Anda di halaman 1dari 59

KONDISI LINGKUNGAN DISEPANJANG

TUKAD BANDUNG PROVINSI BALI

PENGETAHUAN LINGKUNGAN HIDUP

OLEH :
PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan sumber bagi kehidupan makhluk hidup. Air tidak hanya
berguna untuk mencukupi kebutuhan penduduk, tetapi juga keseimbangan
ekosistem. Manusia, binatang, tumbuhan dan mikroorganisme sangat
membutuhkan air sebagai unsur utama di dalam tubuh mereka.
Sungai merupakan salah satu sumber mata air yang dapat dimanfaatkan
manusia dan makhluk hidup lainnya dalam memenuhi kebutuhan biologis mereka.
Sungai tersebar di berbagai tempat, baik pedesaan maupun di perkotaan. Sungai
pedesaan umumnya memiliki air yang masih jernih. Namun sungai yang terdapat
di perkotaan kondisinya jauh dari suasana sungai pedesaan yang alami. Air sungai
kota tidak jernih, melainkan penuh sampah, pekat, hitam dan bau. Di samping itu
rumah-rumah kumuh berjejalan di pinggir sungai menjorok ke tengah, membuat
suasana penat bagi penduduk sekitar. Sungai kota sering menjadi momok
pemerintah kabupaten/kota dalam upaya menata dan memperindah kota.
Salah satu sungai yang melintasi kota Denpasar yaitu Tukad Badung. Namun
bukannya mendukung penciptaan keindahan kota, Tukad Badung justru menjadi
salah satu sumber masalah kota. Pada berbagai sudut Tukad Badung selalu
terdapat genangan sampah yang mengapung. Tukad Badung telah dijadikan
tempat sampah bagi sebagian masyarakat atau warga kota yang kurang memiliki
disiplin lingkungan. Tukad Badung memiliki fungsi seperti sebuah selokan karena
penampakan fisiknya, airnya kotor, berwarna gelap, berlumpur tebal, dipenuhi
sampah dan bau karena limbah dari rumah tangga dan dunia usaha.
Keadaan Tukad Badung yang makin parah dapat merepotkan Bali seandainya
tidak segera dilakukan penataan. Penataan ini menjadi makin penting artinya
karena selain Denpasar adalah kota pariwisata, Tukad Badung sudah terlanjur
diproklamirkan menjadi salah satu obyek wisata kota.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah kota untuk menata kondisi
lingkungan di sepanjang Tukad Badung. Penataan sungai ini berupaya
mempertahankan kebersihan air sungai, kelancaran pengerakan air sungai, menata

PUTU RUSDI ARIAWAN 2


kawasan bantaran sungai termasuk menata masyarakat yang berada di sekitar
bantaran sungai. Pihak kebersihan kota Denpasar setiap hari turun sungai
membersihkan, menjaring dan menaikkan sampah. Pemerintah kota telah
mengadakan pelebaran sungai, metode kanalisasi dan kini sedang berkonsentrasi
melakukan penanganan terhadap daerah-daerah titik rawan banjir yang diharapkan
menjadi praktis menuju sanitasi lingkungan kota, baik saat musim hujan dan
kemarau. Selain itu perencanaan drainase dimatangkan serta menyiagakan tenaga
penggelontor.
Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk menata kembali kondisi
Tukad Badung yang semakin buruk, namun hasilnya belum sesuai dengan yang
diharapkan. Misalnya dalam penanganan limbah organik, anorganik dan kimia di
Tukad Badung yang masih memerlukan strategi dan kajian yang intensif, karena
baku mutu air di Tukad Badung itu sendiri masih tergolong memprihatinkan. Di
samping itu, selama ini masyarakat masih memanfaatkan alur sungai sebagai
tempat pembuangan limbah atau sampah. Hal ini tentu saja dapat menghambat
upaya penataan Tukad Badung.
Kurangnya kesadaran masyarakat dan koordinasi antar instansi yang terlibat
serta gejala-gejala alam yang buruk lainnya yang mungkin terjadi tentu dapat
berpengaruh besar terhadap bau lingkungan, pemandangan alam, pelestarian
perairan pantai, ketersediaan air bahkan dapat menimbulkan kerusakan ekosistem
yang lebih parah di sepanjang Tukad Badung. Apabila kondisi ini dibiarkan terus
menerus, maka tidak mustahil akan terjadi ketidaknyamanan dalam menjalankan
aktivitas kota, kerusakan pemandangan dan aset wisata, krisis air bahkan
kepunahan ekosistem yang tentunya tidak diinginkan oleh semua pihak.
Manusia sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki akal sehat tidak boleh
membiarkan masalah-masalah yang terjadi di Tukad Badung ini semakin berlarut-
larut, yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Upaya merekonstruksi
kondisi lingkungan di sepanjang Tukad Badung harus segera dilaksanakan.
Keterpaduan program penanganan perlu dipersiapkan dan dimatangkan serta
diterapkan dengan baik agar tercipta ekosistem yang bersih, aman, lestari dan
indah.

PUTU RUSDI ARIAWAN 3


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut :
1. Bagaimanakah gambaran umum kondisi lingkungan di sepanjang Tukad
Badung serta upaya penanganan yang pernah dilakukan oleh Pemerintah ?
2. Bagaimanakah gambaran umum program penangan terpadu yang dapat
mengatasi kompetensinya masalah-masalah yang terjadi di lingkungan
sepanjang Tukad Badung ?
3. Bagaimanakah efektivitas, strategi serta model keterpaduan yang tepat
sehingga dapat mewujudkan tujuan yang diharapkan ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan paper ini yaitu :
1. Untuk mengetahui gambaran umum kondisi lingkungan di sepanjang
Tukad Badung serta upaya penanganan yang pernah dilakukan oleh
Pemerintah.
2. Untuk mengetahui gambaran umum program penangan terpadu yang dapat
mengatasi kompetensinya masalah-masalah yang terjadi di lingkungan
sepanjang Tukad Badung.
3. Untuk mengetahui efektivitas, strategi serta model keterpaduan yang tepat
sehingga dapat mewujudkan tujuan yang diharapkan.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Mengangkat program penanganan terpadu sebagai upaya menata kembali
kondisi lingkungan di sepanjang Tukad Badung.
2. Mengatasi kompetensi masalah-masalah ekosistem yang terjadi terutama
di lingkungan sepanjang Tukad Badung dengan tetap memperhatikan
penguasaan wawasan, ilmu pengetahuan serta teknologi.
3. Meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam menjaga
kelestarian lingkungan di sepanjang Tukad Badung.
4. Meningkatkan koordinasi antar instansi pemerintah yang terlibat dalam
penataan Tukad Badung.

PUTU RUSDI ARIAWAN 4


1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah
Penulisan paper ini pada pembahasannya dibatasi pada gambaran umum
kondisi Tukad Badung, kondisi upaya penanganannya, program penanganan
terpadu, efektivitas, strategi, model keterpaduan serta analisa kelebihan dan
kelemahannya.

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dari paper ini adalah sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat,
ruang lingkup dan batasan masalah serta sistematika penulisan dari
paper ini.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi teori-teori tentang gambaran umum daerah aliran Tukad
Badung, pembangunan dan sumber daya khususnya sumber daya alam
air, serta pendekatan pengelolaan lingkungan.
BAB III : RANCANGAN METODE PENELITIAN
Berisikan lokasi dan waktu penelitian, jenis data, bentuk data, sumber
data, metode penelitian dan analisis data yang digunakan dalam
penyusunan laporan penelitian ini.
BAB IV : PEMBAHASAN
Berisi pembahasan tentang gambaran umum kondisi lingkungan di
sepanjang Tukad Badung, upaya penanganan yang pernah dilakukan
oleh Pemerintah, gambaran umum program penangan terpadu serta
efektivitas, strategi dan model keterpaduan yang tepat
BAB V : PENUTUP
Merupakan bab yang berisikan kesimpulan dari uraian pembahasan
dan saran-saran yang berhubungan dengan pembahasan sebelumnya.

PUTU RUSDI ARIAWAN 5


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran umum Daerah Aliran Tukad Badung


2.1.1 Uraian Umum
Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Badung dengan luas ± 25,0 Km2
dengan batas-batas sebagai berikut:
- bagian utara dibatasi oleh DAS Tukad Ayung.
- bagian timur dibatasi oleh DAS Tukad Ayung.
- bagian selatan dibatasi oleh Teluk Benoa.
- bagian barat dibatasi oleh DAS Tukad Mati.
Tukad Badung berawal dari Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung,
kurang lebih 12 Km sebelah utara Kota Denpasar. Sungai tersebut mengalir ke
arah selatan melewati Kota Denpasar dan bermuara di Teluk Benoa. Panjang
Tukad Badung mulai dari hulu sampai Teluk Benoa ± 22 Km. Anak-anak sungai
utamanya adalah Tukad Tagtag dan Tukad Pedih.

2.1.2 Tinjauan Topografi, Iklim dan Geologi


Daerah.pengaliran Tukad Badung merupakan daerah dengan topografi
landai. Sampai jarak ± 10 Km dari muara mempunyai ketinggian 0 m sampai
dengan 20 m di atas permukaan air laut (dpal). Sedangkan daerah hulu bervariasi
antara 20 sampai. dengan.50 m dpal. Dimuara Tukad Badung ini dibuat waduk
muara (estuary reservoir). Sehingga dalam normalisasi alur sungai diperhitungkan
pula efek air balik (back water) dari waduk terutama saat banjir.
Berdasarkan data hujan dari tiga stasiun penakar hujan harian selama ± 37
tahun terakhir, yaitu stasiun Denpasar, Blahkiuh dan stasiun Tabanan maka hujan
rata-rata yang terjadi di DAS Tukad Badung diperkirakan sebesar 182,985 mm.
Stasiun klimatologi terdekat adalah stasiun Ngurah Rai, dimana menurut
data selama 12 tahun menunjukkan bahwa temperatur rata-rata bulanan 27,5 0C
dengan temperatur rata-rata bulanan maksimum 28 0C yang terjadi pada bulan
Januari sampai dengan April dan Oktober sampai dengan Desember. Sedangkan
temperatur rata-rata bulanan terendah 26 0C terjadi pada bulan Juli hingga
Agustus. Temperatur esktrim umumnya berkisar pada 32 0C dan 24 0C terjadi

PUTU RUSDI ARIAWAN 6


pada bulan April sampai dengan Oktober.
Kelembaban.relatif rata-rata tahunan ± 77,8 % dengan variasi antara ± 80
% pada musim penghujan dan ± 75 % pada musim kemarau. Penguapan rata-rata
bulanan berkisar antara 3,67 mm/hari sampai dengan 5,10 nm/hari, sedangkan
rembesan (infiltrasi) rata-rata bulanan diestimasi sebesar 2 mm/hari.
Berdasarkan peta geologi Pulau Bali dengan skala 1:250.000 dapat
diketahui bahwa sebagian besar Pulau Bali tertutup oleh endapan Vulkanik
kwarter hingga recent, sedang di sepanjang Tukad Badung dapat dibedakan
menjadi beberapa satuan batuan sebagai berikut :
- Satuan Aluvial pada Tukad Badung berupa pasir., kerikil dan endapan banjir.
Pada muara sungai membentuk kipas aluvial bercampur sedimen pantai berupa
pasir gampingan dan banyak mengandung pecahan korsi. Sebagai tanah penutup
berupa lempung / lanau bercampur pasir sering dijumpai di sepanjan.g Tukad
Badung sampai sekitar 20 m di daerah di dekat muara.
- Satuan batuan Vulkanik yang tersingkap di dasar dan tebing Tukad Badung
merupakan hasil erupsi kegiatan vulkanik Gunung Batur, Gunung Beratan dan
Gunung Buyan berupa lava breksi, batuan pasir tufa serta breksi tuff.
Di bagian selatan jalan Bypass Ngurah Rai dan di sekitar waduk muara
umumnya tertutup oleh rawa-rawa dan hutan bakau, sedang daerah pasang surut
di pantai nampak kering sekitar 1 - 2 Km

2.1.3 Data Aliran Tukad Badung


Di sepanjang Tukad Badung hanya terdapat satu tempat (pos) pengukuran
debit, yaitu di pos duga Ubung (belakang RSU Wangaya).
Dari hasil pengukuran oleh Proyek Hidrologi dan Hidrometri Bali, diperoleh debit
rata-rata maksimum terjadi pada bulan Februari sebesar 3,48 m3/dt. Dan debit
minimum terjadi pada bulan Agustus sebesax 2,06 m3/dt. Umumnya fluktuasi
muka air Tukad Badung menunjukkan trend menaik mulai bulan September
sampai mencapai maksimum pada bulan Februari. Setelah bulan Februari muka
air Tukad Badung menunjukkan trend menurun.
Pada musim kemarau (April - September) debit rata-rata yang tercatat di
pos duga Ubung sebesar 2,39 m3/dt, dan pada musim penghujan debit rata-rata
mencapai 3,04 m3/dt.

PUTU RUSDI ARIAWAN 7


Adapun aliran Tukad Badung sebagaimana telah diuraikan di depan hanya
tergantung dari hujan dengan tidak adanya mata air di sepanjang sungai. Namun
demikian keadaan debit Tukad Badung dipengaruhi pula oleh adanya air sisa
(tirisan) dari daerah irigasi yang ada di bagian hulu. Tirisan air itu berasal dari
Bendung Penarungan dan Kapal di Tukad Penet, dan Bendung Mambal dan
Bendung Peraupan di Tukad Ayung. Di samping itu secara langsung mendapat
tambahan (suplesi) air dari Bendung Oongan di Tukad Ayung lewat saluran
Oongan. Saluran Oongan itu bertemu dengan Tukad Badung di Suci.
Dengan adanya saluran suplesi Oongan itu, pemberian air untuk bagian
hilir Tukad Badung dapat diatur sesuai dengan kebutuhannya. Demikian pula
dengan adanya sisa air irigasi dari Tukad Penet dan Ayung bagi aliran Tukad
Badung, maka pengoperasian pintu-pintu air di Bendung Penarungan, Kapal,
Mambal, Peraupan dan Oongan sangat mempengaruhi aliran air Tukad Badung,
baik kuantitas maupun kualitasnya.

