Anda di halaman 1dari 12

KACA DAN PORSELIN

1 Kaca
1.1 Pengertian Kaca

Kaca adalah salah satu produk industri kimia yang paling akrab dengan
kehidupan kita sehari-hari. Namun tidak banyak yang kita ketahui mengenai kaca
tersebut.
Dipandang dari segi fisika kaca merupakan zat cair yang sangat dingin.
Disebut demikian karena struktur partikel-partikel penyusunnya yang saling
berjauhan seperti dalam zat cair namun dia sendiri berwujud padat. Ini terjadi
akibat proses pendinginan (cooling) yang sangat cepat, sehingga partikel-partikel
silika tidak sempat menyusun diri secara teratur.
Dari segi kimia, kaca adalah gabungan dari berbagai oksida anorganik
yang tidak mudah menguap , yang dihasilkan dari dekomposisi dan peleburan
senyawa alkali dan alkali tanah, pasir serta berbagai penyusun lainnya. Kaca
memiliki sifat-sifat yang khas dibanding dengan golongan keramik lainnya.
Kekhasan sifat-sifat kaca ini terutama dipengaruhi oleh keunikan silika (SiO2) dan
proses pembentukannya.

1.2 Proses Pembuatan Kaca


Wujud silika awalnya adalah pasir, yaitu pasir silika. Kaca merupakan
substansi kimia yang serupa dengan kuarsa. Silika mempunyai titik lebur sekitar
2000 derajat celcius. Dua komponen penting dalam pembuatan kaca yang baik
adalah mencampurkan soda (sodium karbonat (Na2CO3)), atau potasy dengan
kalium karbonat, yang dapat menurunkan titik lebur kaca menjadi sekitar 1000
derajat celcius. Bahan soda menjadikan kaca larut, sedangkan kapur (kalsium
oksida, CaO) adalah bahan yang menyebabkan kaca sukar larut. Silikon (IV)
oksida ialah molekul kovalen raksasa. Oleh karena itu, silikon (IV) oksida dapat
digunakan untuk mengatasi setiap ikatan kovalen antara atom dalam struktur
raksasa. Maka, silikon (IV) oksida mempunyai titik lebur yang sangat tinggi, yaitu
1710 derajat celcius.
Pada silikon (IV) oksida, setiap atom silikon diikat secara kovalen kepada
4 atom oksigen dalam bentuk tetrahedron dengan sudut antara ikatan 109.5°. Unit
itu diulangi secara tidak terhingga dengan tiap atom oksigen terikat pada 2 atom
silikon untuk membentuk molekul kovalen raksasa seperti struktur berlian. Kaca
merupakan bahan yang terbentuk apabila bahan cair tidak berkristal disejukkan
dengan cepat, dengan itu tidak memberikan cukup massa untuk jaringan kristal
bisa terbentuk.
Terdapat dua macam kaca silika, yaitu kaca silika bening dan kaca silika
tidak bening, tetapi tembus cahaya (translucent). Kaca silika bening mempunyai
sifat yang lebih baik daripada kaca silika tidak bening. Pada kaca silika yang tidak
bening terdapat gelembung-gelembung udara di dalamnya. Hal ini dapat
dimaklumi, karena proses pembuatan kaca silika bening lebih sulit daripada kaca
silika tidak bening. Jika kristal kuarsa dalam jumlah besar diperlukan, bisa
digunakan pasir kuarsa biasa (pasir kali). Massa jenis kaca kuarsa adalah 2,2
g/cm3.

1.3 Macam-Macam Kaca


Kebanyakan kaca silika yang digunakan di dalam keteknikan mempunyai
berbagai substansi yang ditambahkan ke SiO2, sehingga membuatnya lebih mudah
direkayasa, tetapi titik fusinya menjadi lebih rendah. Kaca-silika di dalam
keteknikan diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Kaca alkali tanpa oksida berat.
Kaca ini mempunyai titik lebur yang agak rendah. Pemakaiannya
antara lain untuk botol dan kaca jendela.
2. Kaca alkali yang mengandung oksida berat.
Kaca ini mempunyai sifat kelistrikan yang tinggi dibandingkan
dengan kaca alkali kelompok 1. Kaca flint ditambah dengan PbO atau kaca
crown ditambah dengan BaO digunakan sebagai kaca optik. Kaca khusus
untuk bahan dielektrik kapasitor adalah kaca flint yang disebut minos. Di
antara kaca-kaca crown terdapat jenis yang disebut pireks. Pireks
mempunyai koefisien thermal 33. 10-7 per oC dan mampu menahan
perubahan suhu yang mendadak.
3. Kaca non alkali.
Penggunaan kaca ini adalah sebagai kaca optik dan bahan isolasi
listrik. Beberapa jenis kaca dari kelompok ini mempunyai titik pelunakan
yang sangat tinggi.

