Anda di halaman 1dari 15

PERBANDINGAN HUKUM GADAI DI INDONESIA DAN MALAYSIA

Oleh :
Agung Yuriandi (087005135)
Bidang Studi Magister Ilmu Hukum
Sekolah Pasca Sarjana
Universitas Sumatera Utara
Medan
2010

Pendahuluan

Menurut Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan

bahwa gadai adalah suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu barang bergerak,

yang diserahkan kepadanya oleh debitur, atau oleh kuasanya, sebagai jaminan atas

utangnya, dan yang memberi wewenang kepada kreditur untuk mengambil pelunasan

piutangnya dari barang itu dengan mendahului kreditur-kreditur lain; dengan putusan

atas tuntutan mengenai pemilikan atau penguasaan, dan biaya penyelamatan barang

itu, yang dikeluarkan setelah barang itu diserahkan sebagai gadai dan yang harus

didahulukan. 1 Badan yang menyelenggarakan gadai di Indonesia adalah Perum

Pegadaian.

Berbeda dengan Malaysia mengenai badan penyelenggara dilakukan oleh

Perniagaan Pajak Gadai. Perniagaan Pajak Gadai di Malaysia adalah meurpakan

perniagaan tradisi yang dibawa masuk dari negeri Cina oleh orang Cina berketurunan

1
Solahuddin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta: Transmedia Pustaka, 2007).

1
Hakka. Di Malaysia, industri pajak gadai telah terwujud secara resmi sejak tahun

1871 setelah Pawnbrokers Ordinance 1871 diberlakukan di negeri-negeri selat.2

Jelas antara Indonesia dengan Malaysia adalah negara yang berbeda

hukumnya, apalagi menyangkut masalah gadai. Hal ini terjadi karena latar belakang

penjajahan yang dilakukan di negara masing-masing membawa dampak bagi negara

jajahannya. Indonesia dengan Belanda yang menggunakan sistem hukum Eropa

Kontinental sedangkan Malaysia dengan Inggrisnya menggunakan sistem hukum

Anglo Saxon.

Jika berbicara mengenai perbandingan maka akan dibicarakan mengenai

persamaan dan perbedaan yang akan dibahas selanjutnya.

Hukum Gadai di Indonesia

Dasar Hukum

Sumber hukum gadai di Indonesia adalah Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata yaitu Pasal 1150 sampai dengan Pasal 1160.

Unsur-Unsur

Adapun yang menjadi unsur-unsur gadai, yaitu :

1. Gadai diberikan hanya atas benda bergerak;

2. Jaminan gadai harus dikeluarkan dari penguasaan Pemberi Gadai (Debitor),

adanya penyerahan benda gadai secara fisik (lavering);

2
“Sejarah AM Perniagaan Pajak Gadai di Malaysia”,
http://www.kpkt.gov.my/kpkt/fileupload/maklumat_ar_rahnu.pdf., diakses pada 01 Juli 2010.

2
3. Gadai memberikan hak kepada kreditor untuk memperoleh pelunasan terlebih

dahulu atas piutang kreditor (droit de preference);

4. Gadai memberikan kewenangan kepada kreditor untuk mengambil sendiri

pelunasan secara mendahului.

Sifat

Gadai mempunyai beberapa sifat, yaitu :

1. Gadai merupakan perjanjian yang bersifat assosir (tambahan) terhadap

perikatan pokok, yang tanpa adanya keberadaan dari utang pokok, maka hak

atas benda yang digadaikan tidak pernah ada. Gadai diberikan setelah adanya

perjanjian pokok;

2. Bersifat memaksa, berkaitan dengan adanya penyerahan secara fisik benda

gadai dari debitor kepada kreditor;

3. Dapat beralih atau dipindahkan, benda gadai dapat dialihkan atau dipindahkan

oleh Penerima Gadai kepada kreditor lain namun dengan persetujuan dari

Pemberi Gadai;

4. Bersifat individualiteit, sesuai Pasal 1160 KUH Perdata, bahwa benda gadai

melekat secara utuh pada utangnya meskipun karena meninggalnya debitor

atau kreditor diwariskan secara terbagi-bagi, namun hak gadai atas benda

yang digadaikan tidak dapat hapus dengan begitu saja hingga seluruh hutang

telah dilunasi;