2.1.4 Bangunan-bangunan Perairan di sepanjang Tukad Badung.


Dilihat dari keadaan topografi dan kondisi sungai maka Tukad Badung
dibagi menjadi 3 daerah tinjauan, yaitu :
- Daerah pertama dari Bendung Mertagangga ke hulu.
- Daerah kedua dari Bendung Mertagangga sampai dengan Bendung Gerak Tukad
Badung.
- Daerah ketiga dari Bendung Gerak Tukad Badung sampai dengan muara.
Sepanjang Tukad Badung yang panjangnya ± 22 Km terdapat beberapa
bangunan prasarana dan sarana pekerjaan umum dan 4 bangunan pengambilan
dan satu penampang air, terdiri dari
(1) Bendung Mertagangga.
Bendung ini terletak di desa Ubung Kecamatan Denpasar Barat, Kodya
Denpasar digunakan untuk irigasi 5 subak dengan luas rencana 462 Ha. Akhir-
akhir ini luas arealnya berkurang dengan adanya alih fungsi lahan menjadi ±
134 Ha. Bendung ini ditingkatkan oleh Pryek Irigasi Bali (PIB) yang sampai
dewasa ini masih berfungsi dengan baik.
(2) Pengambilan (Intake) Batan Nyuh.
Bangunan pengambilan ini terletak di Desa Buagan Kecamatan Denpasar

PUTU RUSDI ARIAWAN 8


Barat, Kodya Denpasar direncanakan untuk irigasi seluas 324 Ha oleh PIB.
Tetapi realisasi areal sekarang 387,50 Ha. Bangunan ini masih berfungsi
dengan baik.
(3). Pengambilan (Intake) Mergaya.
Pengambilan ini terletak di Desa Buagan Kecamatan Denpasar Barat dan
direncanakan untuk irigasi Mergaya seluas 427 Ha. Bangunan ini yang
ditingkatkan PIB masih herfungsi baik. Sebagian areal sawah telah beralih
fungsi untuk pemukiman dan lain-lain, sehingga yang masih ada seluas 349
Ha.
(4) Bendung Gerak Tukad Badung.
Bendung ini terletak di Desa Buagan dan direncanakan selain untuk irigasi
seluas 542 Ha, juga pengendali banjir Kota Denpasar. Bangunan ini dibangun
Proyek Perbaikan dan Pemeliharaan Sungai Bali tahun 1970/1971,
menggunakan pintu gerak dan masih berfungsi dengan baik. Sawah yang
masih ada saat ini seluas 375,50 Ha.
5) Waduk Muara (Estuary Reservoir).
Waduk ini terletak di Desa Kepaon Kecamatan Denpasar Selatan, Kodya
Denpasar, dengan bendungan dari urugan batu/limestone dengan inti
diafragma wall. Waduk ini merupakan wadah penampungan air dari Tukad
Badung dilengkapi dengan bendung karet sebagai spillway dan pintu radial.
Waduk dengan luas 35 Ha ini dengan kedalaman ± 3,7 m digunakan untuk
penyediaan air baku air bersih 300 l/dt, sehingga air Tukad Badung harus
memenuhi standar air baku tersebut. Waduk ini direncanakan dan ditangani
oleh Proyek Penyediaan Air Baku Bali

2.1.5 Pemanfaatan Air Tukad Badung.


Aliran sungai Tukad Badung terutama telah dimanfaatkan untuk mengairi
lahan pertanian basah (sawah). Berikut ini disajikan nama bendung dan luas
daerah layanan irigasinya sebagai berikut
a. Bendung Mertagangga 134,00 Ha.
b. Pengambilan Batan Nyuh 387,50 Ha.
c. Pengambilan Mergaya 349,00 Ha.
d. Bendung Gerak Tukad Badung 372,50 Ha.
Jumlah = 1.243,00 Ha.

PUTU RUSDI ARIAWAN 9


Dari luas irigasi 1.243 Ha di daerah Tukad Badung- seluas ± 1.109 Ha di hilir
Bendung Mertagangga memperoleh suplesi air dari Tukad Ayung. Pola tanah
secara umum adalah padi-palawija. Padi ditanam periode Oktober Januari dan
palawija periode Februari - April. Dengan luas areal tanam padi ± 1.243 Na dan
palawija ± 1000 Ha, kebutuhan air untuk padi diperkirakan 1-2 1/dt/Ha. Sedang
palawija 1,0 1/dt/Ha sebagai "Maintenance Flow". Untuk bulan Mei-September
dianggap diperlukan debit 0,5 m3/dt.

2.2 Pembangunan dan Sumber Daya


2.2.1 Kebutuhan dasar manusia
Pembangunan yang dilakukan semua bangsa bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kualitas hidup manusia ditentukan
oleh tingkat pemenuhan kebutuhan yang paling utama bagi manusia, yang disebut
dengan kebutuhan dasar yang diperlukan manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Kebutuhan dasar ini tidak statis, tetapi bersifat dinamis dan berkembang sesuai
dengan tingkat peradaban dan kesejahteraan manusia. Makin sedikit kebutuhan
dasar yang dapat dipenuhi manusia, makin buruk kualitas hidupnya. Hal ini
mengandung makna bahwa makin tinggi derajat kualitas hidup manusia, makin
baik kualitas lingkungan tempat manusia itu berada.
Untuk kelangsungan hidup manusia, setiap anggota masyarakat tidak
hanya membutuhkan materi saja (diukur dengan tingkat pendapatan), tetapi juga
kebutuhan biologis, spiritual, sosial budaya. Jadi, keberhasilan pembangunan
dengan tolok ukur (indicator) pendapatan per kapita per tahun sebenarnya kurang
tepat karena tidak menggambarkan kesejahteraan yang hakiki. Seseorang yang
pendapatannya jauh lebih besar dari rata-rata pendapatan masyarakat dapat merasa
tidak sejahtera karena hidupnya sering tidak nyaman, misalnya terancam oleh
gangguan keamanan. Selain itu, peningkatan pendapatan akan meningkatkan
konsumsi yang pada akhirnya dapat meningkatkan eksploitasi sumber daya alam,
dengan dampak berupa kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Umumnya kebutuhan dasar manusia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
(1) Kebutuhan dasar hayati. Untuk kelangsungan hidup secara hayati, manusia
hanya memerlukan air, udara, dan pangan dalam kuantitas dan kualitas

PUTU RUSDI ARIAWAN 10


tertentu. Dalam hal ini proses kehidupan manusia sangat sederhana, yaitu
lahir, bayi dan tumbuh menjadi dewasa, dan berkeluarga. Bagi yang telah
membuka diri, mereka melakukan transaksi dengan cara barter karena mereka
tidak mengenal uang, pasar atau jual beli. Kelompok ini sering disebut dengan
suku terasing. Masyarakat yang hidup dengan kondisi ini dikategorikan dalam
taraf "prasejahtera". Di beberapa daerah, pemerintah telah mencoba
membangun permukiman bagi suku terasing, yang tidak jauh dari lokasi
mereka tinggal semula. Namun, setelah mereka tempati selama 1-2 bulan,
permukiman tersebut mereka tinggalkan karena suasananya tidak sesuai
dengan kebiasaan mereka di lingkungan alami Adaptasi memerlukan proses
dan waktu (6-12 bulan), yang keberhasilannya ditentukan oleh sifat, karakter,
kebiasaan, kemauan, dan tingkat pendidikan seseorang atau kelompok
masyarakat.
(2) Kebutuhan dasar yang manusiawi. Kebudayaan yang dimililki manusia
membuat manusia berbeda dengan makhluk hidup lain. Manusia mempunyai
akal, budi, dan pengetahuan sehingga tuntutan hidupnya selalu berkembang.
Manusia makan tidak hanya untuk kenyang, namun perlu makanan yang sehat
dan bergizi. Individu atau kelompok masyarakat dikatakan hidup secara
manusiawi, apabila dapat terpenuhi kebutuhan dasar sebagai berikut:
(a) Energi (pangan), pakaian, dan rumah. Kebutuhan dasar ini harus terpenuhi
sehingga yang bersangkutan kutan dapat melakukan aktivitasnya dengan
baik.
(b) Pelayanan dan fasifitas sosial yang pokok. Manusia membutuhkan
pelayanan dan fasilitas sosial yang pokok sehingga dapat meningkatkan
pengetahuannya, jiwa dan fisiknya sehat, serta dapat bepergian ke tempat
lain dengan mudah. Untuk itu, pelayanan dan fasilitas sosial yang sangat
dibutuhkan manusia adalah pendidikan, kesehatan, air bersih, angkutan
umum, dan lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
(c) Lapangan pekerjaan. Untuk mencukupi keperluan 1, hidupnya, manusia
harus bekerja. Jenis pekerjaan yang diharapkan seseorang tidak selalu
sama dengan yang lain, bergantung pada kemampuan atau keahliannya.
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan pekerjaan bukan hanya

PUTU RUSDI ARIAWAN 11


sebagai sumber pendapatan, melainkan juga sebagai unsur martabat
manusia.
(d) Kesempatan mengembangkan seni dan budaya. Sebagai makhluk berbudi,
berakal, dan berbudaya, manusia menjadi dinamis, kreatif, serta
menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya.
(e) Kebebasan untuk melakukan ibadah agama. Banyak pakar menyatakan
bahwa kebutuhan dasar yang paling mendasar bagi manusia adalah kebe-
basan untuk melakukan ibadah agama. Ibadah agama sebagai wujud iman
seseorang atau kelompok masyarakat merupakan salah satu pernyataan
secara lahiriah tentang imannya. Dalam asas ekologi atau lingkungan,
perbedaan agama ini tidak mungkin dihilangkan karena individu atau
kelompok yang tertekan akan berupaya untuk tetap mempertahankan ke-
beradaannya atau survive. Hak-hak asasi manusia berkaitan erat dengan
kebebasan dan kesempatan (peluang), khususnya yang bersifat universal.
Sebagai contoh hak-hak asasi manusia ialah kebebasan untuk melakukan
ibadah agama, kebebasan mengeluarkan pendapat, kesempatan
memperoleh keadilan, kesempatan untuk berusaha, dan kesempatan untuk
ikut mengambil keputusan dalam hal-hal yang menentukan nasib dirinya
(keluarganya).
Jika salah satu atau sebagian kebutuhan dasar di atas tidak terpenuhi, maka
individu atau kelompok masyarakat itu belum hidup secara manusiawi.
Sebaliknya, seseorang atau kelompok masyarakat yang dapat memenuhi semua
kebutuhan dasar tersebut dikategorikan hidup dalam taraf "sejahtera".
Kebutuhan dasar untuk memilih. Perkembangan kemajuan dan peningkatan
pendapatan masyarakat, juga menyebabkan peningkatan tuntutan kebutuhan hi-
dupnya. Walaupun kebutuhan dasar yang manusiawi sudah terpenuhi, jika
keinginannya tidak tersedia, maka ia merasa tidak "sejahtera". Untuk dapat
memilih harus tersedia berbagai pilihan. Individu atau kelompok masyarakat yang
sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar untuk memilih, dikatakan hidup dalam
taraf "pascasejahtera".
Pengelompokan kebutuhan dasar di atas hendaknya tidak diartikan secara kaku,
tetapi bersifat lentur atau fleksibel. Seseorang bisa saja termasuk dalam kategori

PUTU RUSDI ARIAWAN 12


ketiga (pascasejahtera), tetapi kebutuhan dasarnya pada kelompok kedua belum
semua terpenuhi. Sebagai contoh, pendapatan masyarakat cukup tinggi dan
berbagai jenis pilihan tersedia, tetapi hak-hak asasinya tidak dihormati, maka
masyarakat tidak berada pada taraf pascasejahtera. Hal ini banyak terjadi di
masyarakat majemuk (komunitas berbagai etnis) dan atau pemerintahan yang
tidak demokratis.
Apabila dihubungkan dengan ketiga kelompok kebutuhan dasar di atas, maka
hakikat pembangunan adalah untuk membuat masyarakat menjadi sejahtera atau
pascasejahtera. Pembangunan dan hasil pembangunan seharusnya dapat dinikmati
seluruh masyarakat, bukan hanya oleh kelompok tertentu saja. Untuk itu, konsep
pembangunan berwawasan lingkungan seyogianya diterapkan dengan sunguh-
sungguh sehingga masyarakat yang makmur dan sejahtera dapat terwujud secara
berkelanjutan.

2.2.2 Pembangunan
Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, daratan seluas 1,9 juta km2, panjang garis
pantai 80.791 km, laut seluas 3,1 juta km2, gunung api sebanyak 200 buah.
Kondisi geografis ini menunjukkan bahwa perencanaan pembangunan memang
cukup kompleks sehingga diperlukan sumber daya manusia yang handal. Dalam
perencanaan pembangunan tidak hanya aspek biogeofisik yang menjadi fokus
perhatian, tetapi tidak kalah pentingnya adalah keadaan sosial ekonomi dan sosial
budaya masyarakat, serta ekosistem yang spesifik di daerah setempat. Dengan
demikian, pembangunan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan kualitas
lingkungan yang baik tetap terjaga (dipertahankan).
Pada dasarnya pembangunan adalah suatu perubahan, melalui intervensi manusia
atau perubahan yang sengaja dilakukan manusia dengan mendayagunakan sumber
daya. Dalam hal ini, perubahan sengaja dibuat atau dirancang, dengan tujuan
untuk mencapai kondisi yang lebih baik dibanding dengan sebelumnya. Dengan
perkataan lain, kegiatan pembangunan merupakan pendayagunaan sumber daya
(alam, buatan, manusia) dan lingkungan sehingga harkat dan kesejahteraan
masyarakat meningkat. Sumber daya alam beserta lingkungannya merupakan
suatu kesatuan ekosistem, yang secara langsung atau tidak langsung bermanfaat

PUTU RUSDI ARIAWAN 13


bagi kehidupan manusia. Dalam suatu kesatuan ekosistem, manusia berperan
sebagai produsen, konsumen, dan pengelola.
Dalam kenyataannya, kegiatan pembangunan selalu menimbulkan dampak
lingkungan, baik positif maupun negatif. Untuk mencapai tujuan pembangunan,
upaya memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif
menjadi satu-satunya alternatif yang harus dilaksanakan oleh pelaku
pembangunan. Dengan upaya ini, pembangunan berwawasan lingkungan dapat
diwujudkan dan hasil pembangunan dapat dinikmati generasi sekarang dan
generasi yang akan datang.
A. Perubahan kualitas lingkungan
Perubahan atau perkembangan kualitas lingkungan hidup juga dapat terjadi tanpa
campur tangan manusia melalui kegiatan pembangunan. Artinya, secara alamiah
atau tanpa intervensi manusia, kualitas lingkungan juga dapat berubah. Terjadinya
peristiwa alam, seperti longsor dan banjir akan menyebabkan perubahan kualitas
lingkungan. Apakah perubahan ini dapat pulih atau tidak, bergantung pada daya
lenting lingkungan. Daya lenting lingkungan adalah kemampuan lingkungan itu
memulihkan diri secara alamiah. Misalnya, pencemaran ringan suatu perairan oleh
bahan organik dengan jumlah terbatas. Pencemaran ini tidak akan menimbulkan
masalah karena perairan itu mampu memulihkan kualitasnya secara alamiah.
Sebagai akibat peristiwa alam, ada tiga kemungkinan perkembangan kondisi
kualitas lingkungan hidup, yaitu:
(a) Relatif tetap (stabil). Kualitas lingkungan relatif tetap (tidak berubah), jika
daya lenting lingkungan relatif sama dengan tingkat kerusakan. Hal ini
menunjukkan bahwa lingkungan hanya mampu memulihkan kerusakan yang
diakibatkan gangguan alam sehingga kondisi lingkungan kembali seperti
semula. Contoh pada kondisi ini adalah kebakaran hutan (muda) yang luasnya
terbatas atau gempa bumi dengan kekuatan kurang dari 4,0 Skala Richter.
(b) Makin buruk atau menurun. Kualitas lingkungan makin buruk (rusak), apabila
daya lenting lingkungan lebih kecil dari tingkat kerusakan. Dalam hal ini, ling-
kungan tidak mampu memulihkan kerusakan yang terjadi sehingga kualitas
lingkungan menurun dibanding dengan sebelum terjadi peristiwa alam.
Sebagai contohnya untuk kondisi ini adalah terjadinya gempa bumi dengan

PUTU RUSDI ARIAWAN 14


kekuatan lebih dari 6,0 Skala Richter dan letusan gunung berapi.
(c) Makin baik. Kualitas lingkungan makin baik, jika daya lenting lingkungan
lebih besar dari tingkat kerusakan. Di sini lingkungan tidak hanya mampu
memulihkan yang rusak ke kondisi semula, tetapi lebih dari itu sehingga
kondisi lingkungan menjadi lebih baik daripada kondisi awal. Contohnya,
banjir (sementara) di daerah rendahan sepanjang sungai atau pantai yang
tidak ada penduduknya. Banjir ini membawa sedimen yang kaya unsur hara
dan terjadi sedimentasi (pengendapan) di daerah rendahan (cekungan). Unsur
hara tersebut menjadi tambahan pupuk bagi tanaman dan vegetasi di lokasi
banjir tersebut
Dengan adanya kegiatan pembangunan tingkat kerusakan lingkungan hidup
bergantung pada upaya pengendalian yang dilakukan oleh pelaku pembangunan.
Dalam hal ini ada tiga kemungkinan kondisi kualitas lingkungan hidup, yaitu:
(a) Kualitas lingkungan buruk atau menurun. Hal ini dapat terjadi karena sejak
awal pembangunan sampai kegiatan berjalan (tahap operasional), upaya
pengendalian dampak lingkungan tidak direncanakan atau dilakukan oleh
pemrakarsa. Jadi, selama kegiatan berjalan kualitas lingkungan akan terus
menurun.
(b) Kualitas lingkungan mula-mula buruk, kemudian baik. Kondisi ini terjadi
karena sejak awal pembangunan sampai operasional, pengendalian dampak
lingkungan tidak dilakukan oleh pemrakarsa. Seiring dengan meningkatnya
kepedulian masyarakat terhadap lingkungan atau diterapkannya peraturan
perundang-undangan tentang lingkungan, pemrakarsa terpaksa mencegah
perusakan dan pencemaran lingkungan. Apabila sampai pada waktu tl kualitas
lingkungan masih buruk, maka setelah t2 kualitas lingkungan menjadi baik
karena adanya tekanan dari masyarakat atau pemerintah (Gambar 7).
(c) Kualitas lingkungan baik. Hal ini dapat terjadi karena dalam perencanaan
kegiatan (proyek), biaya lingkungan sudah dimasukkan dalam anggaran
pembangunan. Jadi, sejak awal pembangunan sampai selama proyek
beroperasi, dampak lingkungan ditangani dengan serius dan dilakukan secara
kontinu. Perkembangan kualitas lingkungan dengan adanya kegiatan
pembangunan disajikan pada Gambar.

