Anda di halaman 1dari 12

TAFSIR DAN TAKWIL Al-QUR'AN

Oleh:
TENGKU MUHAMMAD
ACEH PIDIE
2010
TAFSIR DAN TAKWIL Al-QUR'AN
MATA KULIAH TAFSIR

1. Pendahuluan

Al-Qur'an seperti diyakini kaum muslim merupakan kitab hidayah, petunjuk bagi
manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. Dalam berbagai versinya Al-
Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya, di
antaranya bersifat transformatif. Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan
manusia dari kegelapan-kegelapan, Zhulumât (di bidang akidah, hukum, politik,
ekonomi, sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya, Nûr petunjuk ilahi untuk menciptakan
kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia, dunia-akhirat. Dari prinsip yang diyakini
kaum muslim inilah usaha-usaha manusia muslim dikerahkan untuk menggali format-
format petunjuk yang dijanjikan bakal mendatangkan kebahagiaan bagi manusia. Nah
dalam upaya penggalian prinsip dan nilai-nilai Qur'ani yang berdimensi keilahian dan
kemanusiaan itulah penafsiran dihasilkan.

Dialektika antara manusia dengan realitasnya ditengarai turut masuk mempengaruhi


proses penafsiran itu. Bukankah Al-Qur'an diturunkan bagi manusia, untuk kemaslahatan
manusia dan last but not least, untuk "memanusiakan" manusia (bukan menjadikannya
makhluk otomatis seperti robot, mesin, hewan ataupun malaikat).

Maka dari diktum itu pulalah, konsep tentang manusia dan identitasnya dalam
menjabarkan misi kekhalifahan dan ubudiyyah di muka bumi menjadi penentu yang
determinan dalam proses mengkaji dan memahami teks suci yang diyakini akan
memberikan kesejahteraan bagi umat manusia. Akan tetapi, posisi sentral manusia yang
oleh peradaban Barat menjadi tema utama abad pencerahan juga bukan tanpa cela dalam
sudut pandang Islam.

Manusia dalam kacamata Islam tidak lah hidup dari, oleh dan untuk dirinya sendiri
dan terkungkung dalam dunia yang profan ini. Falsafah hidup Islam tidak mengenal
mazhab sekularisme yang memisahkan manusia dari dimensi keilahian dan melucuti
aspek moral dan nilai dari kegiatan manusia. Falsafah hidup Islam menggariskan
bersatunya nilai agama dan dunia, kehidupan manusia untuk misi khilâfah/'imârat al-ardl
(keduniaan) dan ubûdiyyah (keakhiratan). Prinsip-prinsip tersebut yang senantiasa harus
diindahkan ketika kaum muslim berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Dewasa ini pola interaksi kaum muslim dengan Al-Qur'an bukan hanya bercorak
hudâ'iy, ijtimâ'iy dan ishlâhiy (mencari petunjuk untuk kebahagiaan), tetapi juga 'ilmiy
(dalam pengertiannya yang luas mencakup intellectual exercise, tidak hanya mencari
pembenaran teori-teori sains dengan landasan ayat suci Al-Qur'an). Bahkan cenderung
filosofis murni dan tak ada kaitannya dengan misi transformatif yang menjadi ciri utama
kehadiran Al-Qur'an di pentas kehidupan manusia.

Hal ini bisa dilihat terutama dari kecenderungan (ittijâhât) upaya penafsiran dan
penakwilan kitab suci yang terseret ke dalam diskusi panjang apakah manusia secara
umum sebagai pembaca dan penafsir teks merupakan makhluk historis atau filosofis,
makhluk yang setiap saat berubah (sesuai dengan pengayaan pengalaman idup) atau yang
konstan.

Sejauh mana posisi dan peran manusia dalam proses penafsiran, apakah tugasnya
hanya menganalisa dan kemudian menerima otoritas tafsir di era pembentukannya
ataukah hanya melibatkan pengetahuan dan pengalaman penafsir/pembaca teks sebagai
barometer dan menganggap penafsiran otoritas di masa lalu hanya berlaku untuk saat itu
(historisitas)? Apakah tugas penafsir kitab suci diarahkan semata untuk menangkap
maksud pemilik dan pencipta teks ataukah justru bebas menciptakan maksud dan makna
baru seiring dengan jarak waktu yang memisahkan antara pengarang dan pembaca teks,
bahkan "kematian" pengarang dianggap

"berkah" untuk melahirkan makna-makna segar yang tidak terkungkung oleh


kehendak dan maksud pengarangnya?

