Anda di halaman 1dari 18

STRUKTUR DASAR SEL

Adnan. 2008
(Biologi FMIPA UNM)

Sel merupakan kumpulan protoplasma yang dibatasi oleh membran. Sel bukan
merupakan suatu ruang-ruang kecil yang kosong seperti yang diamati oleh Robert Hooke,
melainkan sel merupakan suatu bangun yang mengandung isi yang kompleks. Keseluruhan
isi sel disebut Protoplas, sedangkan zat di dalam sel yang merupakan koloid berstruktur-
kompleks disebut Protoplasma (dari bahasa Yunani protas yang berarti pertama dan
plasma yang berarti pembentukan). Dengan demikian, secara harfiah protoplasma berarti
pembentukan yang pertama (De Robertis et. al. 1975).
Protoplasma terutama terdiri atas 5 substansi dasar yaitu elektrolit, protein,
lipida, karbohidrat, dan air. Pada sel hewan dan tumbuhan, protoplasma mengandung
sekitar 75-85% air, 10-20% protein, 2-3% lipid, 1% karbohidrat, dan 1% zat
anorganik lainnya. Pada sel eukariota, bagian dari cairan sel yang terdapat di antara
membran inti (nuclear envelope) dengan membran plasma disebut sitoplasma,
sedangkan cairan sel yang terdapat di dalam selaput inti disebut nukleoplasma. Di
alam dikenal ada dua tipe sel berdasarkan ada tidaknya selaput inti, yaitu sel
prokariota dan sel eukariota. Sedangkan berdasarkan cara sel untuk mendapatkan
energi dari lingkungan sekitarnya, dikelompokkan menjadi dua, yaitu sel autotrofik
dan sel heterotropik (De Robertis et al., 1975)
Menurut De Robertis et al., (1975), sebuah sel harus memenuhi beberapa criteria
yaitu :
1. Memiliki membran plasma;
2. Mengandung materi genetic yang penting untuk mengkode berbagai jenis
RNA, termasuk untuk sintesis protein;
3. Mengandung “mesin biosintesis” tempat di mana sintesis berlangsung.
Pada mulanya pengamatan terhadap struktur sel eukariota sangat terbatas pada
bagian-bagian tertentu saja, misalnya dinding sel, membran sel dan inti sel. Dalam tahap
perkembangannya, pengamatan terhadap struktur sel menjadi sangat kompleks, terlebih
setelah ditemukannya mikroskop elektron oleh Knoll dan Ruska pada tahun 1932 (Karp,
Biologi Sel 21

1984). Dengan ditemukannya mikroskop elektron, maka kini pengamatan terhadap struktur
sel telah sampai pada tingkat ultra struktur. Di dalam sitoplasma sel eukariota terdapat
organel-organel sel. Organel sel adalah badan-badan yang terdapat di dalam sel, baik yang
berbatas membran maupun yang tidak berbatas membran.

A. Struktur Dasar Sel


Struktur dasar sel hewan dan tumbuhan pada dasarnya memiliki pola umum yang
sama. Namun, dalam beberapa hal terdapat perbedaan (Villee et al, 1985), seperti tampak
pada tabel 2.1.

Tabel 2.1 Perbedaan struktur antara sel hewan dan sel tumbuhan

No. Organel Sel Hewan Sel Tunggal


1. Dinding Sel Tidak Ada Ada
2. Kloroplas Tidak Ada Ada
3. Vakuola Tidak ada, kalaupun ada Ada, Vakuola sentral
Ukurannya kecil Yang besar
4. Sentriol Ada Tidak Ada
5. Lisosom Ada Tidak Ada
6. Silia Ada Tidak Ada
Biologi Sel 22

Gambar 2.1 Struktur Sel Hewan (Campbell, Reece, dan Mitchell, 2000).

Gambar 2. Struktur Sel Tumbuhan (Campbell, Reece, dan Mitchell, 2000).

