Anda di halaman 1dari 2

“Copyright” or “Right to Copy”

Copyright (lambang internasional: ©) adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau


penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Saat ini perlindungan terhadap Copyright sangat mendapat perhatian
yang cukup tinggi di kalangan masyarakat, salah satu penyebabnya adalah melihat bahwa saat ini
Indonesia termasuk negara pembajak besar di dunia. Pelanggaran terhadap Copyright sendiri
dapat berakibat penjara kurungan dan denda uang yang jumlahnya tidak sedikit. Dalam kegiatan
belajar mengajar didunia pendidikan penggunaan teori maupun hasil karya tidak bisa dihindari,
jadi apakah hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap Copyright?

Untuk menjawab hal tersebut sebenarnya telah tercantum dalam Undang-Undang Hak
Cipta No. 19 tahun 2002. Dalam UU Hak Cipta Tersebut memuat tentang Pembatasan Hak
Cipta yang terkait dengan pendidikan. Yang terdapat pada BAB II Lingkup Hak Cipta, Bagian
Kelima Pembatasan Hak Cipta, Pasal 15. Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan
atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, Seperti : penggunaan
Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah,
penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan
kepentingan yang wajar dari Pencipta; pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya
maupun sebagian, guna keperluan ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan
ilmu pengetahuan; Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara terbatas dengan
cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu
pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk
keperluan aktivitasnya. Sedangkan dalam Pasal 16, Untuk kepentingan pendidikan, ilmu
pengetahuan, serta kegiatan penelitian dan pengembangan, terhadap Ciptaan dalam bidang ilmu
pengetahuan dan sastra, Menteri setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta dapat:
mewajibkan Pemegang Hak Cipta untuk melaksanakan sendiri penerjemahan dan/atau
Perbanyakan Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang
ditentukan; atau mewajibkan Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin
kepada pihak lain untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak Ciptaan tersebut. Dan dapat
juga menunjuk pihak lain untuk melakukan penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan
tersebut.

Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa pemakaian hasil penelitian dalam dunia
pedidikan tanpa mendapatkan ijin terlebih dahulu dari yang memiliki Copyright diperbolehkan
selama digunakan dengan mencantumkan sumbernya. Bahkan dalam dunia pendidikan saat ini,
yang dimulai dari gerakan MIT, terdapat adanya Copyleft. Copyleft merupakan praktik
penggunaan undang-undang hak cipta untuk meniadakan larangan dalam pendistribusian salinan
dan versi yang telah dimodifikasi dari suatu karya kepada orang lain dan mengharuskan
kebebasan yang sama diterapkan dalam versi-versi selanjutnya kemudian. Dengan adanya
gerakan Copyleft saat ini maka penggunaan hasil karya seseorang dalam dunia pendidikan tanpa
mendapatkan mendapatkan batasan dari Copyright, dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Selain
itu seperti kutipan, “jika ada pelajaran selama setengah abad yang lalu mengenai
perkembangan ekonomi adalah bahwa sumber daya alam tidak menggerakkan ekonomi; sumber
daya manusia yang melakukan itu” (The Washington Post edisi 28 April 2001), dapat kita
pikirkan bahwa ketika ilmu tidak dapat dibagikan dengan sempurna maka perkembangan
ekonomi juga akan bergerak dengan lambat karena tidak ada perkembangan sumber daya
manusia akibat adanya batasan oleh Copyright. Oleh karenanya maka pembagian hasil penelitan
dan ilmu dalam dunia pendidikan adalah right to copy.

I Gede Putu Anggra Diva

1071001054