3
5. Bersifat menyeluruh (totaliteit) berarti hak kebendaan atas gadai mengikuti

segala ikutannya yang melekat dan menjadi satu kesatuan dengan benda

terhadap nama hak kebendaan diberikan;

6. Tidak dapat dipisah-pisahkan (onsplitbaarheid), berarti pemberian gadai

hanya dapat diberikan untuk keseluruhan benda yang dijadikan jaminan dan

tidak mungkin hanya sebagian saja;

7. Mengikuti bendanya (droit de suite), pemegang hak gadai dilindungi hak

kebendaannya, ke tangan siapapun kebendaan tersebut beralih, pemilik berhak

untuk menuntut kembali dengan atau tanpa disertai ganti rugi;

8. Bersifat mendahulu (droit de preference), bahwa Penerima Gadai mempunyai

hak yang didahulukan terhadap kreditor lainnya untuk mengambil pelunasan

piutangnya atas hasil eksekusi benda gadai;

9. Sebagai Jura in re Aliena (yang terbatas), gadai hanya semata-mata ditujukan

bagi pelunasan utang. Gadai tidaklah memberikan hak kepada Pemegang

Gadai/Penerima Gadai untuk memanfaatkan benda yang digadaikan, terlebih

lagi mengalihkan atau memindahkan penguasaan atas benda yang digadaikan

tanpa izin dari Pemberi Gadai.

Subjek

Subjek gadai, antara lain :

1. Dari segi individu (person), yang menjadi subjek gadai adalah setiap orang

sebagaimana dimaksud Pasal 1329 KUH Perdata;

2. Para Pihak, yang menjadi subjek gadai adalah :

4
a. Pemberi Gadai atau Debitor;

b. Penerima Gadai atau Kreditor;

c. Pihak Ketiga yaitu orang yang disetujui oleh Pemberi Gadai dan

Penerima Gadai untuk memegang benda gadai sehingga disebut

Pemegang Gadai.

Objek

Dari sisi objeknya, gadai adalah benda bergerak baik bertubuh maupun tidak

bertubuh.

Pembebanan Benda Jaminan

1. Benda gadai tidak dapat dibebankan berkali-kali kepada Kreditor yang

berbeda;

2. Tidak ada aturan untuk mendaftarkan benda jaminan yang menjadi objek

gadai.

Kedudukan Benda Jaminan

Benda jaminan secara fisik berada di bawah penguasaan Kreditor/Penerima

gadai atau pihak ketiga yang telah disetujui kedua belah pihak.

Kewajiban/Tanggung Jawab

1. Penerima gadai/kreditor :

a. Bertanggung jawab untuk hilangnya atau kemerosotan barangnya

sekedar itu telah teradi karena kelalaiannya;

5
b. Harus memberitahukan Pemberi Gadai, jika benda gadai dijual;

c. Bertanggung jawab terhadap penjualan benda gadai.

2. Pemberi gadai diwajibkan menggantikan kepada kreditor segala biaya yang

berguna dan perlu, yang telah dikeluarkan oleh pihak yang tersebut

belakangan guna keselamatan barang gadainya.

Hak

Penerima Gadai mempunyai hak, yaitu :

1. Penguasaan benda gadai, namun tidak mempunyai hak untuk memiliki benda

gadai;

2. Dalam hal debitor wanprestasi, untuk menjual dengan kekuasaan sendiri

(parate eksekusi), sehingga hak untuk penjualan benda gadai tidak diperlukan

adanya titel eksekutorial. Penerima Gadai/Pemegang Gadai dapat

melaksanakan penjualan tanpa adanya penetapan Pengadilan, tanpa perlu

adanya juru sita ataupun mendahului dengan penyitaan;

3. Menjual benda gadai dengan perantara hakim, dimana kreditor dapat

memohon pada hakim untuk menentukan cara penjualan benda gadai;

4. Mendapat ganti rugi berupa biaya yang perlu dan berguna yang telah

dikeluarkan guna keselamatan barang gadai;

5. Retensi (menahan) benda gadai, bilamana selama hutang pokok, bunga, dan

ongkos-ongkos yang menjadi tanggungan belum dilunasi maka si

berhutang/debitor maka debitor tidak berkuasa menuntut pengembalian benda

gadai;

6
6. Untuk didahulukan (kreditor preferen) pelunasan piutangnya terhadap kreditor

lainnya, hal tersebut diwujudkan melalui parate eksekusi ataupun dengan

permohonan kepada Hakim dalam cara bentuk penjualan barang gadai.

