Anda di halaman 1dari 12

Berikut saya sajikan sebuah kisah sejarah tentang umat islam yang jauh sebelumnya telah

dijanjikan dalam Hadits Nabi Muhammad SAW. Dan terbukti setelah 7 abad kemudian,
inilah salah satu mukjizat Rasulullah SAW. Mungkin sangat sedikit yang kita tahu tentang
sejarah ini disekolah tapi demi kecintaan saya terhadap islam, saya hanya ingin berbagi
dengan kalian, wahai saudarauku. Selamat membaca.

Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, Suatu ketika kami sedang
menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih
dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan
terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi,
Al-Hakim]

Rasulullah bersabda: “Latuftahannal konstantinniyyah falani’mal amiiru amiiruha wala


ni’mal jaysu daalikal jays”

“Sungguh Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik


pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik pasukan adalah
pasukannya”. [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Setiap pahlawan Islam selalu bercita-cita untuk menjadi orang yang dimaksud Rasulullah
saw dalam haditsnya sebagai panglima yang terbaik dan tentaranya tentara yang terbaik
dan membebaskan Konstantinopel agar terbebas dari kekuasaan Romawi.

Sudah sejak Rasulullah saw masih hidup, beliau sudah berupaya menjadikan penguasa di
Konstatinopel menjadi muslim. Selembar surat ajakan masuk Islam dari nabi SAW telah
diterima Kaisar Heraklius di kota ini.

Dari Muhammad utusan Allah kepada Heraklius raja Romawi.

Bismillahirrahmanirrahim, salamun ‘ala manittaba’al-huda, Amma ba’du,

“Sesungguhnya Aku mengajak anda untuk memeluk agama Islam. Masuk Islamlah Anda
akan selamat dan Allah akan memberikan Anda dua pahala. Tapi kalau Anda menolak,
Anda harus menanggung dosa orang-orang Aritsiyyin.”

Dikabarkan bahwa saat menerima surat ajakan masuk Islam itu, Kaisar Heraklius cukup
menghormati dan membalas dengan mengirim hadiah penghormatan. Namun dia
mengakui bahwa dirinya belum siap untuk memeluk Islam.

Kota benteng
Kekaisaran Romawi terpecah dua, Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Orthodoks di
Byzantium. Perpecahan tersebut sebagai buntut dari konflik gereja meskipun dunia masih
tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban kristen. Constantine The Great memilih
kota di selat Bosphorus tersebut sebagai ibukota, dengan alasan strategis karena berada di
perbatasan Eropa dan Asia, baik di darat karena dilalui Jalur Sutera maupun di laut karena
berada diantara Laut Tengah dengan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik
sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik saat itu.

Banyak bangsa mengincar kota ini untuk dikuasai diantaranya bangsa Gothik, Avars,
Persia, Bulgar, Rusia, Khazah, Arab-Muslim dan Pasukan Salib meskipun misi awalnya
adalah menguasai Jerusalem. Arab-Muslim terdorong ingin menguasai Byzantium tidak
hanya karena nilai strategisnya, tapi juga atas kepercayaan kepada ramalan Rasulullah
SAW melalui riwayat Hadits di atas.

Konstantinopel merupakan salah satu kota terpenting di dunia, kota yang sekaligus
benteng ini dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Byzantium yaitu Constantine I.
Konstaninopel memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia. Sejak didirikannya,
pemerintahan Byzantium telah menjadikannya sebagai ibukota pemerintahan Byzantium.
Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu,
dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan
Tanduk Emas (golden horn) yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak
memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Di samping itu, dari daratan
juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah sampai
Tanduk Emas. Memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki, benteng-benteng tinggi
yang pagar bagian luarnya saja memiliki ketinggian 25 kaki, selain tower-tower pemantau
yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas. Dari segi kekuatan militer, kota ini
dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-
pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. dengan
demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang apalagi ditaklukkan.
Kedudukan Konstantinopel yang strategis diillustrasikan oleh Napoleon Bonaparte;
".....kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak
menjadi ibukota negaranya!".

