Anda di halaman 1dari 16

JARINGAN SARAF

Adnan
Biologi FMIPA UNM, 2010

A. Klasifikasi Jaringan Saraf

Jaringan saraf dapat menjadi dua sistem utama, yaitu :


1. Sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang)
2. Sistem saraf perifer (syaraf cranial dan spinal)

B. Fungsi Sistem Saraf

Fungsi utama dari sistem saraf adalah antara lain sebagai berikut :
1. Untuk mendeteksi, menganalisa, menggunakan, menghantarkan semua
informasi yang ditimbulkan oleh rangsang sensoris (misalnya panas
dan cahaya) dan perubahan mekanis dan kimia yang terjadi di dalam
lingkungan internal dan eksternal.
2. Untuk mengorganisir dan mengatur, baik secara langsung maupun
tidak langsung sebagian besar fungsi tubuh, terutama kegiatan motoris,
visceral, endokrin dan mental.

C. Komposisi

Secara struktural jaringan saraf terdiri atas :


1. Sel saraf (neuron) yang merupakan elemen yang sesungguhnya.
2. Sel-sel jaringan intersisial yang berfungsi sebagai penyokong sel saraf,
yang terdiri atas, antara lain :
- Neuroglia
- Seludang Schwan (neurolemma)
- Sel-sel satelit pada ganglion simpatis dan ganglion serebrospinal.

D. Morfologi Sel Saraf atau Neuron

Neuron merupakan satuan anatomis dan fungsional yang berdiri sendiri


dengan sifat-sifat morfologi. Neuron mempunyai berbagai bentuk, tetapi padea
hakekatnya memiliki ciri yang sama, yaitu terdiri atas :
1. Badan Sel (soma = perikarion)
2. Juluran-juluran sitoplasma (neurit-neurit)

Gambar 1. Sel saraf


Secara histology dan fungsional, neurit-neurit terdiri atas :
1. Akson :Merupakan juluran sitoplasma yang panjang, jumlahnya hanya satu
dan secara fungsional menghantarkan impuls dari badan sel.
2. Dendrit:Merupakan juluran sitoplasma yang pendek dan bercabang-cabang.
Jumlahnya banyak dan secara fungsional menghantarkan impuls ke badan sel.
3. Badan sel sendiri terdiri atas : (i) Membran sel yang menutupi prokarion, akson
dan dendrit, (ii) nukleus, besar, membrannya berpori, mengandung DNA dan
RNA, (iii) nukleolus, merupakan pusat kegiatan selluler, terutama untuk sintesa
DNA dan RNA, (iv) Mitokondria, terdapat dalam prokarion, dendrit, dan akson
(v) badan golgi, (vi) retikulum endoplasma, dan (vii) ribosom.
Ribosom dan retikulum endoplasma di dalam neuron berkumpul menjadi satu
dan menyusun struktur yang dikenal sebagai substansi nissal. Substnasi Nissal tidak
dijumpai pada akson dan dendrit.

E. Bentuk dan Fungsi Neuron

Tergantung pada fungsi, setiap neuron memiliki bentuk yang khas. Pada
semua neuron terdapat ujung dendrit dan ujung aksonal yang bervariasi pada lokasi
badan sel. Neuron terdiri atas tiga bentuk dasar, yaitu neuron bipolar, neuron
unipolar, dan neuron multipolar.
1. Neuron bipolar
Badan sel terletak sama jauhnya antara percabangan-percabangan dendritik
dan terminal akson. Dapat dijumpai pada ganglion telinga dalam dan retina mata.
2. Neuron unipolar
Juluran yang berfungsi sebagai dendrit dan akson berpangkal pada suatu kutub
pada badan sel. Misalnya neuron yang menyusun ganglion spinal. Neuron ini sering
disebut neuron pseudounipolar.
3. Neuron Multipolar
Bila badan sel terletak lebih dekat pada percabangan-percabangan dendritnya
daripada terfminal akson. Oleh karena pangkal dendrit-dendritnya seolah tumbuh dari
beberapa kutub pada badan selnya maka disebut neuron multipolar. Jenis neuron ini
terutama terdapat pada susunan saraf pusat.
Gambar 2. Berbagai macam bentuk neuron
Berdasarkan bentuk percabangan dendritik dan aksonal, neuron multipolar
dapat dibedakan atas :

a. Neuron isodendritik yaitu neuron yang terdiri atas dendrit-dendrit yang


panjang, akson lurus dan panjang dengan banyak percabangan kolateral
yang mengarah ke berbagai jurusan.

