Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM UJI TARIK

NAMA MAHASISWA :
1. SITI MARWAH SYARIF
2. SANDY PRIA PRAYOGA
3. RUDOLF FRENGKI
4. RUDI SETIAWAN
5. NASIH UDIN
6. NANANG NURYAMAN

KELAS :4J
DOSEN PEMBIMBING : Pak. JUSAFWAR

PROGRAM STUDI TEKNIK ENERGI


JURUSAN TEKNIK MESIN
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA

2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Uji tarik adalah kegiatan pengujian bersifat destruktif, terhadap suatu bahan dengan cara
memberikan beban tarikan secara terus menerus. Bertambah beban sampai akhirnya putus.
Kemampuan tarik suatu bahan diperlihatkan dalam suatu perbandingan antara besar beban
tarik terhadap luas bidang bahan yang mengalami tarikan.

1.2. Judul Praktek


Uji Tarik

1.3. Tujuan Praktek


Untuk mengetahui sifat – sifat mekanik suatu bahan atau logam terhadap pembebanan
tarik. Sehingga Mahasiswa dapat melakukan percobaan ini karena mengetahui karakteristik
benda.

1.4 Sasaran Praktikum


Setelah mempelajari teori dasar pengujian tarik ini diharapkan mahasiswa mampu:
1. Memahami kurva tegangan-regangan hasil uji tarik dari beberapa jenis logam (besi tuang,
baja, tembaga dan alumunium)
2. Mendeskripsikan titik-titik penting (batas proporsionalitas, batas elastis, titik luluh, daerah
necking dan sebagainya) dalam kurva tegangan-regangan yang menjelaskan perilaku
mekanis logam-logam tersebut.
3. Menerapkan beberapa formulasi dasar dan menganalisis kurva beban-perpanjangan untuk
memperoleh nilai-nilai kekuatan tarik, titik luluh, persentase elongasi, modulus elastisitas,
modulus ketangguhan untuk beberapa jenis logam.
4. Menjelaskan perbedaan antara kurva tegangan-regangan rekayasa dan kurva tegangan
regangan sesungguhnya.
5. Menerapkan dasar pengamatan kerusakan untuk menganalisis bentuk perpatahan
(fraktografi) hasil uji tarik beberapa jenis logam serta mengkaitkannya dengan kurva
tegangan-regangan yang telah dicapai.

 Alat dan bahan Yang Digunakan

 Jangka Sorong

 Tarno Grock

 Spidol 2 buah

 Alumunium 2 batang

 Baja 2 batang

 Tembaga 2 batang

1.5 Prinsip Pengujian Tarik

Sampel bentuk ukuran dan bentuk tertentu (dalam standart SII atau JIS atau ASTM ) diberikan
beban tarik yang continue sampai bahan atau logam tersebut mengalami perpatahan. Perpatahan
beban tarik ini akan menimbulkan perubahan regangan. Hubungan antara penambahan beban
dengan perubahan regangan dapat digambarkan dalam suatu kurva yang dikenal dengan kurva
stress – strain.

1.6 Ruang Lingkup Pengujian Tarik

Pengujian ini memakai benda uji atau sampel dari bahan logam baik itu ferrous atau non
ferrous. Ukuran sampel telah disesuaikan dengan standar SII (dalam percobaan ini ), atau JIS atau
ASTM. Variable – variable yang mempengaruhi adalah besarnya beban tarik dan diameter awal dari
sampel. Sifat – sifat mekanis yang diharapkan didapat dari percobaan ini adalah kekuatan luluh,
tegangan maksimum, tegangan patah dan harga modulus young.

1.7 Teori literatur Pengujian Tarik


Setelah memahami tujuan yang telah diuraikan oleh pengujian tarik, ada beberapa sifat
yang dapat diketahui dari percobaan ini yaitu,

 Batas proporsionalitas (Proportionality Limit)


Merupakan daerah batas dimana tegangan dan regangan mempunyai hubungan
proporsionalitas satu dengan lainnya. Setiap penambahan tegangan akan diikuti dengan
penambahan regangan secara proporsional dalam hubungan linier σ = Eε (bandingkan
dengan hubungan y = mx; dimana y mewakili tegangan; x mewakili regangan dan m
mewakili slope kemiringan dari modulus kekakuan).

Titik P pada Gambar 1.1 di bawah ini menunjukkan batas proporsionalitas dari kurva
tegangan-regangan.

