Anda di halaman 1dari 44

Kebudayaan Minahasa

Tugas Mata Kuliah Budaya Nusantara


Anggota Kelompok II :

Abdul Haris F.
Andreas Martin
Debrian Ruhut Saragih
Dicky Mahendra

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA


Spesialisasi Penilai/PBB
2010
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................2
A.IDENTIFIKASI..............................................................................................3
B.ASAL USUL SUKU MINAHASA ANAK SUKU TONSEA........................................5
C.LEGENDA MINAHASA (TOAR LUMIMU'UT).....................................................6
D.MATA PENCAHARIAN..................................................................................8
E.RELIGI......................................................................................................10
F.SISTEM KEMASYARAKATAN.......................................................................13
1.MASYARAKAT MINAHASA KUNO..............................................................................................13
2.AWU DAN TARANAK...........................................................................................................14
3.PAESA IN DEKEN..............................................................................................................16
4.KAWANUA .....................................................................................................................17
5.WALAK DAN PAKASA'AN......................................................................................................21
6.TONA'AS DAN WALIAN ......................................................................................................23
G.SISTEM PEMERINTAHAN............................................................................25
H. UPACARA ADAT.......................................................................................26
1.MONONDEAGA ................................................................................................................26
2.MUPUK IM BENE ..............................................................................................................26
3.METIPU ........................................................................................................................27
4.WATU PINAWETENGAN........................................................................................................27
5.UPACARA PEMAKAMAN .......................................................................................................28
6.UPACARA PERNIKAHAN........................................................................................................28
7.UPACARA PERKAWINAN........................................................................................................30
I.PRODUK BUDAYA.......................................................................................32
J.WISATA MEGALIT DI MINAHASA BATU-BATU EKSOTIK DARI NEGERI BIBIR
PASIFIK.......................................................................................................42
1.WARUGA.......................................................................................................................42
2.WATU PINAWETENGAN........................................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................44
Kebudayaan Minahasa

KEBUDAYAAN MINAHASA

A. Identifikasi
Orang Minahasa adalah suatu suku bangsa yang mendiami suatu daerah pada bagian
timur laut jazirah Sulawesi Utara. Dalam ucapan umum orang Minahasa menyebut diri
meraka Orang Manado/Touwenang, Minahasa, atau Kawanua. Sedangkan Suku Minahasa
adalah salah satu suku bangsa di Indonesia. Mereka berasal dari Kabupaten Minahasa
provinsi Sulawesi Utara. Suku Minahasa sebagian besar tersebar di seluruh provinsi Sulawesi
Utara.
Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku:
1. Babontehu
2. Bantik
3. Pasan Ratahan
4. Ponosakan
5. Tonsea
6. Tontemboan
7. Tondano
8. Tonsawang
9. Tombulu
Di antara sembilan subsuku di atas, yang termasuk subsuku terbesar adalah :
Tontemboan, Tonsea, Tombulu, dan Bantik.
Minahasa berasal dari kata "MINAESA" yang berarti persatuan, yang mana zaman
dahulu Minahasa dikenal dengan nama "MALESUNG".
Menurut penyelidikan dari Wilken dan Graafland bahwa pemukiman nenek moyang orang
Minahasa dahulunya di sekitar pegununggan Wulur Mahatus, kemudian berkembang dan
berpindah ke Mieutakan (daerah sekitar tompaso baru saat ini).
Orang minahasa yang dikenal dengan keturunan Toar Lumimuut pada waktu itu
dibagi dalam 3 (tiga) golongan yaitu :
 Makarua Siow : para pengatur Ibadah dan Adat
 Makatelu Pitu : yang mengatur pemerintahan
 Pasiowan Telu : Rakyat
Berdasarkan penyelidikan Dr. J.P.G. Riedel, sekitar tahun 670 di Minahasa telah
terjadi suatu musyawarah di watu Pinawetengan yang dimaksud untuk menegakkan adat

3
Kebudayaan Minahasa

istiadat serta pembagian wilayah Minahasa. Pembagian wilayah minahasa tersebut dibagi
dalam beberapa anak suku, yaitu:
 Anak suku Tontewoh (Tonsea) : wilayahnya ke timur laut
 Anak suku Tombulu : wilayahnya menuju utara
 Anak suku Toulour : menuju timur (atep)
 Anak suku Tompekawa : ke barat laut, menempati sebelah timur tombasian besar
Pada saat itu belum semua daratan minahasa ditempati, baru sampai di garisan
Sungai Ranoyapo, Gunung Soputan, Gunung Kawatak, Sungai Rumbia. nanti setelah
permulaan abad XV dengan semakin berkembangnya keturunan Toar Lumimuut, dan
terjadinya perang dengan Bolaang Mongondow, maka penyebaran penduduk makin meluas
keseluruh daerah minahasa. hal ini sejalan dengan perkembangan anak suku sepert anak suku
Tonsea, Tombulu, Toulour, Tountemboan, Tonsawang, Ponosakan dan bantik.
Di Minahasa sejak dahulu tidak mengenal adanya pemerintahan yang diperintah oleh
raja. Yang ada adalah:
 Walian :Pemimpin agama / adat serta dukun
 Tonaas : Orang keras, yang ahli dibidang pertanian, kewanuaan, mereka yang
dipilih menjadi kepala walak
 Teterusan : Panglima perang
 Potuasan : Penasehat
Sebutan "SI TOU TIMOU TUMOU TOU" dalam bahasa Minahasa artinya: "Manusia
hidup untuk menghidupkan manusia". Ini jadi moto keturunan Minahasa asli.
Kata 'Tou' berarti manusia di bahasa Minahasa. 'Timou' berarti hidup. 'Tumou'
berarti mengembangkan, merawat dan mengajar.
Filosofi kehidupan yang berasal dari Minahasa tua ini jadi sering dikutip oleh
almarhum Dr. G.S.S.J. Ratu-Langie (Dr. Sam Ratulangi, 1890-1949), seorang filosof
Minahasa, guru dan pahlawan nasional di Indonesia.
Pulau Sulawesi, dulu dipanggil Celebes, terletak di kalung mutiara archipelago
Indonesia, terbentuk seperti salah satu bunga anggrek. Sulawesi Utara, sesuatu daerah yang
indah, terletak di bagian utara timur Sulawesi, mencakup 27.515 km persegi yang terdiri dari
empat daerah - Bolaang Mongondow, Gorontalo, Minahasa dan kepulauan Sangihe
danTalaud.
Sulawesi Utara juga terkenal oleh sebab tanahnya yang subur yang menjadi rumah
tinggal untuk berbagai variasi tanaman dan binatang, didarat maupun dilaut. Tertutup dengan

4
Kebudayaan Minahasa

daunan hijau pepohonan kelapa dan kebun-kebun cengkeh, tanah itu juga menyumbang
variasi buah-buahan dan sayuran yang lengkap. Fauna Sulawesi Utara mencakup antara lain
binatang langkah seperti burung Maleo, Cuscus, Babirusa, Anoa dan Tangkasii (Tarsius
Spectrum).
Untuk melindungi fauna ini, sebuah kebun alam telah di berdirikan. Taman laut yang
sangat menakjubkan menyelenggarakan petualangan dibawah air. Variasi yang luar biasa
dalam bidang panorama dan cara kehidupan orang tertempat yang memiliki tradisi yang unik
akan memikat pengunjung dari luar.
Penduduk Minahasa adalah orang Kristen yang ramah dan salah satu suku-bangsa
yang paling dekat dengan negara barat. Hubungan pertama dengan orang Europa terjadi saat
pedagang Espanyol dan Portugal tiba disana. Tetapi hanya saat orang Belanda tiba, agama
Kristen tersebar terseluruhnya. Tradisi lama jadi terpengaruh oleh keberadaan orang Belanda.
"Minahasa" berasal dari confederasi masing-masing suku-bangsa dan patung-patung yang
ada jadi bukti sistem suku-suku lama.
Sulawesi Utara jadi salah satu produsen kelapa, cengkeh dan pala yang terbesar di
Indonesia, yaitu menambah pada kekayaan alamnya.

B. Asal Usul Suku Minahasa Anak Suku Tonsea


Di tanah Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti: Kaum Kuritis
yang berambut keriting, Kaum Lawangirung (berhidung pesek) Kaum Malesung/ Minahasa
yang menurunkan suku-suku : Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Suku Bantenan
(Pasan,Ratahan),Tonsawang, Suku Bantik masuk tanah minahasa sekitar tahun 1590 . Suku
Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang
berakar pada bangsa Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik
seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dan lain-lain.
Dalam bahasa, Bahasa Minahasa termasuk rumpun bahasa Filipina Tetua- tetua
Minahasa menurunkan sejarah kepada turunannya melalui cerita turun temurun biasanya
dilafalkan oleh Tonaas saat kegiatan upacara membersihkan daerah dari hal- hal yang tidak
baik bagi masyarakat setempat saat memulai tahun yang baru dan dari hal kegiatan tersebut
diketahui bahwa Opo Toar dan Opo Lumimuut adalah nenek moyang masyarakat Minahasa,
meskipun banyak versi tentang riwayat kedua orang tersebut.
Keluarga Toar Lumimuut sampai ketanah Minahasa dan berdiam disekitar gunung Wulur
Mahatus, dan berpindah ke Watuniutakan Sampai pada suatu saat keluarga bertambah
jumlahnya maka perlu diatur mengenai interaksi sosial didalam komunitas tersebut, yang

5
Kebudayaan Minahasa

melalui kebiasaan peraturan dalam keturunannya nantinya menjadi kebudayaan minahasa.


Demikian juga dengan isme atau kepercayaan akan sesuatu yang lebih berkuasa atas manusia
sudah dijalankan diMinahasa sejak awal.

C. Legenda Minahasa (Toar Lumimu'ut)


Minahasa adalah suatu daerah yang terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi (dahulu
disebut Celebes) di Indonesia. Penduduk menyebut diri mereka sendiri 'Orang Minahasa',
sedangkan Minahasa yang tinggal di luar Minahasa menyebut diri mereka sendiri Kawanua,
yang berarti ´keluarga´.
Kalau anda berada di Minahasa anda akan segera mendengar nama Toar dan
Lumimu'ut disebut. Di Kota Manado sendiri terdapat sepasang patung ini.
Ini adalah cerita tentang Toar dan Lumimu'ut. Menurut cerita legenda, nenek moyang
Minahasa datang dari Monggolia. Orang-orang Monggolia merupakan sebuah kelompok
yang sulit di kendalikan dimana, setelah mereka menyerbu Cina, untuk mencari tempat
tinggal. Orang Monggolia yang terkenal adalah Genghis Khan.
Kelompok-kelompok Monggolia berlayar dengan kapal dan tiba di Celebes Utara
melalui Philipina. Hal ini menjelaskan mengapa orang Philipina dan orang Minahasa
umumnya mempunyai mata yang agak sipit. Mereka (orang Mongol) juga pergi sampai ke
dalam Celebes yang sekarang di sebut Tanah Toraja di Celebes Tengah. Disana atap-atap
rumah dan bangunan-bangunan tradisional mempunyai bentuk kapal berlayar dengan ikatan
simpul yang menunjuk ke arah utara. Disini mereka menggambarkan tentang penyerbu
tersebut yang sebagai Tuhan yang datang dari Utara
Menurut legenda, orang Minahasa berasal dari kedua orang ini yang datang ke
Celebes bagian utara, mereka adalah lelaki Toar (matahari) dan wanita Lumimu'ut (tanah).
Lumimu'ut adalah seorang prajurit wanita, yang dibentuk dari batu karang, dicuci dalam laut,
dipanaskan oleh matahari dan disuburkan oleh Angin Barat. Mereka, awal mulanya,
berkemah di pulau vulcanic, Manado Tua, dekat tepi laut Minahasa, seberang
Manado."Ibunya sangat cantik. Namanya adalah Lumimu'ut dan dia adalah seorang
keturunan tuhan. Kecantikannya yang luar biasa mempesonakan dan awet muda yang
dianugrahi kepadanya. Ketika anak lelakinya, Toar, sudah menjadi seorang pemuda dia
meninggalkan ibunya untuk menjelajahi dunia. Lumimu'ut memiliki sebuat tongkat
perjalanan yang panjang dan ketika dia mengucapkan perpisahan kepada Toar dia
memberikannya sebuah tongkat yang sama panjangnya dan dia memperingatkan nya untuk
tidak menikah dengan anggota keluarga; oleh sebab itu dia seharusnya tidak boleh menikahi

6
Kebudayaan Minahasa

seorang perempuan yang mempunyai tongkat yang sama panjang seperti miliknya. Bertahun-
tahun lamanya dan perjalan panjang kemudian Toar kembali ke kampung halamannya.
Disana dia bertemu dengan seorang wanita muda cantik dimana dia jatuh cinta dan ingin
menikahinya. Dia tidak mengenal ibunya sendiri yang memang tetap abadi awet muda, dan
dari pihak ibunya sendiri tidak mencurigai sama sekali bahwa pemuda dewasa yang ganteng
ini adalah anaknya sendiri.
Sebelum mengambil sumpah perkawinan Toar ingat akan permintaan ibunya ketika
dia akan meninggalkannya untuk perjalanan panjang. Oleh sebab itu dia meletakkan
tongkatnya di samping tongkat calon istrinya untuk membandingkan panjangnya.
Tetapi selama perjalanan panjangnya dia sudah memakai banyak tongkatnya, sehingga
tongkat tersebut menjadi jauh lebih pendek. Sehingga tidak ada halangan lagi untuk nenek
moyang Minahasa ini.
Ketika kemudian mereka mengetahui kesalahan mereka, sudah sangat terlambat dan
dengan rasa malu mereka meninggalkan rumah kota mereka. Selama perjalanan mereka,
mereka kemudian tiba di Celebes Utara di pulau volcanic di Menado Tua, seberang pantai
dekat Manado di Minahasa
Setelah beberapa waktu kemudian Toar dan Lumimu'ut akhirnya memutuskan untuk
pergi ke pantai di benua tersebut. Ketika mereka tiba disana mereka merasa pantai terlalu
panas, oleh sebab itu mereka pergi lebih dalam di desa tersebut dan menetap di gunung
Tondano dimana iklimnya sejuk dan segar. Disini mereka melahirkan anak-anak mereka dan
perlahan mendiami daerah tersebut. Akhirnya tentu saja anak-anak Toar dan Lumimu'ut
menginginkan daerah meraka masing-masing. Legenda menceritakan bahwa Toar
mengizinkan masing-masing anaknya memilih sebidang daerah dan melemparkan batu-batu
di jurusan yang berbeda-beda. Dimana batu-batu tersebut jatuh disitulah muncul kolonisasi
baru Tonsea (manusia yang suka air), Tondano (manusia yang suka danau), Tombulu
(manusia yang suka bulu), Tombasso, Tontemboan (Tompakewa), Toulour, Tomohon. Di
legenda tersebut ke-7 tempat ini adalah ke tujuh daerah Minahasa yang kemudian membuat
suku dengan kepala sukunya masing-masing (Kepala Suku, Tonaas, Hukum Tua atau Hukum
Besar)
Menurut mitos ini Penciptaan manusia turun temurun adalah dari wanita dan bukan,
sebagaimana di agama Kristen, dari laki-laki yang rusuknya diambil untuk menciptakan
wanita. Patung Toar dan Lumimu'ut berdiri di lapangan kecil di Manado, dimana bukan ibu
kota Minahasa, karena itu adalah Tondano. Manado, bagaimanapun, adalah ibu kota dari
Propinsi Sulawesi Utara dan daerah Minahasa secara luas sehubungan dengan administrasi
7
Kebudayaan Minahasa

dan masalah ekonomi. Pendiriannya secara resmi dianggap dibuat oleh Dotu Lolong Lasut,
yang diperingati dengan sebuah patung di kota. Lokasi patung Toar dan Lumimuut di pusat
Manado dapat di dianggap sebagai simbol persatuan/penggabungan Manado oleh orang
Minahasa.