Makalah berikut ini sekadar mengingatkan kembali apa itu pengertian tafsir dan
takwil dan apa perbedaannya. Hal-hal apakah yang diperlukan dalam melakukan tafsir.
2. Pengertian

a) Tafsir

Tafsir berasal dari kata tafsirah, yaitu : perkakas yang dipergunakan tabib untuk
mengetahui orang sakit.

Tafsir menurut bahasa adalah “menerangkan dan menyatakan”.

Sedang menurut istilah adalah:

Al Kilby dalam At Tas-hiel:

“Tafsir itu, ialah: mensyarahkan Al-Qur'an, menerangkan maknanya dan


menjelaskan apa yang dikehendakinya dengan nashnya atau dengan isyaratnya, ataupun
dengan najuahnya.”

Az Zarkasyi dalam Al Burhan :

“Tafsir itu, ialah : menerangkan makna-makna Al-Qur'an dan mengeluarkan


hukum- hukumnya dan hikmah-hikmahnya.”

b) Takwil

Menurut As Said al Jurjany :

“Takwil ialah : memalingkan lafad dari makna yang dhahir kepada makna yang
muhtamil, apabila makna yang muhtamil itu tidak berlawanan dengan Al-Qur'an dan As-
Sunnah.” Takwil berasal dari kata “aul”, yang bermakna kembali dan berpaling. Menurut
Al Maghraby dalam bukunya Al Akhlaq wal Wajibat :

“Tafsir itu ialah : tersembunyi makna ayat sebagian pendengar, maka apabila
engkau syarahkan lafad-lafadhnya dari jurusan lughat, nahwu dan balaghah, difahamkan
oleh pendengar itu dengan baik dan tenanglah jiwanya kepada makna tersebut. Adapun
Takwil, ialah : ayat mempunyai beberapa makna yang semuanya dapat diterima. Maka
setiap-tiap engkau sebut sesuatu makna satu demi satu makna, dia ragu-ragu, tak tahu
mana yang dipilihnya. Karena inilah takwil itu banyak dipakai pada ayat mutasyabihat,
sedang tafsir banyak dipakai pada ayat-ayat muhkamat”

Ilmu Tafsir , ialah : ilmu yang menerangkan tentang hal nuzul ayat, keadaan-
keadaannya, kisah- kisahnya, sebab-sebab turunnya, nasikhnya, 'amnya, muthlaqnya,
mujmalnya, mufassarnya

(mufashshalnya), halalnya, haramnya, wa'adnya, wa'idnya, amernya, nahyunya,


i'barnya dan amsalnya. Menurut Abu Haiyan dalam Bahrul Muhith :

“Ilmu Tafsir : suatu ilmu yang dibahaskan di dalamnya cara menuturkan


(menyembunyikan) lafad-lafad Al-Qur'an, mad-lul-mad-lulnya baik mengenai kata
tunggal maupun mengenai kata- kata tarkib dan makna-maknanya dan dipertanggungkan
oleh keadaan susunan dan beberapa kesempurnaan bagi yang demikian seperti
mengetahui naskh, sebab nuzul, kisah yang menyatakan apa yang tidak terang (mubham)
di dalam Al-Qur'an dan lain-lain yang mempunyai hubungan rapat dengannya”

3. Pokok Pegangan dalam Menafsirkan Al-Qur'an

Pokok pegangan dalam menafsirkan Al-Qur'an adalah :

a) Hadits dan Atsar

b) Qaidah-qaidah bahasa Arab dan uskub-uslubnya.

Seseorang yang hendak menafsirkan sesuatu ayat Al-Qur'an, hendaklah ia mencari


tafsir ayat tersebut di dalam Al-Qur'an sendiri. Karena seringkali ayat-ayat itu bersifat
ringkas di suatu tempat, sedang penjelasannya terdapat ditempat lain. Yakni hendaklah
Ayat itu lebih dahulu ditafsirkan dengan ayat Al-Qur'an sendiri. Jika tidak ada baru
diperiksa As Sunnah atau Al Hadits. Jika tidak ada lagi baru dicari dalam keterangan dari
para sahabat.
Kata Az Zakarsyi : “ Seseorang yang hendak menafsirkan Al-Qur'an, hendaklah lebih
dahulu memahami riwayat, lalu mengambil mana yang shahihnya. Sesudah itu hendaklah
ia memeriksa perkataan sahabat. Kemudia dari itu barulah ia berpegang kepada ilmu
bahasa dan barulah ia menafsirkan menurut makna-makna yang dikehendaki oleh ilmu
bahasa itu“

