Anda di halaman 1dari 67

Untuk Sekolah Menengah

Atas Kelas X
Materi Semester 1 dan 2

1
Daftar Isi

Semester 1
Bab 1Hakikat bangsa dan negara
A. Makna manusia, bangsa dan negara 1
1. Manusia Sebagai Makhluk Individu Dan Makhluk Sosial 1
2. Makna Bangsa 1
3. Negara 2
4. Unsur-Unsur Terbentuknya Negara 4
5. Fungsi Dan Tujuan Negara 8
B. Sikap semangat kebangsaan (Nasionalisme dan patriotisme)
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara 10
1. Nasionalisme 10
2. Patriotisme 11
Bab 2 Sistem Hukum Dan Peradilan Nasional
A. Sistem Hukum 13
1. Pengertian Sistem 13
2. Pengertian Hukum 13
3. Tujuan Hukum 13
4. Sumber Hukum 14
5. Penggolongan Hukum 15
6. Sanksi Hukum 15
7. Perbedaan Hukum Pidana dan Hukum Perdata 15
B. Peradilan Nasional 16
C. Menunjukkan sikap yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku 18
D. Upaya Pemberantasan Korupsi Di Indonesia 18
1. Pengertian Korupsi 18
2. Sebab-Sebab Terjadinya KKN 18
3. Akibat Terjadinya KKN 18
4. Fenomena Korupsi di Indonesia 19
E. Peran Serta Dalam Upaya Pemberantasan Korupsi Di Indonesia 19
1. Upaya Pencegahan (Perventif) 19
2. Upaya Penindakan (Kuratif/Refresif) 19
3. Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa 20
4. Upaya Edukasi LSM 20
5. Peran Seta Masyarakat Dalam Pemberantasan Korupsi Di Indonesia 20
Bab 3 Pemajuan, Penghormatan, dan Perlindungan HAM
A. Pengertian Dan Macam-Macam HAM 22
1. Pengertian HAM 22
2. Macam-Macam HAM 22
3. Sejaran HAM 23
B. Peran Serta Dalam Upaya Pemajuan, Penghormatan, Dan Penegakan HAM di Indonesia 24
1. Perkembangan HAM di Indonesia 24
2. HAM dalam UUD 1945 25
3. UU RI No. 39 Tahun 1999 Tentang HAM 26

i
4. Peran Seta dalam Upaya Penegakan HAM di Indonesia 26
5. Contoh Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia 27
C. Hambatan Dan Tantangan Dalam Upaya Pemajuan, Penghormatan, Dan
Penegakan HAM di Indonesia 27
1. Hambatan Penegakan HAM 27
2. Tantangan Penegakan HAM 28
3. Rencana Aksi Nasional HAM Indonesia 28
D. Instrumen Hukum dan Peradilan Internasional HAM
1. Instrumen Hukum Internasional HAM 29
2. Peradilan Internasional HAM 29
3. Pelanggaran dan Proses Peradilan HAM Internasional 30

Semester 2
Bab 4Hubungan Dasar Negara Dengan Konstitusi
A. Hubungan dasar negara dengan konstitusi
1. Pengertian Dasar Negara 33
2. Pengertian Konstitusi 33
3. Substansi Konstitusi Negara 33
B. Kedudukan Pembukaan UUD 1945 Negara Kesatuan RI Tahun 1945
1. Kedudukan Pembukaan UUD 1945 35
2. Makna yang Terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 36
3. Makna Pembukaan UUD 1945 Bagi Perjuangan Bnagsa Indonesia 36
4. Pokok-Pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 37
5. Hubungan Pembukaan dengan Batang Tubuh UUD 1945 37
6. Tata Urutan Peraturan Perundangan-Undangan yang Berlaku di Indonesia 38
C. Pebandingan Konstitusi pada Negara Republik Indonesia dengan
Negara Liberal dan Negara Komunis
1. Konstitusi Negara Republik Indonesia 38
2. Konstitusi Pada Negara Liberal 39
3. Konstitusi pada Negara Komunis 40
D. Sikap Positif terhadap Konsitusi Negara 41
Bab 5 Persamaan Kududukan Warga Negara
A. Kewarganegaraan Republik Indonesia 43
1. Rakyat dalam Suatu Negara 43
2. Asas Kewarganegaraan 44
3. Penduduk dan Warga Indonesia 44
4. Undang-Undang Kewarganegaraan Indonesia 45
B. Kedudukan Warga Negara dan Pewarganegaraan
1. Kedudukan warga negara 45
2. Hak dan kewajiban dasar warga negara 45
3. Pewarganegaraan di Indonesia 46
4. Kehilangan kewarganegaraan republik Indonesia 47
C. Persamaan kedudukan warga negara dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara
1. Makna Persamaan 47
2. Jaminan Persamaan Hidup (Pendekatan Kultural) 47

ii
3. Jaminan Persamaan Hidup dalam Konstitusi Negara 48
D. Menghargai persamaan kedudukan warga negara tanpa membedakan Ras, agama, gender, golongan, budaya
dan suku 49
Bab 6 Sistem Politik Indonesia
A. Sistem Politik 50
1. Pengertian Sistem Politik 50
2. Ciri-ciri umum sistem politik 50
3. Macam-macam sistem politik 51
4. Demokrasi sebagai sistem politik 51
B. Insfrakstuktur dan Suprastruktur Politik di Indonesia
1. Infrastruktur Politik 51
2. Suprastruktur Politik 55
C. Perbedaan Sistem Politik di Berbagai Negara
1. Pendekatan Sistem Politik Negara 55
2. Perbedaan Sistem Politik 56
3. Model-model sistem politik 59
4. Sistem kepartaian dunia 59
5. Dinamika politik indonesia 60
6. Peran serta dalam sistem politik di indonesia 62

iii
BAB 1
HAKIKAT BANGSA DAN NEGARA
A. MAKNA MANUSIA, BANGSA DAN NEGARA
1. Manusia sebagai Makhluk Individu dan Makhluk Sosial
Kata manusia berasal dari kata manu ( Sansekerta ), atau mens ( Latin ) yang berarti berpikir, berakal budi, atau Homo
yang berarti seorang yang dilahirkan dari tanah, humus = tanah. Pengertian etimologis tentang “manusia”, dapat
memberi petunjuk tentang hakikat manusia. Disatu pihak manusia adalah makhluk bumi seperti manusia lainnya ; dilain
pihak manusia melampui cakrawala bumi dan mencita-citakan dunia yang luhur. Hal prinsip yang membedakan manusia
dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia secara kodrati telah dilengkapi dengan akal, pikiran, perasaan dan
keyakinan untuk mempertinggi kualitas hidupnya di bumi. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dengan
derajat paling tinggi diantara ciptaan yang lain.
Manusia sebagai makhluk individu, terdiri dari unsur jasmani ( raga) dan rohani ( jiwa ) yang merupakan satu
kesatuan. Jiwa dan raga membentuk individu, telah dibekali potensi atau kemampuan (akal, pikiran, perasaan dan
keyakinan) sehingga sanggup berdiri sendiri dan bertanggung jawab atas dirinya. Setiap manusia, senantiasa akan
berusaha mengembangkan kemampuan pribadinya guna memenuhi semua kebutuhan dan mempertahankan hidupnya (
survival ).
a. Akal dan pikiran manusia, dapat digunakan untuk menaklukkan alam dan makhluk lain serta sekaligus dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh, manusia dapat menggunakan tenaga kerbau, sapi atau
kuda untuk mengangkut barang, manusia dapat melakukan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi
informasi, komunkasi, dsb.
b. Perasaan dan keyakinan manusia, merupakan anugrah Tuhan yang tidak di berikan kepada makhluk lainnya sehingga
manusia dapat membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah. Dengan perasaan dan keyakinan, manusia
mampu berhubungan dengan dimensi moral dan spiritual, yakni Tuhan Yang Maha Esa sebagai perwujudan nalar (
akal dan pikiran ) manusia dalam menemukan titik/pusat keTuhanan ( God Spot ) sang pencipta.

Manusia sebagai makhluk sosial, sering disebut zoon politicon, yaitu makhluk yang pada dasarnya ingin bergaul
dengan sesama manusia lainnya ( Aristoteles, 384-322 M ).

Tingkat kebutuhan hidup manusia menurut Abraham Maslow, antara lain sebagai berikut :
1. Kebutuhan hidup fisiologis 3. Kebutuhan kasih sayang 5. Kebutuhan akan aktualisasi diri
2. Kebutuhan rasa aman 4. Kebutuhan akan penghargan diri
2. Makna Bangsa
Sebagian ahli berpendapat bahwa bangsa itu mirip dengan komunitas etnik, meskipun tidak sama. Bangsa adalah
suatu komunitas etnik yang ciri-cirinya adalah : memiliki nama wilayah tertentu, mitos leluhur bersama, kenangan
bersama, satu atau beberapa budaya yang sama dan solidaritas tertentu
Dalam pengertian sosiologis, bangsa termasuk “kelompok paguyuban” yang secara kodrati ditakdirkan untuk hidup
bersama dan senasib sepenanggungan dalam suatu Negara.
Berikut ini pendapat beberapa ahli kenegaraan ternama dalam mendefinisikan sebuah bangsa :
a. Hans Kohn
Bangsa adalah hasil tenaga hidup manusia dalam sejarah. Suatu bangsa merupakan golongan yang beraneka ragam dan
tidak bisa dirumuskan secara eksak
b. Ernest Renan
Bangsa adalah suatu akal yang terjadi dari dua hal, yaitu rakyat yang harus bersama-sama menjalankan satu riwayat, dan
rakyat kemudian harus mempunyai kemampuan atau keinginan hidup untuk menjadi satu.
c. Otto Bauer
Bangsa adalah kelompok manusia yang mempunyai kesamaan karakter. Karakteristik tumbuh karena adanya kesamaan
nasib.
d. F. Ratzel
Bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu. Hasrat itu timbul karena adanya rasa kesatuan antara menusia dan
tempat tinggalnya (paham geopolitik).
e. Jacobsen dan Lipman
Bangsa adalah kesatuan budaya ( cultural unity ) dan kesatuan politik ( political unity ).
f. Stalin
Bangsa bukanlah suatu ras dan bukan pula karena kesatuan suku bangsa melainkan umat yang terbentuk secara historis.

1
g. Soekarno
Bangsa adalah pengertian politis dan historis.
Unsur-Unsur Terbentuknya Bangsa
a. Frederich Hertz
Dalam bukunya “Nationally in History and Politic”, ia menyatakan bahwa setiap bangsa mempunyai unsur aspirasi :
1. Keinginan mencapai kesatuan national, yaitu kesatuan di bidang sosial ekonomi, politik, agama, kebudayaan,
komunikasi dan solidaritas
2. Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional, maksud bebas dari dominasi dan campur tangan
bangsa asing terhadap urusan dalam negerinya.
3. Keinginan dan kemandirian, individualitas, keasliaan atau kekhasan, misalnya menjungjung tinggi bahasa nasional
4. Keinginan untuk menonjol (unggul) di antara bangsa-bangsa dalam mengejar kehormatan, pengaruh, dan prestise.
b. Hans Kohn
Kebanyakan bangsa terbentuk karena adanya factor-faktor objektif tertentu yang membedakannya dari bangsa lain,
yakni kesamaan keturunan, wilayah, bahasa, adat-istiadat, kesamaan politik, perasaan dan agama. Dengan demikian,
factor objektif terpenting bagi terbentunya suatu bangsa ialah adanya kehendak atau kemauan bersama atau
“nasionalisme“.
Secara umum, unsur-unsur terbentuknya bangsa : Memiliki persamaan nasib atau sejarah, Memiliki persaman karakter,
Memiliki ikatan persatuan yang kuat, Memiliki tanah air yang sama, dan Memiliki persamaan cita-cita dan tujuan.
3. NEGARA
a. Makna Negara
NO NAMA TOKOH PENDAPAT YANG DIKEMUKAKAN
1. George Jellinek Negara adalah organisasi kekuasaaan dari sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu
Negara adalah organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual
2. G.W.F.Hegel dan kemerdekaan universal
3. Mr. Kranenburg Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena adanya kehendak dari suatu golongan atau
bangsa
Negara adalah alat kelas yang berkuasa (kaum borjuis/kapitalis) untuk menindas atau
4. Karl Marx mengeksploitasi kelas yang lain (proletariat/butuh)
Negara adalah organisasi kemasyarakatan (ikatan kerja) yang mempunyai tujuan untuk mengatur
Prof. Dr. J. H.A.
5. dan memelihara masyarakat tertentu dengan kekuasaannya. Organisasi itu adalah ikatan-ikatan
Logeman
fungsi atau lapangan-lapangan kerja tetap
Negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan
6. Roger F. Soltau
persoalan bersama atas nama rakyat
Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan karena mempunyai wewenang yang
7. Harold J. Laski bersifat memaksa dan yang secara sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang
merupakan bagian dari masyarakat
8. Aristoteles Negara dalah persekutuan dari keluarga dan desa untuk mencapai kehidupan yang sebaik-
baiknya.
b. Sifat Hakikat Negara
1. Memaksa, dalam arti mempunyai kekuatan fisik secara legal.
2. Monopoli, menetapkan tujuan bersama masyarakat.
3. Mencakup semua (All embracing), peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali.
c. Terjadinya Negara
1). Pertumbuhan Primer dan Skunder
a). Pertumbuhan Primer

Suku / Persekutuan Masyarakat


(genootschaft)

Kerajaan (Rijk) Negara Nasional Negara Demokrasi

2
Fase Genootschaft(Persekutuan Masyarakat)
Kehidupan manusia diawali dari sebuah keluarga, kemudian suku dengan dipimpin kepala suku (primus interpares)
Fase Kerajaan (Rijk)
Primus interpares (orang pertama diantara yang sederajat), kemudian menjadi seorang raja dengan cakupan wilayah lebih
luas.
Fase Negara nasional
Pada awalnya dipimpin oleh raja yang absolut dan tersentraslisasi. Hanya ada satu identitas kebangsaan.
Fase Negara demokrasi
Rakyat semakin sadar dan tidak ingin diperintah oleh raja yang absolut. Ada keinginan rakyat untuk mengendalikan dan
memilih pemimpinnya sendiri yang dianggap dapat mewujudkan aspirasi mereka. Fase ini lebih dikenal “kedaulatan
rakyat”.
b). Pertumbuhan Sekunder
Selalu dihubungkan dengan Negara yang telah ada sebelumnya. Berdasarkan pandangan ini maka suatu Negara
dianggap sah sebagai Negara jika telah diakui oleh Negara lain.
2). Pendekatan Faktual
(a). Occopatie (Pendudukan)
Contoh : Liberia yang didiami oleh budak-budak Negro kemudian menjadi Negara merdeka pada tahun 1847.
(b). Fusi (Peleburan)
Contoh : Terbentuknya Federasi Kerajaan Jerman pada tahun 1871.
(c). Cessie (Penyerahan)
Contoh ; Wilayah Sleewijk diserahkan oleh Austria kepada Prussia (Jerman) karena adanya perjanjian bahwa Negara
yang kalah perang harus memberikan Negara yang dikuasainya kepada negara yang menang. Austria adalah salah satu
Negara yang kalah pada Perang Dunia I.
(d). Accesie (Penaikan)
Contoh : Negara Mesir yang terbentuk dari delta sungai Nil.
(e). Anexatie (Pencapolokan / Penguasaan)
Contoh : Ketika dibentuk pada tahun 1948, Negara Israel banyak mencaplok daerah Palestina, Suriah, Yordania, Mesir.
(f). Proclamation (Proklamasi)
Contoh : NKRI yang merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dari penjajahan Belanda dan Jepang.
(g). Innovation (Pembentukan Negara Baru)
Contoh : Negara Kolumbia yang pecah dan lenyap. Kemudian di wilayah Negara tersebut muncul Negara baru, yaitu
Venezuela dan Kolumbia Baru.
(h). Separatisme (Pemisahan)
Contoh : Pada tahun 1939 Belgia memisahkan diri dari Belanda dan menyatakan kemerdekaan.
3). Pendekatan Teoritis

No Teori Tokoh Ajaran yang Dikemukakan


1. Ke-Tuhanan  Agustinus a. Negara ada karena kehendak Tuhan, hal ini didasarkan pada kepercayaan
 F.J.Stahl bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan
 Haller b. Terbagi dalam :
 Kranenburg Teori KeTuhanan Langsung
 Jean Bodin Bahwa suatu Negara pada awalnya ada karena sudah kehendak Tuhan
yang langsung sehingga raja dianggap sebagai ‘penjelmanTuhan, utusan
Tuhan, Dewa bahkan Tuhan itu sendiri. Contoh : Kaisar Tenno Heika
Jepang dianggap sebagai keturunan Dewa Matahari dan Raja Fir’aun di
Mesir Kumo mengaku dirinya sebagai Tuhan.
Teori KeTuhanan Tidak Langsung
Bahwa Negara memang ada karena jehendak Tuhan, namun tidak
secara langsung melainkan melalui penciptaan manusia terlebih
dahulu, yang kemudian menjadi raja. Raja memerintah atas nama
Tuhan. Pada Negara modern, dapat diketahui melalui Konstitusinya
dengan mencantumkan kalimat “by the grace of God” (Atas berkat
rahmat Tuhan Yang Maha ESa)
3
2. Per-janji-an  Thomas Hobbes a. Negara terjadi karena adanya kontrak sosial (perjanjian masyarakat).
Ma-syara-  John Locke Masyarakat mengadakkan perjanjian untuk membentuk Negara dan
kat  J.J. Rousseau menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada Negara untuk
 Montesquieu menyelenggarakan kepentingan masyarakat
b. John Locke, bahwa pada tahap I perjanjian antarindividu diadakan untuk
membentuk Negara (pactum unionis). pAda tahap II, perjanjian diadakan
dengan penguasa (pactum subjectionis). Negara yang dikehendaki
“monarki konstitusinal”
c. Thomas Hobbes, menghendaki “monarki absolute”
d. J.J. Rousseau, (disebut Bapak Kedaulatan Rakyat) menghendaki bahwa raja
hanyalah mandataris rakyat dan karena itu dapat diganti.
3. Ke-kua-saan  Horald J. Laski a. Negara terbentuk atas dasar kekuasaan, dan kekuasan adalah ciptaan
 Leon Duguit mereka yang paling kuat dan berkuasa
 Karl Marx b. L. Duguit, seseorang karena kelebihannya atau keistimewaannya baik
karena fisik, kecerdasan, ekonomi maupun agama dapat memaksakan
 Oppenheimer kehendaknya kepada orang lain
c. Karl Marx, Negara dibentuk untuk mengabdi dan melindungi kepentingan
 Kallikles kelas yang berkuasa, yaitu kaum kapitalis.
4. Kedau-latan  Vonthering a. Kedaulatan Negara : Kekuasan tertinggi ada pada Negara, bukan pada
 Paul Laband kelompok orang yang menguasai kehidupan Negara, dan engaralah yang
 G. Jellinek menciptakan hukum untuk mengatur kepentingan rakyat
 Krabbe b. Kedaulatan Hukum : Hukum memegang peranan dalam Negara, hukum
lebih tinggi dari Negara yang berdaulat
5. Hukum Alam  Plato a. Hukum alam bukan buatan Negara, melainkan kekuasan alam yang berlaku
 Aristoteles setiap waktu dan tempat, serta bersifat universal dan tidak berubah
 Agustinus b. Aristoteles, manusia dalah zoon politicon. Dari hakikat manusia seperti ini,
 Thomas Aquinas terbentuklah berturut-turut “ Keluarga Masyarakat Negara”
c. Agustinus, Negara terjadi karena adanya keharusan untuk menebus dosa
orang-orang yang ada di dalamnya. Negara yang baik mewujudkan cita-
cita agama, yakni keadilan
d. Plato, terjadinya Negara secara evolusi
e. Thomas Aquinas, Negara merupakan lembaga alamiah yang diperlukan
manusia untuk menyelenggarakan kepentingan umum

4. UNSUR-UNSUR TERBENTUKNYA NEGARA


Menurut Oppenheimer dan Lauterpacht, suatu Negara harus memenuhi syarat-syarat :
a. Rakyat yang bersatu
b. Daerah atau wilayah
c. Pemerintahan yang berdaulat
d. Pengakuan dari negara lain
Menurut Konvensi Montevideo tahun 1933, yang merupakan Konvensi Hukum Internasional, Negara harus
mempunyai empat unsur konsititutif, yaitu :
a. Harus ada penghuni (rakyat, penduduk, warga Negara) atau bangsa (staatvolk)
b. Harus ada wilayah atau lingkungan kekuasaan
c. Harus ada kekuasaan tertinggi (penguasa yang berdaulat) atau pemerintahan yang berdaulat; dan
d. Kesanggupan berhubungan dengan Negara-negara lain.
a. Rakyat
Berdasarkan hubungannya dengan daerah tertentu, dibedakan atas dua jenis yaitu :
1. Penduduk
Mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili di dalam suatu wilayah Negara (menetap) untuk jangka waktu yang
lama.
2. Bukan Penduduk
Mereka yang bearada di dalam suatu wilayah Negara hanya untuk sementara waktu (tidak menetap).

4
Berdasarkan hubungannya dengan pemerintah, rakyat dapat dibedakan menjadi :
1. Warga Negara
Mereka yang berdasarkan hukum tertentu merupakan anggota dari suatu Negara, dengan status kewarganegaraan
warga Negara asli atau warga Negara keturunan asing.
2. Bukan Warga Negara
Mereka yang berada di suatu Negara tetapi secara hukum tidak menjadi anggota Negara yang bersangkutan, namun
tunduk pada Pemerintah dimana mereka berada.
b. Wilayah
Merupakan landasan material atau landasan fisik Negara. Secara umum dapat dibedakan menjadi :
1. Wilayah Daratan
Batas wilayah suatu negaradengan Negara lain di darat , dapat berupa : Batas alamiah, batas buatan, batas secara
geografis.
2. Wilayah Lautan
Negara yang tidak memiliki lautan disebut land locked. Sedangkan Negara yang memiliki wilayah lautan dengan
pulau-pulau di dalamnya disebut archipelagic state.
Dewasa ini, yang dijadikan dasar hukum masalah wilayah kelautan suatu Negara adalah Hasil Konferensi Hukum
laut nternasional III tahun 1982 di Montigo Bay (Jamaika) yang diselenggarakan oleh PBB, yaitu UNCLOS (United
Nations Conference on The Law of the Sea).
Batas Lautan :
1). Laut Teritorial (LT)
2). Zona Bersebelahan (ZB)
3). Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE)
4). Landas Kontinen (LK)
Pemerintah RI pada tanggal 17 Februari 1969, telah mengeluarkan Deklarasi tentang “ Landas Kontinen” dengan
kebiasaan praktik Negara dan dibenarkan pula oleh Hukum Internasional bahwa suatu Negara pantai mempunyai
penguasaan dan yurisdiksi yang ekslusif atau kekayaan mineral dan kekayaan lainnya dalam dasar laut dan tanah
di dalamnya di landas kontinen. Contoh hasil perjanjian landasa kontinen :
(a). Perjanjian RI – Malaysia tetang Penetapan garis Batas Landas Kontinen Kedua Negara (di Selat Malaka dan
Laut Cina Selatan) ditandatangani 27 Oktober 1969 dan mulai berlaku 7 November 1969.
(b). Perjanjian RI – Thailand tentang Landas Kontinen Selat Malaka Bagian Utara dan Laut Andaman,
ditandatangani
17 Desember 1971 dan mulai berlaku 7 April 1972.
(c). Persetujuan RI – Australia tentang Penetapan Atas Batas-Batas Dasar Laut Tertentu di daerah Laut Timor dan
laut Arafuru sebagai tambahan pada persetujuan tanggal 18 Mei 1971, dan berlaku mulai 9 Oktober 1972.
5). Landas Benua (LB)
3. Wilayah Udara
Pasal 1 Konvensi Paris 1919 : Negara-negara merdeka dan berdaulat berhak mengadakan eksplorasi dan eksploitasi
dii wilayah udaranya, misalnya untuk kepentingan radio, satelit, dan penerbangan.
Konvensi Chicago 1944 (Pasal 1) :
Setiap Negara mempunyai kedaulatan yang utuh dan ekslusif di ruang udara di atas wilayahnya
UU RI No. 20 tahun 1982, batas wilayah kedaulatan dirgantara yang termasuk orbit geo- stationer adalah setinggi
35.671km.
4. Wilayah Ekstrateritorial
Wilayah suatu Negara yang berada di luar wilayah Negara itu. Menurut Hukum Internasional, yang mengacu pada
hasil Reglemen dalam Kongres Wina (1815) dan Kongres Aachen (1818), “perwakilan diplomatik suatu Negara di
Negara lain merupakan daerah ekstrateritorial”.
Daerah Ekstrateritorial, mencakup :
(1) Daerah perwakilan diplomatik suatu Negara dan (2) Kapal yang berlayar di bawah bendera suatu Negara

5
c. Pemerintah yang berdaulat
Kata kedaulatan atau “daulat” berasal dari kata daulah (Arab), souvereignty (Inggris), Souvereiniteit (Perancis), supremus
(Latin), yang berarti “kekuasaan tertinggi”. Kekuasaan yang dimiliki pemerintah mempunyai kekuatan yang berlaku
kedalam (interne-souvereiniteit) dan keluar (extrene-souvereiniteit).
Menurut Jean Bodin (1500-1596) kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi untuk menentukan hukum dalam suatu
Negara. Kedaulatan mempunyai sifat-sifat pokok sebagai berikut :
1. Asli : Kekuasaan itu tidak berasal dari kekuasaan lain yang lebih tinggi.
2. Permanen : kekuasaan itu tetap ada selama Negara itu berdiri sekalipun pemegang kedaulatan berganti-berganti
3. Tunggal (Bulat) : Kekuasaan itu merupakan satu-kesatuan tertinggi dalam Negara yang tidak diserahkan atau dibagi-
bagikan kepada badan lain.
4. Tidak terbatas (absolute) : kekuasaan itu tidak dibatasi oleh kekuasaan lain. Bila ada kekuasaan lain yang
membatasinya, maka kekuasaan tertinggi yang dimilikinya akan lenyap.

