P. 1
Harga Barang Bekas

Harga Barang Bekas

|Views: 1,743|Likes:
Dipublikasikan oleh sonnyok

More info:

Published by: sonnyok on Jul 10, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

Harga Barang Bekas & Rongsokan

Besi bekas Rp3.600,-/kg, Alumunium bekas Rp14.500,/kg, kardus bekas Rp800,-/kg, Duplex Rp500,-/kg, Drum plastik 200 liter Rp120.000,-/pcs, Drum plastik 125 liter Rp85.000,-/pcs, pallet kayu Rp24.000,-/pcs, plastik bekas Rp4.500,-/kg dll. (harga tergantung barang)

MAU BARANG BEKAS ANDA JADI UANG???
Barang bekas menumpuk di gudang anda? menciptakan pemandangan yang tidak sedap? Daripada bingung-bingung "JUAL SAJA KEPADA KAMI, kami tawarkan harga yang menarik" 1. Plastik , kisaran harga mulai dari Rp. 2500/kg 2. Besi Seng & Baja, kisaran harga mulai dari Rp. 1000/kg 3. Aluminium, kisaran harga mulai dari Rp. 8000/kg 4. Kertas dan Kardus, kisaran harga mulai dari Rp. 1500/kg 5. Kuningan dan Tembaga, kisaran harga mulai dari Rp. 15.000/kg 6. Accu bekas, kisaran harga mulai dari Rp. 3500/kg 7. Sendal,sepatu dll, kisaran harga mulai Rp. 1000/kg

8. Botol, kisaran harga mulai Rp. 50/buah Bagi anda yang alamatnya di wilayah Pati, Kudus, Demak, Semarang, Salatiga sampai Solo bisa menghubungi saya " SUSI di 08995900425" bisa melalui sms dan telephon dengan menyebutkan alamat lengkap, no. telephon, jenis barang bekas yang dijual dan banyaknya. Jika terjadi kesepakatan, kami siap mengambil barang ke alamat anda. PEMULUNG KELUHKAN ANJLOKNYA HARGA BARANG BEKAS Written by Rollit 17:49 Monday, 05 January 2009

Pangkalpinang, 3/1 (Lifestyle.Roll)- Kalangan pemulung di Kota Pangkalpinang, mengeluhkan anjloknya harga barang-barang bekas yang mereka kumpulkan, sehingga mempengaruhi penghasilan mereka dari Rp300 ribuRp350.000 menjadi Rp100.000-Rp150.000 per minggu. Buchari (45), pemulung asal Jakarta yang sudah lima tahun sebagai pemulung di Pangkalpinang, Sabtu, menjelaskan, anjloknya harga barang sejak tiga bulan terakhir itu mengakibatkan hasil yang diperolehnya hanya cukup untuk makan. "Kami tidak bisa lagi menabung untuk biaya pulang kampung, menengok saudara. Tapi, bos kami meyakinkan tidak lama lagi harga barang akan stabil kembali. Mudah-mudahan harga barang cepat stabil, karena kami benar-benar dalam kondisi susah sekarang,"

katanya. Ia menjelaskan, penurunan harga yang paling drastis adalah plastik gelas air mineral dari Rp5.000 menjadi Rp2.000 per kilogram, besi dari Rp2.000 menjadi Rp1.500/Kg, ember plastik dari Rp2.500 menjadi Rp1.500/Kg dan mainan anak-anak dari Rp3.500 menjadi Rp1.500/Kg. Selanjutnya kaleng dari Rp500 menjadi Rp200, besi kerompong rak piring, tong dan drum dari Rp1000 menjadi Rp700, sedang aluminium dari Rp12.000 menjadi Rp10.000, kaleng minuman ringan dari Rp7.000 menjadi Rp5.000, kawat tembaga dari Rp50.000 menjadi Rp20.000 dan kardus dari Rp50.000 menjadi Rp20.000. Ia menjelaskan, menurunnya harga itu diperparah banyaknya pemulung asal Jakarta, Jawa dan Palembang yang datang ke Kota Pangkalpinang, karena sulitnya mencari barang serupa di daerah-daerah asal mereka. Bahkan banyak orang di Pangkalpinang yang kesulitan pekerjaan akhirnya menjadi pemulung. "Untung saja barang bekas cukup banyak bertebaran di seluruh pelosok kota ini. Sepanjang kita kuat mencarinya selalu mendapatkan. Berbeda dengan di Jakarta sejak pagi sampai sore gerobak tidak juga penuh-penuh." ujarnya. Ia mengaku mencari barang bekas itu, ia lakukan secara rutin setiap hari, kecuali Jumat. Ia mulai bekerja pada pukul 07.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Dengan bekal sebuah gerobok berukuran 0,5 meter kali 1,5 meter, ia menyusuri jalan-jalan di sekitar Kecamatan Pangkalbalam. "Dalam waktu empat sampai lima jam gerobak sudah penuh, kami pulang ke rumah untuk memilah jenis barang yang layak jual," katanya. Dengan dibantu istrinya, ia mengatakan barang-barang yang sudah disortir disetorkan ke pedagang pengumpul (bos) di kawasan Selindung untuk disortir untuk penetapan harga. Ia mengungkapkan tetap menikmati pekerjaannya sebagai pemulung di Kota Pangkalpinang, daripada pindah ke Jakarta, karena keadaan di Jakarta tidak menguntungkan bagi keluarganya. "Meski harga barang jatuh, namun tetap masih lebih enak berusaha di Pangkalpinang, karena barangnya cukup banyak tidak susah dicari. Kami belum ada keinginan pindah ke tempat lain dan masih tetap betah di Pangkalpinang," ujarnya. Hal senada dikemukakan Agus (30). Ia menilai turunnya harga barang-barang bekas mengakibatkan ekonomi keluarga jadi pas-pasan . "Kami sama dengan pak Buchari sudah lama mencari barang bekas di Pangkalpinang dan jika harganya normal sebnarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.

Baik Buchari dan Agus menyatakan profesi sebagai pemulung memang banyak dukanya, karena terkadang juga diusir pemilik rumah yang pernah kehilangan barang-barangnya. "Untung saja kami sudah lama dan jika ada yang mengusir ada yang membela, karena kami tidak pernah berbuat yang melanggar hukum di kampung orang. Memang ada pemulung dadakan dari daerah lain yang sering berulah mengambil barang orang, sehingga kami yang kena getahnya," demikian Agus. ***2***

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->