4. Ilmu-ilmu yang Diperlukan oleh Seorang Penafsir

a. Lughat Arabiyah (bahasa Arab) : dengan dialah diketahui syarah kata-kata


tunggalm .

b Gramatika bahasa Arab : yaitu undang-undang (aturan-aturan) baik mengenai kata-


kata tunggalnya, maupun mengenai tarkib-tarkibnya. Tegasnya mengetahui ilmu
tashrif dan ilmu nahwu.

c. Ilmu Ma'ani, Bayan dan Badi'. Dengan ilmu ma'ani diketahui khasiyat-khasiyat
susunan pembicaraan dari segi memberi pengertian. Dengan ilmu bayan,
diketahui khasiyat- khasiyat susunan perkataan yang berlain-lainan. Dengan ilmu
badi', diketahui jalan-jalan keindahan pembicaraan.

d. Dapat menentukan yang mubham, dapat menjelaskan yang mujmal dan dapat
mengetahui sebab nuzul dan nasakh. Penjelasan-penjelasan ini diambil dari
hadits.

e. Mengetahui ijmal, tabyin, umum, khusush, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan,


petunjuk larangan dan yang sepertinya. Ini diambil dari ushul fiqh.

f. Ilmu Kalam.

g. Ilmu Qira'at. Dengan Qira'at dapat diketahui bagaimana kita menyebut kalimat-
kalimat Al- Qur'an dan dengan dialah kita dapat tarjihkan sebagian kemuhtamilan
atas sebagiannya.
5. Metode Tafsir

a) At Tafsir Bil Ma'tsur (At Tafsir bin Manqul)

Penafsiran Al Qur'an dengan berdasarkan dengan penjelasan yang diriwayatkan


yaitu berupa ayat Al-Qur'an sendiri, dengan hadits atau dengan pendapat para sahabat.

Diantara tafsir-tafsir bil Ma;tsur adalah :

Tafsir Jami'ul Bayan, Susunan Ibnu Jarir Ath Thabary

Tafsir Al Bustan, susunan Abul Laits As Samarqandy

Tafsir Ma'alimut Tanzil, susunan Al Baghawy

Tafsir Al-Qur'anul 'Adzim, susunan Al Hafidz Ibnu Katsir

Tafsir As babun Nuzul, susunan Al wahidy

Tafsir An Naskh wal Mansukh, susunan Abu Ja'far An Nahas

Tafsir Ad Durrul Mantsur fit tafsir bil Ma'tsur, susunan As Sayuthy

Tafsir Baqy makhlad

b) At Tafsir Bir Ra'yi wal ijtihad (At Tafsir bil Ma'qul)

Penafsiran dengan berdasarkan pada ijtihad dan akal, berpegang kepada kaedah-
kaedah bahasa dan dan adat-istiadat orang Arab dalam mempergunakan bahasanya.

Diantara tafsir-tafsir bil Ma'qul :

Tafsir Anwaru Tanzil wa Asrarut Takwil, susunan Al Baidhawy

Tafsir Mafatihul Ghaiby, susunan Fakharuddin Ar razy

Tafsir Irsyadul Aqlis Salaim, susunan Abu Su'ud Al Imady


Tafsir Ghara-ibul Qur'an wa Taghaibul furqan, susunan Nizamuddin bin

Muhammad An Naisabury

Tafsir Jalalain, susunan Jalaludin Muhammad Al Mahaly dan Jalaluddin

Muhammad As Sayuthy

Tafsir Madarikut Tanzil Wa Hasqa-iqut takwil, susunan An Nasafi

Tafsir As Sirajul Munir, susunan Al Khatib Asy Syaibiny

Tafsir Ruhul Ma'ani, susunan Syihabuddin al Alusy

Tafsir Fathul Qadir, susunan Al Imam as syaukany

Tafsir Fathul bayan, susunan Siddiq Hasan Khan

6. Tafsir di Masa Nabi, Masa Sahabat dan Para Tabi'in

Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, menurut uslub-uslubnya. Seluruh lafad


Al-Qur'an adalah bahasa Arab asli, terkecuali beberapa kata yang berasal dari bahasa lain
yang telah menjadi bahasa Arab, serta dipakai pun menurut uslub bahasa Arab sendiri.