 Batas elastis (elastic limit)


Daerah elastis adalah daerah dimana bahan akan kembali kepada panjang semula bila
tegangan luar dihilangkan. Daerah proporsionalitas merupakan bahagian dari batas elastik
ini. Selanjutnya bila bahan terus diberikan tegangan (deformasi dari luar) maka batas elastis
akan
Gambar 1.1. Kurva tegangan-regangan dari sebuah benda uji terbuat baja ulet
terlampaui pada akhirnya sehingga bahan tidak akan kembali kepada ukuran semula. Dengan
kata lain dapat didefinisikan bahwa batas elastis merupakan suatu titik dimana tegangan yang
diberikan akan menyebabkan terjadinya deformasi permanen (plastis) pertama kalinya.
Kebanyakan material teknik memiliki batas elastis yang hampir berimpitan dengan batas
proporsionalitasnya.

 Titik luluh (yield point) dan kekuatan luluh (yield strength)


Titik ini merupakan suatu batas dimana material akan terus mengalami deformasi tanpa
adanya penambahan beban. Tegangan (stress) yang mengakibatkan bahan menunjukkan
mekanisme luluh ini disebut tegangan luluh (yield stress). Titik luluh ditunjukkan oleh titik
Ypada Gambar 1.1 di atas. Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet
dengan struktur Kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial solid solution dari atom-
atom carbon, boron, hidrogen dan oksigen. Interaksi antara dislokasi dan atom-atom tersebut
menyebabkan baja ulet eperti mild steel menunjukkan titik luluh bawah (lower yield point)
dan titik luluh atas (upper yield point). Baja berkekuatan tinggi dan besi tuang yang getas
umumnya tidak memperlihatkan batas luluh yang jelas. Untuk menentukan kekuatan luluh
material seperti ini maka digunakan suatu metode yang dikenal sebagai Metode Offset.
Dengan metode ini kekuatan luluh (yield strength) ditentukan sebagai tegangan dimana
bahan memperlihatkan batas penyimpangan/deviasi tertentu dari proporsionalitas tegangan
dan regangan . Pada Gambar 1.2 di bawah ini garis offset OX ditarik paralel dengan OP,
sehingga perpotongan XW dan kurva tegangan-regangan memberikan titik Y sebagai
kekuatan luluh. Umumnya garis offset OX diambil 0.1 – 0.2% dari regangan total dimulai
dari titik O.
Gambar 1.2. Kurva tegangan-regangan dari sebuah benda uji terbuat dari bahan getas
Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran kemampuan bahan
menahan deformasi permanen bila digunakan dalam penggunaan struktural yang melibatkan
pembebanan mekanik seperti tarik, tekan bending atau puntiran. Di sisi lain, batas luluh ini
harus dicapai ataupun dilewati bila bahan (logam) dipakai dalam proses manufaktur produk-
produk logam seperti proses rolling, drawing, stretching dan sebagainya. Dapat dikatakan
bahwa titik luluh adalah suatu tingkat tegangan yang:
• Tidak boleh dilewati dalam penggunaan struktural (in service)
• Harus dilewati dalam proses manufaktur logam (forming process).

 Kekuatan tarik maksimum (ultimate tensile strength)


Merupakan tegangan maksiumum yang dapat ditanggung oleh material sebelum
terjadinya perpatahan (fracture). Nilai kekuatan tarik maksimum σ uts ditentukan dari beban
maksium Fmaks dibagi luas penampang awal Ao. (1.1) Pada bahan ulet tegangan maksimum
ini ditunjukkan oleh titik M (Gambar 1.1) dan selanjutnya bahan akan terus berdeformasi
hingga titik B. Bahan yang bersifat getas memberikan perilaku yang berbeda dimana
tegangan maksimum sekaligus tegangan perpatahan (titik B pada Gambar 1.2). Dalam
kaitannya dengan penggunaan structural maupun dalam proses forming bahan, kekuatan
maksimum adalah batas tegangan yang sama sekali tidak boleh dilewati.
 Kekuatan Putus (breaking strength)
Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji putus (Fbreaking)
dengan luas penampang awal Ao. Untuk bahan yang bersifat ulet pada saat beban maksimum
M terlampaui dan bahan terus terdeformasi hingga titik putus B maka terjadi mekanisme
penciutan (necking) sebagai akibat adanya suatu deformasi yang terlokalisasi. Pada bahan
ulet kekuatan putus adalah lebih kecil daripada kekuatan maksimum sementara pada bahan
getas kekuatan putus adalah sama dengan kekuatan maksimumnya.

