Anda di halaman 1dari 10

No. 32 Vol.1 Thn.

XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

STUDI HUBUNGSINGKAT UNTUK GANGGUAN DUA FASA ANTAR


SALURAN PADA SISTEM TENAGA LISTRIK
(Studi Kasus : PT. PLN Sumbar-Riau 150 KV)

Ichwan Yelfianhar
Jurusan Teknik Elektro, Universitas Negeri Padang
Padang, Sumatera Barat

ABSTRAK
Perluasan sistem tenaga yang dilakukan oleh PT. PLN Sumbar-Riau menuntut perlunya
analisa ulang terhadap rating peralatan pemutus tenaga (Circuit Breaker), supaya Circuit
Breaker (CB) dapat mengamankan sistem tenaga listrik terhadap bahaya gangguan terutama
gangguan hubungsingkat tidak simetris dua fasa antar saluran. Untuk hal itu dilakukan studi
hubungsingkat pada sistem tenaga listrik PT. PLN Sumbar–Riau 150 KV. Perhitungan arus
gangguan hubungsingkat tidak simetris ini didasarkan matriks impedansi rel dengan alat bantu
perhitungan, digunakan komputer digital dengan bantuan software Matlab. Kesimpulan yang
diperoleh adalah arus gangguan yang terbesar, kapasitas Circuit Breaker (CB) dan kapasitas
pemutusan. Adapun hasil yang diperoleh untuk gangguan tidak simetris dua fasa antar saluran,
gangguan terbesar terjadi pada bus 18 (Salak) dengan arus gangguan sebesar 184.7025 pu,
kapasitas CB sebesar 29552.4000 MVA dan Kapasitas pemutusan sebesar 22164.3000 MVA.

Keyword : Studi hubungsingkat, Gangguan Tidak Simetris Dua Fasa Antar Saluran, Kapasitas
Circuit Breaker (CB), Kapasitas Pemutusan

1. PENDAHULUAN itu berubah relatif lambat dari nilai awalnya ke


Didalam sistem tenaga listrik, studi arus nilai keadaan mantapnya.
hubungsingkat merupakan hal yang penting Pada umumnya ada 4 macam gangguan
terutama untuk perencanaan, perancangan serta hubungsingkat yang ada pada sistem tenaga
perluasan sistem tenga listrik. Data yang yaitu gangguan tiga fasa simetris, gangguan
diperoleh dari perhitungan ini akan digunakan tidak simetris satu fasa ke tanah, gangguan tidak
untuk menentukan penyetelan relai dan simetris dua fasa ke tanah dan gangguan tidak
kapasitas pemutus tenaga. Pemilihan pemutus simetris antar fasa. Apabila gangguan ini sering
rangkaian untuk sistem tenaga listrik tidak hanya terjadi dan tidak cepat diatas maka akan dapat
tergantung pada arus yang mengalir pada menyebabkan kerusakkan pada peralatan
pemutus rangkaian dalam keadaan kerja normal tegangan seperti transformator, generator dan
saja tetapi juga pada arus maksimum yang sebagainya.
mungkin mengalirinya beberapa waktu dan pada Untuk transformator, dikarenakan besarnya
arus yang mungkin harus diputuskannya pada arus yang lewat maka akan timbul rugi daya
tegangan saluran dimana pemutus itu yang besar dan dirubah menjadi panas sehingga
ditempatkan. dapat merusak isolasi pada transformator
Jika terjadi gangguan pada jaringan sistem tersebut, sehingga akan terjadi kecenderungan
tenaga listrik, arus yang mengalir akan flash over pada kumparan transformator pada
ditentukan oleh emf-internal mesin pada jairngan generator. Saat sekarang ini, studi hubung
impedansinya dan impedansi pada jaringan singkat pada sistem yang besar, saling
antara mesin dengan titik tempat terjadinya terinterkoneksi akan melibatkan perhitungan-
gangguan tersebut. Arus yang mengalir dalam perhitungan yang kompleks dan membutuhkan
mesin serempak segera setelah terjadinya tingkat kecermatan yang tinggi. Oleh karena itu
gangguan, yang mengalir beberapa periode dalam studi arus hubungsingkat ini sebagai alat
kemudian dan terus bertahan atau dalam keadaan bantu dalam perhitungan digunakan software
tetap, nilainya berbeda cukup jauh karena Matlab.
pengaruh arus jangkar pada fluks yang
membangkitkan tegangan dalam mesin itu. Arus Tujuan dari penelitian ini untuk menghitung
besarnya arus dan tegangan hubungsingkat tidak