b. Neuron dengan percabangan terminal yang pendek-pendek namun


jumlahnya banyak.

Secara fungsional neuron dapat dikelompokkan menjadi


a. Neuron motorik, yaitu neuron yang mengatur organ efektor (kelenjar
eksokrin, endokrin dan serabut sendiri)
b. Neuron Sensoris, yaitu neuron yang menerima rangsangan sensoris dari
lingkungan dan dari dalam tubuh sendiri.
c. Neuron interneuron, yaitu neuron-neuron yang mengadakan hubungan timbal
balik diantara neuron-neuron lain sehingga membentuk rangkaian fungsional yang
kompleks.
Bentuk dan fungsi neuron berubah dalam masa perkembangan menuju
kedewasaan. Jumlah neuron sejak terbentuk dari neuroblas tidak berubah. Tetapi
volume dan bobot otak bertambah besar. Hal ini disebabkan karena tumbuhnya badan
sel dan bertambahnya percabangan-percabangan dendrit dan aksonal.
Perubahan struktur mikro menjelang kedewasaan antara lain pembentukan
selubung mielin pada akson. Mielin adalah substansi yang mengandung proteolipid
(kolesterol, fosfolipid, cerebroside, asam lemak dan protein). Pada susunan saraf
pusat selubung mielin akson dibentuk oleh juluran-juluran oligodendroglia yang
membungkus akson dengan cara melilitnya dan tidak mengandung sel schwann. Pada
susunan saraf tepi, selubung mielin dibentuk oleh juluran sel Schwann yang kontinyu,
membungkus akson dengan cara melilitnya. Sering disebut sebagai seludang
neurilemma yang penting untuk regenerasi akson. Sel Schwann mempunyai inti
gepeng yang terletak sejajar dengan akson tersebut.

Gambar 3. Fase pembentukan mielin di dalam serabut saraf perifer


Selubung yang membungkus akson tidak kontinyu, sehingga terdapat bagian-
bagian akson yang bermielin. Daerah akson yang tidak bermielin disebut nodus
Renvier. Seludang mielin berfungsi seagai isolator, yaitu mencegah adanya impuls
yang pindah ke serabut saraf lain, juga sebagai transfor nutrisi untuk memberi makan
pada akson.
F. Perhubungan Akson