Gambar 1. Peta Konstantinopel


Keseriusan para Sahabat, para Khalifah serta para Sulthan dalam menaklukkan
Konstantinopel. Ketika para sahabat mendengar langsung dari bibir mulia Rasulullah
Muhammad SAW pada saat perang Khandaq tentang akan ditaklukkannya Kota
Konstantinopel seperti tertera pada nukilan hadits diatas, para Sahabat mafhum, merasa
sangat bersemangat dan kemudian berlomba-lomba dengan diiringi gemuruh kerinduan
yang ada pada dada-dada mereka bersegera merealisasikan janji Allah dan RasulNya
untuk mengambil bagian dalam upayanya menaklukkan Konstantinopel. Sebagai salah
satu bukti adalah Syahidnya salah seorang Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abu
Ayyub Al Anshori (ridho Allah senantiasa menyertainya) dipinggir kota Konstantinopel
pada masa pemerintahan Khalifah Muawwiyah bin Abi Sofyan dalam rangka
menaklukkan benteng sekaligus kota terkuat, yang konon sangat sulit untuk ditaklukkan
oleh negara manapun di dunia saat itu.

Usaha pertama untuk mengepung Konstantinopel dilakukan pada tahun 34 H. / 654 M.


pada masa pemerintahan Usman bin Affan. Dia mengirimkan Muawiyah bin Abu Sofyan
r.a. dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Tetapi mereka
pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pertahanan Konstantinopel.
Pada masa Bani Umayah tercatat 2 serangan penting yang dilancarkan :
Pertama Adalah pada masa Khalifah Muawwiyah bin Abi Sofyan pada tahun 44 H.
Beliaulah "peletak batu pertama" pada proyek agung penaklukkan kota Konstantinopel.
Dalam usaha penaklukan itu Abu Ayub Al-Anshari syahid, saat terluka dan sebelum wafat
Abu Ayyub sempat berwasiat kepada panglima Yazid bin Muawwiyah. Jika wafat ia
meminta jasadnya dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim.
Dan para sahabatnya berhasil menyelinap membawa beliau dengan kudanya dan
memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden
Horn. Sehingga menjadikan peristiwa ini menjadi salah satu inspirasi juga semangat yang
membakar pasukan terbaik di bawah kepemimpinan pemimpin terbaik
Kedua; adalah yang dilakukan pada masa Sulthan Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H .
Pada saat itu dia mengirimkan pasukan tentara sejumlah 20.000 orang dan sekitar seratus
perahu untuk mengepung dan menaklukkan Konstantinopel. Pengepungan Konstantinopel
berlangsung berbulan bulan dengan pasukan yang dalam kondisi kelaparan yang
mengenaskan karena keinginan kuat sang khalifah dalam menaklukkan Konstantinopel.
Tetapi usaha itu belum juga berhasil akibat suhu udara yang sangat dingin. Pasukan itu
kemudian ditarik mundur oleh Umar bin Abdul Aziz setelah dirinya menggantikan
Sulaiman bin Abdul Malik yang mangkat pada saat tentara masih berada di medan
pertempuran.
Di masa khilafahan Abbasiyah berlangsung serangan yang demikian intensif ke
Byzantium, namun demikian usaha ini belum sampai menyentuh Konstantinopel
walaupun serangan itu telah menimbulkan gejolak di dalam negeri Byzantium, khususnya
serangan yang dilakukan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid pada tahun 190 H. Setelah itu
upaya penaklukan Konstantinopel dilanjutkan oleh Kesultanan Islam Saljuk di Asia Kecil;
seperti Sulthan Alib Arsalan yang telah berhasil mengalahkan tentara Kaisar Rumanos
dari Romawi dengan pasukannya yang berjumlah kurang lebih 200.000 personil hanya
dengan tentara Islam sejumlah 15.000 personil dalam Perang Manzikart pada tahun 464
H/1070 M. Kemenangan Spektakuler ini merupakan titik perubahan penting dalam sejarah
Islam. Sebab peristiwa ini telah melemahkan pengaruh Romawi di Asia Kecil yang tak
lain adalah wilayah-wilayah strategis kekaisaran Byzantium.
Ketika kekhilafahan Abbasiyah yang beribukota di Baghdad dihancurkan oleh serbuan
pasukan Mongolia, muncullah Utsman peletak dasar Kekhilafahan Utsmaniyah. Dengan
kekuasaan yang baru lahir dia telah berhasil menembus laut Marmarah, dengan bala
tentaranya dia berhasil membayangi dua kota utama Byzantium kala itu yakni Azniq dan