 Keuletan (ductility)
Keuletan merupakan suatu sifat yang menggambarkan kemampuan logam menahan
deformasi hingga terjadinya perpatahan. Sifat ini , dalam beberapa tingkatan, harus dimiliki
oleh bahan bila ingin dibentuk (forming) melalui proses rolling, bending, stretching,
drawing, hammering, cutting dan sebagainya. Pengujian tarik memberikan dua metode
pengukuran keuletan bahan yaitu:
• Persentase perpanjangan (elongation)
Diukur sebagai penambahan panjang ukur setelah perpatahan terhadap panjang awalnya.
Elongasi, ε (%) = [(Lf-Lo)/Lo] x 100% (1.2) dimana Lf adalah panjang akhir dan Lo panjang
awal dari benda uji.
UTS = Fmaks/Ao
• Persentase pengurangan/reduksi penampang (Area Reduction)
Diukur sebagai pengurangan luas penampang (cross-section) setelah perpatahan
terhadap luas penampang awalnya. Reduksi penampang, R (%) = [(Ao-Af)/Ao] x 100% (1.3)
dimana Af adalah luas penampang akhir dan Ao luas penampang awal.

 Modulus elastisitas (E)


Modulus elastisitas atau modulus Young merupakan ukuran kekakuan suatu material.
Semakin besar harga modulus ini maka semakin kecil regangan elastis yang terjadi pada
suatu tingkat pembebanan tertentu, atau dapat dikatakan material tersebut semakin kaku
(stiff). Pada grafik tegangan-regangan (Gambar 1.1 dan 1.2), modulus kekakuan tersebut
dapat dihitung dari slope kemiringan garis elastis yang linier, diberikan oleh:
E = σ/ε atau E = tan α (1.4)
dimana α adalah sudut yang dibentuk oleh daerah elastis kurva tegangan-regangan.
Modulus elastisitas suatu material ditentukan oleh energi ikat antar atom-atom, sehingga
besarnya nilai modulus ini tidak dapat dirubah oleh suatu proses tanpa merubah struktur
bahan. Sebagai contoh diberikan oleh Gambar 1.3 di bawah ini yang menunjukkan grafik
tegangan-regangan beberapa jenis baja:

Gambar 1.3. Grafik tegangan-regangan beberapa baja yang


memperlihatkan kesamaan
modulus kekakuan

1.8 Prosedur Tarik

 Sampel uji yang dibentuk sudah standar dilakukan pengukuran diameter awal (D0 ), panjang
ukur awal ( L0 ), panjang proporsional (Pd).

 Kemudian batang uji diletakkan pada alat uji tarik

 Pengaturan beban: untuk batang baja, beban maksimum yang diletakkan sebesar 100.000 N.

 sedangkan untuk alumunium dan tembaga, beban maksimum yang digunakan sebesar 40.000
N.

 Jarum skala di nolkan terlebih dahulu.


 Pada waktu dilakukan penarikan diadakan pembacaan :

 Setiap 100 N untuk baja

 Setiap 500 N untuk setiap Al dan tembaga

 Dilakukan penarikan samapai benda uji putus dan pertambahan panjang dibaca pada jangka
sorong sebagai pengganti extensiometer.

 Dari data dibuat grafik stress – strain

 Setelah putus batas uji disambung kembali inyuk pengukuran panjang dan diameter akhir.