Dalam melaksanakan tugasnya, masing-masing neuron berhubugan dengan


neuron-neuron lain yang menyusun berbagai rangkaian. Neuron sebagai fungsional
tidak bersambung dengan neuron-neuron lain, melainkan mengadakan suatu
pertemuan. Tempat-tempat pertemuan antar neuron lain dinamakan sinaps.
Ketika mengadakan hubungan, neuron menerima suatu stimulasi. Dalam hal
ini bagian penerima rangsang yaitu badan sel dan dendrit yang disingkat dengan BD,
mengalami perubahan. Respon BD terhadap stimulus itu berupa pengembangan gaya
yang dalam perwujudan listriknya dikenal sebagai potensial BD.
Gaya saraf itu mencetuskan potensial di akson Hillock yang akan disalurkan
melalui akson ke ujung-ujungnya. Percabangan-percabangn akhir dikenal sebagai
teledendron-teledendron dan ujung akhir teledendron dikenal sebagai bouton
terminnaux atau bongkol akhir. Selanjutnya impuls yang sudah tiba di bouton
terminaux akan disampaikan kepada bagian BD neuron lain.
Bila hal ini sudah terjadi, maka kejadian ini berarti suatu perangsangan bagi
neuron yang akan menerimanya. Pada gilirannya neuron sekunder ini akan
mengembangkan impuls yang akan disalurkan melalui aksonnya untuk kemudian
disampaikan sebagai stimulus terhadap neuron berikutnya. Demikian juga akan terjadi
fenomena yang serupa dalam mekanisme transmisi selanjutnya.
Pada sinapsis terdapat dua membran yang saling berhadapan yaitu :
a. Membran bouton terminaux ayng hendak menyampaikan impuls kepada
membran presinaptik.
b. Membran dendrit di seberangnya yang hendak menerima impuls yang
dinamakan membran postsinaptik.
Ruang antar membran presinaptik dan postsinaptik dinamakan celah sinaptik
dengan jarak 150 – 250 0A.
Gambar 4. Sinapsis pada neuron
Pada sinap terdapat bangunan-bangunan sebagai berikut :
1. a. Vesikula sinaptik terdapat pada membran presinaptik dan terlihat pada membran
postsinaptik. Vesikula tersebut merupakan lipatan-liptan membran bouton
terminaux yang mengandung neurotransmitter, yaitu suatu zat yang mampu
menyeberangkan gaya saraf dari membran presinaptik ke membran
postsinaptik.
b. Mitokondria tertimbun pada membran presinaptik.
2. Membran presinaptik lebih tipis dari membran postsinaptik.
3. Struktur yang menyerupai benang-benang dan bintik-bintik disebut membran
postsinaptik yang membuat mebran tersebut tampak lebih tebal dari membran
presinaptik, membran subsinaptik.
Tergantung pada jenis membran yang berhadapan satu dengan yang lain, maka
berbagai sinaps dapat dikelompokkan dalam :
1. Sinap akso-dendritik yaitu sinap tempat penyerahan penerimaan impuls dari
akson ke dendrit.
2. Sinap akso-somatik yaitu bouton terminaux yang bersinap dengan bagian
perikarion neuron lain.
3. Sinap akso-aksonal yaitu sinap antara bouton terminaux sebuah neuron dengan
bagian akson neuron lain di dekat tempat ia kana bersinaps denngan
percabangan dendrit neuron lain lagi.
4. Sinap dendro-dendritik yaitu sinap antara ujung-ujung dendritik dari neuron.
Akhiran-akhiran saraf terdiri atas serabut saraf eferen, membawa impuls dari
sistem saraf ke pusat efektor dan serabut saraf afferen, membawa impuls dari sistem
organ saraf ke pusat saraf
Akhiran-akhiran efferent somatis :
- Badan sel pada bagian akar ventral sumsum tulang belakang.
- Serabut berakhir pada otot rangka
- Ujung-ujung akson membentuk keping akhiran somatic.
Akhiran serabut saraf efferent viseral :
- Umumnya bermielin
- Berasal dari ganglion otonom.
- Berakhir pada organ-organ visceral, kelenjar dan bagian kelamin.
- Akhiran serabut saraf membentuk pleksus