Untuk melaksanakan fungsinya dengan baik efisien, maka dilengkapi dengan


berbagai komponen yang memungkinkan berbagai aktifitas sel dapat dilangsungkan.
Secara umum, struktur dasar sel terdiri atas dinding sel, membran sel, retikulum
endoplasma, badan golgi, lisosom, mikrobodi, mitokondria, kloroplas, ribosom, nukleus,
Biologi Sel 23

mikrotubul dan mikrofilamen, sentriol, silia dan flagel. Tidak semua sel memiliki
komponen-komponen tersebut di atas, tergantung pada tipe selnya.

1. Dinding Sel
Dinding sel hanya dijumpai pada sel tumbuhan. Dinding sel berfungsi sebagai
penyokong mekanik dan memberi bentuk pada sel. Pada kondisi tertentu, dinding sel
berperan untuk melindungi sel agar tidak mengalami lisis. Dinding sel tumbuhan terutama
tersusun atas selulosa, hemiselulosa, dan polisakarida pektat. Secara umum, dinding sel
pada tumbuhan terdiri atas dua, yaitu dinding sel primer dan dinding sel sekunder. Diantara
dinding primer dari suatu sel dengan dinding primer dari sel yang bertetangga terdapat
lamella tengah. Dinding sekunder terdiri atas tiga lapis, yaitu lapisan dalam (S3), lapisan
tengah (S2), dan lapisan luar (S1) (Thorpe, 1984)

Gambar 3. Model Dinding Sel Tumbuhan (Thorpe, 1984).

Dinding sel biasanya bersifat kaku. Namun demikian, bukanlah merupakan


pemisah secara absolut antara isi sel dengan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut
disebabkan karena pada dinding sel terdapat suatu saluran yang menghubungkan antara
Biologi Sel 24

satu sel dengan sel lainnya. Penghubung tersebut dinamakan plasmodesma-ta, berperan
dalam melayani sirkulasi bahan-bahan interseluler Selain palsmodesmata, pada dinding sel
tumbuhan misalnya sel-sel xylem dan floem, terdapat lubang-lubang halus atau lubang-
lubang besar yang dapat menghubungkan antara dua sel yang bertetangga (gambar 2.4)

Gambar 4. Lubang-lubang Besar pada Xylem (Thorpe, 1984).

2. Membran plasma
Membran prlasma secara fisik memisahkan sitoplasma dan organel-organel
seluler dari lingkungan sekitarnya. Semua materi yang masuk dan keluar dari sel harus
melewati membran plasma. Membran plasma bekerja sebagai sebuah rintangan
semipermiabel di mana berlangsung difusi secara selektif, transpor aktif, pinositosis,
fagositosis dan komunikasi antara si penerima dan penyampai rangsangan, dan tempat
berlangsungnya sejumlah reaksi-reaksi kimia.
Membran plasma terutama tersusun atas lipida dan protein. Lipida membran
terutama terdiri atas fosfolipida, glikolipida, dan sterol. Molekul-molekul lipida bersifat
anfifatik, artinya setiap molekul mengandung komponen yang bersifat hidrofobik dan
hidrofilik.
Protein membran adalah protein globular yang tertanam atau mengapung dalam
matriks cair. Protein-protein yang terdapat pada membran plasma mempunyai peranan
yang sangat penting dalam hal :
a. Memberikan kekuatan struktural pada membran;
b. Bekerja sebagai enzim untuk melangsungkan berbagai jenis reaksi-reaksi kimia;
c. Bekerja sebagai protein pembawa (carrier) untuk transpor material melalui
membran;
Biologi Sel 25

d. Bekerja sebagai protein saluran;


e. Menguraikan zat lipida, oleh sebab itu membentuk pori membran.
Pada membran plasma, juga terkandung karbohidrat dalam jumlah sedikit.
Karbohidrat biasanya dalam bentuk glikoprotein dan glikolipida. Membran plasma pada
sel-sel jaringan, biasanya mengalami modifikasi-modifikasi tertentu membentuk sejumlah
tonjolan-tonjolan yang disebut mikrovili, misalnya mikrovili pada sel-sel epitel usus halus
(Sheeler & Bianchi, 1983). Mikrovili berperan meningkatkan luas permukaan sel dan
untuk meningkatkan pelaluan materi melintasi membran plasma. Membran plasma antara
satu sel dengna sel lainnya dapat saling berhubungan melalui suatu struktur khusus yang
disebut junction, misalnya tigh junction,gap junction, dan desmosom .