PUTU RUSDI ARIAWAN 15


Gambar 1. Perkembangan lingkungan hidup dengan adanya kegiatan
pembangunan
B. Dampak lingkungan
Umumnya di negara-negara sedang berkembang, pengendalian dampak
lingkungan sering tidak dilakukan oleh pemrakarsa atau pelaku pembangunan.
Pemrakarsa selalu berorientasi pada keuntungan ekonomi, tanpa memper-
timbangkan dampak lingkungan yang mungkin timbul. Upaya pengendalian
dampak lingkungan tidak dilakukan pemrakarsa, antara lain disebabkan:
(a) Biaya lingkungan (environmental cost) belum dimasukkan ke dalam
perencanaan suatu kegiatan. Dalam perencanaan suatu kegiatan (proyek
pembangunan), dasar pertimbangan utama adalah aspek ekonomi dan teknis,
sedangkan aspek lingkungan belum atau kurang menjadi perhatian pihak
pemrakarsa. Dengan keadaan ini, terjadinya pencemaran dan kerusakan
lingkungan yang diakibatkan oleh suatu proyek pembangunan menjadi beban
masyarakat. Seharusnya, biaya lingkungan merupakan bagian dari biaya suatu
proyek pembangunan (menginternalkan biaya lingkungan).
(b) Kendala teknologi dan tenaga kerja. Dampak lingkungan sering timbul karena
teknologi yang digunakan tidak tepat dan tenaga kerja kurang menguasai
bidangnya. Dalam pengendalian dampak lingkungan, diperlukan teknologi
yang ramah lingkungan dan ekonomis, serta tenaga kerja yang menguasai
bidang pekerjaannya. Untuk itu, dalam perencanaan kegiatan, pemrakarsa
harus mempertimbangkan jenis teknologi yang akan digunakan dan
mempersiapkan tenaga kerja yang khusus mengelola lingkungan, dengan
keterampilan dan pengetahuan yang memadai.
(c) Dampak lingkungan timbul, setelah kegiatan berjalan cukup lama. Beberapa
dampak lingkungan (seperti logam berat) memang baru berbahaya atau toksik
setelah suatu kegiatan beroperasi cukup lama. Akan tetapi, hal ini tidak boleh
menjadi pernbenaran (alasan) untuk mentolerir kelalaian pemrakarsa
mengendalikan dampak tersebut. Sejak dini, pemrakarsa sudah mengetahui

PUTU RUSDI ARIAWAN 16


jenis bahan baku, bahan penolong, proses produksi, kapasitas produksi, serta
jenis dan volume limbah yang dihasilkan kegiatannya. Pengendalian dampak
negatif yang bersifat toksik harus dilakukan dengan benar, serius, dan sejak
awal kegiatan beroperasi.
(d) Penerapan sanksi hukum (law enforcement) tidak tegas dan konsisten.
Walaupun berbagai peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup
sudah diterbitkan, jika penerapannya tidak tegas dan konsisten, maka
pemrakarsa tidak akan pernah serius melakukan pengendalian dampak
lingkungan. Sanksi hukum barus diterapkan sehingga pemrakarsa berpikir dua
kali, jika kegiatannya merusak dan mencemari lingkungan.
(e) Lembaga swadaya masyarakat (LSM) kurang berperan. Di negara-negara
maju, selain masyarakat patuh terhadap sanksi hukum, LSM merupakan salah
satu kekuatan penekan sehingga perusahaan jarang yang merusak lingkungan.
Di Indonesia, sejak tahun 1990an sudah banyak berdiri LSM yang bergerak
dalam bidang lingkungan hidup. LSM yang sudah sering menggugat
perusahaan di pengadilan karena kasus pencemaran adalah WALHI (Wahana
Lingkungan Hidup), Jakarta. Mungkin, bukan menang atau kalah di
pengadilan yang penting, tetapi pengaruh dan "gesah" gugatan itu bagi
perusahaan-perusahaan lain. Di daerah sangat diperlukan LSM-LSM yang
berkualitas (vokal, objektif, dan gigih) agar pengendalian dampak lingkungan
berjalan dengan baik.

2.2.3 Sumber daya


Sumber daya (resources) adalah sumber persediaan, baik sebagai
cadangan maupun yang baru. Dari sudut pandang ekonomi, sumber daya
merupakan suatu input dalam suatu proses produksi. Sumber daya juga diartikan
sebagai suatu atribut atau unsur dari lingkungan, yang menurut anggapan manusia
mempunyai nilai dalam jangka waktu tertentu, yang ditentukan oleh keadaan so-
sial budaya, ekonomi, teknologi, dan kelembagaan. Dalam hal ini, bisa saja suatu
sumber daya belum dikategorikan sebagai sumber daya karena tidak mempunyai
nilai ekonomi. Akan tetapi, dengan perkembangan teknologi sumber daya itu
dapat diolah atau dimanfaatkan sehingga bernilai ekonomi. Misalnya, pohon atau
batang kelapa sawit hasil peremajaan menjadi masalah karena belum bemilai

PUTU RUSDI ARIAWAN 17


ekonomi. Setelah ditebang batang kelapa sawit tersebut dibiarkan membusuk atau
dibakar. Apabila suatu saat ditemukan teknologi untuk mengolahnya menjadi
bahan lain, misalnya bahan baku kertas, maka batang kelapa sawit menjadi
sumber daya yang bernilai ekonomi.
Menurut proses terjadinya, sumber daya dibedakan menjadi dua bagian:
(1) Sumber daya buatan, yaitu sumber daya yang sengaja dibuat manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Contoh: waduk, danau, tempat rekreasi, areal perta-
nian, perkebunan, dan lain-lain.
(2) Sumber daya alam, yaitu sumber daya yang tersedia di alam secara alami.
Contoh: hutan, air, tanah, ikan, satwa, udara, dan sebagainya.
Berdasarkan sifatnya, sumber daya alam dibedakan menjadi:
(a) Sumber daya alam fisik. Sumber daya alam ini merupakan benda-benda
mati (abiotik), tetapi memegang peranan penting dalam menentukan
kualitas lingkungan. Contoh sumber daya ini adalah tanah, air, iklim, dan
mineral-mineral
(b) Sumber daya alam hayati. Sumber daya ini terdiri dari makhluk hidup
(biotik) yang berperan sebagai produsen, perombak, dan konsumen.
Contoh: tumbuhan, mikroorganisme, satwa, dan ikan.
Sumber daya alam juga dibedakan menurut kemungkinan pemulihannya,
yaitu:
(1) Sumber daya alam dapat dipulihkan atau diperbaharui (renewable).
Kerusakan sumber daya ini dapat dipulihkan, baik secara alami maupun
oleh manusia. Kerusakan dapat pulih secara alami, apabila daya lenting
lingkungan sama dengan atau lebih besar dari pada tingkat kerusakan
yang terjadi. Keberhasilan pemulihan kerusakan sumber daya alam lebih
banyak ditentukan oleh manusia melalui pengetahuan dan teknologi yang
dimilikinya. Contoh sumber daya alam dapat dipulihkan atau diperbaharui
adalah tanah, air, hutan, padang rumput, populasi satwa dan ikan.
(2) Sumber daya alam tidak dapat dipulihkan atau diperbaharui
(nonrenezvable). Pemanfaatan sumber daya ini terjadi hanya sekali, tidak
dapat berulang-ulang. Artinya, sekali digunakan langsung habis, tidak da-
pat dipulihkan atau diperbaharui lagi. Dengan kondisi ini,

PUTU RUSDI ARIAWAN 18


pemanfaatannya harus dilakukan seefisien mungkin karena persediaannya
di alam terbatas. Contoh: tambang batubara, minyak bumi, gas alam, bijih
besi, bauksit, emas, dan bahan tambang lainnya.
Sumber daya alam yang tidak akan habis (continuous resources). Sumber
daya ini tidak pernah habis, walaupun digunakan terus menerus. Sumber
daya ini tersedia secara alami dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
manusia atau makhluk hidup lainnya dengan menggunakan teknologi.
Contoh: energi matahari, angin, pasang surut air laut, gelombang laut, dan
air terjun.
A. Pemanfaatan sumber daya alam
Dalam pemanfaatan setiap sumber daya alam terjadi suatu proses yang
menimbulkan dampak terhadap lingkungan, baik dampak positif maupun negatif.
Sebaliknya, kualitas lingkungan juga akan menentukan kelangsungan suatu usaha
atau kegiatan. Artinya, lingkungan yang rusak dapat menyebabkan suatu usaha
tidak dapat beroperasi. Misalnya, pemanfaatan sumber daya alam hutan mangrove
untuk usaha tambak udang. Pembangunan tambak udang hendaknya tidak
membabat habis hutan mangrove, tetapi mempertahankan sebagian hutan
mangrove sebagai jalur atau sabuk hijau (green helt). Dalam hubungannya dengan
tambak udang, sabuk hijau antara lain berfungsi untuk rnencegah terjadinya abrasi
daratan pantai oleh gelombang air laut. Dengan dipertahankannya hutan mangrove
tersebut, maka tambak udang akan aman dari abrasi.
Dampak negatif yang dapat terjadi akibat pemanfaatan sumber daya alam,
antara lain:
(a) Kerusakan (degradasi) sumber daya alam. Pemanfaatan sumber daya alam
akan mengakibatkan kerusakan, baik di tempat kerusakan itu terjadi maupun
di luarnya. Tingkat kerusakan bergantung pada upaya yang dilakukan untuk
memulihkan atau menanggulangi dan mengendalikan kerusakan.
(b) Pencemaran tanah, air, dan udara. Penambangan, pengangkutan, dan
pengolahan sumber daya alam mineral (bahan tambang), seperti batu bara,
minyak bumi, bauksit, timah, dan lain-lain dapat mencemari tanah, air, dan
udara. Pencemaran tersebut akan mengakibatkan terganggunya kelangsungan
hidup makhluk hidup, termasuk manusia.

PUTU RUSDI ARIAWAN 19


(c) Konflik sosial. Konflik sosial dapat terjadi karena kepentingan masyarakat
terganggu. Kegiatan pertambangan misalnya, cukup banyak mengganggu
kepentingan masyarakat. Bukan saja akibat pencemaran dan bising yang
dirasakan masyarakat, tetapi juga kerusakan jalan atau mungkin desa menjadi
terisolir. Demikian juga kegiatan pengusahaan hutan sering menggusur
masyarakat, terutama masyarakat peladang berpindah di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya (Papua). Masyarakat yang terganggu
aktivitas atau sumber penghidupannya tidak selalu dapat menerima keadaan
itu. Akibatnya, sering terjadi konflik sosial berupa bentrokan antara
masyarakat dengan pihak perusahaan atau dengan aparat keamanan dan
kejadian seperti ini telah banyak menelan korban jiwa.
B. Sumber daya alam milik bersama
Permasalahaan utama dalam pendayagunaan sumber daya alam adalah pada
pemanfaatan atau pengeksploitasian sumber daya alam milik bersama (common
property resources). Sumber daya alam milik bersama adalah sumber daya yang
terdapat di alam secara alami, yang tidak dimiliki oleh individu atau kelompok
masyarakat. Sumber daya ini dianggap sebagai milik umum sehingga setiap orang
atau kelompok masyarakat tidak merasa bertanggung jawab atas kerusakannya.
Contoh sumber daya ini adalah hutan, air tawar, air laut, udara, ikan di danau,
sungai dan laut, serta satwa liar.
Hutan sebagai sumber daya alam milik bersama, dalam pemanfaatannya lebih
mudah dikendalikan pemerintah. Hal ini disebabkan peraturan perundang-
undangan tentang kehutanan sudah ada sejak zaman Belanda serta jenis dan fungsi
masing-masing hutan sudah jelas. Lain halnya dengan sumber daya milik bersama
seperti air dan udara, pengendalian kerusakan atau pencemarannya lebih sulit
sebab setiap orang dapat melakukan pencemaran. Kerusakan dan pencemaran
sumber daya alam milik bersama makin berat dan banyak terjadi karena setiap in-
dividu atau kelompok masyarakat merasa tidak ikut bertanggung jawab untuk
melestarikannya. Contoh untuk menjelaskan pemanfaatan sumber daya alam milik
bersama, antara lain:
(a) Si X melihat penebang liar merusak hutan. Dalam hal ini si X tidak berbuat
apa-apa atau tidak melarang penebang liar itu karena si X merasa perbuatan

PUTU RUSDI ARIAWAN 20


penebang liar itu tidak mengganggu kepentingannya. Penebang liar tersebut
juga mungkin tidak merasa bersalah karena merasa kayu-kayu di hutan itu
tidak jelas kepemilikannya.
(b) Seseorang atau kelompok masyarakat membuang sampah di sungai atau laut.
Orang atau kelompok tersebut tidak merasa bersalah dengan perbuatannya itu
karena sungai atau laut dianggap tidak ada pemiliknya.
(c) Seseorang melihat pemburu satwa yang dilindungi. Orang tersebut tidak
melarang pemburu satwa itu karena punahnya satwa itu tidak merugikannya.
Pengeksploitasian sumber daya milik bersama secara berlebihan banyak
dilakukan pelaku pembangunan karena belum diciptakan mekanisme pasar yang
membatasinya. Akan tetapi, perjalanan sejarah pembangunan menunjukkan
adanya keterbatasan ketersediaan sumber daya alam, yang disebut dengan
kelangkaan sumber daya alam. Timbulnya kelangkaan sumber daya alam milik
bersama "memaksa" para pakar ekonomi mencari dan memunculkan teori-teori
ekonomi baru, yang disebut dengan ekonomi sumber daya atau ekonomi
lingkungan. Dalam pemanfaatan sumber daya, perlu adanya pembatasan, seperti
diameter pohon yang dapat ditebang, ukuran ikan yang boleh ditangkap, adanya
flora dan fauna langka, serta flora dan fauna yang dilindungi. Semuanya ini
bertujuan untuk memberikan kualitas lingkungan hidup yang•,baik dan
kesejahteraan bagi manusia.
C. Kualitas hidup dan sumber daya alam
Kualitas hidup manusia terutama ditentukan oleh tingkat pendapatannya.
Walaupun pendapatan yang tinggi bukan satu-satunya indikator kesejahteraan,
tetapi dengan pendapatan yang tinggi seseorang mempunyai peluang lebih besar
untuk mencapai kesejahteraan. Makin tinggi pendapatan seseorang, makin tinggi
kualitas hidupnya. Apabila suatu wilayah kaya akan sumber daya alam, maka
wilayah itu dapat lebih sejahtera dibanding dengan daerah lain yang lebih sedikit
sumber daya alamnya. Kesejahteraan masyarakat akan makin tinggi, jika wilayah
itu mempunyai sumber daya manusia yang mampu mengelola sumber daya alam
dengan baik.
Sebagai gambaran umum, hubungan antara kualitas hidup (Kh) dengan
sumber daya alam dan jumlah penduduk dapat diformulasikan sebagai berikut:

PUTU RUSDI ARIAWAN 21


Kh = Jumlah sumber daya alam yang dapat dikelola___________
Jumlah penduduk x konsumsi sumber daya alam per kapita

Persamaan di atas memperlihatkan bahwa dengan jumlah sumber daya alam yang
dapat dikelola dan konsumsi sumber daya alam per kapita tetap, tetapi jumlah
penduduk bertambah, maka kualitas hidup manusia akan menurun. Kualitas hidup
juga menurun, jika jumlah sumber daya alam yang dapat dikelola dan jumlah
penduduk tetap, tetapi konsumsi sumber daya alam per kapita bertambah. Kualitas
hidup manusia akan jauh menurun, jika jumlah sumber daya alam yang dapat
dikelola tetap, tetapi jumlah penduduk dan konsumsi sumber daya alam per kapita
bertambah.