Gambar 5. Lengkung saraf


G. Neuroglia

Neuroglia atau sel glia ialah unsur seluler susunan saraf yang tidak
mempunyai tugas untuk menghantarkan impuls saraf. Adapun sel-sel saraf
tersebut adalah mikroglia astrosit, oligodendrosit, sel ependim dan sel
koroid.
1. Mikroglia
Mikroglia merupakan unsur seluler yang memperlihatkan berbagai
bentuk dan ukuran. Hal ini sesuai dengan tugas yang sedang dikerjakan.
Sepanjang pembuluh darah dapat ditemukan mikroglia secara
tersendiri atau di dekat neuron. Mikroglia dapat berkumpul dalam bentuk
satelit. Mikroglia aktif yang berarti sedang melakukan gerakan
memperlihatkan pseudopodia sitoplasmik yaitu juluran sitoplasma yang
lebih tebal dari juluran-juluran pada keadaan istirahat.
Dalam melakukan pembersihan sisa-sisa neurolisis, mikroglia
memperlihatkan bentuk yang sangat berbeda dengan bentuk dalam keadan
istirahat. Dalam hal ini mikroglia dikenal debagai Scavenger cells atau
Gitter Cells, yaitu pulasan dengan hematoxilin-eosin terlihat sebagai sel
yang bulat dengan nucleus yang berposisi eksentrik, sitoplasma penuh
dengan zat lemak yang jika dipulas memeperlihatkan bentuk yang lebih
panjang dari pada dalam keadaan istirahat.
Mikroglia dianggap sebagai sel-sel yang dapat bergerak gesit dengan
cara mengeluarkan pseudopodia dan dapat melakukan tugas sebagai
makrofag di luar susunan saraf pusat. Mikroglia berasal dari mesoepitelium
dan bukan berasal dari neuropitelium.

2. Astrosit
Astrosit tampak sebagai sel tanpa sitoplasma. Di situ dapat dibeda-
bedkan inti neuron dan juga oligodendrosit, seperti yang terlihat pada
gambar .
Astrosit dengan juluran-juluran yang tampak lebih kekar, tidak
banyak bercabang dan bentuk cabangnya agak lurus dan sederhana
dinamakan Astrosit Fibrosa. Nukleus astrosit lebih besar daripada inti
oligodendrosit, tetapi sedikit lebih besar dari inti mikroglia, inti astrosit
tampak kurang padat, sedangkan inti oligodenrosit lebih padat, tetapi inti
mikroglia adalah yang panjang padat.
Astrosit protoplasmic mengambil posisi di dekat dinding pembuluh.
Satelit astrosit protoplasmic di dekat neuron dapat dijumpai juga, tetapi
jumlah astrosit protoplasmic di dekat pembuluh darah adalah lebih besar.
Astrosit fibrosa mengambil posisi di bagian jaringan otak subpial, di
substansi alba dan thalamus.

Gambar 6. Sel-sel glia

Oligodenrosit merupakan mayoritas dari neuroglia. Di korteks serebri


dan di substansia griseria lain, oligodendrosit berkumpul dalam kelompok-
kelompok kecil (satelit) di dekat sebuah neuron atau sepanjang pembuluh
darah.
Di substansi alba, oligodendrosit merupakan unsur seluler yang
sangat menonjol. Olidendrosit “berbaris” disepanjang serabut saraf
bermielin dan di sana sini terlihat astrosit dan ada kalanya sel mikroglia.
Oligodendrosit di substansi alba, oleh karena sitoplasma
oligodendrosit intervaskuler.
Juluran oligodendrosit tidak lain dari pada juluran sitoplasma,
meliliti akson dan membentuk lamella-lamella bagaikan gulungan pucuk
dan pisang. Bentuk itulah yang dikenal sebagai selubung mielin di sekitar
akson. Jadi proses meilisinasi itu adalah tidak lain dari pada proses dimana
juluran oligodendrosit melilit akson.
3. Ependim
Dinding ventrikel dan kanalis sentralis medullae spinalis mempunyai
lapisan permukaan yang disusun oleh sel ependim. Di bawah lapisan sel
ependim terdapat selaput glia subependim dan sering terdapat lapisan
dalam yang mengandung astrosit.