Gambar 5. Struktur Membran Sel (Campbell, Reece, dan Mitchell, 2002).

3. Retikulum Endoplasma
Di dalam sitoplasma sel, terdapat jalinan saluran-saluran yang berbatas
membran dan saling beranastomosis dan secara kolektif disebut retikulum
endoplasma. Membran retikulum endoplasma membagi sitoplasma menjadi dua fasa,
yaitu (i) fasa luminal atau fasa intra cisternal dan (ii) fasa hyaloplasmik atau fasa
sitosol. Fase luminal terdiri dari materi yang terdapat di dalam sisterna retikulum
endoplasma. Retikulum endoplasma yang pada permukaan hyaloplamiknya terdapat
ribosom disebut retikulum endoplasma halus atau licin. Setiap bagian dari retikulum
Biologi Sel 26

endoplasma dapat berhubungan dengan membran plasma dan selaput inti (Sheeler &
Bianchi, 1983). Ribosom adalah partikel nukleoprotein tempat berlangsungnya
reaksi-reaksi sintesis protein (Thorpe, 1984).
Retikulum endoplasma berperan di dalam mekanisme detoksifikasi, ikut terlibat
di dalam sintesis lemak, steroid dan metabolit molekul-molekul kecil. Selain itu,
berperan dalam sintesis protein dengan adanya ribosom (gambar 2.6) pada permukaan
membrannya.

Gambar 6. Model Retikulum Endoplasma Kasar


(Sheeler & Bianchi, 1983)

4. Badan Golgi
Badan golgi sering disebut apparatus golgi. Terdiri atas sisterna-sisterna halus yang
biasanya ditumpuk bersama-sama dalam arah yang paralel. Kompleks golgi biasanya
dikelilingi oleh vesikula-vesikula dengan berbagai ukuran yang dilepaskan dari bagian tepi
kompleks golgi. Beberapa fungsi kompleks golgi adalah memodifikasi produk sekresi;
sekresi enzim-enzim, khususnya lipoprotein pada sel produk sekresi; glikoksilasi protein-
protein yang di sintesis oleh retikulum endoplasma kasar; pembuatan membran untuk
vesikula yang dikeluarkan dari permukaan matang; dan proliferasi membran plasma
dengan menambahkan bahan-bahan membran untuk organel-organel intraseluler dan
membran plasma (Sheeler & Bianchi, 1983).
Biologi Sel 27

Gambar 7. Struktur Badan Golgi (Sheeler & Bianchi, 1983)

5. Lisosom
Pada umumnya sel-sel mengandung struktur berbentuk vesikula yang
ukurannya lebih kecil daripada mitokondria dan disebut lisosom. Permukaan lisosom
dibatasai oleh suatu membran tunggal dan mengandung sejumlah enzim-enzim
hidrolase yang mampu mencerna protein, asam nukleat, polisakarida, dan bahan-
bahan lain. Dibawah kondisi normal, aktivitas enzim-enzim tersebut terbatas pada
bagian dalam dari lisosom. Akan tetapi, jika membran lisosom pecah, maka enzim-
enzim dilepaskan dan dapat menghancurkan sel. Lisosom bertanggungjawab untuk
pencernaan intraseluler dari partikel-partikel yang dimakan oleh sel selama
endositosis (Sheeler & Bianchi, 1983).

6. Mitokondria
Di dalam sitoplasma, terdapat sejumlah organel-organel berbentuk vesikula
lonjong yang disebut mitokondria. Setiap mitokondria dibatasi oleh dua membran,
yaitu membran luar dan membran dalam. Pada membran dalam, terdapat sejumlah
lipatan-lipatan yang disebut krista yang menambah luas daerah permukaan membran
dalam. Ruang yang terdapat diantara krista mitokondria disebut matriks. Pada
Biologi Sel 28

mitokondria berlangsung sejumlah fungsi-fungsi metabolik, meliputi produksi energi


dari metabolisme karbohidrat dan lipida (Sheeler & Bianchi, 1983).

