Anda di halaman 1dari 18

c  

 

 

c
 



Novi Christiastuti Adiputri 


  - Proses penangkapan dan penahanan mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno
Duadji dinilai tak sesuai hukum. Kuasa hukum Susno, Henry Yosodingrat mengatakan,
penangkapan Susno dilakukan tanpa adanya cukup bukti dan tidak demi kepentingan
penyidikan.

"Pengekangan terhadap kebebasan pemohon (Susno Duadji) dilakukan tidak berdasar


bukti cukup dan bukan untuk kepentingan penyidikan," ujar Henry, saat membacakan
materi gugatan praperadilan di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin
(24/5/2010).

Dikatakan Henry, penangkapan terhadap seseorang hanya bisa dilakukan jika terdapat
bukti yang cukup bagi berjalannya proses peradilan sesuai dengan Undang-undang yang
berlaku.

Namun, tidak demikian halnya dengan proses penangkapan Susno yang justru dilakukan
dengan peliputan dan penyiaran secara langsung di televisi secara nasional. Hal ini, kata
Henry, justru mempermalukan Susno.

"Penangkapan bukan untuk kepentingan penyidikan, namun untuk menyengsarakan dan


mempermalukan pemohon," tegas dia.

Henry juga mengatakan, berdasarkan peraturan Kementerian Kehakiman tahun 1982,


disebutkan bahwa penyidikan harus segera dilakukan segera setelah penangkapan terjadi.
Tapi hal berbeda terjadi pada kliennya.

"Faktanya, pemohon baru diperiksa pada besoknya, tanggal 11 Mei 2010," tutupnya.

Sidang perdana gugatan praperadilan Susno Duadji digelar di ruang sidang utama PN
Jaksel dengan dipimpin Ketua Majelis Hakim Haswandi sebagai hakim tunggal. Susno
dan kuasa hukumnya menggugat penyidik Polri terkait penangkapan dan penahanan
dirinya yang dianggap tak sesuai prosedur hukum. 
Penangkapan Susno Sesuai Prosedur
c    - detikNews

  - Mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji yang membongkar kasus
makelar kasus (markus) di Mabes Polri ditangkap saat akan pergi ke Singapura. c  

 
  
 
. Bila Anda setuju penangkapan
Susno sesuai prosedur, pilih c !  ! !

Pro :
114
16%

Kontra :
598
84%

Pro Kontra terkini (712 Pro Kontra)


KONTRA, ya allah tunjukkanlah kebenaran serta sadarkanlah kami dari
kewewenangan,kesalahan,keperka saan,kekuasaan........dan sesungguhnya semua itu
hanya engkaulah yang memilikinya,amin
KONTRA, jamannya sby tdk ada yg sesuai prosedur, semuanya berdasarkan
kepentingan, kedekatan para penguasa, jangan percaya pada pen guasa2 negeri ini. negeri
para bedebah...saya pun mengalami hal yg sama di kantor saya padahal kepalnya berasal
dari pks yg katanya bersih dan pedulu tapi yg di beri kekuasaan kerabatnya semua...

KONTRA  , dunia akhirat saya tidak setuju, prosedur yg dibuat kan, mereka
sendiri yg membuatnya. go to hell aja lah. kasian nama hukum dibawa2. polisi lain takut
tuh ketahuan korupnya, polisi ingih menjajah bangsanya sendiri
KONTRA , benar sekali sesuai prosedur karna yang dimaksud polri adalah prosedur
hukum rimba.
KONTRA , bentuk ketakutan yang teramat sangat dari polri
KONTRA, seorang jendral bintang 3 ja, dibungkam......gimana ya kalo orang kecil
yang ngungkapin kebobrokan instutusi kepolisian, sudah jelas ga bakal digubris. kalo
mau kembalikan nama baik institusi ini, mari kita dukung semangat pak sd, biarkan bliau
membongkar markus-markus yang ada, terlepas dari pak sd bersalah atu tidak. sepertinya,
petinggi2 di kepolisian sudah ketar-ketir, jadi dicari-cari kesalahan pak sd. kami sebagai
rakyat biasa, mendoakan pak sd agar selalu sehat dan jangan pernah patah semangat,
karena tuhan selalu sejalan dengan orang yang benar.
KONTRA"!
!, mabes polri kebakaran jenggot
c
 #
"$
c   
Headline News / Hukum & Kriminal / Senin, 10 Mei 2010 21:10 WIB

$  % & Penangkapan mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji


oleh Tim Independen Polri menuai pro dan kontra. Komisi Kepolisian Nasional
(Kompolnas) menilai penangkapan itu sebagai tahapan yang harus dilalui dalam
pengungkapan makelar kasus di polisi. Sementara anggota Komisi III DPR, Sarifuddin
Sudding menegaskan, sebagai whistleblower, Susno, seharusnya mendapat perlakuan
khusus.