TEORI KEDAULATAN
NO TEORI, TOKOH, PERKEMBANGAN DAN LATAR POKOK-POKOK AJARAN KETERANGAN
BELAKANG
1. Teori Kedaulatan Tuhan (1) Teori ini beranggapan bahwa raja atau (1). Ethipia, masa Raja Haile
Agustinus, Thomas Aquinas, Marsilius, penguasa memperoleh kekuasaan Selassi (Ia merasa diri
F.J.Stahl tertinggi dari Tuhan dipilh oleh Tuhan)
Berkembang pada abad V – XV (2) Kehendak Tuhan menjelma ke dalam diri (2). Belanda dengan raja-raja
Dilatarbelakangi oleh perkembangan agama raja atau penguasa (Paus). Oleh Sebab itu, yang menganggap diri
Kristen dan maraknya Pantheisme, yaitu mereka dianggap sebagai utusan Tuhan/dewa sebagai wakil Tuhan,
(paham yang menyatakan bahwa Tuhan
bukan seorang

TEORI, TOKOH, PERKEMBANGAN DAN


NO POKOK-POKOK AJARAN KETERANGAN
LATAR BELAKANG
pribadi, melainkan bahwa semua (3) Segala peraturan yang dijalankan oleh By the grace of God (Atas Rahmat
hukum, kekuatan, manifestasi yang penguasa bersumber dari Tuhan. Oleh Tuhan)
ada di dunia ini adalah Tuhan sebab itu, rakyat harus patuh dan (3). Jepang pada masa Kaisar Tenno
(menyatarakan alam dengan Tuhan) tunduk kepada perintah penguasa. Heika yang dianggap sebagai
titisan Dewa Matahari
2. Teori Kedaulatan Raja (1) Kedaulatan Negara terletak di tangan (1). Perancis pada masa Loius XIV
N.Machiavelli, Jean Bodin, Thomas raja sebagai penjelmaan kehendak (1643-1715) dengan ucapannya L ‘
Hobbes, Hegel Tuhan Etat Cest moi yang berarti, Negara
Berkembang sekitar abad XV (2) Raja juga merupakan bayangan dari adalah saya
Dilatarbelakangi oleh perkembangan Tuhan (Jean Bodin)
kekuasaan yang sudah bergeser dari (3) Agar Negara kuat, raja harus berkuasa
Gereja (Paus) ke Raja mutlak dan tidak terbatas
(N. Machiavelli)
(4) Raja berada di atas undang-undang.
Rakyat harus rela menyerahkan hak-
hak asasi dan kekuasaannya secara
mutlak kepada raja (Thomas Hobbes)
3. Teori Kedaulatan Negara (1) Kekuasaan pemerintah bersumber dari (1) Tsar di rusia yang totaliter, dan
George Jellinek, Paul Laband kedaulatan Negara (staats souve- digulingkan pada tahun 1917
Berkembang antara abad XV-XIX reiniteit). melalui Revolusi Bolshevik
Diilhami oleh gerakan Renaissance dan (2) Negara dianggap sebagai sumber 9Oktober) dengan pahan Komunis.
ajaran Niccolo Machiavelli tentang kedaulatan yang memiliki kekuasaan (2) Jerman semasa Hitler, dan Italia
Negara sebagai pusat kekuasaan tidak terbatas masa B. Mussolini merasa sebagai
(3) Karena Negara itu abstrak, pusat kekuatan Negara dan
kekuasaannya diserahkan kepada raja memerintah secara totaliter
atas nama negara sentralistik.
(4) Negaralah yang menciptakan hukum.
Oleh sebab itu, Negara tidak wajib
kepada hukum.
4. Teori Kedaulatan Hukum (Nomokrasi) (1). Bahwa kekuasaan hukum (rechts- (1). Negara Eropa dan Amerika pada
Krabbe, Immanuel Kant, Kranenburg souvereinteit) merupakan kekuasaan umumnya menganut teori hukum
Berkembang setelah Revolusi Perancis tertinggi di dalam Negara murni
Diilhami oleh semboyan Revolusi (2). Kekuasaan Negara bersumber pada (2). Indonesia menganut teori Negara

6
Peramcis : Liberti, Egalite dan hukum, sedangkan hukum bersumber hukum modern
Fraternite dari rasa keadilan dan kesadaran hukum
(3). Pemerintah (Negara) hanya berperan
sebagai penjaga malam yang melindungi
hak asasi manusia dan tidak boleh
mencampuri urusan sosial-ekonomi
masyarakat (negara hukum murni,
Immanuel Kant)
(4). Negara seharusnya menjadi Negara
hukum. Artinya setiap tindakan Negara
harus didasarkan hukum (H. Krabbe)
(5). Selain sebagai penjaga malam. Negara
berfungsi dan berkewajiban
mewujudkan kesejahteraan rakyat
(welfare state- Kranenburg)
5. Teori Kedaulatan Rakyat (1).Rakyat merupakan kesatuan yang (1). Diterapkan hampir semua Negara,
Solon, John Locke, Montesquoeu, J.J. dibentuk oleh individu-individu melalui namun pelaksanaannya sangat
Rousseau perjanjian masyarakat (sosial contract) tergantung pada rezim yang
Berkembang mulai abad XVII – XIX (2). Rakyat sebagai pemegang kekuasaan berkuasa, ideology, dan
hingga sekarang tertinggi memberikan sebagian haknya kebudayaan masing-masing
Banyak dipengaruhi oleh teori kepada penguasa untuk kepentingan Negara.
kedaulatan hukum yang menempatkan bersama
rakyat tidak hanya sebagai objek, (3). Penguasa dipilih dan ditentukan atas
tetapi juga sebagai subjek dalam dasar kehendak rakyat/umum (volonte
Negara (demokrasi). generale) melalui perwakilan yang
duduk di dalam pemerintahan
(4). Pemerintah yang berkuasa harus
mengembalikan hak-hak sipil kepada
warganya (civil rights)

d. Pengakuan dari Negara lain


1). Pengakuan secara de facto
Diberikan kalau suatu Negara baru sudah memenuhi unsur konstitutif dan juga telah menunjukkan diri sebagai
pemerintahan yang stabil. Pengakuan de facto adalah pengakuan tentang kenyataan (fakta) adanya suatu Negara.
Pengakuan de facto bersifat sementara
Pengakuan yang diberikan oleh suatu Negara tanpa melihat bertahan tidaknya Negara tersebut di masa
depan.Kalau Negara baru tersebut kemudian jatuh atau hancur, Negara itu akan menarik kembali pengakuannya.
Pengakuan de facto bersifat tetap
Pengakuan dari Negara lain terhadap suatu Negara hanya bisa menimbulkan hubungan di bidang ekonomi dan
perdagangan (konsul). Sedangkan dalam hubungan untuk tingkat Duta belum dapat dilaksanakan.
2). Pengakuan secara de jure
Pengakuan de jure bersifat tetap
Pengakuan dari Negara lain berlaku untuk selama-lamanya setelah melihat adanya jaminan bahwa pemerintahan
Negara baru tersebut akan stabil dalam jangka waktu yang cukup lama.
Pengakuan de jure secara penuh
Terjadinya hubungan antara Negara yang mengakui dan diakui meliputi hubungan dagang, ekonomi, dan
diplomatic. Negara yang mengakui berhak menempatkan Konsuler atau Kedutaan.
BENTUK-BENTUK KENEGARAAN
a. Negara Kesatuan ; Negara merdeka dan berdaulat yang pemerintahannya diatur oleh pemerintah pusat.
b. Negara Serikat ; Negara yang terdiri atas gabungan beberapa Negara bagian
c. Koloni ; suatu Negara yang menjadi jajahan dari Negara lain
d. Perwalian (Trustee) ; Wilayah jajahan dari Negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia II dan berada di bawah naungan Dewan
Perwalian PBB
e. Mandat; suatu Negara yang berasal dari daerah jajahan dari Negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia I dan di
bawah perlindungan dari Dewan Mandat Liga Bangsa-Bangsa.
f. Protektorat; Negara yang berada di bawah lindungan Negara lain yang lebih kuat

7
g. Dominion; suatu Negara bekas jajahan Inggris yang mengakui Raja Inggris sebagai rajanya sebagai lambang persatuan
negara
h. Uni; gabungan dua atau lebih Negara merdeka dan berdaulat dengan satu kepala Negara yang sama.
5. FUNGSI DAN TUJUAN NEGARA
A. Fungsi Negara
Menurut para ahli kenegaraan, fungsi-fungsi Negara mencakup hal-hal berikut :
Sebagai stabilisator yaitu sebagai menjaga ketertiban (law and order)
Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
Mengusahakan pertahanan untuk menangkal kemungkinan serangan dari luar
Menegakkan keadilan yang dilaksanakan melalui badan-badan peradilan
(a). Fungsi Negara menurut para ahli :
 Para ahli hukum kenegaraan memiliki pandangan yang khas tentang fungsi negara, sebagai berikut :
Montesquieu, menyatakan bahwa fungsi Negara mencakup tiga tugas pokok (teori Trias Politika) :
1. Fungsi legislative; membuat Undang-Undang
2. Fungsi eksekutif; melaksanakan Undang-Undang
3. Fungsi Yudikatif; mengawasi agar semua peraturan ditaati (fungsi mengadili)
Goodnow, membagi fungsi menjadi dua tugas pokok :
1. Policy making ; membuat kebijakan Negara pada waktu tertentu untuk seluruh masyarakat
2. Policy Executing ; melaksanakan kebijakan yang sudah ditentukan
Muhammad Kusnardi, S.H., membagi tugas Negara menjadi dua bagian :
1. Menjamin ketertiban (law and order)
2. Mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
(b) Fungsi atau rugas negara secara umum :
1. Tugas esensial (Tugas asli) ; mempertahanakan Negara sebagai organisasi politik yang berdaulat. Tugas ini
meliputi tugas internal (memelihara perdamaian, ketertiban dan ketentraman serta melindungi hak milik
setiap orang) dan tugas eksternal (mempertahankan kemerdekaan Negara).
2. Tugas fakultatif ; meningkatkan kesejahteraan umum, baik moral, intelektual, sosial maupun ekonomi.
B. Tujuan Negara
Pada umumnya, tujuan Negara untuk menciptakan kesejahteraan, ketertiban dan ketentraman semua rakyat yang
menjadi bagiannya. Di bawah ini ada beberapa teori tentang tujuan Negara :

Nama Teori, Tokoh, dan Penguasa yang


No Pokok – Pokok Pendapat yang Dikemukakan
Latar Belakangnya Menerapkan
1. Rakyat dan Negara harus berbanding terbalik, bila negara ingin kuat
Kekuasaan Negara (Lord maka rakyat harus lemah dan sebaliknya a. Atilla
Shang Yang, seorang Negara harus berusaha mengumpulkan kekuasaan / kekuatan yang b. Jenghis Khan
Negarawan Tiongkok/Cina sebesar-besarnya. Negara menyiapkan militer yang kuat, disiplin dan c. Timur Lenk
Kuno) loyal untuk mengahadapi bahaya-bahaya dari luar d. Kubhilai Khan
Dilatarbelakangi oleh Keselamatan dan kemakmuran tidak diperlukan, yang penting Negara
keadaan negeri Cina saat itu aman sentosa
yang banyak mengalami Rakyat harus dijauhkan dari kebudayaan adat, musik, nyanyian,
pemberontakan dan perang hikayat, kebaikan, kesusilaan, hormat pada orang tua, kekerabatan,
saudara. kejujuran, dan sofisme (the ten evis). Alasannya, semua itu dapat
melemahkan jiwa seseorang (rakyat/prajurit)
2. Menitikberatkan pada sifat pribadi raja, yaitu agar dapat cerdik seperti a. Fredderick Agung
Kekuasaan Negara (N. ‘kancil’ dan menakut-nakuti rakyatnya seperti “singa” b.Louis XIV
Machiavelli, 1469-1527, Pemerintah / penguasa boleh berbuat apa saja, asal untuk kepentingan c. Adolf Hitler
seorang pemikir dan politikus Negara dalam mencapai kekuasaan Negara yang sebesar-besarnya. d.B. Mussolini
dari Italia) Siapapun yang melawan pemerintah/raja harus ditindak tanpa
Dilaterbelakangi oleh kompromi
keadaan negaranya saat itu Pemerintah menghalalkan segala cara, meskipun harus melanggar
yang banyak mengalami sendi-sendi kesusilaan dan kebenaran
pergolakkan dan perpecahan. Seorang penguasa yang cermat bertahan pada keyakinan/kepercayaan
yang berlawanan dengan kepentingannya
3. Perdamaian Dunia (Dante Keamanan dan ketentraman manusia dalam negara dapat di capai Memberikan
Alighieri 1265-1321, Seorang apabila ada perdamaian dunia, yang tidak terletak pada masing-masing inspiransi bagi
pemikir besar dari Prussia penguasa atau raja. terbentuknya (liga
Jerman) Dalam mencapai perdamaian dunia, perlu dibentuk satu negara bangsa-bangsa atau
Dilatarbelakangi oleh adanya dibawah satu imperium (raja atau kaisar). LBB)dan selanjutnya
8
pertentangan antara kaisar Pembentukan imperium bertujuan untuk kepentingan kemanusiaan. diganti menjadi
dengan Paus mengenai siapa Pembentukan masing-masing Negara merdeka hanya akan perserikatanBangsa-
yang paling berhak dalam menimbulkan peperangan. Bangsa (PBB)
kekuasaan negara

Nama Teori, Tokoh, dan


No Pokok – Pokok Pendapat yang Dikemukakan Penguasa yang Menerapkan
Latar Belakangnya
4. Negara harus membentuk dan mempertahankan Banyak di terapkan di Negara-
Jaminan atas hak dan hukum supaya hak dan kemerdekaan warga Negara Negara Eropa dan Amerika pada
kewajiban terpelihara. umumnya setelah abad XVIII
(Immanuel kant 1724 – Adanya hukum yang dirumuskan dalam perundang-
1804, seorang ahli hukum undangan,dan hukum itu merupakan penjelmaan Diterapkan dihampir semua Negara
dari Jerman) di latar kehendak umum (volunte generale) modern yang menjunjung tinggi
belakangi oleh keadaan Perlunya pemisahan kekuasaan antara eksekutif dan demokrasi dan menjamin
negara Eropa dalam suasana legislatif. keseimbangan antara kepentingan
pencerahan ( enlightenment) Peranan Negara : menjaga ketertiban hukum dan individu dan masyarakat.
yang mengagung-agungkan melindungi hak serta kebebasan warganya.
otonomi dan kebebasan Negara tidak boleh turut campur dalam urusan pribadi
individu. dan ekonomi warganya. Banyak diterapkan di Negara-
negara Eropa dan Amerika
5. Negara bukan sekedar memelihara ketertiban hukum
Negara kesejahteraan atau
belaka, tetapi secara aktif mengupayakan
welfare State
kesejahteraan warga negaranya.
(R.Kranenburg,seorang ahli
Negara harus benar-benar bertindak adil terhadap
hukum Jerman)”. Latar
seluruh warga negaranya.
belakangnya hampir sama
Negara hukum bukan hanya untuk penguasa atau
dengan teori jaminan atas
golongan tertentu saja, tetapi untuk kesejahteraan
hak dan kebebasan).
rakyat di dalam Negara.

Teori tentang tujuan negara menjelma menjadi paham-paham atau ideology :


a. Teori fasisme
Fasisme berasal dari kata “ fascio” (kelompok politik). Dari kata tersebut timbul istilah Fascio de Cambattimento
(barisan tempur) yang dipraktekkan di Italia oleh Mussolini (1883-1945) yang memerintah dari 1922-1943. Secara
umum, Fasisme adalah system kediktatoran yang menempatkan Negara di tangan satu orang dan melarang setiap
oposisi atau perlawanan. Negara fasis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Adanya kediktatoran satu partai yang kaku. 5. Moralitas sering diabaikan demi mencapai tujuan Negara
fasis
2. Penindasan terhadap oposisi 6. Pengaturan ekonomi sangat sentarlistis
3. Menganut paham nasionalisme yang sempit 7. Tujuan negara fais adalah “Imperium Dunia”
4. Seluruh aspek kehidupan warga Negara diatur, dikontrol, dan sikendalikan secara ketat oleh pemerintah fasis yang
sentralistis
b. Teori individualisme
Muncul sebagai antiklimaks kekuasaan Monarki absolut (abad XVII dan XVIII). Pelopor paham individualisme
(liberalisme) dalam politik, antara lain ialah John Locke,Voltaire, Montesquieu, J.J. Rousseau dan Immanuel Kant. Para
tokoh ini selalu menyuarakan liberte, egalite fraternite. Mereka juga mengembangkan penikiran rasionalisme dan
humanisme sebagai buah dari “Revolusi Perancis“ dan “Revolusi Indrusti”. Individualisme dalam arti luas dapat
dikatakan sebagai perjuangan menuju kebebasan. Dalam bidang ekonomi paham ini dipelopori oleh Adam Smith
(Bapak Kapitalisme).
Secara politik, individualisme adalah paham yang mengajarkan bahwa Negara ada untuk individu bukan individu untuk
Negara. Menurut paham liberalisme Negara hanya berfungsi sebagai “ penjaga malam “ (nachwakerstaat), yaitu
sekedar menjaga keamanan dan ketertiban serta menjamin kebebsan individu yang seluas-luasnya dalam
meperjuangkan kehidupannya.
c. Teori sosialisme
Sosialisme berkembang secara luas di daratan Eropa ( terutama Eropa Timur), menyusul maraknya Revolusi Industri
sekaligus penghisapan ekonomi oleh kaum kapitalis / borjuis terhadap kaum buruh / proletariat. Karl Marx (Ekonom
dan Filsuf dari Prussia Jerman), terispirasi untuk mengembangkan dan memberi tanda revolusioner pada sosialisme.
Hasil dari revolusi itu adalah terciptanya sosialisme, dimana hak milik pribadi dan Negara dihapus, sarana-sarana
produksi dan distribusi dimiliki secara bersama-sama dan Negara tanpa kelas tercipta. Ia menyebut sosislaisme adalah
tahap transisi menuju komunisme.

9
Selama hidupnya, Marx tidak pernah menggeraklkan revolusi. Tetapi pengikutnya yaitu Lenin dan Stalin, yang
berhasil pada bulan Oktober sehingga disebut Revolusi Oktober/Revolusi Bolshevik-Lenin(yang kemudian dilanjutkan
oleh pengikutnya Stalin). Teman seperjuangan Karl Marx adalah Friedrich Engels.
d. Teori Integralistik
Paham ini melihat Negara dan warga Negara sebagai suatu keluarga besar. Menurut paham ini, Negara merupakan
susuna masyarakat yang integral, yang anggota-anggotanya saling terkait sehingga membentuk satu kesatuan yang
organis. Pelopornya adalah Benedictus De Spinozoa, Adam Muller dan Hegel.
Di Indonesia, paham ini pertama kali dikemukakan oleh Prof. Mr. Soepomo. Pada permulaan sidang BPUPKI (badan
penyelidik
usaha persiapan kemerdekaan Indonesia) pada tahun 1945. Menurut Soepomo,

B. SIKAP SEMANGAT KEBANGSAAN (NASIONALISME DAN PATRIOTISME)


DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA, DAN BERNEGARA
Setiap warga Negara dari suatu Negara, sudah barang tentu memiliki keterikatan emosional dengan Negara yang
bersangkutan sebagau perwujudan rasa bangga dan memiliki bangsa dan negaranya. Perasaan bangga dan memiliki
terhadap bangsanya, akan mampu melahirkan sikap rela berkorban untuk memperoleh dan mempertahankan
kemerdekaan serta kedaulatan Negara. Hal ini merupakan bentuk keterikatan kepada tanah air, adat-istiadat leluhur,
serta penguasa setempat yang menghiasi rakyat/warga setempat sejak lama atau disebut dengan ‘’semangat
kebangsaan’’
Semangat kebangsaan bagi setiap warga Negara, harus dapat di jadikan motivasi spiritual dan horizontal dalam
mencapai kemajuan dan kejayaan bangsa, menjaga keutuhan serta persaudaraan antar sesama. Dengan mengerti dan
memahami pentingnya semangat kebangsaan bagi setiap warga Negara, kita diharapkan mampu melahirkan jiwa
nasionalisme (cinta tanah air) dan patriotisme (rela berkorban).
1. Nasionalisme
Kata “nasionalisme” secara etimologis berasal dari kata “nasional” dan “isme” yaitu paham kebangsaan yang
mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air, memiliki rasa kebanggaan sebagai bangsa,
memelihara kehormatan bangsa. Menurut Ensiklopedi Indonesia, nasionalisme di artikan sebagai sikap politik dan
sosial dari kelompok-kelompok suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, bahasa dan wilayah serta
kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan demikian, merasakan adanya kesetiaan mendalam terhadap kelompok
bangsa itu. Nasionalisme juga dapat diartikan sebagai suatu ikatan antar manusia yang didasarkan atas ikatan
kekeluargaan, klan, dan kekuasaan.
a. Nasionalisme dalam arti sempit
Diartikan sebagai perasaan kebangsaan atau cinta terhadap bangsanya ynag tinggi atau berlebh-lebihan,
sehingga memandang bangsa lain lebih rendah (Chauvinisme). Misalnya di Italia (masa Benito Mussolini),
Jepang (masa Tenno Haika) dan Jerman (masa Hitler, yang mencanangkan Program Partai naziyang
berdasarkan nasionalisme sempit, rasisme (terutama antiYahudi), autoriterisme dan militerisme. Gerakan
ini bertujuan untuk merebut ruang hidup “lebensraum” bagi ras leluhur “herrenrasse”, serta pemulihan
harga diri dengan pemerintahan militer yang bersatu “Ein Reich, Ein Volk, Ein Fuhrer – Satu Negara, satu
bangsa dan satu pimpinan”)
b. Nasionaisme dalam arti luas
Adalah perasan cinta dan bangga terhadap tanah air dan bangsanya dengan tetap menghormati bangsa
lain karena merasa sebagai bagian dari bangsa lain di dunia. Dengan prinsip : kebersamaan, persatuan, dan
kesatuan, demokrasi atau demokratis.
Faktor pembentuk identitas nasional :
a. Faktor primordial; ikatan kekerabatan, asal usul daerah d. Faktor sejarah, asal usul dan pengalaman masa lalu
b. Faktor sakral; kesamaan agama e. Faktor Bhineka Tunggal Ika, bersatu dalam
perbedaan
c. Faktor tokoh; kepemimpinan seseorang yang disegani f. Faktor kelembagaan, adanya lembaga Negara
(pengatur)
Strategi pembinaan nasionalisme Indonesia
[

Mempersatukan potensi perbedaan bangsa Indonesia


Menghormati bendera kebangsaan
Menghormati dan menghayati isi dan makna lagu kebangsaan
Menghormati makna Lambang Negara RI

10
2. Patriotisme
Berasal dari kata “patriot” dan “isme”, merupakan sifat kepahlawanan atau jiwa pahlawan (Indonesia) atau
heroism dan patriotsm (Inggris), adalah sikap yang gagah berani, pantang menyerah, dan rela berkorban (harta,
jiwa/raga) demi bangsa dan Negara.

PENGERTIAN , FUNGSI DAN TUJUAN NKRI


Kata Indonesia berasal dari bahasa Yunani yaitu Indos (India) dan nesos (pulau). Jadi kata Indonesia berarti kepulauan
India atau kepulauan yang berada di wilayah India.
Tujuan NKRI terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu menjadi Negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
makmur, yang dipertagas dalam alinea IV :
Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

11
MARI BERLATIH !!!

Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat!


1. Yang dimaksud dengan zoon politicon adalah ….
2. Menurut F. Ratzel, yang dimaksud bangsa adalah ….
3. Fase pertumbuhan Negara yang dipimpin oleh “Primus Inter Pares” adalah …
4. Koloni adalah ….
5. Kata Indonesia berasal dari bahasa Yunani yaitu . . . dan . . . .
6. Peran serta warga Negara dalam pembelaan Negara tertuang dalam Batang Tubuh UUD 1945 pasal ….
7. Istilah Negara berasal dari bahasa Latin yaitu ….
8. Tokoh paham Fasisme adalah ….
9. Istilah lain dari nasionalisme secara sempit adalah ….
10. Contoh Negara yang terbetuk karena Anexatie …
11. Bangsa adalah pengertian politis dan historis adalah pengertian bangsa yang dikemukakan oleh ….
12. Yang dijuluki sebagai Bapak Kedaulatan Rakyat yaitu …
13. Tujuan Negara Indonesia tercantum di dalam pembukaan alinea …
14. Fungsi Negara yang dikenal dengan istilah “trias politica” dikemukakan oleh …
Lengkapilah tabel berikut !
1. Pengertian Negara
No Tokoh Pendapat
1 Aristoteles
2 George Jellineck
3 Max Weber
4 Roger F. Soltau
5 J. H. A. Logemann

2. Terjadinya Negara berdasarkan pendekatan teoritis


No Teori Penjelasan
1 KeTuhanan
2 Perjanjian Masyarakat
3 Kekuasaan
4 Hukum ALam

12
BAB 2
SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL

A. SISTEM HUKUM
1. Pengertian Sistem
a. Dalam KBBI
Sistem mengandung arti susunan kesatuan-kesatuan yang masing-masing tidak berdiri sendiri, tetapi berfungsi
membentuk kesatuan secara keselurahan.
b. W. J. S. Poerwadarminta
Sistem adalah sekelompok bagian (alat dan sebagainya), yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu
maksud.
c. Prof. Sumantri
Sistem adalah sekelompok bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud.
d. Drs. Musanef
Sistem adalah suatu sarana yang menguasai keadaan dan pekerjaan agar dalam menjalankan tugas dapat teratur,
atau suatu tatanan dari hal-hal yang saling berkaitan dan berhubungan sehingga membentuk suatu kesatuan dan
satu keseluruhan.

Unsur-unsur dalam sistem mencakup:


 Seperangkat komponene, elemen, bagian
 Saling berkaitan dan tergantung
 Kesatuan yang terintegrasi
 Memiliki peranan dan tujuan tertentu
 Interaksi antarsistem membentuk system lain yang lebih besar
2. Pengertian Hukum
a. Prof. Van Apeldoorn
Definisi hukum sangat sulit dibuat karena tidak mungkin mengadakan yangs esuai dengan kenyataan.
b. Prof. Mr.E.M.Meyers
Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan, ditujukan kepada tingkah laku manusia
dalam masyarakat, dan menjadi pedoman bagi penguasa Negara dalam melaksanakan tugasnya.
c. Drs.E.Utrecht,S.H.
Hukum adalah himpunan peraturan (perintah dan larangan) yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dank
arena itu harus ditaati oleh masyarakat itu.
d. S.M. Amin, S.H.
Hukum merupakan kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi, dengan tujuan mewujudkan
ketertiban dan pergaulan manusia.
e. J.C.T. Simorangkir,S.H. dan Woerjono Sastropranoto,S.H.
Hukum adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam
lingkungan masyarakat, yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, dan yang pelanggaran terhadapnya
mengakibatkan diambilnya tindakan, yaitu hukuman tertentu.
f. Leon Duguit
Hukum adalah aturan tingkah laku anggota masyarakat yang harus diindahkan sebagai jaminan kepentingan
bersama dan apabila dilanggar menimbulkan reaksi bersama.
g. O. Notoamidjojo
Keseluruhan aturan yang tertulis dan tidak tertulis yang bersifat memaksa, untuk kelakuan manusia dalam
berjenis pergaulan hidup dan masyarakat Negara.
3. Tujuan Hukum
Hukum mempunyai sifat mengatur dan memaksa. Adapun tujuan dibuatnya hukum menurut para ahli, sebagai
berikut :

No TOKOH/PAKAR PENDAPAT YANG DIKEMUKAKAN


Hukum itu mengabdi pada tujuan Negara, yang mendapatkan atau ingin mencapai
1. Prof. Subekti, S.H.
kemakmuran dan kebahagian pada rakyatnya
2. Van Apeeldoorn Mengatur pergaulan oleh hukum dengan melindungi kepentingan-kepentingan hukum
13
manusia tertentu (kehormatan, kemerdekaan jiwa, harta benda) dari pihak yang merugikan
Hukum itu semata-mata menghendaki “keadilan”. Isi hukum semata-mata harus ditentukan
3. Teori Etis
oleh kesadaran etis kita mengenai “apa yang adil dan apa yang tidak asil”
Hukum bertujuan semata-mata untuk mencapai keadilan sedangkan unsur-unsur keadilan
4. Oeny
ialah : “kepentingan daya guna dan kemanfaatannya”
Tujuan hukum adalah semata-mata untuk mewujudkan apa yang berfaedah bagi banyak
Bentham
5. orang. Dengan kata lain, “Menjamin kebahagian sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin
(Teori Utilitarianisme)
orang”
6. Prof. Y.Van Kant Tujuan hukum adalah untuk menjaga agar kepentingan tiap-tiap manusia tidak diganggu
Hukum bertujuan semata-mata untuk mencapai keadilan. Sebagai unsure keadilan, ada
7. Geny
kepentingan daya guna dan kemanfaatan
Ingin mengatur secara pasti hak dan kewajiban lembaga tertingi Negara, lembaga-lembaga
tinggi Negara, semua pejabat Negara, setiap warga Indonesia, agar semuanya dapat
Tujuan Hukum melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan tindakan-tindakan demi terwujudnya tujuan
8.
Nasional Indonesia nasional bangsa Indonesia, yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi oleh hukum,
cerdas, terampil, cinta dan bangga bertanah air Indonesia dalam suasana kehidupan makmur
dan adil berdasarkan falsapah Pancasila.

4. Sumber Hukum
Adalah segala yang menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan memaksa, yakni aturan-aturan yang pelanggarannya
dikenai sanksi yang tegas dan nyata. Sumber hukum dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Sumber hukum Material (Welborn) : keyakinan dan perasaan (kesadaran) hukum individu dan pendapat umum yang
menentukan isi atau meteri (jiwa) hukum.
b. Sumber hukum Formal (Kenborn) : perwujudan bentuk dari isi hukum material yang menentukan berlakunya hukum
itu sendiri. Macam-macam sumber hukum formal :
1). Undang-Undang
UU dalam arti material; peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang isinya mengikat secara umum. (UUD, TAP
MPR,UU)
UU dalam arti formal; setiap peraturan yang karena bentuknya dapat disebut Undang-undang. (Pasal 5 ayat (1))
2). Kebiasaan (hukum tidak tertulis); perbuatan yang diulang-ulang terhadap hal yang sama dan kemudian diterima serta
diakui oleh masyarakat. Dalam praktik pnyelenggaraan Negara, hukum tidak tertulis disebut konvensi.
3). Yurisprudensi; keputusan hakim terdahulu terhadap suatu perkara yang tidak diatur oleh UU dan dijadikan pedoman
oleh hakim lainnya dalam memutuskan perkara yang serupa.
4). Traktat; perjanjian yang dibuat oleh dua Negara atau lebih mengenai persoalan-persoalan tertentu yang menjadi
kepentingan Negara yang bersangkutan.
5). Doktrin; pendapat para ahli hukum terkemuka yang dijadikan dasar atau asas-asas penting dalam hukum dan
penerapannya.

Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan (TAP MPR No. III/MPR/2003)


1. UUD 1945; 5. Peraturan Pemerintah;
2. Ketetapan MPR RI; 6. Keputusan Presiden; dan
3. UU; 7. Peraturan Daerah
4. Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perpu);

14
5. Penggolongan Hukum
TERTULIS
WUJUD
TIDAK TERTULIS
P
LOKAL
E
RUANG NASIONAL
M
INTERNASIONAL
B
IUS CONSTITUTUM
A
WAKTU IUS CONSTITUENDUM
G
HUKUM ANTAR WAKTU
I
MATERIIL
CARA
A HUKUM TATA NEGARA
MEMPERTAHANKAN
FORMIL
N HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

H PUBLIK
HUKUM PIDANA

U
HUKUM ACARA
K ISI
HUKUM PERSEORANGAN
U
HUKUM KELUARGA
M PRIVAT
HUKUM KEKAYAAN
MEMAKSA
HUKUM WARIS
SIFAT

MENGATUR
6. Sanksi Hukum
Berdasarkan Pasal 10 KUHP, macam-macam sanksi pidana :
(1) Hukuman Pokok, terdiri dari : hukuman mati, hukuman penjara (hukuman seumur hidup, hukuman sementara
waktu), hukuman kurungan, dan
(2) Hukum tambahan, yang terdiri dari : pencabutan hak-hak tertentu, perampasan (penyitaan) barang-barang
tertentu, pengumuman keputusan hakim.
7. Perbedaan Hukum Pidana dan Hukum Perdata
a. Hukum Pidana
Pelanggaran terhadap norma hukum pidana pada umumnya segera disikapi oleh pengadilan setelah menerima
berkas polisi yang mengadakan penyelidikan dan penyidikan. Tindakan pidana (delik) yang sengaja disebut delik
doloes, sedangkan tindak pidana yang tidak disengaja disebut delik coelpa.
b. Hukum Perdata
Pelanggaran tehadap norma hukum perdata baru dapat disikapi oleh pengadilan setelah ada pengaduan dari pihak
yang merasa dirugikan. Di sini, ada pihak yang mengadu (penggugat) dan pihak yang diadukan (tergugat).
Perbedaaan Hukum Acara
Titik Perhatian
No Hukum Acara Perdata Hukum Acara Pidana
1. Inisiatif datang dari pihak yang dirugikan Inisiatif datang dari pihak penuntut umum
Pelaksanaan
(penggugat) (jaksa)

15
2. Penuntut adalah pihak yang dirugikan (penggugat), Jaksa sebagai penuntut umum yang memiliki
penuntutan dan berhadapan dengan tergugat wewenang atas nama Negara dan berhadapan
dengan pihak terdakwa
3. 1. Tulisan 1. Tulisan
2. Saksi 2. Saksi
Alat-alat bukti 3. Persangkaan 3. Persangkaan
4. Pengakuan 4. Pengakuan
5. Sumpah
4. Semua pihak mempunyai kedudukan yang sama, Jaksa mempunyai kedudukan yang lebih tinggi
Kedudukan
dan hakim bertindak sebagai wasit dan bersifat dari para terdakwa. Hakim aktif.
para pihak
pasif
5. Macam Hukum dapat berupa denda, atau hukuman Hukum berupa hukuman mati, penjara,
hukuman kurungan sebagai pengganti hukuman denda kurungan, denda dan hukuman tambahan

B. PERADILAN NASIONAL
Ketentuan umum undang-undang nomor 4 tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman menegaskan bahwa kekuasaan
kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelanggarakan peradilan guna menegakan hukum dan
keadilan berdasarkan pancasila, demi terselanggaranya Negara hukum republik Indonesia.
Berdasarkan pasal 1 undang-undang nomor 4 tahun 2004, kekuasaan kehakiman dilakukan oleh mahkamah agung
dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan sebagai berikut :
 Peradilan umum,
 Peradilan agama,
 Peradilan milliliter,
 Peradilan tata usaha Negara,dan
 Mahkamah Konstitusi
Merupakan salah satu lembaga Negara yang melakukan kekuasan kehakiman yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. MK memiliki Sembilan hakim
konstitusi (3 oleh MA, 3 oleh DPR dan 3 oleh Presiden) yang ditetapkan oleh Presiden, dan disyaratkan
harus memiliki interitas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasi konstitusi dan
ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pekabat Negara.
MK RI memiliki empat kewenangan, Sebagai berikut :
a. Menguji Undang-undang terhadap UUD 1945
b. Memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya diberikan UUD 1945
c. Memutus perselisihan tentang hasil Pemilu
d. Memutus pembubaran Partai Politik
Kewajiban MK adalah memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan atau Wakil Presiden menurut UUD 1945 sebelum pendapat tersebut dapat diusulkan untuk
memberhentikannya oleh MPR.
Fungsi MK, adalah sebagai berikut “
Pengawal Konstitusi
Menafsir Konstitusi
Pengawal Demokrasi
Pelindung hak konstitusional Warga Negara
 Badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman
Komisi Yudisial, yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai
kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabar serta
perilaku hakim. Anggota Komisis Yudisial diangkat dan diberhenyikan oleh Presiden dengan
persetujuan DPR.
Kepolisian, yang memegang kewenangan melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pidana,
Kejaksaan, yang memiliki kewenangan penyidikan dan penuntutan
Komnas HAM, yang memiliki kewenangan penyidikan dan penuntutan khusus untuk kasus
pelanggaran HAM
KPK, memiliki kewenangan penyidikan dan penuntutan khusus untuk kasus korupsi.

16
Berikut adalah susunan badan atau lembaga peradilan yang ada di Indonesia.

MAHKAMAH AGUNG

Pengadilan Tinggi Umum/Sipil Pengadilan Tinggi Militer Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Pengadilan Tinggi
Negara

Pengadilan Negeri Umum/Sipil Pengadilan Negeri Pengadilan Militer Pengadilan Tata Usaha
Negara

Berdasarkan bagan di atas, badan peradilan dapat diklasifikasikan berdasarkan tigkatannya, sebagai berikut:
a. Pengadilan Sipil, terdiri dari :
1). Pengadilan Umum
Adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya. (dalam UU RI No. 8
tahun 2004 tentang Perubahan atas UU RI No. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum).
Pengadilan Negeri (Berkedudukan di Kabupaten/Kota)
Pengadilan negeri adalah pengadilan tingkat pertama, yang pertama kali mengadakan sidang perkara dalam
lingkungan peradilan umum di wilayah hukum masing-masing (Kabupaten/Kota). Hakim disini, memeriksa fakta
dan menetapkan hukumannya.
Pengadilan Tinggi (Berkedudukan di Provinsi)
Pengadilan Tinggi adalah pengadilan yang mengadili perkara pada tingkat banding, hakim sudah tidak lagi
memeriksa fakta. Tetapi yang dinilai adalah penerapan hukum yang dilakukan oleh Pengadilan negeri.
Mahkamah Agung
Tugas Mahkamah Agung berdasarkan Pasal 24 ayat (1) adalah :
a. Mengadili Tingkat Kasasi
b. Menguji peraturan perundangan di bawah Undang-Undang
c. Wewenang lain yang diberikan Undang-Undang, yaitu :
Memeriksa dan memutus (1) sengketa kewenangan mengadili baik berdasarkan daerah maupun jenis
peradilannya (2) permohonan peninjauan kembali (PK) putusan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap.
2). Pengadilan Khusus
Pengadilan Agama
Adalah pengadilan khusus bagi umat Islam untuk memeriksa dan memutuskan perkara nikah, talak, rujuk,
waris, wakaf, hibah, dan wasiat. Lembaga yang termasuk dalam peradilan agama adalah : Pegadilan agama
(tingkat Permata) dan Pengadilan Tinggi Agama (tingkat banding)
Pengadilan Adat
Pengadilan Tata Usaha Negara (Administrasi Negara)
Adalah peradilan yang memiliki kewenangan mengadili perkara yaya usaha Negara, yaitu perkara gugatan
seseorang terhadap putusan pehabat tata usaha Negara yang merugikan dan tidak sesuai dengan hukum yang
berlaku.
Masalah-masalah yang menjadi jangkauan PTUN. Adalah sebagai berikut:
(1) Bid. social (gugatan atau permohonan terhadap keputusan administrasi tentang penolakan permohonan
suatu izin)
(2) Bidang Ekonomi (gugatan atau permohonan yang berkaitan dengan perpajakan, merk, agrarian, dsb)
(3) Bidang Function Publique, (gugatan yang berhubungan dengan status atau kedudukan seseorang)
(4) Bidang Hak Asasi Manusia, (gugatan yang berkaitan dengan pencabutan hak milik seseorang serta
penangkapan dan penahaan yang tidak sesuai dengan prosedur hukum.)
b. Pengadilan Militer, terdiri dari :
Adalah peradilan yang khusus mengadili perkara pidana dan tata usaha negara anggota militer Indonesia
1). Pengadilan Militer, merupakan peradilan tingkat pertama, untuk perkara pidana yang dilakukan oleh terdakwa
yang berpangkat kapten kebawah
2). Pengadilan Militer Tinggi, merupakan pengadilan tingkat banding untuk perkara yang diputus pada tingkat
pertama; juga merupakan pengadilan tingkat pertama untuk perkara pidana yang dilakukan oleh terdakwa yang
berpangkat Mayor ke atas dan gugatan sengketa tata usaha Negara militer.
3). Pengadilan Militer Utama, merupakan pengadilan tingkat banding untuk perkara pidana dan sengketa tata usaha
militer yang diputus pada tingkat pertama oleh pengadilan Militer tinggi.

17
4). Pengadilan Militer Pertempuran, merupakan pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam mengadili perkara
pidana yang dilakukan oleh perajurit di daerah pertempuran.

C. MENUNJUKKAN SIKAP YANG SESUAI DENGAN KETENTUAN HUKUM YANG BERLAKU


Sikap yang mendukung ketentuan hukum antara lain adalah sikap terbuka, sikap objektif, dan sikap mengutamakan
kepentingan umum. Adapun sikap yang sesuai dengan ketentuan hukum diantaranya adalah :
1. Memperkuat Budaya Hukum
Neburut L. Friedman (Amerika Serikat), Budaya hukum ini seperti oli pada sebuah mesin.
2. Peningkatan Kesadaran Hukum
3. Peningkatan Pelayanan dan Penegakan Hukum
D. UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA
1. Pengertian Korupsi
Kata “Korupsi”dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti penyelewengan atau penggelapan (Uang negara atau
perusahaan) dan sebagainya untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Oleh sebab itu, perbuatan korupsi
sesungguhnya selalu mengandung unsur “penyelewengan” atau dishonest (ketidakjujur). Sedangkan sesuai Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan
Nepotisme, disebutkan bahwa”korupsi” adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan yang
mengatur tentang tindak pidana korupsi.

2. Sebab-sebab Terjadi KKN


Faktor Manusia
Mentalitas aparat yang buruk
Kemampuan kerja aparat yang kurang memadai
Pendapatan aparat yang rendah
Kemiskinan keluarga
Faktor Lingkungan
Kehidupan politik yang berlandaskan pada sistem jaringan dan loyalitas politik dengan imbalan
Ada kecenderungan penguasa menuntut upeti dari rakyat
Kekuasaan yang memberikan kesempatan untuk mengembangkan praktik KKN
3. Akibat terjadinya KKN
Ekonomi
 Anggaran Negara membengkak
 Uang Negara ada yang hilang
 Kepercayaan investor baik dalam negeri maupun luar negeri kepada pemerintah semakin berkurang
 Pertumbuhan ekonomi terganggu
 Investasi yang dilakukan oleh pemerintah tidak efektif
 Kondisi ekonomi makro tidak stabil
Sosial Politik
 Keridakmampuan berbagai kebijakan menjawab permasalahan
 Munculnya kebijakan yang justru akan membebani masyarakat
 Kewibawaan pemerintah semakin berkurang
 Kebutuhan masyarakat semakin terabaikan
 Norma-norma dalam masyarakat semakin hilang
 Mekanosme pemerintahan semakin rusak
 Kekerasan politik semakin merajalela
 Sulit melakukan rekrutmen pejabat yang bersih
Budaya
 Profesionalisme kurang dihargai
 Kreativitas semakin berkurang
 Pola hidup konsumtif dan suka menempuh jalan pintas
 Rusaknya moral masyarakat
 Maraknya kekerasan yang terorganisir

18
4. Fenomena Korupsi di Indonesia
Fenomena umum yang biasanya terjadi di Negara berkembang termasuk Indonesia ialah, proses modernisasi belum
ditunjang oleh kemampuan sumber daya manusia pada lembaga-lembaga politik yang ada. Sementara di sisi lain,
institusi-institusi politik yang ada juga masih lemah. Lemahnya lembaga-lembaga politik tersebut banyak disebabkan
oleh mudahnya “oknum” lembaga tersebut dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan kelompok bisnis/ekonomi, Sosial,
keagamaan, kedaerahan, kesukuan, dan profesi serta kekuatan-kekuatan asing tertentu.
Pada kehidupan masyarakat yang mengalami proses perubahan, selalu muncul kelompok-kelompok sosial baru yang
ingin berpartisipasi dalam bidang politik, namun sesungguhnya banyak diantara mereka yang tidak mampu. Di
lembaga-lembaga politik, mereka (politikus instan) sering hanya ingin memuaskan ambisi dan kepentingan
kepribadiannya dengan dalih “kepentingan rakyat”. Oleh sebab itu, tidak jarang diantara mereka sering terjebak
pada ambisi pribadi dan kepentingan kelompok tertentu. Sebagai akibatnya, terjadilah runtunan peristiwa sebagai
berikut:
a. Partai-partai politik sering inkonsisten, artinya apa yang diperjuangkan dan menjadi misinya sering berubah-
ubah (pendirian dan ideology) dan “mudah dibeli” sesuai dengan kepentingan politik saat itu.
b. Munculnya ”oknum” pemimpin yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi dari pada kepentingan pribadi
dari pada kepentingan umum, sehingga kesejahteraan umum mudah dikorbankan.
c. Sebagian oknum pemimpin politik, partisipan dan kelompoknya, berlomba-lomba untuk mencapai “objek
politik” dalam bentuk keuntungan material dengan mengabaikan kebutuhan rakyat banyak sehingga terjadi
“kehampaan motivasi perjuangan.”
d. Terjadilah erosi loyalitas kepada Bangsa dan Negara, karena lebih menonjolkan dorongan pemupukan harta
kekayaan dan kekuasaan.
e. Di masyarakat, mereka sebagai kelompok Orang-orang Kaya Baru (OKB , nouveauxriches)
E. PERAN SERTA DALAM UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA
1. Upaya Pencegahan (Preventif)
a. Menanamkan aspirasi,semangat ,dan spirit nasional yang positif dengan mengutamakan kepentingan nasional,
kejujuran serta pengabdian pada bangsa dan negara melalui sistem pendidikan formal, non-formal, dan pendidikan
agama.
b. Melakukan sistem penerimaan pegawai berdasarkan perinsip achievement atau keterampilan teknis dan tidak lagi
berdasarkan norma ascription yang dapat membuka peluang berkembangnya nepotisme. (Rekruitmen pejabat
secara adil dan terbuka).
c. Para pemimpin dan pejabat selalu dihimbau untuk memberikan keteladanan, dengan mematuhi pola hidup
sederhana, dan memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi. (Pengawasan dari atasan terkait semakin
ditingkatkan)
d. Memiliki kelancaran layanan administrasi pemerintah, untuk para pegawai selalu diusahakan kesejahteraan yang
memadai dan ada jaminan masa tua.
e. Menciptakan aparatur pemerintahan yang jujur dan disiplin kerja yang tinggi. (Peningkatan kualitas kerja)
f. Sistem budget dikelola oleh pejabat-pejabat yang mempunyai tanggung jawab etis tinggi; dibarengi sistem kontrol
yang efisien.
g. Kekuasaan herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan perorangan “pejabat” yang mencolok.
h. Berusaha untuk melakukan reorganisasi dan rasionalisasi organisasi pemerintahan, melalui penyederhanaan jumlah
departemen beserta jawatan dibawahnya.
i. Keterlibatan media massa dalam upaya mengurangi terjadinya KKN
j. Pembentukan UU dan lembaga yang mempersempit terjadinya KKN
2. Upaya Penindakan (Kuratif/Refresif):
Dilakukan kepada mereka yang terbukti melanggar dengan diberikan peringatan, pemecatan tidak hormat, dan
dihukum pidana. Bebrapa contoh penanganan kasus :
a. Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk Ple Rostov Rusia milik Pemda NAD (2004)
b. Menahan konsul jenderal RI di Johor Baru, Malaysia, EM. Ia diduga melakukan pubngutan liar dalam pengurusan
dokumen keimigrasian
c. Dugaan korupsi dalam proyek program pengadaan BUsway pada pemda DKI Jakarta (2004)
d. Dugaan penyalahgunaan jabatan dalam pembelian tanah yang merigiksn keuangan Negara Rp. 10 Miliyar lebih
(2004)
e. Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment dan placement deposito dari BI kepada PT Texmaco
Group melalui Bank BNI (2004)
Adapun upaya penindakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
19
1. Pelaku KKN ditindaj tegas dan adil
2. Pemberian hukuman sosial kepada pelaku KKN
3. Menekankan kepada pemerintah dan lembaga penegak hukum untuk segera memproses secara hukum
terhadap pelaku KKN
3. Upaya Edukasi Masyarakat/Mahasiswa
a. Memiliki rasa tanggung jawab
b. Tidak bersikap apatis dan acuh tak acuh
c. Melakukan kontrol sosial
d. Membuka wawasan seluas-luasnya
e. Mampu memposisikan diri sebagai subjek pembangunan
4. Upaya Edukasi LSM
a. Indonesia Corruption Watch (ICW) adalah sebuah organisasi non pemerintah yang mempunyai misi untuk
mengawasi dan melaporkan kepada public mengenai aksi korupsi di Indonesia,
b. Transparancy International (TI) adalah sebuah organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi
politik.
5. Peran serta masyarakat dalam pemberantasan korupsi di Indonesia
 Kontrol sosial oleh lembaga Negara
 Kontrol sosial oleh lembaga masyarakat
 Kontrol sosial oleh masyarakat bersama media massa
 Kontrol sosial oleh media massa

MARI BERLATIH !!!

Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang tepat!


1. Sistem adalah sekelompok bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Hal itu diungkapkan
oleh ….
2. Welborn adalah istilah lain dari sumber hukum . . . .
3. Hukuman mati termasuk hukuman . . . .
4. Doktrin adalah . . . .
5. Tokoh yang terkenal dengan trias politica adalah . . . .
6. Yang memegang kekuasaan legislative adalah . . . .
7. Berdasarkan isinya hukum dibagi menjadi dua yaitu . . . dan . . . .
8. Tindakan pidana yang disengaja disebut juga dengan . . . .
9. Peradilan sipil terdiri dari . . . dan . . . .
10. Masalah perceraian dan waris dapat diputuskan di pengadilan . . . .
11. Gugatan yang berhubungan dengan status atau kedudukan seseorang, merupakan jangkauan PTUN yaitu dalam
bidang . . . .
12. Kasasi diselesaikan oleh . . . .
13. Ketua Mahkamah Konstitusi yang pertama adalah . . . .
14. Korupsi adalah . . . .
Lengkapilah tabel berikut !
1. Lembaga Peradilan di Indonesia
No Lembaga Peradilan Berkedudukan di
1 Peradilan Umum
2 Peradilan Tinggi
3 Mahkamah Agung
4 Mahkamah Konstitusi
2. Akibat terjadinya KKN
No Bidang Akibat Terjadinya KKN
1. Ekonomi

20
2. Sosial

3. Politik

4. Budaya

3. Upaya Pemberantasan KKN


No Preventif Represif
1.
2.
3.
4.

21
BAB 3
PEMAJUAN, PENGHORMATAN, DAN PERLINDUNGAN HAM

A. PENGERTIAN DAN MACAM – MACAM HAM


1. Pengertian HAM
HAM merupakan hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai anugerah Tuhan yang melekat pada setiap diri
manusia sejak lahir. Istilah HAM dalam beberapa bahasa ; Perancis ( Droits de L’homme), Inggris ( Human Right),
Belanda (Menselijeke Rechten) dan Spanyol (Derechos del Hombre) . Adapun pengertian HAM dari beberapa tokoh
atau dokumen, dapat dipelajari sebagai berikut:
Secara harfiah
HAM ialah hak yang dimiliki oleh seseorang karena orang itu manusia. HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki
manusia sejak lahir.
John Locke ( Two Treaties on Civil Government )
HAM adalah hak yang dibawa sejak lahir yang secara kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat
diganggu gugat (bersifat mutlak). Karena manusia adalah makhluk social, hak – hak itu akan berhadapan dengan
hak orange lain, oleh sebab itu ;
 Hak asasi harus dikorbankan untuk kepentingan masyarakat, sehingga lahir kewajiban
 Hak asasi semakin berkembanga meliputi berbagai bidang kebutuhan, antara lain hak di bidang politik,
ekonomi, dan sosial budaya.
Koentjoro Poerbapranoto
Hak asasi adalah hak yang bersifat asasi. Artinya, hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratnya yang tidak
dapat dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci.
UU RI No. 39 tahun 1999 tentang HAM
Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk
Tuhan Yang maha Esa dan merupakan anugaerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh
Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabt
manusia.
Jan Materson (Anggota Komisi HAM PBB)
Human rights could be generally defines as those rights which are inherent in our nature and without which we
can not live as human being.
2. Macam – Macam HAM
Berdasarkan Deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights), hak asasi dapat dibagi menjadi dua,
yaitu ;
a. Hak sipil dan Politik, yang meliputi ;
Hak hidup Hak atas kebebasan berfikir
Hak untuk bebas dari penyiksaan Hak untuk berpendapat, berkumpul secara damai,
Hak kebebasan dan keamanan pribadi berserikat
Hak diperlakukan secara manusiawi Hak untuk ikut serta dalam pemerintahan
Hak kebebasan bergerak dan memilih tempat tinggal Hak untuk memilih dan di[ilih dalam Pemilu
Hak mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Hak untuk mendapat pelayanan atas dasar
hukum persamaan
b. Hak bidang ekonomi, sosial, dan budaya meliputi ;
Hak untuk menentukan nasibnya sendiri Hak menikmati standar tertinggi keshatan fisik dan
Hak persamaan bagi laki-laki dan perempuan untuk mental
menikmati hak-hak ekonomi, social dan budaya Hak atas pendidikan
Hak atas pekerjaan Hak untuk ambil bagian dalam kebudayaan, meikmati
Hak jaminan social manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan
Hak atas standar kehidupan yang layak penerapannya, memeperoleh manfat dari perlindungan
Hak bebas dari kelaparan atas kepentingan moral, dan material dari karya ilmu
pengetahuan, sastra, atau seni yang diciptakan.

22
Dari beberapa pendapat para ahli, dapat dikataka bahwa pada dasarnya HAM meliputi hak untuk hidup, hak untuk
merdeka, dan hak untuk memiliki sesuatu. Dalam perkembangan selanjutnya, terdapat macam-macam hak asasi yang
dapat dikelompokkan sebagai berikut ;
1). Hak asasi pribadi (personal rights), adalah hak asasi yang dimilki manusia secara pribadi; seperti hak untuk memilih
agama dan menjalankan ibadah, hak untuk menyatakan pendapat, dan hak kebebasan untuk bergerak , dan
sebagainya.
2). Hak asasi ekonomi (property rights), adalah hak asasi untuk memiliki sesuatu; seperti hak untuk memebli atau
menjual sesuatu dan hak untuk menyewakan sesuatu.
3). Hak asasi politik (political rights), adalah hak untuk ikut serta dalam pemerintahan; seperti hak untuk memilih
dalam Pemilu, hak untuk dipilih dalam Pemilu dan hak untuk berorganisasi.
4). Hak asasi dalam tata cara peradilan (procedural rights), adalah hak untuk memeperoleh perlakuan tata cara
peradilan dan perlindungan; seperti hak untuk mendapatkan perlakuan yang benar dalam penangkapan dan
penggeledahan.
5). Hak asasi social budaya (social and culture rights), adalah hak untuk memilih pendidikan dan mengembangkan
budaya; seperti hak memiliki pendidikan di SMA atau SMK.
5). Hak asasi mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan (rights of legal equality), seperti
hak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan hukum, dan memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan.
3. Sejarah HAM
Secara konseptual bermila dari pemikir Inggris yaitu John Locke (1632-1704), yang mengemukakan dalam teori
perjanjian masyarakat bahwa setelah Negara terbentuk maka terjadilah kesepakatanantara peguasa dengan
masyarakat pembentuk Negara, bahwa semua hak rakyat diserahkan kepada penguasa kecuali tiga hak yang
diberikan alam kepadanya yaitu hak hidup, hak milik dan hak kebebasan yang harus dilindungi oleh penguasa dalam
bentuk perlindungan konstitusinya.

Berikut sejarah HAM dalam berbagai sumber atau dokumen, diantaranya :


No Tahun Nama Dokumen Isi Keterangan
1. 2500 s.d. Hukum Hammurabi Perjuangan Nabi Ibrahim melawan kelaliman Raja Namrud yang memaksakan
1000 SM harus menyembahpatung (berhala). Nabi Musa memerdekakan bangsa Yahudi
dari perbudakan Raja Fir’aun (Mesir) agar terbebas dari kesewenangan raja
yang merasa dirinya sebagai Tuhan
2. 600 SM Di Athena (Yunani), Solon telah menyusun undang-undang yang menjamin
___ keadilan dan persamaan bagi setiap warganya. Untuk itu dia membentuk
Heliaie, yaitu Mahkamah Keadilan untuk melindungi orang-orang miskin dan
Majelis Rakyat atau Ecdesia. Karena gagasannya inilah Solon dianggap sebagai
pengajar Demokrasi. Perjuangan Solon, didukung oleh Pericles (tokoh
negarawan Athena).
3. 527 s.d. Corpus Luris Kaisar Romawi pada masa Flavius Anacius Justinianus menciptakan peraturan
322 SM hukum modern yang terkodifikasi dalam Corpus Luris sebagai jaminan atas
keadilan dan hak asasi manusia.
Pada masa kebangkitan Romawi telah banyak lahir filsuf terkenal dengan visi
tentang hak asasi seperti : Socrates dan Plato yang banyak dikenal sebagai
peletak dasar diakuinya hak-hak asasi manusia, serta Aristoteles yang
mengajarkan tentang pemerintahan berdasarkan kemauan dan cita-cita
mayoritas warga.
4. 30 SM s.d. Kitab Suci Injil Dibawa oleh Nabi Isa Almasih sebagai peletak dasar etika Kristiani dan ide
632 M pokok tingkah laku manusia agar senantiasa hidup dalam cinta kasih kepada
Tuhan maupun sesama manusia.
5. Kitab Suci Al-Qur’an Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, banyak mengajar tentang
toleransi, berbuat adil, tidak boleh memaksa, bijaksana, menerapkan kasih
saying, memberikan rahmat kepada seluruh alam semesta, dan sebagainya.
6. 15 Juni Magna Charta Pembatasan kekuasaan raja dan hak asasi manusia, antara lain mencakup ;
1215 (Masa Raja tidak boleh memungut pajak kalau tidak dengan izin dari Great Council
Pemerintahan Orang tidak boleh ditangkap, dipenjara, disiksa atau disita miliknya tanpa
Lockland di Inggris) cukup alasan menurut hukum negara.
7. 1629 Petition of Rights Pajak dan hak-hak istimewa harus dengan izin parlemen
23
(Masa Tentara tidak boleh diberi penginapan di rumah-rumah penduduk
Pemerintahan (warganegara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya)
Charles I di Inggris) Dalam keadaan damai, tentara tidak boleh menjalankan hukum perang
Orang tidak boleh ditangkap tanpa tuduhan yang sah
8. 1679 Hobeas Corpus Act Jika diminta, hakim harus dapat menunjukkan orang yang ditangkapnya
(Masa lengkap dengan alasana penangkapan itu. (Alasan penahanan seseorang
Pemerintahan harus disertai bukti yang sah menurut hukum)
Chaarles II di Inggris) Orang yang ditangkap harus diperiksa selambat-lambatnya dua hari setelah
ditangkap.
9. 1689 Bill of Rights Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen
(Masa Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat
Pemerintahan Pajak, Undang-undang dan pembentukan tentara tetap harus seizing
Willian III di Inggris parlemen
Hak warga negara untuk memeluk agama menurut kepercayaan masing-
masing
Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja
10. 04 Juli 1776 Declaration of Bahwa semua orang diciptakan sama. Mereka dikaruniai oleh Tuhan, hak-
Indefendence ( AS) hak yang tidak dapat dicabut dari dirinya ialah ; hak hidup, ha kebebasan,
dan ha mengejar kebahagian/ milik (life, liberty, and pursuit of happiness/
property).
Amerika Serikat dianggap sebagai Negara pertama yang mencantumkan
hak asasi dalam konstitusi (dimuat secara resmi dalam Constitution of USA
tahun 1787) atas jasa Presiden Thomas Jefferson.
11. 14 Juli 1789 Declaration des Pernyataan HAM dan warga Negara sebagai hasil Revolusi Perancis di
Droits de L’homme bawah pimpinan Jenderal Laffayete, anatara lain menyebutkan :
et du Citoyen Manusia dilahirkan bebas dan mempunyai hak-hak yang sama
(Perancis) Hak-hak itu adalah hak kebebasan (Iiberte), kesamaan (Egalite) dan
persaudaraan atau kesetiakawanan (fraternite),
12. Januari, Rights of Self Tahun-tahun berikutnya, pencantuman HAM dalam konstitusi diikuti oleh
1918 Determination Belgia (1831), Uni Soviet (1936), Indonesia (1945), dsb. Naskah yang
diusulkan oleh Presiden Theodore Woodrow Wilson memuat 14 pasal
dasar untuk mencapai perdamaian yang adil.
13. 1941 Atlantic Charter Muncul pada saat berkobarnya Perang Dunia II, kemudian disneutkan
(dipelopori oleh empat kebebasan (the four Freedoms) antara lain ;
Franklin D. Kebebasan berbicara, mengeluarkan pendapat, berkumpul, dan
Roosevelt) berorganisasi (Freedom of Speech)
Kebebasan untuk beragama dan beribadah (Freedom of Religion)
Kebebasan dari kemiskinan dan kekurangan (Freedom of Want)
Kebebasan seseorang dari rasa takut (Freedom of Fear)
14. 10 Universal Pernyataan sedunia tentang hak-hak asasi manusia yang terdiri dari 30 pasal.
Desember Declaration of Piagam tersebut menyerukan kepad semua anggota dan bangsa di dunia
1948 Human Rights untuk menjamin dan mengakui hak-hak asasi manusia dimuat di dalam
konstitusi Negara masing-masing.

