Anda di halaman 1dari 8

Literasi Media/ Shefti L.

/ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

Literasi Media pada Orang Dewasa:

Televisi dan Gaya Hidup


Shefti L. Latiefah

Literasi Media: Sebuah Pengantar

Tidak banyak yang mengerti apa itu literasi media. Secara gambang, literasi media sering
diasosiasikan dengan istilah melek media. Asosiasi ini kemungkinan didapat dari istilah literasi
(literate) yang lebih kurang berarti melek huruf. Namun, ternyata, tidak sesederhana itu. Literasi
media, secara populer, dimaknai sebagai pengetahuan dan kemampuan yang perlu dimiliki
seseorang agar ia dapat menggunakan media dengan benar. Burn dan Durran (2007) menjelaskan
istilah literasi media dalam tiga aspek, yakni: kultural, kritikal dan kreatif. Kultural berarti,
literasi media dikaitkan dengan kejadian dan kondisi yang terjadi dalam masyarakat tersebut.
Hal ini karena penggunaan media tidak lepas dari pengaruh latar belakang dan perspektif
penggunanya. Literasi media itu kritikal, dan tidak sama diterapkan pada satu orang ke orang
lain. Akan muncul kritik-kritik yang beragam antarpengguna media dalam menyikapi fenomena
yang terjadi. Hal ini terkait dengan perpektif dan pola pikir yang tidak sama. Kemudian, yang
terakhir, literasi media itu kreatif. Jadi, dalam menciptakan literasi media, perubahan-perubahan
yang dinamis harus berlaku, karena media dan konten yang ada juga semakin berkembang.

Literasi media tidak hanya tentang mengerti sebuah teks media, dalam hal ini, teks media
bukanlah huruf saja namun juga audo-visual, baik yang bersifat searah maupun interaktif.
Literasi media juga mengulas bagaimana membuat ulang (remaking) teks tersebut, sehingga,
muncul adopsi dan adaptasi atas teks-teks media yang beredar, entah kemudian dari acara televisi
kemudian dibuat lagi versi kartunnya, atau mungkin diadaptasi menjadi drama sekolah dan lain-
lain. Dengan kata lain, literasi media harus dimiliki oleh setiap pengguna media, dan ini tidak
hanya berkaitan dengan mengerti teks media dalam tataran kognitif. Literasi media lebih kearah
kemampuan (skill) yang memungkinkan pengguna media menyikapi teks media secara kritis dan
bijak, sehingga tidak serta-merta memercayai begitu saja dan tidak melakukan pencernaan atas
teks media tersebut. Menurut Varis (dalam Iriantara, 2009:8), kemampuan literasi media semakin

1
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

harus dimiliki karena perkembangan media (teknologi) yang eksponensial. Persoalan tentang
media dan teknologi akan menjadi pelik di masa depan, terutama dalam era globalisasi sehingga
setiap orang harus berkemampuan untuk mencerna dan mereproduksi pesan media. Halloran dan
Jones (ibid.:13) menjelaskan bahwa, Inggris sudah memulai pendidikan literasi media pada 1930
agar anak-anak dan remaja dapat secara kritis melihat dan membedakan apa yang baik dan
buruk. Namun, literasi media menjadi populer sekitar tahun 2000an dan mulai dilakukan di
negara dunia ketiga seperti Indonesia. Dalam Undang-Undang No.32/2003 tentang Penyiaran,
literasi media dimaknai sebagai kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan sikap kritis
masyarakat. Definisi ini lebih menekankan pada proses untuk mencapai kondisi literasi media
(ibid.:18).

