Anda di halaman 1dari 6

Rumah

Buletin Dekranasda Jawa Barat | Vol. I No. 1/Juli-Agustus 2010

DEKRANASDA
Kembangkan
Industri Kerajinan
Nasional & Daerah

P OTENSI keberagaman
produk dan sumberdaya
alam penting dikelola
dengan serius untuk tujuan
pengembangan kerajinan yang
lebih baik di masa mendatang.
Untuk itulah salah satunya dibentuk
Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas)
yang dikukuhkan dengan Surat
Keputusan Bersama Menteri
Perindustrian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan perkreditan, bahan baku, produksi, teknologi, pemasaran,
pada tanggal 3 Maret 1980. tata niaga, promosi, perlindungan, pendidikan dan latihan,
Langkah-langkah koordinasi perintisan Dekranas dan koperasi. Selama tiga dekade para pengrajin telah
dimulai sejak 1978 oleh Ny. Nani Soedarsono, SH, memberikan sumbangsih berarti bagi kemajuan budaya
seorang pecinta seni dan budaya Indonesia yang dan peningkatan ekonomi bangsa.
dibantu tim pemrakarsa. Tim pemrakarsa ini telah Untuk mengupayakan perkembangan kerajinan di
menghasilkan prinsip-prinsip Annggaran Dasar dan daerah-daerah dibentuklah Dekranas Daerah dengan
Anggaran Rumah Tangga Dekranas, personalia yang dikeluarkannya Surat Mendagri Nomor 537/5038/Sospol,
diharapkan duduk dalam Dewan, dan forum yang akan pada 15 Desember 1981. Dekranasda Provinsi Jawa
digunakan membentuk Dewan. Barat mulai terbentuk sejak tahun 1999. Ketua pertama
Selama tiga dekade Dekranas dipimpin oleh Ketua Dekranas Jabar adalah Ibu Yogi SM (1990-1995).
Umum Ny. Nelly Adam Malik (1980-1983), Ny. Karlinah Kemudian, Ibu R.Nuriana (1995-2003), Ibu Danny
Umar Wirahadikusumah (1983-1988), Ny. EN Setiawan (2003-2008), dan kini Ibu Netty Prasetiyani
Sudharmono (1988-1993), Ny. Try Sutrisno (1993- Heryawan (2008-2013).
1998), Ny. Dr. Hasri Ainun Habibie (Ketua Kehormatan, Provinsi Jawa Barat yang terdiri atas 26 kota dan
1999-2004), Ny. Hj. Mufidah Jusuf Kalla (2004-2009), kabupaten memiliki potensi industri kerajinan yang
dan Ny. Herawati Boediono (2009-2013). sangat besar. Di Jawa Barat, bisnis kerajinan
Setelah bedirinya, Dekranas menjadi pemersatu dan mengerahkan sekitar 197 ribu industri kecil menengah.
fasilitator untuk para pelaku sektor kerajinan. Antara lain Sebesar 35 persennya merupakan industri rumahan.
Dekranas menyelenggarakan pameran kerajinan tingkat Jabar Craft Center
nasional, seminar dan workshop, pertemuan pengrajin Saat ini, Jawa Barat memiliki Jabar Craft Center (JCC)
dan pemberian penghargaan. Dekranas juga mengikuti yang berlokasi di Jl. Ir. H. Juanda No. 19, Bandung. Di
kegiatan internasional, baik pertemuan asosiasi maupun Gedung JCC, ditampilkan sekitar 150 jenis kelompok
pameran. Bersama pemerintah Dekranas memberikan kerajinan asal Jabar. Dari gedung itu pula, wisatawan
perhatian terhadap persoalan dunia kerajinan, yaitu domestik dan mancanegara bisa memesan jenis

