Anda di halaman 1dari 6

Penawaran Studi :

KONDISI INDUSTRI TEPUNG TERIGU NASIONAL


DI TENGAH SERBUAN PRODUK IMPOR, 2010
Juni, 2010

Praktik banting harga (dumping) dilakukan eksportir/produsen dari Turki, dengan


menjual tepung terigu di bawah harga gandum internasional. Padahal harga terigu di Turki
lebih mahal sekitar 19,7% - 21,9% dibanding harga di Indonesia. Menteri Perdagangan RI
sempat melayangkan surat kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat itu, No.
2017/M.DAG/12/2009 yang merekomendasikan pengenaan bea masuk anti dumping
(BMAD) kepada enam produsen tepung terigu Turki.

Selama investigasi, total produksi tepung terigu nasional turun 8,7%, penjualan turun
2,2%, kapasitas terpasang turun 1,4%, dan stok terigu naik 26,9%. Selain itu, keuntungan
pemohon petisioner PT Sriboga Ratu Raya, PT Eastern Pearl, dan PT Panganmas Inti
Persada mengalami penurunan. Sehingga menurut pengakuannya, return of invesment (ROI)
minus dan modal kerja terpangkas 39,1%.

Meski impor tepung terigu hanya sekitar 14,6% dari produksi nasional, namun cukup
berpengaruh terhadap konsumen dan pembentukan harga pasar. KADI menolak asumsi
Istambul Eksporters Association, penurunan pangsa pasar domestik disebabkan oleh adanya
investor baru. Sementara, keberatan atas BMAD ini tidak hanya dari pihak negara eksportir,
tetapi juga dari Asosiasi Perusahaan Industri Pangan Indonesia (Aspipin). BMAD tepung
terigu impor, menghambat industri makanan mendapatkan sumber bahan baku alternatif
yang kompetitif, yang pada gilirannya dapat mendorong terjadinya monopoli. Masalah
BMAD ini semakin meruncingkan dan menimbulkan pertentangan antara Aptindo dan
Aspipin.

Belakangan, KPPU meragukan hasil investigasi dan dikhawatirkan akan


menimbulkan monopoli (pasar tunggal) serta mengubah peta industri tepung terigu menjadi
by government design. Belum dituntaskannya masalah dumping oleh pendahulunya, Agus
Martowardojo selaku Menteri Keuangan baru harus bertindak bijak, adil, dan cekatan demi
kepentingan nasional.

Kehadiran produsen baru tepung terigu tampaknya cukup didukung Aspipin, karena
dapat mendorong pasar dalam negeri semakin kompetitif. Sementara, tingkat pemanfaatan
kapasitas (utilisasi) nasional yang mencapai 64,1% belum dapat memenuhi kebutuhan
tepung terigu nasional. Pada 2009, konsumsi tepung terigu nasional sebesar 4,6 juta ton dan
produksinya sebanyak 3,9 juta ton. Sementara, impor tepung terigu tercatat646,7 ribu ton
atau sekitar 14,2% dari total konsumsi. Diperkirakan, permintaan tepung terigu pada 2014
akan mencapai 5,7 juta ton atau tumbuh sekitar 7,4%.

Perubahan paradigma bisnis industri tepung terigu sejak deregulasi 1997, seperti
dalam hal kebebasan dalam pembelian gandum dan penjualan tepung terigu, persaingan
bebas antar sesama produsen domestik dengan tepung terigu impor semakin ketat. Namun
bisnis tepung terigu masih mengundang kontroversi kaitannya dengan dominasi Bogasari

1
yang menguasai pasar tepung terigu hingga 57%. Demikian juga dengan pemberlakuan
BMAD dikhawatirkan akan mendorong Bogasari melakukan praktek monopoli.

Pembahasan dalam studi ini meliputi perkembangan suplai bahan baku gandum,
kinerja industri tepung terigu terkait dengan pemberlakuan BMAD, baik bidang produksi,
ekspor maupun impor, serta industri pemakai tepung terigu, seperti industri mie instan,
biskuit, dan industri roti baik yang dikelola pabrikan skala besar maupun UKM. Studi ini
juga membahas suplai dan demand untuk pasar lokal maupun ekspor, serta upaya-upaya
yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta dalam mengembangkan industri
tepung terigu di masa mendatang. Studi ini juga dilengkapi profil perusahaan tepung
terigu, dan direktori perusahaan makanan dan minuman terkait dengan industri tepung
terigu. Selain itu laporan juga memuat berbagai kebijakan dan peraturan Pemerintah yang
terkait dengan industri maupun bisnis tepung terigu.