Burshah. Setelah wafatnya Utsman, Khalifah penggantinya Orkhan melanjutkan misi
pendahulunya. Tahun 727H/1327M Nicomedia sebuah kota yang berada di barat laut Asia
kecil dekat kota Konstantinopel berhasil ditaklukan.
Sulthan Orkhan sangat peduli untuk merealisasikan apa yang pernah dikabarkan oleh
Rasulullah SAW tentang akan ditaklukkannya Konstantinopel. Dia telah melakukan
langkah-langkah strategis untuk melakukan pengepungan terhadap ibukota Byzantium
dari sebelah barat dan timur pada saat yang bersamaan, agar bisa merealisasikannya, dia
mengirim anaknya yang bernama Sulaiman untuk melintasi selat Dardanela dan
memerintahkannya agar menguasai beberapa wilayah di sebelah barat. Tahun 758 H
Sulaiman berhasil menyeberangi selat Dardanil pada malam hari bersama pasukan
kavaleri, tatkala sampai di tepi barat, mereka berhasil mengambil alih beberapa kapal
milik tentara Romawi yang sedang berada ditempat itu, lalu mereka membawa kapal–
kapal ke tepi timur, mengingat tentara Utsmani belum memiliki armada laut sebab
kekuasaan mereka baru saja berdiri. Di tepi timur inilah, Sulaiman memerintahkan
pasukannya untuk menaiki kapal-kapal itu yang membawa mereka ke pantai Eropa.
Mereka mampu menaklukkan benteng Tarnab, dilanjutkan ke Ghalmabuli yang di
dalamnya ada benteng Jana dan Apsala serta Rodestu, semuanya berada di selat Dardanela
yang berada diutara dan selatan.
Dengan begitu Sulthan Orkhan telah melakukan sebuah langkah penting dan membuka
jalan bagi pemimpin yang datang setelahnya untuk menaklukkan Konstantinopel. Di
Eropa, tentara Utsmani melakukan futuhat (penaklukan) di wilayah-wilayah yang dikuasai
oleh Byzantium. Pada tahun 762 H/1360 M, Sulthan Murad I mengusai Adrianopel
(Edirne), sebuah kota yang sangat strategis di Balkan dan dianggap sebagai kota kedua
setelah Konstantinopel oleh Byzantium. Dia menjadikan kota ini sebagai ibukota
pemerintahannya sejak tahun 768 H/1366 M. Pada masa kepemimpinan Sulthan Bayazid I
terjadi pengepungan Konstantinopel dengan pasukan yang dipimpinnya sendiri hingga
membuat Konstantinopel hampir menemui keruntuhannya. Namun karena munculnya
sebuah bahaya baru (Timur Lenk dari Mongolia) yang mengancam pemerintahan Utsmani
akhirnya Sulthan Bayazid menarik mundur pengepungan tersebut.
Pada masa pemerintahan Sulthan Murad II beberapakali usaha penaklukkan Kota
Konstantinopel dilakukan. Bahkan di masanya pasukan Islam beberapa kali mengepung
kota ini. Adalah Sulthan Muhammad II, putera Sulthan Murad II yang melanjutkan
penaklukkan Konstantinopel baik dari ayahnya maupun pendahulunya, dalam rangka
penaklukan konstantinopel dia berusaha untuk memperkuat kekuatan militer Utsmani dari
segi kuantitas hingga mencapai 250.000 personil. Selain membekali pasukan dengan
kemampuan tempur dia juga menanamkan semangat Jihad. Sulthan selalu mengingatkan
mereka akan pujian Rasulullah pada pasukan yang mampu membuka Kota
Konstantinopel. Dia selalu berharap, tentara yang dimaksud Rasulullah adalah tentaranya.
Hal ini memberikan dorongan moral serta ruhiyyah yang sangat kuat dan tiada tara di
seluruh benak pasukannya. Selain itu ia juga memperkuat infrastruktur angkatan
bersenjata dan modernisasi peralatan tempur, dengan membangun benteng Romali Hisyar
di wilayah selatan Eropa di selat Bosphorus pada sebuah titik yang paling strategis yang
berhadapan dengan benteng yang pernah dibangun pendahulunya yaitu Sulthan Bayazid di
daratan Asia. Meski sempat dihalangi oleh Kaisar Romawi dengan ganti uang yang akan
dibayarkan pada sulthan, Sulthan tetap menolak dengan tegas. Hingga akhirnya selesailah
satu benteng yang demikian tinggi dan sangat aman. Tingginya sekitar 82 meter. Beliau
juga menyiapkan meriam-meriam yang berukuran sangat besar dalam penaklukan kali ini.
Dalam Hal ini, Sulthan membebaskan tawanan insinyur ahli pembuat meriam yang
bernama Orban dari penjara Konstantinopel, jadilah Meriam yang sangat besar (meriam
Sulthan Muhammad) memiliki bobot puluhan ton dan membutuhkan bantuan lembu untuk
menariknya.