TeknikA 69
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

simetris dua fasa antar saluran di setiap busbar seperti petir, salju, es, angin, banjir, gempa, dsb.
jika terjadi gangguan di salah satu busbar pada Gejala-gejala alamiah lain yang terjadi pada
sistem kelistrikkan PT. PLN Sumbar-Riau dan saluran 60 KV adalah gangguan oleh binatang
mengevaluasi apakah peralatan pemutus seperti burung dsb. Dari jenis-jenis gangguan
rangkaian memiliki rating yang cukup untuk yang terjadi, yang paling besar jumlahnya adalah
gangguan hubungsingkat maksimum. hubung singkat satu fasa dengan tanah. Alat
yang paling banyak menderita kerusakan adalah
2. STUDI HUBUNGSINGKAT isolator.
Jenis gangguan dibagi menjadi dua kategori
Studi hubung-singkat dilakukan untuk
yaitu:
menentukan besarnya arus yang mengalir
a. Gangguan simetris
melewati sistem tenaga listrik pada berbagai
b. Gangguan tak simetris
jarak waktu setelah gangguan terjadi. Besarnya
Salah satu contoh gangguan simetris adalah
arus yang mengalir melewati sistem tenaga
gangguan tiga fasa simetris yang mana terjadi
listrik setelah gangguan berubah menurut waktu
pada saat ketiga fasanya terhubung singkat
sampai mencapai kondisi tetap. Selama kondisi
melalui atau tanpa impedansi. Gangguan tak
gangguan, sistem proteksi diperlukan untuk
simetris terdiri dari gangguan hubung singkat tak
mendeteksi, menghilangkan dan mengisolasi
simetris, gangguan tak simetris melalui
gangguan tersebut. Hal ini dapat dilakukan pada
impedansi dan penghantar terbuka. Gangguan
bermacam-macam gangguan (tiga fasa simetris,
hubung singkat tak simetris terjadi sebagai
fasa ke fasa, dua fasa ke tanah, dan satu fasa ke
gangguan tunggal saluran ke tanah, gangguan
tanah) pada lokasi yang berbeda dari
antar saluran, serta gangguan ganda ke tanah.
keseluruhan sistem.
Bila hubungsingkat dibiarkan berlangsung
Setiap kesalahan dalam suatu rangkaian yang
agak lama pada suatu sistem tenaga listrik maka
menyebabkan terganggunya aliran arus yang
pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan dapat
normal disebut gangguan. Sebagian besar dari
terjadi :
gangguan-gangguan yang terjadi pada saluran
1. Berkurangnya batas-batas kestabilan untuk
transimisi tegangan 115 KV atau lebih
suatu sistem tenaga listrik
disebabkan oleh petir yang mengakibatkan
2. Rusaknya peralatan yang berada dekat
terjadinya percikan bunga api (flashover) pada
dengan gangguan yang disebabkan oleh arus
isolator. Tegangan tinggi yang ada di antara
yang besar, arus yang tidak seimbang atau
penghantar dan menara atau tiang penyangga
tegangan-tegangan rendah yang ditimbulkan
yang diketanahkan (grounded) menyebabkan
oleh hubungsingkat.
terjadinya ionisasi. Ini memberikan jalan bagi
3. Ledakan-ledakan yang mungkin terjadi pada
muatan listrik yang diinduksi (diimbas) oleh
peralatan yang mengandung minyak isolasi
petir untuk mengalir ke tanah. Dengan
sewaktu terjadinya hubung singkat dan yang
terbentuknya jalur ionisasi ini, impedansi ke
mungkin menimbulkan kebakaran sehingga
tanah menjadi rendah. Ini memungkinkan
dapat membahayakan orang yang
mengalirnya arus fasa dari penghantar ke tanah
menanganinya dan merusak peralatan-
dan melalui tanah menuju “netralnya”
peralatan lain.
transformator atau generator yang diketanahkan
4. Terpecah-pecahnya keseluruhan daerah
sehingga terjadilah rangkaiian tertutup.
pelayanan sistem tenaga listrik itu oleh suatu
Oleh karena letaknya yang tersebar di
rentetan tindakan pengamanan yang diambil
berbagai daerah maka saluran transmisi
oleh sistem-sistem pengamanan yang
mengalami gangguan-gangguan baik yang yang
berbeda.
disebabkan oleh alam maupun oleh sebab-sebab
Tindakan pengamanan yang dapat diambil
lain. Pada saluran transmisi diatas 187 KV
dalam melindungi sistem tenaga listrik adalah
jumlah gangguannya adalah 1.1 per 100 Km per
dengan jalan pemisahan (Isolation) bagian yang
tahun, pada 110 – 154 KV adalah 2.4 per 100
terkena gangguan. Dalam sistem-sistem tenaga
Km pertahun, pada 44 – 77 KV adalah 5.8 per
listrik yang modern, proses meniadakan hubung
100 Km pertahun sedangkan pada saluran 33
singkat ini dilaksanakan secara otomatis tanpa
KV ke bawah adalah 1.0 per 100 km per tahun.
adanya campur tangan manusia. Peralatan yang
Hampir semua gangguan pada saluran 187 KV
melakukan pekerjaan ini secara kolektif dikenal
ke atas disebabkan oleh petir dan lebih dari 70%
sebagai sistem perlindungan (Protection
dari semua gangguan pada saluran 110 – 154
System).
KV disebabkan karena gejala-gejala alamiah