Kami berharap studi ini dapat bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para
pengambil keputusan di bidang industri tepung terigu, industri pemakai, serta institusi
lainnya yang terkait secara langsung maupun tak langsung seperti para pengambil
keputusan lembaga keuangan, perbankan, pemasok (supplier), dan sebagainya.

Laporan studi setebal 350 halaman ini, kami tawarkan dengan harga Rp5.500.000 per
copy untuk versi bahasa Indonesia dan US$800 untuk versi bahasa Inggris. Untuk
pemesanan buku studi ini dapat menghubungi PT Media Data Riset melalui telepon (021)
809 6071, 809 3140 atau melalui Fax (021) 8096071.

Demikian penawaran ini kami sampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Jakarta, Juni 2010


PT Media Data Riset

Drh H. Daddy Kusdriana, M.si


Presiden Direktur

2
DAFTAR ISI

KONDISI INDUSTRI TEPUNG TERIGU NASIONAL


DI TENGAH SERBUAN PRODUK IMPOR, 2010

Juni, 2010

1. PENDAHULUAN 3.3.3. Penelitian Budi Daya Tanaman


1.1. Latar Belakang Gandum
1.2. Cakupan dan tujuan studi 3.3.4. Uji coba di Jawa Tengah
1.3. Sumber data dan informasi 3.3.5. Pengganti gandum
3.4. Gandum Dunia
2. PENDUDUK DAN GAMBARAN 3.4.1. Produksi naik 1,9% per tahun
UMUM EKONOMI INDONESIA 3.4.2. Produsen Gandum Dunia
2.1. Populasi Penduduk Indonesia 3.5. Impor meningkat 1,1% per tahun
2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk 3.5.1. Australia pemasok terbesar
secara nasional 3.5.2. Pasokan gandum dari Amerika
2.1.2. Pertumbuhan penduduk Menurun
berdasarkan provinsi 3.5.3. Importir gandum dunia
2.1.3. Komposisi Penduduk 3.5.4. Tidak berpengaruh
menurut Kelompok Umur 3.6. Ekspor anjlok
2.1.4. Proyeksi Pertumbuhan 3.6.1. Hanya dua Negara
Penduduk Indonesia 3.6.2. Negara Eksportir Gandum
2.2. Gambaran Umum Ekonomi Dunia
Indonesia 3.7. Harga ekspor gandum dunia
2.2.1. Pertumbuhan ekonomi 2009
lampaui target Arah Kebijakan 4. INDUSTRI TEPUNG TERIGU
Kenaikan TDL 15% Lebih 4.1. Deskripsi Produk
2.2.2. Pendapatan Per Kapita 4.2. Jenis tepung terigu
Indonesia 4.2.1. Kandungan Protein
2.2.3. Kurs Rupiah 4.3. Proses pembuatan tepung terigu
2.2.4. Cadangan Devisa Terus 4.4. Kapasitas produksi naik 5,4%
meningkat 4.4.1 Kapasitas menurut produsen
2.2.5. Neraca Transaksi Berjalan 4.5. Siap bersaing
2.3. Laju Ekonomi 2010 Diproyeksi 5.5% 4.5.1. Pemain kecil tertekan
2.3.1. APBN 2010 Terpengaruh 4.6. Produsen dan fasilitasnya
2.3.2. Bertambah Rp21,9 triliun 4.6.1. Eastern Pearl Flour Mills
2.3.3. Berpeluang direvisi 4.6.2. ISM Bogasari FM
4.6.3. PT Sriboga Raturaya
3. BAHAN BAKU 4.6.4. PT Asia Raya
3.1. Sejarah 4.6.5. PT Fugui Flour & Grain
3.2. Jenis gandum Indonesia
3.2.1. Klasifikasi 4.6.6. PT Kwala Intan New Grain
3.2.2. Morfologi biji 4.7. Terbesar di dunia
3.2.3. Bran 4.8. Produksi
3.2.4. Endosperma 4.8.1. Produksi naik 4% per tahun
3.2.5. Lembaga 4.8.2. Produksi Menurut Perusahaan
3.3. Penelitian dan pengembangan 4.8.3. Pemanfaatan kapasitas baru
3.3.1. Latar Belakang sekitar 64,1%
3.3.2. Panen Perdana Gandum 4.9. Merek dan kegunaan
Bersertifikat