Media Massa dan Gaya Hidup

Media massa memungkinkan adanya koneksi antarpengguna di seluruh dunia. Teknologi, hal
inilah yang memungkinkan industri media melakukan produksi pesan secara masif. Debat calon
presiden yang dilangsungkan di salah satu stasiun TV di Jakarta dapat dinikmati setiap orang di
seluruh Indonesia selama TV mereka terpapar transmisi relay dari stasiun tersebut. Sehingga,
pengetahuan mereka akan calon presiden dapat seragam (jika hanya terpapar informasi dari
stasiun TV tadi). Bayangkan hal itu, ada banyak pengguna media yang tersebar di seluruh
nusantara tapi pengetahuan mereka akan suatu topik dapat serupa. Padahal mereka terpisah satu
sama lain, tidak memiliki hubungan/ kedekatan tertentu, bahkan tidak saling kenal, tapi mereka
kemungkinan membaca artikel majalah yang sama, mendengarkan musik di stasiun radio yang
sama, dan menonton acara TV yang sama pula. Disinilah canggihnya media massa, dapat
menghubungkan khalayaknya.

Kita akan melihat bagaimana media massa mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Joseph
Turow (2009) menjelaskan adanya semacam kegunaan media massa, diantaranya adalah sebagai
hiburan, teman di kala senggang, pengawasan dan interpretasi. Hiburan, adalah keinginan dasar
manusia yang ingin didapatkan dalam bermedia massa. Misalnya menonton sinetron,
menyaksikan tim kesayangan berlaga, dan menyimak berita merupakan bahan perbincangan
yang tidak ada habisnya ketika bertemu dengan kawan atau kolega. Selain itu, media juga dapat
dipergunakan sebagai teman di kala senggang. Seringkali kita mendengarkan musik ketika

2
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

menunggu bus yang akan datang, atau ketika terjebak macet, pengemudi lebih suka menyetel
radio atau memutar CD kesukaan mereka.

Fungsi lain media massa adalah sebagai surveillance atau jendela pengawas. Khalayak
menggunakan media antara lain untuk mengetahui perkembangan di sekitar mereka, baik sosial,
ekonomi, politik maupun kebudayaan. Meski sering tidak disadari, kita mengakses media massa
untuk tahu bagaimana cuaca hari ini, bagaimana kemacetan di ruas jalan tertentu, maupun
mengikuti perkembangan politik dan tren busana. Tidak hanya terbatas pada fungsi pengawasan,
media juga berfungsi menginterpretasi pesan. Khalayak menginginkan adanya penerjemah suatu
keadaan untuk mereka, misalnya, kita memerhatikan editorial koran yang mendukung kebijakan
pemerintah dan mempertimbangkan alasan-alasan logis yang dibuat oleh redaktur tersebut, atau
kita membaca kolom khusus mengenai cara berinvestasi dalam majalah bisnis yang tentunya
ditulis secara gamblang oleh pakarnya. Media massa memungkinkan kita memahami banyak hal
tanpa harus menjadi ahli di bidang tersebut.

Setelah mengetahui fungsi media massa, kini, kita tidak bisa memungkiri adanya dampak yang
disebabkan olehnya. Konsep industrialisasi (massifikasi) menjadikan media terintegrasi ke dalam
keseharian manusia dan kemudian menciptakan gaya hidup. Dalam hal ini, kita bisa merujuk
pada posmodernisme dan budaya massa. Posmoderisme merupakan teori yang mengkultuskan
media sebagai instrumen terkuat. Dampak kehadiran media massa, sejalan dengan teori
posmodernisme, adalah menjadi suatu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia, mulai
dari memberntuk kesadaran realitas, penggolongan baik-buruk, juga membentuk cara berfikir.

Teori lain yang digunakan untuk menganalisis dampak media adalah teori budaya massa oleh
Dominic Strinati (2005). Budaya massa adalah budaya yang diciptakan oleh para produsen
supaya dagangan mereka laris. Pengkonsumsian budaya ini direkonstruksi sehingga, siapapun
seakan membutuhkannya. Media, merupakan agen penyebar budaya massa. Tidak salah jika,
melalui media, banyak hal-hal yang seharusnya tidak ada di kebudayaan lokal, menjadi eksis,
misalnya memakai bikini bahkan bergaya ala rapper hip-hop. Pembelajaran budaya massa ini
dilakukan melalui media massa. Adanya kemunculan yang signifikan dari budaya massa akan
memengaruhi eksistensi budaya rakyat itu sendiri. Oleh karena itu mengapa banyak yang
menakutkan kebudayaan asli akan punah, karena tergusur dengan hadirnya budaya massa.
Budaya massa selain ditakutkan akan memusnahkan budaya sesungguhnya, sebenarnya,