TeknikA 70
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

2.1 Gangguan Tidak Simetris Dua Fasa Dengan suatu sambungan netral generator ke
Antar Saluran tanah, Z0 adalah terbatas (finite) sehingga
Bila terjadi gangguan dalam jaringan
sistem tenaga listrik, arus yang mengalir akan Va0 = 0 (2.9)
ditentukan oleh emf-internal mesin pada jaringan = 0 maka
Karena I a0 persamaan (2.13)
impedansinya dan impedansi pada jaringan
antara mesin dengan titik tempat terjadinya menjadi
gangguan tersebut. Arus mengalir dalam mesin
serempak segera setelah terjadinya gangguan,  0  0   Z0 0 0  0  
  − 0 Z  I  
=
yang mengalir beberapa periode kemudian, dan
yang terus bertahan, atau dalam kedaan tetap,  Va1  fV
 1 0
 (2.10)
a1  
nilainya berbeda cukup banyak karena pengaruh  Va2   0   0 0 2Z −  Ia1  
arus jangkar pada fluks yang membangkitkan
Dengan menyelesaikan operasi matriks yang
tegangan dalam mesin itu. Arus itu berubah
ditunjukkan itu dan memperkalikan persamaan
relatif lambat dari nilai awalnya ke nilai
keadaan tetapnya. Untuk gangguan antar saluran, matriks yang dihsilkan dengan matriks [ 1 1 1]
berlaku hubungan berikut diperoleh
Vb = Vc ( 2.1) 0 = Vf − Ia1Z1 − Ia1Z2 (2.11)
Ia = 0 ( 2.2 ) Sehingga didapatkan
I b = − Ic ( 2.3 ) Vf
Ia1 = (2.12)
a Z1 + Z2
Karena Ia0 = 0 dan Ia2 = − Ia1 dari
b persamaan (2.7) dan (2.8) akan diperoleh
I b Va0 = 0

c Va1 = Vf − Z1Ia1 (2.13)


I c
Va2 = Z 2 Ia1
Gambar-2.1. Diagram Segaris Untuk Besar arus gangguan fasa b dan c dengan
Gangguan Antar Saluran menggunakan komponen simetris, yaitu:

Dengan Vb = Vc komponen-komponen
2
I b = Ia a − a ( )
(2.14)
simetris tegangan diberikan oleh Ic = Ia a − a
2
( )
Va0  1 1 1   Va 
  1 2   Karena Va0 = 0 dan Va1 = Va2 , maka besar
 Va1  = 3 1 a a  Vb  (2.4) tegangan gangguan adalah:
Va2  1 a 2 a   Vc  Va = 2Va1 (2.15)

( )
Sehingga diperoleh 2
Va1 = Va2 Vb = Va1 a + a (2.16)
(2.5)

Vc = Va1 ( a + a )
Karena I b = − Ic dan Ia = 0 komponen 2
(2.17)
simetris arus diberikan oleh:
Ia0  1 1 1   0  2.2 Model Sistem
  1 2   Dalam berbagai kasus, diagram segaris
 Ia1  = 3 1 a a  -Ic  (2.6) berbeda-beda sesuai dengan persoalan yang akan
Ia2  1 a 2 a   Ic  diselesaikan. Dalam menggambarkan diagram
segaris tersebut ada beberapa komponen sistem
Sehingga tenaga listrik yang diabaikan. Pengabaian ini
Ia0 = 0 (2.7) bertujuan untuk menyederhanakan perhitungan
terutama jika perhitungan dilakukan secara
Ia2 = − Ia1 (2.8)