H. Reseptor

Pada hakekatnya sebelum tubuh manusia berurusan dengan dunia


luar melalui fungsi motoriknya, terlebih dahulu sudah mesra berhubungan
melalui fungsi sensoriknya. Pada analisa terakhir ternyata pula bahwa
setiap gerakan adalah reaksi terhadap rangsang sensorik. Dan kelumpuhan
paling parah tidaklah terjadi karena adanya pemotongan serabut efferen,
tetapi karena penghalang terhadap seluruh rangsangan sensorik.
Informasi dunia luar diterima tubuh oleh reseptor. Tempat rangsang
dunia luar berjumpa dengan tubuh. Permukaan luar tubuh dibentuk oleh
kulit dan permukaan dalam dibentuk oleh mukosa. Reseptor yang berada di
kulit di kelompokkan sebagai eksoreseptor. Dan reseptor yang berada di
mukosa dinamakan enteroreseptor. Kelompok lain adalah propioreseptor
yaitu reseptor yang terletak di otak dan jaringan pengikat.
Reseptor yang dimaksud di atas merupakan reseptor sensorik umum,
olehka karena panca indera diangaap memiliki reseptor khusus. Namum
demikian, pada pokoknya kedua jenis reseptor mempunyai tugas yang
sama, yaitu menangkap informasi dari dunia luar. Struktur pokoknya pun
sama, yaitu oleh karena keduanya merupakan ujung seraut saraf sensorik.
Dalam rangkaian neuron-neuron yang menyusun susunan
somatosensorik umum, neuron pertamanya adalah neuron yang
membentuk ganglion spinale. Neuron itu berbentuk pseudounipolar
(gambar 2). Juluran yang menuju ke medulla spinalis menyusun radiks
dorsalis.
Juluran yang menghubungkan daerah tepi dengan badan neuron
menyusun komponen sensorik syaraf tepi. Ujung yang ditepi itu bercabang-
cabang sehingga terdapat serabut-serabut dengan berbagai ukuran. Karena
cabang-cabang tersebut mempunyai berbagai ukuran garis tengah, maka
khususnya saraf sensorik tepi ditentukan oleh cepat lambatnya
pengahantaran informasi dari dunia luar. Ujung saraf yang bercabang-
cabang itulah yang berfungsi sebagai reseptor. Berbagai jenis
somatosensorik umum dapat dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu,
golongan yang tidak berkapsul dan golongan yang berkapsul.

