa pada molekul pengangkut terdapat bagian yang khas untuk berikatan dengan zat yang diangkut berdifusi. Hal ini analog dengan pembentukan kompleks enzim-substrat.

Gambar 4. Kinetika Sistem Transpor Melalui Membran Sel 3. Transpor pasif dapat dihambat secara khas. Apabila terdapat zat yang strukturnya mirip dengan zat yang berdifusi, maka ada kemungkinan terjadi hambatan. Zat yang menghambat dapat membentuk ikatan dengan molekul pengangkut sehingga bagian yang khas terpakai oleh inhibitor. Dengan demikian tidak terjadi ikatan antara zat yang berdifusi dengan molekul pengangkut. 2.3.3 Transpor Aktif Transpor aktif berlangsung dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Perpindahan zat yang bertentangan dengan gradien konsentrasi menggunakan energi yang diperoleh dari dalam sel yang berasal dari molekul ATP. Energi ini diperlukan oleh protein pengangkut untuk bekerja. Contoh dari transpor aktif adalah pertukaran ion (ion exchange) antara Na+ dan K+ yang berperan dalam menjaga keseimbangan tekanan turgor sel (Anonymous dalam http://www.omega.ilce.edu, 2001). Menurut Poedjiadi (1994), terdapat beberapa kemungkinan mekanisme transpor yang terjadi diantaranya :

18 1. Zat (A) masuk ke dalam membran dari luar, kemudian didalam membran terjadi proses kimia seperti fosforilasi, tetapi kembali seperti keadaan semula (A) pada waktu masuk ke dalam sel. Reaksi fosforilasi melibatkan ATP sebagai sumber energi dan gugus fosfat yang diikat pada molekul A akan dilepas lagi sebagai gugus fosfat anorganik seperti ditunjukkan pada gambar 7.

Gambar 5. Mekanisme Transpor Aktif Tipe Pertama 2. Ada molekul X yang berfungsi sebagai pengakut zat A. Sebelum berikatan dengan molekul A, zat X mengalami perubahan konformasi menjadi Xo. Perubahan ini menggunakan energi dari ATP yang berubah menjadi ADP.

Setelah terjadi Xo maka zat A yang masuk ke dalam membran sel bergabung dengan Xo membentuk komplek AXo. Setelah melalui membran sel maka zat A dilepaskan dari kompleks AXo dan masuk ke dalam sel, sedangkan bentuk Xo berubah lagi menjadi X. Demikian seterusnya X akan menjadi Xo dengan menggunakan energi.

Gambar 6. Mekanisme Transpor Aktif Tipe Kedua

19 3. Proses transpor aktif glukosa melalui membran bakteri menunjukkan bahwa gula setelah berada di bagian dalam sel diubah menjadi derivat fosfat atau glukosafosfat. Yang berperan sebagai perantara dalam hal ini adalah suatu protein dengan bobot molekul rendah dan yang mengandung histidin (HPr). Zat ini tahan terhadap panas, tidak mengandung karbohidrat dan fosfat. Reaksi yang dikemukakan adalah sebagai berikut :

Gambar 7. Mekanisme Transpor Aktif Tipe Ketiga Dari reaksi tersebut tampak bahwa HPr tidak berperan sebagai pengangkut. Pada tepi luar membran sel, glukosa membentuk kompleks dengan enzim II (EII glukosa). Pada tepi bagian dalam membran terjadi reaksi dengan P-HPr dan membentuk glukosa6-fosfat yang tidak dapat keluar dari dalam sel.

2.4 Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii Dengan Metode Rakit Sistem budidaya rumput laut Eucheuma cottonii terdiri dari tiga sistem yaitu sistem dasar, sistem lepas dasar dan sistem apung. Metode rakit merupakan salah satu bagian dari sistem apung. Metode ini sering disebut metode rakit kotak, dibentuk dari

20 empat buah bambu yang dirakit sehingga berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2,54 x 5-7 m (Sunaryat, 2001). Metode rakit cocok diterapkan untuk lokasi dengan kedalaman waktu surut lebih dari 60 cm. Cara ini digunakan bila tidak terdapat perairan yang memenuhi syarat untuk metode lepas dasar. Metode ini juga sering digunakan sebagai perbanyakan bibit tanaman (Tim Penulis PS, 2001).

21 3 MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Materi Penelitian 3.1.1 Bahan Rumput Laut (Eucheuma cottonii) Air laut Aquades Agrogibb 3.1.2 Alat Bambu diameter 8-12 cm Bambu penyiku berdiameter 5-10 cm Gergaji Parang Terpal Perahu Dayung Sarung tangan Penggaruk rumput laut Karung Tali ris diameter 4 mm Tali bambu diameter 6 mm Tali jangkar diameter 12-15 mm Tali rafia Termometer

22 Kertas pH Kaca pembesar Kertas saring Oven Kertas aluminium Desikator Timbangan sartorius Refraktometer Secchi disk Botol aqua Timbangan Jangkar/pemberat beton Stopwatch Meteran kain Penggaris Beaker Glass Kain Lap Pipet tetes

3.2. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, yang pada dasarnya mengadakan percobaan untuk melihat hasil. Hasil percobaan akan menegaskan bagaimana kedudukan kausal antara variabel-variabel yang diselidiki.

23 Teknik pengambilan data adalah pengamatan secara langsung. Adapun pengambilan data dimaksudkan dalam rangka pengujian hipotesis (Yitnosumarto, 1993). Tujuan dari penelitian eksperimen adalah menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat dengan cara mengabaikan perlakuan tertentu pada kelompok eksperimen (Nazir, 1988). Teknik pengambilan data dilakukan secara pengamatan. Data diperoleh melalui pengamatan terhadap laju pertumbuhan Eucheuma cottonii dengan melakukan pengukuran berat, volume dan penghitungan jumlah thallus.

3.3 Rancangan Penelitian Adapun perlakuan dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang mempunyai model sebagai berikut : Y = µ + R + α + β + α,β + ε Dimana : Y = nilai pengamatan µ = nilai rata-rata harapan R = pengaruh kelompok α = pengaruh faktor perlakuan I β = pengaruh faktor perlakuan II α,β = pengaruh interaksi faktor perlakuan I dan II ε = galat percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial pada penelitian ini terdiri dari dua faktor perlakuan dan tiga kelompok. Faktor perlakuan tersebut meliputi : Faktor Perlakuan I (Penggunaan umur bibit yang berbeda) A = umur bibit 20 hari B = umur bibit 25 hari C = umur bibit 30 hari D = umur bibit 35 hari E = umur bibit 40 hari

24 Faktor Perlakuan II (Penggunaan frekuensi perendaman Agrogibb yang berbeda) K = Kontrol (Tanpa Perendaman) a = 1 kali (Minggu 0) b = 2 kali (Minggu 0 dan 1) Jumlah perlakuan sebanyak 25 kombinasi, yang kemudian diacak pada tiga kelompok yang berfungsi sebagai ulangan seperti tertera pada gambar 8. c = 3 kali (Minggu 0, 1 dan 2) d = 4 kali (Minggu 0, 1, 2 dan 3)

Gambar 8. Denah Penelitian Untuk mengetahui pengaruh perlakuan (variabel bebas) terhadap respon parameter yang diukur (variabel tak bebas) digunakan analisa keragaman uji F. Apabila nilai F berbeda sangat nyata dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil). Untuk perlakuan yang memberikan respon terbaik pada taraf 0,05 dengan derajat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hubungan antara perlakuan dengan hasil yang dipengaruhi, digunakan analisa regresi yang bertujuan untuk menentukan sifat dan fungsi regresi yang memberikan keterangan mengenai pengaruh perlakuan yang terbaik pada respon (Gaspersz, 1991).

25 3.4 Prosedur Penelitian 3.4.1 Persiapan Penelitian A. Pembuatan Rakit Menurut Sunaryat et.al. (2001), metode rakit sudah banyak dikembangkan dilapangan. Metode ini lebih sederhana dan mudah untuk diterapkan di perairan yang memiliki kedalaman waktu surut terendah lebih dari 60 cm sampai perairan agak dalam. Proses pembuatan rakit dapat adalah sebagai berikut : • Disiapkan potongan bambu berdiameter 8-12 cm dengan panjang 5 dan 3,5 meter serta potongan bambu penyiku berdiameter 5-10 cm. Disiapkan pula tali pengikat bambu berdiameter 6 mm, tali ris berdiameter 4 mm, tali jangkar berdiameter 1215 mm serta jangkar dari karung yang diisi pasir. • Potongan-potongan bambu dilubangi untuk memasang pantek selanjutnya dilakukan pengikatan. Untuk memperkuat rakit disetiap sudut dipasang siku dari potongan bambu. • Potongan-potongan bambu dirangkai dan diikat hingga menjadi empat persegi panjang dengan posisi bambu untuk dipasang tali ris berada dibagian bawah agar thallus agak tenggelam pada saat ditanam. Pada bagian tengah rakit juga dipasangi bambu pada sisi bambu rakit yang tenggelam sebagai penyeimbang. • Jangkar dipasang pada sisi bambu yang tenggelam serta bambu bagian tengah dengan panjang tali jangkar antara 2,5-3 kali kedalaman perairan. Kemudian rakit ditarik pada posisi lokasi yang diinginkan dengan menggunakan perahu motor.

26 • Penempatan rakit dilakukan dengan memperhatikan kepentingan aktivitas lain seperti jalur lalu lintas nelayan maupun lahan rakit milik petani yang lain. B. Pembuatan Stok Bibit Rumput Laut Eucheuma cottonii • Rumput laut untuk keperluan pembibitan ditanam pada rakit dengan jarak tanam 25 cm dan jarak antar tali ris 20 cm.. • Rumput laut ditanam dengan menggunakan perhitungan waktu sesuai dengan umur yang diinginkan, sehingga diharapkan dapat ditanam secara serentak pada hari ke-40. Untuk lebih jelasnya disajikan pada tabel 3 berikut. Tabel 3. Waktu Tanam Rumput Laut Untuk Keperluan Pembibitan No 1. 2. 3. 4. 5. Umur Bibit Yang Diinginkan (Hari) 40 35 30 25 20 Waktu Tanam (Hari) H0 H+5 H+10 H+15 H+20

3.4.2 Pelaksanaan Penelitian A. Perendaman Bibit Dengan ZPT Agrogibb • Bibit rumput laut dipisahkan sesuai dengan kombinasi perlakuan kemudian ditimbang seberat 60 gram sebagai berat bibit awal (W0). • Bibit kemudian direndam dalam larutan ZPT Agrogibb dengan dosis 0,0549 ml/l selama 2,5 jam sesuai dengan perlakuan masing-masing yaitu 1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali. • Penimbangan berat bibit total dilakukan untuk menentukan volume perendaman, yakni menggunakan perbandingan rasio 1 liter : 100 gram bibit. Interval untuk perlakuan perendaman adalah 1 minggu dengan asumsi bahwa usia tanam rumput laut selama 30 hari.

27 • Perendaman dilakukan di dalam lambung perahu untuk semua perlakuan dengan waktu perendaman dilakukan pada pagi hari untuk mencegah terjadinya fluktuasi suhu yang tinggi. B. Penanaman Bibit • Bibit rumput laut dipisahkan menurut kombinasi perlakuan dan diberi kode sebagai penanda. • Kotoran, lumut dan teritip yang menempel pada rakit dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan parang. Bibit rumput laut kemudian ditanam pada rakit dengan jarak tanam 25 cm dan jarak antar tali ris 20 cm. • Kotoran dan lumut yang menempel pada rumput laut dibersihkan setiap hari dengan menggoyang secara teratur dan perlahan didalam air. C. Pengamatan Laju Pertumbuhan • Pengamatan terhadap pertambahan berat dilakukan setiap minggu dengan cara menimbang berat rumput laut beserta tali kemudian dikurangi berat tali. Pengamatan berat sekaligus dilakukan untuk menentukan volume dan dosis perendaman Agrogibb. • Pengamatan terhadap volume rumput laut Eucheuma cottonii dilakukan pada awal, tengah dan akhir penelitian dengan menggunakan sampling sebanyak 30% untuk setiap kombinasi perlakuan kemudian dirata-rata. D. Pengamatan Jumlah Tunas • Pengamatan terhadap jumlah tunas dengan menggunakan sampling sebanyak 30% untuk setiap kombinasi perlakuan kemudian dirata-rata. Penghitungan jumlah tunas dilakukan pada awal dan akhir penelitian.

28 3.5 Parameter Uji 3.5.1 Parameter Utama A. Variabel Berat Menurut Sunaryat et.al. (2001), untuk mengetahui pertumbuhan rumput laut yang ditanam dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

α = Wn Wo
Dimana : α Wn W0 n B. Variabel Volume

(

)

1/ n

- 1 x 100 %

= Laju pertumbuhan (%/hari) = Berat rata-rata akhir (gr) = Berat tanaman mula-mula (gr) = Waktu pengujian (hari)

Pertumbuhan rumput laut yang ditanam dapat dihitung melalui pertambahan volume dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

α = Vn Vo
Dimana : α Vn V0 n C. Jumlah Tunas

(

)

1/ n

- 1 x 100 %

= Laju pertumbuhan (%/hari) = Volume rata-rata akhir (ml) = Volume tanaman mula-mula (ml) = Waktu pengujian (hari)

Jumlah tunas dihitung dengan melakukan sampling sebanyak 30% dari setiap perlakuan kemudian dihitung jumlah tunas rata-rata.

