P. 1
4 1 Pergeseran Nilai

4 1 Pergeseran Nilai

5.0

|Views: 1,324|Likes:

More info:

Published by: H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Jabbar on Jun 15, 2008
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2013

pdf

text

original

Pergeseran Nilai

PERGESERAN NILAI
“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekalikali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolokolokkannya” (QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10). Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada tertanamnya kecintaan yang tulus. Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat. Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq (moralitas) Islami. Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam. Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam. Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah. Akibatnya adalah tindakan anarkis (merusak).

207

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

RUSAKNYA NILAI KEHIDUPAN
Tahun demi tahun dilewati dengan harapan dan kecemasan. Kecemasan selalu menghantui, karena hilang keamanan dan ketertiban. Hampir pada setiap sudut dunia terjadi kemelut. Kadang-kadang juga terjadi di samping kita. Kemelut yang selalu berakhir dengan terinjaknya martabat kemanusiaan. Hilangnya keamanan dan rusaknya nilai-nilai kehidupan yang manusiawi, suatu yang sangat ditakuti. Tetapi seringkali itulah yang terjadi. Dalam setiap keadaan terjadi sering kedzaliman atau keaniayaan. Dalam berbagai bentuk. Kedzaliman tampil ke permukaan bertepatan dengan saat-saat manusia meninggalkan aturan-aturan. Lebih kentara dikala orang mencecerkan hukum-hukum Allah dan syari'at Agama-NYA (Syari'at Islam). Peringatan Allah Subhanahu wa ta'ala, menyebutkan : “ Dan orang- orang kafir (orang- orang yang meninggalkan hukum- hukum Allah) senantiasa ditimpa bencana, ditimpa bahaya, sebab perbuatan mreka sendiri, bahkan bencana itu tiba didekat rumah tempat kediaman mereka (dalam negeri sendiri), sehingga datang janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah memungkiri janji" (Q.S. XIII-Ar-Ra'ad, ayat 31). Janji Allah, berupa munculnya rasa takut ditengah kehidupan, semata-mata disebabkan karena ulah manusia jua. Hilangnya tauhid bertukar dengan syirik, merupakan salah satu penyebabnya. Hilangnya aman lantaran tumbuhnya kufur. Terbangnya iman dari lubuk hati, maka sirna-lah aman dari kehidupan.

208

Pergeseran Nilai

Merajalelanya kedzaliman disebabkan lupa kepada hukum-hukum Allah (hududallah). Kebahagiaan manusia dan lingkungan yang tadinya aman terancam punah. Tanaman kehidupan yang baik tak kunjung menjadi kenyataan. Semuanya terjadi karena kesalahan manusia semata. Ukuran benar- nya suatu kebenaran seringkali diukur dari derajat dan kedudukan pelaku kejahatan itu. Bila pelakunya adalah pejabat, maka kejahatan dianggap suatu hal yang perlu mendapatkan perlindungan. Akibatnya, kualitas atau nilai kebenaran terabaikan. Kualitas kebenaran, ukurannya adalah syari'at (aturan-aturan) Agama Allah (Islam).

KEREDUPAN (DEGRADASI) INTELEKTUALISME
Sekitar tahun 1930 terjadi satu polemik tajam antara kelompok nasionalis dan kelompok Islam tentang masalah-masalah dasar perjuangan kemerdekaan dan tentang hari depan Indonesia. Polemik sepenuhnya bercorak akademik dan intelektual. Bahasa yang dipakai adalah bahasa kualitas tinggi dalam mendukung argumen-argumen untuk mempertahankan pendirian masing-masing. Di antara peserta sangat terkenal adalah Soekarno dan Natsir. Dua tokoh yang sangat kontras, tapi berimbang secara intelektual. Keduanya saling berhadapan. Satu berdiri pada kubu nasionalisme dan yang satunya berdiri pada kubu Islam dalam makna sebagai ideologi politik.

209

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Media pemberitaan Panji Islam dan Pedoman Masyarakat. Keduanya milik kubu Islam. Peserta polemik berada pada fondasi intelektual setaraf. Perbincangan mereka, tetap enak dibaca sampai hari ini. Perbedaan pandangan dan tolok ukur dalam menilai suatu persoalan, sangat mendasar. Kadang-kadang tajam dan sangat berlawanan. Tapi disampaikan dalam ungkapan sopan dan etika akademik yang tinggi. Dari segi intelektual, kubu Islam dapat disebut “anak buah” Haji Agoes Salim, bapak spritual Jong Islamiten Bond (JIB), dimana Natsir, Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, Prawoto Mangkusasmito, Jusuf Wibisono, Sjamsu Ridjal, Wiwoho dan banyak yang lain pernah menjadi tokohtokoh utamanya. Deretan nama ini tanpa kecuali umumnya berpendidikan barat dengan komitmen Islam mendalam, berkat asuhan Salim. Tokoh-tokoh inilah kemudian pada era pasca kemerdekaan memegang pucuk pimpinan Masyumi, disamping tokoh tua Dr. Soekiman Wirjosendjojo, mantan Ketua Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda tahun 1920-an. Masyumi terakhir berkantor di Jl. Kramat Raya No. 45 Jakarta Pusat, sampai dibubarkan Soekarno diakhir 1960 dengan tuduhan yang tidak pernah dapat dibuktikan secara hukum. Tokoh-tokoh Masyumi adalah juga tokoh-tokoh Republik, pejuang-pejuang kelas satu disamping pakarpakar administrator yang handal. Salah seorang tokohnya adalah Syafruddin Prawiranegara yang secara intelektual tidak kurang hebatnya.