3
4.9.1. Tepung terigu lokal 6.1.1. Penjualan rata-rata turun 1,3%
4.9.2. Merek impor per tahun
4.10. Kinerja Indofood 6.1.2. Penjualan Menurut Produsen
4.10.1. Bogasari luncurkan kemasan 6.1.3. Luncurkan tepung terigu
baru ekonomis
4.10.2. Pola kemitraan Bogasari 6.1.4. Indofood tidak rugi
4.10.3. Transaksi pembelian tepung 6.2. Kendala dalam penjualan
terigu Bogasari 6.2.1. Pelanggaran Label
4.11. Turki garap pasar domestik 6.2.2. Pelanggaran SNI Wajib
4.12. Industri tepung terigu tidak masuk 6.2.3. SNI Terigu wajib diterapkan
DNI 6.2.4. Pemantau perlu ditambah
4.13. Memahami karakteristik UKM 6.2. 5. Pemerintah batal tanggung PPN
4.14. Kondisi industri tepung terigu pasca terigu
deregulasi 1997
4.14.1. Kebebasan dalam pembelian 7. KONSUMSITEPUNG TERIGU
gandum dan penjualan tepung 7.1. Konsumsi nasional mencapai 4,6 juta
terigu ton
4.14.2. Persaingan bebas 7.2. Konsumsi per kapita 19,7 kg/tahun
4.14.3. Inovasi dalam pengembangan 7.3. Konsumsi menurut kelompok
produk, merek dan promosi pemakai
4.14.4. Perubahan dan peningkatan 7.3.1. UKM serap sekitar 58,3%
kebutuhan tenaga kerja 7.3.2. Industri mie instan serap 1,2
4.14.5. Kontribusi tanggung jawab juta ton
sosial 8. DISTRIBUSI DAN HARGA TEPUNG
4.15. Produsen tepung terigu Asean TERIGU
5. EKSPOR IMPOR TEPUNG TERIGU 8.1. Distribusi
5.1. Perkembangan ekspor 8.1.1. Distribusi Tepung Terigu Lokal
5.1.1. Ekspor terus merosot 8.1.2. Distribusi terigu impor
5.1.2. Tarif BM di negara ekspor 8.2. Harga
tinggi 8.2.1. Harga menurut Wilayah
5.1.3. Korea Selatan tujuan utama 8.2.2. Tepung terigu Indonesia
5.1.4. Bogasari tingkatkan ekspor termurah di Asia
5.2. Perkembangan impor 8.3. Indofood Group Mengembangkan
5.2.1. Impor meningkat Sistem “Stock Points”
5.2.2. Terigu Turki banjiri pasar 9. PERATURAN PEMERINTAH
domestik 9.1. Impor wajib daftar di Kementerian
5.3. Pro Kontra BMAD Kesehatan
5.3.1. Dukung pengenaan BMAD 9.2. SNI Wajib Tepung Terigu
5.3.2. Sesuai peraturan WTO 9.3. Label Pangan
5.3.4. Desak terapkan BMAD terigu 9.4. Bahan Tambahan Makanan
Turki 9.5. Fortifikasi Tepung Terigu
5.4. Belum diputus 9.6. Pencantuman Kode ML dan MD
5.4.2. Memihak Bogasari 9.7. Impor tepung terigu dibebaskan
5.5. BMAD Uni Emirat Arab 9.8. Industri tepung terbuka bagi investor
5.6. Belum maksimal
5.7. Akan relokasi
5.8. Perang dagang dengan Turki 10. INDUSTRI PEMAKAI TEPUNG
6. PENJUALAN DAN HARGA TERIGU
6.1. Trend penjualan tepung terigu 10.1. Industri besar dan modern
nasional 10.1.1. Industri mie instan