Gambar 2
Pengerukan lumpur dan sedimentasi di sungai makin sering dilakukan karena
kerusakan lingkungan di daerah hulu

2.2.4 Sumber Daya Alam Air


Air sebagai sumber daya alam, sangat penting dan mutlak diperlukan semua
makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Air digunakan manusia
untuk berbagai keperluan, seperti keperluan rumah tangga, pertanian, perikanan,
industri, sumber energi, sarana transportasi, dan tempat rekreasi.
Kebutuhan air tiap orang ditentukan oleh tingkat kemajuan peradaban

PUTU RUSDI ARIAWAN 22


manusia. Di Indonesia, untuk kebutuhan rumah tangga penduduk di perdesaan
memerlukan air 40-50 It/hari/jiwa, sedangkan penduduk di perkotaan lebih
banyak menggunakan air, yaitu 80-100 It/hari/jiwa. Pada masa mendatang
berbagai kegiatan pembangunan dan kemajuan di dunia makin memerlukan lebih
banyak air dengan kualitas tertentu. Pertumbuhan penduduk, perkembangan
industri, kebutuhan pangan, usaha perikanan air tawar dan pertambakan, serta
kemajuan dan perkembangan teknologi, semuanya memerlukan air.
2.2.4.1 Penggolongan dan peruntukan air
Mengingat pentingnya peranan air, jumlahnya yang terbatas, dan makin
tingginya intensitas pencemaran perairan, memerlukan upaya menjaga kualitas
air. Upaya menjaga kualitas air dapat dilakukan melalui pengelolaan air.
Misalnya, limbah cair yang dihasilkan oleh suatu kegiatan industri hares diolah
lebih dahulu sebelum dibuang ke perairan umum sehingga tidak mencemari
sungai, waduk, danau, dan atau laut.
Untuk mengendalikan pencemaran air, air dikelompokkan sesuai dengan
peruntukannya menjadi 4 golongan, yaitu:
Golongan A adalah air yang dapat digunakan sebagai sumber air minum secara
langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.
Golongan B adalah air dengan kadar pencemaran rendah, dengan BOD
(Biochemical Oxygen Demand) antara 20-40 miligram/liter. Air
jenis ini masih bisa diminum tetapi harus direbus terlebih dahulu.
Golongan C adalah air dengan kadar BOD lebih tinggi yang peruntukannya
berubah yaitu hanya dapat digunakan untuk keperluan perikanan,
peternakan dan peternakan.
Golongan D adalah air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dapat
dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri, dan pem bangkit
listrik tenaga air.
Masing-masing golongan air mempunyai kriteria sendiri, yaitu parameter
kualitas air untuk golongan A, B, C, dan D. Suatu badan air dapat diketahui
kualitas airnya (tercemar atau tidak) melalui analisis contoh air di laboratorium
dan membandingkannya dengan baku mutu air. Apabila hasil analisis
menunjukkan bahwa air tersebut telah tercemar, maka sejak dini dapat dilakukan

PUTU RUSDI ARIAWAN 23


upaya pencegahan atau pengendaliannya. Badan air dapat berupa sungai, waduk,
danau, laut, dan air tanah.
Untuk penerapan baku mutu air, setiap sungai harus jelas peruntukannya. Artinya,
semua provinsi atau kabupaten atau kota, menginventarisasi semua sungai (anak
sungai dan sungai utama) dan menggolongkannya menurut peruntukannya. Satu
sungai bisa saja terdiri dari beberapa golongan, bergantung pada peruntukan
sungai bersangkutan. Misalnya, sungai bagian hulu termasuk golongan A atau B,
bagian tengah golongan B atau C, dan bagian hilir golongan C atau D. Dilihat dari
penggolongan sungai diatas, memperlihatkan bahwa pencemaran sungai di Bali
sudah melampaui ambang batas untuk sejumlah peruntukan.
Penggolongan sungai tersebut harus mempunyai kekuatan secara hukum, yaitu
dengan Ketetapan Gubernur, Bupati atau Walikota. Sungai-sungai yang sudah
jelas penggolongan dan peruntukannya, sebaiknya disosialisasikan melalui media
massa dan penyuluhan kepada masyarakat sekitar sungai bersangkutan. Hal ini
akan memudahkan pemantauan suatu sungai dan melindungi biota perairan,
ekosistem akuatik, dan masyarakat dari dampak pencemaran air.
2.2.4.2 Parameter kualitas air
Reaksi air (pH)
Reaksi atau keasaman suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan
basa dalam air. pH didefinisikan sebagai logaritma dari konsentrasi ion hidrogen
(H) dalam mol per liter. Air murni pada suhu 250 C mengandung ion H+ dan OH-
sebesar 10-7 mol per liter sehingga pH air yang netral adalah 7. Jika nilai pH ku-
rang dari 7, air bersifat asam dan bila pH lebih besar dari 7, air bersifat
basa/alkalis. Peningkatan keasaman air (pH rendah) umumnya disebabkan limbah
yang mengandung asam-asam mineral bebas dan asam karbonat. Keasaman tinggi
(pH rendah) juga dapat disebabkan adanya FeS 2 dalam air, yang jika bereaksi
dengan udara dan air akan membentuk H2SO4 dan ion Fe2+ (larut dalam air). Air
bersifat alkalis (pH tinggi) disebabkan adanya karbonat, bikarbonat, dan atau
hidroksida. Apabila nilai pH air kurang dari 5,0 atau lebih besar dari 9,0 maka
perairan itu sudah tercemar berat sehingga kehidupan biota air akan terganggu dan
tidak layak digunakan untuk keperluan rumah tangga. Perubahan keasaman air,
baik ke arah asam (pH menurun) atau ke arah alkalis (pH meningkat), perlu

PUTU RUSDI ARIAWAN 24


dicermati sehingga ekosistem perairan itu tidak terganggu. Air yang pH-nya tinggi
umumnya mengandung padatan terlarut yang tinggi. Selain gangguan terhadap
ekosistem perairan. pH air yang tinggi juga mengakibatkan penggunaan air
menjadi terbatas, misalnya, tidak layak digunakan untuk prosesing bahan
makanan, tangki-tangki uap, merusak pipa saluran air. Demikian juga pH air yang
rendah dapat mengakibatkan pipa-pipa besi cepat berkarat dan bersifat korosif
terhadap baja.
2.2.4.3 Bahan pencemar perairan
Pencemaran air adalah masuknya bahan yang tidak diinginkan ke dalam air (oleh
kegiatan manusia dan atau secara alami) yang mengakibatkan turunnya kualitas
air tersebut sehingga tidak dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Pencemaran air tidak hanya menimbulkan dampak negatif terhadap makhluk
hidup, tetapi juga mengakibatkan "gangguan" secara estetika, seperti air yang
mengandung minyak atau bahan lain yang mengapung. Bahan pencemar yang
masuk ke suatu perairan biasanya merupakan limbah suatu aktivitas.

Gambar 3
Pencemaran air menyebabkan air tidak dapat digunakan sesuai dengan
peruntukannya
Menurut sumbernya, limbah sebagai bahan pencemar air dibedakan sebagai:
(1) Limbah domestik (limbah rumah tangga, perkantoran, pertokoan, pasar, dan
pusat perdagangan).

PUTU RUSDI ARIAWAN 25


(2) Limbah industri, pertambangan, dan transportasi
(3) Limbah laboratorium dan rumah sakit.
(4) Limbah pertanian dan peternakan.
(5) Limbah pariwisata.
Menurut bentuknya, limbah dibedakan menjadi limbah padat, limbah cair,
limbah gas, dan campuran dari limbah tersebut. Selain itu, jenis limbah menurut
susunan kimianya terdiri dari limbah organik dan limbah anorganik, sedangkan
menurut dampaknya terhadap lingkungan dibedakan sebagai limbah bahan
berbahaya dan keracunan (B3) dan limbah yang tidak berbahaya atau beracun.
Ditinjau dari segi ketahanannya di suatu lingkungan, pencemar dibagi menjadi:
(a) Pencemar yang tidak permanen, stabil selama kurang dari satu bulan.
(b) Pencemar sedang, stabil selama 1-24 bulan.
(c) Pencemar cukup permanen, stabil selama 2-5 tahun.
(d) Pencemar permanen, stabil selama lebih 5 tahun.
- Pencemaran air oleh erosi
Peristiwa erosi banyak terjadi di kawasan hutan yang telah rusak dan daerah
pertanian lahan kering pada kemiringan lereng lebih besar dari 8%, tanpa tindakan
konservasi tanah. Selain penurunan kesuburan tanah di tempat terjadinya erosi,
partikel tanah dan bahan organik yang terangkut berikut senyawa yang terkandung
di dalamnya akan mengendap menjadi lumpur (sedimentasi), terlarut, dan atau
tersuspensi di badan air penerima (sungai, waduk, danau, laut).
Kandungan lumpur atau sedimen mengakibatkan pendangkalan perairan. Selain
itu, kandungan lumpur, bahan terlarut dan tersuspensi akan membuat perairan
menjadi keruh. Suatu perairan yang keruh memberikan dampak berkurangnya
oksigen dalam air, sarang tempat ikan bertelur tertutup, dan gangguan terhadap
fotosintetis fitoplankton. Apabila dalam peristiwa erosi tersebut banyak terangkut
unsur P (phosphat) dan atau N (nitrogen), maka unsur ini akan mengakibatkan
suatu perairan menjadi subur, yang disebut dengan peristiwa eutrofikasi.
Eutrofikasi adalah proses pengkayaan suatu perairan (biasanya di waduk atau
danau) oleh unsur hara P dan atau N, yang mengakibatkan terjadinya "ledakan"
fitoplankton (terutama ganggang/algae) dan gulma air. Dampak negatif dari
"ledakan" tersebut adalah berkurangnya persediaan oksigen terlarut untuk biota air

PUTU RUSDI ARIAWAN 26


karena fitoplankton memerlukan oksigen yang lebih banyak. "Ledakan"
fitoplankton juga mengakibatkan terhambatnya sinar matahari menembus (masuk
ke dalam) perairan, yang diperlukan untuk proses biokimia dan biota air. Jadi,
pengkayaan suatu perairan oleh unsur P dan atau N akan mengakibatkan
gangguan terhadap keseimbangan ekosistem perairan itu.
Di daerah pertanian dengan penggunaan pestisida (fungisida, insektisida, dan
herbisida) yang intensif, aliran permukaan juga akan mengangkut residu pestisida
ke suatu perairan. Pencemaran air oleh pestisida, terutama jenis yang sukar larut
dalam air sangat berbahaya bagi biota perairan dan manusia melalui suatu proses,
yang disebut dengan proses magnifikasi biologis (biological magnification).
- Pencemaran air oleh logam berat
Pencemaran oleh logam berat terjadi di perairan, tanah, dan udara, tetapi yang
paling berbahaya bagi kehidupan adalah yang terjadi di perairan. Logam berat
adalah logam yang mempunyai densitas (kepadatan) lebih besar dari 5 g/ cm3.
Pencemaran air oleh logam berat akan mengganggu kehidupan, karena
mengakibatkan keracunan yang terakumulasi pada jaringan biota perairan, yang
pada akhirnya akan meracuni manusia dan ternak yang mengkonsumsinya.
Dibandingkan dengan bahan pencemar logam berat, pencemaran air oleh limbah
agroindustri relatif lebih mudah ditangani dan dampaknya tidak seberat limbah
industri lainnya.
2.2.4.4 Upaya penanggulangan pencemaran air
Pencegahan dan penanggulangan pencemaran air yang diakibatkan oleh kerusakan
hutan dan kegiatan pertanian dapat dilakukan dengan:
(a) Meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan di lahan kritis.
(b) Mencegah perambahan hutan dengan pengawasan dan penerapan sanksi
hukum yang tegas.
(c) Menerapkan sistem pertanian konservasi.
(d) Menggunaan pupuk dan pestisida seperlunya.
(e) Menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air pada setiap pemanfaatan
lahan.
Pencemaran air oleh limbah domestik dan industri atau kegiatan lainnya
dapat dicegah atau diminimalkan dengan cara:

PUTU RUSDI ARIAWAN 27


(a) Mengumpulkan limbah padat domestik sehingga tidak masuk ke perairan
umum.
(b) Memanfaatkan limbah padat domestik untuk keperluan lain, seperti
pengomposan untuk limbah bahan organik dan sistem daur ulang bagi limbah
lainnya.
(c) Memproses limbah padat domestik dengan sistem landfill sanitary (sistem
penimbunan berlapis).
(d) Memisahkan limbah padat dari limbah cair
2.2.4.5 Sumber daya air dan masyarakat tradisional
Masyarakat tradisional menganggap dirinya bagian dari alam dan hidup
dari alam sekitarnya sehingga mereka merasa bertanggung jawab untuk mencegah
kerusakan alam. Kepercayaan dan budaya masyarakat tradisional yang
ditunjukkan oleh pandangan, sikap, dan tindakan nyata, disadari atau tidak
merupakan suatu wujud konservasi sumber daya alam dan lingkungan. Dalam
kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak berhadapan dengan alam, tetapi
beradaptasi dan menyatu dengan alam. Masyarakat tidak pernah belajar tentang
teori konservasi tanah dan air, pengelolaan hutan, kualitas lingkungan, siklus air,
atau ekonomi lingkungan, tetapi mereka telah berbuat yang terbaik terhadap alam
sekitarnya (lingkungan).
Bagaimana dengan era yang serba canggih sekarang, apakah masyarakat
modern harus kembali ke budaya tradisional? Hal ini tentu tidak perlu dilakukan
manusia, tetapi kearifan masyarakat tradisional memandang alam lingkungannya
tidak salah untuk diteladani. Untuk itu, manusia modern wajib menempatkan
dirinya sebagai bagian dari suatu ekosistem, bukan di luar. Dengan demikian,
pemanfaatan sumber daya alam akan disertai rasa tanggung jawab, bukan
mengeksploitasinya secara berlebihan karena mengutamakan materi (harta benda).
Sebagai makhluk ciptaan-Nya yang bernalar dan berbudaya, manusia wajib
mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Dengan pengelolaan sumber daya
alam yang berasaskan pada pelestarian fungsi lingkungan, maka kegiatan pem-
bangunan dan hasilnya tidak menjadi bumerang bagi manusia. Di samping itu,
nilai-nilai budaya masyarakat tradisional yang tidak bertentangan dengan iman
kita, ada baiknya jika digali, dikembangkan, dan dilestarikan.