Rumah Pengrajin | Vol. I No.1/Juli-Agustus 2010 01


kerajinan dalam jumlah besar. Gedung JCC sengaja
didirikan sebagai kepanjangan tangan produsen kerajinan
Jabar, khususnya dalam mempromosikan produknya.
Potensi besar kerajinan Jabar tentu saja dapat men-
jadi sumber kesejahteraan bagi warganya. Kebanyakan,
produksi kerajinan Jabar berasal dari Usaha Kecil Mene-
ngah (UKM). Dalam hal ini, Dekranasda mendorong kala-
ngan perbankan untuk memberikan kredit lunak kepada
UKM kerajinan Jabar. Selain itu, Dekranasda pun mendo-
rong pemerintah pusat dan daerah meringankan beban
retribusi atau pajak terhadap UKM kerajinan.
Untuk mengembangkan industri kerajinan, salah
satunya Dekranasda Jabar memiliki kegiatan rutin dua
tahunan, yakni Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB).
Kegiatan ini menjadi ajang untuk membuka keran bisnis
antara pengrajin dengan konsumen atau investor. Terakhir,
PKJB berlangsung sukses pada 23-27 Desember 2009.
PKJB 2009 ditutup dengan omset mencapai Rp 1,5 milyar.
Sebagai mitra strategis pemprov dalam mengembang-
kan potensi industri kerajinan di Jawa Barat, Dekranasda
Jabar terus menyiapkan dan menggulirkan berbagai prog-
ram yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
para pengrajin itu sendiri, dan, lebih jauh, senantiasa
melestarikan serta meningkatkan nilai budaya bangsa.
(sp/eni/wn)

Pengrajin dan Ada desa atau sekelompok desa yang menghasilkan jenis
produksi tertentu, baik kebutuhan rumah tangga atau
kebutuhan lainnya. Menurut Nastiti, keberadaan para

Perempuan pengrajin di daerah Temanggung sekarang (daerah


penelitiannya) bisa dipastikan memiliki akar sejarah dan
tradisi turun-temurun beberapa abad.
Jenis-jenis industri ini dikelola oleh para pengrajin
Sugeng Praptono yang bergerak dalam berbagai bidang usaha dan keahlian
masing-masing. Jenis usaha yang dituliskan dalam

K EGIATAN manusia sejak awal tidak bisa dipisahkan


dari usaha untuk memenuhi kebutuhan dan
mempermudah hidup itu sendiri. Produksi ragam
kerajinan dikategorikan sebagai kegiatan sekunder, yaitu
produksi barang yang dihasilkan oleh usaha industri
prasasti cukup banyak. Dari sana terlacak istilah bagi
para pengrajin, antara lain mandyun (pembuat benda-
benda tanah liat), manañamañam (pembuat anyam-
anyaman), magawai payun wlū (pembuat payung wlu),
magawai kisi (pembuat kisi), marunki (pembuat rungki),
berupa barang-barang konsumsi, seperti makanan dan manapus (pembuat benang), manawan (pembuat jaring),
pakaian. Produksi sekunder manahab [manuk] (pembuat
meliputi kegiatan industri kecil tentangsolo.files.wordpress.com sangkar burung), makalakala
yang diusahakan oleh para (pembuat jerat binatang), pandai
pengrajin yang dikenal dengan mas (pandai mas), pandai wsi
istilah mistra. (pandai besi), pandai tamwaga
Dahulu, pedesaan di Jawa (pandai tembaga), pandai tamra
adalah basis produksi primer (pandai perunggu), pandai dan
(produksi yang berkaitan dengan (pandai dandang), pandai kawat
kegiatan pertanian, perikanan, (pandai kawat), undahagi (tukang
kehutanan) dan produksi kayu). Pada relief Candi
sekunder (pengolahan dan Borobudur No. I(b)b.107a dan
industri). Kajian Titi Surti Nastiti I(b)b.107b digambarkan pengrajin
(2003) terhadap pelbagai prasasti gerabah sedang membuat dan
dan naskah-naskah peninggalan membakar gerabah.
Mataram Kuna menemukan Desa-desa di bawah
bahwa industri pedesaan saat itu kekuasaan Mataram Kuna pun
masih merupakan usaha kecil telah memproduksi sandang
yang dimasukkan dalam
kelompok industri rumah tangga. bersambung ke hal. 4