210

Pergeseran Nilai

Hanya karena kecelakaan sejarah mereka tidak dapat lebih lama memegang teraju politik kenegaraan. Dari sudut pandangan budaya politik demokrasi, tersingkirnya mereka itu adalah sebuah kerugian yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Sekalipun dari sisi dakwah Islam mereka itu tidak pernah absen sampai saatnya mereka dipanggil Allah. Sekarang semua tidak lagi bersama kita. Tetapi, orang yang belajar sejarah akan paham peran besar yang pernah mereka mainkan dalam memelihara bangunan republik ini. Terutama pada saat-saat yang sangat genting. Pada waktu Soekarno menzalimi mereka di masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), cara mereka menghadapi budaya politik otoriter itu tetap dikendalikan oleh pertimbangan-pertimbangan moral yang luhur. Akhlak Islam menjadi bagian dari kepribadian mereka. Kemampuan mengawal emosi harus dicatat sebagai sumbangan besar terhadap etika politik Indonesia. Betapa mantapnya integritas pribadi mereka. Bila lawan berhujjah mengutip pendapat mentereng, mereka tidak pernah gamang menghadapinya. Kekuatan lawan ada dalam kantong mereka. Bukan pada sorak sorai orang dibelakang. Demikianlah, roda sejarah terus berputar tanpa henti. Kesibukan berpolitik praktis setelah kemerdekaan tampaknya tidak menyisakan waktu cukup untuk melatih kader sekaliber mereka. Satu dua tangan kanan mereka yang masih hidup, seakan tidak berdaya mengendalikan emosi penguasa media dan massa, yang tidak dapat

211

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

membedakan lagi antara Indonesianis dan Orientalis, yang vulgaris dalam etika berpolemik. Rona kejelataan intelektualisme tampak menjadi tragedia. Sebuah kecelakaan etika yang tidak pernah dibayangkan berlaku diantara intelektual, kecuali mereka yang telah mengalami proses pencucian otak. Senjata pamungkas yang digunakan telah tumpul. Bukan pula warisan politisi berfatsoen politik. Kalau dalam tradisi Salim bila memukul lawan biasanya sampai benar tak berkutik, tapi sadar benar akan kebenaran argumentative. Tiada lawan abadi, dan tidak ada dendam abadi. Apakah tidak ada lagi tangan-tangan yang bersedia membendung proses kejelataan intelektualisme ini?

UMAT DIBELENGGU KEJAHILAN DAN KEJUMUDAN
Sedari awal gerakan pembaharu atau Reformis melihat bahwa Umat Islam jauh tertinggal terbelakang. Jumud dan beku. Ajaran agama Islam hanya tampil sebagai upacaraupacara ibadah yang beku. Jarang sekali difahami makna dan hikmahnya. Pengamalan agama yang banyak dilakukan hanya sebagai suatu tradisi atau wiridan. Bahkan banyak dibumbui oleh segala macam bid’ah dan khurafat yang menyesatkan. Disisi lain Ulama sering dikultuskan. Makam kuburannya mulai dikeramatkan. Bacaan kalimat Thaiyibah La Ilaaha illallah sering disalahgunakan.

212

Pergeseran Nilai

Kalimat Thayyibah tidak lagi untuk mengingatkan diri kepada Allah serta taqarrub kepada Nya. Tetapi dijadikan sekadar bacaan dalam upacaraupacara untuk maksud-maksud tertentu. Al Qur’an tidak banyak dibaca dan difahami. Bahkan jauh dari diamalkan. Sering dijadikan untuk pelengkap acara seremonial, dibaca dengan mengutamakan dendang irama atau hanya sekedar untuk diambil barakahnya. Shalawat kepada Nabi dijadikan sebagai satu lagu yang didendang-dendangkan. Kalau dibaca dalam wiridan dengan jumlah tertentu pada waktu yang ditentukan ditanamkan keyakinan akan memperoleh keberhasilan tertentu, seperti untuk menjadi kaya, naik pangkat atau guna mendapatkan jodoh, menyembuhkan penyakit dan lain-lain sebagainya. Ajaran agama banyak dikaitkan dengan perbuatan mistik. Dalam suasana kejumudan itu, para pemimpin agama selalu digiring kearah perlengkapan penguasa. Dengan tujuan melestarikan kekuasaan semata. Ulama harus berada dibelakang Amir sebagai pemberi stempel kewenangan dan legitimasi terhadap umat. Disisi lain amir dan ulama tanpa tertolak telah membiarkan umat menjadi bodoh. Tidak jarang kolusi kekuasaan selalu berakhir dengan membodohi rakyat. Padahal rakyat sebenarnya sudah lama tenggelam dalam kebodohan. Dalam jangka waktu yang panjang turun temurun, satu demi satu wilayah Islam mulai berpindah kedalam genggaman tangan kekuasaan. K. H. Ahmad Dahlan memperhatikan keadaan Umat Islam di Indonesia yang sangat memprihatinkan ini.

213

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Disamping umat dikurung oleh kebodohan dan kejumudan, terasa pula dihimpit dan dibelenggu dengan kemiskinan. Pikiran umat beku. Jiwa terjerat dalam isti’adat tradisi yang sangat jauh jaraknya dari tuntunan serta pemahaman ajaran Islam yang benar. Ajaran Islam hanya dilaksanakan sebagai formalitas. Amalan Islam itupun terbatas pada ibadah shalat, puasa dan haji. Sedangkan ajaran Islam mengenai kemasyarakatan, social politik, ilmu pengetahuan dan pendidikan serta kemajuan dan ekonomi sama sekali tidak diketahui bahkan tidak pernah boleh diajarkan. Prilaku kehidupan social umat sebahagian yang dipupuk dan dihidupkan mengarah kepada perbuatan syirik yang amat berbahaya. Semarak dengan ajaran kepatuhan menjurus kepada taqlid buta. Berdasarkan itu K. H. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk mendirikan organisasi yang bergerak dalam memperbaiki aqidah (Tauhid). K. H. Ahmad Dahlan yang beberapa kali melakukan perjalanan menunaikan ibadah haji ke Makkah. Pertama kali ditahun 1890 dan berada disana selama delapan bulan. Kedua kalinya pada tahun 1902. Lalu mendalami ilmu agama, mempelajari kitab-kitab kuning dan kitab yang populer dimasa itu. Terutama tentang “pembaruan pemikiran Islam”. Pembaruan seperti yang dilihatnya didunia Islam. Dengan memberantas kejumudan serta menjauhkan umat dari segala macam kemusyrikan.

