Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PENGUKURAN CONNECTING ROD

1. DASAR TEORI
1.1. Pengertian Pengukuran Linear
Pengukuran Linear adalah proses pengukuran untuk mengetahui dimensi
dari suatu benda kerja yang belum diketahui ukurannya.
a. Pengukuran Linear Pembacaan Langsung
Alat ukur langsung adalah alat ukur yang mempunyai skala ukur yang
telah dikalibrasi dan hasil pengukuran dapat langsung dibaca pada skala
tersebut.
Contoh alat ukur langsung :
Ø Mistar Ukur
Ø Mistar Ingsut
Ø Mikrometer : Mikrometer dalam dan Mikrometer luar
Jadi, Pengukuran linear pembacaan langsung adalah proses pengukuran
dimana hasil pengukuran dapat dilihat langsung dari skala alat ukur yang
dipakai.
b. Pengukuran Linear Pembacaan Tidak Langsung
Pengukuran Linear pembacaan tidak langsung yaitu pengukuran dengan
instrumen pembanding, maksudnya dengan membandingkan dimensi yang
diperoleh dari hasil pengukuran kemudian membacanya dengan bantuan alat
ukur langsung. Pada pengukuran ini, kita melakukan dua kali proses
pengerjaan. Macam-macam alat ukur yang tergolong alat ukur tidak langsung
yaitu
Ø Outside Caliper
Ø Inside caliper
Ø Spring Divider
Ø CMM (Coordinate Measuring Machine)
1.2 Jenis – jenis Alat Ukur Linear
a. Mistar ukur

Gambar 2.1. Mistar Ukur / Penggaris

b. Mistar ingsut

Gambar 2.2. Vernier Caliper / Jangka Sorong

c. Mistar ingsut ketinggian

Gambar 2.3 Mistar ingsut ketinggian


d. Mikrometer sekrup

`Gambar 2.4 micrometer sekrup

e. Coordinate measuring machine (CMM)

Gambar 2.5 Coordinate measuring machine (CMM)


f. Outside caliper

Gambar 2.6 Outside caliper

g. Inside caliper

Gambar 2.7 Inside caliper

h. Spring devider

Gambar 2.8 Spring devider


1.3. Cara Menggunakan Macam – macam Alat Ukur Pengukuran Linear
a. Mistar ukur
1. Siapkan benda ukur dan mistar ukur
2. Lakukan pengukuran benda dengan menempelkan mistar ukur secara lurus
dan sempurna
3. Catatlah hasil pengukuran dari skala yang terbaca

b. Vernier Caliper / Jangka Sorong / Mistar Ingsut


Digunakan untuk mengukur dimensi bagian dalam dan luar suatu
benda. Vernier terdiri dari bilah utama dan bilah pembantu. Bilah Utama
dibagi dalam milimeter. Bilah pembantu dibagi 100. 100 garis pada bilah
pembantu sama dengan 49 milimeter pada bilah utama. Jadi panjang satu
garis pada bilah pembantu adalah = 100/49 mm. Bila suatu garis bilah
pembantu berhimpit dengan suatu tanda pada skala utama, maka harga
ukurnya adalah jumlah skala dihitung dari angka 0 x 0,02 mm.
Cara penggunaan Vernier Caliper yaitu:
1. Membuka pengunci ke kanan
2. Menggeser rahang gerak sesuai dengan ukuran benda
3. Mencekamkan rahang gerak pada benda ukur kemudian mengunci
Vernier Caliper dengan memutar pengunci ke kiri.
4. Membaca skala yang ditunjukkan oleh skala utama yang berhimpit
dengan angka nol, kemudian membaca skala noniusnya.