Rumah Pengrajin | Vol. I No.1/Juli-Agustus 2010 02


Kepengrajinan Manusia Wildan Nugraha

B AHKAN di masa perang kepengrajinan manusia


tidak surut. Setelah Perang Dunia II usai homo faber
(man as maker, manusia sebagai pembuat)
dipersoalkan. Man as maker dicurigai karena membuat
bom nuklir yang memusnahkan manusia dan mengancam
hasil kerja pengrajin dan kemudian memanfaatkannya.
Maka pengrajin, menurut Sennett, tidak pernah berada di
rumahnya sendiri. Tempat mereka berpindah-pindah dari
satu kekuasaan ke kekuasaan lainnya dan karena itu
mereka tidak pernah sesungguhnya menyelesaikan
kelangsungan kehidupan di bumi. Sejumlah filsuf pekerjaan.
kemudian mengatakan agar man as maker diawasi. Berdasarkan pengkajian fenomena homo faber dalam
Di masa damai hasil kerja pengrajin (craftman) bukan sejarah peradaban manusia, Sennett mengemukakan
diawasi, tapi dimanfaatkan. Seperti terjadi sekarang ini, bahwa kepengrajinan jauh lebih luas dari sekadar keteram-
hasil pengrajin dikembangkan sisi ekonominya untuk pilan tangan. Pada kepengrajinan “kerja tangan” tidak bisa
memproduksi barang-barang konsumtif. Kekreatifan dipisahkan dari “kerja kepala”. Sennett mengemukakan,
manusia pengrajin dihadapkan pada standar ganda. Di “Kepengrajinan bisa menunjukkan impuls-impuls menda-
satu sisi dorongan internal untuk menyelesaikan pekerjaan sar pada manusia, memperlihatkan kesungguhan untuk
dengan sebaik-baiknya—demi pekerjaannya sendiri—di sisi menampilkan hasil kerja terbaik dan daya tahan dalam
lain, memperhitungkan berbagai ketentuan untuk bekerja secara kontinu dan konstan.
memenuhi keinginan dan selera publik. Tentang kepengrajinan, Sennett mengemukakan,
Dengan demikian, apakah sesungguhnya mereka menjelajahi dimensi kepengrajinan itu. Pengrajin
kepengrajinan atau craftmanship itu? Pertanyaan ini memiliki keterampilan, komitmen dalam bekerja, dan
dilontarkan Richard Sennett dalam bukunya The kem ampuan berpikir spesifik. Semua
Craftman (2008). Pemikiran Sennett bertumpu pengrajin yang baik (good
pada sebuah proyek besar craftman) menyadari
pengkajian sejarah peradaban kedekatan hubungan tangan
dunia melalui studi dan kepala. Pada kerja
perbandingan untuk pengrajin terjadi dialog di
memahami material culture antara praktik konkret dan
(kebudayaan material) pada proses berpikir yang tampil dalam
perkembangan dunia sekarang ini. bentuk pencarian dan pengenalan
Sennett mulai dari pangkal kebu-yaan masalah (problem finding) dan
material yang tercermin pada homo penyelesaian masalah (problem
faber atau man as maker itu. solving). Sennett menulis, “Pengrajin
Sennett mengkritik pengertian yang baik selalu berusaha
istilah-istilah “craftmanship” dan menyelesaikan pekerjaan dengan
“craftman” yang mencerminkan sebaik-baiknya demi pekerjaan itu sendiri
kesalahan peradaban Barat dan bukan demi hal-hal lain.”
(Western civilization) memahami Dengan persepsi semacam itu
homo faber. Peradaban Barat Sennett mengemukakan pengrajin bukan
menghubungkan kedua istilah hanya hanya mereka yang membuat produk pe-
dengan “kerja tangan” dan kerjaan tangan yang disangka orang selama
memisahkannya dari “kerja memikir”. ini. Pengrajin adalah seniman yang unggul,
Dengan persepsi ini kerajinan (craft)—hasil ilmuwan unggul, pengacara unggul, ahli komputer
kepengrajinan (craftmanship)—dipisahkan dari seni (art), unggul bahkan pemusik yang unggul. Pengrajin, menurut
ekspresi yang diyakini mengandung pemikiran. Sennett, menggunakan pemecahan masalah untuk terus-
Sennett menyangkal pandangan umum yang percaya menerus membuka teritori baru di wilayah pekerjaan
bahwa kepengrajinan sudah tidak relevan lagi dipersoalkan mereka. Sennett menegaskan pengrajin itu ada di banyak
pada abad industri ini karena semua produk merupakan bidang dan masih hadir pada kehidupan sekarang.
hasil kerja mesin. Sejalan dengan kritik ini ia menyatakan Sasaran pemikiran Sennett adalah reformasi kesada-
kepengrajinan bukan persoalan masa lalu seperti dilihat ran dalam memahami kebudayaan material. Berhenti
antropolog: kepengrajinan merupakan bagian dari seni memperhatikan hanya produk man as maker dan mulai
tradisi dan merupakan keahlian yang diajarkan turun- memperhatikan bagaimana produk itu “dilahirkan”
temurun pada “masyarakat tradisional”—pada paham —memahami pengertian homo faber yang sebenarnya.
modernisme masyarakat yang “belum modern”. Kepengrajinan seharusnya dirayakan masyarakat dan
Dasar pemikiran filosofis Sennett adalah melihat ini bukan tidak mungkin dalam kehidupan sekarang. Pada
secara kritis kebudayaan material. Ia melihat materialisme hakikatnya craftman tersebar di kalangan masyarakat. Ciri-
yang mendasari perkembangan peradaban Barat menga- ciri mereka bisa dilihat jelas, komitmen dalam bekerja dan
baikan seluk-beluk kepengrajinan dan sikap pengrajin kecenderungan mencari dan memecahkan masalah. Hasil
dalam bekerja. Materialisme memusatkan perhatian pada kerja mereka menunjukkan kepengrajinan.***

