Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH ELIT POLITIK TERHADAP PENEGAKKAN HUKUM♣

Oleh : Marissa Haque Fawzi, S.H., M.Hum♠

Membicarakan politik pasti akan menyangkut pula masalah-masalah hukum.


Bahkan politik dan hukum seringkali diibaratkan seperti dua sisi mata uang dalam
demokrasi. Aturan-aturan hukum pada dasarnya lahir dari proses politik. Sebaliknya
proses politik harus didasarkan pada aturan hukum. Tidak ada satu pun aspek yang lebih
tinggi derajatnya dibandingkan aspek yang lain, justru keduanya harus saling
menunjang. Demokrasi tanpa aturan hukum akan mengarah pada anarkhi, sebaliknya
produk hukum yang lahir dari proses politik yang otoriter juga tidak akan menghasilkan
aturan main yang fair bagi seluruh anggota masyarakat.
Perjalanan transisi demokrasi di Indonesia juga mensyaratkan penegakkan
hukum apabila nilai dan praktik demokrasi ingin terlembagakan dalam segenap dimensi
tata pemerintahan. Penegakkan hukum menjadi semakin penting maknanya karena
melalui proses ini, kepercayaan masyarakat terhadap penguasa dapat ditumbuhkan
kembali. Reformasi lahir sebagai bentuk reaksi ketidakpercayaan masyarakat terhadap
figur penguasa dan praktik kekuasaan yang dipandang mengabaikan kepentingan
publik. Ketika reformasi membawa perubahan dalam struktur kekuasaan, terbit pula
harapan baru masyarakat bahwa krisis kepercayaan dan krisis legitimasi tersebut akan
terpulihkan.
Idealnya, reformasi sebagai awal transisi demokrasi akan melahirkan kondisi di
mana terwujud kesepakatan di antara seluruh stakeholders bahwa demokrasi merupakan
satu-satunya jalan yang terbaik dalam menyelenggarakan pemerintahan (democracy as
the only game in town). Namun sebelum sampai ke tahapan ini, transisi menuju
demokrasi juga menghadapi tantangan untuk kembali ke rezim non demokratis
manakala terjadi kebekuan demokrasi (frozen democracy).1 Kondisi ini terjadi sebagai
akibat reformasi tidak mampu menghasilkan pemerintahan yang kuat yang mampu


Makalah pada Diskusi Interaktif “Sistem Peradilan Indonesia Dipandang dari Perspektif Hukum
Responsif” di Aula Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran Fakultas Hukum Universitas
Padjadjaran Bandung, 20 Desember 2005.

Anggota DPR RI 2004-2009 Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
1
George Sorensen, Demokrasi dan Demokratisasi : Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia yang
Sedang Berubah (Edisi Terjemahan), Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2003.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 1


Campus in Compact – Makalah
melakukan perubahan-perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang mendasar sesuai
dengan tuntutan reformasi. Pemerintah yang lemah (weak state atau soft state) ini
maksudnya adalah pemerintahan yang tidak memiliki kewibawaan di hadapan
rakyatnya dan tidak mampu menegakkan hukum untuk memelihara ketertiban.
Penegakkan hukum tidak berjalan karena pemerintah tidak dapat menyelesaikan kasus-
kasus krusial, seperti korupsi dan pelanggaran HAM yang terjadi di masa lampau.
Peran elit politik menjadi penting dalam mengubah arah perjalanan reformasi
agar tidak tersesat ke arah frozen democracy. Pola patrimonial dalam budaya politik
Indonesia masih menempatkan elit politik dalam posisi yang menentukan dalam
kehidupan politik dan pemerintahan. Perilaku elit politik masih menjadi panutan bagi
massa dalam bersikap dan bertingkah laku.
Kenyataannya, kondisi demokrasi dan perilaku elit politik Indonesia saat ini
cenderung menjauhi nilai-nilai demokrasi dan hukum itu sendiri dan lebih menonjolkan
kepentingan (interest) pragmatis partai politik, kroni, bahkan diri pribadi. Padahal,
perilaku semacam itu justru akan melemahkan penegakkan hukum. Aturan main yang
telah disepakati dalam bentuk peraturan dan kebijakan dapat dengan mudah
“dimainkan” hanya untuk memenuhi kepentingan politik sepihak yang pragmatis. Hal
inilah yang menjadi salah satu permasalahan penting dalam penegakkan hukum.
Penegakkan hukum memang tidak hanya terkait dengan peranan elit, namun
dalam konteks budaya politik Indonesia, kepemimpinan dan keteladanan elit politik
menjadi faktor strategis yang dapat mendorong pelembagaan nilai-nilai hukum. Salah
satu elit politik yang memainkan peran penting dalam transisi demokrasi adalah elit
partai politik. Sebagai instrumen demokrasi, partai politik berperan dalam proses
rekruitmen elit untuk menduduki jabatan-jabatan politik. Sepintas, sepertinya tidak ada
keterkaitan langsung antara Partai Politik dengan penegakkan hukum karena
penegakkan hukum selalu dipandang dalam koridor mekanisme yuridis. Namun, jika
kita kaitkan dengan konteks governance, penegakkan hukum tidak akan terlepas dari
peran serta elit Partai Politik sebagai salah satu komponen governance. Disinilah
analisis mengenai keterkaitan antara elit Partai Politik dengan penegakkan hukum
menjadi relevan. Permasalahannya, bagaimana pola keterkaitan tersebut dan bagaimana
agar elit Partai Politik dapat berkontribusi secara signifikan terhadap penegakkan
hukum di Indonesia.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 2