Gambar 2. Meriam Sultan Muhammad yang tersimpan di Museum Nasional Turki

Gambar 3. Spesifikasi Meriam Sultan Muhammad.


Dibuat tahun 1453 di Hongaria dan digunakan bangsa Turki untuk merebut
Konstantinopel, mereka membuat shok pembuatnya dengan tidak disangka melakukan apa
yang telah mereka telah rencanakan yaitu mengirim 1500 pon bola granit ke siapa saja
dimana moncong meriam ini diarahkan.

Sebelum serangan dilancarkan, Sultan Muhammad II telah mengadakan perjanjian dengan


kerajaan yang berbatasan langsung dengan konstantinopel diantaranya ialah perjanjian
yang dibuat dengan kerajaan Galata yang bersebelahan dengan Byzantine. Ini merupakan
strategi yang penting supaya seluruh tenaga dapat difokuskan kepada musuh yang satu
tanpa ada ancaman lain yang tidak terduga.
Selain itu, dalam mempersiapkan penaklukan kota Konstantinopel, Sulthan juga
memperkuat armada laut Utsmani mengingat Konstantinopel adalah sebuah kota laut,
yang tidak mungkin bisa dikepung kecuali dengan menggunakan armada laut. Disebutkan
bahwa kapal perang yang telah dipersiapkan berjumlah 400 unit. Meriam-meriam besar
telah digerakkan dari Adrianopel menuju Konstantinopel dalam jangka waktu dua bulan.
Keseriusan Sultan Muhammad II telah mendorong Kaisar Byzantium berusaha
mendapatkan pertolongan dari negara-negara Eropa. Beliau memohon pertolongan dari
gereja Katholik roma, sedangkan ketika itu semua gereja di Kostantinopel menjadi
beraliran Orthodoks. Demi mendapatkan bantuan, Constantine XI Paleologus setuju untuk
menukar aliran di kostantinopel demi menyatukan kedua aliran yang saling bermusuh itu.
Perwakilan dari Eropa telah tiba di konstantinopel untuk tujuan tersebut. Constantine XI
berpidato di Gereja Aya Sofya menyatakan ketundukan Byzantium kepada Katholik
Roma. Hal ini telah menimbulkan kemarahan penduduk Kostantinopel yang beraliran
Orthodoks. Sehingga ada di antara pemimpin Orthodoks berkata, "Sesungguhnya aku
lebih rela melihat di bumi Byzantine ini sorban orang Turki (muslim) daripada aku
melihat topi Latin!" Situasi ini telah mencetuskan pemberontakan rakyat terhadap
keputusan Constantine XI yang dianggap telah berkhianat.
Akhirnya pasukan yang dipimpin langsung Sultan Muhammad II sampai didekat
Konstantinople pada hari Kamis tanggal 26 Rabiul Awwal 857 H (6 April 1453 M).
bersama gurunya, syaikh Aaq Syamsudin, dan tangan kanannya, Halil Pasha dan
Zaghanos Pasha, mereka merencanakan penyerangan ke Konstantinopel dari berbagai
penjuru kota dengan berbekal 150.000 ribu pasukan, meriam dan 400 kapal perang. Dan
pada hari yang sama seluruh kota telah terkepung mulai dari Golden Horn ke Laut
Marmara dari tanah.
Sulthan Muhammad berpidato di hadapan pasukan dengan berapi-api dan penuh semangat
yang memicu pasukan untuk berjihad dan meminta kemenangan pada Allah SWT atau
mati syahid. Dalam khutbahnya, Sulthan menjelaskan arti pengorbanan dan keikhlasan
dalam berjihad tatkala berhadapan dengan musuh. Dia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an
yang berisi seruan Jihad, sebagaimana ia juga menyebutkan hadits-hadits Rasulullah yang
mengabarkan tentang penaklukkan Konstantinopel dan keutamaan prajurit yang
membukanya serta keutamaan pimpinan pasukannya. Dia menyebutkan, bahwa dengan
dibukanya Konstantinopel berarti akan memuliakan nama Islam dan kaum Muslim.
Pasukan Islam saat itu melakukan gempuran dengan membaca Laa Ilaaha Illallah dan
Allahu Akbar sebelumnya Muhammad Al-Fatih memimpin do’a dengan khusyu’ kepada
Allah SWT untuk kemenangan dia dan pasukannya dalam menaklukkan Konstantinopel.
Sulthan Muhammad II kemudian mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam,
menyerahkan penguasaan kota secara damai atau memilih perang. Constantine Paleologus
bertahan untuk tetap mempertahankan kota. Ia dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran
Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.
Kota dengan benteng tinggi 10-an meter tersebut memang sulit ditembus, selain itu di sisi