Rumah Pengrajin | Vol. I No.1/Juli-Agustus 2010 03


dengan deras, yang mau tidak mau menggeser tenaga
kerja perempuan di sektor pertanian. Kaum perempuan
pedesaan yang relatif tidak bisa keluar dari desa
dibandingkan laki-laki untuk bekerja telah memilih sektor
kerajinan yang berbasis rumah tangga sebagai salah satu
sumber penghasilan keluarga.
Aktifnya perempuan dalam pekerjaan di lingkup rumah
tangga dan dalam pekerjaan lain yang menghasilkan,
mengutip Pudjiwati Sajogyo, ialah karena perempuan
memiliki pandangan bahwa pekerjaan-pekerjaan tersebut
memiliki nilai yang berguna dan bermanfaat bagi diri
mereka. Karakter seperti ini di kalangan perempuan
pedesaan biasanya diajarkan khususnya kepada anak-
anak perempuan. Tujuannya agar mereka bisa melakukan
hal yang sama di kemudian hari. Keuntungan positif dari
pandangan ini adalah memberikan bekal pada mereka
sambungan dari hal. 2 bahwa mencintai pekerjaan akan memberikan rasa aman
sendiri. Ditemukan juga kegiatan ekspor-impor dari dan dan kesenangan pada diri.
keluar Jawa. Groeneveldt (1960) menyebutkan berita Cina Catatan ini mengarahkan kita untuk memperhatikan
Dinasti Song menyebutkan bahwa penduduk Jawa telah pentingnya pemberdayaan perempuan. Peran mereka
memelihara ulat sutera dan membuat kain sutera halus, sangat strategis meski secara ekonomi kontribusinya di
sutera kuning, dan kain dari katun. Industri sandang bawah laki-laki. Agnes Quisumbing (2001) menyampaikan
pedesaan juga ditunjang oleh para perajin pembuat temuan bahwa memberi perempuan input yang sama
warna-warna untuk tekstil. Hal ini diketahui dari prasasti dengan laki-laki dapat meningkatkan produktivitas
dengan adanya istilah mañawri (pembuat bahan cat pertanian sebesar dua puluh pesen, juga menambah
warna merah) dan mañambul (pembuat warna hitam). modal pada kaum perempuan sehingga dapat menjadi
Begitu pentingnya posisi pedesaan di masa lalu inti dari pengentasan kemiskinan.
menimbulkan pertanyaan, siapakah yang menjadi aktor Temuan-temuan yang melimpah selama beberapa
utama kegiatan produksi kerajinan-kerajinan itu? Dalam dekade menunjukkan peran dan kontribusi perempuan
masyarakat Jawa yang patriarkhal memang laki-laki begitu strategis. Oleh karenanya, adalah aneh bila dalam
mendominasi dalam pelbagai kegiatan sehari-hari dan praktiknya kaum perempuan sering terpinggirkan dalam
pengambilan keputusan. Juga, pekerjaan berat dalam pembangunan dan alokasi anggaran. Memberdayakan
produksi primer dan sekunder dikerjakan terutama oleh perempuan akan memberi manfaat lebih
laki-laki. Meskipun begitu, penelitian Pudjiwati Sajogyo luas. Agnes Quisumbing
(1983) mengenai perempuan dari berbagai strata sosial memberi contoh bahwa
di dua desa di Jawa Barat mendapatkan bahwa kaum meningkatkan status dan
perempuan yang tinggal di rumah untuk mengurus pendidikan perempuan
urusan rumah tangga lebih besar dibanding laki-laki. dalam rumah tangga
Kaum perempuan juga berperan menambah penghasilan berkontribusi terhadap
rumah tangga yang di antaranya bersumber dari kegiatan lebih dari setengah
produksi kerajinan berbasis rumah tangga. kasus gizi kurang
Saat ini kita bisa melihat sentra-sentra kerajinan yang pada anak-anak di
sudah berkembang maju didominasi oleh perempuan 90% penduduk
sebagai tenaga teknis terampil. Bisa disebutkan sebagai negara berkembang
contoh, sentra payung dan kelom geulis di Tasikmalaya, selama 1970-1995.
batik Cirebon, batik Pekalongan, dan batik Yogya. Fakta Sudah saatnya
ini tentu tidak terlepas dari keberadaan dan perkemba- perempuan mendapatkan
ngan industri kerajinan pada masa lalu. Secara internal hak-haknya yang wajar
karakter perempuan yang tekun dan rapi dalam untuk berdaya dan hidup
pekerjaan serta senang keindahan membuat mereka lebih baik. Sektor
sesuai dengan pekerjaan memproduksi barang kerajinan. kerajinan adalah salah
Apalagi setelah teknologi pertanian masuk ke pedesaan satu pintunya.***

