Anda di halaman 1dari 3

Continuous Improvement dengan Nyepi

Pendahuluan

Tahun Baru, jika mendengar kata tersebut maka kita akan selalu teringat dengan tanggal
1 januari. Tanggal 1 januari dirayakan sebagai tahun baru oleh seluruh masyarakat di dunia
terjadi akibat penanggalan yang digunakan oleh manusia adalah kalender Gregorian
(penanggalan matahari). Namun kebanyakan orang memperingati tahun baru pada tanggal yang
ditentukan oleh agama mereka. Tahun baru umat Yahudi, Rosh Hashanah, dirayakan pada bulan
September atau awal Oktober. Umat Islam menggunakan sistem penanggalan yang terdiri dari
354 hari setiap tahunnya, akibatnya tahun baru mereka jatuh pada tanggal yang berbeda-beda
pada kalender Gregorian tiap tahunnya. Seperti halnya Umat Hindu yang menggunakan
penaggalan solar-lunar (matahari-bulan) memiliki tanggal tahun baru yang berbeda pula, yang
mana beberapa waktu lalu, pada tanggal 17 Maret 2010, merayakan tahun baru caka 1932.

Perayaan Nyepi

Berbeda dengan perayaan tahun baru umat-umat lain yang penuh euphoria dan
kemeriahan, pelaksanaan tahun baru caka yang juga dikenal dengan Nyepi dilakukan dengan
cara yang sangat berbeda dimana di sambut dengan sunyi “Nyepi”, sunyi Buana Agung (alam
semesta) dan sunyi buana Alit (diri tiap insan). Perayaan Nyepi dilakukan dengan melakukan
Catur Brata (4 jenis puasa atau pengendalian diri yang harus dilakukan oleh Umat Hindu).

Yang pertama adalah Amati Geni (tidak menyalakan api) maknanya adalah harus
memadamkan segala nafsu yang menguasai pikiran. Nafsu untuk menikmati kesenangan duniawi
yang sifatnya lahiriah maupun batiniah. Saya pernah membaca kata-kata bijak: dalam diri tiap
manusia ada serigala baik dan serigala jahat. Yang hidup, tumbuh dan menjadi kuat adalah yang
diberi makan. Jadi jika sifat pemarah, iri dengki, pemalas dan sebagainya yang kita “beri
makan”, kita sudah tau manusia berkualitas apa kita jadinya.

Kemudian ada Amati lelungan (tidak bepergian) , berhenti sejenak dari aktivitas
hubungan dengan kehidupan di luar diri, untuk lebih mengenal Sang Diri yang ada di dalam.
Amati Karya (tidak bekerja), yaitu tidak melakukan pekerjaan yang hanya mengingatkan kita
pada pemenuhan kebutuhan duniawi (yang akan merusak konsentrasi dan usaha Sang Diri untuk
mengendalikan pikiran) dan tidak mengekploitasi alam secara berlebihan atas nama peningkatan
perekonomian, Amati lelanguan (tidak bersenang-senang), apalagi jaman sekarang banyak sekali
cara yang bisa dilakukan untuk bersenang-senang di dunia nyata maupun dunia maya. Jika kita
berhasil berpuasa (baca: mengendalikan keempat hal tersebut) maka artinya kita sudah belajar
untuk mengendalikan pikiran. Kita akan menjadi lebih seimbang dan kembali ke Titik Nol.
Nyepi sebagai Total Quality Management-Continuous Improvement bagi buana alit

Total Quality Management merupakan sebuah konsep yang menuntut adanya never-
ending process dari improvement yang kontinu yang meliputi setiap aspek kegiatan dan unsur
dalam perusahaan. Yang mana konsep ini secara dasar memakai philosophy bahwa setiap aspek
dalam kegiatan sehari perusahaan dapat di improved. Konsep Continuous Improvement dapat
dilakukan dengan menerapkan circular model dari Walter Sewhart yang dikenal dengan sebagai
PDCA ( Plan, Do, Check, Act ), lihat bagan 1. Konsep Continuous Improvement merupakan
konsep yang hendaknya diterapkan dalam kegitan hidup manusia, dimana kita harus selalu
menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, dan tidak kata berhenti untuk selalu menjadi lebih baik.

Bagan 1

Terkait dengan konsep Total Quality Management-Continuous Improvement dalam diri


sendiri, kegitan Nyepi merupakan aspek penting dalam mengaplikasikan konsep ini karena
dengan melaksanakan Nyepi maka kita kita dapat membuat diri kita untuk melakukan kegiatan
Check. Dengan melakukan nyepi maka kita akan memiliki kesempatan untuk Stop and Think,
dimana kita dapat merenungkan tentang diri kita. Karena Nyepi adalah filosofi pengakuan akan
adanya “Diri”, kita hanya dapat melihat diri kita dalam cermin kejernihan hati dan kesucian jiwa.
Kejernihan hati terkadang hanya bisa dilihat ketika kesepian ada di sekeliling kita, dengan sepi
akan muncul lentera-lentera hati yang mungkin hanya bagaikan setitik cahaya di ujung sebuah
lorong kehidupan. Nyepi mengajarkan kita untuk melihat hal ini, melihat sesuatu yang abstrak
yang bagi sebagian orang di luar jangkauannya, dengan demikian kita memiliki kemampuan
untuk “melihat” sehingga mampu menjawab pertanyaan “siapakah saya”. Setelah mengetahui
dirisendiri kemudian barulah kita melakukan penilaian terhadap apa yang dilakukan sehingga
selanjutnya kita dapat menuju ke tahap Continuous Improvement selanjutnya yaitu Act. Dengan
demikian kita akan mulai melakukan pemetaan untuk kegiatan perbaikan apa saja yang akan kita
lakukan pada tahun berikutnya dengan matang sehingga kita dapat menjadi lebih baik dari tahun
sebelumnya.

Oleh: I Gede Putu Anggara Diva

1071001054