214

Pergeseran Nilai

Pada awal abad 20 di Nusantara Indonesia mulai tumbuh pergerakan pencerdasan bangsa. Pada tahun 1908 Dokter Soetomo dan Dokter Wahidin Soedirohusodo telah mendirikan organisasi Budi Oetomo. Organisasi ini bercita-cita untuk mencerdaskan rakyat serta menghidupkan semangat kemerdekaan. Pada tahun 1911 Haji Samanhoedi di Surakarta juga telah mendirikan perserikatan yang bernama Sarekat Dagang Islam. Dengan tujuan mula-mula menghadapi tindakan pemerintah jajahan yang memberi hak monopoli atas penjualan bahan pembatikan, sehingga mereka dengan sewenang-wenang memberi harga yang amat mahal yang mengancam kehidupan pengusaha batik bangsa Indonesia. Boedi Oetomo belakangan melebur diri dan berfungsi dalam Partai Indonesia Raya (PARINDRA) pada tahun 1935 dan Serikat Dagang Islam menjelma jadi Partai Politik Sarikat Islam pada tahun 1912.

BERTEMU UMAT Hampir selalu pertemuan itu dilangsungkan pada sarana-sarana yang dibangun umat milik persyarikatan. Umat datang dari sekitar, dari gubuk-gubuk reot di ladang tepi hutan, memakai suluh daun kelapa, bila kebetulan malam telah tiba. Yang dibicarakan adalah masalah umat itu sendiri. Bagaimana mereka bisa membenahi kehidupan ekonominya degan memanfaatkan

215

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

alam sekitarnya, hidup dan tenaga yang dianugerahkan Allah kepada-Nya. Memelihara kesatuan yang sudah ada, memupuk kekeluargaan sesama, membudayakan "berat sepikul ringan sejinjing" dalam mengangkat dan mempersamakan amal berat yang di hadapi, sehingga lahirlah motivasi dan inovasi ditengah lingkungan mereka. Selalu saja terjadi, pertemuan-pertemuan ini berjalan sedari malam sampai pagi, bahkan di sambung sore harinya, ditutup dengan "tabligh akbar" di malam hari, dengan menghadirkan seluruh lapisan umat tanpa kecuali. Yang terjadi adalah proses integrasi, dan penyebaran informasi. Para remaja, generasi muda duduk selingkar ustadz-nya selesai mengaji, berbincang-bincang sampai pagi. Untuk selanjutnya besok hari, da'i pun pergi meninggalkan desa dengan segudang perasaan di hati, untuk kemudian akan disampaikan kepada teman-teman dan "orang-orang tua" di tingkat propinsi. Yang lahir seketika itu adalah terbentengi umat dari proses pemurtadan yang sedang mengintai, pemantapan kaderisasi dan pemeliharaan aqidah secara langsung, pembinaan kerukunan antar warga, lahirnya partisipasi aktif, dalam membangun diri dan membangun negeri, menyebarnya informasi, diperkenalkannya khittah, dan diingatkan kembali bahaya dan ancaman zaman, tumbuhnya umat yang mandiri (sosial, ekonomi, dan musyawarah, demokrasi). Kemudian, terbentuknya persepsi dalam menyatukan langkah positif memelihara nilai-nilai luhur yang sudah mapan, pada setiap lapisan

216

Pergeseran Nilai

dan kalangan. Hal diatas sangat dimungkinkan karena ynag melibatkan diri dalam kegiatan tersebut adalah seluruh unsur-unsur yang ada di dalam negeri. Bahkan sejak dari perangkat dusun, desa hingga kecamatan, serta kalangan ninik mamak, pemuka masyarakat serta alim ulama, pemuda pemudi generasi muda, yang semuanya adalah potensi yang berpotensi dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Perjalanan dakwah seperti itu mengasyikkan, sehingga lelah dan jarak tidak menjadi halangan, karena yang terpaut adalah "taalaful qulub" -pertautan hati dengan hati --. Bagaimanakah potret itu kini ? Setelah tiga dasawarsa musim berlalu ??. Sering terjadi, ustadz dan da'i -- yang juga berpredikat penggerak amal usaha persyarikatan atau da'i pembina organisasi -- mereka telah cepat-cepat meninggalkan umat secepat dia datang. Sehingga yang di kupas hanya sebatang kulit luar. Memang pernah terjadi, ada usaha-usaha terencana dan sistematik untuk memisahkan nilai-nilai kehidupan bangsa yang beradab dan beradat terutama di Nusantara Indonesia ini dari ajaran Agama Islam. Sungguhpun itu terjadi di penghujung abad 19 dan permulaan berada diawal abad ke 20.