1.4 Pemanfaatan Kaca


Pemakaian kaca pada keteknikan antara lain :

1. Pembuatan bola lampu, tabung elektronik, penyangga filamen


Titik pelunakan kaca ini tidak terlalu tinggi, muai panjangnya
hendaknya dibuat mendekati muai panjang logam maupun paduannya yang
disangga. Logam yang dimaksud adalah wolfram, molibdenum.
2. Untuk bahan dielektrik pada kapasitor
Minos adalah salah satu jenis kaca permeabilitas relatif tinggi yaitu
7,5, sudut kerugian dielektrik (tan δ) kecil pada frekuensi 1MHz, suhu 20oC,
tan δ = 0.0009 pada frekuensi 1MHz, suhu 200oC, tan δ = 0,0012. Kaca
minos mempunyai α = 8,2 . 107 per oC. massa jenis 3,6 g/cm3.
3. Untuk membuat berbagai isolator
Misalnya isolator penyangga, isolator antena, isolator len, dan isolator
bushing. Untuk penggunaan ini, selain sifat kelistrikan yang baik juga
dituntut mempunyai kekuatan mekanis yang tinggi, tahan terhadap
perubahan suhu yang mendadak, dan tahan terhadap pengaruh kimia. Jenis
kaca yang digunakan untuk keperluan ini antara lain kaca silika, pireks
kalium-natrium.
4. Pelapisan logam
Salah satu jenis kaca adalah enamel (bukan enamel vernis). Enamel
dalam hal ini dapat digunakan untuk pelapisan logam atau benda lain
sejenisnya, misalnya dudukan lampu, reflektor, barang-barang dekoratif
yang tujuannya untuk mendapatkan permukaan yang lebih bagus.
Enamel juga dapat digunakan sebagai isolasi listrik, yaitu untuk
melapisi resistor tabung (kawat yang dililitkan pada tabung tersebut adalah
resistor, antara lain : nikrom, konstantan). Dalam hal ini, enamel dileburkan
dan kemudian tabung keramik yang sudah dililiti kawat tersebut dicelupkan
sehingga sela-sela di antara lilitan diisi enamel. Tujuannya di samping untuk
mengisolasi lilitan, juga melindungi lilitan terhadap uap, debu, dan oksidasi
udara pada suhu kerja yang tinggi.
Enamel dipabrikasi dengan meleburkan komponen-komponennya yang
halus, kemudian dituangkan sedikit demi sedikit dalam keadaan meleleh ke
dalam air yang dingin hingga membentuk seperti bola, selanjutnya
dihaluskan menjadi bubuk.
Pemakaian enamel untuk pelapisan dapat dilakukan dengan cara kering
maupun basah. Pada pelapisan kering, perangkat yang akan dilapisi dipanasi
hingga suhu tertentu kemudian dimasukkan ke dalam bubuk enamel.
Dengan demikian maka bubuk di sekelilingnya akan meleleh dan melapisi
perangkat tersebut. Proses ini diulang berkali-kali hingga diperoleh
ketebalan lapisan yang diinginkan.
Pada pelapisan basah, mula-mula enamel diaduk dengan air sehingga
menjadi bubur enamel yang digunakan untuk melapisi perangkat yang
dimaksud. Selanjutnya perangkat yang sudah dilapis tersebut dikeringkan,
lalu dipanaskan dengan oven sehingga enamel meleleh dan dengan demikian
melapisi perangkat.
Untuk keperluan pelapisan ini, koefisien muai panjang enamel harus
diusahakan sama dengan muai panjang perangkat yang dilapisi. Komponen
elamen untuk pelapisan resistor tabung (kaca boron-timah hitam dengan
mangan peroksida) adalah sangat sederhana yaitu : 27% PbO, 70% H3BO3
dan 3% MnO2.
Titik lebur enamel ± 600oC. Enamel akan hilang warnanya dan
sebagian akan melarut jika direndam dalam air dalam waktu yang lama.
Untuk menambah ketahanan enamel terhadap air dan panas biasanya
ditambahkan pasir kuarsa. Sedangkan untuk menambahkan kemampuan
lekatnya, enamel yang digunakan untuk melapisi baja atau besi tulang,
ditambah Ni dan Co.