luar benteng dilindungi oleh parit-parit dalam. Dari sebelah barat pasukan altileri harus
membobol benteng setebal dua lapis sedangkan dari arah selatan laut Marmara, armada
laut turki utsmani harus berhadapan dengan kapal perang Genoa pimpinan Giustiniani dan
di arah timur selat sempit tanduk emas sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal
perang ukuran kecil pun tak bisa melewatinya.
Constantine XI Paleologus telah melakukan negosiasi dengan berbagai tawaran demi
untuk menyelamatkan kedudukannya. Akan tetapi Sulthan muhammad II menolak semua
tawaran itu justru sebaliknya ia memberi saran supaya Konstantinopel diserahkan kepada
Daulah utsmani secara aman. Sultan Muhammad II berjanji, jika Konstantinopel
diserahkan secara aman, tiada seorang pun yang akan diapa-apakan bahkan tidak ada
gereja dan harta benda penduduk Konstantinopel yang akan dimusnahkan.
Antara isi kandungan ucapannya, "...serahkan kekaisaranmu, kota Konstantinopel. Aku
bersumpah bahwa tentaraku tidak akan mengancam nyawa, harta dan kehormatan
mereka. Mereka yang ingin terus tinggal dan hidup dengan amat sejahtera di
Konstantinopel, bebas berbuat demikian. Dan siapa yang ingin meninggalkan kota ini
dengan aman sejahtera juga dipersilakan".
Keesokan harinya, Sultan Muhammad II telah menyusun dan membagi tentaranya menjadi
tiga bagian. Pertama adalah gugus utama yang bertugas mengepung benteng yang
mengelilingi Costantinopel. Di belakang kumpulan utama itu adalah tentara cadangan
yang bertugas menyokong tentera utama. Meriam telah diarahkan ke pintu Topkapi.
Pasukan pengawal juga diletakkan di beberapa kawasan strategis seperti kawasan-kawasan
bukit di sekitar Kota Byzantine. Armada laut utsmani juga diletakkan di sekitar perairan
yang mengelilingi Konstantinopel. Akan tetapi kapal-kapal tidak bisa memasuki perairan
Tanduk Emas disebabkan rantai raksasa yang menghalanginya.
Semenjak hari pertama serangan, tentera Byzantine telah berusaha keras menghalangi
tentara islam merapat ke pintu-pintu masuk kota mereka. Tetapi serangan tentera Islam
telah berhasil mematahkan halangan itu, ditambah dengan serangan meriam dari berbagai
sudut. Bunyi meriam saja telah menimbulkan rasa takut yang amat sangat kepada
penduduk Costantinople sehingga menghilangkan semangat mereka untuk melawan.
Armada laut Utsmani telah mencoba beberapa kali untuk melepas rantai besi di Tanduk
Emas. Dan pada saat yang sama, mengarahkan serangan ke kapal-kapal Byzantine dan
Eropa yang tiba untuk menyerang. Namun usaha ini tidak berhasil, kegagalan armada
turki memberikan semangat kepada tentara Costantinople untuk terus bertempur. Pada saat
yang sama para pendeta berjalan di lorong-lorong kota, mengingatkan penduduk supaya
banyak bersabar serta terus berdoa kepada Tuhan supaya menyelamatkan Kostantinopel.
Constantine XI Paleologus juga sering bolak-balik ke Gereja Aya Sofya untuk tujuan yang
sama.
Walaupun begitu, kepungan armada laut Sultan Muhammad II masih belum berhasil
menerobos masuk disebabkan oleh rantai besi yang melindungi Tanduk Emas. Pada saat
yang sama, para mujahidin tetap terus melancarkan serangan sehingga pada 18 April
1453M, pasukan penyerang berhasil meruntuhkan tembok konstantinopel di Lembah
Lycos yang terletak di sebelah barat kota namun dengan cepat tentara constantine berhasil
menumpuk reruntuhan sehingga benteng kembali tertutup.
Pada hari yang sama, beberapa buah kapal perang utsmani mencoba melewati rantai besi
di Tanjung Emas. Akan tetapi, gabungan armada laut Byzantine dan Eropa berhasil
menghalanginya bahkan banyak kapal perang utsmani yang karam oleh serangan armada
laut eropa dan Byzantium.
Dua hari setelah serangan itu, terjadi sekali lagi perang laut antara kedua belah pihak.
Sultan Muhammad II sendiri mengawasi pertempuran dari tepi pantai. Saat itu juga,
Sultan menunggang kudanya sehingga ke tepi laut sambil berteriak dengan sekuat tenaga
untuk memberikan semangat. Kesungguhan Sultan Muhammad II berhasil menaikkan
semangat tentaranya. Namun, gabungan armada eropa dan konstantinopel berhasil