TANGGAP DENGAN KEADAAN

Namun keadaaan sedemikian itu segera terantisipasi oleh kearifan dan kecekatan para ulama dan

217

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

cendikiawan kita. Kondisi kita pun di saat itu berada di dalam suasana tekanan penjajah dengan sistem imperialsime dan kapitalisme. Sederetan nama-nama para pemimpin kita, secara sambung bersambung telah mengukir sejarah dinegeri ini, dengan masuknya kita ke era-pembaruan (tajdid) itu. Nama-nama itu tidak akan terhapuskan oleh sejarah, mulai dari Panglima Diponegoro, Hasanuddin, T. Cik Di Tiro, Panglima Polem, sampai kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dengan serentetan murid-murid beliau, diantaranya K. H. Ahmad Dahlan, Syeikh Haji Abdul Karim Amarullah (Ayahanda HAMKA) dan banyak lagi yang tidak tersebutkan dari pada yang mampu diungkapkan. Deretan para pemimpin umat itu, semuanya memiliki prinsip kekerabatan yang mendalam, ukhuwah yang jernih, ilmu yang resikh, dan pendirian yang tak tergoyahkan dan khittah yang jelas. Diatas segalanya itu, Tauhid yang kokoh serta istiqamah dalam menjalankan khittah yang telah digariskan. Menarik untuk disimak, dari tauladan keperjuangan dakwah beliau-beliau itu, adalah hampir seluruhnya memiliki "surau" dan “lahan” tempat pembinaan kader (mengaji), dan punya sekolah (madrasah) mempersiapkan umat pengganti. Satu suasana yang indah, bila kita ungkapkan yang sudah terjadi "masa doeloe" dari pimpinan-pimpinan pergerakan dakwah persyarikatan. , sebatas yang kita kutip dari pengalaman pendahulu-pendahulu kita.

218

Pergeseran Nilai

Suatu ketika, pada hari pekan di Padang Panjang, konsul Muhammadiyah Minangkabau (Sumatera Barat) yaitu Buya A.R. St. Mansur bertemu dengan pimpinan Muhammadiyah dari Lintau. Beliau bertanya "Bagaiman perkembangan sekolah di Lintau". Sekolah yang ditanyakan itu, tentulah sekolah Muhammadiyah, yang merupakan satu sarana amal usaha Muhammadiyah. Sang pengurus Muhammadiyah Lintau ini, menjawab dengan gugup, sebab perkembangannya sedikit menurun, karena murid mulai kurang dan dan guru Muhammadiyah mulai pindah ke daerah lain. Mendengar ini Buya A.R. St. Mansur berkata, "Baiklah Insya Allah hari Kamis depan saya akan ke Lintau". Berita tersebut segera menyebar di sekeliling Lintau, sejak dari Batu Bulek sampai ke buo, bahwa Konsul Muhammadiyah akan datang. Sibuklah masyarakat -- umat utama -- itu, dan tepat pada hari yang dijanjikan Buya A.R. St. Mansur datang di Lintau, dan menginap di rumah pegurus Persyarikatan. Pimpinan-pimpinan persyarikatan dari daerah sekeliling menyempatkan betul untuk hadir, bahkan ada yang dari Halaban sampai ke Tanjung Ampalu. Umat umumpun merasakan nikmat kehadiran beliau dengan satu "tabligh besar". Beliau telah menanamkan urat di hati umat. Akhirnya persoalan segera teratasi. Tanggapnya K. H. A. Malik Ahmad yang waktu itu berjabatan Kepala Jawatan Sosial Propinsi Sumatera Tengah, bertanya tentang amal-amal usaha Muhammadiyah tatkala beliau bertanya kepada pengelola

219

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Panti Asuhan Muhammadiyah Mandiangin. "Bagaimana keadaan anak-anak panti … ?". Dengan sedikit kecut dan mengeluh pengurus pengelola menyatakan bahwa sekarang ini bantuan untuk panti sedikit macet. Beliau tanggapi “Insya Allah, sebentar lagi saya akan datang ke sana, tolong beri tahu keluarga". Dengan sedikit tergopoh pengelola panti asuhan yatim Muhammadiyah (A'syiyah) pulang dengan tugas mengumpulkan keluarga dan kerabat. Selang beberapa lama K. H. A. Malik Ahmad datang di Panti Asuhan Yatim yang menjadi amal usaha persyarikatan ini. Rupanya, inti masalah adalah terhentinya bantuan dari Jawatan Sosial. Buya Malik Ahmad segera meminta, buatlah surat dan saya akan tanda tangani, dan urusan selanjutnya menjadi tanggung jawab pengurus. Besar yang kita kutip dari peristiwa kecil ini. Dengan nilai-nilai "mawaddah fil qurba" (kekerabatan yang mendalam), dapat dihindari perbedaan visi, dan bersih dari kepentingan-kepentingan konflik internal maupun interes pribadi, sehingga pengambilan keputusan cepat dilakukan (atisipasi aktif). Umat di dorong aktif memiliki mutu (kualitas) kemandirian dan percaya diri, karena pemimpin persyarikatan memiliki komitmen yang jelas dan terhindar dari pelunturan akhlak (status, organisasi, khittah). Terpeliharanya hubungan kerjasama yang terpogram, atas dasar sama-sama bekerja dengan berbagai pihak sehingga kepentingan-kepentingan gerak

220

Pergeseran Nilai

persyarikatan menjadi sangat strategis (diterima oleh semua kalangan).