29 3.5.2 Parameter Penunjang A. Derajat Keasaman (pH) • Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH paper yaitu dengan cara mencelupkan pH paper kedalam air sampel hingga terjadi perubahan warna kemudian dibandingkan dengan standar warna pada kotak pH paper. B. Kecerahan Air • Pengukuran kecerahan air dilakukan dengan menggunakan secchi disk (piringan secchi). Piringan secchi diturunkan secara perlahan kedalam air hingga didapat batas tidak nampak dari permukaan (H0) kemudian diangkat kembali hingga didapat batas pertama kali tampak (H1). Hasil kemudian dirata-rata untuk mendapatkan angka kecerahan total. C. Salinitas • Pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan refraktometer, yaitu dengan cara meneteskan air sampel pada membran refraktometer kemudian diteropong menghadap sinar hingga didapatkan nilai salinitas yang tertera pada skala. D. Suhu • Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer, yaitu dengan cara mencelupkan termometer kedalam air sampel kemudian melihat angka yang tertera pada skala termometer. E. Kecepatan Arus • Pengukuran kecepatan arus dilakukan dengan menggunakan botol aqua yang diikatkan pada tali rafia dengan panjang tertentu kemudian dihanyutkan

30 mengikuti arah arus hingga mencapai suatu jarak pada waktu tertentu. Kecepatan dinyatakan dalam satuan m/dtk. F. Total Suspended Solid (TSS) Cara pengukuran Total Suspended Solid menurut Greenberg et.al. (1990) adalah sebagai berikut : • Kertas saring dicuci dengan 20 ml aquadest sebanyak 3 kali dan dikeringkan dalam oven dengan suhu 103-1050C selama 1 jam kemudian disimpan dalam desikator agar suhu dan beratnya seimbang. • Proses diatas diulangi kembali hingga didapatkan berat kertas saring konstan atau hingga berat yang hilang mencapai kurang dari 0,5 mg pada beberapa kali penimbangan. Berat kertas saring sebelum digunakan ditimbang kembali sebagai berat awal (B). • Kertas saring dibasahi dengan aquadest secukupnya. Air sampel sebanyak 1 liter (C) dilewatkan pada kertas saring. Kertas saring dan residunya (A) dikeringkan dalam oven pada suhu 103-1050C selama 1 jam kemudian didinginkan dalam desikator hingga suhu dan beratnya stabil. Proses tersebut diulangi hingga didapatkan berat kertas saring dan residu konstan atau kehilangan berat pada kertas saring dan residu mencapai kurang dari 4% dari berat sebelumnya. • Dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus : TSS (mg/L) = Dimana : TSS A B C

( A − B )x1000
C = Total Suspended Solid (mg/L)
= Berat kertas saring dan residu kering (mg) = Berat kertas saring awal (mg) = Volume air sampel (ml)

31 4 HASIL PENELITIAN

4.1 Pembuatan Stok Bibit Rumput Laut Eucheuma cottonii Bibit yang digunakan dalam penelitian berasal dari lokasi setempat dan diperoleh dari hasil berkebun (patok dasar). Penanaman lanjutan untuk memperoleh umur bibit yang berbeda serta perbanyakan stok dilakukan pada media rakit berukuran 10x10 m sebanyak 1 buah dengan interval penanaman 5 hari untuk setiap perlakuan. Total waktu penanaman mencapai 40 hari. Jumlah bibit yang dipergunakan untuk setiap perlakuan sebesar 30 kg sehingga jumlah total mencapai 1,5 kw. Penanaman dilakukan dengan jarak tanam 25 cm dan jarak antar tali ris 20 cm seperti ditunjukkan pada gambar 9.

Gambar 9. Sketsa Penanaman Lanjutan Untuk Pembuatan Umur Bibit Yang Berbeda dan Perbanyakan Stok Secara umum bibit yang dihasilkan dengan media rakit mempunyai bentuk thallus yang relatif besar dibandingkan dengan bibit dari hasil berkebun (patok dasar). Bentuk thallus terbesar didapatkan pada umur 40 hari dan semakin mengecil seiring penurunan umur. Warna thallus didominasi kuning kecoklatan sementara tekstur agak rapuh dan mudah patah. Tunas terlihat sebagai tonjolan berwarna putih dan tersebar secara merata di sepanjang thallus.

32 4.2 Perendaman Bibit Rumput Laut Eucheuma cottonii Dengan ZPT Agrogibb Perendaman bibit rumput laut menggunakan ZPT Agrogibb dengan dosis 0.0549 ml/liter selama 2,5 jam. Rasio berat yang digunakan adalah 1 liter : 100 gram. Penentuan dosis disesuaikan dengan berat bibit rumput laut dan volume perendaman seperti tertera pada tabel 4 berikut. Tabel 4. Penentuan Dosis Agrogibb Berdasarkan Rasio Berat No. 1. 2. 3. 4. Perlakuan Perendaman 1 Perendaman II Perendaman III Perendaman IV Berat Bibit (Gram) 54.000 48.775,05 31.166,90 9.275,05 TOTAL Volume Perendaman (Liter) 540 487,7510 311,6690 92,7510 Dosis Agrogibb (ml) 29,6460 26,7775 17,1106 5,0920 78,6261

Pertumbuhan suatu tanaman meliputi tumbuh dan berkembang (diferensiasi) dari sel-sel atau jaringan. Proses tumbuh dan diferensiasi terdiri dari pembentukan atau penambahan massa sel yang belum berdiferensiasi maupun regenerasi dari massa sel yang belum berdiferensiasi tersebut menjadi jaringan lengkap (Winata, 1992 dalam Nirmala, 2004 ). Hal ini berarti bahwa semakin besar suatu tanaman maka semakin besar pula massa sel penyusunnya. Oleh karena itu perhitungan rasio berat dalam perendaman bibit menggunakan ZPT Agrogibb merupakan penyesuaian terhadap massa sel yang terlibat dalam aktifitas transportasi hormon ke dalam sel tumbuhan. Transportasi yang dimaksud dalam hal ini berupa proses transpor melalui dinding dan membran sel tumbuhan. Pengamatan yang dilakukan pasca perendaman menunjukkan bahwa warna thallus mengalami perubahan dari semula kuning kecoklatan menjadi coklat kehitaman. Menurut Soegiarto (1978), perubahan warna dapat terjadi karena pengaruh lingkungan

33 yang berubah, dimana perubahan tersebut merupakan modifikasi dari bentuk dan sifat luar (fenotip).

4.3 Penanaman Bibit Rumput Laut Eucheuma cottonii Bibit rumput laut yang telah direndam kemudian ditanam pada media rakit secara serentak dengan jarak tanam 25 cm dan jarak antar tali ris 20 cm seperti ditunjukkan pada gambar 10.

Gambar 10. Penanaman Bibit Rumput Laut Eucheuma cottonii Pada Media Rakit Jarak tanam berhubungan dengan lalu lintas pergerakan air yang membawa unsur hara sehingga proses fotosintesis yang diperlukan untuk pertumbuhan rumput laut dapat berlangsung. Selain itu pergerakan air yang lancar juga mencegah adanya fluktuasi yang besar terhadap salinitas maupun suhu air. Jarak tanam yang ideal tidak boleh kurang dari 20 cm (Afrianto dan Liviawaty, 1993). Dilanjutkan oleh Harjadi (1990) bahwa jarak tanam berpengaruh terhadap ruang tumbuh, cahaya yang diterima, tingkat persaingan untuk memperoleh zat makanan baik makro maupun mikro serta faktor-faktor pertumbuhan lainnya sehingga jarak tanam juga mempengaruhi ukuran baik seluruh tanaman maupun bagian-bagian tanaman.

34 4.4 Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii 4.4.1 Variabel Berat Dari hasil pengukuran berat rumput laut yang dilakukan setiap minggu sekali selama 30 hari masa tanam (Lampiran 1 dan 2), didapatkan nilai rata-rata dari laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii seperti ditunjukkan pada tabel 5. Tabel 5. Data Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Berat (%) Umur A B C D E Total Rata Frekuensi Perendaman Total Rata-rata K a b c d 17.8819 28.5858 19.9317 28.9563 22.6177 117.9734 7.8649 20.5360 30.2717 29.5086 30.6033 30.9716 141.8912 9.4594 25.6982 25.6591 10.0859 25.9219 23.2645 110.6296 7.7115 16.9761 18.0002 17.7128 22.3464 17.0713 92.1068 6.1405 21.6751 11.1814 18.7104 16.2766 15.6295 83.4730 7.6248 102.7673 113.6982 95.9494 124.1045 109.5546 546.074 6.8512 7.6331 6.4447 8.3511 7.3781

Dari hasil perhitungan statistik (Lampiran 5) didapatkan daftar sidik ragam seperti yang ditunjukkan dalam tabel 6. Tabel 6. Daftar Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Berat Sumber Keragaman Kelompok Perlakuan Kombinasi a. Faktor Perlakuan I b. Faktor Perlakuan II c. Interaksi I dan II Acak Total db 2 24 4 4 16 48 74 JK 65.5017 187.1775 90.5310 42.5270 54.1195 134.7265 387.4057 KT 32.7509 7.7991 22.6328 10.6318 3.3825 2.8068 F hit 11.6684** 8.0636** 3.7879** 1.2051ns F5% 3.19 2.56 2.56 1.86 F1% 5.08 3.74 3.74 2.40

Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa F hitung untuk kelompok, perlakuan umur dan frekuensi perendaman lebih besar dibandingkan dengan F1% dan F5%, sehingga didapatkan hasil highly significant yang artinya perbedaan lokasi penanaman,

35 perbedaan umur serta frekuensi perendaman rumput laut memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottoni. Karena kelompok, perlakuan umur dan frekuensi perendaman memberikan hasil berbeda sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji BNT seperti terdapat pada tabel 7 dan 8 dan 9 berikut. Tabel 7. Daftar Uji BNT Untuk Pengamatan Pengaruh Kelompok Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Berat Rata-rata III=6.8671 I=7.1179 II=8.9869 III=6.8671 0.2508ns 2.1198** I=7.1179 1.8690** II=8.9869 Notasi a a b

Tabel 8. Daftar Uji BNT Untuk Pengamatan Pengaruh Perlakuan Umur Yang Berbeda Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Berat
Rata-rata D=6.1405 E=7.6248 C=7.7115 A=7.8649 B=9.4594 D=6.1405 1.4843ns 1.5710* 1.7244* 3.3189** E=7.6248 0.0867ns 0.2401ns 1.8346* C=7.7115 0.1534ns 1.7479* A=7.8649 1.5945* B=9.4594 Notasi a ab bc c d

Tabel 9. Daftar Uji BNT Untuk Pengamatan Pengaruh Perlakuan Frekuensi Perendaman Yang Berbeda Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Berat
Rata-rata b=6.4447 K=6.8512 d=7.3781 a=7.6331 c=8.3511 b=6.4447 0.4065ns 0.9334ns 1.1884ns 1.9064* K=6.8512 0.5269ns 0.7819ns 1.4999ns d=7.3781 0.2550ns 0.9730ns a=7.6331 0.7180ns c=8.3511 Notasi a a a a b

4.4.2 Variabel Volume Dari hasil pengukuran berat rumput laut yang dilakukan pada awal, tengah dan akhir penelitian selama 30 hari masa tanam (Lampiran 9 dan 10), didapatkan nilai rata-

36 rata dari laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii seperti ditunjukkan pada tabel 10 berikut. Tabel 10. Data Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Volume (%) Umur A B C D E Total Rata K 7.8743 6.3462 19.8310 14.8725 15.5803 64.5043 5.9047 Frekuensi Perendaman a b c 23.7411 7.3085 18.1067 24.2549 20.6032 18.4620 16.9930 0.0000 20.2003 13.9512 14.9585 9.7162 3.0907 17.0297 9.9910 82.0309 59.8999 76.4762 5.8808 3.9933 5.7553 Total d 9.4498 26.5209 15.2000 13.0696 13.4468 77.6871 6.8847 66.4804 96.1872 72.2243 66.568 59.1385 360.598 Rata-rata 5.9840 7.2586 5.3216 5.6931 5.1359

Dari hasil perhitungan statistik (Lampiran 13) didapatkan daftar sidik ragam seperti yang ditunjukkan dalam tabel 11. Tabel 11. Daftar Sidik Ragam Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Variabel Volume db 2 24 4 4 16 48 74 JK 0.8530 99.2586 32.9895 11.3135 54.9556 232.8866 332.9982 KT 0.4265 8.2474 2.8284 3.4347 4.8518 F hit 0.0879ns 1.6999ns 0.5830ns 0.7079ns F5% 3.19 2.56 2.56 1.86 F1% 5.08 3.74 3.74 2.40

Kelompok Perlakuan Kombinasi a. Faktor Perlakuan I b. Faktor Perlakuan II c. Interaksi I dan II Acak Total

Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa F hitung untuk kelompok, faktor perlakuan I, faktor perlakuan II maupun interaksi faktor I dan II lebih kecil dibandingkan dengan F1% dan F5%, sehingga didapatkan hasil non significant yang artinya perbedaan lokasi penanaman rumput laut, perlakuan umur bibit, perlakuan frekuensi perendaman maupun interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii.

37 4.5 Jumlah Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Dari hasil pengukuran jumlah tunas rumput laut yang dilakukan pada awal dan akhir penelitian selama 30 hari masa tanam (Lampiran 14), didapatkan nilai rata-rata dari jumlah tunas rumput laut Eucheuma cottonii seperti ditunjukkan pada tabel 12. Tabel 12. Data Jumlah Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Umur A B C D E Total Rata a 8.6891 8.6049 8.1509 8.0566 7.3615 40.8630 2.7242 Frekuensi Perendaman b c d 7.5110 8.1282 7.6544 8.1530 7.3723 7.9278 7.4162 4.9077 5.4141 7.6598 7.7547 7.7621 5.4415 7.7429 7.3582 36.1815 35.9058 36.1166 2.4121 2.3937 2.4078 Total K 7.8017 7.6443 7.9692 7.4959 7.4716 38.3827 2.5588 39.7844 39.7023 33.8581 38.7291 35.3757 187.4496 Rata-rata 2.6523 2.6468 2.2572 2.5819 2.3584

Dari hasil perhitungan statistik (Lampiran 17) didapatkan daftar sidik ragam seperti yang ditunjukkan dalam tabel 13. Tabel 13. Daftar Sidik Ragam Jumlah Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Sumber Keragaman Kelompok Perlakuan Kombinasi a. Faktor Perlakuan I b. Faktor Perlakuan II c. Interaksi I dan II Acak Total db 2 24 4 4 16 48 74 JK 1.5025 6.7727 1.9570 1.2188 3.5969 16.5025 24.7777 KT 0.7513 0.2822 0.4893 0.3047 0.2248 0.3438 F hit 2.1853ns 1.4232ns 0.8863ns 0.6539ns F5% 3.19 2.56 2.56 1.86 F1% 5.08 3.74 3.74 2.40

Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa F hitung untuk kelompok, faktor perlakuan I, faktor perlakuan II maupun interaksi faktor I dan II lebih kecil dibandingkan dengan F1% dan F5%, sehingga didapatkan hasil non significant yang artinya perbedaan lokasi penanaman rumput laut, perlakuan umur bibit, perlakuan

38 frekuensi perendaman maupun interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas rumput laut Eucheuma cottonii.

4.6 Pengaruh Umur Bibit dan Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb Terhadap Laju Pertumbuhan (Variabel Berat) Secara umum, laju pertumbuhan rumput laut pada penelitian ini mengalami kenaikan secara signifikan pada hari pertama hingga hari ke-14. Memasuki hari ke-15 laju pertumbuhan mengalami penurunan hingga mencapai kematian pada hari ke-30. Untuk lebih jelasnya disajikan pada gambar 11 berikut.