Dalam dialog program "Suara Anda" di '  Adnan Pandu Praja dari Kompolnas
berkeyakinan bahwa Tim Independen memiliki bukti kuat sehingga mengeluarkan surat
penangkapan terhadap Susno. Pastinya tim penyidik memupunyai alasan untuk
melakukan upaya paksa atau penangkapan.

Sementara Sarifuddin Sudding menyayangkan langkah yang diambil jajaran Mabes Polri
yang menangkap Susno. Anggota Komisi III DPR dari Partai Hanura ini justru berharap
asa perlakuan khusus kepada Susno.

"Tidak mungkin kita mengungkap ada mafia-mafia kasus yang ada di kepolisian, kalau
bukan Pak Susno yang meniup ini," kata Sarifuddin. Menurut dia, bangsa ini justru
membutuhkan orang-orang yang berani, seperti Susno.(DSY)

#'()*'+)(,-.

/$'(+,01.

=V Demofs, Denpasar - Bali, Selasa, 11-Mei-2010

Drama apa yang sedang dilakon lagi oleh pemerintah. Anda digaji oleh rakyat
untuk menegakkan hukum & keadilan...bukan untuk berbagi kekuasaan dan
menjadi markus. Apapun latar belakang Pak Susno, entah dia terlibat atau tidak
dalam drama markus ini...tapi saya bangga kepada pak susno untuk bersifat
kesatria mengungkapkan kebenaran. entah bapak salah atau benar saya nggak
tau...tapi sejuta jempol saya acungkan untuk sikap kesatria bapak.....

=V Yurnalis Dasan, Selasa, 11-Mei-2010


Heran ya, orang2 seperti pak Susuno dan Antasari kok dikebiri...!

=V Yurnalis Dasan, Selasa, 11-Mei-2010

Ayo rakyat kecil mari ramaei2 kita turun kejalan, mendesak pemerintah untuk
membebaskan pak Susno.

=V Arek Suroboyo, Selasa, 11-Mei-2010

Mbuh ra weruh... Mana janjimu SBY, yg katamu mau jadi penglima berdiri di
depan untuk pemberantasan korupsi... Mbok ya kayak gini jangan diam saja,
kasihan dong rakyat. Udah hidup serba sulit, disuguhi drama dakocan kayak gini.
Pak Presiden, gak usah semua tindakan Bpk cerminkan kebersihan hati, cukup
satu saja, misalnya kasus 'SUSNO' dibereskan sesuai hati nurani rakyat, pasti
sampeyan akan dikenang sebagai Presiden yng HEBAT yang pernah memerintah
INDONESIA !!!!

=V Mr.Wong, Selasa, 11-Mei-2010

Saatnya NASIONAL DEMOKRAT Unjuk GIGI SELAMATKAN INDONESIA


dari MAFIA dan KORUPTOR
  
      

 
Selasa, 13 April 2010 00:02 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | Dibaca 1928 kali

Anggota komisi III DRPRI Gayus Lumbuun (ANTARA)


Jakarta (ANTARA News) - Anggota Komisi III DPR dari FPDIP Gayus Lumbuun
menilai tindakan penangkapan terhadap mantan Kepala Badan Reserse Kriminal
(Kabareskrim) Mabes Polri, Komjen Pol Susno Duadji membingungkan publik, terutama
kalangan penegak hukum.

"Karena jika mengacu kepada berbagai pernyataan pihak Mabes Polri selama ini, pak
Susno itu kan hanya menghadapi masalah etika (pelanggaran kode etik). Bukan suatu
pelanggaran pidana. Kok ada penangkapan. Ini membingungkan," ujarnya kepada
ANTARA di Jakarta, Senin malam.

Karena itu, menurut Gayus Lumbuun, penangkapan itu melanggar azas kepatutan.

"Justru yang menangkap itulah yang melanggar etika," kata Gayus Lumbuun yang juga
pimpinan Badan Kehormatan (BK) DPR RI ini.

Panik

Sementara itu, secara terpisah Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB), Adhi
Masardhi berpendapat penangkapan Komjen Pol Susno Duadji menunjukkan kepanikan
pihak Mabes Polri dan sekaligus mencerminkan sikap Kepolisian sebagai penguasa
bukan pengayom.

Adhi Masardhi juga mengatakan sejak Susno "bernyanyi" soal mafia kasus pajak yang
diduga melibatkan beberapa petinggi Polri membuat para petinggi Polri "kalang kabut".

Namun yang mengejutkan, menurut Adhi Masardhi, justru keberanian Mabes Polri
menangkap Susno Duadji, karena kejadian ini mengindikasikan perlunya segera
reformasi di tubuh Polri.

"Untuk itu GIB juga mendesak DPR RI segera mengoreksi UU tentang Polri," katanya.