221

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

KHAWATIR MUNCULNYA NATSIR BARU .....???
Lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di tahun 1990 di Malang menimbulkan spekulasi munculnya aliran politik Islam yang baru di Indonesia. Dikhawatirkan akan bangkitnya kekuatan eks partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Walau ketika itu, sudah dikenal luas, bahwa tokoh seperti Abdurrahman Wahid sempat khawatir munculnya “Natsir-Natsir baru” dalam pentas politik nasional. Terlepas dari adanya kekhawatiran tersebut, maraknya langkah sejumlah tokoh tradisional, terutama dari kalangan NU, sangat intensif menggalang kekuatan merebut pucuk pimpinan PPP pada Muktamar III di bulan Agustus 1990 itu. Kilasan ini menarik dan sangat layak dicermati. Waktu itu pula, Gus Dur dijagokan bisa merebut jabatan tertinggi di PPP. Bahkan sekjen PPP, ketika itu Matori Abdul Jalil yang dikenal sebagai dedengkot NU, mengisyaratkan AD/ART partai bisa diubah agar persyaratan formal memimpin PPP, bagi Gus Dur bisa di akomodasi. Kilas balik perpolitikan satu dasawarsa kebelakang itu menarik diingat kembali. Berbagai manuver politik para tokoh tradisional itu, memang menarik. Persoalannya, selalu dikaitkan dengan memperhitungkan kemungkinan bangkitnya neo-Majlis Syura Muslimin di Indonesia. Formalnya umat Muslimin Indonesia secara historis memang pendukung dan pencinta etika politik para pemimpin Majlis Syura Muslimin Indonesia dengan mengedepankan prinsip musyawarah, rasa kebangsaan, ikatan tali persatuan dan anti penindasan.

222

Pergeseran Nilai

Etika politik sedemikian berkesinambungan telah diwarisi sejak PERMI, Jong Islamiten Bond, Majlis Islam Tinggi, Syarikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Perti dan Nahdliyyin. Dalam pengertian lebih menyempit, semangat dan etika politik pemimpin Masyumi masa dulu itu, dipandang sebagai mewakili semangat Keluarga Besar partai berlambang Bulan Bintang itu. Dalam sejarah perpolitikan nasional diarena berdemokrasi secara egaliter, program perjuangan keluarga besar Bulan Bintang dalam kapasitas intelektual para pemimpinnya telah teruji. Para pemimpin teras Masyumi, masa lalu, dikenal sebagai ulama intelektual. Sedikit sekali tokoh Muslimin Indonesia sekarang yang mempunyai kapasitas yang sama dengan mereka. Secara politik umat Muslimin Indonesia memang masih mewarisi semangat pemimpin Masyumi masa lampau itu. Namun tidak dalam aspek-aspek yang lain seperti sosial, budaya dan pendidikan politik masyarakat , sikap kenegarawanan dengan ketegaran teruji dibalut integritas pribadi terpuji. Para pemimpin senior keluarga besar Bulan Bintang seperti M. Natsir, Mohammad Roem, H. Zainal Abidin Ahmad, Prawoto Mangkusasmito, HAMKA, H. Syafruddin Prawiranegara, KH Abdul Ghafar Ismail, KH Isa Ansyari, dan KH Fakih Usman dikenal sebagai ulama intelektual yang disegani secara nasional maupun internasional. Di level regional, misalnya di Jatim ada tokoh-tokoh Masyumi seperti H. Soleh Umar Bayasut, KH Turchan Badrie dan lebih jauh kebelakang seperti al-mukarram KH. Hasyim Asy’ary. Di Jambi dikenal seperti MO. Bafadhol.

223

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Di Sumbar dikenal pula Buya A.R. Soetan Mansoer, HMD Datuk Palimo Kayo, di Riau dikenal H. Bakri Sulaiman, H. Zaini Kunin, Soeman Hs. Di Sumatera Utara jumlahnya lebih banyak, diantaranya Bahrum Djamil SH dan kawan-kawan. Didaerah lain diseluruh Nusantara, bertaburan para pemimpin pejuang umat Islam tersebut. Mereka kebanyakannya adalah para ulama yang cukup disegani. Kapasitas semacam itu, kurang dimiliki oleh jajaran ormas politik Islam Indonesia di era reformasi 1999 sekarang, baik ditingkat pusat maupun didaerah. Sangat disayangkan umat Muslimin Indonesia kini hanya mewarisi sisa-sisa simpati politik yang pernah muncul dikalangan partai Masyumi keluarga besar Bulan Bintang. Memprihatinkan bahwa kelompok yang mewarisi intelektual Masyumi justru selama ini jauh dari lingkaran partai-partai umat Muslimin di Indonesia, lebih dikarenakan berlakunya keterpasungan demokrasi masa lalu terpimpin dan monoloyalitas. Tokoh-tokoh seperti Prof. Dr. Muhammad Amien Rais, Dr. Imaduddin Abdurrahman, Dr. Yahya A. Muhaimin, Dr. Kuntowijoyo, Prof. Dawam Rahardjo, Drs. Malik Fajar MSc, H. Endang Saefuddin Anshari, Prof. DR. Nurchalis Madjid dan lain-lain yang selama ini dianggap sebagai “Natsir-Natsir baru” hampir tidak pernah “berkenalan” dengan ormas yang bernama Partai-partai Islam di Indonesia, dimasa orde baru. Praktis yang berbendera Bulan Bintang, seperti Majlis Syura, sama sekali tidak dilihat sebagai kelompok politik yang mewakili para pendukung etika berpartai dalam era politik Masyumi.