B. PERAN SERTA DALAM UPAYA PEMAJUAN, PENGHORMATAN, DAN


PENEGAKAN HAM DI INDONESIA
1. Perkembangan HAM di Indonesia
Berbicara mengenai perkembangan hak asasi manusia di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari konstitusi yang
ada dan pernah berlaku di Indonesia, karena legalitas hak asasi manusia sangat tergantung pada kebijakan Negara
ada atau tidaknya mengatur hak asasi manusia. Pada waktu penyusunan Undang-Undang Dasar 1945 sudah ada
perdebatan tentang hak asasi manusia harus masuk atau tidak dalam UUD 1945.
Jika kita meneliti UUD 1945, maka sesungguhnya telah banyak memuat pasal tentang hak asasi manusia.
Artinya para penyusun UUD 1945 telah menyadari betapa pentingnya hak asasi manusia dalam kehidupan
berbangsa dan berNegara, namun karena keterbatasan waktu dalam penyusunan UUD 1945, maka uraian rinci
tentang hak asasi manusia tidak mungkin dengan mengingat UUD 1945 bersifat singkat, supel dan fleksibel.

24
Dalam sejarah politik dan ketatanegaraan Republik Indonesia, pada waktu Indonesia memberlakukan
Konstitusi RIS 1949, hak-hak asasi manusia juga dimasukan dalam konstitusi. Demikian pula, waktu Indonesia
memberlakukan UUD Sementara 1950, hak asasi manusia juga dimuat dalam UUD Sementara 1950. Namun setelah
Dektrit Persiden 5 Juli 1959, Presiden Soekarno kembali memberlakukan UUD 1945. Pada era Presiden Soekarno,
konvensi mengenai hak asasi manusia yang telah disyahkan adalah :
 UU No. 68 Tahun 1958 tentang Hak Politik Wanita
 UU No. 18 Tahun 1956 tentang Organisasi Buruh
 UU No. 80 Tahun 1957 tentang Pengupahan bagi laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya
Bergantinya rezim Soekarno ke Soeharto ada upaya penegakan dan penghormatan terhadap hak asasi
manusia, melalui Ketetapan MPRS No. XIV/MPRS/1966 dibentuk panitia ad hoc yang kemudian berhasil menyusun
Rancangan Piagam HAM dan Hak serta Kewajiban Warga Negara. Tetapi panitia ad hoc tersebut tidak membahas
dalam sidang Umum MPRS tahun 1968 karena lebih mementingkan pembahasan berkaitan dengan peristiwa
pemberontakan G 30 S/PKI. Pada rezim Soeharto ada beberapa konvensi dan kebijakan yang diambil sebagai wujud
penegakan dan penghormatan hak asasi manusia, antara lain :
 UU No. 7 Tahun 1984 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan
 Keputusan presiden No. 43 Tahun 1993 yang menentang apartheid dalam olahraga
 Keputusan presiden No. 36 Tahun 1990 tentang hak anak.
Pada era rezim Habibie, penghormatan dan pemajuan hak asasi manusia telah menemukan momentumnya
dimana MPR telah merumuskan dengan ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Disamping
itu ada beberapa konvensi tentang hak asasi manusia yang disahkan, antara lain :
 UU No. 5 Tahun 1999 yang menentang penyikasaan dan perlukan kejam lainnya
 UU No. 29 Tahun 1999 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial
 Keputusan Presiden No. 83 Tahun 1998 tentang kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi
 UU No. 19 Tahun 1999 tentang penghapusan kerja paksa
 UU No. 8 Tahun 1999 tentang kebebasan menyatakan pendapat
 UU No. 39 Tahun1999 tentang Hak Asasi Manusia
 UU RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
Pada tanggal 15 Agustus 1998, Presiden Habibie meluncurkan Rencana Aksi Nasional HAM yang bertujuan
untuk memberikan jaminan bagi peningkatan pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia dengan
mempertimbangkan nilai adat istiadat, budaya dan agama. Untuk mencapai tujuan tersebut, ada 3 hal yang
dilakukan, yaitu :
 Persiapan pengesahan perangkat internasional di bidang HAM
 Deseminasi informasi dan pendidikan di bidang HAM
 Penentuan skala prioritas pelaksanaan HAM
Pada Masa Gus Dur, upaya pemajuan HAM lebih ditingkatkan dan mendapat perhatian cukup serius. Hal ini
dapat dilihat dari adanya :
 Upaya penyempurnaan Rencana Aksi Nasional HAM
 Pembentukan lembaga baru yaitu Mentri Negara Urusan HAM
 Dibentuk pengadilan Hak Asasi Manusia
 Dibentuk peraturan perundangan tentang perlindungan anak, penyiaran, ketanagakerjaan
 Dibentuk peraturan perundangan tentang pemberantasan tindak pidana terorisme
 Dibentuk badan perlindungan Swadaya masyarakat
 Di bentuk lembaga Komnas HAM
Pada masa pemerintahan Megawati, ada beberapa peraturan perundangan yang mengatur tentang HAM, yaitu
:
 UU No. 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak ekonomi, Sosial dan Budaya.
 UU No. 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Internasional Hak Sipil dan Politik
 UU No. 27 Tahun 2004 tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
2. HAM dalam UUD 1945
Pernyataan hak asasi manusia yang dituangkan kedalam pasal-pasal UUD 1945 terbagi menjadi 2, yaitu
penuangan bab khusus tentang hak asasi manusia dan penuangan pada bab atau pasal-pasal lainnya
Hak asasi manusia yang di tuangkan secar khusus pada bab XA tentang HAk Asasi Manusia, yang meniputi pasal
28A sampai dengan pasal 28 J. Di samping itu terdapat ketentuan hak asasi manusia di luar Bab tentang Hak Asasi
Manusia, yaitu bab X tentang Warga Negara dan Penduduk pada pasal 27 sampai dengan 32.
Rumusan Hak Asasi Manusia yang termasuk dalam UUD 1945 tersebut dapat di bagi dalam beberapa aspek,
yaitu hak asasi manusia yang berkaitan dengan:

25
1) Hidup dan kehidupan 7). Informasi dan komunikasi
2) Keluarga 8). Rasa aman dan perlindungan dari perlakuan yang
merendahkan
3) Pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi derajat dan martabat manusia
4) Pekerjaan 9). Kesejahteraan Sosial
5) Beragama dan menjalankan ajaran agama 10). Persamaan dan keadilan
6) Bersikap, berpendapat dan berserikat 11). Kewajiban menghargai hak orang lain
Selain hak-hak tersebut di ats, dalam UUD 1945 juga memuat hak-hak khusus, seperti : hak anak atas
kelangsungan hidup, timbuh, dan berkembang dan hak anak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Bahkan, dicantumkan hak-hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun, yaitu :
1) Hak hidup 5). Hak untuk tidak berbudak
2) Hak untuk tudak di siksa 6). Hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum
3) Hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani 7). Hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku
surut
4) Hak Bergama

3. UU RI No. 39 tahun 1999 tentang HAM


Bila ketentuan dalam pasal-pasal UU No. 39 tahun 1999 dikaji secara mendalam, maka dapat ditemukan
macam-macam hak asasi manusia sebagai berikut :
1) Hak untuk hidup 6). Hak atas rasa aman
2) Hak keluarga dan melanjutka keturunan 7). Hak atas kesejahteraan
3) Hak mengembnagkan diri 8). Hak turut serta dalam pemerintahan
4) Hak memperoleh keadilan 9). Hak wanita
5) Hak atas kenenasan pribadi 10). Hak anak
Disisi lain, setiap hak assasi manusia seseorang menimbulakn kewajiban dasar dan tanggung jawab untuk
menghormati hak asasi orang lain secara timbale balik serta menjadi tugas pemerintah untuk menghormati,
melindungi, menegakkan, dan memajukannya. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib
tunduk kepada pembatasan yang di tetapkan undag-undang dengan maksud untik menjamin pengakuan serta
penghormatan atas hak dan kebebasan.

4. Peran serta dalam Upaya Penegakan HAM di Indonesia


Beberapa faktor yang mempengaruhi upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia adalah:
 Sosialisasi hak asasi manusia
Pendidikan public harus dijalankan, masyarakat harus diberikan peyuluhan sehingga pemahaman tentang hak asasi
manusia itu benar. segala pelanggaran jangan dikaitkan dengan hak asasi manusia harus dipisahkan dengan
pelanggaran kriminal murni.
 Efektifitas penegasan hak asasi manusia
Penegakan hukum sebagai operator di lapangan harus memiliki komitmen moral yang jelas,khususnya terkait
dengan hak asasi manusia. Dalam menjalankan tugasnya harus bersifat obyektif dan hanya berpihak pada
kebenaran.
 Fungsi lembaga pengontrol
Komnas HAM dan LSM adalah suatu lembaga pengontrol penegakan hak asasi manusia yang independen yang
memiliki eempat fungsi yaitu
1. Fungsi pemantau
2. Fungsi mediasi
3. Fungsi pendidikan dan penyuluhan
4. Fungsi pengkajian dan penelitian
Berdasarkan UU No.39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia dijelaskan bahwa, setiap orang, kelompok,
organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau lembaga kemasyarakatan lainnya
berhak berpartiaipasi dalam prlindungan, penegakan dan pemajuan hak asasi manusia. Partisipasi tersebut
dapat dilakukan dalam bentuk:
a. Menyampaikan laporan atas terjadinya pelanggaran hak asasi manusia kepada komnas HAM
b. Mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkaitan dengan HAM kepada komnas HAM
c. Melakukan penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia
d. Bersama dengan lembaga atau pemerintah melakukan sosialisasi

26
5. Contoh Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia
Kasus yang sudah diajukan ke sidang pengadilan
No Nama Kasus Tahun Korban Peristiwa Penyelesaian
1. Peristiwa Tanjung 1984 74 Penyerangan terhadap massa yang Pengadilan HAM ad hoc
Priok berunjuk rasa Jakarta tahun 2003-2004
2. Penculikan Aktivis 1984- 23 Pnghilangan secara paksa oleh Militer Pengadilan Militer untuk
1998 1998 terhadap para aktivis pro-demokrasi anggota tim mawar
3. Kasus 27 Juli 1996 1.678 Penyerbuan kantor PDI Pengadilan Koneksitas 2002
4. Penembakan 1998 31 Penembakan aparat terhadap Pengadilan Militer bagi pelaku
Mahasiswa Trisakti mahasiswa yang sedang berunjuk rasa lapangan
5. Kerusuhan Timor- 1999 97 Agresi Militer Pengadilan HAM ad Hoc
Timur Pasca Jajak Jakarta tahun 2002-2003
Pendapat
6. Peristiwa Abepura, 2000 63 Penyisiran membabi buta terhadap Pengadilan HAM di Makasar
Papua pelaku yang diduga menyerang
Mapolsek Abepura

Kasus yang belum tersentuh proses hukum


No Nama Kasus Tahun Korban Peristiwa
1. Pembantaian 1965- 1.5 jt Lorban sebagian besar adalah anggota PKI atau ormas yang berafiliasi
massal 1965 1970 dengan PKI, sebagian besar dilakukan di luar proses hukum yang sah
2. Kasus-kasus di 1966 Ribuan Operasi instensif dilakukan TNI untuk menghadapi OPM. Sebagian lagi
Papua berkaitan dengan masalah penguasaan sumber daya alam antara
perusahaan tambang internasional, aparat pemerintah menghadapi
penduduk lokal

No Nama Kasus Tahun Korban Peristiwa


3. Kasus Timor-Timur 1974- Ratusan Dimulai dari agresi militer TNI (Operasi Seroja) terhadap
Pasca Referendum 1999 Ribu pemerintahan Fretelin yang sah di Timor-Timur. Sejak saat itu
Timor-Timur selalu menjadi daerah operasi militer rutin yang
rawan terhadap tindak kekerasan aparat RI
4. Kasus-kasus di Aceh 1976- Ribuan Semenjak dideklarasikannya GAM Hasan Di Tiro, Aceh selalu
pra DOM 1989 menjadi daerah operasi militer dengan intensitas kekrasan yang
tinggi
5. Penembakan 1982- 1.678 Korban sebagian besar tokoh criminal, residivis, atau mantan
Misterius (Petrus) 1985 criminal. Operasi ini bersifat illegal dan dilakukan tanpa identitas
institusi yang jelas
6. Kasus Marsinah 1995 1 Pelaku utamanya tidak tersentuh, sementara orang lain dijadikan
kambing hitam. BUkti keterlibatan militer dibidang perburuhan
7. Kasus dukun santet 1998 Puluhan Adanya pembantaian terhadap tokoh masyarakat yang dianggap
di Banyuwangi dan ditusuh dukun santet
8. Kasus Bulukumba 2003 2 tewas, Insiden ini terjadi karena keinginan PT. London Sumatera untuk
puluhan melakukan perluasan area perkebunan mereka, namun
luka-luka masyarakat menilak upaya tersebut.

C. HAMBATAN DAN TANTANGAN DALAM UPAYA PEMAJUAN,


PENGHORMATAN, DAN PENEGAKAN HAM DI INDONESIA
1. Hambatan Penegakan HAM
a. Faktor kondisi social-budaya
1) Strfikasi dan status social; yaitu tingkat pendidikan, usia, pekerjaan, keturunan, dan ekonomi masyarakat
Indonesia yang multi kompleks (heterogen)
2) Norma adat atau budaya local kadang bertentangan dengan HAM, terutama jika sudah bersinggungan
dengan kedudukan seseorang, upacara-upacara sacral, pergaulan, dan sebagainya
3) Masih adanya konflik horizontal di kalangan masyarakat yang hanya disebabkan oleh hal-hal sepele

27
b. Faktor komunikasi dan informasi
1) Letak geografis Indonesia yang luas dengan luas, sungai, hutan, dan gunung yang membatasi komunikasi
antardaerah
2) Sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang belum terbangun secara baik yang mencakup seluruh
wilayah Indanesia
3) Sistem informasi untuk kepentingan sosialisasi yang masih sangat terbatas baik sumberdaya manusianya
maupun perangkat (software dan hardware)
c. Faktor kebijakan pemerintah
1) Tidak semua penguasa memiliki kebijakan yang sama tentang pentingnya jaminan hak asasi manusia
2) Ada kalanya demi kepentingan stabilitas nasional, persoalan hak asasi manusia sering diabaikan
3) Peran pengawasan legislative dan control social oleh masyarakat terhadap pemerintah sering diartikan oleh
penguasa sebagai tindakan ‘pembangkangan`
d. Faktor perangkat perundangan
1) Pemerintah tidak segera meratifikasikan hasil-hasil konvensi internasional tentang hak asasi manusia
2) Kalaupun ada, peraturan perundang-undangan masih sulit untuk diimplementasikan
e. Faktor aparat dan penindakannya (Law Enforcement)
1) Masih adanya oknum aparat yang secara intitusi atau pribadi mengabaikan prosedur kerja yang sesuai
dengan hak asasi manusia
2) Tingkat pendidikan dan kesejahteraan sebagian aparat yang dinilai masih belum layak sering membuka
peluang `jalan pintas` untuk memperkaya diri
3) Pelaksanaan tindakan pelanggaran oleh oknum aparat masih diskriminatif, tidak konsekuen, dan tindakan
peyimpangan berupa KKN (korupsi, kolusi, dan Nepotisme)
2. Tantangan Penegakan HAM
Tentang penegakan hak asasi manusia di Indonesia untuk masa-masa yang akan datang telah di gagas oleh
pemerintah Indonesia ( presiden Soeharto) pada saat akan menyampaikan pidatonya di PBB dalam Konferensi
Dunia ke-2 (Juni 1992)
Dengan judul “ deklarasi Indonesia tentang Hak Asasi Manusia”, dalam pidato itu ditandaskan beberapa prinsip,
yaitu:
Prinsip universalitas, yaitu bahwa adanya hak-hak asasi manusia bersifat fundamental dan memiliki keberlakuan
universal,
Prinsip Pembangunan nasionalm, yaitu bahwa kemajuan ekonomi dan social melalui keberhasilan
pembangunan nasional dapat membantu tercapainya tujuan meningkatkan demokrasi dan perlindungan HAM.
Prinsip Kesatuan HAM (Indivisibility), yaitu berbagai jenis atau kategori HAM, yang meliputi hak-hak sipil dan
politik, hak ekonomi, social, dan cultural, hak perseorangan, hak masyarakat/bangsa secara keseluruhan
merupakan satu kesatuan.
Prinsip objektivitas atau Non-Selektivitas, yaitu penolakan terhadap pendekatan/penilaian terhadap
pelaksanaan hak-hak asasi pada suatu Negara oleh pihak luar, yang hanya menonjolkan satu jenis HAM saja,
mengabaikan HAM lainnya.
Prinsip keseimbangan, yaitu keseimbangan anatara hak perseorangan dan masyarakat dan bangsa, sesuai
dengan kodrat manusia sebagai makhluk individual dan makhluk social sekaligus.
Prinsip Kompetensi Nasional, yaitu bahwa penerapan dan perlindungan HAM merupakan kompetensi dan
tanggung jawab nasional.
Prinsip Negara hukum, yaitu bahwa jaminan terhadap HAM dalam suatu negara dituangkan dalam aturan-
aturan hukum, baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.

3. Rencana Aksi Nasional HAM Indonesia (2004-2009)


Mengacu pada 6 (enam) program utama :
1). Pembentukan dan penguatan institusi pelaksanaan RANHAM
2). Persiaapan instrumen Hak Asasi Manusia Internasional,
3). Persiaapan harmonisasi peraturan perundang-undangan,
4). Diseminasi dan pendidikan Hak Asasi Manusia,
5). Penerapan norma dan standar Hak Asasi Manusia, dan
6). Pemantuan, evaluasi,dan pelaporan.

28
D. INSTRUMEN HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL HAM
1. Intrumen Hukum Internasional HAM
Perhatian dunia internasional terhadap Hak Asasi Manusia tampak meningkat setelah perang dunia II ( 1939-1945).
Besarnya jumlah korban diberbagai belahan dunia melahirkan perhatian yang mendalam terhadap peristiwa
penistaan terhadap nilai kemanusiaan dalam perang besar itu. Keprihatiaan tersebut kemudian mendorong
kesadaran umat manusia untuk mengedepankan pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.
Selanjutnya,tonggak sejarah bagi diakuinya prinsip-prinsip kebebasaan sipil dan hak asasi dalam konteks
internasional tampak nyata dibentuknya perserikatan bangsa-bangsa yang kemudian melahirkan deklarasi universal
Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of human rights) tahun 1948.
Beberapa instruman hukum tentang HAM internasional pasca-Universal Declaration of human rights tahun 1948,
yaitu
NO Tahun Uraian/keterangan

1. 1958 Lahirnya konvensi tentang hak-hak politik perempuan

2. 1966 Covenants of Human Rights telah diratifikasi oleh Negara-negara PBB, yang isinya mencakup:

 The international on civil and political rights, yaitu memuat hak-hakdan hak-hak politik (persamaan
hak antara pria dan wanita)

Optional protocol, yaitu adanya kemungkinan seorang warga Negara mengdukan pelanggaran HAM
kepada the human rights commite PBB setelah melalui upaya pengadilan di negaranya.

The international covenant of oconomi,social and cartular rights,yaitu berisi syarat-syarat dan nilai-
nilai bagi system demokrasi ekonomi,sosial, dan budaya.

3. 1976 Konvensi internasional tentang Hak-hak Khusus.

4. 1984 Konvensi tentang penghasupan segala bentuk Diskrimansi terhadap perempuan.

5. 1990 Konvensi tentang Hak-hak anak

6. 1993 Konvensi anti-aperheid Olahraga.

7. 1998 Konvensi menentang penyiksaan dan pengakuan atau hukuman lain yang kejam,tidak
manusiawi,dan merendahkan martabat manusia.

8. 1999 Konvensi tentang penghasupan segala bentuk Diskrimansi Rasial.

2. Peradilan INternasional HAM


Sebagai suatu nilai yang diakui secara universal,pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia
merupakan tanggung jawab bersama yang bersifat lintas negara. Artinya persoalan hak asasi manusia tidak
hanya merupakan persoalan suatu Negara secara tersendiri, melainkan menjadi persoalan bersama yang
mendapat perhatian internasional. Oleh karena itu, pelaku kejahatan kemanusiaan tidak dapat berdalih bahwa
karena dia adalah warga negaranya tertentu dan melakukan kejahatan di wilayah negara sendiri, dunia
internasional tidak berhak menuntutnya.
Bamyak kejahatan kemanusiaan yang merupakan pelanggaran HAM dilakukan oleh rezim otoriter di sebuah
negara. Biasanya pemerintah otoriter tidak hanya menguasai lembaga. Karena itu, seorang penguasa yang
otoriter biasanya dapat melakukan kejahatan kemanusiaan dengan leluasa tanpa tersentuh oleh lembaga
peradilan. Sementara, lembaga negara lainnya dan juga masyarakat tidak memiliki kekuatan yang menandai
untuk melakukan kontrol terhadap kekuasaannya.
Perlindungan terhadap hak asasi manusia internasional yang menggunakan instrument hukum adalah
mahkamah kejahatan internasional atau yang dikenal dengan International Criminal Court (ICC).
ICC dibentuk pada tanggal 1 juli 2002 berdasarkan pada aroma statute of the criminal (1998);berkedudukan di
Den Haag,Belanda; dan dapat mengadakan sidang di Negara lain bila diperlukan.
Wewenang ICC terbatas pada kejahatan-kejahatan yang paling serius dan menyangkut masyarakat
internasional, antara lain:
29
a. Genosida
yaitu tindakan atau perbuatan yang bertujuan untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau
sebagian bangsa , ras, etnis atau agama dengan cara:
 Membunuh anggota kelompok
 Mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat pada kelompok
 Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang mengakibatkan kemusnahan
 Mencegah kelahiran dalam kelompok
 Memaksa anak-anak untuk pindah kekelompok lain
b. Kejahatan terhadap kemanusiaan
yaitu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang sistematik kepada penduduk sipil, antara
lain
sebagai berikut :

Pembunuhan Penyiksaan
Perkosaan Penganiayaan kepada keiompok
Pemusnahan Penghilangan orang dengan paksa
Perbudakan Kejahatan apartheid
Penggusuran Tindakan lain yang tidak berperikemanusiaan
Perampasan kemerdekaan

3. Pelanggaran dan Proses Peradilan HAM Internasional


a. Pelanggaran hak asasi manusia
Beberapa kasus yang pernah terjadi tentang pelanggaran hak asasi manusia di dunia adalah sebagai berikut:
 Warga Negara diadili kasus Genosida irak
Frans van Anraat, dikenal dakwaan kejahatan perang dan genosida, dia adalah warga belanda pertama
yang diadili dalam kasus ini, yang dituduh menjual bahan kimia dari amarika serikat dan jepang kepada irak
yang digunakan untuk membuat gas syaraf dan gas mustard yang digunakan dalam perang melawan iran
tahun 1980-1988 dan terhadap warga kurdi irak.
Jaksa penuntut mengatakan PBB menggambarkan van Anraat seagai salah satu perantara penting dalam
pembelian bahan-bahan kimia oleh irak, namun dalam sebuah wawancara yang dilakukan tahun 2003, van
Anraat menyangkal tahu menahu soal serangan itu.
Laporan-laporan menyatakan saat itu dia member informasi kepada dinas rahasia Belanda mengenai
program senjata Saddam Hussein. Setelah irak diinvasi pada bulan Maret 2003, dia kembali ke Belanda dan
ditangkap pada bulan Desember 2004 di Amsterdam.
PBB mencurigai pengusaha itu adalah pemasok utama bahan-bahan kimia bagi rejim irak, dengan mengirim
26 kali ke Negara itu.
 Kasus Genosida, tokoh Khmer merah paling senior ditahan
Nuon Chea, tokoh Khmer merah paling senior, ditahan. Penahannannya adalah bagian dari tindak lanjut
penyelidikan kasus Genosida dikamboja beberapa tahun yang lalu. Dia akan diajukan kepengadilan genosida
yang mendapat dukungan PBB. Pengadilan akan dimulai pada tahun depan. Banyak yang menilai, Noun Chea
memiliki peran penting sebagai pembuat keputusan dalam rezim tersebut.
Rezim itu bermaksud menciptakan masyarakat agraria, namun ternyata malah menimbulkan kematian
lebih dari satu juta orang karena kelaparan, penyakit, kerja paksa, dan eksekusi. Noun Chea pun telah
berulang kali membantah ikut bertanggung jawab atas kematian ribuan warga Negara tersebut. Meski
demikian, pada awal tahun ini dia menyatakan kesiapannya untuk menghadapi pengadilan.
Terkait kasus genosida tersebut, tersangka yang ditetapkan baru satu orang. Penahanan telah dilakukan
atas Kang Kek leu alias Duch pada juli lalu. Duch dituduh menjadi kerala penjara S21 di Phnom Penh. Di
penjara itulah diperkirakan telah terjadi penyiksaan secara brutal lebih dari 17.000perempuan, pria, dan
anak-anak.
 Mengadili Jiang Zemin
Secara hukum, untuk pertama kalinya praktisi Falun Gong menuntut jiang zemin di pengadilan pederal
Chicago, Amerika pada 22 oktober 2002. Ia telah dituntut dibawah hukum HAM atas penganiayaan dan
kejahatan genosida (kejahatan pemunahan bangsa atau ras) yang dilakukannya.
Tiga alasan utama dalam tuntutannya terhadap Jiang Zemin adalah : penyiksaan kejam, kajahatan
kemanusiaan dan kejahatan genosida. Ketua organisasi itu, Philip Grand menyatakan jian zemin dengan
kepentingannya sendiri telah melakukan penindasan terhadap pengikut Falun Gong, dan juga telah

30
mendirikan lembaga yang khusus menangani kasus Falun Gong yakni “kantor 610” yang mirip gestaponya
Adolf Hitler. Karena itu ia harus bertanggung jawab atas kematian lebih dari 800 praktisi.
Para praktisi Falun Gong juga bergantung dengan pemerintah berbagai Negara mendesak mahkamah
internasional PBB untuk mengadili Jiang Zemin. Praktisi yang tersebar diseluruh dunia, saat ini sedang
mengumpulkan dan menata serangkaian bukti penindasan, meliputi kesaksian dari saksi mata, dengan jelas
menerangkan rincian dan kejadian sebagian pratiksi selama ditahan yang disiksa dan dipukul hingga
meninggal, foto-foto almarhum, dan sebuah daftar nama almarhum yang paling jelas yang terakhir ini
diketahui.
b. Proses peradilan hak asasi manusia internasional
Prose paradilan HAM internasionai meliputi beberapa tahapan, antara lain:
1) Pemeriksaan pendahuluan
Penuntut umum, setelah adanya laporan atau pengaduan dari salah satu Negara peserta mengenai suatu
kejahatan, kemudian melakukan evaluasi atas laporan tersebut. Apalagi penuntut umum menyimpulkan
bahwa ada dasar yang beralasan untuk menindak lanjuti dengan penyidikan kepada majelis pra-peradilan
dengan dilengkapi bahan-bahan yang telah dikumpulkan.
Dalam melakukan penyelidikan, tugas dan wewenang penuntut umum adalah:
 Mengumpulkan dan memeriksa bukti-bukti
 Meminta kehadiran dan bertanya kepada orang yang sedang diselidiki, korban, dan saksi
 Mengadakan kerjasama dengan setiap Negara atau organisasi antar pemerintah yang sesuai kewenangan
 Membuat persiapan atau kesepakatan yang tidak bertentangan dengan undang-undang untuk
mempermudah kerjasama dengan Negara, organisasi antar pemerintah atau orang
 Menjaga kerahasiaan dokumen dan informasi yang diperoleh
 Sebelum pemeriksa, penuntut umum boleh melanjutkan penyidikan dan dapat mengubah atau mencabut
setiap dakwaan.
2) Pemeriksaan pengadilan
Dalam pasal 61 International Criminal Court (ICC) ditentukan sebagai berikut:
 Pada waktu pemeriksaan, penuntut umum harus mendukung setiap dakwaan dengan bukti yang cukup
 Dalam proses pemeriksaan tersangka diperbolehkan:
- Menolak dakwaan
- Membantah bukti yang di ajukan oleh penuntut umum
- Mengajukan bukti
 Dalam pimpinan mengangkat majelis pemeriksayang bertanggung jawab terhadap pelaksana setiap
persidangan berikutnya
 Terdakwa harus hadir selama pemeriksaan.bila terdakwa hadir dipengadilan terus-menerus menunggu
persidangan, Majelis pemeriksa dapat mengeluarkan terdakwa dan membuat penetapan baginya untuk
mematuhi persidangan dan memberikan intruksi kepada pengacaranya dari luar sidang dengan teknologi
komunikasi
 Dalam mulai persidangan, majelis pemeriksa membacakan kepada terdakwa dakwaan yang sebelumnya
telah dikonfirmasikan oleh majelis pra-peradilan. Majelis pemeriksa memberi kesempatan kepada
terdakwa untuk menyatakan pernyataan bersalah atau tidak bersalah.
 Hakim ketua memberi petunjuk pelaksanaan persidangan termasuk menjamin bahwa persidangan
dilaksanakan secara adil dan tidak memihak
 Majelis pemeriksa memiliki wewenang untuk:
- Mengatur mengenai diterimanya suatu bukti
- Mengambil suatu tindakan yang perlu untuk menjaga ketertiban selama berlangsungnya pemeriksaan
 Bila majelis pemeriksa berpendapat bahwa diperlukan adanya fakta-fakta yang lebih lengkap untuk
kepentingan keadilan, terutama korban, maka dapat:
- Menuntut penuntut umum mengajukan bukti tambahan termasuk keterangan saksi-saksi
- Memerintahkan agar pemeriksaan dilanjutkan
 Putusan majelis pemeriksa harus berdasarkan evaluasi bukti dari seluruh persidangan
3) Upaya Banding
Berdasarkan pasal 74 International Criminal Court (ICC), putusan pengadilan dapat diajukan banding oleh
penuntut umum atau orang yang dihukum dengan alasan-alasan sebagai berikut:
 Kesalahan prosedur
 Kesalahan fakta
 Kesalahan hukum
 Alasan lain yang mempengaruhi keadilan

31
MARI BERLATIH !!!

Berilah tanda silang (x) di depan huruf a, b, c, d atau e pada jawaban yang benar !