6.0000 5.0000

4.0000 3.0000

Laju Pertumbuhan (%)

2.0000 1.0000

0.0000 -1.0000

-2.0000 -3.0000

-4.0000 -5.0000 A B C D H7 E H14 K1 H21 K2 H30 K3 K4 K5

Gambar 11. Grafik Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Waktu Pengamatan. Dari hasil uji beda nyata terkecil didapatkan bahwa laju pertumbuhan terbaik didapatkan pada perlakuan umur 25 hari disusul dengan umur 20, 30, 35 dan 40 hari. Pada gambar 11 terlihat bahwa pola hubungan yang terbentuk antara perlakuan umur

39 yang berbeda terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii adalah persamaan kubik dengan persamaan Y = 10.7138 + 0.0369x - 0.0337x2 + 0.0007x3. Laju pertumbuhan maksimum sebesar % didapatkan pada perlakuan umur terlihat pada gambar 12 berikut.
2 1 0 Laju Pertumbuhan (%) 20 -1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 Umur Bibit Y = 10.7138 + 0.0369x - 0.0337x2 + 0.0007x3 r = 0.4162 25 30 35 40

seperti

Gambar 12. Grafik Persamaan Kubik Hubungan Antara Perlakuan Umur dan Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii. Perlakuan umur 25 hari memberikan laju pertumbuhan terbaik dikarenakan pada perlakuan umur tersebut jaringan meristem primer yang tersedia lebih banyak sehingga mampu mengadakan pembelahan sel secara optimal. Menurut Anonymous dalam http://www.lablink.co.id (2004), sel-sel jaringan meristem primer banyak ditemui pada embrio, bagian ujung-ujung muda dari tumbuhan seperti batang atau thallus pada rumput laut. Berdasarkan aktifitasnya, daerah pertumbuhan pada pertumbuhan primer meliputi : 1. Daerah pembelahan, merupakan daerah yang sel-selnya aktif membelah secara mitosis (meristematik). 2. Daerah pemanjangan, merupakan daerah yang berada di belakang daerah pembelahan.

40 3. Daerah diferensiasi, merupakan bagian paling belakang dari daerah pertumbuhan dan merupakan daerah yang mengalami diferensiasi yaitu daerah yang sel-selnya mengalami perubahan membentuk jaringan dan organ yang mempunyai struktur dan fungsi berbeda. Kendati demikian, rata-rata laju pertumbuhan dari seluruh perlakuan yang dihasilkan dari penelitian ini masih berada dibawah ambang batas yang dianggap menguntungkan yaitu 3% (Mubarak, 1990). Hal tersebut terutama disebabkan oleh faktor eksternal, yang terlihat dari nilai koefisien determinasi (r) sebesar 0.4162. Faktor eksternal yang berperan terutama kecepatan arus yang rendah serta adanya parasit berupa lumut sehingga berdampak pada rontoknya thallus. Pada hari ke26 hingga hari ke-30 banyak ditemui rumput laut yang mati, ditandai dengan perubahan warna dari coklat kekuningan menjadi putih serta bentuk thallus yang layu (tekanan turgor hilang).

Gambar 13. Bentuk Thallus Yang Mengalami Kematian Dari hasil uji beda nyata terkecil didapatkan bahwa frekuensi perendaman terbaik didapatkan pada perlakuan perendaman 3 kali. Pada gambar 14 terlihat bahwa pola hubungan yang terbentuk antara perlakuan umur yang berbeda terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii adalah persamaan kuartik dengan

41 persamaan Y = 1.4227 + 2.7150x - 3.7534x2 + 1.5830x3 - 0.2027 x4. Laju pertumbuhan maksimum sebesar % didapatkan pada perlakuan berikut.
2.5

seperti terlihat pada gambar 14

Laju Pertumbuhan (%)

2

1.5

1 Y = 1.4227 + 2.7150x - 3.7534x2 + 1.5830x3 - 0.2027 x4 r = 0.3980 0.5

0 K a b c d

Frekuensi Perendaman

Gambar 14. Grafik Persamaan Kuartik Hubungan Antara Frekuensi Perendaman dan Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii. Frekuensi perendaman ZPT Agrogibb memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii. Hal tersebut dapat ditinjau dari beberapa aspek diantaranya : 1. Konsentrasi ZPT Agrogibb secara eksogen pada perendaman pertama belum mencapai kecepatan transpor pasif maksimum sehingga penambahan ZPT Agrogibb lebih lanjut pada perendaman berikutnya belum mempengaruhi tingkat kejenuhan pengangkut pada membran sel (Poedjiadi, 2004). 2. Kondisi sintesis karbohidrat yang rendah akibat fotosintesis yang terhambat terutama memasuki hari ke-15 (memasuki perlakuan perendaman ketiga), diduga mengakibatkan terjadinya penurunan konsentrasi glukosa di dalam sel. Hal ini mengakibatkan terjadi pengikatan protein reseptor pada bagian promotor DNA sehingga sintesis mRNA sebagai pengkode terbentuknya enzim digesti khususnya α-amilase berlangsung. Pemberian ZPT Agrogibb secara eksogen

42 pada perendaman ketiga (perlakuan c) berperan dalam menunjang pembentukan mRNA pengkode enzim α-amylase yang berperan dalam hidrolisis cadangan makanan (pati) menjadi senyawa karbohidrat sederhana (Anonymous dalam http://www.google.com/Biology 123/Chapter 35, 2004). Proses enzimatik hidrolisis cadangan makanan bermula dari pembentukan protein Myb sebagai bentuk respon sel terhadap adanya hormon giberellin. Adanya protein Myb menyebabkan terjadinya pengikatan protein reseptor pada bagian promotor DNA yang mengkode enzim α-amilase sehingga aktivitas transkripsi RNA berlangsung. RNA yang dihasilkan (m-RNA) berperan dalam proses translasi asam amino pada ribosom hingga menyebabkan terbentuk protein spesifik sesuai kode yang diberikan pada m-RNA (enzim α-amilase). Adapun proses pengikatan dan pelepasan protein pada promotor DNA sangat erat kaitannya dengan konsentrasi glukosa dalam sel dimana glukosa berperan sebagai faktor pembatas. Dengan katan lain konsentrasi glukosa menentukan kapan dimulai dan diakhirinya proses sintesis enzim (Paul, 1992).

Gambar 15. Mekanisme Giberellin Dalam Sintesis mRNA α-amilase (Sumber : http://www. google.com/Biology123/Chapter 35, 2004) Proses hidrolisis cadangan makanan (pati) memberikan bentuk respon berupa perpanjangan pada batang (stem elongation) akibat tercukupinya nutrisi, sehingga pada akhirnya akan menaikkan berat akhir tanaman. Hal tersebut identik dengan peningkatan

43 jumlah tandan (fruit set) pada tanaman berbuah ataupun percepatan panen (Anonymous dalam http://www.google.com, 2004). Interaksi antara perlakuan umur dan frekuensi perendaman secara statistik tidak berbeda nyata. Kendati demikian, bibit rumput laut yang direndam tetap memiliki laju pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol seperti disajikan dalam gambar 15.
4

2

0 20 25 30 35 40

-2

-4

-6

-8 Umur B ibit P e rla kua n Umur Kont rol

Gambar 16. Grafik Perbandingan Antara Perlakuan dan Kontrol Dari hasil perhitungan (Lampiran 8) didapatkan persamaan garis singgung antara perlakuan umur dengan kontrol pada titik. Artinya hwa bibit rumput laut yang direndam dengan ZPT Agrogibb memiliki waktu panen lebih cepat hari dibandingkan kontrol.

4.7 Pengaruh Umur Bibit dan Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb Terhadap Laju Pertumbuhan (Variabel Volume) Volume adalah besar ruang tiga dimensi yang dimiliki oleh suatu benda. Volume dapat diukur melalui penggunaan tabung berisi air (tabung limpah). Apabila sebuah benda dibenamkan ke dalam tabung berisi air maka benda tersebut akan menggeser air sebesar volume benda itu sendiri. Yang berpengaruh besar dalam proses tersebut adalah luas permukaan benda yang menekan air (Godman, 1996).

44 Aktivitas pembesaran volume thallus diatur sepenuhnya oleh pertumbuhan sekunder yakni aktivitas dari jaringan-jaringan meristem sekunder, dalam hal ini aktivitas kambium dan kambium gabus (Anonymous dalam http://www.lablink.co.id, 2004). Secara umum, laju pertumbuhan rumput laut pada variabel volume mengalami penurunan seperti tertera pada gambar 17 berikut.

5.8000 5.0000 4.2000

Laju Pertumbuhan (%)

3.4000 2.6000 1.8000 1.0000 0.2000 -0.6000 -1.4000 -2.2000 -3.0000 -3.8000 -4.6000 -5.4000 -6.2000 -7.0000

Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5
H15 H30

Gambar 17. Grafik Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Waktu Pengamatan. Dari hasil uji beda nyata terkecil didapatkan bahwa perlakuan umur, frekuensi perendaman ZPT Agrogibb maupun interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii berdasarkan variabel volume. Hal tersebut mengindikasikan beberapa hal : 1. Pola pertumbuhan yang digambarkan dengan pertambahan ruang tiga dimensi (volume) relatif sama untuk semua perlakuan dan kombinasinya. 2. Pola pertumbuhan yang terjadi lebih terkonsentrasi pada pertambahan berat (gravimetrik) dibandingkan pertambahan volume (volumetrik). Hal ini berarti bahwa rumput laut cenderung mengalami perpanjangan thallus (stem elongation)

45 dibandingkan pembesaran volume (stem enlargement). Dinyatakan oleh Anonymous dalam http://www.rusnahbuah.or.id (2004), bahwa giberellin berpengaruh lebih besar terhadap proses pemanjangan batang dibandingkan dengan auxin. Giberellin biasanya terkonsentrasi pada jaringan meristem yang berisi sel-sel muda yang aktif membelah sementara konsentrasi auxin tertinggi justru terdapat pada bagian pucuk terendah (basal) dari tanaman. 3. Pemberian giberellin mampu meningkatkan jumlah auxin secara tidak langsung melalui sintesis enzim proteolitik yang akan membebaskan triptofan sebagai bahan dasar penyusun auxin (Anonymous dalam http://www.google.com, 2004). Apabila dilihat dari pola pertumbuhan yang dihasilkan maka diduga bahwa nisbah giberellin dalam sel rumput laut lebih tinggi dibandingan auxin. 4. Pola pertumbuhan berat (gravimetrik) menyebabkan terjadinya penambahan jumlah massa sel penyusun thallus sehingga meningkatkan nilai kerapatan sel yang dnyatakan dengan massa per satuan volume (Godman, 1996). Hal ini berarti bahwa perlakuan umur 25 hari memiliki kerapatan sel yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan umur lainnya.

4.8 Pengaruh Umur Bibit dan Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb Terhadap Jumlah Tunas Menurut Godman (1996), tunas adalah suatu struktur kecil menonjol pada batang yang nantinya akan berkembang menjadi daun atau benda dengan fungsi tertentu. Merupakan suatu bentuk pertumbuhan menyerupai diri sel induknya dan menjadi sel baru. Dilanjutkan oleh Nirmala (2004), tunas pada dasarnya merupakan massa sel yang dinamakan kalus yang telah mengalami regenerasi. Tunas yang tumbuh ke arah samping

46 dinamakan tunas lateral dan biasanya terjadi karena adanya faktor penghambat untuk tumbuh ke arah atas, biasanya disebabkan oleh adanya pemotongan/stek. Fenomena ini disebut apical dominance. Dari hasil uji beda nyata terkecil didapatkan bahwa perlakuan umur, frekuensi perendaman ZPT Agrogibb maupun interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan jumlah tunas rumput laut Eucheuma cottonii. Dari grafik pada gambar 18 terlihat bahwa jumlah rata-rata tunas selama pengamatan mengalami penurunan.

1600.0000 1400.0000 1200.0000

Jumlah Tunas

1000.0000 800.0000 600.0000

400.0000 200.0000 0.0000 Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5

Waktu Pengamatan
H0 H30

Gambar 18. Grafik Laju Pertambahan Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Waktu Pengamatan Pemberian giberellin mampu mendorong terbentuknya enzym proteolitik yang akan membebaskan triptofan sebagai bahan dasar penyusun auxin. Giberellin dan auxin memberikan respon yang berlainan dalam pembentukan tunas. Auxin cenderung menghambat pembentukan tunas sementara giberellin justru memacu terbentuknya tunas baru. Proses ini sangat tergantung pada nisbah/perbandingan antara keduanya. Mekanisme antagonistik antara giberellin dan auxin terjadi karena adanya kompetisi pada pengikatan tempat di DNA terutama di sekitar gen yang berfungsi dalam

47 pengaturan tunas (Anonymous dalam http://www.google.com, 2004). Meskipun nisbah auxin lebih rendah dari giberellin namun diduga dalam konsentrasi yang rendah tersebut telah cukup untuk menyebabkan terjadinya respon penghambatan pembentukan tunas baru pada rumput laut.

