Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH PROTOZOOLOGI

“BALANTIDIOSIS PADA BABI”

Kelompok 4:
Bakhtiar Hidayat HarahapB04062864
Fifit Diah Puspitosari B04063091
Mayang Sani B04063317
Vivi Maryuni B04063429
Isnia Nurulazmy B04063533

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
PENDAHULUAN

Cilliata merupakan protista bersel satu yang permukaan tubuhnya ditumbuhi rambut getar
(silia). Bentuk tubuhnya tetap tidak berubah-ubah, oval atau bulat telur dan hidup di tempat-
tempat yang berair misal: sawah, rawa, tanah berair dan banyak mengandung bahan organik.
Sifat hidup cilliata ada yang hidup bebas dan adapula yang parasit. Contoh cilliata yang hidup
bebas adalah Paramecium candatum dan yang hidup parasit adalah Nyctoterus ovalis yang hidup
di dalam usus kecoa adalah Balantidium coli yang parasit pada babi dan dapat menyebabkan
penyakit balantidiosis (disentri balantidium).
Spesies Balantidium yang terdapat pada babi dinamakan Balantidium suis. Balantidium
suis merupakan variasi morfologi dari Balantidium coli. Oleh karena itu, Balantidium suis sering
dinyatakan sinonim dengan Balantidium coli. Balantidium suis merupakan protozoa yang
termasuk kelas Kinetofragminophorasida yang mempergunakan silia sebagai alat untuk bergerak.
Organel ini dapat menjadi alat untuk menangkap dan menelan makanan, dan sering bertindak
sebagai alat peraba, berupa suatu penjuluran dari ektoplasma.susunan silia sangat spesifik, ada
yang merupakan kumpulan silia yang menjadi bentuk lempengan dan dinamakan membranella
(cirri). Endoplasmanya terdiri dari mitokondria, badan golgi, dan retikulum endoplasma.
Balantidia memiliki dua macam nuklei, yaitu mikronukleus dan makronukleus. Vakuola dapat
terlihat pada sitoplasmanya. Perkembangbiakan Balantidia melalui pembelahan sel. Biasanya
terdapat di tepi mulut (peristom) untuk membantu mengumpulkan makanan. Penyakit yang
disebabkan oleh Balantidium suis adalah Balantidiosis atau balantidial disentri (M.P,
Tampubolon, 2004).
Balantidiosis adalah infestasi protozoa bersilia yang menimbulkan gejala gangguan
pencernaan. Penyakit ini tersebar luas, terutama di daerah dengan tingkat kebersihan masih
rendah. Kasus balantidiosis sebenarnya jarang terjadi, biasanya hanya muncul pada keluarga
pemelihara ternak babi atau petugas yang menangani langsung suatu peternakan babi (Wescott,
1976).

TINJAUAN PUSTAKA
Balantidium spp. adalah protozoa yang mempunyai silia, meskipun pada normalnya
bersifat komensal Balantidium spp. dapat menyebabkan penyakit balantidiosis pada air segar dan
binatang air laut. Organisme single sel ini salah satu bentuknya adalah elips atau bulat telur
dengan ukuran 40-140x25-115 mm. tubuhnya secara seragam tertutup oleh garis longitudinal
bersilia. Balantidia mancerna makanan menggunakan cytostome yang terdapat di posterior celah
bagian ventral. Makanan diperoleh dengan cara menggerakkan silia yang mengelilingi cytostome
(wikipedia.org, 2009).

Balantidiu m coli (wikipedia.org, 2009)

Balantidiosis adalah penyakit infeksius yang disebabkan


oleh protozoa (Balantidium coli) yang menginfeksi saluran
pencernaan. Balantidium adalah satu-satunya protozoa terbesar yang mempunyai cilia
(wikipedia.org, 2009). Di dalam usus babi, Balantidium coli hidup dari bacteria, pati, dan produk
lain dari usus. Pada kondisi tertentu, trofozoit membuat selaput pelindung, membentuk kista
yang tahan terhadap kondisi alam sampai beberapa minggu di luar tubuh babi.
Sumber penular utama balantidiosis adalah tinja dan potongan usus hasil pemotongan
babi yang mencemari minuman atau makanan. Penularan terjadi per os, baik secara langsung
lewat makanan muapun minuman tercemar oleh tinja babi atau primate bukan manusia yang
mengandung protozoa penyebab balantidiosis. Bentuk kista apabila masuk ke dalam tubuh
manusia umumnya hanya menimbulkan gejala klinik ringan atau subklinik.(Soulsby EJL, 1986).

