P. 1
Agung-Ayu_STASIUN MANGGARAI

Agung-Ayu_STASIUN MANGGARAI

|Views: 214|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) on Jul 07, 2010
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2013

STASIUN MANGGARAI

Oleh: Ayu Ratih, aktif di Jaringan Kerja Budaya, Jakarta Bangunan kokoh berarsitektur kolonial itu tampak tidak menjanjikan kisah luar biasa. Tembok beton bercat putih yang menyangganya kelihatan kusam oleh lapisan debu, jejak-jejak tangan dan cipratan genangan air kotor. Sementara jendela-jendela kantor dengan kisi-kisi kayu bersirip tertutup rapat seakan menolak perhubungan dengan dunia luar. Kalau saja tak ada papan besar bertuliskan STASIUN MANGGARAI di emperan menjelang atap, mungkin ia akan segera ditahbiskan menjadi rumah hantu – salah satu objek wisata termurah bagi kaum urban Jakarta belakangan ini. Ditingkahi tawaran iseng pedagang minuman dan sopir taksi gelap, aku memasuki ruang penyambutan dengan ratusan pertanyaan di kepala. Dari empat loket yang berjajar, hanya satu yang kordennya terbuka. Kaca loket begitu buram sehingga aku tak pasti apakah ada orang yang bertugas di belakangnya. Satu-satunya sumber penerangan adalah cahaya matahari dari pelataran masuk dan ruang tunggu. Tak ada keterangan pula dimana aku bisa beli karcis peron atau apakah memang perlu karcis untuk masuk ke ruang tunggu? “Buat apa mbak beli karcis peron?” petugas di loket menatapku dengan pandangan takjub. “Oh, saya mau lihat-lihat stasiun saja”, sahutku tersipu. “Lihat-lihat?” dia tersenyum lebar, sambil sodorkan karcis, tetap dengan tatap keheranan. Aku tak menggubris pertanyaan terakhir dan bergegas melalui petugas yang membolongi karcisku. Peron cukup lengang siang itu. Kebanyakan orang berkerumun di dua platform di seberangnya. Walaupun tidak bisa dibilang bersih, lantai keramik putih dan atap yang tinggi memberi kesan lapang. Apalagi jika dibandingkan dengan perkampungan kumuh di luar stasiun. Cerita kawanku, Razif, seorang sejarawan, terngiang di telinga, “Stasiun Manggarai itu basis gerakan nasionalis di akhir 1930an. Dan, setelah Proklamasi Kemerdekaan, selain Stasiun Tanah Abang, ia stasiun pertama yang diambil-alih laskar buruh dan pemuda”. Kulayangkan pandangan ke sekujur dinding peron. Tak kutemukan tanda-tanda apa pun, seperti plakat peringatan, relief, atau lukisan, untuk membuktikan kebenaran dongeng si Razif! Yang berusaha menarik perhatian hanyalah spanduk-spanduk lusuh, asal bergelantungan dari atap platform, berisi reklame makanan dan minuman ringan, perguruan tinggi swasta kelas kambing, atau peringatan sopan-santun berkereta dari PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api): Jika sudah padat jangan memaksakan diri untuk naik. Disarankan naik KA berikutnya atau menggunakan angkutan lain. Kesadaran membeli karcis sebagai wujud nyata ikut melestarikan kelangsungan hidup KA kita Dengan alasan apa pun, Anda dilarang naik di atap gerbong dan di kabin bisnis.