BAB II
DATA PRAKTIKUM

STANDAR PEGUJIAN : UJI TARIK LOGAM


ALAT : TARNO GROCKI (JERMAN)
BAHAN UJI : TEMBAGA I

D = 10 mm Lo = 80 mm
Ao = 157 mm P = 155 mm
1/2P = 77.5 mm A = 78.5 mm2
F ∆L
N σ eng σ true ε eng ε true
(Newton (mm
o (N/mm2) (N/mm2) (mm2) (mm2)
) )
14.1150731 12.8506231 0.00633512 0.00334632
1 1000 1
3 3 8 8
0.01267025 0.00968145
2 1500 2 21.1726097 19.9081597
7 7
62.1063217 60.8418717 0.01900538 0.01601658
3 4400 3
9 9 5 5
134.093194 130.425194 0.02534051 0.02235171
4 9500 4
8 8 3 3
232.898706 231.634256 0.03167564 0.02868684
5 16500 5
7 7 1 1
383.929989 382.665539
6 27200 6 0.03801077 0.03502197
2 2
457.328369 452.083469 0.04434589 0.04135709
7 32400 7
5 5 8 8
0.05068102 0.04769222
8 33200 8 468.620428 467.355978
6 6
479.912486 478.648036 0.05701615 0.05402735
9 34000 9
5 5 5 5
486.970023 485.705573 0.06335128 0.06036248
10 34500 10
1 1 3 3
491.204545 489.940095 0.06968641 0.06669761
11 34800 11
1 1 1 1
494.027559 492.763109 0.07602153 0.07303273
12 35000 12
7 7 9 9
0.08235666 0.07936786
13 35100 13 495.439067 494.174617
8 8
491.204545 489.940095 0.08869179 0.08570299
14 34800 14
1 1 6 6
475.677964 468.832314 0.09502692 0.09203812
15 33700 15
6 6 4 4
448.859325 445.289425 0.10136205 0.09837325
16 31800 16
7 7 3 3
414.983150 413.718700 0.10769718 0.10470838
17 29400 17
1 1 1 1
361.345872 360.081422 0.11403230 0.11104350
18 25600 18
2 2 9 9
296.416535 295.152085 0.12036743 0.11737863
19 21000 19
8 8 7 7

GRAFIK

600

500

400

300
σ eng

200

100

0
01 01 02 03 03 04 04 05 06 06 07 08 08 09 .1 .1 11 11 12
0 . 0 . 0 . 0 . 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0 . 0 . 0 . 0 . 0 0 0. 0. 0 .
STANDAR PEGUJIAN : UJI TARIK LOGAM
ALAT : TARNO GROCKI (JERMAN)
BAHAN UJI : TEMBAGA II

D = 10 mm Lo (mm) = 80
Ao = 157 mm P = 156 mm
1/2P = 78 mm A = 78.5 mm2

N F ΔL σ eng σ true ε eng ε true


O (newton) (mm) (N/mm2) (N/mm2) (mm2) (mm2)
1 900 1 5.732484 5.80414 0.0125 0.012423
2 1100 2 7.006369 7.181529 0.025 0.024693
3 4500 3 28.66242 29.73726 0.0375 0.036814
4 9000 4 57.32484 60.19108 0.05 0.04879
5 15500 5 98.72611 104.8965 0.0625 0.060625
6 22400 6 142.6752 153.3758 0.075 0.072321
7 23500 7 149.6815 162.7787 0.0875 0.083881
8 23750 8 151.2739 166.4013 0.1 0.09531
9 23800 9 151.5924 168.6465 0.1125 0.10661
10 23850 10 151.9108 170.8997 0.125 0.117783
11 23700 11 150.9554 171.7118 0.1375 0.128833
12 23800 12 151.5924 174.3312 0.15 0.139762
13 23650 13 150.6369 175.1154 0.1625 0.150573
14 23400 14 149.0446 175.1274 0.175 0.161268
15 22500 15 143.3121 170.1831 0.1875 0.17185
16 20900 16 133.121 159.7452 0.2 0.182322
17 19000 17 121.0191 146.7357 0.2125 0.192684
18 16000 18 101.9108 124.8408 0.225 0.202941
GRAFIK
160

140

120

100

80

60

40

20

0
0.01 0.03 0.04 0.05 0.06 0.08 0.09 0.1 0.11 0.13 0.14 0.15 0.16 0.18 0.19 0.2 0.21 0.23
STANDAR PEGUJIAN : UJI TARIK LOGAM
ALAT : TARNO GROCKI (JERMAN)
BAHAN UJI : ALUMINIUM I
ΔL D = 10
σ eng σ true ε eng ε true mm
NO F (mm
)
(N/mm2) (N/mm2) (mm2) (mm2)
1 130 1 1.74454 2.8139513 0.006049 0.0055023
2 280 2 3.66454 4.7339513 Lo
0.018549 0.0180023
(mm) =
3 680 3 8.76454 9.8339513 0.031049 0.0305023
80
4 870 4 11.30454 12.373951 0.043549 0.0430023 Ao =
5 1500 5 17.95454 19.023951 0.056049 0.0555023 155
6 2770 6 34.51454 35.583951 0.068549 0.0680023 mm
7 4670 7 58.71454 59.783951 0.081049 0.0805023
8 7570 8 95.66454 96.733951 0.093549 0.0930023
9 11170 9 141.51454 142.58395 0.106049 0.1055023
P=
10 13820 10 174.07454 175.14395 0.118549 0.1180023
156
11 14270 11 179.60454 180.67395 0.131049 0.1305023 mm
12 14720 12 185.33454 186.40395 0.143549 0.1430023 1/2P =
78 mm 13 15020 13 189.16454 190.23395 0.156049 0.1555023
14 15370 14 193.61454 194.68395 0.168549 0.1680023
15 15570 15 196.17454 197.24395 0.181049 0.1805023 A=
78.5 mm2
16 15720 16 198.07454 199.14395 0.193549 0.1930023
17 15945 17 200.94454 202.01395 0.206049 0.2055023
18 16045 18 202.21454 203.28395 0.218549 0.2180023
19 16120 19 203.17454 204.24395 0.231049 0.2305023
20 16245 20 204.76454 205.83395 0.243549 0.2430023
21 16245 21 204.76454 205.833951 0.256049 0.25550234
22 16120 22 203.17454 204.24395 0.268549 0.2680023
23 15995 23 201.58454 202.65395 0.281049 0.2805023
24 15195 24 191.38454 192.45395 0.293549 0.2930023
25 13920 25 175.14454 176.21395 0.306049 0.3055023
26 12470 26 156.67454 157.74395 0.318549 0.3180023
27 10470 27 131.19454 132.26395 0.331049 0.3305023
28 8390 28 105.72454 106.793951 0.343549 0.34300234
GRAFIK
250