Gambar 2.8. Gambar dan bagian-bagian dari vernier caliper


Skala Utama

Skala Nonius Skala Nonius

Gambar 2.9. Cara pembacaan Skala Utama dan skala Nonius pada Vernier Caliper

c. Mikrometer Sekrup
1. Perhatikan bilangan bulat pada skala utama barrel.
2. Kemudian perhatikan apakah terbaca skala setengah milimeter pada bagian
atas skala utama (ada kalanya dibawah).
3. Selanjutnya bacalah skala perseratusan pada lingkaran
Nilai ukuran dari gambar dibaca sbb :

Gambar 2.10 Cara pembacaan skala pada Mikrometer sekrup

1.4. Jenis – jenis Alat Ukur Sudut


a. Busur bilah
Busur bilah merupakan pengukur sudut universal digunakan untuk
pengukuran sudut secara tepat. Hal tersebut memungkinkan ketelitian
pengukuran hingga 5 menit. Pengukur sudut dapat distel pada sembarang
tempat dengan daerah pengukuran dari nol sampai dengan 360°.Alat ukur
sudut tersebut penggunaannya lebih luas dari pada busur baja.
Dari gambar tersebut nampak bagian-bagian daribusur bilah adalah
piringan skala utama, skala nonius, bilah utama, badan/landasan, kunci
nonius, dan kunci bilah.Skala utama mempunyai tingkat kecermatan hanya 1
derajat. Dengan bantuan skala nonius maka busur bilah ini mempunyai
ketelitian sampai 5 menit.Kunci nonius digunakan untuk menyetel skala
nonius dan kunci bilah digunakan untuk mengunci bilah utama dengan
piringan skala utama.
Dengan adanya bilah utama dan landasan maka busur bilah tersebut
dapat digunakan untukmengukur sudut benda ukur dengan berbagai macam
posisi. Untuk hal-hal tertentu biasanya dilengkapi puladengan bilah
pembantu. Bilah utama dan bilah pembantu bisa digeser-geserkan posisinya
sehingga proses pengukuran sudut dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-
prinsip pengukuran yang betul.

Gambar 2.11 Busur Bilah

b. Busur baja
Busur baja merupakan alat ukur sudut yang hasil pengukurannya
langsung dapat dibaca pada skala ukurnya. Alat ini dibuat dari plat baja dan
dibentuk setengah lingkaran dan diberi batang pemegang serta pengunci.
Pada plat setengah lingkaran itulah dicantumkan skala ukuran sudutnya.
Untuk memudahkan, plat berbentuk lingkaran yang berskala tersebut disebut
dengan piringan skala utama. Antara piringan skala utama dengan batang
pemegang dihubungkan dengan pengunci yang mempunyai fungsi untuk
mematikan gerakan dari piringan skala utama waktu mengukur.

Gambar 2.12 Busur baja


Busur baja tersebut hanya mempunyai ketelitian sampai 1 derajat.
Piringan skala setengah lingkaran diberiskala sudut dari 0° – 180° secara
bolak-balik. Satu skala kecil besarnya sama dengan 1 derajat. Busur baja
cocok digunakan untuk mengukur sudut-sudut benda ukur terutama yang
terbuat dari plat. Di samping itu untuk pengukuran yang cepat alat ini dapat
juga untuk mengukur sudut-sudut alat potong. Untuk mengukur sudut-sudut
yang kecil maka dalam menggunakan busur baja dapat dibantu dengan
penyiku. Gambar berikut menunjukkan gambar busur baja.

Gambar 2.13 Busur baja

c. Siku Lipat
Siku lipat mempunyai kaki-kaki yang dapat distel dan digunakan
untuk pengalihan dan pembandingan sudut-sudut. Contoh penggunaannya
dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Gambar 2.14 Siku Lipat

d. Siku Tetap

Siku tetap digunakan untuk pemeriksaan sudut yang sering terjadi,


misalnya 90°, 120°. Sudut 90° diuji dengan siku rata atau siku tumpu.
Penempatan siku yang kurang tepat, misalnya miring mengakibatkanhasil
pengukuran yang salah.