1. Jenis reseptor somatosensorik umum tak berkapsul


Ujung serabut saraf sensorik tepi yang becabang-cabang halus
merupakan reseptor tak berkapsul tidak memperlihatkan bentuk tambahan.
Dalam bentuk cabang-cabang melalui reseptor itu berada di epitelium,
membran serosa. Jaringan pengikat, tendon, periotium, persendian,
membran timpani dan pulpa gigi.
a. Ujung saraf bebas sederhana di kulit. Di epidermis ujung-ujung bebas
yang berdiameter 0,5 – 1 µ menempatkan dirinya diantara sel-sel epidermis
bagian dalam. Ujung-ujung itu tidak bermielin dan berakar pada pleksus
yang berbeda di dermis.
Reseptor yang berbentuk sederhana itu adalah reseptor nyeri atau
nosireseptor. Segala macam rangsangan yang bersifat merusak
(noseo = merusak) kehidupan sel menimbulkan depolarisasi pada
membran cabang-cabang bebas itu, sehingga suatu potensial aksi
dicetuskan. Impuls yang kemudian disalurkan melalui pleksus dan
selanjutnya tiba di ganglion spinale adalah impuls nyeri.
Reseptor sejenis dengan yang dilukiskan di atas dijumpai juga di
selaput lendir, kapsul persendiaan, periosteum, pulpa gigi dan
membran timpani.
b. Alat ruffini adalah ujung saraf pada mana ujung-ujung
terminalnya bersderet-deret seperti gigi sisir. Reseptor ini
dianggap sebagai reseptor rangsang panas.
c. Alat Krause adalah ujung saraf pada mana cabang terminalnya
berbentuk seperti mawar yang masih kuncup. Rseptor ini
dianggap sebagai reseptor rangsangan dingin.
d. Alat Merkel. Pada ujung saraf yang dinamakan alat merkel
terdapat bentuk ujung terminal yang menyerupai cagak yang
menopang sel epidermis.
Gambaran alat Merkel dikenal juga sebagai cakram merkel. oleh
karena sel epidermis yang ditopangnya oleh cagak ujung terminal itu
berwarna lebih tua dari pada sel epidermis lainnya. Namun demikian
sel epidermis yang ditopang itu sama sekali bukan unsur sarafi,
melainkan mutlak unsur epidermis.
Perbedaan warna antara sel epidermis yang ditopang cabang terminal
dengan sel-sel epidermis lainnya disebabkan oleh penimbunan
granulae lipoprotein di dalam sitoplasma sel epidermis yang tersebut
pertama. Alat merkel dianggap sebagai reseptor rangsang raba. Di
kulit dan mukosa alat merkel berkontraksi di sekitar telapak
tangan/kaki, diputing susu dan di tepi lidah.
e. Pleksus folikel rambut ialah ujung-ujung serabut saraf tak
bermielin yang mengumpar foliekl rambut. Bentuk ujung
terminal itu dikenal sebagai terminalia peritrikal. Reseptor ini
peka terhadap perabaan.
f. Terminalia bercabang unit. Bentuk ujung bebas yang
sederhana telah dilukiskan di atas sebagai reseptor rangsang
nyeri. Di samping itu ujung-ujung serabut saraf dapat
bercabang-cabang secara luas dan rumit. Bentuk ujung
terminal ini dapat dijuluki juga terminalia beramfikasi.
Reseptor ini peka terhadap rangsangan propriosensitif,
rangsangan gerak, getar dan posisi. Reseptor semacam ini
terdapat juga di visera.
Berbeda dengan yang disebutkan di atas ialah diameter serabut yang
mayoritasnya lebih kecil. Karenanya bukan impuls nyeri yang
memerlukan kesadaran akan perasaan penuh di lambung, kandung
kemih dan rectum. Juga perasaan umum yang dinyatakan sebagai
enak atau tidak enak di dalam perut sangat mungkin disadarkan
dengan perantaraan reseptor tersebut.
Bentuk semua ujung saraf somatosensorik umum yang telah
diuraikan di atas dapat dipelajari dari sediaan yang dipulas secara
sederhana dan dilihat dengan bantuan mikroskop biasa. Sehubungan
dengan itu perlu disinggung bahwa banyak penyelidi-kan modern
yang meragukan bentuk-bentuk klasik sebagai bentuk asli terminalia
saraf somatosentrik umum. Anggapan yang diketengahkan ialah
bahwa bentuk-bentuk klasik tersebut sangat mungkin artefak yang
dihasilkan oleh proses pemulasan akibat efek electron belum dapat
menyelesaikan persoalan ini secara tuntas.
Sambil menunggu hasil penelitian modern yang meyakinkan.
Sebaiknya bentuk-bentuk reseptor terlukis di atas masih tetap
diterima sebagaimana konsep klasik memperkenalkan.
2. Jenis somatosensorik umum yang belapsul.
Terminalia serabut saraf somatosensorik yang termasuk golongan jenis
reseptor berkapsul adalah terminalia yang ikut menyusun suatu
struktur yang berbentuk khas. Adapun jenis-jenis yang dapat dibeda-