D. Mata Pencaharian
Di Minahasa, jaringan jalan raya yang tergolong baik, serta adanya pelabuhan Bitung
dan bandar udara Sam Ratulangi, adanya industri-industri kecil, toko-toko besar, dan kegiatan
ekonomi modern lainnya sangat mempengaruhi sektor ekonomi pedesaan yang berpangkal
pada sektor pertanian rakyat yang masih bersifat tradisional.
Ekonomi pedesaan merupakan ciri-ciri perilaku petani Minahasa. Di Minahasa,
jaringan jalan yang tergolong baik, serta adanya pelabuhan Bitung dan bandar udara Sam
Ratulangi, adanya industri-industri kecil, toko besar maupun kecil di kotsa, dan kegiatan
ekonomi modern lainnya memang sangat erat berhubungan dan sangat mempengaruhi
ekonomi pedesaan yang berpangkal pada sektor pertanian rakyat yang masih tergolong
tradisional.ekonomi pedesaan di Minahasa mempunyai bentuk tersendiri yang menunjukkuan
adanya perbedaan-perbedaan dari masyarakat-masyarakat pedesaan lainnya. Berbagai sarana,
prasarana, dan pranata ekonomi di Minahasa sekarang telah mengalami pekembangan, jauh
berbeda dari masa-masa dahulu.
Berbagai pabrik, petokoan, yang menjual barang-barang mewah maupun kebutuhan
sehari-hari, kegiatan-kegiatan perdagangan ekspor dan impor antar pulau maupun lokal dan
masih banyak lagi, semuanya tergolong pada kegiatan ekonomi modern, yang menunjukkan
gejala perkembangan.
Khususnya mengenai sektor industri dapat dikemukakan bahwa bagian terbesar masih
tergolong pada industri kecil (sekitar 98%) dan sisanya tergolong pada industri menengah.
Sebagai penunjang sektor perdagangan, maka produksi sektor industri menunjukkan
pertambahan.
Dalam sektor pertanian sudah sejak masa sebelum Perang Dunia II berkembang
perkebunan rakyat tanaman-tanaman industri, terutama kelapa, cengkeh, kopi, dan pala.
Sekarang perkebunan-perkebunan ini terus mengalami peningkatan intensifikasi dan
ekstensifikasi dengan menggunakan metode dan teknologi pertanian modern. Akhir-akhir ini
komoditi petanian lain yaitu coklat, vanili, jahe putih dan jambu mete mulai digiatkan secara
intensif juga dengan metode dan teknologi pertanian modern.

8
Kebudayaan Minahasa

Persawahan menunjukkan pula adanya gejala-gejala perkembangan dalam upaya


peningkatan produksi padi. Perbaikan dan pembangunan irigasi, penggunaan pupuk dan bibit
unggul adalah contoh dari beberapa perkembangan yang dimaksud. Pertebatan ikan mas
dengan mempraktekan metode baru (menggunakan air yang mengalir deras ke dalam tebat-
tebat yang terbuat dari semen) dijalankan di banyak desa terutama oleh petani-petani kaya.
Perladangan menetap tradisional (kebun kering) yang umum di Minahasa adalah
perladangan jagung, umumnya untuk konsumsi petani sendiri. Biasanya petani menanam pula
dalam kebun jagung berbagai jenis sayur, tanaman bumbu masakan sehari-hari, dan buah-
buahan (terutama advokat, pepaya, jenis-jenis jeruk, nangka, sirsak, jambu biji, dan jenis-
jenis jambu air) untuk konsumsi sendiri. Akhir-akhir ini pemerintah daerah telah
mengusahakan peningkatan produksi jagung melalui Proyek Mandiri di kalangan petani,
dijalankan dengan penyuluhan dinas pertanian, untuk dipasarkan melalui Koperasi Unit Desa
(KUD). Selain jagung, kebun sering ditanami pula dengan kacang merah, kacang tanah,
kedelai, kacang hijau, dan berbagai jenis ubi.
Selain pengembangan perikanan laut yang dilaksanakan oleh Perikani yang berpusat
di Aertembaga, terutama penangkapan dan pengolahan cakalang, nelayan-nelayan tradisional
mulai meningkatkan produksi berbagai jenis ikan dan binatang laut dengan menggunakan
alat-alat yang lebih baik maupun dengan apa yang disebut ”motorisasi” perahu penangkapan
ikan. Namun demikian, penangkapan jenis binatang laut masih umum dijalankan dengan
teknologi tradisional.radisional dipegunakan pula dalam penangkapan jenis-jenis biotik
sumber protein di danau-danau dan sungai-sungai. Di desa-desa sekeliling danau Tondano
ada segolongan penduduk yang khusus menjalankan kegiatan kegiatan menangkap berbagai
jenis ikan dan binatang danau. Golongan nelayan ini mengisi sebagian dari kebutuhan pritein
hewani yang dapat diperoleh dipasar-pasar di kota-kota.
Hutan merupakan sumber energi maupun materi untuk berbagi kebutuhan penduduk.
Berbagai jenis bahan makanan (binatang dan tumbuhan) kebutuhan sehari-hari maupun pesta
bersumber dari hutan. Jenis-jenis binatang yang umum dimakan adalah babi hutan, tikus
hutan (ekor putih), dan kalong. Lain-lainnya yang jarang dimakan karena sudah tergolong
langka atau tidak umum dimakan oleh orang Minahasa adalah seperti rusa, anoa, babi rusa,
monyet, ular piton, biawak, ayam hutan, telur burung maleo, dan jenis-jenis unggas liar
lainnya. Berbagai jenis tumbuhan liar baik yang terdapat di hutan maupun lingkungan fisik
lainnya merupakan bahan makanan yang memenuhi kebutuhan sayur-sayuran, terutama
pangi, rebung dan pakis.

9
Kebudayaan Minahasa

Demikian pula, hutan menghasilkan berbagai jenis buah-buahan, seperti jenis-jenis


mangga, pakoba dan kemiri. Selain itu, enau merupakan sumber nira sebagai minuman yang
terkenal di Minahasa (disebut sanguer) maupun bahan gula merah. (Tumbuhan ini tumbuh di
hutan maupun kebun).
Untuk berbagai kebutuhan kayu sebagai bahan untuk membuat berbagai alat dan
bangunan gedung dan rumah, hutan merupakan sumbernya. Kecuali itu, hutan dan
lingkungan-lingkungan fisik lainnya merupakan tempat bertumbuhnya tumbuhan-tumbuhan
yang memberi bahan-bahan untuk berbagai kebutuhan umum. Seperti rotan, kayu bakar, daun
rumbia (bahan atap rumah). Sayang sekali luas hutan di Minahasa makin berkurang, terutama
karena ekstensifikasi perkebunan cengkeh yang dilakukan oleh penduduk desa maupun
penduduk kota.
Di daerah Minahasa menunjukkan bahwa sektor pertanian memberikan sumber yang
terbesar, melebihi 126 milyar rupiah (42,36%). Daripadanya subsektor perkebunan adalah
yang paling besar dan sesudahnya adalah subsektor pertanian pangan dan subsektor-subsektor
perikanan, peternakan, dan kehutanan. Ada empat jenis komoditi (kelapa, cengkeh, pala dan
kopi) dan satu golongan komoditi lainnya (vanili, jahe putih, dan biji jambu mete) yang
sangat penting bagi perekonomian daerah ini. Bahkan tiga jenis komoditi yaitu kelapa, pala
dan kopi mengisi paket ekspor Sulawesi Utara.

E. Religi
Unsur-unsur kepercayaan pribumi yang dapat disaksikan pada orang Minahasa yang
sekarang secara resmi telah memeluk agama-agama Protestan, Katolik maupun Islam
merupakan peninggalan sistem religi zaman dahulu sebelum berkembangnya agama Kristen.
Unsur-unsur ini mencakup : konsep-konsep dunia gaib, makhluk dan kekuatan adikodrati
(yang dianggap “baik” dan “jahat” serta manipulasinya, dewa tertinggi, jiwa manusia, benda
berkekuatan gaib, tempat keramat, orang berkekuatan gaib, dan dunia akhirat).
Unsur-unsur religi pribumi terdapat dalam beberapa upacara adat yang dilakukan
orang yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa lingkaran hidup individu, seperti
kelahiran, perkawinan, kematian maupun dalam bentuk-bentuk pemberian kekuatan gaib
dalam menghadapai berbagai jenis bahaya, serta yang berhubungan dengan pekerjaan atau
mata pencaharian. Unsur-unsur ini tentu juga tampak dalam wujud sebagai kedukunan
(sistem medis makatana) yang sampai sekarang masih hidup.

10
Kebudayaan Minahasa

Dunia gaib sekitar manusia dianggap didiami oleh makhluk-makhluk halus seperti
roh-roh leluhur baik maupun jahat, hantu-hantu dan kekuatangaib lainnya. Usaha manusia
untuk mengadakan hubungan dengan makhluk-makhluk tersebut bertujuan supaya hidup
mereka tidak diganggu sebaliknya dapat dibantu dan dilindungi, dengan mengembangkan
sustu kompleks sistem upacara pemujaan yang dahulu dikenal sebagai na’amkungan atau
ma’ambo atau masambo.
Dalam mitologi orang Minahasa rupanya sistem kepercayaan dahulu mengenal
banyak dewa, salah satunya adalah dewa tertinggi. Dewa oleh penduduk disebut empung atau
opo, dan untuk sewa yang tertinggi disebut opo wailan wangko. Dewa yang penting sesudah
dewa tertinggi ialah karema.
Opo wailan wangko dianggap sebagai pencipta seluruh alam dan isinya yang dikenal
oleh manusia yang memujanya. Karema yang mewujudkan diri sebagai manusia adalah
sebagai penunjuk jalan bagi lumimuut (wanita sebagai manusia pertama) untuk mendapatkan
keturunan seorang pria yang bernama to’ar, yang juga dianggap sebagai pembawa adat
khususnya cara-cara pertanian yaitu sebagai cultural hero (dewa pembawa adat).
Roh leluhur juga disebut opo, atau sering disebut dotu yang pada masa hidupnya
adalah seorang yang dianggap sakti dan juga sebagai pahlawan seperti pemimpin-pemimpin
komunitas besar ( kepala walak dan komunitas desa; tona’as ). Mereka juga dalam hidupnya
memiliki keahlian dan prestasi seperti dalam perang, keagamaan dan kepemimpinan. Ada
kepercayaan bahwa opo-opo yang baik akan senantiasa menolong manusia yang dianggap
sebagai cucu mereka ( puyun) apabila mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan.
Pelanggaran yang terjadi dapat mangakibatkan yang bersangkutan akan mengalami bencana
atau kesulitan hidup akibat murka opo-opo, ataupun kekuatan sakti yang diberikan akan
hilang. Disamping itu, ada juga opo-opo yang memberikan kekuatan sakti untuk hal-hal yang
tidak baik, seperti untuk mencuri, berjudi dsb.
Konsepsi makhluk halus lainnya seperti hantu ialah panunggu, lulu, puntianak, pok-
pok dsb yang dianggap berada di tempat tertentu dan pada saat dan keadaan tertentu dapat
maengganggu manusia. Untuk menghadapi hal-hal tersebut sangat dirasakan peranan dari
opo-opo yang dapat menghadapi atau mengalahkan mereka atau mengatasi gangguan dari
mereka.
Roh (mukur) orangtua sendiri ataupun roh-roh kerabat yang sudah meninggal
dianggap selalu berada di sekitar kelurganya yang masih hidup, yang sewaktu-waktu datang
menun jukkan dirinya dalam bentuk bayangan atau mimpi atau dapat pula melalui seseorang

11
Kebudayaan Minahasa

sebagai media yang dimasuki oleh mukur sehingga bisa bercakap-cakap dengan kerabatnya.
Mukur yang demikian tidak dianggap berbahaya malahan bisa menolong kerabatnya.
Kepercayaan orang Minahasa bahwa ada bagian tubuh yang mempunyai kekuatan
sakti seperti rambut dan kuku. Binatang-binatang yang memiliki kekuatan sakti adalah ular
hitam dan beberapa jenis burung, terutama burung hantu (manguni). Untuk tumbuh-
tumbuhan yang memiliki kekuatan sakti adalah tawa’ang, goraka (jahe), balacai, jeruk suangi
dll. Gejala alam seperti gunung meletus dan hujan lebat bersama petir secara terus-menerus
dianggap sebagai amarah para dewa. Senjata yang dianggap memiliki kekuatan sakti yang
harus dijaga dengan baik adalah keris, santi (pedang panjang), lawang (tombak), dan kelung
(perisai). Ucapan berupa sumpah dan kutukan juga dikenal sebagai kata-kata yang dianggap
dapat mengakibatkan malapetaka, apalagi kalau yang mengatakannya orangtua, kata-katanya
dianggap memiliki kekuatan sakti. Benda-benda jimat baik yang diwariskan orangtua ataupun
yang didapat dari walian atau tona’as yang disebut paereten adalah benda-benda yang
kesaktiannya dipercaya yang sampai sekarang masih dipakai.
Jiwa yang dianggap sebagai kekuatan yang ada dalam tubuh manusia yang
menyebabkan adanya hidup, rupanya memiliki konsepsi yang sama dengan jiwa sesudah
meninggalkan tubuh karena mati atau roh. Konsepsi jiwa dan roh ini disebut katotouan.
Unsur kejiwaan dalam kehidupan manusia adalah : gegenang (ingatan), pemendam
(perasaan), dan keketer (kekuatan). Gegenang adalah unsure yang utama dalam jiwa.
Pada saat sekarang, sesuai dengan aturan-aturan agama Kristen, maka konsepsi dunia
akhirat (sekalipun untuk mereka yang masih melakukan upacara-upacara kepercayaan
pribumi untuk mendapatkan kekuatan sakti dari makhluk-makhluk halus) ialah surga bagi
yang selamat, serta neraka bagi yang berdosa dan tidak percaya.
Upacara-upacara keagamaan pribumi masih banyak dilakukan oleh orang minahasa
sebagai perwujudan untuk mengadakan hubungan dengan dunia gaib atau sebagaikelakuakn
religi atas dasar suatu emosi keagamaan, upacara-upacara itu diantaranya adalah yang biasa
dilakukan pada malam hari di rumah tona’as atau di rumah orang lain, bisa juga di tempat-
tempat keramat seperti kuburan opo-opo, batu-batu besar dan di bawah pohon besar. Pada
saat tertentu yang dianggap penting upacara dapat dilakukan di Watu Pinabetengan, tempat di
mana secara mitologis paling keramat di Minahasa.
Upacara dilakukan pada saat tertentu, misalnya pada malam bulan purnama. Tokoh
tradisional yang melakukan dan memimpin upacara keagamaan pribumi dikenal dengan nama
walian, pemimpin upacara dapat dipegang oleh wanita atau pria.