4.9 Kualitas Air 4.9.1 Derajat Keasaman (pH) Dari hasil penelitian didapatkan nilai pH rata-rata berkisar antara 6.67-7.67 sehingga cenderung mendekati basa. Menurut Soeseno (1985) bahwa perairan yang bersifat basa dapat lebih cepat mendorong proses pembongkaran bahan organik menjadi garam mineral seperti amonia, nitrat dan fosfat yang akan digunakan oleh tumbuhan air sebagai makanan. pH ideal untuk menunjang pertumbuhan rumput berkisar antara 7.38.2 (Tim Penulis PS, 2000). 4.9.2 Kecerahan Kecerahan merupakan tingkat kejernihan perairan dimana cahaya matahari masih dapat menembus ke dalam perairan sampai pada kedalaman tertentu. Dalam budidaya rumput laut Eucheuma cottonii, kecerahan merupakan salah satu faktor yang penting bagi pertumbuhan rumput laut karena cahaya matahari yang dibutuhkan dapat diserap dengan baik jika kondisi perairan jernih. Tetapi apabila kondisi perairan keruh akan sangat mengganggu pertumbuhan rumput laut karena penetrasi cahaya matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis menjadi terganggu (Afrianto dan Liviawaty, 1993). Dari hasil pengukuran didapatkan nilai kecerahan rata-rata berkisar antara 292-322 cm

48 sehingga penetrasi cahaya matahari dianggap masih layak untuk berlangsungnya proses fotosintesis. 4.9.3 Salinitas Air laut adalah air murni yang didalamnya terlarut berbagai zat padat dan gas. Banyaknya zat terlarut disebut salinitas. Menurut Rahardjo (1982), salinitas didefinisikan sebagai jumlah (gram) zat-zat yang larut dalam satu kilogram air laut, dengan anggapan bahwa semua karbonat telah diubah menjadi oksida-oksidanya, brom dan iodium digantikan chlor dan semua bahan organik telah dioksidasi dengan sempurna. Menurut Aslan (1998), rumput laut Eucheuma cottonii bersifat euryhalin, hidup dan tumbuh pada perairan dengan kisaran salinitas yang lebar antara 30-37 promil. Dilanjutkan oleh Herianti dan Parwati (1988), pada kondisi salinitas yang tinggi air bersifat hipertonik terhadap sel sehingga menyebabkan terjadinya plasmolisis yaitu protoplas yang kehilangan air dan menyusut volumenya sehingga terlepas dari dinding sel. Dari hasil pengamatan didapatkan nilai kisaran rata-rata salinitas antara 31-33 promil. 4.9.4 Suhu Suhu air meskipun tidak bersifat mematikan namun dapat menghambat pertumbuhan rumput laut. Perbedaan suhu yang terlalu besar antara siang dan malam hari dapat mempengaruhi pertumbuhan. Hal ini sering ditemui pada perairan yang terlalu dangkal (Afrianto dan Liviawaty, 1993). Menurut Aslan (1998), rumput laut Eucheuma cottonii tumbuh dengan baik pada kisaran suhu antara 26-33oC tetapi terhambat pada kombinasi suhu rendah dan intensitas

49 cahaya tinggi. Adapun pengamatan suhu selama penelitian berlangsung menunjukkan rata-rata kisaran 29.67-30oC sehingga dianggap masih layak untuk pertumbuhan rumput laut. 4.9.5 Kecepatan Arus Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal massa air. Sistem arus laut dihasilkan oleh daerah angin yang berbeda satu sama lain dan di masing-masing daerah ini angin secara terus menerus bertiup dengan arah yang tidak berubah-ubah (Nybakken, 1985). Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa kecepatan arus rata-rata berkisar antara 11.82-19.98 cm/detik. Hal ini mengindikasikan kondisi yang kurang layak untuk pertumbuhan rumput laut. Menurut Afrianto dan Liviawaty (1993), kecepatan arus yang dianggap baik untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 20-40 cm/detik. Arus yang baik akan membawa nutrisi bagi tumbuhan sehingga kesempatan untuk penyerapan nutrisi dan proses fotosintesis tidak terganggu. Arus yang kurang dari kisaran tersebut berpotensi memunculkan lumut yang beradaptasi pada kondisi arus tenang.

4.9.6 Total Suspended Solid (TSS) Kekeruhan adalah suatu ukuran biasan cahaya didalam air yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid dan suspensi yang terkandung. Kekeruhan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari sehingga dapat membatasi proses fotosintesa dan produktivitas primer perairan (Wirawan, 1995). Dari hasil pengamatan didapatkan nilai rata-rata Total Suspended Solid berkisar antara

50

51 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari data hasil penelitian, hasil perhitungan data dan hasil analisa data penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Umur bibit yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii berdasarkan variabel pertambahan berat. Hubungan yang dihasilkan berupa grafik kubik dengan persamaan Y = 10.7138 + 0.0369x - 0.0337x2 + 0.0007x3 dengan Y maksimal sebesar 5.5202 pada perlakuan umur 16.0476 hari. 2. Dari hasil analisa regresi antara perlakuan kontrol umur dengan laju pertumbuhan rumput laut berdasarkan variabel berat didapat hubungan berupa grafik kubik dengan persamaan Y = 7.8629 + 0.0352x - 0.0314x2 + 0.0007x3 dengan Y maksimal sebesar 3.7092% pada perlakuan umur 14.9524 hari. 3. Perlakuan umur yang direndam dengan ZPT Agrogibb menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol sehingga dapat mempercepat pemanenan. 4. Frekuensi perendaman ZPT Agrogibb yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii berdasarkan variabel pertambahan berat. Hubungan yang dihasilkan berupa grafik kuartik dengan persamaan Y = 1.4227 + 2.7150x - 3.7534x2 + 1.5830x3 - 0.2027 x4 dengan Y maksimal sebesar pada perlakuan frekuensi perendaman.

52 5. Perlakuan umur bibit, frekuensi perendaman ZPT Agrogibb serta interaksi keduanya tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii berdasarkan variabel pertambahan volume. 6. Pola pertumbuhan yang terjadi akibat perendaman ZPT Agrogibb lebih terkonsentrasi pada pertambahan panjang dibandingkan pertambahan volume thallus 7. Perlakuan umur bibit, frekuensi perendaman ZPT Agrogibb serta interaksi keduanya tidak berpengaruh terhadap laju pertambahan tunas rumput laut Eucheuma cottonii. 8. Kualitas air selama penelitian berupa pH (6.67-7.67), kecerahan (292-322), salinitas (31-33 promil) dan suhu (29.67-30oC) masih layak untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii. Sedangkan kecepatan arus (11.82-19.98 cm/detik) tidak layak untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii.

5.2 Saran 1. Faktor lingkungan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan pada kondisi lingkungan yang berbeda. 2. Umur bibit dan frekuensi perendaman yang disarankan untuk memberikan hasil pertumbuhan yang maksimal adalah 16.0476 hari dan .

53 DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E. dan E, Liviawaty. 1993. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. Penerbit Bhratara. Jakarta. 58 hal. Akbar, S., B. Kurnia dan Istiqomah. 2001. Biologi Rumput Laut. Petunjuk Teknis No. 8. Balai Budidaya Laut Lampung. Lampung. Hal 9-12 Anonymous. 2001. Permeabilitas Membran Sel. http://www.omega.ilce.edu. Anonymous. 2004. Anatomi Sel Tumbuhan. http://www.lablink.co.id Anonymous. 2004. Hormon Tumbuhan. http;//www.google.com. Anonymous. 2004. Pembungaan dan Pembuahan Di Luar Musim Pada Mangga. http://www.rusnahbuah.or.id Anonymous. 2004. Permintaan Hasil Rumput Laut. http:\\www.bi.go.id. Anonymous. 2004. Pertumbuhan Pada Tumbuhan. http://www.lablink.co.id. Anonymous. 2004. Seeds Plants And Hormone. http;//www.google.com/Biology 123/Chapter 35 Aslan. 1991. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut dan Kerang Darah. Dinas Perikanan Propinsi Tingkat I Jawa Barat. 12 hal. Aslan, L.M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 97 hal. Djazuli, N. 2002. Penanganan dan Pengolahan Produk Perikanan Budidaya Dalam Menghadapi Pasar Global : Peluang dan Tantangan. Makalah Pengantar Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3 IPB. Bogor. 15 hal. Gardner, F. P. Pearce, R. B and R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 428 hal. Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico. Bandung. 472 hal. Godman, A. 1996. Kamus Sains Bergambar. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 331 hal. Greenberg, A.E., R.R. Trussell and L.S. Clesceri. 1990. Standart Methods For The Examination Of Water And Wastewater. Sixteen Edition. American Public Health Association. 1268 hal.

54

Harjadi, S. 1989. Pengantar Agronomi. PT Gramedia. Jakarta. Hal 124-125. Heddy, S. 1983. Hormon Pertumbuhan. Universitas Brawijaya Malang Fakultas Pertanian. Malang. 39 hal. Herianti, I. dan M.D. Parwati. 1988. Pengaruh Media Kultur Pada Pertumbuhan Populasi Dunaleila sp. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No.44. Balai Penelitian Perikanan Laut. Balai Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. 93 hal. Iswahyudi. 2004. Pengaruh Lama Perendaman Agrogibb Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut (Eucheuma cottonii). Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Kimball, J. W. 1983. Biologi. Edisi Kelima Terjemahan. Penerbit Erlangga. Jakarta. 755 hal. Meiyana, M., Evalawati dan A. Prihaningrum. 2001. Biologi Rumput Laut. Petunjuk Teknis No. 8. Balai Budidaya Laut Lampung. Lampung. Hal 3-7. Mubarak, H. et.al. 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Departemen Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta. 93 hal. Nazir, M. 1988. Metode Penelitian. PT Ghalia Indonesia. Jakarta. Nirmala, R. 2003. Pengaruh 2,4 D Dan Kombinasi NAA Dengan Kinetin Terhadap Pertumbuhan Dan Perkecambahan Kalus Tomat (Lycopersicon esculentum MILL) Varietas Kemir. http;//www.google.com/search Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia. Jakarta. 459 hal. Poedjiadi, A. 1994. Dasar Dasar Biokimia. UI Press. Jakarta. 472 hal. Rahardjo, S. 1982. Oseanografi Perikanan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta 143 hal. Saputra, I. H. 2004. Pengaruh Pemberian Agrogibb Dengan Dosis Yang Berbeda Terhadap Laju Pertumbuhan Rumput Laut (Eucheuma cottonii). Skripsi. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Sediadi, A. dan U. Budiharjo. 2000. Proyek Sistem Informasi Iptek Nasional Guna Menunjang Pembangunan. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI. Jakarta. 20 hal. Soegiarto, A. 1978. Rumput Laut (Algae). Lembaga Oceanologi Nasional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LON-LIPI). Jakarta.

55

Soelistyo. 1987. Rumput Laut (Algae) Manfaat, Potensi dan Usaha Budidayanya. Lembaga Oceanologi Nasional. LIPI. Jakarta. 89 hal. Soeseno, S. 1985. Budidaya Ikan dan Udang Dalam Tambak. PT Gramedia. Jakarta. 51 hal. Sunarmi, P. 1989. Budidaya Rumput Laut. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Sunaryat, N. Runtuboy dan T.W. Aditya. 2001. Biologi Rumput Laut. Petunjuk Teknis No. 8. Balai Budidaya Laut Lampung. Lampung. Hal 19-22. Suptijah, P. 2002. Rumput Laut : Prospek Dan Tantangannya. Makalah Pengantar Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3 IPB. Bogor. 7 hal. Tim CoData Indonesia. 2004. Daftar Jenis Alga Merah. http:\\www.iptek.net.id. Jakarta. Tim Penulis PS. 2001. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta. 99 hal. Trisakti, B., U. Hadi dan J. Sari. 2003. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Pengembangan Perikanan dan Pariwisata Wilayah Pesisir Nusa Tenggara Barat. Unit Instalasi Lingkungan dan Cuaca PPPTPJ. Jakarta. Widyastuti, N. dan Tjokrokusumo, D. 2004. Peranan Beberapa Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Tanaman Pada Kultur In Vitro. Jurnal Sains dan Tekhnologi V3.n5.08. http://www.iptek.net.id Wirawan, I. 1995. Limnology. Jurusan Perikanan Universitas DR. Soetomo. Surabaya. 156 hal. Yitnosumarto. 1993. Perencanaan Analisis dan Interpretasinya. Program MIPA. Univers itas Brawijaya. Malang. 299 hal.

56 Lampiran 1. Data Rata-rata Pertambahan Berat Tiap Minggu Rumput Laut Eucheuma cottonii (Gram) Setiap Minggu Selama 30 Hari Masa Tanam Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 84.1650 69.5850 88.3325 72.5000 73.7500 93.3350 86.8325 87.5800 76.2500 64.5850 77.9150 70.8325 68.3325 72.5000 79.5850 81.2525 65.0025 78.7500 72.5000 58.3325 82.9175 78.3325 76.0 72.5000 70.9175 Pengamatan II III 104.5825 87.9175 93.3350 85.0025 100.0000 94.1675 93.7500 76.6675 109.5850 120.4150 98.3325 98.3350 100.0025 96.2525 103.7500 109.5825 96.2500 77.9150 83.7500 67.9150 87.9150 76.6675 82.9175 81.6675 90.4150 70.8325 81.6675 61.6675 82.6675 76.6675 86.6675 68.3325 75.8325 50.8350 73.3325 55.0000 82.4200 67.5000 67.7525 66.6675 77.0825 79.1675 77.0825 84.1675 85.4150 81.2475 74.1675 65.8325 71.2525 65.0000

57 Lampiran 2. Data Rata-rata Laju Pertumbuhan Tiap Minggu (Berdasarkan Variabel Berat) Rumput Laut Eucheuma cottonii Selama 30 Hari Masa Tanam (%) Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 Pengamatan I II III 2.2723 3.6381 2.4042 0.7657 3.1481 0.6690 2.5163 3.5150 2.4596 1.0164 2.7851 1.5816 1.5765 3.7881 4.2068 2.9373 2.9794 2.8392 2.1586 4.2423 3.1777 2.5102 3.6395 3.5482 1.7112 3.2096 1.8522 -0.6147 1.8987 0.1428 1.6920 2.4603 2.6808 0.7472 3.2988 1.8612 1.0762 2.5263 0.2560 1.0701 1.8512 0.4758 1.7634 2.2337 1.1366 0.9056 2.3384 0.2411 0.4606 1.6101 -1.8714 1.7709 1.4163 0.5436 -0.3686 2.0977 1.9124 -1.1372 1.8137 1.8842 2.2077 1.9978 0.0447 1.7141 1.5990 1.0032 1.8190 2.3760 2.4905 1.2027 0.3781 1.5512 1.3839 2.4121 1.0870

58 Lampiran 3. Uji Sifat Heterogenitas Varians Untuk Perbaikan Penyimpangan Data Melalui Transformasi Berdasarkan Prinsip ANOVA
4

3.5

Rentang/Selisih Data Max-Min

3

2.5

2

1.5

1

0.5

0 0.0000

0.5000

1.0000

1.5000

2.0000

2.5000

3.0000

3.5000

Rata-rata Data

Dari grafik diatas didapat kesimpulan sebagai berikut : 1. Data memiliki heterogenitas varians yang disebabkan oleh adanya hubungan fungsional antara varians dengan rerata perlakuan ; Y = f(x) yang ditunjukkan oleh pola distribusi binomial ataupun disebabkan oleh faktor lain (tidak adanya hubungan antara varians dengan rerata perlakuan). 2. Data memiliki sifat multiplikatif artinya pengaruh dari kombinasi perlakuan tidak tetap pada kelompok dan pengaruh kelompok tidak tetap pada kombinasi perlakuan. Sehingga perlu dilakukan transformasi untuk memperbaiki data berbentuk persen seperti diatas yang mempunyai penyimpangan dari sifat-sifat asumsi dasar ANOVA. Bentuk transformasi yang ideal untuk data diatas adalah transformasi arcsin.

