Anda di halaman 1dari 4

Ciri-Ciri Muslim Sejati

Jadilah kalian Muslim yang …

1. atsbatuhum mauqiifan .. yang paling kokoh atau tsabat


sikapnya

Tsabat adalah nafas rijalul haq sepanjang zaman. Ia adalah nafas Al Khalil
Ibrahim as yang selalu sehat berenergi bahkan ketika menghadapi gunungan
kayu yang akan melahapnya, Bilal yang tegar ditindih batu, Sumayyah martir
syahidah muslimah, dan sahabat yang lain.

”Orang-orang yang tsabat harus bersabar atas anggapan bahwa


perjuangan mereka dibayar, cita-cita mereka disetir, dan tujuan mereka
dunia, sehingga semua tak ada yang tabu. Sogok, suap, kolusi, penyalahgunaan
kekuasaan, fitnah, pemutarbalikan fitnah mereka halalkan, tak peduli
bendera apapun yang mereka kibarkan : demokrasi, kekyaian ataupun HAM. ..
Maka diperlukan ketsabatan untuk sampai pada saatnya masyarakat
memahami kiprah da’i yang sesungguhnya, jauh dari prasangka mereka yang
selama ini terbangun oleh kerusakan perilaku da’wah oleh sebagian kalangan.”
(Untukmu Kader Dakwah, Rahmat Abdullah)

Tsabat artinya memiliki kekokohan sikap dan keteguhan prinsip, amanah, dan
profesional dalam segala hal. Tidak menggadaikan prinsip dengan materi, tidak
menukar keyakinan dengan jabatan. Bekerjalah dan berkaryalah dengan
keyakinan sikap dan prinsip untuk membuktikan janji, meneguhkan komitmen
untuk meraih taqwa.

Yakinlah dengan jaminan Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang


mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan:
“Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah
mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.””
(QS Fushshilat 41:30)

2. arhabuhum shadran .. yang paling lapang dadanya

Sikap paling menonjol dari Nabi saw adalah lapang dada, selalu ridha,
optimis, berpikir positif, tidak mempersulit diri dan orang lain,
memudahkan,menggembirakan, menebar kebaikan dan senyuman. Teladanilah
Rasulullah, untuk mendidik diri agar lebih rahmat, penuh kelembutan dan
berlimpah kasih sayangterhadap siapa saja. Itulah keshalihan sosial yang
kekuatannya luar biasa.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut


terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka,
mohonkanlah ampun bagi mereka..” (QS Al Imran 3:159)

3. a’maquhum fikran .. yang paling dalam pemikirannya

4. ausa’uhum nazharan .. yang paling luas cara pandangnya

Point ke tiga dan ke empat ini digabungkan dalam satu frase: spesialis dan
berwawasan global. Dengan spesialisasi, diharapkan fokus pada keahlian atau
keterampilan tertentu, sehingga memiliki daya saing yang tinggi. Dan dengan
berwawasan global, diharapkan tidak berpikiran sempit dan ‘terkotak-kotak’ pada
bidang tertentu, sehingga melupakan kepaduan pemahaman terhadap ilmu dan
pengembangan dunia kontemporer. Hal ini dicontohkan oleh pribadi para
ilmuwan Islam masa lalu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Biruni, dan lain-lain.
Mereka adalah spesialis pada bidang-bidang tertentu, tetapi memiliki wawasan
global terhadap perkembangan dunia di masanya.

”Belajarlah menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif, bersifat


lintas disiplin dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu
bidang ilmu sebagai spesialisasinya. Dengan begitu, sebagai seorang dai, Anda
senantiasa berbicara dengan isi yang luas dan dalam, integral dan tajam,
berbobot dan terasa penuh.” ( Anis Matta)

5. ansyatuhum ‘amalan .. yang paling rajin amal-amalnya


“Sesungguhnya amal yang dicintai Allah adakah yang berkelanjutan, meski
itu sedikit.”
Adalah bukan perkara mudah untuk istiqomah dalam amal ibadah, tapi mungkin
dan bisa, asalkan kita membiasakan. At first we make habbit, at last habbit make
you. Keseriusan, ketekunan dan kerja keras itulah yang mengantarkan
seseorang pada derajat mulia, seperti ketekunan Bilal bin Rabbah yang menjaga
dengan istiqomah kondisi suci dengan wudhu dan sholat 2 rakaat setelahnya
yang berbuah surga.

6. aslabuhum tanzhiman .. yang paling solid penataan


organisasinya
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam
barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang
tersusun kokoh.” (QS Ash Shaff 61:4)

”Kita hidup dalam sebuah zaman yang oleh ahli-ahlinya dicirikan sebagai
masyarakat jaringan, masyarakat organisasi. Semua aktivitas manusia
dilakukan di dalam dan melalui organisasi; pemerintahan, politik, militer,
bisnis, kegiatan sosial kemanusiaan, rumah tangga, hiburan, dan lain-lain. Itu
merupakan kata kunci yang menjelaskan, mengapa masyarakat modern
menjadi sangat efektif, efisien, dan produktif.
Masyarakat modern bekerja dengan kesadaran bahwa keterbatasan-
keterbatasan yang ada pada setiap individu sesungguhnya dapat dihilangkan
dengan mengisi keterbatasan mereka itu dengan kekuatan-kekuatan yang ada
pada individu-individu yang lain.” ( Anis Matta)

Bagaimanapun, kata Imam Ali bin Abi Thalib r.a “Kebenaran yang tak
terorganisir akan terkalahkan oleh kebatilan yang terorganisir”. Musuh-
musuh kita mengelola dan mengorganisasi pekerjaan-pekerjaan mereka dengan
rapi, sementara kita bekerja sendiri-sendiri, tanpa organisasi, dan kalau ada,
biasanya tanpa manajemen. Seorang penumpang bis kalah ’sukses’ dengan
‘jamaah’ penjambret.

Copet-copet bisa ’sukses’ karena organisasinya solid, jibakunya luar biasa.


Jaringan narkoba ’sukses’ karena ketaatan dan kedisiplinan menjaga ’amanah’
jaringan mereka. Maka bila mereka bisa bersatu dalam dosa dan kejahatan,
apatah lagi yang berjuang di jalan Allah, harus lebih rapi dan solid lagi dalam
penaatan organisasi.

7. aktsaruhum naf’an .. yang paling banyak manfaatnya”

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”


(HR. Tirmidzi)

Raihlah bahagia dengan berkiprah, ringan membantu sesama dan senang


membahagiakan orang. Jadilah pribadi andal layaknya bibit yang baik. Bibit yang
baik, kata Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam “Mudzakirat Da’wah wa Ad
Da’iyah”, di manapun ia ditanam akan menumbuhkan pohon yang baik pula.
Itulah sebaik-baik manusia, shalih linafsihi hingga naafi’un lighairihi.

”Perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Ia hinggap di tempat yang baik


dan memakan yang baik, tetapi tidak merusak.” (HR. Thabrany)
“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti sebatang pohon kurma.
Apapun yang kamu ambil darinya akan memberikan manfaat kepadamu.”
(HR. Ath-Thabrani)

Milikilah Allah dengan selalu dekat dengan-Nya. Milikilah Rasulullah dengan


mantaati dan meneladaninya. Milikilah syafaat Al Qur’an dengan
membaca(tilawah), merenungkan(tadabbur), menghafalkan(tahfidz),
mengamalkan dan mendakwahkannya. Miliki dengan memberi.
Berusahalah untuk menjadi muslim yang sejati agar tidak mudah terganggu oleh
godaan syetan.