Rasulullah Saw, setiap menerima ayat Al-Qur'an langsung menyampaikan kepada


para sahabat serta menafsirkan mana yang perlu ditafsirkan. Penafsiran Rasulullah Saw
itu ada kalanya dengan Sunnah Qauliyah, ada kalanya dengan Sunnah Fi'iliyah dan ada
kalanya dengan Sunnah Taqririyyah.

Kata Abdur Rahman As Salamy :

“Orang-orang yang mengajarkan kami Al-Qur'an, seperti Usman ibn Affan,


Abdullah ibn Mas'ud dan lain-lain menerangkan kepada kami bahwasanya apabila
mereka mempelajari dari Nabi sepuluh ayat Al-Qur'an, mereka tidak mempelajari ayat-
ayat yang lain dahulu sebelum mereka mempelajari ayat-ayat yang sepuluh itu. Mereka
berkata : Kami nukilkan dari Rasulullah Saw Al- Qur'an, ilmu dan amal.”

Untuk mengetahui tafsir terhadap sesuatu ayat yang belum bisa dipahami oleh
para sahabat, maka sahabat tersebut bertanya langsung kepada Rasulullah Saw.

“Berkata 'Ali : Aku bertanya kepada Nabi tentang makna yaumul hajjil akbar.
Maka Nabi menjawab : Yaumun nahri (hari menyembelih kurban). Maka akupun
menafsirkan yaumul hajjil akbar dengan tafsir yang diberikan oleh Nabi kepadakau itu.”

Para shabat pada umumnya tidak menulis tafsir (hadits-hadits tafsir) sebagaimana
mereka tidak menulis dan tidak mendewankan umum hadits. Karena mereka takut
tercampur baur antara Al- Qur'an dengan tafsir tersebut.

Secara umum para sahabat menafsirkan Al-Qur'an menurut penerangan riwayat


semata, yakni menurut hadits yang mereka terima. Manafsirkan Al-Qur'an dengan
berpegang pada kaedah- kaedah bahasa dan kekuatan ijtihad pada masa sahabat, masih
belum umum dilakukan.

Tafsir Bir Ra'yi wa ijtihad berkembang setelah masa sahabat. Walaupun dalam
kalangan tabi'in sendiri juga ada dua golongan yaitu yang menerima dan menolaknya.
Diantara tabi'in yang menolak dasar ijtihad dalam menafsirkan Al-Qur'an ialah Sa'id
ibnul Musaiyah dan Ibnu Sirin.

Berkata Sa'id : “Bahwasanya aku tiada mau mengeluarkan pendapatku barang


sedikit juga dalam menafsirkan Al-Qur'an”

Diantara yang membolehkan ialah : Mujahid, 'Ikrimah dan sahabat-sahabatnya.

7. Perkembangan Tafsir Pada Abad 20-21

Dunia pemikiran muslim telah kehilangan world view dan jati dirinya ketika
berhadapan dengan dunia pemikiran Barat yang notabene hegemonik dan kuat baik
secara program/agenda maupun funding untuk tujuan ekspansinya. Sadar atau tidak elit
muslim telah masuk dalam agenda dan propaganda Barat bahwa budaya, teknologi dan
metodologi Barat lebih unggul dan karena itu mesti digugu dan ditiru. Yang paling
mengkhawatirkan adalah peniruan terhadap metodologi Barat

Di bidang Humaniora (sastra, psikologi, sosiologi, antropologi, dll) yang terbukti


membawa arus sekulerisme yang tidak sesuai dengan falsafah hidup Islam. Ide dan
pemikiran untuk mencari-cari aspek kesamaan-kesamaan (Fikr al-Muqârabât) antara
metodologi Barat dan Islam di bidang kajian humaniora (sastra dan sejarah agama secara
khusus, yang terkuak jelas dalam kasus hermeneutika) menjadi trend pada dekade akhir
abad 20 dan awal abad 21 ini. Dalam kajian Al- Qur'an, fikr al-muqârabât antara tafsir
(terlebih khusus lagi takwil) dengan hermeneutika yang berkembang di Barat (baik dalam
studi biblikal/teologis maupun filsafat sastra secara umum) menjadi tak terelakkan.