59 Lampiran 4. Transformasi ArcSin√Persentase Dari Data Rata-rata Laju Pertumbuhan Tiap Minggu Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Selama 30 Hari Masa Tanam (Variabel Berat) Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 8.6699 5.0201 9.1273 5.7862 7.2130 9.8684 8.4486 9.1161 7.5166 0.0001 7.4740 4.9589 5.9546 5.9376 7.6310 5.4607 3.8915 7.6473 0.0000 0.0004 8.5448 7.5230 7.7511 6.2962 6.7559 Pengamatan II III 10.9959 8.9200 10.2200 4.6916 10.8060 9.0230 9.6068 7.2247 11.2231 11.8356 9.9396 9.7006 11.8862 10.2685 10.9980 10.8575 10.3205 7.8220 7.9202 2.1657 9.0243 9.4236 10.4645 7.8411 9.1456 2.900 7.8199 3.9553 8.5954 6.1200 8.7961 2.8145 7.2899 0.0011 6.8349 4.2282 8.3277 7.9489 7.7398 7.8897 8.1256 1.2115 7.2646 5.7484 8.8671 9.0800 3.5253 7.1546 8.9347 5.9845

60 Lampiran 5. Perhitungan Statistik (Berdasarkan Variabel Berat) Dari Data Laju Pertumbuhan Tiap Minggu Rumput Laut Eucheuma cottonii Umur A Frekuensi Perendaman K a b c d K a b c d K a b c d K a b c d K a b c d Total Rata-rata Kelompok I II 8.5448 8.1256 8.6699 10.9959 5.0201 10.2200 9.1273 10.8060 5.7862 9.6068 7.5230 7.2646 7.2130 11.2231 9.8684 9.9396 8.4486 11.8862 9.1161 10.9980 7.7511 8.8671 7.5166 10.3205 7.9202 7.4740 9.0243 4.9589 10.4645 6.2962 3.5253 5.9546 9.1456 5.9376 7.8199 7.6310 8.5954 5.4607 8.7961 6.7559 8.9347 3.8915 7.2899 7.6473 6.8349 8.3277 7.7398 156.5928 224.6717 7.1179 8.9869 Total III 1.2115 17.8819 8.9200 28.5858 4.6916 19.9317 9.0230 28.9563 7.2247 22.6177 5.7484 20.5360 11.8356 30.2717 9.7006 29.5086 10.2685 30.6033 10.8575 30.9716 9.0800 25.6982 7.8220 25.6591 2.1657 10.0859 9.4236 25.9219 7.8411 23.2645 7.1546 16.9761 2.900 18.0002 3.9553 17.7128 6.1200 22.3464 2.8145 17.0713 5.9845 21.6751 11.1814 4.2282 18.7104 7.9489 16.2766 7.8897 15.6295 164.8095 546.0740 6.8671 Rata-rata 5.9606 9.5286 6.6439 9.6521 7.5392 6.8453 10.0906 9.8362 10.2011 10.3239 8.5661 8.5530 5.0430 8.6406 7.7548 5.6587 6.0001 5.9043 7.4488 5.6904 7.2250 3.7271 6.2368 8.1383 7.8148

B

C

D

E

Faktor Koreksi (FK) =

(G ) 2
n

=

(546.0740)2
21 * 3 + 2 * 4

= 4199.9551

2 2 2 2 JK Total = (8.669) + (10.9959) + (8.9200) + ........ + (5.9845) - FK -

= =

4587.3608 - 4199.9551 387.4057

2 2 2 2 JK Perl. Kombinasi = 28.5858 + 19.9317 + ... + 10.0859 + ... + 21.6751 - FK 3 3 2 3 = 4387.1326 - 4199.9551 = 187.1775

61 Lampiran 5. (Lanjutan) JK Kelompok =

156.59282 224.67172 164.80952 - FK + + 22 25 24 = 4265.4568 - 4199.9551 = 65.5017

Data Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Umur A B C D E Total Rata Frekuensi Perendaman Total Rata-rata K a b c d 17.8819 28.5858 19.9317 28.9563 22.6177 117.9734 7.8649 20.5360 30.2717 29.5086 30.6033 30.9716 141.8912 9.4594 25.6982 25.6591 10.0859 25.9219 23.2645 110.6296 7.7115 16.9761 18.0002 17.7128 22.3464 17.0713 92.1068 6.1405 21.6751 11.1814 18.7104 16.2766 15.6295 83.4730 7.6248 102.7673 113.6982 95.9494 124.1045 109.5546 546.074 6.8512 7.6331 6.4447 8.3511 7.3781

JK Faktor Perlakuan Umur = = =

117.97342 141.89122 110.6296 2 92.10682 83.47302 - FK + + + + 15 15 14 15 12 4290.4861 - 4199.9551
90.531

JK Faktor Perlakuan Frekuensi Perendaman = = =

102.76732 113.69822 95.94942 124.10452 109.55462 - FK + + + + 15 14 14 14 14 4242.4821 - 4199.9551
42.5270

JK Interaksi = 187.1775 - 90.531 - 42.5270 = 54.1195 JK Acak = 387.4057 - 65.5017 - 187.1775 = 134.7265

62 Lampiran 5. (Lanjutan) Tabel Sidik Ragam Sumber Keragaman Kelompok Perlakuan Kombinasi a. Faktor Perlakuan I b. Faktor Perlakuan II c. Interaksi I dan II Acak Total db 2 24 4 4 16 48 74 JK 65.5017 187.1775 90.5310 42.5270 54.1195 134.7265 387.4057 KT 32.7509 7.7991 22.6328 10.6318 3.3825 2.8068 F hit 11.6684** 8.0636** 3.7879** 1.2051ns F5% 3.19 2.56 2.56 1.86 F1% 5.08 3.74 3.74 2.40

Kelompok Berbeda Sangat Nyata SED = KTAcak(

1 1 1 1 1 1 + + ) = 2.8068( + + ) = 0.5973 rI rII rIII 22 25 24

BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.5973 = 1.1707 BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.5973 = 1.5386 Tabel BNT Kelompok Rata-rata III=6.8671 I=7.1179 II=8.9869 III=6.8671 0.2508ns 2.1198** I=7.1179 1.8690** II=8.9869 Notasi a a b

Kelompok terbaik : II – I/III Perlakuan I (Umur) Berbeda Sangat Nyata Perlakuan A-B, A-D, B-D SED = 2KTAcak( 1 + 1 ) = 2 * 2.8068( 1 + 1 ) = 0.7485 15 15 15 15 BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.7485 = 1.4671 BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.7485 = 1.9281 Perlakuan A-C, B-C, C-D SED =

2KTAcak(

1 1 = 1 1 = 0.7752 + ) 2 * 2.8068( + ) 15 14 15 14

BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.7752 = 1.5194

63 Lampiran 5. (Lanjutan) BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.7752 = 1.9970 Perlakuan A-E, B-E, D-E SED =

2KTAcak(

1 1 = 1 1 = 0.8420 + ) 2 * 2.8068( + ) 15 12 15 12

BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.8420 = 1.6503 BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.8420 = 2.1690 Perlakuan C-E SED =

2KTAcak(

1 1 = 1 1 = 0.8688 + ) 2 * 2.8068( + ) 14 12 14 12

BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.8688 = 1.7028 BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.8688 = 2.2380 Tabel BNT Faktor I (Umur)
Rata-rata D=6.1405 E=7.6248 C=7.7115 A=7.8649 B=9.4594 D=6.1405 1.4843ns 1.5710* 1.7244* 3.3189** E=7.6248 0.0867ns 0.2401ns 1.8346* C=7.7115 0.1534ns 1.7479* A=7.8649 1.5945* B=9.4594 Notasi a ab bc c d

Perlakuan terbaik : B – A – C – E - D Perlakuan II (Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb) Berbeda Sangat Nyata Perlakuan K-a, K-b, K-c, K-d SED = 2KTAcak( 1 + 1 ) = 2 * 2.8068( 1 + 1 ) = 0.7752 15 14 15 14 BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.7752 = 1.5194 BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.7752 = 1.9970 Perlakuan a-b, a-c, a-d, b-c, b-d, c-d SED =

2KTAcak(

1 1 = 1 1 = 0.8019 + ) 2 * 2.8068( + ) 14 14 14 14

64 Lampiran 5. (Lanjutan) BNT 5% = t tabel 5% (db.48) * SED = 1.9600 * 0.8019 = 1.5717 BNT 1% = t tabel 1% (db.48) * SED = 2.5760 * 0.8019 = 2.0657 Tabel BNT Faktor II (Frekuensi Perendaman)
Rata-rata b=6.4447 K=6.8512 d=7.3781 a=7.6331 c=8.3511 b=6.4447 0.4065ns 0.9334ns 1.1884ns 1.9064* K=6.8512 0.5269ns 0.7819ns 1.4999ns d=7.3781 0.2550ns 0.9730ns a=7.6331 0.7180ns c=8.3511 Notasi a a a a b

Perlakuan terbaik : c – a/d/K/b

65 Lampiran 6. Uji Polinomial Orthogonal Perlakuan Umur (Variabel Berat) Perlakuan A B C D E Data (Ti) Linier -2 -1 0 +1 +2 -118.7852 150 94.0662 Pembanding (Ci) Kuadratik Kubik +2 -1 -1 +2 -2 0 -1 -2 +2 +1 -52.3644 65.0684 210 150 13.0573 28.2260

117.9734 141.8912 110.6296 92.1068 83.4730 Q = ∑CiTi K.r = (∑Ci)2 *r*LII JK = Q2/K*r JK Total Regresi = 700.5952 Sidik Ragam Regresi Sumber Keragaman 1. Perlakuan - Linier - Kuadratik - Kubik - Kuartik 2. Acak 3. Total Regresi Linier Tabel Regresi X 20 25 30 35 40 150 Y 1.8725 2.7010 1.8006 1.1442 1.7605 9.2788 db 4 1 1 1 1 48 74

Kuartik +1 -4 +6 -4 +1 -70.7680 1050 4.7696

JK 94.0662 13.0573 28.2260 4.7696 134.7265 387.4057

KT 94.0662 13.0573 28.2260 4.7696 2.8068

F hit. 33.5137** 4.6520* 10.0563** 1.6993ns

F5% 4.04 4.04 4.04 4.04

F1% 7.19 7.19 7.19 7.19

X2 400 625 900 1225 1600 4750

X3 8000 15625 27000 42875 64000 157500

X4 160000 390625 810000 1500625 2560000 5421250

XY 37.4500 67.5250 54.0180 40.0470 70.4200 269.4600

X2Y 749 1688.1250 1620.5400 1401.6450 2816.8000 8276.1100

Bentuk Persamaan : Y = a + bx ∑Y = na + b∑X

∑XY = a∑X + b∑X2 9.2788 269.4600 = 5a + 150b (1) …………………. x 30

= 150a + 4750b (2)

66 Lampiran 6. (Lanjutan) Dari (1) dan (2) 278.3640 = 4500b 269.4600 = 4750b 8.9040 b = -250b = -0.0356 ……………………(3) -

Nilai (3) dimasukkan ke persamaan (1) 9.2788 = 5a + 150 (-0.0356) a = 2.9242 Persamaan Linier : Y = 2.9242 - 0.0356x Nilai X 20 25 30 35 40 R2 = Nilai Y 2.2122 2.0342 1.8562 1.6782 1.5002

94.0662 = 0.4111 94.0662 + 134.7265 r = √0.4111 = 0.6412
Regresi Kubik Bentuk Persamaan : Y = a + bx + cx2 + dx3
X 20 25 30 35 40 150 Y 1.8725 2.7010 1.8006 1.1442 1.7605 9.2788 X2 400 625 900 1225 1600 4750 X3 8000 15625 27000 42875 64000 157500 X4 160000 390625 810000 1500625 2560000 5421250 X5 3200000 9765625 24300000 52521875 102400000 192187500.0000 X6 64000000 244140625 729000000 1838265625 4096000000 6971406250.0000 XY 37.4500 67.5250 54.0180 40.0470 70.4200 269.4600 X2Y 749 1688.1250 1620.5400 1401.6450 2816.8000 8276.1100 X3Y 14980 42203.125 48616.2 49057.575 112672 267528.9

∑Y

= na + b∑X + c∑X2 + d∑X3

∑XY = a∑X + b∑X2 + c∑X3 + d∑X4 ∑X2Y = a∑X2 + b∑X3 + c∑X4 + d∑X5

67 Lampiran 6. (Lanjutan) ∑X3Y = a∑X3 + b∑X4 + c∑X5 + d∑X6 9.2788 269.4600 = 5a + 150b + 4750c + 157500d = 150a + 4750b + 157500c + 5421250d (1) …………………. x 30 (2)………………..... x 4750 (3) ...………….

8276.1100 = 4750a + 157500b + 5421250c + 192187500d 267528.9

= 157500a + 5421250b + 192187500c + 6971406250d (4) ……...