TeknikA 71
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

manual. Komponen-komponen dari suatu sistem primitif urutan positif lalu matrik admitansi
tenaga listrik pada umumnya terdiri dari : pusat positif ini dinvers sehingga diperoleh matrik
pembangkit, dalam hal ini yang digambarkan impedansi positif.
adalah generatornya., tansformator daya, saluran 4. Menentukan Matrik Admitansi Urutan
transmisi, kondesator sinkron arus statis, alat Negatif
pengaman ( pemutus daya dan relai-relai) dan Untuk menentukan matrik admitansi negatif,
beban yang terdiri dari beban dinamik dan beban terlebih dahulu ditentukan matrik admitansi
statis. Berikut ini contoh diagram segaris yang primitif urutan negatif lalu matrik admitansi
biasanya digunakan dalam studi arus negatif ini dinvers sehingga diperoleh matrik
hubungsingkat. impedansi negatif.
P LT A
M A N IN J A U PAD AN G
LU A R
PA Y A
KU M BU H
G AR U D A
SA K T I DURI
5. Menentukan Matrik Admitansi Urutan Nol
Untuk menentukan matrik admitansi urutan
20M VA P LT A
K O T O PA N J A N G
4 x 17M W
3 0 + 20 M VA
10 M V A 2 x 50 M V A 20 M VA

nol, terlebih dahulu ditentukan matrik


BAT AN G
A G AM

P LT A
B AN G K IN A N G

admitansi primitif urutan nol lalu matrik


3 x 3,5 M W

P LT G D U M AI
3 1,5 M VA
TE LU K LE M B U

LU B U K
ALU N G
60 + 30 M V A
30 M V A
admitansi nol ini dinvers sehingga diperoleh
20 + 10 M VA
matrik impedansi nol.
6. Menentukan besarnya arus momentari.
P IP
PL T A
SIN G K A R A K

5 M VA
BAT U
SAN GKAR

10 M VA
Arus gangguan total dua fasa antar saluran
20 + 30 M VA 4 x 4 3,75 M V A P S

yang terjadi pada bus k :

I
( 1) =-
Vf
fa ( k ) ( 1) ( 2 ) (3.1)
IN D A R U N G
P LT G SO LO K
P U H LIM O P LT U

Zkk +Zkk +Zf


O M BIL IN
2 0M V A

48 M V A 1 0 + 3 0 M V A 2 x 30M VA
PS
2 x 1 00 M V A

I
( 2 ) =-I( 1)
S IM PA N G
fa ( k ) fa ( k ) (3.2)
H AR U S AL AK

2 x 42 M V A 20 M V A

Gambar-2.2 Diagram Segaris Sistem Tenaga I


( 0 ) = 0.0000
fa ( k ) (3.3)
Listrik 20 Bus (PT. PLN Sumbar-Riau)

Perhitungan Studi Hubungsingkat Pada Dimana jika tidak diketahui nilai Zf = 0.0000 .
Sistem Tenaga Listrik Untuk Gangguan
Tegangan pada masing-maing bus selama
Tidak Simetris Dua Fasa Antar Saluran
terjadinya gangguan :
Dalam perhitungan studi hubungsingkat ini
dilakukan perhitungan arus momentari dan arus (1) 1( ) 1
Via =Vf - I fa(j)Zij
( ) (3.4)
interupting. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan dalam perhitungan arus momentari
dan arus interupting ini sebagai berikut : ( 2 ) 2( ) 2 (
Via = -I fa(j)Zij
) (3.5)
1. Tentukan diagram jaringan urutan positif,
negatif dan nol Nilai dari masing-masing ( 0 ) 0( ) 0(
Via = -I fa(j)Zij
) (3.6)
diagram ditentukan dengan nilai reaktansi
urutan positif, urutan negatif dan dan urutan
nol  ( 0) 
2. Tranformasikan data-data dari komponen  Via  1 1 1   Via 
diatas ke dalam satuan perunit. (pu) dengan    2   V( 1) 
terlebih dahulu menentukan dasar Vib  = 1 a a
  ia  (3.7)
perhitungan.Untuk memilih dasar  Vic  1 a a 2   ( 2 ) 
perhitungan dapat dipilih salah satu Via 
komponen dalam diagram segaris seperti
Arus yang mengalir pada saluran selama
generator, motor, transformator maupun
gangguan adalah
saluran.
3. Menentukan Matrik Admitansi Urutan Positif
Untuk menentukan matrik admitansi positif,
terlebih dahulu ditentukan matrik admitansi

