Anda di halaman 1dari 12

Oesophagostomum spp.

Kelompok 6:
No Nama Mahasiswa NIM Tanda Tangan
1. Bakhtiar Hidayat Harahap (B04062864) ( )
3. Tettty Barunawati (B04063001) ( )
4. Astria Muktihapsari (B04063041) ( )
5. Mayang Sani (B04063317) ( )

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007/2008

PENDAHULUAN
Cacing Oesophagustomum merupakan salah satu cacing dari ordo
Stongylida yang dapat maengakibatkan strongyllidosis. Cacing ini memiliki ciri
morfologi yang sama seperti cacing dari ordo srongylida lainnya.
Oesophagstomum dapat menginfeksi hewan ruminansia, babi, dan primate
tergantung spesies. Setiap spesies memiliki induk semang definitifnya masing-
masing.
Terdapat beberapa spesies dari Oesophagostomum, yaitu O. bifurcum,
O. apiostomum, O. columbianum, O. radiatum, O. dentatum, O. brumpti. Darii
berbagai spesies dari Oesophagostomum, ada tiga spesies yang sering dijumpai,
yaitu O. columbianum, O. radiatum, dan O. dentatum. O. columbianum banyak
ditemukan di dalam kolon kambing dan domba, sedangakan O. radiatum sering
menyerang hewan mamalia besar, yaitu sapi dan kerbau. O. dentatum
merupakan spesies dari Oesophagostomum yang tinggal dalam usus besar sapi.
Siklus hidup dari Oesopagustomum ini pada dasarnya sama seperti daur
hidup dari cacing Strongylida. Siklus hidup dari cacing ini secara langsung. Telur
Oesophagustomom berbentuk oval mengandung morula dan memiliki ujung yang
tumpul dengan ukuran 50-100 mikron, kerabang telur yang tipis dan licin. Morula
akan berkembang menjadi L-1 dalam waktu 1-2 hari menjadi L-2. Pergantian
kutikula (molting) pada L-2 merupakan pelindung untuk L-3 hingga larva
menemui inang definitif yang cocok. Sekitar satu minggu, L-3 akan bermigrasii
mencari lingkungan basah sekitar tanah maupun tumbuhan. Proses infeksi akan
terjadi apabila larva infektif termakan inang definitif.
Infeksi Oesophagostomum spp mengakibatkan terbentuknya nodul larva
pada mukosa ileum dan sekum sebagai reaksi inflamasi inang definitif untuk
membentuk kapsul larva parasitik. Patogenisitas lebih parah pada larva daripada
cacing dewasa. Gejala klinisnya adalah diare berwarna gelap dan sangat berbau
busuk.

TINJAUAN PUSTAKA
Cacing Oesophagostomum merupakan cacing benjol pada ternak.
Mulutnya mengarah ke depan dan dikelilingi oleh kerah mulut yang terdapat
papilla-papilla kepala dan yang dibatasi oleh cincin cekung di sebelah posterior.
Biasanya terdapat dua mahkota daun, tetapi kadang-kadang yang luar tidak ada.
Kapsula bukal dangkal berbentuk cinicin dan terdapat lanset pada corong
oesophageal. Spikulum sama besar dan terdapat gubernakulum. Vulva cacing
betina terletak sedikit sebelah anterior anus. Terdapat sekitar 50 jenis cacing,
kebanyakan pada ruminansia, primata, dan babi.
Berbagai spesies dari Oesophagostomum mempunyai daur hidup tipe
umum yang dapat diwakili oleh O. dentatum, yang merupakan cacing bungkul
pada babi. Pada spesies yang kosmopolitan ini panjang tubuh kira-kira 9 mm
pada yang jantan, sedangkan yang betina rata-rata 12 mm. Nama spesies inii
didasarkan dari adanya sebuah cincin yang terdiri dari tonjolan-tonjolan seperti
gigi yang mambatasi mulut dan sebuah cincin yang lain yang terdiri dari tonjolan-
tonjolan pendek di dalam kapsula bukalis. Cacing jantan mempunyai sepasang
spikulum yang langsing dengan panjang kira-kira 1 mm dan sebuah bursa
berlobus tiga, pada yang betina terdapat vulva yang terletak di sebelah posterior
tubuh.
Daur hidup dimulai dengan telur yang telah dibuahi yang berukuran
sekitar 70 – 40 µm. Telur tersebut meninggalkan hospes bersama tinja dan di
dalam tanah yang lembab menetas dalam waktu 1 atau 2 hari. Beberapa hari
berikutnya atau sampai seminngu, larva telah berkembang menjadi stadium
infektif dan siap dimakan oleh babi. Apabila cacing ini memasuki usus besar,
mereka menembus dinding usus dan menyebabkan peradangan dan
pembentukan bungkul-bungkul yang berdiameter kira-kira 1 mm, oleh karena itu
cacing tersebut dinamakan cacing bungkul. Akhirnya larva meninggalkan
bungkul, masuk ke dalam lumen usus, dan berkembang menjadi cacing yang
masak seksual. Gejala-gejala infeksi berkisar dari tanpa gejala sampai anemia,
kelemahan, diare dan kekurusan.

