Anda di halaman 1dari 18

Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

BAB V
RENCANA DETAIL TATA RUANG
KAWASAN PERKOTAAN

5.1 Umum

Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran


dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana
pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan. Rencana Detail Tata Ruang
Kawasan Perkotaan adalah rencana pemanfaatan ruang Bagian Wilayah
Kota/Kawasan Perkotaan secara terperinci yang disusun untuk penyiapan
perwujudan ruang dalam rangka pelaksanaan program-program
pembangunan perkotaan.

Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan juga merupakan rencana


yang menetapkan blok-blok peruntukan pada kawasan fungsional perkotaan,
sebagai penjabaran “kegiatan” ke dalam wujud ruang, dengan
memperhatikan keterkaitan antara kegiatan dalam kawasan fungsional, agar
tercipta lingkungan yang harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan
penunjang dalam kawasan fungsional tersebut.

Jangka waktu Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan ini adalah 5
tahun dan dituangkan ke dalam peta rencana dengan skala 1 : 5.000 atau
lebih.

5.2. Fungsi Rencana

Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan berfungsi untuk:


• menyiapkan perwujudan ruang, dalam rangka pelaksanaan program
pembangunan perkotaan;
• menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian perkembangan
kawasan perkotaan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kota/Kabupaten;
• menciptakan keterkaitan antar kegiatan yang selaras, serasi dan efisien;
• menjaga konsistensi perwujudan ruang kawasan perkotaan melalui
pengendalian program-program pembangunan perkotaan.

V -1
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

5.3 Manfaat Rencana

Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan bagi Pemerintah Daerah


adalah sebagai pedoman untuk:
• Pemberian advis planning;
• Pengaturan bangunan setempat;
• Penyusunan rencana teknik ruang kawasan perkotaan atau rencana
tata bangunan dan lingkungan;
• Pelaksanaan program pembangunan.

5.4 Muatan Rencana

Adapun muatan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, meliputi:


1. Tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan;

2. Rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan,


meliputi:
a. Struktur pemanfaatan ruang, yang meliputi distribusi penduduk,
struktur pelayanan kegiatan kawasan perkotaan, sistem jaringan
pergerakan, sistem jaringan telekomunikasi, sistem jaringan energi,
dan sistem prasarana pengelolaan lingkungan;
b. Pola pemanfaatan ruang, yang meliputi pengembangan kawasan
fungsional (kawasan permukiman, perdagangan, jasa,
pemerintahan, pariwisata, perindustrian) dalam blok-blok
peruntukan.

3. Pedoman pelaksanaan pembangunan kawasan fungsional perkotaan


meliputi:
a. Arahan kepadatan bangunan (net density/KDB) untuk setiap blok
peruntukan;
b. Arahan ketinggian bangunan (maximum height/KLB) untuk setiap
blok peruntukan;
c. Arahan garis sempadan bangunan untuk setiap blok peruntukan;
d. Rencana penanganan lingkungan blok peruntukan;
e. Rencana penanganan jaringan prasarana dan sarana.

4. Pedoman pengendalian pemanfaatan ruang kawasan fungsional


perkotaan.

V -2
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

5.5 Proses Perencanaan

Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang, ditempuh langkah-


langkah penentuan kawasan perencanaan, identifikasi potensi dan masalah
pembangunan, perumusan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan,
dan penetapan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan.

1. Penentuan kawasan perencanaan perkotaan;


Dalam menentukan kawasan perencanaan perkotaan dilakukan
berdasarkan tingkat urgensi/prioritas/keterdesakan penanganan
kawasan tersebut di dalam konstelasi Wilayah Kota/Kawasan
Perkotaan.

2. Identifikasi permasalahan pembangunan dan perwujudan ruang


kawasan;
• Analisis yang didasarkan atas tuntutan pelaksanaan pembangunan
suatu kegiatan perkotaan yang selanjutnya didukung keputusan
strategis dari pemerintah daerah setempat untuk
pengembangannya;
• Terdapat suatu permasalahan dalam perwujudan ruang kawasan
seperti masalah rumah kumuh, urban heritage, kota tepi air, dsb.