1. Hak asasi manusia yang paling pokok yang harus 6. Di bawah ini tidak termasuk The Four Freedom . . . .
terpenuhi dahulu untuk dapat melaksanakan hak asasi a. Kebebasan beragama d. Kebebasan dari rasa takut
manusia yang lain adalah hak . . . . b. Kebebasan berpolitik e. kebebasan berpendapat
a. Beragama d. untuk memperoleh c. Kebebasan dari kekurangan dan kelaparan
perlindungan 7. Pengakuan HAM Sedunia disetujui oleh PBB pada tanggal . .
b. Hidup e. kebebasan dari rasa takut ..
c. Mendapat pekerjaan a. 17 Agustus 1945
b. 24 Oktober 1945
2. Yang menjadi tonggak perkembangan HAM adalah . . . c. 24 Oktober 1945
. d. 10 November 1948
a. Magna Charta d. Bill of Right e. 10 Desember 1948
b. Piagam HAM sedunia e. Declaration des 8. Piagam HAM Sedunia dikenal dengan . . . .
Droit a. Magna Charta
c. Declaration of Independent d L’home et Du b. Hobeas Corpus Act
Citoyen c. Declaration of Independence
d. Declaration des Droit d L’home et Du Citoyen
3. Hak untuk mendapatkan dan memilih jenis pendidikan e. Universal Declaration of Human Rights
termasuk dalam . . . . 9. Kejahatan Apartheid termasuk kejahatan . . . .
a. Rights of legal equality a. Genosida
b. Procuderal Rights b. Kemanusiaan
c. Property Rights c. Negara
d. Social and Culture Rights d. Barat
e. Personal Rights e. Biasa
10. Sikap bangsa Indonesia sebagai bangsa yang anti
4. International Criminal Court didirkan pada tanggal . . . . imprealisme dan kolonialisme ditegaskan dalam . . . .
a. 1 Juli 2000 a. Pembukaan UUD 1945
b. 1 Juni 2001 b. Penjelasan UUD 1945
c. I Juni 2002 c. Proklamasi Kemerdekan RI dan UUD 1945
d. 1 Juli 2002 d. PERPU
e. 1 Juni 2004 e. Ketetapan MPR

5. Hak Asasi Manusia diatur dalam UUD 1945 Bab . . . .


a. X b. XI c. XII d. XIII e. XIV

32
BAB 4
HUBUNGAN DASAR NEGARA DENGAN KONSTITUSI
A. Hubungan Dasar Negara dengan Konstitusi
1. Pengertian Dasar Negara
Dalam Ensiklopedi Indonesia, kata dasar (filsafat) berarti asal yang pertama. Istilah ini juga sering
dipakai dalam arti: Pengertian yang menjadi pokok dari pikiran-pikiran lain. Kata dasar bila dihubungkan
dengan Negara, berarti pedoman dalam mengatur kehidupan penyelenggaraan ketatanegaraan Negara
yang mencakup berbagai bidang kehidupan.
Setiap Negara yang merdeka dan berdaulat sudah barang tentu memiliki dasar Negara yang berbeda.
Perbedaan dasar Negara yang diterapkan didalam suatu Negara sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai
social-budaya, patriotism dan nasionalisme yang telah terkritalisasi dalam perjuangan untuk
mewujudkan cita-cita dan tujuan Negara yang hendak dicapainya.
Bagi bangsa Indonesia, dasar Negara yang dianut adalah Pancasila. Dalam tinjauan yudiris
konstitusional, Pancasila sebagai dasar Negara berkedudukan sebagai norma objektif dan norma
tertinggi dalam Negara, serta sebagai sumber segala sumber hukum sebagaimana tertuang di dalam
TAP. MPRS No. XX/MPRS/1996, jo. MPR No. V/MPR/1973, jo. TAP. MPR No. IX/mpr/1978. Penegasan
kembali Pancasila sebagai dasar Negara tercantum dalam TAP. MPR No. XVIII/MPR/1998.
2. Pengertian Konstitusi
Para ahli memiliki pandangan yang bervariasi mengenai “konstitusi” dan “Undang-Undang Dasar”.
Ada yang berpendapat sama, tetapi ada juga yang berpendapat berbeda. Kata konstitusi secara
etimologis berasal dari bahasa Latin (constitutio), Inggris (constitution), Prancis (constituer), Belanda
(constitutie), dan Jerman (Konstitution). Dalam pengertian ketatanegaraan, istilah konstirusi
mengandung arti undang-undang dasar, hukum dasar atau susunan badan.
Suatu konstitusi menggambarkan seluruh sistem ketatanegaraan suatu Negara, yaitu berupa
kumpulan peraturan yang membentuk, mengatur dan memerintah Negara. Peraturan-peraturan
tersebut ada yang berbentuk tertulis sebagai keputusan badan yang berwenang, ada pula yang
bersumber dari peraturan yang tidak tertulis seperti norma, kebiasaan adat istiadat, dan konvensi di
dalam masyarakat.
Dalam perkembangan politik dan ketatanegaraan, istilah konstitusi mempunyai dua pengertian yaitu
:
a. Pengertian Luas, “ Konstitusi” berarti keseluruhan dari ketentuan – ketentuan dasar atau hukum
dasar (droit constitunelle).
b. Pengertian Sempit, “ Konstitusi” berarti piagam dasar atau Undang – Undang Dasar ( Loi
constitunelle), yaitu suatu dokumen lengkap mengenai peraturan – peraturan dasar negara.
3. Substansi Konstitusi Negara
Konstitusi dapat dibedakan antara konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis. Suatu konstitusi
disebut tertulis bila merupakan satu naskah, sedangkan konstitusi tidak tertulis tidak merupakan satu
naskah dan banyak dipengaruhi oleh tradisi dan konvensi. Contoh, Negara Inggris yang konstitusi
hanya merupakan kumpulan-kumpulan dokumen.
Konstitusi atau hukum dasar, dapat pula dibedakan antara Hukum Dasar Tertulis, yaitu Undang-
Undang Dasar dan Hukum Dasar Tidak Tertulis, yaitu konvensi. Salah satu contoh konvensi di
Indonesia adalah pelaksanaan Pidato Kenegaraan Presiden menjelang oeringatan Proklamasi 17
Agustus.
a. Sifat dan fungsi konstitusi Negara
Sifat pokok konstitusi Negara adalah flexible (luwes) dan rigid (kaku). Konstitusi dikatakan
fleksibel, bila pembuat konstitusi menetapkan cara mengubahnya tidak berat, mempertimbangkan
perkembangan masyarakat sehingga mudah mengikuti perkembangan masyarakat sehingga mudah
mengikuti perkembangan zaman ( contoh Inggris dan Selandia Baru ). Konstitusi bersifat rigid apabila

33
pembuat konstitusi menetapkan cara perubahan yang sulit dengan maksud agar tidak mudah di ubah
hukum dasarnya ( contoh Amerika, Kanada, Jerman dan Indonesia).
Fungsi pokok konstitusi dan Undang-Undang Dasar adalah untuk membatasi kekuasaan
pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang.
Menurut Carl J. Friedrich, konstitusionalisme merupakan gagasan di mana pemerintah dipasang
sebagai suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat.
Setiap UUD memuat ketentuan – ketentuan sebagai berikut :
a. Organisasi negara c. Prosedur mengubah UUD
b. Hak Asasi Manusia d. Larangan untuk mengubah sifat tertentu dari
UUD
b. Kedudukan Konstitusi (Undang-Undang Dasar)
Meskipun Undang-Undang Dasar bukan merupakan salah satu syarat untuk berdirinya suatu
Negara beserta dengan penyelenggaranya yang baik, tetapi dalam perkembangan zaman modern
dewasa ini, Undang-Undang Dasar mutlak adanya. Sebab dengan adanya Undang-Undang Dasar
baik penguasa Negara maupun masyarakat dapat mengetahui aturan atau ketentuan pokok atau
dasar-dasar mengenai ketatanegaraannya.

c. Cara Pembentukan dan mengubah konstitusi (undang-undang dasar)


1. Cara Pembentukan
No. Dengan Cara Keterangan
1 Pemberian  Raja memberikan kepada warganya suatu UUD, kemudian ia
berjanji akan mempergunakan kekuasaannya itu berdasarkan
asas-asas tertentu dan kekuasaan itu akan dijalankan oleh suatu
badan tertentu pula.
 UUD itu timbul, biasanya karena raja merasa ada tekanan yang
hebat dari sekitarnya dan takut akan timbul revolusi. Dengan
adnya UUD ini, maka kekuasaan raja dibatasi .
2 Sengaja Dibentuk  Dalam hal ini, pembuatan suatu UUD dilakukan setelah negara itu
didirikan. Jadi, setelah suatu Negara didirikan, dibentuk UUD.
3 Cara Revolusi  Pemerintah baru yang terbentuk sebagai hasil revolusi ini,
kadang-kadang membuat suatu UUD yang kemudian mendapat
persetujuan rakyatnya atau pemerintah tersebut dapat pula
mengambil cara lain, yaitu dengan mengambil suatu
permusyawaratan yang akan menetapkan UUD itu.
4 Cara Evolusi  Perubahan-perubahan secara berangsur-angsur dapat
menimbulkan suatu UUD, dan secara otomatis UUD yang lama
tidak berlaku lagi.

2. Cara Mengubah

No Degan Cara Keterangan


1 Oleh Badan  Dilakukan oleh badan legislative, hanya harus dengan syarat
Legislatif/Perundangan yang lebih berat dari pada jika Badan Legislatif ini membuat
biasa undang-undang biasa (bukan Undang-Undang Dasar).
2 Referendum  Yaitu dengan jalan pemungutan suara diantara rakyat yang
mempunyai hak suara (pada masa Orde Baru, Referendum,
diatur di dalam UU No. 5 Tahun 1958).
3 Oleh Badan Khusus  Harus diadakan oleh suatu badan khusus yang pekerjaannya
hany untuk mengubah Undang-Undang Dasar saja.
4 Khusus di Negara  Perubahan UUD itu baru dapat terjadi jika mayoritas Negara-
Federasi negara bagian dari federasi itu menyetujui perubahan itu.

34
B. Kedudukan Pembukaan UUD 1945 Negara Kesatuan RI Tahun 1945
Pembukaan UUD mengandung nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh bangsa-bangsa yang beradab
diseluruh muka bumi. Kalimat di dalam Pembukaan UUD tersebut antara lain “Bahwa sesungguhnya
kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus
dihapuskan, karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”.
1. Kedudukan Pembukaan UUD 1945
Di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 termuat unsur-unsur seperti yang diisyaratkan
bagi adanya suatu tertib hukum yaitu “kebulatan dari keseluruhan peraturan hukum”. Adapun
syarat-syarat yang dimaksudkan mencakup hal-hal berikut :
a. Adanya kesatuan objek (penguasa) yang mengadakan peraturan-peraturan hukum. Hal ini
terpenuhi dengan adanya suatu Pemerintah Republik Indonesia
b. Adanya kesatuan asas kerohanian yang menjadi dasar keseluruhan peraturan hukum. Hal ini
terpenuhi oleh adanya dasar Filsafat Negara Pancasila
c. Adanya kesatuan daerah dimana keseluruhan peraturan hukum itu berlaku, terpenuhi oleh
penyebutan “seluruh tumpah darah Indonesia”
d. Adanya kesatuan waktu dimana keseluruhan peraturan hukum itu berlaku. Hal itu terpenuhi oleh
penyebutan “disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD Negara
Indonesia” yang berlangsung saat sejak timbulnya Negara Indonesia sampai seterusnya selama
Negara Indonesia ada.
Pokok kaidah negera yang fundamental menurut ilmu hukm tata Negara mempunyai beberapa
unsur mutlak antara lain :
a. Dari segi terjadinya, ditentukan oleh pembentuk Negara dan terjelma dalam suatu bentuk
pernyataan lahir sebagai penjelmaan kehendak pembentuk Negara untuk menjadikan hal-hal
tetentu sebagai dasar Negara yang dibentuknya
b. Dari segi isinya, memuat dasar-dasar pokok Negara yang dibentuk sebagai berikut :
1. Dasar tujuan Negara (tujuan umum dan tujuan khusus).
Tujuan umum, tercakup dalam kalimat untuk memajukan kesejahteraan umumdan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan social. Tujuan umum ini berhubungan dengan masalah hubungan antara bangsa
(hubungan luar negri) atau politik luar negri Indonesia yang bebas aktif.

Tujuan khusus, tercakup dalam kaimat “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
Indonesia, mencerdaskan ehidupan bangsa serta mewujudkan suatu keadilan social bagi
seluruh rajyat Indonesia. Tujuan ini bersifat khusus dalam kerangka tujuan bersam, yaitu
menuju masyarakat adil dan makmur.
2. Ketentuan diadakannya Undang-Undang Dasar yang tersimpul dalam kalimat, “Maka
disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia”.
3. Bentuk Negara, adalah “Republik yang berkedaulatan Rakyat”
4. Dasar filsafat Negara (asas kerohaian) pancasila yang tercakup dalam kalimat “….dengan
berdasar kepada : Ke-Tuhanan yang MAha Esa; Kemanusian yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyaaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan social bagi seluruh
rakyat Indonesia”.
Dengan demikian, pembukaan UUD 1945 telah memenuhi syarat sebagai pokok kaidah
Negara yang fundamental (fundamental norm). Dalam hubungannya dengan pasal-pasal UUD
1945 (Batang Tubuh UUD 1945).
UUD memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
a. Karena sifatnya tertulis dan rumusannya jelas, UUD 1945 merupakan hukum positif yang
mengikat pemerintah sebagai penyelenggara negara, dan juga mengikat setiap warga negara .
b. Membuat norma –norma, aturan – aturan serta ketentuan – ketentuan yang dapat dan harus
dilaksanakan secara konstitusional.
35
c. UUD 1945, termasuk pembukaan UUD 1945 yang dalam tertib hukum Indonesia merupakan
undang – undang yang tertinggi, menjadi alat kontrol norma – norma hukum yang lebih
rendah dalam hirarki tertib hukum Indonesia.

2. Makna yang Terkandung dalam pembukaan UUD 1945


Makna yang terkandung di dalam pembukaan UUD 1945 dapat dilihat pada matriks dibawah ini.
Alinea Isi/keterangan makna yang terkandung
Pertama Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah  Keteguhan bangsa Indonesia dalam membela
hak segala bangsa dan oleh sebab itu ,maka kemerdekaan melawan penjajah dalam segala bentuk.
penjajahan di atas dunia harus di hapuskan,  Pernyataan subjektif bangsa Indonesia untuk menentang
karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan menghapus penjajahan diatas dunia.
dan perikeadilan.  Pernyataan objektif bangsa Indonesia bahwa penjajasan
tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
 Pemerintah Indonesia mendukung kemerdekaan bagi
setiap bangsa Indonesia untuk berdiri sendiri.

Kedua Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan  Kemerdekaan yang dicapai oleh bangsa Indonesia
Indonesia telah sampailah pada saat yang merupakan hasil perjuangan pergerakan melawan
berbahagia dengan selamat sentosa penjajah.
mengagtarkan rakyat Indonesia ke depan  Adanya momentum yang harus dimanfaatkan untuk
pintu gerbang kemerdekaan Negara menyatakan kemerdekaan.
Indonesia  Bahwa kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan, tetapi
harus diisi dengan mewujudkan negara Indonesia yang
merdeka,bersatu , berdaulat,adil dan makmur.
Ketiga Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa  Motivasi spiritual yang luhur bahwa kemerdekaan kita
dan dengan gigorong oleh keinginan luhur, adalah berkat rahmat Alllah Yang Maha Kuasa
supaya berkehidupan kebangsaan yang  Keinginan yang didambakan oleh segenap bangsa
bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan Indonesia terhadap suatu kehidupan yang
dengan ini kemerdekaannya. berkesinambungan antara kehidupan material dan
spiritual, dan kehidupan dunia maupun akhirat.
 Pengukuhan pernyataan Proklamasi Kemerdekan.
Keempat Kemudian daripada itu untuk membentuk  Adanya fungsi dan sekaligus tujuan Negara Indonesia,
suatu Pemerintah Negara Indonesia yang yaitu :
melindungi segenap bangsa Indonesia dan A. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan sekuruh
seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk tumpah garaj Indonesia
memajukan kesejahteraan umum, B. Memajukab kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut C. Mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan
melaksanakan ketertiban dunia yang ketertiban dubia yang berdasarkan kemerdekaan,
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian perdamaian abadi, dan keadilan social
abadi dan keadilan social, maka disusunlah  Kemerdekaan bangsa Indonesia yang disusun dalam suatu
Kemerdekaan Kebangsan Indonesia itu Undang-Undang Dasar 1945
dalam suayu Undang-Undang Dasar Negara  Susunan/bentuk Negara Republik Indonesia
Republik Indonesia, yang berbentuk Undang  Sistem pemerintahan Negara, yaitu berdasarkan
Dasar, dalam suatu susunan Negear Republik kedaulatan rakyat (demikrasi)
Indonesia yang berkedaulatan rakyat degan  Dasar Negara Pancasila
berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebujaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu keadilan social bagi
seluruh rakyat Indonesia.
3. Makna Pembukaan UUD 1945 bagi Perjuangan Bangsa Indonesia
Undang-Undang Dasar merupakan sumber hukum tertinggi dari hukum yang berlaku di Indonesia,
sedangkan Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber dari motivasi dan aspirasi perjuangan serta tekad
bangsa Indonesia untuk mencapai tujuannya, Pembukaan juga merupakan sumber dari “cita hukum” dan
36
“cita moral” yang ingin ditegakan baik dalam lingkungan nasional maupun dalam hubungan pergaulan
bangsa-bangsa di dunia.
4. Pokok-pokok Pikiran dalam Pembukaan UUD 1945
Pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
a. Pokok pikiran Pertama: “Negara- begitu bunyinya – melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia untuk berdasar atas persatuan mewujudkan keadilan bagi seluruh
rajyat Indonesia”. Dalam Pembukaan ini, diterima aliran pengertian Negara persatuan, Negara yang
melindungi dan meliputi segenap bangsa seluuhnya. Jadi, Negara mengatasi segala paham golongan,
mengatasi segala paham perseorangan. Negara menurut pengertian “Pembukaan” itu menghendaki
persatuan menghendaki persatuan yang meliputi segenap bangsa Indonesia. Inilah suatu dasar
Negara yang tidak boleh dilupakan.
b. Pokok pikiran Kedua : “Negara hendak mewujudkan keadilan social bagi social bagi seluruh rakyat”
Hal ini merupakan poko pikiran keadilan social. Pokok pikiran yang hendak diwujudkan oleh Negara
bagi seluruh rakyat ini didasarkan pada kesadaran bahwa manusia Indonesia mempunyai hak dan
kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan social dalam kehidupan masyarakat.
c. Pokok pikiran Ketiga : “Negara yang berkedaulatan rajyat berdasar atas kerakyatan dan
permisyawaratn/perwakilan”. Oleh karena iti, sisten begara yang terbentuk dalam UUD 1945 harus
berdasar atas kedaulatab rakyat dan berdasar atas permusyawaratn/perwakilan. Memang aliran ini
sesuai dengan sifat “nasyarakat Indonesia”. Ini adalah pokok pikiran kedaulatan rakyat, yang
menyatakan bahwa kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat.
d. Pokok pikran Keempat : “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab”. Oleh karena itu, UUD 1945 harus mengandung isi yang
mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara untuk memelihara budi pekerti
kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Hal ini menegaskan
pokok pikiran Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Dengan demikian, apanila kita memperhatikan keempat pokok pikiran tersebut tampal bahwa
pokok-pokok pikiran ini tidak lain adalah pancaran dari dasar falsafat Negara Pancasila. Pokok-pokok
pikiran ini dijelmakan kedalam pasal demi pasal Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945.
5. Hubungan Pembukaan dengan Batang Tubuh UUD 1945
Pokok-pokok pikiran pembukaan UUD 1945, merupakan suasana kebatinan Undang-Undang Dasar
Negara Indonesia serta mewujudkan cita hukum yang menguasai hkum dasar Negara, baik yang tertulis
maupun tidak tertulis, dan pokok-pokok pikrab tersebut dijelmakan dalam pasal UUD 1945. Oleh karena
itu, dipahami bahwa suasana kebatinan UUD 1945 serta cita hukum UUD 1945 bersumber atau dijiwai
oleh dasar falsafat Pancasila. Inilah yang dimaksud dengan arti dan fungsi Pancasila sebagai Dasar Negara.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Pembukaan UUD 1945 mempunyai fungsi atau hubungan langsung
degan Batang Tubuh UUD 1945, karena Pembukaan UUD 1945 mengandung pokok-pokok pikiran yang
dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal di Batang Tubuh UUD 1945 tersebut. Pembukaan UUD 1945
yang merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, bahkan hal ini menjadi rangkaian kesatuan nilai
dan norma yang terpadu.
Batang Tubuh UUD 1945 terdiri dari rangkaian pasal-pasal merupakan perwujudan pokok-pokok
pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, yang tidak lain adalah pokok pikiran : Persatuan
Indonesia, Keadilan social, Kedaulatan Rakyat berdasar atas kerakyatan dan
permusyawaratan/perwakilan, dan Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan
beradab.
Pokok-pokok pikiran tersebut tidak laib adalah pancaran dari Pancasila yang telah nanpu nenberikan
emangat dan terpancang dengan khidmay dalam perangkat UUD 1945. Semangat (Pembukaan) pada
hakikatnya merupakan suatu rangkaian lesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kesatuan serta semangat
yang demikian itulah yang harus diketahui, dipahami, dan dihayati oleh setiap insan warga Negara
Indonesia.

37
6. Tata Urutan Peraturan Perundangan-Undangan yang Berlaku di Indonesia
TAP MPRS NO. XX/MPRS/ 1966 TAP MPR NO. III / MPR / 2000 UU RI No. 10 Tahun 2004 pasal 7
Tentang Sumber Tertib Hukum RI Tentang Tata Urutan Perudang- ayat 1, Tata Urutan Perudang-
Undangan Nasional Undangan Nasional
UUD 1945 UUD 1945 UUD 1945
TAP MPR TAP MPR UU / PERPU
UU / PERPU UU Peraturan Pemerintah
Peraturan Pemerintah PERPU Peraturan Presiden
Keputusan Presiden Peraturan Pemerintah Peraturan Daerah
Peraturan Pelaksana Keputusan Presiden
lainnya
Peraturan Daerah

C. Perbandingan Konstitusi pada Negara Republik Indonesia dengan Negara


Liberal dan Negara Komunis
1. Konstitusi Negara Republik Indonesia
Konsepsi Konstitusi Negara Indonesia bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945.
a. Mekenisme konstitusional Demokrasi Pancasila
Mekanisme pelaksanaan demokrasi Pancasila bersumber pada konstitusi atau Undang-Undang
Dasar 1945.Perihal mekanisme demokrasi pancasila telah tercantum di dalam penjelasan UUD 1945,
dan dijabarkan lebih lanjut dalam system pemerintahan Negara sebagai berikut :
1. Indonesia ialah Negara berdasar atas hukum ( rechstaat )
2. Indonesia menggunakan sistem konstitusional
3. Kekuasaan Negara yang tertinggi ditangan MPR
4. Presiden ialah penyelenggara pemerintahan Negara tertinggi dibawah majelis
5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat
6. Menteri Negara adalah pembantu Presiden ; Menteri Negara tidak bertanggung jawab kepada
Dewan Perwakilan Rakyat
7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas
b. Lembaga-lembaga Kenegaraan
Lembaga-lembaga kenegaraan sesuai dengan UUD 1945 (amandemen) adalah Majlis
Permusyawaratan Rakyat (pasal 2-3), Presiden (Pasal 4-16), Dewan Perwakilan Rakyat (Pasal 19-22 B),
Cadan Pemeriksa Keuangan (Pasal 23 E dan 23 F) dan Mahkamah Agung (Pasal 24 A)
Gambaran umum mengenal lemnaga-lembaga kemegaraan berdasarkan UUD 1945 (amandemen)
dapat dilihat dalam uraian dibawah ini.
a. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Tugas Pokok :
Pemegang kekuasaan Konstitutif, yang mencakup antara lain :
1. Mengubah dan menetapkan UUD (pasal 3 ayat 1)
2. Melantik Presiden dan/atau wakil Presiden (pasal 3 ayat 2)
3. Memberhentikan Presiden dan /atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UUD
(pasal 3 ayat 3)
b. Presiden
Presiden adalah penyelenggara kekuasaan pemerintahan Negara tertinggi dibawah MPR, yang
dalam melakukan kewajibannya dibantu oleh satu orang Wakil Presiden (pasal 4 ayat 2 UUD
1945)
38
Tugas pokok :
Pemegang kekuasaan Eksekutif (pelaksana undang-undang) yang mencakup :
a. Kepala Pemerintah
b. Kepala Negara
c. Panglima tetinggi
c. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Tugas Pokok :
Pemegang kekuasaan Legislatif (Pembuat UU) yang mencakup :
a. Memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang (pasal 20 ayat 1)
b. Membahasa dan menyetujui bersama rancangan undang-undang yang diajukan oleh
Presiden, dan
c. Memiliki fungsi legilasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan (pasal 20 A ayat 1)
d. Fungsi DPR dari sudut pandang ketatanegaraan, mencakup antara lain :
 Fungsi Legilasi atau pembuatan UU
 Fungsi kontrol
 Fungsi perwakilan
d. Badan Pemeriksa Keuangan
Tugas Pokok :
Pemegang kekuasaan eksaminatif/inspektif yang mencakup :
a. Menetapkan kebijakan atas tanggung jawab keuangan Negara, baik jangka panjang, jangka
menengah, maupun jangka pendek dan mengendalikan pelaksanaanya.
b. Melakukan perbendaharaan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
c. Menetapkan kebijakan tugas penunjangnya, baik jangka panjang, jangka menengah, maupun
jangka pendek.
e. Mahkamah Agung (MA)
Tugas Pokok:
Pemegang kekuasaan yudikatif (mengadili pelanggar Undang-Undang). Dalam pasal UU No.
14/1985, antara lain disebutkan :
a. Memeriksa dan memutus :
 Permohonan kasasi
 Sengketa tentang kewenangan mengadili
 Permohonan peninjau kembali putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap.
b. Memutus permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tingkat Banding atau Tingkat
Terakhir dari semua Lingkungan Peradilan.
2. Konstitusi pada Negara Liberal
Konsepsi pemikiran liberal (liberalism) di Negara-negara barat muncul sebagai antiklimaks dari
penguasa monarki absolute. Mereka gandrung menyuarakan liberte, egalite, dan fraternite. Dalam arti
luas Liberalisme adalah “usaha perjuangan menuju kebebasan”.
a. Konstitusi di Negara Inggris
Negara Inggris tidak mempunyai konstitusi tertulis ; oleh sebab itu, dianggap memudahkan
pemerintah untuk menyesuaikan tindakan-tindakan dan lembaga-lembaganya sesuai dengan
tuntunan zaman tanpa mengalami kesulitan dalam prosedurnya.
b. Mekanisme Konstitusional Demokrasi Parlementer
Ciri-ciri pemerintahan parlementer adalah sebagai berikut :
 Kekuasaan legislative (DPR/Parlemen) lebih kuat daripada kekuasaan eksekutif (Pemerintah =
Perdana Menteri)
 Mentri-mentri (cabinet) harus mempertanggung jawabkan semua tindakannya kepada DPR. Ini
berarti cabinet harus mendapat kepercayaan (mosi) dari parlemen.
 Program-program kebijakan cabinet harus disesuaikan dengan tujuan politik sebagiab besar
anggota parlemen. Bila cabinet melakukan penyimpangan terhadap program-program kebijakan

39
yang dibuat, anggota parlemen dapat menjatuhkan cabinet dengan memberikan mosi tidak
percaya kepada pemerintah.
 Kedudukan kepala Negara (raja, ratu, pangeran atau kaisar) hanya sebagai lambing atau symbol
yang tidak dapat di ganggu gugat.

