Anda di halaman 1dari 9

SEBUAH CERITRA SINGKAT BIOGRAFI

Imam Malik (93 - 179 H)

Oleh
TENGKU MUHAMMAD

2010
Imam Malik (93 - 179 H)
Beliaulah cikal bakal madhzab Maliki. Imam Malik yang bernama lengkap
Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman
bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 93 H/712 M dan
wafat tahun 179 H/796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial
tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah
Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke
Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk
agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ‘ilmu’ yang sangat
terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah.


Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari
ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat
kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa
saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya
untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai
derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan,
katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni
pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah
berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi’ bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az
Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin
Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi’in ahli hadits,
fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya
kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan.
Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al
Ma’mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam
Syafi’i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli
lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai
1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat
murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan
ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali
Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah
dan berkata, ”Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.”
Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala
dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah,
Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan
Ja’far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah
Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at (janji
setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun
merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai’at kepada khalifah yang
mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai’at tanpa keikhlasan


seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja’far meminta Imam Malik tak
menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja’far merasa
terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik
sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling
Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja’far seakan mengingatkan orang banyak,
ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan


keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan
untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada
sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim
di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan
uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun
ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir
hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun


Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al Muwatta’ yang diadakan
Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam.

”Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat


menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun
akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan
mencari manusia,” nasihat Imam Malik kepada Khalifah Harun.

Sedianya, khalifah ingin jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu


diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Malik. ”Saya tidak dapat
mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.” Sang
khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk
berdampingan dengan rakyat kecil.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero


dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis
bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang
shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila
menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak
pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para
cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam
Abu Hanifah yang mengunjunginya.

Beliau wafat pada tahun 179 hijrah ketika berumur 86 tahun dan
meninggalkan 3 orang putera dan seorang puteri.

Kitab Al Muwatta’

Al Muwatta’ adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan.


Santri mana yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya
di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai
memiliki banyak keistimwaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan
memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta’ tak akan lahir bila


Imam Malik tidak ‘dipaksa’ Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad,
Khalifah Al Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan
membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena
dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta’.
Ditulis di masa Al Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785
M).

Dunia Islam mengakui Al Muwatta’ sebagai karya pilihan yang tak ada
duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih
dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula,
kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya
memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa
dengan 16 edisi yang berlainan. Selain Al Muwatta’, Imam Malik juga menyusun
kitab Al Mudawwanah al Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik
atas berbagai persoalan.

Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan


mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain
fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta’, kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al
Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar
Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al
Madarik Syarh Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al
Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi),
menjadi rujukan utama mazhab Maliki.
Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal
amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara
berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-
Qur’an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal
ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang
tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak,


Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di
tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab Maliki kini menyusut.
Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran
dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat
ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.

Biografi

Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas Abi Amir al Ashbahi, dengan
julukan Abu Abdillah.

Ia lahir pada tahun 93 H, Ia menyusun kitab Al Muwaththa', dan dalam


penyusunannya ia menghabiskan waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan
kepada 70 ahli fiqh Madinah.

Kitab tersebut menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkan Al


Muwaththa’ lebih dari seribu orang, karena itu naskahnya berbeda beda dan
seluruhnya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling
masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.

Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber sumber hadits itu ada tujuh,
yaitu Al Kutub as Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan
Sunan ad Darimi sebagai ganti Al Muwaththa’. Ketika melukiskan kitab besar ini, Ibn
Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum
mnegetahui bandingannya.

Hadits-hadits yang terdapat dalam Al Muwaththa’ tidak semuanya Musnad,


ada yang Mursal, mu’dlal dan munqathi. Sebagian ‘Ulama menghitungnya berjumlah
600 hadits musnad, 222 hadits mursal, 613 hadits mauquf, 285 perkataan tabi’in,
disamping itu ada 61 hadits tanpa penyandara, hanya dikatakan telah sampai
kepadaku” dan “ dari orang kepercayaan”, tetapi hadits hadits tersebut bersanad dari
jalur jalur lain yang bukan jalur dari Imam Malik sendiri, karena itu Ibn Abdil Bar an
Namiri menentang penyusunan kitab yang berusaha memuttashilkan hadits hadits
mursal , munqathi’ dan mu’dhal yang terdapat dalam Al Muwaththa’ Malik.