PEMBAHASAN

Klasifikasi

Filum : Ciliophora
Kelas : Kinetofragminophorasida
Ordo : Trichostomatorida
Famili : Balantidiidae
Genus : Balantidium
Spesies : Balantidium suis

Morfologi
Bentuk trofozoit rata-rata berukuran 50-60 mikron panjang. Beberapa diantaranya dapat
mencapai 150 mikron panjang. Permukaan tubuh ditutupi oleh barisan silia memanjang yang
terletak sedikit miring. Di ujung anterior terdapat lekuk yang disebut peristoma dan diteruskan
sebagai saluran yang menuju ke faring dengan bentuk seperti corong disebut sitofaring, terus ke
dalam dan berakhir di sepertiga bagian tubuh. Makronukleus berbentuk seperti ginjal dan
mikronukleus terletak pada lekukan makronukleus. Terdapat satu vakuola kontraktil di dekat
ujung posterior tubuh, yang lain dekat pertengahan, dan sitoplasma mengandung sejumlah
vakuola makanan.
Pada ujung posterior juga terdapat saluran ekskresi yang pendek menuju ke anus
(cytopyge). Kista yang dihasilkan berbentuk bulat atau sedikit lonjong dan berukuran 40-60
mikron. Dalam sediaan segar yang tidak diwarnai terlihat berwarna hijau kekuning-kuningan.
Dengan pewarnaan Delafield dan Heidenhain hematoxylin, makronukleus dan sitoplasma
bergranula akan mudah terlihat (M.P, Tampubolon, 2004).

Siklus Hidup
Trofozoit hidup dalam mukosa dan submukosa usus besar terutama di daerah sekum dan
bagian terminal dari ileum. Bergerak aktif dan ritmis dengan perantaraan silianya. Karena
bentuknya dapat berubah dengan mudah dan bergerak menyerupai bor mak dengan mudah dapat
mmmenembus mukosa usus.makanannya berupa eritrosit, leukosit jaringan granula tepung, dan
sisa lain. Makanan tersebut dibawa melalui sitofaring ke dalam endoplasma dan kemudian
terbungkus vakuola-vakuola kemudian tercerna oleh beberapa enzim. Trofozoit membelah diri
secara transversal untuk membentuk dua jasad baru yang masing-masing mengandung makro
dan mikronukleus. Pembelahan yang cepat akan menghasilkan sarang-sarang Balantidium di
dalam jaringan.Untuk mempermudah penetrasi ke dalam jaringan, Balantidium mengeluarkan
enzim hialuronidase.
Dalam bentuk kista, Balantidium dapat tahan hidup dalam keadaan yang tidak
menguntungkan. Kista dibentuk dalam usus besar dan ditemukan banyak sekali dalam rektum.
Diperkirakan kista adalah bentuk yang infektif. Kista dapat hidup di luar tubuh induk semang
bila keadaan lingkungan lembab. Jika kista tertelan induk semang, dindingnya akan hancur dan
trofozoit yang dibebaskan menginvasi dinding usus dan memperbanyak diri dalam jaringan dan
membuat sarang-sarang (M.P, Tampubolon, 2004).

Patogenesis
Balantidium suis biasanya bersifat komensal dalam lumen sekum babi. Dalam keadaan
normal tidak menembus dinding atau mukosa usus. Kehadiran organisme lain atau adanya
keadaan yang mengawali terjadinya perubahan maka Balantidium suis dapat ditemukan dalam
perubahan tersebut. Dalam perubahan-perubahan tersebut, Balantidium suis menghasilkan enzim
hialurondase yang memperluas perubahan tersebut dengan merusak bagian-bagian dari sel
sehingga terjadi ulkus-ulkus.
Dalam keadaan normal Balantidium suis menghasilkan hanya sedikit enzim
hialuronidase. Infeksi bisa terjadi pada hewan muda, tua, dan sering pula pada babi yang gemuk.
Infeksi ini mungkin terjadi pada kondisi tubuh buruk, adanya flora intestinal, dan stres. Pada babi
yang sering diserang adalah organ-organ gastrointestinal (M.P, Tampubolon, 2004).