1.5 Sifat-Sifat Kaca


1. Massa jenis kaca berkisar antara 2 hingga 8,1 g/cm3.
2. Kekuatan tekannya 6000 hingga 21000 kg/cm2.
3. Kekutan tariknya 1 hingga 300 kg/cm2. Karena kekuatan tariknya relatif
kecil, maka kaca adalah bahan yang regas. Walaupun kaca adalah substansi
berongga, tetapi tidak mempunyai titik leleh yang tegas, karena
pelelehannya adalah perlahan-lahan ketika suhu pemanasan dinaikkan.
4. Titik pelembekan kaca berkisar antara 500 hingga 1700° C. Makin sedikit
kandungan SiO2 makin rendah titik pelembekan kaca. Demikian pula halnya
dengan muai panjang (α), makin banyak kadar SiO2 yang dikandungnya
akan makin kecil α nya.
5. Muai panjang untuk kaca berkisar antara 5,5. 10-7 hingga 150. 10-7 per
derajat celcius. Nilai dari angka muai panjang adalah sangat penting bagi
suatu kaca dalam hubungannya dengan kemampuan kaca menahan
perubahan suhu. Piranti dari kaca yang dipanaskan atau didinginkan secara
tiba-tiba akan meregang. Hal ini disebabkan distribusi suhu yang tidak
merata pada lapisan luarnya dan keadaan tersebut menyebabkan piranti
retak. Jika kekuatan tarik piranti kaca lebih rendah dari kekuatan tekannya,
maka pendinginan yang mendadak pada permukaannya akan lebih
memungkinkan terjadinya keretakan dibandingakan dengan pemanasan yang
tiba-tiba. Kaca silika jenis Red-Hot akan lebih aman dalam hal pendinginan
atau pemanasan tiba-tiba karena kaca jenis ini mempunyai α yang sangat
rendah. Piranti kaca yang dindingnya tipis, ketahanannya terhadap
perubahan panas mendadak lebih baik dibandingkan dengan piranti kaca
yang dindingnya tebal. Hal ini karena dipengaruhi faktor kerataan pemuaian
permukaan kaca bagian luar dan dalam dinding piranti adalah tidak sama.
Kaca yang digunakan untuk suatu perangkat dan pada perangkat tersebut
terdapat juga logam, misalnya : lampu pijar dan tabung sinar katode, maka
nilai α nya harus disesuaikan, yaitu harus rendah karena selalu bekerja pada
suhu yang cukup tinggi. Dengan demikian, maka tidak terjadi keretakan di
bagian kacanya pada waktu perangkat tersebut digunakan.
Kemampuan larut kaca terhadap bahan lain akan bertambah sesuai
dengan kenaikkan suhunya. Kaca yang mempunyai kekuatan hidrolik rendah
ketahanan permukaannya pada media yang lembab adalah kecil. Kaca silika
mempunyai ketahanan hidrolik paling tinggi. Kekuatan hidrolik akan sangat
berkurang jika kaca diberi alkali. Pada kenyataannya, kaca silika adalah
tidak peka terhadap asam kecuali asam fluorida.
Pada pabrikasi kaca, asam fluorida digunakan untuk membuat kaca
embun. Pada umumnya kaca tidak stabil terhadap pengaruh alkali. Sifat-sifat
elektris dari kaca dipengaruhi oleh komposisi dari kaca itu sendiri. Kaca
yang digunakan untuk teknik listrik pada suhu normal diperlukan syarat-
syarat antara lain : resitifitas berkisar antara 108 hingga 1017 Ω-cm,
permitivitas relatif єr berkisar antara 3,8 hingga 16,2, kerugian sudut
dielektriknya 0,003 hingga 0,01, tegangan break-down 25 hingga 50
kV/mm.
Kaca silika mempunyai sifat kelistrikan yang paling baik. Pada suhu
kamar, besarnya resitivitas adalah 107 Ω-cm, єr 3,8 dan sudut dielektriknya
pada 1 MHZ adalah 0,0003. Jika kaca silika ditambahkan natrium atau
kalium, maka resitivitasnya akan turun, sudut dielektriknya naik sedikit.
Sering kali oksida logam alkali ditambahkan pada pembuatan kaca dengan
maksud agar sifat-sifat kaca menjadi lebih baik. Oksida-oksida tersebut
dimasukkan ke dalam kaca sebagai pemurnian bahan-bahan mentah.
Keberadaan natrium dalam kaca adalah lebih tidak menguntungkan dari
kalium. Karena ion Na adalah sangat kecil ukurannya dan sangat mudah
bergerak di dalam medan listrik. Itulah sebabnya mengapa Na dapat
menambah konduktifitas kaca. Kaca yang mengandung oksida-oksida dua
logam alkali yang berbeda dimungkinkan mempunyai sifat isolasi yang lebih
tinggi dibandingkan jika kuantitas oksidanya hanya mengandung 1 bagian
dari kuantitas oksida dua logam (efek netralisasi atau polialkalin).
Kemampuan isolasi kaca juga dapat lebih baik jika ditambah PbO atau BaO.