bedakan berdasarkan bentuk masing-masing ialah :
a. Korpuskula Meissner. Reseptor ini dianggap sebagai reseptor
rangsang raba terutama pada kulit, dimana ia berlokasi di
papillae dermis dan menonjol ke arah epidermis. Reseptor
tersebut banyak ditemukan di telapak tangan/kaki dan
seteruanya di kulit lengan bawah bagian volar, tepi kelopak mata,
putting susu, alat kelamindan mukosa ujung lidah.
Bnetuk lonjong dan ukurannya adalah 50 sampai 100 µ.bentuk
tersebut terwujud oleh adanya membran halus yang membungkus
sejumlah sel epitelium yang berderetan secara membujur. Membran
tersebut membentuk kapsul reseptor. Unsur saraf yang ikut
menyusun struktur korpuskula meissner terdiri dari serabut-serabut
terminal yang termasuk kelompok A. Serabut terminal itu memasuki
bangunan yang lonjong itu dari kutub yang berada di dermis. Setelah
memasuki kapsul, maka serabut saraf itu melucuti dirinya dari
selubung mielin, sehingga ia tidak bermielin lagi. Secara rumit
serabut-serabut tak bermilin itu meluas ke arah kutub luarnya.
Korpuskula meissner itu dianggap sebagai reseptor peradaban
diskriminatif. Ini berarti mampu merasakan kulit-kulit diraba pad
dua titik yang berdekatan. Dengan ini pengenalan kasar-halusnya
permukaan benda yang sedang diraba dapat dilaksanakan.
b. Korpuskula Vater-Pacini. Reseptor ini tesebar di seluruh tubuh, di
jaringan subkutan dan di jaringan pengikat tendon. Ligamenta
pada persendian, putting susu, alat kelamin dan juga di membran
serosa dan mesentarium. Dalam jumlah yang kecil ditemukan
juga di visera. Bentuk lonjong dan ukurannya cukup besar.
Panjangnya berkisar antara 1 – 4 mm. Oleh karena reseptor ini
dapat dilihat langsung dengan mata biasa, maka sejak jaman
dahulu smapai sekarang intensif dipelajari. Dilihat dengan
mikroskop biasa, maka Korpuskula Vater-Pacini tampak sebagai
bangunan lonjong yang tersusun dari lapisan-lapisan (lamellae).
Sejumlah besar serabut saraf kelompok A memasuki bangunan
tesebut melalui salah satu kutubnya. Setelah berada di dalam
bangunan tersebut, serabut itu tak bermiellin lagi dan menyusun
suatu berkas yang jalan lurus. Unsur saraf ini membentuk poros
bangunan. Bila dipelajari dengan bantuan mikroskop elektron,
maka terungkaplah bahwa lapisannya berjumlah 60. setiap lapis
membentuk suatu ailinder yang dibentuk oleh sel-sel gepeng.
Serabut saraf tak bermielin yang terkumpul dalam suatu berkas
dan menduduki poros bangunan lonjong itu ternyata mengandung
banyakj mitokondria dalam jumlah yang luar biasa. Diantara
pembatasan tersebut terdapat ruang halus yang terisi cairan.
Dengan perantaraan fungsi Korpuskula Vater-Pacini dan alat merkel,
kesadaran akurat mengenal sikap dan posisi bagian tubuah yang
sedang melakukan gerakan dapat tercapai.
Korpuskula Vater-Pacini yang berada di dekat periotium berfungsi
sebagai reseptor tersebut tersebar di visera berperan seperti alat
merkel, yaitu memberikan perantaraan dalam penyadaran “perasaan
penuh” dan enak tak enak di dalam perut.
c. Kerucut neuromuskulus (kerucut otot = muscle spindale).
Reseptor ini mencetuskan impuls aferen atas terjadinya kontraksi
otot ekstensor skeletal. Informasi yang dikirim ke susunan saraf
pusat diperlukan untuk mengatur pengendalian tonus yang
sesuai melalui busur refleks yang dikenal sebagai “gamma loop”
walaupun impuls yang dicetuskan itu bersifat aferen, maka
informasi yang dikirim ke susunan somatosensorik.
d. Kerucut neurotendineus (kerucut tendon). Reseptor ini dikenal
juga sebagai alat golgi tendon. Dalam jumlah yang besar reseptor
ini ditemukan di daerah peralihan antara tendon dan otot.
Bentuknya dipertegas oleh suatu membran halus yang
membungkus beberapa jalan serabut kolagen tendon. Pada
serabut kolagen tersebut ujung terminal sejumlah saraf ensorik
kelompok A bercabang-cabang pada mana bagian terujung
menjugur sebagai alat pelekat yang menempel pada serabut-
serabut kolagen tersebut di atas.
Peregangan serabut kolagen akibat tarikan ketika kontraksi otot
berlangsung merupakan perangsangan terhadap reseptor. Jelaslah
bahwa alat golgi di tendon ini berfungsi sebagai tensi reseptor yang
dikonstruksikan dalam pengendalian tonus otot skeletal yang sedang
melakukan gerakan.