3. Perkiraan kebutuhan pelaksanaan pembangunan kawasan;


Perkiraan kebutuhan pelaksanaan pembangunan kawasan didasarkan
atas hasil analisis kependudukan, sektor / kegiatan potensial, daya
dukung lingkungan, kebutuhan prasarana dan sarana lingkungan,
sasaran pembangunan kawasan yang hendak dicapai, dan
pertimbangan efisiensi pelayanan
Perkiraan kebutuhan tersebut mencakup:
- Perkiraan kebutuhan pengembangan kependudukan;
- Perkiraan kebutuhan pengembangan ekonomi perkotaan;
- Perkiraan kebutuhan fasilitas sosial dan ekonomi perkotaan;
- Perkiraan kebutuhan pengembangan lahan perkotaan;
 kebutuhan ekstensifikasi;
 kebutuhan intensifikasi;
 perkiraan ketersediaan lahan bagi pengembangan.
- Perkiraan kebutuhan prasarana dan sarana perkotaan.

4. Perumusan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan


Perumusan ini berdasarkan pada perkiraan kebutuhan pelaksanaan
pembangunan dan pemanfaatan ruang.

V -3
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

5. Penetapan rencana tata ruang


Untuk mengoperasionalisasikan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan
Perkotaan, perlu adanya suatu upaya penetapan rencana tata ruang
dalam bentuk Surat Keputusan Walikota/Bupati dalam hal Rencana
Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan sebagai penjabaran RTRW
Kota/Kabupaten.

Dalam hal terjadi perubahan fungsi kawasan sebagai akibat dari


dinamika perkembangan perkotaan yang cukup tinggi, maka Rencana
Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan yang bersangkutan ditetapkan
dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah. Hal ini
selanjutnya menjadi masukan bagi peninjauan kembali dan
penyempurnaan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota/Kabupaten.

Proses penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan dapat


dilihat dalam Gambar 5.1.

Masyarakat berhak untuk berperan serta dalam penyusunan Rencana


Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan. Masyarakat berkewajiban
berperan serta dalam memelihara kualitas ruang dan berkewajiban menaati
rencana tata ruang yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, produk Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan


merupakan hasil kesepakatan seluruh pelaku pembangunan (stakeholders),
termasuk masyarakat.

Peranserta masyarakat dalam penataan ruang menganut asas-asas


demokratis, kesetaraan gender, dan keterbukaan. Pendekatan ini merupakan
dasar bagi pendekatan “community driven planning” yang menjadikan
masyarakat sebagai penentu dan pemerintah sebagai fasilitatornya. Sejalan
dengan proses penataan ruang yang iteratif, maka keterlibatan masyarakat
ada pada setiap proses tersebut dan selalu tanggap dan mengikuti setiap
dinamika dan perkembangan di dalam masyarakat.

Peranserta masyarakat dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam


bentuk pengajuan usul, memberi saran, atau mengajukan keberatan kepada
pemerintah. Dalam mengajukan usul, memberikan saran, atau mengajukan
keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang bagian
Kawasan Perkotaan dapat dilakukan melalui pembentukan forum kota,
asosiasi profesi, media massa, LSM, lembaga formal kemasyarakatan
(sampai tingkat lembaga perwakilan rakyat).

V -4
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

Gambar 5.1.
Bagan Alir Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan

RTRWN

RTR W P

RENCANA STRUKTUR TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN METROPOLITAN

RENCANA UMUM TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA


• Pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
• Pengelolaan kawasan tertentu
• Sistem prasarana dan sarana sekunder TGT, TGU dan SDA lainnya
• Pentahapan & prioritas pengembangan utk perwujudan struktur
pemanfaatan ruang kota

RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

IDENTIFIKASI FORMULASI TUJUAN Rumusan kondisi yang akan datang: • Rencana pemanfaatan ruang kawasan fungsional dalam blok-blok peruntukan
PERMASALAHAN PENGEMBANGAN • Estimasi kebutuhan dan • Rencana struktur pelayanan
PEMBANGUNAN DAN KAWASAN pelaksanaan pembangunan • Rencana sistem jaringan pergerakan primer dan sekunder
PERWUJUDAN RUANG • Rencana sistem utilitas
KAWASAN • Arahan kepadatan, ketinggian bangunan sempadan untuk setiap blok peruntukan
• Rencana pengelolaan sarana dan prasarana

RENCANA TEKNIK RUANG KAWASAN PERKOTAAN


TUJUAN
PEMBANGUNAN
LINGKUNGAN & MASA
BANGUNAN

V -5
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

5.6 Produk Rencana

Produk Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan terdiri dari:

5.6.1 Tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan


Tujuan pengembangan kawasan fungsional perkotaan dirumuskan
sesuai dengan permasalahan dan arahan kebijakan berdasarkan
urgensi/keterdesakan penanganan kawasan tersebut.