Gambar 8. Struktur Mitokondria (Sheeler & Bianchi, 1983).

7. Mikrobodi
Mikrobodi terdapat pada sel hewan maupun tumbuhan. Ada dua jenis
mikrobodi, yaitu peroksisom dan glioksisom. Organel-organel ini dibatasi oleh
membran tunggal dan mengandung sejumlah enzim-enzim yang berfungsi dalam
metabolismehidrogen peroksida dan asam glioksilat. Secara umum, mikrobodi
berfungsi untuk reaksi-reaksi oksidasi yang dilakukan oleh flavin oksidase dan
katalase, metabolisme d-asam amino, serta membantu mitokondria didalam
metabolisme lemak.

8. Kloroplas
Kemampuan untuk menggunakan cahaya sebagai sumber energi untuk sintesis
karbohidrat dari air dan karbon dioksida merupakan ciri khusus dari setiap sel
tumbuhan. Proses tersebut dinamakan fotosintesis dan berlangsung didalam organel
yang disebut kloroplas. Kloroplas memiliki struktur yang agak lonjong dan dibatasi
oleh membran luar dan di dalamnya terdapat membran-membran internal.
Biologi Sel 29

cara internal, kloroplas terdiri atas rangkaian-rangkaian membran yang tersusun


berupa lempeng-lempeng paralel yang disebut lamella dan didukung oleh suatu
matriks yang bersifat homogen yang disebut stroma Membran-membran yang
tersusun berupa kantong-kantong tipis disebut tilakoid yang mengandung klorofil dan
dapat menumpuk satu dengan yang lainnya membentuk struktur yang disebut
grana.Membran lamella yang menghubungkan grana disebut lamella stroma (Sheeler
& Bianchi, 1983).

Gambar 9. Struktur Kloroplas (Thorpe, 1984)

9. Nukleus (Inti sel)


Ukuran nukleus relatif besar dan dengan mudah dibedakan dari struktur yang lain.
Nukleus tidak selalu terdapat pada bagian tengah sel, misalnya pada sel-sel otot rangka,
nukleus terdapat pada bagian perifer. Kandungan nukleus terpisah dari sitoplasma oleh dua
membran yang secara bersama-sama membentuk selaput inti (nuklear envelope) atau
sering disebut membran inti. Pada tempat-tempat tertentu membran luar dari selaput inti
berfusi dengan membran dalam dan membentuk pori inti. Sitosol dan nukleoplasma secara
terus menerus tetap berhubungan melalui pori inti. Biasanya pori inti dikelilingi oleh
granula-granula dan secara bersama-sama membentuk kompleks pori. Membran luar inti
mempunyai ribosom yang dilekatkan pada permukaan hyaloplasmik dan juga dapat
membentuk hubungan yang bersambungan dengan membran retikulum endoplasma.
Ruang diantara membran luar dan membran dalam inti disebut ruang perinukleus. Di
Biologi Sel 30

dalam inti terdapat anak inti atau nukleolus (Sheeler & Bianchi, 1983; Junqueira &
Carneiro, 1980; Thorpe, 1984).

Gambar 10. Struktur Inti (Sheeler dan Bianchii, 1983)

10. Vakuola
Vakuola dibatasi oleh membran tunggal dan dibentuk oleh penggabungan vakuola-
vakuola sederhana selama pertumbuhan dan perkembangan sel tumbuhan. Vakuola
berperan sebagai tempat penyimpanan air dan produk-produk sel atau metabolit-metabolit
intermediat (Sheeler & Bianchi, 1983). Vakuola mengisi kurang lebih 90% dari volume sel
tumbuhan dewasa. Vakuola berisi cairan dan dibatasi oleh membran yang disebut tonoplas,
mengandung bermacam-macam substansi organik dan anorganik. Substansi organik
misalnya gula, protein, asam-asam organik, fosfatida, tannin, dan pigmen flavonoid.
Sedangkan substansi anorganik misalnya kalsium oksalat.
Sel meristematik memiliki banyak vakuola-vakuola sederhana. Mengikuti
pertumbuhan dan differensiasi sel, vakuola-vakuola sederhana bergabung satu dengan yang
lainnya membentuk vakuola sentral yang besar (Fahn, 1970).