TeknikA 72
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

(1) 1( ) positif ini dinvers sehingga diperoleh matrik


I
(1) = V -V
ia ja (3.8)
impedansi positif.
ij(a) Z
ij 7.2 Menentukan Matrik Admitansi Urutan Negatif
( 2 ) 2( )
V -V
Untuk menentukan matrik admitansi negatif,
I
( 2) = jaia (3.9) terlebih dahulu ditentukan matrik admitansi
ij(a) Z primitif urutan negatif lalu matrik admitansi
ij
negatif ini dinvers sehingga diperoleh matrik
( 0 ) 0( ) impedansi negatif.
(I 0 ) = Via - Vja (3.10) 7.3 Menentukan Matrik Admitansi Urutan
i-j(a) Z
ij Nol
Untuk menentukan matrik admitansi urutan nol,
I  I( 0 ) 
terlebih dahulu ditentukan matrik admitansi
 ij( a )  1 1 1   
ij
   ( 1)  primitif urutan nol lalu matrik admitansi nol ini
I  = 1 a 2
a I ij  (3.11) dinvers sehingga diperoleh matrik impedansi
 ij( b )   
 I  1 a a  I( 2 ) 
2 nol.
 ij( c )   ij 
Arus momentari pada saluran Untuk menentukan besarnya arus dan tegangan
gangguan yang terjadi pada bus k digunakan

( )
persamaan (3.1) s/d (3.11) . Untuk menentukan
( m)
ij( a ) ( )
I = 1.6000 I F (3.12) arus interupting pada saluran tergantung pada
ij( a ) jumlah cycle yang terjadi. Adapun nilai cycle

I
( m)
ij( b )
= 1.6000 I
ij b( ( ) ( ))
F (3.13)
yang berlaku diantaranya :
- 2 cycle dengan nilai K = 1.4000

( ( ) ( ))
- 5 cycle dengan nilai K = 1.1000
( m)
I = 1.6000 I F (3.14) - 8 cycle dengan nilai K = 1.0000
ij( c ) ij c
Sehingga arus interupting pada saluran untuk
Penentuan kapasitas CB sebagai berikut : fasa a adalah :

( )
Kapasitas CB untuk fasa a : ( I)
1.6000 I (
ij( a ) ( F) ) MVAdasar (3.15)
I
ij( a )
=K I
ij( a ) ( )
F (3.18)

Sehingga arus interupting pada saluran untuk


Kapasitas CB untuk fasa b : fasa b adalah :

1.6000 I (
ij( b ) ( F) ) MVAdasar (3.16)
I
( I)
ij( b ) (
=K I
ij( b ) ( F) ) (3.19)
Kapasitas CB untuk fasa c :

( )
Sehingga arus interupting pada saluran untuk
1.6000 I
ij( c ) ( F) MVAdasar (3.17) fasa c adalah :

7. Menentukan besarnya arus interupting :


I
( I)
ij( c )
=K I(ij( c ) ( )
F ) (3.20)

Untuk menentukan arus interupting pada Penentuan kapasitas pemutusan :


Kapasitas Pemutusan Saluran untuk fasa a
gangguan hubungsingkat tidak simetris 2φ antar
adalah
saluran, terlebih dahulu dibentuk matrik

ij( a ) ( )
admintansi urutan positif, urutan negatif dan KI F MVAdasar (3.21)
urutan nol dengan mengganti reaktansi
subtransien dengan reaktansi transien khusus Kapasitas Pemutusan Saluran untuk fasa b
untuk beban yang berupa motor kemudian adalah
dilakukan perhitungan sebagai berikut :
ij( b ) ( )
7.1 Menentukan Matrik Admitansi Urutan KI F MVAdasar (3.22)
Positif
Untuk menentukan matrik admitansi positif, Kapasitas Pemutusan Saluran untuk fasa c
terlebih dahulu ditentukan matrik admitansi adalah
primitif urutan positif lalu matrik admitansi

TeknikA 73
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

3 1.0300 ∠0 0 Bus PV
ij( c ) ( )
KI F MVAdasar (3.23)
4 1.0300 ∠0 0 Bus PV
Dalam perhitungan tanda minus pada arus 5 1.0300 ∠0 0 Bus PV
interupting tidak digunakan karena yang 6 Bus PV
1.0300 ∠0 0
diperlukan hanya harga mutlaknya dari besarnya
kapasitas pemutusan yang digunakan 7 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
8 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
4. Studi Hubungsingkat Gangguan Tidak 9 Bus PQ
1.0000 ∠0 0
Simetris Dua Fasa Antar Saluran Pada
Sistem Tenaga Listrik PT. PLN 10 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
Sumbar-Riau 150 KV 11 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
12 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
4.1 Data Sistem Tenaga Listrik PT. PLN
Sumbar-Riau 13 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
14 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
Data-data sistem tenaga listrik PT. PLN 15 Bus PQ
1.0000 ∠0 0
Sumbar-Riau yang terdiri dari 20 bus dengan
data dan asumsi sebagai berikut : 16 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
- Faktor daya setiap bus bernilai 0.85 17 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
- Tegangan perunit untuk Slack bus 1.05
18 1.0000 ∠0 0 Bus PQ
dan bus pembangkit bernilai 1.03
Selain setiap bus diberi nomor sebagai berikut 19 1.0000 ∠0 0 Bus PQ

