Anda di halaman 1dari 5

SENYUM KEMENANGAN

Aku masih terbaring disini. Ditanah lapang ini dengan sebilah badik

yang tergenggam ditanganku. Terbaring disebelah jenazah adikku. Menatap

langit malam dengan perasaan hampa. Masih berharap kejadian setengah

jam yang lalu hanya sebuah ilusi.

Setengah jam yang lalu aku berdiri ditanah lapang ini dengan mata

nanar berhadapan dengan adik kandungku sendiri. Berhadapan bukan untuk

sebuah peluk mesra adik kepada kakaknya atau sebaliknya. Aku berhadapan

dengan adik kandungku sendiri untuk sebuah pertarungan bertaruh nyawa.

Aku masih merasa ini adalah hal yang tidak perlu. Tapi mengapa hal ini

seolah mustahil untuk dihindarkan. Seandainya saja cara berpikir ayahku

tidak seperti ini. Mungkin saja saat ini aku sedang duduk berdua dengan

adikku sembari bercanda tentang gadis-gadis atau hal-hal yang lainnya.

Tetapi hal ini memang tak mungkin untuk terhindarkan.

Berdiri berhadapan dengan adik kandung sendiri dalam sebuah duel

bertaruh nyawa, segala rasa merasuk kedalam jiwaku. Benci, marah, sedih,

dan perasaan lainnya muncul dan berkelebat begitu saja. Datang dan pergi

tanpa bisa kukendalikan.

Dia berjarak kurang lebih dua meter dari hadapanku. Dalam keadaan

yang sama, sama-sama menggenggam sebilah badik tajam. Dalam


tatapannya yang kurang lebih sama dengan caraku menatap. Mungkin

perasaan yang berkecamuk dalam hatinya juga sama dengan yang kurasa

saat ini. Mungkin juga tidak. Mungkin saja dia malah justru merasa gembira

karena kesempatan ini akhirnya tiba juga. Kesempatan untuk menjadi

penguasa. Pikiran ini sedikit menghilangkan rasa bersalahku.

Kesempatan untuk menjadi penguasa. Kesempatan untuk memerintah

sebuah kerajaan yang cukup besar. Aku adalah serang pangeran, begitu juga

adikku. Kami adalah dua orang putra dari raja sebuah kerajaan besar yang

menguasai beberapa kerajaan kecil disekitar kerajaan kami.

Dua hari yang lalu, saat sedang bercengkerama dengan adikku, tiba-

tiba saja ayah memanggil kami berdua. Beliau berkata, “ mungkin sudah

saatnya bagiku untuk menyerahkan tahta kepada salah satu diantara

kalian”. Setelah terdiam sejenak, beliau kemudian melanjutkan

perkataannya, “tak mungkin ada dua badik dalam satu sarung, tak mungkin

ada dua raja yang duduk ditahta kerajaan yang sama”. “ sekarang saatnya

untuk kalian berdua membuktikan siapa yang layak untuk menjadi raja dari

kerajaan ini”. Beliau lalu terdiam lagi untuk sejenak seolah berpikir keras

untuk melanjutkan kalimatnya. Sampai akhirnya melanjutkan kalimatnya, “

kalian harus bertarung antara satu dengan yang lain, yang menanglah yang

menjadi raja”. “sebuah pertarungan hidup dan mati”. Tiba-tiba saja aku

merasa darah dikepalaku surut hingga ke kakiku. Tak pernah kusangka


ayahku akan menyuruhku untuk saling bunuh dengan saudara kandungku

sendiri. Bukan hanya itu tetapi saudaraku satu-satunya.

Aku terdiam sejenak mencoba untuk menenangkan diri setelah syok

karena mendengar pernyataan yang sangat mengejutkan dari ayahku.

Setelah merasa pulih lalu aku berkata kepada ayahku, “ ayahanda, apakah

hal ini perlu untuk dilakukan? Jika hanya untuk mencari siapa raja dikerajaan

ini, tak perlu sampai saling bunuh. Cukup sebuah pertarungan biasa saja.”

Mendengar hal itu ayah lalu berdiri dan berbalik membelakangi kami semua.

Tak lama kemudian dia menjawab, “ Aku adalah raja, dan untuk menjadi raja

dikerajaan ini, aku harus membunuh dua orang saudaraku.” Sambil berbalik

kembali untuk berhadapan lagi dengan kami, beliau melanjutkan

perkataannya, “ untuk memimpin, untuk berkuasa, kalian harus mampu

mematikan perasaan kalian. Bagaimana caranya? Sebagai ujian pertama

adalah dengan membunuh saudaramu. Bahkan aku jika menurutmu itu

perlu.” Beliau kemudian kembali duduk ditahta kerajaan dan sambil menatap

kami lekat beliau berkata lagi, “ tugas utama seorang pemimpin adalah

mengamankan dirinya. Karena mustahil dia akan mampu untuk

mengamankan kehidupan rakyatnya jika dirinya saja tak bisa merasa aman.”

“langkah pertama untuk merasa aman adalah menyingkirkan saingan.

Siapapun dia. Bahkan jika saingan itu adalah saudara kandungmu sendiri”. “

dua hari kedepan pertarungan kalian harus sudah terlaksana, sekarang

pergilah persiapkan diri kalian untuk pertarungan kalian”.


Dan sekarang disinilah aku. Masih terbaring ditengah lapangan dengan

sebilah badik yang masih tergenggam. Masih disisi jenazah adikku yang

telah tebujur kaku akibat tikaman badikku. Kembali kurenungkan kata-kata

ayahku dua hari yang lalu. Dan akhirnya aku pun mampu memahami

maksudnya dengan baik. Memang untuk memimpin dengan cara yang paling

baik, seluruh rasa harus mati. Hampa harus menguasai. Sehingga tidak ada

lagi iba pada mereka yang yang berbuat salah. Tidak ada lagi ketidakadilan

hanya karena kedekatan. Untuk memimpin dengan baik, kita harus aman

dan merasa aman. Singkirkan semua yang mengganggu perjalanan menuju

tujuan muliamu. Mustahil akan terbit rasa aman dalam kaum dan

kerajaanmu jika dirimu sendiri masih merasa terancam. Segala hal

diperbolehkan untuk mencapai tujuan mulia itu.

Dan perlahan-lahan rasa sakit dan sesal karena telah membunuh adik

kandungku sendiri pun hilang berganti rasa aman karena telah

menyingkirkan duri dari jalanku untuk mewujudkan tujuanku. Kini aku telah

siap menjadi raja. Raja yang akan memimpin dengan adil karena rasa telah

mati. Raja yang akan memimpin dengan berani karena tak akan ada lagi

yang mengancam kekuasaanku.

Aku bangkit dan kemudian berjalan kembali menuju kerajaan untuk

memberitahukan pada ayahku, bahwa akulah orang yang pantas menjadi

raja. Jikalau dia tak setuju, mungkin saja dia juga akan menjadi salah satu
korban yang akan menyusul adikku malam ini. Aku berjalan dengan sebuah

senyum tersungging dibibirku.

NANANG SYAFRUDDIN