Gambar 2.15 Siku tetap

e. Batang Sinus (since bar)


Digunakan untuk mengukur sudut dengan teliti atau untuk mengukur
kedudukan benda kerja. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan azas
trigonometri. Hasil ukur dicari dengan menggunakan rumus : snø = (h1-h2)/L
Tinggi h1 dan h2 diukur dengan balok ukur.
Balok ukur berbentuk persegi panjang, bulat atau persegi empat,
mempunyai dua sisi sejajar dengan ukuran yang tepat. Dibuat dari baja
perkakas, baja khrom, baja tahan karat, khrom karbida atau karbida tungsten.
Digunakan sebagai pembanding pengukur teliti untuk mengukur perkakas,
pengukur dan die dan sebagai standar laboratorium induk untuk mengukur
ukuran selama produksi.
Ukuran blok ukur karbida yang terdiri dari 88 blok :
- 3 blok : 0,5; 1,00; 1,0005 mm
- 9 blok dengan imbuhan sebesar 0,001 mm mulai dari 1,001 hingga 1,009
- 49 blok dengan imbuhan sebesar 0,01 mm dari 1,01 hingga 1,49 mm
- 17 blok dengan imbuhan sebesar 0,5 mm dari 1,5 hingga 9,5 mm
- 10 blok dengan imbuhan sebesar 10 mm dari 10 hingga 100 mm.

Gambar. 2.16. Batang Sinus


Satu set blok sudut biasanya terdiridari 13 buah dengan berbgai
ukuran sudut. Beberapa blok sudut dapat disusun sehingga didapat 2
permukaan yang mempunyai sudut tertentu sesuai dengan yang dikehendaki.
Dari ke-13 blok tersebut, hampir semua sudut yang dikehendaki dapat
dibuat, hal ini disebabkan karena kita dapat mencapainya dengan
pengurangan dan penjumlahan.
Balok ukur berbentuk persegi panjang, bulat atau persegi empat,
mempunyai dua sisi sejajar dengan ukuran yang tepat. Dibuat dari baja
perkakas, baja krom, baja tahan karat, krom karbida atau karbida tungsten.
Digunakan sebagai pembanding pengukur teliti untuk mengukur perkakas,
pengukur dan dan sebagai standar laboratorium induk untuk mengukur
ukuran selama produksi.

Gambar 2.17 Blok ukur


Pada setiap blok sudut selain dicantumkan harga nominal sudutnya
maka dituliskan pula 2 buah tanda (+) dan (–) pada kedua sisinya atau tanda
sudut (<) pada salah satu sisinya, guna mempermudah penyusunan
(penambahan atau pengurangan).
f. Coordinat Measuring Machine (CMM)
Merupakan alat ukur geometrik modern dengan memanfaatkan
computer untuk mengontrol gerakan sensor relatif terhadap benda ukur serta
untuk menganalisis data pengukuran. CMM merupakan Instalasi untuk
mengukur macam-macam jenis pengukuran dengan menggunakan arah X, Y
dan Z. Secara garis besar, konstruksi CMM dibagi menjadi 3 bagian:
– Unit mesin
– Instalasi pengolah data (PC/Software)
– Probe (touch probe, copy probe, un-direct probe, dsb)

Gambar 2.18 Coordinate Measuring Machne (CMM)


1.5.Cara Menggunakan Macam-Macam Alat Ukur Sudut
a. Busur bilah
1. Dengan mengendurkan klem, bilah akan mudah diputar. Bilah akan
mudah di gerakkan saat klem di kendurkan.
2. Kendurkan juga klem bilah untuk mengatur posisi busur bilah dan badan/
landasan di posisi yang di butuh kan . Untuk hal – hal tertentu dapat di
gunakan bilah pembantu. Bilah utama dan bilah pembantu bisa di geser-
geserkan posisinya sehingga proses pengukuran sudut dapat dilakuakan
sesuai dengan prinsip-prinsip pengukuran yang betul.
3. Ketika melakukan pengukuran pastikan bidang dari busur bilah sejajar dari
sudut yang di ukur, putar klem 1 searah jarum jam untuk
mengenencangkan.
4. Kehalusan penyesuaian dapat diperoleh dengan memutar Fine adjustment
knob.
5. Lakukan pembacaan skala nonius terhadap garis skala utama
6. Catat hasil pembacaan ukuran sudut yang di cari