12
Kebudayaan Minahasa

Agama-agama resmi yang umum diatur oleh orang Minahasa antara lain Protestan
(yang terdiri dari berbagai sekte), katolik dan Islam. Terlepas dari tingkat kepercayaan
perseorangan, unsure-unsur religi pribumi tidak dapat dilepaskan dari kehidupan keagamaan.
Misalnya komponen pribumi terpadu bersama komponen Kristen yang diluar upacara-
upacara formal Gerejani seperti yang terlihat dalam upacara-upacara dari masa hamil sampai
masa meninggal maupun pada perilaku keagamaan sehari-hari. Sebagaimana yang telah
dikemukakan pada contoh sebelumnya dapat dilihat adanya komponen religi pribumi dalam
kebudayaan Minahasa yang secara mendalam telah mengalami perubahan melalui jalur-jalur
kolonialisme, pendidikan formal, dan kristenisasi maupun jalur-jalur kontak atau difusi
budaya lainnya.
F. Sistem Kemasyarakatan
Kabupaten Minahasa mempunyai kurang lebih 468 desa (kampung) sebagai kesatuan
administrasi yang dipimpin oleh seorang kepala desa, yang secara adat disebut Hukum Tua
(Kuntua). Dewasa ini, kesatuan administrasi desa dirubah menjadi Kelurahan/Desa yang
dipimpin oleh seorang Lurah/Kepala Desa. Kecuali desa sebagai kesatuan administrasi
tersebut terdapat juga perkampungan yang berupa kompleks perumahan bersama dengan
sawah dan kebun yang secara administratif merupakan bagian dari suatu desa. Pola
perkampungan desa Minahasa bersifat menetap dan kelompok rumahnya mempunyai bentuk
memanjang mengikuti jalan raya.

1. Masyarakat Minahasa Kuno

13
Kebudayaan Minahasa

2. Awu dan Taranak


Keluarga batih sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat Minahasa di sebut Awu.
Istilah itu sebenarnya berarti abu, juga di pakai dalam arti dapur. Sampai sekarang di
Minahasa masih banyak di dapati tempat masak terbuat dari kayu atau bambu di isi
dengan tanah atau abu.
Dalam hubungan masyarakat, istilah Awu dipakai dalam keluarga batih (rumah
tangga) dan di pergunakan banyaknya penduduk di satu kampung. Dalam masyarakat
Minahasa kuno sedapatnya seluruh keluarga baik yang sudah menikah atau belum tinggal
di satu rumah besar berbentuk bangsal yang di dirikan di atas tiang tiang tinggi.
Bangunan di atas tiang tinggi itu erat hubungannya dengan keamanan.
Dalam kunjungan Prof. Reinwardt tahun 1821 ke Tondano dia masih melihat rumah
rumah yang tiang tiangnya sekitar dua pelukan orang dewasa. Kemudian laporan Dr.
Bleeker pada tahun 1855 menulis bahwa kampung kampung di Minahasa di bangun di
atas tiang tiang tinggi dan besar, dan di huni oleh empat keluarga bersama sama.
Menurut ketentuan adat, bila seorang anggota keluarga yang sudah dewasa
membentuk rumah tangga baru, maka rumah tangga baru itu mendapat ruangan tersendiri
di keluarga pria atau wanita. Ruangan terpisah itu dilengkapi dengan satu tempat masak
sendiri, yang berarti yang menempatinya telah berdiri sendiri. Ruangan tempat masak
itulah yang di sebut awu.Awu akhirnya di artikan sebagai rumah tangga. Karna itu
pulalah orang yang sudah menikah saling menyebut Ka Awu (Ka = teman, kakak).
Anggota Awu terdiri dari ayah, ibu, dan anak anak.
Sebagai kepala dari Awu bertindak si Ama (ayah) dan bila ia meninggal dunia maka
si Ina (ibu) yang menggantikannya. Beradanya fungsi kepala di sini dalam tangan sang
ayah bukan berarti kekuasaan mutlak pengaturan rumah tangga berada di tangannya.
Kepala di sini lebih dititik beratkan pada arti adanya rumah tangga dan kewajiban
membela rumah tangga terhadap serangan dari luar. Dalam ketentuan adat untuk
pengurusan rumah tangga si Ama dan Ina wajib bermusyawarah untuk mengambil
keputusan dan menentukan kebijakan.

14
Kebudayaan Minahasa

Dari perkawinan terbentuklah keluarga besar yang meliputi beberapa bangsal.


Menurut kebiasaan, pembangunan bangsal baru harus berdekatan dengan bangsal lama.
Hal ini menyangkut pengurusan kepentingan bersama, keamanan, dan masalah lahan
pertanian bersama. Kompleks bangsal bangsal ini yang di huni oleh penduduk yang
berhubungan kekeluargaan di namakan Taranak. Pimpinan Taranak di pegang oleh Ama
dari keluarga cikal bakal yang di sebut Tu'ur. Tugas utama Tu'ur adalah melestarikan
ketentuan ketentuan adat, meliputi hubungan antar Awu, mengatur cara cara mengerjakan
lahan pertanian yang di miliki bersama, mengatur perkawinan anggota anggota Taranak,
hubungan antar Awu dan Taranak sampai dengan mengadili dan menghukum anggota
anggota yang bersalah. Tetapi apapun yang dikerjakannya bila hal itu menyangkut
keamanan dan prestise Taranak, ia senantiasa minta pendapat dari para anggota Taranak,
karena hal itu juga menjadi ketentuan adat.
Berlainan dengan di tingkat Awu yang mana pengurus berada dalam tangan Ama dan
Ina bersama sama, pada tingkat Taranak peranan si Ina tidak terlalu menonjol.
Taranak, Roong / Wanua, Walak
Perkawinan perkawinan antara anggota Taranak membentuk Taranak Taranak baru.
Bangsal bangsal mulai bertumbuh berkelompok, membentuk kompleks yang semakin
luas . Batas penentuan sesuatu Taranak sebagai satu masyarakat hukum mulai menjadi
kabur, dan arti Taranak sebagai satu kesatuan menjadi lebih abstrak. Untuk itu sebagai
alat identifikasi para penghuni kompleks bangsal, dipakailah kesatuan teritorial. Dengan
kata lain fungsi identifikasi mulai bergeser dari bentuk hubungan darah ke bentuk
pemukiman.
Akibat proses ini terciptalah kompleks bangsal bangsal dalam satu kesatuan yang di
sebut Ro'ong atau Wanua. Wilayah hukum Wanua meliputi kompleks bangsal itu sendiri
dan wilayah pertanian dan perburuan sekitarnya yang merupakan milik bersama para
penghuni Ro'ong atau Wanua itu. Pemimpin Ro'ong atau Wanua disebut Ukung yang
berarti kepala atau pimpinan. Untuk pengurusan wilayah, Ro'ong atau Wanua di bagi
dalam beberapa bagian yang disebut Lukar. Pada mulanya Lukar ini dititik beratkan pada
keamanan sehingga akhirnya Lukar di ganti menjadi Jaga.
Sampai kini di sebagian tempat di Minahasa masih di pakai kata Lukar dalam arti
orang orang yang melakukan keamanan di kampung atau di rumah dari lurah.
Para Ukung juga mempunyai pembantu yang di sebut Meweteng. Tugas mereka
mulanya membantu Ukung untuk mengatur pembagian kerja dan pembagian hasil dari
Ro'ong / Wanua. Pembagian ini sesuai dengan yang sudah disepakati bersama.
15
Kebudayaan Minahasa

Selain itu pula ada pembantu Ukung yang berfungsi sebagai penasihat, terutama
dalam hal hal yang sulit dalam masalah adat. Penasihat penasihat seperti ini adalah para
tetua yang dihormati dan disegani yang dianggap bijaksana, tidak mempunyai cacat dan
dapat dijadikan contoh di dalam Wanua, yang di namakan Pa Tu'usan (yang dapat
dijadikan contoh). Ro'ong / Wanua bertambah dari waktu ke waktu menjadi beberapa
Wanua tertentu yang akhirnya disebut Walak.
3. Paesa In Deken
Para pemimpin Minahasa sejak berabad yang lalu mendasarkan keputusannya pada
apa musyawarah atau Paesa in Deken (tempat mempersatukan pendapat). Dari nama itu
jelas terlihat bahwa seluruh keputusan yang diambil merupakan hasil dari musyawarah.
Sekalipun demikian faktor dominan yang sering menentukan dalam pengambilan
keputusan adalah pendapat dari sang pemimpin. Telah menjadi suatu kelaziman bahwa
pada setiap akhir pengutaraan pendapatnya, sang pemimpin senantiasa selalu
mengatakan: "Dai Kua?" (bukankah begitu?) dan hampir selalu jawaban dari anggota
adalah: "Taintu" (memang begitu). Hal tersebut di dasarkan pada pemikiran bahwa
pendapat dari pemimpin adalah pendapat dari sebagian besar dari para anggota.
Sudah menjadi ketentuan bahwa semua ketentuan yang di putuskan harus di ikuti
walau pun tidak di setujui oleh sebagian anggota. Sanksi atas penolakan dari Paesa in
Deken ini sangat berat, yaitu : pengucilan dari masyarakat . Hukuman ini sangat berat
sebab tidak seorang pun dari Taranak yang menghiraukan nasib dari terhukum. Bila ia
menjadi incaran musuh, ia tidak dapat mengharapkan untuk mendapatkan pertolongan
dari siapapun juga. Ketentuan inilah yang merupakan kewibawaan dari pada para
kepala/tu'a di Minahasa pada zaman dulu.
Namun, bila pemimpin bertindak tidak sesuai dengan ketentuan adat atau meresahkan
masyarakat maka para anggota masyarakat dengan sekuat tenaga akan menjatuhkan
mereka. Hal ini telah di demonstrasikan oleh rakyat Minahasa sewaktu menghadapi para
kepala Walak. Atas tekanan rakyat, kompeni dengan segala kekuasaannya tunduk dan
memberikan persetujuan penggantian kedudukan.
"Diluar musyawarah resmi yang dipimpin oleh para Ukung adapulah musyawarah
musyawarah lain orang orang Minahasa. Dan keputusan keputusan hanya dapat di ambil
berdasarkan suara terbanyak, tanpa memperhitungkan perbedaan dan pengecualian para
peserta; dalam hal ini mereka tidak akan berubah, dan tidak ada satu kekuatan apapun
didunia yang dapat menggeser mereka setapak saja, biarpun hal itu akan merugikan dan
membawa kehancuran bagi mereka."
16
Kebudayaan Minahasa

Yang di maksud adalah musyawarah yang diadakan di luar para Ukung, bila
keputusan atau kebijaksanaan para Ukung yang di anggap oleh bagian terbesar anggota
masyarakat bertentangan dengan ketentuan ketentuan, adat istiadat yang berlaku. Sumber
kekerasan hati mereka untuk mempertahankan keputusan musyawarah adalah keyakinan,
bahwa para dewa ada di pihak mereka. Dalam hal demikian para Ukung telah di anggap
telah melanggar peraturan para dewa. Keputusan yang mereka ambil, dan yang telah
dimeteraikan dengan sumpah, di artikan bahwa sesuatu yang telah diserahkan kepada
dewa yang selalu disebut dalam sumpah itu, bukan sekedar memohon pertolongan.
Dengan demikian sekalipun Paesaan in Deken mengandung benih otoriterisme, dan
memberi kesempatan pada seorang pemimpin untuk itu, musyawarah seperti ini (yang di
adakan di luar otoritas para Ukung) merupakan peringatan kepada para Ukung untuk
tidak menyalahi ketentuan ketentuan adat. Inilah unsur demokrasi yang pernah ada di
Minahasa.
Selain itu di Minahasa tidak pernah ada pewarisan kedudukan seorang kepala, bila
seorang Tu'ur in Taranak meninggal dunia para anggota Taranak baik wanita maupun pria
yang sudah dewasa, akan mengadakan musyawarah untuk memilih seorang pemimpin
baru. Dalam pemilihan yang menjadi sorotan adalah kualitas. Bila ada dua orang yang
kualitasnya sama dan sebagai ucapan terima kasih kepada pemimpin itu semasa
kepemimpinannya. Itu berarti sang ayah dalam masa kepemimpinannya semasa hidupnya
adalah pemimpin yang baik.
Kriteria Kualitas yang di perlukan itu ada tiga (Pa'eren Telu):
 Ngaasan - Mempunyai otak; hal mana dia mempunyai keahlian mengurus Taranak
atau Ro'ong.
 Niatean - Mempunyai hati; mempunyai keberanian, ketekunan, keuletan menghadapi
segala persoalan, sanggup merasakan apa yang dirasakan oleh angota lain.
 Mawai - Mempunyai kekuatan dan dapat di andalkan ; seorang yang secara fisik dapat
mengatasi keadaan apapun, sanggup menghadapi peperangan .
Dengan demikian, jelas tidak mudah untuk diakui dan dipilih sebagai
pemimpin dalam masyarakat Minahasa di masa lampau. Juga jelas bahwa fungsi
pemimpin di Minahasa tidak pernah terjadi karena warisan.