5.6.2 Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan


Perkotaan

1. Rencana Distribusi Penduduk Kawasan Perkotaan


1) Materi yang diatur
Distribusi penduduk sampai dengan akhir tahun perencanaan.

2) Kedalaman materi yang diatur


Rencana distribusi penduduk kawasan perkotaan yang dirinci
dalam blok-blok peruntukan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


Jumlah penduduk dan kepadatan penduduk setiap blok
peruntukan.

2. Rencana Struktur Pelayanan Kegiatan Kawasan Perkotaan


1) Materi yang diatur
Tata jenjang kapasitas dan intensitas menurut lokasi dan jenis
pelayanan kegiatan dalam kawasan.

2) Kedalaman materi yang diatur


Distribusi pusat-pusat pelayanan kegiatan perkotaan dirinci
sampai pusat pelayanan lingkungan permukiman perkotaan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Perdagangan yang terdiri dari:
- perdagangan skala regional;
- perdagangan skala kota;
- perdagangan skala lingkungan.
• Pendidikan yang terdiri dari:
- perguruan tinggi;
- sekolah lanjutan tingkat atas;
- sekolah lanjutan tingkat pertama;
- sekolah dasar;
- taman kanak-kanak.

V -6
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

• Pelayanan kesehatan yang terdiri dari:


- rumah sakit umum kelas A;
- rumah sakit umum kelas B;
- rumah sakit umum kelas C;
- rumah sakit umum kelas D;
- pusat kesehatan masyarakat pembantu.
• Pelayanan rekreasi dan atau olah raga yang terdiri dari:
- pelayanan skala kota;
- pelayanan skala lingkungan.

3. Rencana Sistem Jaringan Pergerakan


1) Materi yang diatur
Sistem jaringan pergerakan dan prasarana penunjang
(terminal, jalan, lingkungan perparkiran) bagi angkutan jalan
raya, angkutan kereta api, angkutan laut, angkutan sungai,
danau dan penyeberangan, serta angkutan udara.

2) Kedalaman materi yang diatur


• Angkutan jalan raya, meliputi seluruh sistem primer,
jaringan arteri sekunder dan kolektor sekunder, sampai
dengan jalan lokal sekunder;
• Angkutan sungai, sampai dengan jaringan sekunder;
• Pergerakan lainnya meliputi seluruh sistem pergerakan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


a. Angkutan jalan raya, terdiri dari:
• Jaringan jalan arteri sekunder, jaringan jalan kolektor
sekunder, jaringan jalan lokal sekunder, sistem primer
(jumlah lajur, daerah pengawasan jalan, daerah milik
jalan, persimpangan utama);
• Terminal penumpang dan barang;
• Jaringan trayek angkutan penumpang dan jaringan lintas
angkutan barang.
b. Angkutan kereta api, terdiri dari:
• Jaringan jalan kereta api;
• Stasiun kereta api;
• Depo atau balai yasa.
c. Angkutan sungai, danau dan penyeberangan, terdiri dari:
• Terminal angkutan sungai, danau dan penyeberangan;
• Jalur pelayaran sungai.

V -7
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

Gambar 5.2
CONTOH Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Perdagangan

V -8
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

d. Angkutan laut , terdiri dari:


• Pelabuhan laut;
• Jalur pelayaran.
e. Angkutan udara, terdiri dari:
• Bandar udara;
• Jalur penerbangan.

4. Rencana Sistem Jaringan Utilitas


1) Materi yang diatur
Sistem jaringan utilitas dalam kawasan hingga akhir tahun
perencanaan.

2) Kedalaman materi yang diatur


• Seluruh jaringan telepon (hingga jaringan kabel sekunder);
• Seluruh jaringan listrik (tegangan menengah hingga gardu
distribusi);
• Seluruh jaringan gas;
• Seluruh jaringan air bersih (hingga jaringan distribusi
sekunder/per blok peruntukan);
• Seluruh jaringan air hujan;
• Seluruh jaringan air limbah;
• Seluruh jaringan persampahan (hingga TPS komunal).