11. Flagella dan Silia


Umumnya sel-sel yang dapat hidup bebas seperti protozoa dan mikroorganisme
lainnya mempunyai organel lokomotor yang menonjol pada permukaan selnya. Organel
tersebut dinamakan flagella dan atau silia. Sel-sel pada jaringan organisme multiseluler
juga dapat memiliki silia, tetapi mereka digunakan untuk menggerakkan substrat melintasi
Biologi Sel 31

permukaan sel, seperti mukus pada saluran pernafasan atau sel telur selama melintasi tuba
fallofii. Jadi peran silia pada organisme multiseluler bukan untuk pergerakan sel. Organel-
organel disebut silia bila lebih pendek dan terdapat dalam jumlah yang banyak, sedangkan
flagella jika panjang dan jumlahnya sedikit. Setiap silia atau flagella dibungkus oleh
perpanjangan membran plasma. Secara internal, organel-organel tersebut mengandung
mikrotubul dengan susunan yang spesifik membentuk basal body atau kinetosoma. Basal
bodi terdiri atas dua mikrotubul pusat dan sembilan pasang mikrotubul perifer (Sheeler &
Bianchi, 1983).

Gambar 11. Silia Sel Trakea (a) Diambil dengan TEM, dan
(b) Diambil dengan SEM (Campbell, Reece, dan
Mitchel, 2000)

12. Sentriol
Sentriol merupakan struktur berbentuk silindris dengan diameter 0.15 nm dan
panjang 0.3-0.5 nm dan terutama terdiri atas mikrotubulus yang tersusun dengan sangat
teratur. Sentriol terdapat sepasang pada sel yang sedang tidak membelah. Sedangkan pada
sel yang akan membelah, setiap sentriol akan membentuk sentriol baru sehingga terdapat
dua pasang sentriol. Pada sel yang sedang membelah sentriol membentuk kumparan
mitosis yang mengandung mikrotubuli yang berfungsi untuk menggerakkan kromosom
selama mitosis. Umumnya sentriol ditemukan dekat inti.
Biologi Sel 32

B. Sel Autotrofik dan Sel Hetertrofik


Sel autotrofik adalah sel yang memiliki kemampuan untuk memproses zat anorganik
menjadi zat organik dengan menggunakan energi yang langsung didapatkan dari sinar
matahari atau pemecahan bahan kimia yang terdapat di alam. Sel autotrofik terdiri atas sel-
sel prokariota dan sel-sel eukariota fotosintesis. Sel prokariota fotosintesis meliputi
organisme sejenis bakteri fotosintesis maupun cyanobacteria. Keduanya mengandung
pigmen fotosintesis yang terdapat di dalam membran selnya. Pigmen fotosintesis yang
terdapat pada bakteri yaitu bakterioviridin atau lebih dikenal dengan bakterioklorofil dan
bakteriopurpurin.
Pada bakteri yang memiliki pigmen fotosintesis, proses fotosintesis dapat
berlangsung dengan menggunakan energi matahari secara langsung. Bakterioklorofil pada
bakteri sama dengan klorofil a yang terdapat pada tumbuhan (Sheeler & Bianchi, 1983).
Pada bakteri, proses fotosintesis berlangsung dalam sistim lamella membran yang disebut
chromatofor. Chromatofor mengandung pigmen untuk reaksi-reaksi fotokimia (Sheeler &
Bianchi, 1983).
Perbedaan yang paling penting antara tumbuhan dengan bakteri fotosintesis adalah
air tidak digunakan untuk mereduksi dan oksigen bukan sebagai hasil akhir. Dikenal ada
dua kelompok bakteri yang dapat melaksanakan fotosintesis yaitu bakteri hijau dan bakteri
ungu. Organisme tersebut memanfaatkan H2S dan menghasilkan sulfur dan sulfat (Sheeler
& Bianchi, 1983). Pada bakteri ungu sulfur, reaksinya adalah sebagai berikut :