Epidemiologi
Balantidium suis dapat ditularkan karena menelan kista atau trofozoit. Trofozoit dari babi
dengan galur yang berbeda memiliki daya tahan terhadap panas dan dingin yang berbeda pula.
Galur yang tahan panas, pada suhu 47◦C tahan hidup selama 15 menit, tetapi daya tahannya pada
suhu kamar kurang dari 3 hari. Galur yang tahan dingin bertahan hidup selama 5-10 menit dalam
keadaan panas pada suhu 47◦C sedangkan pada suhu kamar bertahan sampai 5 hari atau lebih.
Kista tahan hidup sampai 1 minggu atau lebih dalam tinja babi yang lembab. Babi biasanya
merupakan sumber infeksi bagi manusia.
Kejadian infeksi pada babi tinggi. Beberapa kejadian pada manusi pernah dilaporkan dari
Inggris karena balantidiosis pada babi tersebar luas di negara ini. Infeksi Balantidium suis
biasanya ditemukan pada orang-orang yang sering kontak dengan babi atau karkasnya, misalnya
peternak babi, tukang potong babi. Penularan pada manusia sangat efektif bila melalui makanan
atau minuman yang terkontaminasi oleh tinja babi yang terinfeksi. Jadi balantidiosis adalah suatu
penyakit yang dapat dikategorikan ke dalam zoonosis dan babi bertindak sebagai resevoir (M.P,
Tampubolon, 2004).
Gejala Klinis
Gejala yang timbul bervariasi tergantung pada kerentanan hewan dan kondisi tubuh
hewan. Balantidium suis dapat ditemukan juga pada babi yang sehat. Gejala pada babi yang sakit
ialah mula-mula terjadi diare encer yang tidak teratur, depresi, anorexia, dan penurunan berat
badan. Dalam keadaan fatal dapat menyebabkan diare berdarah atau disentri hemoragis. Pada
umumnya penyakit ini dapat sembuh secara perlahan dan penderita kemudian menjadi pembawa
penyakit (M.P, Tampubolon, 2004).

Diagnosis
Berdasarkan pada tanda-tanda klinis, pemeriksaan post mortem terhadap ulkus di usus
besar, dan pemeriksaan mikroskopis dengan memeriksa adanya Balantidium suis dalam tinja
penderita. Ciliata yang aktif biasanya didapatkan dalam tinja cair atau penderita yang mengalami
diare encer. Organisme dikenal berukuran besar dan terlihat ciri khas getaran dari silia yang
menutupi tubuhnya dan gerakan dari vakuola kontraktil. Dalam tinja yang tidak cair biasanya
hanya didapatkan kista (bulat dan berdinding tebal). Pemeriksaan dapat juga dilakukan secara
histologis dari lesio usus. Diagnosa Banding dari balantidiosis hádala penyakit disentri basiler
dan disentri amoeba (M.P, Tampubolon, 2004).

Pengobatan

Pengobatan dilakukan dengan menggunakan antibiotik terramycin atau aureomycin


dalam dosis 250 mg/hari selama 10-28 hari. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan organisme
secara komplit dari saluran pencernaan. Selain itu dapat juga menggunakan metronidazol 3 gr/kg
BB, diberikan dalam waktu 5-10 hari. Penambahan 30 ppm formalin ke dalam culture tank
selama 3 hari untuk membunuh parasit yang diekskresi dari usus inang. Pemberian tetracycline
500 mg per hari selama 10 hari dan iodoquinol 640 mg per hari selama 20 hari.

Pencegahan
Satu-satunya cara infeksi Balantidium pada tubuh induk semang adalah melalui jalan
saluran pencernaan, maka cara yang paling efektif adalah menjaga sanitasi yang baik secara
keseluruhan, antara lain dengan tetap mengontrol dan melindungi makanan dari sumber
kontaminan dan mengawasi sumber air minum (M.P, Tampubolon, 2004). Selain itu juga dapat
dilakukan dengan cara mencuci tangan setelah dari kamar mandi dan sebelum memasak atau
makan, berhati-hati terhadap limbah feses manusia, dan memantau kontak dengan pasien positif
balantidiosis.

KESIMPULAN
Balantidiosis disebabkan oleh infestasi protozoa bersilia yang menimbulkan gangguan
pencenaan. Kebanyakan individu yang terserang balantidiosis tidak menunjukkan gejala klinis
yang mencolok (asimptomatis). Penularan balantidiosis melalui kontak langsung dengan babi
atau reservoir. Pencegahan balantidiosis dilakukan dengan cara menjaga sanitasi.

DAFTAR PUSTAKA
Soulsby, EJL. 1986. Helminths, Arthrophods and Protozoa of Domesicated Animals. Bailliere
Tindall, London. Hal: 748-749.
Tampubolon, M.P. 2004. Protozologi. Bogor : Pusat Studi Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor.
Wescott, R.B. 1976. Parasitology. Biology of Animal Parasites. 4th ed. Lea and Febiger.
Philadelphia
http://en.wikipedia.org/wiki/Balantidium_coli[03 januari 2009]