4. Kawanua

17
Kebudayaan Minahasa

Dalam bahasa Minahasa Kawanua sering di artikan sebagai penduduk negeri atau
wanua-wanua yang bersatu atau "Mina-Esa" (Orang Minahasa). Kata Kawanua telah
diyakini berasal dari kata Wanua. Karena kata Wanua dalam bahasa Melayu Tua (Proto
Melayu), diartikan sebagai wilayah pemukiman. Mungkin karena beberapa ribu tahun
yang lalu, bangsa Melayu tua telah tersebar di seluruh wilayah Asia Tenggara hingga ke
kepulauan pasifik. Setelah mengalami perkembangan sejarah yang cukup panjang, maka
pengertian kata Wanua juga mengalami perkembangan. Tadinya kata Wanua diartikan
sebagai wilayah pemukiman, kini berkembang menjadi desa, negeri bahkan dapat
diartikan sebagai negara. Sementara dalam bahasa Minahasa, kata Wanua diartikan
sebagai negeri atau desa.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa istilah Wanua - yang diartikan sebagai tempat
pemukiman - sudah digunakan sejak orang Minahasa masih merupakan satu taranak
ketika berkediaman di pegunungan Wulur-Mahatus, yang kemudian mereka terbagi
menjadi tiga kelompok Taranak, masing-masing:
 Makarua Siouw
 Makatelu Pitu
 Telu Pasiowan
Karena sistem Taranak melahirkan bentuk pemerintahan turun-temurun, maka pada
abad ke-17 terjadi suatu persengketaan antara ketiga taranak tersebut. Persengketaan
terjadi karena taranak Makatelu Pitu, mengikat pernikahan dengan "Makarua Siouw",
sehingga leluhur Muntu-untu dan Mandey dari "Makatelu Pitu" muncul sebagai
kelompok Taranak yang terkuat dan memegang pemerintahan pada seluruh Wanua - yang
waktu itu terdiri dari:
 Tountumaratas
 Tountewu
 Toumbuluk
Dengan bertambahnya penduduk Minahasa, maka Tountumaratas berkembang
menjadi Tounkimbut dan Toumpakewa. Untuk menyatakan kedua kelompok itu satu asal,
maka dilahirkan suatu istilah Pakasa’an yang berasal dari kata Esa. Pakasa’an berarti satu
yakni, Toungkimbut di pegunungan dan Toumpakewa di dekat pantai. Lalu istilah Walak
dimunculkan kembali. Perkembangan selanjutnya nama walak-walak tua di wilayah
Tountemboan berganti nama menjadi walak Kawangkoan Tombasian, Rumo’ong dan
Sonder.

18
Kebudayaan Minahasa

Kemudian kelompok masyarakat Tountewo membelah menjadi dua kelompok yakni:


 Tounsea
 Toundano

Menurut Drs. Corneles Manoppo, masyarakat Toundano terbelah lagi menjadi dua
yakni:
Masyarakat yang bermukim di sekitar danau Tondano dan Masyarakat "Toundanau" yang
bermukim di wilayah Ratahan dan Tombatu.
Masyarakat di sekitar Danau Tondano membentuk tiga walak yakni;
 Tondano Touliang,
 Tondano Toulimambot and
 Kakas-Remboken
Dengan hilangnya istilah Pakasaan Tountewo maka lahirlah istilah Pakasa’an Tonsea dan
Pakasa’an Tondano
Pakasa’an Tonsea terdiri dari tiga walak yakni Maumbi, Kema dan Likupang. Abad
18 Tounsea hanya mengenal satu hukum besar (Mayor) atau "Hukum Mayor", wilayah
Maumbi, Likupang dan Kema di perintah oleh Hukum kedua, sedangkan Tondano
memiliki banyak mayor-mayor.
Masyarakat Tombuluk sejak jaman Watu Pinawetengan abad ke-7 tetap utuh satu
Pakasa’an yang terdiri dari tiga walak yakni, Tombariri, Tomohon dan Sarongsong.
Dengan demikian istilah Wanua berkembang menjadi dua pengertian yaitu:
 Ro’ong atau negeri,
Pengertian sempit, artinya Negeri yang sama dengan Ro’ong (desa atau kampung)
Jadi, kata Wanua, memiliki dua unsur yaitu:
 Ro’ong atau negeri
 Taranak atau penduduk
Ro’ong itu sendiri memiliki unsur:
 Wale, artinya rumah dan
 Tana. Kata Tana dalam bahasa Minahasa punya arti luas yaitu mencakup Talun
(hutan), dan Uma (kebun atau kobong)
Kobong terbagi menjadi dua yaitu : "kobong kering" dan "kobong pece" (sawah).
Kalau kita amati penggunaan kata Wanua dalam bahasa Minahasa misalnya ada dua
orang yang bertempat tinggal di desa yang sama kemudian bertemu di hutan .Si A

19
Kebudayaan Minahasa

bertanya pada si B:"Mange wisa" (mau kemana ?) Kemudian B menjawab: "Mange witi
uma" (pergi ke kobong),
si B balik bertanya pada si A:"Niko mange wisa" (kamu hendak kemana ?) si A
menjawab: "Mange witi Wanua" (mau ke negeri, maksudnya ke kampung dimana ada
rumah-rumah penduduk).
Contoh lain adalah kata "Mina - Wanua". Kata " Mina" artinya, pernah ada tapi
sekarang sudah tidak ada. Maksudnya, tempo dulu di tempat itu ada negeri dan sekarang
sudah tidak ada lagi (negeri lama) karena negeri itu telah berpindah ke tempat lain. Kata
"Mina Amak " (Amak = Bapak) adalah sebutan pada seseorang lelaki dewasa yang
dahulu ada tapi sekarang sudah tidak ada, karena meninggal.
Kata Wanua yang punya pengertian luas dapat kita lihat pada kalimat "Rondoren um
Wanua...". Kata Wanua dalam kalimat ini artinya; Negeri-negeri di Minahasa dan tidak
berarti hanya satu negeri saja. Maksudnya... melakukan pembangunan di seluruh
Minahasa. Jadi sudah termassuk negeri-negeri dari walak-walak dan pakasa’an yang
didiami seluruh etnis atau sub-etnis Minahasa.
Jadi dapat dilihat bahwa pengertian utama dari kata Wanua lebih mengarah pada
pengertian sebagai wilayah adat dari Pakasa’an (kesatuan sub-etnis) yang sekarang terdiri
dari kelompok masyarakat yang mengaku turunan leluhur Toar & Lumimu’ut. Turunan
dalam arti luas termasuk melalui perkawinan dengan orang luar, Spanyol, Belanda,
Ambon, Gorontalo, Jawa, Sumatera dan sebagainya. Orang Minahasa boleh mendirikan
Wanua diluar Minahasa, tapi orang Tombulu tidak boleh mendirikan negeri Tombulu di
wilayah Totemboan atau sebaliknya. Inilah yang dimaksud dengan adat kebiasaan.
Meletakkan "Watu I Pe-ro’ong" atau batu rumah menjadi negeri yang baru dilakukan oleh
Tona’as khusus, misalnya, bergelar Mamanua (Ma’Wanua = Pediri Negeri) yang tau
batas-batas wilayah antara walak yang satu dengan walak yang lain, jangan sampai salah
tempat hingga terjadi perang antara walak.
Setelah meneliti arti kata Wanua dari berbagai segi, kita teliti arti awalah Ka pada
kata Kawanua. Beberapa awalan pada kata Ka-rete (rete=dekat) berdekatan rumah,
artinya teman tetangga. Ka-Le’os (Le’os=baik), teman berbaik-baikan (kekasih).
Kemudian kata Ka-Leong (leong=bermain) teman bermain.
Dari ketiga contoh diatas, dapat diprediksi bahwa awalan Ka memberi arti teman,
jadi, Ka-wanua dapat diartikan sebagai Teman Satu Negeri, Satu Ro’ong, satu kampung.
Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh melalui syair lagu "Marambak" (naik rumah
baru)... "Watu tinuliran umbale Mal’lesok ungkoro’ ne Kawanua..." artinya batu tempat
20
Kebudayaan Minahasa

mendirikan tiang rumah baru, bersimbolisasi menepis niat jahat dan dengki dari teman
satu negeri. Misalnya, batu rumah baru itu di Tombulu bersimbol menjauhkan dengki
sesama warga Tombulu satu kampung, dan tidak ditujukan pada kampung atau walak lain
misalnya Tondano dan Tonsea.
Demikian juga cerita tua-tua Minahasa dinamakan "sisi’sile ne tou Mahasa" (buku
A.L Waworuntu) dan "A’asaren Ne Tou Manhesa" artinya cerita-cerita orang Minahasa.
Tidak ditulis "A’asaren ne Kawanua" atau cerita orang Kawanua. Disini terlihat bahwa
orang Minahasa di Minahasa tidak menamakan dirinya Kawanua. Orang Minahasa di
Minahasa menamakan dirinya "Orang Minahasa" dan bukan "Orang Kawanua"
selanjutnya baru diterangkan asal sub-etnisnya seperti, Tondano, Tontemboan, Tombatu
dan sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istilah Kawanua dilahirkan
oleh masyarakat orang Minahasa di luar Minahasa sebagai sebutan identitas bahwa
seseorang itu berasal dari Minahasa, dalam lingkungan pergaulan mereka di masyarakat
yang bukan orang Minahasa, misalnya di Makasar, Balikpapan, Surabaya, Jakarta,
Padang, Aceh.
Orang Minahasa yang sudah beberapa generasi berada di luar Minahasa menggunakan
istilah Kawanua untuk mendekatkan diri dengan daerah asal, dan walaupun sudah kawin-
mawin antara suku, masih merasa dekat dengan Wanua lalu melahirkan Jawanua,
Bataknua, Sundanua, dan lain sebagainya.

5. Walak dan Pakasa'an


Pengertian walak menurut kamus bahasa Tontemboan yang dikutip Prof G.A. Wilken
tahun 1912 dapat berarti:
 Cabang keturunan
 Rombongan Penduduk
 Bahagian Penduduk
 Wilayah kediaman cabang keturunan.
Jadi Walak mengandung dua pengertian yakni Serombongan penduduk secabang
keturunan dan wilayah yang didiami rombongan penduduk secabang keturuan.
Kepala walak artinya pemimpin masyarakat penduduk secabang keturunan,
Tu’ur Imbalak artinya wilayah pusat kedudukan tempat pertama sebelum masyarakat
membentuk cabang-cabang keturuan. Mawalak artinya membahagi tanah sesuai

21
Kebudayaan Minahasa

banyaknya cabang keturunan. Ipawalak artinya membahagi tanah menurut jumlah anak
generasi pertama, tidak termasuk cucu dan cicit.
Penelitian G.A. Wilken ini membantah laporan residen Belanda Wensel yang menulis
bahwa arti kata Walak dari bahasa Melayu Balok karena Kapala Walak Minahasa harus
menyediakan Balok kayu untuk pemerintah Hindi Belanda abad 18. Kata Walak adalah
kata Minahasa asli di wilayah Tontemboan, Tombuluk, Tonsea dan Tondano. Jumlah
Walak di Minahasa sebelum jaman Belanda tahun 1679 tidak kita ketahui, ketika
Minahasa mengikat perjanjian dengan VOC Belanda, terdapat 20 Walak di Minahasa.
Memasuki abad 19, jumlah Walak di Minahasa ada 27.
Penggabungan beberapa Walak yang punya ikatan keluarga dan dialek bahasa serta
“Peposanan” membentuk satu “pakasa’an sehingga kepala-kepala Walak Pakasa’an
Tombulu abad 17 haruslah keturunan dotu Supit, Lontoh dan Paat. Pakasa’an tertua
menurut “A’asaren Tuah Puhuhna” tulisan J.G.F. Riedel tahun 1870 adalah Toungkimbut
di wilayah selatan Minahasa sampai Mongondouw, Tountewoh di Tombatu sampai ke
utara pantai Likupang disebelah timur Minahasa dan Tombulu dibelahan barat Minahasa
dari Sarongsong sampai pantai utara Minahasa.
Menurut cerita beberapa tetua keluarga Minahasa, masih ada dua Pakasa’an dalam
cerita tua Minahasa yang pergi ke wilayah Gorontalo (sekarang ini turunan opok Suawa)
dan Tou-Ure yang tinggal menetap di pengunungan Wulur – Mahatus. Tou-Ure artinya
orang lama. Menurut teori pembentukan masyarakat pendukung jaman batu besar atau
“megalit” tulisan Drs. Teguh Asmar dalam makalahnya “Prasejarah Sulawesi Utara”
tahun 1986. Jaman Megalit terbentuk sekitar 2500 tahun sebelum Masehi, contoh jaman
batu besar adalah memusatkan upacara adat di batu-batu besar seperti Watu
Pinawetengan. Jaman batu baru atau jaman Neoit di Sulawesi Utara dimulai tahun
Milenium pertama sebelum masehi atau sekitar seribu tahun sebelum masehi. Contohnya
pembuatan batu kubur Waruga. Pada waktu itu orang Minahasa yang berbudaya
Malesung telah mengenal pemerintahan yang teratur dalam bentuk kelompok Taranak
secabang keturunan misalnya turunan opok Soputan, Makaliwe, Mandei, Pinontoan,
Mamarimbing, pemimpin tertinggi mereka adalah yang bergelar Muntu-Untu, yang
memimpin musyarah di Batu Pinwetengan pada abad ke – 7.
Pakasa’an Tou-Ure kemungkinan tidak ikut dalam musyawarah di Pinawetengan
untuk berikrar satu keturunan Toar dan Lumimuut dimana semua Pakasa’an menyebut
dirinya Mahasa asal kata Esa artinya satu, hingga Tou-Ure dilupakan dalam cerita tua
Minahasa. Belum dapat ditelusuri pada abad keberapa pakasa’an Tountewo pecah dua
22
Kebudayaan Minahasa

menjadi Pakasa’an Toundanou dan Tounsea hingga Minahasa memiliki empat


Pakasa’an . Yakni Toungkimbut berubah menjadi Toumpakewa, Toumbuluk, Tonsea dan
Toundanou. Kondisi Pakasa’an di Minahasa pada jaman Belanda terlihat sudah berubah
lagi dimana Pakasa’an Tontemboan telah membelah dua wilayah Pakasa’an Toundanouw
(lihat gambar) dan telah lahir pakasa’an Tondano, Touwuntu dan Toundanou. Pakasa’an
Tondano teridiri dari walak Kakas, Romboken dan Toulour. Pakasa’an Touwuntu terdiri
dari walak Tousuraya dan Toulumalak yang sekarang disebut Pasan serta Ratahan.
Pakasa’an Toundanou terdiri dari walak Tombatu dan Tonsawang.
Wilayah walak Toulour agak lain karena selain meliputi daratan juga membahagi
danau Tondano antara sub-walak Tounour yakni Touliang dan Toulimambot. Yang tidak
memiliki Pakasa’an adalah walak Bantik yang tersebar di Malalayang, Kema dan Ratahan
bahkan ada di Mongondouw-walaupun etnis Bantik juga keturunan Toar dan Lumimuut.
Menurut legenda etnis Bantik jaman lampau terlambat datang pada musyawarah di batu
Pinawetengan. Ada tiga nama dotu Muntu-Untu dalam legenda Minahasa yakni Muntu-
Untu abad ke-7 asal Toungkimbut (Tontemboan). Muntu-Untu abad 12 asal Tonsea-
menurut istilah Tonsea. Dan Muntu-Untu abad 15 jaman Spanyol berarti ada tiga kali
musyawarah besar di batu Pinawetengan untuk berikrar agar tetap bersatu.