224

Pergeseran Nilai

Sangat tidak relevan bila ada kekhawatiran pihak tradisionalis, untuk tidak menyebutkan NU, tentang munculnya politik Neo-Masyumi. Konsolidasi yang dilakukan kubu-kubu tradisional tentu cukup menarik perhatian bagi pihak-pihak yang selama ini bersimpati kepada perjuangan perpolitikan umat Muslimin di Indonesia. Masalahnya, sejak satu dasawarsa mulai 1980 kelompok yang sering dianggap sebagai “kaum tradisionalis” berusaha benar-benar bisa menguasai PPP. Munculnya ICMI dijadikan ukuran prediksi terbukanya peluang intelektual Muslimin Indonesia akan “berkibar” secara nasional. Siapapun tahu bahwa pimpinan teras ICMI seperti Dr. Ahmad Watik Pratignya, Dr. Imaduddin Abdurrahman, Dr. Amien Rais dan semacamnya telah menjadikan Mohamad Natsir sebagai ayah sekaligus “gurunya”. Hubungan ini tak pelak lagi menyebabkan ICMI dicurigai sebagai wahana para Natsirist untuk merealisasikan cita-cita politik Masyumi. Sekalipun dalam jajaran ICMI terdapat tokoh seperti NU seperti KH.Alie Yafie’, tidak urung kelompok tradisionalis NU merasa kurang mendapat tempat yang wajar. Sikap Ketua NU, H. Abdurrahman Wahid ditahun 1990 yang menolak masuknya NU kedalam ICMI semakin mengukuhkan kesan bahwa kelompok “tradisionalis” kurang mau terwakili. Atas dasar pemahaman demikian ini, bisa dimengerti jika sejumlah tokoh NU di PPP ketika itu berusaha keras menjadikan GUS Dur orang nomor satu di partai berlambang Bintang itu, kendatipun sebelum dan sesudahnya telah berlambang Ka’bah.

225

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Kelompok tradisionalis tampaknya ingin menjadikan PPP sebagai bahteranya mengarungi lautan politik nasional, tetapi belum berhasil. Kesempatan itu baru terbuka pada era demokratisasi reformasi dalam PKB. Jika ini terjadi, perubahan yang cukup signifikan dalam peta politik nasional, dengan berakhirnya peran krusial Cendekiawan Muslimin Indonesia dan kemungkinan menjelmanya kelompok politik NU dalam wajah baru. Jika dimasa lalu Masyumi mendapat dukungan sepenuh hati kelompok muslim “modernis” di Indonesia, maka dukungan yang sama sangat sulit diharapkan dari umat. Tokoh yang bisa dianggap mewakili warisan semagat intelektual Masyumi mulai menipis. Sulit sekali mencari tandingan M. Natsir atau singa podium H. Isa Anshari. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Sayangnya, dibawah Buya Ismael Hasan Matareum, usaha-usaha rekruitmen politisi negarawan di kalangan intelektual muda sangat kurang sekali dilakukan. Kalaupun ada hasilnya sangat jauh dari memuaskan. Karenanya disemua eselon harusnya dibarengi dengan melakukan introspeksi dan penyegaran secara total. Rasanya belum terlambat bila ingin melakukan konsolidasi dan pembenahan secara menyeluruh. Cukup banyak tenaga muda intelektual muslim eks keluarga Bulan Bintang yang bersedia membantu. Masalahnya, perlu penggarapan dan rekruitmen yang serius. Jangan hanya kalau akan pemilu saja disapa, tetapi dalam proses kaderisasi organisasi kurang dilibatkan.

226

Pergeseran Nilai

Almarhum DR. Mohamad Natsir dalam pemilu 1992 masih menyerukan umat Islam agar mencoblos PPP. Sebaliknya, pada periode yang sama tidak ada tokoh tradisional dari NU sekalibernya yang berani menyarankan agar umat mencoblos partainya orangorang Bulan Bintang itu. Sikap Mohamad Natsir ini merupakan isyarat agar keluarga besar Bulan Bintang yang dimasa lalu mendukung partai Masyumi tidak meninggalkan PPP. Tentunya Pak Natsir bersikap demikian karena PPP masih mengakomodasi aspirasi politik pendukung Masyumi yang sewajarnya diwakili unsur para intelektual Muslimin Indonesia. Hanya saja, sayangnya ormas eks Partai Muslimin di Indonesia itu, sampai kepada Pemilu 1999 masih malumalu untuk mengaku mempunyai kaitan, setidaknya aspirasi, dengan partai Masyumi. Sangat disayangkan jika partai Islam era reformasi menyia-nyiakan simpati yang muncul dari keluarga besar Bulan Bintang. Sebab, kelompok mereka inilah sebenarnya potensi kader dan dukungan riil yang bisa digali. Sayang sekali, jika tanpa penggarapan yang tepat, potensi yang besar ini malah bisa dimanfaatkan kekuatan politik lain. Umat Muslimin Indonesia harusnya menyadari bahwa mereka telah kehilangan warisan intelektual Masyumi. Dimasa depan jangan sampai kehilangan warisan politiknya pula. Kalau perlu mulai kini umat Muslimin Indonesia harus berusaha keras merebut kembali warisan warisan intelektual yang sudah melayang, sambil tetap mempertahankan aspirasi politik yang masih dimilikinya.

227

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Para pemimpin umat Muslimin Indonesia secara terbuka harus berani agresif melakukan kaderisasi dikalangan anak-anak muda yang beraspirasi Bulan Bintang. Eksistensi umat Muslimin Indonesia sangat ditentukan dalam keberhasilannya merebut warisan intelektual Islam yang dulu telah dimiliki oleh tokohtokoh pejuang Masyumi. Tanpa keunggulan yang bisa disejajarkan dengan apa yang dimiliki Masyumi dulu, sangat sulit sekali mempertahankan klaimnya sebagai unsur politik tersendiri. Manuver politik para tokoh NU tidak bisa dianggap ringan. Kelompok ini menilai memiliki tokohtokoh kaliber nasional yang mampu menarik dukungan dari berbagai kalangan. Figur Gus Dur jelas sangat sulit ditandingi oleh tokoh umat Muslimin Indonesia yang ada saat ini. Sehingga perlu dicarikan kader-kader muda potensial yang bisa mengimbaginya. Harus diingat, NU meninggalkan Masyumi karena kehilangan jatah kursi Menteri Agama. Sejarah perpolitikan bangsa juga mencatatkan bahwa mereka telah meninggalkan PPP ditahun 1987 karena berkurangnya jatah kursi di DPR. Dipermulaan pemilu tahun 1991, ingin kembali mendapatkan tambahan jatah kursi pula. Dimasa politik era reformasi, berkiprah dengan mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa. Akhirnya, melalui hasil voting SI UM MPR 1999, GUS DUR mendapatkan suara terbanyak dalam Pemilihan Presiden RI keempat, seharusnya Presiden RI Kelima bila PDRI diakui sebagai pemerintah penyelamat Republik Indonesia.