b. Busur baja
1. Persiapkan busur baja, benda kerja dan penyiku sebagai alat tambahan
2. Letakkan benda ukur di posisi yang stabil dan lakukan pengukuran dengan
menempelkan batang pemegang busur baja ke sisi miring serta piringan
skala utama ke bidang yang lurus.
3. Kunci busur baja agar hasil pengukuran tidak berubah kemudian lakukan
pembacaan di busur baja dan catat hasilnya
4. Jika benda ukur memiliki dimensi yang kecil gunakan bantuan penyiku
untuk landasan batang busur baja (Peletakan busur baja bervariasi
tergantung sudut mana yang ingin di hitung).

c. Siku lipat
1. Siku lipat memiliki 3 kaki pengukur da 2 kaki diantaranya dapat di stel
sesuai keinginan
2. Siapkan benda ukur lalu jepit lah benda ukur dengan kaki siku lipat
3. Lakukan pengaturan kaki untuk mengukur sudut yang ingin di cari
4. Kunci siku lipat dan catatlah sudut yang nampak di siku lipat

d. Siku tetap
1. Siku tetap memiliki dua kaki dengan kaki yang tetap besarannya 90°, 120°
, dll.
2. Letakkan siku tetap di sisi benda ukur secara tegak dan lurus (siku tetap
yang miring mengakibatkan hasil pengukuran yang salah)
3. Jika benda ukur dan siku tetap bersinggungan secara sempurna maka
benda ukur memiliki sudut yang sesuai jenis siku tetap tersebut. (jika siku
tetap 90° maka benda ukur sudutnya 90° juga dst).

e. Batang Sinus (Sinus Bar)


Batang sinus berupa suatu batang baja dengan dua buah rol yang
dilekatkan pada kedua ujungnya pada sisi bawah. Batang dan rol tersebut
dikeraskan dan diasah halus pada permukaannya yang penting. Kedua rol
mempunyai kesamaan diameter dan kesilindrisan dengan toleransi sekitar
0,003mm.
Batang sinus diletakkan pada meja rata, kemudian denda ukur
diletakkan dipermukaan atas dan menempel pada sisi penahan. Ujung dari
batang sinus yang tidak berpenahan diangkat dan diberi suatu blok ukur
dengan tinggi yang sudah diketahui tepat dibawah ujung tersebut. Sebelum
pengukuran dimulai maka tinggi dari blok ukur harus benar-benar sudah
diketahui, kemudian dengan mengukur sudut menggunakan busur bilah.
Setelah didapat harga sinusnya maka dapat dicari panjang masing-masing
komponen.
Gambar 2.19 Proses pengukuran dengan batang sinus
Dengan menggunakan jam ukur, ini digunakan untuk mengukur dari
kesejajaran benda kerja terhadap meja kerja. Apabila terdapat kesalahan maka
tinggi dari blok harus dipertimbangkan lagi karena tinggi yang sebenarnya
sudah berubah. Perubahannya dapat dicari :
y= d x L/I’ ; dimana :
y = perubahan tinggi
d = harga yang ditunjukkan dari jam ukur
L = jarak antara center nol
I’ = jarak pergeseran jam ukur.
Dan tingginya harus ditambah dengan hasil perhitungan diatas (H± Y).
Jika dalam pengukuran linier kita kenal standard panjang yaitu blok
ukur, maka dalam pengukuran sudut dibuat suatu alat ukur standard sudut
yang disebut blok sudut. Dimensi setiap blok sudut kurang lebih mempunyai
panjang dan lebar sebesar 76 x 16 mm. dibuat dari baja yang dikeraskan dan
mempunyai kstabilan dimensi yang baik.
Benda ukur diletakkan diatas meja rata sisi atas, sudut antara salah
satu permukaan benda ukur terhadap meja rata atau bidang dasar dapat
ditentukan dengan cara menyusun blok sudut dan kemudian diletakkan
disamping benda ukur. Harga sudut benda ukur terlebih dahulu diperkirakan
dengan memakai busur bilah (sampai kecermatam 5’). Tinggi permukaan
benda ukur dengan muka ukur yang teratas dari blok sudut diatur supaya
berimpit dengan cara menggeserkan susunan blok sudut atau dengan bantuan
blok ukur untuk mempertinggi salah satu permukaan yang dibandingkan.
Kemudian kesejajaran anatara permukaan benda ukur dengan muka ukur dari
blok sudut yang teratas diperiksa dengan pisau lurus (straight edge). Apabila
masih terlihat adanya celah ,maka susunan blok sudut harus diubah dan
pemeriksaan kesejajaran diulangi lagi sampai tidak terjadi celah.
f. Coordinate Measuring Machine (CMM)
Merupakan alat ukur geometrik modern dengan memanfaatkan
computer untuk mengontrol gerakan sensor relatif terhadap benda ukur serta
untuk menganalisis data pengukuran. CMM merupakan Instalasi untuk
mengukur macam-macam jenis pengukuran dengan menggunakan arah X, Y
dan Z. Secara garis besar, konstruksi CMM dibagi menjadi 3 bagian:
Ø Unit mesin
Ø Instalasi pengolah data (PC/Software)
Ø Probe (touch probe, copy probe, un-direct probe, dsb)
Cara mengukur sudut dengan Coordinate Measuring Machine (CMM) adalah
1. Nyalakan Coordinate Measuring Machine (CMM)
2. Pilih F8 untuk menu pengukuran sudut
3. Kenakan sensor CMM ke 4 titik