c. Lembaga-lembaga Kenegaraan
Raja atau ratu sebagai pemegang tahta kerajaan hanya berfungsi dalam segi-segi pemerintah
yang bersufat seromonial (keupacaraan). Raja/ratu secara otomatis menduduki jabatan warisan
dalam Majelis tinggi.
a. Badan eksekutif
Terdiri dari raja/ratu yang tak dapat diganggu gugat (sinbolis), dan kekuasaan sesungguhnya ada
pada Perdaba Menteri.
Tugas Pokok :
Pemegangkekuasaan eksekutif ada pada perdana menteri yang mencakup antara lain:
 Memimpin cabinet yang para anggotanya telah dipilihnya sendiri
 Membimbing Majelis rendah
 Menjadi penghubung dengan raja/ratu
 memimpin partai mayoritas
b. Badan Legislatif
Parlemen terdiri dari dua kamar (bicameral), yaitu : House of Commons (Majelis Rendah) dan
House of Lord (Majelis Tinggi)
Tugas Pokok :
Parlemen pada system pemerintahan di inggris memiliki peran sebagai berikut :
 Menilai secara kontinu reekan-rekan seperti yang duduk di cabinet
 Mempersiapkan di bidang legislasi atas dasar kebijakan menteri
 Mengawasi pelaksanaan undang-undang
 Mentyatakan gagasan-gagasan politik
 Memaparkan argumentasi-argumentasi politik kepada para pemilih
3. Konstitusi pada Negara Komunis
Komunis tudak hanya merupakan system politik yang menjadi dasar bagi konstitusi di Republik
Rakyat Cina, tetapi juga mencerminkan suatu gaya hidup yang berdasarkan nilai-nilai tertentu, antara
lain :
 Gagasan monoisme (sebagai lawan dari pluralism)
Gagasan ini menolak adanya golongan-golongan di dalam masyarakat sebab dianggap bahwa setiap
golongan yang berlainan aliran pemikirannya merupakan perpecahan. Oleh sebab itu, persatuan
harus dipaksakan dan oposisi ditindas.
 Kekerasan di pandang sebagai alat yang sah guna mencapai komunsme
Pelaksanaan pemaksaan dipakai dalm dua tahap. Pertama, terhadap musuh diselenggarakan suatu
diktatur yang kejam dimana oposisi dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Kedua, bagi pengikutnya
sendiri yang kurang insaf, diimdoktrinasi secara luas, terutma ditujukan kepada angkatan muda.
 Negara merupakan alat untuk mencapai komunisme
Alat kenegaraan, seperti polisi, tentara, kejaksaan dipakai untuk diabadikan kepada pencapaian
komunisme (mobilization system). Campur tangan Negara sangat luas dan mendalam dibidang
politik, ekonomi, social, dan budaya. Di bidang hukum, tidak dipandang sebagai “a good in itself”
akan tetapi sebagai alat revolusi untuk mencapai masyarakat komunis.
a. Mekanisme konstitusional demokrasi rakyat (ala komunis)
Menurut istilah komunis, demokrasi rakyat adalah “bentuk khusus demokrasi yang memenuhi fungsi
diktatur proletar”. Bentuk khusus ini tumbuh dan berkembang di Negara-negara Eropa Timur
(sebelim runtuhnya Uni soviet tahun 1991) dan di Tiongkok (RRC). Khusus di Republik Rakyat Cina,
sebagai hasil perkembangan politik yang amat kaku dan penuh ketegangan antara golongan komunis
dan golongan antikomunis, pada akhirnya hany diakui adanya satu partai dalam masyarakat
(golongan-golongan lain disingkirkan dengan paksa).
40
b. Lembaga-Lembaga kenegaraan
Republik Rakyat Cina berdiri pada tahun 1949 dengan menumbangkan Dinasti Ching. tetapi baru pada
tahun 1954, secara mapan Konstitusi Cina ditetapkan dalam Kongres Rakyat Nasional yang menyebutkan
antara lain “bahwa demokrasi rakyat dipimpin oleh kelas pekerja dalam hal ini dikelola oleh partai
Komunis Cina sebagai inti kepemimpinan pemerintahan”
1. Ketua PKC dan Sekjen PKC
Organ administartif utama (Dewan Negara) yang terdiri dari Perdana Menteri (PM), wakil-wakil PM,
dan keala-kepala dari semua lementerian dan komisi.
Tugas pokok :
Pemegang Kekuasaan Eksekutif yang mencakup :
a. Mengatur mengendalikan seluuh struktur administrative dan bersama-sama degan badan-badan
tertinggi PKC menyelenggarakan pemerintahan Cina.
b. Berperansebagai penerjamah keputusan-keputusan partai kedalam tindakan-tindakan Negara
menjaikannya sebagai lembaga yang dibentuk oleh konstitusi.
2. Konggres Rakyat Cina (KRC)
Disebut organ wewenang Negara tertinggi dan pemegang wewenang legislative satu-satunya dalam
Negara.
Tugas Pokok :
a. Forum untuk mempelajari, mendukung, dan mengesahkan tindakan-tindakan pimpinan pusat
b. Melambangkan dukungan rakyat dan menghormati wakil-wakil terpilih yang secara politik disukai.
3. Mahkamah Rakyat Tertinggi dan Kejaksaan Rakyat Tertinggi
Bagian terakhir kerangka kerja pemerintah pusat.
Tugas Pokok :
Pemegang kekuasaan Yudikatif, yang mencakup antara lain :
a. Kejaksaan mempunyai kekuasaan yang bebas, termasuk penyidikan, penuntuan, dan pengawasan
secara umum terhadap semua organ Negara, termasuk pengadilan-pengadilan.
b. Kekuasaan Yudikatif dijalankan secara bertingkat kaku oleh pengadilan rakyat
c. Pengadilan Rakyat bertanggung jawab kepada kongres rakyat disetiap tingkatan. Namun karena
perwakilan rakyat tersebut didominasi oleh Partai Komunis Cina, demokrasi masih sulit terwujud,
kendatipun usaha kea rah perubahan dilakukan terus menerus dalam rangka reformasi besar-
besaran yang dirancangkan mahasiswa dalam rangka mebghadapi era globalisasi dewasa ini.
D. Sikap Positif terhadap Konsitusi Negara
Sebagai warga Negara, apa yang seharusnya dilakukan terhadap konstitusi Negara yang berlaku? Tentu
saja kita harus “taat asas” dan “taat hukum”.
Fungsi pokok Konstitusi atau Undang-Undang Dasar adlah untuk membatasi kekuasaan pemerintah
sedeikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang.
Agar Konstitusi Negara dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan dasar-dasar pemahaman taat
asas dan taat hukum, maka sangat diperlukan sikap positif dari setiap warga Negara sebagai berikut :
a. Bersikap Terbuka
Sikap terbuka atau transparan merupakan sikap apa adanya berdasarkan apa yang dilihat, didengar,
dirasakan, dan dilakukan. Sikap terbuka sangat penting dilakukan sebagai upaya menghilangkan rasa
curiga dan salah paham sehingga dapat dipupuk rasa saling percaya dan kerja sama guna
menumbuhkan sikap toleransi dan kerukunan hidup. Dengan sikap terbuka terhadap konstitusi
Negara, kita belajar untuk memahami keberadaan sebagai warga Negara yang akan melaksanakan
ketentuan-ketentuan penyelenggara negra dengan seoptimal mungkin.
b. Mampu mengatasi masalah
Setiap warga Negara harus memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang
dihadapi. sikap ini penting untuk di kembangkan karena akan membentuk kebiasaan menghadapi
masalah, sehingga kalau sebelumnya hanya menjadi penonton, pengkritik atau menyalahkan orang
lain, sekarang menjadi orang yang mampu member solusi ( jalan keluar ). kemampuan untuk
mengatasi masalah konstitusi negara akan memberikan iklim dan suasana yang semakin baik dalam
menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
41
c. Menyadari adanya perbedaan
Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang masyarakat sangat beragam sehingga tertanam
istilah
bhineka tunggala ika ( berbeda – beda namun tetap satu ). perbedaan harus diterima sebagai suatu
kenyataan atau realitas masyarakat di sekitar kita baik agama, suku bangsa, adat istiadat, dan
budayanya.
d. Memiliki harapan Realistis
Negara Indonesia dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk terbesar keempat didunia memiliki
permasalahan yang lebih kompleks dalam nernagai kehidupan. Dalam penyelenggara kehidupan
Negara, sangat penting bagi warga Negara untuk mampu memahami situasi dan kondisi Negara dalam
kebijakan yang diambil.
e. Penghargaan terhadap karya bangsa sendiri
Bangsa Indonesia harus bangga terhadap hasil karya bangsa sendiri. Salah satu karya bangsa untuk
kelangsungan kehidupan bangsa Indonesia adalah “ kemerdekaan dan kedaulatan bangsa” dalam
penyelenggaraan Negara.
f. Mau menerima dan memberi umpan balik
Kesadaran untuk tunduk dan patuh terhadap konstitusi Negara sangat diperlukan dalam rangka
menghormati produk-produk konstitusi yang dihasilkan oleh para penyelenggara Negara.
SISTEMATIKA UUD 1945

ATURAN ATURAN
NO UUD 1945 BAB PASAL AYAT
PERALIHAN TAMBAHAN
1 Sebelum 16 37 49 4 Pasal 2 Ayat
Amamdemen
2 Sesudah 21 73 170 3 Pasal 2 Pasal
Amandemen

STRUKTUR PEMERINTAHAN INDONESIA


SEBELUM AMANDEMEN

PANCASILA

PEMBUKAAN UUD 1945

UUD 1945

MPR

PRESIDEN DPR MA BPK DPA

42
SESUDAH AMANDEMEN

UUD 1945

MPR PRESIDEN BPK KEHAKIMAN


DPR-DPD WAPRES MK – KY - MA
Menurut Gustav Redbruch, ada tiga nilai dasar hukum :
1. Keadilan hukum : perlaukan yang sama terhadap hal – hal yang sama dan yang sesuai dengan itu, serta
perlakuan yang tidak sama tehdap hal – hal yang berbeda termasuk orang dan hubungannya.
2. Kegunaan hukum : fungsi dan manfaat hukum adalah untuk mengatur ketertiban hidup di dalam
masyarakat
3. Kepastian hukum : hukum menjadi berlaku dan mengikat seluruh warga negara tanpa kecuali dalam
rangka menegakkan kebenaran dan supremasi hukum.

BAB 5
Persamaan Kedudukan Warga Negara
A. Kewarganegaraan Republik Indonesia
1. Rakyat dalam Suatu Negara
Rakyat di dalam suatu Negara meliputi semua orang yang bertempat tinggal di dalam wilayah kekuasaan
Negara dan tunduk pada kekuasaan Negara itu. Awalnya rakyat di dalam suatu Negara hanya terdiri dari
orang-orang dari satu keturunan yang berasal dari satu nenek moyang yang masih memiliki hubungan
pertalian darah. Namun dalam perkembangan berikutnya, banyak pula pendatang yang berasal dari nenek
moyang berbeda.
dalam perkembangan dewasa ini, factor tempat tinggal bersama ikut menentukan apakah seseorang
termasuk dalam pengertian rakyat suatu Negara. Adadpun rakyat di dalam suatu Negara dapat dibedakan
sebagai berikut :
a. Berdasarkan hubungannya dengan daerah tertentu di dalam suatu Negara, rakyat dapat dibedakan
menjadi penduduk dan bukan penduduk.
Penduduk adalah mereka yang bertempat tinggal atatu berdomisili didalam suatu wilayah Negara
(menetap) untuk jangka waktu yang lama. Secara sosiologis, penduduk adalah semua orang yang
pada suatu waktu mendiami wolayah Negara. Biasanya, penduduk adalah mereka yang lahir secara
turun-temurun dan besar didalam suatu Negara.
Bukan Penduduk adalah mereka yang berada didalam suatu wilayah Negara hanya untuk
sementara waktu (tidak menetap). Contoh : para turis mancanegara atau tamu-tamu instansi
tertentu didalam suatu Negara.
b. Berdasarkan hubungan dengan pemerintah negaranya, rakyat dibedakan menjadi warga Negara dan
bukan warga Negara.
Warga Negara adalah mereka yang berdasarkan hukum tertentu merupakan anggota dari suatu
Negara, dengan status kewarganegaraan warga Negara asli atau warga Negara keturunan asing.
Warga Negara juga dapat diperoleh berdasarkan suatu undang-undang atau perjanjian yang diakui
sebagai warga Negara (melalui proses naturalisasi)

43
Bukan Warga Negara (orang asing) adalah mereka yang berada pada suatu Negara tetapi secara
hukum tidak menjadi anggota Negara yang bersangkutan, namun tunduk pada pemerintah di mana
mereka berada. Contoh : Duta besar, konsuler, kontraktor asing, dan sebagaiya.
Warga Negara dan bukan yang memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Contoh : warga Negara
dapat memiliki tanah atau mengikuti pemilu, suatu hak yang tidak dimiliki oleh orang yang bukan warga
Negara.
2. Asas Kewarganegaraan
Dalam menentukan status kewarganegaraan, system yang lazim digunakan adalah setsel aktif dan
pasif. Menurut setsel aktif, seseorang akan menjadi warga Negara suatu Negara dengan melakukan
tindakan-tindakan hukum tertentu secara aktif. Sedangkan menurut setsel pasif, seseorang dengan
sendirinya menjadi warga Negara tanpa harus melakukan tindakan hukum tertentu.
Sedangkan penentuan Kewarganegaraan dapat dibedakan menurut asas ius sanguinis dan asas ius soli.
a. Ius soli adalah asas yang menentukan kewarganegaraan seseorang menurut daerah atau Negara
tempat dimana ia dilahirkan.
b. Ius sanguinis adalah asas yang menetukan kewarganegaraan seseorang menurut pertalian darah atau
keturunan dari orang yang bersangkutan. Jadi, yang menentukan kewarganegaraan seseorang ialah
kewarganegaraan orang tuanya, dengan tidak mengidahkan dimana ia sendiri dan orang tuanya
berada dan dilahirkan.
Adanya perbedaan dalam menentukan kewarganegaraan di beberapa Negara, baik yang menerapkan
asas ius soli dan ius sanguinis, bisa menimbulkan dua kemungkinan, yaitu apatride dan bipatride.
a. Apatride adalah adanya seorang penduduk yang sama sekali tidak mempunyai kewarganegaran.
b. Bipatride adalah adanya seseorang penduduk yang mempunyai dua macam kewarganegaraan
sekaligus.
3. Penduduk dan Warga Negara Indonesia
Rakyat sebagai penghuni negara mempunyai peranan penting dalam merencanakan, mengelola dan
mewujudkan tujuan negara. Keberadaan rakyat yang menjadi penduduk maupun warga negara secara
konstitusional tercantum dalam pasal 26 Undang-undang Dasar 1945 perihal warga negara dan
Penduduk.
a. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang
disahkan dengan Undang-Undang sebagai warga Negara.
b. Penduduk ialah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertenpat tinggal di Indonesia.
c. Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan Undang-Undang.
Berikut ini adalah yang menjadi warga negara Indonesia berdasarkan peraturan perundangan
yang pernah berlaku di Indonesia.
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 tahun 1946 :
a. Penduduk asli dalam daerah RI, termasuk anak-anak dari penduduk asli itu.
b. Istri seorang warga negara
c. Keturunan dari seorang warga negara yang kawin dengan wanita warga negara asing
d. Anak yang lahir dalam daerah RI yang oleh orang tuanya tudak diketahui dengan cara yang sah
e. Anak-anak yang lahir dalam waktu 300 hari setelah ayahnya, yang mempunyai kewargangaraan
Indonesia, meninggal.
f. Masuk menjadi warga negara Indonesia dengan jalan pewarganegaraan (naturalisasi).
2. Hasil konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949
a. Penduduk asli Indonesia, yaitu mereka yang dahulu termasuk golongan bumiputera dan
kedududkan di wilayah RI. apabila mereka lahir di kuar Indonesia dan bertempat tinggal di negeri
Belanda atau di luar daerah peserta Uni (Indonesia-Belanda) maka mereka berhak memilih
Kewarganegaraan Belanda dalam waktu dua tahun setelah tanggal 27 Desember 1949.
b. Orang Indonesia, kawula negara Nelanda, yang bertempat tinggal di Suriname atau Antilen (koloni
Belanda). Akan tetapi, jika mereka lahir di luar Kerajaan Belanda,mereka berhak memiliki
kewarganegaraan Belanda dalam waktu dua tahun setelah tanggal 27 Desember 1949.

44
c. Orang Cinadan Arab yang lahir di Indonesia atau sedikitnya bertempat tinggal enam bulan di
wilayah RI dan dalam waktu dua tahun sesudah tanggal 27 Desenber 1949 menyatakan memilih
menjadi warga negara Indonesia.
d. Orang Belanda yang dilahirkan di wilayah RI atau sedikitnya bertempattinggal enam bulan di
wilayah RI dan yang dalam waktu dua tahun sesudah tanggal 27 Desember 1949 menyatakan
memilih warga negara Indonesia.
e. Orang Asing (Kawula negara Belanda) bukan orang belanda yang lahir di Indonesia dan bertempat
tinggal di RI, dan yang dalam waktu dua tahun sesudah tanggal 27 Desember 1949 tidak menolak
kewarganegaraan Indonesia.
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 62 tahun 1958
a. Mereka telah menjadi warga negara berdasarkan UU/Pertauran?Perjanjian yang berlaku surut
b. Mereka yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang diterapkan dalam UU No. 62 tahun 1958, yakni
seperti berikut :
Pada waktu lahirnya mempunyai hubungan kekeluargaan dengan seorang warga negara
Indonesia (misalnya, ayahnya WNI)
Lahir dalm waktu 300 hari, setelah ayahnya meninggal dunia dan ayah itu pada waktu meninggal
dunia adalah warga negara RI.
Lahir dalam wilayah RI selama orang tuanya tidak diketahui
Memperoleh kewarganegaraan RI menurut UU No. 62 tahun 1958
4. Undang-Undang Kewarganegaraan Indonesia
Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, undang-undang
tentang kewarganegaraandi negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Undang-Undang No. 3 tahun 1946 tentang kewargangaraan Indonesia
b. Undang- Undang No. 2 tahun 1958 tentang penyelesaian Dwi Kewarganegaraan antara
Indonesia dan RRC
c. Undang-Undang No. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Indonesia sebagai
Penyempurnaan Undang-Undang No. 3 tahun 1946
d. Undang-Undang No. 4 tahun 1969 tentang pencabutan UU No. 2 tahun 1958 dan dinyatakan
tidak berlaku lagi
e. Undang-Undang No. 3 tahun 1976 tentang Perubahan Pasal 18 UU No. 62 tahun 1958, dan
f. Undang-Undang No. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia.
B. Kedudukan Warga Negara dan Pewarganegaraan
1. Kedudukan Warga Negara
Kedudukan Warga negara dalam suatu negara sangat pentung statusnya terkait dengan hak dan
kewajiban yang dimiliki sebagai warga negara. Karena perbedaan status/kedudukan sebagai warga
negara sangat berpengaruh terhadap hak dan kewajiban yang dimiliki baik yang mencakup bidang
politik, ekonomi, sosial-budaya maupun hankam.
2. Hak dan Kewajiban Dasar Warga Negara
Hak-hak dan kewajiban dasar sebagai warga negara penting untuk dipahami dalam pelaksanaan
demokrasi yang berdampak pada penyelenggara negara dan stabilitas politik negara. Sebagai salah satu
perwujudan pelaksanaan hak dan kewajiban warga negara dalam berdemokrasi, setiap warga negara
dituntut untuk menunjukan sikap postif dalam pengembangan nilai-nilai Demokrasi Pancasila yang
mencakup :
a. Melaksanakan hak pilih dan dipilih dalam pemilihan umum
b. Menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan Republik Indonesia
c. Menyukseskan pemilihan umum yang jujur dan adil
d. Melaksanakn GBHN dan ketetapan-ketetapan MPR lainnya
e. Bermusyawarah untuk mufakat dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan
bersama
f. Saling mendukung dalam usaha pembelaan negara
g. Saling menghormati kebebasan dalam kehidupan beragama

45
Berikut ini contoh hak dan kewajiban warga negara Indonesia dalam pelaksanaan demokrasi di
Indonesia.
a. hak dibidang politik, misalnya mempunyai hak untuk memilih dan dipilih, mendirikan dan
memasuki suatu organisasi sosial politik, dan ikut serta dalam pemerintahan
b. hak dibidang pendidikan, misalnya mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan,
mengembangkan karir pendidikan, mendirikan lembaga pendidikan swasta, dan ikut serta
menangani pendidikan
c. hak dibidang ekonomi, misalnya mempunyai hak untuk memperoleh pekerjaan, memperoleh
kehidupan yang layak, hak memiliki barang, dan hak untuk berusaha
d. hak dibidang sosial budaya, misalnya setiap narga negara Indonesia mempunyai hak untuk
mendapat pelayanan sosial, kesehatan, pendidikan, penerangan, hak untuk mengembangkan
bahasa, adat-istiadat, dan budaya daerah masing-masing, dan hak untuk mendirikan lembaga
sosial-budaya

Tanggung jawab warga negara dalam pelaksanaan demokrasi Pancasila antara lain sebagai berikut:
a. setiap warga negara Indonesia bertanggung jawab terhadap pelaksanaan sistem demokrasi
pancasila
b. setiap warga negara Indonesia bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pemilihan umum secara
langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil
c. setiap warga negara Indonesia bertanggung jawab atas pelaksanaan hukum dan pemerintah RI
d. setiap warga negara Indonesia bertanggung jawab atas usaha pembelaan negara
e. setiap warga negara Indonesia bertanggung jawab atas pelaksanaan hak-hak asasi manusia,
mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia
3. Pewarganegaraan di Indonesia
Menurut Undang-Undang No. 62 tahun 1958 yang dapat memperoleh kewarga negaraan Republik
Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Mereka yang menjadi warga negara menurut undang-undang / peraturan / perjanjian yang terlebih
dahulu telah berlaku (berlaku surut),
b. Kelahiran (asa ius soli),
c. Adopsi melalui pengadilan negeri (menyangkut orang asing dibawah umur 5 tahun),
d. Anak-anak diluar perkawinan dari seorng wanita Indonesia,
e. Pewarganegaraan (naturalisasi),
f. Setiap orang asing kawin dengan seorang laki-laki Indonesia,
g. Anak-anak yang belum berumur 18 tahun / belum kawin mengikuti ayah atau ibunya (asa ius
sanguinis),
h. Anak orang asing dan tidak mempunyai hubungan hukum dengan ayah atau ibunya yang orang asing
itu dapat menjadi warga negara RI setelah berumur 21 tahun atau sudah kawin melalui pernyataan.
Apabila ada orang asing yang ingin menjadi warga negara Indonesia melalui proses naturalisasi, ia
harus mengajukan permohonan kepada Menteri kehakiman melalui kantor pengadilan negeri setempat
dimana ia tinggal atau Kantor Kedutaan Besar RI bila ia ada di luar negeri. Prmohonan ini harus ditulis di
atas meterai dengan menggunakan bahasa Indonesi.
Selain di penuhi melalui cara naturalisasi, kewarganegaraan dapat juga diproleh dengan cara
berikut :
a. Kelahiran, yaitu pada dasarnya siapa saja yang lahir di Indonesia adalah warga negara RI (asas ius
soli)
b. Pengengkatan, yaitu pengangkatan anak berusia lima taun kebawah secara sah (adopsi) oleh orang
tua angkatnya maka anak tersebut dapat memperoleh kewarganegaraan RI
c. Dikabulkan permohonannya, yaitu permohonan yang dikabulkan oleh Menteri Kehakiman seperti
orang asing yang lahir dan bertempat tinggal di wilayah RI tetapi tidak mempunyai hubungan hukum
kekeluargaan dengan ayahnya.
d. Akibat perkawinan, yaitu suatu perkawinan antara warga asing dengan pria WNI. Dalam hal ini si
isteri akan memperoleh kewarganegaraan Indonesia.

46
4. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006
a. Memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri
b. Tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain, sedangkan orang yang bersangkutan
mendapat kesempatan untuk itu
c. Dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas permohonannya sendiri, yang
bersangkutan sudah berusia 18 (delapan belas) tahun, bertempat tinggal di luar negeri, dan
dengan dinyatakan hilang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menjadi tanpa
kewarganegaraan
d. Masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden
e. Secara sujarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asung atau bagian
dari negara asing tersebut
f. Tidak diwajibkan tetapi turut serta dalam penilihan sesuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk
suatu negara asing
g. Mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat yang dapat
diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari negara lain atas namanya.

Bagi warga negara Indonesia di luar negeri yang kehilangan kewarganegaraannya bukan karena
kemauan sendiri, mereka masih diberi kesempatan untuk tetap menjadiwarga negara Indonesia dengan
persyaratan tertentu.

C. Persamaan Kedudukan Warga Negara dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa


dan Bernegara
1. Makna Persamaan
Persamaan merupakan perwujudan kehidupan di dalam masyarakat yang saling menghormati
dan menghargai orang lain dengan tanpa membeda-bedakan suku,agama, ras, dan antar golongan
(SARA). Timbulnya berbagai suasana tidak nyaman dan ketakutan bagi setiap manusia (masyarakat) di
suatu tempat, karena adanya segelintir orang yang mempunyai keinginan/kpentingan tertentu denngan
cara-cara yang tidak beradab.
Di negara-negara berkembang padaumunya (termasuk Indonesia), memakai “persamaan hidup”
lebih bersifat kultural karena faktor adat-istiadat dan budaya yang diterapkan secar turun temurun.
Penghormatan dan penghargaan yang tulus masih terasa cukup kuat terutama pada masyarakat
pedesaan. Namun di kota-kota besar pada umumnya dengan masyarakatnya yang sudah sangat
kompleks (heterogen) dan multikultural, tentu tidak banyak yang diharapkan.
2. Jaminan Persamaan Hidup (Pendekatan Kultural)
Dalam kehidupan berbangsa Indonesia secarakultural, jaminan terhadap persamaan hidup telah
tertanam melalui adat dan budaya daerah yang relatif memiliki nilai-nilai yang hampir sama.
Beberapa nilai kulural bangsa Indonesia yang patut kita letarikan dalm upaya memberikan
jaminan persamaan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, antara lain :

a. Nilai religius
Realitas kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman nenek moyang hingga sekarang ini sarat dengan
nilai – nilai regius,meskipun disadari bahwa tata cara ritual dan bentuk-bentuk yang disembah
berbeda.
b. Nilai gotong royong
Pada sebagian masyarakat Indonesia, nilai-nilai gotong royong masih sangat kuat dipertahankan
sebagai wujud kepedulian dan mau membantu sesama.
c. Nilai ramah tanah
Kebiasaan dalam pergaulan hidup yang mengembangkan sopan santun dan ramah tamah
merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain di
dunia.

47
d. Nilai kerelaan berkorban dan cinta tanah air
Rela berkorban dan cinta tanah air merupakan wujud ketulusan pengorbanan seseorang dalm
bentuk harta benda maupun nyawa untuk kepentingan harga diri, harkat nartabat bangsa dan
negara.