Jika pemahaman takwil klasik diartikan sebagai upaya pencapaian makna ayat
suci dengan mengandalkan usaha rasional dan dengan cara menundukkan teks di bawah
pengaruh prapikir seorang penafsir/pembaca teks, maka takwil dalam pengertiannya yang
mutakhir memberikan dan menjamin ruang interaksi yang aktif antara objek teks dengan
subjek pembacanya. Jika takwil hermeneutis mengandaikan dua tahap gerakan dalam
proses penafsiran yaitu: pertama, kembali ke masa pembentukan teks dengan menyelidiki
arti kosakata pada saat itu dan meletakkannya pada kondisi-kondisi objektifnya yang
historis dan kedua, kembali kepada bahasa teks ketika penafsir menghadapi kesulitan
untuk meletakkan teks tersebut ke dalam kondisi historisnya secara sempurna yang
disebabkan oleh karena masing-masing pembaca memiliki sudut pandang khusus dalam
proses pentakwilan. Di sinilah bahasa teks berperan untuk memproduksi makna baru.
Dalam persepsi aliran ini pluralitas pemahaman akibat proses penakwilan tersebut tak
terelakkan

Salah satu bahasan yang cukup pelik adalah ketika Al-Qur'an sebagai
risalah/pesan petunjuk Allah Swt untuk manusia dihadapkan dengan terma hermeneutika
yang memperlakukan semua jenis teks (baik sastra, filsafat, atau teologis/suci) secara
sama dan sederajat. Lebih menukik lagi, apakah Al-Qur'an merupakan risalah teologis
ataukah diskursus bahasa?
Amin Al-Khuli, tokoh yang pertama kali mencetuskan Manhaj Bayani dalam
kajian Al-Qur'an yang dalam beberapa aspek sangat dipengaruhi konsep hermeneutika
Barat, sejak dini sudah mewanti-wanti "Sejak awal sampai akhir, upaya melucuti Al-
Qur'an dari petunjuk syari'ahnya akan melumpuhkan sebagian besar aturan yang berupa
aqidah dan syariah. Karena meski pada dasarnya Al-Qur'an sebagai wujud/fenomena
bahasa, tetapi ia juga merupakan risalah ilahi di bidang akidah dan syariah" (Dâ'irat al-
Ma'ârif al-Islâmiyyah: vol 2/266).

8. Kesimpulan.

Menjadi keharusan bagi mufasir untuk mempertimbangkan, dalam setiap upaya


pendekatan ilmiahnya terhadap Al-Qur'an, fakta bahwa nash Al-Qur'an adalah sabda
Tuhan (Muhammad Abu Musa: Min Asrâr al-Ta'bir al-Qur'aniy). Upaya penafsiran atau
pendekatan ilmiah apapun terhadap Al-Qur'an selalin menuntut kompetensi intelektual
para pelakunya juga mengundang ketawadluan mentalitas dan spiritualitas penafsir.
Keagungan Allah SWT, tujuan-tujuan syariat dan hikmah serta kemutlakan ilmu-Nya
senantiasa mengiringi dan menyinari proses penakwilan agar tidak terperosok ke dalam
jebakan filsafat positivisme yang menyampingkan dimensi metafisik teks kitab suci
dalam petualangan untuk profanisasi kitab suci yang sakral.

Umat Islam sudah waktunya untuk kembali kepada ajaran-ajaran Rasulullah Saw
dan teladan para sahabat dan para tabi'in dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur'an.
Dengan mengembalikan tujuan penafsiran pada jalur yang benar bukan berdasarkan
keegoan intelektual semata. Umat Islam harus berani untuk menujukkan jati dirinya
dengan segala pemikiran-pemikiran dan amal perbuatannya yang tetap konsisten terhadap
aturan Sang Pencipta dan Rasul-Nya dalam menyikapi pemahaman dan pengamalan atas
Al-Qur'an.

9. Daftar Pustaka

(1) Ash Shiddieqy, Tengku Muhammad Hasbi; Sejarah & Pengantar Ilmu Al-Qur'an
dan tafsir; PT. Pustaka Rizki Putra; Semarang; 2000
(2) Salim, Lc, Fahmi; Al-Qur’an, Manusia dan Takwil; www.hidayatullah.com;
Jumat 18 Pebruari 2005