Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KEBUDAYAAN ARAB DAN KEBUDAYAAN ISLAM

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah


Psikososiolinguitik

Dosen pembimbing:

PROF. DR. H.D. HIDAYAT, MA.

* * *
* * *
* * *
* * *
* * *
* * *
Di susun oleh :

SOLEHUDIN
NIM. 2.209.5.016

KONSENTRASI PENDIDIKAN BAHASA ARAB


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2010
KEBUDAYAAN ARAB
DAN
KEBUDAYAAN ISLAM

A. Pengertian Kebudayaan
Agar sama persepsinya dalam memahami tema diatas, maka sebelumnya Penulis
mengemukakan pengertian dari kebudayaan itu sendiri, yakni sebagaimana yang
disampaikan oleh E.B.Tylor (1871) yang dikutip oleh Soerjono Soekanto bahwa
kebudayaan itu adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,
kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta
kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat1.
Atau ada juga definisi yang sederhana sebagaimana disebutkan oleh Selo
Soemarjan yang dikutip oleh Dedi Supriyadi, M.Ag, bahwa kebudayaan itu adalah
semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat2.
Dari definisi-definisi diatas, Penulis dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan
adalah segala sesuatu yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat
tertentu yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat serta kebiasaan-kebiasaan lainnya.

B. Sifat Hakikat kebudayaan


Setiap masyarakat memiliki kebudayaan yang berbeda antara satu masyarakat
dengan yang lainnya. Tetapi semuanya memiliki sifat hakikat yang sama dan berlaku
umum, yakni:
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat prilaku manusia
2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi
tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan
3. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya

1
Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu pengantar, PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2007. Halaman
150
2
Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia. Bandung. 2008. halaman 17

1
4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban,
tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang
dan tindakan-tindakan yang diijinkan3.

C. Kebudayaan Arab
Bertolak dari definisi kebudayaan diatas, maka menurut Penulis bahwa yang
dimaksud dengan kebudayaan Arab adalah segala sesuatu yang didapatkan oleh
masyarakat arab yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan lainnya. Kebudayaan arab tersebut dapat
terlihat dalam tingkah laku masyarakat arab nya sehingga menjadi khas atau ciri yang
membedakan dengan masyarakat lainnya. Atau bisa juga dikatakan bahwa budaya
arab adalah potensi yang ada pada manusia yang akan mencipta dan membuat karya
serta merasa yang didominasi dengan nuansa arab. Salah satu cirinya yang khas
adalah penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar dan pergaulan sehari-hari.
Kawasan budaya Arab terdiri dari Timur Tengah dan Afrika Utara, yang
meliputi Turki, Iran, Israel, Lebanon, Irak, Yordania, Syiria, Mesir, dan kerajaan-
kerajaan yang ada dikawasan Teluk Persia. Juga meliputi Maroko, Al-Jazair, Tunisia,
dan Lybia.
Untuk lebih memahami kebudayaan arab, maka sebaiknya kita mengetahui
kondisi dari arab itu sendiri, baik kondisi wilayahnya maupun masyarakatnya sebelum
Islam datang.

1. Kondisi Wilayah Arab Pra Islam


Jazirah Arabia merupakan sambungan dari wilayah gurun yang membentang dari
barat Sahara di Afrika hingga timur melintasi Asia, Iran Tengah, dan Gurun Ghobi di
Cina. Wilayah itu sangat kering dan panas karena uap air laut yang ada disekitarnya
(laut Merah, Laut Hindia, dan laut Arab). Tidak memenuhi kebutuhan untuk
mendinginkan daratan luas yang berbatu, namun demikian wilayah ini kaya akan
bahan perminyakan4.

3
Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu pengantar, PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2007. Halaman
160
4
Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia. Bandung. 2008. Halaman 47

