Anda di halaman 1dari 3

HINDU ?

Oleh: I Gede Putu Anggara Diva


NIM: 107100154

“Saya Hindu”, jika ditanya orang tentang agama anda jawaban tersebutlah
yang akan saya katakan, pertanyaan dengan jawaban yang mudahkan. Setelah saya
menjawab demikian kemudian akan muncul pertanyaan pertanyaan lain yang
mempertanyaan tentang Hindu dan konsepnya, jika sudah demikian seringkali saya
tidak adapa memiliki jawaban tepat untuk menjawab segudang pertanyaan mereka.
Karena untuk saya pribadi pertanyaan tentang keyakinan yang saya anut, Hindu,
merupakan sesuatu yang tidak biasa sebab saya kecil dan dibesarkan di Bali.

Kebetulan saya mulai merantau beberapa tahun belakanan ini, dari sudut
pandang saya secara pribadi saya cukup merasa miris melihat keyataan tentang
keadaan umat se-dharma saya sekalin. Salah satu yang menimbulkan perasaan ini
adalah nampaknya kurang terdapat kebanggan untuk mengakui kehinduan mereka
yang berakibat dengan mengubah agama mereka. Tambah mirisnya ketika saya
membaca di salah satu media Hindu, ketua Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa
Hindu Dharma Indonesia (PD KMHDI) pindah agama, “wah apa-apaan nih? Gila”
pikir saya waktu itu. Setelah melihat kesana kemari nampaknya memang keberadaan
umat Hindu di Indonesia dan Bali juga tentunya mengalami erosi besar-besaran.

Perubahan keyakinan tersebut merupakan sebuah penegasan bahwa


masyarakat Hindu sekarang masih ragu-ragu dalam beragama, mereka kurang cukup
kuat dalam pemahaman keagamaannya. Dan yang menajdi dasar itu semua adalah
value dari kehinduan bagi beberapa orang, dan mungkin saya salah satunya, kurang
emotional value yang membuat orang menjadi bangga ketika menyandangnya. Hal ini
terjadi akibat banyaknya tekanan-tekanan eksternal yang mengecilkan emosional
value dari kehinduan itu. Salah satunya dapat dilakukan dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya telah sampaikan diawal.

Dengan kurangnya pengetahuan tentang kehinduan pertanyaan-pertanyaan


yang menyudutkan tersebut seringkali membuat kita, maaf, malu sendiri dan mungkin
berujung dengan jawaban “nak mule keto”. Yang sering membuat itu terjadi karena
sering kali terlihat bahwa agama kita ini berbeda dan bertentangan dengan yang lain,
seringkali menanyakan tentang politeisme, menyembah batu, berhala, dan
sebagainya, apakah demikian memang adanya? Sama sekali tidak. Bagi seorang yang
membaca kitab-kitab suci Hindu secara tergesa-gesa, agama Hindu mungkin tampak
agak membingungkan dan bertentangan satu sama lain. Tetapi bagi seseorang yang
belajar dengan sungguh-sungguh atau melakukan penelitian terhadap kitab-kitab suci
ini, agama Hindu berdiri sebagai satu sosok kebenaran (embodiment of truth). Namun
jarang sekali kita lihat di tatanan dunia pendidikan (sekolah dan universitas) yang
mencoba melakukannya sehingga menyebabkan pemahaman tetang kehinduan dari
masyarakat dan generasi muda menjadi kurang bahkan terkadang salah persepsi.
Padahal penguatan pemahaman umat Hindu pada tatanan ini sangat penting untuk
mengatasi masalah kehilangan keyakinan umat Hindu saat ini. Karena seperti kata
Krisna, “Keragu-raguan datang dari kebodohan dan harus dihancurkan dengan
pedang ilmu pengetahuan." (Bagawad Gita 4:40,42).