2

1

4 3

Gambar 2.20 pengukuran Benda Kerja CMM


4. Hasil akan keluar otomatis di layar CMM

Rumus Perhitungan Pengukuran Sudut


• = 180 0 – (• + •) ………………………... (1)
• = • – (1800 – •) ……………………….. (2)
H = L.sin • ……………………………... (3)
Y = d x L/I’……………………………... (4)
• = arc sin (H/L) ………………………. (5)
1.6. Pengertian dan Fungsi Conecting Rod
a. Pengertian connecting rod
Pengertian connecting rod adalah batang engkol yang
menghubungkan piston dan poros engkol, dimana banyak dipakai di mesin
pembakaran dalamseperti mobil dan truk serta di mesin uap pada masa lalu.
b. Fungsi connceting rod
Connecting rod berfungsi untuk menyambungkan antara piston dan
engkol juga mengkonversi gerak berputar menjadi gerak linier. Dan juga
mentransfer gerakan mendorong atau pun menarik sehingga rod dapat
memutar engkol dan menghasilkan sebuah sebuah siklus pembakaran.

2. TUJUAN PRAKTIKUM PENGUKURAN CONNECTING ROD


2.1 Tujuan Umum
a. Mengetahui cara mengukur diameter dalam dan luar connecting rod
b. mengetahui jenis alat untuk mengukur sudut

2.2. Tujuan Khusus


a. Untuk mengetahui dimensi connecting rod sebenarnya
b. memahami bentuk connencting rod
c. Dapat membandingkan hasil pengukuran antara alat ukur yang satu dengan
yang lainnya.
3. PERALATAN DAN BENDA UKUR
3.1. Gambar Alat dan Benda Ukur Praktikum
Ø Gambar Benda Ukur

Gambar 2.21 Benda Ukur


Ø Gambar Alat Ukur
a. Vernier Caliper / Jangka Sorong / Mistar Ingsut

Gambar 2.22 Vernier Caliper / Jangka Sorong


b. Coordinate Measuring Machine (CMM) (kecermatan 0,001 mm).