2
Para penulis klasik membagi negeri Arab menjadi 3 bagian; Arab felix, Arab
Petra, dan Arab Gurun, didasarkan atas pembagian wilayah itu ke dalam tiga kekuatan
politik pada abad pertama Masehi, yaitu kawasan yang bebas, kawasan yang tunduk
pada penguasa Romawi, dan kawasan yang secara nominal berada pada kendali
Persia. Arab Gurun meliputi gurun pasir Suriah-Mesopotamia (Badiyah). Wilayah
Arab Petra (gunung Batu) berpusar didaratan Sinai dan kerajaan Nabasia, dengan ibu
kota Petra. Wilayah Arab Felix mencakup bagian lainnya disemenanjung Arab, yang
kondisinya tidak banyak diketahui5.
Secara Geografis, bangsa Arab mayoritas menempati jazirah Arab dan juga
daerah-daerah sekitar jazirah. Jazirah Arab terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian
tengah dan bagian pasir. Disana, tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada
hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar jazirah Arab adalah
pasir Sahara yang memiliki sifat dan keadaan berbeda-beda, pasir Sahara tersebut
dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1) Sahara Langit, memanjang 140 mil dari utara ke selatan dan 180 mil dari timur ke
barat, disebut juga sahara nufud. Oase dan mata air sangat jarang, tiupan angin
seringkali menimbulkan kabut debu yang mengakibatkan daerah ini sulit
ditempuh
2) Sahara Selatan, yang membentang menyambung Sahara Langit ke arah timur
sampai selatan Persia. Hampir seluruhnya merupakan daratan keras, tandus, dan
pasir bergelombang. Daerah ini juga disebut Ar-Rub’ Al-khali (bagian yang sepi).
3) Sahara Harrat, suatu daerah yang terdiri dari tanah Hat yang berbatu hitam
bagaikan terbakar. Gugusan batu-batu itu menyebar di keluasan sahara ini,
seluruhnya mencapai 29 buah6.
Jazirah Arabia merupakan daerah daratan padang rumput yang gersang, yang di
sela-sela bebatuan yang luas berikut padang pasirnya. Letak wilayah ini di ujung barat
daya Asia, seblah Utara dibatasi oleh daratan Syam, sebelah timur oleh Teluk persia
dan laut Oman, sebelah selatan dibatasi oleh Samudera India, sedangkan sebelah
baratnya dibatasi oleh Laut Merah. Udaranya sangat panas-dibanding dengan wilayah
tropis- dan rumput-rumput yang tumbuh merupakan sisa-sisa resapan air saat musim
dingin dan musim hujan. Padang-padang rumput itu biasanya ditandai oleh oase

5
Ibid. halaman 48
6
Ibid. h. 49

3
(wadi, cekungan air) ketika bumi memberikan simpanan air dalam jumlah yang relatif
memadai, sekalipun terbatas dan terpencil-pencil. begitupun tanaman gandum dan
kurma-sebagai bahan pokok- bisa tumbuh mengikuti siklus alam yang terdapat air
disekitarnya dan hewan ternak yang mereka gembalakan7.

2. Kondisi Masyarakat Arab sebelum Islam


Silsilah keturunan Arab terbagi kedalam 3 bagian, yaitu:
1) Arab Ba’idah, yaitu kaum-kaum Arab terdahulu yang sejarahnya tidak bisa
dilacak secara rinci dan komplit, seperti ’Ad, Tsamud, Thasm, Judais, Amlaq, dan
lain-lainya.
2) Arab Aribah, yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya’rub bin
Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Arab Qahthaniyah.
3) Arab Musta’ribah, yaitu kaum-kaum arab yang berasal dari keturunan Isma’il,
yang disebut pula Arab Adnaniyah. Dari Arab Musta’ribah inilah cikal bakal dari
keturunan Nabi Ibrahim a.s, Ismail a.s dan akhirnya kepada Nabi Muhammad
Saw.
Penduduk Arab hidup nomaden, berpindah-pindah karena tanahnya terdiri atas
gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun hujan. Perpindahan mereka dari satu
tempat ke tempat lain mengikuti tumbuhnya stepa atau padang rumput yang tumbuh
secara sporadis di tanah Arab disekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan.
Padang rumput diperlukan oleh bangsa Arab yang disebut juga bangsa badawi,
badawah, atau badui untuk menggembalakan ternak berupa domba, unta, dan kuda
sebagai binatang unggulannya.
Adapun penduduk daerah pesisir-meskipun minoritas- mereka hidup menetap
dengan mata pencaharian bertani dan berniaga. Oleh karena itu mereka sempat
membina berbagai macam budaya, bahkan kerajaan.
Nurcholis Majdid sebagaimana di kutip oleh Prof. Jaih Mubarak, M.Ag
menggambarkan ciri-ciri utama tatanan masyarakat Arab Pra-Islam adalah sebagai
berikut: (a) mereka menganut faham kesukuan (qabilah), (b) mereka memiliki tata
sosial politik tertutup dengan partisipasi warga yang terbatas, faktor keturunan lebih
penting dibanding dengan faktor kemampuan, (c) kedudukan perempuan cenderung
direndahkan, hal ini dapat dilihat dari dua kasus: pertama, perempuan dapat
7
Drs. Ajid Thahir, M.Ag. op.cit. h.48-49