3
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

penyebarannya melaui media inilah yang sangat dikhawatirkan. Dengan adanya konsep
globalisasi, maka kanal media semakin terbuka dan dikonsumsi secara mendunia. Proses
pendistribusian budaya massa kemudian akan semakin melebar, sehingga produksi dan konsumsi
budaya massa menjadi signifikan hingga penjualan Blackberry di Indonesia bisa melonjak
sampai 494% (diunduh dari www.detikinet.com).

Pola Penggunaan Televisi pada Khalayak Dewasa dan Dampaknya

Fokus penulisan ini adalah literasi media pada khalayak dewasa, sehingga, karakteristik yang
dipergunakan pun tidak sama dengan anak-anak yang masih tergantung pada pengawasan orang
tua. Khalayak dewasa lebih sadar dan otonom dalam menggunakan media, meski independensi
dan kemampuan memilah konten juga belum dapat dipastikan. Menurut riset kualitatif yang
dilakukan penulis, fenomena yang terjadi dalam penggunaan televisi oleh khalayak dewasa
adalah sebagai eskapisme atas rutinitas yang membuat penat dan mencari informasi terbaru.
Fungsi yang paling menonjol disini adalah hiburan dan informasi. Selain itu, para responden juga
ada yang mengakui bahwa, melalui televisi, mereka menentukan pilihan terhadap produk-
produk yang bagus atau tidak. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa, televisi
memengaruhi mereka dalam pengambilan keputusan (decision making), minimal secara kognitif
pada mulanya. Pola penggunaan ini sejalan dengan teori uses and gratification, bahwa, khalayak
menggunakan media massa sesuai dengan kebutuhan mereka. Kebutuhan yang dipuaskan media
massa tersebut dikategorikan Fiske (dalam Iriantara, 2009:31) ke dalam 4 kelompok: (1) diversi
berupa melarikan diri (eskapisme) dari rutinitas, beban masalah, dan emosi; (2) relasi personal
yang mencakup persahabatan dan manfaat sosial; (3) identitas personal yang mencakup rujukan
pribadi, eksplorasi realitas dan peneguhan nilai; (4) pengawasan, yang digunakan untuk menjaga
peran sosial seseorang dengan memanfaatkan informasi media massa.

Khalayak akan merasa terpuaskan kebutuhannya jika media memenuhi seleranya, meski tidak
semua materi yang disajikan bermanfaat. Disinilah mereka tidak sadar bahwa, dengan
mengkonsunmsi media, terutama Televisi, mereka juga dapat terkena efek-efek tertentu. Ada 4
jenis efek media sebelum terjadinya efek pada perilaku1, yakni: (1) efek kognitif yang merupakan
pengaruh media terhadap kognitif dengan menanamkan ide atau informasi tertentu; (2) efek
Sikap yang merupakan bentukan media terhadap sikap seseorang atas sesuatu, misalnya setuju
1
Dikutip dari materi perkuliahan Literasi Media pertemuan ke-11, Dampak Media, oleh Bobi Guntarto

4
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

atau tidak dengan kenaikan harga BBM; (3) efek Emosional yang merupakan pengaruh media
terhadap emosi seseorang sehingga menyebabkannya senang, bangga, benci, marah dll.; (4)
efek Fisiologis yang merupakan pengaruh media terhadap kondisi fisik seseorang, misalnya
membuat jantung berdebar cepat, pupil mengecil karena cahaya TV, dll.; (5) efek Perilaku yang
dapat memicu tindakan tertentu dari khalayaknya setelah menyimak pesan media.