3. Jaminan Persamaan Hidup dalam Konstitusi Negara


Masa penjajahan yang berlangsung sejak zaman Belanda (lk. 350 tahun) dan zaman (lk.3,5 tahun)
telah membuka mata seluruh masyarakat dan pemimpin bangsa Indonesia agar mampu menata
kehidupan bangsa yang merdeka dan berdaulat serta sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang beradab.
Para pendiri negara sangat menyadari bahwa setelah bangsaIndonesia merdeka, Negara yang
akan di bangun adalah Negara yang berisi masyarakat Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika dengan
keberagaman suku, agama, ras dan golongan dari Sabang sampai Merauke. Oleh sebab itu, dasar Negara
yang menjadi pedoman penyelengaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus
mampu mewadahi kepentingan-kepentingan masyarakat dan bangsa secara keseluruhan.
Mengingat konstruksi yang dibangun oleh bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia bersumber dari keberagaman suku, agama, ras, dan golongan, maka sudah menjadi
kewajiban Negara untuk memberikan “jaminan persamaan hidup” dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Jaminan persamaan hidup wrga Negara di dalam konstitusi Negara, dapat
disebutkan antara lain :
a. Pembukaan UUD 1945
Pada alinea pembukaan UUD1945 disebutkan bawa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak
segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak
sesuai dengan prikemanusian dan prikeadilan. Kalimat tersebut mengandung makna adanya
pengakuan jaminan persamaan hidup bagi bangsa beradab mana pun di dunia, karena tak satu pun
bangsa yang mau di jajah oleh bangsa lain,
Dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945, dinyatakan: “………..Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakn ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan social, …… Kalimat “melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia” . Jadi, jelaslah bahwa perial jaminan persamaan hidup di Indonesia
secara konstitusional termaktub di dalam pembukaan UUD 1945. Jaminan persamaan kehidupan
telah secara eksplisit inyatakan untuk selanjutnya diimplementasikan kedalam peraturan
perundang0undangan yang berlaku.
b. Sila-sila Pancasila
Pengakuan jaminan persamaan hidup dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara di Indonesia juga telah diumuskan secara fisolofis dalam dasar Negara Pancasila melalui
sila-sila Pancasila sebagai berikut :
No Sila-Sila Pancasil Uraian/Keterangan
1 Ketuhanan Yang Maha Esa Bahwa segala agama dan kepercayaan yang beradab di Indonesia
terpusat pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, makna
utama dalam sila pertama ini yaitu adanya pengakuan persamaan
jaminan hidup bagi warga Negara Indonesia untuk beragama dan
melaksanakan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinan mesing-
masing.
2 Kemanusiaan Yang Adil dan Menunjukan ekspresi bangsa Indonesia yang mempunyai keinginan
Beradab kuat bahwa dalam aspek-aspek hubungan antar manusia adanya
jaminan persamaan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, berdasrkan moralitas yang adil dan beradab.
3 Persatuan Indonesia Dengan dasar persatuan dan kesatuan Indonesia, maka setiap bangsa
Indonesia mampu meletakan kepentingan diri sendiri dan golongan.
4 Kerakyatan yang dipimpin Merupakan keinginan hidup berbangsa dan bernegara yang
oleh hikmah kebijaksanaan demokratis baik dalam arti formal maupun material berdasarkan
48
dalam Ketuhanan Yang Maha Esa dan moralitas kemanusiaan yang adil dan
pernusyawaratn/perwakilan beradab dengan senantiasa menjunjung tinggi persatuam dam
kesatuan bangsa.
5 Keadilan sosial bagi seluruh Dimaksudkan dalam rangka pengaturan hubungan manusia dalam
rakyat Indonesia kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk
mencapai masyarakat adil dan makmur, material maupun spiritual.

c. UUD 1945 dan Peraturan Perundangan Lainnya


Bila memperhatikan komitmen bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan Negara yang ingin
mewujudkan “jaminan persamaan hidup” dalam kehidupan bermasyarakn, berbangsa, dan
bernegara, sudah sangat jelas bahwa hal tersebut ingin segera diwujudkan dalam kehidupan sehari-
hari.
D. Menghargai Persamaan Kedudukan Warga Negara tanpa Membedakan Ras, Agama,
Gender, Golongan, Budaya dan Suku
Berdasarkan Pendekatan cultural dan konstitusional, sangatlah kecil kemungkinan bagi setiap wrga
Negara Indonesia untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak menghargai persamaan kedudukan warga
Negara karena factor ras, agama, gender, goglongan, budaya dan suku bangsa.
Sangat riskan bagi bangsa Indonesia yang di huni oleh masyarakat multietnis dan budaya apabila ada
bagian masyarakat yang tidak menghargai perbedaan apapun alasannya. diskriminasi merupakan sikap dan
perbuatan yang harus dihindari, karena cepat atau lambat akan menjadi bom waktu perpecahan dan sangat
berpotensi untuk melahirkan baik konflik vertikal ( dengan penguasa ) maupun konflik horizontal ( dengan
sesama masyarakat ). dalam rangka menghargai persamaan kedudukan bagi setiap warga negara, perlu
dilakukan langkah – langkah sebagai berikut:
 Regulasi yang dilakukan oleh lembaga eksekutif maupun legislatif, sebelum disahkan sudah seharusnya
dibuat dalam kajian akademis yang memadai dan analisis –analisis psikologi social yang mendalam,
sehingga menghasilkan peraturan dan kebijakan yang tidak diskriminatif yang dirasakan oleh sebagian
warga negara / masyarakat.
 Implementasi suatu kebijakan atau aturan, agar pelksanaanya dilakukan oleh aparat atau yang betul-betul
memahami, proporsional. Hal ini penting untuk dipahami, agar pada saat terjadi penindakan pelanggaran
mampu berlau adil dan sesuai ketentuan berlaku.
 Sosialisasi suatu peraturan atau kebijakan diperluas jangkauan dan publikasinya agar warga masyarakat
yang berkepentingan merasa berperan aktif untuk memahami. Jika sosialisasi tlah terpahami dengan baik,
warga masyarakat akan semakin cerdas untuk melaksanakannya tanpa ada rasa curiga atau salah paham.
 Masyarakat harus dilatih dan diberikan pembeljaran pentingnya “taat asas” dan “taat aturan” sehingga
dalam menyelesaikan suatu masalah atau urusan administrasi tertentu betul-betul mematuhi rambu-
rambu yang teah ditentukan.

Penjelasan Istilah :
Ras : Perbedaan manusia didasarkan pada perbedaan fisik
Agama : ajaran yang terutama didasarkan antara hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha
Esa,
dengan sesamanya, dan dengan alam sekitarnya berdasarkan kitab suci.
Gender : Perbedaan manusia berdasrakan pada jenis kelamin
Golongan : kelompok – kelompok yang ada di dalm masyarakat yang didasarkan pada kesamaan
kepentingan
maupun tujuan
Budaya : merupakan hasil karya dari akal dan pikiran manusia
Suku : kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan jati diri mereka akan kesatuan
kebudayaan mereka, sehingga kesatuan budaya tidak ditentukan oleh orang melainkan
oleh warga kebudayaan yang bersangkutan.
49
BAB 6
Sistem Politik Indonesia
A. Sistem Politik
1. Pengertian Sistem Politik
Suatu system politik terdiri dari interaksi peranan para warga Negara. Orang yang sama dalam
system politik dapat sekaligus memainkan peranan lain seperti dalam system ekonomi, social,
keagamaan, dan lain-lain. Nerikut ini adalah batasan system politik menurut paraahli politik.
a. Rusandi Simuntapura
Sistem politik ialah mekanisme seperangkat ungsi atau peranan dalam struktur politik dalam
hubungan satu sama lain yang menunjukan suatu proses yang langgeng.
b. David Easton
Sistem politik dapat diprkenalkan sebagai interaksi yang diabstrasikan dari seluruh tingkah laku soial
sehingga nila-nilai dialokasikan secara otoritatif kepada masyarakat.
c. Robert Dahl
Sistem politik merupakan pola yang tetap dari hubungan antar manusia serta meliabatkan sesuatu
yang luas dan berarti tentang kekuasaan, aturan-aturan, dan kewenangan.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dalam system politik tercakup
hal-hal sebagai berikut :
 Fungsi integrasi dan adaptasi terhadap masyarajat, baik kedalam maupun keluar
 Penerapan nilai-nilai dalam masyarakat berdasarkan kewenangan
 Penggunaan kewenangan atau kekuasaan, baik secara sah ataupun tidak,
2. Ciri-Ciri Umum Sistem Politik
Sistem politik baik modern maupun primitive memiliki ciri-ciri tertentu almond dalam the politics of
developing areas,mengatakan ada 4 (empat ) ciri dalam sistem politik, yaitu:
a. Semua sistem politik termasuk yang paling sederhana mempunyai kedudukan politik. dalam
pengertian bahwa masyarakat yng paling sederhana pun mempunyai tipe struktur politik yang
tedapat dalam masyarakat yang paling kompleks sekali pun. tipe – tipe tersebut dapat
diperbandingkan satu sama lain sesuai dengan tingkatan dan bentuk pembandingan kerja yang
teratur.
b. Semua system politik menjalankan fungsi – fungsi yang sama walaupun tingkatannya berbeda –
beda yang ditimbulkan karena perbedaan stuktur. hal ini dapat diperbandingkan, yaitu bagaimana
fungsi-fungsi tadi sering dilaksanakan atau tidak dan bagaimana gaya pelaksanaannya.
c. Semua struktur politik, walaupun dispesifikasikan dengan berbagai unsure baik itu pada masyarakat
primitif maupun pada masyarakat modern, melaksanakan banyak fungsi. oleh karena itu, sistem
politik dapat dibandingkan sesuai dengan tingkat kekhususan tugas.
d. Semua sistem politik adalah sistem campuran dalam pengertian kebudayaan. secara rasionala tidak
ada struktur dan kebudayaan yang semuanya modern atau semuanya primitif melainkan dalam
pengertian tradisional, semuanya adalah campuran antara unsure modern dan tradisional.

Dalam memahami cara kerja sistem politik pada umumnya, peran input dan output mempunyai
pengaruh besar terhadap kebijakan publik. Hoogerwerf berpendapat bahwa “ input “bisa berasal
dari sistem lain, misalnya sistem ekonomi.sistem ekonomi yang terkena dampak kebijakan
pemerintah akan memberikan reaksi tertentu, mungkin memperkuat atau bertentangan. reaksi ini
merupakan input bagi sistem politik untuk diperoses lebih lanjut. disamping itu, input juga berasal
dari perilaku politik berupa unjuk rasa / demontrasi atau tindakan maker sebagai dampak dari output
sistempolitik.

50
3. Macam-Macam Sistem Politik
Macam-macam sistem politik yang hendak diuraikan, sesungguhnya merupakan tipe, atau model yang
didasarkan pada sudut kesejarahan dan perkembangan sistem politik dari berbagai Negara yang
disesuaikan dengan perkembangan kultur dan struktur masyarakatnya.
a. Almond dan Powell membagi 3 (tiga) kategori sistem politik yakni :
 Sistem-sistem primitif yang intermittent (bekerja dengan sebentar-bentar istirahat).
 Sistem-sistem tradisional dengan struktur-struktur bersifat pemerintahan politik yang berbeda-
beda dan suatu kebudayaan “subjek”.
 Sistem-sistenm modern dimana struktur-struktur politik yang berbeda-beda (partai politik,
kelompok-kelompok kepentingan, dan media massa) berkembang dan mencerminkan aktivitas
budaya politik “participant”
b. Alfian mengklasiikasikan sistem politik menjadi 4 (empat) tipe, yakni :
 Sistem politik otoriter/totaliter
 Sistem politik anarki
 Sistem politik demokrasi
 Sistem politik demokrasi dalam transisi

4. Demokrasi sebagai Sistem Politik


Kata demokrasi dalam sistem politik memiliki makna umum, yaitu adanya prlindungan hak asasi
manusia, menjunjung tinggi hukum, tunduk terhadap kemauan orang banyak, tanpa mengabaikan hak
golongan kecil agar tidak timbul diktator mayoritas. Sebuah sistem politik demokrasi akan bertahan
apabila bersumber pada “kehendak rakyat” dan bertujuan untuk mencapai kebaikan atau kemaslahatan
bersama. Untuk itu, demokrasi selalu berkaitan dengan persoalan perwakilan kehendak rakyat.
Sistem politik demokrasi, menurut Bingham Powel, Jr. ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Legitimasi pemerintah didasarkan pada klaim bahwa pemerintah tersebut mewakili keinginan
rakyatnya, artinya klaim pemerintah untuk patuh pada aturan hukum didasarkan pada penekan
bahwa apa yang dilakukan merupakan kehendak rakyat.
b. Pengaturan yang mengorganisasikan perudingan (bargaining) untuk memperoleh legitimasi
dilaksanakan melalui pemilihan umum yang kompetitif. Pemilihan dipilih dengan interval yang
teratur dan pemilih dapat memilih di antar beberapa alternative calon.
c. Sebagian besar orang dewasa dapat ikut serta dalam proses pemilihan, baik sebagai pemilih maupun
sebagai calon untuk menduduki jabatan penting.
d. Penduduk memilih secara rahasia dan tanpa dipaksa.
e. Masyarakat dan pimpinan menikmati hak-hak dasar, seperti kebebasan berbicara, berkumpul,
berorganisasi, dan kebebasan pers.
B. Insfrastruktur dan Suprastruktur Politik di Indonesia
Pada setiap sistem politik Negara-negara dunia, akan selalu dijumpai adanya struktur politik. Struktur
politik di dalam suatu negara adalah pelembagaan hubungan organisasi antara komponen-komponen yang
membentuk bangunan politik. stuktur politik sebagai bagian dari struktur yang pada umumnya selalu
berkenaan dengan alokasi nilai-nilai yang bersifat otoratif, yaitu yang dipengaruhi oleh distribusi serta
penggunaan kekuasaan.
Permasalahan politik menurut Alfian, dapat dikaji melalui berbagai pendekatan, yaitu didekati dari sudut
kekuasaan, struktur politik,komunikasi politik, konstitusi, pendidikan dan sosialisasi politik, pemikiran dan
kebudayaan politik.
Sistem politik yang pada umumnya berlaku disetiap negara meliputi dua struktur kehidupan politik, yakni,
infrastrukur politik dan suprastruktur politik.
1. Infrastrukur politik
Didalam suatu kehidupan politik rakyat (the sosial political sphere), akan selalu ada keterkaitan atau
keterhubungan dengan kelompok-kelompok lain ke dalam berbagai macam golongan yang biasanya
disebut “kekuatan sosial politik masyarakat”. Kelompok masyarakat tersebut yang merupakan kekuatan
politik riil didalam masyarakat, disebut “infrastruktur politik”. Berdasakan teori politik, infrastruktur
51
politik mencakup 5 (lima) unsur atau komponen sebagai berikut : a. Partai politik (political party), b.
kelompok kepentingan (interst group), c. kelompok penekan (pressure group), d. media komunikasi
politik (political communication media) dan e. tokoh politik (political figure).
a. Partai politik (political party) di Indonesia
Partai politik sebagai institusi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masyarakat dalam
mengendalikan kekuasaan. Hubungan ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat yang
melahirkannya. Kalau kelahiran partai politik dilihat sebagai pengewajantahan dari kedaulatan rakyat
dalam poltik formal, maka semangat kebebasan selalu dikaitkan orang ketika berbicara tentang partai
politik sebagai pengendali kekuasaan..
Perjalanan sejarah kehidupan partai poliik di Indonesia secara garis besarnya dapat dijelaskan sebagai
berikut :
 Masa pra kemerdekaan
Organisasi modern pertama di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah (tidak
secara fisik) adalah Budi Utomo yang didirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908. Pada awalnya,
organisasi ini berkembang di kalangan pelajar dalam bentuk studieclub dan organisasi pendidikan.
Namun dalam perkembangan berikutnya, ia menjadi partaipolitik yang didukung kaum terpelajar
dan massa buruh tani.
 Masa pasca kemerdekaan (tahun 1945-1965)
Tumbuh suburnya partai-partai politik pasca kemerdekaan, didasarkan pada Maklumat Pemerintah
tertanggal 3 November 1945 yang ditandantangani Wakil Presden Moh. Hatta yang antara lain
memuat keinginan pemerintah akan kehadiran partai politik agar masyarakat dapat menyalurkan
aspirasi (aliran pahamnya) secara teratur. Sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tersebut,
dapat diklasifikasi sejumlah partai politik yang ada sebagai nerikut :
1). Dasar Ketuhanan : a) Partai Masjumi, b) Partai Sjarikat Indonesia, c) Pergerakan Tarbiyan
Islamiah (Perti), d) Partai Kristen Indonesia (Parkindo), e) Nahdlatul Ulama (NU), dan f) Partai
Katolik
2). Dasar Kebangsaan :
 Partai Nasional Indonesia (PNI)
 Partai Indonesia Raya (Parindra)
 Persatuan Indonesia Raya (PIR)
 Partai Rakyat Indonesia (PRI)
 Partai Demokrasi Rakyat (Banteng)
 Partai Rakyat Nasional (PRN)
 Partai Wanita Rakyat (PWR)
 Partai Kebangsaan Indonesia (Parki)
 Partai Kedaulatan Rakyat (PKR)
 Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI)
 Ikatan Nasional Indonesia (INI)
 Partai Rakyat Jelata (PRJ)
 Partai Tani Indonesia (PTI)
 Wanita Demokrasi Indonesia (PTI)
3). Dasar Marxisme :
 Partai Komunis Indonesia (PKI)
 Partai Sosialis Indonesia
 Partai Murba
 Partai Buruh
 Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai)
4). Dasar Nasionalisme :
 Partai Demokrat Tionghoa (PTDI)
 Partai Indonesia Nasional (PIN)
 Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)
 Masa Orde baru (tahun 1966-1998)

52
Awal kebangkitan orde baru (!966) dalam melakukan pembelahan institusi politik, tetap berpandang bahwa
jumlah partai politik yang terlalu banyak tidak menjamin stabilitas politik. Usaha pertama disamping
memulihkan partai-partai yang tidak secara resmi dilarang, adalah menyusun undang-undang tentang pemilu
yang dianggap sesuai dengan perkembangan masyarakat saat itu. Dan pemilu yang direncanakan dilaksanakan
dalam waktu dekat, ternyata baru terlaksana tahun 1971 dengan peserta sebanyak 10 partai politik. ( Golkar,
Parmusi, NU, PSII, Partai Islam, Parkindo, Partai Katolik, PNI, Murba, dan IPKI)
Hasil Pemilu 1971 menunjukkan kemenangan Golkar yang diikuti oleh Parmusi, NU dan PNI.
Selanjutnya dengan diberlakukannya UU RI no. 03 tahun 1957, Pemilu tahun 1977 dan 1982 hanya diikuti
oleh 3 ( tiga) peserta :
1). PPP dengan ciri ke-islaman dan ideologi islam.
2). Golkar dengan ciri kekayaan dan keadilan sosial.
3). PDI dengan ciri demokrasi, kebangsaan (nasionalisme), dan kedilan
Pada pemilu tahun 1987 dan 1992 dengan diberlakukannya UU NO. 3 tahun 1985, partai politik dan Golkar
ditetapkan hanya mempergunakan satu-satunya asas, yaitu Pancasila dengan tujuan agar setiap kontestan pemilu
lebih berorientasi padaprogram kerja masing-masing. penerapan atas tersebut langsung sampai dengan
pelaksanaan pemilu 1997. fakta memperlihatkan bahwa selama pemilu orde baru, golkar selalu dominan. dalam
pemilu 1971 golkar meraih (62,8%),tahun 1997 (62,1%), tahun 1982 (64,3%),tahun 1987 (73,2%)tahun 1992
(68,1%) dan pada tahun 1997 (70,2%).
Era orde baru mengalami antiklimaks kekuasaan setelah pada akhir tahun 1997 negara Indonesia mengalami
krisis moneter yang selanjutnya berkembang menjadi krisis multidimensi karena terperangkap hutang luar negeri
yang besar dan banyaknya praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang melibatkan pejabat birokrasi dan
pengusaha.
 Masa/Era Repormasi (tahun 1999 s.d.sekarang)
Era reformasi benar-benar merupakan arus angin perubahan menuju demokratisasi dan asas keadilan.
Partai-partai politik diberikan kesempatan untuk hidup kembali dan mengikuti pemilu dengan multipartai
yang terselenggarakan pada tahun 1999 berdasarkan undang-undang No. 3 tahun 1999. sangat mengejutkan
bagi semua manusia elemen masyarakat Indonesia ternyata paska-orde baru pemilu diikuti sebanyak 48
partai politik.
b. Kelompok kepentingan (interest group)
Kelompok kepentingan (interest group), dalam gerak langkahnya akan sangat tergantung pada sistem
kepartaian yang diterapkan dalam suatu negara. Aktivitas kelompok kepentingan umumnya menyangkut
tujuan-tujuan yang lebih terbatas, dengan sasaran-sasaran yang monolitis dan intensitas usaha yang tidak
berlebihan.
Menurut Gabriel A. Almond, kelompok kepentingan dapat diidentifikasikan ke dalam jenis-jenis
kelompok sebagai berikut :
 Kelompok Anomik : kelompok yang terbentuk dari unsur – unsur masyarakat secara spontan dan
seketika akibat isu kebijakan pemerintah, agama, politik, dsb.
 Kelompok non-asosiasional : Kelompok yang berasal dari unsur keluarga dan keturunan atau etnik,
regional, status dan kelas yang menyatakan kepentingannya berdasarkan situasi.
 Kelompok insitusional : kelompok yang bersifat formal dan memiliki fungsi – fungsi politik atau sosial.
 Kelompok asosiasional : Kelompok yang menyatakan kepentinganya secara khusus, memakai tenaga
professional dan memiliki prosedur yang teratur untuk merumuskan kepentingan dan tuntutan.
Kelompok kepentingan pada negara totaliter (partai tunggal) pada umumnya dianut oleh negara komunis
(Rusia, RRC, Vietnam, Korea Utara, Kuba, dan lain-lain). David Lane, (seorang analisis politik) mengidentifikasi
5 (lima) kategori kelompok kepentingan di Uni Soviet (Rusia), yaitu:
a. Elite politik, seperti anggota-anggota politburo
b. Kelompok-kelompok institusional, sepsrti serikat-serikat dating
c. Kelompok-kelompok pembangkang setia, seperti para dokter dan guru
d. Pengelompokan-pengelompokan sosial yang tidak terorganisir dalam satu kesetian, seperti petani dan
tukang

53
e. Kelompok-kelompok yang tidak terorganisir dalam satu kesatuan, yang bukan merupakan bagian dari
aparat Soviet (Rusia), atau yang mempunyai jarak dengan rezim penguasa, seperti kelompok intelektual
yang menentang rezim atau anggota sekte-sekte keagamaan tertentu

Pada negara yang menerapkan sistem dua partai, disiplin partai baik dalam parlemen maupun kabinet
relatif lebih ketat dan hal ini merupakan kendala tersendiri terutama untuk mendukung sepenuhnya
program-program kelompok-kelompok tertentu.
Di negara berkembang pada umumnya. dan khususnya di Indonesia masyarakat yang tergabung dalam
kelompok kepentingan biasanya sensitive terhadap isu politik dalam lingkup kelompok politik yang sempit.
Masyarakat masih dibatasi realita politiknya (terutama masa orde baru) oleh para pemegang kekuasaan
negara/pemerintah. Dengan asumsi demi stabilitas politik. Tampak bahwa pada masa itu pemegang
kekuasaan negara/pemerintah cukup tangguh mengendalikan kehidupan politik supaya terdapat keleluasaan
bagi proses pembangunan bidang kehidupan lainnya.
Namun pasca Orde Baru (tahun 1998) yang disebut dengan era reformasi, masyarakat berperan aktif
dalam menumbuhkan sangkar partisipasi politik “demokratisasi” setelah selama 32 tahun dikekang dengan
berbagai instrument politik dan peraturan perundangan. Berkembangnya sistem politik di Indonesia dewasa
ini tidak lepas dari peran kelompok kepentingan yang selama Orde Baru berkuasa bersebrangan, terutama
dari kalangan akademisi, politikus, lembaga swadaya masyarakat, pengusaha, dan sebagainya.
c. Kelompok Penekan (pressure group)
Kelompok penekan merupakan salah satu institusi politik yang dapat dipergunakan oleh rakyat untuk
menyalurkan aspirasi dan kebutuhannya dengan sasaran akhir adalah untuk mempengaruhi atau bahkan
membentuk kebijakan pemerintah. Kelompok penekan dapat terhimpun dalam beberapa asosiasi yang
mempunyai kepentingan sama, antara lain :
a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
b. Organisasi-organisasi sosial keagamaan
c. Organisasi kepemudaan
d. Organisasi Lingkungan Kehidupan
e. Organisasi pembela Hukum dan HAM
f. Yayasan atau Badan hukum lainnya,
Mereka pada umumnya dapat menjadi kelompok penekan dengan cara mengatur orientasi tujuan-
tujuannya yang secara operasional (melakukan negosiasi) sehingga dapat mempengaruhi kebijaksanaan
umum.
Dalam realitas kehidupan politik, kita mengenal berbagai kelompok penekan baik yang sifatnya sektoral
maupun regional. Tujuan dan target mereka biasanya bagaimana agar keputusan politik berupa undang-
undang atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah lebih menguntungkan kelompoknya (sekurang-
kurangnya tidak merugikan).
Kelompok penekan, kadang-kadang muncul lebih dominan dibanding dengan partai politik, manakala
partai politik peranannya tidak bisa lagi diharapkan untuk mengangkat isu sentral yang mereka perjuangkan.
Kondisi inilah yang mendorong kelompok penekan tampil ke depan sebagai alternative terkemuka.
d. Media komunikasi politik (political communication media)
Media komunikasi politik merupakan salah satu instrument politik yang dapat berfungsi untuk
menyampaikan informasi dan persuasi mengenai politik baik dari pemerintah kepada masyarakat maupun
sebaliknya. Media komunikasi seperti surat kabar, telepon, fax, internet, televise,radio, film, dan sebagainya
dapat memainkan peran penting terhadap penyampaian informasi serta pembentukan/mengubah pendapat
umum dan sikap politik publik.
e. Tokoh Politik (political/figure)
Pengangkatan tokoh-tokoh merupakan proses transformasi seleksi terhadap anggota-anggota masyarakat
dari berbagai sub-kluktur, keagamaan, status sosial, kelas, dan atas dasarisme-isme kesukuan dan kualifikasi
tertentu, yang kemudian memperkenalkan mereka pada peran-peran khusus dalam sistem politik. Bagi
actor-aktor politik itu sendiri, pengangkatan diri mereka selalu melalui proses, yaitu :
 Transformasi dari peranan-peranan non-politis kepada suatusituasi di mana mereka menjadi cukup
berbobot memainkan peranan-peranan politik yang bersifat khusus.
54
 Pengangkatan dan penugasan untuk menjalankan tugas-tugas politik yang selama ini belum pernah
mereka kerjakan, walaupun mereka telah cukup mampu untuk mengemban tugas seperti itu. Proses
pengangkatan itu melibatkan baik persyaratan status maupun penyerahan posisi khusus pada mereka.
Di dalam benak masyarakat sering timbul pertanyaan apakah pengangkatan tokoh-tokoh politik akan
pengaruh besar terhadap pembangunan dan perubahan? Pada umumnya pengangkatan tokoh-tokoh politik
akan memberikan angin segar dalam memaprkan beberapa komponen perubahan dalam segala untuk dan
menifestasinya.
Pengangkatan tokoh-tokoh politik akan berakibat terjadinya pergeseran di sector infrastruktur politik,
organisasi, asosiasi-asosiasi, kelompok-kelompok kepentingan serta derajat politisasi dan partisipasi
masyarakat.
Menurut Lester G. Seligman, proses pengangkatan tokoh-tokoh politik akan berkaitan dengan beberapa
aspek , yakni :
a. Leditimasi elit politik
b. Masalah kekuasaan
c. Representativitasi elit politik
d. Hubungan antara pengangkatan tokoh-tokoh politik dengan perubahan politik.
Di negara-negara demokrasi pada umunya, pengangkatan tokoh-tokoh politik dilakukan melalui
pemilihan umum. Hal ini akan berbeda jika dilaksanakan di negara-negara totaliter, diktator atau otoriter.
2. Suprastruktur Politik
Suprastruktur politik (elit pemerintah) merupakan mesin politik resmi di suatu negara sebagai penggerak
politik formal. Kehidupan politik pemerintah bersifat kompleks karena akan bersinggungan dengan lembaga-
lembaga negara yang ada, fungsi, dan wewenang/kekuasaan antara lembaga yang satu dengan yang lainnya.
Suasana ini pada umumnya dapat diketahui di dalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar dan peraturan
perundang-undangan suatu negara.
Dalam perkembangan ketatanegaraan modern, pada umunya elit politik pemerintah dibagi dalam
kekuasaan eksekutif (pelaksana undang-undang), legislative (pembuat undang-undang), dan yudikatif (yang
mengadili pelanggaran undang-undang), dengan sistem pembagian kekuasaaan atau pemisahan kekuasaan.
Untuk terciptanya dan mantapnya kondisi politik negara, suprastruktur politik harus memperoleh
dukungan dari infrastruktur politik yang mantap pula. Rakyat, baik secara berkelompok berupa partai politik
atau organisasi kemasyarakatan, maupun secara individual dapat ikut berpartisipasi dalam pemerintahan
melalui wakil-wakilnya.
Suprastruktur politik di negara Indonesia sejak bergulirnya gerakan reformasi tahun 1998 sampai
dengan tahun 2006 telah membawa perubahan besar di dalam sistem politik dan ketatanegaraan Republik
Indonesia. Era reformasi disebut juga sebagai “Era kebangkitan Demokrasi”.
Reformasi di bidang politik dan hukum ketatanegaraan, yaitu dilaksanakannya amandemen Undang-
Undang Dasar 1945 selama 4 (empat kali) dari tahun 1999-2002. Amandemen pertama disahkan (19 Oktober
1999), kedua ( 18 Agustus 2000), ketiga (10 November 2001), dan keempat (10 Agustus 2002). Amandemen
UUD 1945 tersebut telah mengubah struktur suprapolitik di Indonesia.
C. Perbedaan Sistem Politik di Berbagai Negara
1. Pendekatan Sistem Politik Negara
Untuk mengetahui adanya perbedaan sistem politik di berbagai negara, terlebih dahulu perlu dipahami
fungsi dari sistem politik tersebut. Terdapat tiga fungsi politik yang tidak secaralangsung ter;ibat dalam
pembuatan dan pelaksanaan pemerintahan, tetapi sangat penting dalam menentukan cara bekerjanya
sistem politik. Ketiga fungsi itu adalah :
a. Sosial Politik . Setiap sistem politik memiliki fungsi pengembangan dan memperkuat sikap-siakp
politik dikalangan penduduk umum, bagian-bagian dari penduduk, atau melatih rakyat untuk
menjalankan peranan-pranan politik, administrative, dan yudisial tertentu.
b. Rekrutmen politik . Rekrutmen merupakan fungsi penyeleksian rakyat untuk kegiatan politik dan
masa jabatan pemerintahan melalui penampilan dalam media komunikasi, menjadi anggota
organisasi, mencalonkan diri untuk jabatan tertentu, pendidikan, dan ujian.