mematahkan serangan mujahidin walaupun mereka bersungguh-sungguh melancarkan
serangan demi serangan. Kegagalan tersebut menyebabkan Sultan mengganti Palta Oglu
dengan Hamzah Pasha.
Kegagalan serangan tersebut telah memberikan kekhawatiran kepada tentara utsmani.
Khalil Pasha yang merupakan wazir/menteri ketika itu mencoba membujuk Sultan supaya
membatalkan serangan serta menerima saja perjanjian penduduk Costantinople untuk
tunduk kepada Daulah Utsmani tanpa menaklukannya. Saran itu ditolak mentah-mentah
oleh Sultan. Kini tinggal memikirkan cara supaya armada laut turki utsmani bisa melewati
tanduk emas.
Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah
dirantai. Sampai akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh dikemukakan namun akhirnya
dilakukan. Ide tersebut adalah memindahkan kapal-kapal perang yang berada di perairan
Selat Bosporus ditarik melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Hanya dalam
semalam 70-an kapal bisa memasuki wilayah perairan Golden Horn (Tanduk Emas)
melalui jalur darat yang memiliki perbukitan yang tinggi dan terjal. (dari yang saya pernah
baca teknisi menggunakan lembu atau sapi, kuda-kuda untuk menarik kapal dan 2 buah
gelondongan kayu yang diapit menjadi satu sehingga bagian bawah kapal yang lebih
lancip bisa melewati celah antara gelondongan untuk mempermudahnya kayu-kayu diolesi
minyak sehingga licin, susunan kayu-kayu itu membentuk jalur yang menghubungkan 2
laut yang berbeda). Pekerjaan demikian tentu sebuah pekerjaan yang berat dan besar
bahkan dianggap sebagai “mukjizat” yang tampak dari sebuah kecepatan berfikir dan
kecepatan aksi yang menunjukkan kecerdasan Muhammad Al-Fatih dan ketaatan serta
keinginan kuat pasukannya saat itu. Orang-orang Byzantium pun kaget, tak seorangpun
yang percaya atas apa yang telah terjadi.
Pada subuh pagi tanggal 22 April, penduduk kota yang lelap itu terbangun dengan suara
pekik takbir tentara Islam yang menggema di perairan Tanduk Emas. Orang-orang di
konstantinopel gempar, tak seorang pun yang percaya atas apa yang telah terjadi. Tidak
ada yang dapat membayangkan bagaimana semua itu bisa terjadi hanya dalam semalam.
Bahkan ada yang menyangka bahwa tentara sultan mendapat bantuan jin dan setan!!??....
Yilmaz Oztuna di dalam bukunya Osmanli Tarihi menceritakan salah seorang ahli sejarah
tentang Byzantium mengatakan:
“Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang
sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan
dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti
gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang dilakukan
oleh Alexander yang Agung,”
Sulthan Muhammad Al-Fatih mengejutkan musuhnya dari waktu ke waktu dengan seni
serangan yang selalu berbeda dari segi perang dan pengepungan, seni perang yang dia
lakukan merupakan inovasi baru yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Dengan posisi tentara islam yang semakin kuat, Sultan Muhammad II melancarkan
serangan besar-besaran ke benteng terakhir konstantinopel. Tembakan meriam yang telah
mengkaramkan sebuah kapal dagang di Tanjung Emas, menyebabkan tentara Eropa yang
lain lari ketakutan. Mereka telah meninggalkan pertempuran melalui kota Galata.
Semenjak keberhasilan kapal mujahidin memasuki perairan Tanjung Emas, serangan
dilancarkan siang dan malam tanpa henti.
Takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" yang menggema di segala penjuru Costantinople
telah memberikan serangan psikologis kepada penduduk kota itu. Semangat mereka terus
luntur dengan ancaman demi ancaman dari pekikan takbir mujahiddin. Ketika ribut yang
belum juga reda, penduduk Costantinople menyadari bahwa tentara Islam telah membuat
terowongan untuk masuk ke dalam pusat kota. Ketakutan melanda penduduk sehingga
mereka curiga dengan bunyi tapak kaki sendiri. Kalau-kalau tentara 'turki' keluar dari
dalam bumi !!
Sultan Muhammad II yakin bahwa kemenangan semakin tiba, mendorong beliau untuk
terus berusaha agar Constantine XI Paleologus menyerah kalah tanpa terus membiarkan