Pisahkan Jasanya

Sebaliknya, Ketua Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Djoko Suyanto


mengatakan, seorang perwira Polri yang diduga melakukan tindakan indisipliner harus
diberi sanksi sesuai aturan berlaku.

"Ini masalah disiplin. Polri kan institusi yang memiliki aturan yang harus dipatuhi oleh
seluruh jajarannya, termasuk perwiranya sejak masuk akademi," katanya.

Karena itu, menurutnya, meski Komjen Pol Susno Duadji ini memberikan informasi
tentang pengungkapan kasus pajak atau makelar kasus yang diduga melibatkan para
penyidik Polri bukan berarti dirinya dapat pergi kemana pun tanpa seizin pimpinan Polri.

"Apalagi ini perginya ke luar negeri. Ini masalah disiplin. Jadi, tolong dipisahkan antara
`jasa` beliau menguak makelar kasus di Mabes Polri dengan tindakan indisiplinernya,"
katanya.

Komjen Pol Susno Duadji ditangkap di Bandara Soekarno Hatta pada Senin (12/4) sore
saat akan bertolak ke Singapura untuk memeriksakan kondisi kesehatan.

Mabes Polri merasa berkepentingan dengan mencegah mantan Kabareskrim Komjen


Susno Duadji pergi ke Singapura,

Susno diduga melanggar kode etik dan disiplin Polri dengan meninggalkan Indonesia
untuk berobat ke Singapura tanpa seizin pimpinan Polri. (M036/K004)
=V   c
 

Oleh : Johni Asadoma

"Bahkan mungkin akan timbul kecurigaan bahwa kejadian tersebut merupakan rekayasa yang
dilakukan oleh Polri. Polri akan disalahkan karena mengetahui
anggotanya akan melakukan pelanggaran, tapi tidak berusaha untuk mencegahnya.
Bagaimanapun juga, keamanan dan keselamatan Susno merupakan tanggung jawab Polri.

Penangkapan Susno Duadji oleh petugas Provost Mabes Polri, tanggal 12 April 2010 sekitar pukul
16.30 di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, menimbulkan kehebohan baru dalam hubungan Mabes
Polri ± Susno yang saat ini tengah menjadi sorotan publik. Kejadian ini menimbulkan pro dan kontra
dalam masyarakat, dengan adanya komentar-komentar dari berbagai pihak, baik dari kalangan Komisi
III DPR yang membidangi hukum dan keamanan, dari praktisi hukum maupun dari masyarakat luas
melalui jejaring facebook. Ada mengecam penangkapan terhadap Susno, tapi ada pula yang
mendukung. Baik yang mendukung maupun yang mengecam, masing-masing mempunyai
argumentasinya untuk mendukung pernyataan sikapnya.
Dari perspektif pihak-pihak yang menentang penangkapan Susno, penangkapan yang dilakukan
petugas Provost Mabes Polri terhadap Susno dianggap melanggar hukum, karena pihak ini
berpedoman pada KUHAP Pasal 17 yang bunyinya, ³perintah penangkapan dilakukan terhadap
seseorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup´.
Penangkapan pun dilakukan tanpa surat perintah. Menurut mereka, bukankah Mabes Polri sendiri
dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa Susno hanya melanggar Kode Etik Profesi Polri.
Karena itu, penangkapan yang dilakukan terhadap Susno tidak sah bahkan melanggar asas kepatutan.
Susno adalah seorang berpangkat jenderal bintang tiga, tapi diperlakukan tidak sopan. Bagaimana
jadinya dengan perlakuan terhadap masyarakat biasa?
Sedangkan dari pihak yang mendukung penangkapan Susno beralasan bahwa penangkapan Susno
adalah urusan internal Polri, untuk menegakkan peraturan organisasi. Polri mempunyai peraturan
berupa Kode Etik dan Peraturan Disiplin yang harus dipatuhi oleh seluruh anggotanya. Dan harus
ditegakkan apabila ada pelanggaran terhadap anggotanya, tanpa membedakan pangkat dan jabatan,
demi keutuhan dan kehormatan organisasi.
Salah satu yang menjadi sorotan publik adalah cara penangkapan yang dianggap tidak patut, tidak etis,
arogan, dan masih menggunakan cara-cara Orde Baru. Sebenarnya yang terjadi adalah dinamika di
lapangan yang sulit dihindari. Hal ini terjadi karena reaksi Susno yang pada awalnya menolak untuk
membatalkan keberangkatannya ke Singapura. Apabila saat itu, Susno mengikuti apa yang diminta
oleh petugas Provost, tentu dorong-mendorong tidak akan terjadi.
Sebagai bawahan, petugas Provost masih punya rasa respek terhadap Susno sebagai senior maupun
pejabat tinggi Mabes Polri. Sedangkan masalah pendampingan oleh pengacara yang dituntut oleh
pengacara Susno, tidak dikenal dalam proses penyelesaian pelanggaran Peraturan Disiplin dan Kode
Etik Profesi Polri, karena pendampingan terhadap terperiksa disiapkan oleh Divisi Pembinaan Hukum
Mabes Polri.
Pelanggaran disiplin dan kode etik bukan ranah pidana, yang harus didampingi penasehat hukum.
Lalu apa sebenarnya yang menjadi alasan Polri melakukan tindakan penangkapan terhadap Susno?
Dalam perspektif Polri, Susno adalah anggota Polri aktif yang harus tunduk terhadap peraturan-
peraturan yang berlaku, baik yang berhubungan dengan tugas kedinasan maupun yang berlaku secara
umum ( Pasal 3g, Peraturan Pemerintah No.2 tahun 2003, tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri).
Susno telah melanggar Pasal 6b, ³meninggalkan wilayah tugas tanpa ijin pimpinan´. Alasan sakit
sehingga dapat berobat ke luar negeri tanpa harus mendapatkan ijin Kapolri, merupakan tindakan
pelanggaran hukum yang tidak mempunyai alasan pemaaf apapun. Karena, keberangkatan ke
Singapura itu sudah direncanakan sebelumnya, sehingga ada kesempatan untuk meminta ijin kepada
Kapolri. Kondisi kesehatan Susno tidak dalam keadaan darurat (emergency).
Dengan alasan sakit, maka pimpinan Polri pasti akan memberikan ijin berobat kemanapun, seperti
yang sudah terjadi selama ini. Pimpinan Polri tidak pernah menghalangi anggotanya yang ijin keluar
negeri untuk berobat karena sakit. Pasal-pasal lain dalam PP No 2 tahun 2003, yang dapat
dikategorikan dilanggar oleh Susno dalam kasus ini adalah Pasal 3c, Pasal 4c, d, e, f, i, l, m, o, Pasal
5a, Pasal 6b, c, l dan r.
Dalam Keputusan Kapolri No 32 Tahun 2003, tanggal 1 Juli 2003, tentang Kode Etik Profesi Polri,
Pasal 9 ayat (1), ³Setiap anggota Polri memegang teguh garis komando, mematuhi jenjang
kewenangan, dan bertindak disiplin berdasarkan aturan dan tata cara yang berlaku´. Apa yang
dilakukan Susno, jelas-jelas bertentangan dengan aturan kedinasan yang berlaku bagi anggota Polri
dan melakukan tindakan indisipliner sebagai seorang anggota Polri.
Pasal lain dalam Kode Etik Profesi Polri yang dapat dikategorikan dilanggar oleh Susno dalam kasus
ini adalah Pasal 10 ayat (1), Pasal 12 (c) dan (g). Oleh karena itu, Provost sebagai satuan yang
bertugas untuk menjaga, memelihara dan menegakkan disiplin anggota Polri harus bertindak untuk
mencegah, jangan sampai terjadi pelanggaran disiplin oleh anggotanya.