Energi cahaya
6 CO2 + 12 H2S C6H12O6 + 6 H2O + 12 S
Bakterioklorofil

Selama proses fotosintesis, sulfur diakumulasikan sebagai granula-granula dan dapat


dimetabolisme lebih lanjut. Pada bakteri ungu non sulfur, ia menggunakan komponen
organik lainnya seperti asam asetat sebagai donor elektron. Asam asetat dioksidasi secara
anaerobik melalui reaksi-reaksi daur Krebs. Asam asetat juga dapat direduksi menjadi
asam hidroksibutirat. Beberapa bakteri ungu sulfur dan non sulfur dapat menggunakan
molekul hidrogen untuk mereduksi CO2 atau asam asetat (Sheeler & Bianchi, 1983)
Biologi Sel 33

Pada bakteri nitrogen, ia dapat menggunakan molekul NH3 yang terdapat


di dalam tanah atau secara langsung mengikat N2 dari udara, proses tersebut
dinamakan kemosintesis dengan reaksi sebagai berikut :

Sel eukariota fotosintesis meliputi berbagai jenis tumbuhan mulai dari algae bersel
tunggal hingga tumbuhan tinggi. Pada sel eukariota fotosintesis terdapat organel khusus
yang disebut kloroplas yang mengandung pigmen fotosintesis yaitu klorofil. Reaksi umum
fotosintesis pada tumbuhan adalah sebagai berikut :

Setiap jenis pigmen yang terdapat pada bakteri dan tumbuhan memiliki
kemampuan untuk mengabsorbsi cahaya dengan panjang gelombang yang tertentu
tabel 2.).
Tabel 2. Absorbsi maksimum pigmen-pigmen pada tumbuhan dan bakteri (Sheeler &
Bianchi, 1983).

Pigmen Panjang gelombang (nm) Terdapat pada


Klorofil a 430,670 Semua tumbuhan hijau

Klorofil b 455,640 Tumbuhan tinggi dan algae


hijau
Klorofil c 455,625 Diatom, algae biru

Bakterioklorofil 365,605,770 Bakteri ungu dan hijau

Karoten 420,440,470 Daun-daun, beberapa algae

b-Karoten 425,450,480 Beberapa tumbuhan

Karoten 440,460,495 Beberapa tumbuhan

Luteol 425,445,475 Daun-daun hijau, algae merah


dan biru
Biologi Sel 34

Violaxanthol 425,450,475 Beberapa daun

Fucoxanthol 425,450,475 Diatom, algae biru

Phycoerithrin 490,546,576 Algae merah dan algae biru


Hijau

Phycocyanin 618 Algae merah dan algae biru


hijau
Allophycoxanthin 654 Algae merah dan algae biru
hijau

Sel heterofik adalah semua sel yang memperoleh energi dengan cara
memecahkan substrat makanan. Terdiri atas sel heterotrofik prokariota dan sel
heterotrofik eukariota. Sel hetetrofik prokariota meliputi semua jenis bakteri non
fotosintesis. Sedangkan sel hetetrofik eukariota meliputi semua jenis hewan, termasuk
manusia. Pada manusia, untuk mendapatkan energi, ia harus memecahkan zat-zat
makanan seperti glukosa menjadi CO2 dan H2O dengan reaksi:

C2H12O6 + 6 O2 6 CO2 + 6 H2O + Energi

Pada Asetobacter, energi diperoleh dengan cara memecah etanol menjadi asam
cuka dan air dengan reaksi sebagai berikut :

CH3CH2OH + O2 CH3COOH + H2O + Energi

Berbeda dengan sel heterotrofik prokariota, sebagian besar pemecahan dan


penyimpanan energi pada sel heterotrofik eukariota berlangsung di dalam suatu
struktur internal sub seluler yang dikenal dengan nama mitokondria (De Robertis et
al., 1975).