kota itu musnah akibat gempuran meriam. Sekali lagi Sultan mengirim utusan Ismail
Isfendiyar Beyoglu untuk meminta Constantine XI Paleologus agar menyerahkan
Costantinople secara aman. Costantine telah berunding dengan para menterinya. Ada yang
menyarankan supaya mereka menyerah kalah dan ada pula yang ingin bertahan sampai
akhir. Costantine akhirnya setuju dengan pandangan kedua lantas mengirimkan balasan,
"... syukur kepada Tuhan karena Sultan memberikan keamanan dan bersedia menerima
pembayaran jizyah. Akan tetapi Costantine bersumpah untuk terus bertahan hingga ke
akhir hayatnya demi takhta... atau mati dan dikuburkan di kota ini!".
Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad II bersama tentaranya meluruskan niat dan
membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka membanyakkan solat, doa dan zikir
dengan harapan Allah SWT akan memudahkan kemenangan. Para ulama pula memeriksa
barisan tentara sambil memberi semangat kepada para mujahidin. Mereka diingatkan
tentang kelebihan jihad dan syahid serta kemuliaan para syuhada' terdahulu khususnya
Abu Ayyub Al-Ansari RA.
"...sesungguhnya apabila Rasulullah SAW tiba di Madinah ketika kemenangan hijrah,
baginda telah pergi ke rumah Abu Ayyub Al-Ansari. Sesungguhnya Abu Ayyub telah pun
datang (ke Costantinople) dan berada di sini!" Kata-kata inilah yang membakar semangat
tentara islam hingga ke puncaknya.
Pada saat yang sama, penduduk Costantinopel berdoa di rumah dan gereja-gereja mereka
dengan khidmat berharap Tuhan menolong mereka......
Tepat jam 1 pagi hari Selasa, 20 Jamadil Awal 857 H / 29 Mei 1453 M, serangan umum
dilancarkan. Sulthan Muhammad Al-Fatih sebelum penyerangan umum sulthan
memberikan pidato kepada tentara Islam :
“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi
kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan
bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan
penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa
kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan
Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya
dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini.
Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja.
Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak
berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran.”
Diiringi hujan panah, tentara turki islam maju dalam tiga lapis pasukan, irregular army
(tentara biasa) di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan
khusus Yanissari. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah
tauhid sambil menyerang kota. Penduduk Costantinople telah berada di puncak ketakutan
mereka pagi itu. Mujahidin yang memang menginginkan mati syahid, begitu berani maju
menyerbu tentara konstantinopel.
Tentara islam akhirnya berhasil menembus kota Costantinople melalui Pintu Edirne dan
mereka telah berhasil mengibarkan bendera Daulah utsmani di puncak kota. Adalah
seorang tentara muda bernama Ulubatli Hasan yang pertama menancapkan bendera
Daulah Usmani pada tanah Byzantine. Constantine XI Paleologus yang melihat kejadian
itu melepas baju perang kerajaannya dan maju bertempur bersama pasukannya hingga
menjadi martir dan tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri melarikan diri
meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan
menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Berita kematian Costantine telah menaikkan lagi semangat tentara Islam untuk terus
menyerang. Namun sebaliknya, bagaikan pohon tercabut akar, tentara konstantinopel
menjadi tercerai berai mendengar berita kematian Rajanya.
Tepat pada hari Selasa siang tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan tanggal 29 Mei
1453 M, Konstantinopel jatuh dan berhasil ditaklukan oleh para mujahiddin, Sulthan
Muhammad Al-fatih kemudian dia turun dari kudanya dan memberi penghargaan pada
pasukan dengan ucapannya “MasyaAllah, kalian telah menjadi orang-orang yang mampu
menaklukkan konstantinopel yang telah Rasulullah kabarkan.” baru kemudian beliau
