Anda di halaman 1dari 13

TERAPI OKUPASI PADA PASIEN SKIZOFRENIA

DI RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI BALI

I Gusti Rai Tirta


I Putu Risdianto Eka Putra

Disampaikan pada Kongres Nasional Skizofrenia V, Mataram, Nusa Tenggara


Barat, 24 – 26 Oktober 2008

ABSTRACT
Occupational therapy has been carried out for many years to
schizophrenia patients that hospitalized at Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. But
only approximately 30% of them have been lead to occupational therapy service.
On the implementation of occupational therapy, patients have to pass the
selection process. Then, participants have been choosen activities based on their
cultural and religion background, where the majority of them were Hindu religion
and Balinesse ethnic. Occupational therapy service limited by infrastructures,
mediums, and human resources (occupational therapist and occupational
therapist assistant).
It is necessary to increase our effort to support the implementation of
occupational therapy in the future, because it is important to have a structured
actions to evaluate the process, effectiveness, and benefit of this therapy to our
patients. At observation and interview with some patients that have been
experienced occupational therapy found that most of them felt the benefit and
have enjoyed the activities in the occupational therapy.

I. PENDAHULUAN

Okupasi yang diadaptasi dari suatu kata dalam Bahasa Inggris yaitu
“occupation” umumnya dipandang sebagai berbagai aktivitas yang memiliki
maksud dan tujuan yang unik dalam kehidupan seseorang. Okupasi, yang dalam
Bahasa Indonesia maknanya sepadan dengan “pekerjaan”, juga merupakan pokok
pada identitas dan kompetensi seseorang, dan yang mempengaruhi bagaimana
seseorang mempergunakan waktunya serta bagaimana ia membuat keputusan.
Bahkan okupasi (occupation) telah didefinisikan oleh Law, Polatajko, Baptiste,
dan Townsend (1997) sebagai berikut: 1)

-1-
“Activities.....of everyday life, named, organized, and given value and
meaning by individuals and culture. Occupations is everything people do
to occupy themselves, including looking after themselves.....enjoying
life.....and contributing to the social and economic fabric of their
communities.....”

Jadi, dengan pekerjaan maka seseorang akan dapat “menikmati hidup”,


dimana pekerjaan dapat mengalihkan perhatian atau pikiran seseorang dari hal-hal
yang kurang menyenangkan, sehingga menjadi segar kembali untuk memikirkan
hal-hal yang lain. Dengan pekerjaan, seseorang juga akan memberi kontribusi
terhadap struktur sosial dan ekonomi komunitasnya sehingga dia menjadi lebih
nyaman berada ditengah-tengah komunitas itu dan akan memudahkan adaptasi
dengan lingkungannya. Secara fisik, pekerjaan membuat seseorang akan
menggerakkan seluruh otot tubuhnya, sehingga tubuhnya akan tetap sehat. Dari
semua hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa perkerjaan sangat bermanfaat
bagi perkembangan fisik dan jiwa seseorang.
Terapi Okupasi (Occupational Therapy) adalah suatu ilmu dan seni
dalam mengarahkan partisipasi seseorang untuk melaksanakan suatu tugas
tertentu yang telah ditentukan dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat,
dan meningkatkan kemampuan dan mempermudah belajar keahlian atau fungsi
yang dibutuhkan dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Juga untuk
meningkatkan produktivitas, mengurangi atau memperbaiki ketidaknormalan
(kecacatan), serta memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan. 2)
Dalam terapi okupasi, perhatian lebih dititikberatkan pada pengenalan
kemampuan yang masih ada, kemudian menaikkan atau meningkatkannya
sehingga mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Tujuan utamanya
adalah membentuk seseorang agar mampu lebih mandiri, tanpa harus bergantung
pada pertolongan orang lain.
Terapi okupasi pertama kali dikembangkan dan diterapkan oleh
Philippine Pinel pada abad ke-19 di sebuah rumah sakit jiwa di Paris. Dengan
pekerjaan, pasien penyakit jiwa akan dapat dikembalikan ke arah hidup yang

-2-
normal, bahkan bisa kembali seperti sebelum sakit. Adolf Meyer (1892), seorang
psikiater di Amerika, melakukan upaya secara terstruktur dimana pasien neuro-
psikiatrik diberikan aktivitas yang berguna ternyata menjadi dasar terapi okupasi.
Meyer telah menyusun suatu dasar sistematis penggunaan aktivitas sebagai terapi.