Campus in Compact – Makalah
Elit Partai Politik dan Penegakkan Hukum
Dalam berbagai literatur politik, pembahasan mengenai peran elit dalam
dinamika politik masih menjadi wacara yang banyak dibahas dan dianalisis. Padahal,
konsep tentang elit sendiri telah muncul sejak masa Yunani kuno. Konsep demokrasi
yang dipraktekkan pada masa itu, misalnya, menempatkan kaum laki-laki dan kaum
bangsawan sebagai elit yang berhak berpartisipasi dalam Senat. Demikian pula konsep
tentang figur filsuf sebagai penguasa ideal yang dikemukakan Plato merupakan contoh
embrio konsep elit dalam dinamika politik. Konsep ini kemudian berkembang sejalan
dengan munculnya berbagai aktor baru dalam politik. Mosca misalnya, membagi dua
masyarakat ke dalam kelompok penguasa (the rulling class) dan kekuasaan (the rulled
class). Kelompok penguasa merupakan mereka yang memiliki sumber daya lebih dan
karenanya mampu mempengaruhi kelompok masyarakat lain yang lebih banyak.
Kelompok penguasa inilah yang disebut dengan elit, sedangkan the rulled class
merupakan mereka yang dikuasai atau diperintah oleh elit.
Konsep elit dan massa kemudian berkembang pesat sebagai menjadi salah satu
basis analisis dan penjelas berbagai fenomena politik yang terjadi dewasa ini, termasuk
dalam mengkaji mengenai Partai Politik. Partai Politik merupakan organisasi yang
bertujuan memperoleh kekuasaan melalui penyelenggaraan Pemilihan Umum. Dalam
Partai Politik pun, terdapat elit dan massa. Elit Partai Politik merupakan mereka yang
tergolong sebagai pengurus/pimpinan Partai Politik maupun mereka yang sekalipun
tidak memegang jabatan struktural dalam Partai Politik namun merupakan pemimpin
informal yang di”tokoh”kan oleh para pengikut Partai Politik tersebut.
Dalam model demokrasi perwakilan, Pemilu menjadi media utama untuk
membentuk pemerintahan. Aktor utama yang sangat berperan dalam Pemilu adalah
Partai Politik. Akan tetapi, model demokrasi semacam ini mengandung sejumlah
kelemahan.2 Dalam menentukan pribadi-pribadi terpilih untuk melaksanakan tugas
negara digunakan cara pemilihan umum dengan segala tahapannya. Mekanisme ini
memerlukan pendanaan yang sangat besar, bukan hanya untuk membiayai tahapan
formal Pemilu, tapi juga untuk membiayai kampanye dan lobby politik yang
berlangsung di luar arena politik formal. Ketergantungan pada uang dalam penentuan
rekruitmen politik dapat mengarah pada potensi penyimpangan. Bagi partai yang tengah
2
A.M. Luthfi 2004, “Sistem Demokrasi Partai Politik” dalam Idris Thaha (ed), Pergulatan Partai Politik
di Indonesia, Jakarta, Rajawali Pers.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 3