Tabel-4.1 Data Nomor Tiap Bus Tabel-4.3 Data Pembangkitan Tiap Bus PT.
NO NAMA BUS TIPE BUS PLN Sumbar-Riau 150 KV
0 PLTU Ombilin Slack Bus Bus Pembangkitan
1 PLTG Pauh Limo Bus PV P (MW) Q (MVAR)
2 PLTA Maninjau Bus PV 0 - -
3 PLTA Batang Agam Bus PV 1 40.8000 -
4 PLTA Singkarak Bus PV 2 68.0000 -
5 PLTA Koto Panjang Bus PV 3 10.5000 -
6 PLTD Teluk Lembu Bus PV 4 148.7500 -
7 Dumai Bus PQ 5 114.0000 -
8 Duri Bus PQ 6 48.3000 -
9 Garuda Sakti Bus PQ 7 0.0000 0.0000
10 Bangkinang Bus PQ 8 0.0000 0.0000
11 Payakumbuh Bus PQ 9 0.0000 0.0000
12 Padang Luar Bus PQ 10 0.0000 0.0000
13 Lubuk Alung Bus PQ 11 0.0000 0.0000
14 PIP Bus PQ 12 0.0000 0.0000
15 Batusangkar Bus PQ 13 0.0000 0.0000
16 Indarung Bus PQ 14 0.0000 0.0000
17 Solok Bus PQ 15 0.0000 0.0000
18 Salak Bus PQ 16 0.0000 0.0000
19 Simpang Haru Bus PQ 17 0.0000 0.0000
18 0.0000 0.0000
Tabel-4.2 Data Tegangan dan Tipe Bus PT. 19 0.0000 0.0000
PLN Sumbar-Riau 150 KV
Bus Tegangan Jenis
pu
1 1.0500 ∠0 0 Bus Slack
2 1.0300 ∠0 0 Bus PV

TeknikA 74
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

Tabel-4.4 Data Beban Tiap Bus PT. PLN Tabel-4.6 Data Line Charging
Sumbar-Riau 150 KV PT. PLN Sumbar-Riau 150 KV
Bus Beban Line Y/2 perunit
P (MW) Q (MVAR) Dari Ke
0 - - Bus Bus
1 34.0000 21.0702 0 16 0.0175
2 17.0000 10.5356 0 18 0.0009
3 0.0000 0.0000 1 19 0.0024
4 4.2500 2.6339 1 13 0.0105
5 8.5000 5.2680 1 14 0.0027
6 76.5000 47.4120 2 12 0.0143
7 25.5000 15.8040 5 10 0.0054
8 17.0000 10.5360 5 9 0.0229
9 85.0000 52.6800 8 7 0.0077
10 26.7750 16.5942 9 6 0.0046
11 0.0000 0.0000 9 8 0.0153
12 42.5000 26.3400 10 9 0.1865
13 25.5000 15.8040 11 3 0.00007
14 42.5000 26.3400 11 5 0.0225
15 8.5000 5.2680 12 11 0.0109
16 51.0000 31.6080 13 4 0.0033
17 17.0000 10.5360 13 2 0.0155
18 17.0000 10.5360 14 13 0.0000
19 71.4000 44.2512 16 1 0.0026
17 16 0.0093
18 17 0.0085
Tabel-4.5 Data Saluran Urutan Positif
PT. PLN Sumbar-Riau 150 KV Dalam penelitian ini difokuskan pada studi
Line Z seri (pu) hubungsingkat di PT. PLN Sumbar-Riau 150
Dari Ke R X KV dengan melakukan simulasi untuk
Bus Bus (pu) (pu) mengamati perubahan tegangan, sudut phasa
0 16 0.0335 0.1205 pada tiap bus, arus antar saluran, kapasitas CB
0 18 0.0013 0.0046 dan kapasitas pemutusan jika terjadi gangguan
1 19 0.0037 0.0132 tidak simetris dua fasa antar saluran pada salah
1 13 0.0177 0.0635 satu bus pada sistem tersebut. Sebelum simulasi
1 14 0.0105 0.0377 perhitungan hubungsingkat dilakukan, terlebih
2 12 0.0220 0.0762 dahulu dihitung tegangan dan sudut phasa untuk
5 10 0.0055 0.0330 tiap bus pada sistem PT. PLN Sumbar-Riau 150
KV untuk keadaan tanpa gangguan dan
5 9 0.0192 0.1157
diperoleh hasil sebagai berikut :
8 7 0.0309 0.1101
9 6 0.0068 0.0412
Tabel-4.7 Data Tegangan dan Sudut Phasa
9 8 0.0614 0.2184 Tiap Bus Pada PT. PLN Sumbar-Riau 150 KV
10 9 0.0139 0.0838
Bus Magnitude Sudut Phasa
11 3 0.5575 1.2328
Tegangan degree
11 5 0.0321 0.1558 pu
12 11 0.0168 0.0580 0 1.0500 0.0000
13 4 0.0045 0.0221 1 1.0300 -4.6540
13 2 0.0297 0.1068 2 1.0300 -8.6800
14 13 0.0072 0.0258 3 1.0300 -8.6920
16 1 0.0035 0.0125 4 1.0300 -2.4330
17 16 0.0179 0.0639 5 1.0300 -24.2580
18 17 0.0144 0.0518 6 1.0300 -30.4240
7 0.8800 -36.6610