200

150

100

50

0
01 03 06 08 11 13 16 18 21 23 26 28 31 33
0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.
STANDAR PEGUJIAN : UJI TARIK LOGAM
ALAT : TARNO GROCKI (JERMAN)
BAHAN UJI : ALUMINIUM II

D = 10 mm Lo = 80 mm
Ao = 158 mm P = 156 mm
1/2P = 78 mm A = 78.5 mm2

ΔL σ eng σ true ε eng ε true


NO F
(mm) (N/mm2) (N/mm2) (mm2) (mm2)
1 125 1 2.397649 3.46706 0.006049 0.0055
2 275 2 4.308649 5.37806 0.018549 0.018
3 375 3 5.582649 6.65206 0.031049 0.0305
4 520 4 7.429649 8.49906 0.043549 0.043
5 850 5 11.63365 12.7031 0.056049 0.0555
6 1075 6 14.49965 15.5691 0.068549 0.068
7 1525 7 20.23165 21.3011 0.081049 0.0805
8 2825 8 36.79265 37.8621 0.093549 0.093
9 5475 9 70.55065 71.6201 0.106049 0.1055
10 8625 10 110.6776 111.747 0.118549 0.118
11 12525 11 160.3596 161.429 0.131049 0.1305
12 14025 12 179.4676 180.537 0.143549 0.143
13 14375 13 183.9266 184.996 0.156049 0.1555
14 14775 14 189.0216 190.091 0.168549 0.168
15 15075 15 192.8436 193.913 0.181049 0.1805
16 15375 16 196.6646 197.734 0.193549 0.193
17 15675 17 200.4866 201.556 0.206049 0.2055
18 15825 18 202.3976 203.467 0.218549 0.218
19 15975 19 204.3086 205.378 0.231049 0.2305
20 16075 20 205.5826 206.652 0.243549 0.243
21 16175 21 206.855649 207.9251 0.256049 0.255502
22 16175 22 206.8556 207.925 0.268549 0.268
23 16175 23 206.8556 207.925 0.281049 0.2805
24 15975 24 204.3086 205.378 0.293549 0.293
25 15025 25 192.2066 193.276 0.306049 0.3055
26 13725 26 175.6456 176.715 0.318549 0.318
27 12025 27 153.9896 155.059 0.331049 0.3305
28 10025 28 128.512649 129.5821 0.343549 0.343002
250
GRAFIK

200

150

100

50

0
01 03 06 08 11 13 16 18 21 23 26 28 31 33
0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0.
STANDAR PEGUJIAN : UJI TARIK LOGAM
ALAT : TARNO GROCKI (JERMAN)
BAHAN UJI : BAJA I