4
10.1.2. Perusahaan besar 10.3.7. Perkembangan impor
10.1.3. Indofood Mengakuisisi 10.3.8. Konsumsi
Medan Pulungan Sdn. Bhd. 10.4. Industri Mie Kering
10.1.4. Merek Dagang dan Jenis Mie 10.4.1. Produsen Mie Kering
Instan 10.4.2. Produksi
10.1.5. Produksi Meningkat 4,9% 10.4.3. Kebutuhan Tepung Terigu
Per Tahun 10.5. Industri Mie Basah
10.1.6. Produksi menurut 10.5.1. Produsen
Perusahaan 10.5.2. Produksi
10.1.7. Konsumsi Tepung Terigu 10.5.3. Kebutuhan Tepung Terigu
10.1.8. Ekspor Mie Instan 10.6. Usaha Kecil Menengah (UKM)
10.1.9. Perkembangan impor 10.6.1. Produk Mie
10.1.10.Konsumsi 17,1 miliar 10.6.2. Produk Biskuit & snack
bungkus 10.6.3. Roti
10.1.11. Sistem distribusi dan harga
mie instan 11. PROYEKSI SUPLAI & DEMAND
10.1.12. Produk Mie Instan Semakin TEPUNG TERIGU
Semarak 11.1. Pada 2014 permintaan terigu nasional
10.2. Industri Biskuit & Snack capai 5,8 juta ton
10.2.1. Biskuit 11.2. Produksi capai 5,5 juta ton pada 2014
10.2.2. Merek, Komposisi Bahan, 11.3. Kekurangan pasok tepung terigu
dan Kandungan Gizi dapat diatasi
10.2.3. Proses Pembuatan 12. PROSPEK DAN KESIMPULAN
10.2.4. Produsen dan Kapasitasnya 12.1. Prospek
10.2.5. Produksi 12.2. Kesimpulan
10.2.6. Konsumsi Terigu oleh
Industri Biskuit & Snack 13. PROFIL PERUSAHAAN TEPUNG
10.2.7. Ekspor Biskuit & Snack TERIGU NASIONAL
10.2.8. Impor Biskuit & Snack 13.1. PT ISM Bogasari Flour Mills
10.2.9. Distribusi dan harga 13.2. PT Eastern Pearl Flour Mills
10.3. Industri Roti 13.3. PT Sriboga Raturaya
10.3.1. Deskripsi Produk 13.4. PT Panganmas Inti Persada
10.3.2. Produsen dan Kapasitas
10.3.3. Sari Roti go publik DIREKTORI :
10.3.4. Produksi Perusahaan Tepung Terigu
10.3.5. Konsumsi tepung terigu Perusahaan Pemakai
10.3.6. Perkembangan ekspor

****

FORMULIR PESANAN

5
PT MEDIA DATA RISET
Jl. SMA XIV , No. 12 A
Cawang–UKI, Jakarta 13630 WS
Phone : (021) 809 6071, 809 3140
Fax : (021) 809 6071
Studi Tentang:
KONDISI INDUSTRI TEPUNG TERIGU NASIONAL
DI TENGAH SERBUAN PRODUK IMPOR, 2010
Juni, 2010
Silahkan Pilih ( √ ) untuk pesanan :

Edisi Bahasa Indonesia Bahasa Inggris


Nama (Mr/Mrs/Ms)
Position
Nama Perusahaan
NPWP No.

Alamat

Telepon Fax :

Tanda Tangan

Tanggal

Harga :
Edisi Bhs. Indonesia - Rp 5.500.000 (Lima juta lima ratus ribu rupiah)
Edisi Bhs.Inggris - US$ 800 (Delapan ratus US Dollar)
Catatan: Harga belum termasuk pajak (10% PPn)
Di luar Jakarta dan luar negeri; ditambah biaya pengiriman (Jasa Kurir)
Pembayaran, Silahkan beri tanda ( √ )

Cash

Cheque

Transfer to - PT MEDIA DATA RISET


AC NO. 070 000 534 0497
BANK MANDIRI CAB. DEWI SARTIKA
JAKARTA