Peringatan serupa itu memberi kesan seakan-akan kereta api baru saja menjadi alat angkutan publik di negeri ini. Padahal, ia telah hadir dalam kehidupan masyarakat di Jawa sejak akhir abad ke-19, sejalan dengan kebijakan pemerintah Belanda untuk membuka East Indies terhadap ekspansi modal asing. Seperti digambarkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Bumi Manusia (The Earth of Mankind), kereta api boleh dibilang tak terpisahkan dari kata “Modern”. Ketika kereta api melalui jalurjalur besi yang membelah daratan Jawa, pandangan tradisional tentang jarak dan waktu pun terguncang. Ternyata tata dunia tidak berpusat di pangkuan raja-raja Jawa (seperti yang tersirat pada gelar Hamengku Buwono). Ada mesin buatan manusia yang tak perlu menunggu titah sinuhun untuk bergerak ke segala penjuru negeri. Menyertai kehadiran kereta api, Stasiun Manggarai didirikan pada 1890an oleh para buruh yang didatangkan dari daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Berbeda dengan stasiun-stasiun besar lainnya, seperti Gambir dan Kota, yang menjadi tempat pemberangkatan penumpang, sejak awal Manggarai dirancang sebagai bengkel kereta utama di Batavia. Semua kereta yang datang dari dan berangkat ke berbagai kota di Jawa mendapat perawatan sehari-hari, pengisian bahan bakar, sampai perbaikan mesin dan gerbong di stasiun ini. Dengan demikian, stasiun bukan lagi sekedar tempat persinggungan penumpang berbagai bangsa dan kelas sosial, tetapi juga lahan penghidupan bagi para buruh jawatan kereta api sendiri dan kaum miskin kota. Dimana ada stasiun, di situ berkumpul pedagang asongan, seniman jalanan, kuli barang, pekerja seks sampai pencoleng yang senantiasa berhadapan dengan petugas keamanan dan ketertiban. Kereta api dan stasiunnya boleh dikatakan merupakan simbol yang penting bagi karya budaya paruh awal abad ke-20. Begitu berartinya kereta api dan berwarnanya kehidupan stasiun sehingga menjadi inspirasi bagi seniman dan sastrawan di masa itu. Misalnya saja, lukisan “Boeng, Ajo Boeng!”, karya Affandi yang dibuat atas permintaan Soekarno untuk menyemangati pemuda, memakai tampak depan stasiun Gambir sebagai latar belakang. Ada pula lagu perjuangan “Sepasang Mata Bola” gubahan Ismail Marzuki yang menceritakan adegan perpisahan sepasang kekasih di stasiun Tugu, Jogjakarta. Yang ditampilkan kereta api dan stasiun adalah modernitas, dan modernitas berarti gerak berkelanjutan. Tak terlalu mengherankan apabila gerakan nasionalis yang tumbuhkembang pada “Zaman Bergerak” ini demikian terkait dengan kereta api, stasiun, dan para buruhnya. Ketika gerakan nasionalis dipukul mundur pada pertengahan 1930an, Stasiun Manggarai menjadi tempat bertemunya kelompok-kelompok buruh dan pemuda yang kemudian tergabung dalam Barisan Buruh Indonesia dan Barisan Pemuda Indonesia. Lokasi stasiun yang dekat dengan perumahan pegawai jawatan kereta api dan asrama pemuda di Jalan Raya Menteng 31 sudah memungkinkan aktifis gerakan untuk membangun kekuatan politik di tengah pengawasan ketat (tight surveillance) pemerintah kolonial. Segera setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, laskar buruh dan pemuda ini menempeli dinding-dinding stasiun serta semua kereta yang masuk dengan label “MILIK RI”. Terbayang pula olehku bagaimana laskar-laskar ini mempersiapkan kereta untuk melarikan Soekarno dan keluarganya ke Jogjakarta pada pagi buta 4 Januari 1946 saat situasi Jakarta semakin menegangkan oleh pertikaian bersenjata. Presiden baru ini tak