Pemberi Gadai tetap mempunyai hak milik atas benda gadai.

Larangan

Penerima Gadai atau kreditor tidak diperkenankan untuk memiliki atau

menjadi pemilik atas benda yang digadaikan.

Eksekusi

Apabila debitor atau Pemberi Gadai cidera janji, eksekusi terhadap benda

yang menjadi objek Jaminan Gadai dapat dilakukan :

1. Kreditor diberikan hak untuk menyuruh jual benda gadai manakala debitor

ingkar janji, sebelum kreditor menyuruh menjual benda yang digadaikan

maka ia harus memberitahukan terlebih dahulu mengenai maksudnya tersebut

kepada debitor atau Pemberi Gadai;

2. Suatu penjualan benda gadai oleh kreditor berdasarkan perintah pengadilan,

maka kreditor wajib segera memberitahukan kepada Pemberi Gadai.

Hapusnya

1. Apabila benda gadai dikeluarkan dari kekuasaan Penerima Gadai dan kembali

ke tangan Pemberi Gadai;

2. Manakala perikatan pokok telah dilunasi atau jika utang pokok telah dilunasi

atau jika utang pokok telah dilunasi semuanya atau telah hapus;

7
3. Hilangnya atau dicurinya benda gadai dari penguasaan Pemegang

Gadai/Penerima Gadai (musnahnya benda gadai);

4. Dilepaskannya benda gadai secara sukarela oleh Pemegang/Penerima Gadai.

Sanksi

Dalam KUH Perdata tidak diatur mengenai sanksi bagi Para Pihak.

Hukum Gadai di Malaysia

Gadai di Malaysia bercorak ke-Islaman namun tidak terlepas dari hukum

Inggris yaitu anglo saxon. Hukum gadai secara Islam diperbolehkan oleh Rasulullah

SAW, yang digadaikan adalah harta bendanya.

Contohnya seseorang menggadaikan mobilnya dan mendapatkan uang

pinjaman sebesar Rp. 50 juta. Uang pinjaman ini adalah hutang yang harus

dibayarkan pokok dan bunganya. Dan selama pokok pinjaman itu belum

dikembalikan, bunganya tetap terus berkembang. Boleh jadi ke depannya jumlah

hutangnya sudah membengkak menjadi Rp. 100 juta. Beda dengan gadai, pinjaman

uang biasa adalah pada masalah jaminan, dimana dengan digadaikannya mobil itu,

pihak yang memberi pinjaman akan lebih mudah mengeluarkan uang pinjaman.

Sebab harga mobil itu sudah pasti lebih mahal dari jumlah pinjaman yang diberikan.3

Dalam gadai secara syariah, tidak ada pembuangan uang pinjaman, melainkan

biaya penitipan barang. Ketika seseorang menggadaikan mobilnya, maka dia

3
“Hukum Gadai dalam Syariah”, http://ekonomisyariah.blog.gunadarma.ac.id
/2010/03/13/hukum-gadai-dalam-syariah/., diakses pada 02 Juli 2010.

8
berkewajiban untuk membayar biaya penitipan mobil di sebuah mal, kita diwajibkan

untuk membayar ongkos parkir untuk tiap jamnya. Maka, ketika seseorang

menggadaikan mobil, dia pun pada hakikatnya harus membayar biaya penitipan

mobil itu, biaya penitipan itulah yang jadi keuntungan bagi pihak yang memberi

pinjaman hutang.4

Perbedaan utama gadai menurut syariah dengan gadai yang haram adalah

dalam hal pengenaan bunga. Pegadaian syariah bebas dari bunga, yang ada adalah

biaya penitipan barang.5

Dalam perkembangannya, gadai yang sesuai syariah ternyata memiliki potensi

pasar yang besar sehingga di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim,

seperti di Timur Tengah dan Malaysia, pegadaian syariah telah berkembang pesat.