Peraturan Hukum
Tindakan penegakan peraturan hukum dalam sistem Manajemen Operasi Polri, dilaksanakan dalam
tiga tahap. Pertama, tahap pre-emtif, yaitu tahap dimana petugas Polri melakukan sosialisasi,
bimbingan, penyuluhan, dan himbauan agar masyarakat menaati peraturan yang berlaku. Kedua, tahap
preventif, yaitu tahap dimana petugas melakukan tindakan-tindakan untuk menghilangkan bertemunya
niat dan kesempatan. Tindakan ini adalah untuk mencegah masyarakat melakukan pelanggaran
terhadap aturan yang berlaku, dengan melakukan patroli, penjagaan, pengamanan dan tindakan
pencegahan lainnya. Ketiga, tahap represif atau penegakan hukum, yaitu tindakan secara tegas dengan
memeroses setiap pelanggaran hukum yang terjadi, sesuai peraturan yang berlaku.
Pada konteks Susno, sebenarnya tindakan yang dilakukan petugas Provost Polri adalah tindakan
mencegah agar yang bersangkutan tidak melakukan pelanggaran disiplin. Ini merupakan kewajiban
dari institusi, mengingat yang bersangkutan adalah anggota Polri aktif dengan pangkat Komisaris
Jenderal (bintang tiga). Polri masih mempunyai tanggung jawab terhadap Susno.
Apabila terjadi ³sesuatu´ terhadap Susno, apalagi jika hal tersebut terjadi di luar negeri, maka yang
pertama kali akan dimintai pertanggung jawaban adalah Polri. Mengapa Polri tidak memonitor dan
menjaga anggotanya yang saat ini merupakan VIP, karena memegang sejumlah kunci bagi
pengungkapan kasus-kasus korupsi di republik ini?
Bahkan mungkin akan timbul kecurigaan bahwa kejadian tersebut merupakan rekayasa yang
dilakukan oleh Polri. Polri akan disalahkan karena mengetahui anggotanya akan melakukan
pelanggaran, tapi tidak berusaha untuk mencegahnya. Bagaimanapun juga, keamanan dan keselamatan
Susno merupakan tanggung jawab Polri.
Sebagai seorang jenderal bintang tiga, Susno tahu semua peraturan yang berlaku bagi anggota Polri.
Baik Peraturan Pemerintah (PP) No 1 tentang Pemberhentian Anggota Polri, PP No 2 tentang
Peraturan Disiplin Anggota Polri dan PP No 3 tentang Pelaksanaan Teknis Institusional Peradilan
Umum bagi Anggota Polri, yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang No 2 Tahun
2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, maupun Keputusan Kapolri No 32 tahun 2003
tentang Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Apalagi Susno pernah menjadi
Kapolda Jawa Barat, di mana pada saat tersebut ada beberapa anggotanya yang diberikan sanksi
karena melanggar peraturan-peraturan tersebut di atas.
Dengan demikian, pelanggaran yang dilakukan oleh Susno dengan tidak meminta ijin untuk bepergian
keluar negeri, merupakan tindakan kesengajaan dengan motivasi yang hanya bisa dijawab oleh Susno.