Bidang Terapi Okupasi

Terapi okupasi adalah sebuah profesi yang sedang berkembang. Bidang ini
dilaksanakan oleh seorang ahli terapi okupasi (occupational therapist) dan asisten
ahli terapi okupasi (occupational therapy assistant). Ahli dan asisten ahli terapi
okupasi tersebut keahliannya berada pada pengetahuan mereka mengenai
pekerjaan dan bagaimana bekerja dalam pekerjaan, yang dapat dipergunakan
untuk mempengaruhi tampilan seorang manusia dan tampilan yang diakibatkan
oleh suatu penyakit atau ketidakmampuan (kecacatan). Mereka akan langsung
mengarahkan upaya mereka membantu seseorang untuk bekerja dalam pekerjaan
yang penuh makna, yang kemudian berpengaruh terhadap kesehatan, rasa
nyaman, dan kepuasan hidup. Secara umum, pekerjaan yang biasanya diberikan
mencakup beberapa kelompok aktivitas seperti aktivitas hidup sehari-hari,
aktivitas interaksi dengan lingkungan sehari-hari, pendidikan, bekerja, bermain,
aktivitas mengisi waktu luang, dan partisipasi sosial.
Dalam praktek terapi okupasi hendaknya melalui 3 proses, yaitu proses
evaluasi, proses intervensi, dan hasil akhir (outcome).1) Proses evaluasi sangat
menentukan bagi proses-proses berikutnya. Pada tahap awal ini mulai dibentuk
hubungan kerjasama antara terapis dan klien, yang kemudian akan dilanjutkan
selama proses terapi okupasi. Proses evaluasi dibagi menjadi 2 langkah. Langkah
pertama adalah profil pekerjaan (occupational profile) dimana terapis
mengumpulkan informasi mengenai riwayat dan pengalaman pekerjaan pasien,
pola hidup sehari-hari, minat, dan kebutuhannya. Dengan pendekatan “client-
centered”, informasi tersebut dikumpulkan untuk dapat memahami apa yang
penting dan sangat bermakna bagi klien saat ini, apa yang ingin dan perlu
dilakukannya, serta mengidentifikasi pengalaman dan minat sebelumnya yang