Bahkan di negeri kita juga sekarang sudah mulai banyak pegadaian yang

menggunakan sistem syariah, atau dikenal dengan nama Pegadaian Syariah.6

Pajak Gadai di Malaysia

Banyak orang berfikir bahwa gadai merupakan sesuatu cara yang mudah

dalam hal pinjam-meminjam uang, jika kreditor menebus balik barang yang digadai

tidak menjadi masalah. Namun, yang menjadi masalah adalah pada saat debitor tidak

jujur. Karena itu, kreditor harus hati-hati agar tidak tertipu.

4
Ibid.
5
Ibid.
6
Ibid.

9
Dasar Hukum

Akta Pajak Gadai 1972 yang telah disetujui untuk menyeragamkan undang-

undang tentang Pajak Gadai/Perusahaan Gadai atau dalam bahasa Inggrisnya

“pawnbroker”. Sebelum peraturan mengenai gadai ini, ada peraturan-peraturan yang

disebut enakmen-enakmen yang berbeda-beda mengontrol aktivitas gadai di setiap

negeri di Semenanjung Malaysia. Maksudnya adalah bahwa ada peraturan daerah

masing-masing yang berbeda-beda dalam hal pengaturan gadai. Hal ini memicu

sulitnya untuk menyatukan keinginan antara kreditor dan debitor sehingga

memunculkan keinginan untuk menyeragamkan peraturan gadai, maka muncullah

Akta Pajak Gadai 1972.

Definisi

Pemegang Pajak Gadai

Pemegang Pajak Gadai adalah orang yang melakukan bisnis mengambil

barang-barang sebagai gadai digelar sebagai pemegang gadai. Ini termasuk orang

yang menerima barang orang lain sebagai jaminan untuk pembayaran balik uang yang

tidak lebih dari RM. 5.000,- yang telah didahulukan. Sebagai contoh, A seorang yang

memiliki uang telah meminjamkan RM. 100,- ke B yang membutuhkan uang itu.

Sebagai jaminan untuk pembayaran balik uang itu, B menjaminkan dengan A

sebentuk cincin emas. A ditandai sebagai seseorang yang melakukan bisnis

mengambil barang-barag sebagai gadai. Begitu juga halnya seseorang yang membeli

atau menerima barang-barang dan meminjamkan kepada orang itu sejumlah uang

10
yang tidak lebih dari RM. 5.000,- dengan perjanjian atau persetujuan bahwa barang

itu dapat dibeli kembali atau ditebus berdasarkan syarat-syarat tertentu.

Pemajak Gadai

Dalam peraturan Akta Pajak Gadai 1972 menjelaskan bahwa pemajak gadai

adalah seseorang yang menyerahkan sesuatu barang untuk dipajak gadai kepada

seseorang pemegang gadai. Peraturan ini juga menetapkan bahwa golongan-golongan

tertentu tidak bisa menjadi pemajak gadai. Ini termasuk orang yang dalam keadaan

mabuk dan juga orang di bawah umur 16 tahun. Seorang anak misalnya tidak dapat

diperintah oleh orang tuanya membawa barang tertentu untuk digadaikan.

Pembatasan yang dikenakan ke atas golongan ini adalah berdasarkan prinsip umum

hukum bahwa orang ini tidak berupaya untuk melibatkan diri dalam transaksi hukum

apapun.

Contoh Kasus

1. Siti menggadaikan rantai emasnya untuk mendapatkan pinjaman RM. 150,-.

2. Dia hanya dikenakan suku bunga 2% sebulan dengan tambahan 50 sen untuk

setiap pinjaman melebihi RM. 10,-.

3. Siti terpaksa membayar RM. 3,- suku bunga atas pinjaman setiap bulan. Pada

bulan keenam, jumlah pembayaran manfaat tertimbun adalah RM.18,-. Ini

berarti bahwa setelah enam bulan Siti terpaksa membayar RM. 168,58. untuk

menebus gadainya.

11
4. Jika kamu tidak menebus balik gadainya dalam waktu 6 bulan dapat

dilupuskan. Tetapi karena pinjamannya melebihi RM. 100,- ia hanya

dilakukan melalui lelang oleh pelelang berlisensi.