2 Porselin
2.1 Pengertian Porselin
Porselin adalah bahan isolasi kelompok keramik yang sangat penting dan
luas penggunaannya. Istilah bahan-bahan keramik adalah digunakan untuk semua
bahan anorganik yang di bakar dengan pembakaran pada suhu tinggi dan bahan
asli berubah substansinya.
Porselin terbuat dari tanah liat china (china clay) yang terdapat di alam
dalam bentuk alumunium silikat. Bahan tersebut dicampur kaolin, felspar dan
quarts. Kemudian campuran ini dipanaskan dalam tungku yang suhunya dapat
diatur. Bahan porselin dibakar sampai keras, halus mengkilat dan bebas dari
lubang-lubang.
Untuk mendapatkan sifat-sifat listrik dan sifat mekanis yang baik, harus
dipilih suhu pemrosesan bahan isolasi yang sesuai, karena jika bahan isolasi
diproses pada suhu yang agak rendah, sifat mekanisnya baik, tetapi bahan tetap
berlubang-lubang. Sedangkan jika diproses pada suhu yang tinggi, lubang-
lubangnya berkurang tetapi bahan menjadi rapuh.
Isolator porselin yang baik secara mekanis mempunyai kuat dielektrik
kira-kira 60 kV/cm, kuat tekan dan kuat tariknya masing-masing 70.000 kg/cm2
dan 500 kg/cm2.