PEMBAHASAN
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Stronglidae
Genus : Oesophagustomum
Spesies : Oesophagustomum radiatum

Morfologi
Cacing jantan mencapai panjang 14-17 mm, sedang yang betina 16-22
mm. Mulut seolah-olah dilingkarin oleh mahkota, gelembung kepala besaryang
kemudian menyempit membentuk leher. Daun mahkota luar sekitar mulut tidak
ada. Daun mahkota dalam terdiri dari 38-40 lembar. Cacing jantan mempunyai
spikulum yang berukuran 0.7-0.8 mm dengan bursa sempurna. Vulva terletak 10
mm didepan anus. Telur 70-76x36-40 mikron.

Habitat
Larva tinggal dalam dinding usus kecil, sedangkan yang dewasa dalam
kolon, kadang-kadang dalam sekum sapi atau kerbau.

Daur Hidup
Telur yang keluar bersama tinja akan menetas dalam waktu 20 jam, larva
infektif dicapai dalam waktu 5-6 hari. Infeksi terjadi pada waktu makan rumput,
minum atau ketika menjilati bulunya yang mengandung larva infektif. Larva
infektif yang tertelan itu ekdisis dalam usus kecil, terutama ileum dan masuk
dalam mucosa usus kecil atau sekum serta tinggal didalam mukosa selama 10
hari membentuk nodul. Selama itu larva tumbuh menjadi larva ke empat. Larva
kembali kedalam lumen usus dan menjadi dewasa serta tinggal dalam kolon.
Telur ditemukan dalam tinja sapi 37-41 hari sesudah infeksi.

Patogenesis
Larva yang tertelan masuk dalam mucosa sampai submukosa ileum dan
sekum membentuk nodul dengan garis tengah 1.0 mm. Sepuluh hari sesudah
infeksi nodul tersebut besarnya mnejadi dua kali lipat. Beberapa nodul pecah dan
berdarah, yang menunjukan bahwa larva kembali ke lumen usus menjadi
dewasa. Sebagian dari nodul berisi nanah. Usus tidak dapat dijadikan kulit sosis.
Secara histologis menghasilkan abses kecil yang berisi leukosit. Dua
puluh hari sesudah infeksi usus mengalami peradangan dan oedema. Infeksi
yang beruntun menimbulkan perdarahan serta radang usus yang hebat dan
nodulnya dapat mencapai garis tengah 4-5 mm. Nodulnya didominasi oleh sel
eosinofil, sel raksasa, kapsul epiteloid dan fibroblas.
Kerusakan terutama disebabkan oleh larva, sedang cacing dewasa yang
tinggal dalam lumen kolon atau sekum diduga kurang patogen. Tetapi 1000
cacing dewasa mulai menimbulkan gejala klinis pada anak sapi. Pada hewan
muda biasanya ditemukan sedikit nodul dan banyak cacing dewasa, sebaliknya
pada hewan tua ditemukan banyak nodul dan sdikit cacing dewasa yang
menunjukan adanya kekebalan.

Gejala Klinis
Enteritis, mencret berdarah, suhu badan naik 4-10 hari sesudah infeksi
(20.000-250.000 larva), diikuti dengan anoreksia, anemia, kurus dan prostasi.
Anak sapi dapat mati karenanya.

Diagnosis
Berdasarkan gejala klinis saja tidak cukup, harus dikuatkan dengan
pemeriksaan tinja dan identifikasi larva.

Pengobatan
Phenothiazine 30 g untuk anak dan 60 g untuk yang dewasa dapay
berhasil dengan. Kelompok benzimidazole sebagai anthelmentika yang
berspektrum luas. Mekanisme kerjanya adalah mengganggu metabolisme energi
dengan menjadi inhibitor fumarat reduktase. Ketidaktersediaan energi
menyebabkan cacing mati. Golongan benzimidazol sebaiknya tidak digunakan
saat masa kebuntingan awal.

Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Trichonematidae
Genus : Oesophagustomum
Spesies : Oesophagustomum columbianum

Morfologi
Jantan panjangnya 12-16.5 mm dan yang betina 15-21.5 mm. Sayap
lehernya lebar sehingga badan bagian depan sangat jelas. Cincin lubang mulut
membentuk penyempitan yang memisahkan dari bagian tubuh lainnya. Kira-kira
0.25 mm dari ujung depan terdapat lekuk leher, dan dibelakang lekuk leher itulah
mulai sayap leher dan terdapat pula papil lehe. Lekuk mulut dangkal dikelilingi
oleh daun mahkota.
Jantan memiliki bursa sempurna dengan dua spikula yang sama, 0.77-
0.86 mm panjangnya. Betina memiliki ekor runcing. Vulva terletak sekitar 0.8 mm
di depan anus. Vagina sangat pendek, letaknya melintang yang merupakan
lanjutan dari ovijector yang dibentuknya menyerupai ginjal. Telur berdinding tipis,
telur mencapai 16 sel pada waktu keluar, berukuran 73-89x34-45 mikron.

Habitat
Ditemukan dalam kolon kambing dan domba.

Daur Hidup
Dalam kondisi lapangan yang baik larva infektif dicapai dalam waktu 6-7
hari. Semua larva yang belum mencapai tahap infektif tidak tahan kekeringan.
Larva yang tertelan oleh domba sebagian besar melepaskan selubungnya dalam
rumen, kemudian masuk kedalam dinding usus darimulai pilorus sampai rektum,
melingkar membentuk kista. Disini terjadi ekdis yang ketiga, yaitu pada hari
keempat sesudah infeksi dimana larva mencapai ukuran 1.5-2.5 mm panjangnya.
Larva tersebut memiliki kapsul mulut yang bentuknya setengah lingkaran.
Biasanya kembali ke lumen usus sesudah 5-7 hati, dan pindah ke kolon
unutk menjadi dewasa sesudah melakukan eksidis yang ke empat. Telur
pertama keluar bersama tinja domba 41 hari sesudah terjadi infeksi. Sebagian
larva menembus dinding usus masuk ke rongga peritoneum dan akhirnya hilang
dalam beberapa organ.
Perjalanan larva O. Columbianum dalam usus domba yaitu sekitar 75 %
larva III melepaskan selubungnya didalam rumen dalam waktu 12 jam sesudah
terjadi infeksi. Larva melewati retikulum, omasum dan abomasum menuju ke
duodenum. Invasi ke dinding usus dimulai dalam duodenum tepat dibelakang
muara saluran empedu. Invasi kedalam dinding usus ini makin menurun ke arah
distal. Pada infeksi kedua puncak invasi, terjadi pada ileum proximal dan pada
infeksi ketiga puncak invasi terjadi pada daerh katup ileosekal. Hal ini diduga
karena pada daerah invasi pertama yaitu duodenum telah terjadi kekebala,
sehingga pada invasi berikutnya bergeser ke daerah yang lebih distal. Puncak-
puncak invasi terjadi pula dalam sekum, kolon serta rektum.
Terjadinya puncak penetrasi di depan katup ileosekal mungkin karena di
daerah tersebut aliran injesta lambat atau berhenti sehingga larva mempunya
kesempatan untuk menembus dinding usus. Alasan yang sama berlaku pula
untuk penetrasi dinding sekum karena sekum merupakan kantong buntu. Kolon
dengan gerakan spasmodiknya merupakan penyempitan dimana tinja diserap
airnya.
Faktor pertama yang merangsang larva O. Colombianum untuk
menembus dinding usus diduga karena perubahan pH dari asam ke basa antara
abomasum dan duodenum serta rangsangan oleh empedu. Faktor lain adalah
tekanan mekanis terhadap injesta. Dalam ruang peritoneum tidak terjadi
perubahan lingkungan. Karena itu arah gerak larva tidak teratur sampai larva
mencapai organ tertentu misalnya ginjal, dinding peritoneum, diafragma dan
kencing batu. Jadi migrasi larva O. Colombianum didalam usus domba mengikuti
pola tertentu, sedang dalam rongga peritoneum bergerak secara acak.