mungkin berangkat dari Gambir yang dijaga ketat. Maka, atas inisiatif salah satu tokoh pemuda, Wikana, satu gerbong penumpang yang dikaitkan ke kereta barang dilancarkan dari Manggarai dan berhenti sebentar di lintasan Pegangsaan Timur, dekat rumah Bung Karno. Setelah presiden dan ibu negara, Fatmawati, yang sedang mengandung putri pertamanya, Megawati, berhasil masuk gerbong penumpang, kereta melesat ke Jogjakarta tanpa berhenti di stasiun-stasiun utama. “Ting-tong … KRL [Kereta Rel Listrik] jurusan Bogor akan memasuki jalur 3”, suara lantang pengumuman mengembalikan aku ke masa kini. KRL Jabotabek bergerak lambat sampai berhenti di sisi platform 3. Gerbong tak terlalu padat karena hari libur. Toh di atas atap duduk sejumlah pemuda yang sedang bercanda; ada pula satu dua yang sekedar merenung menatap ke kejauhan. Kali ini kisah Openg, anak jalanan dari Palembang yang pernah mangkal di berbagai stasiun, membayang, “Enak nongkrong di stasiun. Kita bisa numpang kereta gratis kemana-mana, lihat Monas, ke Jogja, dan kota-kota lain. Ya, pokoknya kita bebas dan hepi-hepi aja”. Waktu kutanyai apakah ia bergaul dengan buruh-buruh kereta api, dia langsung menyela, “Wah, ya ngga. Kita malah sering ngetawain mereka kalau mereka pas nyuci kereta. Ngapain lokomotif, gerbong dimandiin segala? Kayak kurang kerjaan aja. Mending kayak kita, bebas, mau ngapa-ngapain bisa”. Puluhan anak jalanan, laki-laki dan perempuan berbagai usia, berkeliaran di setiap platform. Yang masih kecil berlari-larian menyeberang rel terus naik-turun platform tanpa kekhawatiran kereta akan lewat setiap saat. Di kampungnya mungkin tak ada ruang seluas stasiun ini untuk bermain kejar-kejaran. Beberapa yang sudah lebih dewasa duduk bergerombol di lantai ujung platform, melepas lelah sambil bertukar cerita. Satu dua menggiring 3 tumpuk krat teh botol, temulawak, dan soda dengan kereta buatan sendiri dari kayu-kayu bekas. Melanjutkan cerita Openg, “Kita sih ngerjain apa saja untuk dapet seribu-dua ribu sehari. Kadang nyapu di kereta, kumpulin koran bekas terus dijual lagi ke penumpang, atau ngamen. Tapi kita ngga boleh masuk KA kelas bisnis. Kalau ketahuan intel kereta, bisa digebugin abis”. Dibandingkan tiga platform lainnya platform 3 lebih padat penjaja barang. Hampir tak ada bedanya dengan pasar kaki lima yang banyak ditemui di Jakarta. Mereka menggelar dagangan rupa-rupa jenis di atas tikar plastik dan memakai segala cara untuk menarik perhatian penumpang yang bosan menunggu kereta. Pedagang jam meja menyalakan alarm semua jamnya secara bergantian, deringnya bergema memekakkan telinga, seperti alat siksa saja. Ada lagi yang menjajakan semacam peluit dengan suara tangis bayi kelaparan, entah apa pula kegunaan alat ini. Pak De penjual teh botol yang aku hampiri bercerita bahwa ia baru setahun mangkal di stasiun ini. Sebelumnya ia berjualan buah di Pasar Rumput. “Lebih baik jual teh botol saja. Jualan buah kalau tidak laku hari ini, buahnya busuk. Kalau teh kan ngga bisa busuk”. Tidak seperti pedagang yang menggelar tikar, ia tidak perlu membayar petugas stasiun untuk menyewa tempat. Cukup menduduki satu pojok dekat keramaian penumpang bersama kereta minumannya. Gemuruh dua kereta yang melesat tanpa berhenti melalui jalur 2: KA Parahyangan Express dari Bandung dan Argo Bromo dari Surabaya, memutus perbincanganku dengan Pak De. Bau tajam urine bercampur sampah terkalahkan oleh hembusan solar. Tapi calon penumpang yang berkerumun di platform 3 tak kelihatan terganggu. Banyak dari mereka

duduk di lantai bersama kardus-kardus bertali rafia dan tas plastik kresek yang menggelembung kebanyakan isi. Tak ada koper bermerek ternama yang ringkas dijinjing atau beroda mulus. Manggarai memang bukan stasiun KA kelas satu. “Perhatian-perhatian, KA Brantas jurusan Walikukun, Nganjuk dan Madiun akan masuk jalur 4, bukan jalur 3. Para penumpang diharapkan pindah ke jalur 4”. Dengan menggerutu kesal rombongan penumpang ini pun berbondong-bondong pindah dari kenyamanan sementara di platform 3 ke platform 4. KA Brantas dengan gerbong setengah oleng terengah-engah mendekati jalur 4. Kelihatannya sudah lama ia tak dimandikan. Tanpa panduan pramugari cantik dan bantuan porter penumpang berebut masuk kereta tua yang sudah cukup sarat itu. Hari makin terasa pengap walaupun stasiun makin kosong. Sebelum aku keluar dari peron, sempat terbaca pengumuman dari kertas foto-copyan tertempel di dinding sebelah pintu penghubung: HILANG ! Ijah, 9 tahun, tak bisa bicara, hanya bisa bilang emak dan bapak. Berambut pendek, pakai seragam SMP. Menatap foto buram Ijah, aku menghela nafas panjang. Bagaimana mungkin aku berharap stasiun ini akan menyediakan ruang kreatif dan mendidik untuk mengenang sejarahnya yang unik, sedangkan untuk memastikan keselamatan seorang gadis cilik tuna wicara saja stasiun ini tak mampu! Jakarta, 5 Oktober 2002

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->