Menurut observasi penulis, pengkonsumsian lepas kontrol terhadap televisi dapat menimbulkan
kultivasi dan akhirnya mereka terikat dengan realitas yang direpresentasikan di media, bukan
terhadap realitas itu sendiri. Selain itu, terpaan konten yang juga mengandung iklan
menyebabkan konsumerisme laten yang secara jangka waktu efektivitasnya dapat beragam baik
jangka pendek maupun jangka panjang, tertama pada khalayak dewasa yang sebagian sudah
berpenghasilan. Misalnya, diskon-diskon tertentu, promo-promo yang terikat waktu, sehingga
pengkonsumsiannya harus segera dalam tempo yang ditentukan. Belum lagi, kuis-kuis berhadiah
dan undian lainnya yang mendorong khalayak media berinteraksi dengan operator
telekomunikasi. Seorang responden pernah mengikuti program-program kuis yang ternyata
hanya menyedot habis pulsanya dan tidak pernah ada kejelasan tentang pemenang.

Ketika media hanya dimaknai sebagai inovasi teknologi tanpa memerhatikan karakteristik dan
kapital yang diusung di dalamnya, maka, perspektif naif ini dapat membawa dampak buruk bagi
khalayak media. Oleh karena itulah diperlukan adanya literasi media agar perspektif tersebut
dapat diubah menjadi cara pandang yang lebih kritis dalam menghadapi terpaan media massa
karena, komersialisasi media menyebabkan konten yang diusung harus berorientasi pada
keuntungan. Bagaimanapun bentuknya, atas nama rating, konten akan tetap diproduksi.

Literasi Media dan Aturan Hukum di Indonesia

Integrasi media ke dalam kehidupan sehari-hari, disadari atau tidak, menyebabkan


ketergantungan, sehingga khalayak harus lebih berhati-hati dalam menggunakannya. Disinilah
literasi media menjadi penting, dengan tujuan mengembangkan pribadi otonom yang disebut
juga kompetensi media. Gapski dan Gehrke (dalam Iriantara, 2009:35) menjelaskan, kompetensi
media adalah kemampuan individu untuk melihat dunia secara kritis, reflektif dan independen,
serta bertanggung jawab menggunakan media sebagai sarana ekpresi kreatif. Tujuan dari
pemberdayaan khalayak dengan adanya kompetensi media adalah supaya mereka tidak semata-

5
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

mata tergantung pada media tanpa mengkritisinya. Selain itu, jika media massa dipergunakan
untuk mengisi waktu luang, sebagai saran eskapisme, maka, khalayak dapat memanfaatkannya
lebih bijak. Pelatihan ketrampilan ini mengajarkan bagaimana memanfaatkan waktu luang dan
pelatihan vokasional sehingga bermanfaat. Sehingga, diperlukan adanya kegiatan yang
menciptakan kesadaran khalayak akan pentingnya literasi media. Penyediaan pusat literasi media
di masa depan akan diperlukan dan penting demi mewujudkan masyarakat yang sadar-media.

Media saat ini menempatkan khalayak sebagai konsumen (costumer) daripada sebagai warga
negara (citizen), inilah yang harus disadari, jika tidak, khalayak akan menjadi terget empuk
dalam bisnis media. Konsekuensi dari hal ini adalah media komersial mendorong khalayaknya
menikmati dirinya sendiri dan membeli produk, sehingga media menyajikan apa yang populer di
masyarakat entah hal itu melecehkan logika, mengacak-acak budaya, menumpulkan hati nurani
atau mengabaikan kepentingan publik (Subiakto, dalam Iriantara). Oleh karena itu, literasi media
sangatlah penting agar khalayak sadar bahwa media itu tidak netral, tapi juga berpihak pada
pasar. Konsumsi media yang berlebihan, seperti yang dijelaskan, akan mengakibatkan dampak
konsumerisme laten dan pemahaman yang salah akan realitas. Melalui literasi media, masyarakat
akan selalu kritis dan memiliki posisi tawar (bargaining position) yang kuat sehingga pada
gilirannya akan meningkatkan pengawasan masyarakat terhadap media. Ini juga bisa berarti
meningkatkan pemberdayaan publik untuk menciptakan sistem media yang berkualitas (ibid.).