Penulis adalah Pamen pada Bareskrim Polri.


Tulisan ini bersifat pribadi

      
  
Tagged with: Bandara Soekarno Hatta Cara Cara Dapat Hanya Hukum Jakarta
Selatan Kata Kebebasan Kehakiman Kompas Lanjut Mantan Namun Peny
iaran Polri Quot Reserse Kriminal Senin Singapura Undang Undang

( (+(& /$c( %  Tim kuasa hukum mantan Kepala Badan Reserse Kriminal
Polri Komjen Susno Duadji menyatakan, penangkapan terhadap Susno tidak sesuai
dengan hukum. Penangkapan terhadap Susno pada saat hendak berangkat ke Singapura di
Bandara Soekarno Hatta dilakukan hanya untuk menyengsarakan dan mempermalukan
Susno.

Demikian disampaikan oleh kuasa hukum Susno Duadji, Henry Yosodiningrat, saat
membacakan materi gugatan praperadilan Susno Duadji di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan, Senin (24/5/2010).

Ia mengatakan, penangkapan terhadap Susno tidak dilakukan berdasar cukup bukti dan
bukan untuk kepentingan penyidikan. "Pengekangan terhadap kebebasan pemohon
(Susno Duadji) dilakukan tidak berdasar bukti cukup dan bukan untuk kepentingan
penyidikan," kata Henry.

Padahal lanjut Henry, penangkapan ataupun pengekangan terhadap seseorang dapat


dilakukan hanya bila terdapat cukup bukti untuk peradilan sesuai cara-cara menurut
undang-undang. Ia pun merujuk proses penangkapan terhadap Susno yang dilakukan
dengan peliputan dan penyiaran secara langsung di televisi secara nasional.

"Penangkapan bukan untuk kepentingan penyidikan, namun untuk menyengsarakan dan


mempermalukan pemohon," kata dia.

Lebih lanjut, berdasarkan peraturan Kementerian Kehakiman tahun 1982, penyidikan


harus segera dilakukan setelah penangkapan. "Faktanya, pemohon baru diperiksa pada
besoknya tanggal 11 mei 2010 ," ujar dia.
Penahanan Susno

 
      
Tribunnews.com - Senin, 24 Mei 2010 12:21 WIB
Share +±

tribunnews.com/adi suhendi
Ilustrasi: Foto Susno
*   2
 % &3!3 

+)4'3 %/$&( (+( - Penasihat Hukum Mabes Polri menganggap
gugatan pra peradilan yang dimohonkan Komjen Pol Susno Duadji terlalu melebar. Hal
yang menyangkut materi seputar kasus Gayus Tambunan dan PT Salmah Arowana
Lestari dianggap tidak ada hubungannya dengan materi yang diajukan di sidang, terkait
soal teknis penangkapan dan penetapan Susno sebagai tersangka.

"Ada yang sudah masuk pokok perkara itu bukan konteks pra peradilan, terlalu melebar,"
ujar Penasihat Hukum Mabes Polri, Iza Fadri saat ditemui usai persidangan pra peradilan
di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (24/5/2010).

Iza Fadri mengatakan, pihaknya juga mempermasalahkan permintaan penasihat hukum


Susno yang meminta agar kliennya, Susno Duadji, dihadirkan saat sidang.

"Penasihat hukum sudah hadir buat apa (Susno) hadir, tidak wajib," jelasnya.

Iza Fandri sendiri enggan menanggapi gugatan dari pihak Susno Duadji. "Tunggu saja
besok jawaban dari kita," tandasnya.