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Sistem saluran telepon, yang terdiri dari:
− Stasiun telepon otomat;
− Rumah kabel dan kotak pembagi;
− Jaringan kabel sekunder;
− Jaringan telepon seluler.
• Sistem televisi kabel, yang terdiri dari:
− Stasiun transmisi;
− Jaringan kabel distribusi.
• Sistem jaringan listrik, yang terdiri dari:
− Bangunan pembangkit;
− Gardu induk tegangan ekstra tinggi;
− Gardu induk;
− Gardu distribusi.
• Sistem jaringan gas, yang terdiri dari:
− Pabrik gas;
− Seluruh jaringan gas.
• Sistem penyediaan air bersih, yang terdiri dari :
− Bangunan pengambil air baku;
− Seluruh pipa transmisi air baku instalasi produksi;

V-9
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

− Seluruh pipa transmisi air bersih;


− Bak penampung;
− Hingga pipa distribusi sekunder/distribusi hingga blok
peruntukan.
• Sistem pembuangan air hujan, yang terdiri dari:
− Seluruh saluran;
− Waduk penampungan.
• Sistem pembuangan air limbah, yang terdiri dari:
− Seluruh saluran;
− Bangunan pengolahan;
− Waduk penampungan.
• Sistem persampahan, yang terdiri dari:
− Tempat pembungan akhir;
− Bangunan pengolahan sampah;
− Penampungan sementara.

5.6.3 Rencana Blok Pemanfaatan Ruang (Block Plan)


Rencana pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan yang
menggambarkan ukuran, fungsi serta karakter kegiatan manusia dan
atau kegiatan alam, yang dituangkan dalam blok-blok peruntukan.

1) Materi yang diatur


Luas dan lahan peruntukan sampai dengan akhir tahun
perencanaan.

2) Kedalaman materi yang diatur


Pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang dirinci dalam blok-blok
peruntukan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


a. Kawasan Budidaya Perkotaan, meliputi:
• Perumahan dan permukiman, yang dirinci menurut ketinggian
bangunan, jenis penggunaan, pengelompokan berdasarkan
besaran perpetakan;
• Perdagangan, yang dirinci menurut jenis dan bentuk
bangunannya, antara lain pasar, pertokoan, mal, dll;
• Industri, yang dirinci menurut jenisnya;
• Pendidikan, yang dirinci menurut tingkatan pelayanan mulai
dari pendidikan tinggi, SLTA, SLTP, SD, dan TK;
• Kesehatan, yang dirinci menurut tingkat pelayanan mulai dari
RS Umum kelas A,B,C,D; puskesmas, puskesmas pembantu;
• Peribadatan, yang dirinci menurut jenisnya mulai dari mesjid,
gereja, kelenteng, pura, vihara;

V - 10
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

• Rekreasi, yang dirinci menurut jenisnya, antara lain taman


bermain, taman rekreasi, taman lingkungan, taman kota, dll;
• Olahraga, yang dirinci menurut tingkat pelayanannya, antara
lain stadion, gelanggang, dlll;
• Fasilitas sosial lainnya, yang dirinci menurut jenisnya, seperti
panti asuhan, panti werda, dll;
• Perkantoran pemerintah dan niaga, yang dirinci menurut
instansinya;
• Terminal angkutan jalan raya baik untuk penumpang atau
barang, stasiun kereta api, pelabuhan sungai, pelabuhan
danau, pelabuhan penyeberangan, pelabuhan laut, bandar
udara, dan sarana transportasi lainnya;
• Kawasan pertanian tanaman pangan, perkebunan,
peternakan, perikanan;
• Taman pemakaman umum, taman pemakaman pahlawan;
• Tempat pembuangan sampah akhir.

b. Kawasan Lindung, meliputi:


• Kawasan resapan air dan kawasan yang memberikan
perlindungan bagi kawasan bawahan lainnya;
• Sempadan pantai, sungai, sekitar danau dan waduk, sekitar
mata air, dan kawasan terbuka hijau kota termasuk jalur hijau;
• Cagar alam/pelestarian alam, dan suaka margasatwa;
• Taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam
lainnya;
• Kawasan cagar budaya;
• Kawasan rawan letusan gunung berapi, rawan gempa, rawan
tanah longsor, rawan gelombang pasang dan rawan banjir.