Khalayak dewasa sudah dianggap otonom dan sadar hukum, 17 tahun keatas. Literasi media
dimaksudkan untuk memberikan sudut pandang baru atas media yang tidak hanya sebagai
teknologi, tapi sudah menjadi institusi komersil. Literasi media juga bertujuan untuk memberi
penyadaran warga negara atas dampak buruk media massa, dan dapat menjadi rujukan untuk
perlindungan khalayak yang disahkan dengan aturan hukum yang berlaku.

Dalam ranah pertelevisian, berlakunya Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program
Siaran (SPS) dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bertujuan untuk mengontrol konten televisi
sehingga tidak menjebak dan merugikan khalayaknya. Dalam P3/SPS dimuat aturan-aturan
tentang konten-konten yang boleh dan tidak untuk disiarkan secara masal melalui televisi. Meski
kenyataannya, P3/SPS belum diberlukan secara holistik dan masih banyak juga tayangan-
tayangan yang tidak berpedoman pada P3/SPS. Dalam hal ini, KPI tidak berwenang melakukan
eksekusi hukum, mereka hanya berhak memberi teguran-teguran melalui surat peringatan pada

6
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

institusi media, karena kewenangan KPI hanya untuk mengawasi isi siaran. Putusan MK
melahirkan PP No. 11, 12, 13, 49, 50, 51 dan PP No. 52 Tahun 2005 yang mengatur bahwa
pencabutan izin penyelenggaraan, pemberian izin, pengaturan sistem siaran yang meliputi aspek
teknis dilakukan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo).

Kesimpulan

Media memang merupakan perpanjangan kemampuan manusia, sehingga, disadari atau tidak,
integrasinya dalam kehidupan sehari-hari pun sangat tinggi. Ini bisa berdampak positif, bisa juga
sebaliknya jika tidak dimaknai secara fungsional. Terutama ancaman kapital yang kemudian
dapat memengaruhi hingga ke tataran behavioristik khalayak media. Dari sinilah mengapa
literasi media menjadi penting, karena, kemampuan mengkritisi teks media akan sangat
membantu dalam memahami pesan-pesan yang dimunculkan sehingga tidak menjadi korban.

Khalayak media, meski tergolong pada usia dewasa, tidak menutup kemungkinan menjadi
korban media. Literasi media dimasudkan supaya khalayak media menjadi lebih independen dan
memiliki ketrampilan mengolah pesan dan memilahnya sesuai kebutuhan, atau dengan kata lain,
lebih kritis dalam mengkonsumsi media. Terlebih jika bermedia sudah menjadi gaya hidup dan
keberadaannya seperti penasihat pribadi atas realitas yang terepresentasikan di dalamnya. Tentu
saja ini membuat khalayak menjadi tergiring untuk bertindak seperti apa yang media sarankan,
padahal, media saat ini sudah menjadi industri yang berkepentingan untuk meningkatkan
keuntungan. Media, dewasa ini, melihat khalayaknya sebagai konsumen, bukan lagi warga
negara, akibat industrialisasi tersebut. Literasi media ditujukan antara lain agar khalayak sadar
bahwa mereka adalah target kapitalis dalam menyukseskan kampanye bisnis melalui media.
Terutama khalayak dalam kategori dewasa yang sudah berpenghasilan, desakan untuk
melakukan konsumsi produk barang/jasa melalui media menjadi cukup besar. Untuk itu, perlu
adanya undang-undang yang lebih mengatur dan memberikan sangsi hukum yang jelas untuk
melindungi khalayak media sebagai warga negara.

Daftar Pustaka:

7
Literasi Media/ Shefti L./ Kajian Media Universitas Paramadina, Jakarta

- Burn, Andrew, James Durran. Media Literacy in School: Practice, Production and
Progression. London: Paul Chapman Publishing. 2007

- Iriantara,Yosal. Literasi Media: Apa, Mengapa dan Bagaimana. Bandung: Simbiosa


Rekatama Media. 2009

- Strinati, Dominic. An Introduction to Theories of Popular Culture. London: Routledge.


2005

- Turow, Joseph. Media Today. New York: Routledge. 2009

Anda mungkin juga menyukai