Dari (1) dan (2) 278.3640 = 4500b + 142500c + 4725000d 269.4600 = 4750b + 157500c + 5421250d 8.9040 -

= -250b - 15000c – 696250d ………..(5)

Dari (2) dan (3) 1279935 = 22562500b + 748125000c + 25750937500d

1241416.5 = 23625000b + 813187500c + 28828125000d 38518.5 = -1062500b - 65062500c - 3077187500d Dari (5) dan (6) 8.9040 38518.5 = -250b - 15000c – 696250d ……….. x 4250 = -1062500b - 65062500c - 3077187500d …………(6)

didapatkan 37842 = -63750000c - 2959062500d

9629625 = -16265625000c - 769296875000d -9591783 = 16201875000c + 766337812500d …… (7) Dari (3) dan (4) 8276.1100 = 4750a + 157500b + 5421250c + 192187500d 267528.9 ….. x 157500

= 157500a + 5421250b + 192187500c + 6971406250d …… x 4750

68 Lampiran 6. (Lanjutan) didapatkan 1303487325 = 24806250000b + 853846875000c + 30269531250000d 1270762275 = 25750937500b + 912890625000c + 33114179687500d 32725050 = -944687500b - 59043750000c - 2844648437500d ….. (8) Dari (5) dan (8) 8.9040 = -250b - 15000c – 696250d …………. x 3778750

32725050 = -944687500b - 59043750000c - 2844648437500d Didapatkan 33645990 = -56681250000c - 2630954687500d 32725050 = -14760937500000c - 711162109375000d 920940 = 14704256250000c + 708531154687500d …… (9) Dari (7) dan (9) -9591783 = 16201875000c + 766337812500d ……. x 1470425625000

920940 = 14704256250000c + 708531154687500d … x 16201875000 didapatkan -141040035126393750000 = 11268427569064453125000000d

14920954762500000 = 11479533201852539062500000d -141025114171631250000 = -211105632788085937500000d d Dari (7) -9591783 = 16201875000c + 766337812500 (0.0007) c = -0.0337 = 0.0007

69 Lampiran 6. (Lanjutan) Nilai c dan d dimasukkan ke persamaan (1) dan (2) 59.1038 = 5a + 150b …….. x 30 1782.335 = 150a + 4750b didapatkan 1773.114 = 4500b 1782.335 = 4750b -9.221 = - 250b b Dari (1) 9.2788 = 5a + 150 (0.0369) + 4750 (-0.0337) + 157500 (0.0007) a = 10.7138 = 0.0369

Persamaan : Y = a + bx + cx2 + dx3 Y = 10.7138 + 0.0369x - 0.0337x2 + 0.0007x3 Nilai X 20 25 30 35 40 Nilai Y -7.1420 1.5113 0.3908 0.7353 -7.644

Titik optimum pada Y’ = 0 0 = 0.0369 - 0.0674x + 0.0021x2 x = dimasukkan ke dalam persamaan ; didapatkan nilai Y = Titik maksimum didapatkan pada Y’’ = 0 0 = -0.0674 + 0.0042x

70 Lampiran 6. (Lanjutan) x = 16.0476 dimasukkan ke dalam persamaan ; didapatkan nilai Y = 5.5202 28.2260 R2 = = 0.1732 28.2260 + 134.7265 r = √0.1732 = 0.4162

71 Lampiran 7. Uji Polinomial Orthogonal Perlakuan Frekuensi Perendaman ZPT Agrogibb (Variabel Berat) Perlakuan K a b c d Data (Ti) Linier -2 -1 0 +1 +2 23.9809 150 3.8339 Pembanding (Ci) Kuadratik Kubik +2 -1 -1 +2 -2 0 -1 -2 +2 +1 -5.0577 -14.0253 210 150 0.12181 1.3114

102.7673 113.6982 95.9494 124.1045 109.5546 Q = ∑CiTi K.r = (∑Ci)2 *r*LI JK = Q2/K*r JK Total Regresi = 30.6307 Sidik Ragam Regresi Sumber Keragaman 1. Perlakuan - Linier - Kuadratik - Kubik - Kuartik 2. Acak 3. Total Tabel Regresi
X 0 1 2 3 4 10 Y 1.4230 1.7644 1.2599 2.1094 1.6491 8.2058 X2 0 1 4 9 16 30 X3 0 1 8 27 64 100 X4 0 1 16 81 256 354 X5 0 1 32 243 1024 1300

Kuartik +1 -4 +6 -4 +1 -163.1925 1050 25.3636

db 4 1 1 1 1 48 74

JK 3.8339 0.12181 1.3114 25.3636 134.7265 387.4057

KT 3.8339 0.12181 1.3114 25.3636 2.8068

F hit. 1.3659ns 0.0434ns 0.4672ns 9.0365**

F5% 4.04 4.04 4.04 4.04

F1% 7.19 7.19 7.19 7.19

X6 0 1 64 729 4096 4890

X7 0 1 128 2187 16384 18700

X8 0 1 256 6561 65536 72354

XY 0 1.7644 2.5198 6.3282 6.5964 17.2088

X2Y 0 1.7644 5.0396 18.9846 26.3856 52.1742

X3Y 0 1.7644 10.0792 56.9538 105.5424 174.3398

X4Y 0 1.7644 20.1584 170.8614 422.1696 614.9538

Bentuk Persamaan : Y = a + bx + cx2 + dx3 + ex4 ∑Y = na + b∑X + c∑X2 + d∑X3 + e∑X4

∑XY = a∑X + b∑X2 + c∑X3 + d∑X4 + e∑X5 ∑X2Y = a∑X2 + b∑X3 + c∑X4 + d∑X5 + e∑X6 ∑X3Y = a∑X3 + b∑X4 + c∑X5 + d∑X6 + e∑X7 ∑X4Y = a∑X4 + b∑X5 + c∑X6 + d∑X7 + e∑X8

72 Lampiran 7. (Lanjutan) 8.2058 17.2088 52.1742 = 5a + 10b + 30c + 100d + 354e (1) …………………. x 2

= 10a + 30b + 100c + 354d + 1300e (2)………………..... x 3 = 30a + 100b + 354c + 1300d + 4890e (3)

174.3398 = 100a + 354b + 1300c + 4890d + 18700e (4) 614.9538 = 354a + 1300b + 4890c + 18700d + 72354e (5)

Dari (1) dan (2) 16.4116 = 20b + 60c + 200d + 708e 17.2088 = 30b + 100c + 354d + 1300e -0.7972 = -10b – 40c – 154d – 592e ……. (6) Dari (2) dan (3) 51.6264 = 90b + 300c + 1062d + 3900e 52.1742 = 100b + 354c + 1300d + 4890e -0.5478 = -10b – 54c – 238d – 990e ……. (7) Dari (6) dan (7) -0.7972 = -10b – 40c – 154d – 592e -0.5478 = -10b – 54c – 238d – 990e -0.2494 = 14c + 84d + 398e …………...... (8) Dari (3) dan (4) 52.1742 = 30a + 100b + 354c + 1300d + 4890e ….. x 10

174.3398 = 100a + 354b + 1300c + 4890d + 18700e … x 3 didapat 521.7420 = 1000b + 3540c + 13000d + 48900e 523.0194 = 1062b + 3900c + 14670d + 56100e -

73 Lampiran 7. (Lanjutan) -1.2774 = -62b – 360c – 1670d – 7200e ……(9) Dari (4) dan (5) 174.3398 = 100a + 354b + 1300c + 4890d + 18700e ….. x 354 614.9538 didapat 61716.2892 = 125316b + 460200c + 1731060d + 6619800e 61495.3800 = 130000b + 489000c + 1870000d + 7235400e 220.9092 = -4684b – 28800c – 138940d - 615600e ….. (10) Dari (9) dan (10) -1.2774 = -62b – 360c – 1670d – 7200e …… x 2342 220.9092 = -4684b – 28800c – 138940d - 615600e ….. x 31 didapat -2991.6708 = -843120c – 3911140d – 16862400e 6848.1852 = -892800c – 4307140d – 19083600e -9839.856 = 49680c + 396000d + 2221200e ….. (11) Dari (8) dan (11) -0.2494 = 14c + 84d + 398e ……. x 24840 -9839.856 = 49680c + 396000d + 2221200e …. x 7 didapat -6195.096 = 2086560d + 9886320e -68878.992 = 2772000d + 15548400e 62683.896 = -685440d - 5662080e ……………………….. (12) = 354a + 1300b + 4890c + 18700d + 72354e ... x 100

74 Lampiran 7. (Lanjutan) Dari (6) dan (9) -0.7972 = -10b – 40c – 154d – 592e ……. x 31 -1.2774 = -62b – 360c – 1670d – 7200e …… x 5 didapat -24.7132 = -1240c – 4774d – 18352e -6.387 = -1800c – 8350d – 36000e -18.3262 = 560c + 3576d + 17648e …. (13) Dari (11) dan (13) -9839.856 = 49680c + 396000d + 2221200e …… x 7 -18.3262 = 560c + 3576d + 17648e ……….. x 621 didapat -68878.992 = 2772000d + 15548400e -11380.5702 = 2220696d + 10959408e -57498.4218 = 551304d + 4588992e …… (14) Dari (12) dan (14) 62683.896 = -685440d - 5662080e ……. x 68913 -57498.4218 = 551304d + 4588992e …… x -85680 didapat 4319735325.048 = - 390190919040e 4926464779.824 = - 393184834560e -606729454.776 = 2993915520e e = -0.2027

75 Lampiran 7. (Lanjutan) Dari (12) didapatkan 62683.896 = -685440d – 5662080 (-0.2027) d = 1.5830 Dari (11) didapatkan -9839.856 = 49680c + 396000 (1.5830) + 2221200 (-0.2027) c = -3.7534 Dari (6) didapatkan -0.7972 = -10b – 40 (-3.7534) – 154 (1.5830) – 592 (-0.2027) b = 2.7150

Dari (1) didapatkan 8.2058 = 5a + 10 (2.7150) + 30 (-3.7534) + 100 (1.5830) + 354 (-0.2027) a = 1.4227

Bentuk Persamaan : Y = a + bx + cx2 + dx3 + ex4 Y = 1.4227 + 2.7150x - 3.7534x2 + 1.5830x3 - 0.2027 x4 Nilai X 0 1 2 3 4 R2 = Nilai Y 1.4227 1.7646 1.2599 2.1094 1.6491

25.3636 = 0.1584 25.3636 + 134.7265 r = √0.1584 = 0.3980

Titik optimum pada Y’ = 0 0 = 2.7150 - 7.5068x + 4.7490x2 - 0.8108 x3 x =

76 Lampiran 7. (Lanjutan) dimasukkan ke dalam persamaan ; didapatkan nilai Y = Titik maksimum didapatkan pada Y’’ = 0 0 = -7.5068 + 9.498x - 2.4324x2 x = dimasukkan ke dalam persamaan ; didapatkan nilai Y =

77 Lampiran 8. Uji Polinomial Orthogonal Kontrol (Variabel Berat) Perlakuan K a b c d Data (Ti) Linier -2 -1 0 +1 +2 4.0265 3 5.4042 Pembanding (Ci) Kuadratik Kubik +2 -1 -1 +2 -2 0 -1 -2 +2 +1 -9.7945 10.9130 14 3 6.8523 39.6979

17.8819 20.5360 25.6982 16.9761 21.6751 Q = ∑CiTi K.r = (∑Ci)2 JK = Q2/K*r

Kuartik +1 -4 +6 -4 +1 43.6978 70 27.2785

JK Total Regresi = 79.2329 Sidik Ragam Regresi Sumber Keragaman 1. Perlakuan - Linier - Kuadratik - Kubik - Kuartik 2. Acak 3. Total Regresi Kubik Bentuk Persamaan : Y = a + bx + cx2 + dx3
X 20 25 30 35 40 150 Y 1.0784 1.42060 2.2186 0.9722 1.5817 7.2715 X2 400 625 900 1225 1600 4750 X3 8000 15625 27000 42875 64000 157500 X4 160000 390625 810000 1500625 2560000 5421250 X5 3200000 9765625 24300000 52521875 102400000 192187500.0000 X6 64000000 244140625 729000000 1838265625 4096000000 6971406250.0000 XY 21.5680 35.5150 66.5580 34.0270 63.2680 220.9360 X2Y 431.3600 887.8750 1996.7400 1190.9450 2530.7200 7037.6400 X3Y 8627.2000 22196.8750 59902.2000 41683.0750 101228.8000 233638.1500

db 4 1 1 1 1 48 74

JK 5.4042 6.8523 39.6979 27.2785 134.7265 387.4057

KT 5.4042 6.8523 39.6979 27.2785 2.8068

F hit. 1.9254ns 2.4413ns 14.1435** 9.7187**

F5% 4.04 4.04 4.04 4.04

F1% 7.19 7.19 7.19 7.19

∑Y

= na + b∑X + c∑X2 + d∑X3

∑XY = a∑X + b∑X2 + c∑X3 + d∑X4 ∑X2Y = a∑X2 + b∑X3 + c∑X4 + d∑X5 ∑X3Y = a∑X3 + b∑X4 + c∑X5 + d∑X6 7.2715 = 5a + 150b + 4750c + 157500d (1) …………………. x 30

78 Lampiran 8. (Lanjutan) 220.9360 = 150a + 4750b + 157500c + 5421250d (2)………………..... x 4750 (3) ...………….

7037.6400 = 4750a + 157500b + 5421250c + 192187500d

233638.1500 = 157500a + 5421250b + 192187500c + 6971406250d (4) ……... Dari (1) dan (2) 218.145 = 4500b + 142500c + 4725000d 220.9360 = 4750b + 157500c + 5421250d -2.791 -

= -250b - 15000c – 696250d ………..(5)

Dari (2) dan (3) 1049446 = 22562500b + 748125000c + 25750937500d 7037.6400 = 23625000b + 813187500c + 28828125000d 1042408.36 = -1062500b - 65062500c - 3077187500d Dari (5) dan (6) -2.791 = -250b - 15000c – 696250d ……….. x 4250 …………(6)

1042408.36 = -1062500b - 65062500c - 3077187500d didapatkan -11861.75 = -63750000c - 2959062500d 1042408.36 = -16265625000c - 769296875000d -1054270.11 = 16201875000c + 766337812500d …… (7) Dari (3) dan (4) 7037.6400 = 4750a + 157500b + 5421250c + 192187500d ….. x 157500

233638.1500 = 157500a + 5421250b + 192187500c + 6971406250d …… x 4750

79 Lampiran 8. (Lanjutan) didapatkan 1108428300 = 24806250000b + 853846875000c + 30269531250000d 1109781212.5 = 25750937500b + 912890625000c + 33114179687500d -1352912.5 = -944687500b - 59043750000c - 2844648437500d ….. (8) Dari (5) dan (8) -2.791 = -250b - 15000c – 696250d …………. x 3778750

-1352912.5 = -944687500b - 59043750000c - 2844648437500d Didapatkan -10546491.25 = -56681250000c - 2630954687500d -1352912.5 = -14760937500000c - 711162109375000d -

-9193578.75 = 14704256250000c + 708531154687500d …… (9) Dari (7) dan (9) -1054270.11 = 16201875000c + 766337812500d ……. x 1470425625000 -9193578.75 = 14704256250000c + 708531154687500d … x 16201875000 didapatkan -1550225785415568750 = 11268427569064453125000000d -148953213710156250 = 11479533201852539062500000d -

-1401272571705412500 = -211105632788085937500000d d Dari (7) -1054270.11 = 16201875000c + 766337812500 (6.6378) c = -313.9635 = 6.6378

80 Lampiran 8. (Lanjutan) Nilai c dan d dimasukkan ke persamaan (1) dan (2) 445880.3965 = 5a + 150b …….. x 30 13464298.936 = 150a + 4750b didapatkan 13376411.895 = 4500b 13464306.811 = 4750b -87894.916 = - 250b b = 351.5797 Dari (1) 7.2715 = 5a + 150 (351.5797) + 4750(-313.9635) + 157500 (6.6378) a = 78628.6883