Gambar. 2.23 Coordinate Measuring Machine (CMM)

3.2. Prosedur Kalibrasi dan Perawatan Alat Ukur


Kalibrasi adalah proses membandingkan alat ukur terhadap standar yang
diketahui untuk selanjutnya mengurangi kesalahan dalam ketelitiannya.
Ø Prosedur Kalibrasi
a. Vernier Caliper
Dengan menghimpitkan rahang gerak dan rahang tetap, kemudian
lihat skala utama dan nonius harus berimpit dititik nol.
b. Coordinate Measuring Machine (CMM)
Kalibrasi CMM dengan cara meletakkan refference ball yang
berdiameter 20,0001 mm yang telak diketahui ukurannya pada CMM,
kemudian sentuhkan sensor pada bagian atas, kanan, kiri, depan, dan
belakang dari refference ball hingga mendekati atau sama dengan nilai
diameter refference ball tersebut. Kemudian klik pada “Go Back Icon”.
Ø Perawatan Alat Ukur
a. Perawatan Alat Ukur connecting rod
1. Membersihkan alat ukur dan peralatan lainnya
2. Melapisi alat ukur, benda kerja dan peralatan lainnya yang cenderung
dapat berkarat dengan vaselin
3. Menyimpan peralatan praktikum pada tempatnya
4. Meminta asisten praktikum untuk memeriksa kelengkapan alat dan
membubuhkan tanda tangan pada kartu alat
5. Merapikan dan membersihkan ruangan/tempat praktikum sebelum
meninggalkan ruangan praktikum
b. Perawatan Alat Ukur Coordinate Measuring Machine (CMM)
1. Biasakan unutk mematikan Coordinate Measuring Machine (CMM)
setelah memakainya.
2. Kemudian matikan komputer di bawah Coordinate Measuring Machine
(CMM)
3. Terakhir matikan air supply.
4. Pastikan untuk selalu menjaga kebersihan Coordinate Measuring
Machine (CMM).
5. Meminta asisten praktikum untuk memeriksa kelengkapan alat dan
membubuhkan tanda tangan pada kartu alat

3.3. Prosedur Pengukuran Connecting Rod


Ø Prosedur pengukuran Connecting Rod menggunakan vernier caliper
a. Persiapan Pengukuran
1. Persiapkan alat ukur, connecting rod dan tabel untuk mencatat data
hasil pengukuran
2. Tuliskan data vernier caliper yang digunakan pada lembar kerja. Data
meliputi merk, kecermatan dan kapasitas ukur vernier caliper. Serta
data temperatur awal ruangann dan kelembaban
3. Membersihkan alat ukur dengan kertas pembersih yang di basahi bensin
pencuci.

b. Pengukuran dengan Vernier caliper


1. Mempelajari cara penggunaan Vernier Caliper yang digunakan.
Menuliskan data Vernier Caliper yang digunakan pada lembar kerja,
tabel. Data meliputi merk, kecermatan, dan kapasitas ukur Vernier
Caliper
2. Mempelajari fungsi masin – masing bagian dari Vernier Caliper
(khususnya kemampuan masing – masing Vernier Caliper dalam
mengukur obyek ukur.
3. Mempelajari gambar benda kerja pada gambar 2.21 . Melakukan proses
pengukuran berdasarkan bimbingan dari asisten.
4. Lakukan pengukuran dimensi yang sudah di tentukan sebanyak 3x dan
carilah rata – ratanya
5. Menulis hasil pengukuran pada lembar kerja.

Ø Prosedur Pengukuran Connecting Rod menggunakan Coordinate Measuring


Machine (CMM)
a. Persiapan Pengukuran
1. Persiapkan Coordinate Measuring Machine (CMM), connecting rod
dan tabel untuk mencatat data hasil pengukuran.
2. Tuliskan data Coordinate Measuring Machine (CMM )yang digunakan
pada lembar kerja. Data meliputi merk, kecermatan dan kapasitas ukur
Coordinate Measuring Machine (CMM) Serta data temperatur awal
ruangann dan kelembaban.
3. Pastikan kebersihan Coordinate Measuring Machine (CMM) demi
kelancaran proses pengukuran

b. Pengukuran dengan Coordinate Measuring Machine (CMM)