4
diwariskan, seperti seorang ibu tiri rela dijadikan seorang istri oleh anak tirinya ketika
suaminya meninggal; ibu tiri tidak mempuanyai hak pilih, baik untuk menerima atau
menolaknya; dan kedua, perempuan tidak memperoleh harta pusaka.
Dari segi tatanan manajemen masyarakat, Arab pra Islam ternyata telah memiliki
struktur organigram jabatan-jabatan dalam pemeliharaan Ka’bah seperti yang
dipegang oleh Qushayy Ibn Qilab pada pertengahan abad V M dalam rangka
pemeliharaan Ka’bah. Untuk lebih memudahkan gambaran jabatan-jabatan tersebut
bisa perhatikan gambar berikut:

No Nama Jabatan Keterangan


1 Hijabat Penjaga pintu Ka’bah atau juru kunci
2 Siqayat Petugas yang diharuskan menyediakan air tawar untuk tamu
yang berkunjung ke Ka’bah serta menyediakan minuman
keras yang di buat dari kurma
3 Rifadat Petugas yang diahruskan memberi makan kepada para
pengunjung Ka’bah
4 Nadwat Petugas yang memimpin rapat tahunan
5 Liwa’ Pemegang panji yang dipancangkan di tombak kemudian
ditancapkan di tanah sebagai lambang tentara yang sedang
menghadapi musuh
6 Qiyadat Pemimpin pasukan apabila hendak berperang

Selain struktur di atas ada juga struktur yang lain, yaitu: al-Siyar, Thjirul amwal,
al-Syura, al-ansyaq, al-’Iqab, al-Qubat, dan As-safarat (lihat Shafi al-Rahman al-
Mubarakfuri, ar-Rahiqul Makhtum, Beirut: 1988 h. 24-25)8.
Kondisi masyarakat Arab pra-Islam dari segi Aqidah adalah mereka percaya
kepada Allah sebagai pencipta sebagaimana ajaran tauhid yang di bawa oleh Nabi
Ibrahim a.s. diantara mereka masih ada yang berpegang kepada aqidah monotheisme,
mereka di sebut al-hunafa’. Tetapi sebagian besar telah melakukan penyimpangan-
penyimpangan dengan menjadikan berhala-berhala, pohon, binatang, dan jin sebagai
penyerta Allah. Pada umumnya mereka tidak percaya kepada adanya kiamat dan tidak
percaya juga kepada hari kebangkitan.

8
Prof.Dr.Jaih Mubarak, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Islamika. 2008. Halaman 44-45

5
Dalam bidang hukum, bangsa Arab ternyata menjadikan adat sebagai sumber
hukum dengan berbagai bentuknya. Misalnya dalam hukum perkawinan pada saat itu
dikenal dengan Istibla, poliandri, maqthu’, badal, dan shighar. Laki-laki juga boleh
berpoligami dengan jumlah tak terbatas. Dalam hal warisan, anak kecil dan
perempuan tidak mendapatkan bagian9.
Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Dr. Badri Yatim, M.A menjelaskan
bahwa peradaban pra Islam merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa
disekitarnya yang lebih awal maju dari pada kebudayaan dan peradaban Arab.
Pengaruh tersebut masuk ke jazirah Arab melalui beberapa jalur; yang terpenting di
antaranya adalah: (1) melalui hubungan perdagangan dengan bangsa lain, (2) melalui
kerajaan-kerajaan protektorat, Hirrah dan Ghassan, dan (3) masuknya misi Yahudi
dan Kristen.
Melalui jalur perdagangan, bangsa Arab berhubungan dengan bangsa-bangsa
Syria, Persia, Habsyi, Mesir (Qibthi), dan Romawi yang semuanya telah mendapat
pengaruh dari kebudayaan Hellenisme. Melalui kerajaan-kerajaan protektorat, banyak
berdiri koloni-koloni tawanan perang Romawi dan Persia di Ghassan dan Hirrah.
Penganut Yahudi juga banyak mendirikan koloni di jazirah Arab, yang terpenting di
antaranya adalah Yatsrib. Begitu juga Kristen yang masuk ke jazirah Arab adalah
aliran Nestorian di Hirrah dan aliran jacob-barady di Ghassan. Daerah kristen yang
terpenting adalah Najran, sebuah daerah yang subur. Kristen tersebut berhubungan
dengan Habasyah (Ethiopia), negara yang melindungi agama ini. Penganut aliran
Nestorianlah yang bertindak sebagai penghubung antara kebudayaan Yunani dan
kebudayaan Arab pada masa awal kebangkitan Islam10.
Dari uraian di atas ternyata kita dapat melihat meskipun kondisi sosial Arab saat
itu masih cenderung terbelakang, tetapi memiliki peradaban yang tinggi. Hal tersebut
karena masyarakat Arab telah dapat berinteraksi dengan negeri-negeri sekitarnya
sehingga dapat saling mempengaruhi.