-3-
mungkin akan membantu memahami persoalan dan masalah yang ada saat ini.
Langkah kedua adalah analisa tampilan pekerjaan (analysis of occupational
performance). Tampilan pekerjaan yang dimaksud adalah kemampuan untuk
melaksanakan aktivitas dalam kehidupan keseharian, yang meliputi aktivitas dasar
hidup sehari-hari dan aktivitas pribadi sehari-hari, aktivitas interaksi dengan
lingkungan sehari-hari, pendidikan, bekerja, bermain, mengisi waktu luang, dan
partisipasi sosial. Pada langkah ini juga dilakukan identifikasi terhadap tampilan
ketrampilan atau keahlian dan pola-pola yang digunakan didalamnya, serta
mengevaluasi aspek-aspek lain dari bekerja dalam pekerjaan yang mempengaruhi
ketrampilan dan pola-polanya. Hal-hal yang memudahkan serta yang menghambat
dalam beragam aspek bekerja dalam pekerjaan dan aktivitas kehidupan keseharian
juga diidentifikasi.
Proses selanjutnya adalah proses intervensi yang terbagi dalam 3 langkah,
yaitu rencana intervensi, implementasi intervensi, dan peninjauan (review)
intervensi. Rencana intervensi adalah sebuah rencana yang dibangun berdasar
pada hasil proses evaluasi dan menggambarkan pendekatan terapi okupasi serta
jenis intervensi yang terpilih guna mencapai target hasil akhir yang ditentukan
oleh klien. Rencana ini dibangun secara bersama-sama dengan klien (termasuk
pada beberapa kasus bisa bersama keluarga atau orang lain yang berpengaruh),
dan berdasarkan tujuan dan prioritas klien. Rencana yang telah tersusun,
kemudian dilaksanakan sebagai implementasi intervensi, yang mana diartikan
sebagai proses ketrampilan dalam mempengaruhi perubahan tampilan pekerjaan
klien, membimbing mengerjakan pekerjaan atau aktivitas untuk mendukung
partisipasi. Langkah ini adalah proses bersama antara klien, ahli dan asisten ahli
terapi okupasi. Sedangkan peninjauan intervensi diartikan sebagai suatu proses
berkelanjutan untuk mengevaluasi dan meninjau kembali rencana intervensi
sebelumnya, efektivitas pelaksanaannya, dan sejauh mana perkembangan yang
telah dicapai untuk menuju target hasil akhir. Bilamana dibutuhkan, pada langkah
ini dapat dilakukan perubahan terhadap rencana intervensi.
Proses terakhir pada terapi okupasi adalah hasil akhir (outcome). Hasil
akhir disini diartikan sebagai dimensi penting dari kesehatan yang berhubungan

-4-
dengan intervensi, termasuk kemampuan untuk berfungsi, persepsi kesehatan, dan
kepuasan dengan penuh perhatian. Pada proses ini ditentukan apakah sudah
berhasil mencapai target hasil akhir yang diinginkan atau tidak. Informasi yang
didapatkan dari proses ini digunakan untuk merencanakan tindakan lebih lanjut
dengan klien, serta dapat pula digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap program
pelayanan yang telah dilaksanakan.

Terapi Okupasi pada Pasien dengan Skizofrenia

Terapi okupasi juga dapat merupakan bagian dari rehabilitasi medik untuk
pasien-pasien dengan penyakit fisik maupun gangguan mental. Disini, terapi
okupasi merupakan terapi medik yang terarah dengan menggunakan aktivitas
sebagai media terapi, dalam rangka memulihkan kembali fungsi seseorang
sehingga mampu mandiri semaksimal mungkin.
Pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa, aktivitas dalam terapi okupasi
biasanya dilakukan untuk membantu dalam mendiagnosis, terapi, evaluasi,
maupun rehabilitasi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati pasien saat
mengerjakan suatu aktivitas, saat berinteraksi dengan kelompoknya, dan dengan
menilai hasil pekerjaannya. Dalam pengamatan tersebut dapat dikumpulkan data-
data yang berguna untuk mendukung ke arah suatu diagnosis tertentu serta
menetapkan terapi lainnya. Manfaat terapi didapat dengan membantu dalam
melepaskan dorongan-dorongan emosional secara wajar dan produktif. Dengan
memberikan terapi okupasi secara periodik maka akan dapat dilakukan evaluasi
terhadap hasil pengobatan. Sedangkan tujuan rehabilitasi diperoleh dengan
menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat mengembangkan
kemampuannya untuk dapat berhubungan dengan orang lain dan masyarakat
sekitar. Disamping itu juga dapat membantu menemukan kemampuan kerja yang
sesuai dengan bakat dan keadaannya.
Sebagaimana telah dipahami, bahwa pada sebagian penderita gangguan
skizofrenia digambarkan memiliki perjalanan penyakit yang kronis dan disertai
dengan terjadinya deteriorasi dari taraf fungsi sebelumnya. Deteriorasi atau