PUTU RUSDI ARIAWAN 28


Semua suku bangsa di Indonesia ini mungkin mempunyai tradisi, norma, dan
budaya yang berkaitan dengan pencegahan perusakan lingkungan. Mungkin tanpa
mereka sadari, mereka melakukan penyelamatan lingkungan atau dapat dikatakan
mereka bertindak dengan kearifan lingkungan (ekologi). Berikut ini adalah contoh
suku bangsa yang kepercayaan dan budayanya sangat menghargai alam
sekitarnya.
Masyarakat Bali
Dalam masyarakat Bali, kesempumaan dicapai apabila terjadi keseimbangan
antara "Bhuana Alit" (mikrokosmos, manusia) dengan "Bhuana Agung"
(makrokosmos, alam semesta). Selain itu, mereka percaya adanya suatu kekuatan
luar biasa di luar dirinya, yang mampu mengatur keseimbangan antarunsur-unsur
Panca Maha Bhuta (air, cahaya, angin, angkasa, dan tanah). Unsur-unsur ini juga
dalam keadaan seimbang dengan Bhuana Alit dan Buana Agung, yang disebut Tri
Hita Karana. Dengan berpedoman kepada Tri Hita Karana dan Trimurti,
masyarakat selalu menjaga mata air dari pencemaran dan kerusakan, dengan
membuat berbagai pantangan, termasuk kewajiban untuk memelihara lokasi
sekitar mata air.
Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat norma yang harus ditaati anggota
masyarakat, yang disebut dengan awig-awig (peraturan adat desa). Awig-awig ini
berkaitan dengan lingkungan alam, seperti larangan mencuri buah-buahan di
hutan, larangan mengambil kayu yang tumbang di hutan, dan sebagainya. Bagi
anggota masyarakat yang melanggar awig-awig, dikenakan sanksi adat. Awig-
awig tersebut berjalan secara turun-temurun, yang juga banyak kesamaan dengan
nilai-nilai agama Hindu.
Dalam masyarakat Bali juga terdapat "subak", yaitu suatu bentuk organisasi
masyarakat, yang secara khusus mengatur air irigasi. Organisasi subak tetap
langgeng dan dapat berfungsi dengan baik karena dalam operasionalnya tidak
terlepas dari aturan adat dan nilai-nilai agama Hindu.

2.3 Pendekatan pengelolaan lingkungan


Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak
penting, diperlukan upaya pengelolaan sehingga dampak yang timbul dapat
ditoleransi lingkungan. Untuk itu, pemrakarsa wajib melakukan pengelolaan

PUTU RUSDI ARIAWAN 29


lingkungan pada setiap tahap kegiatannya sesuai dengan jenis dampak yang
terjadi. Dalam pengembangan dampak positif dan pencegahan terjadinya dampak
negatif, pengelolaan dilakukan dengan pendekatan sosial ekonomi, kelembagaan,
dan teknologi. Pendekatan sosial ekonomi menjelaskan aspek sosial ekonomi,
pendekatan kelembagaan menentukan lembaga yang terkait, dan pendekatan
teknologi menguraikan pilihan teknologi yang digunakan dalam upaya
pengendalian dampak.
2.3.1 Pendekatan sosial ekonomi
Contoh pada tahap prakonstruksi (persiapan). Rencana kegiatan pembebasan
tanah berpotensi menimbulkan dampak penting berupa keresahan masyarakat.
Dalam hal ini pendekatan sosial ekonomi yang dapat dilakukan pemrakarsa,
antara lain adalah:
(a) Pemrakarsa bersama instansi terkait melakukan penyuluhan kepada
masyarakat tentang rencana kegiatan dan manfaatnya bagi masyarakat, daerah,
dan atau negara.
(b) Pemrakarsa melakukan musyawarah mufakat dengan pemilik tanah (tidak
melalui perantara atau pihak ketiga) untuk menentukan besar nilai tanah,
tanaman, dan atau bangunan, dengan tetap berpedoman pada ketentuan yang
berlaku.
(c) Penduduk menerima uang penggantian tanah secara utuh, pemrakarsa tidak
menggunakan jasa pihak ketiga dan sebaiknya pembayaran dilakukan melalui
bank.
(d) Pemrakarsa mengutamakan penduduk yang terkena pembebasan lahan
menjadi tenaga kerja, sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan
perusahaan.
Contoh pada tahap konstruksi (pekerjaan fisik). Kegiatan pengangkutan
material menimbulkan dampak penting berupa kerusakan jalan. Untuk itu,
pemrakarsa wajib memperbaiki jalan yang rusak dan sebaiknya jalan tersebut
menjadi lebih baik daripada sebelum ada kegiatan pemrakarsa.
Contoh pada tahap pascakonstruksi (operasional). Suatu usaha atau kegiatan
setelah beroperasi ternyata limbah cairnya mengakibatkan pencemaran terhadap
sumur penduduk di sekitarnya. Pendekatan sosial ekonomi untuk menanggulangi

PUTU RUSDI ARIAWAN 30


pencemaran air sumur tersebut dapat dilakukan pemrakarsa dengan menyediakan
air bersih bagi penduduk, misalnya membuat sumur dalam (sumur bor).
Untuk meningkatkan dampak positif pada tahap pascakonstruksi,
pemrakarsa sebaiknya mengalokasikan dana sosial untuk membantu dan atau
membina masyarakat di sekitarnya. Misalnya, bantuan untuk perbaikan atau pem-
bangunan tempat ibadah, perbaikan jalan, bantuan pada perayaan hari-hari besar,
pembinaan KUD, pelatihan keterampilan, dan lain-lain.

2.3.2 Pendekatan kelembagaan (institusi)


Sehubungan dengan contoh di atas, untuk kegiatan pembebasan tanah,
pendekatan kelembagaan (institusi) yang dilakukan pemrakarsa bergantung pada
lokasi rencana lokasi kegiatan. Dalam hal pembebasan lahan, pemrakarsa bekerja
sama dengan Pemerintah Daerah (Pemda) , Badan Pertanahan Nasional (BPN),
dan Camat untuk memberikan penjelasan melalui penyuluhan tentang usaha atau
kegiatan yang akan dilakukan. Demikian juga dalam pendataan lahan, tanaman
tumbuh, dan bangunan yang akan dibebaskan, serta penentuan besarnya ganti rugi
harus dicapai melalui musyawarah mufakat, tanpa adanya tekanan atau intimidasi
terhadap anggota masyarakat.
Untuk melakukan perbaikan jalan, misalnya pemrakarsa dapat bekerja
sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU), sedangkan untuk pencemaran udara
dan perairan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda). Dalam masalah ketenagakerjaan,
pemrakarsa melakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan masalah sosial
lainnya bekerja sama dengan Bapedalda.

2.3.3 Pendekatan teknologi


Pendekatan teknologi dalam pengelolaan lingkungan dilakukan pada tahap
konstruksi dan pascakonstruksi. Pada prinsipnya pendekatan teknologi adalah
penggunaan teknologi yang dapat meminimalkan dampak lingkungan dan secara
ekonomis tidak merugikan pemrakarsa.
Sebagai contoh pendekatan teknologi adalah pada pekerjaan pembukaan
lahan perkebunan besar. Pekerjaan ini akan menimbulkan dampak besar dan
penting berupa erosi. Pendekatan teknologi untuk menekan erosi dapat dilakukan

PUTU RUSDI ARIAWAN 31


dengan membuat saluran pembuangan (drainase) pada tempat-tempat tertentu,
mengolah tanah menurut garis kontur, dan membuat guludan untuk menahan laju
aliran permukaan. Setelah pengolahan tanah selesai, pada lokasi yang kemiringan
lerengnya lebih dari 8% dibuat teras atau rorak, dan dilakukan penanaman
tanaman penutup tanah. Untuk mencegah terjadinya tanah longsor dapat
dilakukan dengan menanam pohon-pohonan di tempat-tempat yang terjal atau
membuat tanggul penahan longsor.
Pencemaran udara dapat ditanggulangi melalui upaya pengurangan polutan
(pencemar) yang masuk ke udara, misalnya dengan menggunakan alat penangkap
debu (dust collector) atau saringan debu. Penanganan pencemaran udara oleh gas
pada prinsipnya adalah dengan cara mengurangi kandungan emisi gas pencemar
sehingga gas yang masuk ke udara tidak berbahaya bagi lingkungan. Hal ini dapat
dilakukan dengan memasang alat penyaring gas di sumber pencemar, mengubah
teknologi proses produksi, atau mengganti bahan bakar. Untuk mengurangi bising,
misalnya oleh mesin, dapat dilakukan dengan memasang peredam suara,
menempatkan mesin pada jarak tertentu, atau menempatkan mesin dalam ruang
tertutup.
Pendekatan teknologi yang dibahas dalam uraian selanjutnya adalah
tentang agroindustri. Kegiatan agroindustri menyebar di berbagai tempat sampai
ke perdesaan, banyak menggunakan air, dan berpotensi mencemari perairan
umum. Dampak pencemaran agroindutri sangat luas, baik terhadap manusia
maupun biota perairan.
A. Limbah cair agroindustri
Agroindustri adalah industri yang bahan bakunya hasil pertanian atau mengolah
bagian-bagian tanaman menjadi bahan lain. Contoh agroindustri adalah industri
tapioka, minyak kelapa sawit, gula, karet, nenas, dan lain-lain. Limbah
agroindustri terdiri dari: (a) limbah padat, berupa ampas atau padatan lainnya; (b)
limbah cair, berupa air dengan zat tersuspensi dan terlarut; serta (c) sisa-sisa
bahan baku yang tidak ikut dalam proses produksi.
Limbah padat agroindustri yang diuraikan oleh mikroba akan menghasilkan asam
sulfida (H2S) dan fosfin, yang menyebabkan air "busuk" dengan bau yang
menusuk. Di samping itu, zat beracun seperti asam sianogenik, methan, amonia

PUTU RUSDI ARIAWAN 32


bersama-sama dengan karbon dioksida akan menimbulkan gangguan berat
terhadap biota perairan (plankton, benthos, dan nekton).
Umumnya limbah agroindustri berupa senyawa organik yang masuk ke suatu
perairan, memberikan dampak sebagai berikut:
(a) Peningkatan oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroba pembusuk
(pengurai) senyawa organik, yang dinyatakan dengan BOD (Biochemical
Oxygen Demand).
(b) Peningkatan oksigen terlarut yang diperlukan dalam proses kimia, yang
dinyatakan dengan COD (Chemical Oxygen Demand).
(c) Penurunan kadar oksigen terlarut (DO, Dissolved Oxygen).
(d) Peningkatan senyawa beracun dalam air dan bau "busuk" yang menyebar dari
perairan itu.
(e) Penurunan pH air sehingga air bersifat asam.
Semua perubahan tersebut akan mengakibatkan terganggunya keseimbangan
ekosistem perairan.
Dalam proses produksinya, agroindustri menghasilkan limbah cair dalam jumlah
banyak, yang pada akhimya akan masuk ke suatu perairan (sungai, waduk, danau,
dan atau laut). Contoh agroindustri yang berpotensi mencemari perairan umum,
industri tapioka menghasilkan limbah cair sebanyak 50-60 m3 per ton produk
tepung tapioka, industri gula sebanyak 30-40 m3 per ton produk gula, industri pulp
sebanyak 80-100 m3 per ton produk pulp kering udara, industri kertas sebanyak
70-80 m3 per ton produk kertas kering udara, industri karet sebanyak 30-40 m3 per
ton produk karet, dan industri pengolahan minyak sawit sebanyak 5-6 m3 per ton
produk minyak
sawit. Parameter kunci kualitas air yang umum diamati atau diukur sebagai akibat
limbah cair agroindustri adalah BOD5, COD, pH, total padatan tersuspensi,
minyak dan lemak, serta NH3-N (Amonia total).
Pada tahap awal, pemisahan dan pengumpulan limbah padat merupakan pekerjaan
yang penting karena akan menentukan keberhasilan pengendalian beban
pencemaran pada tahap berikutnya. Limbah padat yang sudah dipisahkan dari
limbah cair, dikumpulkan di tempat tertentu dan diupayakan pemanfaatannya.
Makin banyak limbah padat yang tercampur dengan limbah cair, makin tinggi

PUTU RUSDI ARIAWAN 33


beban pencemaran.

B. Pengolahan limbah cair


Pendekatan teknologi yang banyak digunakan dalam pengendalian
pencemaran air oleh agroindustri adalah dengan membangun Unit Pengolahan
Limbah Cair (UPLC). UPLC terdiri dari serangkaian kolam (disebut kolam
stabilisasi), yang bertujuan untuk menstabilkan limbah cair (mengurangi beban
pencemaran). Pemrakarsa banyak memilih teknologi UPLC karena konstruksinya
sederhana, mudah dilaksanakan, dan tanah cukup tersedia. Keunggulan teknologi
UPLC dalam penanggulangan limbah cair adalah sebagai berikut:
(a) Konstruksi sederhana, mudah dirancang dan diubah, jika diperlukan
perubahan.
(b) Tanah yang digunakan mudah direklamasi, jika suatu saat diperlukan untuk
penggunaan lain.
(c) Mampu memulihkan kualitas limbah cair dengan biaya pemeliharaan yang
relatif murah.
(d) Dapat memulihkan pencemaran berat, tetapi dengan masa retensi (retention
time) yang lebih lama.
(e) Relatif tetap aktif walaupun limbah yang masuk beragam, seperti limbah
peternakan, limbah rumah tangga, dan lim
(f) Menghasilkan ganggang (alga) yang mengandung protein tinggi, yang dapat
dimanfaatkan untuk usaha perikanan.
Rancangan dan ukuran UPLC dapat dibuat, jika tersedia data kuantitatif sebagai
berikut:
(1) Berat atau volume bahan baku yang diperlukan dan diproses per satuan waktu
(ton/jam, ton/hari atau m3/jam, m3/hari).
(2) Volume air yang digunakan dalam proses produksi per satuan waktu (m3/jam
atau m3/hari).
(3) Volume limbah cair yang dihasilkan per berat atau volume produk, atau per
satuan waktu (m3/ton, m3/m3 atau m3/jam).
UPLC dibangun dengan struktur rangkaian beberapa kolam yang satu sama lain
saling berhubungan. Masing-masing kolam mempunyai fungsi dan kedalaman

PUTU RUSDI ARIAWAN 34


tertentu, yang terdiri dari:
- Kolam pengendapan (P), kedalaman 1,0-2,0 m
- Kolam anaerobik (A) kedalaman 3,0-5,0 m
- Kolam fakultatif (F), kedalaman 2,0-3,0 m
- Kolam aerobik atau maturasi (M), kedalaman 1,0-1,5 m

PUTU RUSDI ARIAWAN 35


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di bantaran lingkungan sepanjang Tukad Badung
dari hulu sampai mendekati hilir pada kisaran tanggal 10 – 24 Nopember 2004.

3.2. Rancangan Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk menggambarkan
kondisi lingkungan di sepanjang Tukad Badung, kondisi penanganannya, program
penanganan terpadu sebagai salah satu alternatif penataan kembali kondisi
lingkungan di sepanjang Tukad Badung serta efektivitias, strategi, dan model
keterpaduannya untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan.

3.3. Populasi Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat di sekitar bantaran Tukad
Badung maupun masyarakat peneliti lingkungan lainnya baik di kalangan
Perguruan Tinggi maupun di instansi pemerintahan yang terkait langsung/tidak
langsung dalam penanganan masalah lingkungan.