Sebelumnya Penasihat hukum Susno, Henry Yosodiningrat dalam persidangan


mengungkapkan penangkapan mantan Kabareskrim Komjen Pol, Susno Duadji dilakukan
hanya untuk menyengsarakan dan mempermalukan tanpa didasari adanya bukti yang kuat
dan berangkat dari adanya kekhawatiran dari pihak Mabes Polri atas Susno Duadji.

Mabes Polri juga dianggap telah melanggar ketentuan Pasal 17 Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian.

"Penangkapan bukan kepentingan penyidikan, melainkan hanya untuk menyengsarakan


dan mempermalukan pemohon (Susno Duadji), " ujar Kuasa Hukum Susno Duadji,
Henry Yosodiningrat saat menjalani persidangan Pra Peradilan di Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan, Senin(24/5/2010).

Menurut Henry, Susno Duadji sebenarnya hanya bermaksud untuk membela kepentingan
institusi Polri dan bangsa saat membuka praktik-praktik mafia hukum di tempat kerjanya,
seperti kasus Gayus Tambunan dan korupsi PT Salmah Arwana Lestari.

Karena itulah, lanjut Henry, pihaknya meminta hakim menjatuhkan putusan, menerima
dan mengabulkan permohonan untuk seluruhnya, bahwa penangkapan termohon kepada
pemohon berdasarkan surat penangkapan dari Brigjen Pol, Sigit Sudarmanto tanggal 10
Mei 2010, penangkapan tersebut tidak sah.

Tidak hanya itu, penangkapan yang dilakukan pada Selasa 11 Mei 2010 atas perintah
Irjen Pol Matius Salempang juga harus dinyatakan tidak sah.

"Memerintahkan kepada termohon(Mabes Polri) untuk membebaskan pemohon(Susno


Duadji) seketika setelah putusan pengadilan keluar, " tandasnya.

Mantan Kabareskrim Komjen Pol, Susno Duadji mengajukan pra peradilan ke Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan, menyusul penetapan status tersangka dan penahanan dirinya oleh
tim independen Mabes Polri tak jelas hukumnya. Eks Kapolda Jawa Barat tersebut
melakukan penuntutan kepada pihak Mabes Polri.

Penulis : Willy_Widianto
Editor : prawiramaulana
÷    
      
# ±   -Proses penangkapan dan penahanan mantan Kabareskrim
Komjen Pol Susno Duadji dinilai tak sesuai hukum. Kuasa hukum Susno, Henry
Yosodingrat mengatakan, penangkapan Susno dilakukan tanpa adanya cukup bukti dan
tidak demi kepentingan penyidikan.

³Pengekangan terhadap kebebasan pemohon (Susno Duadji) dilakukan tidak berdasar


bukti cukup dan bukan untuk kepentingan penyidikan,´ ujar Henry, saat membacakan
materi gugatan praperadilan di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin
(24/5/2010).

Dikatakan Henry, penangkapan terhadap seseorang hanya bisa dilakukan jika terdapat
bukti yang cukup bagi berjalannya proses peradilan sesuai dengan Undang-undang yang
berlaku.

Namun, tidak demikian halnya dengan proses penangkapan Susno yang justru dilakukan
dengan peliputan dan penyiaran secara langsung di televisi secara nasional. Hal ini, kata
Henry, justru mempermalukan Susno.

³Penangkapan bukan untuk kepentingan penyidikan, namun untuk menyengsarakan dan


mempermalukan pemohon,´ tegas dia.

Henry juga mengatakan, berdasarkan peraturan Kementerian Kehakiman tahun 1982,


disebutkan bahwa penyidikan harus segera dilakukan segera setelah penangkapan terjadi.
Tapi hal berbeda terjadi pada kliennya.

³Faktanya, pemohon baru diperiksa pada besoknya, tanggal 11 Mei 2010,´ tutupnya.

Sidang perdana gugatan praperadilan Susno Duadji digelar di ruang sidang utama PN
Jaksel dengan dipimpin Ketua Majelis Hakim Haswandi sebagai hakim tunggal. Susno
dan kuasa hukumnya menggugat penyidik Polri terkait penangkapan dan penahanan
dirinya yang dianggap tak sesuai prosedur hukum.
  
 
   
   
 
# ±   -Mabes Polri berkeyakinan bahwa penangkapan dan penahanan
Susno Duadji pada bulan Mei lalu adalah sah. Penangkapan dan penahanan Susno telah
dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

³Perintah penangkapan pemohon adalah sah. Penangkapan terhadap pemohon telah


dilakukan berdasar bukti permulaan yang cukup, seyogyanya minimal laporan polisi dan
salah satu alat bukti yang sah,´ ujar salah satu kuasa hukum Mabes Polri, Kombes Pol Iza
Fadri, dalam persidangan di PN Jakarta Selatan, Jl Amper Raya, Jakarta Selatan, Selasa
(25/5/2010).

³Penahanan tersebut berdasarkan surat penahanan. Penahanan adalah sah karena


dilakukan dengan alat bukti yang cukup. Penahanan telah sesuai dengan ketentuan
berlaku,´ imbuh Iza.