Persamaan : Y = a + bx + cx2 + dx3 Y = 78628.6883 + 351.5797x - 313.9635x2 + 6.6378x3 Y = 7.8629 + 0.0352 x - 0.0314x2 + 0.0007x3 Nilai X 20 25 30 35 40 Nilai Y 1.6069 0.0554 -0.4411 0.6424 3.8309

Titik optimum pada Y’ = 0 0 = 0.0352 - 0.0628x + 0.0021x2 x = dimasukkan ke dalam persamaan ; didapatkan nilai Y = Titik maksimum didapatkan pada Y’’ = 0

81 Lampiran 8. (Lanjutan) 0 = -0.0628 + 0.0042x x = 14.9524 dimasukkan ke dalam persamaan ; didapatkan nilai Y = 3.7092 39.6979 R2 = = 0.2276 39.6979 + 134.7265 r = √0.2276 = 0.4771

82 Lampiran 9. Data Rata-rata Pertambahan Volume Rumput Laut Eucheuma cottonii (ml) Berdasarkan Pengamatan Pada Awal, Tengah dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 70.0000 47.5000 75.0000 47.5000 10.0000 25.0000 45.0000 57.5000 25.0000 8.0000 12.5000 17.5000 10.0000 32.5000 12.5000 12.5000 22.5000 20.0000 18.0000 8.0000 65.0000 30.0000 12.5000 15.0000 20.0000 Pengamatan II III 95.0000 60.0000 72.5000 40.0000 70.0000 55.0000 67.5000 50.0000 20.0000 35.0000 27.5000 12.5000 37.5000 25.0000 80.0000 30.0000 27.5000 10.0000 25.0000 8.0000 22.5000 10.0000 10.0000 12.5000 25.0000 27.5000 20.0000 12.5000 20.0000 15.0000 30.0000 22.5000 25.0000 10.0000 10.0000 7.5000 20.0000 20.0000 7.5000 15.0000 55.0000 40.0000 20.0000 15.0000 17.5000 12.5000 8.0000 15.0000 17.5000 7.5000

83 Lampiran 10. Data Rata-Rata Laju Pertumbuhan (Berdasarkan Variabel Volume) Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Pada Awal, Tengah dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam (%) Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 1.8971 -1.2887 1.8755 -0.8101 0.2288 1.2240 0.1082 2.0983 1.2240 -2.3230 1.2240 -0.8870 0.2288 1.5923 1.3707 1.3707 -0.3691 1.7330 -2.8497 -2.3230 1.5923 1.2218 1.2240 2.0093 0.2288 Pengamatan II III 2.9943 1.0423 1.6183 -2.3230 1.8558 0.1762 1.8166 0.0884 3.8315 3.1512 1.8888 1.2240 3.1512 1.2240 2.6361 2.3659 1.8888 0.2288 -0.6123 -2.3230 0.7597 2.3659 2.3659 1.2240 1.3707 0.6118 0.2288 0.7498 0.2726 -0.0648 1.2218 -1.0192 0.2907 -1.7977 0.2288 1.3707 0.2288 1.5923 1.3707 1.3707 0.0119 -2.5589 -0.3561 -0.0648 1.0618 1.7330 -2.3230 1.3707 1.1348 1.3707

84 Lampiran 11. Uji Sifat Heterogenitas Varians Untuk Perbaikan Penyimpangan Data Melalui Transformasi Berdasarkan Prinsip ANOVA
5

4.5

4

Rentang/Selisih Data Max-Min

3.5

3

2.5

2

1.5

1

0.5

0 -1.5000 -1.0000 -0.5000 0.0000 0.5000 1.0000 1.5000 2.0000 2.5000 3.0000

Rata-rata Data

Dari grafik diatas didapat kesimpulan sebagai berikut : 3. Data memiliki heterogenitas varians yang disebabkan oleh adanya hubungan fungsional antara varians dengan rerata perlakuan ; Y = f(x) yang ditunjukkan oleh pola distribusi binomial ataupun disebabkan oleh faktor lain (tidak adanya hubungan antara varians dengan rerata perlakuan). 4. Data memiliki sifat multiplikatif artinya pengaruh dari kombinasi perlakuan tidak tetap pada kelompok dan pengaruh kelompok tidak tetap pada kombinasi perlakuan. Sehingga perlu dilakukan transformasi untuk memperbaiki data berbentuk persen seperti diatas yang mempunyai penyimpangan dari sifat-sifat asumsi dasar ANOVA. Bentuk transformasi yang ideal untuk data diatas adalah transformasi arcsin.

85 Lampiran 12. Transformasi ArcSin√Persentase Dari Data Rata-rata Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Pada Awal, Tengah dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam (Variabel Volume) Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 7.9168 7.8713 2.7417 6.3519 1.8850 8.3289 6.3519 6.3519 2.7417 7.2493 6.7234 6.7234 7.5646 7.2493 6.3462 6.3519 8.1491 2.7417 Pengamatan II III 9.9646 5.8597 7.3085 7.8296 2.4058 7.7460 1.7038 11.2881 10.2251 7.8994 6.3519 10.2251 6.3519 9.3439 8.8481 7.8994 2.7417 5.0003 8.8481 8.8481 6.3519 6.7234 4.4861 2.7417 4.9675 2.9928 6.3462 3.0907 2.7417 6.7234 2.7417 7.2493 6.7234 6.7234 0.6250 5.9145 7.5646 6.7234 6.1152 6.7234

86 Lampiran 13. Perhitungan Statistik (Berdasarkan Variabel Volume) Dari Data Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Pada Awal, Tengah dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam Umur A Frekuensi Perendaman K a b c d K a b c d K a b c d K a b c d K a b c d Total Rata-rata Kelompok Total I II III 7.2493 0.6250 7.8743 7.9168 9.9646 5.8597 23.7411 7.3085 7.3085 7.8713 7.8296 2.4058 18.1067 7.7460 1.7038 9.4498 6.3462 6.3462 2.7417 11.2881 10.2251 24.2549 6.3519 7.8994 6.3519 20.6032 1.8850 10.2251 6.3519 18.4620 8.3289 9.3439 8.8481 26.5209 6.3519 5.9145 7.5646 19.8310 6.3519 7.8994 2.7417 16.9930 0.0000 6.3519 5.0003 8.8481 20.2003 8.8481 6.3519 15.2000 8.1491 6.7234 14.8725 2.7417 6.7234 4.4861 13.9512 7.2493 2.7417 4.9675 14.9585 6.7234 2.9928 9.7162 6.7234 6.3462 13.0696 2.7417 6.1152 6.7234 15.5803 3.0907 3.0907 7.5646 2.7417 6.7234 17.0297 2.7417 7.2493 9.9910 6.7234 6.7234 13.4468 109.6400 140.1093 110.8491 360.5984 6.0911 6.3686 6.1583 Rata-rata 3.9372 7.9137 7.3085 6.0356 4.7249 6.3462 8.0850 6.8677 6.1540 8.8403 6.6103 5.6643 0.0000 6.7334 7.6000 7.4363 4.6504 4.9862 4.8581 6.5348 5.1934 3.0907 5.6766 4.9955 6.7234

B

C

D

E

(G ) 2
Faktor Koreksi (FK) =

n

=

(360.5984)2
3 *13 + 2 * 8 + 1 * 3

= 2241.9173

JK Total = (7.2493)2 + (0.6250)2 + (7.9168)2 + ........ + (6.7234)2 - FK = 2574.9155 - 2241.9173 = 332.9982
2 2 2 2 JK Perl. Kombinasi = 7.8743 + 23.7411 + 7.3085 + .... + 13.4468 - FK 2 3 1 2 = 2341.1759 - 2241.9173 = 99.2586

87 Lampiran 13. (Lanjutan)
2 2 2 JK Kelompok = (109.6400) + 140.1093 + 110.8491 - FK 18 22 18 = 2242.7703 - 2241.9173 = 0.8530

Data Laju Pertumbuhan Rumput Laut Eucheuma cottonii Umur A B C D E Total Rata K 7.8743 6.3462 19.8310 14.8725 15.5803 64.5043 5.9047 Frekuensi Perendaman a b c 23.7411 7.3085 18.1067 24.2549 20.6032 18.4620 16.9930 0.0000 20.2003 13.9512 14.9585 9.7162 3.0907 17.0297 9.9910 82.0309 59.8999 76.4762 5.8808 3.9933 5.7553 Total d 9.4498 26.5209 15.2000 13.0696 13.4468 77.6871 6.8847 66.4804 96.1872 72.2243 66.568 59.1385 360.598 Rata-rata 5.9840 7.2586 5.3216 5.6931 5.1359

JK Faktor Perlakuan Umur
2 2 2 2 2 = (66.4804) + 96.1872 + 72.2243 + 66.5680 + 59.1385 - FK 11 13 11 12 11 = 2274.9068 - 2241.9173

=

32.9895

JK Faktor Perlakuan Frekuensi Perendaman = = =

64.50432 82.03092 59.89992 76.47622 77.68712 - FK + + + + 11 13 10 13 11 2253.2308 - 2241.9173
11.3135

JK Interaksi = 99.2586 - 32.9895 - 11.3135 = 54.9556 JK Acak = 332.9982 - 99.2586 - 0.8530 = 232.8866

88 Lampiran 13. (Lanjutan) Tabel Sidik Ragam Sumber Keragaman Kelompok Perlakuan Kombinasi a. Faktor Perlakuan I b. Faktor Perlakuan II c. Interaksi I dan II Acak Total db 2 24 4 4 16 48 74 JK 0.8530 99.2586 32.9895 11.3135 54.9556 232.8866 332.9982 KT 0.4265 8.2474 2.8284 3.4347 4.8518 F hit 0.0879ns 1.6999ns 0.5830ns 0.7079ns F5% 3.19 2.56 2.56 1.86 F1% 5.08 3.74 3.74 2.40

89 Lampiran 14. Data Rata-rata Jumlah Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Pada Awal dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 910.0000 377.5000 402.5000 288.0000 605.0000 500.0000 158.1300 562.5000 760.0000 487.5000 360.7200 512.5000 270.5400 572.5000 495.6600 780.0000 225.5400 760.0000 429.0000 150.9000 526.5000 333.0000 667.5000 657.5000 635.0000 Kelompok II 870.0000 285.0000 697.5000 747.5000 760.5700 660.0000 360.0000 315.0000 425.5100 117.5400 311.3100 0.7500 738.0000 332.5000 840.0000 460.6000 440.0000 449.0000 614.0000 420.0000 286.5000 356.0000 443.0000 346.5000 278.5000

III 617.5000 301.5000 478.5000 209.6150 875.0000 431.0000 414.0000 478.0000 437.6900 455.0000 0.7200 675.0000 570.5700 240.0000 136.5100 160.9600 231.6300 0.8100 210.0000 360.0000 420.0000 372.0000 315.0000 137.5000 167.5000

90 Lampiran 15. Uji Sifat Heterogenitas Varians Untuk Perbaikan Penyimpangan Data Melalui Transformasi Berdasarkan Prinsip ANOVA
800

700

600

Rentang/Selisih Data Max-Min

500

400

300

200

100

0

0.0000

100.0000

200.0000

300.0000

400.0000

500.0000

600.0000

700.0000

800.0000

900.0000 1000.0000

Rata-rata Data

Dari grafik diatas didapat kesimpulan sebagai berikut : 5. Data memiliki heterogenitas varians yang disebabkan oleh adanya hubungan fungsional antara varians dengan rerata perlakuan ; Y = f(x) yang ditunjukkan oleh pola distribusi binomial ataupun disebabkan oleh faktor lain (tidak adanya hubungan antara varians dengan rerata perlakuan). 6. Data memiliki sifat multiplikatif artinya pengaruh dari kombinasi perlakuan tidak tetap pada kelompok dan pengaruh kelompok tidak tetap pada kombinasi perlakuan. Sehingga perlu dilakukan transformasi untuk memperbaiki data diatas yang mempunyai penyimpangan dari sifat-sifat asumsi dasar ANOVA. Bentuk transformasi yang ideal untuk data diatas adalah transformasi logaritma.

91 Lampiran 16. Transformasi Logaritma Dari Data Jumlah Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Pada Awal dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam Perlakuan Aa Ab Ac Ad Ba Bb Bc Bd Ca Cb Cc Cd Da Db Dc Dd Ea Eb Ec Ed K1 K2 K3 K4 K5 I 2.9590 2.5769 2.6048 2.4594 2.7818 2.6990 2.1990 2.7501 2.8808 2.6880 2.5572 2.7097 2.4322 2.7578 2.6952 2.8921 2.3532 2.8808 2.6325 2.1787 2.7214 2.5224 2.8245 2.8179 2.8028 Pengamatan II III 2.9395 2.7906 2.4548 2.4793 2.8435 2.6799 2.8736 2.3214 2.8811 2.9420 2.8195 2.6345 2.5563 2.6170 2.4983 2.6794 2.6289 2.6412 2.0702 2.6580 2.4932 -0.1427 -0.1249 2.8293 2.8681 2.7563 2.5218 2.3802 2.9243 2.1352 2.6633 2.2067 2.6435 2.3648 2.6522 -0.0915 2.7882 2.3222 2.6232 2.5563 2.4571 2.6232 2.5514 2.5705 2.6464 2.4983 2.5397 2.1383 2.4448 2.2240

92 Lampiran 17. Perhitungan Statistik Dari Data Rata-rata Jumlah Tunas Rumput Laut Eucheuma cottonii Berdasarkan Pengamatan Pada Awal dan Akhir Penelitian Selama 30 Hari Masa Tanam Umur A Frekuensi Perendaman a b c d K a b c d K a b c d K a b c d K a b c d K Total Rata-rata Kelompok II III 2.9395 2.7906 2.4548 2.4793 2.8435 2.6799 2.8736 2.3214 2.4571 2.6232 2.8811 2.9420 2.8195 2.6345 2.5563 2.6170 2.4983 2.6794 2.5514 2.5705 2.6289 2.6412 2.0702 2.6580 2.4932 -0.1427 -0.1249 2.8293 2.6464 2.4983 2.8681 2.7563 2.5218 2.3802 2.9243 2.1352 2.6633 2.2067 2.5397 2.1383 2.6435 2.3648 2.6522 -0.0915 2.7882 2.3222 2.6232 2.5563 2.4448 2.2240 63.2580 57.8144 2.5303 2.3126 = 468.4980 Total 8.6891 7.5110 8.1282 7.6544 7.8017 8.6049 8.1530 7.3723 7.9278 7.6443 8.1509 7.4162 4.9077 5.4141 7.9692 8.0566 7.6598 7.7547 7.7621 7.4959 7.3615 5.4415 7.7429 7.3582 7.4716 187.4496 Rata-rata 2.8964 2.5037 2.7094 2.5515 2.6006 2.8683 2.7177 2.4574 2.6426 2.5481 2.7170 2.4721 1.6359 1.8047 2.6564 2.6855 2.5533 2.5849 2.5874 2.4986 2.4538 1.8138 2.5810 2.4527 2.4905