Konsep pengajaran tentang pengetahuan kehinduan saat ini masik kurang


cocok dengan karakter Hindu itu sendiri. Agama Hindu kalau saja seseorang ingin
menyebut batasan-batasannya, memang sesungguhnya sebuah agama pribadi, namun
sistem pengajaran yang ada saat ini masih meniru konsep sistem pengajaran agama
lain. Karena sebenarnya masing-masing orang Hindu sembahyang dan melakukan
meditasi sendiri. Bhajan (menyanyikan lagu pujaan secara kelompok) adalah bagian
dari perkembangan modern dalam agama Hindu. Tidak ada kata "pooja" dalam kitab-
kitab Weda. Puja adalah satu bagian dari kitab-kitab mitologis dalam agama Hindu.
Maharesi-maharesi besar biasa duduk dan sembahyang untuk masalah-masalah
bersama dan kemudian pergi. Sembahyang semacam ini dikenal sebagai Yatna.
Menurut agama Hindu, agama tiap orang adalah unik. Dia mencari ke dalam untuk
semua jawaban, karena itu kita harus menyimpulkan bahwa agama Hindu adalah satu
agama pribadi. Seorang Guru dapat saja seorang Raja Yoga dan muridnya bisa saja
seorang Bhakti Yoga. Setiap orang mengikuti satu agama yang unik. Itulah keindahan
dari agama Hindu menurut saya.

Selain itu dalam sistem pembahasan pelajarannya sendiri, karena untuk


mempelajarinya seseorang perlu memiliki pikiran terbuka dan siap untuk
mengeksplorasi wilayah-wilayah baru pemikiran, tidak merupakan sebuah dikte
dengan ada jawaban baku. Ingat agama Hindu merupakan proses pikir yang
berkembang dengan perlahan, di dalamnya kita dapat melihat keberadaaan dari
agama-agama primitif dan juga agama-agama yang sangat maju. Memang agama
Hindu mengijinkan ratusan dari pemikiran-pemikiran yang secara harfiah tampak
bertentangan satu sama lain hidup bersama di dalamnya. Agama Hindu sama seperti
sains modern. Persis seperti ratusan ilmuwan di seluruh dunia sedang melakukan
penelitian atas ide-ide berbeda yang kadang-kadang kelihatan bertentangan satu sama
lain, dalam agama Hindu para Rishi dahulu merenungkan unsur-unsur yang
bertentangan dari teka-teki alam semesta.

Kebebasan berpikir, itulah konsep pengajaran yang menurut saya semestinya


diterapkan pada pengajaran agama Hindu. Konsep kebebasan berfikir ini merupakan
konsep yang telah berlangsung dalam Hindu selama ini, terlihat ketika Krishna dan
Buddha mempertanyakan otoritas Weda-Weda, Adi Sankara yang merevolusi
pemikiran dalam agama Hindu dan Charvaka yang menciptakan phalsafah
materialistic, semuanya memcoba berfikir terbuka dan bebas akan ajaran agama
Hindu dan semuanya diperlakukan dengan rasa hormat yang sama.

Andaikata Buddha dan Sankara lahir dalam agama lain, mereka sudah dibakar
hidup-hidup. Lihat apa yang terjadi pada Socrates, William Tyndale dan Galileo
ketika mereka mempertanyakan sesuatu tentang kepercayaannya kematian yang
akhirnya menanti. Jadi dalam pengajaran agama Hindu tersebut, kita dapat berdebat
mengenai subyek apapun dan kita tidak harus menerima apapun sampai kita
sepenuhnya yakin akan kebenaran di baliknya. Sekali lagi, agama Hindu tidak
memonopoli ide-ide. Ide-ide adalah hukum tak tertulis dari alam semesta, mereka
terbuka kepada semua orang yang mencari kebenaran tanpa kenal lelah.

Dengan melakukan hal tersebut maka selain kita dapat meningkatkan


pemahaman umat kita sejak dini sehingga ketika mereka telah terjun ke masyarakat
akan dapat mempertahankan keyakinannya dengan teguh. Selain itu yang terpenting
akan dapat mengembangkan Hindu, karena agama Hindu merupakan proses pikir
yang berkembang dengan perlahan dari jaman dahulu dan sampai saat ini akan terus
berkembang. Oleh karenanya didalamnya terdapat kebenaran yang abadi, sesuai
dengan nama Hindu yang sebenarnya yaitu, sanatana dharma yang artinya "kebenaran
yang abadi" ("righteousness forever") dari "yang tidak memiliki awal dan akhir".

Sumber pustaka:

Kelahiran dan Perkembangan Agama Hindu,


http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?t=12095, diunduh pada 7 juni 2010