5. Kamu bisa meminta tambahan waktu setelah 6 bulan waktu sudah berakhir.

Tambahan saat ini harus tidak melebihi 3 bulan dan dia bisa mendapatkan

waktu tambahan tersebut berulang kali.

6. Jika rantai emas Siti dijual dengan harga RM. 200,- perbedaan antara dengan

pinjaman ditambah dengan bunga (misalnya RM. 200,- - RM. 168,50 =

RM. 31,50) harus diserahkan kepada Siti. Siti memiliki waktu 4 bulan untuk

menuntut uang tersebut. Siti berhak memeriksa buku penjualan pelelang untuk

mengetahui berapa nilai sebenarnya rantai tersebut.

7. Kelebihan RM. 31,50 adalah hak kepada Siti. Pegadaian diisyaratkan

memberitahukan Siti mengenai penjualan itu melalui surat terdaftar dalam

periode 7 hari dari batas lelang dan mengirim laporan menunjukkan kelebihan

tersebut. Jika tidak menuntut kelebihan tersebut dalam waktu 4 bulan,

pegadaian tersebut diharapkan membayar uang kelebihan tersebut kepada

Mauntan Negara (Pemerintah) dalam waktu 14 hari. Siti kemdian dapat

menuntut kelebihan itu dari Perbendaharaan.

Penutup

Dalam hal melakukan pegadaian baik di Indonesia ataupun di Malaysia yang

selalu diperhatikan dari hukum gadai, yaitu :

12
1. Tanggal kadaluwarsa. Kreditor tidak dapat menuntut barang setelah tanggal

kadaluarsa, kecuali debitor setuju memperpanjang waktu pengembalian

tersebut;

2. Setelah tanggal kadaluarsa semua barang yang digadai, nilainya kurang dari

$.100,- akan menjadi milik pegadaian tersebut dan bukan milik kreditor lagi;

3. Semua barnag yang tidak ditebus yang nilainya melebihi $.100,- dapat

dilelang oleh toko pajak gadai. Dan kreditor berhak mendapatkan sisa uang

yang tinggal dari penjualan barang tersebut setelah ditolak semua biaya

gadainya;

4. Pemegang gadai harus mengirim pemberitahuan terdaftar ke pemajak gadai

mengenai tindakan untuk melelang barang. Pemberitahuan ini perlu diterima

oleh pemajak gadai 7 (tujuh) hari sebelum urusan pelelangan;

5. Kreditor dianjurkan untuk memberikan alamat saat apabila menggadaikan

barang atau memberitahu apapun mengenai perubahan alamat secara tertulis

kepada debitor. Ini penting untuk memastikan pemberitahuan pelelangan yang

dikirim oleh kreditor dan debitor;

6. Pegadaian/Debitor bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan akibat

pencurian atau kebakaran;

7. Selalu mendapatkan kwitansi setiap kali melakukan pembayaran;

8. Jika pegadaian gadai mengenakan tingkat bunga yang terlalu tinggi (lebih 2%

sebulan) terhadap suatu pinjaman, kreditor dapat membawa perkara ini ke

Kantor Kepala Setiausaha Kementerian Perumahan dan Pemerintah Lokal;

13
9. Jika kehilangan kwitansi/tiket gadaian, maka kreditor berhak untuk

mendapatkan salinan secara gratis;

10. Jika merasa bahwa jaminan kurang bernilai atau debitor enggan menyerahkan

jaminan, dapat membuat keluhan kepada Pengadilan/Majisret. Majisret

memiliki kekuasaan untuk memerintahkan kreditor untuk membayar ganti

rugi yang wajar;

11. Harus dipastikan bahwa debitor memiliki lisensi yang sah;

12. Pembayaran pada debitor/pegadaian harus sama dengan yang dicatatkan

dalam buku dan surat gadai yang diterima.

14
DAFTAR PUSTAKA

Solahuddin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta: Transmedia Pustaka,


2007).

“Sejarah AM Perniagaan Pajak Gadai di Malaysia”,


http://www.kpkt.gov.my/kpkt/fileupload/maklumat_ar_rahnu.pdf., diakses
pada 01 Juli 2010.

Akta 81 Pajak Gadai 1972, Hukum Malaysia.

15

Anda mungkin juga menyukai