55
c. Komunikasi politik. Komunikasi politik merupakan jalan mengalirnya informasi melalui masyarkat dan
melalui berbagai struktur yang ada dalam sistem politik.
Setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, dalam mmpelajari proses
politik suatu negara diperlukan beberapa pendekatan sebagao berikut :

No Pendekatan Uraian/Keterangan
1 Pendekatan Sejarah Sistem politik dipelajari dari sejarah bangsa. Ada tiga factor yang
mempengaruhi pendekatan ini, yakni masa silam (the past), masa
sekarang (the present), dan masa yang akan dating (the future)
2 Pendekatan Sosiologis Untuk mempelajari sistem politik suatu negara perlu mempelajari
sistem sosial/sistem kemasyarakatan yang ada di suatu negara.
Perbedaan-perbedaan sistem sosial akan mempengaruhi terhadap
sistem politik uatu negara.
3 Pendekatan Pendekatan ini dilihat daripendidikan dan budaya masyarakatnya.
Kultural/Budaya
4 Pendekatan Psikologi Dalam pendekatan dilihat dari sikap-sikap masyarakat yang akan
Sosial/Kejiwaan berpengaruh terhadap sikap-skap politik.
Masyarakat
5 Pendekatan Filsafat Dalam pendekatan ini dibicarakan tentang filsafat yang menjadi
way of life dari masyarakat atau bangsa itu.
6 Pendekatan Ideologi Didalam pendekatab ini, suatu sistem politik dilihat dan dipelajari
dari ideology bangsa/negara yang berlaku didalam negara itu.
7 Pendekatan Konstitusi Didalam pendekatan ini, suatu sistem politik ilihat dari konstitusi
dan Hukum dan undang-undang serta hukum yang berlaku dedalam negara itu.

2. Perbedaan Sistem Politik


Memahami perbedaan sitem politik yang ada pada setiap negara bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu
wajtu untuk mengadakan studi mendalam tentang apa dan bagaimana suatu negara dijalankan dengan
sistem politik yang dianutnya.
a. Sistem politik negara Inggris
No Faktor Yang Mempengaruhi Uraian/Keterangan
1 Latar Belakang Sejarah Masyarakat Inggris sejak abad 19, mulai mengubah
bentuk ekonominya dari ekonominya pertanian dan
kerajinan tangan menjadi masyarakat industri modern.
2 Kondisi Sosiologis Kondisi masyarakat Inggris yang semula agraris feodal,
dengan cepat menyesuaikan diri menjadi masyarakt
industry modern.
3 Kondisi Kultural/Budaya Sebagian masyarakat Inggris memiliki tingkat
pendidikan dan kesejahteraan yang baik. Mereka
dikenal sebagai masyarakat yang disiplin dan taat pada
aturan.
4 Kondisi Psiko-Sosial/Kejiwaan Mayoritas masyarakat Inggris sangat menghormati
Masyarakat simbol-simbol kekuasaan negara, seperti ratu atau raja,
lembaga pemerintah, dan lain-lain.
5 Pedoman Filsafat Masyarakat Inggris akan sangat mendukung rezim yang
berkuasa, mana kala para penguasa juga mentaati
undang-undang politik asasi. Dan jika dilanggar maka
akan menghadapi perlawanan.
6 Paham atau Ideologi yang Penerapan Ideologi negara Inggris yang juga pada
Diterapkan umunya dianut oleh negara-negara Erofa (Barat) adalah
ideology liberal.

56
7 Pedoman Konstitusi dan Kekuasaan pemerintah Inggris lebih banyak dibatasi
Hukum oleh konvensi (hukum tidak tertulis) dari pada hukum
formal.

Dalam struktur politik pemerintah Inggris, pemegang peran politik pusat digolongkan dalam 3
(tiga) bagian, yaitu : para menteri kabinet, para pegawai negeri senior, dan para pegawai tidak tetap
lainnya. Para pemegang peranan politik pusat, pengalaman/senioritas sangat dihargai.
Penyelenggaraan pemerintah dilaksanakan oleh kabinet (perdana menteri dan dewan menteri)
serta parlemen yang terdiri dari Majelis Rendah dan Majeis Tinggi. Peranan parlemen dalam
merumuskan kebijakan pemerintah dibatasi, karena cara kerjanya diawasi oleh kabinet. Sedangkan
perdana menteri dapat memastikan bahwa setiap usul yang diajukan oleh pemerintahnya akan
diputuskan dalam parlemen tepat pada waktu yang telah ditetapkan, dan disetujui dalam bentuk yang
dikehendaki oleh parlemen.

b. Sistem politik negara Republik Indonesia


No Faktor Yang
Uraian/Keterangan
Mempengaruhi
1. Latar Belakang Sejarah Terjadinya Negara Konstitusi Republik Indonesia telah melalui perjalanan
politik yang panjang. Bangsa Indonesia harus menghadapi Kolonial
Belanda selama lk. 350 tahun, dan bala tentara Jepang selama lk. 3,5
tahun untuk mewujudkan Proklamasi Kemerdekaan yang akhirnya
terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945.
2. Kondisi Sosiologis Kondisi bangsa Indonesia yang pernah mengalami penjajahan, sangat
merasakan penderitaan dan keterbelakangan dalam berbagai bidang
kehidupan. Masyarakat Indonesia yang multibangsa, agama, ras dan
antar golongan telah dipersatukan dalam kesatuan politik dngan
semboyan Bhineka Tunggal Ika.
3. Kondisi Kultural/Budaya Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun atas dasar sendi-sendi
multicultural, berbeda-beda suku, agama, ras dan antar golongan.
Semangat menjenjeng tinggi persatuan dan kesatuan, serta rela
berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara telah tertanam di dada
setiap warga negara .
4. Kondisi Psiko- Bangsa sebelum menjadikan Pancasila sebagai dasar negara selalu dapat
Sosial/Kejiwaan dipecah belah oleh bangsa lain. Hal ini menyebabkan negara pernah
Masyarakat mengalami penjajahan dari Kolonial Belanda maupun Jepang.
5. Pedoman Filsafat Pancasila dalam sistem politik Indonesia, telah dijadikan sebagai dasar
dan motivasi dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam
hidup.
6. Paham atau Ideologi yang Ideologi Indonesia yang berdasarkan Pancasila (Sumber dari segala
diterapkan sumber hukum)
7. Pedoman Konstitusi dan Berdasarkan konstitusi UUD 1945 ( amandemen)
Hukum
c. Sistem politik negara Republik Rakyat Cina (RRC)
No Faktor Yang Mempengaruhi Uraian/Keterangan
1 Latar Belakang Sejarah Proses kehidupan sistem politik di China merupakan produk revolusi
antara tahun 1911 s.d. 1949. Revolusi pertama ( 1911 ) menggantikan
sistem kerajaan yang telah bertahan berabad – abad. Revolusi kedua (
1928 ) membentuk pemerintah pusat yang baru di bawah Kuomintang
dngan dominasi satu partai yang lebih bersemangat, terorganisir, dan
terpusat. Revolusi ketiga ( 1949 ) menjadikan partai Komunis China (PKC)
sebagai penguasa dan membentuk pemerintah komunis sampai dengan
sekarang.
57
2 Kondisi Sosiologis Pada masyarakat China tradisional, lembaga – lembaga sosial yang
domunan adalah keluarga; setiap individu harus menyesuaikan tidakan –
tindakan mereka demi pemeliharaan dan kemakmuran unit itu. Mereka
mengakui wewenang kekuasaan para pemimpinnya atas tingkah laku
sosial mereka. Wewenang kekuasaan politik, pada tingkat apapun, adalah
lebih tinggi daripada tuntutan unsure – unsure dalam masyarakat.
Kesetiaan harus diarahkan pada kepentingan kolektif dan bukan pada
ikatan – ikatan pribadi.
3 Kondisi Kultural/Budaya Pemerintah China sejak tahun 1949 telah mengupayakan pendidikan
sebagai salah satu alat yang paling efektif untuk mengubah sikap politik
orang – orang China. Pemerintah berkepentingan dengan pendidikan ,
karena dapat mempermudah melakukan mekanisme kontrol dalam
mengendalikan warga negara yang mencapai usia sekolah. Melalui
pendidikan, masyarakat ikut menanggung beban sosialisasi dan
menciptkan masyarakat yang melek huruf sebagai syarat pendidikan
politik dan keterlibata politik. Pemerintah menyadari bahwa beban
penduduk yang besar dengan corak agraris, perlu kerja keras dalam
memajukan warga negaranya.
4 Kondisi Psiko- Negara China yang memiliki wilayah dan penduduk terbesar di dunia,
Sosial/Kejiwaan Masyarakat sebelum Partai Komunis China berkuasa selalu dilanda perang saudara. Hal
ini menyebabkan negara menjadi lemah dan banyak mengalami
penyerbuan bangsa asing. Namun dewasa ini, dengan kepercayaan diri
yang tinggi telah mampu berada dalam suatu posisi menguasai pengaruh
atas suatu ilayah yang sangat luas dan penting. Mereka juga bangga telah
memiliki kekayaan budaya yang tinggi negara China yang telah diwariskan
oleh para pendahulunya.
5 Pedoman Filsafat Mayoritas masyarakat Cina memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Mereka memiliki keyakinan bahwa mobilisasi dan perjuangan adalah inti
dari politik. Sifat – sifat seperti antusiasme, kepahlawanan, pengorbanan,
dan usaha bersama mendapatkan nilai yang tinggi. Asas percaya diri
sendiri mempunyai implikasi nasional maupun internasional.
6 Paham atau Ideologi yang Sistem komunis timbul secara langsung dari periode revolusioner yang
Diterapkan bukan diciptakan oleh kaum komunis. Revolusi Cina telah berlangsung
selama berpuluh – puluh tahun sebelum partai komunis menjadi kekuatan
yang besar dalam politik Cina dan mulai menguasai pemerintahannya.
Tidak dapat disangkal bahwa Uni Soviet mempunyai pengaruh kuat melalui
penyebaran Marxisme dan Leninisme. Antiimperialisme merupakan
unsure paling kuat dalam pembentukan ideology komunis.
7 Pedoman Konstitusi dan Berdasarkan konstitusi tahun 1954, organ wewenang negara tertinggi dan
Hukum pemegang wewenang legislative satu – satunya dalam sistem politik
negara adalah “ Kongres Rakyat Nasional” (KRN). KRN merupakan badan
perwakilan yang terdiri dari wakil – wakil yang dipilih oleh kongres tingkat
provinsi, angkatan bersenjata, dan orang – orang Cina perantauan. KRN
merupakan forum proses politik untuk mempelajari, mendukung, dan
mengesahkan tindakan – tindakan pimpinan pusat yang melambangkan
dukunganrakyat. selain KRN, organ adminsitratif utama dalam struktur
politik negara adalah Dewan Negara yang terdiri dari Perdana Menteri,
Wakil – wakil Perdana Menteri, dan Kepala – kepala dari semua
kementrian dan komisi. mereka merupakan pusat kekuasaan negara yang
sesungguhnya. Sedangkan Mahkamah Rakyat Tertinggi dan Kejaksaaan
Rakyat Tertinggi, berdasarkan konstitusi merupakan organ – organ
pengadilan yang menyelidiki masalah – masalah dan memberikan putusan

58
pengadilan. Kejaksaan mempunyai kekuasaan yang bebas, termasuk
penyelidikan, penuntutan, dan pengawasan secara umum terhadap semua
organ negara, termasuk pengadilan – pengadilan.

3. Model-model Sistem politik


Setiap Negara mempunyai sistem politik yang berbeda-beda antara Negara satu dengan yang lainnya,
hal ini dipengaruhi oleh sejarah, lingkungan dan atau kultur serta Ideologi yang digunakan oleh negara
tersebut.
Beberapa model-model sistem politik ditinjau dari sudut historis dan perkembangan sistem politik,
dimulai Otokrasi Tradisisonal ke Totaliter dan sampai ke Demokrasi (Ramlan Surbakti)

1. Sistem politik Otokrasi Tradisional


Sistem politik menekankan pada nilai-nilai moral dari kebutuhan materil, menekankan kekerabatan
dari pada individualisme, menekanakan ikatan primordial seperti ikatan keturunan, ikatan suku
bangsa atau agama yang terwujud dalam diri seorang pemimpin yang dominan ( Otokrat ), contoh
pemimpinmya biasanya sultan, raja atau kaisar yang dijadikan identitas bersama dalam sistem ini.
Kekuasaanya lebih bersifat pribadi, berada di sekitar otokrat tersebut, seperti kaum bangsawan, tuan
tanah & alim ulama, kelompok sosial modern seperti kelompok kepentingan, partai politik medi
massa belum berkembang, para petani tidak ikut kegiatan politik karena mskin, nuta huruf, terikat
tradisi dan dikuasai tuan tanah sedangkan tuan tanah sebagai kaki tangan otokrat. Kewenangan
otokrat bersumber dan berdasarkan tradisi atau warisan orang tuanya yang mungkin pernah
memegang otokrat atau kerabat otokrat.
2. Sistem politik Totaliter
Sistem ini sangat menekankan konsessus total di dalam masyarakat dan menimbulkan konflik di
dalam maupun di luar negeri. Namun untuk mencapai itu semua bukan hanya dengan Indoktrinasi
Ideologi tetapi juga dengan cara paksaan yang luas dan mendalam. Sistem ini terdapat dalam Sistem
Politik Komunisme dan Sistem politik Fasisme.
3. Sistem Politik Demokrasi
Sistem ini sistem politik yang menghendaki keseimbangan antara konflik dan konsessus artinya
demokrasi yang memungkinkan adanya perbedaan pendapat, persaingan dan pertentangan diantara
individu dan kelompok, individu dan pemerintah, kelompok dan pemerintah selama tidak
menganggu sistem.
4. Sistem Kepartaian Dunia
Masing-masing negara mempunyai sistem politik yang berbeda-beda, termasuk sistem kpartaian yang
digunakan. Sistem kpartaian yang ada di dunia ini terdapat tiga macam sistem yaitu :
a. Sistem satu Partai ( One Party Sistem )
Suatu negara yang menerapkan sistem ini hanya terdapat stu partai saja yang berkuasa dalam negara
itu bersifat dictator. Fungsi partai dalam sistm kepartaian ini sebagai pembimbing dan penggerak
masyarakat serta menekan perpaduan anatara kepentingan partai dengan kepentingan rakyat.
Negarayang menerapkan sistem ini adalah beberapa negara Afrika, Erofa Timur, RRC serta Korea
Utara atau dinegara-negara komunis.
b. Sistem Dua Partai ( Two Party Sistem )
Suatu negara yangmenerapkan sistem ini terdapat dua partai atau beberapa partai tetapi peranan
dominan tetap pada dua partai yaitu partai yang berkuasa ( karena menang dalam pemilu ) dan
partai oposisi ( karenakalah dalam pemilu ). Dalam sistem ini partai yang kalah dalam pemilu
berperan sebagai pengecam utama terhadapa kebijakan partai yang duduk dalam pemerintahan,
sedangkan partai yang menang dalam pemilu duduk dalam pemerintahan. Kedudukan partai yang
berkuasa sewaktu-waktu dapat berpimdah tangan, didasarkan pada hasil pemilu. Sistem ini sangat
cocok diterapkan di masyarakat yang sifatnya homogin. Negara yang menerapkan sistem ini adalah
Amerika serikat, Inggris, terutama inegara-negara liberal.
c. Sistem Multi Partai ( Multy Party Sistem )

59
Suatu ngara yang menerapkan sistem ini terdapat banyak partai politik yang diperbolehkan hdup dan
berkembang. Masing-masing partai politik mempunyai asas yang berbeda-beda. Biasanya didalam
sistem ini susah itemukan adanya suatu partai yang memperolh suara terbanyak, oleh karena itu
dilakukan kualisi diantara beberapa partai agar suara yang diperoleh dapat menjadi suara terbanyak.
Demikian juga dengan sistem pemerintahan yang dibentuknya juga pemerintahan kualisi. Sistem ini
biasanya diterapkan dalam masyarakat yang bersifat majemuk (heterogin). Negara yang menerapkan
sistem ini antara lain Perancis, Belgia, Nederland, Filipina, Indonesia dll.
5. Dinamika Politik Indonesia
Setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaanya padatanggal 17 Agustus 1945, gagasan
Demokrasi dalam kehidupan politik mendapat tempat yang sangat menonjol. Sehingga hal ini
dinyatakan dalam UUD 1945. Pada awal perjalanan politik di Indonesia presiden diberi kekuasaan
sementara untuk kekuasaan MPR, DPR, dan DPA sebelum lembaga-lembaga tersebut terbentuk sebagai
mana mestinya. Kaum muda menghendaki agar sistem pemrintahan yang akan dibentuk adalah sistem
parlementer bukan presidensial. Beberapa alasan yang dikemukakan antara lain :
a. Adanya ketidak setujuan terhadap peletakan kekuasaan ditangan Soekarno yang pemerintahannya
didominasi oleh orang-orang pada zaman pendudukan Jepang menduduki jabatan penting.
b. Adanya pandangan bahwa sistem presidensial memungkinkan dibuatnya produk darurat legislasi,
yang berarti negara terlalu kuat dan tidak mencerminkan demokrasi.
c. Pemerintahan yang ada hanya untuk memberikan kesan kepada dunia internasional bahwa negara
ini adalah negara demokrasi yang bukan boneka jepang.
d. Adanya keinginan untuk menghalau kegiatan politik Subardjo untuk menjadi partai persatuan
nasional sebagai partai tunggal.

Secara umum dinamika politik Indonesia dapat di bagi dalam empat periode
1. Periode Demokrasi liberal ( 1945-1959 )
Pada periode ini dinamika politik negara Indonesia dapat dilihat berdasarkan aktifitas politik kenegaraan
sebagai berikut:
a. Pada awal kemerdkaan presiden untuk sementara memegang jabatan rangkap dan segera
membentuk serta melantik Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
b. Untuk menghindari kekuasaan presiden yang terpusat, timbul usaha-usaha untuk membangun corak
pemerintahan yang lebih demokratis, yaitu parlementer.
c. Dengan dikeluarkannya maklumat wakil presiden No. X tahun 1945 yang menyatakan bahwa Komite
Nasional Pusat sebelum terbentuk MPR dan DPR diserahi kekuasaan legislative dan ikut menetapkan
GBHN.
2. Periode Demokrasi Terpimpin ( 1959-1966 )
Pada periode ini dinamika politik negara Indonesia dapat dilihat berdasarkan aktifitas politik kenegaraan
sebagai berikut :
a. Keluarnya dekrit presiden 5 juli 1959 telah mengakhiri sistem politik liberal yang kemudian berganti
dengan sistem demokrasi terpimpin dan brlakunya kembali UUD 1945.
b. Dekrit presiden selain didukung oleh anggota Angkatan Darat dan MA, juga banyak didukung oleh rakyat
karena kegagalan dewan konstituante dalam melaksanakan tugasnya yaitu membuat UUD yang baru.
c. Demokrasi terpimpin mengandung ketentuan tentang mekanisme pengambilan keputusan dengan
muayawarah dan mufakat. Jika musyawarah mufakat tidak dapat tercapai maka keoutusan tentang
masalah yang dimusyawarahkan tersebut diserahkan kepada presiden untuk diambil keputusan.
d. Pilar-pilar demokrasi dan kehidupan kepartaian serta legislatif menjadi sanngat lemah, sebaliknya
presiden sebagai kepala eksekutif menjadi sangat kuat.
Dalam demokrasi terpimpin yang diterapkan pada masa orde lama ini telah banyak terjadi penyimpangan
terhadap Pancasila maupun UUD 1945, antara lain :
a. Penyimpangan ideology yaitu konsepsi pancasila berubah menjadi konsepsi NASAKOM ( Nasionalis,
Agama, Komunis )

60
b. MPRS melalui ketetaan MPRS No.III/MPRS/!(^# mengangkat Ir. Soekarno sebagai presiden seumur
hidup.
c. Pada tahun 1960 DPR hasil pemilu tahun 1955 dibubarkan oleh presiden karena RAPBN yang diajukan
pemerintah tidak disetujui DPR. Kemudian dibentuklah DPR-GR tanpa melalui pemilu.
3. Periode Orde Baru ( 1966-1998 )
Tarik menarik kekuatan antara Soekarno, PKI, dan angkatan darat akhirnya menangkan oleh angkatan darat.
Soeharto mendapat mandate dari Soekarno untuk memulihkan keamanan melalui surat perintah 11Maret
1966 ( SUPERSEMAR ) yang antara lain berisi “pelimphan kekuasaan kepadasoeharto untuk mengambil
segala tindakan yang diperlukan untuk menjamin keamanan dan stailitas pemerintahan serta kelamatan
pribadi presiden. SUPERSEMAR tersebut menjadi jalan bagi tampilnya angkatan darat sebagai peran utama
dalam politik Indonesia. Selamjutnya pemerintah Soeharto yang tampil menggantikan Soekarno sejak 1967
menamakan dirinya pemerintahan orde baru ( ORBA ). Orde Baru adalah suatu tatanan seluruh peri
kehidupan rakyat, bangsa dan negara yang diletakan kembali kepada kemurnian Pancasila dan UUD 1945.
Dinamika politik pada masa ini dapat dilihat berdasarkan aktifitas politik kenegaraan sebagai berikut :
a. Terjadinya krisis politik yang luar biasa yaitu banyaknya demonstrasi oleh mahasiswa, pelajar dan
ormas-ormas yang hidup dalam tekanan selama erademokrasi terpimpin sehingga melahirkan tuntutan
rakyat ( TRI TURA ) yaitu : Bubarkan PKI, Turunkan Harga/perbaikan ekonomi, dan bersihkan cabinet dwi
kora dari unsur0unsur PKI.
b. Pemerintah orde baru lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi dan pada sisilain rezim ini
berupaya menciptakan stabilitas politik dan keamanan. Upaya untuk membangun stabilitas tersebut
dilakukan dengan mengekang hak-hak politik rakyat atau demokrasi.
c. Pada awal pemerintahan orde baru parpol dan media masa diberi kebebasan untuk melancarkan kritik
dan mengingkapkan realita di dalama masyarakat. Namun sejak dinebtuknya format politik baru yang
dtuangkan dalam UU No. 15tahun 1969 tentang pemilu dan susduk MPR/DPR/DPRD, mengiring
masyarkat Indonesia kearah otoritarian. Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa pengisian 1/3 kursi
anggota MPR dan 1/5 kursi anggota DPR dilakukan melalui pengangkatan secara langsung tanpa melalui
pemilu.
d. Kemenangan Golkar pada pemilu tahun 1971 mengurai oposisi terhadap pemerintah dikalangan sipil,
karena Golkar sangat dominan sementara partai lain dibawah pengawasan pemerintah.
e. Pada tahun 1973 pemerintah melaksanakan penggabungan Sembilan partai politik peserta pemilu tahun
1971 kedalam dua parpol yaitu PPP yang menggabungkan partai-partai islam, PDI yang merupakan
gabungan partai nasionalis dan Kristen. Penggabungan ini mengakibatkan merosostnya perolhan suara
kedua partai tersebut.
f. Selama orde baru berkuasa pilar-pilar demokrasi seperti parpol dan lembaga perwakilan rakyat dalam
kondisi lemah dan selalu dibayangi kontrol dan penetrasi birokrasi yang kuat.
g. Lembaga eksekutif sangat kuat sehingga partisipasi politik dari kekuatan-kekuatan diluar birokrasi
sangat lemah. Kehidupan pers selalu dibayangi-bayangi oleh percabutan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers
(SIUP)

4. Periode Reformasi
Akibat langsung yang disarankan oleh masyarakat menjelang runtuhnya orde baru adalah praktek korupsi, kolusi dan
nepotisme yang semakin marak dalam berbagai bidang kehidupan. hal ini selain mengakibatkan terjadinya krisis
kepercayaan, juga telah menghancurkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan, etika politik, moral hukum, dasar-dasar
demokrasi dan sendi-sendi agama. khusus dibidang politik krisis kepercayaan tersebut diserpon oleh masyarakat melalui
kelompok penekan (Pressure group) dengan mengadakan berbagai macam unjuk rasa/demonstrasi yang dipelopori oleh
mahasiswa, pelajar, dosen, praktisi, LSM, dan politisi. Gelombang demonstrasi yang menyuarakan reformasi begitu
deras mengalir dengan dukungan dari berbagai kalangan.

Akhirnya pada tanggal 21 Mei 1998 presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri dan digantikan oleh wakil
presiden B.J.Habibie .

61
6. Peran Serta dalam Sistem Politik di Indonesia
Manusia memiliki naluri untuk hidup berkawan dan hidup bersama dengan sesamanyaatau bertentangan satu
sama lain.
Dengan demikian timbullah kelompok-kelompok masyarakat yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu.
Misalnya untuk mengejar kepentingan dibidang politik akan terbentuk masyarakat politik. Masyarakat politik adalah
masyarakat yang sadar berpolitik atau masyarakat yang keikutsertaan hidup bernegara menjadi penting dalam
kehidupannya sebagai warga negara. Tugas negara bersifat menyeluruh dan kompleks, sehingga tanpa dukungan
positif dari seluruh warga negara atau masyarakat, tugas-tugas negara akan banyak yang terbengkelai.
Masyarakat politik yang berdiri dari elit politik dan massa politik serta menjadi peserta rutin dalam kompetisi politik
harus dibangun sebagai komponen masyarakat yang mempunyai etika politik dalam demokrasi yang baik. Mereka harus
disadarkan bahwa demokrasi bukan hanya kompetisi bebas dengan menggunakan partai-partai untuk merebut jabatan
pemerintahan, tetapi demokrasi juga harus menghormati harkat dan martabat hidup manusia dan membangun
masyarakat politik, ekonomi, dan sosial yang baik.
Ciri-ciri masyarakat politik adalah:
1). Dengan sadar dan sukarela menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, terutama hak pilih aktif.
2). Bersifat kritis terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dengan bersikap:
a) Menerima sebagai apa adanya.
b) Menolak dengan alasan tertentu, atau
c) Adanya yang suka diam tanpa memberikan reaksi apa-apa.
3). Memiliki komitmen kuat terhadap partai politik yang menjadi pilihannya.
4). Dalam penyelesaian suatu masalah lebih suka dilakukan melalui dialog atau musyawarah.
Adapun bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh warga negara sebagai masyarakat politik antara lain:
1). Perilaku politik, 2). Budaya politik, 3). Kelompok kepentingan, dan 4). Kelompok penekan
Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam berpolitik antara lain menjadi anggota partai politik,
menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, maupun aktif dalam kegiatan organisasi-organisasi kemasyarakatan. Perilaku
politik warga negara pada umumnya terhadap dua hal yaitu: 1). Perasaan puas atau tidak puas dengan kenyataan yang
ada
2). Perilaku yang mengnginkan atau menolak perubahan
Orang yang sudah puas dengan kenyataan yang ada umumnya memiliki sikap perilaku politik yang positif terhadap
pemerintah. Sedangkan orang yang tidak puas dengan kenyataan yang ada memiliki sikap politik yang negatif terhadap
apa saja yang dilakukan oleh pemerintah.
Berdasarkan dua penggolongan sikap perilaku yang ada tersebut, maka sikap perilaku politiknya antara lain :
1) Radikal
Adalah sikap perilaku warga negara tidak puas terhadap keadaan yang ada serta menginginkan perubahan yang
cepat dan mendasar. Orang yang bersifat radial biasanya tidak mengenal kompromi yang tidak mengindahkan orang
lain serta cenderung maunya menang sendiri.
2) Moderat
Adalah sikap perilaku politik masyarakat yang telah cukup puas dengan keadaan dan bersedia maju, tetapi tidak
menerima sepenuhnya perubahan apalagi perubahan yang serba cepat seperti kelompok radial.
3) Status Quo
Adalah sikap perilaku politik dari warga negara yang sudah puas dengan keadaan yang ada/berlaku dan keadaan
tersebut berusaha tetap dipertahankan.
4) Konservatif
Adalah sikap perilaku politik masyarakat yang sudah puas dengan keadaan yang sudah ada dan cenderung bertahan
dari perubahan (perubahan tahap demi tahap).
5) Liberal
Adalah sikap perilaku politik masyarakat yang berpikir bebas dan ingin maju terus dengan perubahan progresif dan
cepat. Perubahan yang diinginkan berdasarkan hukum atau kekuatan legal untuk mencapai tujuan.
6) Reaksioner
Adalah sikap perilaku politik masyarakat yang bersifat menentang kemajuan atau perubahan, bersifat berlawanan
dengan kebijakan pemerintah yang sah.Biasanya dilakukan dengan konfrontasi, protes keras, pemogokan masal,
tindak kekerasan terhadap harta benda dan fasilitas umm, tindak kekerasan terhadap manusia dan sebagainya.
Bagi bangsa Indonesia yang memiliki pandangan hidup pancasila semestinya kita dalam berpolitik sesuai dengan budaya dan
nilai-nilai pancasila antara lain:
1. Menghargai perbedaan dan kemajemukan serta keanekaragaman
2. Kritis, inovatif dan konstruktif
3. Kemandirian dan kompetitif

62
4. Komitmen yang kuat dan tanggung jawab atas pilihannya
5. Santun dan anti kekerasan serta mampu mengendalikan diri
6. Lapang dada dan mau kompromi demi kepentingan dan keutuhan bangsa dan negara
7. Terbuka dan toleransi
8. Saling menghargai dan bekerja sama
9. Mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan masalah

Beberapa contoh peran serta warga negara dalam sistem politik di Indonesia:
a. Dalam menyalurkan aspirasi sesuai dengan peraturan yang ada
b. Ikut mengsukseskan pemilu
c. Selalu menjaga kondisi yang tetap kondusif
d. Mau menerima hasil pemilu dengan lapang dada,dan lain-lain.

63