Lebih lanjut, Iza mengatakan jika bukti permulaan yang cukup seperti alat bukti,
keterangan saksi, dan keterangan terdakwa telah dikantongi polisi saat itu. Untuk
penangkapan Susno telah ada keterangan saksi, antara lain Haposan Hutagalung, Syahril
Djohan, dan Syamsul Rizal.

³Secara yuridis telah memenuhi ketentuan,´ tuturnya. Oleh karena itu, Iza menolak
seluruh dalil pemohon.

³Kami memohon majelis hakim untuk menolak permohahan praperadilan pemohon untuk
seluruhnya. Menyatakan penangkapan tanggal 10 Mei 2010 dan penahanan pemohon
tanggal 11 Mei 2010 adalah sah. Membebankan biaya perkara kepada pemohon. Apabila
hakim berkehendak lain mohon diputus seadil-adilnya,´ pintanya.



Polri: Tanpa LPSK, Susno Juga Kita Dilindungi
( 5+ 
 - detikNews

6  (   


<a
href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&amp;cb=INSERT_RANDO
M_NUMBER_HERE' target='_blank'><img
src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&amp;cb=INSERT_RANDOM
_NUMBER_HERE&amp;n=a59ecd1b' border='0' alt='' /></a>
  - Polri menilai perlindungan kepada Komjen Pol Susno Duadji sudah dilakukan
secara maksimal. Rutan Mako Brimob, Depok tempat Susno ditahan merupakan tempat
yang aman bagi Susno dari ancaman apapun.

"Tanpa LPSK juga kita melindungi kepada Pak Susno. Disamping itu dia anggota Polri
kita juga," ujar Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang di Mabes Polri, Jl
Trunojoyo, Jaksel, Selasa (25/5/2010).

Edward mengatakan, sejauh ini perlindungan Polri terhadap Susno sudah maksimal.
Perlindungan itu agar memperlancar proses pemeriksaan yang sedang berlangsung.

Terkait rencana LPSK yang akan menempatkan Susno di Safe House, Edward meminta
agar proses pemeriksaan Susno sebagai tersangka didahulukan.

"Kan Pak Susno ini kan ditahan sebagai tersangka bukan saksi. Yang dilindungi ini saksi.
Tunggu nanti dia selesai dulu lah sebagai tersangkanya," jelasnya.

Tapi kan Susno juga sebagai saksi? "Iya tapi kan ada keterkaitan sebagai tersangka.
Makanya kita akan lihat seperti apa yang akan dimintakan oleh LPSK," imbuhnya.

Bukankah, Susno merasa mendapat ancaman dari Polri sendiri karena diinteli? "Diinteli
dalam rangka kepentingan apa? Apa pernah Pak Susno dihalangi untuk melakukan
pertemuan-pertemuan? Tidak kan. Saya ngga tahu istilah diinteli," tutupnya.

LPSK memutuskan akan memberi perlindungan bagi mantan Kabareskrim Komjen Pol
Susno Duadji. LPSK mengambil keputusan tersebut karena melihat adanya unsur
ancaman kepada Susno beserta keluarganya.

Selain itu Susno juga akan ditempatkan pada safe house, suatu tempat khusus yang tidak
sembarangan orang bisa mengakses.

 

Polri Tidak Akan Menyerahkan Susno Begitu Saja ke LPSK
( 5+ 
 - detikNews

<a
href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&amp;cb=INSERT_RANDO
M_NUMBER_HERE' target='_blank'><img
src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&amp;cb=INSERT_RANDOM
_NUMBER_HERE&amp;n=a59ecd1b' border='0' alt='' /></a>
  - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) berencana akan melindungi
Komjen Susno Duadji dengan menempatkannya di safe house. Atas rencana ini, Polri
belum mau berkomentar dan menentukan sikap.

Namun, Polri memberikan sinyal tidak akan begitu saja 'melepas' Susno. Menurut
Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang, pihaknya akan melihat sejauh
mana pengaturan soal perlindungan itu.

"Kalau alasannya perlindungan karena ada ancaman, Mako Brimob, aman itu. Prinsipnya
perlindungan itu kita berikan hanya perlindungan seperti apa," ujar Edward di Mabes
Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa (25/5/2010).

Menurut Edward, sejauh ini Polri terus melakukan koordinasi dengan LPSK terkait
rencana perlindungan Susno di Safe House. "Kita tunggu saja, jangan mendahului. Dan
apakah Pak Susno menyetujui. Barulah Polri memberi tanggapan," imbuhnya.

"Dalam aturan LPSK betul LPSK bisa memberikan perlindungan setelah diteliti
permohonan itu memenuhi syarat. Kita ngga akan mencampuri. Pak susno ditahan
sebagai tersangka. Kita lihat nanti ketentuannya seperti apa," jelasnya.