2.2 Proses Pembuatan Porselin


Proses pembuatan perangkat dari porselin secara garis besar yaitu, setelah
tanah liat dibersihkan dari kotoran-kotoran misalnya kerikil, kemudian dicampur
dengan air hingga homogen (tetapi tidak terlalu encer seperti bubur). Selanjutnya
adalah tahap pembentukan, yaitu dengan putaran, penekanan, cetakan, dan
ekstrusi. Selanjutnya setelah perangkat terbentuk, dikeringkan lalu diadakan
pelapisan dengan gelas (glazing) dan terakhir adalah tahap pembakaran. Perlu di
ingat bahwa proses pembuatan perangkat dari keramik sejak masih basah hingga
selesai di bakar akan terjadi pengecilan dimensi. Sedangkan pada proses pelapisan
dengan gelas dan pembakaran menentukan sekali kualitas produk. Pada pelapisan
dengan gelas, kaca halus atau bahan dasar kaca atau campuran keduanya
dipanaskan hingga meleleh, kemudian digunakan melapisi perangkat yang
dikehendaki dengan cara mencelupkan benda atau permukaan yang diinginkankan
untuk dilapisi. Dengan pelapisan gelas seperti ini digunakan untuk memperkuat
dan sekaligus menghiasi permukaan, akan menjadikan produk porselin makin
sedikit kemampuannya menyerap air, mudah dibersihkan, menghilangkan retak-
retak yang ada di permukaan. Dengan pelapisan gelas, arus bocor yang melalui
permukaan isolator akan lebih kecil terutama pada keadaan basah dan sekaligus
dapat menaikkan tegangan terjadinya busur api (flashover). Seperti pada
penggunan kaca bersama-sama dengan logam koefisien termal antar pelapis dan
yang dilapisi harus sama. Jika gelas pelapisnya mempunyai α lebih kecil
daripada α yang dilapiskan, akan terjadi kompresi pada ketika suhu rendah.
Sedangkan jika kaca pelapis mempunyai α yang lebih besar dari pada α yang
dilapisi pada waktu terkena suhu diatas normal, pelapisnya akan retak (bentuk
retaknya kecil memanjang) yang disebut crazing. Retak ini akan menurunkan
kekuatan mekanik benda.
Untuk pelapisan benda-benda porselin yang besar dapat dilakukan dengan
menuangkan bahan pelapis pada permukaannya. Selanjutnya setelah benda itu
dilapis, dikeringkan dan dilakukan pembakaran. Maksud dari pembakaran adalah
untuk mendapatkan kekuatan mekanik, kemampuan isolasi dan ketahanan
terhadap air yang lebih tinggi. Selama pembakaran, struktur kristal dari tanah liat
(bahan dasar keramik) akan berubah, air yang dikandung akan hilang. Selama
pembakaran juga akan terjadi lubang-lubang kecil. Untuk menutup lubang-lubang
tersebut digunakan bahan yang disebut feldpar. Feldpar selama pembakaran akan
meleleh sehingga mengisi lubang-lubang kecil yang terjadi tersebut sekaligus
berfungsi sebagai bahan penguat.
Untuk pembuatan isolator porselin diperlukan suhu berkisar antara 13000
C hingga 15000 C dalam jangka waktu 20 hingga 70 jam. Kenaikan suhu dari
normal hingga suhu diatas adalah perlahan-lahan. Setelah mencapai suhu yang
diinginkan, pendinginannya dilakukan secara perlahan-lahan sebelum di
keluarkan dari oven. Untuk pembakaran atau pemanasan dalam oven dapat
digunakan solar, gas, batu bara atau listrik. Cara pembakaran pada benda yang
akan di buat (sebelumnya dikeringkan) diletakkan dalam ruang bakar agar tidak
berhubungan langsung dengan nyala api atau lilitan elemen pemanas yang
digunakan pemanas listrik. Hal ini untuk menghindari pemanasan yang tidak
merata dan pembentukan jelaga. Bagian-bagian dasar dari benda tidak perlu
dilapis dengan gelas agar tidak melekat dengan dasar ruang pembakaran jika
sudah dingin.
Ada dua macam oven untuk pembakaran porselin, yaitu jenis pemanggang
(kiln) dan jenis terowongan. Pada oven jenis pemanggang, proses pembakaran dan
pendinginan dilakukan secara serentak untuk beberapa benda kerja. Untuk industri
kecil, oven ini tepat digunakan.
Oven jenis kedua yaitu jenis terowongan pemanggangan. Dalam oven ini,
benda yang dipanaskan dilewatkan melalui oven secara perlahan-lahan. Panjang
oven ini dapat mencapai 100 meter, terdiri dari tiga bagian proses yaitu : daerah
pemanasan, daerah pemanggang dan daerah pendinginan.
Suhu tertinggi adalah di daerah tengah, yaitu daerah pemanggang dan
bagian pinggir lebih dingin. Dengan demikian selama perjalanan benda-benda
kerja akan terjadi pemanasan dan pendinginan secara bertahap dan perlahan-
lahan. Karena pada oven jenis terowongan ada bagian yang selalu begerak (untuk
menempatkan benda kerja), maka pemanasan terhadap benda kerja adalah terus
menerus, demikian pula pengambilan bagi benda kerja yang selesai dipanasi tidak
perlu memadamkan oven. Pengecilan yang terjadi selama proses pembuatan
benda porselin dari keadaan basah hingga pembakaran adalah sebesar 20%.
Karena itu untuk pembuatan benda porselin pada waktu mentah harus lebih besar
dari ukuran akhir yang dikehendaki. Namun, pada prakteknya sulit didapat ukuran
yang presisi, karena hal ini dipengaruhi komposisi bahan dan kondisi
pembakarannya. Umumnya produk-produk porselin toleransi yang masih dapat
ditolerir berkisar antara 2 hingga 5%. Benda-benda porselin disarankan tidak
disambung dengan menggunakan sekrup, tetapi untuk menyambungnya
menggunakan lem, semen atau diikat dengan logam.

2.3 Sifat-Sifat Porselin


Sifat-sifat poselin adalah sebagai berikut :
1. Massa jenisnya berkisar antara 2,3 hingga 2,5 g/cm3.
2. Koefisien muai panjang (ά) 3 . 10-6 hingga 4,5 . 10-6 per 0C. Hal ini perlu
mendapatkan perhatian jika dilem dengan semen atau diikat dengan
logam, karena ά semen = 11 . 10-6 per 0C, ά baja = 14 . 10-6 per 0C.
3. Kekuatan tekan porselin adalah 4000 hingga 6000 kg/cm2.
4. Kekuatan tarik 300 hingga 500 kg/cm2 untuk yang menggunakan pelapis,
200 hingga 300 kg/cm2 yang tanpa pelapis.
5. Kekuatan tekuk 80 hingga 100 kg/cm2. Porselin lebih regas daripada kaca.