Patogenesis
Pada anak domba atau kambing yang belum memilki kekebalan, larva
keluar dari dinding usus dan langsung menuju kolon untuk menjadi dewasa.
Pada hewan yang memiliki kekebalan, karena infeksi yang berulang-ulang, larva
dalam dinding usus menimbulkan reaksi berupa tenunan fibrosa dan sel-sel
eosinofil, sehingga terbentuk nodul. Larva tinggal didalam nodul sekitar 3 bulan,
dan bila nodul mengapur maka larva keluar untuk menjadi dewasa atau mati
dalam proses pengapuran. Nodul-nodul dalam usus kecil dan besar, terutama
dalam usus kecil, sangat menganggu penyerapan dan peristaltik usus. Pada
domba dan kambing yang memberikan reaksi kekebalan, banyak ditemukan
nodul dan sedikit cacing dewasa, sedangkan pada domba yang rentan
sebaliknya, yaitu banyak ditemukan cacing dewasa dan sedikit nodul. Terlalu
banyak nodul, karena hewan kebal, bukan hanya menganggu penyerapan dan
peristaltik, tetapi juga terpaksa usus itu harus dibuang.
Inilah keunikan oesophagostomiasis, dimana kekebalan malah
menimbulkan kerugian. Adanya nodul berbiji merupakan fakta adanya korelasi
dengan distribusi linear sepanjang usus, karena noduli itu membuktikan adanya
reaksi dari usus terhadap larva. O. Colombianum termasuk cacing yang patogen,
200-300 cacing dewasa akan menimbulkan sakit yang gawat pada anak domba.
Meskipun cacing dewasa tidak menghisap darah, tetapi cukup menimbulkan
penebalan mukosa dan menghasilkan lendir yang banyak. Selain itu terjadi
penurunan nafsu makan, sehingga kondisi hewan menurun.

Gejala Klinis
Pada anak domba, gejala pertama adalah mencret, sehingga hewan
cepat kurus. Tinja berwarna hijau tua, bercampur lendir, kadang-kadang
berdarah. Mencret mulai pada hari ke enam sesudah infeksi bersamaan dengan
larva meninggalkan nodul. Pada keadaan kronis terjadi proses pengurusan yang
sangat jelas.

Diagnosa
Gejala klinis diperkuat dengan ditemukannya telur dalam tinja dan larva
dari pupukan tinja.

Pengobatan
Menggunakan phenothiazine dengan dosis 600-700 mg/kg bb,
thiabendazole dengan dosis 50 mg/kgbb, dan piperazine dengan dosis 125
mg/kg bb. Kelarutan piperazin sangat baik dalam air sehingga dapat diberikan
melalui air minum maupun dicampur dengan ransum. Keunggulan piperazin yaitu
memiliki rentang keamanan yang luas.

Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Rhabditida
Famili : Trichonematidae
Genus : Oesophagustomum
Spesies : Oesophagustomum dentatum

Morfologi
Yang jantan 8-10 mm dan yang betina 11-14 mm panjangnya. Selubung
kepalanya jelas, sayap leher tidak ada. Papil leher dekat dengan ujungnya
oesophagus. Lubang mulut dikelilingi oleh daun mahkota. Daun mahkota luar
ada sembilan, sedang daun mahkota dalam ada 18 buah. Yang jantan
mempunyai sepasang spikula yang panjangnya 1.15-1.30 mm. Bursa terdiri atas
tiga lobi. Vulva terletak posterior dan telur 60-80x35-45 mikron.

Habitat
Tinggal di dalam usus besar babi dan sebagainya di seluruh dunia. Pada
umumnya ditemukan di AS.

Daur hidup
Telur yang keluar bersama tinja telah mengandung 8-16 sel, menetas
dalam waktu 24-48 jam, mencapai larva infektif dalam waktu 3-6 hari. Larva peka
terhadap cahaya yang kuat dan kegelapan total. Di lapangan tahan hidup selama
14 bulan, tetapi sebagian besar mati dalam waktu singkat. Larva juga migrasi ke
daun rumput yang basah dan bila permukaan tanah kering larva akan masuk
lebih dalam mencari tempat yang lembab.
Infeksi berlangsung waktu babi makan makanan di atas tanah yang
mengandung larva infektif. Larva infektif melewati lambung, eksidis dalam usus
kecil dan terus ke usus besar. Selanjutnya masuk kedalam mukosa usus besar.
Dalam mukosa usus besar terjadi reaksi radang dan dalam waktu sekitar 49 jam
muncul nodul sekitar larva tersebut.
Dalam nodul larva tumbuh, 6-7 hari kemudian nodul pecah dan larva
kembali ke lumen dan menjadi dewasa. Daur hidup jadi sempurna dalam waktu
5-7 minggu sesudah infeksi, telur ditemukan dalam tinja sekitar 49 hari sesudah
infeksi.
Patogenesis
Pembentukan nodul merupakan patologis yang utama yang menggangu
penyerapan dan peristaltik usus. Dinding usus menebal.