5.6.4 Pedoman pelaksanaan pembangunan kawasan perkotaan

1. Arahan Kepadatan Bangunan


1) Materi yang diatur
Perbandingan luas lahan yang tertutup bangunan dan
bangunan-bangunan dalam tiap petak peruntukan
dibandingkan dengan luas petak peruntukan

2) Kedalaman materi yang diatur


Kepadatan bangunan yang dirinci untuk setiap blok-blok
peruntukan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Blok peruntukan dengan koefisien dasar bangunan sangat
tinggi (lebih besar dari 75 %);

V - 11
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

• Blok peruntukan dengan koefisien dasar bangunan


menengah (20 % - 50 %);
• Blok peruntukan dengan koefisien dasar bangunan rendah
(5 % - 20 %);
• Blok peruntukan dengan koefisen dasar bangunan sangat
rendah ( > 5 %).

2. Arahan Ketinggian Bangunan


1) Materi yang diatur
Rencana ketinggian maksimum atau maksimum dan minimum
bangunan untuk setiap blok peruntukan (koefisien lantai
bangunan), lihat Gambar 5.3.

2) Kedalaman materi yang diatur


Ketinggian bangunan yang dirinci untuk setiap blok
peruntukan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Blok peruntukan ketinggian bangunan sangat rendah
adalah blok dengan tidak bertingkat dan bertingkat
maksimum dua lantai (KLB maksimum = 2 x KDB)
dengan tinggi puncak bangunan maksimum 12 m dari lantai
dasar;
• Blok peruntukan ketinggian bangunan rendah adalah blok
dengan bangunan bertingkat maksimum 4 lantai ( KLB
maksimum = 4 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan
maksimum 20 m dan minimum 12 m dari lantai dasar;
• Blok peruntukan ketinggian bangunan sedang adalah blok
dengan bangunan bertingkat maksimum 8 lantai (KLB
maksimum = 8 x KBD) dengan tinggi puncak bangunan
maksimum 36 m dan minimum 24 m dari lantai dasar;
• Blok peruntukan ketinggian bangunan tinggi bangunan
tinggi adalah blok dengan bangunan bertingkat minimum 9
lantai (KLB maksimum = 9 x KDB) dengan tinggi puncak
bangunan minimum 40 m dari lantai dasar;
• Blok peruntukan ketinggian bangunan sangat tinggi adalah
blok dengan bangunan bertingkat minimum 20 lantai (KLB
maksimum = 20 x KDB) dengan tinggi puncak bangunan
minimum 80 m dari lantai dasar.

3. Arahan Perpetakan Bangunan


1) Materi yang diatur
Luas petak-petak peruntukan yang terdapat pada setiap blok
peruntukan dalam kawasan.

V - 12
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

2) Kedalaman materi yang diatur


Luas petak peruntukan pada setiap blok peruntukan dan pada
setiap penggal jalan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
I (diatas 2500 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
II (1000 – 2500 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
III (600 – 1000 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
IV (250 – 600 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
V (100 – 250 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
VI (50 – 100 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
VII (dibawah 50 m2);
• Blok peruntukan dan penggal jalan dengan petak klasifikasi
VIII (rumah susun/flat).

4. Arahan Garis Sempadan


1) Materi yang diatur
Jarak antara as jalan dengan bangunan maupun dengan
pagar halaman, dan jaringan bangunan dengan batas persil.

2) Kedalaman materi yang diatur


Berbagai garis sempadan yang dirinci sampai dengan blok
peruntukan untuk tiap penggal jalan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Sempadan muka bangunan;
• Sempadan pagar;
• Sempadan sampingan bangunan.

V - 13
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

Gambar 5.3
CONTOH Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan & Arahan Koefisien Lantai Bangunan

V - 14
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

5. Rencana Penanganan Blok Peruntukan


1) Materi yang diatur
Penanganan blok peruntukan dan jaringan pergerakan serta
utilitas yang akan dilaksanakan dalam kawasan, baik
kebutuhan akan konservasi, pengembangan baru pemugaran
atau penanganan khusus ( lihat Gambar 5.4).