-5-
kemunduran tersebut mungkin sudah dimulai sejak fase prodromal selama
berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum onset penyakit, yang
mencakup terdapatnya keruntuhan taraf fungsi dalam bidang pekerjaan, aktivitas
sosial (pergaulan sosial), serta penelantaran penampilan pribadi dan perawatan
diri.
Pada penderita dengan skizofrenia sering terdapat beberapa gejala secara
bersama-sama seperti gangguan bentuk dan isi pikiran, arus pikiran, persepsi,
afek, serta gangguan pada perilaku yang dapat bermanifestasi sebagai perilaku
katatonik maupun gejala-gejala negatif. Pada penderita skizofrenia dengan gejala-
gejala negatif seperti sikap apatis, pembicaraan yang terhenti, dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar biasanya akan mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. Selain itu bisa
juga terjadi suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan dari beberapa aspek perilaku seseorang yang bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri (self-absorbed
attitude) dan penarikan diri secara sosial. 3)
Telah pula diyakini bahwa cara yang paling efisien dalam penanganan
pasien dengan skizofrenia adalah melalui kombinasi psikofarmakologi dan
intervensi psikososial seperti psikoterapi, terapi keluarga, dan terapi okupasi. Hal
ini telah dibuktikan setidaknya dari sebuah penelitian mengenai terapi okupasi
pada pasien dengan skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan (treatment-
resistant schizophrenia) yang dilakukan oleh Buchain dkk. di Sao Paulo, Brazil. 4)
Penelitian yang dipublikasikan tahun 2002 ini menggunakan rancangan
penelitian acak terkontrol (randomized controlled trial) dengan melibatkan 26
orang pasien skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan, yang kemudian
diikuti dan dievaluasi selama 6 bulan. Secara acak, mereka terbagi menjadi 2
kelompok, yaitu kelompok penelitian dan kelompok kontrol. Kelompok penelitian
menerima penanganan psikofarmakologi dengan Clozapine yang disertai dengan
sesi terapi okupasi, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima Clozapine.
Untuk mengevaluasi hasil akhirnya digunakan skala Interactive Observation in
Occupational Therapy (EIOTO). Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa

-6-
intervensi terapi okupasi ternyata efektif sepanjang periode observasi, terutama
setelah memasuki bulan ke-4 hingga akhir penelitian. Sehingga disimpulkan
bahwa kombinasi Clozapine dan terapi okupasi tampaknya lebih efektif
dibandingkan hanya Clozapine saja pada pasien dengan skizofrenia yang resisten
pengobatan.
Pada makalah ini tidak akan menyajikan atau mempublikasikan suatu hasil
penelitian baru, melainkan hanya memberikan sekilas gambaran mengenai
pelaksanaan terapi okupasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Setidaknya
makalah ini akan mengingatkan mengenai penanganan pasien dengan gangguan
jiwa, terutama skizofrenia, secara komprehensif melalui pendekatan Bio-Psiko-
Sosio-Budaya dan Spiritual. Mengingatkan kembali tentang salah satu modalitas
terapi yang sudah diyakini efektivitasnya pada pasien dengan skizofrenia, yaitu
terapi okupasi.

II. PEMBAHASAN

Sekilas Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali

Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali yang sebelumnya merupakan rumah sakit
jiwa pusat, sejak tahun 2002 telah menjadi rumah sakit jiwa daerah dibawah
Pemerintah Provinsi Bali. Kapasitas rumah sakit terus meningkat, yang pada
tahun 2005 memiliki 225 tempat tidur menjadi 310 tempat tidur pada tahun 2008.
Beberapa tahun terakhir, tingkat hunian rata-rata yang biasa disebut Bed
Occupancy Rate (BOR) pasien di rumah sakit ini sangat tinggi, yaitu selalu diatas
80%. Pada tahun 2006, BOR mencapai 82,00% yang kemudian meningkat
menjadi 96,56% pada tahun 2007. Selama tahun 2008 hingga bulan Juni,
walaupun kapasitas tempat tidur sudah bertambah, BOR tetap tinggi mencapai
91,40%. Wilayah cakupan kerja adalah seluruh wilayah Provinsi Bali yang
berpenduduk + 3,5 juta jiwa.