Campus in Compact – Makalah
berkuasa, untuk melanggengkan kekuasaan, selagi berkuasa akan mengumpulkan uang
sebanyak-banyaknya untuk bekal kampanye. Bagi partai yang belum berkuasa, dana
untuk kampanye yang akan datang dikumpulkan dengan beragam cara, termasuk
dengan menawarkan “peluang investasi”, misalnya bagi para bakal calon Kepala
Daerah.
Sebagai akibat dari ketergantungan terhadap uang, maka mereka yang terpilih
melalui mekanisme politik tersebut belum tentu yang terbaik mutunya. Dengan kata
lain, mekanisme demokratis tidak selalu menghasilkan elit politik dengan kapasitas dan
kapabilitas memadai. Permasalahan akan semakin ruwet manakala pejabat politik yang
telah terpilih itu lebih berorientasi mengembalikan modal yang telah dikeluarkan
dibandingkan melaksanakan tugas utamanya. Akibatnya, praktek penyelenggaraan
pemerintahan tidak pernah berorientasi pada pemenuhan pelayanan, tetapi lebih kepada
praktek pragmatisme.
Kelemahan sistemik ini juga berpengaruh terhadap posisi Partai Politik dalam
penegakkan hukum. Secara internal, pola hubungan dalam tubuh Partai Politik masih
memunculkan kesan sentralistis dan person oriented, sehingga pengambilan keputusan
di lingkungan Partai Politik pun cenderung top down. Sementara secara eksternal, pola
hubungan Partai Politik dengan masyarakat masih terbatas pada hubungan dengan
konstituen, belum bersifat holistic. Seyogyanya, dalam hubungan eksternalnya, Partai
Politik harus mengetahui dan memperhatikan kebutuhan, keinginan dan preferensi
masyarakat kemudian mendesain sebuah program yang menawarkan jawaban atas
masalah yang dihadapai masyarakat.
Bila merujuk pada kedua model hubungan tersebut, maka jelas bahwa
penegakkan hukum merupakan isu utama (main issue), baik dalam internal maupun
eksternal Partai Politik. Secara internal, hukum menjadi aturan main yang melandasi
dinamika Partai Politik, sedangkan secara eksternal, penegakkan hukum merupakan
bagian dari preferensi masyarakat yang perlu disikapi secara konkret oleh Partai Politik
baik dalam platform dan program Partai Politik serta diwacanakan secara kontinyu oleh
Partai Politik.
Dewasa ini, muncul kecenderungan baru seolah-olah elit Partai Politik sangat
sadar hukum dengan memilih jalur hukum dalam penyelesaian sengketa internal
maupun sengketa eksternal mereka. Kasus-kasus sengketa Pilkada menjadi contoh

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 4


Campus in Compact – Makalah
konkret dari kecenderungan tersebut. di satu sisi, fenomena ini bisa diartikan sebagai
peningkatan kesadaran hukum di kalangan elit Partai Politik. Namun, benarkah
demikian? Kecurigaan dengan mudah timbul karena ternyata putusan Pengadilan tidak
lantas diterima dan dilaksanakan oleh para elit tersebut, tetapi malah direspon oleh
tuntutan balik atau naik banding secara hukum. Tentu saja hal ini justru memperpanjang
konflik, bahkan sampai melibatkan massa di level grass root.
Dengan kondisi seperti itu, wajarlah jika muncul anggapan bahwa elit Partai
Politik justru menjadi salah satu penyebab tidak tegaknya hukum. Mereka yang terpilih
sebagai pejabat politik atau dengan kata lain, mereka yang direkomendasikan oleh
Partai Politik pun tidak sedikit yang “memanfaatkan” hukum untuk menjustifikasi
penyimpangan yang terjadi. Hukum terreduksi menjadi alat kekuasaan, bahkan aparat
penegak hukum pun turut menjadi alat kekuasaan karena seolah-olah dapat “dipesan”
untuk menghasilkan keputusan hukum yang berkiblat pada kepentingan politik
pragmatis.
Kondisi seperti ini tentu tidak sehat bagi pertumbuhan demokrasi yang
mensyaratkan supremasi hukum dalam penyelenggaraan negara. Karena itu, perlu dicari
upaya agar elit politik dapat lebih berperan dalam mewujudkan penegakkan hukum, dan
bukan melemahkan hukum.