Gejala klinis
Penyakit ini terutama menyerang babi yang dilepas dilapangan. Gejala
utamanya mencret dan pertumbuhan terhambat.

Pengobatan
Phenothiazine 220 mg/kgbb, piperazine 110 mg/kgbb, tricholorphon 44
mg/kgbb, ronel 100mg/kgbb, hygromycin B 12 juta unit/1000 kg makanan selama
5 minggu.

Untuk mendapatkan hasil peternakan yang optimal, perlu dilakukan


pengendalian penyakit cacingan tersebut. Cara yang dilakukan agar peternakan
terhindar dari penyakit cacingan adalah dengan dilakukannya pencegahan.
Langkah yang pertama yaitu dengan pemberian obat cacing. Pengobatan akan
sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan
secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing.

Langkah yang kedua yaitu melakukan sanitasi


kandang dan peralatan peternakan. Cara tersebut meliputi pembersihan
kandang, pencucian dan penyemprota dengan desinfektan serta memotong
rumput disekitar area peternakan. Langkah yang ketiga yaitu mengurangi
kepadatan kandang, kepadatan yang berlebihan di dalam kandang dapat
memberi peluang yang tinggi bagi infestasi cacing.

Langkah yang keempat yaitu pemberian ransum dengan kandungan


mineral dan protein yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.
Langkah yang terakhir yaitu mencegah kandang becek, seperti menjaga litter
tetap kering, tidak menggumpal dan tidak lembab. Selain itu, pengendalian
tersebut juga dapat dilakukan dengan kombinasi antara pengobatan cacing
secara rutin dan pencegahan, serta dilakukannya tata laksana kandang dan
lingkungan sekitar kandang dengan baik
KESIMPULAN

Oesophagostomum adalah cacing benjol pada ternak. Cacing ini adalah


parasit yang hidup di saluran pencernaan domba, kambing, babi, sapi, dan
monyet. Larva infektif terdapat di usus halus, dan cacing dewasa dapat di
temukan di sekum dan kolon. Hewan yang menderita oesophagostomiasis akan
mengalami kerusakan mukosa usus, peradangan dan oedema, serta
pendarahan dan radang usus. Gejala klinis yang ditimbulkan yaitu diare, mencret
berdarah, anemia, suhu badan meningkat, dan menurunnya berat badan.
Oesophagostomiasis dapat diobati dengan kelompok obat benzimidazole,
pyrantel, phenothiazine, piperazine, dan triclorophon.
DAFTAR PUSTAKA

Dobson, C. 1966. Distribution of Oesophagostomum columbianum Larva Along


the Alimentary Tract of the Sheep. J. Agric. Res. Austral.
Hamilton, J.D. 2008. Nodule worm (Oesophagostomum spp).
http://www.wormboss.com.au/LivePage.aspx?pageId=438 [30 Agustus
2008.
Haryati, S. Cacingan dan Pengobatannya. http://infovet.blogspot.com, Edisi 167
[Juni 2008]
Johnstone, C. 2008. Oesophagostomum Species. http://cal.vet.upenn.edu.htm
[15 September 2008].
Krepel, E. L. 2008. Oesphagostomum. http://en.wikipedia.org/Oesophagostomum
[15 Agustus 2008].
Nansen, P. dan Larsen, M. 1996. Control of Oesophagostomum dentatum and
Hyostrongylus rubidus in outdoor-reared pigs by daily feeding with the
microfungus Duddingtonia flagrans. Di dalam: Turoski, Editor. Parasitology
Research. Heidelberg, Agustus 1996. Springer Berlin: Biomedical and Life
Sciences. Halaman 580-584.
Nawang. Pebruari, 2007. Penyakit pada Kambing atau Domba, WartaSANBE-
VET, hlm.16.
Noble, E. R. dan Noble, G. A. 1989. Parasitologi, Biologi Parasit Hewan.
Wardiarto dan Noerhajati, Penerjemah. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Storey, P.A. Nemanthelminthes. http://free.vlsm.org/v12 [29 September 2008].
Susanti, E. Agustus, 2007. Cacingan pada Pedet, WartaSANBE-VET, hlm. 27.

Anda mungkin juga menyukai