-7-
Tabel-1. Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali tahun
2006 – Juni 2008
2008
URAIAN 2006 2007
(Januari – Juni)
BOR (%) 82,00 96,56 91,40

Sumber: Register pasien rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, periode tahun 2006 –
2008.

Pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali didominasi oleh
pasien-pasien dengan diagnosis skizofrenia. Jumlah pasien skizofrenia yang
dirawat juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, Rumah
Sakit Jiwa Provinsi Bali telah merawat sebanyak 2.601 orang pasien yang
didiagnosis sebagai skizofrenia, dan hanya 101 pasien dengan diagnosis bukan
skizofrenia. Selanjutnya, pada tahun 2007, terjadi peningkatan yang cukup
signifikan pada jumlah pasien dengan skizofrenia yang dirawat, yaitu sebanyak
3.035 orang, sedangkan pasien bukan skizofrenia hanya 126 orang. Selama bulan
Januari hingga Juni 2008 telah merawat sebanyak 1.598 orang pasien dengan
skizofrenia dan 81 orang pasien bukan skizofrenia. Mayoritas (+ 90%) dari pasien
yang dirawat adalah dari suku Bali dengan agama Hindu. Hal tersebut
mempengaruhi aktivitas terapi okupasi yang dipilih untuk para pasien tersebut.

Tabel-2. Perbandingan jumlah pasien penderita skizofrenia dengan pasien bukan


skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, tahun 2006
– Juni 2008
2008
URAIAN 2006 2007
(Januari – Juni)
Skizofrenia 2.601 3.035 1.598
Bukan Skizofrenia 101 126 81
Sumber: Register pasien rawat inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, periode tahun 2006 –
2008.

-8-
Pelaksanaan Terapi Okupasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali

Pasien yang akan diikutsertakan dalam terapi okupasi dilakukan seleksi


terlebih dahulu. Tujuan dilaksanakannya seleksi tersebut meliputi penetapan
kondisi psikologis dari pasien, termasuk adanya gejala-gejala yang
membahayakan, taraf beratnya kecacatan, potensi yang masih ada, latar belakang
pendidikan dan sosial budaya pasien. Selain dari itu, pada seleksi pasien juga
dilakukan persiapan dan pemilihan aktivitas yang akan diberikan.
Aktivitas dalam terapi okupasi adalah segala macam aktivitas yang dapat
memberikan kesibukan kepada seseorang secara produktif. Aktivitas tersebut
digunakan sebagai media untuk belajar dan berkembang, sekaligus sebagai
sumber kepuasan emosional maupun fisik.
Aktivitas yang dilakukan memiliki karakteristik dimana aktivitas tersebut
harus mempunyai alasan dan tujuan terapi yang jelas. Aktivitas tersebut juga
memiliki karakteristik yang mana dibuat dan berhubungan dengan perkembangan
sosial budaya pasien, dan pasien memahami kegunaan aktivitas tersebut untuk
penyakitnya, pasien harus dilibatkan secara aktif, mencegah lebih beratnya
kecacatan, dapat memberikan motivasi bagi pasien untuk mandiri, serta sesuai
dengan minat pasien atau sekurang-kurangnya tidak dibenci oleh pasien.
Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, pasien yang diseleksi untuk dapat
dilibatkan dalam terapi okupasi adalah pasien rawat inap yang gejala-gejala
psikiatriknya sudah berkurang dan pasien tersebut sudah cukup kooperatif.
Kondisi seperti ini umumnya sudah bisa dicapai setelah dirawat inap selama 15
hingga 20 hari, tetapi jumlah hari perawatan bukan menjadi patokan, melainkan
tetap berpedoman pada kondisi psikologis pasien.
Aktivitas pekerjaan yang diberikan pada terapi okupasi di Rumah Sakit
Jiwa Provinsi Bali bersifat aktivitas kelompok, seperti sembahyang bersama
(sembahyang secara Agama Hindu karena mayoritas pasien yang menjalani
perawatan adalah beragama Hindu), kegiatan olahraga (senam dan permainan),
membuat sesajen (sarana sembahyang sesuai umat Hindu, khususnya untuk pasien