6. Tona'as Dan Walian


Pemimpin Minahasa jaman tempo dulu terdiri dari dua golongan yakni Walian dan
Tona’as. Walian mempunyai asal kata “Wali” yang artinya mengantar jalan bersama dan
memberi perlindungan. Golongan ini mengatur upacara agama asli Minahasa hingga
disebut golongan Pendeta. Mereka ahli membaca tanta-tanda alam dan benda langit,
menghitung posisi bulan dan matahari dengan patokan gunung, mengamati munculnya
bintang-bintang tertentu seperti “Kateluan” (bintang tiga), “Tetepi” (Meteor) dan
sebagainya untuk menentukan musim menanam. Menghafal urutan silsilah sampai
puluhan generasi lalu, menghafal ceritera-ceritera dari leluhur-leluhur Minahasa yang
terkenal dimasa lalu. Ahli kerajinan membuat pelaratan rumah tangga seperti menenun
kain, mengayam tikar, keranjang, sendok kayu, gayung air.
Golongan kedua adalah golongan Tona’as yang mempunyai kata asal “Ta’as”. Kata
ini diambil dari nama pohon kayu yang besar dan tumbuh lurus keatas dimana segala
sesuatu yang berhubungan dengan kayu-kayuan seperti hutan, rumah, senjata tombak,
pedang dan panah, perahu. Selain itu golongan Tona’as ini juga menentukan di wilayah

23
Kebudayaan Minahasa

mana rumah-rumah itu dibangun untuk membentuk sebuah Wanua (Negeri) dan mereka
juga yang menjaga keamanan negeri maupun urusan berperang.
Sebelum abad ke-7, masyarakat Minahasa berbentuk Matriargat (hukum ke-ibuan).
Bentuk ini digambarkan bahwa golongan Walian wanita yang berkuasa untuk
menjalankan pemerintahan “Makarua Siouw” (9x2) sama dengan Dewan 18 orang leluhur
dari tiga Pakasa’an (Kesatuan Walak-Walak Purba).
Enam leluhur dari Tongkimbut (Tontemboan sekarang) adalah Ramubene, suaminya
Mandei, Riwuatan Tinontong (penenun), suaminya Makaliwe berdiam di wilayah yang
sekarang Mongondouw, Pinu’puran, suaminya Mangalu’un (Kalu’un sama dengan
sembilan gadis penari), Rukul suaminya bernama Suawa berdiam di wilayah yang
sekarang Gorontalo, Lawi Wene suaminya Manambe’an (dewa angin barat) Sambe’ang
artinya larangan (posan). Maka Roya (penyanyi Mareindeng) suaminya bernama
Manawa’ang.
Sedangkan enam leluhur yang berasal dari Tombulu adalah : Katiwi dengan suaminya
Rumengan (gunung Mahawu), Katiambilingan dengan suaminya Pinontoan (Gunung
Lokon), Winene’an dengan suaminya Manarangsang (Gunung Wawo), Taretinimbang
dengan suaminya Makawalang (gunung Masarang), Wowriei dengan suaminya
Tingkulengdengan (dewa pembuat rumah, dewa musik kolintang kayu) Pahizangen
dengan suaminya Kumiwel ahli penyakit dari Sarangsong.
Sementara itu enam leluhur yang berasal dari Tontewo (wilayah timur Minahasa)
terdiri dari Mangatupat dengan suaminya Manalea (dewa angin timur), Poriwuan
bersuami Soputan (gunung Soputan), Mongindouan dengan suaminya Winawatan di
wilayah Paniki, Inawatan dengan suaminya Kuambong (dewa anwan rendah atau kabut),
Manambeka (sambeka sama dengan kayu bakar di pantai) dewa angin utara, istrinya tidak
diketahui namanya kemudian istri Lolombulan. Pemimpin panglima perang pada jaman
pemerintahan golongan Walian adalah anak lelaki Katiwei (istri Rumengan) bernama
Totokai yang menikah dengan Warangkiran puteri dari Ambilingan (istri Pinontoan).
Pada abad ke-7 telah terjadi perubahan pemerintahan. Pada waktu itu di Minahasa –
yang sebelumnya dipegang golongan Walian wanita - beralih ke pemerintahan golongan
Tona’as Pria. Mulai dari sini masyarakat Matriargat Minahasa yang tadinya menurut
hukum ke-Ibuan berubah menjadi masyarakat Patriargat (hukum ke-Bapaan).,
Menjalankan pemerintahan “Makatelu pitu (3x7=21)" atau Dewan 21 orang leluhur pria.
Wakil-wakil dari tiga Pakasa’an Toungkimbut, Toumbulu, Tountowo, mereka
adalah ; Kumokomba yang dilantik menjadi Muntu-Untu sebagai pemimpin oleh ketua
24
Kebudayaan Minahasa

dewan tua-tua “Potuosan” bernama Kopero dari Tumaratas. Mainalo dari Tounsea
sebagai wakil, Siouw Kurur asal Pinaras sebagai penghubung dibantu Rumimbu’uk
(Kema) dan Tumewang (Tondano) Marinoya kepala Walian, Mio-Ioh kepala pengadilan
dibantu Tamatular (Tomohon) dan Tumilaar (Tounsea), Mamarimbing ahli meramal
mendengar bunyi burung, Rumoyong Porong panglima angkatan laut di pulau Lembe,
Pangerapan di Pulisan pelayaran perahu, Ponto Mandolang di Pulisan pengurus
pelabuhan-pelabuhan, Sumendap di Pulisan pelayaran perahu, Roring Sepang di awaon
Tompaso, pengurus upacara-upacara di batu Pinawetengan, Makara’u (Pinamorongan),
Pana’aran (Tanawangko), Talumangkun (Kalabat), Makarawung (Amurang), REPI
(Lahendong), Pangembatan (Lahendong).
Dalam buku “Toumbulusche Pantheon” tulisan J.G.F. Riedel tahun 1894
dikemukakan tentang sistem dewa-dewa Toumbulu yang ternyata mempunya sistem
pemerintahan dewa-dewa seluruh Minahasa dengan jabatan yang ditangani leluhur
tersebut. Pemerintahan golongan Tona’as abad ke-tujuh sudah punya satu pimpinan
dengan gelar Muntu-Untu yang dijabat secara bergantian oleh ketiga sub-etnis utama
Minahasa. Misalnya leluhur Ponto Mandolang mengatur pelabuhan Amurang, Wenang
(Manado) Kema dan Bentenan dengan berkedudukan di Tanjung Pulisan. Tiap sub-etnis
Minahasa mempunya panglima perangnya sendiri-sendiri tapi panglima perang tertinggi
adalah raja karena dilantik dan dapat diganti oleh dewan tua-tua yang disebut “Potuosan”.
Dari nama-nama leluhur wanita Minahasa abad ke-7 seperti Riwuatan asal kata Riwu
atau Hiwu artinya alat menenun, Poriwuan asal kata Riwu alat menenun, Raumbene asal
kata Wene’ artinya padi, menunjukkan Minahasa abad ke-7 telah mengenal padi dan
membuat kain tenun.

G. Sistem Pemerintahan
Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkat
seorang raja sebagai kepala pemerintahan. Kepala pemerintah adalah kepala keluarga
yang gelarnya adalah Paedon Tu’a atau Patu’an yang sekarang kita kenal dengan sebutan
Hukum Tua. Kata ini berasal dari Ukung Tua yang berarti Orang tua yang melindungi.
Ukung artinya kungkung = lindung = jaga. Tua : dewasa dalam usia, berpikir, serta
didalam mengambil Kehidupan demokrasi dan kerakyatan terjamin Ukung Tua tidak
boleh memerintah rakyat dengan sewenang-wenang karena rakyat itu adalah anak-anak
dan cucu-cucunya, keluarganya sendiri Sebelum membuka perkebunan, berunding dahulu
dan setelah itu dilakukan harus dengan mapalus Didalam bekerja terdapat pengatur atau

25
Kebudayaan Minahasa

pengawas yang di Tonsea disebut Mopongkol atau Rumarantong, di Tolour disebut


Sumesuweng.
Di Minahasa tidak dikenal sistim perbudakan, sebagaimana lasimnya di daerah lain
pada saman itu, seperti di kerajaan Bolaang,Sangir, Tobelo, Tidore dll. Hal ini membuat
beberapa dari golongan Walian Makaruwa Siyow (eksekutif ingin diperlakukan sebagai
raja. seperti raja Bolaang, raja Ternate, raja Sanger yang mereka dengar dan temui disaat
barter bahan bahan keperluan rumah tangga. Setelah cara tersebut dicoba diterapkan
dimasyarakat Minahasa oleh beberapa walian/hukum tua timbul perlawanan yang
memicu terjadinya pemberontakan serentak di seluruh Minahasa oleh golongan rakyat
/Pasiyowan Telu, Alasannya karena, bukanlah adat pemerintahan yang diturunkan Opo
Toar Lumimuut, dimana kekuasaan dijalankan dengan sewenang-wenang.
Akibat pemberontakkan itu, tatanan kehidupan di Minahasa menjadi tidak menentu,
peraturan tidak diindahkan Adat istiadat rusak, Perebutan tanah pertanian antar keluarga
Hal ini membuat golongan makarua/makadua siow (tonaas) merasa perlu mengambil
tindakan pencegahan dengan mengupayakan musyawarah raya yang dimotori oleh
Tonaas-tonaas senior dari seluruh Minahasa di Watu Pinabetengan.
Luas Minahasa pada jaman ini adalah dari pantai likupang, Bitung sampai ke muara
sungai Ranoyapo ke gunung Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayah
setelah sungai Ranoyapo dan Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk
wilayah kerajaan Bolaang Mongondow, sampai kira-kira abad ke-14.
Dalam musyawarah yang dihadiri oleh seluruh keturunan Toar Lumimuut, memilih
Tonaas Kopero dari Tompakewa sebagai ketua yang dibantu anggota Tonaas Muntuuntu
dari Tombulu dan Tonaas Mandey dari Tonsea.mereka bertugas untuk konsolidasi ketiga
golongan Minahasa tsb.
H. Upacara Adat
1. Monondeaga
Upacara adat dari daerah Bolaang Mongondow yang dilaksanakan pada waktu anak
gadis memasuki masa akil baliq yang ditandai dengan datangnya haid pertama. Daun
telinga dilobangi dan dipasangi anting kemudian gigi diratakan sebagai pelengkap
kecantikan dan tanda telah dewasa.
2. Mupuk Im Bene
Upacara adat dari daerah Minahasa berupa pengucapan syukur pallen pactio
Masyarakat membawa/mempersembahkan segantang/sekarung padi bersama hasil ladang