B

C

D

E

I 2.9590 2.5769 2.6048 2.4594 2.7214 2.7818 2.6990 2.1990 2.7501 2.5224 2.8808 2.6880 2.5572 2.7097 2.8245 2.4322 2.7578 2.6952 2.8921 2.8179 2.3532 2.8808 2.6325 2.1787 2.8028 66.3772 2.6551

Faktor Koreksi (FK) =

(G ) 2
n

=

(187.4496) 2
5 x 5x 3

JK Total = (2.9590)2 + (2.9395)2 + ....... + (2.2240)2 - FK = = 493.2757 - 468.4980 24.7777

2 2 2 JK Perl. Kombinasi = (8.6891) + (7.5110) + .... + (7.4716) - FK 3 = 475.2707 - 468.4980 = 6.7727

93 Lampiran 17. (Lanjutan)
2 2 2 JK Kelompok = (66.3772) + (63.2580) + (57.8144) - 468.4980 25 = 470.0005 - 468.4980

= 1.5025 Data Jumlah Tunas Rata-rata Rumput Laut Eucheuma cottonii Umur A B C D E Total Rata a 8.6891 8.6049 8.1509 8.0566 7.3615 40.8630 2.7242 Frekuensi Perendaman b c d 7.5110 8.1282 7.6544 8.1530 7.3723 7.9278 7.4162 4.9077 5.4141 7.6598 7.7547 7.7621 5.4415 7.7429 7.3582 36.1815 35.9058 36.1166 2.4121 2.3937 2.4078 Total K 7.8017 7.6443 7.9692 7.4959 7.4716 38.3827 2.5588 39.7844 39.7023 33.8581 38.7291 35.3757 187.4496 Rata-rata 2.6523 2.6468 2.2572 2.5819 2.3584

JK Faktor Perlakuan Umur = = =

(39.7844)2 + (39.7023)2 + (33.8581) + (38.7291)..... + (35.3757)2 - FK
15
470.4550 - 468.4980 1.9570

JK Faktor Perlakuan Frekuensi Perendaman = = =

(40.8630)2 + (36.1815)2 + (35.9058)2 + (36.1166)2 + (38.3827) - FK
15
469.7168 - 468.4980 1.2188

JK Interaksi = 6.7727 - 1.9570 - 1.2188 = 3.5969 JK Acak = 24.7777 - 6.7727 - 1.5025 = 16.5025

94 Lampiran 17. (Lanjutan) Tabel Sidik Ragam Sumber Keragaman Kelompok Perlakuan Kombinasi a. Faktor Perlakuan I b. Faktor Perlakuan II c. Interaksi I dan II Acak Total db 2 24 4 4 16 48 74 JK 1.5025 6.7727 1.9570 1.2188 3.5969 16.5025 24.7777 KT 0.7513 0.2822 0.4893 0.3047 0.2248 0.3438 F hit 2.1853ns 1.4232ns 0.8863ns 0.6539ns F5% 3.19 2.56 2.56 1.86 F1% 5.08 3.74 3.74 2.40

95 Lampiran 18. Pembuatan dan Penempatan Rakit

Pembuatan Rakit

Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III Penempatan Rakit

96 Lampiran 19. Perendaman, Penanaman dan Penimbangan Berat Rumput Laut Eucheuma cottonii

Perendaman Rumput Laut

Penanaman Rumput Laut

Penimbangan Berat Rumput Laut

97 Lampiran 20. Pemanenan Rumput Laut Eucheuma cottonii

Pengangkutan Menggunakan Perahu

Pemisahan Rumput Laut Dari Tali Ris

98 Lampiran 21. Alat dan Bahan

Alat Pengukuran Kualitas Air

Alat Pengukuran Berat, Volume dan Jumlah Tunas

Keseluruhan Alat dan Bahan Yang Dipergunakan Selama Penelitian

99 Lampiran 22. Cara Pembuatan Rakit

100 Lampiran 23. Peta Sebaran Kecerahan Di Wilayah Perairan Nusa Tenggara Barat (Trisakti et.al., 2003).

101 Lampiran 24. Jenis Jenis Rumput Laut Kelas Rhodophyceae Yang Termasuk Ekonomis Penting (Sumber : http:\\www.iptek.net.id, 2004)

Eucheuma edule Koetzing

Eucheuma edule

Eucheuma serra

Eucheuma alvarezii

Eucheuma denticulatum (a)

Eucheuma denticulatum (b)

102 Lampiran 24. (Lanjutan)

Kappaphycus cottonii (a)

Kappaphycus cottonii (b)

Kappaphycus striatum

Gracilaria arcuata Zanardini

Gracilaria coronopofilia

Gracilaria eucheumoides (a)

103 Lampiran 24. (Lanjutan)

Gracilaria eucheumoides (b)

Gracilaria foliifera

Hypnea asperi Bory

Hypnea cervicornis

Hypnea cornuta

Gelidium latifolium

104 Lampiran 25. Hasil Pengamatan Laju Pertumbuhan Dari Percobaan Rumput Laut Dengan Metode Rakit Pada Beberapa Lokasi Di Indonesia (Sumber : Tim Penulis PS, 2001) Nama Jenis Tempat Penanaman P. Ari P. Aru P. Bali Batu Nampar Eucheuma edule Eucheuma serra Gracilaria lichenoides Gracilaria converfoides Gracilaria gigas (tambak) P. Pari P. Bali P. Bari P. Bali P. Pari P. Bali P. Sumbawa Bonteng Laju Pertumbuhan (%/hari) 2,08 – 3,71 2,38 4,34 5,4 – 8 4,2 1,38 1,22 3,00 0,99 1,14 5,08 5,63 Sumber

Eucheuma spinosum

Sulistijo et.al. 1978 Mubarak. 1978 Atmadja. 1981 Sulistijo. 1984 Sulistijo. 1978 Atmadja. 1981 Sulistijo et.al. 1978 Sulistijo et.al. 1984 Sulistijo et.al. 1978 Sulistijo et.al. 1984 Djalaluddin et.al. 1984 Djalaluddin et.al. 1984

105 Lampiran 26. Persyaratan Umum Lokasi Budidaya Rumput Laut (Sediadi, 2000) No 1. Persyaratan Teknis Keterlindungan Keterangan Lokasi harus terlindung untuk menghindari kerusakan fisik rumput laut dari terpaan angin dan gelombang yang besar. Dasar perairan yang paling baik bagi pertumbuhan rumput laut (Eucheuma spp.) adalah dasar perairan yang stabil yang terdiri dari potongan karang mati bercampur dengan pasir karang, adanya sea grass. Ini menunjukkan adanya gerakan air yang baik. Berkisar antara 30-50 cm pada surut terendah, supaya rumput laut tidak mengalami kekeringan karena terkena sinar matahari secara langsung dan masih memperoleh penetrasi sinar matahari pada waktu pasang. Kedalaman maksimal adalah setinggi orang berdiri dengan mengangkat tangannya. Salinitas perairan yang tinggi dengan kisaran 28-34 ppt dengan nilai optimum 32 ppt. Untuk itu hindari lokasi dari sekitar muara sungai. Suhu perairan berkisar 27-30 o C. Untuk itu harus diperhatikan keadaan musim yang terjadi. Kondisi yang ideal dengan angka transparansi sekitar 1,5 m. Kisaran pH antara 6-9. Nilai optimal diharapkan pada kisaran 7,5-8,0. Perubahan pH akan mempengaruhi keseimbangan kandungan karbon dioksida (CO2) yang secara umum dapat membahayakan kehidupan biota laut dari tingkat produktivitas primer perairan. Kecepatan arus yang dianggap baik berkisar antara 20-40 cm/detik.

2.

Dasar Perairan

3.

Kedalaman Air

4.

Salinitas

5. 6. 7.

Suhu Air Kecerahan Keasaman (pH)

8.

Angin & Arus

106 Lampiran 27. Data pH Perairan Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 I 7 7 8 8 7 7 6 8 8 7 7 7 8 7 7 7 7 8 7 7 6 7 7 7 8 7 8 8 7 7 Kelompok II III 8 7 7 7 7 7 8 7 7 7 8 7 7 7 7 7 8 7 8 7 7 7 7 7 7 7 7 7 8 8 7 6 7 7 7 7 7 8 7 6 7 7 7 7 7 7 7 8 8 7 6 7 8 7 7 6 7 8 7 7 Total 22 21 22 23 21 22 20 22 23 22 21 21 22 21 23 20 21 22 22 20 20 21 21 22 23 20 23 21 22 21 Rata-rata 7.33 7.00 7.33 7.67 7.00 7.33 6.67 7.33 7.67 7.33 7.00 7.00 7.33 7.00 7.67 6.67 7.00 7.33 7.33 6.67 6.67 7.00 7.00 7.33 7.67 6.67 7.67 7.00 7.33 7.00

107 Lampiran 28. Data Kecerahan Air Perairan Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kelompok I II III 1.90 3.95 2.90 2.15 3.90 2.55 2.02 3.55 3.10 2.15 3.45 2.82 1.86 3.45 2.65 1.76 3.75 3.04 2.20 4.45 3.00 2.14 4.05 3.15 1.85 3.85 2.85 1.90 3.75 3.15 2.00 4.05 3.05 2.15 4.00 2.90 1.75 3.75 3.00 1.88 3.80 2.85 1.75 4.05 2.86 1.60 4.15 3.00 2.25 3.85 2.75 2.20 3.90 3.20 1.22 4.00 3.15 1.90 3.86 3.25 2.00 4.06 2.65 1.65 4.00 3.20 1.72 3.85 3.15 1.86 4.05 2.98 2.05 4.25 2.78 1.90 4.40 3.00 1.95 3.85 2.75 2.05 4.05 2.80 2.10 3.75 2.85 1.90 4.25 3.00 Total 8.75 8.60 8.67 8.42 7.96 8.55 9.65 9.34 8.55 8.80 9.10 9.05 8.50 8.53 8.66 8.75 8.85 9.30 8.37 9.01 8.71 8.85 8.72 8.89 9.08 9.30 8.55 8.90 8.70 9.15 Rata-rata 2.92 2.87 2.89 2.81 2.65 2.85 3.22 3.11 2.85 2.93 3.03 3.02 2.83 2.84 2.89 2.92 2.95 3.10 2.79 3.00 2.90 2.95 2.91 2.96 3.03 3.10 2.85 2.97 2.90 3.05

108 Lampiran 29. Data Salinitas Perairan Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kelompok I II III 32 34 33 32 34 32 31 32 34 30 33 34 32 34 32 31 34 32 30 34 32 32 31 34 32 32 33 30 34 34 31 33 33 33 33 33 30 32 32 32 32 32 31 32 33 30 32 33 30 30 33 30 32 34 32 34 34 32 33 31 31 33 32 30 31 32 32 31 33 33 31 34 33 31 34 32 32 34 32 31 32 31 31 34 31 32 34 30 33 34 Total 99 98 97 97 98 97 96 97 97 98 97 99 94 96 96 95 93 96 100 96 96 93 96 98 98 98 95 96 97 97 Rata-rata 33.00 32.67 32.33 32.33 32.67 32.33 32.00 32.33 32.33 32.67 32.33 33.00 31.33 32.00 32.00 31.67 31.00 32.00 33.33 32.00 32.00 31.00 32.00 32.67 32.67 32.67 31.67 32.00 32.33 32.33

109 Lampiran 30. Data Suhu Perairan Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kelompok I II III 29 30 30 30 31 29 32 32 31 29 30 32 30 31 31 32 30 31 30 31 31 30 30 30 29 32 31 30 30 32 32 32 31 31 31 32 32 30 31 32 30 31 31 31 32 29 30 31 30 31 32 32 32 31 29 30 31 32 31 31 30 31 31 32 32 31 31 31 32 32 32 31 31 31 31 30 32 30 30 31 31 32 31 31 30 31 32 30 30 31 Total 89 90 95 91 92 93 92 90 92 92 95 94 93 93 94 90 93 95 90 94 92 95 94 95 93 92 92 94 93 91 Rata-rata 29.67 30.00 31.67 30.33 30.67 31.00 30.67 30.00 30.67 30.67 31.67 31.33 31.00 31.00 31.33 30.00 31.00 31.67 30.00 31.33 30.67 31.67 31.33 31.67 31.00 30.67 30.67 31.33 31.00 30.33

110 Lampiran 31. Data Kecepatan Arus Perairan Hari 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kelompok I II III 18.90 21.25 19.80 18.00 20.25 19.75 18.70 19.00 19.25 18.00 18.25 18.75 18.25 18.00 17.75 18.75 17.30 18.00 17.25 18.25 18.00 16.10 17.25 15.00 17.25 18.00 17.45 15.70 16.25 17.00 16.00 16.45 14.80 16.70 15.75 15.80 15.75 15.00 15.30 14.25 15.00 14.75 12.30 12.00 11.75 12.30 11.45 11.70 13.45 12.75 11.80 12.50 11.50 11.75 11.25 12.50 13.75 11.90 12.75 13.00 12.75 11.90 12.80 13.20 12.75 11.80 15.45 13.25 18.75 12.15 13.00 11.75 13.40 13.25 14.60 14.50 13.25 14.75 14.45 12.25 13.00 15.30 17.20 13.45 12.45 12.70 13.60 12.50 13.75 20.10 Total 59.95 58 56.95 55 54 54.05 53.5 48.35 52.7 48.95 47.25 48.25 46.05 44 36.05 35.45 38 35.75 37.5 37.65 37.45 37.75 47.45 36.9 41.25 42.5 39.7 45.95 38.75 46.35 Rata-rata 19.98 19.33 18.98 18.33 18.00 18.02 17.83 16.12 17.57 16.32 15.75 16.08 15.35 14.67 12.02 11.82 12.67 11.92 12.50 12.55 12.48 12.58 15.82 12.30 13.75 14.17 13.23 15.32 12.92 15.45

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->