-9-
wanita), serta membuat dupa. Pasien dapat memilih kegiatan membuat kerajinan
tangan seperti merenda, menyulam, menjahit, mengukir dan melukis. Bagi pasien
laki-laki biasanya diberikan kegiatan menabuh gong atau gamelan Bali dan
membuat batako. Mengingat banyak pasien yang memiliki kemampuan dalam
bidang pertanian maka diberikan kegiatan bertani, berkebun, memelihara ternak,
dan sebagainya.
Semua kegiatan terapi okupasi biasanya dilaksanakan pada pagi hari, jam
09.00 wita hingga 11.00 wita. Program terapi ini sudah dilaksanakan sejak lama di
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, dan terus dilaksanakan secara rutin walaupun
terkendala waktu, ketersediaan bahan baku, jumlah dan kompetensi terapis.

Data Hasil Terapi Okupasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali

Tidak cukup banyak data yang ada dalam pelaksanaan terapi okupasi di
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali selama ini. Akan tetapi, dari catatan pada unit
rehabilitasi dimana terapi okupasi itu dilakukan, ternyata tidak semua pasien yang
dirawat dapat diikutsertakan dalam aktivitas terapi okupasi. Pasien-pasien yang
akut dengan masa perawatan pendek tidak diberikan terapi okupasi. Juga pada
pasien-pasien dengan gejala psikosis berat dan akut tidak bisa diikutsertakan.
Data yang tercatat dalam 3 tahun terakhir, terapi okupasi baru bisa
diterapkan pada kira-kira 30% dari seluruh pasien dengan skizofrenia yang
dirawat. Jika dirinci maka pada tahun 2006 hanya dilakukan terapi okupasi pada
786 pasien dari 2.601 orang jumlah keseluruhan pasien dengan skizofrenia yang
dirawat, atau 30,2%. Demikian pula pada tahun 2007 yang dilakukan pada 908
(29,9%) pasien dari 3.035 orang pasien dengan skizofrenia yang dirawat.
Sedangkan selama bulan Januari hingga Juni 2008 telah dilakukan terapi okupasi
terhadap 475 (29,7%) pasien dari 1.598 orang penderita tersebut.

- 10 -
Tabel-3. Jumlah pasien dengan skizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Bali dan mendapatkan terapi okupasi, tahun 2006 – Juni 2008
2008
URAIAN 2006 2007
(Januari – Juni)
Total penderita
2.601 3.035 1.598
skizofrenia rawat inap
Jumlah penderita
skizofrenia rawat inap
786 908 475
dan mendapat terapi
okupasi
Persentase penderita
skizofrenia rawat inap
30,2% 29,9% 29,7%
dan mendapat terapi
okupasi
Sumber: Register pasien di unit rehabilitasi Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, periode tahun
2006 – 2008.

Memperhatikan pelaksanaan terapi okupasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi


Bali, bahwa telah berpuluh-puluh tahun dilakukan sebagai kegiatan di unit
rehabilitasi, namun kegiatan tersebut belum merupakan terapi okupasi yang
sesungguhnya, yang sesuai dengan perkembangan teori dan teknik dalam profesi
itu sendiri. Dan selama itu pula belum pernah dilakukan penilaian terhadap
efektivitasnya pada pasien ataupun efektivitas metode yang diberikan, baik
melalui suatu evaluasi internal maupun penelitian terstruktur yang independen.
Hal ini mungkin disebabkan oleh tidak adanya sumber daya manusia yang
memiliki cukup kompetensi dibidang ini di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.
Selama ini, yang bertindak sebagai terapis maupun asisten terapis adalah psikolog
beserta perawat yang mendapat pelatihan sangat terbatas.
Selain itu, metode pencatatan yang dilakukan pun kurang tertata baik
sehingga tidak bisa didapatkan data yang akurat mengenai perkembangan atau
kemajuan yang telah dicapai oleh seorang pasien dari waktu ke waktu, serta hal-
hal penting lainnya yang sesuai dengan teori terapi okupasi yang sedang
berkembang. Demikian pula dengan waktu pelaksanaan terapi okupasi yang hanya
pada jam-jam kerja di pagi hari saja, sedangkan siang hingga sore hari atau pada
hari-hari libur, pasien lebih banyak berada dalam ruangan. Hal ini akan bisa
menimbulkan kebosanan dan kemunduran bagi pasien.