Diterbitkan oleh: Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Jawa Barat Pembina: Netty Prasetiyani Heryawan,
Ferry Sofwan Arif, Herdiwan Iing Suranta, Agus Gustiar, Sendy Yusuf, Pemimpin Umum: Farid Muttaqin Juhaeri
Pemimpin Redaksi: Wildan Nugraha Redaksi: Sugeng Praptono, Eni Rusmiati Iskandar Fotografer: Dani Gumilang
Desain Visual: Riki Hariyadi Produksi: Yudiyana Sirkulasi: Galih Yuda Permata, Khairul Hakim Alamat Redaksi:
Gedung Jabar Craft Center, Jl. Ir. H. Juanda 19, Bandung Telp: (022) 4203914 Website: www.dekranasjabar.com

Rumah Pengrajin | Vol. I No.1/Juli-Agustus 2010 04


Profil
Waditra Craft gamelan tradisional dalam skala mini yang dijadikan
cendera mata. Bahan baku yang digunakan ialah
Fokus bambu, kulit, kayu, logam, dan serat kaca. Untuk
pesanan yang tidak bisa ditangani sendiri, Waditra
Kunci Craft memiliki tiga rekanan perajin yang mampu
memproduksi barang dengan kualitas sama di bawah
Usaha supervisi Tine langsung.
Kerajinan Tine memperkirakan omzet Waditra Craft kini
mencapai Rp 20 juta per bulan. Dari pendapatan
tersebut, laba bersih yang bisa diperoleh sekitar 40
persen atau Rp 8 juta per bulan. Para pemesan miniatur
gamelan datang dari kalangan yang beragam, mulai dari

P ada tahun 2005, Tine Mulyatini(40) memulai


usaha kerajinan tangan Waditra Craft. Usaha itu
berkembang lumayan sukses. Berbagai
penghargaan juga sempat diraih. Kemudian sejak tahun
2008, Tine memutuskan untuk lebih fokus dalam
perorangan, institusi pemerintah, perbankan, hingga
kalangan perhotelan.
Menjalani usaha kerajinan ini Tine mengaku
mengalami jatuh bangun. Bukan tidak pernah Waditra
menangani usahanya itu. Dia mundur dari pekerjaannya Craft sepi dari order atau mengalami kerugian. Namun,
sebagai sekretaris di salah satu perusahaan tekstil di Tine senantisa belajar dari pengalaman. Salah satunya,
Bandung. dengan memilih untuk fokus menangani bisnisnya dan
Sejak 2008 itu, usahanya pun kian berkembang. melepas-kan pekerjaannya sebagai sekretaris yang
Jaringan pemasaran Waditra Craft bertambah luas. sudah dijalaninya sela-ma sepuluh tahun itu.
“Sebelumnya, banyak order yang gagal karena Untuk memasarkan
konsumen rata-rata ingin bertemu pada jam kerja. usahanya Tine rajin
Sekarang, saya lebih leluasa untuk bertemu konsumen mengikuti pameran.
atau melakukan lobi-lobi,” ujar Tine, Jumat (4/6/2010), Tidak hanya
saat ditemui di lokasi sanggar Waditra Craft, Jalan berpameran di dalam
Sadang Serang Raya Nomor 8, Kelurahan Sekeloa, negeri, tapi sampai ke
Kecamatan Coblong, Bandung. luar negeri. Pada tahun
Waditra Craft mempoduksi miniatur gamelan Sunda, 2006, Waditra Craft
seperti angklung, kecapi, rebab, saron, goong, bonang, menjadi duta seni Dinas
gambang, dan kendang. Kata waditra sendiri dalam Kebudayaan dan
bahasa Sunda berarti alat musik. Tidak semata mencari Pariwisata Jawa Barat
uang, Tine memang memiliki kecintaan terhadap pada acara Tong-tong
budaya Sunda. Fair di Den Haag,
Kini, Waditra Craft memperkerjakan delapan Belanda.
pengrajin. Dari tangan-tangan terampil itulah lahir (Wildan Nugraha)