Imam Malik menerima hadits dari 900 orang (guru), 300 dari golongan
Tabi’in dan 600 dari tabi’in tabi’in, ia meriwayatkan hadits bersumber dari Nu’main
al Mujmir, Zaib bin Aslam, Nafi’, Syarik bin Abdullah, az Zuhry, Abi az Ziyad, Sa’id
al Maqburi dan Humaid ath Thawil, muridnya yang paling akhir adalah Hudzafah as
Sahmi al Anshari.

Adapun yang meriwayatkan darinya adalah banyak sekali diantaranya ada


yang lebih tua darinya seperti az Zuhry dan Yahya bin Sa’id. Ada yang sebaya seperti
al Auza’i., Ats Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Al Laits bin Sa’ad, Ibnu Juraij dan
Syu’bah bin Hajjaj. Adapula yang belajar darinya seperti Asy Safi’i, Ibnu Wahb, Ibnu
Mahdi, al Qaththan dan Abi Ishaq.

An Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan
jujur, terpercaya periwayatan haditsnya melebihi Malik, kami tidak tahu dia ada
meriwayatkan hadits dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”.

(Ket: Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah,
karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui, Malik hanya
sedikit mentahrijkan haditsnya tentang keutamaan amal atau menambah pada matan).

Sedangkan Ibnu Hayyan berkata,” Malik adalah orang yang pertama


menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan
ibadah”.

Malik bin Anas menyusun kompilasi hadits dan ucapan para sahabat dalam
buku yang terkenal hingga kini, Al Muwatta.

Di antara guru beliau adalah Nafi’ bin Abi Nu’aim, Nafi’ al Muqbiri, Na’imul
Majmar, Az Zuhri, Amir bin Abdullah bin Az Zubair, Ibnul Munkadir, Abdullah bin
Dinar, dan lain-lain.

Di antara murid beliau adalah Ibnul Mubarak, Al Qoththon, Ibnu Mahdi, Ibnu
Wahb, Ibnu Qosim, Al Qo’nabi, Abdullah bin Yusuf, Sa’id bin Manshur, Yahya bin
Yahya al Andalusi, Yahya bin Bakir, Qutaibah Abu Mush’ab, Al Auza’i, Sufyan Ats
Tsaury, Sufyan bin Uyainah, Imam Syafi’i, Abu Hudzafah as Sahmi, Az Aubairi, dan
lain-lain.

Ia wafat pada tahun 179 H

Mazhab Maliki (Arab: ‫ )مالكي ة‬adalah satu dari empat mazhab fiqih atau
hukum Islam dalam Sunni. Dianut oleh sekitar 15% umat Muslim, kebanyakan di
Afrika Utara dan Afrika Barat. Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas atau
bernama lengkap Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirul Ashbani.
Mazhab ini berpegang pada :

1. Al-Qur'an
2. Hadits Rasulullah yang dipandang sah
3. Ijma' ahlul Madinah. Terkadang menolak hadits yang berlawanan atau yang
tak diamalkan ulama Madinah
4. Qiyas
5. Istilah

Mazhab ini kebanyakan dianut oleh penduduk Tunisia, Maroko, al-Jazair, Mesir
Atas dan beberapa daerah taslim Afrika. Mazhab ini menjadi dasar hukum Arab Saudi

BIOGRAFI IMAMA MALIK

Nama adalah Abu ‘Abdullah Malik bin Anas bin Abu Amir bin bin Al
Haruts (93 - 179 H = 712 - 798 M). Imam Malik bin Anas dilahirkan pada tahun 93
Hijriyah di Madinah dan meninggal dunia pada Ahad, 14 Rabiul Awwal tahun 169
Hijriyah (sebagian menyatakan 179 H) di Madinah, dengan meninggalkan tiga orang
anak; Yahya, Muhammad, dan Hammad.