228

Pergeseran Nilai

Gus Dur maju sebagai calon dari Fraksi Utusan Golongan. Senyatanya, dengan memperoleh dukungan dari hampir semua golongan. Semua itu telah terjadi. Dan, setelah pidato pertanggungan jawaban Habibie, notabene pendiri ICMI, ditolak secara voting pula. Ini merupakan fenomena politik menarik dan menantang dalam masa memasuki tahun 2000 kedepan. Siruu fil-ardhi, fan-dzuruu.

POLITIK DAKWAH AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR
Diwaktu pemberontakan Gestapu/PKI, beberapa organisasi Islam diantaranya Muhammadiyah memutuskan dalam Musyawarah Kerja Nasional pada bulan November 1965 yang berlangsung di Asrama Haji Jalan Kemakmuran Jakarta bahwa pembubaran Partai Komunis Indonesia adalah ibadah. Dalam waktu yang bersamaan Organisasi Nahdatul Ulama yang disampaikan oleh K.H. Abdul Wahid Hasbullah dan K.H. Masykur mengatakan bahwa wajib hukumnya membubarkan PKI. Kegiatan Politik yang dilakukan pada hakikatnya adalah dalam kerangka dakwah ,amar makruf nahi munkar. Kita dituntut harus mampu membangun kualitas kehidupan yang mampu bersaing. Dengan segera melakukan konsolidasi internal, mampu mengembangkan tata pergaulan antar kelompok. Diantara tahun 1966 1980 sering sekali dilakukan kunjungan kepelosok-pelosok desa -- oleh para da'i dan mubaligh --, mengunjungi umat.

229

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Di kala itu, hubungan kedesa-desa sangat sulit. Tidak jarang harus ditempuh berjalan kaki, paling-paling berboncengan dengan sepeda, di sambung bendi atau pedati. Program waktu itu sederhana sekali, "hidupkan dakwah bangun negeri". Begitu yang dilakukan kedaerah-daerah di Binjai, Rao Mapat Tunggul, Lawang dan Baringin, terus ke Palembayan dan Tantaman. Dari Maninjau, Lubuk Basung, terus ke Padusunan dan Pariaman dan Kurai Taji. Menyatu kunjungan-kunjungan itu ke Guguk Kubang tujuh Koto, ke Pangkalan Muara Paiti, bahkan sampai ke Muara Mahat dan Bangkinang. Sama juga halnya ke Taram, Situjuh dan Lintau serta selingkar Padang Panjang dan Tanah datar, hingga ke Koto Baru dan Sungai Rumbai di Sijunjung, malah tidak jarang diteruskan pula ke Muara Bungo. Arus perubahan itu bisa berbentuk makin meluasnya tuntutan terhadap hak-hak asasi dan keadilan, dan demokratisasi (sosial politik), bisa pula berbentuk makin berkembangnya dominasi dari sistim ekonomi kapitalis yang berakibat makin meluasnya jurang antara dhu'afa dan aghniya dalam pandangan ekonomi. Bahkan bisa berkembang menjadi di abaikannya nilai-nilai agama yang berakibat dapat menjungkir balikkan nilai-nilai moral dan spiritual yang sudah mapan dimiliki oleh masyarakat kita. Semuanya karena pengaruh pandangan bahwa materri (budaya kebendaan) adalah diatas segala-galanya, sebagai suatu gambaran kehidupan "laa diniyah", sehingga terbukalah pintu kemaksyiathan dan kemungkaran, kriminalitas dan krisis moral.

230

Pergeseran Nilai

Ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak pula ke arah perubahan posisi menjadi "berhala baru", yang berujung kepada terbukanya peluang terciptanya masyarakat "dahriyyin", dan pada akhirnya hilanglah sibgah (jati diri) manusia sebagai makhluk Tuhan yang mulia, -- yang punya fithrah dan hati nurani --. Semuanya adalah ancaman serius bagi kualitas lingkungan serta rusaknya sistim kebudayaan dan menurunnya kualitas manusia. PEJUANG DEMOKRASI Pejuang-pejuang demokrasi yang beriman memahami betul bahwa demokrasi dinegeri ini tidak akan pernah ujud bila tidak disertai dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada ajaran Agama. Memberikan penghargaan terhadap ajaran Agama berarti melahirkan rasa tanggung jawab dengan bungkus akhlaq mulia. Apabila akhlaq agama sengaja dilupakan maka demokrasi pasti tidak akan berjalan baik. Demokrasi tanpa akhlaq memberi kesempatan terbukanya pintu pemaksaan kehendak. Ujungnya yang tampak adalah tindakan-tindakan anarkis. Akhirnya akan tampil perubahan keadaan dari terbaik bertukar menjadi terbalik. Bertolak belakang 180 derajat. Idaman masyarakat banyak akan selalu menjadi mimpi. Dikala terbangun dari lelapnya, yang tersua hanyalah derita dan nestapa. Hal demikian muncul lebih banyak disebabkan oleh penguasa dan pengusaha yang berubah menjadi penindas dan penghisap. Atau karena para cendekia bertukar menjadi penghasut.