1. Mempelajari cara penggunaan Coordinate Measuring Machine (CMM)
yang digunakan. Menuliskan data Coordinate Measuring Machine
(CMM) yang digunakan pada lembar kerja, tabel. Data meliputi merk,
kecermatan, dan kapasitas ukur Coordinate Measuring Machine (CMM)
2. Mempelajari fungsi masing – masing bagian dari Coordinate
Measuring Machine (CMM) (khususnya bagian – bagian Coordinate
Measuring Machine (CMM) yang penting untuk di ketahui seperti
instruksi keselamatan.
3. Mempelajari gambar benda kerja pada gambar 2.21 . Melakukan proses
pengukuran berdasarkan bimbingan dari asisten.
4. Lakukan pengukuran dimensi yang sudah di tentukan sebanyak 3x dan
carilah rata – ratanya
5. Menulis hasil pengukuran pada lembar kerja.

4. PEMBAHASAN
4.1. Data Alat Ukur dan Pengukuran

Gambar 2. Benda kerja pengukuran connecting rod

Data alat ukur


Nama alat ukur Merk Kecermatan Kapasitas ukur
Vernier caliper 0.02 MM 150 mm
Coordinate Measuring
Machine (CMM)
Data pengukuran
Obyek ukur Hasil pengukuran Rata - rata
A 122,7 122,74 122,74 122,94
B 93,95 93,95 93,50 93.95
C 40,20 40,30 40,30 40,26
D 5,30 5,40 5,70 5,46
E 3,10 3,80 3,20 3,36
F 18,40 18,20 18,30 18,30
G 29,50 29 29,70 29,40
H 12,60 12,70 12,80 12,70
I 13,90 13,80 13,90 13,86
J 7,80 7,70 7,80 7,76
K 13,90 13,90 13,90 13,90

4.2. ANALISIS
1. Alat ukur yang mempunyai kecermatan adalah alat ukur yang mampu
mengukur benda ukur pada kecermatan tertentu sesuai dengan skala terkecil
pada suatu alat ukur.
2. Alat yang paling cermat yaitu Coordinate Measuring Machine (CMM) karena
memiliki nilai kecermatan yang tinggi dibandingkan alat ukur linear yang
lainnya.
3. Alat ukur yang paling tidak cermat yaitu Mistar ukur / penggaris
4. Alat ukur yang digunakan adalah mistar ingsut/vernier caliper, dan
Coordinate Measuring Machine (CMM).
5. Perbandingan hasil jumlah B+C+D+E+F dengan besarnya A terjadi selisih
panjang/dimensi pada tiap pengukuran menggunakan alat ukur linear yang
berbeda-beda.. Pengukuran pada A lebih mudah dan tidak serumit pada
B,C,D,E,dan F sehingga setiap obyek yang diukur memungkinkan terjadinya
kesalahan (error). Dan selisih tersebut merupakan error yang terjadi dalam
pengukuran.
6. pengukuran menggunakan mikrometer lebih cermat dibandingkan mistar
ingsut untuk posisi yang sama dikarenakan kecermatan mikrometer lebih
cermat yaitu 0,01mm, sedangkan kecermatan Mistar ingsut yaitu 0,02mm.
7. Karena diameter nominal poros dan lubang 30 mm, maka suaian ini termasuk
suaian pas. Toleransi suian tersebut adalah 1 mm. Dan juga toleransi dari
poros dan lubangn yang besarnya sama dapat menyebabkan suaian pas.
Karena jika besar diameter kelebihan sesuai nilai toleransinya, maka hal ini
dapat ditutupi oleh besar toleransi dari lubangnya. Perkiraan untuk jenis
suaian lubang dan poros yaitu menggunakan suaian pas/transisi karena agar
didapat ukuran yang tepat sehingga lubang dan poros tersebut tidak terjadi