Sedangkan, sifat kelistrikan porselin antara lain :


1. Tegangan tembus berkisar antara 10 hingga 30 kV/mm.
2. Resistifitas 1011 hingga 1014 Ώ cm.
3. Permitifitas (ε) berkisar antara 6 hingga 7, tan σ 0,015 hingga 0,02.
4. Sudut kerugian dielektrik akan naik jika suhu dinaikkan.
Penggunaan isolator pada tegangan tinggi, yang juga harus menjadikan
pertimbangan adalah tegangan pelepasan (discharge-voltage). Tegangan
pelepasan adalah tegangan yang dikenakan pada isolator yang menyebabkan
mengalirnya arus listrik melalui permukaan di antara elektroda-elektroda. Dalam
banyak kasus, pelepasan ini menyebabkan busur api pada permukaan isolator.
Busur api ini dapat terjadi pada keadaan kering maupun basah (curah hujan 4,5
hingga 5,5 mm/menit).
Pada pengujian busur api dilaboratorium kondisi ini dapat diciptakan,
untuk mengetahui kelayakan suatu isolator digunakan dilapangan. Isolator
gantung atau isolator tarik pada tegangan tinggi (bentuknya seperti cakram) pada
bagian bawahnya dibuat berlekuk-lekuk agar air hujan tidak merambat
melaluinya. Banyak isolator gantung atau isolator tarik tergantung besarnya
tegangan yang diisolasi. Contoh : untuk tegangan 110 kV diperlukan 10 hingga 12
isolator, sedangkan untuk 400 kV terdiri dari 20 hingga 24 isolator. Hubungan
atau kolerasi antara besarnya tegangan kerja dengan banyaknya isolator yang
diperlukan.

Kelebihan dan Kekurangan Porselin


Beberapa kelebihan isolator porselin/keramik antara lain:
1. Stabil, adanya ikatan ionik yang kuat antaratom yang menyusun keramik,
seperti silikon dan oksigen dalam silica dan silicates, membuat strukturnya
sangat stabil dan biasanya tidak mengalami degradasi karena pengaruh
lingkungan. Ini berarti bahwa isolator keramik tidak akan rusak oleh
pengaruh UV, kelembaban, aktivitas elektrik, dsb.
2. Mempunyai kekuatan mekanik yang baik, merupakan ciri alami bahwa
bahan keramik mempunyai sifat mekanik yang kuat, sehingga pada
pemakaian isolator porselin sebagai terminal kabel, bushing, dan arrester
surya tidak memerlukan material lain untuk meyokongnya.
3. Harganya relatif murah, penyusun porselin seperti clay, feldspar dan
quartz harganya relatif murah dan persediaannya berlimpah.
4. Tahan lama, proses pembuatan porselin yang terdiri dari beberapa proses
seperti pencetakan dan pembakaran dalam mengurangi kadar air
menyebabkan porselin mempunyai sifat awet.

Namun, ada pula kekurangan dari isolator porselin/keramik yaitu:


1. Mudah pecah, isolator porselin rentan pecah pada saat
dibawa maupun saat instalasi. Vandalisme merupakan faktor utama yang
menyebabkan isolator pecah.
2. Berat, salah satu sifat dari keramik adalah mempunyai
massa yang berat. Oleh karenanya, pada isolator porselin berukuran besar
dan berat biasanya mahal karena biaya yang dikeluarkan lebih besar untuk
pengiriman dan instalasi.
3. Berlubang akibat pembuatan kurang sempurna,
berdasarkan pengalaman isolator porselin yang berlubang dapat
meyebabkan terjadinya tegangan tembus internal (internal dielectric
breakdown).
2. Bentuk geometri kompleks, porselin mempunyai relatif mempunyai
karakteristik jarak rayap yang kecil, oleh karenanya untuk memperpanjang jarak
rayap tidak dilakukan dengan memperbesar diameter atau memperpanjang isolator
melainkan mendesain isolator dengan membuat shed-shed. Hal ini membuat
bentuknya menjadi kompleks.
3. Mudah terpolusi, permukaan porselin bersifat hidrophilik, yang berarti
bahwa permukaan porselin mudah untuk menangkap air, sehingga pada kondisi
lingkungan yang berpolusi mudah untuk terbentuk lapisan konduktif di
permukaannya. Hal ini yang dapat menyebabkan kegagalan isolasi yaitu
flashover.