231

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

Dalam satu sabda Rasulullah SAW ditemui sebuah peringatan antara lain : “Ada dua kelompok dari umat-ku, kalau keduanya baik Umat seluruhnya menjadi baik, dan kalau ke duanya jahat umat seluruhnya jadi binasa. Mereka ialah Ulama dan ‘Umara”. Dari hadist lain Rasulullah bersabda pula “Apabila Umara dan penguasa-penguasa kamu terdiri dari orang-orang baik, dan hartawan (ekonom-ekonom) kamu terdiri dari orang-orang pemurah, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu pecahkan secara musyawarah atau demokratis, maka hidup di muka bumi tanah airmu sungguh indah dari pada mati berkalang tanah”. Bila esensi musyawarah hilang, maka rakyat jelata akan terpaksa memikul beban berat beban dipundaknya. Peran masyarakat bawah hanya sekedar jadi tunggangan untuk mencapai kedudukan semata. Kondisi buruk ini pernah kita alami dalam dasawarsa yang panjang. Dibawah pengekanganpengekangan, dalam semboyan demi kepentingankepentingan. Padahal ajaran demokrasi sebenarnya menetapkan satu pilihan, demi kemashlahatan umat banyak. Demi terjaminnya kesejahteraan. Perjuangan demokrasi yang adil bertujuan agar kemiskinan tidak lagi menjadi pakaian orang banyak. Dan akan sulit dibantah, bahwa masyarakat yang melarat menjadi sangat mudah untuk dikuasai. Karena itu, sangatlah ditekankan sekali oleh Sunnah Rasulullah untuk selalu hati-hati dan mawas diri. Supaya diwaspadai betul agar kemelaratan tidak muncul dalam kehidupan bermasyarakat.

232

Pergeseran Nilai

Umat Islam di seluruh dunia sekarang ini sudah ingat kembali kepada misi penampilannya di tengah pergaulan hidup Internasional sebagai pernah di sampaikan 14 abad. “Tuhan telah menampilkan kami umat Muslimin guna membebaskan dunia dari perbudakan manusia kepada menyembah Allah semata, dari sempitnya dunia (jahilinyah) kep[ada keluasaan (ilmu pengetahuan), dari kecurangan dan kepalsuan berbagai agama kepada keadilan Islam” (ucapan Amir bin Rabi’ kepada Jenderal Parsi). Upaya satu-satunya hanyalah dengan mengajak umat kembali kepada ajaran akhlaq agama. Memelihara keteguhan (konsisten) dalam kehidupan beradat yang luhur. Karena itu, kehati-hatian dalam memilih dan mengikut pemimpin menjadi sangat muthlak menjiwai setiap insan yang demokratik. “Dan apabila Umara’ kamu terambil dari merekamereka yang jahat, hartawan kamu merupakan manusiamanusia bakhil penyembah harta, dan segala persoalan kemasyarakatan kamu tidak di musyawarahkan lagi, tapi terombang ambing dalam permainan hawa nafsu wanita yang mengendalikan dari belakang, maka dalam masyarakat yang demikian, mati berkalang tanah, lebih baik dari hidup bercermin bangkai”. Khulasah 1. Memelihara keteguhan tempat tegak ini sangat penting dalam menghadapi berbagai cabaran (penetrasi budaya asing) yang terjadi sekeliling penerapan teknologi tersebut.

233

Problema Dakwah Hari Ini Dan Esok

2. Dengan basis agama, budaya dan ilmu pengetahuan, maka kemajuan atau perubahan dengan penerapan iptek bagi bangsa ini akan berhasil membawa bangsa ini menjadi kuat dan tidak akan membahayakan. “Mereka tidak akan berbahaya kepada kamu, hanyalah gangguan-ganguan kecil saja. Kalau mereka memerangi kamu, niscaya mereka akan berputar kebelakang (lari). Seterusnya mereka tidak akan mendapatkan pertolongan” (QS.3:111). 3. Yang mesti dijaga, dalam penerapan iptek menurut ajaran Islam, adalah terjalinnya hubungan baik antara sesama manusia (hablum minan-nas), dan hubungan erat dengan aturanaturan Allah (hablum minallah). Bila tidak, bahaya selalu mengancam !!! “Ditimpakan kepada mereka (manusia) kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka yang menjaga hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Dan mereka kembali dengan mendapat murka dari Allah dan dirimpakan kepada mereka kelemahan (kemiskinan, berbagai krisis ekonomi). Demikian itu karena mereka tidak percaya kepada ayat-ayat keterangan Allah (meninggalkan syari’at agama) dan membunuh nabi-nabi dengan tidak patut (mengucilkan konsep-konsep agama dan membelakangi pemimpin agama, para ulama). Mereka mendurhaka dan melanggar batas”. (QS.3:112). 4. Bencana akan datang, mengiringi kemajuan dan penerapan iptek bila terjadi : a. Bebas nilai (not values) dan Atheis, tidak percaya kepada Allah,

234

Pergeseran Nilai

b. c. d. e.

melecehkan perintah dan larangan agama. Putus hubungan kekerabatan, persaudaraan, persatuan dan hilangnya penghormatan sesama manusia. Meninggalkan syariat agama, tidak patuh dan rapuhnya law enforcement, Memusuhi alim ulama atau ilmuwan agama, Durhaka, tidak disiplin, hilangnya kesadaran hukum, Anarkis, melampaui batas.

Semoga Allah senantiasa menjadikan generasi kedepan berilmu dan mampu mengamalkan ilmunya, teguh aqidah dan baik budi pekertinya. Amin.

235

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->