D. Kebudayaan Islam
Jika dikatakan bahwa kebudayaan itu adalah hasil daya pemikiran dan
diaktualisasikan dalam prilaku manusia. Maka, Islam bukanlah kebudayaan. Karena

9
Ibid. halaman 46-47
10
Dr.Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 1998. h.15

6
Islam itu bukan produk manusia. Islam adalah wahyu dari Allah Swt yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung ajaran-ajaran dan
peraturan-peraturan untuk dijadikan panduan dalam kehidupan manusia agar bahagia
di dunia dan di akhirat.
Walaupun Islam bukan kebudayaan, tetapi Islam mendorong manusia untuk
berkebudayaan. Islam mendorong manusia untuk berfikir, berekonomi, bermuamalah,
berpendidikan, dan lain-lain. Dengan kata lain bahwa Islam bukan kebudayaan tetapi
mendorong, mendidik, dan melahirkan kebudayaan. Misalnya: Allah Swt
memerintahkan untuk mendirikan shalat. Tentu saja, perintah Allah Swt itu bukanlah
sebuah kebudayaan karena merupakan wahyu dari Allah Swt. Ketika kita hendak
mendirikan shalat, maka kita pun akan melihat apa yang telah dicontohkan Rasulullah
Saw. Ternyata Rasulullah mencontohkan shalat itu dengan berjamaah,
berbaris/bershaf rapi, rapat dan lurus. Shalat tersebut kita dirikan terus menerus.
Maka secara tidak langsung Islam mendidik kita untuk hidup berjamaah/bekerjasama,
tidak egois, hidup rapi, tertib dan lurus. Dan itu menjadi sebuah kebudayaan yang
diajarkan dalam Islam.
Atau contoh lain, ketika Allah Swt melarang kita untuk mendekati zina. Maka
kita akan berfikir bagaimana caranya, dan hal-hal apa saja yang termasuk kategori
zina itu. Selanjutnya kita pun akan mengaktualisasikannya dalam prilaku. Diantara
prilaku yang akan kita jauhi karena termasuk kategori zina adalah pergaulan
bebas/ikhtilath, tidak menjaga pandangan, membuka aurat, dan lain-lain. Maka dari
sana akan lahir sebuah budaya Islam, yakni menutup aurat, ghaddul bashar, menjaga
interaksi, dan lain-lain.
Dapat dikatakan secara sederhana bahwa budaya Islam adalah segala sesuatu
yang dipraktikkan oleh manusia baik kepercayaan (keimanan), ibadah, bersikap,
berkata, berinteraksi/bermuamalah, dan tingkah laku apa saja yang bersumber dari
Allah Swt (Al-Qur’an) dan Rasulullah SAW (Hadits/Sunnah). Hal ini dapat difahami
demikian karena Islam adalah apa yang telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya,
sedangkan segala sesuatu yang tidak diterangkan dalam Al-Qur’an dan Rasul-Nya
dalam perkara agama, maka hal itu bukanlah Islam, walaupun bisa saja perkara
tersebut telah menjadi kebiasaan dan populer dikalangan masyarakat Arab atau
masyarakat Islam lainnya. Allah Swt telah berfirman: “….Apa yang diberikan Rasul
kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka
7
tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras
hukuman-Nya” (Qs. Al-Hasyr; 59:7).
Atau dapat dikatakan juga bahwa kebudayaan Islam adalah sebagai aktualisasi
dari nilai-nilai Islam yang tertanam dalam hati seseorang atau masyarakat.
Kebudayaan itu disebut sebagai kebudayaan Islam apabila bertolak dari nilai-nilai
Islam. Singkatnya, kebudayaan Islam itu adalah sebuah kebudayaan yang menjadikan
nilai-nilai Islam sebagai pijakan dalam berbagai kegiatan dalam kurun waktu yang
relatif lama, sehingga menjadi tradisi atau kebiasaan.
Ciri khas kebudayaan Islam adalah berasaskan tauhid. Artinya mengesakan
Allah Swt. Segala ibadah dan perbuatannya dipersembahkan hanya kepada Allah Swt
saja tidak kepada yang lainnya. Selain itu, budaya Islam memiliki prinsip-prinsip
yang tegas, yakni dipagari dengan ketentuan Halal-Haram, dan selalu memperhatikan
Mashlahat-Mafsadat.