2) Kedalaman materi yang diatur


Penanganan blok peruntukan dan jaringan pergerakan yang
dirinci untuk setiap blok peruntukan dan penggal jalan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Bangunan/jaringan baru yang akan dibangun;
• Bangunan/jaringan yang akan ditingkatkan;
• Bangunan/jaringan yang akan diperbaiki;
• Bangunan/jaringan yang akan diperbaharui;
• Bangunan/jaringan yang akan dipugar;
• Bangunan/jaringan yang akan dilindungi.

6. Rencana Penanganan Prasarana dan Sarana


1) Materi yang diatur
Penanganan prasarana dan sarana yang akan dilaksanakan
dalam kawasan, baik kebutuhan akan konservasi,
pengembangan baru pemugaran atau penanganan khusus (
lihat Gambar 5.4).

2) Kedalaman materi yang diatur


Penanganan prasarana dan sarana yang dirinci untuk setiap
blok peruntukan dan penggal jalan.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• jaringan prasarana dan sarana baru yang akan dibangun;
• jaringan prasarana dan sarana yang akan ditingkatkan;
• jaringan prasarana dan sarana yang akan diperbaiki;
• jaringan prasarana dan sarana yang akan diperbaharui;
• jaringan prasarana dan sarana yang akan dipugar.

V - 15
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

Gambar 5.4
CONTOH Rencana Penanganan Blok Peruntukan

V - 16
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

5.6.5 Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Pengendalian pemanfaatan ruang Kawasan Perkotaan
diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban
terhadap pemanfaatan ruang berdasarkan mekanisme perijinan,
pemberian insentif dan disinsentif, pemberian kompensasi, mekanisme
pelaporan, mekanisme pemantauan, mekanisme evaluasi dan
mekanisme pengenaan sanksi.

1) Materi yang diatur


Ketentuan-ketentuan yang mencakup perijinan, pengawasan, dan
penertiban di kawasan perkotaan.

2) Kedalaman materi yang diatur


Kedalaman materi yang diatur meliputi pengaturan tentang
mekanisme advis planning (rekomendasi perencanaan) perijinan,
pengawasan, dan penertiban.

3) Pengelompokan materi yang diatur


• Mekanisme advis planning perijinan sampai dengan pemberian
ijin lokasi bagi kegiatan perkotaan;
• Mekanisme pemberian insentif dan disinsentif bagi kawasan yang
didorong pengembangannya, kawasan yang dibatasi
pengembangannya, serta terhadap upaya-upaya perwujudan
ruang yang menjaga konsistensi pembangunan dan keserasian
perkembangan Bagian Kawasan Perkotaan dengan
Kota/Kawasan Perkotaan, dan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten;
• Mekanisme pemberian kompensasi berupa mekanisme
penggantian yang diberikan kepada masyarakat pemegang hak
atas tanah, hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan,
tambang, bahan galian, kawasan lindung yang mengalami
kerugian akibat perubahan nilai ruang dan pelaksanaan
pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang;
• Mekanisme pelaporan mencakup mekanisme pemberian
informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang yang
dapat dilakukan oleh masyarakat dan instansi yang berwenang;
• Mekanisme pemantauan yang mencakup pengamatan,
pemeriksaan dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan
lingkungan yang tidak sesuai dan dilakukan oleh instansi yang
berwenang;
• Mekanisme evaluasi dilakukan untuk menilai kemajuan kegiatan
pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang
yang dilakukan oleh masyarakat dan instansi yang berwenang;

V - 17
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan

• Mekanisme pengenaan sanksi mencakup sanksi administratif,


pidana dan perdata.

5.7. Legalisasi

Untuk mengoperasionalisasikan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan


Perkotaan, perlu adanya suatu upaya penetapan rencana tata ruang dalam
bentuk Surat Keputusan Walikota/Bupati dalam hal Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan Perkotaan sebagai penjabaran RTRW Kota/Kabupaten.

Dalam hal terjadi perubahan fungsi kawasan sebagai akibat dari dinamika
perkembangan perkotaan yang cukup tinggi, maka Rencana Detail Tata
Ruang Kawasan Perkotaan yang bersangkutan ditetapkan dengan
persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah. Hal ini selanjutnya
menjadi masukan bagi peninjauan kembali dan penyempurnaan Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten.

V - 18