3.4 Data
3.4.1 Sumber data
Dalam penulisan paper ini penulis memperoleh data dari beberapa
literatur, hasil observasi lapangan serta keterangan dari para responden/informan
yang berhubungan dengan penelitian yang dilaksanakan. Pencarian sumber
pustaka dilakukan secara selektif dengan memperhatikan beberapa kriteria, yaitu
kemutakhiran dan relevansi sumber dengan permasalahan yang telah dirumuskan.
Sedangkan sampel data observasi dan responden dipilih yang representatif dengan
populasinya yang pengumpulannya menggunakan instrumen seperti kamera
digital dan kuisioner.
3.4.2 Jenis data
Pada penulisan paper ini digunakan data primer dan data sekunder. Data
primer meliputi yang diperoleh sendiri dari hasil observasi berupa foto-foto, hasil
wawancara serta informasi dari kuisioner. Data sekunder meliputi data-data

PUTU RUSDI ARIAWAN 36


teoritis yang tidak diperoleh sendiri pengumpulannya oleh penulis melainkan
didapat dari berbagai sumber pustaka berupa buku, laporan dari instansi terkait,
jurnal, dan internet yang relevan dengan permasalahan yang telah dirumuskan.
3.4.3 Analisis Data
Akhirnya setelah data terkumpul, dilakukan diskusi untuk merumuskan
hipotesis, menganalisis serta membahas masalah berdasarkan atas penelaahan
kepustakaan dan observasi tersebut. Dalam penelitian ini, data-data dianalisis
secara deskriptif. Data-data yang ada di dalam literatur dibahas dan dikaji ulang
(studi literatur) untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan akurat.
Sedangkan data-data yang diperoleh dari responden, informasi kuisioner serta
observasi lapangan dibahas, dikaji dan ditarik genaralisasi deskripsi sehingga
diperoleh kebenaran riil dari tujuan penelitian yang diharapkan.

3.5 Alur analisis


Alur analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Mulai

Persiapan

Pemilihan Judul

Apakah Judul Sudah tidak


Ditentukan?

ya

Pencarian
Literatur

Penyusunan
Laporan
Penelitian

Apakah Ada tidak


Kesalahan?
ya

Memperbaiki
kesalahan

Selesai

Gambar 4. Alur Analisis Metodelogi

PUTU RUSDI ARIAWAN 37


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kondisi Tukad Badung


4.1.1 Keadaan Lingkungan di Sepanjang Tukad Badung
Kondisi lingkungan Tukad Badung dari hulu sampai hilir secara umum adalah
sebagai berikut :
(1). Bagian Hulu (Bendung Mertagangga ke hulu).
Pada bagian ini masih dominan daerah pertanian basah dan kering dan
pemukiman. Keadaan pemukiman di sepanjang tepi Tukad Badung masih
terbilang normal dalan arti tidak banyak bangunan-bangunan merapat ke tepi
sungai. Belum ada gangguan bangunan dan bahayanya terhadap tepi sungai
maupun terhadap sungainya sendiri..
(2). Daerah dari Bendung Mertagangga sampai Bendung Gerak Tukad Badung.
Daerah ini merupakan daerah pemukiman yang cukup padat, diantaranya ada
beberapa bangunan yang berdekat dengan tepi sungai dan sebagian dinding
sungainya agak rendah sehingga masih kena jangkauan banjir.
(3). Daerah dari Bendung Gerak Tukad Badung sampai ke pantai. Daerah ini di
beberapa bagian masih berupa sawah dan tegalan walaupun di beberapa
tempat sudah merupakan daerah pemukiman. Di muara sungai yang berupa
daerah rawa, telah dibangun waduk muara (estuary reservoir) guna
menampung air yang diperlukan sebagai air baku daerah sekitarnya.
Pada umumnya pembuangan limbah rumah tangga telah menggunakan
septiktank, namun masih banyak yang membuang ke badan sungai. Bagi
pembangunan yang baru, pada umumnya telah menyediakan ruang bebas antara
bangunan dan tepi sungai sebagai cadangan sempadan sungai. Penduduk yang
bermukim di sepanjang Tukad Badung, adalah penduduk Kodya Denpasar yang
termasuk di dalam desa atau kelurahan.
Pada batasan areal sungai masalah yang dihadapi adalah jarak bangunan yang
terletak terlalu dekat dengan tepi sungai, terjadinya penyempitan dan pelebaran
sungai di beberapa tempat terutama di Suci, Pekambingan, Beraban dan Jematang.
Hal ini terjadi karena bantaran sungai dan alirannya digunakan sebagai

PUTU RUSDI ARIAWAN 38


pembuangan sampah serta rusaknya bantaran sungai seperti penebangan pohon,
penggalian tanah, penggalian pasir dan pembuatan DAM.
Dengan bertambahnya kunjungan wisatawan baik nusantara maupun asing
ke Bali khususnya Denpasar dan sekitarnya, akan bertambah pula segala
kebutuhan yang perlu disediakan. Karenanya untuk nemenuhi kebutuhan itu,
berkembang pula segala usaha dan industri di sekitar Kota Denpasar. Usaha dan
industri tersebut banyak mengambil lokasi di seputar Tukad Badung. Dan karena
pengolahan limbahnya belum sempurna, pembuangan limbah yang sampai
mengalir ke badan sungai menyebabkan adanya pencemaran. Disamping
pencemaran terjadi akibat adanya buangan limbah rumah tangga dari pusat-pusat
pemukinan di sepanjang sungai.
Hasil pantauan oleh unit Pengujian Kanwil PU Prop. Bali, kualitas air
limbahnya dibandingkan dengan baku mutu air limbah untuk golongan I adalah
sebagai berikut
(1) Kadar PH berkisar antara 5-10 mg/1, sedang untuk baku mutu golongan I
diisyaratkan sebesar 6-9 mg/1. Kebanyakan sample yang diambil berada di
atas ambang batas.
(2) Kadar COD, berkisar antara 26,40. - 8100. mg/l, sedang untuk baku golongan
I disyaratkkan sebsar 40 mg/l. Hampir semua sample yang diambil berada di
atas ambang batas.
(3) Kadar BOD, berkisar antara 11 - 790 mg/l, sedang untuk baku mutu golongan
I disyaratkan sebesar 20 mg/1. Hampir seluruh sample yang diambil berada di
atas ambang batas.
(4) Kadar Detergen, berkisar antara 0,01 - 0,57 mg/1, sedang untuk baku mutu
golongan I disyaratkan sebesar 0,5 mg/1. Beberapa sample yang diambil
berada di atas ambang batas.
Ini berarti limbah usaha dan industri di daerah Tukad Badung,
memberikan kontribusi cukup besar bagi pencemaran air Tukad Badung.
Berdasarkan hasil penelitian, belakangan ini kondisi BOD atau kandungan
oksigen dalam air untuk mengurai unsur organik di hulu Tukad Badung memang
mulai membaik dari 25,9 ppm menjadi 10,25 ppm. Sedangkan, di bagian tengah
dan hilir justru sebaliknya. Kondisi ini makin parah jika dilihat dari kandungan

PUTU RUSDI ARIAWAN 39


kimia dalam air yang dibutuhkan untuk mengurai zat kimia (COD). 'Semakin
tinggi nilai BOD cenderung menunjukkan telah terjadi pencemaran bahan
organik. Sedangkan makin tinggi nilai COD, mengindikasikan telah terjadi
pencemaran bahan organik dan kimia yang tinggi di sungai. (Kadis Lingkungan
Hidup Kota Denpasar IGA Gede Suardana Wetan)
Bahkan, kandungan Nitrit (NO2) di Tukad Badung berdasarkan uji kelayakan
terakhir sempat melampaui standar baku mutu air. Pencemaran lain yang perlu
diwaspadai di Tukad Badung adalah coliform dan ecoli. Ini layak diperhatikan,
mengingat ada indikasi pembuangan limbah kamar mandi dan kotoran ternak
langsung diarahkan ke sungai, tanpa diproses lebih awal. Baku mutu air di Tukad
Badung tergolong memprihatinkan.
Hasil penelitian Gede Suarjana (Ilmu Lingkungan Unud, 2003)
menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan kualitas air Tukad Badung secara
kontinu. Hal itu disebabkan oleh pembuangan limbah masyarakat sebesar
311.928,82 liter/hari, membuat kualitas air Tukad Badung yang berklasifikasi
kelas I di hulu berubah menjadi kelas II di bagian hilir. Hal itu akan makin
memburuk sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk Kota Denpasar yang ñ
3% per tahun tanpa dibarengi perubahan perilaku. Usaha-usaha yang
menghasilkan limbah belum sadar melakukan pengolahan limbah secara benar,
sehingga air sungai yang debitnya mengecil menjadi makin pekat oleh unsur-
unsur pencemar.
Adanya banyak bengkel yang beroperasi di pinggir-pinggir jalan juga
membuat sisa-sisa oli dan minyak meluber ke sungai saat hujan. Ini merupakan
masalah serius dalam upaya menuju sanitasi lingkungan air. Padahal air bagi
warga kota merupakan barang mahal.
Terjadinya penurunan kuantitas air sungai terjadi karena empat hal yaitu :
1. Menurunnya debit mantap air
2. Semakin jauhnya pengaruh pasang air laut ke arah hulu sungai
3. Sedimantasi yang mengendap di dasar sungai akibat aliran airnya mengandung
padatan-padatan yang cukup banyak
4. Tanaman-tanaman di hulu yang berdaya serap tinggi mulai berkurang

PUTU RUSDI ARIAWAN 40


Sedangkan penurunan kualitas air sungai disebabkan oleh meningkatnya
kadar polutan akibat sumber pencemaran air sungai dimana sumber pencemaran
tersebut disebabkan oleh limbah industri, limbah pemukiman, limbah pertanian
dan sisa sampah yang tidak terangkut serta terkumpul di tempat pembuangan
sementara (TPS) maupun tempat pembuangan akhir (TPA).

0.00%
4.76%

19.04% 0.00%
19.04%

9.53%
Baik Sekali Baik
28.57% Cukup Baik Agak Baik
Agak Buruk Cukup Buruk
Buruk Buruk Sekali
19.04%

Gambar 5. Persentase Kondisi Lingkungan di Sepanjang Tukad Badung

Berdasarkan data di atas maka dapat disimpulkan bahwa kondisi


lingkungan di sepanjang Tukad Badung menurut pendapat dari para responden
adalah berada dalam kondisi buruk yaitu sebesar 28,57 %. Hal ini bertolak pada
alasan bahwa kondisi air yang masih buruk adalah sebesar 26,32 % diikuti oleh
alasan banyaknya sampah yang masih bermasalah bagi masyarakat adalah
sebesar 18,42 %. Adapun persentase alasan yang dikemukakan oleh para
responden dalam menyimpulkan kondisi umum lingkungan di sepanjang Tukad
Badung dapat dilihat pada tabel berikut :
Alasan Persentase Alasan Persentase

1. Lingkungan mulai bersih 7. Bau Busuk


2. Warna/kondisi air kotor 8. Bisa untuk mancing
3. Lingkungan kotor 9. Kelancaran air buruk
4. Pemandangan Buruk 10. Penghijauan mulai ada
5. Banyak polusi 11. Upaya pemerintah
mulai baik
6. Banyak sampah 12. Aktivitas masyarakat
(buang sampah, pakai mandi)
Sedangkan ada beberapa responden yaitu sebesar 19,04 % yang mengemukakan

PUTU RUSDI ARIAWAN 41


bahwa kondisi Tukad Badung sudah agak baik. Hal ini dikarenakan oleh mulai
meningkatnya upaya yang telah dilakukan pemerintah yaitu sebesar ....% menurut
alasan para responden.
Berdasarkan data dari para responden menunjukkan bahwa 4,76 %
masyarakat mengkonsumsi air dari Tukad Badung (khususnya untuk mandi)
sedangkan 85,71 % responden tidak mengkonsumsi air dari Tukad Badung
melainkan dari air PAM atau air sumur. Sedangkan 9,52 % responden menjawab
tidak tahu apakah mereka mengkonsumsi Tukad Badung atau tidak. Tidak ada
satupun responden yang mengungkapkan adanya dampak dari pengkonsumsian
air dari Tukad Badung. Sebesar 95,24 % responden cenderung tidak tahu ada
tidaknya dampak dari pengkonsumsian air Tukad Badung.
Selain itu masyarakat yang mengkonsumsi ikan/hasil panen lainnya dari
Tukad Badung yaitu sebesar 19,04 % mengemukakan tidak adanya dampak buruk
dari pengkonsusian tersebut. Sedangkan bagi yang tidak mengkonsumsi (61,9 %)
maupun yang tidak tahu apakah mereka mengkonsumsi (19,04 %) cenderung
tidak tahu (90,47 %) adanya dampak pengkonsumsian tersebut.

4.1.2 Kondisi Penanganan Masalah Lingkungan di Sepanjang Tukad Badung


Adapun penanganan dari pemerintah diantaranya adalah sebagai berikut
1. Pemerintah pusat telah menetapkan prokasih (program kali bersih) untuk
mengatasi persoalan sungai.
2. Di Bali yang notabene sungainya tergolong kecil, pelaksanaan prokasih baru
dimulai pada tahun 1990. Saat ini pemerintah melalui instansi terkait(Dinas
Pekerjaan Umum/PU) sedangkan melaksanakan prokasih 2000/2005. Berdasarkan
surat keputusan Gubernur No.68 tahun 1995 pemerintah menetapkan dua sungai
sasaran prokasih yaitu Tukad Badung dan Tukad Teba, dengan alasan kedua
sungai itu penuruna kualitas airnya relatif tinggi(jauh melewati batas baku mutu
air normal). Selain tiu terkait dengan pemanfaatn Tukad Badung sebagai explory
DAM untuk air minum.
Pemerintah juga berkepentingan untuk mempersiapkan tersebut sebagai paket
wisata air(city tour). Bahkan tahun lalu sudah mulai disebar benih ikan.

PUTU RUSDI ARIAWAN 42


3. Penyediaan fasilitas serta pengarahan ke masyarakat guna meningkatkan
kesadaran tentang kebersihan lingkungan.
Yang masih bermasalah :
1. pasalnya usaha-usaha yang dilakukan prokasih selama ini ternyata salah bidik.
Bukannya nmengatasi masalah pengolahan limbah sebelum dibuang ke sungai
tetapi justru mengatasi jumlah produsen limbah yang bermukim sepanjang sungai.
Contohnya penertiban terhadap industri kecil di sepanjang sungai, dengan menyita
alat-alat produksi mereka, disertai dengan penebusan alat tersebut yang cukup
mahal. Namun, polutan yang berbahaya yang justru diproduksi dari hotel dan
industri ternyata tidak disentuh petugas tramtib. Ini menunjukkan pemerintah
salah orientasi dalam mewujudkan prokasih.
2. kondisi air tukad badung seperti saat ini dengan kualitas dan kuantitas yang
turun tentu sangat tidak efektif. Justru penyebaran benih ikan itu secara tak
langsung bisa meracuni masyrakat yang mengkonsumsinya karena ikan-ikan itu
terkontaminasi polutan.
3. Pemerintah juga dinilai terlalu kaku dalam mengatasi masalah pencemaran.
Undang-undang dan perturan yang telah ada hanya sebatas formalitas,
m,asyarakat pun seenaknya melakukan pelanggaran yang akhirnya kesadaran
tentang kebersihan lingkungan terabaikan.
Tukad Badung telah menelan ratusan juta rupiah APBD Kota Denpasar
baik untuk program kali bersih atau penataan alur sungai. Namun, Tukad Badung
tetap saja menjadi tong sampah mengalir yang kerap menampung limbah dan tinja
yang dibuang sesuka hati warganya.
Tukad Badung, persis membelah jantung kota. Apalagi di kawasan itu, banyak
melintas wisatawan asing yang melakukan wisata perkotaan (city tour).
Komisi D mengaku sudah berulang kali berkoordinasi dalam penataan proyek ini
dengan sidak ke lokasi. Buktinya, pelaksanaannya tetap ngotot dan tanggul yang
ada tetap saja dibangun rendah. Tanggul yang rendah pada musim hujan jelas
akan disapu air sehingga untuk menyulap Tukad Badung menjadi objek city tour
hanya impian. ''Penggagas hendaknya memilih tanamam hias yang sesuai dengan
tekstur tanah dan posisi Tukad Badung. Bukan memilih kangkung,'' sindirnya.