26
Kebudayaan Minahasa

lainnya disuatu tempat (lapangan atau dirumah gereja) untuk didoakan. Dan setiap
rumah/keluarga menyiapkan beragam makanan dan makan bersama dengan para tamu
dengan sukaria.
3. Metipu
Merupakan upacara adat dari daerah Sangihe Talaud berupa penyembahan kepada
Sang Pencipta alam semesta yang disebut BENGGONA LANGI DUATAN SALURAN,
dengan membakar daun-daun dan akar-akar yang mewangi dan menimbulkan asap
membumbung ke hadirat-Nya.
4. Watu Pinawetengan
Tanggal tujuh bulan tujuh tahun dua ribu tujuh saat istimewa bagi sebagian
masyarakat Minahasa. Pada penanggalan Masehi itu digelarlah upacara adat Watu
Pinawetengan, sebuah upacara penuh makna bagi persatuan masyarakat setempat. Watu
Pinawetengan adalah warisan leluhur Minahasa dan merupakan bukti bahwa demokrasi
dan persatuan sudah ada sejak dahulu.
Berdasarkan cerita rakyat, terdapat sebuah batu besar yang disebut tumotowa yakni
batu yang menjadi altar ritual sekaligus menandai berdirinya permukiman suatu
komunitas. Johann Albert Traugott Schwarz, seorang misionaris Belanda keturunan
Jerman, pada tahun 1888 berinisiatif melakukan penggalian di bukit Tonderukan yang
sekarang masuk wilayah kecamatan Tompaso, Minahasa, Sulawesi Utara (Sulut).
Ternyata penggalian berhasil menemukan batu besar yang membujur dari timur ke
barat. Johann Gerard Friederich Riedel yang lahir di Tondano pada tahun 1832,
menyebutkan bahwa batu tersebut merupakan batu tempat duduk para leluhur melakukan
perundingan atau orang setempat menyebutnya Watu Rerumeran ne Empung.
Batu tersebut merupakan tempat bagi para pemimpin upacara adat memberikan
keputusan (dalam bentuk garis dan gambar yang dipahat pada batu) dalam hal membagi
pokok pembicaraan, siapa yang harus bicara, serta cara beribadat.
Latar belakang itu memberi arah bahwa sudah ada demokrasi pada jaman dulu. Sejumlah
persoalan diselesai- kan dengan musyawarah sehingga mereka yang terlibat persoalan
meninggalkan Watu Pinawetengan dengan damai.
Inti dari upacara yang diselenggarakan di depan batu besar itu adalah wata' esa ene
yakni pernyataan tekad persatuan. Semua perwakilan kelompok etnis yang ada di Tanah
Toar Lumimut mengantarkan bagian peta tanah Minahasa tempat tinggalnya dan
meletakkan di bagian tengah panggung perhelatan. Diiringi musik instrumentalia
kolintang, penegasan tekad itu disampaikan satu per satu perwakilan menggunakan
27
Kebudayaan Minahasa

pelbagai bahasa di Minahasa. Setelah tekad disampaikan mereka menghentakkan kaki ke


tanah tiga kali. Pada penghujung acara para pelaku upacara bergandengan tangan
membentuk lingkaran sembari menyanyikan Reranian: Royorz endo.
"Royor endo, ezo e, Maesa-esa lalan ni kita e, Royor endo, ezo e, Sei si nimalewo,
Ya wana ni mengasa- ngasaranmo, Royor endo, ezo e, Mengale-ngalei uman
Pakatuan pakalawirenom, Royor endo, ezo e"
(Persatukanlah jalan kita. Janganlah ada yang merusakkan ataupun hanya berpura-pura.
Mari memohonkan usia lanjut dan lestari).
5. Upacara Pemakaman
Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih
dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam
kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan
mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal
dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah. Baru sekitar abad IX Suku
Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada
posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan
kepala mencium lulut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa
nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada
larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.
Kemudian di tahun 1870, Suku Minahasa mulai membuat peti mati sebagai pengganti
waruga, karena waktu itu mulai berjangkit berbagai penyakit, di antaranya penyakit tipus
dan kolera. Dikhawatirkan, si meninggal menularkan bibit penyakit tipus dan kolera
melalui celah yang terdapat di antara badan waruga dan cungkup waruga. Bersamaan
dengan itu pula, agama Kristen mengharuskan mayat dikubur di dalam tanah mulai
menyebar di Minahasa. Waruga yang memiliki ukiran dan relief umumnya terdapat di
Tonsea. Ukiran dan relief tersebut menggambarkan berapa jasad yang tersimpan di
waruga yang bersangkutan sekaligus menggambarkan mata pencaharian orang tersebut.
Pada awalnya waruga tersebar di seluruh Minahasa. Saat ini waruga yang tersebar
tersebut dikumpulkan di desa Sawangan - Minahasa, yaitu sebuah desa yang terletak di
antara Tondano (ibu kota kabupaten Minahasa) dengan Airmadidi (ibu kota kabupaten
Minahasa Utara). Sampai saat ini waruga merupakan salah satu tujuan wisata sejarah di
Sulawesi Utara. (Bagian utara Minahasa).
6. Upacara Pernikahan

28
Kebudayaan Minahasa

Proses Pernikahan adat yang selama ini dilakukan di tanah Minahasa telah mengalami
penyesuaian seiring dengan perkembangan jaman. Misalnya ketika proses perawatan
calon pengantin serta acara "Posanan" (Pingitan) tidak lagi dilakukan sebulan sebelum
perkawinan, tapi sehari sebelum perkawinan pada saat "Malam Gagaren" atau malam
muda-mudi. Acara mandi di pancuran air saat ini jelas tidak dapat dilaksanakan lagi,
karena tidak ada lagi pancuran air di kota-kota besar. Yang dapat dilakukan saat ini
adalah mandi adat "Lumelek" (menginjak batu) dan "Bacoho" karena dilakukan di kamar
mandi di rumah calon pengantin. Dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan sekarang
ini, semua acara / upacara perkawinan dipadatkan dan dilaksanakan dalam satu hari saja.
Pagi hari memandikan pengantin, merias wajah, memakai busana pengantin, memakai
mahkota dan topi pengantin untuk upacara "maso minta" (toki pintu). Siang hari kedua
pengantin pergi ke catatan sipil atau Departemen Agama dan melaksanakan
pengesahan/pemberkatan nikah (di Gereja), yang kemudian dilanjutkan dengan resepsi
pernikahan. Pada acara in biasanya dilakukan upacara perkawinan ada, diikuti dengan
acara melempar bunga tangan dan acara bebas tari-tarian dengan iringan musik
tradisional, seperti tarian Maengket, Katrili, Polineis, diriringi Musik Bambu dan Musik
Kolintang.
Bacoho (Mandi Adat)
Setelah mandi biasa membersihkan seluruh badan dengan sabun mandi lalu mencuci
rambut dengan bahan pencuci rambut yang banyak dijual di toko, seperti shampoo dan
hair tonic. Mencuci rambut "bacoho" dapat delakukan dengan dua cara, yakni cara
tradisional ataupun hanya sekedar simbolisasi.
Tradisi : Bahan-bahan ramuan yang digunakan adalah parutan kulit lemong nipis atau
lemong bacoho (citrus limonellus), fungsinya sebagai pewangi; air lemong popontolen
(citrus lemetta), fungsinya sebagai pembersih lemak kulit kepala; daun pondang (pandan)
yagn ditumbuk halus, fungsinya sebagai pewangi, bunga manduru (melati hutan) atau
bunga rosi (mawar) atau bunga melati yang dihancurkan dengan tangan, dan berfungsi
sebagai pewangi; minyak buah kemiri untuk melemaskan rambut dicampur sedikit
perasan air buah kelapa yang diparut halus. Seluruh bahan ramuan harus berjumlah
sembilan jenis tanaman, untuk membasuh rambut. Sesudah itu dicuci lagi dengan air
bersih lalu rambut dikeringkan.
Simbolisasi : Semua bahan-bahan ramuan tersebut dimasukkan ke dalam sehelai kain
berbentuk kantong, lalu dicelup ke dalam air hangat, lalu kantong tersebut diremas dan

29
Kebudayaan Minahasa

airnya ditampung dengan tangan, kemudian digosokkan kerambut calon pengantin


sekadar simbolisasi.
Lumele’ (Mandi Adat): Pengantin disiram dengan air yang telah diberi bunga-
bungaan warna putih, berjumlah sembilan jenis bunga yang berbau wangi, dengan
mamakai gayung sebanyak sembilan kali di siram dari batas leher ke bawah. Secara
simbolis dapat dilakukan sekedar membasuh muka oleh pengantin itu sendiri, kemudian
mengeringkannya dengan handuk yang bersih dan belum pernah digunakan sebelumnya.
7. Upacara Perkawinan
Upacara perkawinan adat Minahasa dapat dilakukan di salah satu rumah pengantin
pria ataupun wanita. Di Langowan-Tontemboan, upacara dilakukan dirumah pihak
pengantin pria, sedangkan di Tomohon-Tombulu di rumah pihak pengantin wanita.
Hal ini mempengaruhi prosesi perjalanan pengantin. Misalnya pengantin pria ke
rumah pengantin wanita lalu ke Gereja dan kemudian ke tempat acara resepsi. Karena
resepsi/pesta perkawinan dapat ditanggung baik oleh pihak keluarga pria maupun
keluarga wanita, maka pihak yang menanggung biasanya yang akan memegang komando
pelaksanaan pesta perkawinan. Ada perkawinan yang dilaksanakan secara Mapalus
dimana kedua pengantin dibantu oleh mapalus warga desa, seperti di desa Tombuluan.
Orang Minahasa penganut agama Kristen tertentu yang mempunyai kecenderungan
mengganti acara pesta malam hari dengan acara kebaktian dan makan malam.
Orang Minahasa di kota-kota besar seperti kota Manado, mempunyai kebiasaan yang
sama dengan orang Minahasa di luar Minahasa yang disebut Kawanua. Pola hidup
masyarakat di kota-kota besar ikut membentuk pelaksanaan upacara adat perkawinan
Minahasa, menyatukan seluruh proses upacara adat perkawinan yang dilaksanakan hanya
dalam satu hari (Toki Pintu, Buka/Putus Suara, Antar harta, Prosesi Upacara Adat di
Pelaminan).
Contoh proses upacara adat perkawinan yang dilaksanakan dalam satu hari :
Pukul 09.00 pagi, upacara Toki Pintu. Pengantin pria kerumah pengantin wanita sambil
membawa antaran (mas kawin), berupa makanan masak, buah-buahan dan beberapa helai
kain sebagai simbolisasi. Wali pihak pria memimpin rombongan pengantin pria,
mengetuk pintu tiga kali.
Pertama : Tiga ketuk dan pintu akan dibuka dari dalam oleh wali pihak wanita. Lalu
dilakukan dialog dalam bahasa daerah Minahasa. Kemudian pengantin pria mengetok
pintu kamar wanita. Setelah pengantin wanita keluar dari kamarnya, diadakan jamuan
makanan kecil dan bersiap untuk pergi ke Gereja. Pukul 11.00-14.00 : Melaksanakan
30
Kebudayaan Minahasa

perkawinan di Gereja yang sekaligus dinikahkan oleh negara, (apabila petugas catatan
sipil dapat datang ke kantor Gereja). Untuk itu, para saksi kedua pihak lengkap dengan
tanda pengenal penduduk (KTP), ikut hadir di Gereja. Pukul 19.00 : Acara resepsi kini
jarang dilakukan di rumah kedua pengantin, namun menggunakan gedung / hotel.
Apabila pihak keluarga pengantin ingin melaksanakan prosesi upacara adat
perkawinan, ada sanggar-sanggar kesenian Minahasa yang dapat melaksanakannya. Dan
prosesi upacara adat dapat dilaksanakan dalam berbagai sub-etnis Minahasa, hal ini
tergantung dari keinginan atau asal keluarga pengantin. Misalnya dalam versi Tonsea,
Tombulu, Tontemboan ataupun sub-etnis Minahasa lainnya.
Prosesi upacara adat berlangsung tidak lebih dari sekitar 15 menit, dilanjutkan dengan
kata sambutan, melempar bunga tangan, potong kue pengantin , acara salaman, makan
malam dan sebagai acara terakhir (penutup) ialah dansa bebas yang dimulai dengan
Polineis.

Prosesi Upacara Perkawinan di Pelaminan


Penelitian prosesi upacara perkawinan adat dilakukan oleh Yayasan Kebudayaan
Minahasa Jakarta pimpinan Ny. M. Tengker-Rombot di tahun 1986 di Minahasa. Wilayah
yang diteliti adalah Tonsea, Tombulu, Tondano dan Tontemboan oleh Alfred Sundah,
Jessy Wenas, Bert Supit, dan Dof Runturambi. Ternyata keempat wilayah sub-etnis
tersebut mengenal upacara Pinang, upacara Tawa’ang dan minum dari mangkuk bambu
(kower). Sedangkan upacara membelah kayu bakar hanya dikenal oleh sub-etnis Tombulu
dan Tontemboan. Tondano mengenal upacara membelah setengah tiang jengkal kayu
Lawang dan Tonsea-Maumbi mengenal upacara membelah Kelapa.
Setelah kedua pengantin duduk di pelaminan, maka upacara adat dimulai dengan
memanjatkan doa oleh Walian disebut Sumempung (Tombulu) atau Sumambo
(Tontemboan). Kemudian dilakukan upacara "Pinang Tatenge’en". Kemudian dilakukan
upacara Tawa’ang dimana kedua mempelai memegang setangkai pohon Tawa’ang
megucapkan ikrar dan janji. Acara berikutnya adalah membelah kayu bakar, simbol
sandang pangan. Tontemboan membelah tiga potong kayu bakar, Tombulu membelah
dua. Selanjutnya kedua pengantin makan sedikit nasi dan ikan, kemudian minum dan
tempat minum terbuat dari ruas bambu muda yang masih hijau. Sesudah itu, meja upacara
adat yang tersedia didepan pengantin diangkat dari pentas pelaminan. Seluruh rombongan
adat mohon diri meniggalkan pentas upacara. Nyanyian-nyanyian oleh rombongan adat
dinamakan Tambahan (Tonsea), Zumant (Tombulu) yakni lagu dalam bahasa daerah.
31
Kebudayaan Minahasa

Bahasa upacara adat perkawinan yang digunakan, berbentuk sastra bahasa sub-etnis
Tombulu, Tontemboan yang termasuk bahasa halus yang penuh perumpamaan nasehat.
Prosesi perkawinan adat versi Tombulu menggunakan penari Kabasaran sebagai anak
buah Walian (pemimpin Upacara adat perkawinan). Hal ini disebabkan karena penari
Kabasaran di wilayah sub-etinis lainnya di Minahasa, belum berkembang seperti halnya
di wilayah Tombulu. Pemimpin prosesi upacara adat perkawinan bebas melakukan
improvisasi bahasa upacara adat. Tapi simbolisasi benda upacara, seperti : Sirih-pinang,
Pohon Tawa’ang dan tempat minum dari ruas bambu tetap sama maknanya.

I. Produk Budaya
Pengaruh budaya dan adat istiadat terhadap kehidupan masyarakat Minahasa terjadi pada
pola pengelompokan sosial, dimana pada umumnya masyarakat di Kota Minahasa ber-etnis
sama, maka kebiasaan dan adat istiadat Minahasa yang hidupnya berkelompok dan
mengumpul dalam sebuah lingkungan kecil terbawa dan teraplikasikan dalam kondisi
bermasyarakat saat ini, yaitu lingkungan permukiman menjadi padat dan bahkan pada kondisi
asli tidak memiliki batas yang jelas antara satu rumah dengan rumah yang lainnya. Pola
pengelompokan berdasar ikatan kekeluargaan dan kekerabatan terlihat jelas dalam
permukiman.

1. Fam

Nama keluarga yang telah digunakan sebagai nama keturunan bagi orang
Minahasa atau lebih dikenal dengan istilah FAM, diambil dari nama keluarga yang
digunakan oleh kepala rumah tangga (orang tua lelaki). Setiap anak yang lahir
dalam perkawinan yang sah, otomatis disamping nama depannya, melekat pula
nama keturunan keluarga dari sang Bapak. Khusus bagi seorang wanita yang telah
kawin maka nama keluarga sang suami langsung disisipkan diantara nama depan
dengan nama keturunan keluarga sang wanita tersebut. Contoh : Abutan - Adam -
Agou - Akai - Aling - Alow - Alui - Amoi - Ampow - Andinata - Andu - Anes -
Angkouw - Angow - Anis - Antou - Arina - Awondatu - Awui (atau Awuy) - Assa -
Aruperes - Agow – Atuy dll.