D = 10 mm Lo = 80 mm
Ao = 159 mm P = 156 mm
1/2P = 78 mm A = 78.5 mm2

ΔL σ eng σ true ε eng ε true


NO F
(mm) (N/mm ) (N/mm2)
2
(mm2) (mm2)
1 130 1 5.22031 6.28972 0.006549 0.006
2 280 2 13.8713 14.9407 0.020549 0.02
3 680 3 28.2883 29.3577 0.033549 0.033
4 870 4 85.9583 87.0277 0.046549 0.046
5 1500 5 147.954 149.024 0.059549 0.059
6 2770 6 256.085 257.155 0.073549 0.073
7 4670 7 375.751 376.821 0.086549 0.086
8 7570 8 459.372 460.442 0.099549 0.099
9 11170 9 470.906 471.976 0.113549 0.113
10 13820 10 480.999 482.069 0.126549 0.126
11 14270 11 488.928 489.998 0.139549 0.139
12 14720 12 496.858 497.928 0.153549 0.153
13 15020 13 499.741 500.811 0.166549 0.166
14 15370 14 502.625 503.695 0.179549 0.179
15 15570 15 504.0673 505.1367 0.192549 0.192002
16 15720 16 501.183 502.253 0.206549 0.206
17 15945 17 491.091 492.161 0.219549 0.219
18 16045 18 466.581 467.651 0.232549 0.232
19 16120 19 439.188 440.258 0.246549 0.246
20 16245 20 393.052 394.122 0.259549 0.259
21 16245 21 338.265 339.3347 0.272549 0.272002
22 16120 22 237.3423 238.4117 0.286549 0.286002

600
GRAFIK

500

400

300

200

100

0
01 02 03 05 06 07 09 .1 11 13 14 15 17 18 19 21 22
0. 0 . 0 . 0. 0 . 0 . 0 . 0 0 . 0 . 0 . 0 . 0 . 0 . 0. 0. 0.
STANDAR PEGUJIAN : UJI TARIK LOGAM
ALAT : TARNO GROCKI (JERMAN)
BAHAN UJI : BAJA II

D = 10 mm Lo = 80 mm
Ao = 157 mm P = 156 mm
1/2P = 78 mm A = 78.5 mm2

ΔL σ eng σ true ε eng ε true


NO F
(mm) (N/mm2) (N/mm2) (mm2) (mm2)
1 130 1 15.35631 16.4257 0.007549 0.007
2 280 2 32.85031 33.9197 0.021549 0.021
3 680 3 75.78931 76.8587 0.035549 0.035
4 870 4 137.8123 138.882 0.049549 0.049
5 1500 5 287.3033 288.373 0.063549 0.063
6 2770 6 398.6263 399.696 0.077549 0.077
7 4670 7 508.3593 509.429 0.091549 0.091
8 7570 8 522.6723 523.742 0.105549 0.105
9 11170 9 535.3943 536.464 0.119549 0.119
10 13820 10 538.5753 539.645 0.133549 0.133
11 14270 11 548.117309 549.1867 0.147549 0.147002
12 14720 12 536.9853 538.055 0.161549 0.161
13 15020 13 514.7203 515.79 0.175549 0.175
14 15370 14 474.9623 476.032 0.189549 0.189
15 15570 15 438.3843 439.4537 0.202549 0.202002
16 15720 16 346.1453 347.215 0.216549 0.216
17 15945 17 325.471309 326.5407 0.230549 0.230002

GRAFIK
600

500

400

300

200

100

0
0.010.020.040.050.060.080.090.110.120.130.150.160.180.19 0.2 0.220.23

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Dari praktikum ini dapat diambi Aumunium bersifat liat daripada baja dan tembaga
karena memiliki kemampuan ulur tinggi sedang kemampuan tegangan rendah. Gaya maksimum
yang dihasilkan dari alumunium mencapai 16275 N. Alumunium memiliki tegangan
sesungguhnya sebesar 259.07 N/mm2 dan regangan sesungguhnya sebesar 0.2231 mm2.
Tembaga bersifat ulet karena tembaga memiliki mampu ulur dan mampu tegangan tinggi.
Gaya maksimum yang dihasilkan dari alumunium mencapai 23900 N, tegangan sesungguhnya
sebesar 353.90 N/mm2 dan regangan sesungguhnya sebesar 0.17 mm2.
Baja bersifat getas karena baja memiliki kemampuan ulurnya rendah dan mampu
tegangan tinggi. Gaya maksimum yang dihasilkan dari alumunium mencapai 35000 N, tegangan
sesungguhnya sebesar 101.654 N/mm2 dan regangan sesungguhnya sebesar 0.182 mm2.

SARAN
1. Setiap praktek yang dilakukan harus lebih teliti dalam melihat ukuran.

2. Tidak bercanda saat melakukan percobaan.

3. Periksa semua perlengkapan alat sesuai prosedur.

4. Lakukan praktek sesuai prosedur praktek.

5. Menganalisis setiap kejadian dalam melakukan pengujian

Anda mungkin juga menyukai