C. Spesialisasi Sel
Sel merupakan sistim kompartemen yang sangat kompleks, di mana di
dalamnya berlangsung aktivitas metabolisme dengan sistim pengontrolan yang sangat
terkoordinasi antara satu sel dengan sel lainnya. Hal tersebut dimungkinkan
Biologi Sel 35

berlangsung, sebab sel pada organisme multiseluler mengalami spesialisasi struktural


dan fungsional.
Pada mulanya bentuk kehidupan di alam hanya merupakan sel-sel individual
yang soliter yang mengalami proses evolusi secara berangsur-angsur. Selama proses
tersebut, pola aktivitas fungsional sel mengalami pergeseran melalui serangkaian
proses differensiasi, baik secara biokimiawi, genetik maupun differensiasi secara
struktural dan fungsional. Hal differensiasi sel mengarah kepada spesialisasi sehingga
sel-sel dapat melaksanakan beberapa fungsi yang spesifik dengan efisiensi yang jauh
lebih besar.
Perubahan-perubahan morfologi selama differensiasi sel disertai dengan
perubahan-perubahan biokimiawi melalui proses sintesis sejumlah komponen-
komponen organik sel, misalnya sintesis satu atau beberapa jenis protein tertentu
pada setiap sel yang mengalami differensiasi. Komponen-komponen organik yang di
sintesis misalnya protein aktin dan miosin pada sel-sel otot, atau enzim-enzim
pencernaan oleh sel-sel asinus pankreas.
Perubahan-perubahan yang dapat terjadi pada sel yang telah mengalami
differensiasi dapat berupa perubahan dari segi fungsi, struktur internal, ukuran,
kepekaan, motilitas, aktivitas mitosis dan sebagainya (tabel 4).
Biologi Sel 36

Tabel 4 Beberapa karakter sel yang berubah setelah mengalami differensiasi (Spratt,
1971).

Karakteristik Jenis Perubahan


Sebelum Differensiasi Setelah Differensiasi
Fungsi Umum Spesifik
Bentuk Sederhana Kompleks
Struktur internal Sederhana Kompleks
Ukuran Lebih seragam Bervariasi
Kepekaan Tinggi Kurang
Motilitas Tinggi Kurang
Aktivitas mitosis Tinggi Kurang
Jumlah produk sel Sedikit Banyak
Tipe produk sel Umum Spesifik
Metabolisme Umum Spesifik
Lingkungan mikro Sederhana Kompleks
Jumlah sel Sedikit Banyak
Arsitektur jaringan Sederhana Kompleks
Kemampuan umum Besar Sederhana

Differensiasi seluler adalah spesialisasi sel. Pada awal perkembangannya, sel


tidak terspesialisasi untuk melaksanakan fungsi-fungsi khusus, namun tetap mampu
untuk melaksanakan aktivitas dalam batas-batas tertentu. Differensiasi seluler dibagi
menjadi dua, yaitu differensiasi intraseluler dan differensiasi interseluler (Spratt,
1971).
Differensiasi intraseluler meliputi perubahan-perubahan struktur atau fungsi
dari suatu sel setelah melewati waktu-waktu tertentu, misalnya pembentukan sel telur
dan sel sperma dan bak sel kelamin yang secara morfologis tidak terspesialisasi.
Differensiasi tipe ini berlangsung pada semua sel pada organisme multiseluler,
khususnya selama proses reproduksi dan regenerasi bagian-bagian tubuh yang hilang
(Spratt, 1971).
Differensiasi interseluler atau differensiasi dalam ruang adalah proses di mana
dua sel atau lebih menjadi berbeda satu dengan yang lain, misalnya titik tumbuh
tumbuhan, pembentukan jaringan pembuluh dalam batang tumbuhan, dan
pembentukan sel-sel darah di dalam sum-sum tulang hewan. Differensiasi interselular
Biologi Sel 37

hanya berlangsung pada bentuk kehidupan multiseluler dan tidak terjadi pada
organisme uniselluler (Spratt, 1971).