1. Mapalus
Masyarakat Minahasa pada umumnya memiliki adat istiadat dan budaya yang dikenal
dengan sebutan Mapalus. Budaya mapalus atau bekerja bersama dan saling bantu ini
32
Kebudayaan Minahasa

telah berakar dan membudaya di kalangan masyarakat Minahasa. Budaya tersebut


sampai saat ini masih terjaga dan terpelihara. Pada kehidupan sehari-hari masih bisa
dirasakan sikap suka membantu dan bekerjasama. Kecuali beberapa kegiatan yang
merupakan rangkaian dari ‘mapalus’ seperti memakai alat tiup ketika mengajak
kelompok untuk ber’mapalus’ sudah mulai hilang. Perlahan keaslian mulai terkikis
dengan modernisasi.

2. Rumah Adat
Disebut dengan istilah wale atau bale, yaitu rumah/ tempat melakukan akivitas untuk
hidup keluarga. Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua
tangga didepan rumah. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga
tersebut dimaksudkan apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu
tangga maka roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya.
Ada pula yaitu rumah kecil untuk tempat beristirahat, berlindung sewaktu hujan,
memasak ataupun tempat menyimpan hasil panen sebelum dijual. Ciri utama rumah
tradisional ini berupa "Rumah Panggung" dengan 16 sampai 18 tiang penyangga.
Beberapa abad lalu terdapat rumah tradisional keluarga besar yang didiami oleh 6
sampai 9 keluarga. Masing-masing keluarga merupakan rumah tangga tersendiri dan
mempunyai dapur atau mengurus ekonomi rumah tangga sendiri. Saat ini jarang ditemui
rumah adat besar seperti ini. Pada umumnya susunan rumah terdiri atas emperan (setup),
ruang tamu (leloangan), ruang tengah (pores) dan kamar-kamar. Ruang paling depan
(setup) berfungsi untuk menerima tamu terutama bila diadakan upacara keluarga, juga
tempat makan tamu. Bagian belakang rumah terdapat balai-balai yang berfungsi
sebagai tempat menyimpan alat dapur dan alat makan, serta tempat mencuci. Bagian atas
rumah/loteng (soldor) berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil panen seperti jagung,
padi dan hasil lainnya. Bagian bawah rumah (kolong) biasanya digunakan untuk gudang
tempat menyimpan papan, balok, kayu, alat pertanian, gerobak dan hewan rumah seperti
anjing. Untuk melihat rumah tradisional adat Minahasa ini, dapat ditemukan pada desa-
desa di Minahasa yang umumnya sebagian rumah masih berupa rumah panggung
tradisional. Akan tetapi kebanyakan telah mengalami perubahan bentuk, sesuai dengan
kebutuhan pemiliknya
Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga
didepan rumah. Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut

33
Kebudayaan Minahasa

dimaksudkan apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka
roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya

3. Tari-Tarian
- Tari Maengket
Maengket adalah tari tradisional Minahasa dari zaman dulu kala sampai saat ini masih
berkembang. Maengket sudah ada di tanah Minahasa sejak rakyat Minahasa mengenal
pertanian terutama menanam padi di lading. Kalau dulu Nenek Moyang Minahasa,
maengket hanya dimainkan pada waktu panen padi dengan gerakan-gerakan yang
hanya sederhana, maka sekarang tarian maengket telah berkembang teristimewa
bentuk dan tarinya tanpa meninggalkan keasliannya terutama syair/sastra lagunya.
Maengket terdiri dari 3 babak, yaitu : - Maowey Kamberu - Marambak – Lalayaan.
1. Tari Maowey Kamberu
Maowey Kamberu adalah suatu tarian yang dibawakan pada acara pengucapan
syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, dimana hasil pertanian terutama tanaman
padi yang berlipat ganda/banyak.
2. Tari Marambak
Marambak adalah tarian dengan semangat kegotong-royongan, rakyat Minahasa
Bantu membantu membuat rumah yang baru. Selesai rumah dibangun maka
diadakan pesta naik rumah baru atau dalam bahasa daerah disebut “rumambak”
atau menguji kekuatan rumah baru dan semua masyarakat kampong diundang
dalam pengucapan syukur.
3. Tari Lalayaan
Lalayaan adalah tari yang melambangkan bagaimana pemuda-pemudi Minahasa
pada zaman dahulu akan mencari jodoh mereka. Tari ini juga disebut tari
pergaulan muda-mudi zaman dahulu kala di Minahasa.
- Tari Katrili
Menurut legenda rakyat Minahasa, tari katrili adalah salah satu tari yang dibawa oleh
Bangsa Spanyol pada waktu mereka datang dengan maksud untuk membeli hasil
bumi yang ada di Tanah Minahasa. Karena mendapatkan hasil yang banyak, mereka
menari-nari tarian katrili. Lama-kelamaan mereka mengundang seluruh rakyat
Minahasa yang akan menjual hasil bumi mereka didalam menari bersama-sama
sambil mengikuti irama musik dan aba-aba. Ternyata tarian ini boleh juga dibawakan
pada waktu acara pesta perkawinan di tanah Minahasa.

34
Kebudayaan Minahasa

Sekembalinya Bangsa Spanyol kenegaranya dengan membawa hasil bumi yang dibeli
di Minahasa, maka tarian ini sudah mulai digemari Rakyat Minahasa pada umumnya.
Tari katrili termasuk tari modern yang sifatnya kerakyatan.
- Tari Kabasaran
Adalah Tari Perang, merupakan tarian tradisional Minahasa yang menceritakan
bagaimana suku Minahasa mempertahankan tanah Minahasa dari musuh yang hendak
mendudukinya. Tari Perang ini memperagakan bagaimana menggunakan Pedang
Perisai dan Tombak. Tarian Kabasaran ini ditarikan untuk acara-acara khusus seperti
Penyambutan tamu dan atau diberbagai Acara.

4. Alat Musik daerah


a. Kolintang
Kolintang adalah instrument musik yang berasal dari Minahasa biasanya
Kolintang dipakai sebagai pengiring dari seorang penyanyi lagu-lagu daerah ataupun
cuma musik instrumen saja. Kolintang sudah sangat terkenal di Indonesia bahkan
juga sudah dipromosikan ke luar negeri. Kolintang dimainkan oleh sebuah regu,
biasanya satu regu itu terdiri dari 5 sampai 6 orang.
b. Musik Bambu
Musik bambu juga adalah musik tradisional dari Minahasa satu regu terdiri 30
- 40 orang bahkan ada yang lebih. Musik bambu dari Minahasa juga sudah sangat
terkenal di Indonesia bahkan tidak jarang acara dari luar Sulawesi Utara yang
mengundang 1 regu musik bambu.

5. Lagu Daerah
Minahasa juga merupakan daerah yang memiliki lagu daerah yang cukup dikenal,
diantaranya adalah:
a. Esa mokan
b. Luri wisako
c. O ina ni keke
d. Opo wananatas
e. Sa aku ika genang
f. Mars Minahasa

35
Kebudayaan Minahasa

g. Si Patokaan :
Sayang sayang si patokaan
Matego tego gorokan sayang
Sayang sayang si patokaan
Matego tego gorokan sayang
Sako mangemo tanah man jauh
Mangemo milei leklako sayang

6. Kuliner
c. Makanan
Dahulu orang selalu berpikir dua kali sebelum melangkahkan kaki menuju rumah
makan Manado. Pertama, khawatir kalau salah pilih karena nama masakan yang tidak
akrab, dan kedua takut kepedasan.
Maklumlah masakan orang Minahasa hampir semuanya pedas mulai dari sup hingga
hidangan utamanya. Hampir semuanya memakai cabai rawit atau biasa dipanggil rica
anjing.
Cabai rawit ini dipanggil dengan nama itu karena orang Manado sejak dulu kalau
memasak daging anjing atau RW (rintek wuuk bahasa Tombulu, artinya bulu halus)
selalu memakai cabai rawit ini, hingga sebutan itu menjadi pas dan populer. Tapi kini
rasa takut untuk makan di resto Manado lambat laun telah hilang.
Sekarang banyak orang mulai lebih mengetahui bahwa makanan ini sebetulnya sehat
dan halal karena kebanyakan resto Manado tidak menjual daging anjing dan babi.
Strategi ini didasarkan pada pemikiran, bahwa kalau hidangan yang disediakan halal,
maka segmen pasarnya pasti lebih besar. Selain itu, hidangan Manado pada umumnya
sangat menggiurkan karena disandarkan pada bumbu segar seperti daun kemangi, daun
jeruk, daun sereh, daun bawang, daun gedi, daun bulat, daun selasih, daun cengkeh, daun
pandan, cabai, jeruk limo, lemon cui, jahe dan lainnya. Umumnya orang Minahasa
memasak secara tradisional sejak dulu. Jika meracik masakan pada umumnya mereka
tidak pernah memakai bahan-bahan penyedap sebagai tambahan agar masakan itu terasa
lebih lezat. Bahkan jika ditambahkan bumbu penyedap, rasa dan aromanya berbeda.

36
Kebudayaan Minahasa

d. Minuman
Saguer dan Cap Tikus
Cap Tikus adalah jenis cairan berkadar alkohol rata-rata 40 persen yang dihasilkan
melalui penyulingan saguer (cairan putih yang keluar dari mayang pohon enau atau seho
dalam bahasa daerah Minahasa). Tinggi rendahnya kadar alkohol pada Cap Tikus
tergantung pada kualitas penyulingan. Semakin bagus sistem penyulingannya, semakin
tinggi pula kadar alkoholnya.
Saguer sejak keluar dari mayang pohon enau sudah mengandung alkohol. Menurut
kalangan petani, kadar alkohol yang dikandung saguer juga tergantung pada cara menuai
dan peralatan bambu tempat menampung saguer saat menetes keluar dari mayang pohon
enau.
Untuk mendapatkan saguer yang manis bagaikan gula, bambu penampungan yang
digantungkan pada bagian mayang tempat keluarnya cairan putih (saguer), berikut
saringannya yang terbuat dari ijuk pohon enau harus bersih. Semakin bersih, saguer
semakin manis. Semakin bersih saguer, maka Cap Tikus yang dihasilkan pun semakin
tinggi kualitasnya.
Kadar alkohol pada Cap Tikus tergantung pada teknologi penyulingan. Petani sejauh
ini masih menggunakan teknologi tradisional, yakni saguer dimasak kemudian uapnya
disalurkan dan dialirkan melalui pipa bambu ke tempat penampungan. Tetesan-tetesan
itulah yang kemudian dikenal dengan minuman Cap Tikus.
Cap Tikus sudah dikenal sejak lama di Tanah Minahasa. Memang tidak ada catatan
pasti kapan Cap Tikus mulai hadir dalam khazanah budaya Minahasa. Namun, setiap
warga Minahasa ketika berbicara tentang Cap Tikus akan menunjuk bahwa minuman itu
mulai dikenal sejak nenek moyang mereka.
Yang pasti, minuman Cap Tikus sudah sejak dulu sangat akrab dan populer di
kalangan petani Minahasa. Umumnya, petani Minahasa, sebelum pergi ke kebun atau
memulai pekerjaannya, minum satu seloki (gelas ukuran kecil, sekali teguk) Cap Tikus.
Minuman ini, menurut Pendeta Dr. Richard AD Siwu, dosen Fakultas Teologi
Universitas Kristen Tomohon (Ukit) dikenal oleh setiap orang Minahasa sebagai
minuman penghangat tubuh dan pendorong semangat untuk bekerja.
Sadar betul bahwa Cap Tikus mengandung kadar alkohol tinggi, sudah sejak dulu
orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau mengontrol minum minuman Cap
Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo menyangkut Cap Tikus, minum satu seloki Cap

37
Kebudayaan Minahasa

Tikus, cukup untuk menambah darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga
seloki bakal ke neraka.
Pak tani minum Cap Tikus karena memang dengan satu seloki semangat kerja
bertambah. Karena itu, minum satu seloki Cap Tikus diartikan menambah darah, dan
semangat kerja.
Tanda awas langsung diucapkan setelah menenggak satu seloki, sebab jika menambah
lagi satu seloki bisa berakibat masuk penjara. Artinya, dengan dua seloki orang bakal
mudah terpancing bertindak berlebihan, karena kandungan alkohol yang masuk ke
tubuhnya membuat orang mudah tersinggung dan rentan berbuat kriminal.
Jenis minuman ini diproduksi rakyat Minahasa di hutan-hutan atau perkebunan di
sela-sela hutan pohon enau. Pohon enau-atau saguer dalam bahasa sehari-hari di
Manado-disebut pohon saguer karena pohon ini menghasilkan saguer, atau cairan putih
yang rasanya manis keasam-asaman serta mengandung alkohol sekitar lima persen.
Warung-warung makan di Minahasa pada umumnya juga menjual saguer. Bahkan,
sebagian orang desa sebelum makan lebih dulu meminum saguer dengan alasan agar bisa
makan banyak.
Sisa saguer yang tidak terjual kemudian disuling secara tradisional menjadi minuman
Cap Tikus. Kadar alkoholnya, sesuai penilaian dari beberapa laboratorium, naik menjadi
sekitar 40 persen. Makin bagus sistem penyulingannya, dan semakin lama disimpan,
kadar alkohol Cap Tikus semakin tinggi. Di kalangan para peminum, Cap Tikus yang
baik akan mengeluarkan nyala api biru ketika disulut korek api.
Mengapa dinamai Cap Tikus? Tidak diperoleh jawaban yang pasti. Ada dugaan, nama
itu dipakai karena pembuatannya dilakukan di sela-sela pepohonan, tempat tikus hutan
bermain hidup.
Jika di masa lalu, khususnya di kalangan para petani, Cap Tikus menjadi pendorong
semangat kerja, lain hal lagi dengan kaum muda sekarang. Kini Cap Tikus telah berubah
menjadi tempat pelarian. Cap Tikus telah berubah menjadi minuman tempat pelampiasan
nafsu serta menjadi sarana mabuk-mabukan yang kemudian menjadi sumber malapetaka.
Selain bisa diminum langsung, Cap Tikus juga menjadi bahan baku utama sejumlah
pabrik anggur di Manado dan Minahasa. Dengan predikat anggur, Cap Tikus masuk ke
kota dan bahkan di antarpulaukan secara gelap.