slip. Toleransi Suaian yang digunakan : 30 H 7


h6

8. Untuk pengukuran dengan menggunakan CMM terjadi penyimpangan


pengukuran antara dimensi A dengan dimensi B,C,D,E dan F. Hali ini
dikarenakan penyentuhan jarum sensor pada benda ukur tidak tepat.
Kemungkinan kesalahan terbesar terjadi saat pengukuran lingkaran. Selain
itu, penyimpangan hasil dapat disebabkan oleh fungsi formulasi yang
digunakan.
9. Pengukuran yang berubah – ubah dapat di sebabkan oleh faktor :
a. Alat ukur
Kondisi alat ukur yang sudah usang, skala sudah terhapus.
b. Benda ukur
Dimensi benda ukur yang tidak lazim banayk lekukan dsb. (menyulitkan
saat proses pengukuran)
c. Posisi pengukuran
Posisi pengukuran yang tidak lurus dan tidak sesuai dengan semestinya
d. Lingkungan
Pencahayaan yang tidak memadai, lokasi pengukuran yang tidak kondusif
(berisik, kotor)
e. Praktikan
Kurang nya pengalaman praktikan dalam menggunakan alat ukur,
kurangnya ketelitian dalam membaca skala.
Keuntungan dan Kerugian Alat Ukur
Jenis Alat Ukur Kecermatan Keuntungan Kerugian
Vernier Caliper / 0,02 mm 1. Mudah 1.Kurang cermat
Mistar ingsut Penggunaanya
2. Mampu mengukur
obyek dengan
bentuk rumit
CMM 0,0005 mm 1. Paling teliti 1. Harga yang
2. Mudah mahal
digunakan dan dibaca 2. Sulit dibawa
3. Mampu kemana-mana
melakukan berbagai
macam pengukuran

5. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan
a. Dari praktikum yang sudah dilakukan, praktikan kini mengerti bagaimana
Mengetahui cara mengukur diameter dalam dan luar connecting rod.
b. Praktikum yang dilakukan memberi penjelasan alat – alat yang di perlukan
untuk mengukur sudut. Dalam hal ini juga memberi pengetahuan bagaimana
cara menggunakan alat – alat tersebut.
c. Praktikan mendapat pengetahuan tentang dimensi dan bentuk connecting rod
yang sebenarnya.
d. Dapat membandingkan hasil pengukuran antara alat ukur yang satu dengan
yang lainnya. Praktikan dapat membandingkan hasil pengukuran manual dan
pengukuran otomatis (Coordinate Measuring Machine).
5.2. Saran
a. Saat melakukan pengukuran sebaiknya praktikan lebih cermat membaca hasil
pengukuran serta berkonsentrasi lebih untuk menghasilkan pengukuran yang
akurat.
b. Agar hasil pengukuran memuaskan, sebaiknya alat ukur harus dirawat dengan
baik agar tetap valid.
c. Sebaiknya asisten selalu mendampingi praktikan agar pengukuran dapat
berjalan cepat, lancar, dan efisien.
d. Sebaiknya dalam melakukan percobaan kita lebih cermat dalam menggeser
jarum pada dial indikator serta pembacaan dari skala pada protaktor.
e. Jarum penunjuk pada dial indicator kami rasa itu sudah tidak valid lagi,
karena menurut pengalaman kami selama melakukaan pengukuran sudut,
ketika kita menyeting nol tiba-tiba saja jarum penunjuknya itu berubah
sendiri, padahal kita tidak melakukan sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Diktat Kuliah Alat Bantu dan Alat Ukur, Univ. Darma Persada Jakarta, 2005
Rochim, Taufiq & Wirjomartono, S.H. 2001. Spesifikasi Geometris Metrologi Industri
& Kontrol Kualitas.Bandung: ITB Press.
Taufiq Rochim hal. 57, Spesifikasi, Metrologi Industri dan Kontrol Kualitas,2001
http://en.wikipedia.org. 2010. “vernier caliper”. Diakses tanggal 13 juni 2010.
http://en.wikipedia.org/wiki/CMM. 2010. Diakses 13 juni 2010.
http://engineering.dartmouth.edu/mshop/design/cmm_start.shtml. 2010. “How to Use
the Brown & Sharpe Coordinate Measuring Machine (CMM)” . Diakses tanggal
14 juni 2010.