- 11 -
Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, tidak menyurutkan
keinginan untuk tetap memberikan terapi okupasi pada pasien-pasien yang
menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Hal tersebut karena
selama ini ada kesan yang diperoleh dari pengamatan terhadap pasien yang
diberikan kegiatan rehabilitasi dengan terapi okupasi tampaknya pasien-pasien
tersebut memperoleh beberapa manfaat, diantaranya pasien menjadi lebih betah
tinggal di rumah sakit, kemampuan sosialisasi yang lebih baik, dorongan-
dorongan impulsif lebih terkendali, dan gejala-gejala negatif yang berkurang.
Dengan memperhatikan hal-hal di atas maka perlu dilakukan beberapa
perbaikan dengan cara meningkatkan ketrampilan dan kompetensi petugas di unit
rehabilitasi, khususnya terapi okupasi dengan pelatihan-pelatihan atau merekrut
tenaga-tenaga baru yang bersertifikasi. Disamping itu, amatlah penting untuk
melakukan pencatatan yang lebih terstruktur secara individual mengenai riwayat
dan perkembangan pasien yang telah mendapatkan terapi okupasi. Demikian pula
dengan perlunya penambahan waktu pemberian terapi okupasi pada sore hari dan
pada hari-hari libur, serta meningkatkan sarana prasarana dan sumber dana untuk
pelaksanaan terapi okupasi. Dan untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaannya,
maka sangat perlu untuk dilakukan penelitian yang terkait dengan terapi okupasi
di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.

III. RINGKASAN

Terapi okupasi telah lama dilakukan pada penderita-penderita skizofrenia


yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali. Namun, dari total
penderita skizofrenia yang menjalani rawat inap, hanya sekitar 30% yang dapat
diberikan terapi okupasi. Dalam pelaksanaannya, setelah proses seleksi, peserta
dipilihkan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan latar belakang budaya dan agama
mereka, yaitu mayoritas beragama Hindu dan suku Bali. Terapi okupasi yang
dilaksanakan mengalami beberapa kendala dibidang sarana, prasarana, dan
sumber daya manusia (terapis).

- 12 -
Untuk langkah ke depan perlu peningkatan dibidang upaya terapi okupasi,
karena selama ini belum ada langkah-langkah yang terkoordinasi atau terstruktur
dan belum dimonitor manfaat dan hasil yang dicapai oleh penderita. Dari
pengamatan dan wawancara dengan beberapa penderita yang menjalani terapi
ternyata sebagian besar merasa ada manfaatnya dan menyenangi kegiatan ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. Occupational therapy practice framework: Domain and process, In


American Journal of Occupational Therapy, vol. 56(6), 2002; p609-639.
2. Budiman A, Siahaan H B; Okupasiterapi, Dalam Makalah Pelatihan Terapi
Keluarga dan Terapi Relaksasi, Ciloto, 1993; hal. 1-9.
3. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik;
Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham, Dalam
Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III,
Jakarta, Departemen Kesehatan RI, Cetakan I, 1993; hal. 103-136.
4. Buchain P C, et all; Randomized controlled trial of occupational therapy in
patients with treatment-resistant schizophrenia, In Rev Bras Psiquiatr, vol.
25(1), 2003; p26-30.

- 13 -