PUTU RUSDI ARIAWAN 43


Supartha Yuma juga menilai proyek penataan Tukad Badung tahun anggaran
2002 tergolong mubazir dilihat dari fungsi kepariwisataan. harus ada koordinasi
antarinstansi jika ingin benar-benar mengelola Tukad Badung sebagai aset yang
dibanggakan warga kota. Bahkan, versi Mohamad Hadi, kini masih ada pedagang
yang kucing-kucingan membuang sampahnya ke alur Tukad Badung.
Tatkala Drs. Made Suwendha diangkat menjadi Walikota Denpasar, sekitar empat
tahun lalu, pembenahan Tukad Badung ditempatkannya sebagai prioritas yang
tinggi, untuk mendapatkan perhatian dan penataan. "Kami mengerahkan seluruh
masyarakat untuk ikut membersihkan Tukad Badung," katanya.
Setelah badan sungai dapat dibersihkan dan ditata, menyusul penduduk di sekitar
alur sungai ditertibkan, sehingga di pinggirnya mampu dibangun jalan inspeksi
yang beraspal dan dapat dilalui kendaraan roda empat.
Itulah kelebihan penataan Tukad Badung. Kalau di Yogya, di Kali Code, jalan
inspeksinya hanya merupakan jalan setapak. Sedangkan di Tukad Badung, jalan
inspeksinya berupa jalan raya beraspal. Sehingga itu sekaligus sebagai jalan
alternatif, kalau terjadi kemacetan lalu lintas di pusat kota (Jalan Hassanudin,
Jalan Sulawesi, dan sekitarnya).
Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Oka, yang melakukan inspeksi di Kodya
Denpasar beberapa waktu lalu menyatakan kagum dengan partisipasi masyarakat
kota, yang ikut berperan menata Tukad Badung.
Pihak walikota hanya menganggarkan Rp 50 juta untuk penataan, pengerukan,
dan pembuatan jalan inspeksi itu, namun swadaya masyarakat mencapai Rp 600
juta. Itu berupa lahan milik masyarakat, yang direlakan untuk jalan inspeksi.
Sehingga kini, sebagian Tukad Badung, tidak lagi sebagai halaman belakang
perumahan. Tapi sebaliknya.
Gubernur Bali dan tim pembina pembangunan Daerah Bali, yang diantar Walikota
Made Suwendha, berjalan kaki di sepanjang jalan inspeksi yang telah dibangun.
Mereka bercakap-cakap dengan penduduk sekitar sungai. "Tolong ikut jaga wajah
sungai ini," kata Gubernur Oka kepada warga.
Made Suwendha mengatakan, tidak gampang menyadarkan penduduk yang sudah
puluhan tahun hidup dalam keadaan kumuh, dan yang sudah terbiasa
memanfaatkan Tukad Badung sebagai tempat pembuangan kotoran rumah tangga

PUTU RUSDI ARIAWAN 44


dan kotoran manusia. "Kami minta kepada aparat untuk melakukan pendekatan
secara manusiawi," kata walikota.
Hasilnya? Tidak mengecewakan. Sampai dengan akhir 1996, telah mampu
ditertibkan 10.723 rumah kumuh, tanpa gejolak. Namun diakui, sukses penataan
rumah kumuh di suatu kawasan, tanpa disadari muncul lagi perumahan kumuh di
kawasan lain. "Pembangunan perumahan kumuh oleh masyarakat lebih cepat dari
langkah-langkah yang kami ambil," kata Made. Oleh karenanya, ia bertekad
mengambil langkah-langkah yang lebih intensif.
Ketika Gubernur Bali meninjau, koresponden Mutiara melihat, penduduk sekitar
Tukad Badung menggunakan pipa-pipa air yang cukup panjang untuk membuang
kotoran ke Tukad Badung. Jadi, ya, sami mawon. Bagaimana ini?
Walikota Drs. Made Suwendha mengatakan, pendidikan terhadap masyarakat
kumuh tidak dapat dilaksanakan sekaligus. Ia bersyukur, penduduk sudah mau
menjauh dari tepi sungai, dan merelakan pembangunan jalan inspeksi. "Kita harus
bekerja pelan-pelan," katanya lagi. Setelah sempadan sungai ditata, kemudian
mendidik mereka membuat lubang WC, sehingga tidak membuang kotoran ke
sungai melalui pipa.
Petugas yang menata Tukad Badung mengatakan, masyarakat yang berdomisili di
tepi Tukad Badung, pada umumnya pedagang kecil dan banyak pula penjudi.
"Ketika kami bekerja di sini, mereka enak saja leha-leha mengelus-elus (Bali:
ngecel) ayam aduan," katanya. Lalu, bagaimana sikap kita? "Ya, kita harus
bersabar, dan selalu melakukan pendekatan dengan baik-baik. Sehingga tidak ada
gejolak. Karena memang demikianlah pesan Pak Wali," kata petugas itu.
Bagaimana riwayatmu nanti? Itulah pertanyaan yang harus dijawab. Karena kini,
investasi yang ditanamkan di Tukad Badung, mencapai miliaran rupiah. Bukan
saja pelaksanaan penataan di sempadannya, namun hilir sungai, telah akan
dimanfaatkan bagi pengembangan air minum, dengan membangun sebuah dam.
Rencananya air yang ditampung pada dam di hilir Tukad Badung, akan diolah,
dan dimanfaatkan untuk penyediaan air bersih bagi hotel-hotel internasional di
kawasan Bukit Jimbaran, Pecatu, dan lain-lain di ujung Bali Selatan yang
berkapur.

PUTU RUSDI ARIAWAN 45


Ini berarti, dengan teknologi yang sudah berkembang, air Tukad Badung yang di
hulu telah tercemar, ternyata di hilir mampu diolah untuk air bersih (air minum).
Suatu teknologi yang sangat mengagumkan.
Pada satu dekade yang akan datang, wajah Tukad Badung akan semakin cantik
dan akan memperindah wajah Kota Denpasar di bagian hulu, sedangkan airnya di
bagian hilir, diolah untuk air minum untuk wisatawan.
Tercatat, investasi yang ditanamkan di Tukad Badung sekitar 10 miliar. Kecuali
untuk penataan sempadan, juga biaya pembangunan jembatan sekitar Rp 1,5
miliar, pengelolaan sumber air dan penanggulangan banjar Rp 1,5 miliar, proyek
penyediaan air baku dari Tukad Badung bernilai lebih dari Rp 1 miliar, pembuatan
trasharck senilai Rp 2,5 miliar, perbaikan feder canal senilai Rp 1,8 miliar, dan
lain-lain. Semua itu membuktikan betapa Tukad Badung di tengah kota ini,
mendapat perhatian yang serius. Sementara ini penghijauan di tebing sungai sudah
mulai dilaksanakan di kawasan tepi Tukad Badung. Misalnya di kawasan Jalan
Gatot Subroto. Tindakan ini juga penting, karena dengan memanfaatkan tepi
Tukad Badung untuk kawasan hijau (mungkin sebagai kawasan hijau kota),
kalangan tertentu tidak akan berani menyerobot lahan itu.
Sungai yang melintas di jalur kota hendaknya dijadikan sarana untuk menunjang
kenyamanan hidup
Wali Kota Denpasar Puspayoga mengakui ada banyak hal yang harus dibina
khususnya mentalitas warga dalam menjaga alur sungai. Adanya pengetatan
aturan membuang limbah ke sungai diharapkan membuat aksi buang limbah
sembarangan dapat ditekan. Dalam konteks ini peran serta masyarakat adat layak
diakomodasi. Pemberian sanksi terhadap warga yang membuang limbah ke sungai
perlu diberlakukan demi terjaganya sanitasi lingkungan sungai termasuk kualitas
air di Denpasar
Menengok ke belakang, penataan Tukad Badung sebenarnya sudah dimulai
sejak awal 1980-an. Ditandai dengan pelebaran badan sungai, pengerukan dan
senderisasi. Kemudian secara berkelanjutan berlangsung hingga akhir 2002.
Sehingga, hampir seluruh bagian Tukad Badung di kedua sisinya telah
disenderisasi (pengerasan tebing sungai dengan membangun senderan permanen).
Tukad Badung dulunya tak selebar sekarang ini, pada beberapa bagian ditumbuhi

PUTU RUSDI ARIAWAN 46


pohon-pohon besar, sehingga tak ubahnya sungai-sungai besar yang biasa terlihat
di pedesaan. Pembangunan senderan ini dilanjutkan dengan pembangunan jalan
inspeksi pada beberapa ruas yang masih memungkinkan. Secara garis besar,
penataan sungai kota yang komprehensif dapat dilakukan dalam tiga program --
(1) penataan air sungai, (2) penataan kawasan bantaran sungai, dan (3) penataan
masyarakat bantaran sungai. Pada ketiga hal ini, pemerintah kabupaten/kota tetap
menjadi motor penggeraknya.

1. Penataan air sungai


Penataan ini berupaya mempertahankan kebersihan air sungai dan menjaga
kelancaran pengerakan air sungai. Menciptakan Tukad Badung yang benar-benar
bersih dan sampah sungai nampaknya sulit, karena ini berpulang pada
kedisiplinan warga. Di sini terlihat upaya gigih pihak kebersihan kota Denpasar
yang harus setiap hari turun sungai membersihkan, menjaring dan menaikkan
sampah. Tinggal perlu dicarikan lokasi tepat untuk menaikkan sampah sungai agar
tidak meluber ke jalan dan menganggu keindahan kota. Secara periodik perlu
diadakan pengerukan untuk menjaga kedalaman sungai yang optimal.
Melihat kondisi debit air Tukad Badung yang kecil, sementara pelebaran
sungai dibuat untuk mengantisipasi limpahan air saat musim hujan, pada musim
kemarau lebar sungai jadi mubazir. Lumpur sungai terlihat dan sampah menepi ke
pinggir sungai. Pemkot mensiasati dengan kanalisasi. Di tengah sungai dikeruk
dan diperdalam, sementara tanah kerukan digeser ke samping kanal, sehingga
terlihat ada sungai kecil di Tukad Badung. Lahan hijau di bawah sungai di kedua
tepi kanal. Metode ini cukup akurat memperlancar jalannya air dan mempermudah
pembersihan rutin sungai. Layaknya petak-petak rumput di pinggiran sungai.
Petak itu dipisahkan oleh alur got menuju sungai. Kejelian Pemkot membangun
ini patut dipuji.
Dengan kanalisasi, justru didapat beberapa kemudahan. Pertama,
kemudahan dalam pembersihan serta pengontrolan sampah. Kedua, pergerakan air
lancar. Ketiga, keindahan dan kenyamanan. Sebelumnya pembangunan kanal
sempat direncanakan untuk penanaman kangkung darat, sehingga bisa
dimanfaatkan masyarakat. Namun dalam perkembangannya berubah menjadi
lahan rumput hijau. Lahan ini akhirnya dimanfaatkan oleh masyarakat yang gemar

PUTU RUSDI ARIAWAN 47


memancing. Penataan semacam ini dapat dilihat di selatan Hotel Raya, Jalan
Hasanudin Denpasar. Ada baiknya ke depan untuk renovasi atau pembangunan
pada senderan pada sisi tukad Badung lainnya perlu dikembangkan bentuk fisik
senderan sungai yang tak harus miring, terlebih dengan sudut kemiringan yang
tajam, justru dibuat ruang/tempat bagi pot bunga. Ini penting juga untuk
keselamatan bagi masyarakat bantaran sungai.

2. Penataan kawasan bantaran sungai


Penataan ini ditujukan untuk membangun sebuah keserasian antara sungai,
senderan dan lingkungan sekitarnya. Upaya yang dilakukan dengan pembangunan
jalan inspeksi dan taman di pinggir sungai. Termasuk di dalamnya penataan
perumahan kumuh di sepanjang bantaran sungai. Pada kondisi Tukad Badung dan
Tukad Teba yang terdapat banyak sampah, Pemkot bersiasat "menyembunyikan"
atau menutupi pemandangan sungai ini dari penglihatan umum masyarakat yang
melintasi jalan kota. Green belt atau sabuk hijau tanaman menjadi pilihan guna
meminimalisir wajah sungai yang tidak mengenakkan. Pinggiran sungai yang
berdampingan langsung dengan jalan raya ditanami tumbuh-tumbuhan yang
terdiri dari jenis pohon perdu dan tumbuhan peneduh. Upaya ini menghasilkan
taman mini yang hijau memanjang.
Pandangan pemakai jalan raya bisa dibuat "teduh" dengan kehadiran taman
ini. Hanya sayang upaya ini kurang dibarengi mekanisme perawatan yang baik. Di
dalamnya terkandung aspek pemeliharaan rutin berupa penyiraman, perawatan
dan peremajaan. Peremajaan dilakukan dengan penggantian tanaman green belt
dengan jenis dan variasi baru, namun masih dalam kelompok perdu dan peneduh.
Tujuannya, menghadirkan suasana keindahan taman dan terlihat makin variatif.
Sebab yang terjadi, karena tumbuh-tumbuhan ini berada langsung di tepi jalan,
maka pada daun, ranting dan dahannya menumpuk debu, sampah dan sisa-sisa
pembuangan knalpot motor.
Hal lain yang perlu diperhatikan, sering kali tumbuhan pada taman kecil di
pinggir jalan ini dibiarkan tumbuh liar, tak terurus. Jika ini tidak dilakukan
perawatan dengan seksama, bukan keindahan yang didapatkan, justru taman yang
kotor dan kusam. Ini juga akan mengganggu estetika pada fasilitas publik. Untuk
perawatan, terutama untuk menghindarkan tanaman dari kerusakan yang

PUTU RUSDI ARIAWAN 48


diakibatkan alam, injakan pejalan kaki dan tangan-tangan jahil yang keras terjadi
pada taman publik, pihak Pemkot membuatkan pagar besi mengelilingi taman.
Dengan pagar besi ini, tumbuhan taman hidup dengan baik dan efektif untuk
keamanan tanaman.
Upaya lain yang ditempuh Pemkot untuk meminimalisir kesan kotor sungai
ialah upaya mendadani Tukad Badung dengan taman bunga. Walau belum pada
semua pinggiran sungai, terutama aliran sungai yang terletak di selatan Hotel
Raya Jalan Hasanudin telah dibuatkan taman bunga di bantaran sungai. Pot beton
ini dibuat persis pada bibir atas senderan Tukad Badung. Jenis pohon yang
ditanam di antaranya jenis bunga-bungaan yang didominasi jenis bunga kertas
(bougenvile). Hadirnya pot bunga ini lumayan memberikan kesegaran dan
mereduksi pemandangan kumuh yang seringkali menghiasi bantaran sungai.
Kini, upaya mendadani pinggiran Tukad Badung dilakukan pula secara
sporadis oleh beberapa warga yang memiliki rumah tinggal di pinggiran Tukad
Badung. Senderan sungai yang miring monoton, mereka modifikasi dengan
membangun pot-pot bunga. Coba perhatikan di wilayah Banjar Buagan di Jalan
Imam Bonjol yang wilayah banjar-nya dibelah oleh Tukad Badung. Selain secara
infividu memberikan keasrian bagi halaman rumah warga bersangkutan, juga
memberikan kontribusi positif bagi penataan Tukad Badung. Ide semacam ini
merupakan inisiatif konstruktif warga. Artinya, warga memiliki kesadaran untuk
ikut menata sungai dan kawasan bantarannya.
Mereka memiliki keinginan agar Tukad Badung selalu terlihat bersih dan
indah. Terlebih pada beberapa banjar yang berdampingan dengan Tukad Badung,
sungai dimanfaatkan untuk kegiatan atraktif. Misalkan acara 17 Agustusan, Tukad
Badung misalkan praktis digunakan sebagai media utama pesta rakyat dengan
menggelar lomba memancing, kano race ataukah tarik tambang air. Upaya-upaya
sporadis masyarakat bisa disikapi dengan upaya terprogram Pemkot terhadap
pembangunan keindahan Tukad Badung. Ini untuk mendapatkan penataan yang
lebih terencana dan terpadu. Upaya sporadis itu juga menandakan formula
terhadap penataan Tukad Badung belumlah ditemukan secara tepat. Masih terbuka
ruang bagi masyarakat ikut rembug memikirkan format fisik penataan Tukad
Badung.