Beliau berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun dan silsilahnya
merujuk kepada Ya’rub bin Al Qaththan Al Asbahi. Nenek moyangnya adalah Abu
‘Umar, seorang sahabat yang selalu mengikuti seluruh peperangan yang terjadi pada
zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali perang Badar. Adapun
kakeknya, Malik bin Anas, adalah seorang tabi'in besar dan ahli fikih kenamaan, dan
salah seorang dari empat orang tabi'in yang jenazahnya diusung sendiri oleh Khalifah
Usman bin Affan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Beliau belajar hadits secara qira'ah kepada:

1. Nafi' bin Abu Nua'im

2. Az Zuhri,

3. Nafi' (pelayan Abdullah bin 'Umar), dan lainnya.

Adapun ulama ulama ternama yang pernah belajar kepada dia. di antaranya adalah
1. Al Auza'i,

2. Sufyan Ats Tsauri,


3. Sufyan bin 'Uyainah,

4. Ibnu Al Mubarak,

5. Imam Syafi’i dan lainnya.

Malik bin Anas adalah seorang ahli fikih dan ahli hadits yang selalu
menjunjung tinggi dan menghormati hadits hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wasalam. Para ulama juga mengakui beliau sebagai ahli hadits yang sangat tangguh.
Jika beliau memberikan hadits kepada siapa pun, beliau terlebih dulu berwudhu
kemudian duduk di atas tikar untuk shalatnya dengan tenang dan tawadhu'. Beliau
sangat tidak suka memberikan hadits sambil berdiri, di tengah jalan, atau, dengan cara
tergesa gesa. Beliau juga tidak pernah melalaikan shalat berjamaah, selalu aktif
membesuk sahabat sahabatnya yang sedang sakit, dan tidak lupa menunaikan
kewajiban - kewajiban lainnya.

Beberapa perkataan ulama tentang Imam Malik bin Anas :

1. Imam Asy Syafi’i : " Jika dibicarakan tentang hadits, maka Imam Malik adalah
bintangnya, dan jika dibicarakan soal keulamaan, maka Imam Malik jugalah yang
menjadi bintangnya. Tidak ada seorang pun yang terpercaya dalam bidang ilmu
Allah dibandingkan Imam Malik. Imam Malik dan Ibnu 'Uyainah adalah dua orang
sahabat yang mumpuni di bidang ilmu ilmu Allah. Seandainya mereka berdua tidak
ada, niscaya hilang juga ilmu orang¬ - orang Hijaz."

2. Imam Yahya bin Sa'id Al Qaththan dan Imam Yahya bin Ma’in memberikan
gelar kepada beliau sebagai Amirul Mu'minin fi Al Hadits.

3. Al Bukhari menyatakan bahwa sanad yang dikatakan ashahhul asanid adalah


apabila sanad itu terdiri dari Imam Malik, Nafi’, dan 'Abdullah bin 'Umar
Radhiyallahli 'anhuma.

4. Masyarakat Hijaz memberikan gelar kehormatan kepada beliau dengan julukan


'Sayyid Fuqaha 'il Hijaz.'

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang sangat keras dalam mempertahankan
pendapatnya yang diyakini benar. Beliau pernah diadukan kepada Khalifah Ja’far bin
Sulaiman oleh paman Khalifah sendiri. Beliau dituduh tidak menyetujui pembaiatan
pada Khalifah. Menurut Ibnu Al jauzi, beliau disiksa dengan hukuman cambuk
sebanyak tujuh puluh kali sampai ruas lengannya sebelah atas bergeser dari
persendian pundaknya. Siksaan ini dilakukan karena fatwa beliau tidak sesuai dengan
kehendak dan kemauan Khalifah. Penyiksaan yang dilakukan Khalifah itu bukan
menurunkan popularitasnya di mata masyarakat luas, bahkan namanya menjadi harum
dan berkibar serta kedudukannya menjadi lebih terhormat di kalangan para ahli ilmu.
Karyanya yang sangat gemilang dan dinilai monumental di bidang ilmu hadits
adalah kitab Al Muwaththa'. Kitab ini ditulis pada tahun 144 Hijriyah atas anjuran
Khalifah Ja’far Al Manshur ketika mereka bertemu pada pelaksanaan ibadah haji.
Menurut penelitian yang dilakukan Abu Bakar Al Abhari, jumlah atsar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, sahabat, dan tabi'in yang tercantum dalam kitab, Al
Muwaththa' sebanyak 1720 buah, dengan perincian sebagai berikut: yang musnad
sebanyak 600 buah, yang mursal sebanyak 222 buah, yang mauquf sebanyak 613, dan
yang maqthu’ sebanyak 285 buah.