sujud kepada Allah SWT di atas tanah, sebagai ungkapan syukur dan pujian serta bentuk
kerendahan diri dihadapan-Nya.
Gambar 4. Sultan Muhammad II saat memasuki gerbang kota usai penaklukan.
Pada hari itu, mayoritas penduduk Costantinople bersembunyi di gereja-gereja sekitar
kota. Sultan Muhammad II berpesan kepada tentaranya supaya berbuat baik kepada
penduduk Costantinople. Beliau kemudian menuju ke Gereja Aya Sofya yang ketika itu
menjadi tempat perlindungan sejumlah besar penduduk kota. Ketakutan jelas terbayang di
wajah masing-masing penduduk ketika beliau menghampiri pintu gereja. Salah seorang
pendeta telah membuka pintu gereja, dan Sultan meminta beliau supaya menenangkan
penduduk.
Selepas itu, Sultan Muhammad II meminta supaya gereja berkenan ditukar menjadi
masjid. Agar hari Jumat pertama nanti bisa dikerjakan sholat jumat. Sementara gereja
lainnya tetap seperti biasa. Para pekerja bertugas menanggalkan salib, patung dan
menutupi gambar-gambar untuk tujuan sholat. Pada hari Jumat itu, Sultan Muhammad II
bersama para muslimin telah mendirikan sholat Jumat di Masjid Aya Sofya. Khutbah yang
pertama di Aya Sofya itu disampaikan oleh Asy-Syeikh Ak Semsettin. Nama
Costantinople kemudiannya diganti "Islam Bol / Islambul", yang berarti "Kota Islam" dan
kemudian dijadikan sebagai ibu kota ketiga Khilafah Othmaniyyah setelah Bursa dan
Edirne.
Atas jasanya Sultan Muhammad II diberi gelar Al-Fatih (pembebas), sehingga beliau
sering dipanggil Sultan Muhammad Al-Fatih. Pertempuran merebutkan kota
konstantinopel berlangsung dari tanggal 6 april s/d 29 mei 1453, atau hampir 2 bulan
lamanya.
Gambar 4. Lukisan Sultan Muhammad II karya Gentile Bellini
Konsekuensi Penaklukan
Dari penaklukan ini masyarakat kristiani Konstantinopel dan muslim disatukan dalam
suatu Daulah/negara Islam yang tidak ada perlakuan diskriminatif sekecil pun. Masing-
masing warga mendapatkan hak dan keadilan termasuk perlindungan dari gangguan
keamanan serta kebebasan menjalankan ibadahnya sesuai syariat yang dijalankan
Khalifah.
Bagi Daulah Utsmani, Konstantinopel merupakan suatu stasiun perbatasan untuk
melakukan kampanye jihad ofensif lebih lanjut untuk menembus Eropa agar Islam sebagai
rahmatan lilallamin tersebar diseluruh bumi Allah SWT.
Setelah penaklukan banyak seniman dan para filusuf Konstantinopel yang hijrah ke pusat
Eropa terutama Roma. Dengan mengambil dan membawa manuskrip-manuskrip penting
tentang perkembangan intelektual. Kaum terpelajar ini memainkan peranan penting dalam
gerakan untuk menghidupkan kembali dan merevisi budaya klasik Yunani. Dari penyatuan
kedua golongan inilah lahir masa Renaissans Eropa. Hingga merembet ke masa Revolusi
Yunani, Revolusi Industri di Inggris.
Hikmah.
Dari sejarah ini hendaknya kita kaum muslim selalu berpegang teguh kepada syariah.
Hukum Allah yang kekal sepanjang masa dan applicable dalam segala sendi kehidupan.
Serta sekali-kali jangan melupakan sejarah. Penaklukan Konstantinopel karena bersatunya
umat islam dalam satu kepemimpinan seorang khalifah. Maka amatlah perlu bagi kita
umat islam sekarang untuk memiliki seorang pemimpin dan semoga khilafah islamiyah
akan segera tegak kembali. Seperti janji dari Hadits Rasulullah SAW berikut:
"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada.
Kemudian Ia akan mengangkatnya jika Ia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan
ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap
ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.
Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim, ia juga ada dan atas izin Allah ia
akan tetap ada. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak
mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang
menyengsarakan, ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Kemudian akan ada
khilafah yang mengikuti manhaj kenabian; kemudian beliau diam." (HR. Ahmad dan al-
Bazar)
http://forum.detik.com/showthread.php?t=65729

http://forum.dudung.net/index.php?topic=3925.0;wap2