PUTU RUSDI ARIAWAN 49


3. Penataan masyarakat bantaran sungai
Penataan ini merupakan upaya nonfisik dan lebih pada membangun
kesadaran kolektif warga terhadap keberadaan sungai dan arti pentingnya bagi
kehidupan kota. Sosialisasi peraturan daerah (Perda) tentang kebersihan dan
ketertiban mesti terus dilakukan, secara simultan mengevaluasi dan
memperbaikinya. Penataan ini dimaksudkan memberikan pendidikan dan
pemahaman kepada masyarakat di sepanjang bantaran sungai untuk secara
bersama-sama memelihara dan menjaga keberadaan sungai. Tak hanya lewat
papan pengumuman belaka. Minimal hasil yang ingin diperoleh dari masyarakat
adalah kedisiplinan untuk tidak lagi membuang sampah ke sungai. Pemkot dalam
penataan ini harus memiliki "nafas panjang". Sebab, usaha ini membutuhkan
waktu panjang untuk menyadarkan masyarakat.
Meski sangat sulit mewujudkan Tukad Badung sebagai objek wisata kota,
namun ada sisi positif yang dapat diambil. Invisible point-nya justru terletak
gerakan kebersihan sungai. Hal yang sangat sulit diwujudkan Pemkot yang
memiliki sungai kota di Indonesia dengan tingkat kesadaran masyarakat yang
masih kecil dan peraturan yang sulit ditegakkan. Dengan "roh" objek wisata kota,
penataan Tukad Badung secara fisik dapat dilakukan menuju sungai kota yang
bersih dan indah. Pengelolaan sampah sungai yang efektif, efisien dan terkontrol.
Tinggal bagaimana upaya meminimalisir keberadaan kawasan kumuh yang masih
banyak terlihat di bantaran sungai, meski letaknya jauh dari jalan protokoler kota.
Terpenting adalah menumbuhkan rasa memiliki warga pada sungai kota.
Penanganan limbah organik, anorganik dan kimia di Tukad Badung memerlukan
strategi dan kajian yang intensif.

4.2 Program Penanganan Terpadu


pencemaran sungai di Pulau Dewata itu jika dibiarkan akan merusak kelestarian
perairan pantainya yang sejauh ini diandalkan sebagai aset wisatanya.
Tingginya potensi pencemaran air di Denpasar ini, menurut Suardana Wetan,
akibat posisi geografis Denpasar sebagai pusat kota. Denpasar yang lokasinya
berada di bagian hilir sungai akhirnya menampung semua limpahan yang dibuang
di hulu sungai. Ia memastikan dari sejumlah sungai yang ada, Tukad Badung

PUTU RUSDI ARIAWAN 50


masih sangat berat beban pencemarannya. Menyadari kondisi ini, warga harus
kembali disadarkan bahwa sungai bukanlah tong sampah mengalir yang menjadi
tempat seenaknya membuang sampah. Sungai yang melintas di jalur kota
hendaknya dijadikan sarana untuk menunjang kenyamanan hidup.
Atas pertimbangan bahwa penyusunan Program Kerja Daerah PROKASIH
2005 akan mengacu kepada Rencana Induk PROKASIH 2005 maka pokok-pokok
dari rencana induk tersebut dikutip sebagai risalah dalam pedoman ini.
A. Visi PROKASIH
Menjadikan PROKASIH sebagai institusi yang diakui dan dirujuk oleh
pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam upaya pengelolaan
pengendalian pencemaran air yang efektif dan efisien.
B. Misi PROKASIH
1. Mewujudkan keselarasan hubungan antara manusia dan lingkungannya.
2. Melestarikan fungsi lingkungan hidup khususnya lingkungan perairan sungai.
3. Meningkatkan sumber daya kelembagaan di bidang pengendalian pencemaran
lingkungan.
C. Tujuan PROKASIH 2005
Meningkatkan kualitas air sungai sampai mencapai tingkat mutu air yang terbaik,
dan mengelola fungsi sempadan sungai sebagaimana mestinya, serta
meningkatkan kedaya-gunaan dan kemanfaatan lingkungan sungai bagi
kepentingan umum secara berkelanjutan, melalui upaya tindak kerja seraya
meningkatkan sumber daya dan kapasitas kelembagaan di bidang pengendalian
pencemaran air.
Tujuan tersebut dapat diuraikan menjadi tiga tolok-ukur tujuan sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas air sungai;
2. Meningkatkan fungsi, daya-guna dan hasil-guna lingkungan sungai;
3. Meningkatkan sumber daya dan kapasitas kelembagaan (institutional
resources) di bidang pengendalian pencemaran air.
D. Kebijaksanaan Pelaksanaan
1. Pengendalian dampak lingkungan sungai dilakukan dalam rangka :
a. Peningkatan kesejahteraan manusia, sehingga manusia menjadi dimensi
sentral dalam upaya pelestarian fungsi lingkungan sungai;

PUTU RUSDI ARIAWAN 51


b. Hak setiap orang atas air sungai dengan kualitasnya yang terbaik;
c. Kewajiban setiap orang untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan
sungai.
2. Pengendalian pencemaran air dilakukan dengan :
a. Mengutamakan upaya pencegahan dari pada penanggulangan;
b. Menerapkan kombinasi instrumen kebijaksanaan (mix policy tools), baik
yang bersifat pembinaan maupun yang bersifat upaya paksa berdasarkan
peraturan perundang-undangan;
c. Polluter Pays Principle, yaitu prinsip bahwa pihak yang menimbulkan
limbah yang harus bertanggung jawab penuh terhadap pencemaran dan
penurunan kualitas lingkungan yang ditimbulkannya;
d. Memperhatikan praktek-praktek manajemen yang baik dan benar dengan
memperhatikan tanggung jawab (accountability) bagi setiap pelakunya.
3. Pemanfaatan air, yang cenderung menjadi sumber daya alam yang semakin
langka, dilakukan sebijaksana mungkin dengan memperhatikan pelestarian
fungsi lingkungan, kepentingan umum dan generasi masa depan.
4. Penerapan teknologi bersih dalam kegiatan produksi dan konsumsi.
5. Pengembangan keberdayaan masyarakat melalui peningkatan ketersediaan
informasi, pengetahuan, kesadaran, komitmen, dan kemampuan dalam
pelestarian fungsi lingkungan sungai.
F. Sasaran PROKASIH 2005
Ketiga tolok-ukur tujuan PROKASIH 2005, sebagaimana diuraikan
sebelumnya, akan diwujudkan melalui pencapaian sasaran-sasaran yang dalam
hal ini disebut dengan Sasaran PROKASIH 2005. Sasaran tersebut adalah
seperti diuraikan berikut ini.
1. Sasaran dalam rangka pencapaian butir tujuan : Meningkatkan kualitas air
sungai, meliputi :
a. Menurunnya masukan beban pencemaran ke dalam sungai;
b. Meningkatnya kapasitas konservasi air sungai.
2. Sasaran dalam rangka pencapaian butir tujuan : Meningkatkan daya-guna dan
hasil-guna lingkungan sungai, meliputi :

PUTU RUSDI ARIAWAN 52


a. Berfungsinya sempadan sungai sesuai dengan yang ditetapkan peraturan
perundang-undangan;
b. Meningkatnya daya-guna dan hasil-guna sempadan sungai bagi
kepentingan umum.
3. Sasaran dalam rangka pencapaian butir tujuan : Meningkatkan sumber daya
dan kapasitas kelembagaan bidang pengendalian pencemaran air, meliputi :
a. Ditetapkannya peraturan yang mengarah kepada kejelasan dan kepastian
hukum di bidang pengendalian pencemaran air;
b. Diwujudkannya pengorganisasian PROKASIH yang efektif dan efisien;
c. Ditetapkannya Program Kerja Daerah PROKASIH 2005;
d. Disusun dan ditetapkannya panduan/pedoman kerja operasional;
e. Dicukupinya prasarana/sarana kerja minimal yang diperlukan untuk
mendukung kegiatan PROKASIH;
f. Dicukupinya anggaran minimal yang proporsional dengan masalah dan
kemampuan Daerah;
g. Meningkatnya kapasitas sumber daya manusia aparatur pelaksana
PROKASIH;
h. Diterbitkannya laporan dan publikasi secara baik dan berkala tentang
upaya pengendalian pencemaran air.
G. Ruang Lingkup
Ruang lingkup program kerja PROKASIH meliputi tiga dimensi lingkup
kerja, terdiri atas :
lingkup waktunya (berupa rentang waktu tahapan kerja);
lingkup kegiatannya (yang dikelompokkan dan dikemas sebagai paket-paket
kegiatan); dan
lingkup lokasi kerjanya (sesuai dengan kelompok sasaran dan paket
kegiatannya).
Uraian mengenai ketiga dimensi lingkup program kerja tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Lingkup Waktu : Rentang Waktu Tahapan Kerja
Lingkup rentang waktu tahapan kerja pelaksanaan PROKASIH dibagi menjadi
dua rentang waktu, yaitu

PUTU RUSDI ARIAWAN 53


a. Program Kerja Jangka Menengah Lima Tahunan, yaitu perioda Tahun
2000 – 2005.
b. Program Kerja Jangka Pendek Tahunan, yang dalam hal ini adalah
program kerja yang tercermin dalam APBD dan APBN.
2. Lingkup Lokasi
Struktur lokasi kegiatan PROKASIH adalah terdiri atas lokasi-lokasi kegiatan
dengan struktur sebagai berikut :
a. Daerah Pengaliran Sungai (DPS) PROKASIH;
b. Propinsi PROKASIH;
c. Ruas Zona Kerja DPS PROKASIH;
d. Kabupaten/Kota PROKASIH;
e. Lokasi Kerja PROKASIH.
3. Lingkup Kegiatan : Paket-paket Kegiatan
Sasaran PROKASIH 2005 dicapai dengan menyelenggarakan kegiatan yang
secara garis besar dapat dikelompokkan dan dikemas menjadi paket-paket
kegiatan. Beberapa kemungkinan Paket Kegiatan Alternatif akan diuraikan dalam
Bab IV.
Disebut alternatif karena paket tersebut merupakan pilihan, yang pemilihannya
dilakukan oleh tiap Pemerintah Daerah berdasarkan relevansinya dengan urgensi
masalah spesifik pada lokasi yang bersangkutan. Selain itu, Pemerintah Daerah
dapat menetapkan paket kegiatan lain yang tidak terdapat dalam pedoman ini.
Untuk itu perlu dilakukan identifikasi mengenai tipologi masalahnya pada tiap
ruas PROKASIH.

4.1 Efektivitas, strategi serta model keterpaduan yang tepat

Strategi yang kembangkan antara lain sebagai berikut.


1. Pengembangan “aliansi strategis” dengan individu, lembaga, dan kelompok
masyarakat, untuk meningkatkan komitmen masyarakat, bisnis, dan
pemerintah dalam pengendalian pencemaran air.
2. Peningkatan keberdayaan masyarakat dalam berperan dan berperan-serta
dalam pengendalian dampak lingkungan.

PUTU RUSDI ARIAWAN 54


3. Perluasan ruang lingkup PROKASIH 2005 sehingga mencakup ruas-ruas
hulu, tengah, dan hilir sungai, serta daerah tangkapan airnya, baik daerah
urban maupun daerah rural, kawasan budi-daya dan non budi-daya.
4. Perluasan ruang lingkup dilakukan dengan memperhatikan urgensi masalah
dan kapasitas kelembagaan daerah.
5. Penerapan empat kaidah kerja (yang disingkat dengan “SAFE”) sebagai
berikut :
a. Simplifikasi (Simplification)
b. Tanggung jawab (Accountability)
c. Fokus (Focus)
d. Penegakan (Enforcement)
6. Pentahapan pelaksanaan PROKASIH 2005 dimulai dengan tahap transisi, dari
program kerja sebelumnya ke arah program kerja 2005. Diperkirakan tahap
transisi tersebut memerlukan waktu sekitar dua tahun. Selama tahap transisi
ini, dilakukan kegiatan persiapan dan pengembangan sistem, seperti misalnya:
ketata-laksanaan, tatanan kelembagaan, sistim informasi, pendataan dan
penyediaan informasi.
7. Promosi PROKASIH 2005 secara “high profile” melalui media cetak dan
elektronik semaksimal mungkin.

PUTU RUSDI ARIAWAN 55


BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah diuraikan pada pembahasan dapat disimpulkan
hal-hal sebagai berikut :
1. Gambaran umum kondisi di sepanjang Tukad Badung meliputi antara lain :

2. Gambaran umum program Penanganan Terpadu


3. Efektivitas, strategi dan model keterpaduan

5.2. Saran-Saran
1. Upaya-upaya sporadis masyarakat bisa disikapi dengan upaya terprogram
Pemkot terhadap pembangunan keindahan Tukad Badung. Ini untuk
mendapatkan penataan yang lebih terencana dan terpadu. Upaya sporadis itu
juga menandakan formula terhadap penataan Tukad Badung belumlah
ditemukan secara tepat. Masih terbuka ruang bagi masyarakat ikut rembug
memikirkan format fisik penataan Tukad Badung.
2. Sosialisasi dan penerapa Perda tentang kebersihan perlu lebih digiatkan secara
kotinu, sehingga pembuangan limbah ke badan sungai Tukad Badung dapat
ditekan sekecil mungkin.
3. penanganan limbah organik, anorganik dan kimia di Tukad Badung
memerlukan strategi dan kajian yang intensif. Pengelolaan sampah sungai
yang efektif, efisien dan terkontrol.
4. perencanaan drainase dimatangkan
5. upaya meminimalisir keberadaan kawasan kumuh yang masih banyak terlihat
di bantaran sungai, meski letaknya jauh dari jalan protokoler kota. Terpenting
adalah menumbuhkan rasa memiliki warga pada sungai kota.
6. hasil yang ingin diperoleh dari masyarakat adalah kedisiplinan untuk tidak lagi
membuang sampah ke sungai
7. perlu dicarikan lokasi tepat untuk menaikkan sampah sungai agar tidak
meluber ke jalan dan menganggu keindahan kota.

PUTU RUSDI ARIAWAN 56


PUTU RUSDI ARIAWAN 57
DAFTAR PUSTAKA

http://www.suarapembaruan.com/mutiara/News/1997/03/040397/Peristiw/peri
s2/pe ris2.html Wayan Windia
Kompas Online IN/LH: KMP - Tercemar, 10 Sungai di Bali
apakabar@clark.net
http://www.balipost.co.id/index.php Tukad Badung Hasilkan Dua Truk
Sampah tiap Hari (044)
http://www.balipost.co.id/index.html Tukad Badung Bagian ''City Tour''
Kangkung Tenggelam dan Pusat MCK (dir)
http://www.balipost.co.id/index.html Penguasaan Sumber Air oleh Negara,
Seberapa Urgensinya? A. Agung Dalem, S.T., M.T.
http://www.lin.go.id/Info-RI_com-Portal Informasi dan Layanan Pemerintah
Republik Indonesia.html Sanitasi Lingkungan di Kota Denpasar
Pencemaran Air Terburuk di Bali (wil3/ch/bpol)
http://www.balipost.co.id/index.html Upaya Penataan Sungai Kota, Tukad
Badung sebagai Kasus jung iryana
Laporan dari PPLH Bali
Kliping....
Bappeda Bali

PUTU RUSDI ARIAWAN 58


BIODATA PENULIS

Nama : Putu Rusdi Ariawan

TTL : Denpasar. 19 April 1990

Agama : Hindu

Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana

Email : turusdi.info@gmail.com

www.facebook.com/turusdi

PUTU RUSDI ARIAWAN 59