38
Kebudayaan Minahasa

7. Bahasa
Dalam bahasa, Bahasa Minahasa termasuk rumpun bahasa Filipina Tetua- tetua
Minahasa menurunkan sejarah kepada turunannya melalui cerita turun temurun (biasanya
dilafalkan oleh Tonaas saat kegiatan upacara membersihkan daerah dari hal- hal yang
tidak baik bagi masyarakat setempat saat memulai tahun yang baru dan dari hal kegiatan
tersebut diketahui bahwa Opo Toar dan Opo Lumimuut adalah nenek moyang masyarakat
Minahasa, meskipun banyak versi tentang riwayat kedua orang tersebut.
Keluarga Toar Lumimuut sampai ketanah Minahasa dan berdiam disekitar gunung
Wulur Mahatus, dan berpindah ke Watuniutakan (dekat Tompaso Baru sekarang dan
dengan kehidupan pertanian yang sarat dengan usaha bersama dengan saudara sekeluarga/
taranak tampak dari berbagai versi tarian Maengket) Sampai pada suatu saat keluarga
bertambah jumlahnya maka perlu diatur mengenai interaksi sosial didalam komunitas
tersebut, yang melalui kebiasaan peraturan dalam keturunannya nantinya menjadi
kebudayaan Minahasa.
Demikian juga dengan isme atau kepercayaan akan sesuatu yang lebih berkuasa atas
manusia sudah dijalankan di Minahasa sejak awal.
Di Minahasa ada sekitar empat bahasa daerah diantaranya bahasa Totemboan,
Tombulu, Tonsea, Bantik, Tonsawang. Pernah ada bahasa Ponosakan dan Bentenan, tapi
bahasa-bahasa itu sekarang sedang dalam proses kepunahan. Di samping bahasa-bahasa
di atas ada bahasa Melayu Manado yang digunakan sebagai bahasa pergaulan umum di
seluruh Minahasa malah sampai jauh di luar daerah Propinsi Sulawesi Utara.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Kota Minahasa selain menggunakan
Bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan juga menggunakan bahasa daerah
Minahasa. Seperti diketahui di Minahasa terdiri dari sembilan macam jenis bahasa daerah
yang dipergunakan oleh delapan etnis yang ada, seperti Tountemboan, Toulour, Tombulu,
dll. Bahasa daerah yang paling sering digunakan di Kota Minahasa adalah bahasa
Tombulu, karena memang wilayah Minahasa termasuk dalam etnis Tombulu. Selain
bahasa percakapan di atas, ternyata ada juga masyarakat di Minahasa dan Kota Minahasa
khususnya para orang tua yang menguasai Bahasa Belanda karena pengaruh jajahan dari
Belanda serta sekolah-sekolah jaman dahulu yang menggunakan Bahasa Belanda.
Saat ini, semakin hari masyarakat yang menguasai dan menggunakan Bahasa
Belanda tersebut semakin berkurang seiring dengan semakin berkurangnya masyarakat
berusia lanjut.

39
Kebudayaan Minahasa

Walaupun tidak berdasarkan sensus dapat dikatakan bahwa penutur-penutur Dialek


Tontemboan adalah jumlah terbesar di Minahasa.
Kemunduran bahasa-bahasa Minahasa yang dirasakan masa kini adalah:
 Tidak ada perhatian terhadap bahasa sendiri.
 Penutur-penutur bahasa Minahasa belum mengenal akan bahasanya sendiri, walaupun
ia mahir menggunakannya.
 Tidak ada dorongan untuk mempelajari bahasanya.
 Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah menggeserkan bahasa sendiri.
 Pelajaran-pelajaran bahasa asing lebih mempunyai aspek keuntungan.
 Belum ada buku yang memberi pelajaran dalam bahasa sendiri.
 Pemberitaan tentang bahasa Minahasa dapat dikatakan tidak ada.
 Keindahan dan kekayaan Bahasa Minahasa belum pernah di ungkapkan.
2. Tulisan Kuno Minahasa
Tulisan kuno Minahasa bersifat Ideogramatis: (Gambar atau simbol yang
merupakan seorang, obyek atau ide, tetapi dengan gambar atau kalimat tetap. Sebagai
contoh, tulisan Cina adalah ideogramatis).
Kata "Minahasa" artinya "konfederasi" atau juga "negara yang dibentuk melalui
gabungan beberapa daerah". Minahasa merupakan grup etnis yang hidup di Sulawesi
Timur Laut dan terdiri dari 8 suku.
Berlawanan dengan grup-grup etnis yang lain di Sulawesi, yang beragama Muslim,
orang Minahasa beragama Kristen. Walaupun jumlah sangat sedikit yang buta huruf,
orang Minahasa disebut "tolfuros", yang berarti "setengah-liar" atau "kejam". Mereka
bicara berdasarkan bahasa malayu, tetapi bentuk mereka, secara fysik, lain dibanding
dengan suku-suku bangsa lainnya di pulau itu; menurut beberapa sumber mereka
mempunyai sifat yang khas Jepang. Menurut cerita itu mereka masuk dari bagian utara ke
pulau ini.

8. Busana Tradisional Minahasa


Minahasa adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Sulawesi
Utara. Dalam kehidupan sehari-hari ada kecenderungan bagi suku bangsa Minahasa untuk
menyebut diri mereka sebagai orang Manado.
Di masa lalu busana sehari-hari wanita Minahasa terdiri dari baju sejenis kebaya,
disebut wuyang (pakaian kulit kayu). Selain itu, mereka pun memakai blus atau gaun

40
Kebudayaan Minahasa

yang disebut pasalongan rinegetan, yang bahannya terbuat dari tenunan bentenan.
Sedangkan kaum pria memakai baju karai, baju tanpa lengan dan bentuknya lurus,
berwarna hitam terbuat dari ijuk. Selain baju karai, ada juga bentuk baju yang berlengan
panjang, memakai krah dan saku disebut baju baniang. Celana yang dipakai masih
sederhana, yaitu mulai dari bentuk celana pendek sampai celana panjang seperti bentuk
celana piyama.
Pada perkembangan selanjutnya busana Minahasa mendapatkan pengaruh dari bangsa
Eropa dan Cina. Busana wanita yang memperoleh pengaruh kebudayaan Spanyol terdiri
dari baju kebaya lengan panjang dengan rok yang bervariasi. Sedangkan pengaruh Cina
adalah kebaya warna putih dengan kain batik Cina dengan motif burung dan bunga-
bungaan. Busana pria pengaruh Spanyol adalah baju lengan panjang (baniang) yang
modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Bahan baju ini terbuat
dari kain blacu warna putih. Pada busana pria pengaruh Cina tidak begitu tampak
Baju Ikan Duyung
Pada upacara perkawinan, pengantin wanita mengenakan busana yang terdiri dari baju
kebaya warna putih dan kain sarong bersulam warna putih dengan sulaman motif sisik
ikan. Model busana pengantin wanita ini dinamakan baju ikan duyung. Selain sarong
yang bermotifkan ikan duyung, terdapat juga sarong motif sarang burung, disebut model
salimburung, sarong motif kaki seribu, disebut model kaki seribu dan sarong motif bunga,
disebut laborci-laborci.
Aksesori yang dipakai dalam busana pengantin wanita adalah sanggul atau bentuk
konde, mahkota (kronci), kalung leher (kelana), kalung mutiara (simban), anting dan
gelang. Aksesori tersebut mempunyai berbagai variasi bentuk dan motif. Konde yang
menggunakan 9 bunga Manduru putih disebut konde lumalundung, sedangkan Konde
yang memakai 5 tangkai kembang goyang disebut konde pinkan. Motif Mahkota pun
bermacam-macam, seperti motif biasa, bintang, sayap burung cendrawasih dan motif ekor
burung cendrawasih.
Pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka, celana
panjang, selendang pinggang dan topi (porong). Busana pengantin baju jas tertutup ini,
disebut busana tatutu. Potongan baju tatutu adalah berlengan panjang, tidak memiliki krah
dan saku. Motif dalam busana ini adalah motif bunga padi, yang terdapat pada hiasan
topi, leher baju, selendang pinggang dan kedua lengan baju.
Busana Pemuka Adat

41
Kebudayaan Minahasa

Busana Tonaas Wangko adalah baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi, potongan
baju lurus, berkancing tanpa saku. Warna baju hitam dengan hiasan motif bunga padi
pada leher baju, ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah.
Semua motif berwarna kuning keemasan. Sebagai kelengkapan baju dipakai topi warna
merah yang dihiasi motif bunga padi warna kuning keemasan pula.
Busana Walian Wangko pria merupakan modifikasi bentuk dari baju Tonaas Wangko,
hanya saja lebih panjang seperti jubah. Warna baju putih dengan hiasan corak bunga padi.
Dilengkapi topi porong nimiles, yang dibuat dari lilitan dua buah kain berwarna
merahhitam dan kuning-emas, perlambang penyatuan 2 unsur alam, yaitu langit dan
bumi, dunia dan alam baka. Sedangkan Walian Wangko wanita, memakai baju kebaya
panjang warna putih atau ungu, kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota (kronci).
Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Dilengkapi selempang warna kuning atau merah,
selop, kalung leher dan sanggul. Hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet.
Bentuk dan jenis busana Tonaas dan Walian Wangko inilah yang kemudian menjadi
model dari jenis-jenis pakaian adat Minahasa untuk berbagai keperluan upacara, bagi
warga maupun aparatur pemertintah setempat. Jenis-jenis dan bentuk busana di atas
merupakan kekayaan budaya Minahasa yang tak ternilai harganya. Selain sebagai
penunjuk identitas kebudayaan, busana adat tersebut menumbuhkan kebanggaan bagi
masyarakatnya.

J. Wisata Megalit Di Minahasa Batu-Batu Eksotik Dari Negeri Bibir


Pasifik
1. Waruga
Dalam bahasa kuno Minahasa, kata waruga berasal dari dua kata: wale dan maruga.
“Wale artinya rumah, dan maruga artinya badan yang hancur lebur menjadi abu. Salah
satu sisa megalit yang begitu terkenal dan dominan di Minahasa adalah waruga (peti
kubur batu). Ini bukan sembarang peti kubur biasa. Yang istimewa, peti kubur ini terdiri
atas dua bagian: badan dan tutup. Tiap-tiap bagian itu terbuat dari sebuah batu utuh
(monolith). Umumnya, berbentuk kotak segiempat (kubus) untuk bagian badannya dan
hanya sedikit yang berbentuk segidelapan atau bulat. Di dalam bagian badan waruga
terdapat rongga sebagai kubur jasad orang yang meninggal. “Posisi mayat di dalam batu
ini dalam keadaan jongkok, sesuai posisi bayi dalam rahim ibu. Yang laki-laki, tangan
berada dalam posisi kunci tangan dan perempuan kepal tangan,” papar Anton Tahuna

42
Kebudayaan Minahasa

(38) juru kunci kompleks waruga Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten


Minahasa. Posisi mayat tersebut terkait dengan filosofi manusia mengawali kehidupan
dengan posisi jongkok dan semestinya mengakhiri hidup dengan posisi yang sama.
Filosofi ini dikenal dalam bahasa lokal adalah whom. Setiap waruga biasanya dipakai
untuk satu famili. Ada juga waruga yang dipersiapkan untuk mayat yang berasal dari
kesamaan profesi sebelum wafat. Di dalam waruga seringkali ditemukan tulang-tulang
manusia yang berasosiasi dengan benda lain, macam keramik Cina, perhiasan, alat-alat
logam dan manik-manik. “Waktu dikubur, barang-barang kesayangan mereka semasa
hidup harus disertakan juga sebagai bekal kubur. Karena itu, di bagian bawah mayat ada
piring yang besar. Maksudnya, supaya perhiasan tadi tidak jatuh ke bawah tetapi justru
jatuh ke piring tadi.

2. Watu Pinawetengan
Batu ini merupakan bongkahan batu-batu besar alamiah, sehingga bentuknya tidak
beraturan. Pada bongkahan batu tersebut terdapat goresan-goresan berbagai motif yang
dibuat oleh tangan manusia. Goresan-goresan itu ada yang membentuk gambar manusia,
menyerupai kemaluan laki-laki dan perempuan dan motif garis-garis serta motif yang tak
jelas maksudnya. Para ahli menduga, goresan-goresan ini merupakan simbol yang
berkaitan dengan kepercayaan komunitas pendukung budaya megalit.
Watu Pinawetengan telah sejak lama menjadi tempat permohonan orang, seperti
kesembuhan dari penyakit dan perlindungan dari marabahaya. Dengan melakukan ritual
ibadah yang dipandu seorang tonaas (mediator spiritual), sebagian orang percaya doa
mereka akan cepat dikabulkan. Arie Ratumbanua – juru kunci Watu Pinawetengan –
menegaskan, masyarakat yang datang ke sini bukan bertujuan menyembah batu,
melainkan menjadikan batu sebagai tempat atau sarana ibadah. Soal asal-usul batu ini,
masyarakat setempat percaya di sinilah tempat bermusyawarah para pemimpin dan
pemuka masyarakat Minahasa asli keturunan Toar-Lumimuut (nenek moyang masyarakat
Minahasa) pada masa lalu. Para pemimpin itu bersepakat untuk membagi daerah menjadi
enam kelompok etnis suku-suku bangsa yang tergolong ke dalam kelompok-kelompok
etnis Minahasa.

43
Kebudayaan Minahasa

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tamanmini.com/anjungan/sulut/budaya//busana_tradisional_minahasa
http://sigarlaki.wordpress.com/2007/10/28/asal-usul-suku-minahasa/
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/025/wis02.html
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0729/wis01.html
http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=11&mnorutisi=7
http://sigarlaki.wordpress.com/2007/10/28/asal-usul-suku-minahasa/
http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=11&mnorutisi=7
http://sigarlaki.wordpress.com/2007/10/28/asal-usul-suku-minahasa/
http://kawangkoan1.tripod.com/kebudayaan.htm
http://www.tamanmini.com/anjungan/sulut/budaya//busana_tradisional_minahasa
http://sigarlaki.wordpress.com/2007/10/28/asal-usul-suku-minahasa/
http://www.kkk.or.id/artikel3.htm [30 Nov2007]
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2003/025/wis02.html
http://www.sinarharapan.co.id/feature/wisata/2004/0729/wis01.htm

44