E. Antara Kebudayaan Arab dan Kebudayaan Islam


Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa budaya Arab adalah
budaya Islam, begitupun sebaliknya. Mungkin mereka beralasan bahwa Islam turun di
jazirah Arab, Al-Qur’an berbahasa Arab, dan Nabi Muhammad Saw adalah orang
Arab.
Pemahaman seperti ini jika dilihat secara sekilas nampaknya seperti benar
padahal sebetulnya salah besar bahkan bisa berakibat fatal. Mereka beranggapan
bahwa Arab adalah Islam. Contoh akibat yang fatal dari pemahaman tersebut
diantaranya ada sebuah kasus kekerasan berupa penyiksaan fisik yang dialami oleh
seorang TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang bekerja di Arab. Tubuh wanita tersebut
banyak luka akibat pukulan, pikirannya tidak ingat lagi dengan orang-orang sekitar
karena seringnya dibenturkan ke dinding oleh majikan, kulitnya melepuh, dan kakinya
pun lumpuh tidak bisa berjalan lagi. Dari kasus ini, maka kemudian sebagian orang
menganggap bahwa Islam adalah keras, radikal, dan tidak berprikemanusiaan. Mereka
beranggapan seperti itu sebab pelakunya adalah orang Arab, tinggal di Arab,
berbahasa Arab, memiliki janggut tebal, memakai baju gamis, dan bersorban
misalnya.
Atau contoh lain, ketika ada kertas yang bertuliskan Arab maka kemudian
menganggap bahwa itu adalah Al-Qur’an sehingga dianggap suci dan harus

8
dihormati, dan disimpan ditempat yang bersih dan tinggi padahal tidak mengetahui
bagaimana contentnya itu.
Walhasil, bahwa Arab tidak sama dengan Islam, sebaliknya Islam tidak sama
dengan Arab. Begitupun kebudayaan Arab tidak sama dengan kebudayaan Islam.
Kebudayaan Arab terbatas kepada hasil cipta, karya, dan rasa dari masyarakat Arab
dan diaktualisasikan oleh orang-orang Arab itu sendiri. Berbeda dengan kebudayaan
Islam sebagai kebudayaan yang merupakan aktualisasi dari nilai-nilai Islam dengan
bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak terbatas pada sebuah zona atau wilayah
tertentu dan tidak hanya berlaku untuk masyarakat tertentu saja karena Islam menjadi
rahmatan lil’alamin.

9
KESIMPULAN

Sebelum Islam datang, kondisi Arab berada dalam kegelapan dan kebodohan
(jahiliyah). Kehidupan mereka jauh dari ketauhidan karena sebagaian besar
masyarakat berada dalam kemusyrikan dengan menyembah berhala. Wanita ibarat
barang bahkan tidak ada harganya. Akhlaknya pun bejat dan rusak.
Islam datang di negeri tersebut dibawa oleh seorang rasul yang merupakan asli
orang Arab, Nabi Muhammad Saw. Dengan datangnya Islam, maka budaya-budaya
jahiliyah itu pun kemudian diluruskan atau dihapus. Masyarakat dibawa kepada
ketauhidan beribadah hanya kepada Allah Swt saja. Wanita memiliki kedudukan yang
sama dengan laki-laki. Dan akhlak mereka pun menjadi akhlak karimah.
Budaya Arab berbeda dengan Budaya Islam. Kebudayaan Arab adalah produk
manusia yang bersumber dari manusia juga, sedangkan kebudayaan Islam bersumber
dari nilai-nilai Islam berupa Al-Qur’an dan Al-Hadits. Kebudayaan Arab terbatas
wilayah dan berlaku untuk orang-orang Arab saja, sedangkan Islam dapat
diaktualisasikan tidak hanya oleh orang Arab saja tetapi untuk semua orang
dimanapun berada.
Hanya tentu saja, Arab menjadi terangkat dan memiliki kedudukan tersendiri
karena Islam turun di jazira Arabia, Al-Qur’an berbahasa Arab, dan Nabi Muhammad
Saw adalah asli orang Arab. Inilah salah satu impact positif yang diterima Arab
dengan kehadiran Islam.

10
DAFTAR PUSTAKA

Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia. Bandung.


2008

Dr. Basrowi M.S. Pengantar Sosiologi. Ghalia Indonesia. Bogor. 2005

Soerjono Soekanto. Sosiologi suatu pengantar. Rajagrafindo Persada. Jakarta.


2007

Ajid Thohir. Perkembangan Peradaban di kawasan dunia Islam. Rajawali


Pers. Jakarta. 2009

Drs. H. Abu Ahmadi. Sosiologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta. 2004

Dr. Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II.


Rajagrafindo Persada. Jakarta. 2008

Prof.Dr.Jaih Mubarak, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Islamika.


2008.

11