Berita Dari wacana itu diturunkan tema-tema


yang beragam dalam dunia fashion
dan desain: Technatura, Replay,
Hullabaloo, dan Wonderlush.***
Seminar Fashion &
Design Trend 2011 Pekan Kerajinan
Kamis, 10 Juni 2010, Dekranasda
Jawa Barat 2009
Jabar menggelar seminar Fashion & Sebanyak 45 ribu orang mengunju-
Design Trend 2011. Bertempat di aula ngi Pekan Kriya Jawa Barat (PKJB)
Jabar Craft Center, Jalan Dago 19, dewasa ini terjadi pada alam dan 2009 pada 23-27 Desember 2009 di
Bandung, Irvan A. Noe'man (Yayasan manusia, seperti bencana alam Graha Manggala Siliwangi, Jalan
Indonesia Creative Center) dan Dina bertubi, perubahan iklim global, dan Aceh, Bandung. Total nilai transaksi
Midiani (Asosiasi Pengusaha dan banjir informasi. Dari segala mencapai Rp 1,5 miliar. Hal ini
Perancang Mode Indonesia), dua perubahan itu, tersirat sebuah kondisi terjadi di luar dugaan panitia.
narasumber seminar, membawakan yang menuntut manusia untuk bisa “Alhamdulillah,jumlah pengunjung
materi bertajuk “Trend 2011: Surf- bertahan dalam sebuah gelombang sangat banyak, bahkan delapan kali
Vival”. Wacana tersebut beranjak dari yang kadang takpasti: selalu menjaga lipat melebih yang kita targetkan.
tanda-tanda perubahan besar yang keseimbanan, senantiasa “surf-vival”. Diharapkan melalui PKJB ini kita bisa

Rumah Pengrajin | Vol. I No.1/Juli-Agustus 2010 05


kecuali untuk kemajuan dunia kerajinan. Miss Lebanon Kunjungi
Berbekal kesadaran demikian, Dekra- Jabar Craft Center
nasda Jabar melakukan revitalisasi
Perpustakaan Kerajinan di Gedung Jabar
Craft Center (JCC), Bandung. Pelatihan
ilmu dan manajemen perpustakaan,
yang terbatas untuk 15 peserta, digelar
sepanjang Maret hingga Mei 2010 di
JCC. Ke depan, di JCC akan didirikan Per-
pustakaan Kerajinan yang terbuka untuk
memasyarakatkan kerajinan Jabar,” umum. Diharapkan masyarakat luas,
ungkap Iwa Karniwa, Penanggung utamanya pengrajin, dapat memanfaat-
Jawab Kegiatan PKJB 2009 yang kan fasilitas ini untuk kemajuan industri Dalam rangkaian acara lawatan kebuda-
saat itu juga menjabat Kepala Badan kerajinan, khususnya di Jawa Barat. yaan ke Kota Bandung, rombongan Ratu
Promosi dan Penanaman Modal Kecantikan atau Miss Lebanon Martine
Daerah (BPPMD) Jabar, di sela-sela Andraos mengun-jungi Gedung Jabar
penutupan PKJB 2009,sebagaimana Craft Center (JCC) pada Senin, 7 Juni
dikutip media massa. 2010. Rombongan disambut Ketua
Dekra-nasda Provinsi Jawa Barat Ny.
Revitalisasi Netty Prasetyani Heryawan. Dalam
Perpustakaan Kerajinan kesempatan itu, didampingi Mojang dan
Buku atau pustaka adalah gudang ilmu. Jajaka Jawa Barat, Martine mengap-
Rumah pustaka, dengan demikian, ada- resiasi hasil seni kerajinan tangan dari
lah sebuah tempat berharga. Tidak ter- 26 Kota dan Kabupaten se-Jabar. (WN)