TeknikA 75
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

8 0.9090 -34.9870 Bus Magnitude


9 1.0080 -29.5530 Tegangan Phasa B
10 1.0230 -26.0850 (pu)
11 1.0040 -16.4400 1 0.5000
12 1.0010 -13.7000 2 0.5000
13 1.0260 -4.1850 3 0.5000
14 1.0220 -4.6650 4 0.5000
15 1.0270 -4.1630 5 0.5000
16 1.0270 -4.1630 6 0.5000
17 1.0340 -2.1810 7 0.5000
18 1.0480 -0.2070 8 0.5000
19 1.0220 -5.0790 9 0.5000
10 0.5000
Jika terjadi gangguan tidak simetris untuk 11 0.5000
gangguan antar saluran di bus 1 (PLTG Pauh 12 0.5000
Limo) diperoleh hasil sebagai berikut : 13 0.5000
14 0.5000
Tabel-4.8 Besar Tegangan Tiap Bus Jika 15 0.5219
Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh 16 0.5219
Limo ) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua 17 0.7288
Fasa Antar Saluran Fasa a 18 0.9763
Bus Magnitude 19 0.5000
Tegangan Phasa A
(pu) Tabel-4.10 Besar Tegangan Tiap Bus Jika
1 1.0000 Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh
2 1.0000 Limo ) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua
3 1.0000 Fasa Antar Saluran Fasa c
4 1.0000 Bus Magnitude
5 1.0000 Tegangan Phasa C
6 1.0000 (pu)
7 1.0000 1 0.5000
8 1.0000 2 0.5000
9 1.0000 3 0.5000
10 1.0000 4 0.5000
11 1.0000 5 0.5000
12 1.0000 6 0.5000
13 1.0000 7 0.5000
14 1.0000 8 0.5000
15 1.0000 9 0.5000
16 1.0000 10 0.5000
17 1.0000 11 0.5000
18 1.0000 12 0.5000
19 1.0000 13 0.5000
14 0.5000
15 0.5216
16 0.5216
17 0.7283
18 0.9764
19 0.5000
Tabel-4.11 Besar Tegangan Saluran Jika
Tabel-4.9 Besar Tegangan Tiap Bus Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh Limo)
Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua Fasa
Limo ) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua Antar Saluran
Fasa Antar Saluran Fasa b Fasa A

TeknikA 76
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

Saluran Magnitude Arus 1 F 18.3590


Dari Bus Ke (pu) 16 1 18.3590
Bus 17 16 9.1856
1 F 0.0000 18 17 9.1856
16 1 0.0000
17 16 0.0000 Tabel-4.16 Besar Arus Momentari Tiap Saluran
18 17 0.0000 Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh
Limo) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua
Tabel-4.12 Besar Tegangan Saluran Jika Fasa Antar Saluran Fasa C
Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh Limo) Saluran Magnitude Arus
Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua Fasa Dari Bus Ke (pu)
Antar Saluran Bus
Fasa B 1 F 18.3590
Saluran Magnitude Arus 16 1 18.3590
Dari Bus Ke (pu) 17 16 9.1856
Bus 18 17 9.1856
1 F 11.4744
16 1 11.4744 Tabel-4.17 Besar Kapasitas CB Tiap Saluran
17 16 5.7410 Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh
18 17 5.7410 Limo) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua
Fasa Antar Saluran
Tabel-4.13 Besar Tegangan Saluran Jika Saluran S(Momentari) (MVA)
Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh Limo) Dari Ke Phasa Phasa B Phasa C
Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua Fasa Bus Bus A
Antar Saluran 1 F 0.000 1835.904 1835.9040
Fasa C 0 0
Saluran Magnitude Arus 16 1 0.000 1835.904 1835.9040
Dari Bus Ke (pu) 0 0
Bus 17 16 0.000 918.5600 918.5600
1 F 11.4744 0
16 1 11.4744 18 17 0.000 918.5600 918.5600
17 16 5.7410 0
18 17 5.7410
Tabel-4.18 Besar Arus Interupting Tiap
Tabel-4.14 Besar Arus Momentari Tiap Saluran Saluran Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG
Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh Pauh Limo) Untuk Gangguan Tidak Simetris
Limo) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua Dua Fasa Antar Saluran
Fasa Antar Saluran Fasa A Saluran S(Interupting) pu
Saluran Magnitude Arus Dari Ke Phasa Phasa B Phasa C
Dari Bus Ke (pu) Bus Bus A
Bus 1 F 0.000 13.7693 13.7693
1 F 0.0000 0
16 1 0.0000 16 1 0.000 13.7693 13.7693
17 16 0.0000 0
18 17 0.0000 17 16 0.000 6.8892 6.8892
0
18 17 0.000 6.8892 6.8892
Tabel-4.15 Besar Arus Momentari Tiap Saluran 0
Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh
Limo) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua
Fasa Antar Saluran Fasa B
Saluran Magnitude Arus
Dari Bus Ke (pu) Tabel-4.19 Kapasitas Pemutusan Tiap Saluran
Bus Jika Terjadi Gangguan di Bus 1 (PLTG Pauh