LPSK memutuskan akan memberi perlindungan bagi mantan Kabareskrim Komjen Pol
Susno Duadji. LPSK mengambil keputusan tersebut karena melihat adanya unsur
ancaman kepada Susno beserta keluarganya.

Selain itu Susno juga akan ditempatkan pada safe house, suatu tempat khusus yang tidak
sembarangan orang bisa mengakses.
(
   

 c
!   

Indra Subagja 

  - Salah satu whistle blower fenomenal adalah Agus Condro. Karena 'nyanyian'
eks politisi PDIP ini, kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S
Goeltom terungkap. Agus memberi saran pada Susno Duadji yang disebut peniup peluit
kasus Gayus Tambunan.

"Kalau memang Pak Susno tidak punya kesalahan, tenang saja, jangan takut. Seperti
saya, sampai mau dicari borok-boroknya pun tidak ketemu," ujar Agus saat dihubungi
detikcom, Selasa (25/5/2010).

Agus menceritakan, saat mengungkap kasus itu dia mendengar seorang temannya
mencari kesalahan dia baik soal perempuan, judi, atau pun proyek-proyek korupsi.

"Saya tidak pernah meminta perlindungan kepada lembaga mana pun. Hidup dan mati
milik Tuhan, kalau takdir selamat ya selamat. Saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa,"
ujar eks anggota DPR Komisi IX ini.

Kasus suap atau korupsi di institusi sulit untuk terungkap kalau tidak diungkap dari
dalam. Untuk itu seperti halnya Susno, kalau dia meminta tentunya pantas dilindungi,
termasuk soal hukum.

"Kalau kasus-kasus ini bisa terbongkar whistle blower jangan ditersangkakan," harap
Agus.

Agus menilai, dalam kasus ternak arwana dan Gayus, Susno adalah pihak yang
mengungkapkan. Jadi tidak elok bila dia dijadikan tersangka. "Kecuali kasus lain, seperti
pilkada Jabar, itu kan masih diselidiki," katanya.
  
$2 c   207 c  
 
Novi Christiastuti Adiputri 

  - Sidang praperadilan Susno Duadji kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN)
Jakarta Selatan. Kali ini giliran pihak Mabes Polri yang menyampaikan tanggapan
terhadap permohonan gugatan praperadilan yang diajukan Susno dan kuasa hukumnya.

"Kita siapkan 15 halaman," ujar Kepala Bidang Pembinaan Hukum Mabes Polri, Kombes
Pol Iza Fadri, kepada wartawan sebelum sidang di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta
Selatan, Selasa (25/5/2010).

Namun Iza enggan menjelaskan secara detail isi tanggapan tersebut. "Nanti sajalah di
sidang," dalihnya.

Rencananya, sidang kedua akan digelar pukul 10.00 WIB di ruang sidang utama Oemar
Seno Adji, PN Jaksel. Kuasa hukum Mabes Polri diwakili oleh Divisi Pembinaan Hukum
yang dipimpin oleh Kombes Iza Fadri, AKBP Yusmar Latief, Kompol W Marbun,
Kombes Pol RM Panggabean telah hadir pukul 09.40 WIB. Sedangkan kuasa hukum
Susno juga telah hadir di PN Jaksel. Sidang akan dipimpin oleh hakim tunggal Haswandi.

Pantauan detikcom, ratusan petugas Kepolisian tampak berjaga-jaga di sekitar halaman


PN Jaksel. Mereka disiap-siagakan untuk mengantisipasi para pendemo yang akan
mengawal jalannya sidang praperadilan Susno.

Tampak halaman PN Jaksel disekat dengan tali rafia warna biru. Sekat ini dimaksudkan
untuk menghindari bentrok antara pendemo yang pro dan kontra dengan kasus Susno.




c $
   #
   
Moksa Hutasoit 

  - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sudah memastikan akan
melindungi Komjen Pol Susno Duadji. Kuasa hukum Susno pun meminta supaya mantan
Kabareskrim tersebut segera dikeluarkan dari rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

"Kami menyambut baik pernyataan LPSK. Dan kami minta agar Pak Susno segera
dikeluarkan dari tahanan Polri," kata anggota tim pengacara, Ari Yusuf Amir dalam rilis
yang diterima  , Senin (24/5/2010).

Ari juga memastikan, Susno akan langsung menerima tawaran perlindungan dari LPSK.
Pasalnya, permohonan perlindungan itu sendiri datang langsung dari Susno.

"Jadi tidak perlu lagi ditanyakan kepada klien kami tentang kesediaan menjadi saksi.
Sebab Pak Susno sudah melapor," tegasnya.

Ari berharap agar LPSK segera mengamankan dan melindungi Susno secepat mungkin.
Dia khawatir, polisi akan melakukan rekayasa baru agar tetap bisa menahan.