Agenda Pelatihan Manjemen


Penerbitan Buku
Gedung JCC, Bandung, hingga 26 Juni
2010. Acara gratis dan terbuka untuk
Dalam rangka menginisiasi Penerbit umum. Peserta dibatasi dengan
Buku Pustaka Kriya Jabar, Dekranasda sistem seleksi. Informasi lebih lanjut:
Provinsi Jawa Barat akan mengadakan Wildan (0817613420 & 92464249),
Pelatihan Manajemen Penerbitan Asti (081395141473).
Pelatihan Sulam Pita
Dekranasda Jabar akan mengadakan Buku. Program ini berlangsung pada
Pelatihan Sulam Pita pada Juli 2010 di Gedung JCC, Bandung. Pelatihan Kiat Sukses
pertengahan Juni 2010 di Gedung Perekrutan peserta pelatihan dibuka Mengikuti Pameran Dagang
Jabar Craft Center (JCC), Jalan Ir. H. sampai 26 Juni 2010. Program ini
Juanda 19, Bandung. Dalam pelatihan gratis dan terbuka bagi mahasiswa, Dekranasda Jabar akan menggelar
ini para peserta akan mendapatkan pegiat dunia perbukuan, dan pelatihan sehari bertajuk “Kiat Sukses
ilmu dan pengetahuan seputar masyarakat umum yang memiliki Mengikuti Pameran Dagang di Dalam
kerajinan sulam pita dari para minat serta kompetensi di bidang dan Luar Negeri” pada tanggal 20 Juni
praktisinya. Acara ini gratis dan penerbitan buku. Peserta dibatasi 2010. Acara ini gratis dengan peserta
terbuka untuk umum. Peserta dibatasi dengan sistem seleksi. Informasi lebih dibatasi sebanyak 40 orang. Dari
sebanyak 30 orang. Bagi yang lanjut dapat menghubungi Wildan pelatihan ini diharapkan peserta dapat
berminat dapat menghubungi (0817613420 & 92464249) dan Asti mendapatkan berbagai ilmu dan
sekretariat Dekranasda Jabar di (081395141473). informasi seputar penyelenggaraan
Gedung JCC, Bandung (Tlp. 022 pameran dagang di dalam dan luar
4208779). Juga dapat menghubungi Pelatihan Jurnalistik dan negeri. Informasi dan pendaftaran:
Asti (081395141473). Manajemen Majalah Kerajinan Yudiana (022 91175396) dan Asti
Dekranasda Jabar akan (081395141473).
Mengupas Buku di JCC menyelenggarakan Pelatihan
Dalam rangka soft launching Jurnalistik dan Manajemen Majalah. Pelatihan Ekspor di JCC
Perpustakaan Kerajinan Jawa Barat, Berlangsung pada Juli 2010 di Gedung Dekranasda Jabar akan
Dekranasda Jabar akan mengadakan JCC, Bandung, pelatihan ini dalam menyelenggarakan pelatihan
acara “Mari Mengupas Buku” pada 26 rangka mengInisiasi Majalah “Memahami Prosedur Ekspor Produk
Juni 2010 di Gedung JCC, Bandung. Dekranasda Provinsi Jawa Barat. Kerajinan: Sukses Menembus Pasar
Buku yang akan dikupas berjudul Beragam materi seputar jurnalistik, Luar Negeri” pada bulan Juli 2010 di
Make Over Furniture karya Taufiq kerajinan, dan manajemen penerbitan Gedung JCC, Bandung. Acara ini gratis
Mardianto. Acara ini terbuka untuk majalah akan disampaikan dalam terbuka untuk umum, khususnya
umum. Informasi lebih lanjut dapat pelatihan ini. Peserta yang berminat pengrajin (peserta dibatasi 30 orang).
menghubungi Jiman (085759010477) dipersilakan mendaftarkan diri ke Pascapelatihan, peserta akan didorong
dan Deny (08562035327). sekretariat Dekranasda Jabar di untuk melakukan ekspor

Rumah Pengrajin | Vol. I No.1/Juli-Agustus 2010 06