TeknikA 77
No. 32 Vol.1 Thn. XVI November 2009 ISSN: 0854-8471

Limo) Untuk Gangguan Tidak Simetris Dua 5. Marta Yudha, Hendra, Ir, MS, “Diktat Studi
Fasa Antar Saluran Aliran Daya”, Universitas Sriwijaya
Saluran S(Interupting) (MVA) ( Unsri), Palembang, 1995
Dari Ke Phasa Phasa B Phasa C 6. M.A. PAI, “Computer Technigues in
Bus Bus A Power System Analysis”, Indian Institute of
1 F 0.0000 1376.928 1376.9280 Technology, New Delhi, 1984
0 7. Grainger, John & Stevenson, William, Jr,
16 1 0.0000 1376.928 1376.9280 “Power System Analysis”, McGraw-Hill,
0 New York, USA, 1993
17 16 0.0000 688.9200 688.9200 8. Stagg, Glenn W, El-Abiad, “Computer
18 17 0.0000 688.9200 688.9200 Methods in Power System Analysis”,
McGraw-Hill, Tokyo, 1981.
9. Hutauruk, Ir, Msc, “Transmisi Daya Listrik
Jika gangguan tidak simetris dua fasa antar
“, Erlangga, Jakarta, 1985
saluran terjadi pada bus 1 (Pauh Limo) maka
10. Gonen, Turan, “Electric Power
arus gangguan yang terbesar adalah 11.4744 pu
Transmission System Engineering
yang terjadi pada :
Analysis And Design”, John Wiley & Sons,
a. Saluran antara bus 1 (PLTG Pauh Limo) dan
California , 1988
lokasi gangguan (F)
11. Part-Enander, Eva & Sjoberg, Anders, “
b. Saluran antara bus 16 (Indarung) dan bus 1
The Matlab Handbook “,John Wiley &
(PLTG Pauh Limo)
Sons, California , 1999
dengan kapasitas CB 1835.9040 MVA dan
kapasitas pemutusan 1376.9280 MVA

Untuk gangguan tidak simetris dua fasa


antar saluran yang terjadi pada bus yang lain
dilakukan dengan cara yang sama dan pada
penelitian ini.

5. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan tentang studi
hubungsingkat pada sistem tenaga listrik PT.
PLN Sumbar-Riau 150 KV untuk gangguan
tidak simetris dua fasa antar saluran dapat
disimpulkan bahwa : arus gangguan terbesar
terjadi pada bus 18 (Salak) dengan nilai sebagai
berikut :
a. Arus gangguan sebesar 184.7025 pu
b. Kapasitas CB sebesar 29552.4000 MVA
c. Kapasitas pemutusan sebesar 22164.3000
MVA

DAFTAR PUSTAKA
1. Gonen, Turan ,“Modern Power System
Analysis” , Jhon Wiley & Sons, Inc,
Singapore, 1998.
2. Stevenson, W.D, Jr, “Analisis Sistem
Tenaga Listrik”, diterjemahkan oleh Idris,
Kemal Ir, Edisi Keempat, Erlangga, Jakarta,
1994.
3. Sianipar, Gibson , DR, Ir “Komputasi
Sistem Tenaga”, Institut Teknologi
Bandung (ITB), Bandung, 1998.
4. Gross, Charles A, “Power System Analysis”
, Jhon Wiley & Sons, Inc, Canada, 1986.

TeknikA 78