Transformasi Peran Elit Partai Politik


Sebagai langkah awal untuk memperbaiki peran elit politik dalam penegakkan
hukum, yang perlu dilakukan adalah transformasi di kalangan aktor politik untuk bisa
bersikap dari seorang politisi (politician) menjadi negarawan (stateman), manakala
mereka telah menjadi pejabat negara dan/atau pejabat daerah dengan diikuti kesadaran
bahwa mereka bukan lagi milik satu kelompok kekuatan politik tertentu, tetapi harus
memikirkan kepentingan bersama yang lebih besar (negara, bangsa dan/atau publik).
Hanya dengan cara demikian, harapan untuk penegakkan hukum bisa lebih
dikedepankan. Untuk mencapai kondisi itu, harus diawali oleh pendidikan politik di
kalangan kader partai dan masyarakat. Demikian pula, kebijakan pimpinan partai
dan/atau partai harus mengarah kepada terbentuknya nilai-nilai dan kondisi yang
memungkinkan tegaknya demokrasi dan hukum.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 5


Campus in Compact – Makalah
Pembenahan internal partai perlu dilakukan agar pola hubungan yang
berlangsung menjadi lebih demokratis. Misalnya, sebagai pelaksanaan fungsi
rekruitmen elit untuk jabatan-jabatan politik, Partai Politik dapat menyusun dan
menerapkan suatu mekanisme seleksi yang berbasis pada kompetensi, bukan pada
factor-faktor personal dan primordial. Mekanisme konvensi misalnya, dapat menjadi
alternatif untuk membuka peluang yang lebih besar Partai Politik untuk menyeleksi
mereka yang akan dicalonkan.
Dalam sistem pemilihan langsung sekarang ini, Partai Politik menjadi instrumen
penting bagi mereka yang akan bertarung memperebutkan posisi politik. Namun, Partai
Politik seyogyanya tidak terjebak sekedar menjadi “kendaraan politik” yang dapat
dengan mudah “disewa” oleh para bakal calon. Sebaliknya, Partai Politik justru harus
memainkan peran yang lebih signifikan dalam rekruitmen dan seleksi bakal calon. Jika
Partai Politik tetap berperan sebatas “kendaraan politik”, maka lambat laun ia akan
terjebak sebagai alat bagi para rent seeker yang berperan layaknya makelar yang
mencari keuntungan dari suatu transaksi politik.
Agar Partai Politik tidak terjebak dalam praktek demikian, Partai Politik harus
mulai mengubah dirinya menjadi partai kader yang menitikberatkan pada kualitas
sumber daya manusianya dan bukan pada kuantitas pendukungnya. Kaderisasi dalam
tubuh Partai Politik seyogyanya menjadi mekanisme “sekolah politik” untuk
membangun karakter anggota Partai Politik yang berkualitas. Mereka yang lahir melalui
proses kaderisasi ini kelak akan menjadi elit-elit Partai Politik yang menentukan masa
depan negara.
Pembenahan Partai Politik juga mencakup pelembagaan etika politik sebagai
panduan dalam bertingkah laku. Elit politik memang bukanlah hukum yang memiliki
kekuatan mengikat dan dapat dipaksakan, namun etika tetap diperlukan sebagai
seperangkat nilai yang disepakati bersama untuk mengatur tingkah laku para elit agar
lebih bertanggung jawab.
Kata kunci dalam penegakkan hukum adalah komitmen dari elit-elit politik,
termasuk Partai Politik untuk mulai menggunakan hukum sebagai aturan main dalam
berdemokrasi. Komitmen ini hanya dapat diwujudkan manakala di antara elit-elit politik
telah berlangsung transformasi pola fikir dan pola tindak sebagai politisi menjadi
seorang negarawan. Komitmen untuk mendahulukan kepentingan publik di atas

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 6


Campus in Compact – Makalah
kepentingan pribadi dan golongan. Tampaknya, inilah yang harus menjadi prioritas
dalam agenda pembaruan elit politik.

Bandung, 19 Desember 2005

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran 2004-2005 7


Campus in Compact – Makalah